Serangan Udara Paling Mematikan di Kyiv Tahun Ini, Serangan Rusia terhadap Gudang Amunisi Ukraina Tewaskan 38 Orang

EtIndonesia.com  Pada 29 Agustus, Rusia menghantam sebuah gudang amunisi militer Ukraina dan memicu serangkaian ledakan besar. Hingga 30 Agustus, pihak Ukraina mengonfirmasi bahwa serangan tersebut telah menewaskan 38 orang. Ini merupakan serangan dengan jumlah korban terbesar yang ditimbulkan pasukan Rusia di wilayah Kyiv sepanjang tahun ini.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 30 Agustus mengatakan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Rusia di wilayah Kyiv pada 29 Agustus telah meningkat menjadi 38 orang, sementara 20 orang terluka dan empat lainnya masih hilang.

Ledakan di gudang amunisi tersebut merusak sedikitnya 50 gedung hunian, sementara lebih dari 370 orang harus dievakuasi dalam keadaan darurat. Serangan ini menjadi salah satu serangan paling mematikan yang dialami Ukraina sepanjang tahun ini.

Seorang warga setempat mengatakan: “Dinding api melesat ke arah kami. Anak laki-laki saya jatuh berlutut di tanah dan berteriak, ‘Mama, cepat tiarap!’ Jadi saya berlutut dan mulai merangkak pulang.”

Zelenskyy juga mengkonfirmasi bahwa dalam sepekan terakhir, Rusia telah meluncurkan hampir 2.000 drone serang, lebih dari 1.600 bom udara, serta 31 rudal berbagai jenis ke Ukraina, termasuk rudal balistik buatan Korea Utara.

Pada saat yang sama, pasukan Ukraina juga melancarkan serangan jarak jauh ke sejumlah wilayah Rusia.

Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengonfirmasi bahwa pada dini hari 30 Agustus, pasukan Ukraina menyerang sebuah kilang minyak besar di wilayah Leningrad, Rusia bagian barat laut. Kilang tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 20 juta ton minyak per tahun dan memasok bahan bakar untuk militer Rusia.

Selain itu, sebuah pangkalan udara di wilayah Krasnodar Krai juga menjadi sasaran serangan Ukraina.

Menurut laporan Axios, dua sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa Direktur CIA John Ratcliffe secara diam-diam mengunjungi Moskow awal pekan ini. Dalam kunjungan tersebut, ia mengusulkan digelarnya pertemuan tiga pihak antara pemimpin Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina untuk mengakhiri perang.

Pemerintahan Trump sebelumnya juga pernah mengusulkan gagasan serupa. Zelensky menyatakan dukungannya, tetapi Presiden Rusia Vladimir Putin menolak usulan tersebut.

Pada 30 Agustus, Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Ukraina sedang mempersiapkan komunikasi putaran baru dengan perwakilan Amerika Serikat dan akan melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa perang tidak menjadi satu-satunya pilihan bagi masa depan negara tersebut.

Laporan: Yu Liang, NTD Television.

INSPIRASI ERABARU

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

Jerat Algoritma dan Hilangnya Rasa Hormat: Refleksi Etika Digital dari Kematian Tragis Dua Konten Kreator

Kehidupan di era digital telah bergeser dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi panggung perebutan perhatian tanpa batas. Di bawah kendali algoritma yang tak kasat...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine