Beijing Tiba-Tiba Luncurkan Latihan Militer Mengunci Taiwan dan Memindahkan Industri Intensif ke Pedalaman Sebagai Persiapan Perang

Forum Elite

Pada 14 Oktober, militer Tiongkok tiba-tiba mengumumkan peluncuran latihan militer berskala besar di Selat Taiwan yang akan berakhir pada malam harinya. Latihan militer yang berskala besar hanya dalam 1 hari itu telah menarik banyak perhatian internasional. 

Belum jelas, apakah latihan militer Tiongkok tersebut merupakan upaya dadakan dari munculnya ide untuk menanggapi pidato Presiden Lai Ching-te yang membuka borok Partai Komunis Tiongkok (PKT) beberapa hari lalu, atau merupakan bagian dari rencana strategis besar untuk menyatukan Taiwan dengan kekerasan?

Di sisi lain, belum lama ini Beijing juga mengeluarkan instruksi yang mewajibkan industri intensif yang berada di daerah pesisir untuk mempercepat pengalihannya ke wilayah Tengah, barat atau pedalaman, yang tampaknya menyiratkan bahwa PKT  sedang mengambil tindakan tertentu. Kegiatan berskala besar seperti apa yang sedang dirancang oleh Partai Komunis Tiongkok?

Latihan militer yang mengimplementasikan tahap awal rencana operasi penguncian Taiwan

Yao Cheng, mantan letnan kolonel Angkatan Laut Tiongkok yang tinggal di AS mengatakan, bahwa “Pedang Tajam Gabungan-2024B” ini kurang tepat untuk disebut sebagai latihan perang karena tidak menggunakan proyektil, kecuali semacam gladi bersih untuk melakukan konsentrasi pasukan dalam rangka operasi memblokir Taiwan. Tujuan utama dari langkah pertama latihan ini adalah untuk segera berkumpul di posisi tempur yang sudah ditetapkan. 

Setelah pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, mengadakan konferensi kerja politik militer di Shaanxi, ide pertempuran yang sudah ada sejak lama dimatangkan menjadi rencana pertempuran. 

PKT memanfaatkan kesempatan pelantikan Lai Ching-te sebagai Presiden Republik Tiongkok pada 20 Mei dan pidato Hari Nasionalnya pada 10 Oktober untuk mempraktikkan ‘pemberian pelajaran” tahap pertama, yang nantinya, selangkah demi selangkah “pelajaran” itu akan disesuaikan dengan subjek dan rencana tempur.

Ketika Yao Cheng masih aktif di Angkatan Laut, ia pernah berpartisipasi dalam beberapa revisi rencana tentang pertempuran dengan mengunci Taiwan. Ada banyak konten di dalamnya, tetapi latihan kali ini adalah untuk berkumpul secara cepat dan tepat dalam kondisi gerakan yang sangat dirahasiakan, sekaligus untuk melakukan pemantauan terhadap kesiagaan angkatan laut, udara, katanya ada 5 program yang diusung Komando Militer Wilayah Timur, pertama yaitu serangan oleh tentara gabungan dari 4 angkatan, yaitu darat, laut, udara dan angkatan roket yang ada di Komando Militer Wilayah Timur untuk secara cepat menempati posisinya di medan perang. 

Sebenarnya masih ada beberapa pasukan yang sudah dalam keadaan siap di dalamnya yang belum diketahui banyak orang. Jumlah pasukan yang tiba di 6 wilayah besar sekitar Taiwan kali ini adalah 125 buah pesawat tempur dan 17 buah kapal perang, tetapi tidak termasuk 4 buah kapal penjaga pantai. Mereka memiliki 4 basis kekuatan cadangan, jumlah kesiapan tempur tingkat pertama di bandara juga sebanyak 125 buah pesawat tempur, dan jumlah kesiapan tempur tingkat kedua sebanyak 2 kali lipatnya, yaitu 250 buah pesawat. Kesiapan tempur tingkat pertama berarti penerbang sudah duduk di dalam kokpit pesawat, dan kesiapan tempur tingkat kedua berarti penerbang tiba di bandara, seluruh unit penerbangan brigade dan pesawat berkumpul di landasan, meski personel lainnya dapat bersiaga di rumah sambil menunggu instruksi. 

Ini adalah bagian penting dari rencana pertempuran. Latihan militer kali ini dilaksanakan secara mendadak, perintah baru diterima tentara lebih dari satu jam sebelum mulai. Pimpinan pasukan memang sengaja tidak memberi tahu karena takut berita dibocorkan. 

Malam sebelumnya, banyak tentara yang mengatakan bahwa mereka diminta untuk tidur lebih awal karena besok akan ada tugas penting, tetapi tidak diberi tahu jika ada rencana latihan pertempuran. Oleh karena itu, baik Taiwan maupun Amerika Serikat tidak mengetahui adanya kegiatan tersebut.

Pasukan rudal dan pasukan artileri jarak jauh juga harus berkumpul dan mempersiapkan segala sesuatunya pada saat yang sama.  Yao Cheng tidak tahu banyak tentang Angkatan Roket, tapi ia percaya mereka sudah siap, terutama pasukan rudal. Untuk mencegah terjadinya beberapa situasi khusus selama pengepungan Taiwan. Sejauh yang kami tahu, delapan batalyon pendukung kedua pasukan telah menempati posisinya, dan beberapa perangkat elektronik juga telah disiapkan, tetapi mereka belum bergerak.

Yao Cheng mengatakan, belum lama ini Partai Komunis Tiongkok meluncurkan sebuah rudal antarbenua ke Samudera Pasifik. Ini merupakan bagian dari rencana mereka untuk memblokir dan mengambil alih Taiwan, mereka mencoba untuk mengantisipasi ikut campur tangannya Amerika Serikat.  Jadi, peluncuran rudal itu sebagai peringatan bagi Amerika Serikat bahwa dirinya punya kemampuan untuk menyerang tanah air Anda. 

Meskipun senjata nuklir Partai Komunis Tiongkok jauh tertinggal dibandingkan senjata nuklir Amerika Serikat dan belum mampu menghancurkan Amerika Serikat, tetapi PKT ingin menunjukkan prinsipnya yaitunya dirinya dapat melakukan pembalasan yang jangan dianggap remeh. Yao Cheng  pernah mengatakan bahwa PKT tidak lagi mau mengambil risiko reunifikasi melalui pendaratan militer karena biayanya yang terlalu tinggi dan belum tentu pasukan mau melakukannya, jadi diubah menjadi penerapan lewat blokade atau penguncian seluruh pulau.

 Lewat operasi pemblokiran Taiwan yang dirumuskan tahun 1986, diharapkan terjadi kekacauan di internal Taiwan, jatuhnya ekonomi, kepanikan di kalangan masyarakat yang mana akan memaksa pemerintah Taiwan menyerahkan diri, sehingga reunifikasi tercapai. 

Namun tidak menyerang lewat pendaratan militer itu hanya bersifat sementara, atau tergantung pada pemenuhan kondisi atau faktor tertentu seperti, pemilu AS, stabilitas internal Partai Komunis Tiongkok, kepemimpinan militer Xi Jinping, Sidang Pleno Keempat Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok ke-20 yang akan diadakan tahun depan, kesetiaan para kroni Xi, kesiapan personel perang dan sebagainya.

Dewan Negara minta industri intensif dialihkan guna mempersiapkan diri menghadapi perang berkepanjangan berskala besar

Produser TV independen Li Jun mengatakan bahwa Dewan Negara menerbitkan dokumen yang meminta industri padat modal, teknologi dan tenaga kerja beralih secara tertib dari wilayah pesisir ke tengah dan barat, dari pusat kota ke daerah pedalaman. Meskipun tidak dijelaskan mengenai persiapan militer, namun pasti ada hubungannya dengan perang. 

Mengapa PKT yang tidak pernah berhenti mempromosikan pembangunan wilayah barat, sekarang tiba-tiba menekankan hal ini? Li Jun berpikir ada hubungan yang erat dengan apa yang pernah ditegaskan oleh pemerintah AS jika terjadi perang di Taiwan. Komandan Indo-Pasifik AS mengatakan bahwa jika terjadi perang di Selat Taiwan, Amerika Serikat akan menghancurkan pusat transportasi, fasilitas militer penting, dan industri manufaktur di wilayah pesisir Tiongkok. 

Jadi menurut gambaran mereka, maka seluruh wilayah pantai akan lumpuh. Bahkan baru-baru ini, militer AS mengatakan bahwa begitu perang pecah di Selat Taiwan, maka pemandangan neraka akan muncul. Oleh karena itu, saya pikir jika PKT ingin menyerang,Taiwan PKT harus melakukan persiapan. Tindakan yang tidak dapat dihindari adalah memindahkan industri teknologi tinggi, rantai industri manufaktur, dan perusahaan industri militer menjauhi wilayah pesisir dan terpencar.

Li Jun mengatakan bahwa meskipun termasuk pekerjaan berat, tetapi PKT melakukannya secara tersembunyi, instruksi itu cuma ada dalam dokumen Dewan Negara pada 25 September tahun ini, yang seakan-akan merupakan dokumen panduan mengenai ketenagakerjaan. 

Namun, beberapa pakar dalam negeri berpendapat bahwa ini bukan surat himbauan biasa, tetapi strategi nasional yang penting. Namun saat ini tidak mudah untuk melakukan pengalihan industri seperti ini, karena seluruh lingkungan sosial telah mengalami perubahan yang luar biasa. Dapat dikatakan bahwa pada dasarnya tidak mungkin mengalihkan bakat, dana, dan teknologi hanya dengan mengandalkan perintah administratif. Li Jun sendiri meragukan apakah keinginan itu akan terwujud.

Peralihan industri semacam ini telah 4 kali terjadi sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Gerakan Pembangunan Front Ketiga pada tahun 1960-an adalah salah satunya. Saat itu, negara dibagi menjadi 3 menurut posisi strategisnya, yaitu garis pertama atau front depan, kedua atau front tengah dan ketiga atau front belakang. 

Jarak terdekat dari front ketiga sedikitnya juga melebihi 700 km dari garis pantai, dan yang dikelilingi antara lain oleh Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, Dataran Tinggi Yunnan-Guizhou, Pegunungan Taihang, dan Pegunungan Dabie sebagai pembatas alami. 

Dalam situasi khusus persiapan perang, area front ketiga merupakan area belakang strategis yang ideal. Karena kebutuhan perang, jadi banyak pabrik dan fasilitas produksi dibangun di daerah terpencil, terpisah untuk menghindari pengeboman, tetapi tidak sesuai dengan prinsip ekonomi sehingga banyak yang bangkrut setelah tahun 1980.

Guo Jun, pemimpin redaksi The Epoch Times mengatakan, bahwa relokasi sejumlah besar pabrik untuk pembangunan front ketiga telah selesai pada tahun 1970an. Proyek industri berat, gudang senjata, dan lembaga penelitian pada dasarnya telah berdiri, namun pabrik pendukung dan rantai pasokan belum selesai dilakukan. Masalah lain dengan Pembangunan di front ketiga adalah transportasi yang tidak nyaman. 

Banyak pabrik yang dibangun di dasar jurang yang besar. Memang soal keselamatan cukup matang dipertimbangkan, tetapi manfaat ekonomi tidak mendapat perhatian. Oleh karena itu, ketika Gerakan Reformasi dan Keterbukaan dilaksanakan, di mana perusahaan mulai berfokus pada efisiensi demi keuntungan, maka perusahaan-perusahaan yang terpencil ini akan kalah bersaing, mengalami penurunan, atau mereka akan bertransformasi dan pindah ke kota, atau menggunakannya untuk tujuan lain. Proyek utama di awal tahun 1980-an adalah Tembok Besar Bawah Tanah, yang merupakan jalur bawah tanah di bawah gunung. Banyak kota yang mengandalkan jalur bawah tanah ini untuk transportasi darat.

Guo Jun mengatakan bahwa senjata nuklir Partai Komunis Tiongkok terutama mengandalkan peluncuran di darat. Sedangkan peluncuran lewat laut dan udara masih kurang dapat diandalkan. Ada dua jenis utama senjata nuklir berbasis darat, yang satu bersifat statis, ada silo peluncuran yang penutupnya perlu dibuka sebelum melakukan peluncuran. Senjata statis ini mudah terpantau dan dihancurkan oleh musuh saat perang terjadi. 

Satunya lagi adalah rudal antarbenua yang perlu diangkut dengan truk besar atau kereta api, yang lebih mudah untuk menghindari serangan orang lain. Amerika Serikat pernah melaporkan, bahwa beberapa senjata nuklir bergerak milik PKT ditempatkan di jalur bawah tanah di wilayah tengah dan barat Tiongkok yang dinamakan Tembok Besar Bawah Tanah yang memiliki panjang ribuan kilometer, bisa dilalui 2 truk besar. Di dalam terowongan juga ada supermarket. Ini adalah proyek rahasia tingkat tertinggi PKT yang dirancang pada awal tahun 1970-an, dan konstruksinya masih terus berlanjut hingga tahun 1980-an.

Penilaian Mao Zedong saat itu adalah perang dunia pasti akan pecah, hanya masalah waktu saja. Perekonomian PKT sedang tidak bagus dan industrinya pun masih terbelakang, sehingga PKT mengusulkan untuk sedapat mungkin menunda perang. Setelah Deng Xiaoping berkuasa, penilaian PKT terhadap situasi internasional adalah bahwa perang dapat dihindari. Jadi semua rencana dan strategi di era Mao adalah persiapan perang. 

Selama Perang Korea pada tahun 1950an, Partai Komunis Tiongkok menyaksikan kekuatan peperangan modern. Rasio korban antara tentara PKT dan militer AS adalah sekitar sepuluh banding satu. Hal ini karena dalam Perang Korea itu AS mengandalkan pemikiran strategis dan taktis perang terbatas. Oleh karena itu, pertimbangan Mao Zedong adalah ketika perang pecah, PKT perlu meninggalkan wilayah pesisir dan mundur ke daerah pegunungan di wilayah tengah dan barat yang lebih aman dari serangan agar mempunyai kekuatan untuk melanjutkan perang perlawanan. 

Oleh karena itu, dalam pembangunan tahun 1960-an dan 1970-an, PKT pada dasarnya tidak berinvestasi di wilayah pesisir. Ini adalah pemikiran strategis Mao Zedong. Ia ingin melakukan perang yang berlangsung panjang dan menggunakan perang rakyat, yaitu perang gerilya. Apa yang disebut oleh Partai Komunis Tiongkok untuk menjerumuskan musuh-musuhnya ke dalam lautan luas perang rakyat adalah dengan menggunakan perang untuk menyeret lawan-lawannya menuju keruntuhan ekonomi. Menurut Mao yang beride Perang Anti Jepang, bahwa masyarakat Tiongkok bisa bertahan hidup dengan hany makan rumput. 

Dua aspek perang yang telah dirangkum oleh Partai Komunis Tiongkok dari Pemikiran Mao Zedong tentang peperangan adalah satu, perang yang berkepanjangan, dan yang lainnya adalah perang rakyat atau perang gerilya. Perang Anti-Jepang Tiongkok pecah pada tahun 1937. Pada tahap pertama, pemerintah Nasionalis memindahkan pabrik di Shanghai, Jiangsu dan Zhejiang ke wilayah tengah dan barat. 

Menurut data dari Pemerintah Nasional, dalam waktu 3 tahun dari paruh kedua tahun 1937 hingga Juni 1940, pemerintah Tiongkok merelokasi total sebanyak 448 pabrik dengan 120.000 ton material dan 12.000 orang teknisi. Diantaranya, lebih dari 60% adalah perusahaan yang berada di Shanghai dan Delta Sungai Yangtze. Sebagian besar pabrik tersebut yaitu 254 telah pindah ke Sichuan, 121 ke Hunan, 27 ke Shaanxi. 

Ada juga beberapa pabrik yang pindah ke sana secara sukarela. Selama seluruh periode Perang Anti-Jepang, terdapat lebih dari 600 pabrik yang dipindahkan ke front belakang. Relokasi pabrik-pabrik ini memainkan peran besar dalam delapan tahun berikutnya dalam perang melawan penjajah Jepang.

Di satu sisi, penguatan front belakang mendukung pasokan militer di garis depan dan mengembangkan industri militer, sekaligus juga mendorong pasokan produk sipil yang berdampak positif terhadap perekonomian wilayah tengah dan barat. Kuncinya adalah mempertahankan kekuatan ekonomi untuk berperang melawan Jepang dan meletakkan landasan material bagi pembangunan industri dan pertambangan di kawasan belakang. 

Pada dasarnya dari sinilah pemikiran PKT berasal. Oleh karena itu, ketika PKT kembali meminta pengalihan besar-besaran industri ke wilayah belakang, dunia luar pasti langsung mengkaitkannya dengan Gerakan Pembangunan Front Ketiga sebelumnya dan seluruh pemikiran PKT dalam persiapan untuk menghadapi perang yang berskup besar dan berkepanjangan.

Yao Cheng mengatakan bahwa PKT sudah mempersiapkan perang berskala besar. Perang di masa depan semuanya akan melibatkan serangan jarak jauh. Misalnya, kapal induk AS harus diparkir ribuan kilometer jauhnya. Untuk serangan jarak jauh, radius serangan dari jet tempur kapal induk juga terbatas, dan rudal Tomahawk yang diluncurkan oleh kapal selam nuklir hanya mampu mencapai jarak 2.000 kilometer. Jika menghantam daratan setelah keluar sejauh seribu kilometer, maka hanya bisa menghantam wilayah pesisir yang jaraknya seribu kilometer. Saat ini tampaknya tingkat tempur dan kemampuan tempur suatu negara terutama bergantung pada kedalaman strategisnya. 

Walau Taiwan tidak memiliki kedalaman strategis, namun Taiwan sudah memiliki rudal yang dapat menjangkau jarak 2.000 kilometer. Oleh karena itu, begitu perang pecah, jet tempur F-35 milik Amerika Serikat, Jepang, dan Taiwan dapat menembus pantai, bandara, dan pelabuhan untuk melakukan serangan yang menghancurkan terhadap wilayah pesisir. 

Memang tidak mudah untuk menjangkau sasaran yang berjarak ribuan kilometer di wilayah pedalaman. Ke depannya, hanya Angkatan Roket dengan pasukannya yang berada di Pangkalan ke-61 di Huangshan, Anhui, yang paling dekat dengan laut, sedangkan yang lainnya berada di barat laut, Henan, Ningxia dan Gansu. Dengan demikian rudal lawan lebih mudah dicegat karena jarak terbangnya yang jauh. Oleh karena itu, menempatkan beberapa pangkalan serangan sekunder penting pada jarak ribuan kilometer memang merupakan pertahanan yang efektif dalam peperangan.

Shi Shan, editor senior dan kepala penulis The Epoch Times mengatakan, sekitar tahun 1990-an, ia pernah membaca laporan yang diterbitkan oleh Rand Corporation, sebuah lembaga pemikir terkenal Amerika Serikat yang mengatakan, bahwa begitu terjadi krisis di Selat Taiwan, Amerika Serikat harus melakukan intervensi dan memilih perang proaktif habis-habisan. Artinya, AS harus bergantung pada pangkalan militernya di Asia, serta superioritas udara absolut untuk melakukan pemboman menyeluruh di Tiongkok. 

Jadi, saat ini, sangat penting bagi Partai Komunis Tiongkok untuk memindahkan seluruh perusahaannya ke daerah pegunungan. Hanya saja apakah perang akan terjadi dalam waktu dekat, atau apakah perang akan segera terjadi, masih belum diketahui secara pasti. Namun, inilah pendekatan strategi yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok, dan bagi Shi Shan kita masih perlu memberikan perhatian yang cermat terhadap masalah ini.  (sin)

Apakah Korut Berani Berperang Melawan Ukraina dan Korsel Secara Bersamaan?

Xie Luo-shan

Baru-baru ini, Korea Utara berubah menjadi lebih beringas karena akan segera membentuk aliansi militer dengan Rusia. Korea Utara selain menjanjikan pengiriman pasukan ke medan perang di Ukraina, tetapi juga mengeluarkan ancaman yang sangat provokatif terhadap Korea Selatan.

Perjanjian “Kemitraan Strategis Komprehensif” antara Rusia dan Korea Utara pada hakikatnya adalah aliansi militer strategis, yang dengan jelas menyatakan bahwa jika salah satu pihak yaitu Rusia atau Korea Utara berperang dengan pihak ketiga, maka pihak lainnya akan memberikan bantuan militer apa pun yang diperlukan, termasuk semua sumber daya yang dibutuhkan. Perjanjian tersebut sudah mendapatkan kesepakatan dari kedua belah pihak tinggal menunggu penandatanganannya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam sebuah konferensi pers di Brussels pada 17 Oktober mengatakan bahwa Korea Utara sedang melibatkan diri dalam perang dengan Ukraina dan bersiap mengirim puluhan ribu tentara untuk berperang bersama Rusia di tengah ketegangan antara Kyiv dan Moskow. Hal ini akan menyebabkan perang semakin meluas. 

“Informasi yang kita dapat adalah Korea Utara sedang bersiap untuk mengirimkan lebih dari 10.000 orang tentara dari berbagai kemampuan khusus”, ini adalah “langkah pertama dalam perang dunia”, katanya. Hal ini akan menandai peningkatan secara signifikan keterlibatan Korea Utara dalam perang atas nama sekutu utamanya, Rusia.

Kremlin menepis laporan bahwa pasukan Korea Utara akan bertempur bersama pasukan Rusia dan menyebutnya sebagai berita palsu.

Menurut laporan, ribuan tentara Korea Utara telah menerima pelatihan di Timur Jauh Rusia dan bersiap untuk bergabung dalam perang melawan Ukraina sebelum akhir tahun ini untuk mengganti pasukan Rusia yang semakin serius berkurang akibat pertempuran.

Media Ukraina melaporkan pada 15 Oktober, bahwa sekitar 3.000 orang warga Korea Utara akan bergabung dengan Batalyon Buyat, yang berafiliasi dengan Brigade Serangan Lintas Udara Independen ke-11 Angkatan Bersenjata Rusia. Batalyon Buyat mungkin ditempatkan di dekat kota Suzha di wilayah Kursk Rusia yang diduduki Ukraina, di sana sudah muncul beberapa orang tentara Korea Utara. Andrey Kovalenko, direktur Pusat Anti-Disinformasi Ukraina, mengatakan bahwa warga Korea Utara mungkin juga akan memasuki wilayah Ukraina untuk berperang.

Kemungkinan pasukan Korea Utara dalam skala besar akan bertempur berdampingan dengan pasukan Rusia di medan perang di Ukraina tampaknya tidak bisa dihindari. Pertanyaan selanjutnya adalah kapan hal ini akan terjadi. Selama “kemitraan strategis komprehensif” antara Korea Utara dan Rusia secara resmi berlaku, hampir tidak ada yang dapat mencegah peningkatan komprehensif bantuan timbal balik militer antara Moskow dan Pyongyang, dan aliansi strategis ini akan semakin mempengaruhi situasi di Semenanjung Korea.

Saat ini, situasi di Semenanjung Korea sedang mengalami perubahan kritis, yang menunjukkan bahwa situasi tersebut dapat berkembang menjadi seperti permusuhan secara menyeluruh.

Media Korea Utara KCNA pada 18 Oktober memberitakan, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyatakan bahwa Korea Selatan adalah negara yang bermusuhan. Sehari sebelumnya, Kantor Berita Pusat Korea menyatakan bahwa Majelis Nasional Korea Utara merevisi konstitusi dan menetapkan Korea Selatan sebagai “negara musuh”. Hal ini menandai Kim Jong-un telah sepenuhnya mengingkari janjinya untuk menyatukan kembali Semenanjung Korea.

Mengenai pemboman jalan-jalan dan kereta api yang menghubungkan Korea Utara dan Selatan pada minggu ini, Kim Jong-un mengatakan, bahwa ini berarti tidak hanya penutupan fisik, tetapi juga berakhirnya hubungan dengan Seoul, dan untuk sepenuhnya menghapus kesadaran mengenai saudara sebangsa yang tidak berguna, dan gagasan unifikasi yang tidak masuk akal. 

Awalnya, Korea Utara mengumumkan rencana ingin merevisi perbatasan maritimnya dengan Korea Selatan sekaligus memindahkannya lebih jauh ke selatan. Seoul kemudian menanggapinya dengan  menegaskan bahwa mereka siap mempertahankan perbatasannya meski harus melalui pertumpahan darah. 

Selama periode ini, Pyongyang menuduh Seoul mengirim drone tak dikenal untuk menyebarkan selebaran. Selain itu juga mengatakan bahwa jika drone kembali muncul di wilayah udara, konsekuensinya akan menjadi bencana besar. Segera setelah itu, unit artileri Korea Utara yang dikerahkan di sepanjang perbatasan disiagakan penuh, dan dua jalan yang menghubungkan Korea Utara dan Selatan diledakkan.

Jumlah pasti militer Korea Utara masih belum diketahui, namun ada sumber yang menyebutkan bahwa negara itu telah melakukan enam kali uji coba nuklir dan lebih sering uji coba rudal, termasuk rudal balistik yang mampu mencapai daratan Amerika Serikat. Adapun pasukan regular Korea Utara berjumlah lebih dari 1,1 juta orang.

Karena teknologi dan peralatan militer Korea Utara yang sudah ketinggalan zaman, negara ini mungkin kalah saing dengan Korea Selatan dalam hal kemampuan konvensional. Meskipun Korea Selatan tidak memiliki senjata nuklir, tetapi negara ini dilindungi oleh Strategi Pencegahan Nuklir yang Diperluas Amerika Serikat, sehingga bukan berarti Korea Selatan tidak memiliki kemampuan untuk mencegah serangan nuklir Korea Utara. Selama bertahun-tahun, seiring dengan meningkatnya provokasi Korea Utara, semakin banyak suara di Korea Selatan yang berharap Seoul dapat memiliki senjata nuklirnya sendiri, hal ini telah mendorong Amerika Serikat untuk lebih mempertimbangkan soal penerapan pencegahan yang diperluas di Semenanjung Korea.

Faktanya, kekuatan militer konvensional yang dimiliki Amerika Serikat dan Korea Selatan, khususnya serangan presisi jarak jauh dan kemampuan pembersihan target bunker yang kuat, telah memberikan efek jera yang cukup besar terhadap Korea Utara. Kuncinya adalah seberapa cepat tentara Korea Selatan yang jumlahnya relatif kecil dapat mencapai tujuan militernya di saat konflik dengan Korea Utara meletus, dan sejauh mana kemampuannya untuk melumpuhkan efektivitas tempur tentara Korea Utara yang jumlahnya besar. Jika tidak dapat mencapai tujuan militernya dalam waktu sesingkat-singkatnya, maka tentara Korea Utara masih berpeluang untuk menimbulkan kerugian besar bagi Seoul.

Sebaliknya, tentara Korea Utara yang perlengkapannya relatif buruk, dapat menggunakan senjata nuklir, senjata konvensional untuk melawan kekuatan besar yang memang tidak sebanding, dengan memanfaatkan kekhasan lokasi geografisnya, sampai pada tingkat tertentu tentara Korea Utara masih mampu menutupi kesenjangan teknologinya. Sejauh ini pengembangan senjata pemusnah massal dan rudal balistik Korea Utara masih menjadi sumber kekhawatiran. 

Tentu saja, ini bukan berarti ingin menggambarkan seberapa kuatnya tentara Korea Utara, tetapi mereka memang mampu menimbulkan kerusakan yang sangat serius bagi Seoul.

Garis Demarkasi Militer (DMZ) yang memiliki lebar 4 kilometer dan Panjang 250 kilometer, yang dijadikan perbatasan antara Korea Utara dan Selatan merupakan salah satu garis pertahanan yang paling padat ranjau, dan banyak pos penjagaan di kedua sisinya. Konflik antara Korea Utara dan Selatan akan menyebabkan kerugian yang sangat besar. Masalahnya, pusat kota Seoul hanya berjarak 40 kilometer dari DMZ, dan kawasan padat penduduk terdekat hanya berjarak 10 kilometer dari zona pemisah sempit ini. Jika terjadi perang, Korea Utara dapat menimbulkan korban jiwa yang serius dan kehancuran kota berskala besar pada masyarakat Seoul hanya dengan menggunakan artileri konvensional.

Dalam berbagai skenarionya Pentagon untuk melakukan intervensi terhadap konflik Korea Utara-Selatan, hampir tidak menemukan cara untuk mengalahkan Korea Utara dengan kerugian yang minimal bagi Seoul. Amerika Serikat dan Korea Selatan mungkin lebih memikirkan cara melawan invasi Korea Utara dengan kerugian minimal dibandingkan sekadar mengalahkan tentara Korea Utara atau mengakhiri rezim Kim.

Dari sudut pandang lain, janji merealisasikan pengakhiran rezim Kim mungkin juga mempunyai efek jera yang besar, ini mungkin bisa memaksa Kim Jong-un hanya menggunakan senjata gertakan, atau secara simbolis meledakkan beberapa gedung dan jalan di negerinya yang kiranya memiliki hubungan dengan Korea Selatan untuk menunjukkan tekadnya melawan Korea Selatan.

Namun, keberadaan “Kemitraan Strategis Komprehensif” antara Korea Utara dan Rusia, sebuah aliansi yang serupa dengan aliansi bilateral antara Amerika Serikat dan Korea Selatan atau bahkan aliansi NATO, semakin membesarkan keberanian Kim Jong-un untuk menantang Korea Selatan.

Namun, para pengamat Barat percaya, sejarah hubungan antara Rusia dan Korea Utara menentukan bahwa hal ini lebih cenderung menjadi “hubungan kenyamanan” yang jauh lebih rapuh daripada yang dibayangkan banyak orang. Hubungan ini jelas didasarkan pada kebutuhan mendesak Rusia akan senjata dan amunisi untuk mempertahankan perang di Ukraina. Begitu situasi perang di Ukraina berubah atau persediaan artileri dan rudal Korea Utara habis, maka Korea Utara dapat langsung kehilangan daya tawar untuk bekerja sama dengan Rusia.

Kim Jong-un tampaknya mencoba memulai konfrontasi dalam dua arah pada saat yang sama, karena didukung oleh “kemitraan strategis komprehensif”. 

Di satu sisi, mengirim pasukan ke Ukraina dapat menghasilkan uang dan teknologi Rusia, namun hal ini selain dapat mengarah pada deklarasi perang dengan Ukraina, juga menjadikan tentara Korea Utara sebagai umpan meriam bagi Rusia. Di sisi lain, konflik bersenjata dengan Korea Selatan yang tanpa pertimbangan lebih jauh bahkan bisa berujung pada runtuhnya rezim Kim Jong-un. (sin)

Anjing Cilik dan Gemoy di Tiongkok Ini Menjaga Makam Pemiliknya Selama 2 Tahun, Mengharukan Netizen dan Menduduki Puncak di Mesin Pencarian

ETIndonesia. Di kota Shangrao, provinsi Jiangxi, Tiongkok, seekor anjing kecil telah menjaga makam pemiliknya yang telah meninggal selama dua tahun, yang membuat banyak netizen terharu dan menduduki posisi teratas di mesin pencarian. 

Menurut laporan media daratan, setelah pemiliknya meninggal, anjing itu terus menjaga makamnya selama dua tahun. Jika lapar, ia akan turun gunung untuk mencari makanan, dan setelah makan, kembali lagi ke makamnya untuk tetap menjaga tempat tersebut.

Selama waktu itu, beberapa penduduk desa di sekitar telah mencoba merawatnya, tetapi ia selalu kembali ke makam. Anjing tersebut harus tidur di luar dan terpapar cuaca, hingga ia menderita penyakit kulit yang parah. 

Beruntung, orang-orang baik menemukannya dan membawanya ke rumah sakit. Anjing tersebut membutuhkan waktu enam bulan untuk pulih, dan setelah bulu-bulunya tumbuh kembali, ia kembali menjadi anjing kecil yang lucu.

Orang baik tersebut mengatakan, “Karena ia sangat setia, kami memberinya nama Zhongbao (Setia).” 

Video mengenai kisah ini diposting di Weibo dan dengan cepat menarik jutaan klik. Banyak orang meninggalkan komentar, “Hati saya hancur, ini adalah versi nyata Hachiko, betapa setianya si kecil ini,” “Hachiko yang mengharukan, sangat menyentuh,” “Versi Tiongkok dari Hachiko,” “Anjing benar-benar sahabat paling setia manusia,” “si kecil yang sangat setia.”

Hachiko adalah seekor anjing Akita dari Jepang yang terkenal akan kesetiaannya kepada pemiliknya, Profesor Hidesaburo Ueno. Kisah nyata Hachiko juga di angkat ke layar perak di Jepang pada tahun 1987.

Pada Agustus lalu, selama bencana banjir di Danau Dongting, terdapat versi Hachiko dari Yueyang, Tiongkok yang menjaga tanggul selama lebih dari sebulan, hingga akhirnya pemiliknya kembali ke rumah.

Menurut laporan media daratan, pada 5 Juli, tanggul di Danau Dongting jebol. Pasangan Yan Ruorong dan Liu Yunlian dari Desa Tuandong, Kecamatan Huarong, dipindahkan ke tempat penampungan, namun mereka meninggalkan seekor anjing kecil berwarna kuning yang sedang hamil yang telah mereka pelihara selama empat tahun untuk menjaga barang-barang mereka.

Pasangan tersebut sangat khawatir akan anjing kecil itu dan kembali ke tanggul pada pertengahan Juli dengan membawa makanan. Anjing kecil yang kurus itu berlari dengan gembira menuju pasangan Yan dan memeluk pemiliknya erat-erat.

Pada 15 Agustus, Yan Ruorong memutuskan untuk meninggalkan tempat penampungan dan kembali ke rumah. Selama lebih dari sebulan, anjing kecil itu telah menjaga barang-barang mereka di tanggul. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Badai Kuat Mediterania Hantam Spanyol, Jumlah Korban Tewas Meningkat Menjadi 158 Orang

ETIndonesia. Sebuah badai Mediterania yang sangat kuat melanda Spanyol sejak 29 Oktober, menyebabkan jumlah korban tewas meningkat menjadi setidaknya 158 orang pada 31 Oktober, sementara petugas penyelamat masih berupaya mencari kemungkinan korban selamat. Pemerintah memberikan peringatan bahwa keadaan darurat “belum berakhir,” dan meminta masyarakat di daerah bencana untuk tetap berada di rumah.

Spanyol diterjang banjir yang langka, dengan wilayah Valencia di timur menjadi yang paling parah. 

Beberapa daerah diterjang curah hujan setara dengan satu tahun dalam waktu delapan jam pada 30 Oktober, menyebabkan banjir bandang, sungai jebol, dan arus deras yang menghancurkan jembatan, menjadikan kota-kota terendam, rumah-rumah warga hancur, dan mobil-mobil mengapung menghalangi jalan. Hingga sore 31 Oktober, sebanyak 155 jenazah telah ditemukan.

Selain itu, wilayah Castilla-la Mancha dan Andalusia melaporkan total tiga orang tewas pada 30 Oktober. Statistik awal yang dirilis pada 30 Oktober mencatat 95 orang tewas, dan pejabat setempat telah memperingatkan bahwa jumlah korban tewas mungkin akan bertambah.

Central News Agency mengutip laporan AFP, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez meminta warga di Provinsi Valencia dan Castellon di wilayah Valencia untuk “tetap di rumah” dan mengikuti arahan unit penanggulangan darurat, “Saat ini hal terpenting adalah menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin.”

Raja Felipe VI juga mengingatkan bahwa situasi darurat “belum berakhir.” Badan Meteorologi Nasional Spanyol (AEMET) hari ini mengeluarkan peringatan hujan lebat untuk beberapa daerah di timur dan selatan. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Militer AS Serang Beberapa Pos ISIS, Biden Memimpin Acara Halloween di Gedung Putih

ETIndonesia. Militer AS menyerang beberapa pos ISIS, menewaskan 35 teroris. Pada Rabu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa pada Senin (28/10/2024) sore, pasukan AS di Timur Tengah melakukan “serangkaian serangan” terhadap beberapa pos ISIS di Suriah, menewaskan hingga 35 anggota teroris ISIS.

Saat ini belum jelas apakah di antara 35 anggota bersenjata yang tewas tersebut terdapat pemimpin senior ISIS. CENTCOM menyatakan, “Tidak ada indikasi bahwa ada korban sipil.”

Presiden Biden dan Ibu Negara Jill Biden menggelar acara Halloween terakhir mereka di Gedung Putih pada hari Rabu. Sebanyak 8.000 orang diundang ke Gedung Putih, termasuk siswa, anak-anak, dan keluarga militer.

Pada hari itu, Ibu Negara Jill menambahkan tema pendidikan ke dalam acara tersebut dan menamakannya “Hallo-Read” untuk mendorong minat membaca. Ibu Negara AS Jill Biden mengatakan, “Selamat Halloween, semoga kalian semua bersenang-senang hari ini. Terima kasih.”

Batas waktu pelarangan mendekat, TikTok terjerat dalam gugatan hukum. Presiden Biden menandatangani Undang-Undang Perlindungan Warga AS dari Aplikasi yang Dikuasai Negara Musuh (PAFACA) pada 24 April, yang berarti bahwa perusahaan induk TikTok, ByteDance, harus menjual TikTok sebelum 19 Januari 2025, atau menghadapi larangan.

Namun, TikTok berargumen bahwa pemerintah AS belum memberikan bukti yang menunjukkan bahwa TikTok merupakan risiko bagi keamanan nasional, sehingga tindakan tegas tidak seharusnya diambil.

Di sisi lain, para legislator dan badan intelijen AS percaya bahwa jika aplikasi tersebut tetap di bawah kontrol Tiongkok, akan ada ancaman serius terhadap keamanan nasional.

Sementara itu, H5N1 Virus Flu Burung Ditemukan Pertama Kali di Babi di AS. Pada Rabu, Departemen Pertanian AS (USDA) mengumumkan bahwa virus H5N1 ditemukan pada seekor babi di sebuah peternakan di Oregon. Sebelumnya, unggas di peternakan tersebut telah terkonfirmasi terinfeksi H5N1.

Babi dikenal sebagai “wadah campuran” untuk flu karena dapat menjadi inang bagi virus flu burung dan virus flu manusia, yang menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan virus ini menginfeksi manusia dan menyebar antar manusia. (jhon)

Sumber :NTDTV.com

Korea Utara Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua, Analisis: Tiongkok Berada di Balik Layar

Kurang dari seminggu menjelang pemilihan presiden AS, pada Kamis (31 Oktober), Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik antarbenua untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, sementara AS dan Korea Selatan melakukan latihan udara bersama pada hari yang sama

ETIndonesia. Pada Kamis 31 Oktober, Korea Utara meluncurkan rudal balistik antarbenua, menunjukkan kemampuannya untuk menyerang daratan AS dengan senjata nuklir.

“Rudal ini terbang selama sekitar 86 menit dan diperkirakan jatuh sekitar 200 kilometer barat Pulau Oshima, di luar zona ekonomi eksklusif Jepang,” kata Menteri Pertahanan Jepang, Yasukazu Hamada.  

Komentator politik, Tang Jingyuan, mengatakan bahwa tujuan peluncuran rudal oleh Korea Utara adalah untuk mempertahankan diri dan berharap AS dan Korea Selatan tidak menyerang Korea Utara saat mereka mendukung Rusia.

Tang Jingyuan menambahkan, “Meskipun terlihat seperti provokasi, sebenarnya niatnya lebih kepada mempertahankan diri. Korea Utara ingin menunjukkan kekuatan melalui peluncuran rudal, memberi sinyal kepada Korea Selatan bahwa mereka juga bukan lawan yang mudah.”

Yao Cheng, mantan staf perwira di Komando Angkatan Laut Tiongkok, menjelaskan bahwa rudal antarbenua Korea Utara tidak dapat diandalkan sebelum 2022, tetapi sejak bekerja sama dengan Rusia, teknologi rudalnya telah berkembang pesat.

Dia menyatakan bahwa peluncuran rudal antarbenua secara berturut-turut oleh Tiongkok, Rusia, dan Korea Utara menjelang pemilihan AS adalah bagian dari strategi Tiongkok untuk menakut-nakuti publik AS agar tidak menghalangi agresi Tiongkok terhadap Taiwan, serta mempengaruhi hasil pemilihan tersebut.

“Tiongkok sangat memperhatikan pemilihan ini, dengan latihan bersama angkatan roket, helikopter bersenjata, dan kapal perang. Mereka sedang menunggu perubahan dalam pemilihan AS, sementara perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah terus berlanjut, sehingga AS tidak memiliki kekuatan untuk terlibat dalam konflik di Selat Taiwan, yang memungkinkan Tiongkok mengambil alih Taiwan,” kat Yao Cheng.

Pejabat AS juga mengkonfirmasi pada Kamis bahwa Tiongkok sepenuhnya mendukung industri militer Rusia dan tidak ingin perang Rusia-Ukraina segera berakhir.

Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Robert Wood, mengatakan, “Dukungan Tiongkok sangat menentukan. Dukungan Tiongkok sedang memperpanjang perang.”

Angkatan Udara AS dan Korea Selatan pada  Kamis menggelar latihan udara bersama sebagai tanggapan terhadap peluncuran rudal oleh Korea Utara. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Video Diduga Memperlihatkan Satu-satunya Tentara Korut yang Selamat Mengungkap Kebrutalan Perang Rusia-Ukraina

EtIndonesia. Amerika Serikat baru-baru ini mengonfirmasi bahwa Korea Utara telah mengirim tentara untuk mendukung Rusia. Beredar kabar bahwa para tentara Korut telah dikerahkan ke garis depan di Kursk, Rusia, namun unit pertama yang terjun dalam pertempuran dengan pasukan Ukraina “habis tak tersisa”, hanya tersisa satu orang yang selamat.

Pada 31 Oktober, video yang diduga memperlihatkan tentara Korut yang selamat ini muncul, menunjukkan dirinya dalam kondisi penuh perban di ranjang rumah sakit, mengisahkan kebrutalan di medan perang.

Menurut laporan The Korea Times, Jonas Ohman, kepala organisasi non-pemerintah asal Lituania, Blue/Yellow, yang mendukung Ukraina, mengungkapkan pada 28 Oktober bahwa pertempuran antara tentara Ukraina dan Korut pecah di wilayah Kursk, Rusia, pada 25 Oktober, dengan hampir semua tentara Korut tewas dan hanya satu yang selamat.

Sumber mengungkapkan bahwa Korea Utara telah mengirim gelombang pertama pasukan untuk mendukung Rusia ke garis depan, namun pertempuran yang dihadapi sangat sengit, hanya menyisakan satu orang yang selamat. 

Dalam video yang diunggah oleh kanal pendukung Ukraina di Telegram “ExileNova” pada 31 Oktober, tampak seorang tentara yang kepalanya dibalut perban yang penuh darah. Diduga, dia adalah satu-satunya tentara Korut yang selamat dalam Pertempuran Kursk.

Dalam video itu, tentara tersebut, dengan aksen Korea Utara, menyatakan dirinya sebagai satu-satunya yang selamat. Dia mengeluhkan militer Rusia berbohong kepada mereka, mengatakan mereka tidak akan dikirim ke garis depan, namun kenyataannya mereka dikerahkan ke perbatasan Kursk dan diperintahkan menyerang tanpa adanya pengintaian medan terlebih dahulu.

Tentara itu mengungkapkan bahwa unitnya diserang habis-habisan oleh tentara Ukraina, dengan 40 rekannya tewas. Dia selamat dengan bersembunyi di bawah tumpukan jasad rekannya. “Teman-teman seperjuanganku dijadikan umpan, semuanya gugur,” katanya dengan putus asa.

Lebih lanjut, tentara tersebut mengungkapkan bahwa tentara Ukraina dilengkapi senjata canggih, sementara senjata Rusia mengalami kerusakan parah. Malangnya, tentara Korut hanya dijadikan sebagai “umpan meriam”.

Namun, keaslian video ini belum dapat dikonfirmasi.

Jonas Ohman, dari Blue/Yellow, menyatakan bahwa tentara Korut yang selamat itu memegang dokumen identitas yang menyatakan dia sebagai warga Buryat, yang merupakan kelompok etnis Mongol di Republik Buryatia, Rusia. Sebelumnya, ada laporan bahwa Rusia mungkin menerbitkan identitas wilayah ini untuk tentara Korut, agar mereka bisa menyamar sebagai warga Rusia dalam pertempuran.

Selain itu, Ohman mengungkapkan bahwa jumlah pasukan Korut yang dikirim ke Rusia kemungkinan mencapai 88.000 orang, dengan empat pangkalan militer yang dibangun di Rusia untuk menampung mereka. Tentara ini dikirim ke zona perang menggunakan transportasi laut dan udara.

AS: Sejumlah Pasukan Korut Ditempatkan di Wilayah Kursk Rusia

Pada 29 Oktober, Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa “sejumlah kecil” pasukan Korea Utara telah ditempatkan di Kursk, Rusia, yang berbatasan dengan Ukraina. AS khawatir bahwa pasukan Korut ini kemungkinan akan dikerahkan untuk melawan pasukan Ukraina di Kyiv.

Menurut laporan AFP, ini adalah pertama kalinya AS mengonfirmasi keberadaan pasukan Korut di Kursk. Tentara Ukraina telah melancarkan serangan darat di wilayah ini sejak Agustus, menguasai ratusan kilometer persegi wilayah Rusia. Namun, menurut lembaga penelitian militer AS, Rusia saat ini telah berhasil merebut kembali setengah wilayah Kursk.

Juru bicara Pentagon, Patrick Ryder, mengonfirmasi bahwa ada tanda-tanda sejumlah kecil pasukan Korut memang telah dikerahkan di Kursk, dan ribuan lainnya diperkirakan akan tiba.

“Kami khawatir mereka benar-benar berniat mengirim pasukan ini untuk melawan tentara Ukraina, atau setidaknya mendukung operasi militer Rusia di Kursk,” kata Ryder, seraya menambahkan bahwa cara konkret penggunaan pasukan ini masih perlu dilihat lebih lanjut.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, juga menyatakan bahwa pasukan Korea Utara telah ditempatkan di wilayah Kursk.

Washington mengonfirmasi bahwa saat ini terdapat sekitar 10.000 tentara Korea Utara di Rusia. Para ahli menduga Korea Utara mungkin berharap mendapatkan imbalan berupa teknologi militer dari Rusia, seperti satelit pengintai atau kapal selam, serta jaminan keamanan dari Moskow atas bantuan mereka ini.

Baru-baru ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantah klaim bahwa tentara Korut sudah bertempur di medan perang. Menurutnya, tentara Korut saat ini masih menjalani pelatihan di Kursk. (jhn/yn)

Lebanon Membara, AS Aktif Mendorong Gencatan Senjata antara Israel dan Hizbullah

Israel sedang melancarkan perang pembelaan dengan irama mereka sendiri, sementara Amerika Serikat terus berupaya mendorong gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Perdana Menteri Israel Netanyahu mengatakan, “Hari ini Israel memiliki lebih banyak kebebasan untuk bertindak terhadap Iran dibandingkan sebelumnya.” 

ETIndonesia. Pada  Kamis 31 Oktober 2024, dalam pidato kepada para perwira baru, PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kini angkatan bersenjata Israel dapat mencapai mana pun di Iran, dan tujuan utama Angkatan Pertahanan Israel serta lembaga keamanan adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Pada 26 Oktober dini hari, Israel melancarkan serangan udara balasan tepat sasaran terhadap Iran. Setelah itu, pihak Israel menyatakan bahwa serangan tersebut telah melumpuhkan kemampuan pertahanan Iran serta kemampuan mereka untuk memproduksi rudal, termasuk melumpuhkan tiga sistem rudal S-300 yang tersisa milik Iran.

Pada hari yang sama, di selatan Lebanon, situasi semakin tegang, dengan Israel terus melakukan serangan darat dan udara terhadap kelompok radikal Hizbullah. Sementara itu, Hizbullah meluncurkan roket ke utara Israel, menyebabkan lima orang tewas di kota Metula, termasuk empat pekerja asing dan satu warga Israel.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada hari itu juga mengatakan bahwa kemajuan telah dicapai dalam pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701, yang diharapkan dapat menjadi dasar untuk penyelesaian diplomatik konflik antara Israel dan Hizbullah.

Blinken mengatakan, “(Resolusi tersebut mencakup) penarikan Hizbullah dari perbatasan, penempatan pasukan Lebanon, dasar hukum untuk tindakan tersebut, serta mekanisme pelaksanaan yang tepat.”

Sehari sebelumnya, Amerika Serikat mengajukan draf perjanjian gencatan senjata, termasuk awal genjatan senjata 60 hari antara Israel dan Hizbullah. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Bakal Terjadi Peristiwa Besar? 250 Jet Tempur Canggih F-35 Tiba di Perbatasan Rusia

EtIndonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Nordik seperti Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Denmark telah mempercepat langkah penguatan pertahanan mereka, membentuk aliansi yang dijuluki “Mini NATO.” Angkatan udara keempat negara ini tidak bisa dianggap remeh, dengan total lebih dari 250 jet tempur canggih, termasuk F-35 Lightning II, F-16 Fighting Falcon, F-18 Hornet, dan JAS-39 Gripen E, yang menunjukkan kekuatan militer mereka setara dengan negara-negara besar Eropa.

Pada Maret 2023, para pemimpin angkatan udara dari keempat negara Nordik tersebut menandatangani sebuah pernyataan bersama, yang bertujuan untuk mengintegrasikan angkatan udara mereka secara kolektif dalam beberapa tahun mendatang, memungkinkan operasi yang terkoordinasi tanpa hambatan. Pernyataan ini, yang disebut sebagai “Visi Komandan Angkatan Udara”, membawa empat manfaat besar: komando udara terpadu dan perencanaan operasi udara, pangkalan angkatan udara yang fleksibel, berbagi situasi udara, serta pendidikan dan pelatihan penerbangan publik.

Dengan pembentukan angkatan udara gabungan Nordik, sekitar 150 jet F-35 akan berpatroli di perbatasan Rusia, menantang dominasi udara Rusia di wilayah tersebut. Swedia juga berencana mengembangkan jet tempur generasi kelima Flygsystem2000 yang sulit terdeteksi radar sebagai pengganti F-35. Langkah-langkah ini memaksa militer Rusia untuk mengumpulkan intelijen dan melatih operasi menghadapi berbagai jenis jet tempur, seperti F-35, F-18, dan F-16, yang tentunya menjadi tantangan bagi mereka.

Sementara itu, kemampuan pertahanan Ukraina juga semakin diperkuat. Berdasarkan laporan terbaru, Ukraina kini mampu memproduksi sekitar 20 unit artileri swa-gerak Bohdana setiap bulan. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, juga menyebutkan bahwa dukungan finansial dari negara-negara Barat telah mempercepat perkembangan industri pertahanan dalam negeri. Selain itu, Menteri Pertahanan Norwegia, Bjørn Arild Gram, mengumumkan bersama Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov, bahwa Norwegia akan mengalokasikan dana sebesar 118,8 juta dolar AS untuk membeli persenjataan dan suku cadang F-16 bagi Ukraina.

Di sisi lain, Prancis juga telah berjanji untuk melatih dan memperlengkapi angkatan bersenjata Ukraina, yang semakin memperkuat kemampuan pertahanan negara tersebut.(jhn/yn)

Vietnam Desak Tiongkok Segera Membebaskan Nelayan yang Ditahan di Laut China Selatan

EtIndonesia. Pada Kamis (31/10), Vietnam mengajukan protes terhadap tindakan Tiongkok di Kepulauan Paracel, wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan, serta menuntut Beijing segera membebaskan semua nelayan dan kapal Vietnam yang “ditahan secara ilegal”.

Menurut laporan VnExpress, Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam, Doan Khac Viet, menyatakan dalam konferensi pers bahwa pihak berwenang Tiongkok, termasuk penjaga pantai Tiongkok, melakukan penahanan ilegal terhadap nelayan dan kapal Vietnam di perairan Kepulauan Paracel, yang melanggar hak-hak sah nelayan Vietnam.

“Vietnam dengan tegas menolak tindakan Tiongkok, mendesak Tiongkok untuk sepenuhnya menghormati hak Vietnam atas Kepulauan Paracel, membebaskan semua nelayan dan kapal Vietnam yang ditahan secara ilegal, memberikan kompensasi atas kerugian, serta menghentikan dan tidak lagi melakukan gangguan dan penahanan ilegal terhadap kapal dan nelayan Vietnam di wilayah Paracel,” kata Doan Khac Viet.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam tidak mengungkapkan jumlah nelayan dan kapal yang ditahan oleh Tiongkok, maupun kapan insiden tersebut terjadi.

Kepulauan Paracel terletak di perairan Laut China Selatan yang kaya sumber daya, yang diklaim oleh beberapa negara, termasuk Tiongkok, Vietnam, Philipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei.

Menanggapi protes pemerintah Vietnam pada Kamis, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, pada Jumat, kembali menegaskan klaim Beijing atas Kepulauan Paracel. Lin juga mendesak pihak Vietnam untuk meningkatkan edukasi dan pengawasan terhadap nelayan mereka agar tidak melakukan aktivitas ilegal di wilayah perairan yang dikendalikan Tiongkok.

Tiongkok menggunakan “garis sembilan putus” untuk mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan. Namun, sebagian wilayah tersebut tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif (ZEE) negara lain, seperti Pilipina dan Vietnam, yang telah memicu sengketa. Pada 12 Juli 2016, Pengadilan Internasional di Den Haag memutuskan bahwa klaim Tiongkok atas Laut China Selatan melalui “garis sembilan putus” tidak memiliki dasar hukum. Tiongkok sendiri menyatakan tidak mengakui putusan tersebut.

Saat ini, ketegangan antara Tiongkok dan Philipina di Laut China Selatan semakin meningkat, sementara ketegangan dengan Vietnam juga semakin sering terjadi.

Pada 29 September, pasukan Tiongkok menggunakan tongkat besi untuk memukul nelayan Vietnam yang sedang menangkap ikan di perairan Kepulauan Paracel dan merampas ikan serta peralatan senilai ribuan dolar.

Menurut laporan dari Tien Phong, surat kabar milik negara Vietnam, sepuluh nelayan Vietnam diserang oleh sekitar 40 orang selama tiga jam. Rekaman video menunjukkan para nelayan Vietnam dievakuasi dari kapal menggunakan tandu. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa satu orang mengalami patah tulang kaki, dan dua orang mengalami patah tulang lengan. Empat awak kapal lainnya dilarikan ke rumah sakit.

Pada 2 Oktober, Kementerian Luar Negeri Vietnam mengutuk serangan kekerasan oleh Tiongkok terhadap nelayan Vietnam, menyebutnya sebagai “tindakan kejam.”

Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada waktu itu menyatakan bahwa kapal nelayan Vietnam melakukan penangkapan ikan secara “ilegal” di wilayah Kepulauan Paracel tanpa izin dari Beijing, dan otoritas terkait telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghentikan aktivitas tersebut.(jhn/yn)

Rumor  Akan Balas Dendam terhadap Israel Menjelang Pemilu AS, Iran Diduga akan Melakukan Serangan dari Milisi Irak

ETIndonesia. Media Amerika Serikat mengutip dua sumber tak disebutkan dari Israel yang melaporkan bahwa berdasarkan intelijen yang diperoleh, Iran bersiap untuk menyerang Israel dari wilayah Irak dalam beberapa hari ke depan, untuk menghindari serangan lebih lanjut ke target strategis di dalam Iran. Waktu serangan ini kemungkinan akan terjadi sebelum pemilihan presiden AS pada 5 November 2024.

Situs berita AS, Axios, mengutip sumber yang mengatakan bahwa serangan ini diharapkan akan melibatkan banyak drone dan rudal balistik, diluncurkan dari Irak. Perang di Gaza telah memicu berbagai konfrontasi di Timur Tengah, dengan serangkaian serangan militer yang saling membalas antara Israel dan Iran.

Setelah Iran menembakkan lebih dari 200 rudal ke Israel pada 1 Oktober lalu, Israel melakukan serangan udara balasan pada 26 Oktober, menargetkan ibu kota Iran, Teheran, serta pabrik rudal di barat Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada 28 Oktober menyatakan bahwa Teheran akan “menggunakan segala alat yang tersedia” untuk merespons serangan udara Israel.

Menurut laporan media Iran yang dikutip AFP, Iran memperingatkan pada 31 Oktober bahwa mereka akan memberikan “jawaban yang keras” terhadap serangan Israel pada 26 Oktober.

Militer Israel melaporkan bahwa angkatan udara mereka berhasil mencegat dua drone yang mendekat dari arah timur, tetapi tidak mengungkapkan dari mana drone tersebut berasal. Dalam beberapa minggu terakhir, milisi yang dekat dengan Iran di Irak, yang dikenal sebagai “Perlawanan Islam di Irak” (Islamic Resistance in Iraq, IRI), telah mengklaim meluncurkan beberapa drone ke arah Israel. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

AS Mendesak Universitas Michigan untuk Memutus Hubungan dengan Shanghai Jiao Tong University

EtIndonesia. Pada Jumat (1/11), Ketua Komite Khusus DPR AS untuk Tiongkok, John Moolenaar, mengirim surat kepada Universitas Michigan, mendesak mereka untuk menutup pusat penelitian bersama dengan Universitas Jiao Tong Shanghai.

Kongres AS telah melakukan penyelidikan terhadap program-program kerjasama antara universitas di Tiongkok dan Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa lembaga penelitian bersama ini merupakan “saluran utama” yang digunakan oleh otoritas Tiongkok dan entitas terkait untuk mengakses teknologi dan hasil penelitian sensitif AS, yang kemudian dialihkan ke pangkalan industri pertahanan dan penelitian Tiongkok.

Dalam suratnya kepada Presiden Universitas Michigan, Santa Ono, Moolenaar menulis : “Mengingat perkembangan yang memprihatinkan ini, saya sangat mendorong Anda untuk memutuskan hubungan kerjasama antara Universitas Michigan dan Universitas Jiao Tong Shanghai, serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga integritas penelitian yang didanai federal di Universitas Michigan dan meninjau secara cermat para mahasiswa internasional di kampus.”

Pada September lalu, komite yang dipimpin oleh Moolenaar merilis laporan penyelidikan tentang kerjasama antara universitas AS dan Tiongkok, menunjukkan bahwa beberapa universitas, termasuk University of California Berkeley dan Georgia Institute of Technology, telah mulai memutuskan kerjasama penelitian dengan universitas Tiongkok.

Awal September, Georgia Institute of Technology mengumumkan akan mengakhiri program kerjasamanya dengan Universitas Tianjin. Komite tersebut menunjukkan bahwa sebuah pusat penelitian di Universitas Tianjin bekerja sama dengan sebuah perusahaan Tiongkok yang anak perusahaannya merupakan salah satu pemasok militer Tiongkok.

Dalam suratnya, Moolenaar menyatakan: “Namun, Universitas Michigan belum mengambil tindakan untuk menangani risiko keamanan nasional yang ditimbulkan oleh pusat penelitian bersama dengan universitas terkait pertahanan Tiongkok.”

Surat terbuka tersebut menyebutkan bahwa Universitas Jiao Tong Shanghai memainkan “peran kunci” dalam strategi integrasi militer-sipil Tiongkok. Berdasarkan laporan komite tahun lalu, universitas ini telah diawasi oleh Biro Teknologi Pertahanan Nasional Tiongkok sejak 2016.

Pemerintah federal mengucurkan dana besar untuk mendanai penelitian militer di Universitas Michigan. Pada tahun 2023, universitas ini menerima 77 juta dolar dari Departemen Pertahanan AS (DOD).

Pusat penelitian bersama antara Universitas Michigan dan Universitas Jiao Tong Shanghai saat ini memiliki 35 laboratorium khusus. Sejak 2021, pusat ini menyediakan kesempatan belajar dan sumber daya di berbagai bidang teknologi kritis dan baru bagi mahasiswa pascasarjana dan sarjana dari Tiongkok. Pusat ini juga menerima dana dari program 863 Tiongkok, yang bertujuan untuk mendukung pengembangan teknologi militer Tiongkok.

Surat terbuka tersebut menunjukkan bahwa para peneliti di pusat penelitian ini membantu Tiongkok dalam kemajuan teknologi pertahanan, dari pemodelan pembakaran propelan dan penelitian bahan bakar roket padat, hingga pengembangan teknologi anti-korosi untuk pesawat militer yang bekerja sama dengan peneliti dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Peneliti di Universitas Jiao Tong Shanghai juga diduga menggunakan hasil penelitian dari Universitas Michigan untuk meningkatkan teknologi pemindaian CT guna mendeteksi cacat pada peralatan militer canggih.

Moolenaar juga meminta Universitas Michigan untuk meninjau secara cermat mahasiswa internasional di universitas tersebut.

Pada awal Oktober, otoritas AS menuduh lima warga negara Tiongkok yang belajar di pusat penelitian bersama Universitas Michigan telah berbohong dan mencoba menutupi tindakan mereka yang mengambil foto di sebuah pangkalan militer terpencil di Michigan.

Moolenaar menyatakan: “Semua universitas di negara kita harus menutup lembaga penelitian bersama dengan universitas di Tiongkok dan menetapkan langkah-langkah perlindungan yang lebih ketat untuk penelitian teknologi baru. Universitas-universitas di AS harus menyadari bahwa mereka menjadi sasaran spionase dan berupaya melindungi penelitian penting yang didanai oleh pembayar pajak.” (jhn/yn)

Mantan Perwakilan Perdagangan AS: Kebijakan Tarif Trump Terbukti Paling Efektif

EtIndonesia. Robert Lighthizer, yang menjabat sebagai perwakilan perdagangan pada masa pemerintahan Trump, menerbitkan sebuah artikel yang menganalisis kesulitan dan tantangan ekonomi AS selama 30 tahun terakhir. Dia menyatakan bahwa kebijakan perdagangan luar negeri yang diterapkan oleh pemerintahan Trump adalah respons terhadap negara-negara yang merusak prinsip perdagangan bebas, terutama kebijakan tarif yang dianggap paling efektif.

Pada Jumat (1/11), surat kabar Inggris Financial Times menerbitkan kolom tulisan Lighthizer. Dalam artikelnya, dia mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah lama menghadapi tantangan dan kesulitan berupa defisit perdagangan yang besar, penurunan sektor manufaktur, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi. Penyebab utama dari kondisi ini adalah negara-negara yang menerapkan kebijakan “predator” dalam perdagangan global yang merugikan. Lighthizer tidak secara langsung menyebutkan Tiongkok dalam artikelnya.

Di bulan-bulan terakhir masa jabatannya yang pertama, Trump sempat mengusulkan pemisahan ekonomi antara AS dan Tiongkok, atau yang dikenal dengan istilah “decoupling”, yang mendapat dukungan dari Lighthizer.

Latar Belakang Kebijakan Perdagangan Luar Negeri Trump

Dalam artikelnya, Lighthizer menjelaskan bahwa dari perspektif ekonomi makro, hasilnya cukup mengejutkan. Selama 30 tahun terakhir, AS terus-menerus mengalami defisit perdagangan besar setiap tahun, menyebabkan transfer kekayaan bernilai triliunan dolar ke luar negeri demi memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Dalam artikelnya, dia mengatakan: “Selama tiga dekade terakhir, kita telah kehilangan jutaan lapangan kerja, banyak di antaranya adalah pekerjaan manufaktur dengan gaji tinggi. Selain itu, upah median kita cenderung stagnan, kecuali selama masa pemerintahan Trump yang sempat mengalami kenaikan.”

Artikel tersebut juga menyoroti kemunduran sektor manufaktur di Amerika Serikat. Dari elektronik, tekstil, hingga industri kimia, AS nyaris kehilangan dominasinya di berbagai sektor inti.

Dengan latar belakang ini, pemerintahan Trump menerapkan serangkaian kebijakan ekonomi untuk menangani kesulitan dan tantangan yang dihadapi AS, di mana perang dagang dengan Tiongkok menjadi perhatian utama, dengan dampaknya yang bahkan terasa hingga pemerintahan Biden.

Perang dagang AS-Tiongkok dimulai pada 2018, ketika Trump memberlakukan tarif hingga 25% pada produk impor dari Tiongkok senilai 350 miliar dolar, termasuk panel surya, mesin cuci, baja, dan aluminium, yang mencakup sekitar 65% dari total ekspor Tiongkok ke AS pada 2018.

Pada awal 2020, pemerintahan Trump menandatangani “Perjanjian Perdagangan Tahap Pertama” dengan Tiongkok. Berdasarkan perjanjian tersebut, AS mengurangi sebagian tarif dengan syarat Tiongkok meningkatkan pembelian produk ekspor AS, termasuk produk pertanian senilai 50 miliar dolar. Namun, volume pembelian dari Tiongkok jauh dari target yang disepakati.

Dalam kampanyenya pada 2024, Trump menyatakan bahwa jika terpilih kembali, dia akan menuntut Tiongkok untuk memenuhi perjanjian tersebut. Dia juga berjanji akan menerapkan tarif hingga 60% atau lebih terhadap produk Tiongkok, serta mengancam akan mengenakan tarif 100% pada mobil buatan Tiongkok yang diproduksi di Meksiko untuk menghindari sanksi.

Lighthizer: Tarif Bisa Mengimbangi Kebijakan Industri yang Tidak Adil dari Negara-Negara Predator

Artikel itu menyoroti bahwa dalam ekonomi global, negara-negara yang memiliki surplus perdagangan besar adalah yang proteksionis. Sementara itu, negara seperti AS, yang terus mengalami defisit perdagangan besar, adalah pihak yang dirugikan.

Lighthizer menyatakan: “Selama beberapa dekade terakhir, kita menyaksikan berbagai negara menerapkan kebijakan industri yang bertujuan bukan untuk meningkatkan standar hidup, melainkan untuk meningkatkan ekspor – demi mengumpulkan aset di luar negeri dan membangun keunggulan kompetitif di industri utama.” 

Dia menyebut kebijakan ini sebagai “beggar-thy-neighbor” atau “memiskinkan tetangga”, yang dikutuk pada awal abad ke-20.

Menghadapi kebijakan industri asing yang merugikan AS, Trump memutuskan untuk bertindak.

Lighthizer merinci tiga jenis kebijakan perdagangan luar negeri yang diterapkan selama pemerintahan Trump: Pertama, AS dapat menerapkan sistem sertifikat impor dan ekspor; kedua, AS dapat memberlakukan biaya akses modal untuk investasi yang masuk, yang berarti pembelian aset AS akan menjadi lebih mahal; dan terakhir, AS dapat mengimbangi kebijakan industri yang tidak adil dari negara-negara predator melalui tarif.

Mantan perwakilan perdagangan ini mengatakan bahwa dari pengalaman pada periode pertama Trump, metode terakhir terbukti efektif. Selama masa jabatan Trump, sektor manufaktur AS mengalami pertumbuhan, volume impor menurun sebelum pandemi COVID-19, dan kenaikan upah riil pekerja mencatat rekor tertinggi, tanpa terjadi inflasi seperti yang dikhawatirkan oleh para kritikus.(jhn/yn)

‘Steve Irwin dari Afrika Selatan’ Graham ‘Dingo’ Dinkelman Meninggal pada Usia 44 Tahun Akibat Gigitan Ular Berbisa

EtIndonesia. Seorang pelestari alam dan YouTuber populer yang biasa disebut sebagai “Steve Irwin dari Afrika Selatan”, Graham “Dingo” Dinkelman, meninggal pada usia 44 tahun pada hari Sabtu (27/10) akibat gigitan ular berbisa.

Dinkelman, seorang suami dan ayah dari tiga anak, meninggal sekitar satu bulan setelah dia mengalami koma yang diinduksi secara medis setelah mengalami syok anafilaksis akibat gigitan tersebut, sang istri mengumumkan di media sosial.

Penyayang reptil tersebut digigit oleh mamba hijau Timur, demikian dilaporkan media tersebut.

Dalam video YouTube-nya, Dinkelman berhadapan langsung dengan ular berbisa. Dia juga dikenal suka mengejek buaya yang menggeram dan menunjukkan sisi lemahnya saat merawat jerapah peliharaan keluarganya.

Hingga Kamis, saluran YouTube-nya memiliki lebih dari 111.000 pelanggan dan dia memiliki lebih dari 646.000 pengikut di Instagram.

Dalam salah satu video pertamanya yang diunggah di YouTube, Dinkelman memegang ular mamba hitam yang sangat berbisa.

Dalam satu unggahan sesaat sebelum gigitan fatal, Dinkelman memperlihatkan putranya, Rex, memegang ular hijau — mencengkeram kepalanya dengan tangan kosong.

Lima hari kemudian, sebuah catatan dari istrinya, Kirsty, diunggah di laman Instagram, memberi tahu penggemar bahwa suaminya digigit ular dan dirawat di ICU dalam kondisi koma yang diinduksi secara medis.

Setelah satu bulan koma, Dinkelman meninggal dunia dan istrinya yang berduka mengunggah kenangannya di Instagram.

“Meskipun Dingo terkenal karena keterlibatannya dengan ular dan reptil lainnya, rasa belas kasihnya juga meluas ke semua makhluk,” tulisnya dalam unggahan Instagram.

“Ada tempat khusus di hatinya untuk mamalia Afrika, favoritnya adalah gajah, badak, dan singa, serta jerapah kita, Elliot. Namun, cintanya kepada keluarganyalah yang selalu menjadi tujuan, dorongan, dan gairahnya,” demikian bunyi pernyataan tersebut, disertai foto Dinkelman yang sedang menyuapi Elliot dari tangannya.

Dinkelman lahir di Pietermaritzburg, Afrika Selatan, dan merupakan pemilik sekaligus pengelola Dingo’s Farm and Reptile Park.

Beranda situs web Dinkelman memperlihatkan pria liar itu berpose dengan ular hijau yang tampak seperti mamba hijau.

Dinkelman meninggalkan istrinya Kirsty dan anak-anak mereka Taylor, 14 tahun; Maddy, 12 tahun; dan Rex, 9 tahun. (yn)

Sumber: nypost