Seorang Pria Melempar Bom Molotov ke Markas Partai Demokratik Liberal Jepang, Lalu Menabrakkan Mobilnya ke Kediaman Resmi Perdana Menteri

Pada 19 Oktober 2024, seorang pria berusia 49 tahun melempar beberapa bom molotov ke pintu depan markas besar partai yang berkuasa, Partai Demokratik Liberal, di pusat Tokyo. Kemudian, dia mengendarai mobil ke arah barikade di luar kediaman resmi perdana menteri dan berencana untuk melempar bom molotov lagi ketika dia ditangkap oleh polisi di tempat kejadian. Beruntung, tidak ada yang terluka dalam insiden ini

Menurut laporan dari NHK dan media Jepang lainnya, insiden terjadi sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat. Pria tersebut melemparkan sekitar 5 bom molotov ke arah markas besar Partai Demokratik Liberal yang terletak di Nagatacho, Chiyoda-ku, Tokyo, salah satunya mengenai mobil polisi yang sedang parkir di dekatnya, menyebabkan kebakaran, tetapi api segera berhasil dipadamkan.

Setelah itu, pria tersebut mengemudi sekitar 500 meter ke depan pagar di kediaman resmi perdana menteri dan berencana melemparkan benda yang mirip dengan bom asap sebelum ditangkap oleh polisi.

Polisi menangkapnya atas dugaan mengganggu pekerjaan publik dan sedang menyelidiki motif tindakannya.

Pihak berwenang mengatakan bahwa pria yang ditangkap adalah Atsunobu Usuda, 49 tahun, yang tinggal di Kota Kawaguchi, Prefektur Saitama. Di dalam mobil van yang dikemudikannya terdapat sekitar 10 jeriken plastik berisi bahan bakar dan beberapa bom molotov yang diduga belum digunakan.

Menurut sumber, setelah ditangkap, Atsunobu Usuda tetap diam selama penyelidikan.

Seorang wanita berusia 60-an yang tinggal di dekat markas besar Partai Demokratik Liberal mengatakan bahwa dia mendengar suara keras pada pagi hari dan melihat mobil pemadam kebakaran bergegas datang. Dia merasa terkejut bahwa ada seseorang yang melempar bom molotov ke markas partai.

Sekretaris Jenderal Partai Demokratik Liberal, Hiroshi Moriyama, menyatakan bahwa motif pelaku belum diketahui, tetapi tidak boleh ada upaya untuk menekan kebebasan berpendapat dengan kekerasan. Dia menekankan bahwa partainya tidak akan tunduk pada kekerasan dan akan melanjutkan kampanye pemilu sebagaimana dijadwalkan.

Saat ini, Jepang sedang berada dalam masa kampanye pemilihan umum Majelis Rendah yang sangat sensitif. Majelis Rendah Jepang dibubarkan pada 9 Oktober, dan pengumuman pemilu diadakan pada 15 Oktober. Pemungutan suara akan dilakukan pada 27 Oktober.

Perdana Menteri Shigeru Ishiba, dalam pidatonya di Prefektur Kagoshima hari ini, menyatakan bahwa demi menjaga keamanan dan mencegah kekerasan mengganggu pemilu serta demokrasi, keselamatan masyarakat adalah prioritas utama dan upaya penuh akan dilakukan kedepannya. (Hui)

Setelah Kematian Yahya Sinwar, AS dan Eropa Mencari Jalan perdamaian Timur Tengah

Pemimpin tertinggi Hamas, Yahya Sinwar, baru-baru ini tewas ditembak oleh militer Israel, sehingga situasi di Timur Tengah menjadi sorotan. Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada  Jumat (18/10/2024) menyatakan bahwa ia telah berdiskusi dengan sekutu-sekutunya di Eropa mengenai jalan menuju perdamaian di Timur Tengah

oleh Zhao Fenghua dan Tian Yuan

Pada Jumat, saat kunjungan ke Berlin, Presiden AS Joe Biden menyampaikan bahwa AS, Inggris, Jerman, dan Prancis dalam pertemuan empat pihak membahas tentang masa depan perdamaian di Timur Tengah.

“Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk mencari jalan perdamaian bagi (Timur Tengah). Tanpa Hamas, masa depan Gaza akan lebih baik,” katanya.

Kanselir Jerman Olaf Scholz: “Kami berharap kematian Sinwar dapat membuka kemungkinan gencatan senjata di Gaza dan tercapainya kesepakatan untuk pembebasan para sandera yang ditahan oleh Hamas.”

Kunjungan “kilat” Biden ke Jerman kali ini juga merupakan kunjungan terakhirnya ke Eropa selama masa jabatannya.

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier memberikan penghargaan tertinggi kepada Biden atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan kerja sama trans-Atlantik antara Eropa dan Amerika Serikat.

Sebelum naik pesawat untuk kembali ke AS, Biden menyebutkan bahwa negosiasi gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon mungkin akan lebih mudah dicapai dibandingkan dengan Hamas.

Biden: “Kami berpikir bahwa ada kemungkinan untuk mencapai gencatan senjata di Lebanon. Namun, di Gaza lebih sulit. Tetapi kami sepakat bahwa harus ada hasil yang dicapai.”

Gedung Putih memantau dengan cermat siapa yang akan menggantikan Sinwar dan bagaimana posisi Hamas dalam negosiasi gencatan senjata selanjutnya.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby: “Tidak diragukan lagi, Israel telah sepenuhnya menghilangkan ancaman langsung yang ditimbulkan oleh Hamas dari sudut pandang militer.”

Wakil Kepala Hamas sekaligus ketua negosiator Khalil Al-Hayya pada Jumat mengonfirmasi kematian Sinwar. Ia juga menyatakan  masih menahan sekitar 100 sandera dan menyampaikan pernyataan keras.

Khalil Al-Hayya: “Para tahanan (warga Israel) itu tidak akan kembali kepada kalian kecuali agresi terhadap rakyat Gaza dihentikan dan kalian sepenuhnya mundur dari Gaza.”

Yahya Sinwar adalah dalang di balik serangan terhadap Israel pada 7 Oktober, dan ia tewas pada Rabu dalam operasi militer Israel di Gaza. (Hui)

Taman Akuarium di Tiongkok Picu Kontroversi dengan Hiu Paus Robot Seukuran Asli

EtIndonesia. Sebuah akuarium di Tiongkok menuai banyak kritik karena mengganti hiu paus asli dengan versi robot seukuran asli yang meniru tampilan dan gerakan hewan laut tersebut.

Pada tanggal 1 Oktober, Xiaomeisha Sea World di Shenzhen, Tiongkok, membuka kembali gerbangnya untuk pengunjung setelah lima tahun vakum karena renovasi. Taman laut seluas 60.000 meter persegi itu berhasil menarik sekitar 100.000 pengunjung yang membayar pada minggu pertamanya, tetapi kesuksesan finansial itu dibayangi oleh kontroversi seputar salah satu atraksi baru, hiu paus robot.

Menurut beberapa sumber berita Tiongkok, banyak pengunjung kecewa melihat hiu paus yang berenang di akuarium besar di sekitar mereka adalah buatan manusia, dan bukan yang asli, terutama karena Xiaomeisha Sea World tidak berusaha memberi tahu mereka sebelumnya bahwa tidak ada hiu asli di sana.

“Tempatnya tidak cukup besar dan bahkan hiu pausnya buatan,” keluh seorang pengunjung di media sosial. “Pada pukul 3 sore, orang-orang meminta pengembalian uang.”

Menyusul kontroversi yang berkembang seputar pameran terbarunya, Xiaomeisha Sea World mencoba menjernihkan masalah dengan menjelaskan bahwa mereka telah menginvestasikan jutaan yuan pada hiu paus robotik sebagai cara untuk menghindari undang-undang perlindungan hewan Tiongkok yang melarang perdagangan hiu paus sebagai cara untuk mengekang pemotongan sirip hiu. Siaran pers juga menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak pernah bermaksud untuk menipu pengunjung, tetapi justru menawarkan alternatif yang berteknologi canggih.

Penjelasan resmi akuarium tidak banyak membantu meredakan tekanan, karena banyak pengunjung menunjukkan bahwa masalahnya bukanlah undang-undang yang melarang perdagangan hiu paus dalam bentuk apa pun, tetapi praktik pemasaran yang menipu. Xiaomeisha Sea World dapat saja memberi tahu pengunjung bahwa mereka tidak dapat lagi memajang hiu paus asli alih-alih menggantinya dengan robot.

“Demi tujuan melindungi hewan, akan lebih baik bagi mereka untuk tidak memilikinya daripada memajang yang palsu,” tulis seseorang di Weibo.

Meskipun tidak jelas siapa yang mengembangkan hiu mekanik tersebut, hiu ini diyakini merupakan hasil ciptaan perusahaan Shanyang yang sama yang mengumumkan produksi hiu paus robotik pertama di dunia pada bulan Agustus. Panjangnya 5 meter, beratnya 350 kilogram, dan dapat berenang, mengapung, menyelam, dan membuka mulutnya seperti hiu sungguhan. (yn)

Sumber: odditycentral

Hasil Otopsi Israel :  Yahya Sinwar Tewas Tertembak di Kepala,  Netanyahu Berjanji Melanjutkan Operasi Militer

New Tang Dynasty TV

Pemimpin kelompok bersenjata Palestina, Hamas, Yahya Sinwar, tewas tertembak di kepala pada 16 Oktober 2024 dalam sebuah operasi rutin oleh Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada 17 Oktober berjanji untuk terus melanjutkan operasi militer di Jalur Gaza dan Lebanon.

Berdasarkan laporan dari AFP yang dikutip oleh Central News Agency, pasukan Israel menyebutkan bahwa dalam patroli di kota Rafah, Brigade 828 bertemu dengan tiga militan bersenjata Palestina. Tidak ada informasi sebelumnya yang menunjukkan keberadaan Sinwar di daerah tersebut.

Pasukan Israel kemudian menyerang dua gedung tempat dua orang bersenjata bersembunyi dan satu gedung lain tempat Sinwar berlindung dengan tembakan tank.

Video yang dirilis oleh militer Israel menunjukkan Sinwar duduk di kursi berlengan yang ditutupi debu, tampak memandang sebuah drone yang memasuki rumah yang hancur. 

Video yang agak buram menunjukkan bahwa ia sendirian dengan luka parah di lengan dan mengenakan penutup kepala tradisional. Menjelang kematiannya, Sinwar sempat melemparkan tongkat ke arah drone yang mendekat.

Identitas Sinwar dipastikan melalui pengujian DNA, pemeriksaan gigi, dan penyelidikan forensik lainnya.

Dr. Chen Kugel, yang mengawasi proses otopsi, menyatakan bahwa luka tembak menjadi penyebab kematian Sinwar.

Kugel juga menyebutkan bahwa awalnya lengan Sinwar terluka oleh pecahan peluru, yang kemungkinan berasal dari rudal atau tembakan tank. Dia mencoba menghentikan pendarahan dengan membalut lengan menggunakan kabel, tetapi karena kabelnya tidak cukup kuat, lengan bawahnya hancur.

Sejak serangan terhadap Israel yang direncanakan oleh Sinwar pada 7 Oktober tahun lalu, ia tidak pernah muncul di depan umum. Kematian Sinwar menjadi pukulan besar bagi Hamas, yang telah berperang melawan militer Israel di Jalur Gaza selama lebih dari setahun.

Netanyahu Berjanji Melanjutkan Operasi Militer

Setelah kematian Sinwar, beberapa pihak mengira bahwa perang antara Israel dan Hamas akan beralih ke perundingan damai, namun Perdana Menteri Netanyahu pada 17 Oktober menyatakan akan tetap melanjutkan operasi militer di Gaza dan Lebanon.

Netanyahu mengatakan kepada rakyat Israel, “Perang ini belum berakhir.” Dia juga menegaskan bahwa perang akan terus berlanjut hingga para sandera yang ditahan oleh Hamas dibebaskan.

Dia menambahkan, “Kita memiliki kesempatan untuk menghancurkan poros kejahatan dan menciptakan masa depan yang berbeda.” Netanyahu merujuk pada Iran dan kelompok sekutunya yang berbasis di Gaza, Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. (hui)

Disinyalir Terjadi Kudeta Gegara Ada Gerak-Gerik Tak Lazim di Militer Tiongkok

Forum Elite

Hal yang menarik perhatian dan menimbulkan banyak interpretasi politik dari berbagai kalangan adalah soal resepsi peringatan 75 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang memperlihatkan kedua orang mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) yakni Wen Jiabao dan Li Ruihuan yang penempatan duduknya sengaja diatur di sisi kanan dan kiri Sekjen PKT Xi Jinping. 

Baru-baru ini, juga santer diberitakan di Internet bahwa dua rekan dekat Xi Jinping di militer yang berpangkat jenderal, yakni Qin Shengxiang dan Qin Shutong, telah dilengserkan dari jabatan mereka di militer. Hal mana menunjukkan bahwa ada beberapa gerakan tak lazim dalam tubuh pusat kekuasaan Tiongkok yang terjadi secara diam-diam.

Apakah Hak Pengendalian atas militer Xi Jinping terancam karena pencopotan kroninya di militer?

Produser TV independen Li Jun mengatakan, bahwa jika berita pencopotan Qin Shengxiang dan Qin Shutong itu benar, maka ini bisa dikatakan sebagai berita berat, membuktikan bahwa Xi Jinping sedang menghadapi tantangan serius di militer, atau mungkin ia telah kehilangan haknya untuk mengendalikan militer Tiongkok.

Li Jun mengatakan bahwa Jenderal Qin Shengxiang adalah mantan direktur Kantor Umum Komite Tetap Pusat. Kabarnya, dia dibawa pergi oleh pihak berwenang pada 6 Oktober. Qin Shengxiang pernah menjadi komisaris politik Angkatan Darat ke-38, yang juga merupakan kelompok tentara sandaran Xi Jinping. 

Segera setelah Kongres Nasional ke-18, Xi langsung mempromosikan Qin Shengxiang menjadi direktur Kantor Umum Komisi Militer dan direktur Kantor Reformasi Militer. Bagi Xi Jinping, reformasi militer adalah hal terpenting baginya dalam upaya untuk mengendalikan militer. Qin Shengxiang bertanggung jawab terhadap Xi Jinping terhadap tugas-tugas khusus reformasi militer.

Begitu pula Jenderal Qin Shutong yang pernah menjadi direktur departemen politik Angkatan Darat ke-31 Fujian. Angkatan ini tidak bedanya dengan tentaranya keluarga Xi Jinping. Qin Shutong kemudian dipromosi menjadi komisaris politik tentara. 

Mantan Letnan Kolonel Angkatan Laut Yao Cheng yang kini tinggal di AS mengatakan, bahwa Qin Shutong adalah rekan dekat orang kepercayaan Xi Jinping, yaitu Miao Hua yang menjadi anggota Komisi Militer Pusat, jadi hanya Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat saja orang yang dapat menggoyahkan kedudukannya kalau mau.

Singkatnya, kroni-kroni Xi Jinping di militer dalam 1 atau 2 bulan terakhir ini menjadi “tidak berkutik”. Penulis berpikir setelah Xi Jinping menangkap Li Shangfu, wibawanya di militer telah menurun tajam. Kecil kemungkinan Xi akan memanfaatkan tentara jalur langsungnya sekarang. Karena hal itu dapat semakin menurunkan wibawanya, jadi saya menduga bahwa pasti ada gerak-gerik tidak lazim yang sedang terjadi.

Belakangan ini, juga ada beberapa mutasi pejabat lain yang tampak tidak biasa. Pertama, terhadap Chen Guoqiang yang menjabat sebagai wakil sekretaris Komisi Militer Pusat untuk Inspeksi Disiplin, tiba-tiba pada 28 September tahun ini ia dipindahkan dari Komisi Militer Pusat untuk Inspeksi Disiplin ke Kantor Komisaris Politik di Universitas Nasional Teknologi Pertahanan. Chen Guoqiang adalah anggota inti tim pemberantas korupsi di militer. 

Kabarnya ia adalah orang yang membuat kasus korupsi Li Shangfu, Wei Fenghe, dan Li Yuchao terungkap di depan Xi Jinping, Jadi, ia tampaknya telah diperankan sebagai “tukang pukul” oleh Xi Jinping. Komisi Militer untuk Inspeksi Disiplin adalah departemen dengan kekuasaan nyata yang mutlak, dan komisaris politik Universitas Pertahanan Nasional adalah tempat pensiun bagi para pejabat militer. Dengan demikian kelihatannya mutasi atau rotasi itu bukan merupakan inisiatif Xi Jinping.

 Beberapa analis berpendapat bahwa pemindahan itu mungkin adalah inisiatif Zhang Youxia. Bagaimanapun Li Shangfu adalah orang yang dipromosikan oleh Zhang, jadi tindakan Zhang sekarang ini merupakan “balas memukul setelah dipukul”. Karena lazim berlaku di kalangan militer Tiongkok “tidak memukul jika tidak mau dipukul”.

Li Jun mengatakan bahwa Jing Junhai, orang yang berjasa untuk memperjuangkan perluasan pemakaman ayah Xi Jinping, Xi Zhongxun, di Shaanxi, juga seorang mantan Sekretaris Komite Partai Provinsi Jilin, pada 13 September tahun ini tiba-tiba diangkat sebagai wakil direktur Pendidikan, Sains, Kebudayaan dan Kesehatan Kongres Rakyat Nasional. 

Jing Junhai selalu dianggap sebagai orang kepercayaannya Xi Jinping. Awalnya, semua orang mengira dia akan dipromosikan masuk Politbiro, tapi sekarang dia tiba-tiba digeser dari garis depan, yang sepertinya bukan keinginan Xi Jinping. Oleh karena itu, perubahan kroni Xi Jinping membuat orang mempertanyakan apakah situasi politik PKT telah berubah akhir-akhir ini.

Para Sesepuh Partai Mendukung Pidato Xi Jinping yang Mengandung Konotasi Politik yang Mendalam 

Kolumnis Epoch Times Wang He mengatakan bahwa pada resepsi perayaan 75 tahun berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober tahun ini, mendudukkan Li Ruihuan dan Wen Jiabao di kedua sisi Xi Jinping memiliki arti yang mendalam. 

Dulu, semua orang mengira Wen Jiabao adalah seorang reformis. Wen Jiabao meluncurkan 4 triliun yuan selama perekonomian Tiongkok menghadapi krisis keuangan pada tahun 2008. Dan banyak orang menantikan apakah pihak berwenang sekarang akan mengeluarkan 4 triliun yuan lagi untuk melakukan sesuatu yang lebih besar karena perekonomiannya yang lesu? Dalam situasi seperti ini, sengaja menampilkan Wen Jiabao tentu memiliki arti yang sugestif. 

Selain itu, dunia luar memperhatikan bahwa Xi Jinping mengatakan sesuatu yang belum pernah ia ucapkan sebelumnya. Ia mengatakan, melalui kesempatan ini dirinya merasa sangat perlu untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada para pemimpin generasi tua dan sesepuh partai. Kalimat ini baru 1 kali ia ucapkan ketika menyambut HUT ke-65 tahun berdirinya RRT tahun 2014. Apakah kalimat ini diucapkan atau tidak memiliki arti yang dalam. Pasalnya, tahun 2014 merupakan masa pergulatan hidup dan mati antara Xi Jinping dan faksi Jiang Zemin.

 Tahun itu, mantan anggota Komite Tetap Politbiro Zhou Yongkang diberhentikan. Ketika Xi Jinping berkuasa pada tahun 2012, pertikaian antara berbagai faksi berlangsung sengit, dan Xi tidak yakin bisa meraih kemenangan yang menentukan. Lalu bagaimana Xi dapat secara aman melewati bahaya yang mengancam? Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memanfaatkan kekuasaan para sesepuh PKT. 

Jadi, saat dia mengucapkan kata-kata itu dalam pidato I Oktober 2014, yang dia maksudkan adalah berterima kasih kepada mereka yang sudah mendukungnya.

Adapun situasi yang dihadapi Xi Jinping saat ini jauh lebih rumit dari sebelumnya, sekarang Xi sudah sangat pasif. 

Pada tahun 2014, semua orang masih menaruh harapan kepadanya, merasa bahwa orang tersebut telah membawa situasi baru dan memiliki keberanian. Namun setelah 10 tahun, semua orang menyadari bahwa Xi ternyata lebih memilih untuk menempuh kembali jalan komunisme. 

Saat ini, Xi Jinping berada dalam periode tersulit dan menyebabkan perekonomian Tiongkok dalam kondisi amburadul. Sekarang meskipun para sesepuh partai berada di belakang, tetapi Xi Jinping tidak mungkin lagi bisa mengandalkan dukungan mereka seperti yang dilakukan di masa lalu. Oleh karena itu, Xi hanya bisa berupaya untuk menarik kedekatan hati mereka.

Wang He mengatakan bahwa ada 500 keluarga PKT yang telah memonopoli aset politik Tiongkok. Meskipun para sesepuh ini telah tersingkir dari panggung politik, tetapi mereka masih mempunyai potensi pengaruh. Mereka adalah bagian dari kelompok ini. Jika kelompok ini dihancurkan, maka mereka juga akan merasakan kehilangan tempat berlindung. 

Dalam keadaan ini, Xi Jinping jadi menghadapi tekanan dari para sesepuh partai yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan ia harus menjaga agar para sesepuh ini tidak bergejolak. 

Oleh karena itu, dalam pidato Hari Nasional tahun ini, ucapan penghormatan atau terima kasih Xi kepada para pemimpin generasi tua dan sesepuh partai sesungguhnya memiliki implikasi politik yang sangat spesifik dan realistis.

PKT telah memasuki tahap perubahan mendadak karena sedang menghadapi krisis ganda

Guo Jun, pemimpin redaksi The Epoch Times mengatakan bahwa kebijakan Xi Jinping banyak mengalami perubahan selama sekitar setahun terakhir. Putar balik sering kali dikaitkan dengan mengambil jalan sendiri dan menolak mendengarkan saran pendapat orang lain. 

Jika seseorang menemui jalan buntu dan diberitahu bahwa tidak ada jalan keluar, tetapi dia menolak untuk mendengarkan dan bersikeras untuk melanjutkan, pada akhirnya ia pasti akan berbelok kalau tidak ingin menabrak tembok. 

Dalam 10 tahun terakhir, Partai Komunis Tiongkok sering mengkritik pejabat di berbagai tingkat karena membahas dan mengkritik prinsip dan kebijakan partai tanpa mengikuti prosedur dan jalur hukum. Sedangkan jebakan terbesar yang dilakukan Li Zhanshu buat Xi Jinping ialah memandang satu orang sebagai otoritas tertinggi, Ini semua berarti bahwa keputusan-keputusan penting bisa saja salah sehingga menimbulkan masalah. 

Beberapa jalan memang tidak mungkin bisa dilalui, tetapi penguasa baru mau berbalik arah setelah menabrak tembok. Seperti kebijakan nol-kasus COVID-19, kebijakan untuk menekan industri real estate, kebijakan untuk menekan perusahaan swasta, dan diplomasi Serigala Perang, terus dijalankan karena mereka tidak mau mengakui kesalahannya. 

Biasanya kesalahan lain digunakan untuk menutupi kesalahan sebelumnya, yang pada akhirnya hanya membuat masalah semakin banyak dan rumit hingga tidak mungkin bisa diperbaiki. Dalam sistem otoriter ini, terutama dalam sistem kediktatoran pribadi yang otoriter, banyak masalah yang sering kali berkembang hingga tidak mungkin lagi bisa diatasi.

Ciri lain dari sistem ini adalah semua instruksi akan semakin besar tekanannya terhadap tingkat bawahan. Oleh karena itu, instruksi yang datang dari atas secara otomatis akan ditingkatkan intensitasnya, sehingga kebijakan pelaksanaannya menjadi ekstrem. 

Seperti halnya dalam pelaksanaan mengenai pembersihan industri bimbingan belajar, atau melarang investasi spekulatif di perumahan dalam 2 tahun terakhir, juga sejumlah kebijakan pengendalian politik semuanya ditetapkan secara ekstrem gegara sistem tersebut. 

Sistem otokratis sangat mirip dengan sistem operasi dengan toleransi kesalahan yang rendah dan sensitivitas yang berlebihan. Sistem ini mudah membuat pelaksana untuk bertindak ekstrem. Namun karena ia tidak memiliki mekanisme penyesuaian diri jadi system tersebut mudah mencapai kerusakan total. 

Begitu sistem tidak mungkin bisa dilanjutkan, maka kekuasaan tertinggi terpaksa turun tangan untuk mendistribusikan kembali tugas-tugas yang perlu dilakukan. Ini adalah warisan Mao Zedong yang masih tetap dipertahankan hingga saat ini.

Guo Jun mengatakan bahwa berdasarkan analisis fenomena saat ini, ada satu hal yang jelas, yaitu semua kebijakan Xi Jinping di masa lalu sedang mengalami perubahan, yang setidaknya menunjukkan bahwa sebagian dari kebijakan tersebut telah terdesentralisasi. 

Dalam pidatonya di hadapan para sesepuh partai pada acara resepsi Hari Nasional, Xi Jinping mengemukakan apa yang disebut empat keharusan, yang intinya adalah memperkuat kepemimpinan yang terpusat dan terpadu. 

Padahal prinsip yang dianut Partai Komunis Tiongkok adalah sentralisme demokratis, bukan kepemimpinan terpusat dan terpadu. Sentralisme demokrasi terdiri dari dua bagian. Tahap pengambilan keputusan adalah demokrasi, yang memerlukan saran dan pendapat dari para birokrat di semua tingkatan. 

Begitu keputusan diambil maka tahap pelaksanaannya harus bersifat komando terpusat, sehingga disebut sentralisme demokratis. Yang diusulkan Xi Jinping adalah kepemimpinan terpusat dan terpadu yang memperkuat kewenangan pemerintah pusat. Artinya, baik tahap pengambilan keputusan maupun tahap pelaksanaannya diputuskan oleh sekelompok kecil orang atau satu orang. Hal ini telah menyebabkan reaksi keras di dalam Partai Komunis Tiongkok. 

Masalahnya sekarang adalah Partai Komunis Tiongkok sedang menghadapi kesulitan internal dan eksternal, terutama tekanan  perekonomian. Pendapatan pemerintah di semua tingkatan terus menurun, yang pada akhirnya pemasukan negara hanya tinggal mengandalkan berbagai pendapatan bukan pajak. Padahal penerimaan dari non-pajak tidak dapat berlangsung lama, tidak mungkin bisa berkelanjutan. Para birokrat di semua tingkat kini telah memahami hal tersebut, sehingga tekanan terhadap sistem secara keseluruhan menjadi sangat besar, hal ini membuat inti pengambilan keputusan di Beijing terpaksa melakukan kompromi. 

Sistem PKT menentukan bahwa para sesepuh partai dapat berperan sebagai juru bicara bagi oposisi di internal partai. Oleh karena itu, dalam Sidang Paripurna Ketiga Komite Sentral dan kemudian di Beidaihe, para sesepuh ini sebenarnya menjadi kekuatan utama dalam desentralisasi kekuasaan. Saya pikir situasi di militer juga sama seriusnya. 

Kunjungan Penasihat Keamanan Gedung Putih Jake Sullivan ke Beijing dan bertemu dengan Zhang Youxia, menunjukkan bahwa pengaruh Xi dalam sistem militer mulai menurun. Saat ini PKT sedang menghadapi terlalu banyak masalah serius. Meskipun para sesepuh kini mendapatkan kekuasaan, tampaknya mereka juga tidak mampu berbuat banyak dalam situasi seperti ini.

Wang He mengatakan bahwa Tiongkok kini telah memasuki tahap di mana perubahan mendadak sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu. Partai Komunis Tiongkok terjebak dalam krisis ganda. Krisis pertama adalah krisis kepemimpinan yang dilakukan oleh Xi Jinping, krisis kedua adalah krisis pemerintahan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok sendiri. 

Di masa lalu, pemimpin lain dapat terus memerintah, tetapi sekarang masalahnya adalah ketika Xi Jinping jatuh maka seluruh partai akan ikut runtuh. Oleh karena itu, dalam situasi saat ini, PKT terpaksa harus mendukung Xi Jinping, meskipun di internal, PKT sudah melakukan beberapa penyesuaian, tidak hanya pada beberapa kebijakan militer dan ekonomi, tetapi juga pada beberapa pengaturan personel politik. Namun hal itu tidak terlihat oleh kita karena ditutup-tutupi oleh PKT sehingga di permukaan yang kita lihat adalah situasinya bagus.

Shi Shan, editor senior dan kepala penulis The Epoch Times, mengatakan, menurut perkiraan dirinya bahwa kompromi kekuasaan PKT dapat tercermin dengan baik dari 500 keluarga PKT yang telah memonopoli aset politik Tiongkok itu. Kita dapat memperhatikan dengan cermat keluarga-keluarga besar ini, situasi mereka, dan tren mereka. Karena semua pemahaman dan kompromi bisa saja dicapai di antara kelompok orang di kelas ini secara diam-diam. Tentu saja, para sesepuh politik itu juga termasuk dalam barisan ini. (Sin)

Sesuatu yang Besar Terjadi di Kremlin Hingga Tentara Ukraina Meretas Jaringan TV Rusia

Jin Ran

Fokus hari ini: Sesuatu yang besar terjadi pada Putin? ! Tentara Ukraina meretas semua jaringan televisi nasional Rusia; serangan udara Israel terus memenggal puluhan ribu tentara Hizbullah dalam penyisiran darat; Rusia terkejut melihat tim pasukan khusus Hizbullah dan tentara Ukraina melakukan “Saving Private Ryan.”

Serangan Udara Israel Terus Menyerang Hizbullah, Puluhan Ribu Tentara Dikerahkan Pembersihan Darat 

Pada  8 Oktober, Hizbullah  sekali lagi menembakkan sekitar 100 roket ke kota Haifa dan Acre di Israel utara. Sekelompok roket segera muncul di atas kota Haifa. Sebuah video menunjukkan bahwa orang Israel tampaknya sudah terbiasa dengan hal ini dan terdengar tenang. Sedangkan rudal anti-pesawat Iron Dome Israel mulai terbang melintasi langit untuk mencegat, pemandangan itu bahkan lebih mengejutkan.

Tampaknya Hizbullah mengadopsi taktik serangan jenuh dengan meluncurkan ratusan roket secara bersamaan. Meskipun rudal Iron Dome memiliki kinerja perlindungan yang sangat baik, namun tetap ada ikan yang lolos dari jaring, warga setempat memflmkan pemandangan roket meledak ketika jatuh ke tanah, belum diketahui apakah ada korban jiwa.

Sejak serangan Hamas terhadap Israel setahun yang lalu, sebagian besar yang Anda lihat dan dengar dalam setahun terakhir adalah bagaimana tentara Israel menyerang dari semua sisi, menyerang dan menyapu bersih di Gaza dan sekarang di Lebanon. 

Faktanya, situasi di Israel tidak pernah berhenti dalam setahun terakhir, marilah kita lihat ada berapa banyak roket dan rudal yang menyerang Israel dari semua arah. Hamas di Gaza menembakkan total 13.200 roket dan rudal.  Hizbullah di Lebanon menembakkan 12.400 roket dan rudal ke Israel, yang sebanding dengan Hamas. 

Iran juga menembakkan 400 rudal ke Israel ; 180 rudal lainnya datang dari Houthi di Yaman ; Masih ada 60 rudal  dari Suriah. Jika dihitung-hitung, ada lebih dari 26.000 rudal dan roket dari berbagai jenis yang diarahkan ke Israel tahun ini, rata-rata lebih dari 70 bom muncul di atas kepala warga Israel setiap hari.

Sejujurnya, Israel benar-benar tahan pukul, jika negara lain mana pun di wilayah kecil itu pasti sudah hancur sejak lama. Meskipun Israel dikepung dari semua sisi, mereka masih bisa mengambil inisiatif, menyerang ke segala arah. Anda mungkin melawan Israel, tetapi Anda harus mengakui kekuatannya yang kuat.

Dilihat dari jumlah roket dan rudal yang diluncurkan, tidak mengherankan jika setelah Israel mengalahkan Hamas di Gaza, Israel berbalik dan menyelesaikan masalah dengan Hizbullah di Lebanon. 

Kabar terkini, pada  7 Oktober, Israel mengirimkan Divisi 146 tambahan ke Lebanon untuk berperang melawan Hizbullah. Ini merupakan divisi keempat yang dikirim oleh tentara Israel. Jumlah total Pasukan Pertahanan Israel yang telah menginvasi Lebanon saat ini melebihi 15.000. Sekitar 450 anggota Hizbullah tewas dalam penyisiran darat, termasuk lebih dari 30 perwira pasukan Hizbullah. Pada saat yang sama, operasi penghancuran Israel tidak pernah berhenti. 

Pada 27 Oktober, tentara Israel sekali lagi mengirimkan 100 pesawat tempur dan membom lebih dari 120 sasaran Hizbullah, Suhail Hussein, kepala markas “Hizbullah”, terbunuh. Selain itu Husseini, direktur logistik Hizbullah yang bertanggung jawab mengangkut senjata dari Iran, juga dihabisi.

Pada hari yang sama, tentara Israel mengumumkan bahwa mereka telah mendirikan area terlarang militer di daerah perbatasan antara Lebanon selatan dan Israel, yang sepenuhnya memisahkan elemen Hizbullah dari tanah Israel. Oleh karena itu, pemerintah Israel memberi tahu penduduk Israel bahwa mereka sekarang dapat kembali ke rumah mereka di perbatasan utara.

Sesuatu yang Besar Terjadi di Kremlin? Militer Ukraina Meretas Semua Jaringan Televisi Pemerintah Rusia

Sesuatu yang besar pasti terjadi di Moskow! Pada  8 Oktober malam, beberapa orang Rusia di jalanan memfilmkan sejumlah besar mobil polisi dan ambulans menuju Kremlin. Yang tidak biasa adalah tak disangka muncul tiga kelompok konvoi berturut-turut yang bergegas menuju Kremlin dengan kecepatan kilat.

Mengenai situasi darurat ini, karena pejabat Rusia tetap bungkam, menyebabkan rumor menyebar ke seluruh dunia. Salah satu rumor yang paling populer adalah Putin tiba-tiba sakit dan muntah darah. 

Oleh karena itu, setidaknya ada tiga kelompok personel keamanan medis bergegas ke Kremlin. Terlepas dari apakah ini rumor atau bukan, satu hal yang dapat dipastikan bahwa ada sesuatu terjadi di Kremlin malam itu, dan itu bukan masalah sepele.

Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa hari pertama, 7 Oktober, adalah hari ulang tahun Putin yang ke-72. Dikabarkan bahwa Putin menghabiskan hari itu di kantor dan menerima surat ucapan selamat dari Xi Jinping dan Kim Jong-un. Pada hari ini juga Ukraina menyerang gudang minyak terbesar di Krimea, yang paling dipedulikan Putin. Api telah berkobar selama lebih dari 48 jam dan belum padam hingga saat ini ; Sedangkan Rusia juga mengalami serangan siber skala besar, serangan dari Ukraina. Seberapa seriuskah itu?

Situs web perusahaan televisi dan radio milik negara di seluruh Rusia tidak dapat diperbarui pada Senin pagi, dan saluran berita bergulir “Russia 24” tidak dapat diakses sama sekali. Ketika netizen mengklik, mereka melihat sebaris teks “503 Layanan Tidak Tersedia. Tidak ada server yang tersedia untuk menangani permintaan ini.”

Putin benar-benar berada dalam masalah baru-baru ini. Pertama, perintah tegas yang diteriakkannya bahwa tentara Ukraina harus diusir dari wilayah Kursk Rusia pada 1 Oktober tidak berpengaruh sama sekali. 

Dan, tentara Ukraina masih memperluas Wilayah pendudukannya di Kursk ; Pertama, pada  1 Oktober, Putin mengutuk Israel karena membunuh pemimpin Hizbullah ; Pada  2 Oktober, Putin memerintahkan Israel untuk segera menarik pasukannya dari Lebanon ; Pada 3 Oktober, Putin bahkan menyatakan untuk mendukung Iran dalam melakukan pembalasan terhadap Israel ; Kemudian mengarah pada 3 Oktober malam itu dan 4 Oktober pagi, Israel mengebom dua pangkalan militer Rusia di Suriah, lalu Putin tiba-tiba berhenti menyebut Israel.

Pasukan Khusus Hizbullah Muncul di Rusia, Pasukan Ukraina melakukan “Saving Private Ryan”

Meski  Israel belum selesai. Para pejabat Israel segera mengumumkan bahwa sistem peringatan dini pertahanan udara Israel bernama “Lampu Merah”, yang telah diuji dalam pertempuran sebenarnya, telah dikirim ke Ukraina dan sedang dipasang serta di-debug. 

Sistem peringatan dini ini dapat secara efektif mengidentifikasi rudal, roket dan drone, bahkan dapat melacak rudal yang sedang terbang secara akurat. 

Para pejabat Ukraina menyatakan bahwa mereka dengan cepat mengintegrasikan sistem peringatan dini Israel dengan senjata pertahanan udara Ukraina yang sudah ada, yang diharapkan akan sangat meningkatkan kemampuan pertahanan udara Ukraina.

Faktanya, alasan yang memicu Israel untuk langsung mengebom pangkalan militer Rusia di luar negeri bukan hanya pidato Putin, tetapi penemuan Israel bahwa tidak hanya Iran berada di belakang Hizbullah, tetapi Rusia juga salah satunya. 

Selain dua pangkalan militer yang membantu mentransfer senjata Iran ke Hizbullah, diketahui juga bahwa anggota unit yang disebut “Pasukan Redwan” di bawah Hizbullah sebenarnya berasal dari Rusia.

“Pasukan Redwan” ini merupakan cabang Hizbullah yang beroperasi di Suriah. Baru-baru ini media mengungkapkan bahwa tentara “Pasukan Redwan” memakai ban lengan Hizbullah. Belakangan diketahui bahwa orang-orang tersebut adalah anggota pasukan operasi khusus Hizbullah dari Rusia.

Perang Rusia-Ukraina masih berlangsung, yang paling berbahaya selamanya adalah para prajurit yang berada di garis depan, sedangkan hal yang paling menyakitkan bagi para prajurit mungkin adalah jatuh ke tangan musuh. Setiap orang seharusnya pernah melihat film laris Hollywood pemenang penghargaan “Saving Private Ryan”.

Operasi serupa baru-baru ini terjadi di medan perang Ukraina. Pada 8 Oktober, empat tentara Ukraina dari Brigade Komando ke-3 Angkatan Darat Ukraina diserang oleh tentara Rusia saat berpindah posisi. Mereka ditangkap secara tiba-tiba dan dibawa ke hutan terdekat. Namun, segera ditemukan oleh drone Brigade Komando ke-3. Maka tentara Ukraina segera membentuk tim tanggap darurat penyelamat, menaiki kendaraan lapis baja M113 buatan Amerika dan segera berangkat untuk melancarkan serangan mendadak. 

Di bawah tekanan kuat dari senjata berat M113, tentara Rusia sama sekali mengabaikan para tahanan di belakang mereka. Keempat tentara Ukraina ini mengambil kesempatan untuk melarikan diri dan kembali ke front sendiri.

Bagi para prajurit yang melarikan diri ini, mungkin yang paling mereka rindukan adalah kembali dan bertemu dengan keluarga mereka. Dan, seorang tentara Ukraina yang mendapatkan kesempatan libur bergilir, akhirnya  saat yang indah untuk memeluk anak-anaknya yang berharga telah tiba.

Mungkin banyak keluarga militer Ukraina yang tidak seberuntung itu. Seorang ibu Ukraina membawa anaknya ke jalan, ketika dia bertanya kepada putranya, “Di mana ayah?”, anak itu langsung berlari ke depan.

Bagi sebagian bayi Ukraina yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang dunia, konsep ayah mungkin selamanya hanya sekedar foto yang bisa dicium.(lin)

Wanita Berusia 19 Tahun yang “Bercita-cita Menjadi Dokter” Masuk ke Rumah Sakit di London, Merawat Pasien

EtIndonesia. Seorang wanita di London, Inggris, berusia 19 tahun berhasil mewujudkan mimpinya menjadi dokter tanpa harus kuliah kedokteran hanya dengan masuk ke rumah sakit dan berpura-pura menjadi dokter.

Kreuena Zdrafkova, wanita kelahiran Bulgaria yang tinggal di distrik Ealing, London Barat, Inggris, selalu bermimpi menjadi dokter dan baru-baru ini memutuskan bahwa dia tidak akan membiarkan hal kecil seperti kurangnya pelatihan medis menghalanginya.

Awal tahun ini, dia mengenakan jubah putih dan sarung tangan karet, dengan percaya diri masuk ke Rumah Sakit Ealing dan mulai bertindak seperti salah satu dokter di sana.

Sepanjang hari, dia terlihat memeriksa peralatan medis, masuk ke ambulans, dan bahkan memberikan zat yang tidak diketahui kepada pasien, tanpa ada yang menyadari bahwa dia sebenarnya bukan dokter. Dia begitu yakin bahwa dia dapat mewujudkan pekerjaan impiannya dalam jangka panjang sehingga dia kembali ke rumah sakit tiga hari kemudian, kali ini dengan stetoskop di lehernya.

Zdrafkova menjalani tugas singkatnya sebagai dokter pada bulan April sebelum ditangkap saat dia muncul untuk hari kedua “kerjanya”, tetapi dia baru saja dijatuhi hukuman percobaan 12 bulan dan 15 hari kegiatan rehabilitasi. Dia juga dilarang memasuki fasilitas NHS (Layanan Kesehatan Nasional -Inggris) mana pun kecuali dalam keadaan darurat kesehatan.

Pengacara wanita itu mencoba menggambarkannya sebagai seorang migran muda yang hanya ingin memenuhi impiannya seumur hidup untuk menjadi seorang dokter, tanpa benar-benar membahayakan siapa pun, yang mungkin telah meyakinkan hakim untuk bersikap lunak padanya dalam hukumannya.

“Dia berbicara kepadanya, membungkuk, hampir meyakinkannya dan memberikan perawatan,” kata pengacara Zdrafkova tentang interaksinya dengan seorang pasien. “Pada satu titik dia bahkan memegang tisu dan menyeka wajah pasiennya. Itu benar-benar hampir mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang dokter.”

Selama hari-harinya sebagai dokter di Rumah Sakit Ealing, wanita berusia 19 tahun itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai ‘dr. Christina’, merawat seorang pasien yang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan ditahan dan diawasi oleh dua petugas polisi. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Zdrafkova gentar! Rekaman CCTV rumah sakit menunjukkan dia memasukkan jarum suntik berisi zat yang tidak diketahui ke dalam mulut pasien. Untungnya, zat itu tidak menimbulkan efek negatif apa pun pada pasien.

Kami telah membahas kasus serupa sebelumnya, seperti kasus dokter palsu yang menggunakan tutorial YouTube untuk mengoperasi pasien, atau pemuda Afrika Selatan yang menjadi bintang TiTok dengan menyamar sebagai dokter. (yn)

Sumber: odditycentral

Wanita Terpaksa Menelepon Polisi Setelah Rumahnya Dikepung oleh Ratusan Pasukan Rakun

EtIndonesia. Seorang wanita di negara bagian Washington, AS, akhirnya menelepon layanan darurat setelah rumahnya diserbu oleh ratusan rakun yang bertindak agresif dan berharap diberi makan.

Polisi di Poulsbo, sebuah kota kecil di Negara Bagian Washington, terus-menerus menerima telepon tentang insiden yang berhubungan dengan hewan, tetapi minggu lalu adalah pertama kalinya seorang warga setempat menelepon 911 untuk melaporkan ratusan rakun agresif yang berkumpul di rumahnya dan membuatnya tidak bisa meninggalkan rumahnya

Wanita itu, yang namanya tidak diungkapkan, telah memberi makan keluarga rakun selama sekitar 35 tahun, tetapi sekitar enam minggu yang lalu, jumlah mereka mulai bertambah hingga melampaui 100 yang semuanya menunggu untuk diberi makan. Hewan-hewan itu mulai menjadi agresif jika mereka tidak diberi makan, dan keadaan menjadi sangat buruk sehingga wanita itu tidak dapat meninggalkan rumahnya atau bergerak di sekitar rumahnya dengan bebas.

“Dia mengatakan rakun-rakun itu menjadi semakin agresif, meminta makanan, dan mereka akan memburunya siang dan malam — mencakar bagian luar rumahnya, di pintu. Jika dia menjalankan mobilnya, mereka akan mengelilingi mobil, mencakar mobil, mengelilinginya jika dia pergi dari pintu depan ke mobilnya atau keluar sama sekali,” Kevin McCarty, juru bicara kantor sheriff Poulsbo mengatakan kepada Associated Press. “Mereka melihat ini sebagai sumber makanan sekarang, jadi mereka terus kembali ke sana dan terus mengharapkan makanan.”

Rakun adalah pemandangan umum di Poulsbo, tetapi ketika polisi tiba di rumah wanita yang tidak disebutkan namanya itu setelah panggilan darurat 911, mereka terkejut. Mereka belum pernah melihat begitu banyak rakun di satu tempat sebelumnya, dan tidak ada seorang pun di kota itu. Seolah-olah berita tentang prasmanan gratis telah tersebar di dunia rakun dan semua ingin mencobanya.

“Ini adalah masalah yang mengganggu yang harus fia tangani sendiri,” kata McCarty, menjelaskan bahwa meskipun memberi makan hewan pengerat liar tidak melanggar hukum, hal itu tidak direkomendasikan karena hewan-hewan tersebut akan cepat terbiasa dengan pemberian gratis dan menjadi tergantung pada manusia. Ditambah lagi, ada risiko penularan penyakit dan makanan yang dibuang akan menarik hewan liar lainnya.

“Cukup sederhana,” kata juru bicara kantor sheriff. “Jangan memberi makan hewan liar. Ketika hewan liar memiliki sumber makanan yang dapat diandalkan, mereka akan terus kembali ke sana. Dan itulah yang dilakukan rakun-rakun ini hingga jumlah rakun yang mengharapkan makanan menjadi tidak terkendali.”

Setelah wanita itu berhenti memberi makan rakun-rakun itu, jumlah mereka menurun dan tak lama kemudian fia dapat bergerak di sekitar propertinya lagi. Pihak berwenang berharap bahwa fia belajar dari kesalahannya dan berhenti memberi makan mereka. (yn)

Sumber: odditycentral

Jokowi Jelang Turun Jabatan, Gelar Makan Siang Bersama Hingga Pamit ke Kabinet Indonesia Maju

JAKARTA- Presiden Jokowi akan turun dari jabatannya pada Minggu (20/10/2024). Ia menggelar makan siang bersama dengan jajaran para Menteri Kabinet Indonesia Maju, para wakil menteri, para anggota Dewan Pertimbangan Presiden, dan sejumlah kepala badan. Sekaligus pamit kepada seluruh yang hadir. 

Kegiatan ini digelar di Istana Negara Jakarta pada Jumat siang, 18 Oktober 2024.

“Kita telah lalui bersama-sama, banyak tantangan-tantangan yang kita diskusikan, kita debatkan, kita ramaikan di dalam rapat-rapat kabinet, rapat terbatas, dan rapat internal,” ujar Presiden dikutip dari BPMI Setpres . 

Foto: BPMI Setpres/Vico

Presiden Jokowi juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan kerja keras seluruh kabinetnya selama satu dekade terakhir. Ia berharap apa yang telah dikerjakan bersama dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara.

“Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan, atas support, atas kerja keras untuk negara ini. Dan saya berharap apa yang sudah kita lakukan dalam 10 tahun ini bermanfaat bagi rakyat, bermanfaat bagi negara, bermanfaat bagi bangsa kita yang kita cintai,” ungkap Presiden.

Presiden Jokowi dan Wapres Maruf Amin bersama presiden terpilih Prabowo Subianto

Jokowi juga menyampaikan selamat bekerja kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto dan kabinet barunya. 

Jokowi menyampaikan akan langsung pulang ke Solo usai turun dari jabatan Presiden RI. Ia juga mempersilakan para jajaran kabinetnya untuk datang ke rumahnya di Solo.

“Hari Minggu siang saya akan pulang ke Solo. Kalau ada yang pas ke Jogja 30 menit nanti lewat tol bisa silakan kalau ada yang ingin ke Solo. Kalau pakai jalan tol ada yang ke Surabaya lewatnya pasti harus lewat Solo, silakan juga kalau ingin mampir ke rumah. Sekali lagi mohon maaf,” ucap Presiden. (asr)

Tiongkok  Kembali  Memangkas Rasio Cadangan Bank di Tengah Perlambatan Ekonomi

Bank sentral Tiongkok berencana untuk memotong rasio cadangan wajib (RRR) untuk ketiga kalinya tahun ini, karena data terbaru pertumbuhan ekonomi menunjukkan kinerja di bawah target

Terri Wu – The Epoch Times

Gubernur People’s Bank of China (PBOC), Pan Gongsheng, mengatakan pada 18 Oktober bahwa bank sentral berencana menurunkan rasio cadangan wajib bank antara 25 hingga 50 basis poin pada kuartal keempat, tergantung pada kondisi likuiditas pasar.

Pengumuman ini disampaikan dalam sebuah forum keuangan di Beijing, bersamaan dengan laporan Tiongkok  yang menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga sebesar 4,6 persen, tingkat pertumbuhan terendah tahun ini, menurut rilis dari Biro Statistik Nasional Tiongkok  pada 18 Oktober. Tingkat pertumbuhan tahunan resmi untuk periode Januari hingga September adalah 4,8 persen, lebih rendah dari target pertumbuhan 5 persen.

Pada 24 September, PBOC mengumumkan pemotongan 50 basis poin dalam RRR, yang berlaku pada 27 September, yang membebaskan sekitar 1 triliun yuan (sekitar $142 miliar) untuk pinjaman baru. Bank sentral telah menurunkan RRR sebanyak 18 kali sejak 2018, melepaskan 14,4 triliun yuan ($2 triliun) ke pasar.

RRR menentukan jumlah minimum uang tunai yang harus disimpan oleh bank dibandingkan dengan total simpanannya.

Bank-bank komersial besar Tiongkok  juga mengumumkan pada 18 Oktober bahwa mereka akan menurunkan suku bunga deposito berjangka satu tahun sebesar 25 basis poin.

Pada 24 September, rezim Tiongkok mengumumkan sejumlah kebijakan moneter untuk menangani likuiditas, pasar properti, dan pasar saham. Rezim kemudian mengadakan tiga konferensi pers profil tinggi tetapi belum meluncurkan paket fiskal yang sesuai untuk merangsang pengeluaran publik.

Ni Hong, kepala Kementerian Pembangunan Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan (MOHURD), mengatakan pada 17 Oktober bahwa Beijing akan meningkatkan pinjaman untuk proyek perumahan yang masuk dalam daftar putih menjadi 4 triliun yuan (sekitar $562 miliar) pada akhir tahun. Tiongkok memulai program ini pada Maret, yang menyediakan pinjaman khusus oleh bank milik negara untuk proyek pengembangan yang gagal.

Menurut Xiao Yuanqi, wakil kepala Administrasi Regulasi Keuangan Nasional, pinjaman yang disetujui untuk proyek-proyek dalam daftar putih mencapai 2,23 triliun yuan (sekitar $313 miliar) hingga 16 Oktober.

Laporan dari bank Prancis Natixis pada 7 Oktober memperkirakan bahwa rezim Tiongkok  akan membutuhkan 3,4 triliun yuan untuk membeli kembali lahan yang menganggur dan rumah baru yang belum terjual, dengan asumsi bahwa rumah tersebut dapat dibeli dengan harga 70 persen dari nilai pasar.

Pada 12 Oktober, Lan Fo’an, Menteri Keuangan, mengatakan bahwa Beijing memiliki ruang untuk peningkatan defisit tetapi tidak mengungkapkan rincian dukungan fiskal tambahan.

Pada 8 Oktober, Zheng Shanjie, ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, mengumumkan pendahuluan 100 miliar yuan ($14,1 miliar) dari anggaran investasi pusat 2025 untuk digunakan tahun ini. Rezim juga akan mengizinkan proyek konstruksi senilai 100 miliar yuan dalam anggaran tahun depan untuk dimulai sebelum akhir tahun. Zheng menegaskan kembali target pertumbuhan 5 persen untuk tahun 2024.

Ding Xuexiang, anggota komite tetap Politbiro dan wakil perdana menteri Tiongkok, mengatakan kepada media milik negara pada 17 Oktober bahwa pemerintah daerah harus fokus pada pelaksanaan kebijakan dukungan ekonomi yang telah diumumkan dan mencapai target pertumbuhan.

Mike Sun, seorang pengusaha yang berbasis di AS dengan pengalaman puluhan tahun memberikan saran kepada investor dan pedagang asing di Tiongkok, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dana daftar putih senilai 4 triliun yuan tampaknya menjadi stimulus fiskal yang banyak dinanti-nantikan. Dia menggunakan nama samaran untuk melindungi dirinya dari pembalasan dari Partai Komunis Tiongkok.

Dia berpendapat bahwa rezim Tiongkok akan fokus menyelamatkan pasar perumahan dan memenuhi target pertumbuhan PDB pada akhir tahun. Berdasarkan pernyataan Ding, Sun memperkirakan tidak akan ada “langkah besar” tambahan dalam stimulus fiskal pada 2024.

Dalam konferensi pers pada 17 Oktober, Ni dari MOHURD berulang kali mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk “menghentikan penurunan pasar [perumahan] dan mengembalikannya ke stabilitas.” Dia juga menyebutkan bahwa setelah tiga tahun penyesuaian, pasar real estate Tiongkok mulai “mencapai titik terendah.” (asr)

AS Mendeportasi Imigran Ilegal Tiongkok dengan Penerbangan Carter

“Para warga negara Tiongkok yang tidak memiliki dasar hukum untuk tinggal di Amerika Serikat akan segera dideportasi,” kata Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Alejandro Mayorkas

Aldgra Fredly

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) mengatakan pada Kamis bahwa mereka telah mendeportasi sekelompok imigran ilegal Tiongkok pada 15 Oktober, yang merupakan penerbangan deportasi kedua ke Tiongkok tahun ini.

DHS mengonfirmasi kepada The Epoch Times bahwa 131 migran Tiongkok dipulangkan dengan penerbangan carter pada tanggal tersebut. DHS menyebut penerbangan pertama pada  Juni sebagai penerbangan deportasi terbesar sejak 2018. Departemen tersebut tidak menyebutkan jumlah orang yang dideportasi dalam penerbangan.

Dalam pernyataan pada 17 Oktober, DHS mengatakan bahwa penerbangan deportasi terbaru menunjukkan komitmen mereka untuk “mengejar kerja sama berkelanjutan” dengan Tiongkok dan negara-negara lain terkait imigran ilegal.

DHS tidak menyebutkan berapa lama para imigran ilegal itu tinggal di Amerika Serikat sebelum dideportasi.

“Migran yang berniat masuk tidak boleh mempercayai kebohongan para penyelundup—warga negara Tiongkok yang tidak memiliki dasar hukum untuk tinggal di Amerika Serikat akan segera dideportasi,” kata Menteri Keamanan Dalam Negeri Alejandro Mayorkas. 

“Departemen Keamanan Dalam Negeri akan terus memperkuat konsekuensi bagi individu yang masuk ke negara kami secara ilegal dan menegakkan hukum negara kami.”

Imigrasi ilegal telah menjadi isu utama dalam pemilihan presiden 2024.

Menurut data Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, telah terjadi lebih dari 73.700 penangkapan warga negara Tiongkok secara nasional sejak Oktober 2023, dengan setengahnya terjadi di perbatasan selatan.

Amerika Serikat dan Tiongkok melanjutkan kerja sama dalam deportasi warga negara Tiongkok pada  Mei, hampir dua tahun setelah Tiongkok  menangguhkan perjanjian tersebut setelah kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan, pulau yang mengatur sendiri dan diklaim oleh rezim komunis Tiongkok sebagai bagian dari wilayahnya.

Dalam pernyataan tertanggal 13 Mei kepada media, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington mengklaim bahwa rezim tersebut terbuka untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam pemulangan imigran ilegal, asalkan Washington memberikan “perhatian timbal balik terhadap kekhawatiran Tiongkok” dan menciptakan “suasana yang tepat untuk kerja sama.”

Anggota Partai Republik di Subkomite Keamanan Dalam Negeri DPR AS tentang Pengawasan, Investigasi, dan Akuntabilitas mengadakan sidang pada 16 Mei untuk mengangkat kekhawatiran mengenai “aliran warga negara Tiongkok yang belum pernah terjadi sebelumnya” yang melintasi perbatasan selatan AS secara ilegal.

Pemerintah federal melonggarkan proses pemeriksaan tahun lalu, dengan agen Patroli Perbatasan mengurangi jumlah pertanyaan pemeriksaan untuk warga negara Tiongkok dari 40 menjadi hanya lima pertanyaan, kata subkomite tersebut dalam sebuah pernyataan pada bulan Mei.

Ketua subkomite, Dan Bishop (R-N.C.), mengatakan bahwa proses pemeriksaan mungkin tidak memadai untuk melindungi keamanan nasional.

“Ketika Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus mengejar dominasi geopolitik dan mengancam kedaulatan kita, kita harus memeriksa risiko yang ditimbulkan oleh semakin banyaknya warga negara Tiongkok yang diperiksa secara minimal ke dalam komunitas kita,” kata Bishop dalam pernyataan tersebut.

“Perbatasan yang terbuka lebar memberikan peluang bagi PKT untuk merusak keamanan nasional kita. Kita harus jelas melihat ancaman yang dihadirkan oleh perkembangan bersejarah ini.”

Demokrat di subkomite Keamanan Dalam Negeri DPR AS menolak kekhawatiran tersebut, menggambarkannya di situs web mereka sebagai “dengar pendapat perbatasan ‘Republik’ lainnya dengan retorika invasi dan penebaran ketakutan.”

Para ahli yang diundang untuk bersaksi menunjukkan bahwa proses pemeriksaan kemungkinan tidak akan menemukan informasi latar belakang kriminal pada warga negara Tiongkok yang belum pernah berada di Amerika Serikat karena Tiongkok  tidak dengan mudah berbagi informasi tersebut dengan otoritas AS.

Simon Hankinson, peneliti senior di Pusat Keamanan Perbatasan dan Imigrasi The Heritage Foundation, mengatakan kepada komite bahwa “secara statistik kemungkinan DHS telah membebaskan orang-orang dengan catatan kriminal.”

Darlene McCormick Sanchez dan The Associated Press berkontribusi pada laporan ini.

Tiongkok dan Myanmar Menduduki Daftar Teratas Kebebasan Internet Terburuk di Dunia

Tiongkok dan Myanmar bersama-sama menduduki peringkat terburuk dalam kebebasan internet di dunia, menurut laporan terbaru  kelompok hak asasi Freedom House 

Alex Wu

Kelompok penelitian pro-demokrasi yang berbasis di Washington ini menyatakan dalam laporan tahunan “Freedom on the Net,” yang diterbitkan pada 16 Oktober, bahwa kebebasan internet global telah menurun selama 14 tahun berturut-turut.

Dalam siaran persnya, kelompok tersebut menyatakan bahwa warga di setidaknya 43 negara telah diserang atau dibunuh karena ucapan dan aktivitas mereka di dunia maya, yang merupakan rekor tertinggi.

Laporan tahun 2024 menilai kebebasan digital di 72 negara dan wilayah, yang mencakup 87 persen pengguna internet dunia, antara Juni 2023 dan Mei 2024. 

Penilaian ini menggunakan metodologi standar untuk menentukan skor kebebasan internet setiap negara pada skala 100 poin, dengan 21 indikator terpisah yang mencakup hambatan akses, pembatasan konten, dan pelanggaran hak pengguna. 

Islandia menduduki peringkat tertinggi untuk kebebasan internet selama enam tahun berturut-turut, dengan skor 94 poin.

Tiongkok

Tiongkok di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok  (PKT), terus menempati peringkat negara dengan skor kebebasan internet terendah selama 10 tahun berturut-turut, dengan skor sembilan poin.

“Pengguna internet di Tiongkok menghadapi kondisi kebebasan internet terburuk di dunia selama satu dekade. Orang-orang menghadapi konsekuensi hukum dan di luar hukum yang parah untuk aktivitas online mereka seperti berbagi berita, membicarakan keyakinan agama mereka, dan berkomunikasi dengan anggota keluarga serta orang lain di luar negeri,” demikian bunyi laporan tersebut.

Freedom House mengatakan bahwa Beijing menggunakan  “Great Firewall” untuk mengisolasi negara tersebut dari dunia luar dan memblokir konten yang dianggap sebagai ancaman bagi PKT. PKT terus menghukum rakyat Tiongkok karena menggunakan VPN untuk melewati sensor mereka. Laporan ini menyebutkan contoh praktisi Falun Gong, yang “secara rutin dipenjara karena memposting pesan tentang kelompok spiritual atau pelanggaran hak asasi manusia di media sosial, mengakses situs web yang dilarang, dan memiliki atau berbagi teknologi VPN yang dilarang,” demikian laporan tersebut.

“Otoritas memiliki kekuasaan besar atas industri teknologi, menerapkan penyelidikan regulasi dan perintah penghapusan untuk menegakkan narasi pemerintah,” lanjut laporan itu. 

Ketika ditanya tentang laporan tersebut pada konferensi pers reguler di Beijing pada 16 Oktober, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, mengklaim bahwa rakyat Tiongkok “menikmati berbagai hak dan kebebasan sesuai hukum.”

Namun, kebebasan internet di Tiongkok terus memburuk, karena “rezim otoriter semakin represif dalam beberapa tahun terakhir,” kata laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa PKT “terus memperketat kontrol atas semua aspek kehidupan dan pemerintahan, termasuk birokrasi negara, media, kebebasan berbicara secara online, praktik keagamaan, universitas, bisnis, dan asosiasi masyarakat sipil.”

“Setelah tindakan keras bertahun-tahun terhadap perbedaan pendapat politik, organisasi non-pemerintah independen (LSM), dan pembela hak asasi manusia, masyarakat sipil di China sebagian besar telah dihancurkan,” kata laporan itu.

Myanmar

Myanmar, telah melihat skornya turun tahun ini menjadi 9 dari 100, menandai “pertama kalinya dalam satu dekade ada negara yang mendapat skor serendah Tiongkok.”

Sejak kudeta 2021, rezim militer Myanmar “menindak keras dengan brutal terhadap perbedaan pendapat dan memenjarakan ribuan orang sebagai balasan atas percakapan mereka secara daring, sementara membangun rezim sensor dan pengawasan besar-besaran untuk menekan aktivitas aktivis pro-demokrasi sipil dan kelompok perlawanan bersenjata,” kata laporan itu.

Rezim militer juga “menerapkan sistem sensor baru yang memperketat pembatasan pada jaringan pribadi virtual (VPN),” tambah laporan tersebut.

Taiwan Masuk 10 Teratas Kebebasan Internet

Taiwan menduduki peringkat pertama di Asia dan ketujuh di dunia dengan skor 79 poin. Masyarakat sipil di negara pulau ini “telah menetapkan pendekatan yang transparan, terdesentralisasi, dan kolaboratif terhadap pemeriksaan fakta dan penelitian disinformasi yang menjadi model global,” menurut laporan tersebut.

Transparansi di Taiwan “mendorong kepercayaan dan legitimasi dengan publik, memungkinkan debat terbuka tentang cara mengatasi konten yang salah dan menyesatkan, serta memfasilitasi penerapan beragam keahlian yang mengarah pada tindakan yang lebih terinformasi dan efektif,” demikian menurut laporan tersebut,  menyebut upaya Taiwan  melawan kampanye misinformasi daring yang diluncurkan oleh PKT untuk mengganggu pemilu negara itu pada  Januari sebagai contoh.

Lai Rongwei, peneliti Taiwan dan CEO Taiwan Inspirational Association, mengatakan bahwa laporan Freedom House menyoroti bagaimana Beijing mengontrol ujaran di dunia maya dan memanipulasi opini publik melalui media sosial. 

“Strategi PKT bertujuan merusak kepercayaan global, terutama di negara-negara demokratis, dengan menggunakan deepfake yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan untuk mengikis kepercayaan orang terhadap efisiensi pemerintahan mereka. Tindakan semacam ini mengancam untuk mengurangi kepercayaan terhadap nilai-nilai demokrasi secara keseluruhan,” katanya kepada edisi bahasa mandarin The Epoch Times pada 17 Oktober. “[Campur tangan PKT dengan] Taiwan adalah salah satu contohnya.”

Tzeng Yisuo, seorang peneliti asosiasi di divisi keamanan siber dan pengambilan keputusan di Institut Penelitian Pertahanan Nasional dan Keamanan Taiwan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa cara efektif untuk melawan indoktrinasi dan campur tangan PKT di media sosial adalah “dengan memperkuat literasi media setiap orang.”

“Pada dasarnya, Anda hanya bisa mengurangi efektivitas taktik daring PKT, yang akan membuatnya secara bertahap kurang efektif seiring waktu. Ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai tujuan melawan taktik PKT,” kata Tzeng. (asr)