EtIndonesia.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengaktifkan kembali operasi militer terhadap Iran. Keputusan tersebut menandai berakhirnya masa gencatan senjata sementara yang sebelumnya berlangsung selama dua bulan dan membuka babak baru konfrontasi antara Washington dan Teheran.
Dalam waktu bersamaan, konflik juga meluas ke berbagai kawasan lain di Timur Tengah. Arab Saudi kembali terlibat bentrokan dengan kelompok Houthi di Yaman, Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, sementara militer Amerika terus menggempur berbagai instalasi strategis Iran selama tiga malam berturut-turut.
Trump Resmi Beritahu Kongres, Operasi Militer terhadap Iran Kembali Dimulai
Menurut laporan Reuters, pada 7 Juli 2026, Presiden Donald Trump secara resmi mengirimkan pemberitahuan kepada Kongres Amerika Serikat mengenai dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran.
Pemberitahuan tersebut memiliki arti hukum yang sangat penting karena membuka periode kewenangan selama 60 hari, yang memungkinkan Presiden Amerika Serikat mengambil tindakan militer terhadap Iran tanpa harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan baru dari Kongres.
Keputusan ini sekaligus mengakhiri secara resmi kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua bulan yang sebelumnya dicapai kedua negara sejak April 2026.
Pemerintahan Trump menilai bahwa upaya diplomasi yang telah berlangsung sebelumnya tidak lagi mampu menjamin stabilitas kawasan, sehingga opsi militer kembali dijadikan pilihan utama.
Trump: Pemerintah Iran Adalah “Sekelompok Orang Gila”
Dalam berbagai kesempatan, Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Iran.
Ia menyebut para pemimpin Iran sebagai “sekelompok orang gila”, seraya menegaskan bahwa menurut pandangannya, pemerintah Iran tidak pernah benar-benar menghormati sebuah perjanjian internasional.
Trump menyatakan bahwa bagi rezim Iran, sebuah kesepakatan hanyalah dokumen yang sewaktu-waktu dapat dilanggar apabila dianggap menguntungkan kepentingan mereka.
Presiden Amerika Serikat itu juga kembali mengulang kekhawatiran lamanya mengenai program nuklir Iran.
Menurut Trump, apabila Iran suatu hari berhasil memiliki senjata nuklir, pemerintah Iran diyakini tidak akan ragu menggunakannya dalam waktu yang sangat singkat.
Bahkan ia mengatakan bahwa kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh Iran dapat terjadi hanya dalam satu hari setelah senjata tersebut berhasil dimiliki.
Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan bahwa isu nuklir tetap menjadi alasan utama Washington mempertahankan tekanan militer terhadap Teheran.
Trump Disebut Menyetujui Operasi Saudi terhadap Houthi
Sementara itu, Axios melaporkan bahwa Donald Trump secara pribadi memberikan persetujuan terhadap operasi militer terbaru Arab Saudi yang menargetkan kelompok Houthi di Yaman.
Tidak lama setelah persetujuan tersebut diberikan, Angkatan Udara Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sana’a, yang saat ini berada di bawah kendali Houthi.
Serangan tersebut terjadi ketika seorang pejabat atau perwakilan senior Houthi baru saja kembali dari kunjungannya ke Teheran untuk bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Laporan menyebutkan bahwa tokoh Houthi tersebut terpaksa kembali melarikan diri setelah serangan udara menghantam kawasan bandara.
Houthi Balas Serangan ke Bandara Abha
Kelompok Houthi tidak membutuhkan waktu lama untuk memberikan respons.
Beberapa saat setelah serangan Arab Saudi berlangsung, Houthi meluncurkan rudal balistik serta pesawat nirawak (drone) menuju Bandara Abha di wilayah selatan Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka sebelum mencapai sasaran.
Insiden saling serang tersebut dianggap sebagai perkembangan yang sangat penting karena menunjukkan bahwa gencatan senjata antara Arab Saudi dan Houthi yang telah bertahan sekitar empat tahun praktis telah berakhir.
Kembalinya konflik terbuka di Yaman dikhawatirkan akan memperluas eskalasi perang di kawasan Timur Tengah.
Iran Serang Pangkalan Amerika di Yordania
Di tengah meningkatnya ketegangan regional, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa, 14 Juli 2026, mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan rudal balistik ke sebuah pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di wilayah Yordania.
Namun yang menarik perhatian bukan hanya serangan tersebut, melainkan juga isi pernyataan resmi yang dikeluarkan pemerintah Iran setelahnya.
Dalam pernyataannya, Teheran menegaskan bahwa mereka tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Yordania.
Iran menyatakan bahwa sasaran mereka hanyalah keberadaan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Pemerintah Iran bahkan menyerukan kepada masyarakat Yordania agar mendesak pemerintah mereka untuk menghapus seluruh pangkalan militer Amerika Serikat dari wilayah negaranya.
Pernyataan tersebut dipandang sebagai upaya Iran untuk memisahkan hubungan antara pemerintah Yordania dengan masyarakatnya, sekaligus mengurangi potensi sentimen negatif dari negara-negara Arab.
Pengamat Kuwait: Iran Masuk Perangkap Trump
Pengamat politik terkemuka asal Kuwait, Al-Nami, menilai bahwa Iran kini berada dalam posisi yang sangat sulit.
Menurutnya, strategi yang dijalankan Donald Trump berhasil menempatkan Iran dalam posisi defensif di mata masyarakat internasional.
Al-Nami mengatakan bahwa tindakan Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik telah membuat banyak negara menganggap Teheran sebagai ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Karena itu, apabila Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dengan skala yang jauh lebih besar, menurut Al-Nami, kemungkinan besar dunia internasional tidak akan memberikan penolakan yang berarti.
Ia bahkan berpendapat bahwa sejumlah negara lain justru berpotensi bergabung mendukung langkah Amerika Serikat apabila mereka menilai rezim Iran benar-benar menjadi ancaman bagi keamanan kawasan dan jalur perdagangan global.
CENTCOM Umumkan Serangan Besar ke Enam Kota Militer Iran
Pada 14 Juli 2026, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pada malam sebelumnya, 13 Juli, militer Amerika kembali melaksanakan operasi udara berskala besar terhadap Iran.
Operasi tersebut berlangsung sekitar lima jam dan menyasar enam kawasan militer strategis di pesisir selatan Iran, yaitu:
- Bushehr
- Chabahar
- Jask
- Konarak
- Pulau Abu Musa
- Bandar Abbas
Menurut CENTCOM, sasaran utama operasi kali ini meliputi:
- sistem pertahanan pantai Iran,
- pangkalan rudal,
- fasilitas penyimpanan rudal,
- pusat operasi drone,
- serta berbagai infrastruktur militer yang digunakan Iran untuk mengendalikan wilayah sekitar Selat Hormuz.
Serangan ini merupakan malam ketiga secara berturut-turut Amerika Serikat melaksanakan operasi pengeboman terhadap sasaran militer Iran.
50.000 Tentara Amerika Disiagakan di Timur Tengah
CENTCOM juga mengungkapkan bahwa sekitar 50.000 personel militer Amerika Serikat yang ditempatkan di berbagai negara di Timur Tengah kini berada dalam status siaga penuh.
Pasukan tersebut dikatakan siap diterjunkan kapan saja apabila situasi berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Peningkatan status kesiagaan tersebut menunjukkan bahwa Washington tengah mempersiapkan berbagai kemungkinan, termasuk apabila Iran melakukan serangan balasan dalam skala yang lebih besar.
Markas Strategis Garda Revolusi Iran Dihancurkan
Dalam gelombang serangan sebelumnya, Angkatan Laut Amerika Serikat juga melaksanakan operasi besar terhadap markas komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC Navy) di kawasan Bandar Lengeh.
Pangkalan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu fasilitas paling strategis Iran dalam mengawasi dan mengendalikan jalur pelayaran di bagian selatan Selat Hormuz.
Menurut sejumlah media oposisi Iran, operasi tersebut berhasil menimbulkan kerusakan yang sangat besar.
Sedikitnya 20 personel elite Angkatan Laut Garda Revolusi Iran dilaporkan tewas di lokasi.
Selain korban jiwa, sejumlah peluncur rudal juga dilaporkan berhasil dihancurkan.
Tidak hanya itu, pangkalan drone kamikaze milik Iran di kawasan tersebut disebut mengalami kerusakan sangat parah hingga berubah menjadi puing-puing.
Amerika Gunakan Kapal Nirawak Bunuh Diri untuk Pertama Kalinya
Pada 13 Juli 2026, CENTCOM juga mengumumkan bahwa sehari sebelumnya, yakni 12 Juli, militer Amerika Serikat untuk pertama kalinya menggunakan kapal nirawak bunuh diri (kamikaze unmanned surface vessel/USV) dalam operasi tempur melawan Iran.
Amerika Serikat bahkan merilis rekaman video dari berbagai sudut yang memperlihatkan jalannya operasi tersebut.
Berdasarkan rekaman yang dipublikasikan, hanya dengan menggunakan tiga kapal nirawak, militer Amerika berhasil menghancurkan sebuah fasilitas pemeliharaan kapal perang dan kapal selam Iran di Bandar Abbas.
Operasi tersebut dinilai menjadi tonggak baru dalam penggunaan teknologi peperangan nirawak di kawasan Timur Tengah.
Amerika Balik Menggunakan Taktik Peperangan Asimetris Iran
Selama bertahun-tahun, Iran dikenal sebagai salah satu negara yang mengembangkan konsep peperangan asimetris, yakni menggunakan persenjataan berbiaya rendah seperti drone, rudal, maupun kapal nirawak untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan adanya perubahan signifikan.
Amerika Serikat kini mulai mengadopsi konsep yang serupa dengan memanfaatkan sistem persenjataan nirawak berbiaya relatif rendah tetapi memiliki daya hancur tinggi.
Penggunaan kapal nirawak kamikaze dalam operasi di Bandar Abbas memperlihatkan bahwa Washington tidak lagi hanya mengandalkan kapal perang atau rudal berteknologi tinggi, tetapi juga mulai menerapkan metode yang selama ini identik dengan strategi militer Iran.
Langkah tersebut dinilai dapat mengubah pola peperangan di kawasan Teluk Persia sekaligus menjadi tantangan baru bagi kemampuan pertahanan Iran dalam menghadapi konflik yang semakin berkembang. (***)


