ETIndonesia. Setelah terjadi kontak senjata langsung antara Israel dan Iran pada Oktober lalu, pada Jumat (1 November), Amerika Serikat mengumumkan akan menyesuaikan kembali aset militer mereka. Di tengah persiapan kelompok serang kapal induk “USS Abraham Lincoln” untuk meninggalkan Timur Tengah, AS akan mengerahkan pembom jarak jauh B-52, pesawat tempur, pesawat pengisi bahan bakar, dan kapal perusak Angkatan Laut ke Timur Tengah sebagai peringatan bagi Iran.
Menurut laporan dari Kantor Berita Sentral (CNA) Taiwan, Departemen Pertahanan AS dalam pernyataannya mengatakan bahwa penempatan ini akan terlaksana dalam beberapa bulan mendatang, menunjukkan fleksibilitas AS dalam pergerakan militer di seluruh dunia.
Juru bicara Departemen Pertahanan AS, Patrick Ryder, dalam pernyataannya mengatakan, “Jika Iran dan mitra atau perwakilannya memanfaatkan situasi ini untuk menyerang personel atau kepentingan AS di Timur Tengah, Amerika Serikat akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi personel kami.”
Sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok Islamis Palestina, Hamas, di Jalur Gaza pada Oktober tahun lalu, ketegangan meningkat di kawasan tersebut selama setahun terakhir. AS telah menempatkan hingga dua kapal induk di Timur Tengah dalam periode ini.
Kepergian USS Abraham Lincoln berarti akan ada waktu ketika AS tidak memiliki kapal induk di wilayah Timur Tengah.
Pada Oktober lalu, Israel dan Iran terlibat dalam bentrokan langsung. Israel juga berhadapan dengan Hamas yang didukung Iran di Jalur Gaza serta kelompok Hizbullah di Lebanon. Selain itu, Israel melancarkan serangan udara setelah diserang oleh kelompok pemberontak Houthi dari Yaman yang bersekutu dengan Iran.
AS berkomitmen untuk membantu melindungi Israel dari serangan dan juga melindungi pasukan AS yang berada di Timur Tengah. Pasukan AS di Timur Tengah pernah diserang oleh organisasi yang didukung Iran di Suriah, Irak, Yordania, dan di lepas pantai Yaman.
Tambahan sumber daya ini didasarkan pada pengerahan pertahanan AS sebelumnya di Timur Tengah untuk mendukung Israel, termasuk sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) yang dioperasikan langsung oleh militer AS dan ditempatkan di Israel pada akhir bulan lalu. (jhon)
EtIndonesia.Komando Sentral Amerika Serikat mengumumkan bahwa pesawat pengebom jarak jauh B-52 Stratofortress telah tiba di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer AS di wilayah tersebut. Langkah ini diambil sehari setelah Washington memperingatkan Iran tentang pengiriman tambahan armada bomber, jet tempur, pesawat tanker, serta kapal perusak ke kawasan ini, sebagai sinyal kesiagaan AS terhadap ancaman potensial.
Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS, Mayor Jenderal Patrick Ryder, kedatangan armada B-52 dan penambahan kekuatan tempur lainnya adalah langkah antisipatif.
“Jika Iran atau sekutunya mengambil tindakan yang mengancam personel atau kepentingan AS di Timur Tengah, AS akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi personelnya,” kata Ryder.
Israel Serang Iran, Khamenei Berjanji Membalas
Ketegangan di Timur Tengah kian memanas sejak serangan yang dilancarkan Israel pada 26 Oktober 2024, menargetkan berbagai infrastruktur militer di Iran. Meski menghindari serangan terhadap fasilitas nuklir dan minyak utama, aksi ini memicu reaksi keras dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang bersumpah akan membalas serangan tersebut.
Laporan dari situs berita Axios menyebutkan bahwa Amerika Serikat baru-baru ini memperingatkan Iran agar tidak melancarkan serangan balasan terhadap Israel. AS menegaskan bahwa jika Iran menyerang, Washington mungkin tidak dapat mengendalikan tindakan Israel. Intelijen Israel juga menunjukkan bahwa Iran berencana untuk melancarkan serangan dari wilayah Irak dalam beberapa hari mendatang, mungkin sebelum pemilu presiden AS pada 5 November.
Profil B-52: Pengebom Strategis Andalan AS Sejak 1960
Pesawat B-52 Stratofortress, yang diproduksi oleh Boeing sejak tahun 1960, telah menjadi simbol kekuatan udara strategis AS selama lebih dari enam dekade. Pengebom ini mampu terbang pada ketinggian 50.000 kaki dengan kecepatan 650 mil/jam dan membawa hingga 70.000 pon bom, termasuk bom konvensional dan hingga 32 rudal jelajah dengan hulu ledak nuklir. Pesawat ini juga dilengkapi dengan kemampuan pengisian bahan bakar di udara, yang memungkinkan jangkauan operasi tanpa batas.
B-52 telah memainkan peran penting dalam berbagai konflik besar. Dalam Perang Vietnam, pesawat ini menghancurkan target strategis di Hanoi dan pelabuhan utama Haiphong, menjadikannya operasi strategis terbesar yang pernah dilakukan Angkatan Udara AS sejak Perang Dunia II. Selama perang ini, B-52 melakukan lebih dari 126.000 misi dengan total bom yang dijatuhkan mencapai 2,5 juta ton—hampir setengah dari total bom yang digunakan AS di Vietnam.
Pada Perang Teluk, B-52 yang berpangkalan di Arab Saudi melakukan serangan masif terhadap pasukan Irak, yang berujung pada penyerahan tanpa syarat oleh Saddam Hussein. Pada konflik di Kosovo, B-52 dan pesawat siluman B-2 berhasil memaksa pasukan Slobodan Milosevic menghentikan genosida di Kosovo.
Simbol Kekuatan Global: B-52 Dalam Persepsi Dunia
Tidak hanya di AS, B-52 juga memiliki citra yang kuat di negara lain, termasuk Tiongkok. Pasca jatuhnya Lin Biao, terungkap bahwa kelompok di Angkatan Udara Tiongkok, termasuk putra Lin, Lin Liguo, menggunakan istilah “B-52” sebagai metafora untuk menggambarkan kekuatan destruktif Mao Zedong yang sulit dihadapi.
Kolonel Schultz, seorang pilot B-52 dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, menggambarkan pesawat ini sebagai “simbol kekuatan Angkatan Udara AS.”
Sementara itu, Kapten McKibber dari Pangkalan Udara Barksdale menyatakan: “B-52 adalah lambang kekuatan AS; di mana pun kami berada, keberadaan kami akan diperhatikan.”
Kolonel Walde, seorang veteran Perang Teluk pertama, menambahkan bahwa B-52 memiliki ketahanan luar biasa. “Meskipun penampilannya mungkin kurang menarik, B-52 adalah pesawat yang andal dan efektif,” ujarnya.
Perkuat Pertahanan, Taiwan Terima Sistem Rudal Canggih dari AS
Dalam perkembangan terkait di kawasan Asia-Pasifik, Taiwan diperkirakan akan menerima berbagai sistem persenjataan baru dari Amerika Serikat. Senjata-senjata ini telah teruji di medan perang Ukraina dan diperkirakan akan memperkuat pertahanan Taiwan di tengah meningkatnya tekanan militer dari Tiongkok. Media internasional melaporkan bahwa AS akan memasok Taiwan dengan tiga sistem rudal permukaan-ke-udara NASAMS senilai sekitar 2 miliar dolar. Sistem pertahanan ini, yang telah terbukti efektif di Ukraina, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan Taiwan dalam menghadapi potensi serangan dari Tiongkok.
Insiden Pelanggaran Wilayah Udara Jepang oleh Tiongkok
Tensi di Asia Timur juga memanas setelah sebuah pesawat militer Tiongkok memasuki wilayah udara Jepang sekitar dua bulan lalu. Jepang telah menyampaikan protes resmi atas insiden ini, namun Tiongkok menanggapi dengan menyebutkan “gangguan yang tidak terduga” sebagai alasan pelanggaran tersebut. Ini merupakan kali pertama Tiongkok memberikan penjelasan terkait pelanggaran wilayah udara Jepang.
Kedatangan B-52 di Timur Tengah dan meningkatnya kehadiran militer AS, bersamaan dengan eskalasi ketegangan di Asia Timur, menunjukkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di tengah berbagai ancaman dan respons militer.
Menurut laporan media Korea Selatan, pada 25 Oktober, tentara Korea Utara hampir mengalami kehancuran total dalam pertempuran pertama mereka dengan pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia, dengan hanya seorang tentara yang selamat karena bersembunyi di bawah mayat rekan-rekannya yang telah tewas.
ETIndonesia. Media Korea Selatan melaporkan melalui saluran Telegram pro-Ukraina-“ExileNova” bahwa pada 31 Oktober waktu setempat, seorang tentara Korea Utara yang terluka ditampilkan sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit, dengan kepala dan wajahnya dibalut perban yang penuh dengan noda darah.
Dalam rekaman yang tersebar, tentara tersebut menggunakan aksen Korea Utara dan mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yang selamat, menuduh tentara Rusia menipu mereka dengan mengirim mereka ke Kursk.
“Mereka (tentara Rusia) mengatakan kepada kami bahwa kami hanya perlu tinggal di fasilitas perlindungan, tidak akan ada serangan atau pertempuran yang perlu dihadapi, tetapi itu adalah kebohongan. Kami dipaksa untuk bertempur di Kursk,” katanya.
Dia juga menyatakan bahwa mereka belum sempat melakukan pengintaian di medan pertempuran sebelum diserang oleh tentara Ukraina, dimana 40 anggota regu mereka tewas dan dia selamat dengan bersembunyi di bawah jasad teman-temannya. Keaslian video ini belum bisa diverifikasi sepenuhnya.
Menurut sumber, hal ini dilakukan oleh drone buatan Ukraina yang dikenal sebagai “Vampire Drone,” dengan kapasitas maksimum hingga 15 kilogram. Dalam pertempuran ini, tank-tank angkatan bersenjata Rusia juga hancur menjadi bola api. Dan, bagi tentara Korea Utara kemungkinan , “semua ini terasa terlalu asing.”
Menurut sumber yang dihubungi Jonas Ohman, kepala organisasi Lithuania “Blue/Yellow”, Korea Utara telah mengirim pasukannya untuk berlatih di Belarusia enam bulan sebelumnya dan baru-baru ini dipindahkan ke Rusia dengan jumlah awal dari 1.500 personel meningkat menjadi 12.000 personel. Informasi intelijen yang diterima menyebutkan bahwa jumlah ini bisa bertambah hingga 88.000 personel.
Duta Besar Ukraina untuk PBB, Sergiy Kyslytsya, dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB menyebutkan bahwa tentara Korea Utara yang dikirim ke Rusia tidak hanya mengenakan seragam Angkatan Bersenjata Rusia dan membawa senjata kecil buatan Rusia, tetapi mereka juga mendapatkan dokumen identitas Rusia untuk menyembunyikan identitas asli mereka. Beberapa hal ini sesuai dengan situasi yang dijelaskan oleh Oman.
Menurut Ohman bahwa aktivitas tentara Korea Utara di Kursk kemungkinan besar hanya sebagai percobaan, dan tentara mereka kini diperlakukan sebagai umpan meriam; jika strategi ini efektif, mereka akan digabungkan ke dalam Angkatan Bersenjata Rusia. Namun, kesenjangan bahasa tampaknya juga menimbulkan beberapa masalah bagi Angkatan Bersenjata Rusia. Ohman menyatakan bahwa Rusia mengirim tentara dari Korea Utara untuk dilatih menggunakan kapal atau pesawat Antonov AN-124 besar, tetapi karena kesulitan bahasa, hal ini membuat para komandan Rusia kesulitan.
Menurut Ohman, kepemimpinan militer Korea Utara kemungkinan tidak terlibat langsung dalam operasi tersebut, dan tentara-tentara tersebut seolah-olah dianggap sebagai budak yang langsung diserahkan kepada Rusia. Ia juga mendengar bahwa tentara-tentara tersebut diancam untuk tidak menyerah di garis depan, jika tidak, keluarga mereka akan menderita.
Sementara itu, Menlu AS Antony Blinken pada konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Korea Selatan pada 31 Oktober menyatakan bahwa ada sekitar 8.000 tentara Korea Utara yang ditempatkan di wilayah Kursk, Rusia, dan diperkirakan akan segera bergabung dalam pertempuran melawan Ukraina. Blinken juga menyerukan kepada Tiongkok untuk menggunakan pengaruhnya terhadap Korea Utara untuk menghentikan tindakan provokatifnya.
Di sisi lain, Ohman mengungkapkan bahwa Ukraina telah mengerahkan beberapa pasukan khusus ke Kursk, yang dilengkapi dengan peralatan canggih. Selain menghadapi musuh secara langsung, mereka juga mencoba meyakinkan pasukan Korea Utara untuk menyerah melalui negosiasi.
Organisasi “Blue/Yellow” yang berbasis di Lithuania, yang dikenal mendukung Ukraina sejak krisis Krimea 2014, memiliki akses ke informasi frontline dan tingkat atas di Ukraina. Ohman, yang kerap membagikan informasi dari intelijen militer dan pasukan bersenjata Ukraina, menegaskan bahwa informasi yang ia bagikan sebelumnya telah dikonfirmasi oleh sumber resmi. (Jhon)
EtIndonesia. Dalam pernyataan mengejutkan, Dewan Keamanan Nasional AS menyebutkan bahwa pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov, berencana mengirimkan 84.000 tentara Chechnya ke Ukraina. Pasukan ini dikirim berdasarkan sumber daya Chechnya, bukan sebagai bagian dari mobilisasi umum.
Pada 2 November 2024, akun X milik Mikhail Khodorkovsky melaporkan bahwa di bawah kendali Kadyrov, pabrik baja di Mariupol telah dibongkar untuk mengambil asetnya, termasuk peralatan bernilai jutaan dolar yang dijual dan dikirim ke Rusia.
Khodorkovsky juga mengungkapkan bahwa pabrik baja Azov dan Ilyich kini dikendalikan oleh ajudan tepercaya Kadyrov, Gela Glemeyev. Aset-aset pabrik ini diduga digunakan perusahaan-perusahaan Rusia untuk produksi kendaraan militer.
Sejumlah pengguna media sosial mengomentari: “Setelah tentara bayaran Wagner dan Korea Utara, kini Rusia mulai mengerahkan ‘pasukan Chechnya’.”
Korea Utara Kirim Pasukan ke Rusia, Hadapi Kekalahan Besar dalam Pertempuran Pertama
Sebelumnya, AS memperkirakan sekitar 10.000 tentara Korea Utara telah dikirim ke Rusia, sementara sumber di Korea Selatan dan Ukraina memperkirakan angka tersebut mencapai 12.000 orang. Pasukan ini dilaporkan mengalami kekalahan besar dalam pertempuran pertama akibat kurangnya pengalaman dalam menghadapi perang modern. Beberapa video yang tersebar memperlihatkan pasukan Korea Utara yang tampak tidak siap menghadapi serangan drone. Salah satu video menunjukkan pasukan yang bersembunyi di parit lalu dihancurkan oleh serangan drone yang tiba-tiba.
Israel Tangkap Agen Hizbullah di Lebanon
Pada 2 November 2024, militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukan komando angkatan laut berhasil menangkap seorang pejabat tinggi Hizbullah dalam operasi rahasia di Lebanon utara. Agen yang ditangkap ini diidentifikasi sebagai Amhaz, seorang pakar operasi angkatan laut Hizbullah, yang kini menjalani pemeriksaan intensif di Israel. Penangkapan ini merupakan yang pertama sejak konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah kembali memanas pada September lalu.
Media Lebanon melaporkan bahwa pasukan komando bersenjata Israel datang melalui jalur laut dan menyergap pondok tempat tinggal Amhaz di Batroun, selatan Tripoli. Amhaz kini ditahan oleh unit intelijen Israel, Divisi 504, yang khusus menangani intelijen manusia.
Ukraina Perketat Perekrutan Militer, Mobilisasi Baru Capai 160.000 Tentara
Sementara Rusia mendapat dukungan dari sekutunya, Ukraina terus meningkatkan kekuatan militernya untuk menghadapi serangan yang semakin intensif. Pada April lalu, Ukraina menurunkan usia wajib militer dari 27 menjadi 25 tahun, dan pada Oktober diturunkan lagi menjadi 18 tahun. Menurut laporan akun X “Yanti Berita Terkini”, Ukraina kini telah membuka kantor perekrutan baru di Polandia sebagai upaya merekrut lebih banyak tentara.
Pada 29 Oktober 2024, Ukraina mengumumkan akan mengerahkan 160.000 tentara tambahan. Beberapa video di media sosial menunjukkan tentara wanita Ukraina yang sedang menjalani latihan keras di lapangan militer, menandakan tekad Ukraina untuk memperkuat pertahanan negara. Langkah ini mencerminkan upaya Ukraina untuk melawan kekuatan militer Rusia yang terus mendominasi berbagai wilayah.
Gedung Putih Bersiap Hadapi Ancaman dari “Poros Kejahatan” Baru
Seiring dengan meningkatnya dukungan negara-negara sekutu terhadap Rusia, Gedung Putih terus memantau dan menyiapkan langkah untuk mencegah potensi ancaman dari “Poros Kejahatan” baru. Amerika Serikat khawatir bahwa kolaborasi militer antara Rusia, Korea Utara, dan sekutu lainnya, termasuk Chechnya, dapat memperburuk situasi keamanan global dan menciptakan instabilitas baru. Pemerintahan AS menilai bahwa aliansi semacam ini berpotensi membawa eskalasi konflik ke wilayah-wilayah yang lebih luas dan lebih sulit dikendalikan.
Kesimpulan: Eskalasi Konflik Global dan Kekhawatiran Keamanan
Berbagai laporan yang tersebar dari Chechnya, Korea Utara, hingga Timur Tengah memperlihatkan tren meningkatnya dukungan militer dan perekrutan tentara baru untuk memperkuat masing-masing pihak dalam konflik Rusia-Ukraina. Dukungan dari negara-negara seperti Chechnya dan Korea Utara kepada Rusia menambah kompleksitas konflik, sementara di sisi lain, AS dan sekutunya tetap waspada terhadap gerakan aliansi “Poros Kejahatan”.
ETIndonesia. Dalam sebuah wawancara terbaru dengan media Korea Selatan 31 Oktober 2024, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap respons sekutu Barat terhadap intervensi militer Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina. Zelenskyy menilai bahwa sekutu Barat menunjukkan sikap yang lemah dan bahkan tidak melakukan tindakan konkret atas keterlibatan Korea Utara. Menurutnya, respons minimal ini bisa semakin mendorong Rusia untuk melibatkan lebih banyak pasukan Korea Utara dalam konflik tersebut.
Pasukan Korea Utara Terlibat di Garis Depan Konflik
Informasi dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, menyebutkan bahwa sekitar 8.000 tentara Korea Utara sedang menjalani pelatihan di wilayah Kursk, Rusia. Mereka dipersiapkan untuk dikirim ke garis depan dalam konflik Ukraina. Para tentara ini telah mengenakan seragam militer Rusia dan mendapatkan pelatihan dasar dalam penggunaan artileri serta operasi drone, yang menunjukkan bahwa Rusia bersiap untuk memanfaatkan mereka secara aktif di medan perang. Perkembangan ini semakin memanaskan ketegangan di kawasan, meningkatkan perhatian internasional terhadap konflik yang semakin rumit.
Kekecewaan Zelensky dan Diamnya Sekutu Barat
Di tengah meningkatnya eskalasi, Zelenskyy menyatakan kekecewaannya terhadap sikap diam sekutu Barat. Ia menegaskan bahwa meskipun negara-negara Barat menyampaikan keprihatinan, hingga kini belum ada tindakan nyata untuk meredam keterlibatan Korea Utara. Dalam pandangan Zelenskyy, sikap pasif ini dapat diartikan sebagai bentuk dukungan tersirat kepada Rusia, yang dapat memberikan keberanian lebih bagi Presiden Vladimir Putin untuk melanjutkan aksinya.
Peran Tiongkok dalam Konflik dan Respons Internasional
Sikap Tiongkok dalam situasi ini juga menuai perdebatan luas. Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap bungkamnya Tiongkok, terutama mengingat hubungan dekat antara Tiongkok dan Rusia. Menurut Austin, ketidakpedulian Tiongkok terhadap isu ini dapat menjadi sinyal yang mengkhawatirkan bagi stabilitas di kawasan. Zelensky juga mengutarakan keterkejutannya atas sikap diam Tiongkok, dan menilai bahwa keputusan China dapat memengaruhi keseimbangan geopolitik di Asia Timur.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, kemudian merespons bahwa Korea Utara dan Rusia adalah negara-negara berdaulat yang berhak menjalin hubungan sesuai keinginan mereka. Namun, ia menambahkan bahwa Tiongkok berharap agar semua pihak dapat menenangkan situasi. Pernyataan ini tampaknya tidak cukup untuk menghapus keraguan internasional terhadap sikap Tiongkok, yang dianggap kurang proaktif dalam menanggapi ketegangan yang terus meningkat.
Analisis: Dampak Aliansi Korea Utara dan Rusia
Para analis menyoroti bahwa kerja sama yang semakin erat antara Korea Utara dan Rusia bisa memberikan dampak signifikan pada dinamika konflik. Dikhawatirkan, keterlibatan Korea Utara akan memberikan tekanan militer lebih besar pada Ukraina, memperburuk situasi, dan menambah ketegangan di kawasan. Analis juga menyebutkan bahwa Tiongkok mungkin terganggu dengan kedekatan baru antara Korea Utara dan Rusia, yang berpotensi mengurangi ketergantungan Korea Utara pada Beijing.
Tantangan Tiongkok dalam Latihan Militer dan Implikasinya
Di sisi lain, militer Tiongkok menghadapi kendala dalam latihan yang dilakukan baru-baru ini. Angkatan Darat ke-72 Tiongkok mengalami dua insiden yang mengungkapkan adanya kekurangan dalam manajemen material dan penanganan darurat. Salah satu insiden terjadi ketika kendaraan tempur infanteri mengalami masalah teknis setelah latihan tembak langsung, membuat kendaraan itu tidak dapat bergerak dan menghambat jalur pasukan lainnya. Insiden kedua terjadi ketika sistem komando bercahaya kehilangan daya di tengah malam, menyebabkan kesulitan dalam memberikan komando dan berdampak pada evakuasi pasukan.
Para ahli menyatakan bahwa insiden seperti ini dapat menjadi masalah serius jika terjadi di medan perang sesungguhnya, di mana pasukan bisa menjadi sasaran serangan musuh yang lebih besar tanpa adanya dukungan logistik yang memadai.
Kehadiran Kim Ju Ae dan Spekulasi Mengenai Suksesi Kim Jong Un
Di tengah perkembangan ini, spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan di Korea Utara semakin ramai dibicarakan. Putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae, belakangan ini sering tampil di depan publik, menimbulkan spekulasi bahwa ia mungkin sedang dipersiapkan sebagai penerus ayahnya. Namun, seorang pejabat intelijen Korea Selatan menyatakan bahwa kemunculan Kim Ju Ae di publik bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari anak lelaki Kim Jong Un yang saat ini sedang belajar di luar negeri.
Mantan Direktur Badan Intelijen Nasional Korea Selatan, Park Ji-won, juga menegaskan bahwa Kim Ju Ae kemungkinan besar bukan calon penerus. Menurutnya, sejarah di Korea Utara, Tiongkok, dan Rusia menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan sangat jarang terjadi. Ia menduga bahwa jika Kim Jong Un tidak memiliki anak lelaki, ia mungkin akan mencari cara untuk memiliki keturunan laki-laki sebagai pewaris tahta.
Kesimpulan: Dampak Internasional dan Tantangan Kedepan
Keterlibatan Korea Utara dalam konflik Rusia-Ukraina tidak hanya menambah kompleksitas di medan perang, tetapi juga menimbulkan dampak geopolitik yang signifikan. Sikap sekutu Barat yang dianggap lamban oleh Ukraina, serta keheningan Tiongkok yang menimbulkan kekhawatiran, menunjukkan bahwa respons global terhadap konflik ini belum solid. Sementara itu, tantangan internal yang dihadapi Tiongkok dalam manajemen militer dan spekulasi mengenai suksesi Kim Jong Un menambah lapisan ketidakpastian di kawasan Asia.
Para pengamat internasional akan terus mengawasi perkembangan situasi ini, terutama mengingat implikasi jangka panjangnya terhadap stabilitas regional dan keamanan global. (Kyr)
ETIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Timur Tengah semakin memanas di tengah berlangsungnya pemilu Presiden Amerika Serikat. Media AS melaporkan bahwa Iran kemungkinan besar akan melancarkan serangan terhadap Israel sebelum pemilu AS pada 5 November. Intelijen Israel mengindikasikan bahwa Iran sedang mempersiapkan serangan melalui wilayah Irak, yang bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Seorang pejabat militer Israel menyebutkan bahwa persiapan sudah dilakukan untuk menghadapi potensi serangan drone dan rudal balistik dari Iran.
Ketegangan ini telah menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar, terutama jika serangan tersebut benar-benar terjadi. “Dampaknya bisa mencemaskan semua pihak,” demikian analis Timur Tengah.
Ancaman Iran untuk Serangan Balasan Terhadap Israel
Dalam sebuah wawancara dengan Kantor Berita Tasnim pada 31 Oktober, asisten senior pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Mohammad Mohammadi Golpayegani, menyatakan bahwa Iran akan memberikan serangan balasan yang keras kepada Israel. Waktu pasti dari serangan balasan ini masih belum jelas. Beberapa pejabat Iran memperkirakan aksi tersebut akan berlangsung sebelum pemilu AS, sementara yang lain mengatakan bisa terjadi setelahnya.
Israel Tingkatkan Operasi Militer di Wilayah Iran
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidatonya pada 31 Oktober, menegaskan bahwa Israel memiliki kebebasan penuh untuk melakukan operasi militer di dalam wilayah Iran. “Kami bisa mencapai area mana pun di Iran yang kami inginkan,” ujar Netanyahu.
Netanyahu juga menambahkan bahwa prioritas utama Pasukan Pertahanan Israel (IDF) adalah untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
AS Tingkatkan Kehadiran Militer di Timur Tengah
Merespons ketegangan yang meningkat, Amerika Serikat mengumumkan pada 1 November bahwa mereka akan menambah kekuatan militernya di Timur Tengah. AS akan mengerahkan pesawat pengebom jarak jauh B-52, jet tempur, pesawat pengisian bahan bakar, serta kapal perusak angkatan laut untuk memperingatkan Iran. Penempatan ini akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan dan menunjukkan fleksibilitas AS dalam manuver militernya di kawasan.
Juru bicara Departemen Pertahanan AS, Brigadir Jenderal Patrick Ryder, menyatakan, “Jika Iran atau sekutunya mencoba memanfaatkan situasi ini untuk menyerang personel atau kepentingan AS di Timur Tengah, Amerika Serikat akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi personelnya.”
Kekhawatiran Iran Terhadap Kemungkinan Kemenangan Trump
Dengan hanya empat hari tersisa menjelang pemilu Presiden AS, kepemimpinan Iran dan sekutunya mempersiapkan diri jika Donald Trump memenangkan pemilu. Mereka khawatir Trump akan memberikan lebih banyak kebebasan kepada Israel untuk melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk terhadap fasilitas nuklir.
Menurut jajak pendapat terbaru, hasil pemilu AS saat ini masih menunjukkan persaingan ketat antara Donald Trump dan Kamala Harris. Kemenangan Trump pada 5 November dianggap oleh para pemimpin Iran, serta sekutu-sekutunya di Lebanon, Irak, dan Yaman, sebagai potensi ancaman yang bisa menambah ketegangan di kawasan.
Para pejabat Iran, Arab, dan Barat mengatakan bahwa Iran khawatir Trump akan mendukung Netanyahu dalam melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dan memberlakukan sanksi lebih keras terhadap industri minyak negara tersebut. Selain itu, Trump diyakini akan memberikan tekanan besar pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, agar menerima perjanjian pencegahan nuklir yang disusun oleh AS dan Israel.
Potensi Dampak Pergantian Kepemimpinan AS Terhadap Timur Tengah
Analis menilai bahwa perubahan kepemimpinan di AS bisa berdampak besar pada keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Kebijakan luar negeri AS yang berubah kemungkinan akan mempengaruhi ekonomi Iran dan posisi geopolitiknya. Menurut para analis, siapa pun yang memenangkan pemilu AS, Iran diperkirakan akan menghadapi tantangan untuk mempertahankan pengaruhnya di kawasan.Kekhawatiran Terhadap Langkah Tiongkok
Di sisi lain, Calon Wakil Presiden AS dari Partai Republik, J.D. Vance, menyatakan bahwa Tiongkok mungkin akan memanfaatkan periode ini untuk mengambil langkah strategis. “Jika kami menang, saya khawatir dengan apa yang akan dilakukan Tiongkok dalam beberapa bulan ke depan, terutama saat AS berada dalam posisi yang rentan,” ungkap Vance.
AS-Korea Selatan Bahas Ketegangan di Asia Timur
Di tengah situasi Timur Tengah yang memanas, AS dan Korea Selatan mengadakan pertemuan “2+2” antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan pada 1 November. Kedua negara menyampaikan kekhawatiran terhadap provokasi di sekitar Taiwan dan perkembangan situasi di Korea Utara. Dalam pernyataan bersama, mereka mengecam semakin dalamnya kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia.
Pertemuan ini juga menyoroti peran penting pasukan AS di Semenanjung Korea dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa serangan nuklir oleh Korea Utara terhadap Korea Selatan akan direspons dengan tindakan tegas oleh aliansi AS-Korea Selatan.
Ancaman Kebocoran Udara di Stasiun Luar Angkasa Internasional
Di tengah ancaman geopolitik di berbagai belahan dunia, ada pula perhatian terhadap masalah yang sedang berlangsung di luar angkasa. Ahli keamanan luar angkasa, Dr. David Pope, mengkhawatirkan dampak dari kebocoran udara yang terjadi di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Pope memperingatkan bahwa jika kebocoran ini tidak segera ditangani, keselamatan astronot bisa terancam, dan reputasi NASA bisa terpengaruh secara negatif.
Dengan meningkatnya ketegangan global, baik di darat maupun di luar angkasa, dunia tengah memasuki periode yang penuh ketidakpastian. Situasi ini menjadi perhatian utama bagi berbagai negara, mengingat dampak potensial dari konflik di Timur Tengah dan perubahan kebijakan luar negeri AS yang bisa merombak tatanan geopolitik dunia. (Kyr)
EtIndonesia. Camilan baru yang disajikan di jalanan Chengdu, Tiongkok, telah menarik banyak perhatian karena penampilannya yang tidak biasa; terlihat seperti segumpal rambut hitam manusia.
Fa Cai atau Fat Choy adalah sejenis cynobacterium kering yang telah lama menjadi bagian dari kuliner Tiongkok. Makanan ini tumbuh sebagian besar di daerah gurun yang kering dan tandus seperti Gansu, Shaanxi, Qinghai, Xinjiang, dan Mongolia Dalam di Tiongkok, dan diproses dengan cara dikeringkan di udara segera setelah dipanen.
Karena bentuknya yang gelap dan berserabut, makanan ini dikenal sebagai “sayuran rambut”.
Fat Choy – nama ilmiahnya Nostoc flagelliforme – paling sering disajikan sebagai bihun hitam dalam berbagai kaldu dan sup, dan disajikan pada Malam Tahun Baru untuk keberuntungan, karena nama Kantonnya terdengar sangat mirip dengan frasa “strack it rich”. Namun, makanan berwarna gelap ini baru-baru ini menjadi viral sebagai camilan jalanan baru yang membuat Anda tampak seperti sedang memakan rambut manusia.
Fat Choy mendapat julukannya, sayuran rambut, dari tampilannya saat dikeringkan, seperti segumpal rambut hitam, tetapi jika rendam sebagai bagian dari sup yang lezat, tampilannya seperti bihun hitam. Namun, beberapa pedagang makanan kaki lima di Chengdu baru-baru ini menemukan cara baru memasak Fat Choy yang mempertahankan tampilannya yang berbulu.
Ternyata Anda cukup memanggang segumpal Fat Choy lalu membumbuinya dengan saus pedas sebelum menggigitnya seperti Anda menggigit segumpal rambut hitam.
Tampilannya aneh, mereka yang telah mencobanya bersumpah bahwa rasanya cukup enak.
Efek visual menggigit sesuatu yang tampak seperti rambut manusia telah menarik banyak influencer dan menyebabkan camilan baru ini menjadi viral di media sosial.
Apakah ini makanan kaki lima paling aneh di Tiongkok? Mungkin tidak. Menurut pendapat kami, sebutan itu pantas diberikan kepada es panggang atau batu goreng. (yn)
EtIndonesia. Seorang warga telah berbagi cerita mengerikan tentang sebuah insiden yang memperlihatkan seorang wanita dimangsa oleh anjing tetangganya saat berada di propertinya sendiri.
Wanita Louisiana tersebut sedang dalam pemulihan di rumah sakit setelah ‘hampir kehilangan kakinya’ selama serangan kejam di mana lebih dari satu anjing mulai mencabik-cabiknya saat dia terjatuh di jalan masuk rumahnya di Livingston Parish, pada hari Selasa (29/10).
Tetangga yang tidak berdaya hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut. Karena anjing-anjing tersebut dikenal agresif dan bahkan menggigit warga di masa lalu, mereka menghubungi 911.
Cheryl Boudreaux, putri dari wanita tetangga tersebut yang tinggal di jalan Randall Avenue, menjelaskan bagaimana ibunya terlalu takut untuk berbicara tentang cobaan itu dan memutuskan untuk berbicara sendiri kepada stasiun TV lokal WBRZ 2.
“Mereka telah menggigit ibu saya dua kali. Ibu saya berusia 85 tahun, kedua kali dia membutuhkan perawatan medis,” katanya.
Ibunyalah yang menelepon layanan darurat beberapa saat sebelum serangan itu, melaporkan bahwa wanita itu terjatuh.
Boudreaux melanjutkan: “Dia harus berdiri di sana dan menyaksikannya. Dia berkata, ‘Kalian semua harus cepat-cepat ke sini. Cepat-cepat ke sini. Mereka memakan wanita ini.’ Kemudian, Mama berkata wanita itu tidak bergerak dan Mama mengira ia sudah mati.”
Dia menjelaskan bahwa ketika polisi tiba, mereka ‘akhirnya membawa pergi anjing-anjing itu’, seraya menambahkan ‘itu pertama kalinya’, seraya menekankan bahwa tidak perlu cedera serius bagi anjing yang dikenal suka menggigit untuk diambil dari pemiliknya.
“Kami sangat marah, Anda tahu, karena kami tidak mengerti mengapa ini harus terjadi,” kata Boudreaux.
Yang mengerikan, Randall Averette, warga sekitar di lingkungan Denham Springs, memberikan perincian lebih lanjut tentang insiden tersebut dan memberi tahu stasiun lokal bahwa wanita itu mencoba untuk bangun ketika anjing-anjing itu menyerang.
Warga senior itu berkata: “Ketika saya ke sana, dia tergeletak di tanah, paramedis membalutnya.”
Sebelum menjelaskan bagaimana dia dimakan sebagian oleh anjing-anjing itu, dia menambahkan: “Paramedis mengatakan bahwa kaki kirinya robek cukup parah di sekitar betisnya, kaki kanannya digigit, lengannya digigit dan anjing itu menggigit bagian belakang lehernya.”
Sheriff Livingston Parish Jason Ard telah mengonfirmasi bahwa dua dari tiga anjing milik tetangga wanita itu dibawa ke tempat penampungan hewan pada hari Rabu (30/10), meskipun belum diketahui apakah mereka telah disuntik mati.
Namun, dia ingat bahwa insiden serupa terjadi belum lama ini, yang melibatkan anjing yang sama.
Ard menambahkan: “Terakhir kali kami memeriksa dokumen untuk membuat anjing itu [dianggap] berbahaya, kami tidak dapat mengidentifikasi anjing itu. Sekarang, kami telah dapat mengidentifikasi anjing itu. Sayangnya, seseorang hampir kehilangan kakinya karena ini.” (yn)
EtIndonesia. Penemuan kota berbenteng berusia 4.000 tahun yang tersembunyi di sebuah oasis di Arab Saudi modern mengungkapkan bagaimana kehidupan pada saat itu perlahan berubah dari nomaden menjadi kehidupan perkotaan, kata para arkeolog pada hari Rabu (30/10).
Sisa-sisa kota, yang dijuluki al-Natah, telah lama tersembunyi oleh oasis bertembok Khaybar, bintik hijau dan subur yang dikelilingi oleh gurun di barat laut Jazirah Arab.
Kemudian tembok kuno sepanjang 14,5 kilometer ditemukan di situs tersebut, menurut penelitian yang dipimpin oleh arkeolog Prancis Guillaume Charloux yang diterbitkan awal tahun ini.
Untuk sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One, tim peneliti Prancis-Saudi telah memberikan “bukti bahwa benteng-benteng ini diatur di sekitar habitat,” kata Charloux kepada AFP.
Kota besar yang dihuni hingga 500 penduduk itu dibangun sekitar 2.400 SM selama awal Zaman Perunggu, kata para peneliti.
Kota itu ditinggalkan sekitar seribu tahun kemudian. “Tidak seorang pun tahu mengapa,” kata Charloux.
Ketika al-Natah dibangun, kota-kota berkembang pesat di wilayah Levant di sepanjang Laut Mediterania dari Suriah saat ini hingga Yordania.
Arabia Barat Laut pada saat itu diperkirakan berupa gurun tandus, dilintasi oleh para pengembara penggembala dan dipenuhi dengan situs pemakaman.
Itu terjadi hingga 15 tahun yang lalu, ketika para arkeolog menemukan benteng yang berasal dari Zaman Perunggu di oasis Tayma, di utara Khaybar.
“Penemuan penting pertama ini membuat para ilmuwan mengamati oasis-oasis ini lebih dekat,” kata Charloux.
Perkotaan yang lambat
Batuan vulkanik hitam yang disebut basal menutupi dinding al-Natah dengan sangat baik sehingga ‘melindungi situs tersebut dari penggalian ilegal’, kata Charloux.
Namun, mengamati situs tersebut dari atas mengungkap jalur potensial dan fondasi rumah, yang menunjukkan lokasi penggalian yang perlu dilakukan para arkeolog.
Mereka menemukan fondasi yang “cukup kuat untuk menopang rumah setidaknya satu atau dua lantai”, kata Charloux, seraya menekankan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memahami situs tersebut.
Namun, temuan awal mereka menggambarkan kota seluas 2,6 hektar dengan sekitar 50 rumah yang bertengger di atas bukit, dilengkapi dengan temboknya sendiri.
Makam-makam di dalam pekuburan di sana berisi senjata logam seperti kapak dan belati serta batu seperti batu akik, yang menunjukkan masyarakat yang relatif maju sejak lama.
“Potongan-potongan tembikar ‘menunjukkan masyarakat yang relatif egaliter’, kata penelitian tersebut. Tembikar-tembikar itu sangat cantik tetapi sangat sederhana,” imbuh Charloux.
Ukuran benteng pertahanan – yang tingginya bisa mencapai sekitar lima meter – menunjukkan bahwa al-Natah merupakan tempat kedudukan semacam otoritas lokal yang kuat.
Penemuan-penemuan ini mengungkap proses “urbanisme lambat” selama transisi antara kehidupan desa nomaden dan kehidupan desa yang lebih mapan, kata penelitian tersebut.
Misalnya, oasis berbenteng bisa saja saling berhubungan di daerah yang sebagian besar masih dihuni oleh kelompok nomaden pastoral. Pertukaran semacam itu bahkan bisa jadi meletakkan dasar bagi “rute kemenyan” yang memperdagangkan rempah-rempah, kemenyan, dan mur dari Arabia selatan ke Mediterania.
Al-Natah masih kecil dibandingkan dengan kota-kota di Mesopotamia atau Mesir selama periode tersebut.
“Namun di hamparan gurun yang luas ini, tampaknya ada jalur lain menuju urbanisasi selain negara-kota seperti itu, yang lebih sederhana, jauh lebih lambat, dan cukup spesifik di wilayah barat laut Arabia,” kata Charloux. (yn)
Dulunya penuh dengan pabrik, kota-kota manufaktur terkemuka di Dongguan, kini dipenuhi etalase kosong dengan papan tertulis “Disewakan” di mana-mana
ETIndonesia. Dongguan, sebuah kota berpenduduk 10 juta jiwa di Delta Sungai Mutiara di selatan Tiongkok, kota ini telah lama memainkan peran penting dalam ekonomi manufaktur dan ekspor Tiongkok. Namun, seiring melambatnya ekonomi Tiongkok, banyak bisnis dan pusat industri di kota besar ini berjuang untuk bertahan, begitu pula dengan para pekerjanya.
Dulunya penuh dengan pabrik, kini Kota Chang’an di Dongguan dipenuhi etalase kosong dengan tanda bertuliskan “Disewakan” di mana-mana. Di kawasan taman industri sekitar Kota Gaobu, hanya sedikit orang yang terlihat di tempat yang dulunya ramai.
Terletak di kota besar yang terdiri dari kota-kota selatan lainnya seperti Guangzhou, Hong Kong, dan Shenzhen, Dongguan dikenal secara global sebagai pusat manufaktur, terutama di industri elektronik, alas kaki, dan furniture.
Kota ini telah menjadi magnet bagi investor domestik dan asing, namun kini hari-harinya tampak dihitung seiring menurunnya perdagangan antara Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara lain, serta pergeseran Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke model dumping produk yang disubsidi negara.
Sebuah jalan di kota Gaobu di kota Dongguan, Tiongkok selatan. (Gambar: Vision Times Japan via Gan JIng World)
Blogger asal Dongguan, “Lao Chen,” membagikan pengamatannya baru-baru ini setelah bekerja sebentar tahun lalu di sebuah pabrik di Kota Gaobu. Menurut Lao Chen, jumlah tenaga kerja di pabrik ini menyusut secara drastis.
Dia menggambarkan keadaan Gaobu saat ini: “Tahun lalu, taman industri di Gaobu ramai, dengan banyak orang yang pulang-pergi dan menikmati makan malam larut. Ada banyak pedagang kaki lima di luar taman. Sekarang, hanya tersisa dua atau tiga pedagang, dan mereka hampir tidak mendapatkan keuntungan. Semuanya kosong; jalanan di luar kompleks industri benar-benar gelap, dan tidak ada seorang pun terlihat.”
Pekerja: ‘Persaingan Terlalu Ketat; Saya Tak Bisa Bertahan di Dongguan’
Seorang blogger dari Chongqing, bernama “Xiaoxin,” menggambarkan pada 23 Oktober bahwa dia dan istrinya pindah ke Dongguan untuk bekerja, tetapi dalam waktu seminggu menyadari bahwa mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup, lalu cepat-cepat kembali ke Chongqing.
Sebuah gang di kota Changan, Dongguan. Sebuah jalan di kota Gaobu di kota Dongguan, Tiongkok selatan. (Gambar: Vision Times Japan via Gan JIng World)
“Kesannya adalah betapa sulitnya mencari nafkah di Dongguan. Setelah berkeliling kota, saya menemukan bahwa menemukan peluang kerja sangat sulit; persaingan sangat ketat.”
Dia menambahkan, “Bukan hanya pekerjaan teknis — banyak sektor manufaktur yang tidak bisa menghasilkan keuntungan, dan persaingan di industri lain pun ketat. Pagi ini [23 Oktober], saat keluar untuk sarapan, saya melihat toko cukur di pinggir jalan yang menawarkan potongan rambut hanya 10 yuan (sekitar USD $1,40). Pemilik toko tetap harus membayar sewa dan biaya tenaga kerja, jadi bagaimana mereka bisa mendapatkan keuntungan?”
Pengusaha “Junbao” Asal Dongguan Merefleksikan Kemunduran Chang’an
Blogger “Junbao” dari Dongguan baru-baru ini mengunjungi Chang’an — yang memiliki sekitar setengah juta penduduk dan merupakan salah satu kota terpenting di Dongguan — dan mengambil video untuk mengomentari kemunduran kota tersebut.
Junbao mengenang saat toko-toko di Chang’an selalu ramai, dan mendapatkan etalase sangat sulit. Wilayah ini dikelilingi oleh ratusan pabrik serta banyak rumah sewaan. PDB Chang’an dulu memimpin seluruh Dongguan, diuntungkan dari lokasi strategisnya.
“Sekarang, saat mengunjungi kota ini, Anda akan menemukan deretan toko yang tutup, dengan toko pakaian hampir habis,” kata Junbao dalam sebuah video. “Dulu ada panggung besar di pusat kota, dan malam-malamnya ramai dengan orang-orang yang menari di alun-alun. Tempat itu kini sepi dan diubah menjadi tempat parkir. Menjalankan bisnis menjadi sangat sulit.”
Restoran Cepat Saji Menghadapi Masa Sulit
Chang’an, yang dulunya dipenuhi toko-toko teh susu yang ramai di akhir pekan, kini mengalami gelombang penutupan dalam dua tahun terakhir. Banyak toko tetap tutup, dan jalan-jalan komersial hampir kosong melompong, kata Junbao.
Cuplikan video netizen dari sebuah kantin di kota Changping, Dongguan. (Gambar: Vision Times Jepang via Gan JIng World)
Menurutnya, hanya sedikit toko yang masih beroperasi, dan sebagian besar berjibaku setiap hari untuk menutup biaya dasar seperti sewa, air, dan listrik, menjalankan bisnis dengan kerugian terus-menerus.
Dengan banyaknya pabrik yang tutup dan pekerja yang meninggalkan Dongguan, industri makanan mengalami penurunan besar, dan banyak tempat makan terpaksa ditutup.
Seorang pengguna bernama “Miao Miao Ma” berbagi dalam sebuah video bahwa seorang kerabatnya menginvestasikan lebih dari 2 juta yuan (sekitar USD $280.000) untuk membuka kafetaria di kawasan industri Kota Changping, tetapi bisnisnya sulit. Dengan sedikit pilihan lain, mereka bertahan seadanya.
Sebuah alun-alun di dekat kantin di kota Changping, Dongguan. (Gambar: Vision Times Japan via Gan JIng World)
Dalam video tersebut, Miao Miao Ma menjelaskan situasi kerabatnya: “Saya pergi ke kafetaria kakak ipar saya akhir pekan lalu, dan karena rendahnya tingkat hunian di kawasan industri, kafetaria kesulitan. Lantai dasar adalah supermarket, sedangkan lantai dua adalah kafetaria. Namun, mereka tidak mengetahui cara memanfaatkan lantai dasar yang luas secara maksimal. Mereka telah menginvestasikan lebih dari 2 juta yuan, dan baru buka selama dua tahun.”
Blogger lain asal Dongguan, “San Pao Lifestyle Record,” baru-baru ini mencatat bahwa banyak restoran cepat saji yang tutup begitu saja.
“Dengan semakin sedikit pekerja yang mengunjungi restoran cepat saji, banyak yang tidak bisa bertahan, tutup hanya dalam tiga atau empat bulan setelah dibuka. Kini, hampir tidak ada yang mengunjungi tempat-tempat tersebut, dan semakin banyak yang gagal satu per satu,” ujarnya.
Pabrik Sepatu Ikonik Yue Yuen di Dongguan Juga Terancam
Dongguan, yang dikenal secara global sebagai “pabrik dunia,” dulunya merupakan rumah bagi banyak perusahaan besar yang mempekerjakan puluhan ribu hingga lebih dari seratus ribu pekerja. Salah satunya adalah Pabrik Sepatu Yue Yuen yang dimiliki oleh perusahaan Taiwan.
Papan bertuliskan Kampus Teknologi Tinggi Huangjiang Yue Yuen (Foto: Vision Times Japan via Gan JIng World)
Yue Yuen adalah anak perusahaan dari Pou Chen Corporation (PCG) Taiwan, produsen kontrak sepatu atletik terbesar di dunia, memproduksi sepatu olahraga untuk merek-merek ternama seperti Nike, Adidas, Asics, Reebok, dan Puma.
Rekaman yang diambil oleh seorang pengguna internet di Tiongkok yang menunjukkan kondisi kampus industri Yue Yuen yang semakin ditinggalkan. Sebuah papan bertuliskan Kampus Teknologi Tinggi HUangjiang Yue Yuen (Foto: Vision Times Japan via Gan JIng World)
Produsen alas kaki ini memiliki dua kompleks pabrik di Dongguan, satu di Gaobu dan satu lagi di Kota Huangjiang. Kedua pabrik ini mempekerjakan puluhan ribu pekerja, dengan total karyawan pada satu titik mencapai lebih dari 300.000.
Karena jumlah karyawan yang besar, para pekerja harus bergiliran ke kafetaria untuk makan siang, dan meninggalkan tempat kerja pada akhir shift bisa memakan waktu lebih dari sepuluh menit karena kerumunan. Untuk mendukung semangat karyawan, Yue Yuen menyediakan makanan, perumahan, bahkan mendirikan taman kanak-kanak dan sekolah untuk anak-anak karyawan. Perusahaan juga mengoperasikan rumah sakit, bioskop, dan stasiun pemadam kebakaran sendiri.
Di puncak kesuksesannya, Yue Yuen menduduki separuh wilayah Gaobu dan menyumbang 50 persen dari total ekspor kota tersebut. Pada tahun 2007, nilai produksi tahunan perusahaan mencapai miliaran dolar. Namun, akibat kenaikan biaya tenaga kerja, harga energi, dan pajak di daratan Tiongkok, Yue Yuen mulai memindahkan operasinya dari Dongguan ke Vietnam sejak 2012.
ETIndonesia. Dampak Topan Tramy menyebabkan beberapa wilayah di Provinsi Hainan, Tiongkok mengalami hujan lebat terus-menerus sejak 26 Oktober 2024, yang berujung pada banjir besar di pulau bagian selatan Tiongkok tersebut. Lebih dari 100 desa terendam dan beberapa orang meninggal ketika otoritas setempat membuka bendungan untuk melepaskan kelebihan air hujan.
Hingga 30 Oktober 2024, sebagian besar wilayah di Hainan mencatat curah hujan melebihi 100 mm, dengan beberapa daerah seperti Kabupaten Otonom Li dan Miao Qiongzhong, Kabupaten Tunchang, dan Kota Qionghai mencatat curah hujan lebih dari 250 mm. Karena kenaikan cepat permukaan air di Sungai Wanquan, otoritas memutuskan untuk melepaskan air dari Bendungan Niuluoling dan Bendungan Hongling guna menurunkan permukaan air di hulu.
Pada 30 Oktober pukul 5:00 pagi, pelepasan air dari Bendungan Niuluoling dan Hongling dimulai, menyebabkan banjir di 123 desa di tujuh kota yang terletak di hilir Sungai Wanquan. Area yang paling parah terdampak adalah Kota Shibi dan Longjiang di Qionghai, di mana komunikasi terputus, jalan-jalan rusak, dan telekomunikasi terhenti sementara. Akibat pelepasan air ini, 42 saluran listrik di Qionghai terganggu, ini berdampak terhadap 25.700 rumah tangga; 22 jalan tidak dapat dilalui. Pihak kota mengambil langkah darurat dengan mengevakuasi 7.154 orang.
Qionghai adalah sebuah kota di pantai timur pulau Hainan, dengan sekitar 500.000 penduduk. Provinsi Hainan, yang berpenduduk sekitar 10 juta jiwa, adalah tujuan liburan yang populer karena iklim tropis dan pantainya.
Pemandangan banjir di Qionghai, provinsi pulau Hainan di selatan Tiongkok, setelah Topan Tramy pada akhir Oktober 2024. (Gambar: Vision Times Jepang via Gan Jing World)
Video yang diposting di media sosial menunjukkan pemandangan banjir parah di wilayah Qionghai, dengan banyak jalan dan kendaraan yang terendam. Beberapa warga melaporkan bahwa ketinggian air sudah melebihi dua meter dan masih terus naik.
Seorang pengguna mengeluh, “Kali ini, Qionghai benar-benar parah; dengan dilepaskannya air bendungan, tidak ada tempat untuk berlindung.”
Pelepasan air ini menyebabkan kerusakan luas pada pertanian, perikanan, dan harta benda warga, dengan banyak yang menyesalkan kehilangan “jutaan yuan, semuanya terendam air.”
Di sebuah desa, warga terpaksa berlindung di atap karena naiknya permukaan air, menunggu penyelamatan. Beberapa daerah masih mengalami kekurangan air, listrik, dan makanan, dengan rekaman bencana menunjukkan seluruh desa terendam dan mobil-mobil yang tenggelam.
Selain itu, pada 30 Oktober pagi, tanah longsor yang dipicu oleh hujan deras menghantam Kabupaten Otonom Li dan Miao Qiongzhong, menyebabkan setidaknya tiga kematian dan empat luka-luka.
Beberapa warga dan pihak oposisi berpendapat bahwa seharusnya permukaan air di bendungan diturunkan sebelum kedatangan topan, mempertanyakan keputusan untuk melepaskan air.
Liu Yinquan, ketua Partai Sosial Demokrat Tiongkok, mengkritik pihak berwenang dengan mengatakan bahwa kurangnya persiapan pelepasan air sebelumnya menunjukkan ketidakpedulian terhadap nyawa dan harta benda masyarakat.
Sheng Xue, wakil ketua Federasi untuk Tiongkok Demokratis yang berbasis di Kanada, juga menyatakan bahwa kelalaian pemerintah membuat warga rentan dalam menghadapi bencana. (asr)
Terdakwa diduga menggunakan VPN di Tiongkok untuk mengakses jaringan perusahaannya
ETIndonesia. Seorang warga negara Tiongkok didakwa atas dugaan mencuri rahasia dagang dari perusahaannya dan menggunakannya untuk mendirikan perusahaannya sendiri di Tiongkok, demikian diumumkan oleh Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Massachusetts pada 31 Oktober.
Zhang Xiao, 33, dari Shanghai, didakwa oleh juri federal di Boston atas satu tuduhan pencurian rahasia dagang. Saat ini, Zhang masih berada di luar negeri dan belum tertangkap.
Menurut dakwaan, Zhang mulai bekerja di sebuah perusahaan manajemen investasi global di Massachusetts pada Juli 2015, dengan posisi sebagai associate di divisi riset perusahaan tersebut.
Dakwaan tidak menyebutkan nama perusahaan, namun dijelaskan bahwa perusahaan itu menggunakan model perkiraan untuk membantu investor dalam memilih investasi yang “akan mengungguli pasar.”
Pada Agustus 2021, Zhang meninggalkan Amerika Serikat menuju Tiongkok. Untuk menghindari langkah-langkah keamanan perusahaan, Zhang diduga menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) untuk mengakses jaringan perusahaannya. Ia diduga menyalin kode, riset, dan proyek perusahaannya, lalu mengirimnya melalui aplikasi berbagi file yang berbasis di Tiongkok, yang menurut jaksa memungkinkan Zhang untuk menghindari firewall perusahaan.
Di tahun yang sama, Zhang mendirikan perusahaan investasi di Tiongkok, sesuai dengan dakwaan. Jaksa menuduh bahwa ia mencuri rahasia dagang dengan maksud untuk membantu perusahaannya sendiri.
Jika terbukti bersalah, Zhang dapat menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun, tiga tahun masa percobaan, dan denda hingga $250.000.
The Epoch Times menghubungi Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat untuk meminta komentar, tetapi tidak menerima tanggapan pada saat berita ini diterbitkan.
Kasus Zhang menyoroti upaya gigih Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam mencuri rahasia dagang, kekayaan intelektual (IP), dan teknologi dari AS.
Kantor Perwakilan Perdagangan AS, dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 2018, menyebut Tiongkok sebagai “pelanggar terbesar terhadap kekayaan intelektual Amerika,” yang menyebabkan kerugian ekonomi AS antara $225 miliar hingga $600 miliar setiap tahun.
Pada April, Direktur FBI Christopher Wray mengatakan di Vanderbilt Summit bahwa Tiongkok “terlibat dalam pencurian kekayaan intelektual dan keahlian terbesar dan paling canggih dalam sejarah dunia,” menurut pernyataan tertulisnya.
“Kami telah melihat Beijing menyasar hampir setiap industri yang kami miliki—mulai dari bioteknologi hingga penerbangan, teknologi canggih seperti AI [kecerdasan buatan], berbagai bentuk kesehatan hingga pertanian—untuk mencuri kekayaan intelektual, teknologi, dan riset kami,” kata Wray.
“Anda bisa menutup mata dan memilih satu industri atau sektor secara acak, dan kemungkinan besar, Beijing telah menargetkannya.”
Terdapat setidaknya 55 kasus spionase terkait PKT di 20 negara bagian AS antara Januari 2021 dan Oktober 2024, menurut laporan baru yang diterbitkan oleh Komite Keamanan Dalam Negeri DPR AS pada bulan lalu.
Pada September, Song Wu, seorang warga negara Tiongkok yang bekerja untuk salah satu perusahaan pertahanan dan dirgantara milik Tiongkok, didakwa atas tuduhan terkait skema phishing bertahun-tahun yang menargetkan militer AS, NASA, dan entitas AS lainnya. Song diduga mencoba mendapatkan perangkat lunak dan kode sumber secara curang dari targetnya untuk kemungkinan penggunaan militer di Tiongkok.
Juga pada bulan September, Jia Wei, seorang warga negara Tiongkok dan anggota militer Tiongkok, didakwa karena mengakses jaringan perusahaan komunikasi AS secara tidak sah untuk mencuri informasi rahasia atas nama entitas Tiongkok.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kongres berupaya mengatasi masalah ini melalui undang-undang baru.
Anggota Kongres AS John Moolenaar (R-Mich.) dan Young Kim (R-Calif.) memperkenalkan RUU Perlindungan Inovasi dan Pengembangan Amerika (PAID) pada Juli. Jika disahkan, salah satu ketentuan undang-undang ini akan mewajibkan Menteri perdagangan untuk mengidentifikasi entitas asing yang menggunakan kekayaan intelektual AS terkait teknologi kritis atau yang sedang berkembang tanpa izin.
Pada Juni, Senator Marsha Blackburn (R-Tenn.) dan Gary Peters (D-Mich.) memperkenalkan Undang-Undang Pelaporan Kontra-Spionase Tiongkok. Jika disahkan, salah satu aspek dari undang-undang ini akan mewajibkan jaksa agung untuk menyusun laporan tahunan tentang upaya DOJ dalam menangkal upaya PKT mencuri rahasia dagang dan kekayaan intelektual AS lainnya. (asr)
Kelompok militan tersebut meluncurkan dua serangan terpisah di Israel utara pada Kamis 31 Oktober 2024, menurut pejabat setempat
ETIndonesia. Tujuh orang—termasuk empat pekerja asing dan tiga warga Israel—tewas di Israel utara pada Kamis setelah dua serangan roket terpisah yang diluncurkan dari Lebanon oleh kelompok Hizbullah, demikian pejabat setempat mengonfirmasi.
Seorang petani Israel dan empat pekerja pertanian asal Thailand termasuk di antara korban tewas ketika roket menghantam dekat Metula, kota paling utara Israel di perbatasan dengan Lebanon, kata pejabat Israel dan Thailand.
Beberapa jam kemudian, seorang pria berusia 30 tahun dan seorang wanita berusia 60 tahun tewas ketika Hizbullah menembakkan sekitar 25 roket dari Lebanon, yang menghantam sebuah kebun zaitun di pinggiran kota pelabuhan Haifa di utara Israel.
Dua orang lainnya terluka dalam serangan roket tersebut, kata Magen David Adom, organisasi medis darurat utama Israel.
Serangan roket pada hari Kamis ini menjadi serangan lintas batas paling mematikan di Israel sejak negara tersebut melancarkan invasi darat ke Lebanon pada awal Oktober. Israel mengatakan invasi ini merupakan bagian dari upaya untuk menghancurkan senjata dan infrastruktur—termasuk fasilitas penyimpanan dan pos pengamatan—milik Hezbollah, yang didukung oleh Iran.
Militer Israel mengatakan 90 proyektil ditembakkan dari Lebanon pada Kamis. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi tujuh kematian dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X, sambil berjanji untuk tidak membiarkan “serangan mematikan Hizbullah tak terjawab.”
Hizbullah belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan roket pada Kamis tersebut.
Sehari sebelum serangan tersebut, Angkatan Udara Israel mengatakan telah membunuh wakil kepala Pasukan Radwan elite Hezbollah, Mustafa Ahmad Shahadi, dalam sebuah serangan di wilayah Nabatieh di Lebanon selatan.
Israel Menewaskan Wakil Komandan Pasukan Radwan Elite Hizbullah
Shahadi “menginisiasi berbagai serangan teroris terhadap Israel dan mengawasi serangan terhadap tentara IDF di Lebanon selatan,” menurut angkatan udara Israel. Dia juga sebelumnya bertanggung jawab atas operasi Pasukan Radwan selama pertempuran di Suriah dari 2012 hingga 2017, menurut pernyataan dari angkatan udara.
Angkatan udara mengatakan eliminasi Shahadi adalah bagian dari upaya berkelanjutan untuk “mengurangi kemampuan Pasukan Radwan Hizbullah untuk mengarahkan dan melaksanakan aktivitas teroris terhadap pasukan IDF dan komunitas di perbatasan utara, khususnya rencana ‘Taklukkan Galilea’.” Pasukan Israel mengatakan Hizbullah merencanakan serangan mirip “gaya 7 Oktober” di Israel.
Serangan Kamis di Israel utara terjadi sehari setelah kementerian kesehatan Lebanon mengatakan 19 orang, termasuk delapan wanita, tewas akibat serangan Israel di dua kota di daerah Baalbek.
IDF mengatakan dalam sebuah pernyataan di X bahwa serangan tersebut menghantam “pusat komando dan kontrol serta infrastruktur teroris yang digunakan oleh organisasi teroris Hizbullah” di wilayah tersebut. Mereka tidak mengomentari kematian tersebut.
Pada Kamis, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan dalam konferensi pers bahwa para diplomat senior AS saat ini sedang bernegosiasi dengan Israel tentang gencatan senjata di Lebanon dan Gaza, di mana Israel telah melancarkan invasi lebih dari setahun yang lalu yang menargetkan Hamas.
Blinken mengatakan bahwa negosiator telah membuat “kemajuan” menuju mencapai “pemahaman mengenai apa yang diperlukan” untuk pelaksanaan efektif Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB pada tahun 2006 dengan tujuan menjaga perdamaian di perbatasan antara Hizbullah dan Israel.
Menteri luar negeri AS tersebut mengatakan penting untuk memastikan Washington mendapat kejelasan dari Lebanon dan Israel mengenai apa yang diperlukan di bawah Resolusi 1701 agar pelaksanaannya efektif. Ini termasuk penarikan pasukan Hizbullah dari perbatasan, pengerahan angkatan bersenjata Lebanon, pembentukan otoritas di mana mereka akan bertindak, dan mekanisme penegakan yang sesuai, kata Blinken.
“Saya bisa katakan bahwa berdasarkan perjalanan saya baru-baru ini ke wilayah tersebut, dan upaya yang sedang berlangsung saat ini, kami telah membuat kemajuan yang baik pada pemahaman tersebut,” kata Blinken.
Reuters dan Associated Press berkontribusi pada laporan ini
Pentagon mengatakan pasukan tambahan diharapkan tiba di Timur Tengah dalam beberapa bulan mendatang.
ETIndonesia. Amerika Serikat akan mengerahkan lebih banyak pesawat pembom, jet tempur, dan kapal perang ke Timur Tengah untuk meningkatkan postur militernya ketika gugus tempur kapal induk bersiap untuk meninggalkan wilayah tersebut, kata Pentagon pada Jumat (1/11/2024).
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin memerintahkan pengerahan kapal perusak pertahanan rudal balistik, skuadron tempur, pesawat tanker, dan beberapa pembom jarak jauh B-52 ke kawasan tersebut, menurut pernyataan juru bicara Pentagon, Mayor Jenderal Pat Ryder. Ryder menyatakan bahwa pasukan tambahan ini diharapkan tiba dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan keberangkatan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dari wilayah tersebut.
“Pergerakan ini menunjukkan sifat fleksibel dari postur pertahanan global AS dan kemampuan AS untuk dikerahkan di seluruh dunia dengan pemberitahuan singkat guna menghadapi ancaman keamanan nasional yang berkembang,” ujarnya.
Ryder juga mengatakan bahwa kepala Pentagon “terus menegaskan bahwa jika Iran, mitra-mitranya, atau proksi-proksinya menggunakan kesempatan ini untuk menyerang personel atau kepentingan Amerika di kawasan tersebut, Amerika Serikat akan mengambil setiap langkah yang diperlukan untuk melindungi rakyat kami.”
Pentagon tidak merinci jumlah pasukan yang akan dikerahkan sebagai bagian dari perubahan ini. Ryder menyebutkan pada Agustus bahwa ada sekitar 40.000 anggota layanan AS yang ditempatkan di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Pentagon mengumumkan akan memperkuat kemampuan dukungan udara defensifnya di kawasan itu dan menempatkan pasukan AS tambahan dalam kesiapan tinggi untuk dikerahkan ke Timur Tengah.
Pada 16 Oktober, militer AS menggunakan pembom siluman jarak jauh B-2 untuk menyerang fasilitas penyimpanan senjata Houthi yang didukung Iran di Yaman, menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mencakup kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat berupaya meningkatkan kehadiran militernya di kawasan itu saat Israel melanjutkan operasi daratnya melawan Hamas di Gaza sambil membalas serangan dari Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon.
Israel juga meluncurkan serangan balasan terhadap target militer di Iran pada 26 Oktober, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan regional dapat semakin meningkat karena Iran mengancam akan membalas.
Pasukan Pertahanan Israel mengatakan bahwa serangan pada 26 Oktober tersebut merupakan tanggapan atas “serangan yang berkelanjutan” dari rezim Iran terhadap Israel. Iran meluncurkan hampir 200 rudal balistik ke Israel pada 1 Oktober, meskipun banyak yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan rudal Israel dengan bantuan kapal perusak angkatan laut AS.
Austin sebelumnya memperingatkan bahwa Iran “sebaiknya tidak membuat kesalahan” dengan menanggapi serangan Israel, melainkan mempertimbangkannya sebagai akhir dari pertukaran serangan kedua negara.
Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, di mana lebih dari 1.200 orang tewas dan sekitar 250 orang disandera.
Israel meluncurkan serangan balasan di Gaza pada hari yang sama. Kementerian Kesehatan Gaza, yang berada di bawah kendali Hamas, melaporkan bahwa aksi militer Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 43.000 kematian hingga saat ini. (asr)