【Catatan Redaksi】 Empat belas tahun lalu, Jiang Zemin yang Sebenarnya pertama kali diperkenalkan kepada para pembaca. Empat belas tahun kemudian, Jiang Zemin telah meninggal dunia, tetapi racun politik yang ditinggalkannya belum lenyap.
Banyak kekacauan dan krisis yang terjadi di Tiongkok saat ini dapat ditelusuri kembali ke masa ketika Jiang berkuasa. Pemerintahan yang mengandalkan korupsi, pengabaian supremasi hukum, penghancuran moralitas, serta penganiayaan terhadap Falun Gong, ditambah dengan berkembangnya mesin otoritarianisme dan kekerasan Partai Komunis Tiongkok (PKT), telah meninggalkan bencana yang tak berkesudahan bagi Tiongkok.
Untuk memahami dengan jelas PKT saat ini dan memahami bagaimana Tiongkok sampai pada kondisi sekarang, penting untuk memahami Jiang Zemin yang Sebenarnya. Oleh karena itu, artikel ini diterbitkan kembali.
Serial dokumenter tentang kebenaran sejarah Jiang Zemin yang Sebenarnya, episode keenam: Kekacauan Sosial Setelah Runtuhnya Moralitas (Bagian II).
Di Mana Lagi Ada Tanah Suci? Dunia Pendidikan dan Akademik Menjadi Salah Satu Kawasan yang Paling Parah Dilanda Korupsi
Di bawah pemerintahan PKT, korupsi terjadi secara menyeluruh dan dalam berbagai bentuk, mencakup hampir seluruh lapisan serta bidang kehidupan masyarakat. Sistem pendidikan yang selama ini dipandang sebagai salah satu bidang yang relatif suci dalam kehidupan manusia pun tidak luput. Di tengah lingkungan sosial yang secara keseluruhan telah terkorupsi, korupsi dalam sistem pendidikan juga telah merosot hingga ke tingkat yang mengkhawatirkan.
Didorong oleh kepentingan materi, pungutan liar di sekolah semakin marak, bahkan sistem pendidikan dengan cepat menjadi salah satu dari sepuluh sektor dengan keuntungan terbesar. Siswa dan orang tua terpaksa menghadapi berbagai macam pungutan dan penggalangan dana yang tidak semestinya.
Di antaranya adalah biaya memilih sekolah, biaya les tambahan, biaya sumbangan, biaya remedial, biaya penggalangan dana, biaya transportasi, biaya lembar ujian, biaya bantuan, biaya renovasi gedung sekolah yang dianggap berbahaya, dan sebagainya.
Pejabat Pendidikan Terlibat Korupsi
Menurut statistik lembaga pengawasan disiplin dan pengawasan pemerintah Kota Nantong, Provinsi Jiangsu, selama tiga tahun dari 2007 hingga 2010, terdapat 85 kasus pelanggaran disiplin dan hukum yang melibatkan kepala sekolah dasar dan menengah dalam sistem pendidikan, dengan total dana yang terlibat mencapai lebih dari 30 juta yuan.
Pada 10 Mei 2010, Kejaksaan Provinsi Guangdong mengumumkan sepuluh “kasus tipikal” tahun 2009. Salah satunya adalah kasus suap Lai Laixin, mantan kepala Biro Pendidikan Kota Yingde.
Dari 2001 hingga 2008, Lai Laixin menerima suap dengan total 665.000 yuan dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Namun, yang menarik dari kasus ini bukan hanya itu. Setelah kasus Lai terungkap, kasus tersebut ternyata menyeret 98 kepala sekolah dasar dan menengah di Yingde yang diduga menerima “biaya jasa”.
Begitu mengetahui kasus tersebut, mereka beramai-ramai menyerahkan diri. Kasus ini kemudian menjadi kasus nomor dua dalam sepuluh “kasus tipikal” tersebut dan sempat menghebohkan masyarakat.
Korupsi bukan hanya melibatkan kepala sekolah dasar dan menengah. Para rektor dan pimpinan universitas juga tidak mau kalah, bahkan nilai korupsinya lebih besar.
Li Haiying, mantan wakil rektor Universitas Teknologi Wuhan, terbukti melakukan penggelapan, penyalahgunaan dana, dan menerima suap senilai lebih dari 14 juta yuan. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Pada 2003, Jin Jiazhen, kepala sekolah menengah yang berafiliasi dengan Akademi Seni Rupa Pusat Tiongkok, bersama wakil kepala sekolah Shi Liang dan kepala bagian akademik Ke Zhaoqing, diduga melakukan penerimaan mahasiswa secara ilegal dan menggelapkan 1,45 juta yuan. Mereka kemudian dituntut atas tuduhan menerima suap, korupsi, serta melakukan kecurangan dalam penerimaan mahasiswa demi kepentingan pribadi.
Zhou Zhixing, mantan wakil kepala Bagian Pendidikan Orang Dewasa di Departemen Pendidikan Tinggi Provinsi Guangdong, memanfaatkan kewenangannya dalam mengelola penerimaan mahasiswa dan penerbitan ijazah perguruan tinggi pendidikan orang dewasa. Ia secara ilegal menyetujui penerbitan hampir 10.000 ijazah. Dalam proses tersebut, ia meminta dan menerima suap sebesar 560.000 yuan serta melakukan penggelapan sebesar 1,62 juta yuan.
Contoh seperti ini sangat banyak, bahkan sulit dihitung. Di balik setiap kasus kecurangan dalam penerimaan mahasiswa terdapat bayang-bayang kekuasaan dan uang. Sistem pendidikan Tiongkok telah jatuh ke kondisi yang sangat memprihatinkan.
Seorang wartawan pernah mewawancarai anak-anak di sebuah sekolah dasar di Guangzhou dan menanyakan cita-cita mereka. Berikut percakapan dengan seorang anak perempuan berusia enam tahun:
“Kalau sudah besar, kamu ingin menjadi apa?”
“Ingin menjadi pejabat.”
“Pejabat seperti apa?”
“Menjadi… pejabat korup, karena pejabat korup punya banyak barang.”
Plagiarisme, Penjiplakan, dan Pemalsuan Akademik
Kasus pemalsuan foto harimau Tiongkok Selatan membuat pelaku utamanya, seorang petani dari Shaanxi bernama Zhou Zhenglong, masuk ke dalam “panggung” pemalsuan ilmiah. Pemalsuannya yang dilakukan dengan begitu tenang menjadi salah satu skandal terbesar pemalsuan akademik di Tiongkok pada saat itu.
Pada 12 Oktober 2007, Departemen Kehutanan Provinsi Shaanxi mengumumkan bahwa harimau Tiongkok Selatan telah ditemukan di Shaanxi. Mereka juga mempublikasikan foto yang disebut-sebut diambil pada 3 Oktober 2007 oleh Zhou Zhenglong, warga Desa Wencai, Kota Chengguan, Kabupaten Zhenping, Kota Ankang, Shaanxi.
Pemerintah Kabupaten Zhenping bahkan memasang papan reklame raksasa di jalan-jalan yang berbunyi: “Nikmati keindahan alam, dengarkan auman harimau Tiongkok Selatan, cicipi daging asap Zhenping.”
Namun, kabar yang menghebohkan itu segera memicu keraguan dari banyak pengguna internet. Mereka menduga Zhou memalsukan foto tersebut dengan menggunakan gambar harimau yang terbuat dari kertas.
Setelah itu, banyak akademisi menyampaikan pendapat dan mempertanyakan keaslian foto tersebut dari sudut pandang ilmiah. Namun, menghadapi berbagai keraguan, Departemen Kehutanan Provinsi Shaanxi tetap bersikeras bahwa harimau tersebut benar-benar ada.
Kasus tersebut baru berakhir ketika Pengadilan Menengah Kota Ankang, Provinsi Shaanxi, menggelar sidang terbuka terhadap kasus Zhou Zhenglong pada 17 November 2008.
Pengadilan memutus Zhou Zhenglong bersalah atas penipuan dan kepemilikan amunisi secara ilegal. Ia dijatuhi hukuman dua tahun enam bulan penjara dengan masa percobaan tiga tahun serta denda 2.000 yuan.
Kasus ini bahkan melahirkan istilah baru dalam masyarakat Tiongkok, yaitu “Zhenglong memotret harimau” (正龙拍虎), yang berarti seseorang atau suatu kelompok memalsukan sesuatu demi keuntungan, tetapi setelah kebohongannya terbongkar tetap bersikeras menyangkalnya.
Kasus pemalsuan yang lebih menghebohkan adalah “Hanxin No. 1”, yang melibatkan Profesor Chen Jin, dekan Fakultas Mikroelektronika Universitas Jiaotong Shanghai. Kasus tersebut berdampak sangat buruk karena melibatkan penjiplakan produk perusahaan Amerika, Motorola.
Pada Agustus 2002, Chen Jin membeli 10 keping chip MOTO-Freescale 56800 dari Amerika Serikat. Ia kemudian meminta beberapa buruh mengikis tulisan “MOTO” dan tanda lainnya pada permukaan chip menggunakan amplas. Setelah itu, ia mencari sebuah perusahaan di Pudong untuk mencetak tulisan “Hanxin No. 1” pada permukaan chip yang telah dihaluskan dan menambahkan logo Hanxin.
Dengan demikian, “Hanxin No. 1”, yang diklaim memiliki “tingkat teknologi internasional yang maju”, pun “lahir”.
Dengan memanfaatkan “Hanxin No. 1”, Chen Jin kemudian mengajukan puluhan proyek penelitian dan memperoleh dana penelitian hingga lebih dari 100 juta yuan, selain mendapatkan berbagai penghargaan dan gelar.
Produk yang semula diharapkan dapat membanggakan masyarakat Tiongkok itu akhirnya terbongkar sebagai salah satu kasus pemalsuan penelitian ilmiah terbesar yang mencengangkan.
Revolusi Seksual di Lingkungan Pemerintahan PKT
Di bawah pemerintahan Jiang Zemin dan PKT, nilai-nilai moral yang normal disebut telah mengalami pembalikan secara menyeluruh. Pandangan tradisional mengenai keluarga, pernikahan, dan hubungan antara pria dan wanita mengalami pelecehan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Industri pornografi berkembang secara liar di masyarakat Tiongkok. Gagasan dan perilaku mengenai “pembebasan seksual” serta “kebebasan seksual” disebut merasuki berbagai lapisan masyarakat. Para pejabat PKT di berbagai tingkat digambarkan sebagai salah satu “representasi utama” dari praktik tersebut.
Pada malam 29 Oktober 2008, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang disebut Xiao Chen sedang makan bersama orang tuanya di sebuah restoran makanan laut di Distrik Nanshan, Shenzhen. Ketika ia menunjukkan arah kepada Lin Jiaxiang, sekretaris Partai Biro Maritim Shenzhen, Lin disebut mencengkeram leher anak tersebut dan menyeretnya secara paksa menuju toilet pria.
Ketika orang tua anak itu memprotes, Lin Jiaxiang bahkan dengan arogan berkata:
“Memangnya kenapa kalau saya melakukannya? Berapa uang yang kalian mau? Sebutkan saja harganya. Saya akan membayar!”
Masyarakat pun murka. Namun, pria tersebut malah semakin arogan. Ia menunjuk ayah anak itu dan berteriak:
“Kalian tahu siapa saya? Saya dikirim ke sini oleh Kementerian Transportasi di Beijing. Pangkat saya sama tingginya dengan wali kota kalian. Memangnya kenapa kalau saya mencengkeram leher anak itu? Kalian semua bukan apa-apa!”
Untuk menggambarkan betapa bobroknya kehidupan seksual para pejabat PKT pada masa itu, pengguna internet secara satir membuat “kompetisi pejabat yang memelihara simpanan” dan memilih sembilan kategori pemenang.
- Penghargaan Jumlah: Xu Qiyao, kepala Departemen Konstruksi Provinsi Jiangsu, disebut memiliki 146 selingkuhan. Ia juga dikenal sebagai pejabat yang menulis “surat pendidikan anak” dan menganggap korupsi sebagai satu-satunya tujuan menjadi pejabat.
- Penghargaan Kualitas: Zhang Zonghai, kepala Departemen Propaganda Komite Partai Kota Chongqing, disebut selama bertahun-tahun memelihara 17 mahasiswi sarjana cantik yang belum menikah di hotel-hotel berbintang lima.
- Penghargaan Akademik: Li Qingshan, kepala Biro Tekstil Provinsi Hainan, disebut memiliki 95 buku harian seksual dan 236 spesimen rambut tubuh perempuan.
- Penghargaan Pemuda: Li Yushu, wali kota Leshan, Sichuan, disebut memiliki 20 kekasih yang semuanya berusia antara 16 dan 18 tahun.
- Penghargaan Manajemen: Yang Feng, sekretaris Partai Kota Xuancheng, Anhui, disebut menggunakan pengetahuan MBA untuk mengelola 77 orang kekasih.
- Penghargaan Pemborosan Uang: Deng Baoju, kepala Bank Shajing di Shenzhen, disebut menghabiskan 18,4 juta yuan hanya untuk seorang simpanan bernama “Xiaoqing” dalam 800 hari.
- Penghargaan Solidaritas: Lin Longfei, sekretaris Partai Kabupaten Zhouning, Fujian, disebut mengadakan jamuan bersama untuk 22 orang kekasihnya dan menyediakan hadiah sebesar 300.000 yuan untuk para perempuan tersebut.
- Penghargaan Keharmonisan: Deng Shanhong, kepala regu penertiban kota di Kabupaten Lingao, Hainan, disebut memiliki enam kekasih dan enam anak, sesuatu yang bahkan tidak dipercayai oleh istrinya.
- Penghargaan Semangat Kerja: Zeng Guohua, kepala Biro Komunikasi Provinsi Hunan, disebut bersumpah di hadapan lima kekasihnya bahwa hingga berusia 60 tahun, ia akan memastikan berhubungan seksual dengan masing-masing dari mereka sedikitnya tiga kali seminggu.
Kekacauan Mencengangkan di Lingkungan Pemerintahan
Ada pula pihak yang pernah meneliti berbagai bentuk kerusakan moral di lingkungan pemerintahan PKT dan merangkumnya menjadi sepuluh bentuk korupsi yang berkembang pada masa itu. Berikut ringkasannya:
1. “Korupsi melalui simpanan” — transaksi kekuasaan dan seks.
Liu Chunjin, mantan wakil kepala Kantor Penelitian Komisi Disiplin Pusat, pernah menyatakan bahwa 90 persen pejabat korup yang jatuh memiliki simpanan—dengan ungkapan “sembilan dari sepuluh pejabat korup terlibat seks.” Para kekasih dan simpanan disebut bersekongkol dengan pejabat menjadi pemicu korupsi sekaligus mesin pencucian uang.
2. “Korupsi sekretaris.”
Korupsi dilakukan dengan memanfaatkan status sebagai “orang dekat” pejabat. Qin Yu, sekretaris Chen Liangyu, mantan sekretaris Partai Kota Shanghai, menerima suap sebesar 6,82 juta yuan.
3. “Korupsi keluarga.”
Kekuasaan berubah menjadi urusan keluarga. Salah satu contoh yang disebut adalah putra Jiang Zemin dan kerabatnya.
4. “Korupsi melalui pinjaman.”
Misalnya Chen Xuewei, mantan wakil kepala Bagian Energi dan Transportasi Komisi Pembangunan dan Reformasi Provinsi Shandong. Ia disebut menggunakan kendaraan milik perusahaan Qixing dengan dalih meminjam, padahal sebenarnya merupakan bentuk suap.
5. “Korupsi elegan.”
Penyuapan dan penerimaan suap dilakukan melalui barang antik, kaligrafi, dan lukisan.
6. “Korupsi hiburan.”
Melibatkan kartu anggota, makan, sauna, serta perempuan pendamping.
7. “Korupsi melalui tulisan kaligrafi.”
Pejabat korup Hu Changqing mengaku sebagai “ahli kaligrafi”. Ia menulis hampir 1.000 papan nama, bahkan meninggalkan “karya kaligrafi”-nya di toilet umum. Jika dihitung 3.000 yuan per tulisan, nilainya sekitar 3 juta yuan.
8. “Korupsi spiritual.”
Pejabat menggunakan takhayul dan feng shui untuk “melindungi” hasil korupsi mereka. Hu Jianxue, mantan sekretaris Partai Kota Tai’an, Shandong, misalnya, menghabiskan dana besar untuk membangun jembatan di atas danau. Ding Yangning, mantan sekretaris Partai Kabupaten Zhenghe, Fujian, bahkan mendirikan kantor khusus yang disebut “Kantor Pembangunan Menara” untuk membangun kuil dan menara.
9. “Korupsi penampilan.”
Pejabat memperoleh bayaran untuk menghadiri rapat, memberikan pidato, menghadiri upacara peletakan batu pertama, mengajar, menjadi simbol atau wajah suatu acara, dan sebagainya. Semua ini menjadi sumber “pendapatan abu-abu”.
10. “Korupsi pengemudi.”
Dengan memanfaatkan status khusus mereka, para pengemudi menjadi penghubung antara pemberi dan penerima suap, sehingga ikut mendorong korupsi di lingkungan pemerintahan.
Bagaimana Pejabat Korup Terbongkar
Jika ditelusuri, alasan dan proses terbongkarnya pejabat korup PKT sangat beragam. Bahkan sebagian memiliki unsur yang sangat “dramatis”. Dari sisi lain, hal tersebut juga menunjukkan betapa luas dan seriusnya korupsi di lingkungan pemerintahan. Sejumlah pengguna internet kemudian merangkumnya.
1. Pejabat korup yang “ditemukan” oleh pemulung
Di dalam sebuah kotak teh lama ternyata terdapat delapan buku tabungan. Seorang petani yang mengumpulkan barang bekas membelinya hanya seharga 30 sen. Belakangan, kasus Wang Zhiye, mantan wakil sekretaris Partai Kota Zhengzhou sekaligus sekretaris Komisi Disiplin, terbongkar. Total dana ilegal yang ditemukan mencapai 3,872 juta yuan.
2. Pejabat korup yang “ditemukan” oleh pencuri
Hu Fangyu, mantan wakil ketua Konferensi Konsultatif Politik Kabupaten Changshun, Provinsi Guizhou, pernah kehilangan celananya karena dicuri. Ketika polisi melakukan pemeriksaan rutin, mereka menemukan empat sertifikat deposito bernilai besar tersembunyi di lapisan sabuk celana tersebut.
Nilainya jelas tidak sesuai dengan penghasilan pribadi Hu sehingga ia kemudian menjalani penyelidikan disipliner.
3. Pejabat korup yang terbongkar setelah “meledakkan” selingkuhannya
Duan Yihe, mantan ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Kota Jinan, terbongkar setelah diduga memerintahkan pembunuhan terhadap selingkuhannya melalui ledakan bom.
Duan sebelumnya disebut telah membeli empat apartemen dan dua mobil di Jinan untuk selingkuhannya, selain memberikan uang “belanja” sebesar 1 juta yuan.
Ia juga membantu orang tua selingkuhannya, yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan, mendapatkan posisi sebagai pegawai pemerintah Kota Jinan dan bahkan mengurus pensiun mereka. Adik perempuan selingkuhannya juga disebut menjadi pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah Jinan.
4. Pejabat korup yang “bocor” akibat pipa air berkualitas buruk
Yan Dabin, mantan kepala Biro Transportasi Kabupaten Wushan, Chongqing, diduga menerima suap sebesar 22,26 juta yuan.
Kasusnya terbongkar setelah pipa air di dapur rumahnya pecah dan menyebabkan kebocoran. Penghuni lantai bawah kemudian melapor kepada polisi. Saat memeriksa rumah tersebut, polisi menemukan hampir 10 juta yuan uang tunai di kamar mandi.
5. Pejabat korup yang “ditipu” oleh penipu
Chen Yaonan, mantan wakil sekretaris Partai Kota Zhenjiang, Jiangsu, berharap memperoleh promosi ketika dilakukan penyesuaian jajaran pimpinan kota.
Ia kemudian bertemu dengan beberapa penipu, termasuk Hou Wanqing, yang menyamar sebagai pejabat lembaga pemerintah pusat dan menjalankan skema “jual beli jabatan.”
Chen dan orang-orang kepercayaannya kemudian mengumpulkan uang melalui suap dan beberapa kali pergi ke Beijing untuk membeli jabatan. Chen bahkan mempersiapkan riwayat hidup dan berbagai dokumen, kemudian pergi sendiri ke Beijing untuk melaporkan diri kepada “pimpinan”.
Setelah Hou Wanqing dan para penipu lainnya ditangkap atas tuduhan penipuan, Chen Yaonan juga ditangkap karena berusaha membeli jabatan.
Pada akhirnya, ia membayar 1,32 juta yuan dan 40.000 dolar AS untuk mendapatkan “kebahagiaan kosong”. Pengadilan kemudian menjatuhinya hukuman penjara seumur hidup atas tindak pidana menerima suap dan memiliki kekayaan dalam jumlah besar yang sumbernya tidak dapat dijelaskan.
6. Pejabat korup yang terbongkar melalui buku harian erotis
Han Feng, kepala Biro Tembakau Kabupaten Laibin, Guangxi, memiliki kebiasaan menulis buku harian. Tanpa diduga, sejumlah bagian dari buku harian erotisnya tersebar di internet.
Para pengguna internet kemudian melakukan “pencarian massal” untuk mengungkap identitasnya. Setelah identitas Han terkonfirmasi, kasus tersebut menarik perhatian lembaga pengawasan disiplin dan akhirnya ia diperiksa serta dijatuhi hukuman.
Jika melihat berbagai bentuk korupsi pejabat PKT, kasus-kasus tersebut sungguh mencengangkan. Berbagai keburukan muncul ke permukaan dan kekacauan terjadi di mana-mana. Bahkan jika Guinness World Records membuat buku khusus, tetap akan sulit mengikuti berbagai cara baru dan ekstrem yang terus bermunculan dalam praktik korupsi pejabat PKT.
“Surat Pendidikan Anak” dari Pejabat Korup PKT
Berikut adalah surat yang beredar di internet, yang disebut-sebut ditulis oleh Xu Qiyao, mantan kepala Departemen Konstruksi Provinsi Jiangsu, kepada putranya setelah ia ditangkap karena menerima suap dan melakukan korupsi senilai lebih dari 20 juta yuan.
Anakku:
Suratmu sudah kuterima. Aku sangat senang dengan prestasimu di universitas. Kamu harus terus berusaha.
Karena kamu telah memilih jalan untuk memasuki dunia politik dan menjadi pejabat, kamu harus mengingat baik-baik nasihat yang akan kusampaikan:
1. Jangan mengejar kebenaran dan jangan mencari hakikat sebenarnya dari berbagai hal.
Serahkan urusan mencari kebenaran kepada kaum intelektual. Itu urusan mereka.
Pegang teguh prinsip berikut: Apa pun yang menguntungkan dirimu adalah benar. Jika benar-benar tidak mampu menentukan, sederhanakan saja menjadi: Apa yang dianjurkan oleh pimpinan di atas adalah benar.
2. Jangan hanya belajar berbohong, tetapi harus pandai berbohong.
Jadikan berbohong sebagai kebiasaan—tidak, bahkan sebagai profesi—hingga pada akhirnya kamu sendiri mempercayai kebohongan itu.
Pelacur dan pejabat memiliki kemiripan dalam satu hal: yang dijual oleh pejabat adalah mulutnya. Ingat, setelah menjadi pejabat, mulutmu bukan lagi sepenuhnya milikmu. Apa yang kamu katakan harus disesuaikan dengan kebutuhan.
3. Harus memiliki ijazah, tetapi jangan benar-benar memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang sebenarnya justru akan merugikanmu.
Dengan pengetahuan, kamu akan mampu berpikir secara mandiri. Berpikir mandiri adalah pantangan besar dalam dunia politik.
Jangan terkecoh melihat para pemimpin sekarang bergelar master atau doktor. Itu semua palsu.
Ada orang yang setelah memperoleh gelar doktor langsung mengikuti ujian penerimaan pegawai negeri dan memasuki dunia politik. Itu berarti sejak mulai kuliah ia memang tidak pernah berniat melakukan penelitian ilmiah. Ia pasti tidak memiliki kemampuan nyata.
Ingat: doktor sejati tidak akan pernah bisa menjadi pejabat.
4. Apa tujuan menjadi pejabat? Kepentingan.
Kamu harus tanpa lelah meraup berbagai macam keuntungan.
Sekarang sebagian orang menyebutnya korupsi. Kamu bukan hanya harus memahami dengan jelas bahwa meraup keuntungan adalah tujuan menjadi pejabat, tetapi harus menjadikannya satu-satunya tujuan.
Pimpinanmu mempromosikanmu karena kamu dapat memberinya keuntungan.
Bawahanmu mematuhimu karena kamu dapat memberinya keuntungan.
Rekan dan teman di sekitarmu membantumu karena kamu dapat memberinya keuntungan.
Kamu sendiri boleh tidak mengambil keuntungan, tetapi keuntungan untuk orang lain harus kamu berikan.
Ingat, begitu tujuan meraup keuntungan menjadi kabur, kamu sudah semakin dekat dengan kegagalan.
5. Harus menempatkan kemampuan “bergaul” di atas kemampuan bekerja.
Yang dimaksud dengan “bergaul” di sini adalah membangun hubungan.
Pekerjaan adalah tugas nyata; bisa atau tidak mengerjakannya sebenarnya tidak terlalu penting.
“Bergaul” berarti menempatkan dirimu sebagai satu titik dan merajut dirimu ke dalam jaringan hubungan ke segala arah sehingga menjadi bagian dari jaringan tersebut.
Ingat, ketika orang sekarang mengatakan seseorang memiliki kemampuan kerja yang kuat, itu sama sekali bukan berarti ia pandai mengerjakan pekerjaan, melainkan ia pandai membangun hubungan.
Hehe, lihat saja orang-orang yang mengartikan kemampuan sebagai kemampuan bekerja. Jangan heran jika mereka tidak memiliki kehidupan yang baik.
6. Bagaimanapun masyarakat berubah secara lahiriah, pada hakikatnya tetap merupakan masyarakat petani.
Siapa pun yang mampu mengikuti keinginan petani akan berhasil.
Orang-orang di sekitar kita, apa pun penampilan mereka, pada dasarnya tetap petani.
Ciri petani adalah berpandangan pendek dan mementingkan keuntungan jangka pendek.
Karena itu, cara kamu melakukan sesuatu juga harus memiliki karakter seperti itu: mengejar hasil jangka pendek dan berpandangan sempit.
Begitu pandanganmu menjadi terlalu jauh, kamu tidak lagi termasuk dalam kelompok ini. Akibatnya dapat dibayangkan.
Pelajari lebih banyak cara-cara feodal, seperti menjadikan seseorang sebagai saudara angkat dan sebagainya. Semua itu tidak berlebihan.
7. Percayalah bahwa menjilat atasan adalah sebuah seni tingkat tinggi.
Jangan pernah mengira bahwa menjilat atasan hanya membutuhkan keberanian untuk mengorbankan harga diri.
Banyak perempuan yang bersedia mengorbankan harga diri, tetapi hanya sedikit yang berhasil mendapatkan pria kaya atau menjual dirinya dengan harga tinggi. Sebagian besar akhirnya hanya menjadi pekerja seks kelas bawah.
Prinsipnya sama dengan menjilat atasan.
Menjilat bertujuan mendapatkan penghargaan dari atasan. Dalam masyarakat yang berdasarkan pemerintahan manusia, bukan hukum, penghargaan atasan adalah satu-satunya jalan menuju promosi jabatan. Yang lainnya hanyalah formalitas.
Hal ini harus benar-benar kamu pahami.
8. Semua hukum, peraturan, kebijakan, dan sistem tidak harus dipatuhi secara ketat.
Lebih tepatnya, dalam pelaksanaannya semuanya dapat ditafsirkan secara fleksibel.
Para pembuat hukum, peraturan, kebijakan, dan sistem tidak pernah berpikir bahwa aturan tersebut akan digunakan untuk membatasi diri mereka sendiri. Tujuannya adalah membatasi orang lain.
Namun, kamu harus memahami bahwa tidak semua orang boleh melanggarnya.
Kapan harus mematuhinya dengan tegas, kapan diam-diam melanggarnya, dan siapa yang boleh melanggarnya—semuanya harus ditentukan berdasarkan situasi. Jika tidak, kamu akan salah langkah, baik ketika terlalu longgar maupun terlalu ketat.
Itulah prinsip-prinsip menjadi pejabat.
Sekarang pikirkan baik-baik. Jika kamu benar-benar mampu menjalankan semuanya satu per satu, jalanmu akan lancar. Jika kamu merasa tidak mampu, segera pilih profesi lain.
Tim Penulis Jiang Zemin yang Sebenarnya
Diproduksi bersama oleh New Tang Dynasty Television (NTD)
Hak cipta dilindungi.


