EtIndonesia.com Kegiatan tahunan “Sensus Angsa” di Sungai Thames, Inggris, kembali digelar baru-baru ini. Para petugas menaiki perahu dayung tradisional menyusuri sungai untuk menangkap angsa, menimbang berat badannya, memasang cincin identifikasi pada kakinya, serta memeriksa apakah ada yang mengalami cedera.
Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-12. Dahulu, tujuan utamanya adalah menghitung jumlah angsa yang dimiliki kerajaan agar tersedia cukup daging angsa untuk jamuan istana. Kini, kegiatan tersebut telah berubah menjadi bagian dari upaya konservasi satwa liar.
Dengan menggunakan perahu kayu tradisional, para petugas menyusuri Sungai Thames secara perlahan. Begitu menemukan seekor angsa, mereka bekerja sama mengepungnya, mengangkatnya ke atas perahu, lalu melakukan penimbangan, pemeriksaan kesehatan, dan pencatatan data.
Kegiatan ini dikenal sebagai “Sensus Angsa” (Swan Upping) dan diselenggarakan setiap musim panas. Para petugas memeriksa apakah angsa mengalami luka, memasang cincin identifikasi pada kakinya, kemudian melepaskannya kembali ke sungai.
Namun, pada awalnya tradisi ini bukanlah untuk melindungi angsa.
“Kegiatan di Sungai Thames ini telah dimulai sejak abad ke-12. Pada masa itu, angsa merupakan bahan makanan yang penting dan sering disajikan dalam jamuan serta pesta kerajaan,” ujar David Barber, Penanda Angsa Kerajaan (King’s Swan Marker).
Meski demikian, angsa tidak selalu mudah ditangkap. Saat melihat perahu mendekat, mereka sering kali segera berenang menjauh sambil membawa anak-anaknya, sehingga kegiatan tahunan ini kerap berubah menjadi kejar-kejaran seru di atas sungai.
Laporan oleh Liu Jiajia, NTD Television.


