Para Pejabat AS Dorong Legislasi Pelarangan Penjualan Chip AI Canggih ke Tiongkok

Pada Jumat (19 Desember), anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat mengajukan rancangan undang-undang (RUU) yang melarang penjualan chip kecerdasan buatan (AI) canggih kepada rezim yang dianggap mengkhawatirkan, termasuk Partai Komunis Tiongkok (PKT). Chip yang dilarang tersebut mencakup chip Nvidia H200. RUU ini bertujuan menjaga keamanan nasional serta memastikan posisi dominan Amerika Serikat di bidang kecerdasan buatan.

EtIndonesia. Anggota senior partai Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Gregory Meeks, bersama 13 anggota Demokrat lainnya, mengajukan “Undang-Undang Pemulihan Ekspor Teknologi Sirkuit Terpadu dan Pembatasan Perdagangan Aman”, yang juga dikenal sebagai “RUU Pembatasan” pada Jumat 19 Desember 2025. 

RUU ini bertujuan melarang penjualan chip AI paling canggih buatan AS ke Tiongkok (PKT) dan negara-negara lain yang menjadi perhatian, sekaligus membangun mekanisme ekspor yang aman dan bebas lisensi bagi perusahaan AS yang terpercaya dalam mengoperasikan pusat data di luar negeri, guna memperkuat daya saing Amerika Serikat.

Isi utama RUU tersebut meliputi:

  • Melarang penjualan chip Nvidia H200 dan chip AI canggih lainnya kepada PKT.
  • Memasukkan pembatasan ekspor chip sirkuit terpadu dan produk canggih AS ke Tiongkok ke dalam ketentuan hukum.
  • Menerapkan larangan tersebut kepada semua negara yang dikenai embargo senjata oleh Amerika Serikat.
  • Mengizinkan penyesuaian kebijakan pengendalian ekspor seiring dengan kemajuan teknologi, dengan tetap mengutamakan keamanan nasional.
  • Membantu perusahaan AS mewujudkan operasi global yang aman.

Anggota DPR AS Gregory Meeks menyatakan kekhawatirannya bahwa penjualan chip H200 ke Tiongkok akan mengancam kepemimpinan Amerika Serikat dalam persaingan AI, sekaligus menyerahkan teknologi kunci kepada pesaing strategis utama, sehingga membahayakan keamanan nasional.

“RUU yang saya ajukan akan melarang penjualan chip canggih ke Tiongkok (PKT), sekaligus memudahkan perusahaan Amerika bersaing dengan Tiongkok (PKT) di bidang teknologi kecerdasan buatan global,’ ujarnya.

Sementara itu, menurut laporan Reuters yang mengutip sumber internal, pemerintahan Trump telah memulai proses peninjauan yang berpotensi mengizinkan penjualan chip AI terkuat kedua Nvidia, H200, ke Tiongkok.

Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia akan mengizinkan ekspor chip Nvidia H200 ke Tiongkok, dengan pemerintah AS mengenakan biaya sebesar 25%. Langkah ini disebut bertujuan mengurangi ketergantungan perusahaan Tiongkok pada chip buatan dalam negeri, sekaligus mempertahankan keunggulan produsen chip Amerika.

Namun, hingga kini belum jelas kapan proses peninjauan tersebut akan selesai, dan apakah otoritas PKT akan mengizinkan perusahaan domestiknya membeli chip Nvidia.

Menanggapi hal ini, juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa pemerintahan Trump berkomitmen menjaga kepemimpinan Amerika Serikat di bidang teknologi, sekaligus menegaskan bahwa keamanan nasional tidak akan dikompromikan. (Hui)

Laporan kompilasi oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua.

Saat Pemimpin Pemuda Tewas Ditembak, Demonstrasi Besar-besaran Meletus di Ibu Kota Bangladesh

Setelah kabar kematian pemimpin muda Bangladesh, Hadi, yang meninggal dunia akibat luka tembak usai  dirawat sebuah rumah sakit di Singapura, demonstrasi besar-besaran pecah di ibu kota Bangladesh, Dhaka, pada 19 Desember dini hari. Banyak bangunan dibakar, dan ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan menuntut pihak berwenang segera menangkap pelaku.

Etindonesia. Pemimpin muda Bangladesh berusia 32 tahun, Sharif Osman Hadi, meninggal dunia pada Kamis larut malam di sebuah rumah sakit di Singapura. Ia ditembak pada Jumat pekan lalu (12 Desember) di ibu kota Dhaka saat keluar dari sebuah masjid. Penembak bertopeng menembaknya dari jarak dekat hingga peluru mengenai kepala, menyebabkan luka parah. Hadi kemudian segera dievakuasi ke Singapura untuk mendapatkan perawatan medis, namun akhirnya meninggal dunia akibat luka yang terlalu serius.

Setelah kabar kematian Hadi menyebar, pada Jumat (19 Desember) dini hari terjadi demonstrasi besar di Dhaka. Sejumlah bangunan dibakar, termasuk gedung kantor dua media utama, The Daily Star dan Prothom Alo, dengan beberapa karyawan dilaporkan sempat terjebak di dalam gedung.

Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan sambil membawa bendera nasional Bangladesh. Mereka berkumpul di bawah jalan layang, meneriakkan slogan, dan bersumpah tidak akan meninggalkan lokasi hingga keadilan ditegakkan.

Salah seorang pengunjuk rasa, Khaled Syfullah, mengatakan: “Selama Hadi belum mendapatkan keadilan, kami tidak akan meninggalkan Shahbagh.”

Pengunjuk rasa lainnya, Md Yeasin Khan, menyatakan:  “Kami datang ke sini untuk menuntut keadilan bagi Hadi. Kami menuntut agar pembunuh Hadi ditangkap dan dijatuhi hukuman paling berat.”

Hadi merupakan salah satu tokoh penting dalam gerakan mahasiswa. Pada Juli tahun lalu, kelompok mahasiswa di Bangladesh melancarkan aksi protes menentang sistem kuota penerimaan pegawai negeri, yang pada akhirnya menyebabkan Perdana Menteri saat itu, Sheikh Hasina, lengser dari jabatannya dan melarikan diri ke India. 

Hadi sebelumnya berencana mencalonkan diri dalam pemilu parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026. (hui)

Dua Tentara Gugur, Trump Lepas Rem: Langit Suriah Diguyur 100 Bom Balasan AS

EtIndonesia. Ketika para pengamat militer dunia menanti langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela, Gedung Putih justru mengalihkan fokus ke Timur Tengah. Dalam sebuah manuver yang mengejutkan, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap kelompok teroris ISIS di Suriah, sebagai aksi pembalasan langsung atas tewasnya personel AS dalam penyergapan pekan lalu.

Latar Belakang: Penyergapan Mematikan di Palmyra

Insiden pemicu terjadi Sabtu, 13 Desember 2025, di wilayah Palmyra, Suriah tengah—kawasan bersejarah dengan peninggalan Romawi berusia lebih dari dua milenium yang kini menjadi zona konflik. Dua prajurit Garda Nasional AS dari Iowa, Sersan Tovar dan Sersan Howard, bersama seorang penerjemah lokal yang bekerja untuk militer AS, gugur setelah disergap saat menjalankan patroli gabungan. Tiga prajurit lain mengalami luka-luka akibat baku tembak sengit.

Kabar ini segera memicu reaksi keras di Washington. Donald Trump menyebut serangan tersebut sebagai provokasi terang-terangan, menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam.

Momen Khidmat dan Sinyal Balasan

Pada Rabu, 17 Desember 2025, Presiden Trump bersama Pete Hegseth hadir di bandara untuk menyambut kepulangan jenazah kedua prajurit. Upacara berlangsung khidmat—dan menjadi penanda bahwa aksi balasan telah diputuskan.

Di saat yang sama, ISIS secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas penyergapan tersebut—sebuah klaim yang dinilai para analis sebagai kesalahan fatal.

Operasi “Eagle Eye”: Serangan Presisi Skala Besar

Dua hari kemudian, pada malam Jumat, 19 Desember 2025, Trump mengeluarkan perintah Operasi “Eagle Eye” (Mata Elang).

Angkatan Udara AS mengerahkan F-15E Strike Eagle dan A-10 “Warthog”, sementara Angkatan Darat menurunkan helikopter Apache serta sistem roket HIMARS. Dari berbagai pangkalan di Timur Tengah, pesawat-pesawat tempur melesat menuju sasaran.

Menurut keterangan resmi militer AS, lebih dari 100 amunisi berpemandu presisi dijatuhkan untuk menghantam lebih dari 70 target ISIS di Suriah—termasuk gudang senjata, kamp pelatihan, pusat komando, dan markas tersembunyi.

Sebagai penghormatan, sejumlah prajurit menuliskan nama Tovar dan Howard pada amunisi, disertai pesan: “Kalian akan selalu hidup.”

Pernyataan Resmi dan Dukungan Regional

Menteri Pertahanan Hegseth menegaskan bahwa operasi ini bukan awal perang, melainkan deklarasi pembalasan. 

“Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Amerika Serikat akan tanpa ragu dan tanpa henti melindungi warganya. Siapa pun yang menyakiti warga Amerika akan diburu dan dimusnahkan,” tegasnya, seraya merilis cuplikan video pengeboman.

Pada Jumat, 19 Desember 2025, Trump kembali memperingatkan seluruh kelompok teroris bahwa setiap ancaman terhadap Amerika Serikat akan berujung kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Malam berikutnya, dalam acara publik di Carolina Utara, dia menyatakan operasi berjalan sangat sukses. Trump juga menekankan satu detail penting: dia menyebut tiga korban, karena penerjemah lokal diperlakukan sebagai bagian dari “orang kita.”

Menariknya, Yordania ikut berpartisipasi dalam operasi ini—menandai aksi gabungan Amerika Serikat dan mitra regional dalam memerangi terorisme. Pemerintah Suriah menyatakan dukungan terhadap serangan tersebut, dengan penilaian bahwa pemberantasan ISIS membuka jalan menuju stabilitas.

Dampak Awal

Penilaian awal militer menunjukkan kerugian besar di pihak ISIS. Banyak basis dinyatakan hancur rata dengan tanah, dan kemampuan operasional kelompok tersebut terdegradasi signifikan. Washington menegaskan akan memantau ketat perkembangan pasca-serangan dan siap bertindak jika ancaman kembali muncul.

Ringkasnya, Operasi “Eagle Eye” menegaskan garis merah Amerika Serikat: setiap serangan terhadap warganya akan dibalas cepat, presisi, dan tegas—dengan dukungan mitra regional di Timur Tengah.

Hollywood Kalah Jauh: Thailand Buka Tabir Kasino, Drone, dan Dugaan Perdagangan Organ

EtIndonesia. Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja mengalami eskalasi dramatis sepanjang Desember 2025. Apa yang semula dipandang sebagai gesekan perbatasan terkait klaim wilayah dan situs bersejarah, berubah menjadi operasi militer lintas batas berskala besar—bahkan berkembang menjadi kampanye regional melawan industri penipuan daring internasional yang terorganisasi rapi.

Dari Sengketa Perbatasan ke Operasi Udara

Rangkaian peristiwa krusial bermula pada 7 Desember 2025, ketika bentrokan di kawasan perbatasan meningkat tajam. Dalam hitungan hari, Angkatan Udara Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk melancarkan serangan udara presisi ke sejumlah target di wilayah Kamboja.

Awalnya, publik internasional mengira sasaran serangan adalah fasilitas militer konvensional. Namun pada 15–18 Desember 2025, Pemerintah Thailand secara resmi mengumumkan bahwa target utama justru kompleks penipuan daring berskala industri, kasino ilegal, hingga fasilitas yang diduga terkait perdagangan dan transplantasi organ ilegal.

51 Lokasi Dihancurkan, Dunia Terkejut

Menurut pernyataan resmi Bangkok, hingga pertengahan Desember sebanyak 51 lokasi telah dinetralkan. Dari jumlah tersebut, enam kompleks besar menjadi fokus utama karena dinilai berfungsi ganda:

  • pusat penipuan daring lintas negara,
  • kasino dan resor ilegal,
  • gudang senjata dan pusat komando drone,
  • serta fasilitas medis bayangan yang disinyalir menjalankan praktik transplantasi organ ilegal.

Operasi ini langsung menyedot perhatian dunia. Media internasional menyebutnya sebagai “perang anti-penipuan terbesar di Asia Tenggara”, bahkan dianalogikan dengan skenario film Hollywood—bedanya, kali ini terjadi nyata.

Titik-titik Panas di Perbatasan

Kompleks-kompleks tersebut terkonsentrasi di kota-kota strategis perbatasan dan pesisir, antara lain Poipet, Sihanoukville, dan O Smach.

Di atas kertas, kawasan ini tercatat sebagai zona industri, resor wisata, atau taman teknologi. Namun investigasi militer Thailand menunjukkan realitas yang jauh berbeda: pabrik kejahatan siber tertutup, lengkap dengan sistem keamanan bersenjata dan pengawasan drone.

“Tentara Penipuan”, Bukan Sekadar Konflik Wilayah

Perdana Menteri Thailand menegaskan bahwa operasi ini bukan perang perbatasan biasa, melainkan perang melawan “tentara penipuan” yang selama bertahun-tahun merugikan masyarakat Asia dan dunia.

Ribuan korban—mayoritas warga Tiongkok, Vietnam, dan India—dilaporkan diperdagangkan ke kompleks-kompleks tersebut. Paspor disita, komunikasi diputus, dan mereka dipaksa menjalankan skema penipuan daring seperti “pig-butchering scam”, dengan korban utama warga Tiongkok daratan. Kerugian finansial tahunan diperkirakan mencapai ribuan miliar yuan.

Jejak Modal Besar dan Infrastruktur Tiongkok

Yang membuat skandal ini semakin sensitif, beberapa gedung dilaporkan mengibarkan bendera merah Tiongkok, sementara hampir seluruh infrastruktur—listrik, air, gas, hingga jaringan komunikasi—dipasok oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Nama-nama raksasa konstruksi dan energi yang terlibat disebut berkaitan dengan proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan. Aparat Thailand juga mengungkap adanya taman teknologi seperti Jingyun Technology Park dan Jingyun Resort World, yang diduga menjadi pusat perdagangan organ ilegal dengan kedok layanan medis.

Lebih mengejutkan lagi, daftar pemegang saham yang bocor mencantumkan nama rumah sakit dan universitas ternama di Tiongkok, memicu kemarahan publik dan tudingan adanya “rantai layanan satu pintu”—dari penipuan finansial hingga pencurian organ.

Sanksi Barat dan Reaksi Kawasan

Pada pertengahan Desember 2025, Amerika Serikat dan Inggris menjatuhkan sanksi kepada sejumlah taipan Kamboja setelah menemukan bahwa jaringan ini juga menargetkan warga AS dan Inggris.

Reaksi publik Tiongkok justru berbalik arah: banyak warganet memuji langkah Thailand. Sejumlah netizen melaporkan bahwa panggilan penipuan mendadak lenyap dalam semalam, sebuah perubahan yang sulit dianggap kebetulan.

Sementara itu, Vietnam menyatakan dukungan terbuka kepada Thailand dan mengerahkan pasukan ke wilayah perbatasan, menandai munculnya front regional melawan industri gelap lintas negara.

Gencatan Senjata Rapuh dan Ancaman Efek Domino

Meski gencatan senjata sementara telah dicapai pada akhir Desember 2025, para analis menilai api konflik belum sepenuhnya padam. Kompleks penipuan yang tersisa berpotensi berpindah ke Myanmar dan Laos, memperluas krisis keamanan kawasan.

Secara geopolitik, konflik ini diprediksi akan:

  • mengubah peta keamanan Asia Tenggara,
  • mempererat hubungan Thailand dan Vietnam dengan Amerika Serikat,
  • serta menjadi pukulan serius terhadap citra dan kelangsungan proyek Sabuk dan Jalan.

“Empat Penjuru Dikepung”

Tekanan internasional kini datang dari segala arah. Kamboja mengisyaratkan kemungkinan membuka daftar pemegang saham jaringan gelap. Rusia disebut-sebut siap membuka arsip lama. Jepang memberi sinyal akan mengungkap kerja sama rahasia masa lalu. Amerika Serikat bahkan mengancam membuka data aset pejabat tinggi Tiongkok di wilayahnya.

Para pengamat menggambarkan situasi ini sebagai kondisi “empat penjuru dikepung”—sebuah persimpangan berbahaya tanpa jalan keluar yang jelas, dengan dampak yang bisa membentuk ulang lanskap politik, ekonomi, dan keamanan Asia Tenggara untuk tahun-tahun mendatang.

Dua Tentara Gugur, Trump Lepas Rem: Langit Suriah Diguyur 100 Bom Balasan AS

EtIndonesia. Ketika para pengamat militer dunia menanti langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela, Gedung Putih justru mengalihkan fokus ke Timur Tengah. Dalam sebuah manuver yang mengejutkan, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap kelompok teroris ISIS di Suriah, sebagai aksi pembalasan langsung atas tewasnya personel AS dalam penyergapan pekan lalu.

Latar Belakang: Penyergapan Mematikan di Palmyra

Insiden pemicu terjadi Sabtu, 13 Desember 2025, di wilayah Palmyra, Suriah tengah—kawasan bersejarah dengan peninggalan Romawi berusia lebih dari dua milenium yang kini menjadi zona konflik. Dua prajurit Garda Nasional AS dari Iowa, Sersan Tovar dan Sersan Howard, bersama seorang penerjemah lokal yang bekerja untuk militer AS, gugur setelah disergap saat menjalankan patroli gabungan. Tiga prajurit lain mengalami luka-luka akibat baku tembak sengit.

Kabar ini segera memicu reaksi keras di Washington. Donald Trump menyebut serangan tersebut sebagai provokasi terang-terangan, menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam.

Momen Khidmat dan Sinyal Balasan

Pada Rabu, 17 Desember 2025, Presiden Trump bersama Pete Hegseth hadir di bandara untuk menyambut kepulangan jenazah kedua prajurit. Upacara berlangsung khidmat—dan menjadi penanda bahwa aksi balasan telah diputuskan.

Di saat yang sama, ISIS secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas penyergapan tersebut—sebuah klaim yang dinilai para analis sebagai kesalahan fatal.

Operasi “Eagle Eye”: Serangan Presisi Skala Besar

Dua hari kemudian, pada malam Jumat, 19 Desember 2025, Trump mengeluarkan perintah Operasi “Eagle Eye” (Mata Elang).

Angkatan Udara AS mengerahkan F-15E Strike Eagle dan A-10 “Warthog”, sementara Angkatan Darat menurunkan helikopter Apache serta sistem roket HIMARS. Dari berbagai pangkalan di Timur Tengah, pesawat-pesawat tempur melesat menuju sasaran.

Menurut keterangan resmi militer AS, lebih dari 100 amunisi berpemandu presisi dijatuhkan untuk menghantam lebih dari 70 target ISIS di Suriah—termasuk gudang senjata, kamp pelatihan, pusat komando, dan markas tersembunyi.

Sebagai penghormatan, sejumlah prajurit menuliskan nama Tovar dan Howard pada amunisi, disertai pesan: “Kalian akan selalu hidup.”

Pernyataan Resmi dan Dukungan Regional

Menteri Pertahanan Hegseth menegaskan bahwa operasi ini bukan awal perang, melainkan deklarasi pembalasan. 

“Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Amerika Serikat akan tanpa ragu dan tanpa henti melindungi warganya. Siapa pun yang menyakiti warga Amerika akan diburu dan dimusnahkan,” tegasnya, seraya merilis cuplikan video pengeboman.

Pada Jumat, 19 Desember 2025, Trump kembali memperingatkan seluruh kelompok teroris bahwa setiap ancaman terhadap Amerika Serikat akan berujung kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Malam berikutnya, dalam acara publik di Carolina Utara, dia menyatakan operasi berjalan sangat sukses. Trump juga menekankan satu detail penting: dia menyebut tiga korban, karena penerjemah lokal diperlakukan sebagai bagian dari “orang kita.”

Menariknya, Yordania ikut berpartisipasi dalam operasi ini—menandai aksi gabungan Amerika Serikat dan mitra regional dalam memerangi terorisme. Pemerintah Suriah menyatakan dukungan terhadap serangan tersebut, dengan penilaian bahwa pemberantasan ISIS membuka jalan menuju stabilitas.

Dampak Awal

Penilaian awal militer menunjukkan kerugian besar di pihak ISIS. Banyak basis dinyatakan hancur rata dengan tanah, dan kemampuan operasional kelompok tersebut terdegradasi signifikan. Washington menegaskan akan memantau ketat perkembangan pasca-serangan dan siap bertindak jika ancaman kembali muncul.

Ringkasnya, Operasi “Eagle Eye” menegaskan garis merah Amerika Serikat: setiap serangan terhadap warganya akan dibalas cepat, presisi, dan tegas—dengan dukungan mitra regional di Timur Tengah.

“Sebuah Visi Tentang Tiongkok yang Benar-Benar Luar Biasa” : Shen Yun Memulai Tur Global dengan Pertunjukan di Prancis

AMNÉVILLE, Prancis—Dengan suguhan memukau berupa tarian klasik Tiongkok dan musik orkestra live, Shen Yun Performing Arts membuka musim pertunjukan barunya di kota Amnéville, Prancis bagian utara, pada 18 Desember.

Kini memasuki tahun ke-20 kiprahnya, Shen Yun kembali menggelar tur dunia dengan delapan kelompok pertunjukan berskala besar, menghadirkan kepada penonton di berbagai belahan dunia sebuah pertunjukan yang menggugah dan memukau, dengan misi menghidupkan kembali kebudayaan Tiongkok yang benar-benar terinspirasi dari nilai-nilai ketuhanan.

Bagi Jean-Louis Janin Daviet, kurator seni di Musée de l’Hôtel Abbatial di kota Lunéville yang berdekatan, menyaksikan Shen Yun merupakan sebuah pengalaman “pendalaman yang sungguh nyata.”

Ia memuji Shen Yun sebagai pertunjukan yang sempurna tanpa cela, yang memadukan beragam unsur seni secara harmonis dan membangkitkan seluruh inderanya. Dalam pertunjukan Shen Yun, ia merasa telah melihat semua dewa dan merasakan kehadiran ilahi yang turun ke dunia.

 “Pertunjukan ini bagi saya merupakan pengalaman yang benar-benar imersif. Ini adalah perjalanan yang telah lama kami impikan, dan hasilnya sangat sukses. Warna-warnanya luar biasa indah. Saat para gadis muda memegang bunga teratai, saya hampir bisa mencium aromanya. Ketika layang-layang terbang, saya seolah melihat layang-layang yang nyata,” ujarnya. 

“Melalui pertunjukan ini kita dapat melihat—seperti yang disampaikan dua pembawa acara muda yang anggun—masa-masa penuh penderitaan, masa tabu, masa mitologi, serta kisah-kisah yang luar biasa dan fantastis. Menurut saya, ini adalah interpretasi yang menakjubkan tentang ‘Tiongkok’,” katanya. 

Jean-Louis Janin Daviet adalah pakar seni dekoratif dan warisan budaya Prancis, seorang kurator, museolog, dan ahli restorasi. Ia mengkhususkan diri pada seni meja makan, keramik, kristal, dan furnitur langka. Ia pernah menjabat sebagai penanggung jawab wilayah Prancis di rumah lelang Christie’s, serta merupakan penerima Ordo Ksatria Seni dan Sastra Prancis.

 “Ini adalah perpaduan sempurna dari berbagai elemen—koreografi yang benar-benar tanpa cela. Penggunaan latar digital berteknologi tinggi sangat menakjubkan: tokoh-tokoh keluar dari layar lalu menghilang kembali. Dipadukan dengan koreografi yang sempurna, kita bahkan sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang citra. Sungguh luar biasa,” katanya. 

“Ada satu hal lain yang sangat istimewa: saya sangat peka terhadap warna—paduan warnanya. Kostumnya sangat menonjol. Busana bergaya Kosak sungguh mengagumkan. Saya juga sangat menyukai tarian lengan air (shuixiu): begitu ringan dan mengalir. Para penari muda seakan melayang di atas panggung; lengan bajunya seperti pita sutra. Tubuh para penari tampak lembut, ringan, dan halus, sepenuhnya selaras dengan keanggunan mereka,” ujarnya. 

Shen Yun memadukan berbagai unsur seni secara sempurna dan membangkitkan seluruh indranya.

“Semua indra saya terbangun. Tentu pertama adalah visual, lalu pendengaran—saya benar-benar terpesona oleh musiknya. Yang paling menyentuh saya adalah melihat sebuah orkestra yang sungguh nyata dan tampil langsung. Meski jumlahnya ringkas, ada konduktor, dan ada alat favorit saya, harpa. Mendengar suara harpa dan melihatnya di sisi paling kiri lubang orkestra membuat saya sangat terpikat. Ini adalah musik, aroma, warna, dan keharuman—semuanya membangkitkan seluruh indra saya,” kata Jean-Louis Janin Daviet. 

“Saya merasa seolah terangkat, menjadi ringan dan bebas. Saya pun berpikir, mengapa kita tidak bisa berjalan seringan itu, atau tiba-tiba melakukan tiga kali salto ke depan dan ke belakang secara beruntun? Para penari itu benar-benar menguasai semua teknik—baik lompatan akrobatik yang sulit, komposisi tari, maupun ekspresi tubuh—dan ekspresi wajah mereka sempurna, sekaligus tenang dan fokus,” katanya. 

“Ini sungguh luar biasa. Ini adalah pilihan istri dan teman-teman saya, dan saya sama sekali tidak menyesal, karena pertunjukannya benar-benar istimewa,” ujarnya. 

Dalam pertunjukan Shen Yun, ia merasa melihat semua dewa dan merasakan kehadiran ilahi.

 “Saya benar-benar merasakan gambaran ilahi. Adegan pembuka langsung sangat memikat—seluruh makhluk surgawi turun ke dunia manusia, hadir di tengah manusia. Saya menyukai keberagaman sosok dewa dalam gambaran itu,” ujar Jean-Louis Janin Daviet . 

“Ada segala bentuk dewa—hampir mencakup semua negara, semua bangsa, semua dewa, semua pelindung kita. Ya, saya sungguh merasakan turunnya kehadiran ilahi. Saya percaya, tanpa Tuhan, dunia kita tidak akan ada. Dalam semua bangsa, semua negara, dan semua struktur sosial, kita membutuhkan spiritualitas ini untuk menyertai kita, membantu kita, melindungi kita, dan membuat kita terpesona,” lanjutnya. 

“Saya memandang dunia ini seperti sebuah rantai raksasa yang terdiri dari puluhan mata rantai. Agar rantai itu dapat berfungsi, kita harus saling melengkapi dan saling memberi kontribusi, namun semua itu harus dilakukan dengan cara yang damai, anggun, dan penuh kehalusan,” katanya. 

“Ketika kita menyaksikan gambaran yang ditampilkan oleh Shen Yun, kita hampir pasti sampai pada satu kesimpulan: Tiongkok adalah sebuah tanah yang memiliki kebudayaan halus dan mendalam yang telah berkembang selama berabad-abad, jauh lebih awal dibandingkan Eropa,” jelasnya. 

Konstanze dan Jens Hoellermann menikmati pertunjukan Shen Yun Performing Arts di Galaxie Amnéville, Amnéville, Prancis, pada 18 Desember 2025. NTD

“Luar Biasa untuk Disaksikan”

Konstanze dan Jens Hoellermann, owner sebuah perusahaan jasa investasi, memberikan pujian tinggi terhadap keindahan artistik dan keanggunan Shen Yun.

“Sungguh luar biasa menyaksikan semua ini,” ujar Nyonya Hoellermann, yang menjabat sebagai manajer perusahaan tersebut. “Sejujurnya, saya sangat terpesona dengan apa yang mereka lakukan—bagaimana mereka menampilkan pertunjukan ini, dan bahasa tubuh seperti apa yang mereka miliki.”

Nyonya Hoellermann mengatakan bahwa melalui Shen Yun ia belajar banyak tentang tari klasik Tiongkok, serta memuji para seniman atas “keberanian” mereka dalam menghadapi tekanan dari rezim Tiongkok.

“Mereka sebenarnya tidak bisa kembali ke Tiongkok … itu sangat menarik dan sangat berani,” katanya.

Dalam menjelaskan latar belakang misinya untuk menghidupkan kembali kebudayaan Tiongkok, Shen Yun menerangkan di situs resminya bahwa Partai Komunis Tiongkok telah secara sistematis mencabut akar budaya tradisional Tiongkok melalui berbagai kampanye, seperti Revolusi Kebudayaan, yang “membawa 5.000 tahun peradaban ke ambang kepunahan.”

Jens Hoellermann, yang menjabat sebagai direktur perusahaan mereka, mengatakan bahwa pertunjukan Shen Yun sangat artistik dan anggun.

“Melihat para seniman ini tampil memberikan rasa keanggunan, rasa harmoni, dan semua itu—sungguh sebuah kenikmatan untuk ditonton,” ujarnya.

Shen Yun masih akan menggelar empat pertunjukan lagi di Amnéville dan akan segera memulai rangkaian pertunjukan di Amerika Serikat dan Taiwan. Pertunjukan pertama Shen Yun di Amerika Serikat akan berlangsung di San Jose pada 24 Desember 2025.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi situs resmi Shen Yun untuk pemesanan tiket.

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television Ren Jing dan Zhao Jialin dari Amnéville, Prancis.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Salurkan Hibah Kendaraan Dinas kepada Lembaga Pendidikan dan Sosial

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan layanan publik dan penguatan peran sosial kemasyarakatan melalui penyerahan hibah kendaraan dinas kepada sejumlah mitra strategis di Jawa Timur, Hibah tersebut diserahkan antara lain kepada Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Cabang Lamongan, Pondok Pesantren Sabilul Ihsan Pamekasan, dan SMK Negeri 7 Surabaya.

Penyerahan hibah kendaraan dinas ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas, peningkatan mobilitas, serta efektivitas layanan kepada masyarakat. Kendaraan yang dihibahkan diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima, baik dalam mendukung pelayanan pemerintahan, kegiatan sosial-keagamaan, maupun aktivitas pendidikan dan pembinaan generasi muda.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa hibah ini merupakan wujud sinergi dan kepedulian Bank Indonesia terhadap pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. “Bank Indonesia tidak hanya berperan dalam menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat melalui dukungan terhadap institusi pemerintah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan,” ujarnya.

Tahun 2025 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur telah melakukan menyalurkan 13 (tiga belas) unit kendaraan dinas kepada Mitra Strategis Bank Indonesia. Para penerima hibah menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Bank Indonesia. Hibah kendaraan dinas ini dinilai akan sangat membantu dalam menunjang operasional dan memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur berharap sinergi dan kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kesejahteraan masyarakat Jawa Timur secara berkelanjutan.

Dewi Pramujati, Menjalankan Amanah dengan Hormat, Syukur, dan Cinta

Untuk Memperingati Hari Ibu 22 Desember

Di balik dinamika organisasi perempuan di lingkungan kampus, nama Galih Kanestri Dewi Pramujati, biasa dipanggil Dewi Pramujati hadir sebagai sosok yang tenang, hangat, namun penuh determinasi. Perempuan berusia 44 tahun ini dipercaya memimpin Dharma Wanita Persatuan (DWP) ITS—sebuah organisasi pendamping aparatur sipil negara—seraya menjalankan perannya sebagai istri Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Bambang Pramujati dan CEO di Beyond Indonesia. Di tengah banyaknya peran yang ia emban, Dewi memilih satu panduan yang terus ia genggam: menjalankan segala amanah dengan hormat, syukur, dan cinta.

Motivasi Sederhana yang Menggerakkan

Ketika ditanya tentang motivasinya terjun dalam organisasi sosial, jawabannya mengalir tanpa basa-basi: “Saya hanya ingin memberi manfaat.” Bagi Dewi, DWP adalah ruang untuk berbuat baik—menguatkan perempuan, mendukung keluarga para staff, dan menghadirkan iklim sosial yang sehat di lingkungan akademik. Ia percaya bahwa kerja yang dilakukan dengan ketulusan akan selalu menemukan jalan untuk memberi dampak positif.

Dalam visinya, DWP ITS harus tumbuh sebagai organisasi yang kuat, mandiri, dan benar-benar memberi manfaat bagi anggotanya maupun masyarakat sekitar kampus. Empat misi utama yang diemban—mulai dari pengembangan sumber daya manusia hingga kolaborasi multipihak—menjadi kompas dalam setiap langkahnya.

Kepemimpinan yang Apresiatif dan Partisipatif

Gaya kepemimpinan Dewi dapat dirangkum dalam satu kata: kolaboratif. Ia memahami bahwa para pengurus DWP adalah relawan, hadir karena kepedulian, bukan kewajiban. Maka sebagai ketua, ia memilih memimpin dengan apresiasi, membuka ruang dialog, dan memastikan setiap suara dihargai.

Tantangan terbesar justru terletak pada keberagaman karakter dan kesibukan para pengurus. Namun ia memilih jalan komunikasi terbuka, fleksibilitas, dan budaya saling memahami. “Fondasi organisasi adalah hubungan yang baik,” ujarnya kepada The Epoch Times. Ketika kepercayaan tumbuh, kerja apa pun menjadi lebih ringan.

Program yang Membumi dan Berdampak Nyata

Selama memimpin, ia merasa bangga pada program-program yang langsung menyentuh kebutuhan anggota. Dari pemeriksaan kesehatan gratis—termasuk layanan kanker dengan peserta hingga 420 yang meraih rekor MURI—hingga penguatan peran orang tua dan dukungan kepada UMKM istri para staff.

Ada pula ratusan bahkan ribuan kegiatan sosial lain: pembagian lebih dari 7.500 paket nasi sehat untuk mahasiswa, donor darah berkala, pengajian bulanan, festival seni, hingga kegiatan “Blessing Month” yang menyapa ibu-ibu pensiunan, janda, dan penyintas kanker. Semua program itu, baginya, adalah ruang bagi perempuan untuk berkembang dan saling menguatkan.

Mengukur keberhasilan organisasi bagi Dewi tidak melulu soal angka. Yang lebih bermakna adalah kalimat sederhana dari anggota: “Terima kasih Bu, kami merasa diperhatikan.”

Momen Mengharukan yang Meneguhkan Langkah

Dari sekian banyak aktivitas, ada satu momen yang paling membekas di hatinya: kunjungan kepada anggota yang sedang sakit. Melihat keluarga yang merasa terangkat beban emosinya hanya karena kehadiran mereka membuat Dewi sadar bahwa inti dari sebuah organisasi bukanlah program megah, melainkan sentuhan kemanusiaan. “Hal kecil bisa jadi kekuatan besar,” ujarnya.

Peran sebagai Ibu dan Istri: Kehangatan yang Tidak Pernah Padam

Di balik kepemimpinan publiknya, Dewi adalah ibu yang hangat dan membimbing. Ia menanamkan nilai kesederhanaan yang kuat kepada anak-anaknya: rendah hati, menghargai proses, dan selalu memberi manfaat bagi orang lain. Satu prinsip yang terus ia wariskan dalam keluarganya adalah: “Jika kita memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusan kita.”

Meski agenda organisasinya padat, keluarga tetap menjadi prioritas. Waktu makan bersama—minimal sekali sehari, terutama sarapan—adalah ritual yang ia jaga untuk memastikan komunikasi keluarga tetap hidup.

Kini ketiga anaknya telah tumbuh dewasa: yang sulung bekerja di Kanada setelah menyelesaikan studi S2, yang tengah menjalani koas kedokteran gigi, dan yang bungsu bekerja di PT Hutama Karya, Jakarta. Dengan anak-anak yang mandiri, peran pengasuhan bertransformasi menjadi pendampingan moral dan menjaga kelekatan emosional.

Dewi juga mengakui dukungan suami sebagai penopang utama. Kepercayaan dan ruang yang diberikan sang suami menjadi energi yang membuatnya mampu menjalankan peran besar di organisasi maupun profesi.

Di sela aktivitas, Dewi menyempatkan “me-time” sederhana: membaca, menonton Netflix, atau mendengarkan musik. Meski terlihat sepele, momen-momen itu menjadi pengisi ulang energi yang membuatnya tetap stabil dan hadir sepenuh hati bagi banyak orang.

Syukur yang Menguatkan Perjalanan

Ketika menengok perjalanan hidupnya, Dewi menyebut rasa syukur sebagai kekuatan terbesar. Ia bersyukur atas keluarga yang mendukung, anak-anak yang soleh dan solehah, serta lingkungan yang mempertemukannya dengan banyak orang baik. Semua itu membentuk lingkaran energi positif yang membuatnya terus melangkah.

Untuk DWP ITS, ia berharap organisasi semakin solid dan memberi kontribusi nyata bagi keluarga besar kampus. Untuk keluarga, ia ingin keberkahan, kesehatan, dan keharmonisan terus menyelimuti. Sementara untuk dirinya sendiri, ia berharap tetap istiqamah dalam kebaikan dan tidak pernah berhenti belajar.

Apa kata mereka

“Bu Dewi selain istri, ibu dari anak-anak kami, sebagai professional CEO dari perusahaannya, dan kini sejak 2 tahun yang lalu mendampingi saya menjadi istri Rektor ITS yang otomatis menjadi ketua organisasi DWP dengan anggota yang banyak dengan berbagai background. Kegiatan ibu-ibu ini sangat beragam sehingga beberapa kali sampaikan, jangan sampai mengganggu kegiatannya, karena di organisasi dan perusahaan banyak bergantung pada Bu Dewi, ada anggota dan pegawai. Namun beliau bisa menggerakkan semua jadi sangat efektif banget dan ibu cukup bisa membagi waktu baik di perusahaan pun di rumah jadi tetap dilakukannya dengan baik seperti menyiapkan makanan, jadi tahu kapan harus berperan sebagai ketua dan sebagai sahabat. Satu kata untuk Bu Dewi dari saya adalah CARE,” kata Bambang Pramujati.

Kata sahabat, Baby Antonetha, CEO Warna Emas Indonesia:

“She is someone with strong determination, clear about what she wants to achieve, and knows exactly what needs to be done to reach his objectives. She is A hard worker who always brings value to many people. And She is also very caring and loving person,” jelas Baby Antonetha.

Pesan untuk Perempuan Indonesia

Kepada perempuan lain yang ingin aktif di ranah sosial tanpa meninggalkan keluarga, pesannya sederhana: “Mulailah dari hati. Tidak harus sempurna—cukup konsisten, tulus, dan mau belajar.” Dukungan keluarga dan niat baik, menurutnya, akan selalu membuka jalan.

Pada akhirnya, seluruh perjalanan Dewi Pramujati merangkum satu kalimat yang menjadi prinsip hidupnya:
“Setiap peran adalah amanah; jalankan dengan hormat, syukur, dan cinta.”

Perang Melawan Narkoba di Laut Terbuka : Militer AS Gempur Dua Kapal di Samudra Pasifik, Lima Pengedar Tewas Seketika

EtIndonesia. Militer Amerika Serikat pada Kamis (18 Desember) menyatakan bahwa pasukan AS melancarkan serangan terhadap dua kapal di Samudra Pasifik. Dalam operasi tersebut, 5 orang yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba tewas.

Menurut laporan AFP, Komando Selatan Amerika Serikat (U.S. Southern Command) menyampaikan melalui platform media sosial X bahwa militer AS menyerang dua kapal yang berlayar di perairan internasional dan “terlibat dalam aktivitas perdagangan narkoba”.

Komando Selatan AS menyatakan:  “Dalam operasi ini, total lima teroris narkoba pria tewas, tiga orang berada di kapal pertama dan dua orang di kapal kedua. Tidak ada personel militer AS yang terluka.”

Pada 22 September 2025, sebuah helikopter serang AH-1Z Cobra milik Skuadron Tiltrotor Medium ke-263 (Enhanced) Korps Marinir AS meluncurkan rudal udara-ke-darat AGM-114N selama latihan tembak langsung di Laut Karibia. (Mass Communication Specialist Seaman Andrew Eggert via Getty Images)

Sejak September tahun ini, serangan militer AS terhadap kapal-kapal penyelundup narkoba telah menyebabkan sedikitnya 104 orang tewas secara kumulatif.

Sementara itu, sejak Amerika Serikat meluncurkan gelombang baru operasi pemberantasan perdagangan narkoba, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pernah menyatakan bahwa jika orang-orang tidak ingin melihat kapal pengangkut narkoba diledakkan, maka hentikanlah pengiriman narkoba ke Amerika Serikat. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Pukulan Politik Beijing: Akses ke Jepang Diputus, Kepentingan Bisnis Tiongkok Justru Terancam Serius

EtIndonesia. Larangan perjalanan wisata ke Jepang yang dikeluarkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah berlangsung selama sebulan. Lalu, dampak apa yang akan ditimbulkan berkurangnya wisatawan Tiongkok terhadap perekonomian Jepang? Menanggapi hal ini, para pengamat ekonomi Jepang menilai bahwa hasilnya kemungkinan tidak akan sesuai dengan harapan PKT, dan justru rakyat Tiongkok lah yang menjadi korban sesungguhnya.

 “Situasi Jepang saat ini justru berlawanan dengan perhitungan PKT. (Belanja wisatawan Tiongkok) hanya menyumbang sekitar 0,3% dari total PDB Jepang, sekitar 2 triliun yen. Namun 0,3% ini tidak akan hilang sepenuhnya,” kata Ekonom Jepang, Tetsuya Watanabe. 

“Saat ini Jepang berada dalam kondisi ‘overtourism’, jumlah wisatawan telah melampaui kapasitas penerimaan. Akibatnya, pariwisata domestik dan perjalanan bisnis di Jepang menjadi sulit. Misalnya, pebisnis sering kali tidak dapat menemukan hotel di Tokyo atau Osaka, yang justru berdampak negatif pada ekonomi riil,” jelasnya. 

Masuknya wisatawan Tiongkok ke Jepang dalam jumlah besar juga membuat sebagian warga Tiongkok melihat peluang bisnis, lalu mendirikan perusahaan perjalanan, toko bebas bea, dan restoran di Jepang. Menurut Watanabe, larangan wisata dari PKT paling berdampak pada kelompok ini.

Ekonom Jepang, Tetsuya Watanabe (Tangkapan Layar)

 “Tiongkok menjalankan model bisnis ‘satu rantai penuh’: wisatawan menggunakan bus pariwisata, hotel, dan restoran milik perusahaan Tiongkok, sehingga keuntungan pada dasarnya kembali ke Tiongkok (modal Tiongkok). Oleh karena itu, pihak yang paling terdampak saat ini adalah penginapan dan perusahaan bermodal Tiongkok dalam sistem ‘satu rantai penuh’ tersebut. Bisa dikatakan bahwa (larangan wisata ini) berpotensi menghancurkan jaringan bisnis yang dibangun Tiongkok di Jepang,” tambah Tetsuya Watanabe. 

Selain jaringan bisnis yang dibangun oleh warga Tionghoa di Jepang yang terdampak, Watanabe juga menilai bahwa larangan wisata ini turut mempengaruhi sebagian perusahaan dan individu yang berada di dalam negeri Tiongkok.

 “Modal Tiongkok yang diinvestasikan di Jepang kini sulit ditarik kembali. Misalnya, penginapan di Jepang yang dikelola oleh warga Tiongkok yang tinggal di Tiongkok, dananya sekarang tidak bisa dikembalikan ke Tiongkok. Hal yang sama berlaku untuk industri pariwisata dan penerbangan,” jelas Tetsuya. 

“Rute penerbangan ke Jepang pada dasarnya dioperasikan oleh maskapai Tiongkok. Jika penerbangan dihentikan, yang mengalami kerugian adalah maskapai Tiongkok. Demikian pula, jika rombongan wisata tidak datang ke Jepang, yang terdampak adalah perusahaan perjalanan Tiongkok,” tambahnya.

Harian Jepang Sankei Shimbun juga menyebutkan dalam laporannya bahwa berbagai perusahaan berlatar belakang Tiongkok yang sangat bergantung pada pasar Tiongkok menjadi korban terbesar dari larangan wisata ini. (Hui)

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television Xu Ting dan Le Fei dari Tokyo.

Taipei Diguncang Teror Penikaman Acak-Granat Asap : 4 Orang Tewas, Sejumlah Orang Terluka, Pelaku Tewas Jatuh dari Gedung

EtIndonesia. Teror mengerikan mengguncang kawasan sekitar Stasiun Taipei dan Stasiun Zhongshan, sistem MRT Taiwan, pada Jumat (19/12/2025) malam waktu setempat.  Serangkaian aksi brutal terjadi beruntun: pelemparan granat asap dan penikaman acak terhadap warga sipil. 

Saat dikepung polisi, pelaku terjatuh dari gedung dan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit. Hingga berita ini diturunkan, insiden tersebut—termasuk kematian pelaku—menewaskan sedikitnya 4 orang dan melukai 9 lainnya.

Seorang pria berpakaian hitam mula-mula melempar granat asap di tengah jalan raya. Tak lama kemudian, dengan sebilah pisau tajam di tangannya, ia berjalan menyusuri jalan sambil membabi buta menyerang para pejalan kaki, lalu menerobos masuk ke sebuah pusat perbelanjaan.

Saksi mata berteriak panik:  “Telepon polisi! Telepon polisi! Telepon polisi!”

Jeritan memenuhi udara. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri.

Seorang korban luka berkata:  “Dia (pelaku) memukul bahu saya dengan benda berat, lalu langsung menerobos masuk ke Eslite (toko buku), dan melempar sesuatu seperti granat asap lagi.”

Seorang karyawan McDonald’s di dekat lokasi kejadian menuturkan:  “Semua orang menjerit. Mereka berlari masuk ke sini di tengah teriakan dan bau asap mesiu.”

Kepolisian Taipei mengonfirmasi pelaku bernama Chang Wen, berusia 27 tahun. Pada malam kejadian, ia terlebih dahulu melempar granat asap di terowongan bawah tanah Stasiun MRT Taipei. Setelah itu, ia kembali ke penginapan untuk mengambil senjata, lalu menuju jalan raya di luar Stasiun Zhongshan dan melakukan penikaman tanpa pandang bulu.

Hingga penutupan laporan ini, sedikitnya tiga orang dipastikan tewas dan sembilan orang terluka. Rekaman di lokasi menunjukkan banyak warga memberikan pertolongan pertama darurat di pinggir jalan.

Setelah menerima laporan, polisi segera mengepung lokasi. Chang Wen kemudian terjatuh dari lantai enam sebuah pusat perbelanjaan. Ia dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong. Saat ini, polisi tengah menelusuri rekaman CCTV, membuka data ponsel pelaku, serta menggeledah tempat tinggal sewaan dan kediamannya di Taoyuan untuk memastikan apakah ada pelaku lain yang membantu serta mengungkap motif kejahatan tersebut.

Seorang warga Taiwan mengungkapkan ketakutannya:  “Karena ini penikaman acak, kita tidak pernah tahu kapan itu terjadi. Apalagi di transportasi umum—kita tidak tahu kapan kejadian seperti ini bisa meledak. Saya rasa ini sangat berbahaya.”

Perdana Menteri Republik Tiongkok (Taiwan), Cho Jung-tai, menyatakan telah memerintahkan Kepolisian Kota Taipei untuk bekerja penuh mendukung penyelidikan jaksa, sekaligus menginstruksikan Badan Kepolisian Nasional di bawah Kementerian Dalam Negeri untuk memberikan dukungan maksimal.

 “Sejak menit pertama, kami telah meminta Badan Kepolisian Nasional meningkatkan kewaspadaan di seluruh stasiun—baik stasiun kereta api, jalan raya, MRT, maupun bandara. Berdasarkan ciri-ciri awal tersangka yang telah kami kuasai, kami berharap masyarakat tidak terlalu panik, agar polisi dapat memulihkan ketertiban dan ketenangan secepat mungkin,” kata Cho Jung-tai. 

Laporan komprehensif oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Yi Jing.

Marshanda dan Stefan William Cerita Antusias Bertemu Fans di Surabaya Lewat Serial WeTV Original Melindungimu Selamanya

Surabaya — WeTV Original Melindungimu Selamanya tak hanya menyedot perhatian menjelang penayangannya, tetapi juga menghadirkan antusiasme tersendiri saat para pemeran utama, Marshanda dan Stefan William, bertemu langsung dengan penggemar di Surabaya. Keduanya mengaku merasakan energi positif dari sambutan hangat para penonton.

“Rasanya semangat banget, seperti pagi hari,” ungkap Marshanda saat ditanya mengenai kesannya bertemu penggemar.

Hal senada disampaikan Stefan William. Ia mengaku senang bisa berinteraksi langsung dengan penonton di Surabaya.
“Senang bisa ketemu pemirsa di Surabaya. Semua bisa senang dan terhibur,” ujarnya.

Dalam serial ini, Marshanda memerankan karakter Nadia, sementara Stefan William berperan sebagai Galang. Keduanya kembali dipertemukan dalam kisah cinta pertama yang penuh konflik, perlindungan, dan pengorbanan, yang menjadi benang merah cerita Melindungimu Selamanya.

Berbicara mengenai pengalaman selama terlibat di proyek ini, Marshanda mengungkapkan bahwa hasil akhir serial justru terasa lebih kuat dibandingkan prosesnya.
“Saat gala premier, rasanya malah lebih baik dibandingkan saat proses,” katanya.

Sementara itu, Stefan menyoroti warna cerita yang berbeda dari ekspektasinya.
“Di serial ini komedinya lebih terasa, bahkan sejak awal sudah lebih banyak dibandingkan yang saya bayangkan,” jelasnya.

Ketika membahas tema cinta pertama yang menjadi inti cerita, Stefan menilai cinta pertama memiliki peran penting dalam perjalanan emosional seseorang.
“Cinta pertama, karena tidak bertemu lagi, bisa membuat kita menemukan cinta-cinta berikutnya,” tuturnya.

Marshanda memiliki pandangan yang lebih puitis.
“Cinta pertama itu terindah saat datang, dan tersedih saat pergi,” ujarnya.

Terkait peran yang paling ia sukai di WeTV, Stefan menyebut genre romansa dan komedi sebagai favoritnya, serta berharap suatu saat dapat membintangi proyek laga. Sementara Marshanda menilai dirinya merasa cocok dengan peran yang dijalani saat ini.

Melindungimu Selamanya merupakan kolaborasi perdana WeTV dengan rumah produksi SL23, diproduseri oleh Susanti Dewi dan disutradarai oleh Fajar Nugros. Serial ini mengusung genre drama romansa yang dipadukan dengan komedi, konflik keluarga, dan ketegangan emosional.

Terkait detail teknis seperti durasi proses produksi, segmentasi pasar, serta penulis naskah, pihak WeTV belum memaparkannya secara rinci dalam kesempatan tersebut. Namun, serial ini ditujukan untuk penonton yang menyukai kisah romansa emosional dengan konflik yang dekat dengan realitas kehidupan.

WeTV Original Melindungimu Selamanya dijadwalkan tayang mulai 26 Desember 2025, setiap Sabtu dan Minggu, secara eksklusif di platform WeTV.