EtIndonesia.com Pada Kamis (20 Agustus), Amerika Serikat mengumumkan sanksi ekonomi paling keras terhadap Iran. Data pelacakan kapal terbaru menunjukkan bahwa kemampuan Iran untuk secara sepihak menentukan “siapa yang boleh lewat” di Selat Hormuz telah menurun secara signifikan.
Berikut laporan langsung dari wartawan NTD di Washington, Zhang Liang.
Di tengah klaim Amerika Serikat dan Iran bahwa masing-masing masih menguasai Selat Hormuz, data terbaru justru menunjukkan bahwa Iran secara bertahap kehilangan kendali atas selat tersebut.
Meskipun Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal di sekitar lepas pantai utara Oman, sebagian besar kapal tanker tetap memilih melewati selat dengan pengawalan militer AS. Pada tanggal 20, sebanyak 9 kapal melewati selat tersebut, sedangkan pada tanggal 21 ada 7 kapal yang melintas.
Pada Kamis, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi ekonomi maksimum terhadap Iran. Amerika Serikat meminta seluruh negara sekutunya menyatakan sikap secara jelas untuk mendukung AS, khususnya mendesak Beijing agar bekerja sama dengan tindakan Amerika. Rincian konkretnya akan diumumkan pada Senin (24 Agustus).
Presiden Donald Trump juga mengkonfirmasi dalam sebuah program radio pada Kamis bahwa tingkat inflasi Iran mencapai 300%. Dibandingkan lima bulan lalu, kemampuan Iran untuk memproduksi drone dan rudal juga telah menurun secara signifikan. Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Presiden AS Donald Trump (20 Agustus 2026) : “Alasan saya melakukan ini (tindakan terhadap Iran), dan kita memang tidak punya pilihan lain, bahkan jika harus melakukannya 100 kali lagi, saya akan tetap melakukannya, adalah karena mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan pernah memilikinya.”
“Negara seperti ini, negara yang begitu gila, tanpa diragukan lagi pasti akan menggunakan senjata nuklir. Jadi saya menghentikan semua itu. Saya mengerahkan pesawat pembom B-2 untuk menghentikan mereka. Saya juga menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yaitu kesepakatan bencana yang dicapai pada masa pemerintahan Obama beberapa tahun lalu.”
“Jika saya tidak mengakhiri kesepakatan itu, Iran sekarang sudah memiliki senjata nuklir. Dan mereka akan segera menggunakannya. Mereka akan menghancurkan Israel. Mereka akan menghancurkan seluruh Timur Tengah.”
Menteri Keuangan AS Scott Bessent: “Tekanan ekonomi berarti kami akan menekan semua sekutu kami. Ini akan menjadi tindakan isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia. Kami akan menyampaikan posisi kami kepada mereka: pilih berdiri bersama kami atau melawan kami.”
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan bahwa Qatar akan membeli persenjataan senilai total US$4,5 miliar dari Amerika Serikat. Paket tersebut mencakup hingga 4 pesawat tanker udara KC-46A, 8 mesin turbofan, 10 sistem radar warning receiver, serta 15 perangkat laser untuk sistem penanggulangan inframerah pada pesawat berukuran besar.
Kesepakatan penjualan senjata tersebut muncul di tengah situasi Timur Tengah yang terus memanas dan telah diserahkan kepada Kongres AS untuk mendapat persetujuan.
Departemen Luar Negeri mengatakan penjualan senjata tersebut akan meningkatkan kemampuan pertahanan Qatar dalam menghadapi ancaman saat ini maupun di masa mendatang, sekaligus memperkuat kemampuan operasi bersama dengan Amerika Serikat dan pasukan sekutunya.
Selain itu, pada Kamis Washington juga menjatuhkan sanksi baru terhadap Hizbullah Lebanon. Amerika Serikat secara tegas menyatakan bahwa Hizbullah merupakan proksi Iran dan berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Sepuluh orang yang menjadi sasaran sanksi kali ini diduga terlibat dalam transfer uang tunai, memperoleh mata uang asing di luar sistem keuangan resmi, serta menghindari sanksi Amerika Serikat. (***)


