Trump Guncang Sidang PBB! Ultimatum Iran Menggelegar, 3 Jam Kemudian Terjadi Pertemuan Rahasia

EtIndonesia.com Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa, 22 September 2026, berubah menjadi panggung diplomasi yang sangat panas ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato yang berisi serangkaian peringatan keras mengenai Iran, Kuba, Venezuela, hingga lembaga-lembaga internasional.

Pidato tersebut disampaikan dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York. PBB sendiri memiliki 193 negara anggota, sementara sekitar 130 kepala negara dan kepala pemerintahan berada di New York untuk mengikuti rangkaian pertemuan tingkat tinggi pekan ini.

Dalam pidato sekitar 37 menit itu, Trump menampilkan kebijakan luar negeri pemerintahannya sebagai upaya memperkuat posisi Amerika Serikat di tengah berbagai konflik internasional. Namun, perhatian terbesar tertuju pada pernyataannya mengenai Iran.

Trump secara terbuka memperingatkan bahwa jika jalur diplomasi gagal, Teheran dapat menghadapi konsekuensi militer yang jauh lebih berat. Pada saat yang sama, ia tetap membuka kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran.

Situasi menjadi semakin menarik karena hanya beberapa jam setelah pidato tersebut, muncul konfirmasi mengenai kontak diplomatik selama sekitar tiga jam yang melibatkan pejabat Amerika Serikat dan Iran di sela-sela pertemuan PBB.

Insiden Koper Mencurigakan di Tengah Ketatnya Pengamanan

Ketegangan di New York pada 22 September tidak hanya berlangsung di ruang diplomasi.

Pada Selasa sore, sebuah koper mencurigakan ditemukan di trotoar dekat East 43rd Street dan Third Avenue, tidak jauh dari Chrysler Building dan hanya beberapa blok dari markas besar PBB.

Polisi New York mengerahkan unit penjinak bom dan layanan darurat. Sebagai tindakan pencegahan, Chrysler Building sempat dievakuasi dan sejumlah ruas jalan ditutup.

Setelah pemeriksaan sekitar 90 menit, aparat menyatakan koper tersebut tidak menimbulkan ancaman. Tidak ada korban yang dilaporkan. Insiden terjadi ketika pengamanan Manhattan sedang diperketat akibat berlangsungnya Sidang Majelis Umum PBB.

Trump Serang Kuba, Delegasi Keluar dari Ruangan

Salah satu bagian pidato yang langsung memicu reaksi terjadi ketika Trump membahas Kuba.

Trump menyebut Kuba sebagai negara yang gagal dan mengatakan pemerintahan komunis di Havana sedang menghadapi tekanan yang sangat besar. Ia kemudian memprediksi perubahan besar akan terjadi di negara tersebut.

Trump menyatakan bahwa pemerintahannya menginginkan perubahan mendasar terhadap situasi di Kuba dan mengatakan kebebasan pada akhirnya akan datang ke negara itu.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi delegasi Kuba. Reuters melaporkan delegasi Kuba meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum ketika Trump menyampaikan pernyataannya.

Trump juga menyinggung Venezuela dan mempertahankan kebijakan keras pemerintahannya di kawasan Amerika Latin. Ia menggambarkan tindakan Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya mencegah kekuatan asing memperoleh pijakan strategis yang dapat mengancam Washington di Belahan Barat.

Kritik Keras terhadap ICC

Trump kemudian mengarahkan kritiknya kepada Mahkamah Pidana Internasional atau ICC.

Ia menyerukan negara-negara anggota ICC untuk meninggalkan lembaga tersebut dan menyebut pengadilan internasional itu sebagai institusi yang telah kehilangan kendali.

Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan menerima upaya membawa personel militer Amerika Serikat ke proses hukum internasional yang menurut Washington tidak memiliki yurisdiksi atas mereka.

“Saya menyerukan kepada semua negara yang menjadi anggota ICC untuk secara resmi meninggalkan institusi ini,” kata Trump dalam pidatonya.

Pernyataan itu memperlihatkan kembali penolakan pemerintahan Trump terhadap yurisdiksi ICC atas warga negara Amerika Serikat.

Namun, kritik Trump tidak berhenti pada ICC. Ia juga mengkritik sejumlah lembaga internasional dan birokrasi PBB yang menurutnya telah bergerak terlalu jauh dari kepentingan negara-negara anggotanya. Meski demikian, Trump mengatakan PBB tetap memiliki potensi besar apabila melakukan reformasi.

Iran Menjadi Pusat Perhatian

Bagian paling penting dalam pidato Trump muncul ketika pembicaraan beralih kepada Iran.

Trump mengatakan pemerintahannya menghadapi pilihan besar: mencapai kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi Iran untuk membangun kembali negaranya, atau mengambil tindakan yang jauh lebih keras apabila Teheran menolak kesepakatan.

Ia juga mengatakan dirinya memperkirakan kemungkinan tercapainya kesepakatan setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026.

Ancaman tersebut muncul ketika hubungan Washington dan Teheran berada dalam kondisi sangat tegang, terutama akibat konflik bersenjata serta persoalan Selat Hormuz.

Trump juga menyerukan kepada negara-negara lain untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Menariknya, delegasi Iran juga dilaporkan meninggalkan ruang sidang ketika Trump membahas operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, meskipun seorang perwakilan disebut tetap berada di tempat.

Iran Disebut Bersedia Membuka Hormuz dalam Tujuh Hari

Di tengah ketegangan tersebut, muncul perkembangan diplomatik penting.

Pada 22 September 2026, laporan yang mengutip pejabat senior Iran menyebut Teheran bersedia membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat mulai mengurangi tekanan militer dan mengambil langkah menuju penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran.

Proposal itu disebut telah disampaikan kepada Washington melalui mediator. Iran juga dikabarkan bersedia kembali ke meja perundingan. Namun, laporan dari Teheran menunjukkan adanya perbedaan sikap di kalangan internal Iran mengenai sejauh mana konsesi tersebut telah disetujui.

Karena itu, kabar mengenai tawaran Iran harus dibaca dengan hati-hati. Sejumlah media Iran yang dekat dengan kelompok garis keras membantah bahwa posisi baru telah secara resmi diadopsi.

Kemungkinan pertemuan langsung antara Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di New York juga dinilai sangat kecil.

Diplomasi Tiga Jam Setelah Ancaman Trump

Kemudian datang perkembangan yang mungkin menjadi bagian terpenting dari seluruh rangkaian peristiwa hari itu.

Hanya beberapa jam setelah pidato Trump, pejabat Amerika Serikat dan Iran melakukan pembicaraan selama sekitar tiga jam di New York.

Trump kemudian mengonfirmasi adanya pembicaraan tersebut dan menggambarkannya sebagai pertemuan yang sangat baik dan produktif.

Utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff terlibat dalam pembicaraan itu. Laporan lain menyebut Jared Kushner juga ikut dalam upaya diplomatik Amerika, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mewakili pihak Iran. Qatar disebut memainkan peran sebagai mediator.

Trump mengatakan dirinya memperkirakan pembicaraan berikutnya dapat berlangsung dalam waktu dekat.

Perkembangan itu menjadi menarik karena diplomasi berlangsung hanya beberapa jam setelah Trump menggunakan bahasa yang sangat keras terhadap Iran dari podium PBB.

Di satu sisi, Washington terus meningkatkan tekanan militer dan ekonomi. Di sisi lain, saluran komunikasi dengan Teheran ternyata masih terbuka.

Antara Ancaman dan Diplomasi

Rangkaian kejadian pada 22 September 2026 akhirnya memperlihatkan dua wajah hubungan Amerika Serikat dan Iran yang berjalan secara bersamaan.

Di ruang Sidang Majelis Umum PBB, Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran dan menyerukan tekanan ekonomi internasional yang lebih besar. Tetapi di balik pintu diplomasi New York, perwakilan kedua pihak justru kembali berkomunikasi selama berjam-jam.

Belum ada kepastian apakah pembicaraan tersebut akan menghasilkan kesepakatan mengenai Selat Hormuz ataupun penyelesaian konflik yang lebih luas. Perbedaan antara tuntutan Washington dan Teheran masih sangat besar, sementara tekanan politik di kedua negara juga tetap tinggi.

Namun, peristiwa pada 22 September menunjukkan bahwa meskipun ancaman militer masih mendominasi pernyataan publik, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Karena itu, perhatian dunia kini tertuju pada apa yang akan terjadi setelah New York: apakah pertemuan tiga jam tersebut hanya menjadi kontak diplomatik sementara, atau justru menjadi langkah awal menuju perundingan yang lebih serius.

Di tengah konflik Iran, ketegangan di Selat Hormuz, perang Rusia–Ukraina, serta persaingan kekuatan besar dunia, Sidang Majelis Umum PBB tahun ini sekali lagi menunjukkan bahwa New York bukan hanya menjadi tempat para pemimpin menyampaikan pidato.

Di balik ruang sidang dan pernyataan keras di depan kamera, negosiasi yang menentukan arah sebuah konflik justru dapat berlangsung beberapa jam kemudian—secara tertutup, jauh dari podium utama. (***)

INSPIRASI ERABARU

Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Membahayakan Ginjal

Makanan berjamur dan makanan yang tercemar logam berat dapat merusak fungsi ginjal. Hu Naiwen Kebanyakan orang mengetahui bahwa sering begadang, minum alkohol secara berlebihan, dan menggunakan...

Ketika Kehidupan Modern Bergerak Lebih Cepat daripada Kemampuan Tubuh Anda

Kebutuhan untuk terus terburu-buru memiliki istilah tersendiri: “hurry sickness” atau sindrom terburu-buru. Sheridan Genrich Anda mungkin merasa tidak membutuhkan waktu istirahat tambahan atau menganggap tubuh yang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine