Seorang Ibu Ajukan Gugatan Hukum untuk Berhenti Menafkahi Putrinya yang Berusia 22 Tahun

EtIndonesia. Seorang wanita Argentina mengajukan kasus ke pengadilan keluarga agar diizinkan untuk berhenti memberi nafkah kepada putrinya yang berusia 22 tahun karena dia mengabaikan studi universitasnya dan tidak memiliki pekerjaan.

Wanita yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan kepada hakim pengadilan keluarga María Laura Dumple bahwa putrinya yang berusia 22 tahun telah terdaftar di Universitas Nasional Río Negro sejak 2020 tetapi baru menyelesaikan 11% dari studinya dan tidak berniat untuk mendapatkan pekerjaan.

Dia menjelaskan bahwa memutus bantuan keuangan kepada anaknya adalah cara terbaik agar dia mau mencari pekerjaan untuk menopang hidupnya sendiri.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Argentina menetapkan kewajiban orangtua untuk menyediakan sumber daya bagi anak mereka hingga usia 25 tahun, dengan ketentuan bahwa anak tersebut tidak dapat menghidupi dirinya sendiri karena studi atau pekerjaan.

“Perlu dicatat bahwa untuk pemeliharaan yang menjadi kewajiban orangtua kepada anak-anaknya, berdasarkan pasal 663 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Dagang, anak yang berusia antara 21 dan 25 tahun harus membuktikan kelangsungan studinya untuk memperoleh profesi atau pekerjaan dan, dengan demikian, dapat memasuki pasar tenaga kerja dengan kondisi yang lebih baik,” kata hakim pengadilan keluarga. “Selain itu, mereka harus membuktikan bahwa hal ini menghalanginya memperoleh sumber daya yang diperlukan untuk menghidupi diri mereka sendiri.”

Hakim Dumple mengatakan kepada Cadena 3 bahwa anak-anak muda dianggap cukup umur pada usia 18 tahun dan bahwa tunjangan hanya dapat diberikan setelah usia tersebut jika terbukti bahwa anak muda tersebut masih kuliah dan tidak dapat menghidupi diri sendiri. Namun, hal ini tampaknya tidak berlaku bagi anak muda berusia 22 tahun yang telah menempuh pendidikan di universitas selama 4 tahun tetapi baru menyelesaikan 11 persen dari pendidikannya.

Pasal 663 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dimaksudkan untuk membantu kaum muda yang sedang menempuh pendidikan tinggi atau belajar suatu keterampilan tetapi belum mampu menghidupi diri sendiri, baik karena tingkat kesulitan gelar yang ditempuh, maupun karena jadwal kuliah dan magang yang dapat berbeda-beda dalam sehari, sehingga menyulitkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, dalam beberapa kasus, kewajiban orangtua untuk menghidupi anak-anak mereka yang sudah dewasa justru disalahgunakan.

“Kita tidak bisa kaku dalam menerapkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata; kita harus mempertimbangkan realitas sosial dari setiap kasus,” kata hakim, seraya menambahkan bahwa putri wanita berusia 22 tahun itu tidak hadir di pengadilan untuk membela posisinya dalam proses peradilan. (yn)

Sumber: odditycentral

Apakah Xi Jinping akan Segera Menghadapi “Momen Lin Biao”?

Forum Elite

Revolusi Kebudayaan yang dimotori oleh Mao Zedong telah mengalami titik perubahan yang sangat mendasar pada 13 September 1971. Pada hari itu, Lin Biao, Wakil Ketua Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang resmi ditunjuk sebagai penerus Mao Zedong, dikabarkan melarikan diri bersama istri dan putranya dengan menumpang pesawat, lalu jatuh dan tewas di Mongolia. Setelah itu, situasi politik Partai Komunis Tiongkok dan sentimen publik di Tiongkok mengalami perubahan dramatis. 

Namun 50-an tahun kemudian, PKT yang dipimpin oleh Xi Jinping terus menjalankan politiknya yang menganut ideologi kiri, menciptakan suasana seperti saat Revolusi Kebudayaan sedang berkobar di Tiongkok. 

Oleh karena itu, berbagai fenomena Revolusi Kebudayaan PKT di saat itu dapat ditemukan pada peristiwa yang sama di Tiongkok sekarang. Sehingga banyak orang bertanya-tanya, apakah “momen Lin Biao” juga akan muncul di era kepemimpinan Xi Jinping? Dan siapa “Lin Biao” yang sekarang?

Insiden Lin Biao Membingungkan. Apakah Lin Liguo adalah Generasi Pertama Aktivis Pro Demokrasi di Tiongkok?

Guo Jun, pemimpin redaksi “The Epoch Times” menjelaskan melalui program “Forum Elite” NTDTV, bahwa pernyataan resminya adalah bahwa pada 13 September 1971, pesawat Trident yang membawa Lin Biao beserta anggota lainnya jatuh saat terbang di atas langit Wendur Khan, Mongolia. Tetapi terdapat banyak cerita tidak resmi yang menyebutkan bahwa pesawat jatuh karena ditembak oleh PKT. 

Ia juga mengatakan, setelah pesawat Lin Biao lepas landas dari Bandara Shanhaiguan, Zhou Enlai memerintahkan agar tidak ada pesawat baik komersial atau militer yang boleh lepas landas atau mendarat di bandara di seluruh negeri, dengan maksud untuk mengawasi ke mana pesawat tersebut terbang. Setelah mengetahui bahwa pesawat telah terbang keluar perbatasan maka sebuah rudal diluncurkan. 

Lalu, kata Guo Jun, Uni Soviet mengirim petugasnya untuk mempelajari secara cermat pesawat Lin Biao tersebut mengatakan bahwa api langsung membakar pesawat sesaat kecelakaan terjadi sehingga semua orang dalam pesawat hangus terbakar dan tidak dapat dikenali lagi. 

Tentu saja, ada juga teori yang menyebutkan bahwa terjadi baku tembak di dalam pesawat, atau seseorang dalam pesawat yang meledakkan pesawat. Artinya setelah ada petugas dalam pesawat tersebut yang tidak ingin melarikan diri mengetahui fakta bahwa pesawat sedang digunakan untuk pelarian ke luar negeri lalu menggunakan kekerasan untuk menghentikan tindakan tersebut, sehingga pesawat jatuh dan menewaskan semua orang. 

Cerita yang paling aneh adalah Lin Biao dan istrinya Ye Qun sama sekali tidak berada di dalam pesawat, yang ada hanya Lin Liguo (putra Lin Biao) beserta anggota kelompoknya. Laporan dari Uni Soviet malahan menyebutkan bahwa ada alat KB dan peninggalan lainnya yang ditemukan dalam tas mayat wanita yang diduga adalah Ye Qun, padahal Ye Qun saat itu sudah berusia 54 tahun. Sedangkan Lin Biao yang sakit-sakitan dulunya pernah cukup lama berobat di Uni Soviet. Karena itu, pihak Uni Soviet memiliki informasi medis, termasuk informasi perawatan gigi Lin Biao. 

Ada kabar yang menyebutkan bahwa Uni Soviet memastikan Lin Biao tidak berada di dalam pesawat, namun Partai Komunis Tiongkok juga memiliki informasi yang menunjukkan bahwa Uni Sovietlah yang memastikan jika Lin Biao berada di dalam pesawat yang jatuh dan terbakar tersebut. 

Setelah puluhan tahun berlalu, hingga kini pun baik Uni Soviet maupun Rusia tetap bungkam, tidak pernah secara terbuka mengumumkan hasil investigasi tentang pesawat itu. Jika Lin Biao memang tidak berada dalam pesawat naas itu, lalu di manakah dia sekarang? Ada teori beredar yang menyebutkan bahwa dia sudah dibunuh di Beijing, tetapi tidak ada bukti yang bisa mendukungnya.

Juga dalam “Forum Elit” tersebut Wang Juntao, ketua Partai Demokrat Tiongkok mengatakan bahwa ketika insiden Lin Biao terungkap, pihaknya tahu ada trik-trik tipuan di dalamnya. Karena banyak kasus yang menjadi misteri, sehingga banyak cendekiawan yang mempelajari sejarah politik pun sulit untuk menentukan kebenarannya. 

Ketika itu, ayah Wang Juntao yang memimpin penelitian sejarah partai di Universitas Militer dan Politik sudah menemui banyak aspek tentang kasus Lin Biao yang membingungkan. Setelah tahun 1980-an dan 1990-an, terjadi lagi suatu titik balik, saat itu sudah tidak lagi ada orang yang mengatakan bahwa Lin Biao-lah orang yang ingin menjatuhkan Ketua Mao Zedong, tetapi seseorang lain menjebaknya, seperti Zhou Enlai yang memang berada di tengah keduanya. 

Wang Juntao berpikir agak tidak mungkin kalau Zhou Enlai yang melakukan (pembunuhan terhadap Lin Biao). Menurut Ji Dengkui, mantan wakil perdana menteri Partai Komunis Tiongkok, Zhou tiba-tiba menangis dengan keras usai menangani masalah Lin Biao. 

Pada masa Revolusi Kebudayaan, ada 2 kelompok yang berkuasa di Tiongkok, yaitu kelompok Lin Biao dan kelompok Gang Empat. Orang-orang pro Lin Biao masih menghargai prestasi dan senioritas militernya. Oleh karena itu, selama Revolusi Kebudayaan, tak jarang Zhou Enlai meminta dukungan militer kepada Lin Biao, seperti minta pengiriman tentara untuk menenangkan kerusuhan yang terjadi di tengah masyarakat. Dan, selalu dipenuhi oleh Lin Biao. Namun, lain dengan Geng Empat yang selalu berlawanan dengan Zhou Enlai. 

Belakangan, orang-orang merasa bahwa perpecahan antara Lin dan Mao memang harus terjadi karena itu merupakan fenomena dalam otokrasi yang sulit dihindari. Fakta apa yang dapat kita petik dari masalah ini ? Seyogyanya tidak kita nilai dari sudut pandangan kita saja, Memang insiden Lin Biao merupakan peristiwa besar. Dan, peristiwa besar inilah justru yang membalikkan politik modern Tiongkok dan sejarah politik Tiongkok di bawah kepemimpinan Mao Zedong. 

Menurut Wang Juntao, bahwa sebuah argumen lain muncul setelah Peristiwa Tiananmen 4 Juni 1989 dimana PKT menembaki mahasiswa. Argumen tersebut berbunyi bahwa putra Lin Biao, Lin Liguo, adalah generasi pertama aktivis demokrasi Tiongkok, dan rancangan Proyek 571 adalah deklarasi gerakan demokrasi. Dari sudut pandang ini, kiranya layak untuk menempatkan Lin Liguo sebagai pelopor bagi gerakan demokrasi di Tiongkok. 

Namun, Mao pasti akan menindak, melakukan pembersihan terhadap kelompok Lin Biao yang dituduh membelot, menggambarkan Lin Biao sebagai orang yang keji, pengkhianat dan seterusnya. Jadi menurut sWang, rancangan Proyek 571 bisa sengaja dibesar-besarkan. Saya pernah berbincang-bincang dengan Gao Yu, seorang jurnalis independen ternama di Tiongkok yang suaminya merupakan anggota kelompok Lin Liguo. 

Tetapi ternyata suaminya itu tidak tahu menahu soal insiden pelarian Lin Biao Bersama keluarganya. Setelah insiden Lin Biao, banyak orang yang ditangkap oleh Mao Zedong karena dituduh terlibat dilepaskan tak lama kemudian. 

Hal ini menunjukkan bahwa “ada udang di balik batu” dari peristiwa ini. Mengapa kritikan terhadap Mao yang tertulis dalam rancangan Proyek 571 berbunyi sangat mirip dengan apa yang pernah Mao sendiri katakan di tahun-tahun awal, seperti ada beberapa orang mengatakan bahwa Mao adalah Qin Shi Huang kontemporer, dan Mao Zedong adalah Karl Marx ditambah Qin Shi Huang.

 Oleh karena itu, menurut Wang, bahwa meskipun rancangan Proyek 571 ditulis dengan baik, tetapi isinya mungkin tidak sepenuhnya benar, karena Mao Zedong ingin menghukum Lin Biao, bisa jadi isinya dikarang. Ya, cuma itu yang bisa dirinya katakan saat ini.

Shi Shan, editor senior dan kepala penulis “The Epoch Times” mengatakan di Forum Elite, bahwa rancangan Proyek 571 adalah dokumen yang dibuat oleh PKT untuk menindak Lin Biao. Dokumen yang pada dasarnya berisikan kritikan terhadap Mao Zedong ini konon dibuat di bawah arahan Lin Biao.

 Ada beberapa ungkapan yang berbunyi di dalam rancangan itu, seperti Mao Zedong menerapkan tirani, kebijakan Partai Komunis Tiongkok adalah memperkaya negara dan membuat rakyat miskin, dan rakyat sudah terlalu miskin sekarang, anak-anak muda terpelajar yang mengikuti Gerakan Turun ke Pedesaan itu sama dengan para pengangguran terselubung, dan para kader yang dikirim ke pedesaan adalah reformasi melalui tenaga kerja yang terselubung. 

Tentu saja, rancangan tersebut juga banyak mengungkapkan masalah kediktatoran pribadi Mao Zedong, pengabaiannya terhadap kepemimpinan kolektif, yang dapat menyebabkan bencana nasional, dan sebagainya. Yang terpenting adalah istilah 571 yang diartikan sebagai pemberontakan bersenjata, Oleh karena itu, di kemudian hari, banyak orang yang mempublikasikan bahwa ini adalah sesuatu yang dipimpin oleh Lin Liguo, sehingga kini banyak orang yang mengatakan bahwa Lin Liguo adalah generasi pertama aktivis demokrasi di Tiongkok. 

Untuk menghadapi Mao Zedong, Lin Liguo membentuk gengnya sendiri. Anggotanya sebagian besar terdiri dari perwira muda dan paruh baya, terutama perwira di Angkatan Udara Tiongkok. Mereka menamakan kelompok ini “armada kecil”. Sedangkan Mao Zedong dinamakan kapal induk. 

Sasaran dari “armada kecil” ini adalah menenggelamkan kapal induk. Dikemudian hari, banyak dari anggota “armada kecil” ini yang melarikan diri ke Hong Kong karena gencar dan kejamnya para petugas yang menangkap mereka. Seluruh kejadian ini menyebabkan guncangan besar di dalam tubuh PKT dan sangat mengguncang moral militer.

Insiden Lin Biao Mengubah Lanskap Politik Internal PKT

Wang Juntao mengatakan bahwa Mao Zedong berhasil mendirikan kediktatoran absolutnya sejak ia merebut kekuasaan, dan otoritas absolut berada dalam genggamannya selama Revolusi Kebudayaan berkobar. Sampai-sampai semua orang dalam partai termasuk para pejabat senior Tiongkok di kala itu sangat memujanya. 

Dampak langsung dari insiden Lin Biao adalah, pertama Mao Zedong terpaksa membebaskan beberapa orang pejabat senior yang tengah menjalani penganiayaan mental karena mereka dibuang ke pedesaan untuk menjalani pendidikan ulang lewat tenaga kerja selama Revolusi Kebudayaan, tujuannya adalah biar para komandan senior ini bisa diandalkan untuk memegang jabatan yang dikehendaki Mao. 

Lewat kesempatan inilah Deng Xiaoping muncul lagi di panggung politik, sekaligus membuka jalan baginya untuk menggulingkan Revolusi Kebudayaan yang dipimpin oleh Mao Zedong. 

Hal kedua adalah, menjadi pukulan bagi prestise pribadi Mao Zedong, menyebabkan para kader veteran Partai Komunis Tiongkok memiliki keraguan besar terhadap Mao Zedong sejak mereka mempelajari sejarah partai, dan mulai meragukan semua kasus yang terjadi selama kepemimpinan Mao. 

Ketiga, sekelompok anak muda seperti He Yanguang, yang lulus dari sekolah menengah pertama di Beijing tahun 1966 dan bergabung dengan Korps Timur Laut, merupakan generasi yang menjadi insaf mulai ada Gerakan 5 April tahun 1976, dan insiden Lin Biao membuat mereka semua semakin sadar terhadap tipu muslihatnya PKT. 

Insiden Lin Biao menjadi titik balik bagi kepemimpinan Mao Zedong. Generasi muda mulai berpisah dengan Mao, mulai meragukan Mao dan Revolusi Kebudayaan. Jadi saya berpendapat bahwa insiden Lin Biao adalah sebuah jalan lurus menuju diakhirinya Revolusi Kebudayaan. Ini adalah titik balik dalam pemikiran sejumlah orang Tiongkok dari dua generasi, termasuk generasi yang mengikuti Mao Zedong untuk “menaklukkan dunia”, menggulingkan kepemimpinan Chiang Kai-sek, dan generasi yang tumbuh di bawah bendera merah, yang mengikuti Mao Zedong menjalankan pemberontakan-pemberontakan untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Guo Jun mengatakan dalam “Forum Elite” bahwa otoritas Mao Zedong mengalami kerusakan yang sangat parah sejak terjadinya insiden Lin Biao, terutama di kalangan anak muda. Banyak mantan Pengawal Merah mulai meragukan Mao Zedong, dan situasi di dalam partai bahkan lebih buruk lagi. Sejumlah besar pejabat senior partai sangat tidak puas dengan Mao Zedong. 

Guo Jun telah membaca informasi bahwa beberapa pejabat senior di suatu provinsi berdiskusi secara internal bahwa mereka akan melancarkan kudeta atau mendirikan separatisme lokal setelah kematian Mao. 

Setelah Deng Xiaoping yang sepenuhnya menyangkal Revolusi Kebudayaan berkuasa, ia menyebutnya sebagai “bencana satu dekade”. Dapat dikatakan bahwa para pejabat senior tersebut sangat membenci Mao, hanya saja mereka tidak dapat sepenuhnya menyangkal Mao Zedong, karena takut komunisme tidak lagi dapat dimanfaatkan, bendera merah RRT tidak lagi bisa berkibar. Oleh karena itu, insiden Lin Biao dapat disebut sebagai “momen Lin Biao”. Sejak itu, ideologi komunis mulai mengalami kemunduran.

Gua Jun mengatakan bahwa momen seperti itu tidak hanya terjadi di PKT, tetapi juga kerap terjadi di sistem komunis negara lainnya.  Leon Trotsky di era Uni Soviet dibunuh di Meksiko setelah melarikan diri. Di Korea Utara ada faksi Yan’an, sedangkan di Vietnam ada Hoang Van Hoan, seluruh politbiro Partai Komunis Vietnam melarikan diri ke Tiongkok. Di Tiongkok adalah Lin Biao. 

Hal ini ada kaitannya yang erat dengan sistem otoriter Partai Komunis Tiongkok. Karena persoalan legitimasi kekuasaan tertinggi yang tidak mudah diatasi, memegang kekuasaan tertinggi itu pun bukan terjadi karena hubungan darah, dan juga bukan hasil pemilu, maka penguasa tertinggi selalu merasa bersalah, kurang percaya diri, dan menjadi neurotik. 

Sekalipun kaisar di zaman dahulu yang memiliki legitimasi penuh, dia harus mencegah orang lain merebut kekuasaan, merebut takhtanya. Oleh karena itu, kedudukan ini selalu penuh bahaya, dan kebanyakan dari raja atau kaisar tidak mampu mengakhiri jabatannya dengan sempurna. 

Hal ini bahkan lebih berlaku buat menggambarkan sistem otokratis saat ini, sehingga sebagian besar sistem otokratis modern pada akhirnya berubah menjadi oligarki, di mana sekelompok orang berbagi kekuasaan tertinggi. 

Biasanya dimulai sebagai kediktatoran pribadi dan perlahan-lahan berubah menjadi oligarki. PKT yang sekarang malahan bergerak mundur dari kediktatoran oligarki menjadi kediktatoran personal, sehingga pasti akan menyebabkan timbulnya perebutan kekuasaan yang besar dan persaingan yang sengit. 

Pada dasarnya Xi Jinping telah berhasil mewujudkan “momen Mao Zedong” kemudian melenyapkan Li Keqiang. Sedangkan pengusiran Hu Jintao dari Rapat Pleno dapat dinilai sebagai “momen Liu Shaoqi”. Ya, yang belum muncul adalah “Momen Lin Biao”. Begitu “Momen Lin Biao” terjadi maka berakhirlah riwayat PKT.

Akankah Xi Jinping menghadapi “momen Lin Biao”? Siapa figure tersebut?

Wang Juntao mengatakan di “Forum Elit” bahwa hal serupa akan terjadi tidak hanya di dalam tubuh PKT, tetapi juga di Partai Komunis Uni Soviet dan Partai Komunis Vietnam, dan di semua negara komunis. Jika kaisar bersifat otokratis, maka orang-orang yang berada di sekitarnya dapat diibaratkan seperti menemani harimau, yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwa mereka. Misalnya, ketika seorang diktator merasa tidak aman dan curiga, dia akan terus menerus melakukan pembersihan terhadap orang-orang di sekitarnya. 

Lihat saja, Xi Jinping membersihkan Qin Gang dan pejabat Tingkat tinggi lainnya. Padahal mereka itu dia sendiri yang mempromosikan, tetapi harus tersingkir juga olehnya. Ketika kekuasaan pemimpin puncak mulai goyah, akan terjadi pertarungan besar mengenai siapa yang akan mengambil alih. 

Kajian mengenai transisi politik secara umum meyakini bahwa ketika rezim otoriter dan rezim totaliter bersaing, suatu negara rentan terhadap transisi politik. Deng Xiaoping membangun Tembok Demokrasi hanya demi menjatuhkan Hua Guofeng. Namun ketika Deng sudah berkuasa, Tembok Demokrasi itu segera dia robohkan, karena Tembok tersebut akan mengancam kekuasaannya.

Li Jun, seorang produser TV independen dalam “Forum Elit” mengatakan bahwa topik hari ini mengingatkan saya terhadap gambar ke 46 dari buku ramalan Tiongkok kuno “Tui bei tu” dimana digambarkan ada seorang prajurit membawa busur (弓) yang hanya mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pria (翁) berambut putih (白頭翁). 

Ada pedang emas tersembunyi di pintu sebelah timur (東). Dan prajurit pemberani (勇士) akan memasuki istana kekaisaran melalui pintu belakang. Banyak orang yang meramalkan bahwa gambar ke 46 “Tui bei tu” ini mengisyaratkan kejadian yang akan menimpah diri Xi Jinping, karena pria berambut putih (白頭翁) jika diambil (羽) dan (白) kemudian digabungkanm maka akan membentuk huruf yang dibaca Xi (習), yaitu nama marga Xi Jinping. 

Hanya saja belum seorang pun yang tahu siapakah “prajurit pemberani” yang dimaksud dalam ramalan? Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Xi Jinping percaya terhadap ramalah tersebut, jadi ini mungkin yang menjadi kekhawatiran Xi Jinping selama ini.

Saat ini, di antara para prajurit membawa busur, yang paling dikenal oleh orang luar adalah Zhang Youxia (張又俠)[Pada huruf Zhang 張 terdapat busur 弓], ia adalah Wakil Ketua Komisi Militer PKT, dan He Weidong (何衛東) [terdapat huruf timur 東], juga Wakil Ketua Komisi Militer. Tapi kita mungkin tidak perlu terlalu peduli siapa prajurit yang dimaksud oleh ramalan, orang yang bisa memasuki istana kekhaisaran melalui pintu belakang pasti adalah orang-orang yang berada di sekitar Xi.

Beberapa orang yang menganalisis ramalan itu kemudian berpendapat bahwa yang disebut “pintu sebelah timur dalam istana” itu mengacu pada pewaris tahta (putra/i pangeran).  Yang dalam istilah sekarang disebut “penerus”, dan penerus inilah yang diramalkan akan menggulingkan “kaisar”. 

Jadi semua orang yang disebut-sebut sebagai “penerus” Xi Jinping akan menemui banyak masalah termasuk disingkirkan. Itulah sebabnya Xi Jinping sangat antipasti terhadap “penerus”.

Li Jun mengatakan, masalah terbesar yang dihadapi Xi Jinping adalah siapa penerusnya. Jika dia menunjuk penerus kemungkinan besar insiden Lin Biao kedua akan muncul.

 Jika dia tidak menunjuk penerusnya, hal yang paling mengkhawatirkan yaitu tentang kesehatannya yang tidak lagi prima, dan kekacauan besar dalam tubuh PKT bisa terjadi sewaktu-waktu. 

Apalagi sekarang perekonomian Tiongkok sangat buruk dan lingkungan internasional juga tidak mendukung, jika sampai terjadi lagi kekacauan besar dalam tubuh PKT, maka PKT bisa runtuh. (Sin)

‘Pintu Masuk’ Misterius Ditemukan di Es Antartika Melalui Google Maps, Penganut Teori Konspirasi Punya Ide-ide Liar

EtIndonesia. Google Maps adalah tempat penemuan hebat — dan penampakan terbaru mungkin salah satu yang paling aneh.

Di Antartika Timur, tepat di tenggara pos penelitian Jepang Showa Station, pengguna yang jeli melihat sebuah “pintu masuk” misterius, yang telah menjadi topik teori liar daring, dengan beberapa berspekulasi bahwa itu adalah rumah liburan Bigfoot atau pesawat ulang-alik yang terdampar dari “Star Trek”.

Seorang pengguna Reddit yang melihat struktur yang tidak menyenangkan pada koordinat 69°00’50″S 39°36’22″E hanya bertanya: “Pintu besar di Antartika?”

“Hanya pintu Boeing yang tertiup angin,” kata seseorang, merujuk pada kecelakaan udara yang mengejutkan Januari lalu, sementara yang lain bercanda: “Apakah mereka punya dasbor pintu di sana.”

“Apa yang akan kita lakukan tanpa para penganut teori konspirasi?” John Smellie, seorang profesor dan ahli vulkanologi di Universitas Leicester, bercanda kepada Daily Mail mengenai banyaknya saran yang diberikan.

Namun, para ilmuwan telah mengungkapkan apa yang mereka yakini sebagai struktur sebenarnya — dan itu tidak semenarik tesis Reddit mana pun.

Setelah melihat koordinat di Google Earth Pro dan melihat citra historis, Bethan Davies, seorang profesor glasiologi di Universitas Newcastle, mengatakan kepada publikasi tersebut bahwa pintu misterius itu “berada di area es laut cepat … tepat di lepas pantai” yang dipenuhi dengan “serangkaian pulau” tempat air dangkal berada.

“Ini adalah gunung es yang terdampar dan sekarang tersangkut dan mencair [di tempatnya],” jelas Davies. “Anda dapat melihat banyak gunung es lainnya di area tersebut.”

Profesor Martin Siegert, salah satu direktur Grantham Institute on Climate Change and the Environment di Imperial College London, setuju dengan Davies, dan mengatakan kepada media tersebut: “Ini hanyalah aliran es di sekitar rintangan subglasial yang padat, yang juga dipengaruhi oleh pencairan dan pembekuan ulang es serta angin katabatik.

“Es di sini cukup tipis, sebagaimana dibuktikan oleh singkapan batu lain di dekatnya, jadi pengaruh lapisan es terhadap aliran es akan kuat,” lanjutnya. “Ini pola yang menarik, tetapi tidak aneh atau mengejutkan secara glasiologis.”

Smellie menambahkan bahwa itu tampak “seperti singkapan punggungan berbatu pendek yang telah digali karena penurunan es, menjelaskan bahwa tonjolan itu “membentuk ‘puncak’ ‘pintu masuk.’ Dan ada dua ekor salju paralel yang menonjol yang membentuk sisi ‘pintu masuk.’ Ekor salju menunjukkan kepada Anda orientasi arah angin yang dominan.”

Guru gunung berapi itu kemudian dengan geli menutup pintu terhadap ocehan konspirasi apa pun.

“Jadi, dengan imajinasi yang baik, secara keseluruhan ada penampakan yang lemah dan sama sekali palsu seperti pintu,” Smellie menyatakan. “Saya cukup yakin itu hanya fenomena alam dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
(yn)

Sumber: nypost

Petani Tiongkok Menjadi Paling Terkena Imbasnya Akibat Skema Pensiun Baru

Perubahan terbaru dalam sistem pensiun yang bermasalah di Tiongkok akan membuat para petani lansia di Tiongkok memiliki lebih sedikit tahun untuk menikmati pensiun mereka dan lebih banyak tahun untuk berkontribusi.

Lynn Xu dan Pinnacle View Team

Keputusan rezim Tiongkok untuk menaikkan usia pensiun minimum akan memengaruhi lebih dari 400 juta jiwa, menurut data dari Biro Statistik Nasional. Hal ini akan membuat para lansia di Tiongkok memiliki lebih sedikit tahun-tahun untuk menikmati pensiun mereka dan lebih banyak tahun untuk memberikan kontribusi.

Hal ini akan menempatkan lebih dari 200 juta petani lansia Tiongkok dalam situasi sulit. Berbeda dengan pekerja kota, yang program pensiunnya dimulai pada tahun 1978, petani baru memenuhi syarat pada tahun 2009.

Analis mengatakan Partai Komunis Tiongkok (PKT) melemparkan kegagalan rencana pensiunnya kepada masyarakat umum, terutama petani, yang paling banyak berkorban di bawah kekuasaannya. Perubahan kebijakan terbaru ini kemungkinan akan menambah tekanan pada masyarakat yang sudah terbebani oleh kesenjangan pendapatan dan perlambatan ekonomi saat ini, kata para analis.

Pada  September, PKT mengumumkan bahwa mereka akan menaikkan usia pensiun minimum dari 60 menjadi 63 tahun untuk semua pria, dan dari 55 menjadi 58 tahun untuk wanita di pekerjaan kantoran dan dari 50 menjadi 55 tahun untuk wanita di pekerjaan lapangan. Implementasinya akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa bulan dan akan selesai pada tahun 2040.

Rezim Tiongkok melakukan perubahan ini karena berjuang dengan ekonomi yang melemah dan utang yang semakin meningkat di semua tingkat pemerintahan.

Sebelum perubahan kebijakan ini, Akademi Ilmu Sosial Tiongkok memperingatkan bahwa dana negara yang digunakan untuk membayar kewajiban pensiun di masa depan diperkirakan akan mengalami defisit pada tahun 2028 dan habis pada tahun 2035.

Di beberapa provinsi dan distrik, dana asuransi pensiun sudah mulai habis. Pada tahun 2016, setidaknya 13 provinsi dan daerah hanya memiliki solvabilitas dana pensiun kurang dari satu tahun; Provinsi Heilongjiang, misalnya, sudah mengalami defisit sebesar 23,2 miliar yuan (sekitar $3,3 miliar), menurut media pemerintah.

Petani Tiongkok Diberlakukan Tidak Adil

Selama lebih dari setengah abad, para petani Tiongkok telah menjadi korban perlakuan diskriminatif akibat “hukou” pedesaan—sebuah pendaftaran rumah tangga seumur hidup yang membuat mereka sebagian besar tidak termasuk dalam manfaat jaminan sosial.

Program percontohan pensiun pertama untuk penduduk pedesaan dimulai pada tahun 2009. Program ini menetapkan pensiun dasar bulanan sebesar 55 yuan (kurang dari $8).

Standar dasar ini dinaikkan menjadi 123 yuan (kurang dari $18) pada Maret 2024, menurut laporan kerja oleh Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang. Jumlah ini masih puluhan kali lebih rendah dibandingkan dengan pensiun yang diterima oleh pekerja perkotaan. Misalnya, mereka menerima pensiun bulanan sekitar 5.100 yuan (sekitar $720) di kota-kota tingkat pertama seperti Beijing dan Shanghai, dan 3.000 hingga 4.700 yuan (sekitar $420 hingga $660) di lokasi lain.

Subsidi pedesaan bervariasi antara provinsi dan wilayah dan dapat dipotong seiring menurunnya pendapatan lokal.

Populasi pedesaan Tiongkok—sekitar 56,6 persen dari total penerima—hanya menerima sekitar 5,9 persen dari total pembayaran yang diberikan di bawah sistem jaminan sosial, kata Cai Fang, direktur Institut Ekonomi Kependudukan dan Tenaga Kerja, dalam pidatonya di Forum Tsinghua pada tahun 2022.

Pejabat pemerintah yang sudah pensiun mengonsumsi sebagian besar pengeluaran pensiun nasional.

Cai mengatakan bahwa di Guangzhou dan Shenzhen, misalnya, pensiun pejabat yang sudah pensiun berkisar antara 16.700 hingga 33.300 yuan ($2.350 hingga $4.700) per bulan.

Selain itu, dana pensiun semakin menyusut karena lebih banyak pemuda yang memilih untuk tidak berkontribusi pada pensiun mereka akibat pengangguran atau kekecewaan terhadap prospek ekonomi mereka. 

Pada Juli 2023, sebulan setelah PKT berhenti melaporkan tingkat pengangguran kaum muda, Zhang Dandan, seorang profesor di Universitas Peking, memperkirakan bahwa angkanya saat itu mencapai lebih dari 40 persen.

Mengingat ketidakcukupan kronis sistem jaminan sosial, petani lansia menghadapi krisis kelangsungan hidup di tahun-tahun terakhir mereka. Tingkat bunuh diri di antara petani lansia Tiongkok telah tinggi, kata para ahli.

Liu Yanwu, seorang profesor sosiologi di Universitas Wuhan, dan timnya telah menghabiskan tujuh tahun terakhir meneliti kematian lansia di daerah pedesaan. Liu menulis pada bulan April bahwa 30 persen dari kematian tersebut adalah bunuh diri di sebuah kabupaten yang dia selidiki di Provinsi Hubei pada tahun 2008, dan angka itu adalah “konservatif.”


Penyebab utama bunuh diri, menurut Li, adalah kurangnya pensiun dasar dan kurangnya akses ke layanan medis terjangkau di daerah pedesaan yang miskin. Menurutnya, para lansia yang lumpuh akibat penyakit dan penuaan merasa putus asa dan tidak berdaya, serta takut menjadi beban bagi anak-anak mereka.

Selain sistem jaminan sosial, kebijakan satu anak PKT, yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade hingga 2016, juga disalahkan atas tantangan yang dihadapi oleh lansia di daerah pedesaan Tiongkok.

Pembatasan yang hanya mengizinkan satu anak di setiap keluarga telah menghasilkan tenaga kerja yang lebih kecil dan kapasitas ekonomi yang lebih sedikit untuk mendukung lansia, kata Cai Shenkun, seorang komentator urusan Tiongkok yang berbasis di AS dalam program “Pinnacle View” NTD.

Cai mengatakan banyak anak muda Tiongkok harus meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari nafkah dan tidak dapat merawat orang tua mereka.

“Petani lanjut usia pada dasarnya harus bertahan hidup sendiri kecuali mereka bisa mencari nafkah atau memiliki tabungan,” kata Cai.

Para ahli mengatakan bahwa petani Tiongkok adalah salah satu dari mereka yang paling banyak berkorban untuk PKT. Meskipun mereka membantu partai mendapatkan kekuasaan di Tiongkok, mereka kemudian ditekan secara ketat dalam proses urbanisasi dan industrialisasi negara itu, menurut Shi Shan, seorang pakar Tiongkok dan kontributor The Epoch Times.

Misalnya, para petani di Shaanxi utara, di mana basis PKT berada, menangani pasokan logistik militer selama tahun 1930-an dan 1940-an, sementara mengirim anak-anak dan cucu mereka untuk berperang di tentara komunis.

Dari tahun 1950-an hingga 1970-an, selama periode ekonomi terencana Tiongkok, PKT menerapkan strategi ekstraksi sumber daya dari sektor pertanian—menurunkan harga pertanian yang dikendalikan negara dengan biaya signifikan bagi penduduk tani melalui standar hidup yang lebih rendah dan bahkan kelaparan—untuk mengamankan dana modal awal bagi rezim untuk industrialisasi.

Selama beberapa dekade sejak 1980-an, para petani kehilangan tanah mereka di tengah dorongan PKT untuk urbanisasi dan telah kehilangan triliunan dolar pendapatan, kata Shi. Ini termasuk pajak pertanian, dana perumahan—dana deposit perumahan yang dikumpulkan dari pemberi kerja dan karyawan—tambahan untuk pendidikan pedesaan, biaya pengendalian kelahiran, pelatihan milisi, pembangunan jalan kota, dan berbagai pajak yang dapat dituntut oleh pemerintah daerah.

Petani menanggung beban kesenjangan mencolok dalam sistem kesejahteraan PKT, kata Shi.

“[Para petani Tiongkok] membayar paling banyak tetapi menikmati kesejahteraan sosial paling sedikit, termasuk pensiun,” kata Shi. “Tidak ada yang namanya pensiun bagi petani Tiongkok; banyak dari mereka harus bekerja di ladang untuk mencari nafkah di usia 70 dan 80 tahun.”

Biden Umumkan Paket Persenjataan Senilai Rp 6,6 Triliun untuk Ukraina dalam Panggilan Telepon dengan Zelenskyy

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, telah menyerukan dukungan militer lebih lanjut dari Barat sebagai bagian dari “rencana kemenangan” untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina

Ryan Morgan

Presiden Joe Biden menegaskan kembali dukungan AS untuk Ukraina dan mengumumkan paket bantuan militer baru senilai $425 juta atau setara Rp 6,6 Triliun selama panggilan telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 16 Oktober.

Bantuan militer baru untuk Ukraina akan mencakup kemampuan pertahanan udara tambahan, amunisi udara-ke-darat, kendaraan lapis baja, serta pengiriman “amunisi penting lainnya untuk memenuhi kebutuhan mendesak Ukraina,” menurut pernyataan Gedung Putih.

“Dalam beberapa bulan mendatang, Amerika Serikat akan menyediakan berbagai kemampuan tambahan untuk Ukraina, termasuk ratusan pencegat pertahanan udara, puluhan sistem pertahanan udara taktis, sistem artileri tambahan, sejumlah besar amunisi, ratusan pengangkut personel lapis baja dan kendaraan tempur infanteri, serta ribuan kendaraan lapis baja tambahan, yang semuanya akan membantu memperlengkapi angkatan bersenjata Ukraina,” kata Gedung Putih.

Biden dan Zelenskyy berbicara kurang dari sebulan setelah presiden Ukraina mengunjungi Amerika Serikat dan membagikan kepada Biden serta para pemimpin AS lainnya apa yang digambarkannya sebagai “rencana kemenangan” untuk Ukraina dalam perang yang sedang berlangsung dengan Rusia.

Zelenskyy sebagian besar merahasiakan rincian rencana kemenangannya selama beberapa hari dan minggu seputar kunjungannya ke Amerika Serikat pada bulan September, tetapi membagikan lebih banyak detail mengenai rencana tersebut dalam pidato publik di parlemen Ukraina pada 16 Oktober.

Rencana kemenangan tersebut mencakup permintaan baru dari Zelenskyy agar NATO memperluas status keanggotaan bagi Ukraina. Rencana Zelenskyy juga mengulangi permintaan kepada pendukung Baratnya untuk memberikan pasukan Ukraina sistem senjata jarak jauh dan izin yang sesuai untuk menggunakan senjata tersebut guna menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia.

Pemerintahan Biden enggan mengizinkan serangan Ukraina secara luas di dalam Rusia, tetapi telah mengizinkan pasukan Ukraina melakukan serangan lintas batas yang terbatas, yang menargetkan pasukan Rusia yang terlibat langsung dalam permusuhan di Ukraina.

Rencana tersebut mencakup permintaan paket pencegahan strategis non-nuklir yang komprehensif, yang diprediksi Zelenskyy akan memaksa Rusia untuk merundingkan gencatan senjata dengan syarat-syarat yang ia inginkan, atau berisiko melihat kemampuan militernya dilumpuhkan.

Sebagai bagian keempat dari rencana kemenangannya, Zelenskyy mengatakan Ukraina dapat menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Barat lainnya untuk mengekspor sumber daya alam Ukraina. 

Bagian kelima dan terakhir dari rencananya melibatkan tawaran bagi pasukan Ukraina yang berpengalaman untuk membantu misi keamanan di seluruh Eropa dan menggantikan beberapa pasukan AS yang dikerahkan di seluruh benua.

Gedung Putih mengatakan Biden dan Zelenskyy kembali membahas rencana kemenangan pemimpin Ukraina tersebut selama panggilan mereka pada hari Rabu, dan kedua pemimpin “menugaskan tim mereka untuk melakukan konsultasi lebih lanjut mengenai langkah-langkah berikutnya.”

Zelenskyy juga mengharapkan untuk membahas rencana kemenangannya secara lebih rinci dengan para pemimpin Uni Eropa pada pertemuan Dewan Eropa pada 17 Oktober.

Meskipun masih harus dilihat apakah para pendukung Barat Ukraina akan sepenuhnya menerima rencana Zelenskyy, mereka terus membahas putaran dukungan tambahan. Gedung Putih mengatakan Biden berkomitmen untuk menyelenggarakan pertemuan virtual pada November dengan para pemimpin kelompok Kontak Pertahanan Ukraina, sebuah kelompok koordinasi dari 57 negara yang memasok peralatan militer untuk Ukraina. Pertemuan tersebut akan fokus pada persiapan putaran bantuan militer internasional tambahan untuk Ukraina.

Dalam pernyataannya sendiri mengenai panggilan dengan Biden, Zelenskyy mengatakan bahwa dia juga menyampaikan perlunya dukungan pelatihan tambahan untuk pasukan Ukraina. “Kami berterima kasih kepada AS atas komitmennya untuk membantu Ukraina memperkuat posisinya guna memaksa Rusia bernegosiasi dengan itikad baik,” kata Zelenskyy. (asr)

Pria yang ‘Meninggal’ Tiga Kali dalam Kecelakaan Mengerikan dan Tetap Hidup Mengungkapkan Apa yang Dia Lihat ‘di Surga’

EtIndonesia. Seorang pria yang hampir meninggal dalam kecelakaan mobil saat berusia delapan tahun mengungkapkan apa yang dia lihat saat ia ‘pergi ke surga’.

Pada tahun 1997, Landon Kemp sedang dalam perjalanan pulang dari gereja bersama orangtuanya, Andy dan Julie, ketika mereka terlibat dalam kecelakaan mobil yang mengerikan.

Landon diterbangkan ke Carolinas Medical Center di North Carolina di mana dia harus diresusitasi dua kali, tetapi ayahnya meninggal seketika di tempat kejadian.

“Saya tidak melihat apa yang dia teriakkan. Saya tidak melihat ambulans datang. Tetapi saya ingat dia berteriak. Itulah hal terakhir yang saya dengar darinya,” kata ibunya, Julie, kepada Christian Broadcasting Network.

“Mereka tidak dapat melihat jasadnya karena kerusakan yang terjadi di sisi pengemudi mobil.

“Dan Landon duduk di belakang ayahnya. Dan ketika mereka melihat sepatu Landon, mereka pun mencari tubuhnya lebih dalam.

“Ketika mereka menarik Landon keluar dari belakang mobil, dia sudah tidak bernapas.

“Dan mereka semua langsung mulai merawatnya untuk menghidupkannya kembali”

Landon berjuang untuk hidupnya dan ‘meninggal’ dua kali lagi, tetapi dokter berhasil menyadarkannya.

Julie melanjutkan: “[Dokter] memberi tahu saya bahwa jika dia hidup, yang tampaknya tidak baik, tetapi jika dia hidup, dia akan seperti bayi berusia delapan tahun.

“Dia tidak akan bisa berjalan, berbicara, atau makan. Saya sangat putus asa sehingga [itu] tidak apa-apa, saya akan menerimanya.”

Landon secara ajaib selamat tanpa jejak kerusakan otak, dan seiring berjalannya waktu, dia memberi tahu ibunya bahwa dia untuk sementara waktu pergi ‘ke surga’ selama cobaan itu.

“Saya ingat bisa melihat ayah saya dan temannya Olan Palmer, yang meninggal kurang dari sebulan sebelum dia meninggal,” kata Landon tentang pengalamannya.

“Dan putra Olan, Neal Palmer, yang meninggal di atas kendaraan roda empat beberapa tahun sebelumnya,” lanjutnya. “Tidak seorang pun dari kami saling bicara, tetapi kami semua hanya berdiri di sana.”

Selain melihat ayahnya, Landon juga mengatakan bahwa dia melihat ‘dua anak lain’ ibunya yang mengalami keguguran. Julie mengaku tidak pernah memberi tahu putranya tentang keguguran tersebut.

“Saya tahu bahwa mereka adalah saudara kandung saya meskipun tidak seorang pun pernah memberi tahu saya tentang mereka,” kenang Landon. “Karena berada di surga, saya rasa Anda mengenal saudara kandung Anda sendiri atau Anda mengenal semua orang.”

“Rasanya seperti cuplikan film di mana Anda hanya dapat melihat bagian-bagian tertentu dari sesuatu,” lanjutnya.
Dia juga mengatakan bahwa dia bertemu Yesus, dia menyuruhnya untuk ‘menjadi orang Kristen yang baik’.(yn)

Sumber: unilad

Kepala Intelijen Taiwan: Latihan Militer Tiongkok Mengepung Taiwan Menjadi Bumerang

‘Operasi tekanan militer ini tidak bertanggung jawab, tidak proporsional, dan merusak stabilitas,’ kata Pentagon

Frank Fang – The Epoch Times

TAIPEI, Taiwan—Keputusan Partai Komunis Tiongkok untuk mengggelar latihan militer yang mengepung Taiwan berbalik merugikan. Pasalnya, reaksi internasional yang menentang langkah tersebut, menurut kepala intelijen Taiwan.

Tsai Ming-yen, Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional Taiwan, memberi penjelasan kepada legislator Taiwan di Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan pada 16 Oktober mengenai latihan militer Tiongkok “Joint Sword-2024B” yang berlangsung dua hari sebelumnya.

“Latihan militer komunis Tiongkok ini memberikan dampak negatif karena membuat komunitas internasional lebih mendukung Taiwan,” kata Tsai kepada wartawan sebelum pertemuannya.

Dalam diskusi dengan seorang legislator di pertemuan tersebut, Tsai menyoroti pernyataan Pentagon yang ia gambarkan sebagai “sangat keras” dalam mengkritik latihan militer rezim Tiongkok.

Beijing mengerahkan angkatan darat, laut, udara, dan roket dalam latihan skala besar pada 14 Oktober, mengatakan bahwa langkah militer ini dimaksudkan sebagai peringatan terhadap “tindakan separatis” di Taiwan.

Empat hari sebelumnya, ketika Taiwan merayakan Hari Nasional, Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pidato yang berjanji untuk “menolak aneksasi atau pelanggaran terhadap kedaulatan kami.”

Partai Komunis Tiongkok (PKT) memandang Taiwan sebagai provinsi yang membangkang dan telah mengancam akan merebut pulau tersebut dengan kekuatan militer. Pada Rabu, Chen Binhua, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Tiongkok, mengatakan dalam sebuah briefing rutin bahwa Beijing “tidak akan pernah berkomitmen” untuk melepaskan penggunaan kekuatan terhadap Taiwan.

Australia, Uni Eropa, Jepang, dan Inggris menyatakan kekhawatiran atas latihan militer terbaru rezim Tiongkok. Departemen Luar Negeri AS dan sekelompok anggota parlemen bipartisan juga mengkritik tindakan rezim tersebut.

“Operasi tekanan militer ini tidak bertanggung jawab, tidak proporsional, dan merusak stabilitas,” kata Pentagon dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa pidato Hari Nasional Lai adalah “pidato domestik yang rutin,” namun Beijing memilih untuk menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan “tindakan militer provokatif.”

Ketua Partai Republik dan Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS sama-sama menyampaikan kecaman mereka di platform media sosial X.

“Latihan militer PKT di sekitar Taiwan tidak lebih dari taktik intimidasi. Tidak ada yang diuntungkan dari agresi PKT di Selat Taiwan,” tulis Rep. Michael McCaul (R-Texas) pada 14 Oktober.

“Latihan militer ini di sekitar Taiwan sembrono dan saya mendesak Beijing untuk berhenti merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan melalui provokasi sepihak yang berbahaya ini,” tulis Rep. Gregory Meeks (D-N.Y.) pada 15 Oktober.

Latihan Militer

Tsai juga mengatakan kepada wartawan bahwa latihan pada hari Senin lebih singkat dan lebih kecil skalanya dibandingkan latihan militer Tiongkok serupa pada Mei, yang disebut latihan “Joint Sword-2024A” dan berlangsung selama dua hari.

Latihan pada bulan Mei terjadi hanya beberapa hari setelah Lai menyampaikan pidato pelantikannya, di mana ia mengatakan bahwa komunis Tiongkok dan Taiwan demokratis “tidak saling bergantung.”

Meskipun latihan kali ini lebih kecil skalanya, Tsai mengatakan Tiongkok mengerahkan lebih banyak aset udara.

Kementerian pertahanan Taiwan melaporkan bahwa jumlah pesawat militer Tiongkok yang berada di sekitar pulau tersebut mencapai rekor tertinggi dalam sehari, yaitu 153 pesawat dari sekitar pukul 5 pagi hari Senin hingga 6 pagi hari Selasa.

Penjaga Pantai Tiongkok juga mengirim kapal untuk misi patroli di sekitar Taiwan pada hari Senin. Menurut Tsai, Tiongkok mengerahkan total 18 kapal, termasuk 16 kapal Penjaga Pantai.

Tsai mengatakan kepada para legislator bahwa pengerahan kapal Penjaga Pantai oleh Tiongkok merupakan bagian dari taktik “zona abu-abu”. Ia mengatakan Beijing bermaksud menunjukkan bahwa mereka memiliki “kendali nyata” atas Selat Taiwan.

Selain di bidang militer, Tsai mengatakan ada medan perang terpisah pada hari Senin yang melibatkan operasi perang hukum, perang opini publik, dan perang psikologis yang dilakukan Tiongkok.

Pada Selasa, Biro Investigasi Kementerian Kehakiman Taiwan merilis laporan yang mengatakan bahwa Tiongkok sedang melakukan perang kognitif dengan menyebarkan informasi palsu secara online pada hari Senin, termasuk klaim bahwa militer Taiwan gagal merespons dengan cepat, pejabat Penjaga Pantai Taiwan minum alkohol pada Minggu malam, dan kapal yang membawa gas alam cair tidak bisa merapat di pelabuhan Taiwan.

Biro tersebut meminta rakyat Taiwan untuk waspada, dengan mencatat bahwa “kekuatan siber asing” telah mencuri akun dan kata sandi pengguna platform media sosial populer yang digunakan di Taiwan.

“Kami akan terus memperkuat komunikasi strategis dan berbagi intelijen dengan sekutu internasional kami sehingga kami dapat memahami niat politik Partai Komunis Tiongkok dan perkembangan militer terkait untuk memberikan peringatan dini dan menanggapi berbagai situasi,” kata Tsai kepada wartawan.


Reuters berkontribusi dalam laporan ini.

Video: Pria Menyelamatkan Tiga Anjing yang Terjebak di Gua Lava di Hawaii

EtIndonesia. Penyelamatan yang mengharukan di Hawaii telah menyentuh banyak orang setelah Kawika Singson yang berusia 60 tahun menyelamatkan tiga anjing yang terperangkap di sebuah gua.

Anjing-anjing itu jatuh ke dalam “gua lava” sedalam 10 m, gua bawah tanah alami yang terbentuk saat gunung berapi meletus.

Gua lava, yang terbentuk saat aliran lava membeku di bagian luar tetapi terus mengalir di bawahnya, bisa berbahaya, dengan kedalamannya yang tersembunyi dan medan yang tidak rata.

Namun, hal itu tidak menghentikan Singson, seorang petualang lokal yang dikenal karena keberaniannya. Saat mendekati gua, dia menyadari betapa seriusnya situasi tersebut — anjing-anjing itu terdampar tanpa jalan keluar.

Dilengkapi dengan kamera, Singson berhasil memfilmkan seluruh operasi penyelamatan.

Di akhir video, Singson mendesak pemilik anjing untuk melengkapi hewan peliharaan mereka dengan pelacak GPS, menekankan bahwa tanpa pelacak, anjing-anjing ini bisa hilang selamanya.(yn)

Sumber: sunnyskyz

Moskow Buka Suara Seusai Korea Utara Meledakkan Dua Jalan yang Menghubungkan Korea Selatan

EtIndonesia. Pada Selasa (15/10), Korea Utara menanam bahan peledak dan meledakkan dua jalan yang menghubungkan dengan Korea Selatan, hanya 10 meter dari garis demarkasi militer antara kedua Korea. Korea Selatan segera menembakkan tembakan peringatan sebagai respon.

Di saat ketegangan di Semenanjung Korea semakin memanas, Kremlin menyatakan bahwa Rusia dan Korea Utara telah menandatangani sebuah perjanjian pada Juni 2024 lalu, yang menormalkan “kerjasama strategis” secara komprehensif. Namun, Kremlin menolak untuk menjelaskan lebih lanjut bagaimana mengimplementasikan ketentuan pertahanan bersama yang dinyatakan dalam perjanjian tersebut.

Reuters mengutip juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian yang ditandatangani antara Rusia dan Korea Utara, kedua pihak akan melakukan kerjasama strategis di semua bidang. 

Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Korea Utara pada 19 Juni lalu, pertama kali dalam 24 tahun, dan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang untuk menandatangani “Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif Rusia-Korea Utara,” yang mencakup bantuan timbal balik dalam menghadapi agresi eksternal.

Apakah ini berarti Rusia akan mendukung Korea Utara dalam konflik di Semenanjung Korea? Apakah Korea Utara akan berdampingan dengan Rusia dalam menghadapi konflik dengan Barat? Peskov menyatakan bahwa perjanjian itu “sangat jelas” dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dia mengatakan kepada para wartawan bahwa perjanjian Rusia-Korea “mewakili kerjasama nyata antara kedua pihak di semua bidang, termasuk keamanan.” Peskov juga menyebutkan bahwa Moskow berencana menandatangani perjanjian dengan Iran, dan detail lebih lanjut akan dijelaskan setelah perjanjian itu selesai.

Menurut laporan dari kantor berita Rusia TASS dan Yonhap Korea Selatan, “Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif Rusia-Korea Utara” ditandatangani di Pyongyang pada tanggal 19 Juni 2024, dan Presiden Putin telah mengirimkan rancangan perjanjian itu ke Dewan Negara Duma pada hari Senin (14/10) untuk persetujuan parlemen, salinan sudah dipublikasikan di database legislatif Rusia. Perjanjian tersebut menyatakan bahwa akan berlaku sejak tanggal pertukaran dokumen ratifikasi dan berlaku tanpa batas waktu.

Perjanjian tersebut menetapkan bahwa kedua pihak, dengan mempertimbangkan hukum nasional dan kewajiban internasional masing-masing, akan selamanya menjaga dan mengembangkan kemitraan strategis komprehensif berdasarkan prinsip-prinsip saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah, tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri, kesetaraan dan saling menguntungkan, serta prinsip lainnya. 

Memorandum perjanjian menunjukkan bahwa Rusia dan Korea Utara berusaha mendirikan sistem internasional multipolar yang strategis dan adil. Jika salah satu pihak menghadapi ancaman agresi militer yang mendesak, dan atas permintaan salah satu pihak, kedua pihak harus segera memulai konsultasi untuk koordinasi posisi masing-masing dan mencari kesepakatan tentang tindakan timbal balik yang mungkin diambil untuk mengeliminasi ancaman tersebut.

Jika salah satu pihak berada dalam keadaan perang karena diserang oleh satu atau beberapa negara, pihak lainnya akan segera memberikan dukungan militer dan semua dukungan lainnya yang tersedia sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB dan hukum Rusia dan Korea Utara. Kedua pihak berkomitmen untuk tidak menandatangani perjanjian dengan negara ketiga yang merugikan kedaulatan, keamanan, integritas wilayah, hak pilih bebas, atau kepentingan besar lainnya dari pihak lain, dan tidak akan terlibat dalam tindakan semacam itu. Kedua pihak tidak boleh mengizinkan negara ketiga menggunakan wilayahnya untuk melanggar kedaulatan, keamanan, atau integritas wilayah masing-masing.

Kim Jong-un dan Putin Saat Berkunjung ke Korea Utara

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, pada Senin (14/10) secara terbuka menuduh Korea Utara tidak hanya menyediakan senjata bagi pasukan Rusia yang ditempatkan di Ukraina untuk berperang, tetapi bahkan juga mengirimkan personel militer, dan menyatakan bahwa agen intelijen Ukraina telah melaporkan kepadanya tentang “partisipasi aktual Korea Utara dalam perang di Ukraina.”

Profesor Kim Seun-rae (transliterasi-red) dari Universitas Bahasa Asing Korea, dalam wawancara dengan “Arirang News” milik negara, menyatakan bahwa sejak tahun 2019, Korea Utara terus menghadapi sanksi komprehensif dari PBB, dan perjanjian kerjasama strategis Rusia-Korea memberikan kesempatan besar bagi Korea Utara, Pyongyang mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan dengan membentuk aliansi militer dengan Rusia, yang tentu saja menguntungkan secara strategis. Dia mengatakan bahwa perjanjian ini memiliki dampak besar bagi keamanan Semenanjung Korea, Rusia mungkin adalah satu-satunya negara yang saat ini mampu menghentikan provokasi dan ancaman militer Korea Utara. Korea Utara saat ini menyediakan dukungan militer bagi pihak Rusia dalam perang di Ukraina, dan sulit bagi dunia luar untuk memperkirakan apakah Korea Utara akan lebih terlibat dalam perang Rusia-Ukraina.(jhn/yn)

Liam Payne, Mantan Vokalis One Direction, Meninggal Dunia di Usia 31 Tahun Setelah Jatuh dari Hotel di Argentina

Penyanyi-penulis lagu asal Inggris ini meraih ketenaran melalui acara ‘X Factor’ dan merupakan anggota dari salah satu boy band terlaris sepanjang masa

Elma Aksalic

Mantan bintang “One Direction” Liam Payne pada Rabu (16/10/2024) meninggal dunia pada usia 31 tahun setelah jatuh dari balkon hotel di Buenos Aires, Argentina.

Pablo Policicchio, juru bicara Kementerian Keamanan kota Buenos Aires, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Payne “melompat dari balkon kamarnya” di Hotel Casa Sur. 

Dalam sebuah pidato yang disiarkan di saluran TV “Todo Noticias” Argentina, Alberto Crescenti, kepala sistem medis darurat negara bagian, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi di halaman hotel.

“Kami menerima laporan tentang seseorang yang berada di halaman dalam Hotel Casa Sur. [Tim penyelamat] tiba dan mengonfirmasi kematian pria tersebut,” kata Crescenti. 

“Kami kemudian mengetahui bahwa dia adalah seorang penyanyi dalam sebuah grup musik. Sayangnya, dia mengalami luka-luka yang tidak dapat diatasi karena jatuhnya, sehingga kami harus mengonfirmasi kematiannya. Tidak ada kemungkinan resusitasi.”

Policicchio mengatakan bahwa polisi tiba di lokasi setelah menerima panggilan 911 dari manajer hotel yang melaporkan “seorang pria agresif yang mungkin berada di bawah pengaruh obat-obatan atau alkohol.” Pihak berwenang Argentina saat ini sedang menyelidiki keadaan di sekitar kematiannya dan menunggu hasil otopsi.

Sekitar sejam sebelum insiden tersebut, penyanyi ini memposting serangkaian foto di akun Snapchat-nya bersama pacarnya. Payne dilaporkan berada di negara tersebut untuk menghadiri konser mantan rekan bandnya, Niall Horan, yang sedang tur di Amerika Latin.

Pada tahun 2021, penyanyi ini mengatakan kepada TMZ bahwa ia berjuang melawan kecanduan alkohol dan obat-obatan, serta menyatakan bahwa godaan yang datang dengan ketenaran memengaruhi kesehatan mentalnya. 

Dalam sebuah video yang diposting di akun YouTube-nya dua tahun kemudian, Payne berbicara tentang pengalamannya dan keputusannya untuk menjadi sadar, menjelaskan bahwa ia menghabiskan 100 hari di fasilitas rehabilitasi di Louisiana.

Lahir pada tahun 1993 di Wolverhampton, Inggris, penyanyi-penulis lagu asal Inggris ini meraih ketenaran pada tahun 2010, setelah mengikuti audisi untuk acara kompetisi musik televisi Inggris “The X Factor.” One Direction kemudian dibentuk oleh juri Simon Cowell, yang menggabungkan Payne dengan kontestan lainnya, Harry Styles, Niall Horan, Louis Tomlinson, dan Zayn Malik.

Mereka kemudian menjadi salah satu boy band terlaris sepanjang masa, menjual lebih dari 50 juta rekaman dan mengadakan ratusan konser yang terjual habis di seluruh dunia. 

Band ini mengumumkan hiatus pada tahun 2015, dan Payne melanjutkan karier solonya, merilis lagu hits “Strip That Down” pada tahun 2017 dan album “LP1” pada tahun 2019.

Payne meninggalkan seorang putra berusia 7 tahun dari mantan pacarnya, musisi Cheryl Cole, serta orang tuanya dan dua saudara perempuannya. Associated Press berkontribusi dalam laporan ini.

Mata-mata Beijing Membuat Mata-mata Soviet Terlihat Kecil, Wall Street Journal: “Mengerikan”

EtIndonesia. Menurut laporan Wall Street Journal pada tanggal 14, sejak Presiden Xi Jinping berkuasa pada tahun 2012, pentingnya keamanan nasional semakin ditekankan. Pemerintah mengajak para pejabat dan warga negara untuk waspada terhadap ancaman atas kepentingan Tiongkok, dan telah memicu upaya pengumpulan informasi yang luas dan berkelanjutan, yang menurut ukuran dan durasinya membuat aktivitas mata-mata Uni Soviet selama Perang Dingin tampak kecil dan tidak berarti. Khususnya dalam kondisi ekonomi yang sedang lesu, tingkat mobilisasi institusi keamanan Tiongkok, perusahaan swasta, dan masyarakat umum telah meningkat, dengan tujuan untuk merusak negara pesaing guna meningkatkan ekonomi sendiri.

Tiongkok, yang bertanggung jawab atas pengumpulan informasi dan operasi keamanan, diperkirakan memiliki hingga 600.000 personel. Menurut FBI, jumlah hacker yang didukung pemerintah Beijing setidaknya 50 kali lipat dari jumlah seluruh personel cyber FBI. Direktur Christopher Wray sebelumnya telah menyatakan secara langsung bahwa program peretas Tiongkok sudah lebih besar dari gabungan semua negara utama lainnya. 

Sebuah institusi Eropa memperkirakan bahwa jumlah orang Tiongkok yang bertanggung jawab atas pengumpulan intelijen dan operasi keamanan saat ini mungkin mencapai 600.000 personel. Dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat, ada risiko kegiatan jahat ini semakin meningkat, karena lembaga intelijen Tiongkok akan menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mencuri inovasi yang diperlukan untuk meningkatkan ekonomi Tiongkok dan menekan kritikus domestik dan internasional.

Agensi intelijen Barat tidak dapat mengekang aktivitas Tiongkok, sehingga mereka malah terbuka mengajak perusahaan dan individu untuk tetap waspada saat berinteraksi dengan Tiongkok. Namun, Calder Walton, ahli keamanan nasional dari Kennedy School of Government di Harvard, berpendapat bahwa karena Tiongkok telah terintegrasi secara mendalam dalam ekonomi global, tindakan ini akan sia-sia, dan pemerintah Barat sebagian besar hanya dapat dipaksa untuk menerima. Salah satu alasan mengapa Barat sulit melakukan pembalasan yang efektif adalah karena perdagangan dengan Beijing selama beberapa dekade terakhir telah mendukung pertumbuhan ekonomi dan keamanan jangka panjang mereka, dan sebagian besar negara tidak mampu menanggung konsekuensi dari sanksi terhadap Tiongkok atau pengusiran diplomatnya.

Wall Street Journal menggambarkan aktivitas mata-mata Tiongkok sebagai sesuatu yang tidak dapat dipercaya dan menakutkan. Hanya dalam bulan lalu, AS telah mengungkapkan beberapa aktivitas mata-mata besar dari Tiongkok, termasuk FBI yang menuduh sebuah perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemerintah Beijing, telah meretas hingga 260.000 perangkat jaringan di AS, Inggris, Prancis, Rumania, dan wilayah lain, termasuk kamera dan router. Selain itu, sebuah penyelidikan Kongres AS juga menemukan bahwa crane yang diproduksi oleh Tiongkok dan digunakan di pelabuhan AS telah dimodifikasi untuk memungkinkan kontrol rahasia oleh Tiongkok. Mantan wakil kepala staf keturunan Tionghoa dari Gubernur New York, Kathy Hochul, juga dituduh sebagai agen Tiongkok.

Selain itu, AS pada bulan September juga menuduh bahwa pada Agustus tahun lalu, selama latihan Garda Nasional, lima mahasiswa Tiongkok yang saat itu sedang belajar di Universitas Michigan, terdeteksi masuk ke area kamp dan mengambil foto saat Garda Nasional sedang melatih tentara Taiwan. FBI juga telah memperingatkan bahwa Tiongkok telah meretas ratusan router di AS, yang digunakan untuk menembus sistem pasokan air dan energi AS, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa infrastruktur AS mungkin akan diserang secara pre-emptive jika AS mengintervensi klaim kedaulatan Tiongkok atas Taiwan.

Pejabat intelijen Barat menyatakan bahwa mata-mata Tiongkok sering kali bertindak di luar norma, seperti tidak peduli apakah mereka akan tertangkap di tempat. Berbeda dengan Rusia, Beijing juga jarang mencoba mengganti mata-matanya yang telah ditangkap. Faktor lain yang menghambat Barat melakukan pembalasan adalah bahwa operasi intelijen Tiongkok melibatkan banyak institusi dan perusahaan swasta, dan sebagian besar beroperasi secara independen, sehingga sulit bagi pihak luar untuk menembusnya. Di sisi lain, metode intelijen Tiongkok juga kurang terencana, tampaknya negara dan pelaku swasta tidak benar-benar mengikuti tujuan keseluruhan yang ditetapkan oleh pejabat tinggi.

Jerman dan Inggris Ungkap Teror Mata-Mata Beijing

Menurut laporan Newsweek dan Voice of America, pada 12 Februari, lembaga intelijen Norwegia dalam dokumen yang diterbitkan menyatakan bahwa tindakan Tiongkok mencakup intelijen politik dan kegiatan spionase industri, dengan dunia maya sebagai portal utamanya.

Lembaga intelijen Norwegia menyatakan bahwa departemen intelijen Tiongkok menggunakan serangkaian alat umum dan infrastruktur digital sambil menyembunyikan jejak aktivitasnya, dan beroperasi di seluruh Eropa.

Diketahui bahwa departemen intelijen Tiongkok tidak hanya bertindak sendiri tetapi juga mendapatkan bantuan dari diplomat, delegasi turis, individu, perusahaan, dan kelompok kepentingan khusus.

Selain itu, departemen intelijen Tiongkok juga bergantung pada hubungan dekat dengan perusahaan Tiongkok. Menurut hukum Tiongkok, semua warga negara dan perusahaan Tiongkok wajib membantu pemerintah dalam mengumpulkan intelijen ketika diminta.

Pemerintah Norwegia memperingatkan bahwa Barat menghadapi situasi keamanan yang lebih berbahaya daripada tahun lalu, terutama karena Tiongkok, Rusia, dan organisasi radikal yang didukung Iran seperti Hamas, telah menantang tatanan dunia saat ini.

Mantan Pejabat Intelijen Inggris: Risiko Jangka Panjang dari Kegiatan Mata-Mata Beijing Telah Melampaui Rusia

Mantan Direktur Operasi dan Intelijen MI6, Nigel Inkster, menyatakan bahwa aktivitas mata-mata Tiongkok telah menimbulkan risiko jangka panjang bagi Inggris, bahkan lebih besar daripada aktivitas terkait Rusia.

Inkster memperingatkan bahwa saat ini, komunitas intelijen Inggris kekurangan tenaga ahli tentang Tiongkok yang cukup untuk menghadapi risiko terkait, seperti pemahaman tentang Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok, atau kemampuan bahasa Mandarin.

Situasi ini sebagian disebabkan oleh era “Golden Age” hubungan antara Inggris dan Tiongkok yang dulu didorong oleh Pemerintah Inggris. Inkster menyatakan, dalam suasana era tersebut, sangat sulit untuk mengharapkan pemerintah untuk secara aktif mencermati kegiatan rahasia Tiongkok.

Inkster menyebutkan bahwa meskipun kegiatan intelijen individu Tiongkok mungkin tidak seagresif aksi individu Rusia, efek kumulatif dari aktivitas Beijing secara strategis telah membuat Inggris lebih khawatir dibandingkan dengan Rusia.

Meskipun Tiongkok tidak seantusias Rusia dalam melakukan aksi pembunuhan, menurut analisis Inkster, ini bukan karena pertimbangan moral dari pihak Tiongkok, melainkan karena Beijing saat ini menilai bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan kepentingan mereka. 

Inkster khusus menekankan bahwa tuduhan Beijing terhadap mata-mata asing dapat digunakan untuk propaganda domestik untuk memperkuat penguasaan Partai Komunis Tiongkok, dengan logika bahwa jika ada sesuatu yang salah, itu pasti bukan kesalahan Partai Komunis Tiongkok, jadi pasti kesalahan orang lain.

Pada 16 Desember 2023, menurut laporan Deutsche Welle, edisi terbaru majalah Jerman “Der Spiegel” menulis artikel yang mendata tentang infiltrasi luas lembaga mata-mata Tiongkok di semua sektor masyarakat Jerman.

Berbeda dengan mata-mata Rusia yang secara terang-terangan melakukan aksi pembunuhan di negara Barat, mata-mata atau peretas Tiongkok hampir tidak mengambil langkah radikal; mereka juga tidak akan, seperti peretas Rusia yang mengungkap bukti merugikan terhadap politisi tertentu selama pemilihan besar di negara Barat, melainkan fokus pada tujuan jangka panjang dengan terus-menerus memata-matai informasi secara diam-diam dan jangka panjang.

“Der Spiegel” mengutip laporan dari berbagai think tank yang menyatakan bahwa metode diam-diam agen intelijen Tiongkok ini, dalam jangka panjang, memiliki kekuatan perusak yang tidak kecil.

Menurut survei yang dilakukan oleh Mercator Institute for China Studies (MERICS) di Jerman terhadap lebih dari seribu perusahaan Jerman, hasilnya menunjukkan bahwa hanya tahun lalu saja, sekitar 730 perusahaan yang disurvei melaporkan telah diserang oleh peretas, di mana 42% dapat dipastikan setidaknya mengalami satu serangan dari Tiongkok. (jhn/yn)

Tensi Semenanjung Korea Memanas! 1,4 Juta Pemuda Korea Utara Bergabung dengan Militer? Begini Analisis Media Asing…

oleh Yang Tianzhi

Belakangan ini, Korea Utara terus meningkatkan ketegangan dengan Korea Selatan, sebelumnya pada  Selasa (15/10) bahkan meledakkan sebagian jalur kereta api yang menghubungkan kedua Korea. Seorang sumber dari militer Korea Selatan menyatakan bahwa Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, Kim Myung-soo, membatalkan rencana perjalanannya ke Amerika untuk bersiap menghadapi lebih lanjut provokasi yang mungkin dilakukan oleh Korea Utara. 

Di saat ketegangan di Semenanjung Korea semakin memburuk, Korea Utara juga mengklaim bahwa lebih dari satu juta pemuda telah bergabung dengan militer dalam dua hari.

Ketegangan antara Dua Korea Memanas, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan Membatalkan Kunjungan ke Amerika

Yonhap News Agency mengutip beberapa sumber yang melaporkan bahwa Kim Myung-soo awalnya berencana ke Amerika Serikat pada tanggal 15 untuk menghadiri sebuah konferensi tingkat tinggi, namun mengingat kemungkinan Korea Utara melakukan provokasi lebih lanjut seperti meledakkan jalur kereta api antara dua Korea, dia memutuskan untuk tetap di dalam negeri dan mengikuti pertemuan melalui video.

Belakangan ini militer Korea Utara mengumumkan akan memutus semua transportasi darat dengan Korea Selatan, dan pada Selasa siang 15 Oktober, mereka meledakkan bagian dari jalur Gyeongui dan Donghae di utara Military Demarcation Line (MDL), yang memicu peringatan tembakan dari militer Korea Selatan. 

Otoritas Korea Selatan kemudian mengutuk Korea Utara karena melanggar perjanjian gencatan senjata antara dua Korea.

 Korea Utara sebelumnya menuduh Korea Selatan menerbangkan drone di atas Pyongyang dan memperingatkan akan mengambil tindakan serangan jika hal tersebut terjadi lagi, namun pemerintah Korea Selatan telah membantah hal ini. Korea Utara kerap memprovokasi dengan menggunakan alasan ini, sehingga kembali meningkatkan ketegangan di perbatasan.

Penting untuk dicatat bahwa tempat-tempat wisata resmi seperti Observatorium Gunung Dora dan Desa Penyatuan di Gyeonggi-do yang dekat dengan perbatasan dua Korea sempat dihentikan, namun pada Rabu pagi 16 Oktober diumumkan akan dibuka kembali.

Sangat berbeda dari insiden tahun 2020 ketika Korea Utara meledakkan kantor penghubung antara dua Korea di kawasan industri Kaesong, media resmi Korea Utara dengan cepat melaporkan pada hari itu dan keesokan harinya. 

Namun, media dalam dan luar negeri Korea Utara kali ini belum melaporkan peristiwa peledakan dua jalur kereta api sehari sebelumnya, tampaknya tidak ingin mengumumkan pemutusan jalur kereta api, yang memicu spekulasi dari luar.

Hong Min, peneliti dari Institut Unifikasi Nasional Korea, menganalisis bahwa Korea Utara sekarang berniat menggunakan alasan invasi drone untuk menunjuk Korea Selatan sebagai musuh, “Dalam situasi ini, mereka mungkin merasa lebih menguntungkan untuk pemerintah jika tidak memberitahu publik bahwa Korea Utara telah mengambil langkah tegas seperti meledakkan jalur kereta api.”

Beberapa analis juga berpikir bahwa pihak Pyongyang mungkin merasa bahwa media internasional telah banyak melaporkan pengawasan militer Korea Selatan yang menangkap gambar ledakan, yang telah mencapai efek propagandanya.

Provokasi Korea Utara Terus Meningkat, Klaim 1,4 Juta Pemuda Bergabung dengan Militer

Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan pada Rabu (16/10) bahwa sekitar 1,4 juta pemuda telah bergabung atau kembali ke Tentara Rakyat Korea Utara minggu ini, termasuk pelajar dan pejabat organisasi pemuda, dan menyatakan bahwa para pemuda bertekad untuk bergabung dalam “perang suci untuk melenyapkan musuh dengan senjata revolusioner.”

Reuters melaporkan bahwa media Korea Utara tahun lalu juga menyebutkan hal serupa, mengklaim bahwa warga negara secara sukarela bergabung dengan militer untuk melawan Amerika Serikat.

Korea Utara dan Korea Selatan telah berkonflik sejak Mei tahun ini karena masalah balon sampah yang dilepaskan Korea Utara; Korea Utara menyatakan bahwa ini adalah balasan terhadap aktivis Korea Selatan yang melepaskan balon propaganda anti-Pyongyang.

KCNA menyatakan, “Jika perang terjadi, Korea Selatan akan menghilang dari peta. Karena mereka (Korea Selatan) ingin berperang, kami dengan senang hati akan mengakhiri keberadaannya.”

Sebenarnya, Pyongyang telah beberapa kali mengeluarkan pernyataan provokatif belakangan ini, selain mengecam Korea Selatan telah tiga kali menjatuhkan pamflet di atas Pyongyang dengan drone, juga memperingatkan akan merespons dengan kekuatan militer jika hal itu terjadi lagi.

Saudara perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong, baru-baru ini juga menyatakan bahwa mereka memiliki bukti yang membuktikan bahwa Korea Selatan adalah dalang di balik insiden drone tersebut, dan Seoul akan “membayar harga yang tinggi.”

Media Korea Utara juga melaporkan bahwa Kim Jong-un pada 14 Oktober lalu memimpin rencana “operasi militer” dalam rapat keamanan nasional, dan militer Korea Utara sebelumnya juga mengklaim bahwa pasukan di garis depan telah siap untuk menembak, ingin mengubah Korea Selatan menjadi “abu.”

Pada tahun 2000-an, ketika hubungan Korea Utara dan Korea Selatan mereda, kedua belah pihak menghubungkan kembali dua jalur kereta api di perbatasan, yang kemudian dihentikan karena perselisihan tentang program nuklir Pyongyang. 

Pekan lalu, Korea Utara mengumumkan akan secara permanen menutup perbatasan dengan Korea Selatan dan menempatkan penghalang anti-kendaraan, menanam ranjau, serta melepas lampu jalan di sepanjang jalan, dan juga telah melakukan serangkaian uji coba misil dalam beberapa tahun terakhir.

Agence France-Presse mengatakan bahwa jalan penghubung antara dua Korea sudah lama ditutup, tetapi tindakan penghancuran mengirimkan pesan yang jelas, menunjukkan bahwa Kim Jong-un tidak berniat untuk berunding dengan Korea Selatan.

Associated Press: Tindakan simbolis

Korea Utara meledakkan jalur kereta api Gyeongui dan Donghae. yang menghubungkan kedua Korea pada Selasa (15/10), Menurut Associated Press, bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tidak mungkin melancarkan serangan pre-emptive berskala besar ke Korea Selatan, karena Amerika Serikat dan Korea Selatan memiliki kekuatan yang lebih unggul, dan pembalasan berskala besar akan mengancam keberlangsungan hidup Pyongyang, karena itu pengeboman jalan tersebut dianggap sebagai sebuah tindakan simbolis untuk mengekspresikan kemarahan yang semakin meningkat terhadap rezim konservatif di Korea Selatan.

Korea Utara memiliki sejarah kelam dalam menghancurkan fasilitas di wilayahnya sendiri sebagai cara untuk mengirimkan pesan politik: pada tahun 2020, Korea Utara meledakkan gedung perkantoran Korea Selatan yang tidak terpakai di sebelah utara perbatasan sebagai pembalasan atas selebaran udara dari Korea Selatan; pada tahun 2018, pada tahap awal diplomasi nuklir Pyongyang dengan Washington, Korea Utara meledakkan terowongan tempat uji coba nuklir Punggye-ri dan membongkar beberapa fasilitasnya; dan pada tahun 2008, ketika Korea Utara bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan pihak lainnya mengenai pelucutan senjata untuk pertukaran bantuan. Pada tahun 2008, Korea Utara juga meledakkan menara pendingin fasilitas nuklir utamanya selama negosiasi perlucutan senjata untuk bantuan dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Pengeboman jalur kereta api yang dibangun dengan uang Korea Selatan ini menggemakan perintah Kim Jong-un pada bulan Januari agar Korea Utara meninggalkan tujuan reunifikasi secara damai, dan seruannya untuk melakukan amandemen konstitusi untuk menjadikan Korea Selatan sebagai “musuh utama yang tidak akan pernah berubah”. Hal ini mengejutkan Barat, karena ini sama saja dengan menghancurkan impian Kim Jong-il dan para pendahulunya untuk menyatukan Semenanjung Korea secara damai.

Para ahli percaya bahwa langkah Kim Jong-un dimaksudkan untuk melemahkan suara Korea Selatan dalam kebuntuan nuklir regional, mencari kesepakatan langsung dengan Washington dan diharapkan dapat mengurangi pengaruh budaya Korea Selatan. (jhon)

Hanya dalam Satu Bulan, Restoran TGI Fridays Menutup Beberapa Rantai Restoran di Seluruh Amerika Serikat

EtIndonesia. Rantai restoran terkenal Amerika “TGI Fridays” (singkatan dari Fridays, diterjemahkan dalam bahasa Kanton sebagai American Friday Restaurant) telah menutup 12 restoran di Amerika Serikat dalam bulan terakhir. Selain itu, rantai restoran Amerika yang berfokus pada makanan santai ini juga telah menutup 35 restoran di seberang Atlantik. 

Menurut informasi lokasi pada situs web perusahaan, minggu lalu Fridays menutup beberapa restoran di wilayah Timur Laut, termasuk di Clifton Park, Middletown, dan Poughkeepsie di New York, Allentown di Pennsylvania, Enfield di Connecticut, dan Leesburg di Virginia. 

Awal bulan ini, Fridays juga menutup beberapa gerai di wilayah Tenggara dan Midwest, melibatkan negara bagian seperti North Carolina, South Carolina, Wisconsin, Michigan, dan Indiana. Selain itu, ada dua toko yang ditutup di Minnesota.

Menurut laporan Sky News Inggris pekan lalu, operator Inggris dari rantai restoran yang terutama menyajikan makanan ala Amerika dan santapan santai, Hostmore, mengajukan kebangkrutan pada bulan September dan kemudian sejumlah pengusaha mencapai kesepakatan akuisisi dengan Fridays, mengakuisisi 51 toko dan menyelamatkan pekerjaan hampir 2.400 karyawan.

Namun, 35 restoran tidak termasuk dalam kesepakatan akuisisi tersebut dan harus segera ditutup, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 karyawan dipecat.

Fox News mencoba menghubungi Fridays untuk memberikan komentar tentang penutupan restoran baru-baru ini tetapi tidak mendapat respons. 

Pada Januari lalu, Fridays menutup 36 restoran lain yang “berkinerja buruk”, mengklaim bahwa ini adalah bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang mereka, bertujuan untuk memastikan kelangsungan hidup mereka.

Selain itu, Fridays juga menjual delapan restoran yang dikelola sendiri kepada mantan CEO Ray Blanchette pada bulan tersebut, mengatakan era transformasi ini akan membantu mendorong pendapatan berkelanjutan untuk rantai.

“Kami telah menemukan peluang untuk mengoptimalkan dan menyederhanakan operasi kami untuk memastikan kami dapat memenuhi dan melampaui janji merek dengan kondisi terbaik,” kata Ray Risley, Chief Operating Officer Fridays, dalam siaran pers sebelumnya.

“Dengan memperkuat model waralaba kami dan menutup toko yang berkinerja buruk,” katanya, “Kami sedang menciptakan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk Fridays untuk memajukan visi masa depannya.” 

Fridays adalah perusahaan waralaba yang telah menyediakan layanan makanan di Amerika Serikat selama lebih dari lima puluh tahun. Informasi dari situs web menunjukkan bahwa saat ini Fridays memiliki lebih dari 600 cabang di 55 negara, di mana 233 berada di Amerika Serikat, sebagian besar dimiliki oleh pemegang waralaba. 

Seiring dengan perubahan perilaku konsumen, inovasi digital, dan munculnya platform pengiriman baru, industri restoran tradisional telah mengalami dampak selama dekade terakhir. Restoran santai seperti Fridays, Applebee’s, dan Chili’s terkena dampak terberat. (jhn/yn)

Perwira Militer Ukraina: Sejumlah Besar Tentara Korut Melarikan Diri di Perbatasan Rusia-Ukraina

Baru-baru ini, seorang perwira militer senior Ukraina menyatakan bahwa di perbatasan Rusia-Ukraina terjadi peristiwa pelarian besar-besaran tentara Korea Utara, dan pasukan Rusia sedang mengejar mereka

oleh Luo Tingting

Pada 15 Oktober, seorang pejabat senior militer Ukraina mengatakan kepada publik bahwa di wilayah perbatasan dekat wilayah Bryansk, Rusia, yang berbatasan dengan Ukraina, terjadi peristiwa pelarian besar-besaran tentara Korea Utara. Tentara tersebut diyakini baru-baru ini dikirim untuk membantu Rusia.

Menurut laporan “Chosun Ilbo” pada 16 Oktober, yang mengutip informasi dari pejabat tinggi militer Ukraina, “Kami menerima informasi intelijen bahwa 18 tentara Korea Utara melarikan diri di sekitar 7 kilometer barat laut perbatasan Ukraina, antara wilayah Bryansk dan Kursk di Rusia. Pasukan Rusia sedang mengejar mereka.”

“Tampaknya mereka belum tertangkap,” tambah pejabat tersebut, “militer setempat Rusia berusaha menyembunyikan fakta ini dari atasan mereka.” 

Belum diketahui secara pasti afiliasi para tentara Korea Utara itu dan alasan pelarian mereka.

Jika laporan ini benar, maka menunjukkan bahwa Rusia menerima dukungan dari Korea Utara, selain amunisi dan rudal, juga berupa pasukan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pidato video pada 13 Oktober mengatakan, “Korea Utara tidak hanya menyediakan senjata untuk Rusia, tetapi juga tenaga manusia.”

Media Ukraina, Kyiv Post dan Riga Net, melaporkan bahwa “Korea Utara telah mengirim hingga 10.000 tentara dan personel ke Rusia,” dengan sekitar 3.000 di antaranya baru-baru ini dikerahkan ke Brigade Serangan Udara ke-11 Rusia yang sedang disusun ulang di wilayah perbatasan Rusia-Ukraina.

Diperkirakan bahwa para tentara Korea Utara yang melarikan diri kemungkinan besar berasal dari unit tersebut.

Washington Post melaporkan pada 12 Oktober bahwa “ribuan infanteri Korea Utara sedang dilatih di Rusia dan kemungkinan akan dikerahkan ke garis depan Ukraina sebelum akhir tahun ini.”

Media dari Inggris, The Guardian  melaporkan pada 10 Oktober bahwa “telah dikonfirmasi bahwa Korea Utara telah mengirim sejumlah insinyur militer ke garis depan Ukraina untuk mendukung pengoperasian rudal balistik buatan Korea Utara.”

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Yong-hyeon, pada 9 Oktober menyatakan di parlemen bahwa sangat mungkin Korea Utara mengerahkan pasukan reguler ke Ukraina untuk membantu Rusia.

 “Saya pikir kemungkinan besar Korea Utara mengirim pasukan reguler ke Ukraina sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani dengan Rusia,” kata Kim, menambahkan bahwa laporan tentang kematian perwira Korea Utara di wilayah Donbass yang dikuasai Rusia kemungkinan besar benar.

Pada 4 Oktober, Badan Intelijen Ukraina mengumumkan bahwa terjadi serangan rudal di dekat Donetsk, wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, yang menewaskan enam perwira Korea Utara dan melukai setidaknya tiga tentara. Dilaporkan bahwa mereka sedang mengamati pelatihan militer Rusia.

Pada Juni tahun ini, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan dan menandatangani “Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif.”

Tahun lalu, badan intelijen Ukraina merilis laporan bahwa satu unit kecil personel militer Korea Utara, terutama pasukan insinyur, telah tiba di wilayah pendudukan Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin membantah klaim tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menyatakan bahwa laporan tentang Korea Utara mengirim tentara ke Rusia adalah berita palsu.

BBC Inggris melaporkan bahwa tidak dapat dikesampingkan kemungkinan keterlibatan tentara Korea Utara dalam perang Rusia-Ukraina, karena Pyongyang membutuhkan dana dan teknologi, sementara Moskow membutuhkan tentara dan amunisi. Kedua belah pihak tertarik untuk mengembangkan kerja sama militer.

Korea Utara menerapkan sistem wajib militer untuk seluruh warga negara, dan menurut data Institut Studi Strategis Internasional, pada tahun 2018, angkatan bersenjata Korea Utara berjumlah sekitar 1,2 juta personel, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia.

BBC juga melaporkan bahwa banyak unit militer Korea Utara mirip dengan resimen konstruksi era Soviet. Tentara Korea Utara ini dapat membangun infrastruktur militer di garis belakang, seperti gudang bawah tanah dan benteng pertahanan, jalan, dan jembatan, sehingga tentara Rusia dapat mengerahkan lebih banyak personel ke garis depan. (Hui)

Gempa Magnitudo  5.9 Guncang Turki, Bangunan Rusak, dan Berdampak ke Suriah

EtIndonesia. Badan Manajemen Bencana dan Darurat Turki (AFAD) melaporkan bahwa sebuah gempa bumi berkekuatan magnitudo 5.9 terjadi di Provinsi Malatya di timur negara itu pada hari Rabu (16/10), menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan, tetapi tidak ada laporan tentang cedera serius atau kerusakan besar.Negara tetangga, Suriah, juga merasakan gempa tersebut. 

Pusat Seismologi Eropa-Mediterania menilai bahwa gempa itu berkekuatan magnitudo 6.1 dengan kedalaman 9 kilometer (5.6 mil) di bawah tanah. 

Menteri Dalam Negeri Turki Ali Yerlikaya mengatakan kepada wartawan bahwa tiga bangunan sebagian runtuh. AFAD menyatakan bahwa gempa terjadi pada pukul 10:46 pagi hari Rabu, dengan episentrum berada sekitar 40 kilometer timur dari ibu kota provinsi Malatya, distrik Kale. Tim keamanan AFAD, polisi, dan pasukan gendarmerie melakukan pemeriksaan di seluruh wilayah, termasuk Provinsi Diyarbakir, Sanliurfa, Elazig, Batman, dan Tunceli.

Yerlikaya mengatakan bahwa hampir 190 orang di enam provinsi tersebut menerima perawatan di rumah sakit yang berkaitan dengan gempa, dengan 43 orang masih diobservasi. 

Meskipun gempa tersebut tidak menyebabkan kerusakan besar, tetapi telah memicu kepanikan yang luas. Orang-orang di seluruh wilayah bergegas keluar dari rumah dan kantor mereka dalam keadaan panik. 

Lebih dari satu jam setelah gempa, banyak yang masih berada di jalan dan taman, enggan untuk kembali ke dalam. 

Otoritas memerintahkan penutupan sekolah di Provinsi Malatya dan Elazig. 

Kantor berita nasional Suriah melaporkan bahwa provinsi tetangga di Suriah, seperti Hasakah, Deir al-Zor, dan Aleppo, juga merasakan gempa tersebut. Provinsi Malatya di Turki telah mengalami kerusakan parah akibat gempa berkekuatan magnitudo 7.8 yang terjadi pada tanggal 6 Februari 2023. Gempa tersebut menyebabkan lebih dari 53.500 orang tewas di Turki dan hampir 6.000 orang tewas di negara tetangga, Suriah. (jhn/yn)