Usaha Itu Tetap Diperlukan

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, ada seorang pria di Kairo yang siang dan malam hanya memikirkan satu hal: menjadi kaya. Apa yang dia pikirkan di siang hari, muncul pula dalam mimpinya di malam hari.

Suatu malam, dia bermimpi melihat seseorang muncul dari dalam air. Tubuh orang itu basah kuyup. Begitu membuka mulutnya, dia memuntahkan sebuah koin emas, lalu berkata kepada orang Kairo itu: “Apakah kamu ingin menjadi kaya? Ada ribuan bahkan puluhan ribu koin emas yang sedang menunggumu.”

Orang Kairo itu langsung gelisah dan bertanya dengan penuh semangat : “Di mana? Di mana itu? Tentu saja aku ingin kaya! Aku sudah memikirkannya sampai hampir gila!”

“Baik, jika kamu ingin menjadi kaya, pergilah ke Isfahan. Hanya di sanalah kamu bisa menemukan emas itu,” kata orang yang memuntahkan koin emas itu.

Setelah berkata demikian, sosok itu pun menghilang. Orang Kairo terbangun. Dia berguling ke kanan dan kiri, tak bisa tidur lagi.

“Ya Tuhan… Isfahan itu jauh sekali, di Persia,” pikirnya. “Haruskah aku pergi atau tidak? Jika pergi, aku harus menyeberangi Semenanjung Arab, melewati Teluk Persia, lalu mendaki Pegunungan Zagros untuk sampai ke kota di puncak gunung itu. Aku bisa saja mati di tengah jalan. Tapi jika aku tidak pergi, mungkin seumur hidup aku tak akan pernah menjadi kaya.”

Pergi belum tentu membuatnya kaya—siapa yang bisa sepenuhnya percaya pada mimpi? Namun tidak pergi, pasti akan meninggalkan penyesalan seumur hidup.

Setelah beberapa hari bergulat dengan batinnya, orang Kairo itu akhirnya memutuskan untuk mengambil risiko. Dia pun berangkat seorang diri.

Menempuh ribuan kilometer, melintasi gunung dan sungai, menghadapi berbagai kesulitan dan bahaya, akhirnya dia tiba dengan tubuh letih dan penuh debu di Isfahan, kota yang dikenal sebagai “kota di puncak gunung”.

Namun, kenyataan yang dia temui sungguh di luar dugaan.

Isfahan ternyata bukan negeri yang makmur. Bahkan, saat itu kota tersebut sedang dilanda perampokan. Semua barang berharga yang dibawa orang Kairo itu dirampas oleh para perampok.

Untungnya, pasukan penjaga setempat segera datang, mengusir para perampok, dan menyelamatkan orang Kairo yang sudah sekarat. Mereka memberinya makanan dan air hingga nyawanya tertolong.

“Dari penampilan dan logat bicaramu, kamu bukan orang sini,” kata komandan penjaga.

“Aku datang dari Kairo,” jawabnya lemah.

“Apa? Kairo?” Komandan itu terkejut. “Kamu datang dari kota yang begitu jauh dan begitu kaya, hanya untuk datang ke Isfahan yang tandus ini? Ada urusan apa?”

Orang Kairo itu menjawab jujur :  “Karena aku bermimpi mendapat petunjuk dari Tuhan. Katanya, jika aku datang ke sini, aku akan menemukan ribuan koin emas.”

Mendengar itu, sang komandan tertawa terbahak-bahak :  “Hahaha! Lucu sekali! Aku juga sering bermimpi. Dalam mimpiku, aku punya rumah di Kairo, di belakangnya ada tujuh pohon ara dan sebuah jam matahari. Di samping jam matahari itu ada kolam, dan di dasar kolamnya tersembunyi banyak koin emas. Omong kosong! Cepat pulang ke Kairo-mu. Jangan datang ke Isfahan hanya untuk membicarakan mimpi!”

Dengan pakaian compang-camping dan tangan kosong, orang Kairo itu kembali ke rumahnya. Para tetangga melihat keadaannya dan menertawakannya, mengira dia sudah gila.

Namun, hanya dalam beberapa hari, dia berubah menjadi orang terkaya di Kairo.

Sebab apa yang dikatakan sang komandan penjaga—tujuh pohon ara dan kolam air—ternyata benar-benar ada di halaman belakang rumahnya sendiri.

Dia menggali dasar kolam itu, dan menemukan ribuan koin emas.

Apakah perjalanan orang Kairo ke Isfahan itu sia-sia?

Tentu saja tidak.

Meski emas itu sejak awal berada di rumahnya sendiri, tanpa perjalanan itu, dia takkan pernah tahu.

Bukankah hidup kita juga seperti ini?

Kita sering mendengar orangtua berkata,: “Hidup ini sebenarnya singkat. Sekejap mata sudah berlalu.”

Namun, apakah karena suatu hari kita pasti akan mati, lalu sejak muda kita tidak perlu berusaha?

Apakah karena suatu hari kita akan memahami segalanya, maka kita boleh diam saja di “Kairo” dan tidak perlu pergi ke “Isfahan”?

Tanpa musim semi yang menumbuhkan tunas, tanpa musim panas yang membuat segalanya berkembang, bagaimana mungkin ada panen di musim gugur?

Tanpa perjalanan hidup yang penuh kerja keras dan pengalaman, bagaimana mungkin kita memperoleh pencerahan hidup?

Seperti halnya tanpa kata-kata sang komandan penjaga, bagaimana orang Kairo bisa tahu bahwa kekayaan itu ternyata berada di halaman belakang rumahnya sendiri?

Benar adanya pepatah: “Mencarinya di tengah ribuan orang, tiba-tiba saat menoleh ke belakang, dia berada di tempat yang remang oleh cahaya lampu.”

Suatu hari nanti, kita akan menyadari bahwa kebenaran sejatinya tidak jauh dari diri kita—dia selalu ada di sekitar kita. Dan kita pun akan tersadar bahwa apa yang dikejar seumur hidup ini, sering kali hanyalah sebuah bayangan semu.

Hikmah Cerita

Setiap peristiwa yang kita alami dalam hidup terus menumpuk menjadi pengalaman dan kebijaksanaan.

Cerita ini memberi Erabaru sebuah pelajaran mendalam: meskipun kebahagiaan sebenarnya berada sangat dekat dengan kita, tanpa pernah berjuang mencarinya, kita tidak akan benar-benar memahami rasanya bahagia.

Manusia justru karena pernah menangis, barulah mengerti betapa indah dan berharganya sebuah senyuman. (jhn/yn)

Sumber Internal : Zhang Youxia dan Xi Jinping Bertarung Selama Tiga Tahun, Militer Tiongkok Telah Lama Bergejolak

Baru-baru ini, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Pusat Liu Zhenli diselidiki. Sumber dari Beijing mengungkapkan bahwa sejak Kongres Nasional PKT ke-20, Zhang Youxia dan pemimpin PKT Xi Jinping telah terlibat dalam pertarungan terbuka dan terselubung selama lebih dari tiga tahun, yang juga menyangkut pertentangan nilai dan arah kebijakan.

EtIndonesia. Pada 24 Januari, jatuhnya Zhang Youxia dan Liu Zhenli diumumkan secara resmi, mengguncang perhatian di dalam dan luar negeri.

Pada 27 Januari, aktivis demokrasi Tiongkok Tang Baiqiao mengatakan bahwa Zhang Youxia merupakan jenderal tertinggi di militer Tiongkok yang memiliki pengalaman tempur nyata, sekaligus satu-satunya tokoh di internal partai yang berani secara langsung menantang Xi Jinping. Sumber dari Beijing menyebutkan bahwa perseteruan antara keduanya telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Sebelumnya, Xi Jinping dan Zhang Youxia pernah terlibat dalam pertarungan hidup-mati. Setelah Sidang Dua Parlemen tahun 2023, kasus korupsi di Pasukan Roket memicu gelombang besar pembersihan di militer, dan orang-orang yang disingkirkan sebagian besar adalah bawahan Zhang Youxia,” ujar penulis kolom The Epoch Times, Wang He. 

Zhang Youxia yang kini berusia 75 tahun sebelumnya merupakan sekutu militer penting Xi Jinping. Ia masuk Komisi Militer Pusat pada 2012. Pada Kongres PKT ke-20 tahun 2022, saat Xi menjabat untuk masa jabatan ketiga, Zhang tetap dipertahankan sebagai wakil ketua komisi militer meski telah berusia 72 tahun.

Sejak 2023, Xi Jinping melakukan pembersihan besar-besaran terhadap Pasukan Roket, yang menyebabkan dua  menteri pertahanan, Wei Fenghe dan Li Shangfu, tumbang. Di antaranya, Li Shangfu pernah menjadi bawahan Zhang Youxia saat bertugas di Departemen Perlengkapan Umum.

Sejumlah bawahan lain Zhang Youxia juga ikut terseret dalam penindakan besar-besaran tersebut.

8 November 2022, Xi Jinping bersama para anggota baru Komisi Militer Pusat (CMC), mengenakan seragam loreng, meninjau Pusat Komando Operasi Gabungan Komisi Militer Pusat.
Dari kiri ke kanan: He Weidong, Liu Zhenli, Xi Jinping, Zhang Shengmin, Li Shangfu, Zhang Youxia, dan Miao Hua.
(Tangkapan layar video)

“Xi Jinping melakukan penertiban atas nama antikorupsi terhadap para jenderal seperti Li Shangfu yang tergolong dalam faksi Zhang Youxia. Hal ini membuat Zhang Youxia menyadari bahwa target berikutnya kemungkinan adalah dirinya sendiri. Setelah Sidang Pleno Ketiga tahun 2024, karena Xi Jinping jatuh sakit, Zhang Youxia mengambil kesempatan untuk menyingkirkan Miao Hua dan He Weidong,” ujar peneliti Institut Riset Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi. 

He Weidong, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, dan Miao Hua, Kepala Departemen Pekerjaan Politik Komisi Militer Pusat, yang merupakan tangan kanan Xi di militer, diumumkan jatuh pada Oktober tahun lalu.

Sejak Xi Jinping berkuasa, 81 jenderal bintang empat telah dipromosikan, namun hingga kini 16 orang telah tumbang dan setidaknya 23 orang “menghilang”.

Wang He menambahkan: “Dalam periode tersebut, kendali militer Xi Jinping melemah, dan militer pada kenyataannya berada di tangan Zhang Youxia. Namun kali ini Xi Jinping berhasil melakukan serangan balik, Zhang Youxia menjadi tahanan, dan seluruh situasi pun berbalik arah.”

Sebelum April 2024, para mantan bawahan Zhang Youxia di militer mengalami pembersihan besar-besaran. Setelah itu, keadaan berbalik, dan tokoh-tokoh dari kubu Xi mulai satu per satu terseret masalah.

“Untuk saat ini, Xi Jinping memang tampak berada di atas angin, tetapi Zhang Youxia memiliki akar kekuatan yang sangat besar di dalam militer. Ada ribuan jenderal yang dipromosikan olehnya dan tidak mempercayai Xi Jinping. Dalam situasi sulit yang dihadapi Xi dan militer saat ini, untuk kembali sepenuhnya menguasai militer, tampaknya masih membutuhkan waktu yang sangat lama,” kata Blogger Military Intelligence Bureau, Zhou Ziding. 

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Li Yun dan Qiu Yue

Ditangkap Tengah Malam, Dibungkam Tanpa Saksi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kekuasaan Xi Jinping?


EtIndonesia.
Situasi politik dan militer di jantung kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam beberapa hari terakhir dilaporkan memasuki fase paling mencekam dalam beberapa dekade terakhir. Bocoran yang berasal dari kalangan internal PKT menggambarkan kondisi di Zhongnanhai bukan lagi sekadar “pembersihan politik”, melainkan menyerupai sebuah “pembantaian tengah malam” yang berlangsung senyap namun brutal.

Pembersihan yang dipimpin langsung oleh Xi Jinping terhadap jajaran militer tidak lagi terbatas pada penangkapan untuk penyelidikan, tetapi disebut telah meningkat ke metode yang jauh lebih ekstrem. Di saat bersamaan, dunia menghadapi tiga jalur krisis besar yang saling bertumpuk: gejolak internal militer PKT, pengumuman rencana militer besar Amerika Serikat, serta meningkatnya konfrontasi dengan Iran yang disebut telah menginjak “garis merah” Donald Trump. Banyak pengamat menilai ketiganya kini memasuki fase hitungan mundur secara serentak.

Penangkapan Tengah Malam: Zhang Youxia dan Liu Zhenli Dilumpuhkan

Pada 28 Januari 2026, seorang mantan perwira tinggi PKT yang telah lama meninggalkan lingkaran kekuasaan mengungkapkan informasi terbaru kepada analis politik Kanada, Sheng Xue. Menurut pengakuannya, Xi Jinping telah melancarkan operasi berskala penuh untuk mengamankan kendali mutlak atas militer.

Dua tokoh kunci militer, Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC)) dan Liu Zhenli (Kepala Staf Gabungan CMC), dilaporkan ditangkap secara terpisah di kediaman masing-masing pada larut malam hingga dini hari. Penangkapan dilakukan dengan sangat cepat dan tertutup.

Yang lebih mengejutkan, seluruh ajudan militer yang berada di sekitar kedua jenderal tersebut disebut telah “dibungkam”. Sumber internal menyebutkan tidak ada saksi hidup yang tersisa, meski klaim ini hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.

Penangkapan Massal di Komando Wilayah: Dua Perlawanan Berujung Tembakan

Setelah melumpuhkan dua tokoh puncak militer, Xi Jinping dilaporkan langsung menjalankan strategi “memecah dan menaklukkan” terhadap seluruh struktur komando wilayah.

  • Di Komando Wilayah Selatan, lebih dari 200 personel militer dilaporkan ditangkap dalam operasi beruntun.
  • Komando Wilayah Timur juga mengalami pembersihan besar-besaran.
  • Dalam dua insiden terpisah, sumber menyebutkan bahwa dua personel yang mencoba melakukan perlawanan di lokasi langsung ditembak mati.

Langkah ini mengejutkan banyak pihak, mengingat sebelumnya kendali nyata atas senjata dan kekuatan tempur diyakini berada di tangan Zhang Youxia. Pertanyaan besar pun muncul: apa modal Xi Jinping untuk mengambil langkah ekstrem ini?

Dua Lapis Perlindungan Xi Jinping: Dari Pengawal hingga “Dongchang Modern”

Mantan perwira PKT tersebut mengungkap bahwa Xi Jinping telah lama menyiapkan dua lapis sistem perlindungan:

Pertama, Biro Pengawal Pusat diperluas secara drastis, dari sekitar 1.000 personel menjadi sekitar 12.500 personel, menjadikannya kekuatan pengamanan elite terbesar dalam sejarah modern Tiongkok.

Kedua, Xi Jinping membentuk sebuah lembaga silang super yang oleh banyak pengamat disamakan dengan “Dongchang dan Xichang”—lembaga intelijen rahasia paling ditakuti pada era Dinasti Ming.

Lembaga ini secara formal dibungkus dengan nama Komisi Inspeksi Disiplin, namun memiliki kekuasaan melampaui struktur normal partai dan negara. Lembaga tersebut dikendalikan langsung oleh Cai Qi, orang kepercayaan Xi Jinping.

Keistimewaan lembaga ini terletak pada strukturnya yang berlapis hingga ke tingkat paling bawah, serta tidak bertanggung jawab kepada sekretaris partai daerah maupun Komite Tetap Politbiro, melainkan langsung kepada Xi Jinping.

Diperkirakan, jaringan ini mencakup 200.000 hingga 350.000 personel di seluruh negeri, dengan tugas utama menjalankan operasi kotor, pengawasan internal, dan eliminasi target politik.

Militer Tanpa Peluru: Sistem Lama yang Dimanfaatkan

Sumber tersebut juga mengungkap fakta penting di tubuh militer PKT: sejak lama berlaku prinsip pemisahan senjata dan amunisi. Prajurit umumnya tidak memegang peluru, bahkan senjata penjaga pos sering kali dalam kondisi tidak terisi.

Sistem ini, yang awalnya dirancang untuk mencegah kudeta, kini justru menjadi faktor kunci yang memudahkan Xi Jinping melakukan pembersihan cepat tanpa perlawanan bersenjata luas.

Perubahan Arah Propaganda: PLA Daily “Kehabisan Napas”

Jurnalis senior Gao Yu mencermati perubahan tajam dalam pemberitaan media militer resmi. Pada 25 Januari 2026, PLA Daily menerbitkan tajuk rencana bernada sangat keras, menuduh Zhang Youxia dan Liu Zhenli memiliki lima masalah politik serius.

Namun keesokan harinya, 26 Januari, nada pemberitaan tiba-tiba berubah. Media resmi berhenti menggempur individu dan justru memuat ulasan sejarah yang memuji kampanye antikorupsi secara umum, tanpa lagi menyebut satu pun “harimau militer”.

Mulai 27 Januari, PLA Daily sepenuhnya kembali ke pemberitaan rutin dan menghapus total penyebutan nama Zhang Youxia dan Liu Zhenli.

Menurut Gao Yu, propaganda ini jelas “kehilangan tenaga di tengah jalan”. Dia mempertanyakan: jika kesalahan kedua jenderal tersebut benar-benar tak terbantahkan, mengapa media resmi justru mundur sebelum menghantam hingga tuntas?

Langkah Judi Mati-matian Xi Jinping

Pemimpin redaksi Zonglan China, Chen Kuide, menilai penangkapan Zhang Youxia sebagai sebuah judi politik hidup-mati dari Xi Jinping. Banyak aturan tak tertulis dilanggar, dan yang paling mencolok adalah tidak adanya pernyataan dukungan terbuka dari para kepala lima komando wilayah militer.

Hal ini, menurut Chen, menjadi indikasi kuat bahwa berbagai faksi masih saling mengunci kekuatan dan situasi sama sekali belum stabil. Ia menegaskan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan siapa yang akan menang.

Dia juga memperingatkan, jika pada titik ini muncul satu kekuatan yang secara terbuka menggalang perlawanan terhadap Xi Jinping, maka keruntuhan bisa terjadi dengan cepat dan tak terkendali.

Awal dari Sesuatu yang Lebih Besar?

Banyak pengamat melihat fase ini sebagai titik paling berbahaya. Jika Xi Jinping benar-benar bergerak menuju pembersihan ala Stalin, maka kejatuhan Zhang Youxia bisa jadi bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian panjang teror internal.

Di dunia maya, mulai beredar seruan kepada prajurit PKT: “Ini baru permulaan. Jika tidak bertindak sekarang, maka hanya tinggal menunggu kematian.”

Sejarah menunjukkan, ketika setiap orang merasa dirinya bisa menjadi korban berikutnya, yang pertama kali runtuh biasanya bukan musuh di luar negeri, melainkan sistem internal itu sendiri.

Pesawat Jatuh di Kolombia, Semuanya Tewas Termasuk Anggota DPR dan Kandidat Pemilu

EtIndonesia. Pada Rabu (28 Januari), sebuah pesawat penumpang yang membawa 15 orang dan dijadwalkan terbang menuju kota Ocaña, mengalami kecelakaan udara di wilayah timur laut Kolombia. Maskapai milik negara Satena menyatakan bahwa seluruh penumpang dan awak pesawat meninggal dunia, termasuk seorang anggota parlemen yang masih aktif.

Satena menjelaskan bahwa pesawat Beechcraft 1900 bermesin dua baling-baling, lepas landas sebelum tengah hari waktu setempat dari Cúcuta, kota yang berada dekat perbatasan Venezuela. Pesawat tersebut dijadwalkan menempuh penerbangan singkat sekitar 23 menit menuju Ocaña, namun nahas mengalami kecelakaan di tengah perjalanan.

Di dalam pesawat terdapat 13 penumpang dan 2 awak. Berdasarkan daftar penumpang yang dirilis maskapai, anggota parlemen Diogenes Quintero beserta timnya berada di dalam pesawat, demikian pula Carlos Salcedo, kandidat yang dijadwalkan maju dalam pemilihan legislatif pada Maret mendatang.

Seorang pejabat otoritas penerbangan sipil menyatakan, “Tidak ada yang selamat.”

Rekaman video yang dirilis media lokal memperlihatkan pesawat mengalami kerusakan parah, dengan badan pesawat terbelah jelas.

Satena belum mengungkapkan penyebab kecelakaan dan hanya menyebutkan bahwa suar darurat pesawat tidak sempat aktif. Pemerintah Kolombia telah mengerahkan angkatan udara untuk membantu penanganan di lokasi kejadian.

Lokasi jatuhnya pesawat berada di wilayah pegunungan, yang secara luas ditanami daun koka, bahan baku pembuatan kokain. Daerah ini juga dikenal sebagai basis aktivitas kelompok bersenjata ilegal, seperti Tentara Pembebasan Nasional (ELN) serta sisa-sisa kelompok pemberontak FARC. (Hui)

Sisakan Satu Mata untuk Melihat Diri Sendiri

EtIndonesia. Dalam sejarah Jepang, pernah muncul dua pendekar pedang besar. Yang pertama adalah Miyamoto Musashi, dan yang kedua adalah Yagyū Matajūrō. Yagyū Matajūrō merupakan murid dari Miyamoto Musashi.

Sejak muda, Yagyū Matajūrō dikenal sebagai anak yang suka bermain-main dan tidak mau serius menerima ajaran ayahnya untuk berlatih pedang. Karena sikapnya itu, dia akhirnya diusir dari rumah oleh ayahnya sendiri.

Peristiwa tersebut menjadi pukulan besar baginya. Yagyū pun bersumpah dalam hati bahwa dia harus menjadi seorang pendekar pedang hebat. Dia lalu pergi seorang diri ke sebuah pegunungan terpencil untuk menemui pendekar paling termasyhur pada masa itu, Miyamoto Musashi, dengan maksud memohon agar diterima sebagai murid.

Setelah bertemu Musashi, Yagyū dengan penuh semangat bertanya: “Jika aku belajar dengan sungguh-sungguh, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pendekar pedang kelas satu?”

Musashi menjawab singkat: “Seluruh sisa hidupmu.”

“Aku tidak bisa menunggu selama itu,” kata Yagyū semakin gelisah. “Selama Anda bersedia mengajariku, aku rela menjalani penderitaan apa pun demi mencapai tujuan itu. Bahkan aku bersedia menjadi pelayanmu dan selalu mengikutimu. Kalau begitu, berapa lama waktu yang dibutuhkan?”

Musashi berpikir sejenak lalu berkata: “Kalau begitu… mungkin sepuluh tahun.”

Yagyū menjadi semakin cemas: “Ah! Ayahku sudah lanjut usia. Aku ingin beliau melihatku menjadi pendekar pedang kelas satu sebelum beliau meninggal. Sepuluh tahun terlalu lama. Kalau aku berlatih dua kali lebih keras, berapa lama waktu yang diperlukan?”

Musashi menjawab dengan tenang : “Hmm… mungkin tiga puluh tahun.”

Yagyū hampir menangis: “Kalau aku mengorbankan segalanya, berlatih siang dan malam tanpa henti, berapa lama waktu yang dibutuhkan?”

“Oh, kalau begitu mungkin tujuh puluh tahun. Atau bahkan seumur hidup ini kamu tidak akan pernah menjadi pendekar pedang sejati,” kata Musashi perlahan.

Yagyū pun diliputi kebingungan besar dalam hatinya: “Bagaimana mungkin begitu? Mengapa semakin aku berusaha keras, justru semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pendekar pedang kelas satu?”

Musashi menjawab dengan nada tenang: “Karena kedua matamu hanya tertuju pada sosok ‘pendekar pedang kelas satu’. Lalu, dengan mata apa kamu melihat dirimu sendiri?”

Dia melanjutkan : “Syarat utama untuk menjadi pendekar pedang kelas satu adalah: selalu sisakan satu mata untuk melihat diri sendiri.”

Bagi Yagyū, sosok “pendekar pedang kelas satu” adalah cita-cita tertinggi. Lalu, apa arti ‘pendekar pedang kelas satu’ bagimu?

Apakah itu kekuasaan?
Apakah itu kekayaan?
Ataukah tujuan dan idealisme tertentu?
Atau melayani masyarakat dan mewujudkan kepedulian tertinggi terhadap sesama?

Atau… sesuatu yang lain?

Apakah kamu benar-benar tahu apa yang sedang kamu kejar dalam hidup ini?

Mungkin, sekaranglah waktunya menyisakan satu mata untuk melihat diri sendiri.

Hikmah Cerita

Tokoh Yagyū Matajūrō dalam cerita ini—terus terang—redaksi Erabaru tidak dapat memastikan apakah benar-benar ada sosok dengan nama tersebut dalam sejarah Jepang. Namun, terlepas dari apakah tokohnya nyata atau tidak, dan apakah kisah ini benar-benar terjadi atau tidak, hakikat cerita ini tetap memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang tujuan hidup dan makna kehidupan.

Ungkapan “sisakan satu mata untuk melihat diri sendiri”, sebagaimana pertanyaan penulis di akhir cerita—apakah itu kekuasaan, uang, tujuan, idealisme, atau pelayanan kepada masyarakat—mengajak kita melihat sisi lain dari kehidupan.

Maknanya juga mengingatkan kita agar:

  • Tidak hanya terpaku pada kelebihan orang lain hingga merasa diri sendiri tidak berguna.
  • Tidak sibuk mengkritik kekurangan orang lain, sementara menutup mata terhadap kekurangan diri sendiri.

Dalam pandangan Erabaru, sosok “pendekar pedang kelas satu” bukan hanya satu hal, melainkan perpaduan dari:

  • Melayani masyarakat
  • Peduli terhadap sesama
  • Membangun media yang bermakna
  • Sekaligus mampu menciptakan keberlanjutan ekonomi

Keempat hal tersebut bisa berjalan berdampingan.

Lalu, sahabat pembaca, bagaimana dengan Anda? Menurut Anda, tujuan hidup seperti apa yang pantas disebut sebagai “pendekar pedang kelas satu” dalam hati Anda sendiri?(jhn/yn)

Peta Perang Mulai Terbuka: Dari USS Lincoln hingga Bunker Rudal Iran

EtIndonesia. Seiring dengan kedatangan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah, ketegangan antara Washington dan Teheran terus meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini menandai fase baru dalam konfrontasi strategis antara kedua negara, di mana unjuk kekuatan militer kini dilakukan secara terbuka dan masif.

Sebagai respons terhadap pengerahan armada Amerika, Iran menunjukkan langkah balasan dengan memunculkan kapal induk drone Shahid Bagheri di perairan dekat Pelabuhan Abbas, wilayah strategis di Teluk Persia. Kapal tersebut terdeteksi beroperasi di area yang berdekatan dengan zona patroli pesawat pengintai strategis Amerika MQ-4C Triton (Poseidon).

Kapal Induk Drone Iran: Besar, Namun Rentan

Perlu dicatat, Shahid Bagheri sejatinya bukan kapal perang murni. Kapal ini merupakan hasil modifikasi dari kapal kontainer sipil, yang secara resmi mulai bertugas pada tahun 2025. Meski telah dimodifikasi untuk meluncurkan drone, mengoperasikan helikopter, serta membawa rudal anti-kapal buatan dalam negeri Iran jenis Noor, kemampuan tempurnya dinilai sangat terbatas jika harus berhadapan langsung dengan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Platform sipil tersebut hanya memiliki perlindungan minimal, menggunakan mesin diesel dengan kecepatan maksimum sekitar 20 knot. Meski bobot benamannya besar—diperkirakan lebih dari 40.000 ton—ukuran raksasa dengan pertahanan lemah justru menjadikannya sasaran empuk bagi serangan udara dan laut modern AS.

Propaganda Militer Iran dan Simulasi Serangan Kamikaze Drone

Namun, pandangan Teheran jelas berbeda. Dalam beberapa hari terakhir, Garda Revolusi Iran (IRGC) merilis video propaganda yang menampilkan citra udara sebuah kapal induk Amerika Serikat. Rekaman tersebut sebenarnya diambil pada tahun 2019, ketika drone Iran sempat memantau USS Dwight D. Eisenhower.

Dalam cuplikan lanjutan, ditampilkan simulasi serangan berulang menggunakan drone bunuh diri terhadap kapal induk AS. Narasi ini mengingatkan banyak analis militer pada taktik kamikaze Jepang di era Perang Dunia II—sebuah upaya yang secara historis gagal mengubah keseimbangan kekuatan laut.

Secara realistis, skenario tersebut dipandang sebagai ilusi strategis. Angkatan Laut AS memiliki pengalaman tempur luas di kawasan ini, khususnya di Laut Merah sepanjang tahun 2025, ketika serangan drone dan rudal balistik buatan Iran yang diluncurkan kelompok Houthi Yaman berhasil dicegat sepenuhnya oleh sistem pertahanan Amerika tanpa satu pun kapal perang mengalami kerusakan.

Bunker Rudal Pantai Iran: Ancaman Nyata atau Sekadar Gertakan?

Selain itu, Iran juga merilis video lain yang memperlihatkan bunker terowongan bawah tanah berisi kendaraan peluncur rudal anti-kapal. Kendaraan-kendaraan ini dirancang untuk dikerahkan secara mobile ke garis pantai Iran guna menyerang kapal Amerika maupun target pesisir lainnya. Dari tayangan tersebut, tampak sedikitnya 20 unit peluncur.

Namun, para analis menilai kekuatan ini tetap tidak memadai. Kapal induk seperti USS Abraham Lincoln umumnya beroperasi di luar radius 500 kilometer dari garis pantai Iran, sementara jangkauan rudal Iran tidak mencukupi. Lebih jauh, Iran juga belum memiliki kapabilitas pengintaian udara real-time yang mampu melacak posisi armada AS secara presisi dan berkelanjutan.

Jika Amerika memutuskan menyerang, serangan hampir pasti bersifat pre-emptive. Lokasi bunker rudal diyakini telah terpetakan, dan AS berpotensi menggunakan bom penghancur bunker (bunker-buster) untuk melumpuhkan seluruh sistem sebelum sempat dikerahkan.

Ultimatum Trump: “Waktu Iran Hampir Habis”

Pada 28 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengunggah pernyataan keras di media sosial. Dia menyebut bahwa armada besar AS sedang bergerak menuju Iran, dipimpin oleh USS Abraham Lincoln. Trump menegaskan bahwa operasi ini akan jauh lebih besar dibandingkan aksi militer terhadap Venezuela.

Dia menyatakan bahwa waktu bagi Iran hampir habis dan kembali menekan Teheran agar segera mencapai kesepakatan. Jika tidak, Amerika akan melanjutkan dengan apa yang dia sebut sebagai “Operasi Midnight Hammer”, yang bertujuan menghancurkan Iran secara menyeluruh, dengan gelombang serangan lanjutan yang jauh lebih dahsyat. Pernyataan ini dipandang sebagai ultimatum terakhir bagi Iran.

Pengerahan Besar-besaran Militer AS

Dalam beberapa hari terakhir, peta pengerahan militer AS menunjukkan aktivitas udara yang sangat intensif. Pesawat angkut militer terpantau terbang dari Eropa menuju Siprus, Qatar, dan kawasan Timur Tengah, sementara jet tempur mulai terkonsentrasi di Qatar dan Yordania.

Pergerakan USS Abraham Lincoln dikonfirmasi melalui pelacakan sebuah CMV-22 Osprey yang terlihat beroperasi di laut dekat pangkalan udara pesisir Oman. Pesawat tersebut diduga menjalankan misi logistik penting, menandakan bahwa kapal induk kini beroperasi di perairan lepas Oman, sekitar 700–800 kilometer dari daratan Iran.

Perang Elektronik dan Pertahanan Udara

Amerika juga memperkuat dimensi perang elektronik. Pesawat EA-37B Compass Call generasi terbaru dilaporkan tiba di Jerman. Meski secara resmi disebut tidak terkait langsung dengan Timur Tengah, hampir seluruh pengerahan udara AS ke kawasan ini selalu melalui Jerman atau Inggris.

EA-37B—hasil modifikasi jet Gulfstream G550—memiliki kemampuan menekan radar, melumpuhkan komunikasi, mengganggu GPS, dan merusak sistem informasi musuh. Unit pertama diserahkan pada 2024, dengan rencana total 10 unit, dan Italia menjadi pelanggan internasional pertama.

Sementara itu, citra satelit terbaru menunjukkan pengerahan sistem Patriot di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, lengkap dengan radar AN/MPQ-65 dan lima peluncur. Sistem THAAD juga terdeteksi di Gurun Negev, Israel, dengan enam peluncur dan radar AN/TPY-2.

Dalam konflik 12 hari pada 2025, Iran pernah meluncurkan lebih dari 20 rudal balistik ke Al Udeid, namun seluruhnya berhasil dicegat. Patriot dan THAAD juga telah berulang kali mencegat senjata hipersonik Iran.

Peran Inggris dan Sekutu Regional

Inggris turut menunjukkan pergerakan. Pada 26 Januari 2026, sebuah pesawat angkut A400M RAF terbang dari Siprus ke Qatar. Selain itu, delapan jet tempur Tornado Inggris telah tiba di Al Udeid atas undangan pemerintah Qatar. London diperkirakan tidak ikut menyerang, melainkan fokus pada pertahanan udara dan pencegatan rudal.

Media Israel melaporkan bahwa jika serangan dimulai, Inggris, Uni Emirat Arab, Yordania, dan negara lain akan membantu mencegat serangan balasan Iran.

Diplomasi Buntu, Ancaman Perang Terbuka

Meski komunikasi diplomatik masih berlangsung melalui Oman dan utusan khusus Trump, Witkoff, laporan The New York Times menyebut Iran menolak seluruh tuntutan AS—mulai dari penghentian pengayaan uranium, pembatasan rudal, hingga dukungan terhadap proksi regional.

CNN melaporkan bahwa Trump kini serius mempertimbangkan serangan besar, termasuk serangan presisi terhadap pimpinan rezim, pejabat keamanan, serta fasilitas nuklir dan institusi pemerintahan utama.

Pada 28 Januari, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan di Kongres bahwa AS menempatkan sekitar 30.000–40.000 personel di 8–9 pangkalan regional. Dia mengakui bahwa skenario pasca-jatuhnya rezim Iran jauh lebih kompleks dibanding Venezuela.

Menanti Detik Penentuan

Dengan kekuatan ofensif dan defensif yang telah berada di posisi siap tempur, serta retorika politik yang kian keras, dunia kini berada di ambang eskalasi besar. Sejumlah media Barat bahkan menyebut kemungkinan latihan militer besar atau blokade laut penuh terhadap Iran dalam waktu dekat.

Apakah rudal Amerika akan benar-benar menghantam Iran? Akankah Timur Tengah kembali diguncang perang besar?

Dunia kini hanya bisa menunggu dan menyaksikan.

11 Anggota Jaringan Scam Online di Myanmar Utara yang Bertanggung Jawab atas Kematian 14 Warga Tiongkok Telah Dieksekusi

Otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 29 Januari mengumumkan bahwa 11 penjahat yang terlibat dalam kasus kelompok penipuan telekomunikasi keluarga Ming di Myanmar Utara telah dieksekusi mati. Kelompok kriminal ini didakwa atas berbagai kejahatan, termasuk pembunuhan berencana dan penganiayaan berat, yang mengakibatkan 14 warga Tiongkok tewas dan banyak lainnya luka-luka.

EtIndonesia. Pengadilan Menengah Kota Wenzhou, Provinsi Zhejiang, pada 29 Januari menyatakan bahwa setelah menerima putusan pidana dan perintah eksekusi mati dari Mahkamah Agung Tiongkok, pengadilan tersebut telah menjatuhkan dan melaksanakan hukuman mati terhadap 11 terpidana, termasuk Ming Guoping, Ming Zhenzhen, Zhou Weichang, Wu Hongming, Wu Senlong, dan Fu Yubin, serta lainnya.

Menurut pengumuman resmi, pada 29 September 2025 Pengadilan Menengah Kota Wenzhou telah menjatuhkan hukuman mati kepada 11 orang dari kelompok kriminal keluarga Ming atas dakwaan pembunuhan berencana, penganiayaan, penahanan ilegal, penipuan, pembukaan kasino ilegal, dan kejahatan lainnya, serta menjatuhkan hukuman tambahan sesuai hukum.

Setelah putusan tingkat pertama, para terdakwa seperti Ming Guoping dan Ming Zhenzhen mengajukan banding. Namun pada 25 November 2025, Pengadilan Tinggi Provinsi Zhejiang memutuskan menolak banding dan menguatkan putusan semula.

Setelah proses peninjauan, Mahkamah Agung Tiongkok memastikan bahwa kelompok kriminal keluarga Ming terbukti melakukan lebih dari sepuluh jenis kejahatan, termasuk pembunuhan berencana, penganiayaan, penahanan ilegal, penipuan, dan pembukaan kasino ilegal, serta menyetujui eksekusi mati terhadap 11 orang tersebut.

Keluarga Ming di Myanmar Utara merupakan salah satu dari “empat keluarga besar” (juga disebut lima keluarga besar) jaringan penipuan telekomunikasi di wilayah tersebut. Keluarga besar lainnya adalah keluarga Bai Suocheng, Wei Chaoren, Liu Zhengxiang, dan Liu Guoxi. Kelompok-kelompok ini dituduh memiliki keterkaitan lintas sektor militer, politik, dan bisnis di Myanmar, serta dalam jangka panjang menguasai industri berkeuntungan besar seperti pertambangan dan properti di wilayah Kokang, sekaligus terlibat dalam narkoba, penipuan telekomunikasi, dan perjudian ilegal.

Menurut laporan sebelumnya, di antara empat keluarga besar tersebut, keluarga Bai merupakan kelompok kriminal paling kuat di wilayah setempat, memiliki pasukan bersenjata pribadi dan kemampuan untuk menyusup ke politik lokal, serta secara langsung mengendalikan sejumlah besar kompleks penipuan telekomunikasi di wilayah Kokang.

Pada Januari tahun lalu, setelah kasus aktor Tiongkok Wang Xing yang ditipu dan dibawa ke Myanmar terungkap, keberadaan banyak kamp penipuan di Myanmar, Kamboja, dan negara lainnya mulai terekspos ke publik. Sejumlah sumber mengungkapkan bahwa kelompok penipuan ini berada di bawah perlindungan aparat resmi PKT.

Seorang pengusaha Tiongkok bernama Xing Weilin, yang berhasil melarikan diri dari kamp penipuan di Myanmar, pernah secara terbuka mengungkapkan bahwa dalang di balik kamp-kamp penipuan tersebut semuanya adalah orang Tiongkok, dan yang ditangkap selama ini hanyalah para pelaku tingkat bawah.(hui)

Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah Konstitusional Korsel Mantan Presiden Yoon Suk-yeol dan Istrinya Sama-sama Dijatuhi Hukuman Penjara

EtIndonesia. Istri mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol, pada Rabu (28 Januari), Kim Keon-hee, dijatuhi hukuman penjara 1 tahun 8 bulan karena terlibat kasus korupsi dan suap, serta diperintahkan mengembalikan hasil kejahatan sekitar US$9.000.

Sementara itu, Yoon Suk-yeol sebelumnya telah dijatuhi hukuman 5 tahun penjara pada tingkat pertama atas tuduhan menghalangi pelaksanaan tugas khusus. Peristiwa ini mencetak preseden pertama dalam sejarah konstitusional Korea Selatan, di mana pasangan mantan presiden dijatuhi hukuman pidana secara bersamaan.

Pada hari Rabu, Pengadilan Distrik Pusat Seoul menjatuhkan vonis tingkat pertama dalam kasus korupsi dan suap yang melibatkan mantan ibu negara Kim Keon-hee. 

Pengadilan menyatakan bahwa Kim menerima tas Chanel dan kalung berlian dari pejabat Gereja Unifikasi sebagai imbalan atas keuntungan politik, yang melanggar Undang-Undang Pemberatan Hukuman untuk Kejahatan Tertentu. Ia dijatuhi hukuman penjara 1 tahun 8 bulan dan diwajibkan mengembalikan uang hasil kejahatan sebesar 12,815 juta won, setara sekitar US$9.000.

Dalam pembacaan putusan, pengadilan menyatakan: “Ibu negara memiliki hubungan yang sangat dekat dengan presiden dan mampu memberikan pengaruh yang signifikan, serta merupakan figur simbolik yang mewakili negara bersama presiden.”

Namun Kim Keon-hee justru memanfaatkan posisi tersebut untuk “mencari keuntungan pribadi”.

Terkait dugaan keterlibatan Kim dalam kasus manipulasi harga saham Deutsche Motors serta tuduhan menerima layanan survei opini publik secara ilegal, pengadilan memutuskan tidak bersalah karena kurangnya bukti.

Seorang warga Korea Selatan berusia 70 tahun, Kim Tae-gyun, mengatakan: “Saya pikir putusan ini terlalu ringan. Sebagai ibu negara, ia telah mengecewakan seluruh bangsa dan membawa negara ke titik ini, sehingga menurunkan martabat Republik Korea. Berdasarkan hal tersebut, menurut saya hukuman ini terlalu ringan.”

Sementara itu, tim pengacara Kim Keon-hee menilai hukuman 20 bulan penjara atas dakwaan suap “relatif terlalu berat” dan menyatakan akan mendiskusikan kemungkinan banding.

Pengacara Kim Keon-hee, Choi Ji-woo, mengatakan: “Ini adalah hukuman yang terlalu keras dan bertujuan menciptakan kesan negatif di mata publik. Selain itu, karena sebagian besar dakwaan diputuskan tidak bersalah, kami menilai hukuman ini lebih berat dibanding kasus lain, terutama karena status terdakwa sebagai ibu negara.”

Sejak Agustus 2025, Kim Keon-hee telah ditahan selama proses penyelidikan karena dikhawatirkan akan menghilangkan barang bukti. Selama masa pemerintahan suaminya, Yoon Suk-yeol, ia terseret dalam berbagai skandal dan menjadi sasaran serangan pihak oposisi.

Yoon Suk-yeol sendiri sebelumnya telah dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dalam kasus darurat militer, dan kini masih menghadapi persidangan lain atas dugaan kejahatan makar, yang ancaman hukumannya bisa berupa hukuman mati atau penjara seumur hidup. Putusan kasus tersebut diperkirakan akan diumumkan dalam waktu tiga minggu.

Putusan kali ini menjadikan Kim Keon-hee dan Yoon Suk-yeol sebagai pasangan mantan presiden pertama dalam sejarah konstitusional Korea Selatan yang sama-sama dipenjara akibat vonis pidana. (Hui)

Korban Tewas Akibat Badai Musim Dingin di Amerika Serikat Menjadi 45 Jiwa,  Seorang Ibu di Texas Kehilangan Tiga Putranya

EtIndonesia. Badai musim dingin mematikan yang baru-baru ini melanda hampir seluruh Amerika Serikat telah menyebabkan sedikitnya 45 orang tewas. Di Texas terjadi sebuah tragedi yang memilukan: seorang ibu harus menyaksikan tiga putranya yang masih kecil jatuh ke dalam air es dan meninggal dunia. Demi menyelamatkan anak-anaknya, sang ibu sendiri nyaris kehilangan nyawa. Sungguh menyayat hati.

 Sementara itu, badan meteorologi memperingatkan bahwa gelombang udara dingin kuat lainnya akan mulai bergerak pada Jumat dan Sabtu pekan ini, dari wilayah selatan Amerika Serikat ke arah utara, membawa suhu ekstrem yang memecahkan rekor serta hujan es ke kawasan New England.

Badai musim dingin ini membentang dari negara bagian Arkansas hingga New England, meliputi jarak lebih dari 1.300 mil, membawa salju tebal, sementara banyak wilayah selatan tertutup lapisan es yang sangat berbahaya. Suhu dingin ekstrem masih belum mereda.

Pejabat di berbagai negara bagian melaporkan, sedikitnya 45 orang meninggal akibat suhu beku, pemadaman listrik, dan kondisi jalan yang berbahaya. Pada Senin (26 Januari), tiga bersaudara yang berusia 6, 8, dan 9 tahun tenggelam setelah jatuh ke kolam pribadi yang membeku di dekat Bonham, Texas.

“Saya berlari di atas es sejauh yang saya bisa menuju mereka, dan akhirnya saya sendiri jatuh ke dalam air. Airnya sangat dingin hingga tubuh saya langsung mengalami syok, tetapi saya tetap berusaha bergerak maju. Saya berhasil memegang salah satu anak, mencoba meletakkannya di atas es, tetapi setiap kali saya meletakkannya, es itu pecah. Saya terus mencoba menyelamatkan satu per satu anak saya, tetapi di sana hanya ada saya seorang. Sendirian, saya sama sekali tidak mampu menyelamatkan semuanya,” kata ibu ketiga anak tersebut, Cheyenne Hangaman dikutip NTDTV.com, Kamis (29/1/2026).

Hangaman menambahkan, akhirnya ada seorang pria yang melemparkan tali kepadanya sehingga ia bisa diselamatkan.

Cheyenne Hangaman berkata: “Saat itu saya tidak bisa bernapas dan tidak bisa bergerak. Saya tahu anak-anak saya sudah tiada, jadi saya hanya bisa berjuang untuk menyelamatkan diri sendiri.”

 “Kita selalu berpikir hal seperti ini tidak akan terjadi pada kita. Padahal saat itu saya ada di sana, jarak saya dengan mereka sangat dekat,” tambahnya. 

Hingga Selasa (27 Januari) malam, pemadaman listrik masih meluas, dengan lebih dari 448.000 rumah tangga dan pelaku usaha di seluruh Amerika Serikat masih tanpa listrik.

Para ahli meteorologi juga memantau kemungkinan terbentuknya “siklon Bom” di lepas pantai Carolina pada Jumat malam hingga Sabtu (30–31 Januari), yang diperkirakan akan membawa salju lebat dan angin kencang.

“Kami sangat yakin bahwa sebuah sistem tekanan rendah akan terbentuk di sepanjang pantai Carolina. Ketika sistem ini datang, Carolina akan kembali mengalami curah hujan musim dingin yang signifikan. Namun kali ini, yang terutama kami bicarakan adalah salju yang lebih banyak,” kata Wakil Presiden Meteorologi sebuah perusahaan cuaca, James Berlinger. 

Wilayah Carolina, Georgia bagian utara, dan Virginia bagian selatan diperkirakan akan menerima setidaknya 6 inci salju. Setelah itu, badai ini kemungkinan bergerak ke utara, mengikuti koridor I-95 dari Washington hingga Boston.

James Berlinger menambahkan: “Cukup banyak model cuaca yang juga menunjukkan bahwa sistem tekanan rendah ini, yaitu badai musim dingin tersebut, akan bergerak ke arah laut. Dalam skenario ini, wilayah dengan konsentrasi penduduk utama mungkin tidak terdampak, tetapi daerah pesisir masih berpotensi terkena dampaknya, termasuk hantaman gelombang laut.”

Ahli meteorologi memperkirakan, gelombang dingin Arktik di wilayah Midwest dan Timur Amerika Serikat akan berlanjut hingga pertengahan Februari. Bahkan jika terjadi pemanasan sementara, suhunya tetap berada di bawah rata-rata normal. (Hui)

Reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, melaporkan dari Amerika Serikat.

Program PEGAS di Jember Sukses Perbaiki Status Gizi Balita Stunting, 90,12 Persen Anak Alami Kemajuan Signifikan

JEMBER – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Jember menunjukkan hasil menggembirakan. Melalui Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS), pemerintah daerah berhasil mendorong perbaikan status gizi pada 90,12 persen balita peserta. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa intervensi gizi yang terencana, terpantau, dan kolaboratif mampu memberikan dampak nyata dalam mendukung target zero stunting.

Program PEGAS yang dilaksanakan selama tiga bulan mencatat penurunan angka stunting sebesar 16,05 persen dari total 81 balita sasaran. Selain itu, sebanyak 74,07 persen balita mengalami peningkatan status gizi secara signifikan, sementara 9,9 persen lainnya masih memerlukan pendampingan lanjutan untuk mencapai kondisi gizi optimal. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang terlibat dalam program mampu merespons intervensi secara positif.

Program ini mulai dijalankan pada Agustus 2025 dengan melibatkan 18 Puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Jember. Sasaran PEGAS difokuskan pada balita usia 0–57 bulan yang mengalami stunting tanpa disertai kelainan bawaan maupun infeksi kronis, seperti tuberkulosis. Seluruh peserta telah melalui proses skrining ketat di tingkat Puskesmas guna memastikan intervensi yang diberikan tepat sasaran dan aman.

Intervensi utama dalam Program PEGAS berupa pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) secara gratis, pemantauan pertumbuhan setiap dua minggu, serta pendampingan klinis oleh tim Dokter Spesialis Anak (DSA). Program ini didukung oleh tiga dokter spesialis anak dari rumah sakit daerah, yakni dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A (RSD dr. Soebandi), dr. Natalia Kristianti Nugraheni, Sp.A (RSD Balung), dan dr. Mega Nur Purbo, Sp.A (RSD Kalisat).

PKMK yang digunakan dalam PEGAS telah memenuhi standar Peraturan BPOM Nomor 24 Tahun 2020. Produk ini memiliki spesifikasi unggul, antara lain densitas energi sebesar 1,01 kkal/ml dan Protein Energy Ratio (PER) 10,4 persen. Secara klinis, PKMK tersebut telah terbukti mampu meningkatkan berat badan dan tinggi badan anak setelah tiga bulan pemakaian, khususnya pada populasi anak Indonesia dengan kondisi malnutrisi, dan telah dipublikasikan dalam jurnal internasional.

Untuk menjamin efektivitas intervensi, pelaksanaan PEGAS dilengkapi dengan sistem pemantauan rutin setiap dua minggu. Pengukuran antropometri dilakukan secara berkala, sementara pendampingan klinis diperkuat melalui metode telemedicine. Melalui mekanisme ini, tenaga kesehatan di Puskesmas dapat berkonsultasi secara daring dengan tim DSA lintas rumah sakit daerah, sehingga penanganan kasus stunting, termasuk severe stunting, dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.

Salah satu anggota tim DSA, dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A, menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan multidimensional yang tidak dapat ditangani dengan satu pendekatan saja.
“Stunting memiliki faktor risiko yang beragam. Penanganannya tidak hanya berfokus pada asupan gizi, tetapi juga mencakup aspek kesehatan, lingkungan, dan sosial-ekonomi keluarga. Deteksi dini sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi kunci utama pencegahan dan perbaikan stunting,” ujarnya.

Pengalaman pelaksanaan PEGAS menunjukkan bahwa pemberian PKMK yang terpersonalisasi dan didukung pendampingan intensif memberikan hasil optimal. PKMK diberikan secara terstruktur selama tiga bulan dengan penyesuaian dosis dan frekuensi berdasarkan kondisi serta toleransi masing-masing anak. Strategi ini memastikan kebutuhan gizi terpenuhi tanpa mengabaikan kenyamanan dan penerimaan anak.

Untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi, PKMK disajikan dalam berbagai variasi bentuk, mulai dari susu, puding, es lilin, kue, hingga cendol. Pendekatan kreatif ini terbukti efektif meningkatkan minat anak dalam mengonsumsi asupan gizi tambahan, sehingga hasil intervensi menjadi lebih maksimal.

Lebih dari sekadar intervensi gizi, Program PEGAS juga mengintegrasikan edukasi kesehatan keluarga. Orang tua mendapatkan pendampingan terkait penguatan pola makan keluarga, pola asuh yang responsif, penerapan gaya hidup sehat, hingga pemahaman tentang dampak pernikahan dini terhadap kesehatan ibu dan anak. Pendekatan holistik ini diharapkan mampu menciptakan perubahan perilaku jangka panjang di tingkat keluarga.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Rachman Hidayat, S.Sos, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Program PEGAS dalam sesi penutupan program pada Selasa, 16 Desember 2025. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama lintas sektor, termasuk dukungan sektor swasta, tenaga kesehatan, dan partisipasi aktif keluarga peserta.

“Hasil ini membuktikan bahwa intervensi gizi yang tepat sasaran, terpantau, dan berkesinambungan mampu memberikan dampak nyata. Penanganan stunting harus dilakukan secara serius, terstruktur, dan kolaboratif,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa capaian PEGAS sejalan dengan kebijakan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang menempatkan penurunan stunting dan peningkatan kualitas gizi masyarakat sebagai program prioritas.

Momentum keberhasilan ini menjadi semakin relevan menjelang peringatan Hari Gizi Nasional setiap 25 Januari. Program PEGAS di Jember menunjukkan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat pentingnya implementasi program gizi yang nyata, terukur, dan berkelanjutan di tingkat daerah.

Rachman Hidayat berharap keberhasilan PEGAS dapat menjadi model intervensi gizi terarah yang dapat direplikasi di daerah lain. “Kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan sektor swasta adalah kunci percepatan penurunan stunting di Indonesia,” pungkasnya.

Jenderal Zhang Youxia Ditangkap, Situasi Besar Masih Belum Pasti? Berbagai Rumor Bermunculan di Daratan Tiongkok

EtIndonesia. Setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat Liu Zhenli dilaporkan jatuh dan diselidiki, hingga kini pihak berwenang belum mengumumkan rincian lebih lanjut mengenai kasus tersebut. Situs resmi partai dan pemerintahan Tiongkok juga masih belum menghapus nama Zhang Youxia dari daftar pimpinan.

Para analis menilai bahwa dalam praktik Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang biasa, situasi seperti ini tergolong jarang terjadi, mengingat penyelidikan telah diumumkan secara resmi.

Kalangan luar menilai hal ini menunjukkan bahwa Xi Jinping belum sepenuhnya menang. Bahkan, siapa yang akan menjadi pihak terakhir yang unggul masih belum dapat dipastikan.

Pada saat yang sama, berbagai rumor juga bermunculan, termasuk kabar tentang baku tembak antara kubu Zhang dan kubu Xi di Hotel Jingxi di Beijing Barat, serta rincian penangkapan Zhang Youxia.

Sheng Xue (Dokumentasi Sheng Xue)

Pemimpin gerakan demokrasi Tiongkok di luar negeri, Sheng Xue, baru-baru ini membocorkan informasi bahwa seorang temannya di daratan Tiongkok menyampaikan kepadanya: Zhang Youxia dan Liu Zhenli disebut-sebut tengah merencanakan penangkapan Xi Jinping, dengan rencana aksi pada 18 Januari malam. 

Disebutkan, pada malam itu, Xi Jinping dikabarkan akan menginap di Hotel Jingxi di Beijing. Menurut rencana awal, Zhang Youxia dan Liu Zhenli akan bertindak terhadap Xi pada malam tersebut, namun sekitar dua jam sebelum aksi dimulai, rencana itu bocor. 

Akibatnya, terjadi baku tembak antara kedua pihak di Hotel Jingxi. Disebutkan bahwa sembilan personel pengawal di sekitar Xi Jinping tewas, sementara puluhan orang dari pihak Zhang Youxia tewas. Namun, Zhang Youxia sendiri tidak berada di lokasi bentrokan.

Pada 27 Januari, mantan jurnalis Zhao Yan kembali memposting di media sosial, mengungkap rincian lebih lanjut mengenai baku tembak di luar Hotel Jingxi. Ia mengatakan bahwa saat itu pasukan Biro Pengawal Pusat unit 61889 dan Biro Pengamanan Khusus terlibat baku tembak dengan pasukan pengawal Zhang Youxia dan Liu Zhenli. 

Disebutkan, kedua belah pihak saling menembak. Pasukan keamanan Zhang Youxia dan Liu Zhenli melawan dengan sengit dan puluhan orang tewas di tempat. Dari pihak Biro Pengawal dan Biro Pengamanan Khusus juga dilaporkan ada belasan personel yang tewas.

Selain itu, pada 27 Januari, situs Epoch Times juga melaporkan rincian penangkapan Zhang Youxia. Menurut sumber di Beijing yang mengetahui situasi tersebut, Zhang Youxia ditangkap di tempat saat hendak menghadiri rapat internal di Gedung Bayi (Gedung 1 Agustus), markas besar Komisi Militer Pusat. Saat kejadian, pengamanan di lokasi telah disiapkan terlebih dahulu. Zhang Youxia tidak membawa senjata, dan para pengawalnya tidak diizinkan memasuki ruang rapat.

Sumber tersebut menyebutkan bahwa para pengawal Zhang Youxia telah mengalami penyesuaian personel oleh departemen terkait beberapa bulan sebelumnya. Pada hari rapat, pos penjagaan di pintu masuk gedung meminta para pengawal tetap berada di luar. Meskipun para pengawal membawa senjata api, mereka tidak diperbolehkan masuk ke ruang pertemuan.

Menurut informasi yang beredar, selama proses membawa pergi Zhang Youxia, sempat terjadi kontak fisik singkat antara petugas di lokasi dan para pengawalnya, namun Zhang Youxia sendiri tidak melakukan perlawanan.

Namun demikian, seluruh rumor dan informasi ini hingga kini belum dikonfirmasi oleh otoritas resmi PKT, dan New Tang Dynasty Television juga tidak dapat memverifikasi kebenarannya. (hui)

Bagaimana Kondisi Sebenarnya? Setelah Zhang Youxia Lengser, Beredar Kabar Pergerakan Militer — Situasi Kian Tegang

Kasus Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah memicu perhatian luas dari opini publik internasional. Namun hingga kini, otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) belum mengungkapkan rincian kasus tersebut. 

Dalam beberapa hari terakhir, berbagai rumor mengenai penangkapan kedua tokoh ini beredar luas. Menurut informasi terbaru, situasi di Zhongnanhai penuh ketegangan dan ketidakpastian, suasana di tubuh militer sangat tegang, dan Jalan Chang’an dipenuhi aparat militer serta polisi. Para analis menilai, rezim PKT tengah berada pada momen perubahan besar.

EtIndonesia. Setelah Zhang Youxia dan Liu Zhenli dilengserkan, dunia luar terus mencermati perubahan situasi politik di Zhongnanhai. Informasi terbaru menunjukkan bahwa tingkat pengamanan di pusat Kota Beijing serta di jalur-jalur utama keluar masuk kota telah dinaikkan secara signifikan. 

Warga Beijing mengatakan kepada Epoch Times bahwa dari kawasan Dongdan hingga Stasiun Beijing, hampir setiap beberapa langkah terdapat pos penjagaan—“tiga langkah satu pos, lima langkah satu penjaga”.

Mantan pejabat Kementerian Luar Negeri PKT, Han Lianchao, mengunggah foto di platform X yang memperlihatkan Jalan Chang’an di Beijing dijaga bersama oleh militer, polisi, polisi militer, dan pasukan khusus dari berbagai instansi.

Pada 27 Januari, sejumlah video juga beredar di internet yang memperlihatkan pergerakan pasukan militer PKT di berbagai tempat, termasuk wilayah militer Xuzhou. Dalam rekaman tersebut terlihat sejumlah besar pasukan darat bersenjata lengkap dikerahkan. Namun, mengingat sistem PKT yang tertutup dan tidak transparan, informasi ini masih belum dapat diverifikasi.

Wakil Ketua Global Federasi Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue (tangkapan layar)

“Pergerakan militer yang kita lihat menunjukkan bahwa memang ada tingkat ketidakpuasan yang cukup besar di dalam tubuh militer, dan juga adanya koordinasi. Penilaian ini terutama berdasarkan informasi internal yang saya peroleh dari sumber-sumber di dalam negeri,” kata Wakil Ketua Front Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue.

Informasi terbaru juga menunjukkan bahwa sejumlah faksi telah terlibat dalam peristiwa ini.

Sheng Xue menambahkan:  “Menurut teman saya, saat ini kekuatan dari faksi Jiang, faksi Ye, serta tokoh-tokoh seperti Liu Yuan, semuanya berpotensi ikut terlibat.”

Selain itu, aktivis demokrasi Tiongkok yang bermukim di Amerika Serikat, Tang Boqiao, mengungkapkan di platform X bahwa berdasarkan informasi yang ia peroleh, kasus Zhang Youxia masih belum berakhir. 

Kedua pihak disebut masih berdebat mengenai legalitas penangkapannya. Otoritas absolut Xi Jinping untuk pertama kalinya menghadapi tantangan serius, dan risiko bentrokan bersenjata tidak disengaja dikhawatirkan semakin meningkat.

 “Penjatuhan Zhang Youxia kali ini pada dasarnya adalah pertarungan politik. Kasusnya sangat berbeda dengan kasus Miao Hua maupun Li Shangfu sebelumnya. Dari insiden hingga pengumuman resmi, hanya berselang beberapa hari. Sementara Miao Hua, He Weidong, dan Li Shangfu semuanya mengalami setidaknya setengah tahun proses yang disebut sebagai ‘penyelidikan’,” kata Komentator urusan politik dan militer serta pengelola blog Biro Intelijen Militer, Zhou Ziding.

“Ini menunjukkan bahwa Xi Jinping sangat ingin menetapkan kesimpulan kasus Zhang Youxia dalam waktu singkat. Selain itu, tuduhan terhadap Zhang Youxia tergolong sangat berat, termasuk tuduhan serius melanggar sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat,” tambahnya. 

“Ini adalah pertama kalinya hal seperti ini muncul dalam sejarah militer PKT. Dari rumusan tuduhan tersebut, terlihat jelas bahwa pertarungan antara Xi Jinping dan Zhang Youxia bersifat hidup-mati dan sangat sengit,” jelasnya. 

Pada 27 Januari, media resmi PKT melaporkan bahwa pemimpin PKT Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri Finlandia, Petteri Orpo, di Aula Besar Rakyat di Beijing. Para analis menilai ini merupakan pola khas PKT: di dalam negeri arus bawah bergejolak, sementara ke luar tetap mempertontonkan citra stabil.

 “Cara seperti ini sebenarnya tidak mengejutkan. Secara keseluruhan, PKT—baik masing-masing pihak masih mampu mengendalikan situasi, maupun bekerja sama untuk menstabilkannya—pasti akan berupaya mengirimkan sinyal kepada dunia luar bahwa kekuasaan PKT tetap stabil,” kata Sheng Xue. 

Sementara itu, Wall Street Journal baru-baru ini mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, menyebutkan bahwa instansi terkait PKT telah menyita perangkat komunikasi milik para perwira yang dipromosikan bersamaan dengan Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Ribuan perwira yang memiliki keterkaitan dengan mereka juga berpotensi menjadi target penyelidikan.

Para analis menilai, peristiwa ini bukan sekadar pertarungan kekuasaan antara Xi Jinping dan Zhang Youxia, tetapi juga dapat menjadi pemicu awal dari perubahan besar menjelang runtuhnya rezim PKT.

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui.

Kekuasaan di Ujung Senjata: Penangkapan Jenderal PKT Picu Siaga Perang Tak Resmi di Beijing

EtIndonesia. Situasi politik dan militer di Beijing dalam beberapa hari terakhir digambarkan oleh banyak pengamat sebagai “pedang telah terhunus dan busur sudah ditarik”. Ketegangan mencapai titik tertinggi dan tidak lagi bisa ditutupi oleh diplomasi simbolik, foto bersama, atau pernyataan formal semata.

Guncangan besar dipicu oleh penangkapan dua tokoh paling berpengaruh di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT): Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Staf Umum Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Liu Zhenli. Dampaknya tidak hanya bersifat internal, tetapi langsung terasa di lapangan melalui pergerakan militer berskala besar di berbagai wilayah strategis.

Pengumuman Resmi 24 Januari: Titik Balik Krisis

Pada 24 Januari, Kementerian Pertahanan Tiongkok secara resmi mengumumkan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli sedang diselidiki atas dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”. Pengumuman ini segera diikuti editorial keras di surat kabar militer resmi.

Editorial tersebut melontarkan tuduhan berat terhadap Zhang Youxia, antara lain:

  • Mengkhianati kepercayaan Partai Pusat dan CMC,
  • Merusak sistem tanggung jawab ketua CMC,
  • Melindungi masalah politik dan korupsi yang melemahkan kepemimpinan absolut Partai atas militer.

Inti tuduhan ini bukan sekadar korupsi finansial, melainkan “merusak sistem tanggung jawab ketua”—sebuah frasa yang dalam terminologi PKT berarti tantangan langsung terhadap otoritas pemimpin tertinggi.

Inilah yang membuat perhatian internasional segera bergeser dari isu antikorupsi ke spekulasi jauh lebih serius: konflik internal bersenjata, perebutan kekuasaan, bahkan kemungkinan kudeta.

Pergerakan Pasukan dan Pengetatan Keamanan: Fakta Lapangan

Sejak 24–26 Januari, berbagai rekaman video dan laporan saksi mata beredar luas di media sosial luar negeri, menunjukkan:

  • Jalan tol menuju Beijing ditutup,
  • Konvoi panjang truk militer dan kendaraan lapis baja bergerak tanpa henti,
  • Tank terlihat mendahului kendaraan lain di sejumlah ruas jalan,
  • Barisan panjang tentara berjalan di jalan raya Tongzhou, Beijing,
  • Tentara bersenjata peluru tajam berpatroli di Suzhou,
  • Kendaraan sipil dipaksa menepi untuk memberi jalan pada pasukan.

Pada 24 Januari, di gerbang tol Tianjin, terpampang papan merah besar bertuliskan: “Arah Beijing pada Jalan Tol Beijing–Tianjin–Tanggu ditutup. Silakan putar balik.”

Banyak warga mengaku tidak lagi bisa memasuki Beijing.

Di Lapangan Tiananmen, mobil polisi tampak di hampir setiap sudut, jalan-jalan utama diblokade, dan pengamanan diperketat secara ekstrem. Meski tidak ada pengumuman resmi darurat militer, secara de facto Beijing menunjukkan ciri-ciri kota dalam kondisi masa perang.

“Diam yang Menakutkan”: Tidak Ada Gelombang Kesetiaan

Dalam tradisi politik PKT, setiap krisis besar biasanya diikuti gelombang pernyataan kesetiaan dari militer dan pejabat daerah. Namun kali ini, hal itu tidak terjadi.

Kai Xia, mantan profesor Sekolah Partai Pusat, menilai bahwa keheningan massal ini justru merupakan sinyal paling berbahaya. Dalam sistem otoriter, diam sering kali lebih mengerikan daripada teriakan dukungan.

Hingga 27 Januari, belum terlihat pernyataan kesetiaan terbuka dari para komandan teater militer maupun pemimpin provinsi.

27 Januari: Kartu Stabilitas dari Xi Jinping

Di tengah derasnya rumor dan ketegangan, pada 27 Januari, PKT mengeluarkan apa yang oleh pengamat disebut sebagai “kartu stabilitas”.

Xi Jinping dan istrinya tampil di depan publik dengan menerima kunjungan Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo beserta istrinya di Balai Agung Rakyat, Beijing.

Foto dan berita singkat ini memiliki dua fungsi politik utama:

  1. Ke dalam negeri:
    “Saya masih di sini. Saya tidak ditahan rumah. Saya tidak menghilang.”
  2. Ke luar negeri:
    “Saya masih memegang kendali dan dapat berbicara tentang hubungan internasional.”

Dalam sistem PKT, kemunculan publik pemimpin tertinggi adalah alat stabilisasi paling cepat dan paling murah untuk menenangkan pasar kekuasaan.

Status Siaga Perang: Laporan Tidak Resmi

Seorang pengguna platform X menyebut bahwa Divisi Pertama Garnisun Beijing telah masuk status kesiapan perang.
Grup Angkatan Darat ke-83 dari Teater Tengah dilaporkan berada di pinggiran Beijing, sangat dekat dengan pusat kekuasaan.

Menurut laporan lain:

  • Seluruh unit di ibu kota berada pada kesiapan tempur tingkat satu,
  • Seluruh perwira dan prajurit diwajibkan menyerahkan ponsel,
  • Semua pergerakan militer sipil dihentikan,
  • “Sembilan gerbang” ibu kota ditutup.

Perintah dan Kenyataan: Dua Narasi yang Bertabrakan

Cendekiawan Liu Junning mengungkap bahwa pada 26 Januari, CMC secara internal memerintahkan seluruh unit militer tidak bergerak dan tetap di tempat.

Namun di lapangan, video warganet menunjukkan hal sebaliknya: pasukan justru bergerak aktif di berbagai wilayah. Ketidaksinkronan antara perintah pusat dan realitas ini memperkuat kesan bahwa kendali atas militer tidak sepenuhnya solid.

Dampak Psikologis di Tubuh Militer

Jurnalis Zhen Fei, mengutip perwira pensiunan Angkatan Darat ke-31, menyebut bahwa penangkapan Zhang Youxia—orang nomor dua di militer—telah memicu kepanikan dan duka mendalam di kalangan perwira.

Banyak perwira berpangkat kolonel ke atas dilaporkan mengajukan pengunduran diri atau mutasi untuk menghindari risiko politik.

Di militer Tiongkok, ikatan daerah dan persahabatan tempur sangat kuat. Tindakan Xi yang dianggap “menyingkirkan sekutu lama setelah tujuan tercapai” dinilai menggerus loyalitas secara luas.

Skala Pembersihan: Angka yang Mengkhawatirkan

Menurut sumber yang dikutip berbagai analis:

  • Pada 26 Januari, lebih dari 50 pejabat pusat dikirim untuk membantu Komisi Disiplin Militer,
  • Diperkirakan lebih dari 2.000 perwira tinggi akan dihukum, dimutasi, atau dipaksa pensiun,
  • Penulis Tionghoa-Kanada Sheng Xue menyebut bahwa lebih dari 5.000 personel militer telah ditangkap terkait kasus ini.

Versi Penangkapan: Fakta, Rumor, dan Narasi Berdarah

Hingga kini, detail penangkapan Zhang Youxia dan Liu Zhenli belum diumumkan secara resmi. Beberapa versi yang beredar antara lain:

  • Versi “jamuan Hongmen”: Zhang diundang makan malam oleh Xi, lalu dijebak.
  • Versi baku tembak Hotel Jingxi: disebut terjadi bentrokan bersenjata pada malam 18 Januari, dengan korban jiwa di kedua pihak.

Kebenaran versi-versi ini belum dapat diverifikasi. Namun semuanya mengarah pada satu kesimpulan: ini bukan pembersihan antikorupsi biasa, melainkan konflik kekuasaan bersenjata tingkat tinggi.

Tuduhan Kebocoran Nuklir dan Spekulasi Politik

Laporan Wall Street Journal menyebut Zhang Youxia dituduh membocorkan rahasia inti senjata nuklir. Banyak pengamat meragukan tuduhan ini, menilai bahwa isu nuklir mungkin digunakan untuk memutus simpati dan legitimasi.

Ada pula spekulasi mengenai suksesi kekuasaan, meski klaim tersebut belum terbukti. Yang jelas, konflik ini menyentuh dua hal paling sensitif bagi rezim mana pun: aturan suksesi dan loyalitas senjata.

Kesimpulan: Kekuasaan di Atas Gunung Berapi

Sejumlah analis menilai bahwa dengan menjatuhkan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, Xi Jinping kini berdiri di atas gunung berapi politik.

Semua keanehan yang terlihat—foto diplomatik mendadak, militer yang tak mengikuti skrip kesetiaan, perintah yang tak ditaati, tuduhan berat yang janggal, Beijing yang tampak seperti di bawah aturan militer—menunjuk pada satu hal:

Rantai kekuasaan sedang menipis dan rapuh.

Dalam sistem yang bertahan karena rasa takut, ketika rasa takut mulai kehilangan efeknya, sering kali hanya dibutuhkan satu kesalahan, satu peluru nyasar, atau satu langkah keliru untuk memicu gempa politik yang sesungguhnya.