Zhang Youxia Tumbang, Tersiar Kabar He Weidong “Akhiri Hidup”  — Gempa Politik yang Mengguncang Kekuasaan Internal PKT

EtIndonesia. Memasuki tahun 2026, peta politik Tiongkok mengalami perubahan drastis. Sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, jajaran tertinggi Komisi Militer Pusat (KMP) diguncang serangkaian “gempa politik”. Mulai dari pengumuman resmi penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli, hingga kabar He Weidong bunuh diri, rangkaian gejolak ini tanpa diragukan mencerminkan retakan yang sangat dalam dan sulit diperkirakan di inti kekuasaan.

“Gempa Beruntun” di Panggung Kekuasaan

Pada Oktober 2025, otoritas resmi mengonfirmasi bahwa mantan Wakil Ketua KMP He Weidong telah dipecat dari keanggotaan Partai dan militer. Kini, beredar luas di internet kabar bahwa ia “meninggal karena bunuh diri”. Tak lama berselang, pada 24 Januari 2026, Zhongnanhai kembali menjatuhkan “bom besar”: 

Wakil Ketua KMP peringkat pertama Zhang Youxia, serta Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli, secara resmi diumumkan sedang diselidiki atas dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”.

Akhir Tragis: He Weidong dan Harga Kekuasaan

Jika tumbangnya Zhang Youxia melambangkan pecahnya total aliansi politik, maka kabar “bunuh diri” He Weidong menambahkan lapisan tragedi yang kelam pada pembersihan brutal ini. Sebagai tokoh yang sebelumnya sangat dipercaya dan bertanggung jawab atas persiapan militer terhadap Taiwan, kehidupan politik He Weidong jatuh dari puncak ke jurang dalam waktu hanya beberapa bulan.

Kabar tentang “kematian tidak wajar” ini—entah akibat tekanan luar biasa dari penyelidikan, atau karena ia dijadikan kambing hitam dan “dihilangkan” dalam politik ruang tertutup—mengarah pada satu kesimpulan yang mengerikan: dalam sistem kekuasaan saat ini, bahkan berada di puncak hierarki pun tidak dapat menjamin keselamatan jiwa paling dasar.

Akhir nasib He Weidong seakan menjadi tafsir modern dari pepatah lama “mendampingi penguasa ibarat mendampingi harimau”. Mantan “orang kepercayaan” dapat seketika berubah menjadi “pengkhianat”, bahkan kesempatan membela diri di pengadilan pun mungkin menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Tekanan politik ekstrem semacam ini tidak hanya menghancurkan martabat dan nyawa individu, tetapi juga menyeret seluruh sistem ke dalam jalan buntu penuh ketakutan. Ketika kematian menjadi sarana terakhir untuk menjaga rahasia, mesin kekuasaan ini sesungguhnya telah mendekati titik runtuh.

Pengamatan Mendalam: Lingkaran Setan Ketidakamanan

Skala “pembersihan” pada tingkat ini sangat jarang terjadi dalam sejarah militer PKT dalam beberapa dekade terakhir. Ini bukan sekadar kampanye antikorupsi, melainkan pertarungan politik tentang loyalitas.

Runtuhnya aliansi “Xi–Zhang”

Zhang Youxia pernah dianggap sebagai sekutu militer paling tepercaya bagi Xi Jinping. Hubungan generasi ayah mereka sebelumnya menjadi jaminan politik yang kuat. Kini, bahkan ia pun “tumbang”, menunjukkan bahwa dalam politik tingkat tinggi, “loyalitas absolut” telah menjadi lubang hitam yang tak pernah bisa diisi.

Guncangan moral militer

Pembersihan terhadap Liu Zhenli, seorang perwira profesional dengan pengalaman tempur nyata, menyingkap ketegangan antara keahlian militer dan tuntutan loyalitas politik. Pergantian pejabat yang terlalu sering bukan hanya meruntuhkan moral pasukan, tetapi juga menimbulkan keraguan dunia luar terhadap stabilitas komando dan kemampuan perencanaan strategis Tentara Pembebasan Rakyat.

Penggerogotan internal sistem

Dari He Weidong hingga Zhang Youxia, pergantian cepat di lapisan atas mencerminkan tingkat ketidakamanan politik yang ekstrem. Ketika kekuasaan terpusat pada satu orang, setiap pengaruh potensial akan dianggap sebagai ancaman, sehingga memicu lingkaran setan “pembersihan—kecurigaan—pembersihan ulang”.

Refleksi Sejarah

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ketika markas tertinggi militer kehilangan beberapa jenderal inti dalam waktu singkat, itu sering kali menandakan konflik internal pada tingkat pengambilan keputusan telah mencapai titik yang tak dapat didamaikan.

 Pembersihan yang “mengarah ke dalam” ini memang dapat memperkuat otoritas dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang justru melemahkan daya tempur militer dan ketahanan rezim. Hal ini sekaligus menandai bahwa kekuasaan internal PKT sedang mempercepat proses kehancurannya.

Nasib para jenderal ini pada hakikatnya adalah tragedi dari struktur kekuasaan itu sendiri. Dalam pertarungan politik ruang tertutup, tidak ada “rekan seperjuangan” yang abadi—yang ada hanyalah kepentingan yang terus berubah dan tuntutan kepatuhan mutlak. (Hui)

— Judul asli: Xi Jinping, Pisau Mengarah ke Dalam! He Weidong Bunuh Diri, Akhir Tragis 

(Dialihkutip dari akun X “Xin Gui He Chu” / Editor Wen Bin)

Klaim Belum Ada Kasus Virus Nipah, Tapi Tiongkok Sudah Siapkan Alat Tes dan Obat Potensial

Di tengah laporan infeksi virus Nipah di India pekan ini yang membuat dunia siaga tinggi, Tiongkok menyatakan telah menyiapkan alat uji dan memiliki obat potensial untuk penanganan virus tersebut.

EtIndonesia. Ketika wabah virus Nipah di India membuat dunia berada dalam kewaspadaan tinggi, rezim komunis Tiongkok mengklaim bahwa tidak ada kasus yang terdeteksi di Tiongkok. Sementara itu, otoritas kesehatan negara tersebut mengatakan mereka telah menyiapkan alat uji untuk virus tersebut.

Institut Virologi Wuhan (Wuhan Institute of Virology/WIV) juga menngklaim bahwa para penelitinya telah menemukan obat potensial untuk virus yang ditularkan oleh kelelawar itu.

Dua kasus virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar telah dikonfirmasi di Benggala Barat, dekat Kolkata—kota terbesar ketiga di India—sebagaimana diumumkan otoritas setempat pada 26 Januari. Hal ini memicu kekhawatiran global akan kemungkinan terjadinya pandemi baru.

Kedua pasien tersebut adalah perawat berusia 25 tahun—seorang perempuan dan seorang laki-laki—yang bekerja di rumah sakit yang sama di Barasat, wilayah Distrik North 24 Parganas, yang merupakan kawasan pinggiran utama Kolkata. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi pasien laki-laki telah membaik, sementara pasien perempuan masih dalam kondisi kritis.

Virus Nipah merupakan virus RNA untai tunggal yang sangat patogen dan bersifat zoonosis. Virus ini memiliki tingkat kematian tinggi, berkisar antara 40 persen hingga 75 persen. Masa inkubasinya juga sangat panjang, dapat mencapai hingga 45 hari.

Virus ini menyebar dari hewan ke manusia terutama melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, dan juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak langsung. Kelelawar pemakan buah merupakan inang alami virus ini, dan penularan dari babi ke manusia juga dapat terjadi.

Kasus-kasus sebelumnya telah dilaporkan di India, Bangladesh, Malaysia, Filipina, dan Singapura sejak virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1998.

Para pakar medis khawatir virus ini dapat memicu pandemi baru karena kemiripannya dengan COVID-19. WHO memasukkan virus Nipah ke dalam daftar virus yang berpotensi menimbulkan pandemi.

Negara-negara Asia telah meningkatkan pengawasan untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini.
Pakistan, Thailand, Singapura, Hong Kong, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara. Kementerian Luar Negeri Taiwan mengeluarkan peringatan perjalanan Level 2 untuk wilayah di India tempat virus ini terdeteksi pada 26 Januari. Tiongkok juga menyatakan telah memperketat pemeriksaan di bandara bagi pelancong yang masuk.

Alat Uji Mulai Didistribusikan

Meski rezim Tiongkok sejauh ini mengklaim belum ada kasus virus Nipah yang terkonfirmasi di daratan Tiongkok, otoritas kesehatan menyatakan bahwa seluruh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tingkat provinsi di seluruh negeri kini memiliki kemampuan untuk melakukan pengujian laboratorium virus Nipah dan telah menimbun reagen uji darurat, menurut klaim media pemerintah Xinhua.

Beijing Bohui Innovation Biotechnology merupakan salah satu perusahaan di daratan Tiongkok yang telah meluncurkan kit deteksi asam nukleat virus Nipah, dengan klaim mampu menguji apakah seseorang terinfeksi virus tersebut, sebagaimana dilaporkan media-media besar Tiongkok.

Hanya sehari setelah infeksi virus mematikan itu dilaporkan di India, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa WIV menemukan obat nukleosida oral COVID-19 bernama VV116 menunjukkan aktivitas antivirus yang signifikan terhadap virus Nipah.

Mengingat keterkaitan WIV dengan wabah COVID-19 di Wuhan pada tahun 2019 serta waktu pengumuman tersebut, banyak warga Tiongkok menyatakan kekhawatiran secara daring.

Salah satu unggahan berbunyi, “Virusnya bahkan belum mulai menyebar, tapi mereka sudah menyiapkan obatnya! Ini mengerikan!”

Unggahan lain mengatakan, “Kalau virus ini sudah masuk ke Tiongkok, siapa yang akan menggunakan semua obat-obatan ini?”

Tiongkok telah mengalami gelombang wabah penyakit pernapasan,  oleh otoritas dikaitkan dengan berbagai virus yang beredar bersamaan, seperti influenza H3N2, rhinovirus, virus pernapasan sinsisial (RSV), dan lain-lain. Warga Tiongkok bersikap skeptis terhadap narasi resmi tersebut, mengingat rezim Tiongkok memiliki rekam jejak secara konsisten dalam meremehkan data dan menutupi penyebab serta skala sebenarnya dari wabah penyakit, terutama selama pandemi COVID-19.

Seorang warga Tiongkok yang tidak menyebutkan namanya demi alasan keamanan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa “virus yang tidak diketahui” saat ini sedang menyebar di kampung halamannya, Distrik Jimo, Kota Qingdao, Provinsi Shandong.

Para dokter secara seragam mengklaim bahwa itu “hanya flu biasa,” tetapi menurut warga tersebut, kenyataannya berbeda. Foto-foto yang diam-diam diambil oleh ibunya menunjukkan bahwa setiap rumah menjalani disinfeksi intensif, dengan asap putih memenuhi udara. Sejumlah lansia dilaporkan telah meninggal akibat “flu” ini.

Unggahan permintaan bantuan serta video situasi yang diposting oleh anggota keluarga di Douyin (TikTok) dihapus oleh otoritas, dan polisi bahkan telah dua kali menelepon warga tersebut, mengancam agar ia tetap diam.

VV116 dan Virus Nipah

Tahun lalu, WIV menerbitkan sebuah artikel mengenai aktivitas antivirus VV116 terhadap virus Nipah.

VV116 merupakan turunan dari Remdesivir, obat analog nukleotida yang dikembangkan untuk melawan SARS-CoV-2, kata Xiaoxu Sean Lin, profesor madya ilmu biomedis di Fei Tian College Kampus Utara di New York, kepada The Epoch Times.

VV116 tidak dirancang secara khusus untuk melawan Nipah, ujar Lin.

“Obat ini ditemukan mampu menghambat berbagai virus RNA karena dapat menghambat replikasi virus RNA,” katanya. “Remdesivir disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS. VV116 disetujui oleh FDA Tiongkok. Keduanya disetujui untuk pengobatan COVID. Jadi, penggunaannya hanya perlu diperluas untuk kasus infeksi Nipah.”

Gejala infeksi virus Nipah pada umumnya mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas, kata Dr. Jonathan Liu, profesor di Canada Public College dan direktur Liu’s Wisdom Healing Centre, kepada The Epoch Times.

“Misalnya, pada tahap awal dapat muncul demam, sakit kepala, nyeri otot, atau sakit tenggorokan,” kata Liu.

Dalam kasus berat, “dapat muncul manifestasi neurologis, seperti gangguan kesadaran, kejang, dan koma. Masa inkubasi berkisar antara empat hingga 14 hari, tetapi bisa lebih lama, hingga 45 hari. Secara umum, tingkat kematiannya cukup tinggi.”

Virus Nipah merupakan virus RNA beruntai negatif dan berbeda dengan SARS-CoV-2 yang merupakan virus beruntai positif, jelas Liu.

“COVID-19 menginfeksi manusia dengan sangat cepat; virus dapat dengan cepat masuk ke dalam sel dan mereplikasi proteinnya. Virus Nipah relatif lebih lambat. Karena merupakan virus beruntai negatif, diperlukan proses konversi.”

Lin mencatat bahwa penelitian WIV tersebut merupakan studi in vitro serta studi praklinis pada hewan yang menunjukkan VV116 dapat menghambat pertumbuhan virus Nipah. Tidak ada uji klinis.

“Berdasarkan makalah yang mereka terbitkan, peneliti WIV menggunakan hamster untuk studi hewan, bukan kelelawar,” kata Lin, seraya menambahkan, “Kami tidak tahu apakah WIV juga melakukan studi Nipah menggunakan klon kelelawar, atau apakah mereka sedang mengembangkan obat lain.”

Sebelumnya, Lin telah menyatakan kekhawatiran terhadap minat rezim Tiongkok dalam meneliti virus Nipah.

“Orang yang terinfeksi Nipah dapat mengalami sindrom neuropatik. Mereka bisa mengalami kerusakan otak parah. Namun mereka tidak langsung meninggal, tidak seperti Ebola. Jadi virus ini memiliki peluang lebih besar untuk terus menyebar dari inang yang terinfeksi,” katanya kepada The Epoch Times.

“Jika inangnya dapat bertahan lebih lama dan menyebarkannya lebih jauh melalui penularan antarmanusia, virus ini bisa menjadi senjata biologis yang lebih efektif. Itulah sebabnya PKT sangat tertarik pada virus Nipah, dan itulah mengapa saya menilai ini sangat berbahaya.”

Luo Ya dan Reuters berkontribusi dalam laporan ini.

【Eksklusif】 Perintah Diabaikan, Perlawanan  Menguat di Tubuh Militer Tiongkok Setelah Pembersihan Para Jenderal Puncak

Sumber orang dalam menyatakan perlawanan internal yang meluas dan disfungsi komando mencerminkan penolakan terhadap otoritas pemimpin Tiongkok, Xi Jinping.

EtIndonesia. Perintah internal yang dikeluarkan oleh otoritas militer tertinggi Tiongkok menghadapi perlawanan luas di tingkat akar rumput setelah pembersihan terhadap dua jenderal paling senior negara itu, menurut sejumlah sumber yang dekat dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang berbicara kepada The Epoch Times.

Setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia dan Kepala Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli ditempatkan dalam penyelidikan pada 24 Januari, setidaknya dua arahan yang dikeluarkan Kantor Umum KMP kepada komando teater dan angkatan kelompok diabaikan atau hanya ditanggapi secara pasif.

Sumber-sumber mengatakan pasukan di tingkat bawah militer mengekspresikan ketidakpuasan, sementara sistem komando dan kendali PLA menunjukkan tanda-tanda disfungsi.

Ruan, sumber berbasis di Tiongkok yang memahami militer dan hanya menyebutkan nama keluarganya karena takut pembalasan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa kepemimpinan puncak KMP kini menyusut menjadi hanya dua figur: pemimpin Tiongkok Xi Jinping dan Wakil Ketua KMP Zhang Shengmin.

Di dalam militer, kata Ruan, penyingkiran Zhang Youxia dan Liu—keduanya perwira karier yang berakar kuat dalam sistem komando militer—dipahami secara luas sebagai pembersihan politik yang terpusat, sehingga memicu kemarahan di berbagai komando teater.

BACA JUGA : 【Eksklusif】 Zhang Youxia Pernah Mengkritik Xi Jinping “Takut Mati”, Namun Xi Tetap Berambisi Memperpanjang Masa Jabatan

BACA JUGA : Sumber Internal : Penangkapan Zhang Youxia oleh Xi Picu Gejolak di Militer, Saluran Penyampaian Instruksi Tingkat Tinggi Disebut Lumpuh

Reaksi di Dalam Barisan

Ruan mengatakan kabar pembersihan terhadap Zhang Youxia dan Liu menyebar cepat di dalam angkatan bersenjata, memicu reaksi internal yang kuat.

“Ini sangat merusak kepercayaan terhadap pengambilan keputusan di tingkat puncak,” kata Ruan, seraya mencatat bahwa banyak perwira kini memandang proses tersebut didorong oleh penegakan loyalitas, bukan disiplin kelembagaan.

Ruan menambahkan bahwa pada hari yang sama ketika penyelidikan diumumkan, 24 Januari, Kantor Umum KMP mengeluarkan setidaknya dua dokumen yang menginstruksikan unit-unit militer untuk “menjaga konsistensi dengan Komite Sentral Partai dan KMP” serta menyelenggarakan sesi studi politik guna mempelajari ideologi komunis dan menyatakan sumpah setia kepada rezim.

Namun, di sejumlah wilayah, instruksi tersebut disambut dengan keheningan. Beberapa unit menolak mengeluarkan pernyataan publik atau mengadakan pertemuan internal. Arahan lanjutan yang dikeluarkan keesokan harinya—yang dimaksudkan untuk meredam reaksi balik yang kian membesar—tidak menghasilkan perubahan berarti, dan kepatuhan tetap minimal.

BACA JUGA : Zhongnanhai Sedang Dilanda Kekacauan, Hasil Perebutan Kekuasaan antara Xi Jinping dan Zhang Youxia Memicu Spekulasi dari Berbagai Pihak

Tinjauan terhadap situs web resmi militer dan pertahanan oleh The Epoch Times pada hari-hari setelah pembersihan menunjukkan tidak adanya pernyataan kesetiaan publik dari komando teater atau cabang-cabang layanan utama—ketiadaan yang menurut sumber sangat tidak lazim dalam budaya politik PLA.

“Saluran komando untuk perintah militer tingkat puncak pada dasarnya macet,” kata seorang sumber yang dekat dengan militer, berbicara kepada The Epoch Times dengan syarat anonim karena takut pembalasan.

“Dari para komandan hingga prajurit paling bawah, ketidakpuasan terhadap Komisi Militer Pusat sedang menyebar.

 “Perintah dikeluarkan, tetapi tidak ada yang menanggapinya dengan serius.”

Ejekan sebagai Tanda Pembangkangan

Sumber yang sama mengatakan sebagian personel militer di tingkat akar rumput secara terbuka mengejek Xi, menggunakan julukan “baozi” (yang berarti “bakpao kukus”), sebuah rujukan bernada menghina.

Perilaku serupa dilaporkan terjadi di Komando Teater Timur PLA. Seorang anggota keluarga perwira aktif mengonfirmasi kepada The Epoch Times bahwa sejumlah prajurit secara pribadi memanggil Xi dengan sebutan-sebutan yang sebelumnya tak terbayangkan.

“Dalam konteks militer, ini berarti otoritas panglima tertinggi tidak lagi diakui,” kata anggota keluarga tersebut, yang berbicara secara anonim karena takut pembalasan.

“Begitu perintah dari atas tidak lagi dianggap absolut, setiap pembicaraan tentang mobilisasi perang kehilangan landasannya—tidak ada yang akan mempertaruhkan nyawanya untuk Anda.”

Hu, lulusan sebuah akademi militer Tiongkok yang hanya menyebutkan nama keluarganya, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa situasi ini sangat jarang terjadi secara historis.

“Apa yang kita lihat sekarang—perlawanan dari bawah ke atas—belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Ia mencatat bahwa arahan KMP secara tradisional diikuti oleh pernyataan kesetiaan yang cepat dan berantai di seluruh komando. “Keheningan kolektif” saat ini, katanya, dipandang di dalam militer sebagai penolakan langsung terhadap otoritas Xi.

“Mereka siap melakukan penangkapan, tetapi jelas meremehkan reaksi balik internal,” kata Hu.

Menurut Hu, jika Beijing terus memaksakan penanganan kasus terhadap Zhang Youxia dan Liu tanpa penyesuaian substantif, KMP berisiko kehilangan kendali efektif atas perangkat militer Tiongkok yang sangat besar.

“Biaya politik dan keamanan bagi rezim akan jauh melampaui manfaat menyingkirkan beberapa individu,” ujar Hu.

Media pemerintah Tiongkok Xinhua melaporkan bahwa pada 27 Januari—tiga hari setelah penyingkiran Zhang Youxia—Xi muncul di hadapan publik untuk pertama kalinya sejak pembersihan, dengan bertemu Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo. Foto-foto resmi menunjukkan Xi menyampaikan pernyataan, namun tidak ada rujukan apa pun mengenai situasi militer.

Ketidakseimbangan Struktural di Puncak

Cendekiawan militer berbasis di Tiongkok, Yuan—yang juga hanya menyebutkan nama keluarganya karena takut pembalasan—mengatakan kepada The Epoch Times bahwa struktur KMP yang didominasi oleh Xi dan Zhang Shengmin tidak siap memimpin kekuatan tempur modern.

Zhang Shengmin, kata Yuan, menghabiskan sebagian besar kariernya dalam peran politik dan disipliner serta kurang memiliki pengalaman tempur operasional, sementara perwira profesional militer tetap mendominasi sistem komando PLA.

Militer Tiongkok telah lama beroperasi di bawah struktur ganda yang memisahkan pengawasan politik dari komando militer profesional. Penargetan terhadap Zhang Youxia dan Liu—keduanya simbol sistem perwira operasional—dipandang luas di dalam PLA sebagai gangguan terhadap keseimbangan internal tersebut, jelas Yuan, yang membantu menjelaskan cepatnya penyebaran perlawanan.

Sejumlah sumber mengatakan kepada The Epoch Times bahwa kecuali kepemimpinan rezim membalikkan arah atau membebaskan kedua jenderal tersebut, KMP secara bertahap dapat kehilangan kemampuannya untuk menjalankan komando absolut atas sekitar 2 juta personel militer aktif Tiongkok.

Wang Xin berkontribusi dalam laporan ini.

Diam-Diam Lebih Berbahaya: Ledakan di Iran dan Rencana Trump yang Tak Dibocorkan

EtIndonesia. Situasi keamanan di Iran kembali berada di titik kritis setelah serangkaian ledakan besar mengguncang sejumlah wilayah strategis negara tersebut pada Jumat, 31 Januari 2026. 

Peristiwa ini terjadi hampir bersamaan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengakui bahwa meskipun Washington tengah membuka jalur perundingan dengan Teheran, ia tidak dapat—dan tidak akan—membagikan rencana militernya kepada negara-negara sekutu di kawasan Teluk.

Sejumlah pengamat kebijakan luar negeri menilai, pernyataan Trump tersebut mengindikasikan adanya skenario tersembunyi yang jauh melampaui sekadar tekanan diplomatik. Bahkan, mulai mengemuka spekulasi bahwa Gedung Putih tengah menyiapkan “akhir ala Maduro” versi Iran, merujuk pada strategi AS dalam menghadapi krisis kepemimpinan Venezuela.


Ledakan Beruntun dalam 10 Jam, Korban Jiwa Berjatuhan

Dalam rentang waktu kurang dari 10 jam, Iran dilanda beberapa ledakan besar di wilayah berbeda:

  • Pelabuhan Abbas (Bandar Abbas) di selatan Iran—salah satu pelabuhan paling strategis negara itu—diguncang ledakan hebat yang menghancurkan sebagian gedung apartemen delapan lantai. Sedikitnya lebih dari 10 orang dilaporkan terluka, sementara dua lantai bangunan runtuh total. Kendaraan di sekitar lokasi terbalik, dan gelombang kejut terasa hingga radius luas.
  • Provinsi Khuzestan di barat daya Iran juga melaporkan ledakan besar di ibu kota provinsi tersebut. Laporan resmi menyebutkan 5–6 orang tewas, dengan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Media pemerintah Iran dengan cepat menyimpulkan bahwa seluruh insiden tersebut disebabkan oleh kebocoran gas atau pipa tua. Namun, rekaman video dan foto dari lokasi kejadian memicu keraguan publik, karena tingkat kerusakan dinilai jauh melampaui kecelakaan infrastruktur biasa.


Militer Iran Bantah Operasi Terarah, Sebut “Perang Psikologis”

Seiring merebaknya spekulasi publik—termasuk rumor adanya operasi pembunuhan terarah hasil kerja sama kekuatan asing—militer Iran segera bergerak meredam isu.

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan melalui media resmi bahwa:

  • Lokasi ledakan hanyalah rumah warga sipil
  • Tidak ada komandan militer atau pejabat tinggi yang menjadi target
  • Isu pembunuhan kepala negara disebut sepenuhnya palsu dan merupakan bagian dari perang psikologis musuh

Kepala Staf Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan terpisah, memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak salah langkah, namun secara bersamaan tetap menegaskan bahwa seluruh insiden murni disebabkan faktor teknis internal, tanpa keterlibatan serangan eksternal.


Trump: Negosiasi Opsi Pertama, Armada AS Lebih Besar dari Saat Hadapi Venezuela

Di Washington, dalam wawancara eksklusif dengan Fox News pada 31 Januari 2026, Trump menyatakan bahwa membawa Iran ke meja perundingan tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya.

Namun, pernyataan itu disertai penekanan keras: “Armada Amerika Serikat di Timur Tengah saat ini bahkan lebih besar dibandingkan pengerahan kekuatan ketika kami menghadapi Venezuela.”

Trump menutup wawancara dengan kalimat singkat namun sarat makna: “Kita lihat saja apa yang akan terjadi.”

Ia juga menepis kemungkinan mediasi melalui negara-negara tetangga Iran seperti Turki dan Arab Saudi, dengan alasan kebocoran informasi akan berakibat fatal—bahkan lebih buruk daripada membocorkannya kepada wartawan.


DropSite News: Target Bukan Nuklir, Melainkan Pergantian Rezim

Laporan lanjutan dari DropSite News mengungkap dimensi yang jauh lebih serius. Seorang mantan pejabat tinggi intelijen AS, yang kini menjadi penasihat informal kebijakan Timur Tengah pemerintahan Trump, menyebut bahwa:

  • Rencana operasi AS tidak berfokus pada fasilitas nuklir atau misil Iran
  • Tujuan utamanya adalah pergantian rezim
  • Serangan presisi terhadap kepemimpinan puncak Iran dinilai dapat memicu kebangkitan protes rakyat, mendorong keruntuhan rezim dari dalam

Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa Benjamin Netanyahu telah menyampaikan dukungan penuh terhadap skenario tersebut, serta menjamin kesiapan Israel untuk membantu membangun pemerintahan baru Iran yang pro-Barat apabila operasi dimulai.


Sekutu Arab Diberi Peringatan, Serangan Bisa Terjadi Akhir Pekan

Dua pejabat intelijen dari negara Arab mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima pemberitahuan awal dari Washington terkait kemungkinan serangan dalam waktu dekat.

Beberapa sumber militer AS menyebutkan bahwa Trump dapat memberi otorisasi serangan antara 31 Januari hingga 1 Februari 2026, dan pemberitahuan tersebut telah disampaikan kepada salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah.


Latihan Peluru Tajam Iran di Selat Hormuz, AS Tetapkan Garis Merah

Sebagai respons, pada Sabtu, 1 Februari 2026, Teheran mengumumkan akan menggelar latihan angkatan laut dengan peluru tajam selama dua hari di Selat Hormuz, tepat di jalur yang dilalui armada besar AS.

Militer Amerika Serikat segera mengeluarkan peringatan keras, menetapkan garis merah yang jelas, dan menegaskan bahwa setiap tindakan yang mengancam stabilitas kawasan tidak akan ditoleransi.


Tekanan Internal Iran dan Isu “Akhir ala Maduro”

Di dalam negeri, Iran masih menanggung dampak dari penindasan brutal terhadap demonstrasi sebelumnya. Media oposisi di pengasingan mengutip pengarahan tertutup pejabat Iran yang mengakui bahwa aparat keamanan menerima “cek kosong”—izin untuk menembak tanpa membedakan warga sipil—yang menguatkan laporan tingginya korban versi kelompok HAM internasional.

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengatakan kepada Channel 12 Israel bahwa Trump tidak akan mengecewakan rakyat Iran yang mempertaruhkan nyawa melawan rezim. Ia menegaskan bahwa jika jalur damai gagal, Trump tidak ragu mengulang operasi militer berskala besar seperti “Operasi Palu Tengah Malam”.

Sementara itu, diskusi internal di Washington disebut mulai mengarah pada satu pertanyaan krusial: apakah skenario penangkapan ala Maduro dapat diterapkan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Di media sosial, warganet bahkan menyebut kemungkinan tersebut sebagai “upgrade Operasi Maduro—versi Iran.” (***)

Ledakan Dahsyat Guncang Bandar Abbas, Iran Selatan — Tumbulkan Korban Jiwa dan Kerusakan Parah

EtIndonesia. Sebuah ledakan besar mengguncang kota pelabuhan strategis Bandar Abbas di selatan Iran pada Sabtu (31/1/2026) sore waktu setempat, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan serius pada bangunan serta kendaraan di sekitarnya. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan nasional dan internasional yang melibatkan Iran.

Menurut laporan resmi, ledakan itu dipicu oleh kebocoran gas di sebuah bangunan hunian, yang menyebabkan setidaknya dua orang tewas dan 14 lainnya luka-luka, termasuk warga sipil dan anak-anak. Bangunan delapan lantai tempat ledakan terjadi mengalami rusak parah, dengan sebagian besar lantai pertama sampai ketiga hancur total serta jendela pecah di blok sebelahnya.

Tragedi ini juga memakan korban anak-anak; seorang gadis berusia 4 tahun dilaporkan tewas dalam ledakan tersebut, memperkuat duka keluarga dan masyarakat setempat. Video yang beredar di media sosial menunjukkan petugas pemadam kebakaran serta tim penyelamat berjuang mengevakuasi korban dari reruntuhan.

Beberapa warga mengklaim gedung itu tidak memiliki sambungan gas, sehingga spekulasi mengenai penyebab lain — termasuk serangan yang terkoordinasi — sempat muncul di platform daring. Namun, pejabat Iran dan otoritas lokal menegaskan bahwa ini adalah kecelakaan akibat kebocoran gas, sambil membantah klaim adanya serangan terhadap pejabat militer atau unsur militer.

Konteks Nasional: Gelombang Protes dan Ketidakstabilan dalam Negeri

Ledakan tersebut terjadi ketika gelombang protes nasional di Iran telah memasuki hari ke-35, menyusul aksi besar-besaran yang bermula akhir Desember 2025. Demonstrasi dipicu oleh krisis ekonomi, inflasi tinggi, dan tuntutan reformasi politik, kemudian berkembang menjadi gerakan yang menuntut perubahan dalam struktur pemerintahan negara.

Kelompok pemantau hak asasi seperti Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan lebih dari 6.500 jiwa tewas, termasuk banyak demonstran, anak-anak, dan warga sipil lainnya — angka yang jauh lebih tinggi dibanding angka resmi pemerintah Iran, yang hanya menyebutkan sekitar 3.117 korban tewas.

Tudingan bahkan muncul bahwa pada periode 8–9 Januari 2026, penindasan oleh keamanan negara menyebabkan paling sedikit 30.000 hingga 36.500 kematian berdasarkan analisis dokumen rahasia dan data rumah sakit, menjadikannya salah satu penindasan paling mematikan sejak beberapa dekade terakhir.

Di dalam negeri, tekanan meningkat bukan hanya dari jalanan: sejumlah warga menyerukan intervensi internasional, dengan beberapa menyampaikan harapan agar Amerika Serikat menghancurkan rezim saat ini meskipun berisiko korban.

Tanggapan Pemerintah Iran & Ketegangan Internasional

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam campur tangan asing, menuduh Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Eropa memanfaatkan krisis untuk menyulut kerusuhan. Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan luar negeri justru memperparah ketegangan domestik.

Sementara itu, Kepala Angkatan Darat Iran memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melancarkan serangan militer, menegaskan kesiagaan penuh pasukan Iran terhadap potensi agresi eksternal.

Ketegangan regional juga memuncak setelah Uni Eropa resmi mencantumkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris, langkah yang memperluas isolasi Tehran dan menambah ketegangan diplomatik dengan negara-negara Barat.

Kesimpulan

Insiden ledakan di Bandar Abbas pada 31 Januari 2026 bukan hanya tragedi lokal akibat kecelakaan gas, tetapi juga terjadi di tengah salah satu periode paling penuh gejolak dalam sejarah modern Iran. Korban jiwa yang signifikan, protes nasional yang meluas, serta spekulasi tentang campur tangan internasional memberikan gambaran betapa kompleksnya situasi saat ini — rentang dari isu domestik yang mendalam hingga koneksinya dengan dinamika geopolitik global. (***)

Kisah Pria Tionghoa Diculik Sindikat Scam Online Kamboja, Kabur Lompat dari Gedung dan Nyaris Terkubur Hidup-Hidup

Baru-baru ini, pengalaman seorang pria bernama Qiu, warga Ji’an, Provinsi Jiangxi, terungkap ke publik. Ia tertipu iming-iming pekerjaan bergaji tinggi, dibawa ke Vietnam, lalu diculik ke kamp penipuan online di Kamboja. Dalam upaya melarikan diri, ia nekat melompat dari gedung dan nyaris dikubur hidup-hidup.

ETIndonesia. Menurut laporan media Tiongkok daratan “Beijing Time”, pada 2025, Tuan Qiu melihat iklan lowongan kerja bergaji tinggi di sebuah grup daring. Setelah menghubungi pihak perekrut, ia diberi tahu bahwa lokasi kerja berada di Vietnam dengan tugas berpura-pura sebagai backpacker untuk menyelundupkan barang. Tergiur gaji besar, ia bersama tiga orang lainnya mengikuti perantara menyelinap masuk ke Vietnam secara ilegal.

“Sepanjang perjalanan mereka bersikap ramah. Namun setibanya di Kota Ho Chi Minh, sikap mereka langsung berubah. Mereka mengeluarkan senjata, mengikat kami, menutup kepala kami, lalu memasukkan kami ke dalam mobil van. Setelah lima hingga enam jam perjalanan, kami dibawa ke sebuah kamp penipuan online di Kamboja,” tutur  Qiu.

Ia mengatakan bahwa setelah tiba di kamp, KTP, ponsel, dan barang pribadi lainnya disita, lalu ia dan korban lain dipukuli beramai-ramai oleh tujuh hingga delapan preman menggunakan tongkat PVC.

“Kalau sudah masuk ke sini, jangan pernah berpikir bisa pulang. Kerja yang baik saja, anggap saja kalian sudah tidak punya keluarga,” kata seorang penanggung jawab saat memberi ancaman.

Keesokan harinya, Mr Qiu dipaksa mengikuti pelatihan penipuan. Pada malam hari, saat penjaga lengah, ia mencungkil jendela lantai tiga dengan pecahan besi, lalu mencoba meluncur turun menggunakan seprai.

 Qiu menceritakan bahwa baru saja ia keluar dari jendela, para preman kembali dan menyadari pintu kamar terkunci dari dalam. Takut disiksa lebih parah jika mereka mendobrak pintu, ia menutup mata dan melepaskan pegangan, lalu jatuh ke bawah.

Setelah lompat dari gedung, ia tidak sadarkan diri. Saat terbangun, ia mendapati dirinya dibawa ke area terpencil, dan mendengar orang-orang dari kamp mendiskusikan apakah ia akan dikubur hidup-hidup. Karena tidak menemukan alat untuk mengubur, mereka akhirnya meninggalkannya begitu saja.

Sekitar dua jam kemudian, karena khawatir kasus ini terbongkar, orang-orang dari kamp kembali dan membawanya ke rumah sakit. Namun dua rumah sakit menolak menerimanya. Akhirnya, ia ditinggalkan di depan sebuah rumah sakit di Phnom Penh. Pihak rumah sakit meminta biaya pengobatan sebesar 3.000 dolar AS.

Setelah mengetahui kejadian itu, ibu Tuan Qiu tidak berani langsung mentransfer uang karena takut tertipu. Baru setelah pihak rumah sakit menghubungi kembali, seorang warga Tionghoa setempat bermarga Lu membayar biaya tersebut terlebih dahulu, sehingga Tuan Qiu akhirnya mendapat perawatan medis.

Dalam beberapa tahun terakhir, sisi gelap kamp penipuan online di Kamboja terus terbongkar. Kelompok penipuan ini sering kali juga terlibat dalam perdagangan manusia lintas negara, pencucian uang, kerja paksa dan perbudakan, penyiksaan, pembunuhan, serta pemaksaan prostitusi, dan berbagai kejahatan berat lainnya.

Pada 12 Januari tahun ini, seorang pemuda Sichuan berusia 25 tahun, bermarga Li (nama samaran), mengatakan kepada New Tang Dynasty bahwa ia awalnya mencari pekerjaan di Shenzhen, namun karena percaya pada iklan “pekerjaan angkut barang dengan gaji bulanan puluhan ribu yuan”, ia tertipu dan dibawa ke kamp penipuan di Kamboja.

Li mengenang bahwa setelah masuk kamp, ia digeledah, kebebasannya dibatasi, dan setiap hari dipaksa melakukan penipuan telekomunikasi dalam waktu lama. Jika target tidak tercapai, ia akan dimaki, dihukum fisik, bahkan dikurung sendirian. Ia menggambarkan kamp tersebut seperti penjara. Meski para petinggi sudah dipindahkan, seluruh sistem tetap berjalan, dan hingga kini ribuan warga Tiongkok masih terjebak di sana.

Akhirnya, keluarga Li membayar uang tebusan sekitar 250.000 yuan agar ia bisa dibebaskan.

Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut pernah mengungkapkan bahwa banyak kamp penipuan di Asia Tenggara dalam jangka panjang mendapat perlindungan dari Departemen Front Persatuan dan sistem keamanan negara Partai Komunis Tiongkok.

Li juga mengungkapkan bahwa pada Juli 2025, setelah keluarganya meminta bantuan kedutaan besar Tiongkok, ia justru “dikhianati”. Perusahaannya memborgol dan menggantungnya di bawah terik matahari selama tiga hari tiga malam, disertai pembatasan makanan, lalu dijual ke perusahaan penipuan lain di sebelah.

Ketua Aliansi Pengacara HAM Tiongkok di Luar Negeri, Wu Shaoping, menyatakan bahwa kamp penipuan di Kamboja pada hakikatnya merupakan produk kerja sama resmi antara PKT dengan Kamboja, Myanmar, bahkan negara-negara lain. Termasuk sumber nomor telekomunikasi yang digunakan, semuanya menunjukkan ciri kejahatan terorganisasi.

Editor  Li Enzhen 

Sumber : NTDTV.com

Trump Mendesak Kesepakatan Nuklir Iran: Konsekuensi Serius Jika Negosiasi Gagal

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (30 Januari) menyatakan harapannya untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran. Pada saat yang sama, ia memperingatkan Iran bahwa jika perundingan gagal, negara itu akan menghadapi konsekuensi serius. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran mengatakan saat bertemu dengan para pemimpin Turki bahwa Iran siap meredakan ketegangan melalui dialog.

Dorong Iran Capai Kesepakatan Nuklir, Trump: Jika Negosiasi Gagal Akan Ada Konsekuensi

Presiden AS Donald Trump mengatakan:  “Kami sedang mengirim armada yang sangat besar, entah Anda menyebutnya angkatan laut atau armada—saat ini sedang menuju Iran. Skalanya bahkan melampaui pengerahan pasukan kami di Venezuela. Faktanya, kami sedang mengirim lebih banyak kapal ke Iran. Kami berharap dapat mencapai kesepakatan. Jika kesepakatan tercapai, itu akan menjadi hal yang baik. Jika tidak, kita lihat saja nanti.”

Wartawan bertanya:  “Apakah Anda telah menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, jika tidak maka akan diambil tindakan lebih lanjut?”

Trump menjawab:  “Hanya mereka sendiri yang paling tahu.”

Presiden Trump menyatakan bahwa pihak AS telah menyampaikan sikapnya kepada otoritas Iran, dan juga mengatakan bahwa Iran memang berniat untuk mencapai kesepakatan.

Tayangan televisi menunjukkan sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS berlabuh di Pelabuhan Eilat, Laut Merah, Israel, pada Jumat. Militer Israel menyatakan bahwa kapal perang tersebut sedang menjalankan misi rutin.

Cuplikan yang ditayangkan Channel 12 Israel memperlihatkan kapal perusak AS “Delbert Black” berlabuh di pelabuhan pada pagi hari itu. Di geladak kapal yang berbasis di Florida tersebut terlihat puluhan pelaut.

Menlu Iran: Siap Meredakan Ketegangan Melalui Dialog

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunjungi Istanbul dan mengadakan pertemuan dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan serta Menteri Luar Negeri Hakan Fidan.

Dalam konferensi pers bersama dengan Fidan, Araghchi menyatakan bahwa Iran siap meredakan ketegangan melalui dialog, namun saat ini belum ada rencana konkret untuk memulai perundingan dengan Amerika Serikat.

Presiden Turki Erdoğan sebelumnya mengatakan bahwa dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, ia menyatakan kesediaannya untuk berperan sebagai “koordinator” dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat.

Erdoğan menegaskan penolakannya terhadap intervensi militer AS terhadap Iran, guna menghindari gejolak di kawasan.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan kepada wartawan bahwa Inggris sedang bekerja sama dengan sekutu-sekutunya untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Ia juga mengecam penindasan yang dilakukan otoritas Iran terhadap para demonstran.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan:  “Tujuan kami adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir—ini sangat penting. Tentu saja, kita juga harus menghadapi kenyataan bahwa Iran menindas para pengunjuk rasa dan membunuh demonstran. Situasi saat ini sangat mengerikan dan inilah yang menjadi fokus perhatian kami. Untuk itu, kami bekerja sama erat dengan negara-negara sekutu.”

Menurut laporan Kantor Berita Aktivis Amerika, penindasan brutal oleh otoritas Iran telah menyebabkan lebih dari 6.479 orang tewas. Jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih tinggi. (Hui)

Reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua, laporan kompilasi.

Satelit Menangkap Aktivitas Baru di Fasilitas Nuklir Iran

Situasi di Iran belakangan ini tidak stabil. Di satu sisi, protes di dalam negeri terus ditindas, sementara di sisi lain, citra satelit menunjukkan adanya pergerakan baru di dua fasilitas nuklir sensitif Iran.

EtIndonesia. Kantor berita Associated Press (AP) melaporkan pada Jumat (30 Januari) bahwa lokasi yang terdeteksi aktivitas tersebut bukanlah pabrik biasa, melainkan dua target utama yang tahun lalu diserang bersama oleh Amerika Serikat dan Israel—Isfahan dan Natanz. Berdasarkan citra satelit terbaru, kedua fasilitas nuklir ini kini tampak dipasangi atap baru, yang segera menarik perhatian komunitas internasional dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Gambar-gambar tersebut disediakan oleh perusahaan Amerika, Planet Labs PBC. Ini merupakan pertama kalinya sejak gelombang serangan udara selama 12 hari pada Juni tahun lalu, terlihat tanda-tanda perbaikan di kedua fasilitas nuklir tersebut.

Apa Fungsi Atap Baru Ini?

Para pakar menilai bahwa pembangunan atap tersebut kemungkinan bukan sekadar perbaikan biasa, melainkan upaya untuk menutup pandangan pihak luar, sehingga memungkinkan pengambilan kembali material nuklir penting di dalamnya—seperti uranium yang diperkaya tinggi. Iran diduga berusaha memindahkan material tersebut secara diam-diam tanpa terdeteksi.

Saat ini, IAEA tidak memiliki akses ke fasilitas-fasilitas tersebut dan hanya dapat memantau dari jarak jauh melalui citra satelit. Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan penjelasan apa pun.

Peran Dua Fasilitas Nuklir Utama

Fasilitas Natanz merupakan pusat utama pengayaan uranium Iran, menggunakan sentrifugal paling canggih untuk memperkaya uranium hingga tingkat 60 persen—hanya selangkah lagi menuju kemampuan pembuatan senjata nuklir. Setelah dibom, diyakini masih ada sebagian material yang tertinggal di lokasi.

Sementara itu, fasilitas nuklir Isfahan berperan menyediakan gas uranium yang dibutuhkan untuk pengoperasian sentrifugal, sehingga menjadi bagian yang sangat krusial dalam program nuklir Iran.

Pada Juni tahun lalu, Israel terlebih dahulu menyerang kedua fasilitas tersebut, kemudian disusul oleh Amerika Serikat yang menggunakan rudal jelajah Tomahawk serta bom penghancur bunker. Saat itu, Gedung Putih menyatakan bahwa serangan tersebut secara efektif melemahkan program nuklir Iran, namun sejauh mana kerusakannya tidak pernah diungkapkan secara rinci.

Kini, pemasangan atap baru tersebut dicurigai bertujuan untuk menutupi proses penyelamatan dan pemindahan material nuklir di lokasi. Di area pegunungan di sekitar Natanz, Iran juga terlihat menggali terowongan baru, yang diduga sebagai persiapan pembangunan fasilitas nuklir bawah tanah generasi berikutnya.

Citra satelit juga menunjukkan bahwa bangunan lain di kompleks Isfahan telah dipasangi atap baru. Beberapa terowongan di kawasan pegunungan sekitarnya tampak ditutup, sementara yang lain diperkuat dengan dinding baru—mengindikasikan peningkatan perlindungan terhadap serangan udara dan bom.

Laporan tersebut menambahkan bahwa bukan hanya dua fasilitas nuklir itu yang tengah dibangun kembali. Basis militer Parchin di tenggara Teheran juga sedang direkonstruksi, khususnya gedung “Taleghan 2” yang dihancurkan oleh Israel pada Oktober tahun lalu, kini sedang diperbaiki dan diperluas.

Gedung tersebut dilaporkan menampung ruang uji bahan peledak berkekuatan tinggi dan sistem sinar-X, yang digunakan untuk menguji proses pemampatan inti uranium—langkah paling krusial dalam pembuatan senjata nuklir.

Citra satelit terbaru menunjukkan bahwa pembangunan kembali di lokasi itu tidak hanya berlanjut, tetapi juga disertai pemasangan wadah bertekanan besar yang baru. Para pakar menilai hal ini kemungkinan dimaksudkan untuk melanjutkan uji coba bahan peledak berkekuatan tinggi.

Fasilitas nuklir dan rudal Iran tidak hanya dipulihkan, tetapi juga ditingkatkan secara diam-diam. Sementara itu, komunitas internasional saat ini tidak dapat melihat secara jelas keseluruhan perkembangan tersebut.

Apakah Iran sedang membangun kembali fasilitas nuklirnya secara rahasia? Dan apakah Amerika Serikat akan mengambil langkah tegas berikutnya?  (Hui)

Italia Bersiap Kenakan Tarif Paket Kecil dari Luar UE, Platform E-Commerce Tiongkok Jadi Sasaran

Menteri Ekonomi Italia Giancarlo Giorgetti pada 29 Januari menyatakan bahwa Italia berencana mengubah kebijakan pajak terhadap paket bernilai kecil yang dikirim dari negara non-Uni Eropa, agar selaras dengan tarif pajak Uni Eropa yang lebih tinggi dan akan mulai berlaku pada Juli tahun ini. Langkah ini secara luas dipandang sebagai aksi terbaru negara-negara Eropa untuk bersama-sama menekan masuknya e-commerce murah asal Tiongkok.

EtIndonesia. Menteri Ekonomi Italia Giancarlo Giorgetti mengatakan kepada media saat menghadiri sebuah acara di Roma bahwa Italia akan berupaya menyelaraskan sistem perpajakannya dengan keputusan Uni Eropa, guna menghindari distorsi pasar akibat perbedaan kebijakan.

Menurut laporan Reuters, kebijakan Italia dan Uni Eropa saat ini terutama menargetkan paket e-commerce berharga rendah dari negara non-UE, dengan fokus pada platform daring Tiongkok seperti Shein dan Temu (di bawah Pinduoduo).

Data bea cukai Uni Eropa menunjukkan bahwa sekitar 4,6 miliar paket kecil dengan nilai di bawah 150 euro masuk ke Eropa sepanjang 2024, dan 91% di antaranya berasal dari Tiongkok. Pejabat Italia secara terbuka menyatakan bahwa banjir produk murah dari luar Uni Eropa ini telah memberikan dampak serius terhadap sektor ritel lokal.

Berdasarkan rencana saat ini, pajak paket kecil di Italia akan disesuaikan secara bertahap. Anggaran Italia tahun 2026, yang mulai berlaku pada 1 Januari tahun ini, telah menetapkan biaya administrasi sebesar 2 euro per paket (sekitar 2,39 dolar AS) untuk paket bernilai di bawah 150 euro. 

Sementara itu, Uni Eropa telah memastikan bahwa ke depan akan diberlakukan tarif bea masuk seragam sebesar 3 euro untuk paket sejenis, yang berarti Italia masih berpeluang menaikkan tarifnya lebih lanjut.

Namun, salah satu anggota koalisi pemerintahan, Partai Forza Italia, mengusulkan agar penerapan penuh kebijakan ini ditunda hingga Juli, guna menghindari dampak negatif terhadap daya saing sektor logistik. Menanggapi hal tersebut, Giorgetti menyatakan bahwa pemerintah akan mengevaluasi usulan tersebut secara hati-hati.

Secara lebih luas di Eropa, Italia bukan satu-satunya negara yang mengambil langkah ini. Prancis telah lebih dahulu memberlakukan pajak paket sebesar 2 euro per kiriman, serta menambahkan pajak lingkungan untuk produk “fast fashion ultra-cepat”. 

Uni Eropa juga berencana mulai Juli untuk menghapus sepenuhnya pembebasan pajak bagi paket di bawah 150 euro, dan menggantinya dengan tarif bea masuk seragam 3 euro.

Sementara itu, Amerika Serikat pada tahun lalu telah menangguhkan fasilitas “batas minimum bebas pajak” (de minimis) bagi barang asal Tiongkok dan Hong Kong. Artinya, semua paket yang dikirim langsung dari Tiongkok ke konsumen AS, tanpa memandang apakah nilainya di bawah 800 dolar AS, kini wajib dikenakan bea masuk. (Hui)

【Eksklusif】 Zhang Youxia Pernah Mengkritik Xi Jinping “Takut Mati”, Namun Xi Tetap Berambisi Memperpanjang Masa Jabatan

EtIndonesia. Jatuhnya secara mendadak Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli telah mengguncang internal militer. Seorang sumber internal militer mengungkap kepada Epoch Times edisi bahasa mandarin bahwa Xi Jinping memiliki perbedaan tajam dengan para jenderal senior terkait isu militer Selat Taiwan dan penanganan pandemi. 

Zhang Youxia serta sejumlah pimpinan KMP, termasuk banyak prajurit aktif dan purnawirawan, secara tertutup mengkritik Xi Jinping sebagai “takut mati” selama pandemi, namun tetap berambisi mencalonkan diri kembali.

Penetapan Resmi Sangat Keras, Perpecahan Militer Mencuat

Zhang Youxia Pernah Mengkritik Xi sebagai “Takut Mati”

Pada 24 Januari, Kementerian Pertahanan PKT mengumumkan kejatuhan Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Tak lama kemudian, media militer PKT menerbitkan tajuk rencana yang menggunakan lima istilah “sangat serius” untuk mendefinisikan kesalahan keduanya, termasuk tuduhan “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab Ketua KMP”.

Penetapan keras ini dipandang sebagai peristiwa simbolik pembersihan tingkat tinggi di militer dalam beberapa tahun terakhir. Setelah pengumuman resmi, ketidakpuasan di internal militer kembali mencuat.

Pada 29 Januari, seorang sumber militer bernama samaran Shen Jianhui mengatakan kepada Epoch Times bahwa konflik antara Zhang Youxia dan Xi Jinping bukanlah kejadian mendadak, melainkan hasil akumulasi jangka panjang. Ketika pandemi COVID-19 (virus PKT) merebak di daratan Tiongkok, ketidakpuasan para petinggi militer terhadap Xi mencapai puncaknya.

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Zhang Youxia, pimpinan KMP lainnya, serta banyak prajurit aktif dan pensiunan secara tertutup mengecam sikap Xi yang menghindari risiko dan tidak turun ke garis depan, menilai Xi “takut mati” namun tetap ingin mempertahankan kekuasaan.

Shen Jianhui mengatakan bahwa selama pandemi, Xi Jinping tidak pernah benar-benar turun ke lapangan. Satu-satunya kunjungan yang disebut sebagai “inspeksi rumah sakit militer” sebenarnya hanya dilakukan di sebuah aula seluas ratusan meter persegi melalui sambungan video, sementara tenaga medis yang sesungguhnya bekerja di area lain. Cara ini menimbulkan penolakan luas di kalangan militer.

“Bukan hanya tentara aktif, para pensiunan dan keluarga militer pun saat berkumpul sering mengkritik: ‘Lihat apa yang dia lakukan terhadap negara ini,’” ujar Shen.

Sikap Pasif Zhang Youxia Selama Pandemi

Shen Jianhui juga mengungkap bahwa Zhang Youxia bersikap pasif selama pandemi. Berdasarkan informasi internal militer, Zhang sengaja berpura-pura sakit dan lesu saat menerima tamu, tetapi segera kembali normal setelah tamu pergi, yang dianggap sebagai tanda jelas tidak kooperatif terhadap kebijakan pimpinan tertinggi. Setelah pandemi berakhir, Zhang kembali menjalankan tugas secara normal, menunjukkan bahwa kondisi kesehatannya tidak bermasalah secara nyata.

Isu Taiwan Menjadi Konflik Inti

Para Jenderal Menentang Serangan Militer ke Taiwan

Menurut Shen Jianhui, konflik paling mendasar antara Zhang Youxia dan Xi Jinping berpusat pada isu Taiwan. Zhang dan mayoritas jenderal senior menentang penggunaan kekuatan militer untuk menyerang Taiwan.

Para petinggi militer umumnya menilai bahwa perang nyata akan menimbulkan korban jiwa dan kerugian persenjataan yang sangat besar:

“Cabang militer yang Anda bangun dengan susah payah bisa hancur dalam sekejap.”

Mereka menilai bahwa latihan militer di masa damai dapat menunjukkan kekuatan, tetapi risiko dan biaya perang nyata berada pada tingkat yang sama sekali berbeda.

Shen menganalisis bahwa dorongan Xi Jinping untuk menyatukan Taiwan secara paksa berakar pada upaya mempertahankan kekuasaan pribadi:

“Dia sekarang sama sekali tidak berani turun dari kekuasaan. Begitu dia turun, korupsi keluarganya akan terungkap seluruhnya.”

Menurut sumber internal, Xi khawatir akan pembersihan politik setelah kehilangan kekuasaan, sehingga membutuhkan pencapaian politik besar seperti ‘penyatuan Taiwan’ untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya.

Antikorupsi Jadi Alat Perjuangan Politik

Tuduhan Kebocoran Informasi Dibantah

Terkait isu antikorupsi di militer, Shen Jianhui mengungkap latar belakang yang lebih kompleks. Ia mengatakan bahwa praktik jual beli jabatan di militer sudah lama meluas, dan bahkan para jenderal senior termasuk Zhang Youxia sulit sepenuhnya terbebas dari praktik tersebut.

“Ada beberapa mayor jenderal yang tidak naik menjadi letnan jenderal karena tidak mau membayar. Bahkan putra Jenderal Besar Su Yu pun berhenti di pangkat mayor jenderal karena menolak menyuap.”

Namun, sumber tersebut menilai bahwa gerakan antikorupsi saat ini telah berubah menjadi alat politik. Xi Jinping secara selektif menargetkan jenderal yang tidak disukainya, sementara tanggung jawab sistemik atas korupsi militer seharusnya berada di tingkat tertinggi.

Shen secara tegas membantah laporan media luar negeri yang menuduh Zhang Youxia membocorkan rahasia militer kepada Amerika Serikat, menyebutnya “omong kosong total” yang bertujuan menciptakan tekanan opini publik dan memberi kesan bahwa militer telah sepenuhnya dikendalikan.

Ia menyatakan bahwa arah akhir situasi masih belum jelas. Selama para pejabat militer yang diselidiki belum dieksekusi, masih ada kemungkinan pembalikan keadaan:

“Selama masih hidup, selalu ada kesempatan menunggu hasil akhirnya.”

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa militer masih bersikap menunggu, menilai bahwa konstelasi kekuasaan belum sepenuhnya terkunci.

Militer Kolektif “Diam dan Menahan Diri”

Keheningan Tak Biasa Lepaskan Sinyal Bahaya

Setelah pengumuman penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli, reaksi militer dan pasukan daerah menjadi sorotan.

Mantan pengacara Beijing dan akademisi independen Lai Jianping mengatakan dalam wawancara dengan Epoch Times pada 29 Januari bahwa setelah Zhang diselidiki, militer PKT dan pasukan daerah secara langka memilih diam dan menahan diri, sangat kontras dengan kebiasaan sebelumnya di mana terjadi gelombang pernyataan loyalitas setiap kali pejabat tinggi jatuh.

Lai menilai bahwa kasus Zhang Youxia, dari sisi tingkat politik dan dampak guncangannya, mendekati skala historis “penanganan Lin Biao di era Mao Zedong”. Zhang berada lama di posisi inti kekuasaan militer, “satu orang di bawah, sepuluh ribu di atas”, serta memiliki hubungan lama dan kepercayaan politik dengan Xi Jinping. Oleh karena itu, penyelidikannya tidak mungkin sekadar kasus korupsi, melainkan lebih sesuai dengan logika perebutan kekuasaan tingkat tinggi atau restrukturisasi kekuasaan.

Dalam konteks ini, tidak muncul mobilisasi politik khas seperti berlomba-lomba menyatakan loyalitas atau memutus garis hubungan, melainkan sikap menunggu dan diam secara kolektif. Keheningan tidak biasa ini mencerminkan keraguan luas di dalam sistem terhadap sifat kasus tersebut, sekaligus menyoroti ketidakstabilan tinggi struktur kekuasaan saat ini.

Kohesi Pusat Kekuasaan Menurun

Kepercayaan Politik Mulai Retak

Lai Jianping menganalisis bahwa fenomena ini mengirimkan beberapa sinyal penting:
pertama, sebagian orang dalam sistem meragukan legitimasi politik penyelidikan dan menyadari bahwa ini bukan sekadar persoalan disiplin;
kedua, ada kekhawatiran bahwa situasi belum final dan masih mungkin berbalik, sehingga banyak pihak memilih tidak segera berpihak;
ketiga, cukup banyak yang mengalami mentalitas “kelinci mati, rubah ikut sedih”, merasa bahwa jika Zhang Youxia saja bisa jatuh seperti ini, mereka sendiri bisa kapan saja menjadi korban berikutnya.

Menurut Lai, kehati-hatian dan keheningan yang meluas ini menunjukkan bahwa langkah Xi Jinping kali ini tidak mendapatkan respons loyalitas yang mutlak dan tanpa syarat, melainkan justru memicu keraguan dan sikap menunggu. Ini adalah “sinyal politik yang sangat jelas dan sangat berbahaya”, menandakan bahwa kohesi pusat kekuasaan sedang menurun dan kepercayaan politik mulai retak.

Lembaga Think Tank AS Ungkap Faktor di Balik Konflik Xi–Zhang

Jadwal Serangan ke Taiwan 2027 Picu Benturan

Terkait alasan mendalam pembersihan besar-besaran militer PKT ini, lembaga think tank kebijakan pertahanan AS, Jamestown Foundation, baru-baru ini merilis laporan yang menyebut bahwa pembersihan ini bukan semata antikorupsi, melainkan akibat perbedaan pandangan kebijakan militer antara Zhang Youxia dan Xi Jinping.

Zhang dinilai gagal menyesuaikan jadwal pelatihan operasi gabungan dengan tuntutan Xi agar militer memiliki kemampuan menyerang Taiwan pada 2027, sehingga dianggap sebagai perlawanan dan ketidakpatuhan terhadap perintah.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa siklus pelatihan tahunan terakhir sebelum 2027 dimulai Januari ini, dan perbedaan telah berubah dari perdebatan perencanaan menjadi ketidakpatuhan langsung di tingkat pelaksanaan, yang mengancam otoritas Xi Jinping. Kejatuhan Zhang Youxia dan Liu Zhenli mencerminkan upaya Xi memperkuat kendali pribadi absolut atas militer, mengutamakan loyalitas politik dibanding kemampuan profesional, yang meski berpotensi meningkatkan ketidakstabilan internal, tidak mengubah target waktu 2027 terkait Taiwan.

Sebelumnya, beberapa sumber juga mengungkap kepada Epoch Times bahwa Zhang Youxia berulang kali secara tegas menentang penggunaan kekuatan militer segera, menilai bahwa sistem pertahanan Taiwan berada di bawah Israel namun di atas Ukraina, serta menyoroti kemungkinan tinggi intervensi AS, Jepang, Australia, dan “Five Eyes”. 

Jika perang berlarut-larut, gejolak domestik akan tak terhindarkan, sementara kekuatan dan logistik militer PKT saat ini sulit menopang perang jangka panjang. Zhang menganjurkan stabilitas dan menghindari pembukaan front perang di tengah pelemahan ekonomi dan isolasi diplomatik, sikap yang oleh Xi dianggap sebagai “menggoyahkan moral militer”.

Lai Jianping menegaskan bahwa keheningan pasca-kasus Zhang Youxia bukan tanda stabilitas, melainkan justru cerminan ketidakpastian dan kecemasan mendalam di dalam sistem. Bagaimana situasi akan berkembang ke depan bergantung pada arah lanjutan perebutan kekuasaan dan kemampuan pimpinan tertinggi mengendalikan keadaan, yang saat ini masih sulit dipastikan.

— Judul asli: 【Eksklusif】Konflik Tajam antara Zhang Youxia dkk dan Xi Jinping
(Dikutip dari Epoch Times / Editor Penanggung Jawab: Wen Bin)

Iman Rachman Mengundurkan Diri sebagai Direktur Utama BEI dalam Situasi Volatilitas Pasar

JAKARTA — Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat (30/1/2026). Keputusan itu disampaikan di Gedung BEI, Jakarta, sebagai bentuk tanggung jawab atas dinamika pasar modal Indonesia yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Iman menyatakan pengunduran dirinya sebagai respon atas kondisi pasar modal, termasuk pergerakan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun dalam beberapa hari terakhir. Dalam keterangannya kepada media, ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk akuntabilitas pribadi terhadap kejadian yang mempengaruhi kepercayaan investor.

“Saya menyatakan mundur sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi selama dua hari terakhir ini,” ujar Iman tanpa sesi tanya jawab.

Pengunduran diri Iman Rachman datang di tengah tekanan terhadap pasar modal Indonesia, yang tidak hanya dipicu oleh pergerakan indeks saham domestik tetapi juga sorotan global terhadap tata kelola pasar. Beberapa analis internasional menilai volatilitas pasar juga terkait dengan kekhawatiran tentang transparansi dan struktur kepemilikan saham di bursa.

Merespons pengunduran diri tersebut, pemerintah dan otoritas terkait berupaya menjamin stabilitas pasar. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyambut langkah itu sebagai sinyal akuntabilitas yang dapat membantu memperbaiki sentimen investor dan mencegah kekhawatiran yang lebih luas di pasar modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan keputusan Iman tidak akan mengganggu kelancaran operasional BEI. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK menegaskan fungsi perdagangan, kliring, dan kustodian tetap berjalan normal meskipun ada pergantian pucuk pimpinan.

Langkah selanjutnya adalah penunjukan pejabat sementara (Plt.) Direktur Utama untuk memastikan kelangsungan operasional harian BEI hingga pengangkatan direktur utama definitif. Pemerintah diperkirakan akan mengumumkan pengganti sementara sebelum pembukaan perdagangan pada awal pekan berikutnya.

Pengunduran diri pimpinan puncak BEI ini juga memicu reaksi dari pelaku pasar dan pemangku kebijakan. Beberapa pihak memandang keputusan tersebut sebagai refleksi tanggung jawab moral pimpinan bursa di tengah tantangan yang dihadapi pasar modal nasional.