EtIndonesia.com Hujan deras yang melanda Daerah Otonom Guangxi, Tiongkok baru-baru ini menyebabkan sejumlah bendungan dan waduk mengalami pelepasan air maupun jebol. Banjir besar yang terjadi dilaporkan menghancurkan banyak desa. Sejumlah korban selamat dan relawan mengungkapkan bahwa banyak rumah hanyut dan banyak warga terseret arus. Mereka mengklaim jumlah korban jiwa yang sebenarnya mencapai sedikitnya ribuan orang.
Banyak Waduk Dilaporkan Jebol atau Melepaskan Air
Laporan menyebutkan bahwa sejak 6 Juli, hujan ekstrem melanda Kota Hengzhou dan wilayah sekitarnya. Sedikitnya 15 waduk dilaporkan mengalami keruntuhan atau kerusakan, sementara beberapa waduk lainnya melakukan pelepasan air, sehingga banjir besar menghanyutkan rumah-rumah, lahan pertanian, dan warga yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Seorang pembawa siaran langsung (livestreamer) mengatakan bahwa Desa Liulan, yang berada tepat di dekat Waduk Liulan, mengalami kerusakan sangat parah.
“Setelah banjir mulai surut sejak sore 6 Juli, inilah kondisi kampung mereka. Berdasarkan perkiraan sementara dan apa yang saya lihat langsung di lokasi, setidaknya separuh rumah telah rusak,” katanya.
Warga: Air Naik Setinggi Dua Lantai
Seorang warga Desa Liulan bermarga Lu mengatakan bahwa setelah Waduk Liulan runtuh, air banjir naik dengan sangat cepat hingga mencapai ketinggian sekitar dua lantai bangunan. Banyak warga naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri, tetapi rumah-rumah tersebut kemudian ikut hanyut.
“Ada yang kondisinya sangat menyedihkan. Mereka berada di atas rumah, tetapi rumahnya roboh dan tidak bisa diselamatkan. Ada juga yang kemungkinan hanyut terbawa arus. Banyak orang pulang dan mendapati rumah mereka sudah hilang sama sekali. Sangat menyedihkan. Ada yang sampai sekarang belum menemukan anggota keluarganya. Melihat mereka saja membuat saya ingin menangis,” ujarnya.
Desa Dutian Disebut Rata dengan Tanah
Desa Dutian, yang juga berada di dekat Waduk Liulan, dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Seorang warga setempat mengatakan: “Saat banjir datang, 27 rumah di Desa Dutian hanyut semuanya. Bahkan fondasinya pun sudah tidak ada.”
Klaim Korban Jauh Lebih Besar dari Angka Resmi
Pada 9 Juli, pemerintah setempat mengumumkan bahwa banjir di Guangxi menyebabkan 39 orang meninggal dunia dan 9 orang hilang. Setelah itu tidak ada lagi pembaruan resmi mengenai jumlah korban.
Namun menurut laporan tersebut, pada 13 Juli beberapa warga Hengzhou dan relawan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa hanya di Tim 5, Desa Yabo, Kecamatan Yunbiao saja terdapat lebih dari sepuluh korban jiwa. Mereka mengklaim masih banyak warga yang hilang maupun tertimbun lumpur, dan memperkirakan jumlah korban tewas “setidaknya mencapai empat digit” (lebih dari seribu orang).
Seorang warga perempuan dari Kecamatan Yunbiao sambil menangis mengatakan hampir seluruh rumah di desanya hanyut.
“Rumah hanyut, mobil juga hanyut dan tidak ditemukan lagi. Tidak ada yang tersisa. Kami benar-benar kehilangan segalanya,” katanya.
Relawan Menggambarkan Kondisi yang Memilukan
Seorang livestreamer yang mendatangi lokasi banjir menangis ketika melihat banyak rumah di sepanjang sungai telah lenyap.
“Baru setelah datang ke lokasi kami tahu, puluhan rumah yang dulu berdiri di tepi sungai sekarang semuanya sudah hilang,” ujarnya.
Pada hari ketujuh setelah banjir, sejumlah relawan yang mengirim bantuan ke Kecamatan Yunbiao menggambarkan suasana daerah bencana sebagai sangat sunyi dan rusak berat.
Salah seorang relawan berkata: “Ya Tuhan. Seluruh jalan sepi tanpa penghuni. Truk di depan itu membawa bantuan kami. Di kedua sisi jalan penuh sampah dan mobil-mobil yang terendam. Baunya sangat menyengat, seperti bau jamban di pedesaan.”
Klaim: Satu Desa Saja Sedikitnya 500 Orang Tewas
Menurut laporan tersebut, Kecamatan Zhenlong yang berbatasan dengan Yunbiao juga mengalami kerusakan sangat serius.
Seorang korban banjir mengatakan: “Semua barang terendam. Tidak sempat membawa apapun. Mobil hancur. Kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana ke depannya.”
Seorang relawan juga mengklaim bahwa ketika membersihkan desa-desa di hilir waduk di Kecamatan Zhenlong, alat berat menemukan jenazah hampir setiap kali menggali.
Laporan tersebut juga menyebut adanya klaim dari warga bahwa salah satu desa di Zhenlong rata dengan tanah dan sedikitnya 500 orang meninggal dunia, namun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Beredar Foto Daftar Kebutuhan Bantuan
Di media sosial juga beredar tangkapan layar dokumen berjudul “Daftar Penugasan Distribusi Bantuan Bencana Hengzhou” bertanggal 12 Juli, yang di dalamnya tercantum kebutuhan 250 kantong jenazah beserta perlengkapan lainnya.
Beberapa warga mengatakan bahwa petugas yang bertugas mengevakuasi jenazah di Kecamatan Yunbiao membawa kantong jenazah ke lokasi.
Seorang warga bermarga Li (nama samaran) mengatakan bahwa kawasan bencana kini masih dibatasi.
Ia mengatakan: “Orang biasa tidak bisa masuk ke daerah bencana untuk ikut membantu. Setelah masuk pun tidak ada sinyal internet karena daerah itu ditutup dan dipasang garis pembatas. Jalan menuju ke dalam juga masih ditutup.”
Warga Mengaku Masih Banyak Korban Terjebak
Pada 14 Juli, warga yang sama mengatakan kepada NTD bahwa operasi pencarian korban hilang masih berlangsung. Ia mengklaim masih banyak warga yang terjebak di pemukiman maupun daerah pegunungan, serta kekurangan air bersih dan bahan makanan.
Menurut laporan tersebut, sejumlah relawan juga mengaku mengalami kesulitan menyalurkan bantuan.
Seorang relawan mengatakan: “Saya menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer, tetapi bantuan kami justru ditolak. Akhirnya saya membagikannya sendiri. Siapa yang membutuhkan silakan ambil.”
Relawan lain mengatakan: “Kami membawa bantuan ke lokasi, tetapi pemerintah tidak mengizinkan kami masuk ke daerah bencana. Banyak lokasi yang dituju melalui navigasi tidak bisa dicapai, sinyal komunikasi juga terputus sehingga warga tidak dapat menghubungi dunia luar.”
Laporan dari reporter NTD Television, Wang Ziyi.


