7 Ekor Anjing Dicuri, Berjalan 17 Km Bersama untuk Pulang ke Rumah – Videonya Viral

Baru-baru ini, sebuah video yang menunjukkan 7 anjing di Changchun, Provinsi Jilin, berjalan bersama sejauh 17 kilometer untuk pulang menjadi viral di internet dan memicu banyak perbincangan.

EtIndonesia. Seorang netizen di Changchun merekam 7 ekor anjing yang berjalan bersama di jalan. Video yang beredar menunjukkan bahwa pada 16 Maret, ketujuh anjing tersebut terlihat di dekat jalan tol Changshuang, berjalan di antara lalu lintas kendaraan.

Jenis anjing yang terlihat antara lain German Shepherd, Golden Retriever, Labrador Retriever, Pug, dan Corgi.

Setelah video tersebut beredar, para relawan menggunakan drone untuk mencari mereka dan menyebarkan pengumuman.

Sebuah akun tempat penampungan anjing liar mengunggah video yang menyebutkan bahwa ketujuh anjing tersebut sebelumnya telah dicuri, lalu jatuh di jalan tol. Karena lokasi sudah sangat jauh dari rumah, dan mereka berasal dari lingkungan yang sama serta biasa bermain bersama, mereka akhirnya berjalan bersama-sama menempuh jarak 17 kilometer untuk kembali ke rumah.

Pada 19 Maret, seorang relawan yang ikut dalam pencarian mengatakan kepada media bahwa kelompok anjing tersebut telah kembali dengan selamat ke desa. Mereka semua memiliki pemilik dan berasal dari tiga keluarga berbeda.

Salah satu pemilik mengatakan bahwa ia kehilangan seekor German Shepherd dan seekor Golden Retriever, dan sangat bersyukur keduanya bisa kembali.

Salah satu anjing, German Shepherd, mengalami cedera pada kaki. Anjing-anjing lainnya langsung melindunginya dengan menempatkannya di tengah kelompok, memperlambat langkah, dan tidak meninggalkannya. Mereka saling menjaga dan terus berjalan menuju arah rumah.

Setelah video ini tersebar, banyak netizen memberikan komentar:
“Para anjing seperti sedang rapat, berjalan lalu berhenti, German Shepherd di tengah, Golden Retriever menjaga di luar, tujuh anjing berdiskusi, bersama-sama pulang ke desa sejauh 17 km.”

“Anjing-anjing ini luar biasa pintar!”
“Mereka bahkan tahu melindungi temannya yang terluka.”
“Sejauh apapun mereka pergi, mereka tetap ingat jalan pulang. Tolong jaga dan sayangi mereka.”

Ada juga yang berbagi pengalaman sedih:
“Anjing putih saya juga dicuri, tapi saya tidak pernah menemukannya lagi.”
“Golden Retriever saya juga dicuri, sampai sekarang belum kembali…” (Hui)

Ketika Seorang Pegulat Nasional Iran Berusia 19 Tahun Dikirim ke Tiang Gantungan, Rezim Iran Secara Brutal Mengeksekusi Tiga Pemuda

EtIndonesia. Pada awal berita ini, kita dihadapkan pada kabar yang menyedihkan, kejam, dan memicu kemarahan. Pada 19 Maret 2026 pagi, otoritas Iran mengeksekusi secara terbuka tiga pemuda yang ikut dalam aksi protes awal tahun ini.

Di antaranya, seorang atlet gulat nasional berusia 19 tahun, Saleh Mohammadi, dieksekusi dengan cara digantung di tengah sorotan dunia internasional.

Pemerintah Iran mengabaikan seruan internasional dan tekanan dari Amerika Serikat, dan memilih melakukan “pembersihan politik” yang kejam ini. Peristiwa tersebut tidak hanya mengejutkan dunia olahraga, tetapi juga memperlihatkan kepada dunia sifat brutal rezim tersebut.

Pada 19 Maret pagi waktu setempat, tiga pemuda digiring ke tiang gantungan di Qom.

Mereka adalah:

  • Saleh Mohammadi
  • Mehdi Ghasemi
  • Saeed Davoudi

Nama Saleh Mohammadi menjadi yang paling mengejutkan bagi rakyat Iran. Ia sebelumnya adalah kebanggaan nasional di arena gulat dan seorang juara nasional. Namun hidupnya berakhir secara tragis di usia 19 tahun.

Televisi pemerintah Iran pada Kamis (19 Maret) menayangkan rekaman persidangan ketiga pemuda tersebut.

Seorang jaksa dari departemen kehakiman Qom mengatakan:
“Ia mengendarai sepeda motor ke dekat lokasi kerusuhan, memarkir kendaraan, lalu masuk ke lokasi tersebut.”

Pihak berwenang menuduh mereka telah membunuh dua polisi dengan senjata tajam dalam aksi protes nasional pada Januari, serta menuduh mereka sebagai kaki tangan Israel dan Amerika Serikat, dengan dakwaan pembunuhan dan “memusuhi Tuhan”.

Seorang mantan atlet polo air Iran yang kini hidup di pengasingan di Kanada, Reza Soleimani, mengungkapkan kesedihannya:

“Saya tidak tahu harus berkata apa. Jujur, saya benar-benar terdiam sekarang, tidak bisa melakukan apa pun. Ini sangat menyedihkan. Saya bisa merasakan apa yang dialami anak itu.”

Dilaporkan bahwa ketiga pemuda tersebut mengalami penyiksaan di dalam penjara, dan akhirnya dipaksa melakukan pengakuan yang tampak seperti “skenario politik” di depan kamera.

Peristiwa ini mengguncang dunia olahraga.

Peraih medali emas gulat Amerika Serikat, Brandon Slay, mengatakan bahwa melihat rezim yang mengeksekusi seorang atlet muda sangatlah memilukan, dan ia mendoakan keluarga korban.

Sementara itu, peraih tiga kali medali emas Olimpiade cabang bobsleigh dari Amerika Serikat dan Kanada, Kaillie Humphries, mengatakan kepada media bahwa tindakan rezim Iran sangat mengerikan. Membunuh remaja hanya karena mereka “bersuara” adalah hal yang tidak dapat diterima.

Pada awal tahun ini, di bawah tekanan diplomatik kuat dari Presiden AS Donald Trump, Iran sempat menunda eksekusi terhadap ratusan demonstran.

Namun, seiring pecahnya operasi militer besar yang disebut “Epic Pury”, rezim Teheran disebut tidak lagi menahan diri.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Serangan Presisi Israel: Tiga Pejabat Tinggi Rezim Iran Tewas dalam Dua Hari

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah kembali memanas pada 21 Maret dini hari ini. Juru bicara Garda Revolusi Iran dipastikan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Militer Israel menyatakan bahwa sosok ini bukan hanya wajah publik rezim Iran, tetapi juga tokoh inti dalam menyebarkan “propaganda terorisme” kepada kelompok proksi di seluruh Timur Tengah.

Dalam operasi “serangan presisi” Israel, dua tokoh penting intelijen Iran lainnya juga tewas, menambah hasil dari operasi kontra-terorisme tersebut.

Garda Revolusi Iran sebelumnya mengkonfirmasi bahwa juru bicara sekaligus wakil komandan hubungan masyarakatnya, Ali Mohammad Naeini, tewas dalam serangan udara.

Dalam dua tahun terakhir, Naeini diketahui menyebarkan propaganda kepada kelompok proksi di kawasan Timur Tengah dan terlibat dalam mendorong serangan terhadap Israel.

Militer Israel juga mengumumkan dua pejabat intelijen Iran lain yang tewas, yaitu:

  • Mehdi Rastami Sh’mastan, seorang komandan penting di Kementerian Intelijen Iran yang diduga mengkoordinasikan serangan terhadap warga Israel dan Yahudi di berbagai negara.
  • Esmail Ahmadi, kepala intelijen organisasi milisi Basij yang disebut memimpin berbagai operasi penindasan dalam protes di Iran baru-baru ini.

Menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dalam operasi darat terbatas di Lebanon selatan, mereka telah menyerang lebih dari 2.000 target, termasuk sekitar 120 pusat komando Hezbollah, lebih dari 130 peluncur rudal, serta menewaskan lebih dari 570 anggota kelompok tersebut.

Memasuki minggu keempat konflik, situasi belum menunjukkan tanda mereda.

Kilang minyak terbesar di Kuwait, Mina Al-Ahmadi Refinery, diserang drone Iran pada Jumat pagi dan terbakar hebat.

Iran tidak hanya menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk, tetapi juga meluncurkan lebih dari sepuluh gelombang serangan rudal ke Israel.

Pada Jumat pagi, sirene peringatan berbunyi di Yerusalem dan sejumlah kota di Israel utara, membuat warga bergegas menuju tempat perlindungan. Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan korban jiwa.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada Jumat menyatakan bahwa negaranya telah mengirim 228 ahli untuk membantu negara-negara Timur Tengah dalam pertahanan drone, guna melindungi infrastruktur penting dan fasilitas sipil.

Negara-negara tersebut meliputi Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Yordania, yang sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan Iran.

Zelenskyy juga sedang bekerja sama dengan para pemimpin negara Timur Tengah untuk menandatangani berbagai perjanjian. Ia sebelumnya menyatakan harapannya untuk mendapatkan dukungan dana dan teknologi melalui kerja sama tersebut.

 “Kami sedang bekerja sama dengan kawasan Timur Tengah, termasuk para pemimpin di bidang teknologi dan kementerian terkait. Secara keseluruhan, kami sedang menyiapkan serangkaian kesepakatan dan transaksi besar. Detailnya akan diumumkan nanti,” katanya. 

Pihak Kyiv juga mengungkapkan bahwa lebih dari sepuluh negara telah meminta bantuan dan saran untuk menghadapi drone murah Iran yang disebut sebagai “drone kamikaze”.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari Amerika Serikat.

Iran Peringatkan “Tidak Ada yang Boleh Lewat” – Rekaman Kapal Tiongkok Membantah Propaganda Partai Komunis Tiongkok

Militer Iran masih menutup Selat Hormuz. Sebelumnya, sebuah kapal kargo Tiongkok juga dilaporkan terkena serangan hingga terbakar. Seorang awak kapal Tiongkok mengunggah video berisi peringatan dari Garda Revolusi Iran, yang membongkar propaganda pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT)  bahwa “kapal Tiongkok dapat melintas tanpa hambatan”.

EtIndonesia. Pada 19 Maret, sebuah akun di platform Douyin (TikTok versi Tiongkok) mengunggah video yang menunjukkan sebuah kapal Tiongkok yang tertahan di Teluk Persia menerima peringatan dari Garda Revolusi Iran:

“Semua kapal, tanpa memandang kebangsaan atau nama kapal, tidak diizinkan melewati Selat Hormuz.”

Pihak Iran juga mengancam:  “Jika tidak mematuhi, Anda akan bertanggung jawab atas permusuhan terhadap negara kami.”

Lokasi IP akun yang mengunggah video tersebut tercatat di Qatar, diduga milik seorang awak kapal Tiongkok yang terjebak di Teluk Persia.

Awak kapal tersebut juga mengungkapkan bahwa hingga 19 Maret, Selat Hormuz masih diblokir. Tiga video yang ia unggah sebelumnya tidak lolos sensor, sehingga ia hanya bisa menyampaikan informasi singkat.

Saat ini, kapalnya berada sekitar 25 mil laut di barat laut Dubai. Di sekitarnya terdapat hampir 200 kapal yang berlabuh, terdiri dari kapal tanker minyak dan kapal gas alam cair dalam jumlah hampir seimbang. Ia juga menyatakan bahwa belum terlihat tanda-tanda pembukaan kembali Selat Hormuz.

Video tersebut membuat banyak netizen Tiongkok terkejut:
“Bukannya katanya kapal Tiongkok bisa lewat?”
“Sudah pasang bendera belum?”
“Tunjukkan paspor!”
“Kok berbeda dengan laporan di dalam negeri?”

Video yang diunggah awak kapal itu berulang kali dibatasi di Douyin, diduga karena tidak sesuai dengan narasi resmi pemerintah Tiongkok.

Saat ini, otoritas Beijing disebut sedang mengendalikan opini publik dengan menciptakan kesan di media sosial bahwa “kapal Tiongkok dapat melintas dengan lancar di Selat Hormuz”.

Pengamat menilai, propaganda ini bertujuan untuk membangkitkan rasa bangga nasional di kalangan publik domestik, sekaligus meredam tekanan opini setelah Presiden AS, Donald Trump, meminta Tiongkok ikut mengawal jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Menurut laporan media asing, Selat Hormuz memang masih dalam kondisi tertutup. Saat ini hanya sebagian kecil kapal yang dapat melintas dalam kondisi tertentu, termasuk beberapa kapal Tiongkok dan kapal kargo lainnya yang diizinkan lewat.

Namun, tidak semua kapal Tiongkok bisa melintas dengan aman. Sebagian besar kapal kargo Tiongkok tidak berani mengambil risiko dan masih tertahan di Teluk Persia.

Pada 11 Maret, akun Douyin tersebut pernah mengunggah video yang menunjukkan sebuah kapal kargo Tiongkok, karena kehabisan pasokan, berencana mengambil risiko untuk menerobos selat. Dalam percakapan jarak jauh, penanggung jawab kapal bertanya kepada rekannya:  “Lebih aman lewat siang atau malam?”

Pada 12 Maret pagi, sebuah kapal kontainer Tiongkok diserang dan terbakar saat mendekati wilayah Selat Hormuz. Akun tersebut juga mengunggah rekaman percakapan dengan kapal yang diserang.

Awak kapal yang terkena serangan menyatakan bahwa kapal mereka dihantam drone Iran. Beruntung, bagian yang rusak berada di atas garis air, sehingga kapal tidak berisiko tenggelam, dan tidak ada korban jiwa. (Hui)

[Berita Terlarang] Bentrokan Besar Polisi dan Warga di Xinyi, Guangdong, Tiongkok  – Informasi Diblokir Pemerintah

Terjadi bentrokan antara polisi dan warga di Desa Wangyong, Kecamatan Shuikou, Kota Xinyi, Maoming, Provinsi Guangdong. Penyebabnya adalah pembangunan rumah duka (krematorium) yang dipaksakan oleh pemerintah setempat.

Menurut informasi, pada awal proyek pemerintah menggunakan alasan seperti “pembangunan jalan” untuk memulai pekerjaan. Warga menilai pemerintah telah melakukan penipuan, lalu beralih mengajukan petisi ke pemerintah kota, namun yang mereka terima justru pengerahan ribuan aparat untuk “menjaga stabilitas”. Saat ini situasi masih tegang, dan informasi dari lokasi sangat sulit diperoleh.

EtIndonesia. Baru-baru ini, terjadi aksi protes besar di Desa Wangyong. Ratusan warga yang menolak pembangunan krematorium yang berjarak hanya sekitar 70 meter dari permukiman, bentrok secara berdarah dengan polisi anti huru-hara.

Setelah itu, warga mendatangi pemerintah kota untuk menyampaikan tuntutan, tetapi justru mendapat penindasan yang lebih besar serta pemblokiran informasi.

Pada 16 Maret, pemerintah Kota Xinyi merilis pengumuman evaluasi proyek krematorium, menyatakan lokasi pembangunan berada di pinggiran kota (Maliutang), dengan radius 500 meter tanpa penduduk, luas lahan lebih dari 50.000 meter persegi, masa pembangunan dari Maret hingga akhir Desember (10 bulan), dengan total investasi mencapai 145 juta yuan.

Seorang warga, Li Jun, mengungkapkan bahwa sebelumnya pengadaan lahan dilakukan dengan alasan pembangunan jalan Liru Avenue. Baru setelah pengumuman pada 16 Maret, warga mengetahui bahwa proyek tersebut sebenarnya adalah krematorium, bahkan pondasinya sudah selesai dibangun.

 “Awalnya warga pergi ke kantor desa untuk berdiskusi dan menyelesaikan masalah, tapi polisi datang. Hari ini juga katanya ada tambahan lebih dari 700 polisi anti huru-hara yang didatangkan dari Maoming,” katanya. 

Pemerintah setempat pada awalnya menggunakan alasan seperti “pembangunan jalan” atau “infrastruktur” untuk menutupi proyek tersebut. Setelah semuanya berjalan, warga baru menyadari bahwa yang dibangun di dekat rumah mereka adalah krematorium.

Seorang warga lain, Fang Fei, mengatakan:  “Kami baru tahu sejak hari Senin setelah pengumuman keluar. Jalan ke desa langsung ditutup, bahkan orang tidak boleh lewat. Pintu masuk desa ditutup total. Untuk masuk harus menunjukkan KTP. Jika warga desa, boleh masuk. Kalau dari daerah lain, tidak diizinkan.”

Warga yang marah melempar payung, batu, dan benda lain ke arah polisi anti huru-hara. Seorang nenek berambut putih bahkan terlihat memungut batu dan melemparkannya ke polisi.

Polisi kemudian memanfaatkan kekacauan untuk memukul warga dengan tongkat, membubarkan massa. Beberapa warga dilaporkan terluka, dan situasi di lokasi sangat kacau.

Ketika warga mendatangi kantor desa untuk meminta penjelasan, pihak berwenang memperketat pengawasan di Desa Wangyong dan sekitarnya. Pos pemeriksaan didirikan di pintu masuk desa, dan setiap orang yang keluar-masuk harus menunjukkan identitas.

Fang Fei mengatakan:  “Saat ini benar-benar penindasan keras. Para pejabat desa sudah diperingatkan—kalau memimpin warga melakukan protes, mereka akan dicopot dari jabatan. Jadi sekarang tidak ada pejabat desa yang berani bersuara.”

Pengamat menilai bahwa pemaksaan pembangunan fasilitas kremasi di pusat permukiman pada dasarnya merupakan bentuk “kekerasan administratif”.


“Dalam konflik di Xinyi ini terlihat bahwa perlawanan masyarakat semakin berani. Kemungkinan terbesar adalah semakin banyak orang merasa sudah tidak punya jalan keluar. Semua jalur pembelaan hak sudah tertutup. Rasa putus asa ini kadang membuat orang mengatasi rasa takut terhadap kekerasan,” ujar Wakil ketua organisasi pro-demokrasi dan juru bicara Independent Chinese PEN Center, Sheng Xue. 

Di wilayah Maoming sebelumnya juga pernah terjadi protes serupa. Pada 2019, di Kota Huazhou (Wenlou dan Boyang), terjadi penolakan pembangunan krematorium. Saat itu, di bawah tekanan masyarakat, pemerintah sempat berjanji secara tertulis untuk “tidak akan membangun”.

Protes di Kecamatan Shuikou kali ini dianggap sebagai ledakan kembali emosi masyarakat setempat.

 “Latar belakang kejadian ini, cara pemerintah lokal bertindak, pemilihan lokasi, dan cara penipuan yang digunakan menunjukkan semakin tajamnya konflik antara pemerintah akar rumput dan rakyat. Ini juga merupakan bentuk kekerasan langsung terhadap hak hidup masyarakat. Membangun krematorium hanya sekitar 700 meter dari desa pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap hak properti, kesehatan, dan kondisi psikologis warga,” ujar Sheng Xue. 

Pengamat menilai bahwa protes di Shuikou, Xinyi, merupakan gambaran kecil dari krisis tata kelola di tingkat akar rumput di Tiongkok saat ini.

Sheng Xue mengatakan:  “Jika sebuah proyek harus didorong dengan cara penipuan, itu berarti sejak awal pemerintah sudah menganggap rakyat sebagai pihak lawan, bahkan musuh. Dari atas hingga bawah, sekarang sistemnya adalah ‘stabilisasi dengan kekuatan keras’.”

Pengerahan aparat lintas wilayah oleh pemerintah Xinyi untuk menekan protes menunjukkan bahwa “menjaga stabilitas” telah menjadi satu-satunya cara dalam merespons tuntutan masyarakat.

Disunting oleh Huang Yimei; Wawancara oleh Luo Ya – NTD

AS Telah Mengetahui Lokasi Uranium yang Diperkaya, Trump: Iran Sudah Tidak Ada yang Bisa Diajak Berunding

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Israel terus melanjutkan serangan militer terhadap Iran. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa kemampuan Iran dalam memproduksi senjata nuklir dan rudal sedang terus dilemahkan.

Pada saat yang sama, Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, mengungkapkan informasi penting terkait kondisi kepemimpinan Iran dan lokasi fasilitas nuklirnya.

Mojtaba Khamenei pada Jumat (20/3/2026) menyampaikan pernyataan melalui televisi pemerintah Iran, namun tidak tampil secara langsung. Sejak menjabat hampir dua minggu, ia belum pernah muncul di publik.

Presiden AS, Donald Trump, pada Jumat juga menyatakan bahwa kepemimpinan Iran sudah tidak lagi ada.

 “Kami sekarang justru mengalami kesulitan, karena kami ingin berbicara dengan mereka, tetapi tidak ada orang yang bisa diajak bicara” katanya. 

Sehari sebelumnya, dalam sidang dengar pendapat di Komite Intelijen DPR AS, Gabbard menyatakan bahwa kepemimpinan Iran sedang berada dalam kondisi kacau.

Tulsi Gabbard mengatakan:  “Mengenai Mojtaba, yaitu putra yang ditunjuk untuk menggantikan Ali Khamenei, posisi dan tingkat keterlibatannya masih belum jelas. Ia mengalami luka serius dalam salah satu serangan udara Israel. Oleh karena itu, situasi pengambilan keputusan di tingkat kepemimpinan Iran menjadi tidak jelas.”

Gabbard juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah mengetahui lokasi uranium yang diperkaya milik Iran.

Anggota DPR AS dari Tennessee, Steve Cohen, bertanya:  “Apakah komunitas intelijen mengetahui di mana uranium yang diperkaya Iran disimpan?”

Gabbard menjawab:  “Komunitas intelijen memiliki tingkat keyakinan yang tinggi dalam mengetahui lokasinya.”

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Kamis (19 Maret) menyatakan bahwa operasi militer tidak hanya bertujuan menghancurkan rudal balistik dan sisa program nuklir, tetapi juga untuk menghancurkan sistem industri yang mendukung produksi tersebut.

 “Iran saat ini telah kehilangan kemampuan untuk memperkaya uranium, dan juga kehilangan kemampuan untuk memproduksi rudal balistik,” ujarnya. 

Reporter NTD Television Zheng Shengxun melaporkan dari Amerika Serikat.

Apakah Operasi Darat  Segera Dimulai? 5.000 Marinir AS Dikerahkan ke Timur Tengah

EtIndonesia. Israel pada Jumat (20 Maret)  mengumumkan telah menewaskan juru bicara Garda Revolusi Iran, Mohammad Naini. Bersamaan dengan itu, sejumlah pejabat tinggi intelijen juga turut “dihabisi”, sehingga pusat kekuasaan Teheran kembali mengalami pukulan berat. Ironisnya, Naini sebelumnya baru saja mengeluarkan pernyataan keras, namun tak lama kemudian tewas.

Sementara itu, militer Amerika Serikat terus menambah pengerahan armada dan pasukan Marinir ke Timur Tengah. Saat ini, jumlah Marinir telah mencapai sekitar 5.000 orang.

Namun pada Jumat malam, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa seiring dengan hampir tercapainya tujuan militer, Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk secara bertahap mengurangi operasi militer berskala besar terhadap rezim Iran. Ia juga mengatakan bahwa pengamanan dan patroli di Selat Hormuz akan diserahkan kepada negara-negara lain yang lebih bergantung pada jalur tersebut, dan AS tidak akan terlibat.

Tiga Pejabat Tinggi Iran Kembali Tewas, Trump: Tidak Ada Lagi yang Bisa Diajak Bicara

Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Defrin, mengatakan:  “Pagi ini kami mengumumkan bahwa kami telah menewaskan juru bicara Garda Revolusi Iran, Mohammad Naini.”

Ironisnya, sebelum tewas, Naini sempat menyampaikan pernyataan keras bahwa serangan udara AS dan Israel tidak mampu menghentikan produksi rudal Iran.

Selain itu, seorang komandan penting dari Kementerian Intelijen Iran, Mehdi Rastami Sh’mastan, serta kepala intelijen organisasi milisi Basij, Esmail Ahmadi, juga dilaporkan tewas.


“Para pemimpin mereka sudah habis. Generasi pemimpin berikutnya juga sebagian besar sudah tidak ada. Sekarang tidak ada yang mau menjadi pemimpin di sana. Ini menyulitkan kami. Kami ingin berdialog, tetapi tidak ada orang yang bisa diajak bicara,” ujar Presiden AS Donald Trump. 

Meskipun mengalami kerugian besar, Iran tetap bersikap keras dan terus melancarkan serangan balasan.

Polisi Israel merilis rekaman yang menunjukkan pecahan rudal meledak di Kota Tua Yerusalem. Pada hari yang sama, kilang minyak terbesar di Kuwait kembali diserang drone Iran, menyebabkan asap hitam membumbung tinggi.

Apakah Operasi Pendaratan Segera Dimulai? 5.000 Marinir Menuju Timur Tengah

Saat ini, militer AS sedang melakukan serangan intensif terhadap target militer strategis di dalam wilayah Iran guna melemahkan kemampuan tempurnya. Pada saat yang sama, Pentagon mengirim tambahan tiga kapal perang dan ribuan Marinir ke kawasan tersebut. Ini merupakan pengerahan kedua dalam satu minggu terakhir.

Pejabat AS menyatakan bahwa kelompok siap tempur amfibi “USS Boxer” dari California, bersama sekitar 2.500 Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-11, sedang menuju Timur Tengah.

Sebelumnya, kapal serbu amfibi “USS Tripoli” yang berbasis di Jepang juga telah dalam perjalanan ke kawasan tersebut.

Dengan bergabungnya dua kekuatan ekspedisi amfibi ini di Timur Tengah, militer AS akan memiliki sekitar 5.000 Marinir dengan kemampuan tempur mandiri. Hal ini memicu spekulasi bahwa Amerika Serikat mungkin sedang mempersiapkan operasi darat atau misi pendudukan pulau.

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Laporan: Gletser Himalaya Mencair Dua Kali Lebih Cepat, Mengancam Miliaran Orang

EtIndonesia. Gletser Himalaya yang menyediakan sumber air tawar vital bagi sekitar dua miliar orang mencair dua kali lebih cepat dibandingkan tahun 2000, demikian peringatan sebuah laporan pada hari Sabtu (21/3).

Pegunungan Hindu Kush-Himalaya, yang membentang dari Afghanistan hingga Myanmar, menyimpan cadangan es dan salju terbesar di luar Arktik dan Antartika dan memasok setidaknya 10 sistem sungai utama Asia yang mendukung keamanan air, pangan, dan energi di seluruh benua.

Namun sepertiga dari es tersebut berada di zona yang sangat rentan terhadap pemanasan global yang cepat.

Laju rata-rata kehilangan es di wilayah tersebut hampir berlipat ganda dari sekitar 34 sentimeter per tahun sebelum tahun 2000 menjadi 73 sentimeter per tahun sejak saat itu, menurut dua studi yang dirilis oleh Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu (ICIMOD) yang berbasis di Kathmandu.

“Ini bukan masalah yang jauh, ini adalah krisis yang terjadi secara nyata,” kata Direktur Jenderal ICIMOD Pema Gyamtsho. “Kita harus meningkatkan pemantauan dan berinvestasi dalam adaptasi sekarang.”

Kawasan ini telah kehilangan ketebalan es hingga 27 meter sejak tahun 1975, menurut penelitian tersebut — dengan sekitar 12 persen area gletsernya menghilang antara tahun 1990 dan 2020.

Kenaikan suhu berarti gletser “tidak mampu memulihkan massanya,” kata penulis utama Farooq Azam kepada AFP.

Dia mendesak pengurangan emisi karbon hitam, yang dilepaskan oleh pembakaran bahan bakar fosil, limbah, dan material lainnya, yang mempercepat pencairan.(yn)

AS Dakwa 3 Orang dari Supermicro, Diduga Selundupkan Teknologi AI Senilai US$2,5 Miliar ke Tiongkok

EtIndonesia. Amerika Serikat mendakwa tiga orang terkait Super Micro Computer Inc (Supermicro), termasuk salah satu pendirinya Yih-Shyan Liaw dan eksekutif kantor Taiwan Ruei-Tsang Chang, atas dugaan bersekongkol secara ilegal memindahkan teknologi kecerdasan buatan (AI) asal AS senilai sedikitnya US$2,5 miliar ke Tiongkok. Dakwaan diajukan pada Kamis (19 Maret). Liaw telah ditangkap, sementara Chang masih buron.

Menurut Federal Bureau of Investigation (FBI), Liaw, Chang, dan Ting-Wei Sun diduga bersekongkol menjual server bernilai miliaran dolar kepada pembeli di Tiongkok. Server tersebut mengintegrasikan unit pemrosesan grafis (GPU) sensitif yang berada di bawah pengawasan ketat, sehingga melanggar aturan kontrol ekspor AS. Banyak server AI berperforma tinggi menggunakan chip dari Nvidia.

Jaksa menyatakan bahwa server buatan AS itu awalnya dikirim ke Taiwan, lalu diteruskan ke negara-negara Asia Tenggara, sebelum akhirnya dikemas ulang tanpa label dan dialihkan ke Tiongkok. Cara ini digunakan untuk menghindari pembatasan ekspor chip AI canggih ke Tiongkok yang diberlakukan AS sejak 2022.

Pihak AS juga menuduh para tersangka menggunakan server palsu untuk lolos pemeriksaan kepatuhan, guna menutupi alur pengiriman sebenarnya ke Tiongkok. Rekaman pengawasan menunjukkan pekerja bahkan menggunakan pengering rambut untuk melepas label dan nomor seri dari perangkat asli, lalu menempelkannya pada mesin palsu.

Departemen Kehakiman menyebut metode pengelabuan ini semakin berani. Hanya dalam periode April hingga pertengahan Mei 2025, nilai server yang dialihkan ke Tiongkok sudah melebihi US$500 juta.

Supermicro menyatakan bahwa perusahaan tidak didakwa dalam kasus ini, namun telah bekerja sama dengan penyelidikan dan menghentikan hubungan dengan pihak-pihak yang terlibat. Setelah kabar ini terungkap, harga saham perusahaan turun 8% dalam perdagangan setelah jam bursa.

Berdasarkan siaran pers perusahaan tahun 2023, Liaw ikut mendirikan Supermicro pada 1993 dan bergabung kembali dengan dewan direksi pada 2023.

Chang menjabat sebagai wakil manajer di kantor Taiwan, sementara Sun digambarkan oleh Departemen Kehakiman sebagai perantara pihak ketiga dan “koordinator” yang bekerja sama dengan Liaw dan Chang. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Trump Mengisyaratkan Kemungkinan Pengurangan Militer AS Setelah Ancaman Iran Berakhir

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang mempertimbangkan untuk mengurangi kehadiran militernya di Timur Tengah setelah mencapai tujuannya terkait Iran dan menghilangkan ancaman dari negara tersebut, menurut unggahan presiden AS di Truth Social.

AS mungkin akan mengurangi operasi militer

Pemerintahan Amerika terbuka untuk merevisi strategi saat ini di kawasan tersebut. Menurut Trump, AS sangat dekat untuk mencapai tujuannya dan sedang mengevaluasi kemungkinan mengurangi cakupan operasi militer.

Dia mencatat bahwa ini menyangkut kemungkinan pengurangan operasi militer besar-besaran kita di Timur Tengah melawan rezim teroris Iran.

Masa depan Selat Hormuz

Presiden AS itu juga menguraikan posisi Washington mengenai keamanan Selat Hormuz.

Menurut pandangannya, tanggung jawab untuk perlindungannya harus diambil alih oleh negara-negara di kawasan yang secara langsung menggunakan jalur ini.

Trump menekankan bahwa AS tidak bermaksud untuk terus menjalankan fungsi ini.

“Jika diminta, kami akan membantu negara-negara ini dalam upaya mereka di Selat Hormuz, tetapi hal itu seharusnya tidak perlu dilakukan setelah ancaman Iran diberantas.”

Posisi AS terhadap Iran

Kepala Gedung Putih menambahkan bahwa tugas utama tetaplah mencegah pengembangan potensi nuklir Iran.

Menurutnya, Washington bertujuan untuk memastikan bahwa Teheran bahkan tidak dapat mendekati kemampuan nuklir.

Pentagon sedang mempertimbangkan kemungkinan mengerahkan pasukan darat AS di Iran, sementara ribuan Marinir sudah dikirim ke wilayah tersebut.

Pemerintah Inggris telah memberi izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan militer di wilayahnya untuk menyerang fasilitas rudal Iran yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. (yn)

Trump Meminta Israel Menangguhkan Serangan ke Fasilitas Gas Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (19 Maret) menyatakan bahwa atas permintaan Presiden AS Donald Trump, Israel telah menangguhkan serangan lanjutan terhadap fasilitas gas alam Iran. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih memiliki pengaruh signifikan terhadap ritme serangan Israel dalam konflik dengan Iran.

EtIndonesia. Pekan ini, Israel sempat secara mandiri menyerang salah satu fasilitas gas Iran, yang sempat mendorong kenaikan harga energi global. Netanyahu dalam konferensi pers mengonfirmasi bahwa operasi terhadap fasilitas gas di Asaluyeh dilakukan oleh Israel sendiri, dan setelah itu Trump meminta agar serangan lanjutan dihentikan.

Netanyahu menyatakan bahwa tujuan operasi militer tersebut adalah untuk menghilangkan ancaman dari fasilitas nuklir dan rudal balistik Iran, serta menciptakan kondisi agar rakyat Iran dapat “menentukan nasib mereka sendiri”.

Ia juga menegaskan bahwa Israel dan Amerika Serikat selalu menjaga koordinasi yang erat dalam isu Iran. Netanyahu membantah klaim bahwa Israel menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik, dan menyebutnya sebagai “berita palsu”.

Netanyahu menambahkan bahwa dirinya dan Trump bekerja sama dengan sangat erat dan sering berkomunikasi melalui telepon, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Trump, yang ia hormati.

Ia juga menyatakan bahwa operasi yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran saat ini bukan hanya untuk melindungi negara masing-masing, tetapi juga “melindungi seluruh dunia”.

Menurut data militer AS dan Israel, sejak konflik pecah, jumlah serangan terhadap sejumlah target yang terkait dengan pemerintah Iran telah melebihi 16.000 kali.

Netanyahu mengklaim bahwa serangan Israel telah secara signifikan melemahkan kemampuan militer Iran, sehingga Teheran kini tidak lagi mampu melakukan pengayaan uranium maupun memproduksi rudal balistik.

Namun, ia juga mengakui bahwa situasi internal Iran masih penuh ketidakpastian, bahkan menyatakan bahwa dirinya “tidak yakin siapa yang saat ini mengendalikan negara tersebut.” (Hui)

Serangan Ukraina Menghantam Target-target Penting Rusia

EtIndonesia. Pasukan Pertahanan Ukraina menyerang target-target penting musuh di wilayah Donetsk yang diduduki sementara pada malam tanggal 21 Maret, menurut Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina di Telegram.

Secara khusus, pasukan Ukraina menghantam pos komando unit dari pusat Rubikon (Mariupol, wilayah Donetsk yang diduduki sementara).

Unit perbaikan tentara Rusia juga diserang (Khliborobne, wilayah Zaporizhzhia yang diduduki sementara), bersama dengan pos komando dan pengamatan pasukan pendudukan (Paraskoviivka, wilayah Donetsk yang diduduki sementara).

Besarnya kerusakan dan kerugian musuh sedang diselidiki.

Serangan Ukraina terhadap target militer Rusia

Ingat bahwa pasukan pertahanan Ukraina baru-baru ini merusak pesawat peringatan dini dan kontrol udara A-50 Rusia selama serangan terhadap pabrik perbaikan pesawat di wilayah Novgorod.

Kemarin, 20 Maret, Komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina, Robert “Madyar” Brovdi, melaporkan bahwa sebuah helikopter serang Ka-52 Rusia senilai setidaknya 16 juta dokar telah dihantam di dekat pemukiman Nadiivka di wilayah Donetsk.

Fitur utama operasi ini adalah penggunaan drone FPV serat optik, yang memungkinkan serangan efektif terhadap target udara dan melumpuhkan awaknya selama upaya evakuasi.

Juga pada malam tanggal 20 Maret, pasukan Ukraina menyerang fasilitas Pabrik Metalurgi Alchevsk di bagian wilayah Luhansk yang diduduki sementara.

Pabrik tersebut terlibat dalam produksi peluru artileri, termasuk pengecoran dan pemrosesan awal blanko kaliber besar. Pabrik ini juga ikut serta dalam produksi dan perbaikan baja lapis baja untuk peralatan militer yang digunakan oleh pasukan pendudukan.

Selain itu, pasukan Ukraina menyerang infrastruktur di lapangan latihan Skhidnyi (Novopetrivka, bagian wilayah Zaporizhzhia yang diduduki sementara). (yn)

Jepang dan 5 Negara Eropa Sepakat Mengawal Selat Hormuz

EtIndonesia. Menyusul seruan dari Presiden AS Donald Trump, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang pada 19 Maret mengeluarkan pernyataan bersama untuk bekerja sama memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz serta membantu menstabilkan pasar energi.

Pada hari yang sama, lima negara Eropa tersebut bersama Jepang mengecam serangan Iran terhadap kapal dagang di kawasan Teluk Persia. Negara-negara itu mendesak Iran segera menghentikan ancaman, penanaman ranjau, serta serangan drone dan rudal yang bertujuan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Keenam negara menyatakan bersedia memberikan kontribusi yang diperlukan demi menjamin keamanan pelayaran di selat tersebut. Mereka juga menegaskan akan mengambil langkah lain untuk menstabilkan pasar energi, termasuk bekerja sama dengan negara-negara produsen minyak untuk meningkatkan produksi, sejalan dengan upaya International Energy Agency dalam mengkoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis.

Sebelumnya, pada 14 Maret, Trump melalui platform Truth Social menyerukan agar Tiongkok, Prancis, dan negara lain mengirim kapal perang bersama Amerika Serikat untuk mengawal Selat Hormuz demi menjaga kelancaran jalur energi global tersebut. Namun, Tiongkok menolak, sementara negara lain merespons dengan sikap relatif dingin.

Dalam wawancara dengan Financial Times pada 15 Maret, Trump menyatakan bahwa Tiongkok seharusnya mengambil tindakan. Ia menekankan bahwa jalur ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia—tidak sepenuhnya vital bagi AS, tetapi sangat penting bagi negara lain. Disebutkan bahwa sekitar 90% impor minyak Tiongkok melewati jalur ini.

Trump juga mengisyaratkan bahwa jika Tiongkok tidak menunjukkan sikap kerja sama, rencana pertemuan puncak dengan Xi Jinping bisa ditunda.

Pada 17 Maret, Trump kembali mengkritik negara-negara lain melalui Truth Social karena tidak bertindak, dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat “tidak lagi membutuhkan atau menginginkan bantuan negara-negara NATO… begitu juga Jepang, Australia, atau Korea Selatan.”

“Kami tidak membutuhkan bantuan siapa pun!” dan memperingatkan bahwa jika AS menghancurkan sisa kekuatan terorisme Iran lalu menyerahkan pengelolaan Selat Hormuz kepada negara-negara yang menggunakannya, maka konsekuensinya harus ditanggung bersama,” kata Trump. 

Pernyataan Trump ini mendorong Jepang dan negara-negara Eropa untuk segera bertindak. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada 18 Maret mengunjungi AS dan bertemu Trump untuk menyampaikan posisi Jepang.

Pada 19 Maret, lima negara Eropa bersama Jepang akhirnya mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan kesiapan mereka untuk berpartisipasi dalam operasi pengawalan tersebut.

Namun demikian, pihak Tiongkok tetap menolak untuk bergabung dalam inisiatif pengawalan yang dipimpin Amerika Serikat.

Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui

AS dan Israel Serang Fasilitas Nuklir Natanz Iran

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap kompleks pengayaan uranium Shahid Ahmadian-Roshan di kota Natanz, Iran, pada pagi hari tanggal 21 Maret, menurut laporan Organisasi Energi Atom Iran.

“Kompleks pengayaan Shahid Ahmadi Roshan di Natanz diserang pagi ini,” kata organisasi tersebut.

Disebutkan bahwa tidak ada kebocoran radiasi yang tercatat sebagai akibat dari serangan rudal tersebut.

Tidak ada ancaman bagi penduduk di daerah sekitarnya.

Pada saat yang sama, Iran menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium tersebut melanggar ketentuan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

Operasi AS dan Israel terhadap Iran

Perlu diingat bahwa Pasukan Pertahanan Israel berencana untuk melanjutkan kampanye militer mereka terhadap Iran selama beberapa minggu lagi.

Pada saat yang sama, Amerika Serikat mengakui perbedaan pendekatan dalam perang tersebut. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard sebelumnya mencatat bahwa Israel fokus pada penghapusan kepemimpinan Iran, sementara Washington menargetkan infrastruktur militer.

Presiden AS, Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat secara efektif telah “memenangkan” perang melawan Iran, tetapi menekankan bahwa operasi tersebut masih berlangsung dan tekanan terhadap Teheran akan terus berlanjut.

Washington juga mempertimbangkan untuk mengurangi kehadiran militernya di Timur Tengah setelah mencapai tujuannya terkait Iran dan menetralisir ancaman yang ditimbulkan oleh negara tersebut.(yn)

Pakistan Memelihara Teror Selama Beberapa Dekade, Kini Akibatnya Berbalik Menimpa Dirinya Sendiri

EtIndonesia. Selama beberapa dekade, Pakistan membina jaringan teror sebagai instrumen kebijakan luar negeri. Indeks Terorisme Global (GTI) 2026 mendokumentasikan, dengan ketelitian klinis, apa yang dihasilkan dari perhitungan tersebut. Pakistan menduduki peringkat pertama dalam GTI untuk pertama kalinya, menjadi negara yang paling terdampak teror di dunia pada tahun 2025, dengan 1.139 kematian, 1.045 serangan, 1.595 orang terluka, dan 655 sandera.

Skornya sebesar 8,574 menempatkannya di atas setiap negara lain dalam indeks tersebut. Ini adalah tahun paling mematikan bagi Pakistan sejak 2013, dan tahun keenam berturut-turut di mana kematian akibat terorisme meningkat. Di seluruh Asia Selatan, Pakistan adalah satu-satunya negara di mana situasinya memburuk pada tahun 2025; setiap negara lain di kawasan ini mencatat peningkatan.

Dua provinsi yang paling banyak mengalami korban jiwa adalah Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan, dengan 74 persen serangan dan 67 persen kematian.

Kelompok dominan adalah Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP). Pada tahun 2025, TTP melakukan 595 serangan dan bertanggung jawab atas 637 kematian, atau 56 persen dari seluruh korban jiwa akibat terorisme di negara tersebut.

Pembunuhan yang ditargetkan meningkat 450 persen. Korban jiwa di kalangan polisi juga meningkat. Kelompok ini telah memasukkan drone ke dalam peralatan operasionalnya. Antara 6.000 dan 6.500 militan TTP kini beroperasi dari dalam Afghanistan, menggunakan wilayah tersebut sebagai pangkalan untuk serangan lintas batas, dengan 85 persen serangan TTP terkonsentrasi dalam jarak 10 hingga 50 km dari perbatasan Afghanistan.

Analisis perbatasan GTI menelusuri geografi wilayah suku Pakistan, yang selama beberapa dekade menjadi tempat perlindungan semi-teratur bagi Taliban, Jaringan Haqqani, al-Qaeda, dan akhirnya TTP sendiri.

Kontinuitas etnis Pashtun di sepanjang Garis Durand memungkinkan teroris untuk bergerak bebas. Madrasah Pakistan di dalam kamp pengungsi Afghanistan menjadi inkubator ideologis bagi banyak orang yang kemudian menjadi Taliban, dan kemudian, TTP.

Kembalinya Taliban Afghanistan ke tampuk kekuasaan pada tahun 2021 memberi TTP tempat perlindungan yang aman dan ramah. Islamabad telah menuntut Kabul untuk menahan TTP. Taliban Afghanistan telah menolak. Ini adalah bagian balik dari transaksi yang dimulai pada tahun 1990-an, ketika lembaga keamanan Pakistan membedakan antara apa yang secara internal dikategorikan sebagai Taliban baik, yang berguna melawan India dan Afghanistan, dan Taliban jahat, yang berarti kelompok-kelompok yang mengarahkan senjata mereka ke dalam negeri. Perbedaan itu sekarang telah berhenti berfungsi.

Pada Maret 2025, Tentara Pembebasan Balochistan (BLA) merebut kereta penumpang dan menyandera 442 orang, dalam serangan teroris tunggal terbesar yang tercatat secara global dalam data GTI 2025. Kampanye BLA telah berkembang dari pemberontakan separatis menjadi sesuatu yang diklasifikasikan laporan tersebut sebagai terorisme anti-negara, dengan warga negara Tiongkok dan infrastruktur CPEC kini menjadi target eksplisit bersama pasukan keamanan Pakistan. GTI mencatat ini sebagai dampak domestik dari puluhan tahun pemerintahan yang dimiliterisasi di provinsi tersebut, tanpa akomodasi politik, yang menghasilkan kondisi untuk kekerasan terorganisir yang berkelanjutan.

GTI tidak membahas Lashkar-e-Taiba atau Jaish-e-Mohammed. Laporan tersebut tidak membuat tuduhan tentang penggunaan proksi teror Pakistan terhadap India. Namun, laporan tersebut menyebutkan politik suaka, ruang perbatasan yang permisif, dan lintasan dari teror yang didukung negara menjadi ekosistem teror yang mandiri sebagai faktor yang secara langsung sesuai dengan pola yang telah dijelaskan India di forum internasional selama dua dekade.

Laporan tersebut juga mencatat memburuknya hubungan Pakistan-India setelah serangan teror Pahalgam dan respons India dalam bentuk Operasi Sindoor. Kondisi struktural yang diidentifikasi GTI sebagai pendorong krisis Pakistan bukanlah produk dari geografi atau kemalangan, tetapi hasil akumulasi dari pilihan kebijakan yang dibuat di berbagai pemerintahan dan masa jabatan militer.

Skor Pakistan pada GTI adalah 8,574. Pada tahun 2013, ketika terakhir kali mencatat korban jiwa yang sebanding, skor tersebut mencerminkan krisis yang kemudian ditanggapi negara dengan operasi militer, yang akhirnya menurunkan kekerasan. Enam tahun peningkatan berturut-turut menunjukkan bahwa logika operasional kampanye tersebut telah mencapai batasnya. (yn)