Wawancara Eksklusif: Apa yang Akan Menjadi Penggerak Ekonomi Tiongkok?

EtIndonesia.com Pecahnya gelembung sektor properti, lemahnya permintaan domestik, dan menurunnya investasi telah menyebabkan ekonomi Tiongkok kehilangan penggerak utamanya. Ditambah lagi dengan perang dagang dan percepatan restrukturisasi rantai pasok global yang mengurangi ketergantungan terhadap Tiongkok, muncul pertanyaan: apa yang akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok di masa depan? Untuk membahas hal ini, NTD mewawancarai penulis ekonomi sekaligus jurnalis senior, He Yang.

Selama beberapa dekade terakhir, sektor properti dipandang sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun ketika gelembung di sektor tersebut pecah, dampak berantainya, seperti efek domino, mulai mempengaruhi kekayaan masyarakat dan kepercayaan terhadap perekonomian.

“Seingat saya, sektor properti menggerakkan puluhan industri hilir. Itulah sebabnya dampaknya begitu besar, karena dulu benar-benar merupakan industri penopang ekonomi. Sekarang pilar itu runtuh. Akibatnya, masyarakat tidak punya uang, pemerintah tidak punya uang, perusahaan juga tidak punya uang,” kata He Yang.   

“Perusahaan bangkrut, dan pada saat yang sama masyarakat Tiongkok semakin menua. Jepang menjadi kaya sebelum menua, sedangkan Tiongkok menghadapi penuaan sebelum menjadi negara kaya. Itu merupakan persoalan yang sangat serius. Yang menanti rakyat Tiongkok hanyalah masa-masa yang penuh gejolak,” lanjutnya. 

Penulis ekonomi sekaligus jurnalis senior, He Yang (tangkapan layar)

Di tengah tantangan “menjadi tua sebelum menjadi makmur”, menurut He Yang, pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga dinilai menekan perusahaan swasta. Ia menyebut perusahaan milik Jack Ma maupun Pony Ma pernah dikenai denda besar oleh pemerintah, sehingga nilai kekayaan para pendirinya menyusut drastis. Menurutnya, hal ini membuat banyak pengusaha swasta mengambil sikap defensif dan enggan melakukan ekspansi.

“Pengusaha akan berpikir, ‘Kalau perusahaan saya tumbuh terlalu besar, saya akan menjadi sasaran pemerintah. Jadi untuk apa membesarkannya? Lebih baik cukup kaya saja dan hidup tenang.’ Kalau begitu, bagaimana mungkin mereka masih mau berinovasi, berani mengambil risiko, atau menciptakan lapangan kerja?,” katanya. 

“Mereka akan merasa cukup jika memperoleh satu miliar yuan untuk kebutuhan hidup mereka tanpa menarik perhatian pemerintah. Namun sekarang, bahkan memiliki kekayaan sebesar itu pun bisa menjadi sasaran karena pemerintah sangat kekurangan dana. Kalau begitu, mereka akan semakin memilih untuk pasif,” ujarnya. 

Dengan melemahnya investasi dan konsumsi domestik, dari tiga pendorong utama ekonomi—investasi, konsumsi, dan ekspor—dua di antaranya dinilai sudah kehilangan tenaga. Ekspor menjadi satu-satunya penopang utama. 

Namun demikian, menurut laporan tersebut, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, langkah-langkah perlindungan perdagangan Uni Eropa, serta percepatan restrukturisasi rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik membuat tekanan terhadap ekspor Tiongkok semakin besar.

“Pada dasarnya restrukturisasi rantai pasok global bertujuan membatasi keunggulan kompetitif Tiongkok. Dalam kondisi seperti ini, apakah Tiongkok masih bisa mempertahankan keunggulannya?,” katanya.  

“Menurut saya, sektor yang sudah memiliki keunggulan mungkin masih dapat bertahan, tetapi akan sulit naik ke tingkat berikutnya. Sementara sektor yang belum memiliki keunggulan, seperti semikonduktor, kemungkinan akan benar-benar dibatasi. Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Taiwan akan terus menghambat perkembangannya. Menurut saya, sektor tersebut tidak akan mampu berkembang lebih jauh,” ujarnya. 

Dalam situasi seperti ini, apa yang akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok ke depan?

He Yang mencontohkan model kecerdasan buatan (AI) DeepSeek, yang sempat menjadi perhatian luas. Menurutnya, terobosan teknologi pada skala terbatas tidak cukup untuk mengubah struktur ekonomi secara fundamental.

“Dalam lingkungan seperti Tiongkok, perusahaan seperti DeepSeek memang bisa muncul. Namun perusahaan seperti itu pada akhirnya mungkin hanya berkembang hingga setara Baidu. Perusahaan dengan kapitalisasi ratusan miliar dolar AS tidak akan membawa perubahan mendasar bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Yang dibutuhkan adalah 50 atau bahkan 100 perusahaan seperti itu,” ujarnya. 

“Di Amerika Serikat ada sekitar sepuluh perusahaan bernilai lebih dari satu triliun dolar AS, puluhan perusahaan bernilai ratusan miliar dolar, dan dua hingga tiga ratus perusahaan bernilai puluhan miliar dolar. Itulah sumber inovasi yang terus-menerus menggerakkan ekonomi Amerika. Tiongkok tidak memiliki jumlah maupun kualitas perusahaan seperti itu. Jadi, jika ditanya apa penggerak pertumbuhan ekonomi Tiongkok, menurut saya tidak ada,” katanya. 

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) telah mendorong pemerintah PKT untuk mempercepat reformasi struktural, yaitu mengalihkan model pertumbuhan dari yang bergantung pada investasi dan ekspor menjadi pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi domestik. Namun, menurut laporan ini, pemerintah Beijing masih menekankan peran Partai dalam pengelolaan ekonomi.

He Yang berpendapat bahwa pemerintah bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengembalikan lebih banyak manfaat ekonomi kepada masyarakat.

“Meskipun pemerintah sangat mengkhawatirkan kondisi ekonomi, kebijakan yang diterapkan sejak pandemi tetap hanya berputar pada peningkatan kapasitas produksi, ekspor, dan investasi,” katanya.  

“Bahkan mereka tidak berani memberikan lebih banyak bantuan langsung kepada masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Mereka juga tidak berani mengalihkan lebih banyak aset ke dana jaminan sosial dan asuransi kesehatan agar masyarakat bisa berbelanja tanpa rasa khawatir,” ujarnya. 

“Kesimpulan saya adalah, pemerintah PKT tidak mengetahui dan tidak memahami apa sebenarnya penggerak pertumbuhan ekonomi. Mereka telah terjebak dalam pola pikir yang sama selama bertahun-tahun,” tambahnya. 

Dalam bagian akhir wawancara, He Yang menyampaikan pandangan pribadinya bahwa perubahan sistem politik merupakan syarat utama bagi perbaikan ekonomi. Pernyataan tersebut merupakan opini narasumber dalam wawancara ini.

Editor: Shang Yan Wawancara: Chang Chun Pascaproduksi: Tony

INSPIRASI ERABARU

4 Makanan Tinggi Protein yang Membantu Lansia Meningkatkan Imunitas dan Mempertahankan Massa Otot

Asupan protein cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan dampaknya sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Ketika massa otot melemah, infeksi menjadi lebih lama...

Kelelahan yang Tidak Dapat Dijelaskan Mungkin Menandakan Terkurasnya Energi, Bukan Penyakit Fisik

Dalam pemahaman kebanyakan orang,  “pandemi” biasanya dikaitkan dengan virus, bakteri, atau laporan medis. Namun, dalam sejarah penelitian spiritual di Amerika Serikat pada abad ke-20,...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine