Mobil Huawei Menabrak Balita karena Tidak Mengurangi Kecepatan, Netizen yang Membagikan Video Dipaksa Menulis Surat Pernyataan

EtIndonesia. Kecelakaan mobil listrik Huawei yang menabrak orang dilaporkan sering terjadi. Baru-baru ini, sebuah mobil listrik Huawei menabrak seorang balita berusia 2 tahun di area perkotaan tanpa mengurangi kecepatan. Kondisi anak tersebut belum diketahui secara pasti. Pihak berwenang disebut-sebut menutup informasi. Seorang netizen yang membagikan video insiden itu dilaporkan diancam polisi serta dipaksa menulis surat pernyataan.

Menurut laporan media daratan Tiongkok. Xin Huanghe, sebuah video dashcam tertanggal 9 Maret 2026 menarik perhatian publik. Setelah diverifikasi, kejadian berlangsung di Distrik Qianjiang, Kota Chongqing. Saat itu, sebuah kendaraan “HarmonyOS Intelligent Driving” (Hongmeng Zhixing) dalam mode bantuan berkendara NCA menabrak seorang balita yang menyeberang jalan.

Rekonstruksi frame demi frame dari beberapa detik penting menunjukkan bahwa sistem penghindaran aktif tidak berfungsi. Lokasi kejadian merupakan jalan nasional yang melintasi kota dengan banyak toko dan lalu lintas campuran antara kendaraan dan pejalan kaki.

Data menunjukkan bahwa pada pukul 13:46:06–08, kendaraan berada dalam mode NCA dan kecepatannya meningkat dari 24 km/jam menjadi 31 km/jam, saat itu anak belum terlihat di kamera.

Pada pukul 13:46:10, balita tersebut melangkah dari trotoar ke jalur kendaraan, diikuti seorang dewasa di belakangnya. Dalam dua detik, anak itu bergerak ke tengah jalan. Kecepatan kendaraan sempat mencapai 32 km/jam sebelum turun menjadi 28 km/jam. Saat tabrakan terjadi, indikator rem dan pedal gas tidak menyala (menandakan tidak diinjak). Meskipun ada kemungkinan jeda pada watermark video, tidak terlihat adanya pengereman aktif baik dari pengemudi maupun sistem pada saat kritis.

Setelah tabrakan, balita masuk ke area titik buta di depan kendaraan. Ikon NCA masih aktif hingga sekitar pukul 13:46:13. Kemudian bagian depan mobil bergerak naik dan badan kendaraan bergetar, dan pada detik ke-14 kendaraan akhirnya berhenti total. Setelah berhenti, pengemudi membuka sabuk pengaman dan memindahkan transmisi ke posisi parkir. Warga sekitar dan pemilik toko segera datang ke lokasi.

(Tangkapan layar dari internet)

Menurut laporan, para pedagang di sekitar lokasi mengkonfirmasi kejadian tersebut benar terjadi pada 9 Maret. Anak yang tertabrak adalah anak dari pedagang setempat, dan setelah kejadian mengalami pendarahan dari hidung dan mulut. Saksi mata mengatakan kecepatan kendaraan tidak tinggi, sesuai dengan rekaman sekitar 31 km/jam.

(Tangkapan layar dari internet)

Menanggapi insiden ini, layanan pelanggan “Hongmeng Zhixing” menyatakan bahwa kondisi anak “tidak serius” dan setelah komunikasi dengan pemilik kendaraan “tidak ditemukan masalah”, serta mengklaim bahwa “insiden ini bukan disebabkan oleh kendaraan”, namun tanpa memberikan bukti rinci.

Seorang pelaku industri yang dikutip media menyatakan bahwa sistem tersebut selama ini dipromosikan memiliki kemampuan penghindaran aktif, namun dalam kasus pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang pada kecepatan rendah, sistem tidak bereaksi. Penilaian cepat dari pihak layanan pelanggan tanpa investigasi mendalam juga menimbulkan keraguan publik terhadap kesesuaian antara promosi teknologi dan penentuan tanggung jawab.

Huawei sebelumnya kerap mempromosikan keamanan sistem berkendara pintarnya. Pada November 2025, mereka merilis video penghindaran kecelakaan dalam situasi “kemunculan mendadak”, mengklaim “perlindungan keselamatan di semua skenario”. 

Laporan tahunan menyebutkan sistem tersebut telah mencegah lebih dari 3 juta potensi tabrakan, dengan slogan “keselamatan adalah kemewahan terbesar”, serta mengklaim NCA dapat merespons kondisi jalan kompleks dalam hitungan detik.

Beberapa netizen juga menyebutkan bahwa berdasarkan nomor rangka, kendaraan tersebut diduga adalah model AITO M8 tahun 2025.

Selain itu, seorang netizen dilaporkan dipanggil polisi setelah membagikan video kecelakaan tersebut, dan dipaksa menulis surat pernyataan yang berisi janji “tidak akan menyebarkan informasi negatif tentang Huawei”.

Komentar netizen menyebutkan bahwa selama proses, sistem NCA tetap aktif tanpa perlambatan hingga pengemudi mengerem. Bahkan saat tabrakan terjadi, kecepatan tidak berkurang dan sistem tetap aktif, yang menunjukkan bahwa sistem tidak mendeteksi keberadaan anak tersebut maupun melakukan pengereman.

Disebutkan pula bahwa jika tidak ada pengereman dari pengemudi, kendaraan kemungkinan akan terus melaju dan melindas korban.

Kecelakaan serupa yang melibatkan mobil listrik Huawei dilaporkan telah terjadi beberapa kali. Pada Januari tahun ini di Changsha, sebuah mobil listrik Huawei menabrak petugas kebersihan, meski korban hanya mengalami luka ringan.

Pada November 2025, model AITO M7 dalam mode “smart driving” menabrak seorang lansia yang menyeberang jalan hingga tewas di tempat.

Sebelumnya, Huawei pernah mempromosikan bahwa “mengemudi pintar memungkinkan pengemudi tidur saat berkendara” atau “mengemudi dalam keadaan mabuk tidak memerlukan sopir pengganti”, bahkan mengklaim bahwa “sangat sulit untuk mengalami kecelakaan”.

Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Xu Gengwen

Dengar Pendapat Kongres AS: Partai Komunis Tiongkok Diduga Menyusup ke Berbagai Kampus di AS dan Menekan Mahasiswa

EtIndonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menggelar sidang dengar pendapat pada Kamis (26 Maret), yang berfokus pada dugaan infiltrasi jahat Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke berbagai kampus di AS. Isu yang dibahas meliputi pengawasan terhadap mahasiswa, pencurian hasil teknologi, hingga ancaman terhadap keamanan nasional AS. Sejumlah saksi menyatakan bahwa PKT menjadikan kampus sebagai “medan perang” untuk melawan Amerika Serikat. Beberapa universitas menyatakan telah mengambil langkah penanganan.

 “Musim gugur tahun ini, Federal Bureau of Investigation (FBI) memberi tahu saya bahwa saya diawasi secara langsung oleh agen PKT di kampus Stanford, dan keluarga saya juga diawasi,” ujar pemimpin redaksi Stanford Review, Elsa Johnson. 

pemimpin redaksi Stanford Review, Elsa Johnson (Tangkapan layar NTD)

Mahasiswi sekaligus jurnalis di Stanford University tersebut menyebut bahwa setelah ia menerbitkan laporan yang mengungkap pengaruh PKT, dirinya menerima ancaman yang terus meningkat.

Elsa Johnson:  “Saya mulai menerima telepon ancaman. Penelpon beralih ke bahasa Mandarin, dan dalam salah satu panggilan mereka menyebut ibu saya.

“Saya juga menerima email penipuan bernada ancaman yang mencoba membujuk saya untuk menghapus laporan tersebut.”

Ia juga menambahkan bahwa kelompok mahasiswa berlatar belakang PKT memberikan tekanan dan melakukan pengawasan terhadap mahasiswa Tiongkok di kampus.

 “Asosiasi Mahasiswa dan Cendekiawan Tiongkok dimanfaatkan untuk memantau sesama mahasiswa dan melaporkan kepada PKT. Ini membuat banyak mahasiswa Tiongkok berada dalam situasi yang tidak aman,” katanya. 

“Jika mereka tidak bekerja sama, keluarga mereka sering kali akan diancam,” tambahnya. 

Juru bicara Stanford University mengkonfirmasi kepada NTD bahwa pihak kampus menangani ancaman ini dengan serius dan bekerja sama erat dengan aparat penegak hukum untuk melindungi keamanan mahasiswa dan penelitian.

Pihak universitas menyatakan bahwa insiden semacam ini bukan kasus terisolasi. Di University of Michigan, dua warga negara Tiongkok menghadapi dakwaan karena diduga menyelundupkan bahan biologis ilegal ke Amerika Serikat.

 “Kami segera mengambil tindakan tegas dengan bekerja sama dengan aparat penegak hukum federal, mencabut visa kerja dan studi mereka, serta memutus semua hubungan dengan mereka,” kata Presiden University of Michigan, Domenico Grasso.

Selain itu, seorang mantan peneliti di University of Florida didakwa atas kasus penipuan, karena diduga secara diam-diam menyalurkan hasil penelitian yang didanai pembayar pajak kepada PKT. Beberapa individu lain di universitas tersebut juga ditandai karena tidak mengungkap hubungan mereka dengan PKT.

Seorang pejabat senior universitas, Cassandra Farley, mengatakan:  “Kami memang mengalami beberapa kasus pelanggaran kepercayaan yang serius. Kami berkomitmen untuk bekerja sama sepenuhnya, dan individu-individu tersebut sudah tidak lagi bekerja di universitas kami.”

Kongres AS telah mengesahkan undang-undang untuk meningkatkan transparansi pendanaan asing. Namun para anggota parlemen memperingatkan bahwa ancaman ini masih terus berlanjut dan terus berkembang.

Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Jack Bradley dari Washington, DC.

Hitungan Mundur Perang Darat Sedang Berlangsung? AS Berencana Mengirim 10.000 Pasukan Tambahan ke Timur Tengah

Konflik di Timur Tengah terus memanas, dan perang darat tampaknya semakin dekat. Sejumlah media melaporkan bahwa Pentagon sedang mempertimbangkan untuk menambah sekitar 10.000 pasukan darat ke kawasan Timur Tengah. 

Langkah ini dinilai akan memberikan kepada Presiden Donald Trump lebih banyak opsi militer selain serangan udara, sekaligus meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi dengan Iran.

EtIndonesia. Pada Jumat  (27 Maret) dini hari, sirine peringatan terdengar di langit Tel Aviv. Dalam beberapa hari terakhir, Iran terus meluncurkan rudal ke wilayah tengah dan utara Israel, mengabaikan peringatan dari pihak Israel.

Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant mengatakan:  “Serangan Pasukan Pertahanan Israel terhadap Iran akan ditingkatkan dan diperluas ke lebih banyak target dan wilayah.”

Pada hari yang sama, militer Israel menargetkan fasilitas penting produksi rudal dan ranjau di wilayah tengah Iran dengan serangan udara besar-besaran. Sementara itu, militer AS juga merilis video yang menunjukkan upaya berkelanjutan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militernya ke luar negeri.

Pernyataan militer AS menyebutkan:  “Jika Anda membunuh warga Amerika atau mengancam mereka di mana pun di dunia, kami akan memburu Anda—tanpa penyesalan, tanpa ragu—dan kami akan melenyapkan Anda.”

Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat militer AS, Pentagon sedang mempertimbangkan pengiriman tambahan 10.000 pasukan darat, termasuk infanteri dan kendaraan lapis baja. 

Pasukan ini akan bergabung dengan ribuan pasukan lintas udara dan marinir yang telah lebih dulu dikerahkan ke Timur Tengah. Langkah ini dianggap memberikan “lebih banyak opsi militer”, termasuk kemungkinan operasi darat.

Di saat yang sama, seorang sumber militer Iran mengatakan kepada Tasnim News Agency bahwa Teheran telah memobilisasi lebih dari satu juta orang untuk bersiap menghadapi kemungkinan perang darat.

Seorang wartawan bertanya:  “Apakah Selat Hormuz bisa dibuka tanpa penggunaan pasukan darat?”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjawab:  “Itu adalah pertanyaan taktis militer, saya tidak akan berspekulasi tentang cara yang harus diambil. Jika Iran berhenti mengancam pelayaran global, maka selat itu bisa dibuka besok. Ancaman Iran sangat memprihatinkan dan melanggar hukum internasional.”

Rubio tiba di Paris pada Jumat untuk menghadiri pertemuan menteri luar negeri G7. Ia menyatakan bahwa Iran mungkin berencana menjadikan Selat Hormuz sebagai “titik pungutan biaya”, yang menurutnya sama sekali tidak dapat diterima.

Rubio menambahkan:  “Bukan hanya negara-negara G7, tetapi negara-negara di Asia dan seluruh dunia menghadapi risiko besar, dan mereka harus berkontribusi signifikan untuk menjaga keamanan selat ini.”

Sementara itu, Financial Times melaporkan bahwa Uni Emirat Arab sedang aktif mendorong pembentukan pasukan maritim multinasional untuk memulihkan kebebasan navigasi di jalur air penting Selat Hormuz. 

Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Yi Jing.

Kekuatan Militer Iran Dilemahkan, Garda Revolusi Rekrut Anak Usia 12 Tahun untuk Berperang

EtIndonesia. Pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel terus melemahkan kekuatan militer rezim Teheran. Basis senjata utama dan pabrik rudal inti Iran dilaporkan telah dihancurkan. Fasilitas penting produksi terkait program nuklir di wilayah tengah juga telah diserang. Dalam kondisi terdesak, Iran bahkan melalui televisi pemerintah secara terbuka merekrut anak-anak berusia 12 tahun untuk ikut serta dalam konflik.

Sebelumnya, fasilitas inti di kota Yazd yang memproduksi rudal dan ranjau laut dilaporkan telah dihancurkan.

Militer Israel menyatakan bahwa fasilitas tersebut terlibat dalam perencanaan, penelitian, pengembangan, perakitan, dan penyimpanan rudal canggih. Rudal tersebut umumnya diluncurkan dari kapal patroli, kapal selam, dan helikopter, serta digunakan untuk menyerang target di laut.

Selain itu, fasilitas penting di Iran tengah yang memproduksi bahan nuklir plutonium, yaitu Arak Heavy Water Reactor, juga menjadi sasaran serangan. Dalam pernyataannya, militer Israel menegaskan tidak akan membiarkan Teheran melanjutkan program nuklir yang dianggap mengancam dunia.

Sementara itu, Pentagon mengungkapkan kepada Reuters bahwa militer AS telah mengerahkan kapal cepat tanpa awak untuk patroli. Beberapa sistem tanpa awak tersebut telah mencatat lebih dari 450 jam operasi di laut dengan jarak tempuh lebih dari 2.200 mil laut. Ini merupakan pertama kalinya AS mengkonfirmasi penggunaan jenis kapal ini dalam konflik nyata.

Laporan juga menunjukkan bahwa sejak eskalasi konflik, sedikitnya 770 anggota Hezbollah telah tewas di Lebanon, termasuk ratusan anggota unit elit “Radwan Force”.

 “Selama bertahun-tahun kami menjaga perbatasan utara dan menghadapi serangan terhadap warga sipil kami oleh Hezbollah. Mereka terus melanggar perjanjian gencatan senjata, melakukan persenjataan ulang dan memperluas arsenal mereka,” kata Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant. 

Ia juga menegaskan bahwa Hezbollah masih terus melakukan serangan dari wilayah selatan Lebanon. Jika pemerintah Lebanon tidak melucuti kelompok tersebut, maka militer Israel akan bertindak sendiri.

“Kami tidak akan mengizinkan Hezbollah untuk kembali memperkuat diri, dan akan terus mengambil tindakan militer demi melindungi warga sipil di wilayah utara kami,” tambahnya.

Di tengah kemunduran Iran, laporan The Times of Israel menyebutkan bahwa seorang pejabat Islamic Revolutionary Guard Corps, Rahim Nadali, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa usia minimum rekrutmen diturunkan menjadi 12 tahun. Anak-anak tersebut akan membantu Garda Revolusi dan milisi sukarelawan muda Basij dalam mengumpulkan intelijen keamanan, patroli, dan tugas lainnya saat perang.

Para pengamat menilai bahwa langkah ini menunjukkan IRGC sedang menghadapi krisis kekurangan personel di tengah konflik yang berlangsung.

Selain itu, Iran juga dilaporkan terus mengancam negara-negara Teluk melalui siaran televisi, dengan memperingatkan bahwa hotel mana pun yang menampung pasukan AS akan dianggap sebagai target serangan.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari Amerika Serikat.

Israel Luncurkan Operasi ‘Kaleng Bom’, Komandan IRGC Tewas — AS Siapkan Serangan Terakhir ke Iran!

EtIndonesia. Situasi konflik di Timur Tengah pada Jumat, 27 Maret 2026, memasuki fase yang semakin kritis. Militer Israel mengklaim telah melancarkan operasi besar yang menargetkan struktur inti kekuatan Iran, sementara Amerika Serikat dikabarkan tengah mempersiapkan langkah militer terakhir jika jalur diplomasi gagal.

Di balik eskalasi tersebut, muncul indikasi kuat bahwa Washington dan Teheran diam-diam telah membuka jalur negosiasi melalui pihak ketiga.


Serangan Israel: Komandan Tinggi IRGC Tewas

Pada hari yang sama, militer Israel mengumumkan bahwa lebih dari 30 anggota kelompok ekstremis berhasil dieliminasi dalam operasi gabungan udara dan darat.

Di antara korban tewas disebut terdapat sejumlah tokoh penting dari Garda Revolusi Iran (IRGC), termasuk:

  • Direktur Intelijen Angkatan Laut IRGC, Behnam Rezaei
  • Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri

Serangan tersebut dilaporkan terjadi di wilayah strategis Bandar Abbas, pusat aktivitas militer dan logistik maritim Iran.

Pihak militer Israel menegaskan bahwa operasi ini secara khusus dirancang untuk melumpuhkan kemampuan maritim Iran, yang selama ini berperan penting dalam tekanan terhadap jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz.


Operasi “Kaleng Bom” Picu Kepanikan

Salah satu perkembangan paling mengejutkan adalah terungkapnya metode baru dalam operasi pembunuhan presisi Israel.

Menurut laporan yang beredar, bahan peledak disembunyikan di dalam kemasan kaleng makanan yang didistribusikan kepada anggota milisi Basij dan aparat keamanan di Provinsi Fars.

Ketika kaleng tersebut dibuka, ledakan langsung terjadi.

Akibatnya:

  • Sedikitnya 5 orang tewas
  • Puluhan lainnya mengalami luka-luka

Pemerintah Iran segera:

  • Menghentikan distribusi produk tersebut
  • Mengeluarkan peringatan darurat nasional

Insiden ini memicu kepanikan luas dan memperlihatkan celah serius dalam sistem keamanan internal Iran.


Trump: “Bertindak Sekarang atau Terlambat”

Di tengah eskalasi konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran.

“Lebih baik bertindak sekarang, sebelum semuanya terlambat.”

Pernyataan tersebut muncul setelah konfirmasi tewasnya petinggi IRGC oleh Israel.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tetap menunjukkan sikap keras. Ia menyatakan bahwa:

  • Tidak ada negara dalam sejarah yang mampu bertahan menghadapi serangan Amerika selama satu bulan tanpa menyerah
  • Iran mengklaim telah berhasil melakukannya

Ia bahkan menyebut ketahanan Iran sebagai “kebanggaan bagi seluruh umat manusia.”

Namun, sejumlah analis menilai pernyataan tersebut mencerminkan tekanan internal yang semakin besar di dalam negeri Iran.


Negosiasi Rahasia Melalui Pakistan

Di balik retorika keras kedua pihak, perkembangan diplomatik justru menunjukkan arah berbeda.

Sumber dari Pakistan mengungkapkan bahwa:

  • Negosiasi tidak langsung antara AS dan Iran sedang berlangsung
  • Pakistan bertindak sebagai mediator utama

Bahkan, atas permintaan Islamabad:

  • Nama Abbas Araghchi
  • dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf

disebut telah dicoret dari daftar target operasi militer.

Menteri Luar Negeri Pakistan juga mengonfirmasi bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran kini difasilitasi secara aktif oleh negaranya.


AS Siapkan Opsi Militer Besar-Besaran

Meski jalur diplomasi mulai terbuka, Amerika Serikat tetap mempersiapkan skenario militer skala penuh jika negosiasi gagal.

Rencana yang disiapkan mencakup:

  • Pendudukan pulau-pulau strategis Iran
  • Pemblokiran jalur ekspor minyak
  • Serangan udara besar-besaran
  • Kemungkinan operasi darat

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim bahwa:

  • Garda Revolusi Iran telah “ditekan secara signifikan”
  • Hingga 27 Maret 2026, lebih dari 10.000 target telah diserang

Operasi militer disebut masih akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan.


Proposal Damai 15 Poin

Dalam rapat kabinet yang digelar pada Kamis, 26 Maret 2026, Presiden Trump kembali menegaskan tuntutan utama Amerika:

  • Iran harus sepenuhnya menghentikan ambisi nuklirnya
  • Iran harus menyetujui kesepakatan damai dengan AS

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa:

  • Washington telah mengajukan proposal damai berisi 15 poin
  • Terdapat indikasi bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan

Namun, seorang pejabat tinggi Iran mengatakan kepada Reuters bahwa proposal tersebut dinilai:

  • Sepihak
  • Tidak adil bagi Teheran

“Hadiah” dari Iran di Selat Hormuz

Sebagai sinyal itikad baik, Trump mengungkap bahwa Iran telah mengizinkan:

  • 10 kapal melintas di Selat Hormuz

Langkah ini disebut sebagai “hadiah besar” dari Iran.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa:

  • Kesepakatan akhir masih belum pasti
  • Semua opsi tetap terbuka

Krisis Internal: Basij Kehilangan Wibawa

Di dalam negeri Iran, kondisi sosial-politik dilaporkan semakin memburuk.

Rekaman yang beredar menunjukkan:

  • Anggota milisi Basij hidup dalam kondisi memprihatinkan
  • Banyak yang tidur di bawah jembatan
  • Sebagian mendapat perlakuan negatif dari masyarakat

Fenomena ini dinilai sebagai tanda:

  • Melemahnya pengaruh milisi
  • Turunnya legitimasi pemerintah di mata publik

Arah Konflik: Menuju Titik Penentuan

Dengan meningkatnya tekanan militer, terbukanya jalur negosiasi rahasia, serta memburuknya kondisi internal Iran, konflik kini berada di ambang fase penentuan.

Di satu sisi, Amerika Serikat dan Israel terus meningkatkan tekanan untuk memaksa perubahan strategis di Teheran.

Di sisi lain, Iran menghadapi dilema besar:
bertahan dalam konfrontasi, atau mengambil risiko politik dengan membuka jalan menuju kesepakatan.

Beberapa laporan bahkan menyebut bahwa tujuan jangka panjang dari strategi Washington bukan hanya menekan Iran, tetapi juga melemahkan pengaruh global Tiongkok.

Jika benar, maka konflik ini bukan sekadar perang regional—melainkan bagian dari pertarungan geopolitik yang lebih luas dalam menentukan arah tatanan dunia baru. (***)

Dua Bom Waktu Timur Tengah: Trump Diburu, Nuklir Iran Bisa Meledak Kapan Saja!

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah pada akhir Maret 2026 memasuki fase paling kritis sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam waktu bersamaan, dua ancaman besar muncul dan kini berada dalam hitungan mundur yang berpotensi mengubah arah geopolitik global.

Ancaman pertama secara langsung menargetkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sementara ancaman kedua mengarah pada fasilitas nuklir Iran yang berisiko memicu bencana radiasi regional.


Jaringan Sayembara Pembunuhan Trump Terungkap

Menurut laporan Iran International pada 25 Maret 2026, sebuah jaringan sayembara pembunuhan terhadap Donald Trump telah diaktifkan secara sistematis di dalam Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah besar warga Iran dilaporkan menerima pesan singkat (SMS) secara massal yang berisi ajakan untuk ikut serta dalam operasi pembunuhan tersebut, dengan imbalan finansial yang sangat besar.

Operasi ini tidak berjalan secara spontan, melainkan melalui tiga tahap terstruktur:

  1. Registrasi daring (online)
  2. Konfirmasi partisipasi melalui SMS
  3. Koordinasi taktis melalui platform komunikasi nasional “Rubika”

Rubika sendiri merupakan aplikasi komunikasi domestik Iran yang tidak dapat diakses dari luar negeri, sehingga membentuk sistem tertutup yang sulit dipantau oleh pihak eksternal. Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa operasi tersebut memiliki keterkaitan dengan struktur negara.

Data yang beredar menunjukkan bahwa:

  • Sekitar 290.000 orang telah mendaftar
  • Total hadiah bawah tanah mencapai 25 juta dolar AS

Fenomena ini menunjukkan mobilisasi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konteks operasi non-militer berbasis populasi.


Elit Iran Terpecah: Negosiasi atau Perang Total

Di tengah mobilisasi publik tersebut, kondisi internal elite Iran justru menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan politik.

Dalam wawancara dengan Channel 14 Israel, analis senior Iran Prof. Shahram Akbarzadeh mengungkapkan bahwa kepemimpinan di Teheran saat ini mengalami perpecahan serius terkait arah kebijakan strategis.

Perpecahan tersebut berfokus pada satu pertanyaan utama: apakah Iran harus segera bernegosiasi dengan Amerika Serikat atau melanjutkan perlawanan?

Dua kubu utama muncul:

  • Kubu pragmatis, dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf
    → Mendesak negosiasi segera demi menyelamatkan rezim sebelum kehilangan seluruh posisi tawar.
  • Kubu garis keras, terutama dari Garda Revolusi
    → Menolak negosiasi dan memilih menunggu tekanan ekonomi global, khususnya lonjakan harga minyak, untuk melemahkan Amerika.

Namun, kedua pihak memiliki kesamaan sikap dalam dua isu fundamental:

  • Program rudal balistik
  • Pengayaan nuklir

Keduanya tetap bersikap keras dan tidak menunjukkan tanda kompromi.

 Akbarzadeh  menyimpulkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan saat ini nyaris tidak ada—pandangan yang juga diamini oleh komunitas intelijen Israel.


Intelijen AS-Israel Diklaim Menembus Lingkar Dalam Teheran

Laporan dari The Jerusalem Post mengungkap bahwa sebelum perang pecah, badan intelijen Israel (Mossad) memperkirakan perubahan rezim Iran akan membutuhkan waktu setidaknya satu tahun.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan dinamika yang jauh lebih cepat.

Pada 25 Maret 2026, Donald Trump membuat pernyataan yang mengindikasikan penetrasi intelijen mendalam ke dalam struktur kekuasaan Iran.

Ia menyebut bahwa para elit Teheran kini tengah berdebat mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya—dan tidak ada yang bersedia mengambil posisi tersebut.

Trump menyatakan: “Kami mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.”

Pernyataan ini mengandung dua makna strategis:

  1. Intelijen AS-Israel diduga telah menyusup hingga ke rapat rahasia tingkat tinggi Iran
  2. Jabatan pemimpin tertinggi kini menjadi posisi berisiko tinggi akibat ancaman pembunuhan terarah

Namun di sisi lain, Trump juga membuka jalur diplomasi:

“Kami sedang berbicara dengan orang yang tepat. Mereka menginginkan kesepakatan.”

Pernyataan ini menandakan bahwa pihak yang bersedia bernegosiasi berpotensi memperoleh legitimasi politik dan dukungan eksternal.


Strategi Ganda AS-Israel: Negosiasi dan Tekanan Militer

Amerika Serikat dan Israel kini menerapkan strategi ganda yang menciptakan ketidakpastian tinggi bagi Teheran:

  • Donald Trump mendorong narasi negosiasi dan peluang damai
  • Benjamin Netanyahu justru meningkatkan tekanan militer secara maksimal

Israel bahkan mengeluarkan ultimatum:

  • Operasi militer intensif selama 48 jam (berakhir Kamis, 26 Maret 2026)

Sementara itu:

  • Penangguhan serangan terhadap infrastruktur listrik Iran oleh AS selama 5 hari akan berakhir pada Sabtu, 28 Maret 2026
  • Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan melakukan negosiasi di Pakistan pada akhir pekan

Dengan demikian, dalam rentang 72 jam, seluruh jalur—militer, diplomatik, dan ekonomi—akan mencapai titik kritis secara bersamaan.


Kuwait Siaga Darurat: Ancaman Radiasi Nuklir

Ketegangan meningkat setelah Kuwait mengeluarkan panduan darurat nasional yang jarang terjadi.

Pemerintah Kuwait mengimbau warganya untuk:

  • Tetap berada di dalam rumah
  • Menutup rapat pintu dan jendela
  • Menghindari paparan udara luar

Langkah ini diambil karena:

  • Jarak antara Kuwait dan fasilitas nuklir Iran hanya sekitar 240 kilometer
  • Fasilitas nuklir Bushehr dilaporkan telah diserang
  • Risiko kebocoran radiasi dinilai meningkat

Situasi ini menandai eskalasi konflik ke level yang berpotensi berdampak langsung pada keselamatan sipil lintas negara.


Selat Hormuz: Titik Tekan Ekonomi Global

Di tengah eskalasi militer, perhatian dunia juga tertuju pada Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Saat ini:

  • Garda Revolusi Iran telah membangun pos pemeriksaan bersenjata
  • Seluruh kapal yang melintas harus melalui inspeksi ketat

Langkah ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.

Pentagon dilaporkan telah mengerahkan Divisi Lintas Udara ke-82, unit elit yang mampu dikerahkan dalam waktu 18 jam tanpa pangkalan tetap.

Beberapa target strategis yang dianalisis:

  • Pulau Kharg → pusat sekitar 90% ekspor minyak Iran
  • Pulau Larak → titik kontrol utama lalu lintas di Selat Hormuz

Namun para analis militer memperingatkan:

  • Pasukan ini merupakan infanteri ringan
  • Rentan terhadap serangan berat saat pendaratan
  • Risiko operasi sangat tinggi

Strategi Global: Memutus “Aliansi Merah-Hijau”

Menurut analisis The Jerusalem Post, strategi besar Washington tidak hanya berfokus pada Iran, tetapi juga pada jaringan geopolitik yang lebih luas.

Yang disebut sebagai “aliansi merah-hijau” mencakup:

  • Iran → pemasok energi utama
  • Venezuela → basis minyak di belahan Barat
  • Kuba → titik tekanan strategis dekat AS

Ketiganya dipandang memiliki keterkaitan dengan pengaruh global Tiongkok.

Strategi Amerika Serikat meliputi:

  • Memutus jalur energi dan intelijen
  • Mengurangi ketergantungan terhadap manufaktur Tiongkok
  • Membangun sistem pertahanan ekonomi Barat

Tujuan akhirnya adalah:

Mengakhiri konflik global tanpa mewariskannya ke generasi berikutnya.


Kesimpulan: 72 Jam yang Bisa Mengubah Dunia

Dengan berbagai perkembangan yang terjadi hingga 26 Maret 2026, Timur Tengah kini berada di ambang titik balik sejarah.

Dalam waktu 72 jam ke depan:

  • Negosiasi bisa membuka jalan damai
  • Atau justru kegagalan diplomasi memicu eskalasi besar

Di tengah ancaman pembunuhan terhadap pemimpin dunia, risiko bencana nuklir, dan potensi krisis energi global—dunia kini menunggu satu hal:

Apakah ini akhir dari konflik, atau justru awal dari babak yang lebih berbahaya? (***)

Media Israel: Trump Sedang Membongkar “Aliansi Merah-Hijau”, Memutus “Arteri” Tiongkok

Media Israel menganalisis bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang membongkar struktur penopang global Partai Komunis Tiongkok (PKT), serta memutus “arteri” pengaruh global Beijing, dengan tujuan akhir mengalahkan PKT

EtIndonesia. Beberapa waktu lalu, saat mengumumkan rencana kunjungannya ke Tiongkok pada  Mei melalui platform media sosial, Trump kembali mengulang ungkapan khasnya, seperti menyebut Xi Jinping “sangat dihormati” dan “saya memiliki hubungan yang baik dengan Ketua Xi”, dan sebagainya.

Namun, para pengamat menilai bahwa pada saat yang sama, Trump juga sedang memberikan tekanan yang “belum pernah terjadi sebelumnya” kepada PKT dan Xi Jinping. Khususnya, serangan udara AS terhadap rezim otoriter Iran tidak hanya menghantam sekutu PKT di Timur Tengah, tetapi juga memutus salah satu jalur pasokan minyak murah yang penting bagi Tiongkok.

Surat kabar berbahasa Inggris terbesar di Israel, The Jerusalem Post, baru-baru ini menerbitkan artikel opini yang menyatakan bahwa “rezim jihad” di Teheran telah menyatakan perang terhadap dunia beradab sejak tahun 1979. Namun, selama hampir setengah abad, Barat merespons dengan “kebijakan penenangan” yang gagal. Kini, “Operasi Epic Fury” Amerika Serikat telah mengakhiri era berbahaya yang berlangsung selama 47 tahun.

Trump berpendapat bahwa untuk mencegah perang global yang bersifat bencana, ancaman-ancaman tersebut harus dihadapi sekarang, bukan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam kondisi yang lebih kuat dan lebih mengakar.

Artikel tersebut juga menekankan bahwa visi strategis ini tidak terbatas pada Timur Tengah saja. “Operasi Epic Fury” merupakan langkah kunci dalam strategi yang lebih luas, yaitu membendung PKT.

Trump menilai bahwa Iran, Rusia, dan Venezuela bukanlah aktor yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari “aliansi merah-hijau” yang dipimpin oleh PKT. Ia percaya bahwa untuk mengalahkan Partai Komunis Tiongkok, terlebih dahulu harus membongkar struktur penopang globalnya.

Artikel itu menganalisis bahwa melalui penggunaan kekuatan yang strategis dan presisi, Amerika Serikat sedang secara sistematis memutus “arteri” pengaruh global Beijing:

Di Belahan Barat, Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, memblokade rezim komunis Kuba, serta kembali menguasai jalur laut paling strategis di “halaman belakang” Amerika—Terusan Panama—sehingga memutus jalur energi dan intelijen PKT.

Di kawasan Arktik, Trump memperkuat kepentingan strategis di Greenland untuk menghadapi meningkatnya ancaman dari Tiongkok dan Rusia, sekaligus mengamankan jalur penting bagi keamanan Barat di masa depan.

Pada saat yang sama, Trump juga menerapkan strategi “pertahanan ekonomi”, melalui tarif timbal balik dan pembangunan kembali kekuatan militer, untuk mengurangi ketergantungan pada produk manufaktur Tiongkok dan beralih ke rantai pasokan yang lebih mandiri dan tangguh.

Selain itu, peneliti John Lee baru-baru ini menulis di Hudson Institute bahwa perang Trump terhadap Iran juga akan mempengaruhi perhitungan strategis PKT terhadap Taiwan. “Bagaimanapun situasi di Timur Tengah berkembang, Xi Jinping akan merasa semakin tidak tenang terhadap kondisi dunia saat ini—dan ini merupakan hal yang baik bagi efek pencegahan (deterrence).”

Artikel tersebut menyebutkan bahwa invasi PKT terhadap Taiwan harus mempertimbangkan banyak faktor yang tidak menguntungkan, salah satunya adalah apakah Amerika Serikat memiliki tekad untuk ikut berperang. Artikel itu menyatakan, “Xi Jinping tidak akan terlalu percaya pada anggapan bahwa ‘Trump pada akhirnya akan mundur’; Orang Iran jelas juga tidak berpikir demikian.” (Hui)

Trump Memuji Menkeu Bessant atas langkah Briliannya Menguras Keuangan Iran Tahun Lalu

EtIndonesia. Dalam rapat kabinet pemerintahan Trump pada 27 Maret 2026, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sebenarnya sudah mulai mempersiapkan langkah untuk menyerang rezim Iran sejak Maret tahun lalu, dengan pendekatan ganda: militer dan finansial. Bahkan pada Desember tahun lalu, AS telah melumpuhkan sistem keuangan Iran. Presiden Trump pun memuji hal tersebut dan mengatakan Bessent telah melakukan pekerjaan yang sangat baik.

“Departemen Keuangan terus berupaya mengidentifikasi semua jalur keuangan rezim Iran dan memutusnya. Ini adalah perintah yang Anda (Trump) berikan pada Maret tahun lalu,” katanya. 

 “(Setelah hampir satu tahun upaya), sistem keuangan Iran runtuh pada Desember,” tambahnya. 

Menurut Bessent, runtuhnya sistem keuangan ini sangat melemahkan kemampuan rezim Iran dalam mendanai operasi militer dan membeli senjata, serta membantu keberhasilan serangan militer AS tahun ini. Sementara itu, keberhasilan militer juga membantu menjamin kelancaran aktivitas ekonomi, termasuk pengiriman melalui Selat Hormuz.

 “Saya percaya volume pelayaran (di Selat Hormuz) akan terus meningkat dari hari ke hari, bahkan sebelum kita sepenuhnya menguasai selat tersebut,” katanya. 

Pernyataan Bessent tersebut membuat Presiden Trump merasa sangat puas.

 “Dia benar-benar seperti ‘pria sempurna’, bahkan kacamatanya pun sangat cocok. Sepertinya saya juga harus memakai kacamata. Sangat luar biasa! (pujian untuk penampilan dan pekerjaannya). Kerja bagus!” katanya. 

Dilaporkan oleh reporter NTDTV, Ren Hao, dari Washington DC.

200 Personel Militer Ukraina Dikirim ke Timur Tengah untuk Menghadang Drone Iran

The Wall Street Journal pada 26 Maret mengutip pejabat militer Ukraina yang mengungkapkan bahwa sekitar 200 personel pertahanan udara Ukraina telah dikerahkan ke Timur Tengah.  Pengerahan ini bertujuan untuk membantu Amerika Serikat dan sekutu regional menghadapi serangan drone Iran. 

Beberapa minggu sebelum kabar ini terungkap, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Kyiv atas permintaan Presiden AS Donald Trump, mengirim para ahli anti-drone ke Timur Tengah.

EtIndonesia. Saat ini, setelah “Operasi Epik Fury”, pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah bersama mitra regionalnya terus menghadapi serangan balasan sengit dari drone dan rudal Iran. Yang paling menjadi sorotan adalah drone seri “Shahed” milik Iran. Drone ini telah terbukti dalam pertempuran sebagai senjata yang sulit dicegat dan memiliki daya hancur tinggi. Pada awal konflik, drone jenis ini bahkan menyebabkan 6 tentara AS tewas di Kuwait serta merusak sejumlah infrastruktur penting setempat.

Alasan utama Ukraina dikerahkan ke Timur Tengah adalah karena mereka sangat berpengalaman menghadapi jenis drone ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah memasok drone serupa kepada Rusia untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina. 

Dengan kata lain, Ukraina telah mengumpulkan pengalaman praktis jangka panjang dalam menghadapi drone Iran, dan kini pengalaman tersebut langsung diterapkan di medan perang Timur Tengah.

Perkembangan ini juga memicu perhatian apakah Amerika Serikat sedang mempercepat integrasi kemampuan tempur anti-drone Ukraina ke dalam sistem pertahanan udara di Timur Tengah, guna menghadapi ancaman Iran yang semakin intensif. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Serangan Malam Israel: Komandan Angkatan Laut IRGC Tewas, Sejumlah Pejabat Tinggi Juga Tewas

EtIndonesia. Perkembangan terbaru situasi di Timur Tengah, militer Israel mengumumkan bahwa dalam sebuah operasi malam, mereka telah menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk komandan angkatan laut yang berperan penting dalam memimpin blokade Selat Hormuz.

Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Tewas

Militer Israel menyatakan bahwa saat serangan terjadi, komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, sedang mengadakan pertemuan dengan para komandan senior.

“Orang ini tangannya berlumuran darah. Dialah yang memimpin blokade Selat Hormuz. Ini sekali lagi membuktikan bahwa kerja sama kami dengan sekutu, termasuk Amerika Serikat, sedang mencapai tujuan perang yang telah ditetapkan,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyatakan bahwa selain Tangsiri, serangan udara ini juga menewaskan kepala intelijen angkatan laut Garda Revolusi, Behnam Rezaei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya, yang mana secara signifikan melemahkan kemampuan Iran dalam merencanakan operasi teror di laut.

Katz menegaskan: “Ini adalah peringatan jelas bagi organisasi teroris yang saat ini mengendalikan rezim Iran, yaitu Garda Revolusi Islam. Semua pejabat seniornya akan diburu oleh militer Israel dan dilumpuhkan satu per satu.”

Sebelumnya minggu ini, Tangsiri sempat menyatakan di platform X bahwa setiap kapal yang melewati Selat Hormuz harus berkoordinasi penuh dengan otoritas maritim Iran—sebuah langkah yang dianggap sebagai gangguan terhadap ekonomi global.

Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa selama masa jabatannya, Tangsiri memerintahkan penggunaan drone bunuh diri dan rudal untuk menyerang ratusan kapal serta menyebabkan banyak korban sipil. Amerika Serikat menetapkannya sebagai “teroris global” pada 2019 dan menambahkan sanksi lanjutan pada 2024.

Kapal Induk AS Tembak Jatuh Ratusan Rudal Iran

Sejauh ini, operasi militer AS telah menghancurkan puluhan ribu target Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya membantah klaim Iran, dengan menegaskan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) tidak mundur akibat serangan Iran, melainkan berhasil menembak jatuh 101 rudal Iran.

Cooper juga menekankan bahwa sejak dimulainya operasi “Epic Fury”, sekitar 92% kapal besar angkatan laut Iran telah dihancurkan, dan kekuatan angkatan laut Garda Revolusi berada dalam kemunduran yang tidak dapat dipulihkan.

Komandan Hizbullah Juga Tewas

Sebelumnya, militer Israel juga mengumumkan telah menewaskan komandan senior unit anti-tank Hizbullah di wilayah Hajir, Hassan Mohammad Bashir.

Bashir disebut pernah memimpin berbagai kelompok bersenjata dan bertanggung jawab atas ratusan serangan terhadap militer Israel dan warga sipil Israel.

AS Pertimbangkan Strategi Baru terhadap Iran

Di sisi lain, menghadapi Iran yang terus mengontrol Selat Hormuz, militer AS kemungkinan sedang merencanakan untuk merebut Pulau Kharg guna menguasai jalur energi Iran sebagai kartu tawar dalam negosiasi mendatang.

Namun, laporan menyebut Iran telah menanam ranjau di pulau tersebut untuk menimbulkan korban besar bagi pasukan AS. Iran juga mengancam bahwa jika AS melakukan invasi, mereka akan menguasai Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, guna menghambat jalur perdagangan global.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa proposal gencatan senjata 15 poin telah disampaikan kepada pejabat tinggi Iran, namun mereka tidak berani mengakuinya secara terbuka karena takut dibungkam dari dalam. Media Israel juga melaporkan bahwa selama negosiasi berlangsung, operasi pembunuhan terarah AS untuk sementara tidak akan menargetkan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Araghchi.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari Amerika Serikat.

Pentagon Berencana Mengirimkan Tambahan 10.000 Tentara Hingga Mengalihkan Persenjataan dari Ukraina ke Timur Tengah

Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah, guna memberi Presiden AS Donald Trump lebih banyak opsi dalam menentukan apakah akan berperang atau berdamai dengan Iran. Selain itu, untuk mengimbangi penggunaan persenjataan dalam konflik dengan Iran, juga dipertimbangkan untuk mengalihkan senjata bantuan bagi Ukraina ke Timur Tengah.

EtIndonesia. Pada 26 Maret, Presiden AS  Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa atas permintaan pemerintah Iran, AS akan menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, hingga pukul 20.00 malam waktu Timur AS pada Senin, 6 April. Ia juga menyatakan, “Negosiasi masih berlangsung. Meskipun media berita palsu dan pihak lain mengatakan sebaliknya, kemajuan negosiasi sangat baik.”

Dalam beberapa hari terakhir, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pejabat Teheran telah menolak proposal perdamaian yang diajukan AS. Meski Iran secara terbuka meremehkan adanya negosiasi, Trump mengatakan bahwa secara diam-diam sikap Iran jauh lebih lunak, bahkan meminta penghentian permusuhan. 

Dalam rapat kabinet 26 Maret, Trump mengatakan, “Mereka bilang, ‘Oh, kami tidak sedang berunding.’ … Padahal mereka sangat ingin mencapai kesepakatan.”

Sementara itu, The Wall Street Journal mengutip pejabat Departemen Pertahanan AS yang mengetahui situasi tersebut, melaporkan bahwa Pentagon sedang mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah. Langkah ini dimaksudkan agar Trump tetap memiliki lebih banyak opsi militer saat mengevaluasi kemungkinan negosiasi dengan Iran.

Menurut laporan tersebut, pasukan tambahan itu akan mencakup infanteri dan kendaraan lapis baja, serta bergabung dengan sekitar 5.000 marinir yang telah dikerahkan sebelumnya, serta satu brigade tempur dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang berjumlah sekitar 3.000 personel.

Saat ini belum jelas di mana pasukan darat AS tersebut akan ditempatkan, namun kemungkinan besar berada dalam jangkauan untuk menyerang pulau ekspor minyak utama Iran di lepas pantai, yaitu Pulau Kharg.

Selain itu, The Washington Post mengutip tiga sumber yang mengetahui situasi tersebut, melaporkan bahwa seiring meningkatnya konsumsi amunisi penting dalam operasi melawan Iran, Pentagon sedang mempertimbangkan apakah akan mengalihkan senjata yang semula ditujukan untuk Ukraina ke Timur Tengah. 

Senjata yang mungkin dialihkan termasuk rudal pencegat sistem pertahanan udara, yang sebelumnya dipesan melalui program bantuan NATO untuk Ukraina yang dimulai tahun lalu.

Pulau Kharg

Pulau Kharg terletak di bagian barat laut Teluk Persia, sekitar 24 kilometer dari pantai Iran, dan menangani sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Pulau ini memiliki sumber air tawar dan dihuni lebih dari seribu orang, sebagian besar bekerja di industri minyak. Perairan laut dalam di sekitarnya memungkinkan kapal tanker besar untuk berlabuh.

Jika dilakukan serangan langsung terhadap Pulau Kharg, hal itu dapat dengan cepat memutus ekspor minyak Iran, namun juga akan membuat pasukan AS lebih terekspos terhadap serangan musuh, sehingga meningkatkan risiko korban. (Hui)

Mantan Walikota Taipei Divonis 17 Tahun dalam Kasus Korupsi Tingkat Pertama, Politik Taiwan Bergejolak dan Jadi Sorotan

EtIndonesia. Dunia politik Taiwan kembali bergejolak. Pengadilan Distrik Taipei pada Kamis (26 Maret) menjatuhkan putusan dalam kasus korupsi yang mendapat perhatian luas. Mantan Wali Kota Taipei sekaligus pendiri Partai Rakyat Taiwan, Ko Wen-je, dijatuhi hukuman berat 17 tahun penjara, memicu perhatian besar dari berbagai kalangan.

Menurut laporan Central News Agency Taiwan, pengadilan menyatakan Ko bersalah atas tuduhan korupsi serta penyalahgunaan dana sumbangan politik. Dalam putusan tingkat pertama, ia dijatuhi hukuman penjara 17 tahun serta pencabutan hak politik selama 6 tahun, yang berarti ia tidak dapat mencalonkan diri dalam jabatan publik selama periode tersebut. Sebelumnya, jaksa menuntut hukuman lebih dari 28 tahun, sehingga besaran hukuman dalam kasus ini juga menjadi sorotan.

Jaksa menyatakan bahwa Ko, yang kini berusia 66 tahun, diduga menerima suap sekitar 17,1 juta dolar Taiwan dalam sebuah proyek pengembangan besar di Taipei, serta menyalahgunakan dana sumbangan politik hingga puluhan juta dolar Taiwan—yang menjadi inti dari dakwaan dalam kasus ini.

Perkembangan kasus ini dapat ditelusuri sejak tahun 2024. Saat itu Ko ditahan terkait kasus ini, dan pada September tahun yang sama dibebaskan dengan jaminan sambil menunggu persidangan. Ia selalu membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa seluruh kasus ini bermotif politik, dan kembali menyampaikan tanggapannya setelah putusan dijatuhkan.

Ko Wen-je menyatakan: “Ini bukan penegakan hukum, ini adalah pembersihan politik.”

Sebagai pendiri Partai Rakyat Taiwan, vonis terhadap Ko juga berdampak pada operasional partai. Ketua partai saat ini, Huang Kuo-chang, telah menyampaikan ketidakpuasannya melalui media sosial dan mempertanyakan hasil putusan tersebut.

Saat ini, Presiden Taiwan Lai Ching-te belum memberikan tanggapan publik. Sementara itu, Democratic Progressive Party menyatakan bahwa mereka menghormati proses peradilan, tidak mengomentari kasus individual, serta tidak menerima tuduhan tanpa dasar fakta.

Dalam struktur parlemen, Partai Rakyat Taiwan saat ini memiliki 8 kursi dan biasanya memiliki posisi yang sejalan dengan partai oposisi terbesar, Kuomintang. Jika digabungkan, jumlah kursi kedua partai tersebut melebihi partai berkuasa, sehingga dampak politik dari kasus ini juga meluas ke dinamika persaingan antara pemerintah dan oposisi.

Melihat perjalanan politiknya, Ko Wen-je berasal dari latar belakang dokter bedah, dan mulai dikenal pada 2014 sebagai figur “outsider politik”. Ia terpilih sebagai Wali Kota Taipei dan menjabat selama dua periode, kemudian mendirikan Partai Rakyat Taiwan dan secara bertahap masuk ke panggung politik nasional. 

Dalam pemilihan presiden 2024, ia menempati posisi ketiga. Dalam proses tersebut, Partai Rakyat Taiwan sempat bernegosiasi untuk bekerja sama dengan Kuomintang melawan Partai Progresif Demokratik, namun akhirnya gagal akibat perundingan yang berujung perselisihan terbuka.

Reporter NTD Television, Yi Xin, melaporkan.

3.000 Target Iran Hancur! AS-Israel Siapkan Serangan Darat, Trump Ancam “Api Neraka”

EtIndonesia. Operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari ke-26 dengan eskalasi yang semakin tajam dan meluas. Serangan besar-besaran yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa konflik telah berkembang dari sekadar tekanan militer menjadi upaya sistematis untuk melumpuhkan infrastruktur pertahanan dan logistik Iran.

Di tengah meningkatnya intensitas pertempuran, jalur diplomasi juga mulai dibuka. Namun, tekanan militer yang terus meningkat membuat situasi semakin berada di titik kritis.


Rencana Damai 15 Poin dan Jalur Negosiasi Tingkat Tinggi

Menurut laporan dari Channel 12 Israel, pada 25 Maret 2026, pemerintah Israel telah mengajukan rencana 15 poin sebagai kerangka untuk mengakhiri konflik.

Negosiasi ini disebut dipimpin langsung oleh dua tokoh penting Amerika Serikat:

  • Wakil Presiden JD Vance
  • Menlu AS Marco Rubio

Keduanya disebut menjadi ujung tombak komunikasi dengan Teheran.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak sedang menggertak. Ia memperingatkan bahwa Amerika siap meningkatkan serangan secara drastis jika Iran menolak berunding.

“Jika Iran kembali salah menilai situasi, mereka akan menghadapi serangan seperti api neraka,” tegasnya.


Lebih dari 3.000 Target Iran Dihancurkan

Hingga 25 Maret 2026, Israel telah melancarkan serangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Beberapa poin utama operasi militer:

  • Lebih dari 3.000 target militer Iran telah dihancurkan
  • Target mencakup:
    • Markas militer
    • Gudang senjata
    • Basis rudal balistik
  • Area serangan meluas dari:
    • Teluk Persia
    • Hingga Laut Kaspia

Dalam periode 23–25 Maret 2026, Israel juga melancarkan gelombang serangan intensif terhadap lebih dari 50 fasilitas strategis.

Yang paling mencolok:

  • Serangan mencapai Mashhad (timur laut Iran) — mencetak rekor jangkauan baru operasi militer Israel
  • Shiraz (Provinsi Fars): instalasi peluncur rudal balistik dihancurkan
  • Sekitar Teheran: markas milisi Basij diserang secara presisi saat berlangsung rapat internal

Pelabuhan Strategis Diserang, Jalur Rusia–Iran Terganggu

Salah satu perkembangan paling signifikan terjadi di Pelabuhan Anzali, yang terletak di pesisir Laut Kaspia.

Pelabuhan ini merupakan:

  • Jalur logistik penting Iran
  • Penghubung suplai militer dengan Rusia

Serangan terhadap fasilitas ini menandakan bahwa:
➡️ Jalur logistik utama Iran kini mulai terputus secara strategis

Di lapangan, rekaman video menunjukkan:

  • Pendukung rezim terpaksa berlindung di terowongan bawah tanah
  • Kekhawatiran tinggi terhadap serangan drone Israel

Amerika Kerahkan Pasukan Elit dan Perkuat Produksi Senjata

Amerika Serikat tidak hanya mendukung dari udara, tetapi juga mulai meningkatkan kesiapan tempur di darat.

Unit yang dikerahkan:

  • Resimen Operasi Khusus Penerbangan ke-160 (SOAR)
  • Dikenal sebagai unit elit untuk:
    • Operasi malam
    • Penyerbuan cepat
    • Misi khusus berisiko tinggi

Unit ini sebelumnya pernah terlibat dalam operasi sensitif, termasuk misi terkait Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Di sisi industri pertahanan:

  • Pentagon menandatangani kontrak ratusan juta dolar
  • Melibatkan tiga perusahaan pertahanan besar dunia

Fokus produksi:

  • Amunisi strategis
  • Sistem pertahanan udara
  • Rudal presisi

Perusahaan seperti Lockheed Martin ditugaskan untuk:
➡️ Mempercepat produksi rudal presisi demi menjaga keunggulan militer AS dan sekutu

Selain itu:

  • Produksi pemandu rudal pencegat untuk Arab Saudi meningkat hingga 4 kali lipat

Respons Iran: Serangan Balasan dan Penyesuaian Strategi

Iran merespons dengan menaikkan status kesiapan tempur ke tingkat tinggi.

Serangan balasan meliputi:

  • Rudal ke kota-kota Israel:
    • Tel Aviv
    • Haifa
  • Serangan regional ke:
    • Bahrain
    • Kuwait
    • Uni Emirat Arab

Namun, terdapat perubahan strategi signifikan:

  • Serangan ke Arab Saudi turun drastis
    • Dari 47 drone per hari → menjadi hanya 1 drone
  • Serangan ke Qatar dihentikan

Alasannya:
➡️ Amerika Serikat mengancam akan menghancurkan fasilitas gas terbesar Iran jika Qatar kembali diserang


Ancaman Energi Global dan Fokus di Pulau Kharg

Iran juga mulai mempersiapkan skenario perang yang lebih luas.

Langkah-langkah yang dilakukan:

  • Memperkuat pertahanan di Pulau Kharg
    • Pusat ekspor minyak utama Iran
  • Menempatkan:
    • Sistem pertahanan udara
    • Ranjau anti-tank

Iran juga mengeluarkan ancaman:

Jika Amerika melancarkan perang darat, Iran akan menyerang jalur pelayaran di Laut Merah dan mengganggu pasokan energi global.


Menuju Operasi Amfibi: Titik Balik Perang?

Di tengah ancaman tersebut, Amerika Serikat tetap melanjutkan rencana militernya.

Dalam beberapa hari ke depan:

  • Pasukan Marinir AS
  • Armada amfibi

Akan bergerak menuju wilayah strategis dengan kemampuan:
➡️ Melakukan pendaratan dan perebutan pulau

Jika operasi ini berhasil:

  • Arah perang akan berubah secara drastis
  • Iran berisiko kehilangan kendali atas jalur energi vital

Strategi Ganda Trump: Perang dan Negosiasi Sekaligus

Presiden Donald Trump kini menjalankan strategi ganda:

1. Tekanan militer maksimal
2. Membuka jalur negosiasi

Dengan menawarkan:

  • Rencana damai 15 poin

Namun di saat yang sama:

  • Menegaskan ancaman eskalasi besar

Pendekatan ini dinilai oleh para analis sebagai:
➡️ Upaya memaksa Iran berunding dari posisi lemah


Kesimpulan: Konflik Menuju Fase Penentuan

Per tanggal 25 Maret 2026, perang telah memasuki fase kritis:

  • Infrastruktur militer Iran mulai runtuh
  • Jalur logistik terganggu
  • Tekanan ekonomi dan energi meningkat
  • Ancaman operasi darat semakin nyata

Pertanyaan besarnya kini:
➡️ Apakah Iran akan memilih berunding, atau menghadapi eskalasi yang lebih besar?

Beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu arah konflik, yang tidak hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga stabilitas energi dan geopolitik global. (***)

KPPU Jatuhkan Sanksi Rp755 Miliar kepada 97 Pinjol Terbukti Lakukan Kartel Bunga

Jakarta, 26 Maret 2026 — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menjatuhkan putusan bersejarah dengan menghukum 97 penyedia layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi (fintech P2P lending) atau pinjaman online (pinjol) yang terbukti bersalah melakukan penetapan harga (kartel bunga) secara terlarang. Total denda yang dibebankan mencapai Rp755 miliar.

Putusan dengan perkara Nomor 05/KPPU-I/2025 ini dibacakan dalam sidang Majelis Komisi di Ruang Sidang Gedung R.B. Supardan, Jakarta, Kamis (26/3). Majelis Komisi yang dipimpin oleh Rhido Jusmadi sebagai Ketua Majelis beserta delapan anggota komisi lainnya menyatakan bahwa 97 terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Perkara ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah penanganan KPPU, baik dari jumlah terlapor maupun dampaknya terhadap masyarakat luas,” ujar Rhido Jusmadi dalam sidang putusan.

Berdasarkan fakta-fakta dan bukti yang terungkap selama persidangan, Majelis Komisi memutuskan bahwa para terlapor terbukti melakukan praktik penetapan bunga secara bersama-sama yang merugikan konsumen pengguna layanan pinjol.

Putusan tersebut menandai berakhirnya perkara persaingan usaha dengan cakupan terbesar yang pernah ditangani KPPU. Selain menjatuhkan sanksi denda total Rp755 miliar yang terbagi kepada 97 perusahaan terlapor, KPPU juga memerintahkan para terlapor untuk menghentikan praktik penetapan harga yang melanggar hukum persaingan usaha.

KPPU menyatakan siaran pers resmi akan disampaikan kemudian, dan terbuka untuk memberikan kutipan resmi atau wawancara lanjutan terkait putusan ini. Penegakan hukum ini diharapkan menjadi efek jera serta mendorong terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat di sektor fintech P2P lending yang selama ini tumbuh pesat di Indonesia.

Jepang akan Berinvestasi di Sektor Energi AS Sebesar Rp1.240,9 Triliun

 oleh Chen Ting

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengadakan pertemuan resmi di Gedung Putih pada hari Kamis (19 Maret). Kedua pihak mengumumkan serangkaian perjanjian kerja sama untuk memperkuat aliansi mereka, termasuk rencana Jepang untuk menginvestasikan dana sebesar USD 73 miliar (Rp1.240,9 triliun) di sektor energi Amerika Serikat, selain juga merilis kesepakatan kerja sama yang menargetkan rantai pasokan terkait dengan mineral kritis dan unsur tanah jarang, demi melawan tekanan ekonomi dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan memperkuat ketahanan rantai pasokan.

Menurut laporan singkat Gedung Putih setelah pertemuan , investasi sebesar USD 73 miliar ini merupakan tahap kedua dari rencana investasi Jepang sebesar USD 550 miliar di AS untuk mengamankan pengecualian tarif.

Komitmen investasi spesifik Jepang meliputi pembangunan reaktor modular kecil (SMR) oleh GE Vernova Hitachi di Negara Bagian Tennessee dan Alabama, dengan proyeksi investasi hingga USD 40 miliar. Selain itu, sekitar USD 33 miliar untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam di Negara Bagian Pennsylvania dan Texas.

GE Vernova Hitachi adalah usaha patungan antara General Electric (GE) dan produsen peralatan listrik terintegrasi Jepang, Hitachi.

Gedung Putih menyatakan bahwa proyek-proyek ini akan membantu menstabilkan harga listrik AS dan menyediakan dukungan daya untuk jumlah pusat data yang terus bertambah.

Pada Februari 2026), Jepang telah menyepakati rencana investasinya yang pertama sebesar USD 36 miliar untuk mendorong tiga proyek besar di AS: Pertama, membangun pembangkit listrik tenaga gas alam 9,2 GW di Negara Bagian Ohio. Kedua, membangun fasilitas ekspor minyak mentah di perairan dalam Teluk Meksiko. Ketiga, membangun kemampuan manufaktur berlian sintetis di AS untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan asing.

Menetapkan Mekanisme “Harga Minimum” Mineral untuk Mengoreksi Distorsi Pasar

Di bidang keamanan ekonomi, AS dan Jepang secara resmi meluncurkan “Critical Minerals Action Plan” , yang bertujuan untuk mengembangkan alternatif guna mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan PKT. Kedua negara menekankan bahwa tujuan rencana tersebut adalah “untuk mencapai hasil jangka pendek yang konkret dalam memastikan ketahanan rantai pasokan bilateral.”

Meskipun tidak secara langsung menuding negara tertentu, namun dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa tujuannya adalah untuk memperbaiki “distorsi pasar yang disebabkan oleh kebijakan dan praktik non-pasar yang meluas.” Reuters meyakini bahwa ini jelas merujuk pada PKT.

“Critical Minerals Action Plan” menyatakan bahwa memperbaiki distorsi pasar ini sangat urgen karena membuat rantai pasokan mineral kritis di ekonomi yang berorientasi pasar menjadi “sangat rentan terhadap berbagai risiko gangguan, termasuk pemaksaan ekonomi.”

Pernyataan tersebut lebih lanjut menekankan bahwa mineral kritis merupakan “aset strategis yang sangat dibutuhkan” dalam ekonomi industri modern dan inovatif, dan memperbaiki mata rantai yang lemah dalam rantai pasokan sudah tidak dapat ditunda-tunda, hanya dengan membangun rantai pasokan yang terdiversifikasi, tangguh, dan berbasis pasar, keamanan ekonomi dan nasional secara keseluruhan dapat lebih terjamin.

Awalnya, rencana tersebut akan membahas dan mengkoordinasikan kebijakan perdagangan untuk mineral tertentu, seperti menetapkan mekanisme “harga minimum”, dan mengeksplorasi cara untuk memasukkannya ke dalam perjanjian pasokan multilateral yang melibatkan negara lain. 

Kedua pihak tidak menyebutkan mineral mana yang akan dikenakan “harga minimum,” tetapi Gedung Putih mencantumkan 13 proyek yang akan didukung oleh kedua pemerintah, termasuk daur ulang logam tanah jarang, nikel, galium, litium, dan proyek fluorit.

Kerja Sama Pertambangan Mineral Laut Dalam dan Teknologi Mutakhir

Kedua negara juga menandatangani Memorandum of Cooperation tentang kerja sama dalam eksploitasi mineral laut dalam, mempercepat penelitian dan pengembangan teknologi terkait. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan lumpur tanah jarang di dekat Pulau Minamitorishima, Jepang, di mana sumber daya ini diyakini “cukup untuk memenuhi kebutuhan industri selama ratusan tahun.”

Di bidang sains dan antariksa, kedua negara juga akan memperdalam kerja sama dalam kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan program pendaratan bulan Artemis, termasuk pengembangan kendaraan penjelajah bulan berawak buatan Jepang untuk para astronot.

Peningkatan Kapasitas Produksi Rudal demi Daya Deterensi Terhadap PKT dan Korea Utara

AS dan Jepang menegaskan bahwa mereka akan meningkatkan daya deterensi kolektif untuk memperkuat pertahanan negara. Sanae Takaichi berjanji untuk melipatgandakan produksi Rudal Standar-3 (SM-3 Blok IIA) buatan Jepang, dan menjajaki rencana untuk memproduksi bersama dengan AS Rudal Udara-ke-Udara Jarak Menengah Canggih (AMRAAM).

Kedua pihak juga menegaskan kembali komitmen mereka tentang pengerahan kemampuan yang canggih di wilayah Jepang untuk mencapai postur pertahanan yang kuat. Tahun ini, mereka akan mempertahankan koordinasi yang erat, dan akan terus melangkah maju berdasarkan keberhasilan AS menempatkan sistem rudal Typhon di daratan Jepang pada tahun 2025.

Mengenai situasi regional, kedua pemimpin menegaskan kembali pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Pernyataan tersebut mencatat bahwa perdamaian di Selat Taiwan adalah “elemen yang sangat diperlukan untuk keamanan regional dan kemakmuran global,” dan menyatakan penentangan terhadap setiap upaya untuk mengubah status quo secara sepihak dengan kekerasan atau paksaan.

AS dan Jepang juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap denuklirisasi total Korea Utara dan memperkuat kemitraan AS-Jepang-Korea Selatan.

Trump Menanggapi Secara Humor “Serangan ke Iran Tanpa Memberi Tahu Sekutu” 

Pada akhir bulan lalu, militer AS meluncurkan “Operation Epic Fury” terhadap Iran yang sebelumnya tidak memberi tahu sekutunya seperti Jepang. Kepada media pada hari Kamis (19 Maret) selama kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Trump dengan humoris memberi tanggapan yang merujuk pada serangan Pearl Harbor tahun 1941.

“Operation Epic Fury” yang dilancarkan oleh AS mulai 28 Februari telah berlangsung selama hampir tiga minggu. Baik Pentagon maupun Presiden Trump belum mengindikasikan kapan militer AS akan mengakhiri operasi tersebut. Pada hari pertama operasi, militer AS, bersama dengan pasukan Israel, melancarkan serangan udara mendadak terhadap Iran, menewaskan 49 orang pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang sempat mengejutkan dunia.

Selama pertemuan di Ruang Oval pada hari Kamis, Presiden Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membahas perang dengan Iran. Ketika seorang jurnalis Jepang bertanya kepada presiden mengapa operasi tersebut tidak dikomunikasikan terlebih dahulu kepada Jepang dan sekutu Eropa sebelum serangan, Presiden Trump menjawab: “Salah satu alasannya adalah kami tidak ingin memberi musuh terlalu banyak peringatan. Anda tahu, ketika kami menyerang, pukulannya sangat kuat. Kami tidak memberi tahu siapa pun karena kami ingin terjadi di luar dugaan mereka.”

Secara bercanda Trump mengatakan: “Berbicara soal bertindak di luar dugaan, siapa yang lebih hebat daripada Jepang dalam memainkan trik ini? Mengapa kalian tidak memberi tahu saya sebelum menyerang Pearl Harbor?”

“Saya rasa kalian lebih percaya terhadap strategi serangan di luar dugaan daripada kami,” katanya. Kemudian Trump menambahkan: “Kami memang menciptakan serangan di luar dugaan. Oleh karena itu, kami mencapai hasil yang luar biasa, yang setara dengan 50% dari rencana, bahkan lebih dari yang diharapkan hanya dalam dua hari pertama serangan.” 

Serangan Pearl Harbor merujuk pada serangan militer Jepang terhadap pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbor, Hawaii pada 7 Desember 1941 yang menewaskan 2.390 orang warga Amerika Serikat. Keesokan harinya, Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.