Wawancara Eksklusif dengan Mantan Pembawa Acara CCTV Cheng Lei: Jangan Diam karena Ketakutan Akibat Represi Lintas Negara Partai Komunis Tiongkok 

EtIndonesia.com Mantan jurnalis dan pembawa acara keturunan Tionghoa berkewarganegaraan Australia, Cheng Lei, yang pernah bekerja sebagai presenter di saluran internasional CCTV (televisi pemerintah Tiongkok), pernah ditahan oleh pemerintah Tiongkok selama lebih dari tiga tahun. Baru-baru ini, saat berada di Taiwan, ia menerima wawancara eksklusif dengan NTD Television yang dipublikasikan 14 Juli 2026. 

Dalam wawancara tersebut, Cheng Lei menceritakan pengalaman pahitnya selama ditahan dan memperingatkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang menyebarkan ketakutan melintasi batas negara. Menurutnya, masyarakat demokratis dan bebas harus terus bersuara dan menolak untuk diam.

Cheng Lei mengenang: “Setelah saya ditahan, surat pertama yang saya terima berasal dari anak-anak saya. Mereka berkata bahwa kami masih ingin pergi ke pasar malam di Tainan, pergi ke Taitung, naik balon udara, dan memberi makan hewan-hewan kecil. Karena itu saya terus memikirkan hal tersebut. Kali ini, akhirnya bisa mewujudkan keinginan itu membuat saya sangat bahagia.”

Dengan mata berkaca-kaca, Cheng Lei menceritakan bagaimana pada tahun 2020 ia terlibat dalam ketegangan diplomatik antara Tiongkok dan Australia yang sering disebut sebagai “diplomasi sandera”. Ia ditahan oleh pihak berwenang PKT dengan tuduhan yang disebut sebagai “spionase” dan dipenjara selama lebih dari tiga tahun.

Enam tahun kemudian, setelah mendapatkan kembali kebebasannya, Cheng Lei kembali mengunjungi Taiwan bersama keluarganya. Dalam wawancara dengan NTD, ia mengatakan bahwa di bawah sistem PKT, siapa pun bisa menjadi korban.

Cheng Lei mengatakan: “Saya pernah bekerja di media pemerintah PKT maupun media asing. Dulu saya selalu berpikir bahwa ketika berada di dalam sistem, sebagai seorang profesional asing, saya bisa membawa sedikit perubahan terhadap berbagai masalah dalam sistem tersebut. Namun kemudian saya mengalami sendiri bahwa label ‘keamanan nasional’ atau kotak hitam bernama ‘keamanan nasional’ dapat digunakan untuk menjerat apa saja. Apa pun bisa dianggap menyangkut rahasia negara. Bukti bisa direkayasa, kesaksian bisa dipaksakan, dan pengacara tidak bisa ditemui. Ketika pemerintah membutuhkannya, individu tidaklah penting. Tidak ada seorang pun yang benar-benar memiliki hak asasi manusia, baik pemimpin maupun rakyat biasa, warga asing maupun warga Tiongkok.”

Cheng Lei juga menceritakan kehidupan penuh tekanan di pusat penahanan Tiongkok, di mana ia lama tidak melihat sinar matahari. Kondisi tersebut bahkan sempat membuatnya memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.

Melihat pemerintah Tiongkok kini mendorong apa yang disebut sebagai “Undang-Undang Promosi Persatuan dan Kemajuan Etnis”, yang menurut para pengkritiknya memperkuat pengawasan dan tekanan lintas negara, Cheng Lei menegaskan bahwa PKT sedang berusaha mengekspor rasa takut ke luar negeri. Karena itu, masyarakat bebas harus mendukung kebenaran dan keberanian untuk berbicara.

Ia berkata: “Menurut saya, jika kekerasan dan ketakutan yang mereka (PKT) sebarkan bisa melampaui batas negara, maka dukungan dan dorongan kita kepada orang-orang yang berani dan berkata jujur juga harus bisa melampaui batas negara. Ini seperti seseorang yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.” 

“Awalnya Anda berpikir, kalau saya tidak melakukan ini atau itu, maka saya tidak akan dipukul. Namun pada akhirnya Anda bahkan tidak lagi tahu siapa diri Anda sebenarnya. Anda tidak berani melakukan apapun karena selalu merasa bahwa semua ini adalah kesalahan Anda. Jika kita saling mendukung, barulah kita benar-benar bebas. Jika tidak, apa bedanya dengan tinggal di Tiongkok?”

Menurut Cheng Lei, melalui propaganda internasional yang besar, PKT membuat banyak orang salah paham bahwa menentang PKT berarti menentang budaya Tionghoa. Padahal, menurutnya, yang dipromosikan PKT adalah ideologi ateisme komunis, dan hal itu berbeda dengan masyarakat Taiwan yang berkembang tanpa pemerintahan Partai Komunis.

Ia mengatakan: “Yang paling indah dari masyarakat Taiwan adalah kelembutan, kejujuran, dan kebebasan. Di sebuah negara di mana pemerintahnya sendiri tidak memiliki kredibilitas, bagaimana mungkin masyarakat bisa saling percaya? Akibatnya semua orang harus selalu waspada, berbicara dengan penuh kehati-hatian, dan saling curiga. Itu sangat menyedihkan. Saat ini suasana seperti itu semakin tegang.”

Cheng Lei mengamati bahwa tingkat ketegangan dalam masyarakat Tiongkok terus meningkat. Ia sebelumnya juga pernah menyerukan kepada masyarakat internasional bahwa jika ingin belajar bahasa Mandarin, Taiwan adalah tempat yang baik untuk melakukannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat Taiwan agar tetap waspada terhadap pengaruh dan infiltrasi PKT, menghargai kebebasan serta demokrasi yang dimiliki, dan dengan berani menjaga nilai-nilai inti tersebut.

Laporan oleh Hu Zonghan dan Tang Jie’an, NTD Asia-Pasifik, Taiwan.

INSPIRASI ERABARU

4 Makanan Tinggi Protein yang Membantu Lansia Meningkatkan Imunitas dan Mempertahankan Massa Otot

Asupan protein cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan dampaknya sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Ketika massa otot melemah, infeksi menjadi lebih lama...

Kelelahan yang Tidak Dapat Dijelaskan Mungkin Menandakan Terkurasnya Energi, Bukan Penyakit Fisik

Dalam pemahaman kebanyakan orang,  “pandemi” biasanya dikaitkan dengan virus, bakteri, atau laporan medis. Namun, dalam sejarah penelitian spiritual di Amerika Serikat pada abad ke-20,...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine