Rahasia Filsuf Cicero : 5 Langkah Membangun Percakapan yang Baik

Nasihat dari filsuf Romawi ini dapat membantu Anda menjadi pembicara yang lebih bijaksana, menarik, dan menyenangkan untuk diajak berbicara

Annie Holmquist

Kita semua mungkin pernah mengalaminya. Kita sedang berkumpul bersama teman, berbincang setelah menghadiri kegiatan keagamaan, atau menghadiri acara jejaring profesional. Namun, meskipun sudah berusaha sebaik mungkin, percakapan justru terasa hambar dan tidak mengalir.

Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan. Namun, pada umumnya ada dua persoalan utama: lawan bicara kita tidak mampu mengembangkan percakapan, atau justru kita sendiri kehabisan bahan pembicaraan.

Pengalaman seperti ini tentu mengecewakan, terutama bagi mereka yang menyadari betapa besar pengaruh sebuah percakapan yang baik terhadap kehidupan. Bagaimanapun, percakapan sederhana dapat menyemangati seseorang, mengubah pandangan, bahkan—sayangnya—menghancurkan reputasi seseorang.

Lantas, bagaimana memastikan bahwa kita menjadi pembicara yang berkualitas dan mampu memberikan dampak positif melalui kata-kata?

Filsuf sekaligus negarawan Romawi Marcus Tullius Cicero pernah merenungkan pertanyaan serupa dalam karyanya On Moral Duties (De Officiis). Ia menawarkan lima nasihat berikut yang dapat kita terapkan ketika berinteraksi secara verbal dengan orang lain.

1. Utamakan Orang Lain

Saat berbicara, kita sangat mudah terjebak untuk terus memikirkan diri sendiri—membahas topik yang kita sukai atau menceritakan berbagai kegiatan yang baru saja kita lakukan, bahkan secara panjang lebar dan melelahkan.

Namun, Cicero mengingatkan kita untuk menghindari pidato yang terlalu panjang dan bertele-tele. Ia menekankan pentingnya kesopanan dalam percakapan.

Artinya, jangan “menghalangi orang lain mendapatkan giliran berbicara seolah-olah hanya kita yang berhak didengarkan.” Dalam segala hal, termasuk percakapan, kita harus memahami bahwa berbicara secara bergantian adalah sesuatu yang adil.

Jadi, ketika sedang berbicara dengan seseorang, cobalah mendengarkan diri sendiri.

Apakah Anda terus berbicara tanpa henti?

Ataukah Anda benar-benar memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk berbicara, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap apa yang ingin ia sampaikan?

Percakapan yang baik bukan monolog.

2. Jangan Bergosip

Entah mengapa, percakapan memiliki kecenderungan aneh untuk berbelok menjadi pembicaraan mengenai orang lain.

Membicarakan orang lain tentu tidak selalu salah jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang baik atau terpuji. Namun, Cicero mengingatkan bahwa percakapan yang bertujuan menjatuhkan atau menjelek-jelekkan orang lain harus dihindari, bukan hanya demi menjaga kehormatan orang tersebut, tetapi juga demi melindungi reputasi kita sendiri.

Menurut Cicero, orang yang mencela atau memfitnah seseorang di belakangnya sebenarnya sedang “mengungkapkan cacat dalam karakter moralnya sendiri.”

Dengan kata lain, ketika kita sibuk merusak nama baik orang lain melalui percakapan, kita justru sedang memperlihatkan kualitas diri kita kepada orang yang mendengarkan.

3. Pilih Topik dengan Bijak

Jika membicarakan keburukan orang lain sebaiknya menjadi hal yang tabu dalam percakapan, lalu topik apa yang layak dibahas?

Cicero menyarankan berbagai topik seperti “urusan pribadi, politik, atau teori dan praktik seni.”

Dengan kata lain, kita dapat berbicara mengenai diri sendiri—tentu dengan tetap menjaga batas dan tidak berlebihan—membahas berita yang sedang menjadi perhatian, atau berbicara mengenai film, olahraga, buku, pertunjukan, dan berbagai bentuk hiburan lainnya.

Namun, Cicero memberikan satu peringatan penting: “Perhatikan orang-orang yang hadir, karena kita tidak selalu tertarik pada hal yang sama, pada waktu yang sama, dan dengan tingkat ketertarikan yang sama.”

Artinya, kenali siapa yang menjadi lawan bicara Anda.

Jangan membanjiri orang dengan informasi yang sama sekali tidak menarik bagi mereka. Percakapan yang baik bukan sekadar tentang apa yang ingin kita katakan, tetapi juga tentang apa yang ingin didengar oleh orang lain.

4. Tahu Kapan Harus Mengakhiri Percakapan

Sebagian orang merupakan ahli dalam melakukan “perpisahan panjang”—cara halus untuk mengatakan bahwa mereka tidak pernah tahu bagaimana mengakhiri percakapan dengan tepat, sopan, dan elegan.

Cicero mengingatkan agar kita selalu memperhatikan berapa lama kesenangan dalam sebuah percakapan dapat berlangsung.

Jika ada alasan untuk memulai percakapan, maka harus ada pula batas waktu untuk mengakhirinya.

Ini berarti kita perlu memperhatikan bahasa tubuh lawan bicara.

Apakah mereka mulai kehilangan minat? Apakah mereka terlihat gelisah atau seperti ingin segera pergi?

Jika demikian, jangan memaksakan percakapan.

Beri mereka kebebasan untuk melanjutkan aktivitas atau berbicara dengan orang lain. Akhiri percakapan dengan sopan, lalu carilah orang lain untuk diajak berbicara.

Mengetahui kapan harus berhenti berbicara adalah bagian dari seni berbicara.

5. Kendalikan Emosi

Kita memang harus peka terhadap tanda-tanda ketika lawan bicara mulai kehilangan minat. Namun, kita juga harus berhati-hati agar ketidaktertarikan kita sendiri tidak terlihat melalui bahasa tubuh.

Cicero juga menyarankan agar kita “menghindari gejolak emosi” dalam percakapan, terutama kemarahan.

Menurutnya, ketika seseorang dikuasai amarah, “tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan dengan benar atau diputuskan dengan bijaksana.”

Nasihat ini terasa semakin relevan di tengah budaya percakapan masa kini yang mudah berubah menjadi pertengkaran.

Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan kemarahan. Percakapan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk tetap tenang, bahkan ketika kita tidak sepakat.

Nasihat Cicero yang Tetap Relevan hingga Kini

Tulisan-tulisan Cicero sering dianggap memberikan pengaruh terhadap para Founding Fathers Amerika Serikat ketika mereka membangun sebuah bangsa baru dengan menjunjung martabat, rasa hormat, dan kebijaksanaan.

Melihat kecenderungan masyarakat saat ini yang semakin mudah menyerang satu sama lain dan semakin berpusat pada diri sendiri—baik dalam perdebatan di dunia maya maupun percakapan sehari-hari—nasihat Cicero tampaknya masih memiliki relevansi yang kuat.

Masalahnya mungkin bukan karena kita kekurangan cara untuk berbicara.

Kita justru terlalu banyak berbicara, tetapi terlalu sedikit mendengarkan.

Lima prinsip Cicero mengingatkan bahwa percakapan yang baik bukanlah perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling pintar, paling banyak tahu, atau paling keras suaranya.

Percakapan yang baik adalah seni memberi ruang, memilih kata, menghormati lawan bicara, mengendalikan emosi, dan tahu kapan harus berhenti.

Mungkin, jika kita benar-benar mau mempelajari dan menerapkannya, nasihat seorang filsuf Romawi yang hidup lebih dari dua ribu tahun lalu masih dapat mengajari kita satu hal yang semakin langka saat ini: bagaimana berbicara sebagai manusia yang beradab.

Artikel ini dimungkinkan berkat dukungan The Fred & Rheta Skelton Center for Cultural Renewal.

INSPIRASI ERABARU

Punya Banyak Uang Belum Tentu Bahagia! Pria 68 Tahun Menemukan Kembali Kualitas Hidup dengan Bekerja Paruh Waktu di Supermarket 

EtIndonesia.com  Media New Tang Dynasty melaporkan bahwa ketika merencanakan masa pensiun, kebanyakan orang biasanya hanya memikirkan satu hal: "Apakah uang saya akan cukup?" Namun,...

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya)Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine