Kuba Kehabisan Bahan Bakar, Protes Meletus — Direktur CIA Langka Kunjungi Kuba Bersama Delegasi

EtIndonesia. Sanksi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Kuba terus memberikan tekanan besar terhadap negara tersebut. Pada Kamis (14 Mei), delegasi pejabat AS yang dipimpin Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan ke Kuba.

Menurut pernyataan resmi pemerintah Kuba, Ratcliffe pada hari itu mengadakan pertemuan dengan Kementerian Dalam Negeri Kuba di ibu kota Havana.

Ini merupakan pertama kalinya sejak kunjungan mantan Presiden AS Barack Obama ke Kuba pada tahun 2016, sebuah pesawat pemerintah Amerika mendarat di Kuba — di luar pangkalan militer AS di Guantanamo Bay.

Pihak Kuba mengklaim bahwa Kuba tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat, serta tidak memiliki pangkalan militer atau intelijen asing di wilayahnya. Mereka juga menyatakan tidak pernah mendukung tindakan permusuhan terhadap AS.

Namun sebelumnya, Trump menuduh Kuba menindas dan menyiksa oposisi politik, memberikan perlindungan kepada organisasi seperti Hizbullah dan Hamas, serta mendukung kekuatan yang memusuhi Amerika Serikat. Trump menyebut tindakan Kuba sebagai “ancaman luar biasa” terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS.

Pada Januari tahun ini, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara manapun yang mengirim bahan bakar ke Kuba.

Pada 13 Mei, Menteri Energi dan Pertambangan Kuba, Vicente de la O Levy, mengatakan bahwa Kuba kini telah benar-benar kehabisan solar dan bahan bakar minyak, sehingga sistem kelistrikan negara itu berada dalam kondisi “kritis”.

Ia juga mengatakan bahwa pemadaman listrik besar-besaran setiap hari kini memengaruhi jutaan warga Kuba.

Menurut laporan Reuters, krisis listrik tersebut memicu aksi protes di berbagai wilayah Havana pada malam hari. Ini disebut sebagai demonstrasi terbesar sejak krisis energi meledak pada Januari lalu.

Seorang warga setempat mengungkapkan bahwa wilayah tempat tinggalnya telah mengalami pemadaman listrik selama lebih dari 40 jam tanpa henti. Ia mengatakan banyak lansia di lingkungannya, termasuk beberapa yang sedang sakit di tempat tidur. Pemadaman juga menyebabkan makanan di rumah mulai membusuk.

Warga hanya bisa memukul panci dan wajan sebagai bentuk protes, berharap pemerintah setidaknya memulihkan listrik selama tiga jam. “Ini bukan masalah politik, kami hanya ingin kehidupan dasar bisa tetap berjalan,” ujarnya. 

Sumber : NTDTV.com

Menlu AS Memperingatkan Beijing Soal Serangan Militer terhadap Taiwan akan Menjadi “Kesalahan Besar”

EtIndonesia. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio pada Kamis (14 Mei) menyampaikan pernyataan tegas bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan tidak berubah. Ia juga memperingatkan PKT bahwa upaya melakukan apa yang disebut “penyatuan” dengan menggunakan kekuatan militer akan menjadi sebuah “kesalahan yang mengerikan”.

Selain itu, terkait situasi di Selat Hormuz, Rubio mengatakan bahwa penyelesaian krisis juga sejalan dengan kepentingan Beijing sendiri.

Dalam wawancara khusus dengan NBC News pada Kamis, Rubio menegaskan bahwa kebijakan AS mengenai Taiwan tidak pernah berubah. Ia juga memperingatkan bahwa jika PKT menyerang Taiwan dengan kekuatan militer, itu akan menjadi kesalahan besar.

“Xi selalu dengan jelas mengatakan bahwa apa yang mereka sebut sebagai ‘penyatuan’ cepat atau lambat harus terjadi. Kami percaya bahwa memaksakan hal itu melalui kekuatan militer atau cara serupa lainnya akan menjadi kesalahan yang mengerikan. Itu akan memicu konsekuensi global, bukan hanya dari Amerika Serikat,” ujarnya. 

Rubio juga menyoroti ambisi strategis Beijing dan mengatakan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, militer PKT berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Saya pikir tujuan mereka bukan hanya Taiwan. Saya rasa ambisi mereka pada akhirnya adalah memiliki kemampuan memproyeksikan kekuatan secara global seperti yang dimiliki Amerika Serikat saat ini,” ujarnya. 

Mengenai isu Iran, Rubio mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump memang mengangkat masalah Iran dalam pembicaraan dengan pemimpin PKT Xi Jinping, tetapi tidak meminta bantuan dari Beijing.

Menurut Rubio, Beijing juga menyatakan tidak mendukung militerisasi ataupun pengenaan biaya di Selat Hormuz.

Sehari sebelumnya, saat diwawancarai Fox News di atas Air Force One, Rubio mengatakan bahwa Beijing tidak menginginkan krisis di selat tersebut.

“Jika ekonomi dunia runtuh akibat krisis di selat ini, maka kemampuan negara-negara untuk membeli barang-barang Tiongkok juga akan menurun, dan ekspor Tiongkok akan merosot tajam. Karena itu, menyelesaikan krisis ini sesuai dengan kepentingan mereka sendiri,” ujarnya. 

Dilaporkan oleh reporter NTD, Yi Jing.

Menyindir PKT ? Rubio Tertangkap Kamera Mengedip ke Trump Setelah Berjabat Tangan dengan Xi

EtIndonesia. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang pernah “dijatuhi sanksi” oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), ikut mendampingi Presiden Donald Trump dalam kunjungan ke Tiongkok dan menjadi topik hangat perhatian publik.

Media menangkap momen pada Kamis (14 Mei) ketika Rubio berjabat tangan dengan pemimpin PKT Xi Jinping, lalu menunjukkan senyum khas sambil mengedipkan mata ke arah Trump.

Pada Kamis pagi waktu Beijing, pihak PKT menggelar upacara penyambutan besar-besaran untuk rombongan Trump di luar Aula Besar Rakyat Beijing.

Rekaman dari China Central Television menunjukkan bahwa setelah Trump berjalan di karpet merah, ia berjabat tangan dan berbincang singkat dengan Xi Jinping. Setelah itu, Trump berjabat tangan dengan pejabat PKT, sementara Xi menyapa para pejabat dan pengusaha Amerika yang ikut dalam rombongan.

Dalam tayangan tersebut, Rubio berada di urutan kedua. Xi Jinping tampaknya menunjukkan “perhatian khusus” kepadanya. Setelah berjabat tangan dengan Rubio, Xi bahkan terlihat dua kali menoleh untuk meliriknya kembali.

Sementara itu, Rubio tampak serius saat berjabat tangan dengan Xi. Setelah berjabat tangan, Rubio sempat melihat ke arah Trump yang berjalan di belakang Xi. Keduanya sempat saling berpandangan singkat. Setelah kontak mata itu, ekspresi Trump tidak banyak berubah, tetapi ketika Rubio kembali menghadap kamera, ia memperlihatkan senyum yang dianggap “istimewa”.

Video dari media Amerika yang direkam dari arah depan kemudian mengungkap detail dari kontak mata singkat antara Rubio dan Trump tersebut. Rekaman menunjukkan Rubio sambil tersenyum mengedipkan mata kepada Trump.

Video itu segera viral di media sosial. Banyak netizen meninggalkan komentar bernada bercanda, seperti:“Rubio: Pak Presiden, lihat, Xi lupa kalau dia pernah menjatuhkan sanksi kepada saya.”

“Lihat, dia bahkan tidak berani menangkap saya. Benar-benar lucu.”

“Rubio: Lihat, saya tetap bisa masuk Tiongkok dan bahkan berjabat tangan.”

“Mereka berdua mungkin bertaruh 10 dolar.”

Saat masih menjadi anggota Kongres AS, Rubio dikenal keras terhadap Partai Komunis Tiongkok sehingga dua kali dijatuhi “sanksi” oleh Tiongkok, termasuk larangan memasuki wilayah Tiongkok.

Setelah Rubio diangkat menjadi Menteri Luar Negeri AS, pihak PKT bahkan mengganti transliterasi namanya dalam bahasa Mandarin menjadi “魯比奧” atau Lǔ Bǐ’ào hingga diidentifikasi sebagai Marco Lu  untuk menghindari kesan canggung ketika harus berurusan dengannya.

Kunjungan Rubio ke Tiongkok bersama Trump kali ini mendapat perhatian besar dari publik. Ia sendiri tampaknya juga memberi respons dengan cara yang unik.

Foto yang dirilis The White House menunjukkan bahwa saat menaiki pesawat kepresidenan Air Force One menuju Tiongkok, Rubio mengenakan pakaian olahraga hitam-putih merek Nike yang disebut-sebut mirip dengan pakaian yang dikenakan Presiden Venezuela ketika ditangkap militer AS.

Netizen pun berspekulasi bahwa Rubio sengaja mengenakan pakaian tersebut sebagai bentuk “balasan simbolis” terhadap sanksi PKT. Ada juga yang bercanda bahwa pakaian itu sengaja dipakai untuk diperlihatkan kepada Xi Jinping dengan pesan: “Kali ini kami datang untuk menangkapmu!”

Sumber : NTDTV.com

Israel Pertimbangkan Gugat The New York Times karena Tuduhan Pelecehan Seksual terhadap Tahanan Palestina

EtIndonesia. Pemerintah Israel baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengajukan gugatan pencemaran nama baik terhadap media Amerika, The New York Times. Penyebabnya adalah sebuah artikel investigasi-opini yang diterbitkan media tersebut, yang menuduh aparat militer dan kepolisian Israel melakukan pelecehan seksual secara luas terhadap tahanan Palestina.

“Kebohongan paling menjijikkan dalam sejarah media modern,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam isi laporan itu. 

Beberapa hari lalu, Netanyahu bersama Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengeluarkan pernyataan bersama yang secara resmi meminta agar gugatan pencemaran nama baik diajukan terhadap The New York Times.

Laporan yang memicu kontroversi tersebut adalah artikel investigasi-opini yang ditulis kolumnis The New York Times, Nicholas Kristof, dan diterbitkan pada hari Senin.

Artikel itu mewawancarai 14 pria dan wanita Palestina dari Tepi Barat yang mengaku mengalami pelecehan seksual oleh tentara Israel, sipir penjara, pemukim Yahudi, dan personel badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet.

Laporan tersebut menyebut korban mencakup pria, wanita, bahkan anak-anak. Meski artikel itu menyatakan tidak ada bukti bahwa “pemerintah Israel tingkat tinggi secara langsung memerintahkan pemerkosaan”, laporan tersebut tetap memicu reaksi keras dari pemerintah Israel.

Kementerian Luar Negeri Israel membantah isi laporan itu dan mengkritik artikel tersebut karena menggunakan sumber yang belum terverifikasi serta disebut memiliki kaitan dengan Hamas.

Selain itu, pihak Israel juga mempertanyakan waktu penerbitan artikel tersebut. Mereka menuduh The New York Times sengaja menerbitkannya pada hari yang sama ketika Israel merilis “laporan investigasi kekerasan seksual dalam serangan Hamas 7 Oktober”, dengan tujuan melemahkan kredibilitas penyelidikan Israel dan mengalihkan perhatian internasional.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa The New York Times sedang: “Memfitnah tentara Israel” dan berusaha menciptakan:“kesetaraan palsu antara militer Israel dan Hamas.”

Sumber : NTDTV.com

Kunjungan Trump ke Tiongkok Dijaga Ketat : Rombongan Gunakan Ponsel Sekali Pakai Demi Hindari Pengawasan

Selama kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing, para pejabat dan eksekutif perusahaan yang ikut dalam rombongan diwajibkan memperketat perlindungan keamanan informasi. Langkah-langkahnya termasuk mengganti ponsel dan laptop, tidak menggunakan Wi-Fi hotel, bahkan menghindari penggunaan perangkat pengisian daya lokal. Pihak AS juga kemungkinan menyiapkan “ruang isolasi keamanan” sementara selama kunjungan untuk memastikan informasi sensitif tidak bocor.

EtIndonesia. Saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai kunjungannya ke Tiongkok, perlindungan keamanan siber bagi rombongan AS ditingkatkan secara menyeluruh di tengah situasi diplomatik yang sangat sensitif.

Menurut laporan Fox News, ratusan staf, pejabat pemerintah, dan eksekutif perusahaan diwajibkan meninggalkan ponsel dan komputer pribadi mereka di Amerika Serikat sebelum berangkat. Sebagai gantinya, mereka membawa “ponsel bersih” dan laptop sementara ke Tiongkok.

Perangkat-perangkat tersebut biasanya dibatasi akses login cloud dan data pribadinya untuk mengurangi risiko peretasan atau kebocoran data. Beberapa pejabat bahkan tidak dapat menggunakan akun komunikasi maupun sistem kerja utama mereka selama berada di Beijing, dan hanya bisa berkomunikasi melalui akun sementara atau jalur komunikasi terenkripsi yang diawasi ketat.

Selain itu, pihak AS tetap sangat waspada terhadap lingkungan jaringan internet lokal. Para pejabat disarankan untuk tidak menggunakan Wi-Fi hotel, bahkan menghindari penggunaan perangkat USB pengisian daya yang tidak dikenal, guna mencegah serangan siber seperti “jebakan pengisian daya” (juice jacking).

Sumber tertentu menyebutkan bahwa pemerintah AS juga kemungkinan mendirikan fasilitas sementara bernama SCIF (Sensitive Compartmented Information Facility), atau yang disebut “ruang isolasi keamanan”, selama kunjungan berlangsung. Fasilitas ini memungkinkan pejabat melakukan komunikasi dan pembicaraan rahasia di lingkungan yang terkendali agar informasi sensitif tidak disadap atau dicegat.

Pakar keamanan siber menilai langkah-langkah tersebut mencerminkan tingginya penilaian risiko Amerika Serikat terhadap lingkungan jaringan PKT, dengan anggapan bahwa setiap perangkat elektronik dan koneksi internet berpotensi dipantau atau disusupi.

Dilaporkan oleh reporter NTD, Liu Jiajia, dari AS

“Agen Tidur” Iran Menyusup ke AS, Komunitas Intelijen Khawatir akan Ancaman Terhadap Piala Dunia 2026

Kalangan intelijen Amerika Serikat khawatir bahwa sel-sel tidur Iran yang saat ini berada di AS dapat mengancam penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Sementara itu, setelah beberapa anggota Garda Revolusi Iran ditangkap di Kuwait, negara-negara Teluk juga mencapai kesepakatan untuk bersama-sama melawan aktivitas terorisme.

EtIndonesia. Ajang Piala Dunia sepak bola akan dimulai pada Juni mendatang. Baru-baru ini, mantan agen FBI Jonathan Gilliam menyatakan bahwa Iran mungkin akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengaktifkan “agen tidur” yang ditempatkan di Amerika Serikat.

Ia mengatakan bahwa saat ini sudah ada kelompok-kelompok rahasia Iran yang beroperasi di wilayah AS. Pertanyaan utamanya adalah apakah selama pertandingan berlangsung kelompok-kelompok tersebut akan diaktifkan dan diperintahkan untuk melakukan serangan.

“Pada akhirnya, kuncinya adalah apakah para pejabat tinggi mampu memprediksi siapa yang akan melakukan serangan, apa motifnya, kapan, di mana, dan bagaimana caranya. Setelah itu, mereka harus melakukan simulasi skenario secara proaktif dan melacak balik sumber ancamannya, menggunakan berbagai sumber intelijen dan metode investigasi untuk mencari apakah ada individu yang diam-diam merencanakan serangan seperti itu. Ini bukan tugas yang mustahil,” kata Jonathan Gilliam. 

Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat seharusnya lebih dulu memberi peringatan tegas kepada Iran, bahwa jika berani bertindak, maka AS akan sepenuhnya menghentikan dialog dan menghancurkan rezim Iran.

mantan agen FBI Jonathan Gilliam (tangkapan layar)

Jonathan Gilliam juga mengatakan:“Berikan sinyal tertentu, misalnya menjatuhkan ‘Mother of All Bombs’ di wilayah terpencil Iran, untuk memberitahu mereka bahwa jika berani menyakiti warga Amerika, itulah konsekuensinya. ‘Mother of All Bombs’ adalah bom non-nuklir paling kuat dalam sejarah dunia.”

Pada awal Maret lalu, Presiden AS Donald Trump juga pernah menyinggung ancaman dari “agen tidur” Iran, dan menuduh pemerintahan sebelumnya membiarkan mereka masuk ke Amerika Serikat. Namun pemerintah AS disebut terus memantau pergerakan mereka secara ketat.

Pada Selasa (12 Mei), Kuwait mengumumkan penangkapan empat anggota pasukan komando Islamic Revolutionary Guard Corps. Setelah itu, para menteri dalam negeri negara-negara anggota Gulf Cooperation Council menyerukan peningkatan koordinasi untuk menghadapi ancaman terhadap stabilitas kawasan dan memberantas aktivitas terorisme.

Selain United Arab Emirates, Qatar, dan Bahrain, Saudi Arabia — yang belakangan dikabarkan beberapa kali menyerang Iran selama konflik — juga ikut mengecam tindakan Iran dan menuduhnya merusak stabilitas kawasan.

Kuwait menyatakan bahwa empat warga Iran yang ditangkap berusaha menyusup ke Bubiyan Island, sebuah pulau strategis yang dekat dengan Irak dan pantai Iran. Mereka memasuki perairan Kuwait menggunakan kapal nelayan sewaan dan disebut mendapat perintah untuk melakukan aksi permusuhan setelah masuk ke wilayah Kuwait.

Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah tuduhan tersebut. Ia mengatakan bahwa keempat orang itu tersesat ke wilayah Kuwait akibat kerusakan sistem navigasi, dan menuduh Kuwait mencoba memecah belah hubungan regional.

Sementara itu, UK Maritime Trade Operations (UKMTO) sebelumnya melaporkan bahwa sebuah kapal yang sedang berlabuh di timur laut Pelabuhan Port of Fujairah dibajak oleh pihak tak dikenal dan diarahkan menuju perairan Iran. Namun nama kapal dan jumlah awaknya masih belum diketahui.

Pihak Inggris mengimbau kapal-kapal di sekitar area tersebut agar meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan aktivitas mencurigakan. Investigasi masih berlangsung.

Pada Kamis, otoritas India juga mengumumkan bahwa kapal barang berbendera India bernama Haji Ali diserang dan terbakar pada Rabu (13 Mei) saat berlayar dari Somalia menuju Sharjah di UEA. Kapal tersebut kemudian tenggelam di dekat pantai Oman. Identitas pelaku serangan masih belum diketahui.

Komandan United States Central Command, Laksamana Brad Cooper mengatakan:“Selama 47 tahun, rezim Iran terus menyebarkan teror di kawasan dan menjadikan ‘permusuhan terhadap Amerika’ sebagai inti ideologi pemerintahannya.”

Dalam sidang dengar pendapat hari itu, Cooper mengatakan bahwa kemampuan ancaman Iran telah melemah secara signifikan akibat serangan militer AS. Iran tidak lagi mampu mengancam mitra regional maupun Amerika seperti sebelumnya, dan juga tidak lagi mampu mengirim senjata serta sumber daya kepada organisasi seperti Hezbollah, kelompok Houthi, dan Hamas.

Laksamana Cooper juga mengatakan:“CENTCOM dibentuk memang untuk secara langsung menghadapi ancaman dari Republik Islam Iran.”

“Dalam pengalaman pribadi saya, dulu dari 100 kali pelayaran melewati Strait of Hormuz, biasanya terlihat 20 hingga 40 kapal cepat Iran. Namun belakangan ini jumlahnya menurun drastis menjadi hanya dua atau tiga kapal,” katanya

Dilaporkan oleh reporter NTD, Wang Ziyi, dari Amerika Serikat.

Sepuluh Kejanggalan dalam Pertemuan Trump-Xi, Analis: Mengungkap Masalah Besar

Selama kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing, “pasukan pendahulu” pengamanannya mengejutkan banyak pihak. Pada 14 Mei, selama pertemuan Trump-Xi, muncul banyak insiden dan detail menarik, terutama terkait sistem pengawasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan tindakan kasar aparat keamanan PKT yang juga disaksikan media asing. Menurut pengamatan, sedikitnya ada sepuluh detail penting di dalam dan di luar lokasi acara.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Beijing pada 13 Mei malam untuk melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke Tiongkok. Sejak awal Mei, sekitar 70 kendaraan pengamanan Amerika dan lebih dari 10 pesawat angkut militer besar C-17 AS telah tiba di Beijing. Kendaraan kepresidenan lapis baja “The Beast” dan pesawat “Air Force One” juga menjadi pusat perhatian.

Veteran media Yan Chun-gou menulis di Facebook bahwa kunjungan Trump ke Beijing kali ini menunjukkan kekuatan besar dari tim pendahulu presiden: kendaraan kepresidenan yang tak tertandingi, perlindungan ketat Secret Service, ditambah pusat komando satelit terenkripsi dan jaringan komunikasi militer global. Ia menyebutnya seperti “Gedung Putih bergerak” yang dibawa masuk ke jantung Tiongkok.

Menurutnya, selain kebutuhan menghadapi situasi darurat di tengah konflik Timur Tengah saat ini, hal itu juga merupakan bentuk unjuk kekuatan tak langsung terhadap PKT.

Pada 14 Mei, media menangkap banyak detail menarik selama “pertemuan Trump-Xi”.

Pagi hari itu, pembawa acara Fox News, Bret Baier, yang ikut bersama Trump ke PKT, mengalami langsung sistem pengawasan PKT. Ia mengatakan:“Di sini ada kamera di mana-mana, memantau kami setiap detik.”  “Inilah komunisme!”

Pada 14 Mei, rombongan pers Gedung Putih yang mengikuti Trump mengalami sedikitnya tiga bentrokan fisik dengan staf pihak PKT.

Menurut reporter Gedung Putih dari New York Post, Emily Goodin, hanya dalam sehari terjadi beberapa insiden:

  • Seorang staf Gedung Putih diinjak oleh wartawan PKT
  • Seorang agen Secret Service dilarang mengikuti acara resmi
  • Seluruh rombongan media AS dilarang ikut dalam iring-iringan kendaraan presiden

Saat Trump tiba di Temple of Heaven untuk berkunjung, petugas keamanan PKT secara paksa mengurung rombongan pers Gedung Putih di sebuah ruangan kecil. Hal itu memicu kemarahan para wartawan hingga mereka menerobos keluar secara paksa.

Di lokasi Temple of Heaven juga terjadi konfrontasi sengit. Pihak PKT memaksa seorang agen Secret Service AS menyerahkan senjatanya terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk, sehingga jadwal kunjungan tertunda setengah jam.

Ketika Trump hendak meninggalkan lokasi, pejabat PKT kembali menolak membiarkan wartawan Amerika bergabung dengan iring-iringan presiden. Akibatnya, para wartawan AS berlari menerobos kerumunan petugas PKT dan akhirnya berhasil masuk kembali ke rombongan kendaraan presiden.

Komentator politik Zhou Xiaohui menulis dalam artikel di Epoch Times bahwa pembukaan pertemuan Trump-Xi pada  Mei pagi sangat menarik. Menurutnya, terlepas dari hasil pembicaraan kedua pihak, berbagai insiden kecil dan detail sepanjang proses justru memperlihatkan masalah yang lebih besar.

Ia merangkum sepuluh detail utama:

  1. Seekor burung murai datang saat Trump turun dari kendaraan
  2. Xi memakai sepatu penambah tinggi agar tampak sejajar dengan Trump
  3. Energi Trump terlihat sama seperti saat kunjungan 2017, sedangkan Xi tampak kurang percaya diri dan kehilangan semangat
  4. Jumlah pejabat tinggi PKT yang ikut upacara penyambutan lebih sedikit
  5. Rombongan AS terlihat santai, sedangkan rombongan PKT tampak tegang
  6. Musik yang dimainkan orkes militer dianggap memiliki makna tersembunyi
  7. Xi masih sangat sering melihat catatan kecil saat pertemuan
  8. Kali ini tidak ada konferensi pers bersama maupun forum pengusaha AS-PKT
  9. Xi hanya menemani Trump mengunjungi Aula Qinian di Temple of Heaven
  10. Durasi berita CCTV mengenai acara ini lebih singkat

Penulis menganalisis bahwa kemunculan burung murai saat menyambut Trump bisa dianggap simbol tertentu. Jika itu menandakan bahwa tekanan Trump akan mempercepat “tenggelamnya kapal merah PKT”, maka banyak rakyat PKT akan merasa gembira dari hati mereka.

Dari tayangan resmi terlihat bahwa suasana rombongan AS selama upacara penyambutan tampak santai, sedangkan pejabat PKT terlihat serius dan kaku. Menurut penulis, mereka sadar bahwa mereka bukan tokoh utama hari itu dan tidak boleh mencuri perhatian.

Penulis juga berpendapat bahwa perbedaan sikap pejabat kedua negara mencerminkan perbedaan sistem politik yang membentuk mereka. Pihak AS dianggap memiliki rasa tanggung jawab dan semangat melayani rakyat, sedangkan pejabat PKT dianggap lebih berorientasi melayani elite kekuasaan dan memuja kekuasaan itu sendiri.

Sumber : NTDTV.com

Dinyatakan Bersalah atas Dua Dakwaan, Mata-mata Partai Komunis Tiongkok Lu Jianwang Divonis Kurungan Hingga 30 Tahun Penjara

Tokoh komunitas Tionghoa di New York, Lu Jianwang, selama ini menjadi perhatian masyarakat Amerika Serikat karena diduga membantu Partai Komunis Tiongkok (PKT) mendirikan “kantor polisi luar negeri rahasia” di New York.

EtIndonesia. Pada Rabu (13 Mei), kasus Lu Jianwang mengalami perkembangan besar. Dewan juri federal di New York memutuskan bahwa ia bersalah atas dua dakwaan, termasuk menjadi agen ilegal pemerintah PKT. Tokoh komunitas yang membantu tindakan PKT ini kini menghadapi ancaman hukuman maksimum hingga 30 tahun penjara.

Pada 13 Mei, Pengadilan Federal Distrik Timur New York memutuskan mantan ketua Asosiasi Changle, Lu Jianwang, bersalah atas dua dakwaan, yaitu:

  • “Secara ilegal bertindak sebagai agen pemerintah asing”
  • “Menghalangi proses peradilan” karena menghapus riwayat percakapan WeChat dengan polisi PKT

“Putusan atas dakwaan menjadi agen asing secara ilegal ini secara hukum membuktikan bahwa Lu Jianwang adalah agen bawah tanah PKT di luar negeri. Ini juga menegaskan keberadaan ‘kantor polisi rahasia’ ilegal PKT di New York, yang memperpanjang ‘tangan hukum’ PKT ke luar negeri untuk menganiaya para pembangkang yang menentang PKT,” ujar jurnalis senior Tang Hao. 

“Dakwaan menghalangi proses peradilan membuktikan bahwa Lu Jianwang memang menghancurkan catatan percakapannya dengan PKT, karena ia sangat sadar bahwa bukti-bukti itu sangat merugikan dirinya dan PKT sehingga tidak boleh dipublikasikan. Jika terbongkar, bukan saja ia bisa dipenjara, tetapi juga akan membuat komunitas Tionghoa di luar negeri mengetahui fakta bahwa ia membantu PKT memantau warga perantauan dan menganiaya hak asasi manusia,” tambahnya.

Menurut hukum AS, Lu Jianwang dapat menghadapi hukuman maksimum 30 tahun penjara, dengan rincian:

  • Maksimal 10 tahun untuk dakwaan menjadi agen pemerintah asing secara ilegal
  • Maksimal 20 tahun untuk dakwaan menghalangi proses peradilan

Dalam persidangan,  jaksa menunjukkan banyak bukti, termasuk rekaman percakapan yang berhasil dipulihkan antara Lu Jianwang dan aparat keamanan PKT.

Disebutkan bahwa ia pernah diam-diam memotret dan membuntuti praktisi Falun Gong, lalu mengirimkan foto-foto mereka kepada seorang pejabat polisi Fuzhou bernama Huang Jiesheng. PKT juga disebut pernah memerintahkan Lu Jianwang untuk mengumpulkan informasi tentang praktisi Falun Gong.

Jaksa Federal Distrik Timur New York, Joseph Nocella, setelah putusan menyatakan: “Kantor polisi yang beroperasi di New York di bawah arahan pemerintah PKT kini telah terungkap, tujuan jahatnya telah dihentikan, dan para pendirinya dimintai pertanggungjawaban karena mengabaikan hukum dan kedaulatan Amerika Serikat.”

Sementara itu, Asisten Direktur FBI James C. Barnacle menegaskan: “Putusan hari ini mengirimkan peringatan kepada agen-agen asing lainnya.”

Dalam beberapa tahun terakhir, infiltrasi spionase PKT di luar negeri terus terungkap, termasuk kasus “kantor polisi rahasia luar negeri” Lu Jianwang pada 2022, serta kasus terbaru seorang Wali Kota do California, Wang Ailin, yang dituduh bertindak sebagai agen PKT.

Pelanggaran kedaulatan dan upaya subversi politik PKT terhadap negara-negara lain kini semakin mendapat perhatian masyarakat internasional.

Dilaporkan oleh reporter NTD, Meng Yu, dari New York.

AS dan Partai Komunis Tiongkok Berselisih: Gedung Putih Bahas Perdagangan dan Iran, PKT Malah Sibuk Bicara Sendiri 

EtIndonesia. Dalam pertemuan Amerika Serikat dan Partai Komunis Tiongkok (PKT), isi ringkasan pertemuan yang dirilis kedua pihak ternyata sangat berbeda, sehingga pengamat menyebutnya “seperti menghadiri dua pertemuan yang berbeda.”

Pihak Gedung Putih memfokuskan pembahasan pada kerja sama perdagangan dan isu Iran, tanpa menyinggung Taiwan. Sementara itu, pihak PKT justru menonjolkan isu Taiwan dan memperingatkan bahwa kesalahan penanganan masalah Taiwan dapat memicu konflik antara PKT dan Amerika Serikat.

Para analis menilai Beijing sengaja meningkatkan sorotan terhadap isu Taiwan untuk mengalihkan perhatian dari tekanan akibat konsesi ekonomi dan perdagangan, sekaligus menstabilkan opini publik domestik.

Pada Kamis (14 Mei), pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin PKT Xi Jinping di Beijing berlangsung selama 2 jam 15 menit. Gedung Putih menggambarkan hasil pembicaraan itu sebagai “berjalan dengan baik.”

Pihak PKT disebut setuju membeli kedelai, energi, dan pesawat dari AS, serta berjanji membantu menyelesaikan masalah Iran.

Setelah pertemuan, Gedung Putih merilis ringkasan yang berfokus pada kerja sama perdagangan, situasi Iran, dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, tanpa menyebut isu Taiwan.

Namun, pihak PKT secara terbuka menyatakan bahwa kedua pihak membahas masalah Taiwan, tetapi tidak menyinggung isu Iran. Xi Jinping juga disebut menyampaikan peringatan keras kepada Trump bahwa jika masalah Taiwan ditangani secara tidak tepat, kedua negara bisa mengalami konflik.

Dua ringkasan pertemuan yang sangat bertolak belakang ini menunjukkan bahwa kedua pihak tidak mencapai kesepakatan mengenai isu Taiwan.

“Alasan PKT sangat menonjolkan masalah Taiwan sepenuhnya karena kebutuhan politik Xi Jinping,” ujar komentator masalah PKT, Li Linyi. 

Langkah PKT memperbesar gaung isu Taiwan dipandang sebagai bentuk operasi propaganda. Banyak pihak menafsirkan bahwa setelah Beijing membuat sejumlah konsesi besar dalam isu perdagangan, mereka menggunakan isu Taiwan untuk mengurangi kesan bahwa PKT telah terlalu banyak mengalah.

Ada pula pandangan bahwa konflik internal PKT saat ini sedang memanas, sehingga ancaman terkait Taiwan lebih menunjukkan sikap “keras di luar tetapi lemah di dalam.”

Sumber tertentu mengungkapkan bahwa Taiwan memang menjadi salah satu topik pembicaraan kedua pihak. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam wawancara dengan NBC News di Beijing menyatakan bahwa posisi Amerika Serikat terhadap Taiwan tidak berubah. Ia mengatakan bahwa upaya merebut Taiwan dengan kekuatan militer akan menjadi “kesalahan yang mengerikan.”

Pada saat yang sama, juru bicara Eksekutif Yuan Taiwan, Lee Hwei-chih juga menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat terhadap Taiwan tetap tidak berubah.

“Saya percaya respons dari pihak Taiwan juga menunjukkan bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan pada dasarnya tidak akan mengalami perubahan besar. Itu sudah pasti. Jika ada konsesi terhadap Taiwan, hal itu akan sangat merugikan Presiden Trump, baik dalam pemerintahan maupun politik domestik, karena saat ini sikap anti-PKT dan dukungan terhadap Taiwan merupakan arus utama opini publik di Amerika,” kata Li Linyi. 

Seorang akademisi Taiwan menyatakan bahwa kepentingan nasional Amerika Serikat justru merupakan hal-hal yang ingin dirusak oleh PKT, baik keamanan rantai pulau pertama, dominasi Amerika Serikat, maupun keunggulan teknologinya. Karena itu, negosiasi antara AS dan PKT dinilai sulit menghasilkan konsensus mendasar atau terobosan besar.

Ada juga pengamat yang menyebut bahwa karena Xi Jinping sudah sangat menjaga “penampilan luar” dalam pertemuan ini, kemungkinan isi pembicaraan sebenarnya justru tidak berjalan baik bagi pihak PKT.

Terkait isu Iran, pihak PKT disebut menyetujui bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan bahwa PKT  setuju untuk tidak memasok peralatan militer kepada Iran, namun tetap bersikeras membeli minyak dari Iran.

“Terobosan terbesar Trump kali ini adalah membuat Xi Jinping secara terbuka menyetujui bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, yang membuka jalan bagi kemungkinan langkah militer AS terhadap Iran di tahap berikutnya,” kata komentator politik, Lan Shu. 

Dilaporkan oleh reporter NTD, Chen Yue dan Chang Chun.

Kunjungan Trump ke Kuil Surga Berubah Menjadi Konfrontasi Sengit, Rombongan Wartawan Sempat Dikurung Hingga Paspampres AS Diperintahkan untuk Meletakkan Senjata

EtIndonesia. Pada Kamis (14/5/2026) sore, pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT)  Xi Jinping memunculkan sebuah insiden penuh ketegangan.

Saat Presiden Trump tiba di Temple of Heaven atau Kuil Surga untuk berkunjung, petugas keamanan PKT secara paksa mengurung rombongan pers Gedung Putih di sebuah ruangan kecil. Tindakan itu memicu kemarahan para wartawan yang kemudian menerobos keluar secara paksa.

petugas keamanan PKT secara paksa mengurung rombongan pers Gedung Putih di sebuah ruangan kecil (tangkapan layar)

Di lokasi juga terjadi konfrontasi sengit. Pihak keamanan PKT dilaporkan mengabaikan protokol internasional dengan memaksa seorang agen Dinas Rahasia AS atau paspampres AS menyerahkan senjatanya terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk. Insiden ini menyebabkan jadwal kunjungan tertunda selama setengah jam. Berbagai hambatan dari pihak PKT membuat seorang fotografer AS kehilangan kesabaran dan melontarkan kata-kata kasar di tempat.

Petugas keamanan PKT berkata: “Rombongan pers Gedung Putih cepat mundur dulu, cepat-cepat, jangan merekam lagi, cepat pergi.”

petugas keamanan PKT secara paksa mengurung rombongan pers Gedung Putih di sebuah ruangan kecil (tangkapan layar)

Pada Kamis sore, ketika Presiden Trump dan Xi Jinping bersiap mengunjungi Aula Qinian di Temple of Heaven, petugas keamanan PKT menghalangi rombongan pers Gedung Putih dan menggiring para wartawan ke sisi kanan.

Tak disangka, para wartawan kemudian dikurung di sebuah ruangan sempit dengan penjaga di depan pintu. Bahkan, pihak PKT sempat mematikan lampu dan menutup pintu sehingga seluruh ruangan gelap gulita. Setelah mendapat protes keras, pintu akhirnya dibuka kembali.

Penerjemah bertanya:“Kapan mereka (rombongan pers Gedung Putih) boleh keluar? Saya hanya ingin tahu kapan mereka bisa pergi.”

Petugas keamanan PKT menjawab: “Katakan kepada mereka, setelah pemimpin kami pergi, baru mereka boleh pergi.”

Meski sudah tiba di lokasi, para wartawan tetap tidak diizinkan mengambil gambar. Setelah lama menahan diri, mereka akhirnya kehilangan kesabaran.

Seorang wartawan AS berteriak : “Kami harus keluar!”

Setelah seorang wartawan berteriak ingin keluar, rombongan pers Gedung Putih pun ikut marah dan bersama-sama menuntut agar diizinkan keluar. Tak lama kemudian, beberapa wartawan menerobos blokade pihak PKT, mendorong pintu terbuka, lalu pergi ke luar Aula Qinian untuk mengambil gambar.

Pemimpin rombongan pers AS berkata:“Media Amerika! Kita keluar sekarang!”

Sebelum bentrokan ini terjadi, dilaporkan bahwa konfrontasi yang lebih sengit lebih dulu pecah di Temple of Heaven.

Setelah Presiden Trump tiba, seorang agen Dinas Rahasia AS dihentikan oleh petugas keamanan PKT yang mengatakan bahwa ia tidak boleh masuk karena membawa senjata api. Mereka sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa agen Secret Service AS memang secara internasional diperbolehkan membawa senjata dalam tugas pengamanan.

Kedua pihak sempat bersitegang selama hampir 30 menit. Pada akhirnya, agen Secret Service tersebut dipaksa menyerahkan senjatanya sebelum diizinkan masuk ke Temple of Heaven. Akibatnya, kegiatan peliputan rombongan pers tertunda selama setengah jam.

Pada Kamis pagi, sebelum pertemuan Trump-Xi dimulai, media PKT juga sempat menghalangi wartawan Gedung Putih memasuki ruang pertemuan, sehingga staf AS terus berteriak:“Hanya rombongan pers Gedung Putih yang boleh masuk!”

Meski demikian, rombongan pers Gedung Putih tetap mengalami kesulitan untuk bergerak maju.

Setelah memasuki ruang pertemuan, petugas keamanan PKT kembali menghalangi wartawan AS agar tidak mengikuti langkah Presiden Trump. Hal itu membuat seorang fotografer Amerika akhirnya melontarkan umpatan kasar. Walaupun pihak PKT kemudian memberi jalan, momen ketika Presiden Trump duduk sudah terlewat dan gagal direkam.

Dilaporkan oleh reporter NTD, Ren Hao, dari Washington DC, AS

BKI Pertahankan Kategori “High Performance” Pada Tokyo MoU 2025

Jakarta – PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI kembali mempertahankan kategori “High Performance” dalam daftar kinerja Recognized Organization (RO) berdasarkan Laporan Tahunan Tokyo MoU Tahun 2025. Pada periode yang sama, Bendera Indonesia juga berhasil mempertahankan predikat “High Performance” dalam daftar kinerja negara bendera (flag state). Capaian ini menunjukkan konsistensi berbagai pihak dalam mendukung peningkatan keselamatan pelayaran nasional dan penguatan kualitas armada Indonesia di tingkat internasional.

Tokyo Memorandum of Understanding on Port State Control in the Asia-Pacific Region (Tokyo MoU) merupakan kerja sama regional antarnegara di kawasan Asia-Pasifik di bidang Port State Control (PSC) yang bertujuan meningkatkan keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan laut, dan kondisi kerja awak kapal melalui pengawasan kapal asing yang berkunjung ke pelabuhan negara anggota.

Penilaian daftar kinerja negara bendera dan Recognized Organization tahun 2025 dilakukan berdasarkan akumulasi data inspeksi dan detensi kapal selama tiga tahun terakhir, yaitu periode 2022–2025. Dalam periode tersebut, jumlah pemeriksaan terhadap kapal berbendera Indonesia tercatat relatif stabil, sementara angka detensi menunjukkan tren penurunan secara konsisten sejak 2023 hingga 2025.

Keberhasilan mempertahankan predikat tersebut dinilai mencerminkan kolaborasi dan konsistensi seluruh pemangku kepentingan maritim dalam meningkatkan kualitas keselamatan pelayaran nasional. Kontribusi Kementerian Perhubungan RI sebagai regulator, pemilik dan operator kapal, mitra industri, serta BKI sebagai Recognized Organization menjadi bagian penting dalam pencapaian ini.

Capaian “High Performance” bagi negara bendera Indonesia dan BKI sebagai Recognized Organization diharapkan dapat mendukung kelancaran operasional armada berbendera Indonesia di tingkat internasional, sekaligus mendorong peningkatan standar keselamatan pelayaran secara berkelanjutan.

Rusia Melancarkan Serangan Bom Besar-besaran ke Ukraina, Rudal Kh-101 Baru Terlihat di Medan Perang

EtIndonesia. Pada Kamis (14 Mei), Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina, yang disebut sebagai salah satu serangan terbesar sejak perang pecah. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa rudal Rusia yang digunakan diproduksi pada kuartal kedua tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa Moskow masih mampu menghindari sanksi Amerika Serikat, mengimpor komponen, dan terus memproduksi senjata.

Cahaya ledakan yang sangat terang dan kaca-kaca yang pecah terekam dalam kamera pengawas, memperlihatkan detik-detik mengerikan serangan tersebut. Pada Kamis dini hari, Rusia meluncurkan 670 drone serang dan 56 rudal ke berbagai kota di Ukraina. Ini merupakan salah satu serangan udara terbesar yang dilakukan Moskow sejak perang dimulai. Serangan itu menewaskan sedikitnya 10 warga sipil Ukraina, termasuk seorang anak perempuan berusia 12 tahun.

“Kami melihat sebuah bangunan sembilan lantai hancur, dan 18 apartemen rata dengan tanah. Pekerjaan penyelamatan masih berlangsung,” lata Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa sebuah rudal menghantam gedung permukiman di Kyiv. Berdasarkan data awal, rudal tersebut adalah rudal baru jenis Kh-101.

“Rudal itu diproduksi pada kuartal kedua tahun ini. Ini berarti Rusia masih terus mengimpor komponen, sumber daya, dan peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi rudal, dengan cara menghindari sanksi global,” katanya.

Pihak Kremlin pada Kamis juga mengumumkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan segera melakukan kunjungan ke Beijing.

Dilaporkan oleh reporter NTD, Yi Jing.

Trump Berkunjung ke Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok Menghalangi The Epoch Times dan Rombongan Wartawan Gedung Putih untuk Meliput

EtIndonesia. Saat Presiden AS Donald Trump memulai kunjungannya ke Beijing pada Rabu (13 Mei), seorang wartawan dari The Epoch Times bersama lebih dari 20 anggota rombongan pers Gedung Putih lainnya yang semula dijadwalkan meliput kunjungan tersebut, ditolak visa masuknya oleh rezim PKT.

Visa Wartawan Epoch Media Group Ditolak

Wartawan Gedung Putih The Epoch Times, Travis Gillmore, mengajukan visa Tiongkok pada 10 April dan mengisi formulir panjang yang meminta informasi anggota keluarga serta data perusahaan tempat bekerja. Namun setelah itu, status pengajuannya terus menunjukkan “menunggu peninjauan” tanpa ada pembaruan lebih lanjut.

Staf media saudara The Epoch Times, yaitu New Tang Dynasty Television (NTD), termasuk wartawan Gedung Putih Mari Otsu dan kameramen Lei Chen, juga mengalami penolakan visa. Mari Otsu mendapat perlakuan serupa dengan Gillmore, sedangkan Lei Chen yang merupakan warga negara AS keturunan Tionghoa langsung ditolak.

Ini adalah kedua kalinya wartawan dan staf Epoch Media Group berencana meliput kunjungan Trump ke Tiongkok namun ditolak visa oleh PKT. Karena jadwal kunjungan Trump yang semula direncanakan pada akhir Maret diundur, mereka harus dua kali mengajukan visa.

Trump tiba di Beijing pada Rabu pukul 07.50 pagi waktu AS Timur (19.50 waktu Beijing) untuk bertemu pemimpin PKT Xi Jinping. Ini merupakan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Tiongkok sejak 2017.

Sekitar 20 Anggota Rombongan Pers Gedung Putih Juga Ditolak Visa

Rezim PKT juga menolak pengajuan visa anggota lain dari rombongan pers Gedung Putih. Menurut seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut, setidaknya 20 pekerja media yang semula berencana meliput perjalanan ini gagal memperoleh visa.

Pada akhirnya, hanya sebagian wartawan, fotografer, dan kameramen yang dapat mengikuti presiden menghadiri KTT Beijing yang berlangsung pada 14–15 Mei.

Diperkirakan pembicaraan antara Trump dan Xi Jinping mencakup isu perdagangan, ekspor logam tanah jarang, kecerdasan buatan, perang Iran yang masih berlangsung, serta masalah Taiwan. Selain itu, perhatian internasional terhadap penggunaan tahanan politik dan pelanggaran HAM oleh PKT untuk mengendalikan masyarakat domestik juga terus berlanjut.

PKT Menggunakan Penolakan Visa sebagai Alat Tekanan Politik

Rezim PKT selama ini secara konsisten menggunakan penolakan dan penundaan visa sebagai alat tekanan diplomatik dan politik guna membatasi liputan media yang kritis.

The Epoch Times adalah lembaga media independen yang didirikan oleh warga Tionghoa di AS pada tahun 2000 dan dikenal karena keberaniannya mengungkap sensor serta pelanggaran HAM oleh PKT.

Saat ini The Epoch Times terbit dalam 22 bahasa di 33 negara, dengan hampir satu juta pelanggan berbayar, menjadikannya salah satu penerbit berita terbesar di Amerika Serikat berdasarkan jumlah pelanggan digital.

Selama bertahun-tahun, The Epoch Times terus menghadapi tekanan dari rezim PKT dan pihak-pihak yang dianggap terkait dengannya, termasuk serangan terhadap wartawan dan fasilitas percetakannya di Hong Kong. Sejumlah staf awal The Epoch Times di Tiongkok juga pernah ditangkap dan disiksa, bahkan beberapa dijatuhi hukuman penjara 10 tahun.

Pada 2006, The Epoch Times menjadi media pertama yang melaporkan dugaan praktik pengambilan organ secara paksa yang dilakukan rezim PKT. Baru-baru ini, seorang pelapor dari Tiongkok juga mengungkap dugaan pembunuhan sistematis terhadap tahanan hati nurani, khususnya praktisi Falun Gong, untuk diambil organnya.

Laporan investigasi The Epoch Times telah memenangkan sejumlah penghargaan jurnalistik, termasuk Sigma Delta Chi Award dari Society of Professional Journalists.

Tekanan PKT Terus Meningkat

Meskipun The Epoch Times memiliki skala besar dan pengaruh global, tahun lalu media ini tetap ditolak akses untuk menghadiri berbagai konferensi pers dalam KTT ASEAN di Malaysia, termasuk Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN yang dihadiri Marco Rubio pada Juli, dan KTT Pemimpin ASEAN yang dihadiri Trump pada Oktober.

Tim NTD juga mengalami hambatan serupa saat meliput KTT APEC di Gyeongju pada Oktober tahun lalu, ketika Trump dan Xi Jinping hadir di sana. Dalam kedua forum tersebut, PKT menunjukkan pengaruh regional yang besar, sebagian karena hubungan ekonomi erat antara Beijing dan banyak negara anggota.

Pada September tahun lalu, ketika Trump berpidato di Sidang Umum United Nations di New York, meskipun The Epoch Times telah masuk dalam media pool Departemen Luar Negeri AS, PBB tetap menolak akreditasinya dengan alasan media itu dikategorikan sebagai organisasi non-pemerintah, bukan lembaga media.

Selama bertahun-tahun, otoritas PKT terus menekan PBB untuk menghambat kerja peliputan The Epoch Times. Pada 2003, setelah berkali-kali tidak mendapat jawaban, seorang pejabat pers PBB di New York memberi tahu NTD bahwa “tekanan dari Tiongkok (PKT)” menyebabkan hambatan dalam permohonan liputan mereka di Komisi HAM Jenewa.

Situasi serupa kembali terjadi pada Juni 2004, ketika seorang pejabat PBB mengakui pernah menerima telepon dari pejabat PKT terkait status akreditasi NTD. Namun setelah penolakan awal, PBB akhirnya tetap memberikan kartu pers kepada NTD.

Selain itu, peretas juga sering melancarkan serangan siber terhadap The Epoch Times untuk mengganggu operasionalnya. Sebagian pelaku bahkan menyamar sebagai staf media tersebut dan mengirim pesan ancaman serangan teroris kepada pejabat serta lembaga federal AS.

Wartawan Eva Fu turut berkontribusi dalam artikel ini

Artikel ini sebelumnya tayang dalam bahasa Inggris di Theepochtimes.com

Untuk Mengantisipasi Hal Tak Terduga, Trump Tinggalkan Surat Instruksi Suksesi untuk Vance di Kantornya

EtIndonesia. Asisten Deputi Presiden AS Sebastian Gorka pada Rabu (13 Mei) mengatakan bahwa Presiden Trump telah meninggalkan sebuah surat instruksi di Ruang Oval untuk Wakil Presiden JD Vance. Surat itu dimaksudkan untuk digunakan jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada Trump dan Vance harus mengambil alih jabatan presiden.

Sebastian Gorka mengatakan dalam wawancara dengan New York Post bahwa pihak AS memiliki prosedur penanganan yang sudah ditetapkan. Meski rincian isi surat tersebut tidak dapat diungkapkan, ia menegaskan bahwa pengaturan seperti itu memang benar-benar ada.

Pada Januari lalu, Trump juga pernah membahas ancaman pembunuhan dari Iran dalam sebuah wawancara. Saat itu Trump mengatakan bahwa ia telah meninggalkan instruksi yang jelas: jika rencana Iran untuk membunuhnya berhasil, militer AS akan “menghapus Iran dari muka bumi.”

Trump kala itu mengatakan Iran seharusnya tidak melakukan hal tersebut, namun ia memang telah meninggalkan perintah terkait. Meski demikian, ia tidak secara spesifik menyebut adanya surat instruksi yang ditinggalkan di Ruang Oval untuk Wakil Presiden Vance.

Trump tiba di Beijing pada 13 Mei untuk memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari. Gorka menyebut bahwa hal ini juga memicu kekhawatiran sebagian orang terhadap keselamatan pribadi Trump selama kunjungannya ke Tiongkok.

Gorka mengatakan bahwa Trump adalah satu-satunya orang yang menghalangi jalan PKT menuju dominasi dunia, sehingga PKT ingin menyingkirkannya. Namun ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak khawatir PKT akan mengambil tindakan terhadap Trump selama kunjungan kali ini.

Belakangan ini, keselamatan jiwa Trump memang beberapa kali menghadapi ancaman. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pernah mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir, Presiden Trump telah mengalami tiga upaya pembunuhan besar yang gagal.

Sumber : NTDTV.com

Arab Saudi Balas Serangan Iran, Dari Operasi Militer hingga Pertempuran di Wilayah Sendiri 

EtIndonesia. Dua pejabat Barat dan dua pejabat Iran mengonfirmasi bahwa sebagai balasan atas serangan yang dialami di wilayah dalam negeri selama perang Timur Tengah, Arab Saudi pernah melancarkan beberapa serangan rahasia terhadap Iran. Hal ini menunjukkan bahwa langkah pertahanan Saudi terhadap rival utamanya di kawasan kini menjadi semakin keras.

Menurut laporan Reuters, ini adalah pertama kalinya dikonfirmasi bahwa Arab Saudi secara langsung melakukan aksi militer terhadap wilayah Iran.

Selain itu, menurut beberapa sumber yang mengetahui situasi tersebut, selama perang Iran berlangsung, jet tempur Saudi juga membombardir target-target di wilayah Irak yang terkait dengan milisi Syiah dukungan Teheran. Di saat yang sama, serangan balasan terhadap Irak juga dilancarkan dari wilayah Kuwait.

Untuk melaporkan insiden ini, Reuters mewawancarai tiga pejabat keamanan dan militer Irak, satu pejabat Barat, serta dua sumber yang mengetahui detail kejadian, salah satunya berada di Amerika Serikat.

Seorang pejabat Barat dan seorang sumber lainnya mengatakan bahwa jet tempur Angkatan Udara Saudi melancarkan serangan udara terhadap target-target milisi pro-Iran di wilayah perbatasan Saudi-Irak. Pejabat Barat tersebut mengatakan bahwa sebagian serangan terjadi sebelum dan sesudah gencatan senjata AS-Iran pada 7 April.

Menurut sumber tersebut, serangan-serangan itu menargetkan pangkalan yang sebelumnya digunakan untuk melancarkan serangan drone dan rudal terhadap Arab Saudi serta negara-negara Teluk lainnya.

Sumber Irak mengutip hasil evaluasi militer yang menyebutkan bahwa serangan roket setidaknya dua kali diluncurkan dari wilayah Kuwait menuju Irak. Salah satu serangan yang disebut terjadi pada April menghantam posisi milisi di Irak selatan, menewaskan sejumlah anggota bersenjata dan menghancurkan fasilitas komunikasi serta operasi drone milik milisi pro-Iran Kataib Hezbollah.

Reuters tidak dapat memastikan apakah roket yang ditembakkan dari Kuwait tersebut berasal dari angkatan bersenjata Kuwait atau dari pasukan militer AS yang ditempatkan di sana dalam jumlah besar. Militer AS menolak memberikan komentar, sementara Kementerian Informasi Kuwait dan pemerintah Irak belum segera menanggapi permintaan komentar.

Setelah Amerika Serikat dan Israel bersama-sama melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari, konflik juga meluas ke sejumlah negara Timur Tengah lainnya. Otoritas di Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab melaporkan adanya serangan drone atau rudal Iran.

Sebelumnya, The Wall Street Journal mengutip sumber yang mengetahui situasi bahwa Uni Emirat Arab juga telah melancarkan serangan militer terhadap Iran. Hal ini menunjukkan bahwa UEA kini semakin bersedia menggunakan kekuatan militer untuk melindungi kekuatan ekonominya dan pengaruhnya yang terus berkembang di Timur Tengah. 

Sumber : NTDTV.com