Baru-baru ini, seorang pemilik restoran di Shenzhen, Provinsi Guangdong, mengunggah video yang menyebutkan bahwa polisi datang langsung ke tempat usahanya dan mengunci pisau-pisau dapur menggunakan rantai. Peristiwa tersebut membuatnya mempertanyakan kondisi keamanan masyarakat di Tiongkok.
EtIndonesia.com Pada 30 Oktober 2026, seorang pemilik restoran “Jiudao Geng Quan Niu Yan” (玖道耕全牛宴) di Distrik Longhua, Shenzhen, merekam video yang memperlihatkan pisau-pisau dapurnya dirantai dan digembok. Ia mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap kebijakan tersebut.
“Saya sekarang membuka restoran di Shenzhen. Bahkan untuk menjalankan restoran, saya harus memotong sayuran dengan cara seperti ini. Menurut kalian, bagaimana bisa begini? Bukankah ini membuat saya sangat kesulitan?” ujar pemilik restoran tersebut.
Ia melanjutkan, “Coba kalian katakan, apakah kondisi keamanan di luar sekarang memang sudah sampai harus seperti ini? Lihatlah, saya hanya membuka restoran, tetapi untuk memotong sayuran saja pisau harus dipasangi benda seperti ini.”
10月30日,广东深圳龙华区“玖道耕全牛宴”饭店老板称,厨房菜刀被警方用链条上锁固定,链条是警察亲自上门安装的。他直言,現在治安這麼差了嗎? https://t.co/znULzbnKdJ
— ying tang (@yingtan04410735) November 2, 2026
Ia juga mengatakan bahwa rantai pengunci pisau tersebut dipasang langsung oleh polisi yang datang ke restorannya. Ia kemudian bertanya kepada para pemilik usaha kuliner lainnya, “Apakah kalian juga terbiasa menggunakan pisau dengan cara seperti ini?”
Di kolom komentar, banyak warganet memberikan tanggapan. Salah seorang berkomentar, “(Pisau yang digembok) sudah diterapkan selama bertahun-tahun di Xinjiang, sekarang sudah sampai ke Shenzhen.”
Pemilik restoran tersebut membalas komentar itu dengan mengatakan, “Kabarnya, sekarang semua komunitas perumahan di daerah kami juga akan diwajibkan mengunci pisau.”
Di bawah pemerintahan otoriter Partai Komunis Tiongkok (PKT), kehidupan masyarakat biasa semakin sulit, sementara insiden perlawanan semakin sering terjadi.
Pada 22 Mei 2025, di Kota Wushi, Kabupaten Luchuan, Kota Yulin, Provinsi Guangxi, seorang pria menyerang sejumlah polisi dengan pisau di jalanan. Dalam pengumuman resminya, pihak berwenang menyatakan bahwa beberapa orang mengalami luka-luka.
🔥 网传广西柳州男子持刀追砍警察!网友发布视频披露,5月28日晚,广西柳州一男子持刀追砍两名警察,警察虽手持防暴器械,可还是被追的满街乱跑。后来该男子被赶来增援的警察们合力压倒在地,还在高喊的什么,疑似与警察有仇。‼️ https://t.co/uSvPsDx91b
— 德潤傳媒 (@DXDWX999) May 30, 2025
Namun, seorang warga yang mengetahui kejadian tersebut mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pengumuman resmi telah menyembunyikan jumlah korban tewas dan luka-luka serta motif pelaku. Menurutnya, pria tersebut memiliki dendam lama terhadap polisi lalu lintas dan sengaja mendatangi mereka untuk melakukan pembalasan.
“Pengumuman itu palsu. Faktanya, seorang polisi lalu lintas tewas setelah ditikam di bagian jantung. Seorang pengemudi ojek motor yang biasa mencari penumpang di pinggir jalan juga tewas, sementara enam orang lainnya terluka,” ungkap warga tersebut.
Video yang beredar di internet juga memperlihatkan kejadian pada malam 28 Mei 2025 di Liuzhou, Guangxi. Seorang pria bersenjata pisau mengejar dan menyerang dua polisi. Meskipun kedua polisi tersebut membawa perlengkapan anti huru-hara, mereka tetap dikejar hingga berlarian di sepanjang jalan.
Menghadapi gelombang perlawanan masyarakat, pihak berwenang PKT semakin diliputi ketakutan dan menerapkan kebijakan pemeliharaan stabilitas sosial (weiwen) secara semakin ekstrem.
Praktik penguncian pisau yang sebelumnya diterapkan di pasar-pasar tradisional Xinjiang kini mulai menyebar ke berbagai wilayah Tiongkok.
Pada 9 September lalu, seorang pedagang daging di Pasar Tradisional Rongnan, Distrik Songjiang, Shanghai, mengunggah video yang mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima pemberitahuan agar pisau-pisau yang digunakan untuk berjualan dipasangi rantai besi sebagai pengaman.
Ia mengingatkan rekan-rekan pedagang di Shanghai, “Sekarang semua pisau harus dikunci!”
Sebuah video memperlihatkan seorang pedagang sedang memasang kabel baja pada bagian ujung gagang dua bilah pisau yang berada di atas meja pemotongan daging.
Dilaporkan oleh Luo Tingting; Editor Wen Hui


