EtIndonesia.com Situasi perang di Timur Tengah terus berkembang. Akibat gangguan yang terus dilakukan oleh milisi Houthi, jumlah korban jiwa dan luka-luka di Yaman terus bertambah, sementara pasokan medis semakin langka. Selain itu, muncul laporan bahwa Houthi telah menembakkan peluru artileri yang mengandung zat beracun. Berikut laporannya.
Korban Terus Berjatuhan di Yaman, Layanan Kesehatan Terpuruk; Houthi Dituding Menggunakan Peluru Artileri Beracun
Konflik antara pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan milisi Houthi terus meningkat. Koalisi pimpinan Arab Saudi sebelumnya menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal yang ditembakkan Houthi ke Provinsi Timur Arab Saudi.
Pada Rabu (28/10), berdasarkan laporan dari garis depan, otoritas Yaman mengecam milisi Houthi karena menggunakan peluru artileri yang diduga mengandung zat beracun terlarang di garis depan Al-Aqroud dan Kahlan, di wilayah Taiz.
Pihak Yaman menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) untuk segera melakukan penyelidikan atas dugaan penggunaan dan penyelundupan bahan kimia tersebut, serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.
Saat ini, Houthi masih menguasai ibu kota Yaman, Sana’a, serta wilayah barat laut negara tersebut.
Sebelumnya, militer pemerintah Yaman menyatakan bahwa Bandara Aden mengalami kerusakan setelah diserang oleh Houthi. Bandara tersebut merupakan jalur kehidupan kemanusiaan bagi Yaman bagian selatan sekaligus pintu gerbang utama kawasan itu.
Warga sipil Yaman juga menghadapi dampak yang sangat menghancurkan. PBB dan sejumlah organisasi lainnya menyatakan bahwa kebutuhan medis di Kota Taiz sangat mendesak. Persediaan obat-obatan, tabung oksigen, sarung tangan bedah, obat bius, dan perlengkapan medis lainnya mengalami kekurangan parah.
“Dulu kehidupan kami lebih baik dibandingkan sekarang. Kehidupan macam apa ini? Ini sama sekali bukan kehidupan. Saya sudah menderita selama delapan hari, tetapi tidak ada seorang pun yang memperhatikan saya. Tidak ada obat pereda nyeri, tidak ada pengobatan, tidak ada apa pun. Ini sama sekali bukan kehidupan,” ujar Amal Al-Sabri, seorang perempuan hamil asal Yaman.
Palang Merah menyatakan bahwa rumah sakit di dekat garis depan Yaman dipenuhi oleh korban luka. Dalam kurun waktu hanya satu minggu, rumah sakit menerima hingga 700 korban luka akibat perang.
Letnan Jenderal Angkatan Darat AS Dipecat karena Diduga Membocorkan Informasi Sensitif Perang kepada Media
Fox News mengutip pejabat Departemen Perang AS yang melaporkan bahwa pemerintahan Trump saat ini sedang menyelidiki orang dalam yang diduga membocorkan informasi sensitif terkait perang kepada media.
Di tengah penyelidikan tersebut, Letnan Jenderal Angkatan Darat AS Brett Sylvia yang telah dipecat dilaporkan gagal dalam tiga kali tes poligraf terkait kebocoran informasi rahasia. Penyelidikan terhadap dirinya telah diserahkan kepada Departemen Kehakiman.
Ia juga dituduh bertemu dengan wartawan di luar Pentagon dengan maksud membocorkan informasi rahasia, setelah Hegseth memberlakukan pembatasan baru terhadap akses media.
Sementara itu, beredar kabar bahwa Wakil Presiden AS JD Vance mengambil inisiatif mengirim surat kepada kelompok garis keras Iran untuk memulai kembali perundingan perdamaian.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Trump sebelumnya mengatakan bahwa dirinya tidak pernah memberikan instruksi terkait hal itu. Ia juga menyatakan bahwa surat tersebut bertujuan untuk mengatur pengiriman pasokan medis bagi rakyat Iran.
Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) berturut-turut mengunggah sejumlah pernyataan yang memperlihatkan rekaman jet tempur F-16 terbang di atas wilayah Timur Tengah. CENTCOM juga membantah klaim Iran yang menyatakan telah menangkap sebuah drone militer AS.
Media berita Axios melaporkan bahwa jika kesepakatan tidak dapat dicapai, Amerika Serikat dan Israel sedang bersiap melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran selama satu minggu.
Sementara itu, di tengah gangguan Iran yang terus berlanjut terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, QatarEnergy telah menandatangani perjanjian pasokan gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat selama 20 tahun.
Perjanjian tersebut tidak hanya memberikan Qatar sumber pasokan energi alternatif di luar kawasan Teluk Persia, tetapi juga sekaligus menjadikan Qatar sebagai pembeli LNG terbesar dari Amerika Serikat.
Reporter NTD: Wang Ziyi, dengan laporan gabungan.


