Para Ahli Menganalisis Tentang Sistem Pertahanan Udara Iran yang Dibantu Partai Komunis Tiongkok Saat Serangan AS-Israel 

EtIndonesia. Baru-baru ini, senat Amerika Serikat menolak sebuah resolusi yang bertujuan membatasi kewenangan perang Presiden Donald Trump dengan hasil pemungutan suara 53 berbanding 47. Resolusi tersebut mengusulkan penghentian serangan udara terhadap Iran dan menuntut agar setiap tindakan militer terhadap Iran harus mendapat persetujuan dari Kongres. Namun pada akhirnya resolusi itu ditolak.

Sementara itu, sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Operasi tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei serta hampir 50 pejabat tinggi Iran lainnya.

Pengamat kemudian menemukan bahwa radar dan sistem pertahanan udara buatan Tiongkok yang digunakan Iran dalam perang tersebut ternyata tidak mampu berfungsi efektif, sehingga memicu perdebatan luas.

Sistem pertahanan tidak mampu mendeteksi dan mencegat

Dalam perang tersebut, pasukan pertahanan udara Iran menggunakan jaringan pertahanan yang terdiri dari sistem buatan Rusia, sistem produksi dalam negeri, serta sistem buatan Tiongkok.

Namun kenyataannya menunjukkan bahwa radar dan peralatan pertahanan udara buatan Tiongkok tidak mampu mendeteksi maupun mencegat serangan ketika menghadapi teknologi perang elektronik dan pesawat siluman milik militer AS.

Direktur Institute for National Defense and Security Research di Taiwan, Su Tzu-yun, menjelaskan tiga alasan utama:

  1. Sistem pertahanan udara Iran berasal dari Rusia, Tiongkok, dan buatan Iran sendiri, sehingga tingkat kompatibilitasnya rendah.
  2. Radar utama telah dihancurkan oleh serangan AS dan Israel, sehingga rudal pertahanan udara kehilangan panduan.
  3. AS dan Israel menggunakan “soft kill” melalui perang elektronik untuk mengacaukan sistem, lalu melakukan “hard kill” dengan serangan udara-ke-darat untuk menghancurkannya.

Radar yang diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman gagal total

Dalam pertempuran tersebut, Iran mengerahkan radar peringatan dini jarak jauh YLC-8B buatan Tiongkok yang diklaim memiliki kemampuan kuat untuk mendeteksi pesawat siluman, serta sistem pertahanan udara seri Hongqi (HQ).

Sebelumnya pihak Tiongkok mengklaim bahwa sistem tersebut mampu mendeteksi pesawat tempur siluman canggih seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor.

Namun dalam pertempuran nyata, pesawat tempur AS justru dapat beroperasi seolah-olah tanpa perlawanan, sementara radar dan sistem pertahanan udara Tiongkok tetap “diam” tanpa reaksi.

Peneliti dari Institute for National Defense and Security Research, Chung Chih-tung, mengatakan bahwa sistem pertahanan udara tersebut dalam praktiknya tidak memberikan efek apa pun.

Kurang pengalaman tempur dan masalah kualitas

Su Tzu-yun menambahkan bahwa sistem senjata Tiongkok sebenarnya memiliki performa dasar yang cukup baik, tetapi keandalannya masih bermasalah. Ketika berhadapan dengan teknologi perang elektronik yang lebih maju dari Barat, kelemahan tersebut langsung terlihat.

Ia juga mencontohkan bahwa kasus serupa pernah terjadi sebelumnya:

  • ketika Tiongkok memasok radar seri YLC dan JY ke Suriah,
  • yang diklaim mampu mendeteksi F-35,
  • namun tetap berhasil dihancurkan oleh militer Israel.

Para analis menyebutkan bahwa kelemahan utama senjata Tiongkok adalah kurangnya pengalaman tempur nyata serta kontrol kualitas yang tidak stabil.

Namun para pakar juga mengingatkan agar tidak meremehkan kemampuan militer Tiongkok secara berlebihan.

Chung Chih-tung mengatakan bahwa Tiongkok kemungkinan akan memanfaatkan kejadian ini untuk mengevaluasi sistem senjatanya dan memahami mengapa hasil di medan perang jauh berbeda dari yang diharapkan.

Kesenjangan teknologi dengan AS lebih dari 10 tahun

Para ahli menilai bahwa meskipun Tiongkok memiliki keunggulan jumlah senjata, kemampuan perang elektroniknya masih tertinggal setidaknya 10 tahun dari Amerika Serikat.

Jika kesenjangan teknologi tersebut terjadi di kawasan Indo-Pasifik, dampaknya bisa lebih besar karena konflik di kawasan itu kemungkinan besar akan didominasi oleh perang laut dan udara, bukan operasi darat seperti di Iran.

Laporan oleh wartawan NTD: Yi Jing dan Luo Ya.

ARTOTEL Cabin Bromo Luncurkan Paket Liburan Terintegrasi Sambut Lebaran 2026

Bromo, 3 Maret 2026 – Menghadapi masa libur Hari Raya Idulfitri 2026, ARTOTEL Cabin Bromo meluncurkan paket menginap khusus bertajuk “Bromo Adventure Stay”. Paket ini menggabungkan akomodasi dengan tur wisata terstruktur menuju destinasi utama kawasan Bromo, menyasar segmen keluarga dan pasangan yang mencari efisiensi perjalanan selama musim liburan.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (6/3), manajemen hotel menyebutkan bahwa paket ini ditawarkan dengan harga mulai Rp2.888.000 per malam. Tarif tersebut sudah mencakup private jeep tour menuju jalur sunrise serta eksplorasi area Kawah Bromo, dua ikon utama yang menjadi magnet wisatawan domestik dan mancanegara.

General Manager ARTOTEL Cabin Bromo, Sugiono Triwibowo, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan respons terhadap tingginya permintaan akomodasi selama periode libur Lebaran. “Momentum Lebaran adalah waktu yang sangat tepat untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus menikmati pengalaman baru. Melalui paket Bromo Adventure Stay, kami ingin memberikan kemudahan bagi tamu untuk menikmati keindahan Bromo secara eksklusif dan nyaman, tanpa perlu repot mengatur perjalanan secara terpisah,” ujarnya.

Kawasan Gunung Bromo selama ini tercatat sebagai destinasi unggulan Jawa Timur, dengan daya tarik utama berupa pemandangan matahari terbit, hamparan lautan pasir, serta kawah aktif yang dapat diakses oleh wisatawan. Tingkat okupansi hotel di kawasan ini umumnya meningkat signifikan pada musim liburan nasional.

ARTOTEL Cabin Bromo mengoperasikan 30 unit kabin bergaya minimalis modern yang terletak di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut. Properti ini melengkapi layanannya dengan fasilitas Caldera Restaurant, ruang terbuka hijau, serta aktivitas tematik yang melibatkan komunitas lokal. Hotel ini berada di bawah naungan Artotel Group, jaringan hotel nasional yang mengelola lebih dari 100 properti dengan berbagai segmen pasar.

Mengapa “Super Lansia” Ini Tidak Mengalami Demensia? Penelitian Mengungkap Penyebabnya

EtIndonesia. Otak manusia akan mengalami penuaan seiring bertambahnya usia. Namun, ada sebagian orang berusia 80 hingga 90 tahun yang memiliki daya ingat sama baiknya dengan orang berusia 50–60 tahun. Penelitian baru dari ilmuwan Israel dan Amerika Serikat menemukan bahwa otak para “super lansia” ini memiliki kemampuan regenerasi dan menghasilkan lebih banyak neuron baru dibandingkan orang seusianya.

Orang yang berusia di atas 80 tahun tetapi tetap memiliki pikiran jernih dan kemampuan kognitif setara dengan orang berusia sekitar 50–60 tahun—mampu mengingat peristiwa sehari-hari dan pengalaman pribadi di masa lalu—disebut sebagai “super lansia”.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang telah menua, otaknya masih dapat mempertahankan aktivitas biologis, kemampuan beradaptasi, dan fleksibilitas. Namun selama ini para peneliti belum mengetahui penyebab di balik fenomena tersebut.

Penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Nature menyatakan bahwa setelah menganalisis secara mendalam sampel otak yang disebut milik “super lansia”, tim peneliti menemukan bahwa neuron muda memainkan peran kunci.

Jumlah neuron muda yang dihasilkan oleh “super lansia” adalah dua kali lipat dibandingkan orang dewasa sehat, dan sekitar 2,5 kali lebih banyak dibandingkan pasien Alzheimer’s disease.

Neuron muda merupakan sel otak dengan kemampuan adaptasi dan plastisitas paling kuat. Sel-sel ini memiliki kemampuan tinggi untuk tumbuh, berintegrasi, serta “mengorganisasi diri” ke dalam jaringan otak. Dalam otak para super lansia, masih terdapat banyak neuron yang sangat aktif dan belum sepenuhnya matang—sel-sel ini energik dan siap untuk mengirimkan sinyal kapan saja.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa di bagian hipokampus—bagian otak yang bertanggung jawab atas memori—para super lansia memiliki lingkungan sel yang unik yang mendukung neurogenesis (pembentukan neuron baru). Lingkungan ini membantu kelahiran dan kelangsungan hidup neuron baru, meningkatkan plastisitas otak, serta memungkinkan otak memperbaiki diri selama proses penuaan sehingga kemampuan kognitif tetap terjaga.

Para ahli mengatakan bahwa sebelumnya banyak orang percaya bahwa sel otak tidak dapat diperbarui. Penelitian baru ini memberikan lebih banyak bukti bahwa neurogenesis berperan penting dalam ketahanan kemampuan kognitif, sekaligus membuka peluang baru untuk diagnosis dini gangguan kognitif seperti penyakit Alzheimer.

Menariknya, para “super lansia” ini memiliki beberapa kesamaan karakteristik: mereka umumnya memiliki sikap hidup positif dan optimistis, gemar membaca atau belajar, dan banyak di antaranya bahkan masih bekerja hingga usia lebih dari 80 tahun. Mereka juga sangat aktif bersosialisasi dan sering melakukan kegiatan sukarela di komunitas. (Hui)

KPPU Canangkan Hari Persaingan Usaha 2026: Persaingan Sehat Kunci Produktivitas dan Inovasi

Jakarta, 5 Maret 2026 – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memperingati Hari Persaingan Usaha untuk keempat kalinya pada hari ini, Kamis (5/3). Mengusung tema “Persaingan Sehat di Keseharian Kita”, KPPU menegaskan bahwa persaingan usaha yang adil bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, melainkan fondasi bagi produktivitas, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat.

Ketua KPPU, M. Fanshurullah Asa, dalam pernyataan resminya menyampaikan bahwa di tengah dinamika global dan transformasi digital, penguatan budaya persaingan sehat menjadi prioritas nasional. “Pasar yang efisien harus memberi manfaat nyata bagi konsumen, pelaku UMKM, dan investor. Persaingan sehat adalah budaya ekonomi yang memberi pilihan, menurunkan harga, dan mendorong inovasi demi kesejahteraan publik,” ujarnya.

Peringatan ini juga menjadi momentum untuk menyoroti sejumlah indikator makroekonomi dan indeks internasional. Indonesia tercatat berada di peringkat ke-55 dalam Global Innovation Index 2025, sementara dalam IMD World Competitiveness, posisi Indonesia melonjak ke peringkat 27 pada 2024 namun kembali turun pada 2025. Fluktuasi ini, menurut KPPU, menandakan perlunya reformasi kebijakan dan efisiensi pemerintahan untuk meningkatkan daya saing.

Di sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi sekitar 4,9 persen pada 2024, dengan produktivitas tenaga kerja mencapai Rp89,33 juta per tenaga kerja. Data tersebut menunjukkan perbaikan pasar tenaga kerja yang akan semakin optimal jika persaingan pasar berjalan sehat.

KPPU juga merilis Indeks Persaingan Usaha (IPU) tahun 2025 yang mencapai skor 5,01 dari skala 1–7. Skor ini mencerminkan struktur pasar di Indonesia yang secara umum menunjukkan dinamika persaingan relatif sehat, meskipun kewaspadaan terhadap penyalahgunaan posisi dominan dan praktik monopoli, termasuk di sektor digital, tetap diperlukan.

Dalam praktik keseharian, persaingan sehat terwujud ketika UMKM mendapatkan akses platform digital yang adil, konsumen memperoleh produk berkualitas dengan harga bersaing, dan inovator mendapat insentif untuk berinvestasi tanpa gangguan praktik curang.

Untuk memperkuat ekosistem persaingan usaha, KPPU menyusun sejumlah langkah strategis, antara lain perluasan program edukasi publik tentang hak dan etika persaingan, kolaborasi dengan kementerian/lembaga daerah untuk mempermudah akses pasar UMKM, percepatan penyelesaian perkara, serta penyusunan kode etik sektoral dan mekanisme dialog berkala antara regulator, asosiasi, dan platform digital.

“KPPU terus memproses dan memutus perkara persaingan serta menjatuhkan sanksi dan mengawasi pelaksanaan kemitraan yang melindungi UMKM dari praktik tidak sehat sebagai bukti nyata peran pengawas dalam menjaga pasar,” tegas Fanshurullah.

Melalui peringatan Hari Persaingan Usaha 2026, KPPU mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat—untuk menggelorakan budaya persaingan sehat dalam setiap aspek ekonomi dan kehidupan sehari-hari. “Mari kita jadikan persaingan sehat sebagai budaya yang mendorong inovasi, produktivitas, pilihan konsumen yang lebih baik, serta akses yang adil ke pasar bagi pelaku usaha besar maupun UMKM,” pungkasnya.

Beijing Tiba-tiba Perintahkan Penghancuran Bukti Bantuan ke Iran, Pakar : Untuk Menghindari Tuntutan AS

EtIndonesia. Baru-baru ini media mengungkapkan bahwa setelah Amerika Serikat dan Israel bersama-sama menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, para menteri luar negeri Partai Komunis Tiongkok  dan Iran melakukan pembicaraan telepon. Beijing kemudian memerintahkan Kedutaan Besar PKT di Iran untuk segera menghancurkan semua dokumen sensitif, bahkan termasuk rincian rencana pelaksanaan dari Perjanjian Kerja Sama Komprehensif 25 Tahun PKT–Iran. Pengamat menilai langkah ini bertujuan mengurangi risiko penyelidikan dan sanksi dari Amerika Serikat.

Menurut informasi yang diperoleh dari pertukaran intelijen internasional dan Taiwan, setelah Ali Khamenei tewas, Beijing segera memerintahkan kedutaannya di Iran untuk menghancurkan sejumlah besar dokumen sensitif. 

Cakupan dokumen tersebut sangat luas, termasuk semua data terkait penjualan senjata, program bantuan, data pembelian minyak, bahkan rincian pelaksanaan perjanjian kerja sama 25 tahun antara PKT dan Iran. Para analis menilai langkah ini dimaksudkan untuk menurunkan risiko penyelidikan dan sanksi dari pihak Amerika.

Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa sebelumnya Beijing memperkirakan Khamenei akan terlebih dahulu melarikan diri ke Rusia untuk berlindung. Namun tidak disangka militer AS melakukan operasi “pemenggalan kepemimpinan” (decapitation strike), yang membuat pihak Tiongkok tidak siap.

Pada saat yang sama, rudal anti-kapal supersonik yang dipesan Iran dari Tiongkok sebenarnya dijadwalkan akan dikirim pada awal Maret. Namun Presiden AS Donald Trump justru memilih momen ini untuk melakukan serangan presisi. Hal ini ditafsirkan sebagai langkah yang disengaja untuk menghantam penempatan militer Beijing di Timur Tengah.

“Setelah Amerika Serikat dan Israel menghancurkan fasilitas misil Iran, mereka tentu sangat memperhatikan apakah masih ada bahan bakar misil atau komponen yang akan dikirim ke Iran. Perintah untuk menghancurkan bukti bantuan militer itu sebenarnya tidak banyak berguna, karena masih ada banyak bukti eksternal—misalnya pesawat transportasi yang terbang ke sana—yang menunjukkan adanya bantuan kepada Iran,” ujar peneliti dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi.

“Langkah tergesa-gesa untuk menghancurkan bukti itu terutama untuk menghindari penyelidikan Amerika atau kemungkinan tindakan hukuman dari AS terhadap PKT di masa depan,” tambahnya. 

Sumber internal Partai Komunis Tiongkok juga mengungkapkan bahwa setelah serangan terhadap Khamenei, pimpinan tertinggi PKT khawatir demonstrasi anti-pemerintah yang muncul di Iran dapat menimbulkan “efek demonstrasi” yang menyebar ke dalam negeri.

Departemen propaganda telah memperketat pengawasan opini publik, memerintahkan militer untuk meningkatkan frekuensi laporan ideologi dan pendidikan politik. Bahkan para perwira dan tentara diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak membahas situasi tersebut secara pribadi, khususnya tidak boleh membandingkan kondisi Iran dengan situasi di dalam negeri.

Para analis menilai bahwa tewasnya Khamenei memberikan dampak besar terhadap internal PKT. Peristiwa ini terjadi ketika militer Tiongkok sedang mengalami gelombang pembersihan besar, yang membuat moral pasukan goyah. Beijing khawatir perubahan besar di Iran akan mempengaruhi sikap dan moral militer.

Shen Mingshi menambahkan bahwa Xi Jinping sangat khawatir terhadap kemungkinan adanya mata-mata atau infiltrasi di sekitarnya yang dapat membocorkan pergerakannya—seperti yang terjadi pada pemimpin lain yang menjadi target serangan. Ia juga menyebut bahwa baru-baru ini PKT menangkap seorang pejabat setingkat wakil provinsi dengan alasan pertama bahwa ia “mendengarkan atau menonton komentar yang tidak pantas dari luar negeri”, yang menunjukkan bahwa kontrol terhadap ucapan semakin diperketat dan suasana menjadi sangat tegang.

Selain itu, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap ucapan masyarakat. Sejak 28 Februari, isu terkait Iran dijadikan topik pengawasan utama, dan semua platform internet diminta untuk secara ketat menyaring diskusi mengenai Iran.

Komentator urusan terkini Li Linyi mengatakan bahwa baik penghancuran bukti bantuan militer maupun pengetatan kontrol opini publik menunjukkan satu hal: yang paling dikhawatirkan PKT saat ini adalah stabilitas kekuasaannya sendiri.

Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Chang Chun

Iran Mengundang Ukraina untuk Berkabung atas Kematian Khamenei, Respons Ukraina Dipuji Netizen

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi militer dan politik Iran. Tanpa diduga, Iran—yang sering dianggap sebagai sekutu dekat Rusia—baru-baru ini justru mengundang diplomat Ukraina untuk menyampaikan belasungkawa atas kematian Khamenei dan para pemimpin militer-politik Iran tersebut. Lalu bagaimana tanggapan pihak Ukraina?

EtIndonesia. Pada Rabu (4 Maret), Duta Besar Ukraina untuk Afrika Selatan Liubov Sherba mengungkapkan dalam sebuah unggahan di platform X bahwa Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan baru-baru ini memberitahu Kedutaan Ukraina, mengundang mereka datang ke kedutaan untuk menandatangani buku belasungkawa bagi Khamenei dan para pemimpin militer Iran yang telah meninggal dunia. 

Sherba mengatakan bahwa ia memutuskan untuk menanggapi hal ini secara terbuka. Dalam unggahannya ia menulis secara langsung : “Karena kedutaan Anda mengundang Kedutaan Ukraina untuk menandatangani pesan belasungkawa bagi orang-orang ini, saya merasa perlu mengingatkan beberapa hal.”

Ia mengatakan bahwa para pemimpin Iran yang telah meninggal dunia tersebut adalah sekutu militer Rusia, dan tangan mereka berlumuran darah ribuan rakyat Ukraina. 

Banyak warga Ukraina tewas akibat drone Shahed buatan Iran yang terkenal buruk reputasinya, serta teknologi militer lain yang dengan antusias diberikan pemerintah Iran kepada Rusia. Menurutnya, para pemimpin tersebut bersama-sama menyebabkan penderitaan besar bagi warga sipil Ukraina.

Sherba juga mengatakan bahwa sebagai orang yang beriman, ia berusaha untuk tidak merasa senang atas kematian siapa pun, bahkan jika orang tersebut pernah menyakiti negaranya. Namun ia menambahkan bahwa selama hampir tiga tahun terakhir, ia hampir setiap malam mendengar drone buatan Iran melintas di atas Kiev dan kota-kota lain, sehingga sulit baginya untuk tidak berharap bahwa para pelaku pada akhirnya akan menghadapi pengadilan.

Di akhir unggahannya ia menyatakan bahwa dirinya tidak mengenal secara pribadi duta besar Iran di Afrika Selatan dan tidak memiliki permusuhan pribadi. Ia juga memahami bahwa para diplomat kadang harus menyuarakan kebijakan pemerintah mereka.

Namun ia menegaskan:  “Namun saya berharap Anda dapat memahami bahwa saya tidak akan menyampaikan belasungkawa atas kematian seseorang yang sama sekali tidak membuat saya merasa sedih.”

Setelah unggahan tersebut dipublikasikan, banyak pengguna internet memberikan tanda suka dan memuji sikapnya. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Pelanggan dari Pamekasan Raih Hadiah Program Undian Telkomsel dan WeTV Periode Akhir Tahun 2025

SURABAYA — Penyerahan hadiah program undian “WeTV Bagi-Bagi Mobil” hasil kolaborasi platform streaming WeTV dan operator telekomunikasi Telkomsel digelar di GraPARI Telkomsel Sudirman, Surabaya, Kamis (5/3).

Dalam kegiatan tersebut, satu unit mobil Honda WR-V diserahkan kepada pemenang utama yang berasal dari Kabupaten Pamekasan, Madura. Penyerahan dilakukan oleh perwakilan Telkomsel Area 3 dan manajemen WeTV Indonesia.

Program ini merupakan undian nasional yang berlangsung pada periode 7 November hingga 31 Desember 2025. Pelanggan Telkomsel yang mengaktifkan dan menggunakan layanan WeTV melalui paket internet Telkomsel secara otomatis berkesempatan mengikuti program undian tersebut.

Manajemen WeTV menyebut program ini diikuti oleh ratusan ribu pelanggan di berbagai daerah di Indonesia. Peserta berasal dari pelanggan yang mengakses layanan streaming melalui aplikasi WeTV dengan login menggunakan nomor Telkomsel.

“Di kantor pusat Telkomsel kalau ini penyerahan yang kedua untuk area Surabaya pemenangnya dari Pamekasan Madura nanti kita akan ada penyerahan yang ketiga di hari Sabtu, ini di Jember karena ada tiga hadiah mobil itu satu unit mobil Honda WRP Lalu 2 unit mobil Honda Brio. Program undian jadi program undian kita berkolaborasi dengan Telkomsel jadi WeTV itu sudah ada di paket-paket internetnya Telkomsel sebenarnya jadi pelanggan Telkomsel di manapun di seluruh Indonesia ketika dia sudah beli paket Telkomsel dia tinggal aktifin saja WeTV-nya sudah gratis sudah free,” jelas David Seprian, Head of Business Development & Partnership WeTV.

Selain hadiah utama berupa Honda WR-V, program tersebut juga menyediakan dua unit mobil Honda Brio bagi pemenang lain. Penyerahan hadiah dilakukan secara bertahap di sejumlah kota. Setelah Surabaya, agenda penyerahan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Jember pada akhir pekan.

Perwakilan Telkomsel menyatakan bahwa kolaborasi dengan platform digital seperti WeTV menjadi bagian dari pengembangan ekosistem layanan hiburan berbasis internet bagi pelanggan. Layanan streaming tersebut tersedia dalam paket data Telkomsel sehingga dapat diakses pelanggan di berbagai wilayah.

“Telkomsel memberikan paket di WeTV ini sebagai apresiasi karena sudah berlangganan Telkomsel kami memberikan Ya seperti aplikasi untuk pelanggan agar bisa menikmati aplikasi video streaming secara gratis sehingga ini juga akan membentuk ekosistem digital sehingga membiasakan pelanggan itu bisa menikmati hiburan secara digital. Pelanggan WeTV di pengguna Telkomsel sekitar 5% secara nasional,” jelas Tectony Rachman, Manager Consumer Branch Surabaya Telkomsel.

Pemenang utama, Fatful Arifin (24), warga Pamekasan, mengaku mengetahui informasi program tersebut melalui media sosial. Ia sempat meragukan informasi kemenangan saat pertama kali dihubungi sebelum akhirnya melakukan verifikasi melalui pihak penyelenggara.

Arifin mengatakan hadiah kendaraan tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas sehari-hari serta membantu keluarganya.

Arifin tak pernah menyangka bahwa kegemarannya menikmati konten animasi favorit (Donghua) di ponsel akan membawanya pada momen tak terlupakan: membawa pulang satu unit Honda WR-V sebagai hadiah utama program kolaborasi “WeTV Bagi-Bagi Mobil”.

“Pertama-tama saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan kepada pihak TV dan dia Telkomsel yang telah menyelenggarakan event ini dan alhamdulillah saya berikan kesempatan menang di bulan Ramadan yang berkah ini ya pokoknya intinya Saya bersyukur dan senang sekali,” jelas Fatful Arifin, yang berprofesi juru masak di dapur MBG.

Program undian ini menjadi bagian dari kolaborasi kedua perusahaan dalam memperluas penggunaan layanan hiburan digital yang terintegrasi dengan paket data seluler.

Setelah Iran, Siapa Berikutnya? Pernyataan Trump Picu Kekhawatiran di Beijing 

EtIndonesia. Situasi di Iran terus memanas setelah rangkaian serangan militer besar-besaran yang dilakukan oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel. Operasi militer yang dimulai pada 28 Februari 2026 kini memasuki fase yang semakin intens, dengan sasaran utama tidak hanya fasilitas militer Iran, tetapi juga jajaran pimpinan strategis negara tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah laporan mengenai jatuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu reaksi luas di dunia internasional.

Pemerintah Tiongkok menunjukkan sikap simpati dengan menyebut Khamenei sebagai korban pembunuhan dan bahkan menurunkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung. Namun, di balik sikap tersebut, sejumlah analis menilai Beijing justru sangat khawatir terhadap pernyataan yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yakni dua kata yang dianggap mengguncang geopolitik dunia: “pergantian rezim.”

Beberapa pengamat bahkan berspekulasi bahwa perubahan politik global sedang bergerak sangat cepat. Mereka menyebut rangkaian peristiwa besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir:

  • Januari 2026: Tekanan politik internasional meningkat terhadap pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela.
  • Februari 2026: kepemimpinan tertinggi Iran diguncang oleh operasi militer besar.
  • Maret 2026: muncul spekulasi bahwa tekanan geopolitik berikutnya bisa saja mengarah pada Beijing.

Meskipun spekulasi tersebut masih jauh dari kepastian, banyak pihak menilai bahwa dinamika global saat ini sedang memasuki fase yang sangat tidak stabil.


Elit Militer Iran Terus Menjadi Sasaran

Perkembangan terbaru di medan konflik terjadi pada 3 Maret 2026, ketika sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Menteri Pertahanan sementara Iran,  Majid Ebnelreza, tewas dalam sebuah serangan di Teheran.

Menurut pernyataan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF), operasi tersebut merupakan bagian dari strategi untuk melumpuhkan struktur komando militer Iran. Sejak dimulainya ofensif militer pada akhir Februari, berbagai pejabat tinggi militer Iran dilaporkan menjadi target serangan presisi.

Akibatnya, struktur komando militer Iran disebut mengalami gangguan serius. Beberapa laporan bahkan menyebutkan bahwa pejabat baru yang ditunjuk untuk menggantikan pimpinan yang gugur sering kali hanya bertahan beberapa jam hingga setengah hari sebelum kembali menjadi sasaran operasi berikutnya.

Kondisi ini menimbulkan kekacauan dalam sistem pengambilan keputusan militer Iran dan memperlemah koordinasi pertahanan negara tersebut.


Dugaan Teknologi Rahasia Israel Hancurkan Bunker Nuklir

Salah satu peristiwa paling kontroversial terjadi pada pagi hari 3 Maret 2026, ketika sejumlah laporan menyebut Israel menggunakan teknologi militer yang belum pernah diungkap sebelumnya.

Serangan tersebut dikaitkan dengan munculnya gempa berkekuatan sekitar 4,3 magnitudo di wilayah Gerash, Provinsi Fars, Iran, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Beberapa analis menduga getaran tersebut bukan gempa alami, melainkan efek dari teknologi militer eksperimental yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah.

Wilayah yang terdampak diketahui memiliki sejumlah bunker militer bawah tanah, termasuk fasilitas penyimpanan rudal strategis dan lokasi penelitian nuklir rahasia.

Menurut laporan intelijen yang beredar di media Barat, di dalam kompleks bawah tanah tersebut terdapat tim ilmuwan nuklir Iran yang sedang mengembangkan teknologi senjata nuklir. Serangan tersebut disebut menyebabkan kerusakan besar pada instalasi bawah tanah tersebut.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai metode yang digunakan dalam serangan tersebut.


Iran Luncurkan 200 Rudal Hipersonik

Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran pada 3 Maret 2026 dilaporkan meluncurkan sekitar 200 rudal hipersonik ke arah sejumlah negara Arab di kawasan Teluk.

Rudal-rudal tersebut disebut merupakan sistem persenjataan yang dikembangkan dengan teknologi dari Tiongkok.

Meski jumlahnya sangat besar, laporan militer menunjukkan bahwa sekitar 97% rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara gabungan negara-negara kawasan serta dukungan sistem pertahanan Amerika Serikat.

Di sisi lain, Iran juga dilaporkan kecewa terhadap performa sistem pertahanan udara HQ-9B buatan Tiongkok yang digunakan untuk melindungi wilayahnya.

Menurut laporan lapangan, sistem tersebut telah dihancurkan oleh serangan udara Amerika dan Israel dalam satu jam pertama perang.

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat bahkan menyatakan bahwa dalam 40 detik pertama operasi militer, sebanyak 40 pejabat tinggi Iran berhasil dieliminasi dalam serangan presisi yang sangat terkoordinasi.


Tujuh Negara Arab Bersiap Terlibat

Serangan rudal Iran tidak hanya meningkatkan ketegangan regional, tetapi juga mendorong sejumlah negara Teluk untuk mempertimbangkan keterlibatan langsung dalam konflik.

Negara-negara yang menjadi sasaran serangan Iran antara lain:

  • Qatar
  • Uni Emirat Arab
  • Yordania
  • Kuwait
  • Bahrain
  • Arab Saudi
  • Oman

Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, negara-negara tersebut kini meningkatkan koordinasi militer dengan Amerika Serikat.

Beberapa negara bahkan telah meminta dukungan intelijen Washington untuk membantu menentukan target militer di Iran jika konflik terus meningkat.

Senator Amerika Serikat Tom Cotton menyatakan bahwa kerja sama ini menunjukkan soliditas aliansi strategis di kawasan.

Menurutnya, perkembangan tersebut mencerminkan apa yang ia sebut sebagai “aliansi sejati dalam menghadapi ancaman bersama.”


Teknologi Militer Tiongkok Dipertanyakan

Perang Iran juga memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas sejumlah sistem persenjataan buatan Tiongkok.

Sebelum konflik pecah, media resmi Tiongkok melaporkan bahwa Iran telah mengerahkan berbagai sistem radar dan pertahanan udara modern, termasuk:

  • radar anti-stealth YLC-8B
  • sistem pertahanan udara HQ-9B
  • berbagai sistem radar jarak jauh lainnya

Sistem tersebut bahkan telah diaktifkan lebih dari 20 hari sebelum perang dimulai.

Namun dalam pertempuran nyata, banyak analis menilai sistem tersebut gagal memberikan perlindungan efektif terhadap serangan presisi Amerika Serikat dan Israel.

Situasi ini mulai memunculkan ketegangan dalam hubungan strategis antara Iran dan Tiongkok, yang selama ini dikenal sebagai mitra dekat dalam bidang militer dan energi.


Ancaman Penutupan Selat Hormuz Mengguncang Pasar Energi

Ketegangan meningkat lebih jauh pada 2 Maret 2026, ketika Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari Teluk Persia ke pasar dunia.

Iran juga mengancam akan menyerang setiap kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Menurut laporan Bloomberg, ancaman ini segera memicu kekhawatiran serius di Beijing, karena Tiongkok sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.

Pemerintah Tiongkok dilaporkan segera menekan Iran agar tidak mengganggu jalur pelayaran internasional.

Beijing juga meminta Iran untuk:

  • menjaga jalur pelayaran tetap terbuka
  • tidak menyerang kapal tanker minyak
  • tidak mengganggu ekspor LNG dari Qatar

Pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa stabilitas jalur energi merupakan kepentingan strategis nasional yang tidak dapat ditawar.


Serangan di Qom Tewaskan Dewan Ulama Iran

Peristiwa dramatis lainnya terjadi pada 3 Maret 2026 di kota suci Qom, Iran.

Media Israel melaporkan bahwa bangunan Dewan Ahli Iran, lembaga ulama yang bertanggung jawab memilih pemimpin tertinggi negara, menjadi sasaran serangan udara.

Gedung tersebut saat itu sedang digunakan untuk pertemuan 88 ulama anggota dewan yang tengah membahas proses suksesi kepemimpinan Iran.

Menurut laporan tersebut, seluruh peserta pertemuan dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Jika informasi ini terbukti benar, maka peristiwa tersebut akan menjadi pukulan besar bagi struktur politik dan keagamaan Iran.


Konflik Iran Dinilai Bisa Memicu Konfrontasi Global

Sejumlah analis menilai bahwa konflik Iran saat ini berpotensi berkembang menjadi bagian dari persaingan kekuatan besar dunia.

Pakar Tiongkok dari Hudson Institute, Zineb Riboua, menyatakan bahwa konflik Iran tidak bisa dipandang hanya sebagai konflik regional.

Menurutnya: “Masalah Iran tidak pernah hanya tentang Iran.  Trump memahami bahwa jalan menuju Pasifik harus melewati Teheran.”

Pada 3 Maret 2026, Presiden Trump juga membahas isu Iran saat bertemu dengan Kanselir Jerman di Gedung Putih.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan:

“Hal terburuk bagi Iran adalah jika orang yang menggantikan kepemimpinan sekarang sama buruknya.

Orang-orang yang hidup di Iran mungkin lebih cocok memimpin negara mereka.”

Beberapa media Jerman, termasuk Sachsen Zeitung, menilai bahwa operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan sekadar konflik regional, melainkan bagian dari persaingan geopolitik global.

Sementara Frankfurter Allgemeine Zeitung menulis bahwa kedekatan suatu negara dengan Beijing tidak selalu menjamin keamanan strategisnya.


Masa Depan Iran Masih Penuh Ketidakpastian

Banyak pengamat percaya bahwa jika Iran mengalami pergantian rezim dan memiliki pemerintahan yang lebih dekat dengan Barat, maka kemungkinan besar berbagai sanksi internasional akan dicabut.

Hal tersebut berpotensi membuka peluang bagi kebangkitan ekonomi Iran serta stabilitas kawasan Timur Tengah.

Namun hingga saat ini, masa depan politik Iran masih sangat tidak pasti.

Di tengah ketidakpastian tersebut, satu pertanyaan mulai muncul di berbagai kalangan pengamat geopolitik:

Jika Iran mengalami perubahan besar, apakah dinamika geopolitik berikutnya akan mengarah pada Tiongkok?  (***)

Hari Ke-4 Perang Iran: Militer Hancur, Elite Teheran Dibombardir, Trump: “Terlambat untuk Negosiasi”

EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari keempat pada Selasa, 3 Maret 2026, dengan intensitas serangan yang semakin meningkat. Serangkaian serangan udara presisi terus menghantam berbagai target strategis Iran, mulai dari fasilitas militer, instalasi rudal, hingga pusat komando kepemimpinan negara tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa setelah serangan besar-besaran yang melumpuhkan sebagian besar kemampuan militer Iran, pemerintah Teheran kini berusaha membuka jalur dialog dengan Washington. Namun menurut Trump, upaya tersebut datang terlalu terlambat.

Dalam sebuah unggahan di media sosial pada 3 Maret 2026, Trump menulis dengan nada tegas:

“Sistem pertahanan udara mereka sudah hilang. Angkatan udara mereka sudah hilang. Angkatan laut mereka juga sudah hilang. Kepemimpinan mereka pun sudah tidak ada. Sekarang mereka ingin berbicara. Saya katakan: sudah terlambat.”

Trump menambahkan bahwa sebenarnya ia sempat membuka kemungkinan dialog pada akhir pekan 28 Februari–1 Maret 2026, saat operasi militer terhadap Iran baru dimulai. Namun menurutnya, pemerintah Iran tidak memanfaatkan kesempatan tersebut.

“Jika mereka ingin berbicara, seharusnya itu dilakukan sebelum semuanya hancur,” ujar Trump dalam pernyataan lanjutan kepada media.


Tokoh Kuat Iran Diam-Diam Menghubungi Washington

Di tengah situasi militer yang semakin buruk bagi Iran, laporan diplomatik menunjukkan adanya upaya komunikasi rahasia antara Teheran dan Washington.

Menurut laporan Wall Street Journal pada 2 Maret 2026, tokoh paling berpengaruh di Iran setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—yakni Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran—secara diam-diam mengirimkan pesan kepada pemerintah Amerika Serikat melalui Oman, yang selama ini dikenal sebagai mediator diplomatik di kawasan Teluk.

Pesan tersebut disebut bertujuan untuk membuka kembali negosiasi terkait program nuklir Iran dan meredakan konflik militer yang sedang berlangsung.

Sejumlah pejabat Arab dan Amerika yang mengetahui komunikasi tersebut juga mengonfirmasi adanya kontak tidak langsung antara kedua pihak.

Trump sendiri mengatakan bahwa ia bersedia berbicara dengan kepemimpinan baru Iran, dan menyebut bahwa pihak Teheran telah menunjukkan minat untuk berunding.

Namun tidak lama setelah laporan tersebut muncul, Ali Larijani langsung memberikan bantahan melalui platform X (Twitter).

Ia menegaskan bahwa:

  • Iran tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat selama serangan militer masih berlangsung
  • Iran akan terus melakukan perlawanan
  • Pemerintah AS, khususnya Trump, dituduh telah menciptakan kekacauan besar di kawasan Timur Tengah

Pernyataan yang saling bertolak belakang ini menunjukkan bahwa situasi politik internal Iran kemungkinan sedang berada dalam kondisi sangat tidak stabil.


Kerusakan Besar Militer Iran

Sementara itu, laporan militer menunjukkan bahwa Iran mengalami kerugian besar sejak konflik dimulai.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa dalam 48 jam pertama operasi militer, pasukan koalisi berhasil melancarkan serangan berskala besar terhadap berbagai fasilitas militer Iran.

Menurut data yang dirilis oleh militer AS:

  • 11 kapal perang Iran ditenggelamkan di wilayah Teluk Oman
  • 1.250 target militer Iran dihancurkan melalui serangan udara presisi
  • 49 pejabat tinggi militer dan keamanan Iran tewas dalam operasi yang disebut sebagai decapitation strike atau “serangan pemenggalan kepemimpinan”

Serangan tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga pusat-pusat pengambilan keputusan strategis di Iran.

Pada  3 Maret 2026 pagi, militer Israel dilaporkan melakukan serangan udara terhadap gedung Majelis Ahli Iran di Teheran.

Gedung tersebut sedang digunakan untuk pertemuan penting yang bertujuan memilih pengganti Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Saat serangan terjadi, sekitar 88 anggota elite politik dan ulama Iran dilaporkan berada di dalam gedung tersebut.

Serangan itu menewaskan sejumlah tokoh penting Iran dan semakin memperburuk krisis kepemimpinan yang sedang terjadi.


Menteri Pertahanan Iran Juga Tewas

Serangan udara yang terus berlangsung juga menyebabkan hilangnya beberapa pejabat penting di struktur militer Iran.

Menurut laporan militer dan media regional:

  • Menteri Pertahanan Iran tewas dalam serangan udara pertama pada 28 Februari 2026 ketika operasi militer dimulai.
  • Pada 2 Maret 2026, Iran menunjuk seorang jenderal bernama Reza sebagai menteri pertahanan yang baru.
  • Namun pada 3 Maret 2026, media Israel melaporkan bahwa menteri pertahanan yang baru tersebut juga tewas dalam serangan udara di Teheran.

Rangkaian kejadian ini membuat sistem komando militer Iran hampir tidak dapat berfungsi.

Dalam waktu hanya beberapa hari:

  • Pemimpin tertinggi negara tewas
  • Menteri pertahanan tewas
  • Pengganti yang baru ditunjuk juga terbunuh

Kondisi tersebut membuat struktur komando militer Iran praktis mengalami kelumpuhan total.


Trump: Iran Hampir Kehabisan Rudal

Di sisi lain, laporan dari Politico pada 3 Maret 2026 mengungkapkan bahwa Presiden Trump juga menyoroti kondisi persenjataan Iran yang semakin melemah.

Menurut Trump, kemampuan Iran untuk meluncurkan serangan balasan kini menurun drastis.

Ia mengatakan:

  • Persediaan rudal balistik Iran hampir habis
  • Banyak peluncur rudal telah dihancurkan

Pejabat militer Israel bahkan memperkirakan bahwa dalam waktu 24 jam ke depan, kemampuan Iran untuk melakukan peluncuran rudal jarak jauh bisa runtuh secara signifikan.

Trump juga menyebut bahwa di dalam Iran kini muncul persaingan untuk memperebutkan posisi kepemimpinan baru.

Dengan nada bercanda, Trump mengatakan:

“Gelombang pertama sudah hilang. Gelombang kedua juga mungkin hilang. Kalau begini terus, nanti kita bahkan tidak mengenal siapa pun lagi.”

Pernyataan ini merujuk pada banyaknya tokoh penting Iran yang tewas dalam serangan udara beberapa hari terakhir.


Iran Terancam Konflik Internal

Kematian Ayatollah Ali Khamenei telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang serius di Iran.

Saat ini pemerintahan Iran dilaporkan dijalankan oleh sebuah komite darurat yang terdiri dari tiga tokoh utama.

Di dalam negeri Iran sendiri, terdapat tiga kekuatan utama yang saling bersaing:

1. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)

Organisasi militer paling kuat di Iran ini tidak hanya menguasai kekuatan militer, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam sektor ekonomi dan jaringan milisi regional di Timur Tengah.

IRGC dikenal memiliki sikap keras dan mendukung kelanjutan perang melawan Amerika Serikat dan Israel.

2. Presiden Masoud Pezeshkian

Presiden Iran yang dikenal sebagai tokoh reformis moderat memiliki legitimasi politik melalui pemilihan umum, namun kekuasaannya relatif terbatas dibandingkan Garda Revolusi.

Pezeshkian dilaporkan lebih condong pada jalur negosiasi diplomatik untuk mengakhiri konflik.

3. Dewan Ulama Konservatif

Kelompok ulama konservatif ini memiliki peran penting dalam sistem politik Iran, termasuk mengontrol sistem hukum dan menentukan siapa saja yang boleh mencalonkan diri dalam jabatan politik.

Selama puluhan tahun terakhir, ketiga kekuatan tersebut dipersatukan oleh kepemimpinan Ayatollah Khamenei.

Namun setelah kematiannya, keseimbangan kekuasaan itu mulai runtuh.


Putra Khamenei Diduga Naik Takhta

Di tengah kekacauan politik tersebut, muncul berbagai laporan mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi Iran berikutnya.

Media Iran melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Khamenei, masih hidup dan disebut sebagai salah satu kandidat utama.

Beberapa laporan bahkan menyebut bahwa Majelis Ahli Iran telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, diduga di bawah tekanan dari Garda Revolusi.

Namun sumber lain menyebut bahwa Ali Larijani justru telah dipilih sebagai penerus Khamenei.

Perbedaan informasi ini semakin memperkuat dugaan bahwa perebutan kekuasaan sedang berlangsung di dalam elit politik Iran, yang berpotensi memicu konflik internal di tengah tekanan militer dari luar. (***)

Pesawat Pembom B-52 Turun Perang! Pertahanan Udara Iran Runtuh, Trump Umumkan Selat Hormuz Dijaga Armada AS

EtIbndonesia. 3 Maret 2026 menandai babak baru dalam konflik militer antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran. Pada hari tersebut, militer Amerika Serikat secara resmi mengumumkan bahwa pembom strategis B-52 Stratofortress telah mulai terlibat langsung dalam operasi militer terhadap Iran.

Keterlibatan pesawat pembom berat ini menjadi sinyal penting bahwa sistem pertahanan udara Iran pada dasarnya telah mengalami kelumpuhan serius. Dengan kondisi tersebut, Amerika Serikat dan sekutunya kini dinilai telah memperoleh keunggulan udara signifikan di wilayah konflik.

Operasi militer yang berlangsung selama beberapa hari terakhir ini sebelumnya telah menargetkan berbagai fasilitas penting Iran, termasuk:

  • pusat kepemimpinan militer
  • pangkalan rudal balistik
  • sistem pertahanan udara
  • armada laut Iran

Serangan-serangan tersebut menjadi bagian dari operasi besar yang bertujuan melumpuhkan kemampuan militer strategis Iran.


Skala Operasi Militer AS: Ribuan Target Diserang

Menurut data terbaru dari militer Amerika Serikat hingga 3 Maret 2026, operasi udara dan laut terhadap Iran telah mencapai skala yang sangat besar.

Militer AS dilaporkan telah:

  • Menyerang hampir 2.000 target militer Iran
  • Menenggelamkan 17 kapal perang Iran di berbagai titik strategis

Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Cooper, mengungkapkan bahwa operasi tersebut melibatkan kekuatan militer yang sangat besar, antara lain:

  • sekitar 50.000 personel militer Amerika Serikat
  • lebih dari 200 pesawat tempur
  • 2 kapal induk yang beroperasi di kawasan
  • 5 pesawat pembom strategis, termasuk B-52

Selain kekuatan yang telah dikerahkan, Pentagon juga mengindikasikan bahwa gelombang pasukan dan peralatan tempur tambahan masih akan dikirim dalam waktu dekat.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa operasi militer tersebut kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa tahap berikutnya.


Rudal Iran Banyak Dicegat, Garis Pertahanan Mulai Goyah

Sumber militer menyebutkan bahwa sebagian besar serangan balasan rudal Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Amerika Serikat dan sekutunya.

Akibatnya, kemampuan Iran untuk mempertahankan wilayah udara dan lautnya semakin melemah. Sejumlah analis militer menilai bahwa garis pertahanan rezim Iran mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan serius.

Dalam situasi yang semakin memanas ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengambil langkah langsung untuk mengendalikan dinamika konflik.


Amerika Serikat Amankan Selat Hormuz

Pada 3 Maret 2026, Presiden Donald Trump mengumumkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat akan menjamin keamanan jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar sepertiga perdagangan minyak global melewati wilayah tersebut.

Trump menegaskan bahwa:

  • Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz
  • langkah ini bertujuan mencegah blokade atau serangan dari Iran

Keputusan ini secara efektif menggagalkan strategi Iran yang sebelumnya berupaya menggunakan Selat Hormuz dan ladang minyak sebagai alat tekanan geopolitik terhadap dunia.

Dengan pengamanan jalur perdagangan tersebut, Iran dinilai kehilangan salah satu kartu strategisnya dalam konflik.


Evakuasi Warga Amerika dari Timur Tengah

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, pemerintah Amerika Serikat juga mempercepat evakuasi warganya dari kawasan Timur Tengah.

Hingga 3 Maret 2026, sekitar 9.000 warga Amerika dilaporkan telah berhasil meninggalkan wilayah yang dianggap berisiko tinggi.

Langkah evakuasi ini dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap kemungkinan meluasnya konflik ke berbagai negara di kawasan.


Senator Lindsey Graham: “Hasilnya Sudah Jelas”

Senator Amerika Serikat Lindsey Graham memberikan pernyataan yang sangat tegas terkait perkembangan konflik ini.

Dalam komentarnya, Graham menyatakan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat yang sedang dikerahkan kemungkinan akan memberikan dampak yang sangat besar dalam waktu dekat.

Ia mengatakan: “Dalam satu atau dua hari ke depan, daya tembak kita akan sangat luar biasa.
Saya belum pernah merasa sepuas ini terhadap kemungkinan hasil akhirnya.
Pertanyaannya bukan apakah mereka akan jatuh, tetapi kapan mereka akan jatuh.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan tingkat keyakinan sebagian kalangan di Washington bahwa hasil konflik ini mulai terlihat arahnya.


Trump: Kemampuan Peluncuran Rudal Iran Hampir Habis

Presiden Donald Trump juga mengungkapkan perkembangan militer terbaru yang dinilai sangat penting.

Menurutnya, kemampuan Iran untuk meluncurkan rudal kini hampir habis setelah serangkaian serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Serangan tersebut disebut telah membuat sistem militer Iran kehilangan koordinasi, sehingga kemampuan mereka dalam memantau dan merespons pergerakan musuh menjadi sangat terbatas.

Di wilayah Iran bagian utara dan barat, laporan intelijen juga menyebut bahwa kelompok perlawanan Kurdi telah bersiap memberikan dukungan informasi dan panduan intelijen bagi operasi militer Amerika Serikat dan Israel.

Jika operasi lanjutan diluncurkan, sejumlah analis menilai konflik ini dapat memasuki fase baru yang lebih serius, yaitu tahap yang berpotensi mengarah pada pergantian rezim di Iran.


Israel Klaim Hancurkan Fasilitas Nuklir Rahasia Iran

Sementara itu, militer Israel juga merilis rekaman video yang mereka klaim menunjukkan kehancuran sebuah fasilitas nuklir rahasia milik Iran.

Gambar satelit terbaru juga memperlihatkan kondisi kerusakan parah di pelabuhan militer Abbas. Dalam rekaman tersebut terlihat:

  • empat kapal perang Iran terbakar secara bersamaan
  • api masih terlihat menyala siang dan malam

Serangan ini menyebabkan kapasitas operasional angkatan laut Iran mengalami kerusakan serius, bahkan disebut hampir lumpuh.


Iran Kehilangan Dukungan Sistem Pertahanan

Di tengah tekanan militer yang semakin berat, Iran juga menghadapi masalah lain di bidang pertahanan.

Beberapa perkembangan penting yang dilaporkan antara lain:

  • Rusia menolak memberikan bantuan sistem pertahanan udara tambahan kepada Iran
  • Iran juga dilaporkan kecewa terhadap sistem pertahanan udara HQ-9B buatan Tiongkok

Menurut laporan militer, tiga unit HQ-9B dihancurkan dalam waktu kurang dari satu jam setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel dimulai.

Hal ini semakin memperburuk kemampuan Iran dalam mempertahankan wilayah udaranya.


Militer AS Memburu Peluncur Rudal Mobile

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa Iran saat ini masih berusaha melakukan serangan menggunakan peluncur rudal mobile yang dapat berpindah-pindah lokasi.

Namun militer Amerika Serikat menyebut bahwa mereka kini secara aktif memburu dan menghancurkan setiap peluncur rudal yang terdeteksi.

Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Donald Trump bahkan memberikan peringatan keras terhadap kepemimpinan Iran.

Ia mengatakan: “Hari ini kepemimpinan baru Iran kembali menjadi sasaran serangan. Iran sudah tamat.”

Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung telah memasuki fase yang sangat menentukan bagi masa depan Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah. (***)

Selat Hormuz Ditutup Iran, Pemerintah Impor Minyak Mentah dari Amerika Serikat  Demi Amankan Pasokan BBM

EtIndonesia-– Pemerintah RI merespon dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran.  Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz sebagai akibat konflik di Timur Tengah akan mengganggu jalur logistik sekitar 20 persen (20,1 juta barel) pasokan minyak global dan dapat menimbulkan kenaikan harga minyak dunia.

Mencermati kondisi yang ada, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meminta Menteri ESDM untuk memastikan ketersediaan pasokan energi nasional agar tidak sampai terjadi kelangkaan.

“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian kepada pelayanan kepada masyarakat kita,” ujar Menteri ESDM selaku Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadalia, Selasa (3/3/2026) dalam siaran persnya. 

Penutupan Selat Hormuz, menurut Bahlil, bukan sekadar masalah geopolitik, melainkan juga masalah pasokan minyak dunia. Sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melintasi selat itu, termasuk pasokan yang menuju Indonesia.

“Pasokan energi (crude) untuk kebutuhan Indonesia yang melalui Selat Hormuz berasal dari negara-negara middle east sekitar 19% kebutuhan nasional atau sebesar 25,36 juta barel. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil yang tidak melalui Selat Hormuz,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari strategi mitigasi, Pemerintah sedang mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah ke negara lain yang lebih aman pasokannya, termasuk pasokan dari Amerika Serikat. Langkah ini ditempuh agar ketersediaan untuk kebutuhan nasional tetap terjamin.

Untuk kebutuhan impor BBM, Bahlil menjelaskan bahwa saat ini Indonesia mendapatkan pasokan dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah, termasuk negara-negara di Asia Tenggara. “Impor BBM relatif tidak masalah,” tegasnya.

Adapun untuk komoditas Liquefied Petroleum Gas (LPG), yang kebutuhan nasionalnya masih dipenuhi melalui impor sekitar 7,3-7,8 juta ton per tahun, Pemerintah mengarahkan sebagian besar pasokannya dari Amerika Serikat sebagai langkah diversifikasi sumber dan penguatan ketahanan energi nasional.

Pengalihan komoditas ini merupakan salah satu rekomendasi utama Sidang Anggota DEN ke-1 Tahun 2026. Selain itu, rapat menyimpulkan perlunya optimalisasi pemanfaatan sumber energi domestik, dengan mengacu pada keberhasilan program biodiesel sebagai salah satu referensi.

Sidang Anggota DEN dihadiri oleh unsur Pemerintahan terkait, antara lain Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, dan Wakil Tetap Kementerian Keuangan (Direktur Jenderal Anggaran) Luky Alfirman. Di samping itu, rapat juga dihadiri 8 Anggota DEN dari Unsur Pemangku Kepentingan.

Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2008 tentang pembentukan DEN dan tata cara seleksi anggota, DEN menyelenggarakan Sidang Paripurna secara berkala minimal dua kali setahun, serta Sidang Anggota yang dipimpin oleh Ketua Harian setidaknya sekali setiap dua bulan atau sewaktu-waktu jika diperlukan. Keputusan dan rekomendasi dari Sidang Anggota DEN ke-1 Tahun 2026 diharapkan menjadi pedoman operasional cepat bagi kementerian dan lembaga terkait untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global.  (***)

Azerbaijan Tegaskan Berhak Membalas Setelah Iran Melancarkan Serangan Drone

Negara yang berbatasan langsung dengan Iran itu mengatakan memiliki “hak untuk mengambil langkah yang tepat” sebagai respons

Jack Phillips

EtIndonesia. Azerbaijan pada Kamis (5/3/2026) menuduh rezim Iran melancarkan serangan drone ke wilayahnya yang melukai empat orang, serta memperingatkan akan melakukan pembalasan seiring konflik Timur Tengah semakin meluas.

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan menyatakan bahwa pada Kamis “serangan drone telah dilakukan” di Republik Otonom Nakhchivan—wilayah eksklave yang terkurung daratan dan berbatasan dengan Armenia, Turkiye, dan Iran—yang berasal dari Iran.

Salah satu drone menghantam bangunan bandara di wilayah otonom tersebut, sementara drone lainnya jatuh di dekat gedung sekolah di sebuah desa, kata kementerian Luar Negeri Azerbaijan.

“Kami dengan keras mengutuk serangan drone ini … yang menyebabkan kerusakan pada bangunan bandara dan melukai dua warga sipil,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Pemerintah Azerbaijan menambahkan bahwa rezim Iran harus memberikan “penjelasan yang jelas mengenai insiden ini” serta melakukan penyelidikan.

Kementerian itu juga memperingatkan bahwa Azerbaijan “berhak mengambil langkah balasan yang sesuai”, seraya menambahkan bahwa duta besar Iran untuk Azerbaijan telah dipanggil dan akan menerima “protes keras” dari pihak Baku.

Belum jelas apakah serangan tersebut dilakukan secara sengaja atau merupakan kecelakaan.

Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, dalam pernyataan terpisah menuduh Iran melakukan “tindakan teror dan agresi yang tidak berdasar”, serta mengatakan bahwa militernya telah diperintahkan untuk bersiap dan melaksanakan langkah pembalasan. Negara yang berbatasan dengan Laut Kaspia itu juga menghentikan lalu lintas truk di sepanjang lebih dari 400 mil perbatasannya dengan Iran.

“Kami tidak akan menoleransi tindakan teror dan agresi tanpa dasar yang dilakukan terhadap Azerbaijan,” kata Aliyev dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita Azertac.
“Iran harus memberikan penjelasan kepada pihak Azerbaijan, menyampaikan permintaan maaf, dan mereka yang melakukan tindakan teroris ini harus dimintai pertanggungjawaban secara pidana.”

Para pejabat Iran membantah bahwa negara itu meluncurkan drone ke wilayah Azerbaijan. Iran juga berulang kali menyangkal menargetkan infrastruktur minyak dan sasaran sipil lainnya dalam perang yang sedang berlangsung, meskipun serangan drone dan misilnya dilaporkan menghantam lokasi-lokasi tersebut.

Dalam pernyataan yang dimuat oleh media pemerintah Tasnim News Agency, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa pemerintah Iran “tidak menargetkan negara-negara tetangga” terkait tuduhan yang dilontarkan Azerbaijan. Ia menambahkan bahwa insiden di Republik Otonom Nakhchivan harus diselidiki.

“Kami telah menyatakan sejak awal bahwa jika ada pangkalan militer di kawasan ini yang digunakan untuk menyerang Iran, maka kami akan menargetkannya. Itulah kebijakan kami,” kata wakil menteri luar negeri tersebut pada Kamis.

Insiden ini terjadi ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan militer dan kepemimpinan Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei pada akhir pekan lalu. Khamenei memimpin negara itu sejak 1989 hingga kematiannya.

Iran kemudian membalas dengan menembakkan misil dan drone ke Israel, aset militer Amerika, serta sejumlah negara tetangga. Pada Rabu, pemerintah Turkiye mengatakan bahwa sistem pertahanan NATO mencegat sebuah misil di dekat wilayahnya, meskipun Pentagon mengisyaratkan bahwa insiden itu kemungkinan tidak cukup untuk memicu Pasal 5 NATO tentang pertahanan bersama.

Dalam beberapa tahun terakhir, Azerbaijan semakin mempererat hubungan dengan Israel dan Amerika Serikat, sementara pengaruh Iran di kawasan Kaukasus Selatan terus melemah. Tahun lalu, Presiden AS Donald Trump menjamu Aliyev dan sejumlah pejabat tinggi lainnya di Gedung Putih dalam pertemuan puncak tiga pihak dengan Armenia.

Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.

Sidang Dua Sesi Partai Komunis Tiongkok Dibuka, Beijing Tegang Hingga Ketidakhadiran Ma Xingrui Picu Spekulasi

Di tengah guncangan rezim Iran dan meningkatnya konflik internal di Zhongnanhai, Dua Sesi (Liang Hui)  Partai Komunis Tiongkok (PKT) dibuka pada 4–5 Maret. Video yang beredar di internet menunjukkan situasi Beijing sangat tegang; bahkan jembatan penyeberangan pejalan kaki dijaga petugas. Apa saja sorotan pada hari pertama sidang ini menjadi topik hangat yang banyak diperbincangkan.

EtIndonesia. Pada 4 Maret 2026, sidang ke-4 Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) ke-14 dibuka di Beijing. Siaran langsung dari media corong pemerintah CCTV menunjukkan bahwa anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok  Ma Xingrui dan Wakil Ketua CPPCC Chen Wu tidak hadir. Keduanya sebelumnya juga beberapa kali absen dari pertemuan penting.

Di antara keduanya, Ma Xingrui sejak mundur dari jabatan Sekretaris Partai Xinjiang pada Juli tahun lalu telah berulang kali tidak muncul di acara penting. Rumor mengenai kemungkinan kejatuhannya terus beredar, tetapi hingga kini pihak berwenang belum memberikan penjelasan resmi.

Kolumnis Epoch Times, Wang He, mengatakan bahwa Ma Xingrui memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Xi Jinping. Bahkan istri mereka disebut sebagai sahabat dekat.
Menurut Wang, jika Ma Xingrui disingkirkan, itu sama saja dengan menyentuh kepentingan Xi Jinping. Kecuali ada bukti kuat yang dipegang oleh kekuatan anti-Xi yang memaksa Xi untuk memutuskan hubungan dengannya, jika tidak, situasi ini kemungkinan akan terus mengalami kebuntuan.

Komentator politik yang bermukim di AS, Chen Pokong, mengatakan bahwa karena Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan berulang kali melindungi Ma Xingrui dan bahkan berharap masalahnya dapat diselesaikan secara “soft landing”, maka hingga kini kasus tersebut belum diumumkan secara terbuka.

Menjelang Dua Sesi, pembersihan internal PKT terus meningkat, dan militer menjadi sektor yang paling terdampak. Pada 26 Februari, sembilan jenderal dari angkatan laut, darat, udara, serta pasukan dukungan informasi dicabut statusnya sebagai delegasi Kongres Rakyat Nasional.

Namun, mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia, yang sebelumnya dilaporkan “sedang diselidiki”, tidak termasuk dalam daftar pencabutan tersebut.

Pada 4 Maret, surat kabar militer PKT melaporkan bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Shengmin telah diangkat menjadi kepala delegasi Pasukan Polisi Bersenjata. Pada hari yang sama, Zhang Shengmin menyatakan dalam sidang bahwa mereka harus “memusatkan upaya pada latihan tempur dan kesiapan perang” serta “meningkatkan posisi politik”.

Wang He mengatakan bahwa setelah kabar jatuhnya Zhang Youxia, kepemimpinan militer PKT sebenarnya sedang terpecah. Meskipun Xi Jinping telah memegang kendali militer selama lebih dari sepuluh tahun, pengaruhnya di dalam militer tidak terlalu kuat.

Kini Zhang Shengmin, sebagai satu-satunya anggota Komisi Militer Pusat yang tersisa, menyerukan agar semua pihak meningkatkan “posisi politik”, yang pada dasarnya berarti meminta mereka untuk berpihak kepada Xi Jinping.

Warga Beijing mengungkapkan bahwa menjelang penyelenggaraan Dua Sesi, jembatan penyeberangan di kota itu dijaga selama 24 jam. Beberapa netizen bahkan bercanda dengan mengatakan: “Pemimpin Iran Ali Khamenei sudah tiada, sehingga Zhongnanhai menjadi seperti burung yang ketakutan, melihat rumput dan pohon pun dianggap musuh.”

Chen Pokong mengatakan bahwa di tengah konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, PKT menghadapi tekanan baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam situasi seperti itu, Dua Sesi dibuka dengan pengamanan yang sangat ketat—“tiga langkah satu penjaga, lima langkah satu pos”.

Beberapa hari lalu, pemimpin Iran yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun, Ali Khamenei tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel saat sedang mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat militer. Saat ini situasi politik Iran tengah mengalami perubahan besar dan ketidakstabilan.

Pengamat menilai bahwa bagi PKT—sekutu strategis Iran—peristiwa ini merupakan pukulan ganda, baik secara politik maupun ekonomi, dan juga membayangi jalannya Dua Sesi.

Menurut Wang He, tindakan Amerika Serikat terhadap Iran menunjukkan kekuatan militer Amerika yang sangat besar. Kekuatan tersebut, katanya, belum dapat ditandingi oleh PKT saat ini. Karena itu, dampak psikologis terhadap para pejabat dan delegasi Dua Sesi tidak dapat diperkirakan besarnya.

Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Tang Rui.

NATO Tembak Rudal Iran yang Akan Menghantam Turkiye

Pentagon: Ketentuan Pertahanan Bersama NATO Pasal 5 Kemungkinan Tidak Akan Diaktifkan

EtIndonesia. Pejabat Turkiye pada 4 Maret mengatakan bahwa sistem pertahanan NATO telah menghancurkan sebuah rudal Iran yang menuju wilayah udara Turkiye.

Rudal tersebut terdeteksi melintas di atas wilayah udara Irak dan Suriah sebelum akhirnya dihancurkan oleh sistem pertahanan udara NATO. Hal itu disampaikan Kepala Komunikasi Turkiye, Burhanettin Duran, dalam pernyataan yang diunggah di platform X.

“Tekad dan kemampuan Turkiye untuk menjamin keamanan negara dan bangsa kami tetap berada pada tingkat tertinggi. Semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah dan ruang udara Turkiye akan diambil tanpa ragu,” tulis Duran.

Ia menegaskan bahwa Turkiye akan merespons “setiap potensi tindakan permusuhan” sesuai dengan hukum internasional. Namun dari pernyataan tersebut belum jelas apakah Turki akan mengaktifkan ketentuan tertentu dalam NATO.

Meskipun tidak memberikan rincian tambahan, juru bicara itu mengatakan bahwa otoritas Turki “secara khusus meminta media dan pengguna media sosial untuk bertindak lebih hati-hati serta tidak menyebarkan laporan atau unggahan yang belum terverifikasi yang dapat menimbulkan kepanikan publik atau mengandung disinformasi.” Ia menekankan bahwa masyarakat harus berhati-hati terhadap informasi apa pun selain pernyataan resmi.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada para wartawan di Pentagon pada Rabu pagi bahwa insiden tersebut kemungkinan tidak memenuhi syarat untuk mengaktifkan Pasal 5 NATO—ketentuan pertahanan kolektif yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota aliansi Atlantik.

“Kami mengetahui keterlibatan tersebut, tetapi tidak ada indikasi bahwa hal itu akan memicu sesuatu seperti Pasal 5,” katanya.

Sepanjang sejarah NATO, Pasal 5 hanya pernah diaktifkan satu kali, yaitu setelah serangan teroris 11 September 2001 yang menargetkan Amerika Serikat. Turkiye menjadi anggota NATO pertama yang wilayah udaranya didekati rudal Iran sejak dimulainya serangan udara pada 28 Februari.

Sebagai balasan atas serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, Iran meluncurkan rudal dan drone ke berbagai negara Timur Tengah di sekitarnya, menyerang wilayah di Israel, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Irak, dan sejumlah lokasi lainnya.

Departemen Luar Negeri AS telah memperingatkan warga Amerika agar tidak bepergian ke sekitar selusin negara di Timur Tengah, sementara ratusan penerbangan di kawasan itu dibatalkan. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, mengatakan pada Rabu bahwa militer akan membantu mengevakuasi warga AS menggunakan pesawat militer.

Hegseth juga mengatakan bahwa lebih banyak pasukan Amerika akan tiba di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat “akan mengambil waktu yang diperlukan untuk memastikan keberhasilan.”

Ia juga mengungkapkan bahwa sebuah torpedo dari kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran pada Selasa malam, yang menjadi serangan pertama terhadap kapal musuh sejak Perang Dunia II.

“Angkatan laut Iran kini berada di dasar Teluk Persia,” kata Hegseth.

Gelombang pertama serangan pada 28 Februari menewaskan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta puluhan pejabat tinggi rezim. Hingga kini belum ada tokoh yang ditunjuk untuk menggantikan Khamenei, yang telah memerintah negara itu sejak 1989.

The Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.

Gejolak Iran Mengguncang Zhongnanhai, Pakar: Trump Sedang Memainkan “Papan Catur Besar”

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran, dengan tujuan yang juga mencakup harapan banyak rakyat Iran: mendorong pergantian rezim. Namun, sumber yang mengetahui situasi mengungkapkan bahwa perubahan besar di Iran justru memberi dampak signifikan terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT). Pimpinan tinggi di Zhongnanhai disebut tengah melakukan penilaian intensif atas situasi. Para pakar menilai Donald Trump sedang mencabut satu per satu sekutu periferal PKT, sehingga peta pengaruh PKT di Timur Tengah berisiko runtuh total.

EtIndonesia. Sejak Sabtu, AS dan Israel melancarkan gelombang besar serangan udara ke Iran, menghantam kepemimpinan militer–politik serta berbagai target pemerintah dan militer.

Trump sebelumnya menegaskan bahwa operasi ini bertujuan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan rudal jarak jauh demi menjamin keamanan Amerika Serikat dan generasi mendatang. Ia menekankan operasi akan terus berjalan sampai seluruh tujuan tercapai.

Sebagai sekutu strategis Iran, sikap PKT terhadap krisis ini menarik perhatian internasional. Sejumlah pandangan menilai, jika terjadi perubahan rezim di Iran, pihak yang paling terdampak justru PKT.

Peneliti Institute for National Defense and Security Research, Shen Mingshi, mengatakan: “Jika Amerika Serikat ingin mempertahankan posisi kuat dan kepemimpinan global dalam 10–20 tahun ke depan, musuh terbesarnya adalah Tiongkok (PKT).”

Direktur Institut Strategi Pertahanan dan Sumber Daya di lembaga yang sama, Su Tzu-yun, menambahkan: “Dengan mencabut ‘paku’ Iran, Trump dapat memusatkan kekuatan untuk membendung PKT di kawasan Indo-Pasifik. Ini adalah pola strategis besar—Trump sedang memainkan satu papan catur besar.”

Sejumlah sumber internal mengungkapkan kepada Epoch Times bahwa dalam beberapa hari terakhir, pimpinan Beijing secara intens menilai situasi Iran. Fokus pembahasan mencakup apakah struktur kekuasaan Iran mulai mengendur dan bagaimana dampaknya terhadap tata letak pengaruh PKT di Timur Tengah.

Su Tzu-yun menilai: “Iran adalah aset strategis yang telah lama diinvestasikan PKT di Timur Tengah. Jika Iran tercabut, PKT pertama-tama kehilangan tuas geopolitik utama; kedua, kembali terbukti tak mampu menandingi Barat; ketiga, kehilangan sumber minyak murah. Secara strategis, PKT terpeleset keras.”

Pada Januari, AS menangkap mantan presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Sabtu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan.

Khamenei dan Maduro—keduanya memiliki hubungan dekat dengan PKT—dipandang sebagai “pos terdepan anti-AS” dalam jaringan geopolitik PKT.

Analisis menilai, seiring perubahan drastis di Iran dan Venezuela, strategi AS “mencari perdamaian melalui kekuatan” tengah membentuk ulang keseimbangan kekuasaan global dan semakin mempersempit ruang geopolitik PKT.

Shen Mingshi menambahkan: “Dari strategi keamanan nasional yang diumumkan Trump, sasaran utamanya adalah PKT. Namun ia tidak langsung berhadapan; ia terlebih dulu menyingkirkan negara dan kekuatan yang mendukung atau terkait dengan PKT—dimulai dari Belahan Barat, lalu Timur Tengah, hingga Indo-Pasifik.”

Saat ini ekonomi Tiongkok menghadapi tantangan serius. Para pakar menilai, dengan runtuhnya titik-titik tumpu strategis eksternal PKT, imbal hasil prakarsa “Belt and Road” juga berisiko kolaps. Jika PKT memilih terjun ke perlombaan senjata dengan AS, ada kemungkinan mengulang jejak Uni Soviet—ekonomi tak sanggup menanggung beban, berujung pada keruntuhan rezim.

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television Tang Rui, bersama reporter lepas Luo Ya

Zhongnanhai : Kantor pusat dan komplek pimpinan partai komunis Tiongkok di Beijing