EtIndonesia. Di tengah meningkatnya konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran, Washington dinilai telah memasuki sebuah “jendela strategis” yang dianggap relatif matang untuk menekan Teheran tanpa terjerumus ke dalam perang besar yang berkepanjangan.
Pengerahan cepat militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir—termasuk pergerakan maju kelompok tempur kapal induk—menunjukkan bahwa Gedung Putih menilai situasi kini bergerak menuju fase yang masih dapat dikendalikan secara militer dan politik.
Opsi Serangan Presisi Mulai Dikaji
Informasi terbaru dari berbagai sumber media internasional mengungkapkan bahwa Pemerintah AS sedang mengkaji opsi serangan yang jauh lebih presisi terhadap Iran, bukan operasi militer skala penuh.
Sasaran utama dari skenario ini adalah pejabat senior Iran yang dituduh terlibat langsung dalam penindasan demonstrasi domestik, dengan bentuk operasi berupa pembunuhan terarah (targeted killings). Beberapa komandan militer Iran juga dilaporkan masuk dalam daftar sasaran potensial.
Para analis menilai, Iran saat ini menghadapi akumulasi tekanan berat—mulai dari krisis ekonomi, konflik sosial internal yang terus membesar, hingga ketegangan di dalam struktur kekuasaan elite negara. Dalam konteks tersebut, operasi bergaya “bedah presisi” dinilai mampu menciptakan efek guncangan internal yang signifikan, tanpa menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik jangka panjang yang menguras sumber daya dan stabilitas global.
Laporan Eksklusif Media Timur Tengah
Media Middle East Talk dalam laporan eksklusifnya menyebutkan bahwa Gedung Putih tengah mempersiapkan pola operasi yang menyerupai strategi Israel, yakni serangan presisi terhadap individu-individu kunci Iran.
Laporan tersebut menyatakan bahwa aksi paling cepat dapat dimulai pekan ini, meski tidak menyebutkan tanggal pelaksanaan secara spesifik. Hingga kini, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi, dan seluruh informasi masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Namun demikian, kecepatan dan skala pengerahan militer AS ke Timur Tengah terlihat jelas, menandakan bahwa opsi militer sedang disiapkan secara serius.
USS Abraham Lincoln Bergerak Maju
Pada 26–27 Januari 2026, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln bergerak cepat mendekati kawasan perairan sekitar Iran, dengan orientasi strategis mengarah pada penguncian Selat Hormuz—jalur vital bagi ekspor energi global.
Menurut laporan The Washington Post pada 27 Januari, kelompok tempur ini terdiri dari:
Kapal induk USS Abraham Lincoln
Tiga kapal perusak:
USS Frank E. Petersen Jr.
USS Spruance
USS Michael Murphy
Puluhan pesawat tempur berbasis kapal
Sekitar 5.000 personel militer
Meski saat ini kapal-kapal tersebut masih berada pada jarak tertentu dari wilayah Iran dan belum dalam posisi serangan langsung, militer AS diperkirakan akan terus mendorong ke depan dalam beberapa hari ke depan, kemungkinan memasuki Teluk Oman atau Laut Arab Utara, guna meningkatkan tekanan strategis terhadap Teheran.
Konfirmasi Pentagon dan CENTCOM
Pada 26 Januari, situs US Naval Institute News melaporkan bahwa seorang pejabat Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi kelompok tempur USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah Timur Tengah dan bergabung dengan Armada Kelima AS.
Di hari yang sama, CENTCOM mempublikasikan foto serta pernyataan resmi di media sosial yang mengonfirmasi bahwa kapal induk tersebut telah memasuki Samudra Hindia. Meski tidak secara eksplisit menyebut Iran, wilayah tanggung jawab CENTCOM mencakup seluruh Timur Tengah, sehingga langkah ini dipandang sebagai sinyal strategis yang kuat.
Namun, CNN mengutip sumber internal yang menyatakan bahwa pengerahan ini tidak serta-merta berarti serangan militer akan segera terjadi, karena Presiden Donald Trump masih mengevaluasi berbagai opsi.
Penguatan Udara dan Koordinasi dengan Israel
Di sektor udara, peningkatan kekuatan militer AS juga berlangsung paralel. Media Axios melaporkan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan:
Jet tempur F-15 dan F-35
Pesawat pengisian bahan bakar udara
Berbagai sistem pertahanan rudal regional
Pada 24 Januari, Komandan CENTCOM Jenderal Brad Cooper dilaporkan mengunjungi Israel untuk melakukan koordinasi intensif terkait skenario operasi militer dan antisipasi kemungkinan serangan balasan Iran terhadap Israel. Kedua pihak kini menyusun rencana pertahanan bersama.
Media Israel menyebutkan bahwa meski Trump belum menetapkan waktu serangan secara final, para pejabat tinggi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menganggap pekan ini sebagai periode krusial, sehingga persiapan dipercepat dengan asumsi serangan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Respons Keras Teheran
Menghadapi tekanan eksternal, Iran tetap menunjukkan sikap keras di hadapan publik.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Rezanik, memperingatkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln akan menjadi target serangan jika AS bertindak agresif.
Tak lama berselang, militer Iran merilis video peringatan berbasis AI, yang menampilkan simulasi peluncuran salvo rudal Iran dan visualisasi kapal induk AS yang tenggelam. Dalam video tersebut, Iran mengklaim akan menghancurkan seluruh pangkalan militer AS dalam radius 2.000 kilometer jika terjadi serangan.
Selain itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengumumkan telah memperkuat pengerahan di Teluk Persia dan Selat Hormuz, termasuk penempatan rudal jelajah anti-kapal Abu Mahdi dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer.
Iran juga mengeluarkan peringatan keras kepada Israel, menyatakan bahwa jika Tel Aviv ikut campur, mereka akan membayar harga yang jauh lebih mahal dibanding konflik yang oleh Iran disebut sebagai “Perang Dua Belas Hari” pada Juni 2025.
Diplomasi Masih Terbuka, Namun Bersyarat
Di tengah ketegangan ini, Washington menegaskan bahwa diplomasi masih menjadi salah satu opsi.
Dalam wawancara dengan Axios pada 26 Januari, Trump menyatakan bahwa kekuatan laut AS di sekitar Iran kini bahkan lebih besar dibandingkan armada yang sebelumnya dikerahkan di dekat Venezuela. Namun ia menolak mengungkap opsi militer secara spesifik.
“Iran ingin berunding. Saya tahu itu. Mereka sudah berkali-kali menelepon dan ingin berbicara,” ujar Trump.
Beberapa jam kemudian, seorang pejabat senior AS menegaskan bahwa Gedung Putih membuka pintu dialog, asalkan Iran bersedia memenuhi syarat inti, yaitu:
Menghentikan seluruh pengayaan uranium
Membatasi secara ketat pengembangan rudal
Menghentikan dukungan terhadap kelompok proxy regional
Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Trump masih akan melakukan konsultasi lanjutan pekan ini dan mendengarkan proposal militer tambahan. Kehadiran kapal induk di kawasan dinilai memberi Gedung Putih ruang opsi yang jauh lebih luas.
Keputusan Masih di Tangan Trump
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Trump sempat hampir menyetujui serangan militer terhadap Iran, namun pada pertengahan Januari 2026 memilih menunda.
Media asing menilai, sebagian penasihat dan sekutu AS di Timur Tengah memperingatkan bahwa tindakan militer yang tergesa-gesa—tanpa kesiapan penuh—berpotensi memicu serangan balasan Iran berskala besar dan memperluas konflik regional. Kekhawatiran inilah yang sejauh ini membuat Gedung Putih masih menahan diri.
Situasi Timur Tengah kini bergerak menuju titik kritis yang sangat berbahaya, dengan setiap keputusan Washington berpotensi mengubah arah konflik regional dalam hitungan hari.
EtIndonesia. Ada seorang pelayan belia yang bekerja di sebuah sekolah swasta milik seorang sarjana tua. Setiap pagi buta, tugasnya adalah menyapu daun-daun gugur di halaman. Dia adalah anak yang sangat rajin, tekun, dan bertanggung jawab.
Musim gugur pun tiba—sebuah musim yang penuh nuansa puitis. Pada suatu hari, sang sarjana tua berjalan-jalan di lingkungan sekolah sambil melantunkan bait-bait puisi. Ketika melewati halaman, dia tiba-tiba melihat pelayan itu sedang mengguncang sebuah pohon dengan sekuat tenaga.
Dia terkejut dan segera bertanya: “Kenapa kamu mengguncang pohon itu?”
Anak itu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Tuan, saya sangat lelah harus menyapu daun setiap hari. Tadi pagi saya sudah menyapu bersih daun-daun hari ini. Saya ingin mengguncang pohon ini agar daun untuk besok juga jatuh sekarang, supaya bisa saya sapu sekaligus. Dengan begitu, besok saya tidak perlu menyapu lagi.”
Sang sarjana tua tersenyum, mengelus kepala anak itu, lalu berkata dengan lembut:“Anakku, bagaimana pun caramu mengguncang pohon hari ini, daun besok tetap akan jatuh besok. Menyapulah daun yang jatuh hari ini—itu sudah cukup.”
Cobalah kita renungkan—bukankah kita kerap juga seperti pelayan dalam cerita ini? Jadi, jangan biarkan kekhawatiran menjadi beban berlebihan. Belajarlah mengganti kecemasan dengan sikap berserah, mengganti pesimisme dengan optimisme.
Lakukan yang terbaik hari ini, dan jangan biarkan kekhawatiran berlebihan “membebani” Anda. Dengan begitu, hidup Anda akan dipenuhi lebih banyak senyuman dan ketenangan.
Renungan / Hikmah Cerita
Sahabat pembaca, apakah Anda juga kerap seperti pelayan dalam cerita ini—setiap hari mencemaskan hari esok yang belum tentu terjadi?
Semoga setelah membaca kisah ini, kita semua bisa belajar menjadi seperti sang sarjana tua: hidup selaras dengan keadaan, menerima perubahan dengan lapang dada, menjalani peran masing-masing dengan tenang, dan menikmati hidup dengan hati yang damai serta penuh syukur. (jhn/yn)
EtIndonesia. Pada 27 Januari 2026, ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah sebuah ledakan besar dilaporkan mengguncang fasilitas militer strategis Iran di kompleks Parchin, sekitar 30 kilometer tenggara ibu kota Teheran. Ledakan itu terjadi di tengah meningkatnya pengerahan pasukan Amerika Serikat di wilayah tersebut, memicu kekhawatiran internasional akan potensi konflik berskala luas.
Ledakan di Parchin: Sumber dan Dampak Awal
Menurut laporan media internasional dan pihak pemantau independen, ledakan kuat terjadi di Parchin—kompleks militer yang dikenal memiliki fungsi penting dalam kegiatan riset dan uji coba sistem persenjataan Iran, termasuk yang diduga terkait program nuklir. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran mengenai penyebab pasti ledakan tersebut.
Beberapa rekaman yang beredar di platform media sosial menunjukkan kolom asap hitam besar dan ledakan hebat, namun otoritas Iran sejauh ini baru menanggapi secara terbatas, sementara Pemerintah AS dan intelijen seputar insiden tersebut belum mengeluarkan laporan final.
Kompleks Parchin sebelumnya pernah menjadi target serangan militer; serangan udara Israel pada Juni 2025 dilaporkan menargetkan fasilitas di area ini yang diyakini berhubungan dengan program militer sensitif Iran.
Pengerahan Armada AS: Respon di Laut dan Langit
Hampir bersamaan dengan ledakan di Parchin, Amerika Serikat telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln, bersama kapal perusak rudal dan jet tempur pendukung, memasuki perairan strategis di kawasan sebagai bagian dari operasi militer yang diumumkan awal Januari 2026.
Komando Pusat Angkatan Darat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pengerahan ini dimaksudkan sebagai sinyal kesiapan menghadapi berbagai skenario di tengah eskalasi hubungan dengan Iran, meskipun juga disebut sebagai langkah defensif untuk menstabilkan situasi regional.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka memperingatkan pemerintah Iran bahwa waktu untuk kembali ke meja perundingan nuklir hampir habis. Trump menyebut kekuatan militer besar—dipimpin oleh USS Abraham Lincoln—sedang bergerak menuju posisi yang memungkinkan untuk tindakan lebih lanjut jika negosiasi gagal.
Potensi Blokade dan Dua Opsi Militer AS
Laporan-laporan media internasional yang dikompilasi dari sejumlah sumber menyebut bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan dua langkah utama terhadap Iran:
Pemblokadean ekspor minyak Iran, dengan tujuan menekan perekonomian nasional dan memutus pendapatan strategis negara itu, mirip upaya yang pernah diterapkan terhadap Venezuela.
Operasi serangan presisi yang bertujuan “mencabut pimpinan tertinggi” atau dikenal di beberapa media sebagai strategi “pemenggalan kepala”, yang dapat mencakup serangan terhadap tokoh-tokoh kunci pemerintahan Iran. (Perlu dicatat bahwa kedua opsi ini masih dalam tahap pertimbangan dan belum dikeluarkan perintah resmi oleh Gedung Putih.)
Kondisi Ekonomi Iran Kian Tertekan
Di dalam negeri Iran, tekanan politik dan militer telah memperburuk kondisi ekonomi yang sudah rapuh. Pada 27 Januari 2026, nilai tukar rial Iran anjlok ke level terendah sepanjang sejarah, dilaporkan mencapai sekitar 1,6 juta rial per dolar AS, yang dinilai semakin memperuncing ketidakpuasan publik dan memperluas potensi kekacauan sosial.
Respon Israel dan Respons Regional
Tokoh-tokoh militer Israel sebelumnya menyatakan dukungan terhadap tindakan keras terhadap Iran jika Amerika Serikat melancarkan operasi militer, termasuk menargetkan kepemimpinan tertinggi Republik Islam. Meskipun pernyataan resmi terbaru dari pejabat Israel tidak secara eksplisit merinci keterlibatan, analisis media menunjukkan garis koordinasi strategis yang semakin erat antara Washington dan Tel Aviv.
Negara-negara Teluk Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan Amerika pada umumnya menegaskan sikap netral jika konflik pecah, sementara beberapa pemerintah regional mendesak de-eskalasi dan kembali ke jalur diplomasi untuk mencegah perang yang lebih luas.
Rangkuman Situasi
Hingga berita ini ditulis:
Ledakan di fasilitas militer Parchin (27 Januari 2026) belum jelas penyebabnya secara resmi.
Pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln dan gugus tempurnya telah mempertinggi ketegangan di kawasan.
Ekonomi Iran semakin tertekan dengan nilai rial mencapai rekor terendah.
AS mengevaluasi langkah militer lebih lanjut, termasuk kemungkinan blokade dan operasi presisi.
Diplomasi regional masih berlangsung, namun risiko konflik berskala besar terus dipantau oleh berbagai pihak internasional.
Perkembangan dalam beberapa hari ke depan kemungkinan akan menentukan apakah situasi ini mereda melalui diplomasi atau terus meningkat menuju konfrontasi militer yang lebih luas.
Gerakan protes nasional di Iran menghadapi penindasan brutal dari pihak berwenang. Sementara itu, berdasarkan informasi intelijen yang diterima Amerika Serikat, rezim Iran saat ini berada dalam kondisi paling rapuh sejak 1979. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran berminat untuk berunding.
Saat ini, kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln telah memasuki kawasan Timur Tengah yang berada di bawah yurisdiksi Komando Pusat AS, dan mampu melancarkan aksi militer dalam satu hingga dua hari.
EtIndonesia. Rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan bahwa pada 8 Januari, di wilayah Teheran Barat, sekelompok pasukan keamanan menembaki para demonstran dari atap kantor polisi.
Sementara di kota Kerman, Iran tenggara, juga dilaporkan adanya pria bersenjata berseragam militer yang terus melepaskan tembakan di sepanjang jalan. Sejak pecahnya aksi protes besar-besaran pada akhir Desember tahun lalu, pemerintah Iran telah mengerahkan seluruh mesin negara untuk melakukan penindasan dengan kekerasan.
Seorang pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) urusan Iran pada 26 Januari menyatakan bahwa ia menerima laporan yang menyebutkan pasukan keamanan Iran membawa dan menahan banyak peserta demonstrasi yang sedang menjalani perawatan medis dari rumah sakit.
“Belakangan ini saya menerima banyak laporan bahwa pasukan keamanan, termasuk aparat berpakaian sipil, memasuki rumah sakit untuk mengidentifikasi para demonstran dan kemudian menahan mereka. Menurut saya, konsekuensi dari situasi ini adalah para demonstran yang terluka memilih untuk tidak mencari perawatan medis. Hal ini hampir pasti akan menyebabkan lebih banyak kematian serta korban luka yang seharusnya bisa diselamatkan,” kata Pelapor Khusus PBB untuk Iran, Mai Sato.
Menurut laporan media, Presiden AS Donald Trump telah menerima sejumlah analisis intelijen yang menunjukkan bahwa kondisi rezim Islam Iran saat ini merupakan yang paling rapuh sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Dinasti Pahlavi.
Dalam wawancara dengan Axios pada 26 Januari, Trump menyatakan bahwa Iran menunjukkan niat untuk bernegosiasi mengenai suatu kesepakatan. Ia mengatakan bahwa situasi Iran “berubah dengan sangat cepat”, karena Amerika Serikat telah mengerahkan “armada besar” ke wilayah sekitar Iran.
Komando Pusat AS juga mengonfirmasi pada tanggal 26 bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta beberapa kapal perusak berpeluru kendali telah memasuki wilayah Timur Tengah yang berada di bawah komando mereka.
Seorang pejabat anonim menyatakan bahwa jika Gedung Putih memerintahkan serangan terhadap Iran, kelompok tempur Lincoln dapat melancarkan operasi militer dalam waktu satu hingga dua hari.
Laporan gabungan oleh Chen Huimo dan Chen Lingzhi, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.
EtIndonesia. Hari ini, kami mengundang Du Wen, mantan akademisi hukum dari Mongolia Dalam, untuk berbincang dengan Anda mengenai berbagai kejanggalan di panggung politik Tiongkok setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli ditangkap.
Tamu khusus: Mantan akademisi hukum Mongolia Dalam, Du Wen Pembawa acara:Fu Yao
Du Wen: Tiongkok berada dalam kekacauan, militer dalam keheningan mematikan, PKT memperketat penjagaan media
Fu Yao:
Halo pemirsa, selamat datang di News Talk. Saya Fu Yao. Hari ini kami mengundang mantan akademisi hukum Mongolia Dalam, Tuan Du Wen, untuk membahas berbagai kejanggalan di politik PKT setelah Wakil Ketua KMP Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli ditangkap.
Pertama-tama saya ingin bertanya, sebelumnya Anda menyebutkan bahwa ketika Zhang Youxia diumumkan sedang diselidiki, pihak PKT segera memerintahkan militer untuk menyerahkan perangkat komunikasi dan memulai pembelajaran politik. Apakah dalam dua hari terakhir Anda masih bisa menerima informasi dari dalam PKT?
Du Wen:
Tidak. Setelah itu, informasi benar-benar terputus. Waktu itu hanya sempat terputus sementara, lalu berhenti sama sekali. Ini cukup bisa dipercaya.
Para perwira tinggi PLA—mulai dari tingkat perwira muda seperti letnan dua ke atas—sebenarnya diizinkan memiliki dua ponsel. Satu adalah ponsel militer Huawei, disebut “ponsel internal militer”. Ponsel ini dibuat khusus oleh Huawei untuk PLA, baik chip maupun sistemnya benar-benar khusus dan berbeda dari sistem sipil. Ponsel ini sangat sulit digunakan untuk berkomunikasi dengan pihak luar, dan disebut sebagai “mesin rahasia”. Ponsel ini selalu digunakan dan memang diizinkan.
Du Wen:
Ponsel lainnya adalah ponsel domestik (buatan dalam negeri) yang juga boleh dimiliki setiap orang dan harus didaftarkan. Tentu saja, banyak pejabat yang sebenarnya punya lebih dari satu.
Setelah kejadian itu, saya sempat terus berhubungan dengan mereka. Mereka semua sangat terkejut. Para perwira tingkat menengah—resimen dan divisi—justru mengetahui berita ini dari media, bukan dari saluran internal militer.
Saat mereka masih tertegun melihat berita, tiba-tiba siaran internal berbunyi, memerintahkan seluruh prajurit (kecuali yang bertugas) untuk masuk ke ruang pembelajaran politik. Setelah itu, semua ponsel dikumpulkan satu per satu. Sebelum menyerahkan ponsel, banyak yang sempat mengirim pesan singkat: “Hapus dulu, ponsel akan dikumpulkan.”
Sejak saat itu, komunikasi benar-benar terputus dan sampai sekarang belum pulih.
Du Wen:
Tentu saja, sebelumnya kami juga sangat berhati-hati dalam berkomunikasi, menggunakan cara-cara yang tidak mudah terdeteksi. Namun secara keseluruhan, situasi saat ini sangat tegang.
Saat itu, seluruh unit militer diperintahkan siaga di tempat, dilarang melakukan pergerakan pasukan. Karena itu, beberapa hari terakhir hampir tidak terlihat adanya pergerakan militer. Apalagi pasukan yang masuk Beijing—itu sangat sensitif.
Banyak “berita” di internet sekarang, sejujurnya, bukan berita sungguhan. Itu lebih merupakan bagian dari propaganda dan perang opini. Justru fakta sebenarnya adalah: tidak ada berita, atau sangat sedikit. Seluruh PLA kini berada dalam kondisi “dikunci”.
Fu Yao: Bolehkah saya bertanya, ketika Anda berhubungan dengan personel militer tersebut, apakah mereka menggunakan ponsel militer, ponsel domestik, atau bahkan membeli iPhone untuk penggunaan pribadi?
Du Wen: Fu Yao, ini topik yang sangat sensitif dan kompleks. Saya tidak bisa mengatakan satu kata pun lebih jauh. Karena memang ada kontak nyata, saya tidak berani bicara sembarangan. Yang pasti, ponsel internal militer tidak bisa digunakan untuk komunikasi luar. Saya pernah membongkarnya sendiri—saya masih menyimpan fotonya. Di dalamnya memang ada chip tambahan dan sistemnya benar-benar berbeda. Anda tahu, bahkan BTS di sekitar markas militer memiliki sistem penyaringan. Semua komunikasi harus terenkripsi, jika tidak akan langsung diputus. Ini sistem yang sangat rumit. Soal teknis Huawei dan detailnya, saya tidak bisa membahas. Ini bukan hal yang bisa didiskusikan sembarangan—kontak ceroboh sama dengan mencari mati.
Du Wen: Di asrama militer, prajurit tidak boleh menyimpan ponsel pribadi sembarangan. Pemeriksaan internal bisa dilakukan kapan saja. Jika ditemukan ponsel yang tidak terdaftar, masalahnya sangat serius. Ponsel domestik biasa juga diawasi. Misalnya, jika Anda memotret pangkalan militer atau kapal induk, sistem kamera akan langsung mengunggah data ke cloud dan memicu alarm otomatis. Namun tentu saja, saat berkomunikasi, orang-orang paham cara menghindarinya. Seperti pepatah: “satu kaki iblis, satu depa jalan”. PKT punya Tembok Api Besar, Falun Gong punya Freegate—logikanya sama. Yang penting adalah anti-pelacakan, komunikasi tanpa jejak, terenkripsi.
Fu Yao: Jadi sekarang Anda sudah tidak bisa berhubungan dengan mereka sama sekali?
Du Wen: Tidak. Sejak hari itu, tidak ada kontak lagi. Saya hanya bisa bertanya ke teman-teman sipil di Beijing—apakah ada kendaraan militer masuk kota, apakah ada konvoi lewat Jalan Tol Badaling dari Zhangjiakou. Hasilnya: pemeriksaan sangat ketat, bagasi dibuka, kolong mobil diperiksa, ada anjing pelacak dan pemeriksaan bahan peledak seperti di bandara. Tapi tidak terlihat tank atau pasukan di jalan. Situasi permukaan masyarakat masih normal. Teman-teman saya di Beijing sangat banyak, kalau ada tank di jalan pasti langsung terlihat. Sampai sekarang, memang tidak ada.
Du Wen: Yang lebih diperhatikan justru adalah reaksi internal. Banyak orang menunggu Zhang Youxia “bergerak”, karena dia sosok yang sangat berwibawa di militer. Tuduhan utamanya adalah “serius menginjak-injak sistem tanggung jawab ketua KMP.” Ini kata kunci penting. “Menginjak-injak” berarti wakil ketua merampas kekuasaan ketua, tidak mematuhi perintah ketua. Itulah maknanya.
Du Wen: Setelah dia ditangkap, mengapa seluruh militer harus siaga di tempat? Karena sekarang setiap tank dan kendaraan militer punya GPS dan bahkan bisa dimatikan dari jarak jauh. Beijing juga memperketat penjagaan media. Menurut teman-teman di sana, penjagaan di CCTV, Radio Nasional, dan media pusat lainnya meningkat jelas. Ini informasi yang cukup dapat dipercaya.
Fu Yao: Kalimat “serius menginjak-injak sistem tanggung jawab ketua KMP”, apakah ini berarti sudah ada penetapan politik yang sangat serius?
Du Wen: Betul. Ini adalah penetapan politik. Kasus sebelumnya—Xu Caihou, Guo Boxiong, Fang Fenghui—semuanya soal korupsi dan pelanggaran disiplin. Tapi ini berbeda. Ini berarti kudeta. Pesannya jelas: Zhang Youxia dianggap pengkhianat, pemecah belah, pelaku kudeta. Ini sinyal politik yang sangat keras kepada seluruh militer.
Fu Yao: Mengapa Xi Jinping memilih bertindak sekarang, padahal Zhang Youxia selama ini dianggap orang dekatnya?
Du Wen: Inilah psikologi seorang diktator. Xi Jinping kini sangat tidak aman. Zhang Youxia punya basis dan wibawa di militer. Pembersihan di Angkatan Roket dan Departemen Pengembangan Peralatan sebenarnya adalah pembersihan terhadap orang-orang Zhang. Ini pasti membuat Zhang tidak senang. Dalam pandangan Xi, itu sudah dianggap ketidaksetiaan. Xi menuntut kepatuhan mutlak seperti budak. Sedikit saja membantah, sudah dianggap “menginjak-injak sistem”.
Du Wen: Penangkapan itu dilakukan langsung di rapat, Xi datang bersama Cai Qi dan pasukan keamanan, lalu langsung membawa Zhang Youxia dan Liu Zhenli pergi. Para jenderal di lokasi dikabarkan ketakutan. Setelah itu, seluruh militer langsung masuk status siaga tingkat satu. Liu Zhenli menguasai hak mobilisasi pasukan. Jika dia tidak ditangkap bersamaan, Beijing bisa kacau.
Fu Yao: Apakah akan ada perlawanan dari pendukung Zhang Youxia?
Du Wen: Sulit. Komunikasi diputus, ponsel disita. Semua orang kini takut dan sibuk membersihkan diri, menulis surat kesetiaan, bahkan saling melaporkan. Namun kepatuhan lahiriah tidak berarti kepatuhan batin. Hati militer sudah tercerai-berai. Zhang Youxia adalah figur “abang besar” di militer. Xi Jinping dengan tindakan ini menghancurkan sisa kohesi militer. Sekarang banyak yang hanya berpura-pura bekerja, bahkan menunggu Xi Jinping jatuh. Kemarahan ini terpendam dan sangat berbahaya.
Fu Yao: Anda menyebut ini lebih serius daripada peristiwa 4 Juni. Mengapa?
Du Wen: Pada 4 Juni, konflik ada, tapi militer masih patuh pada Deng Xiaoping. Sekarang ini adalah konflik di tingkat tertinggi—ketua dan wakil ketua KMP. Zhang Youxia bukan Zhao Ziyang. Zhao tidak punya pasukan. Zhang punya pengaruh nyata. Ditambah ekonomi runtuh dan isolasi internasional, ini pertanda jalan buntu.
Du Wen: Tuduhan bocornya rahasia nuklir adalah “umpan balik informasi” PKT
Fu Yao: Bagaimana dengan laporan Wall Street Journal soal kebocoran rahasia nuklir?
Du Wen: Itu omong kosong. Ini taktik untuk “membusukkan” Zhang Youxia. Kalau cuma konflik politik, masih ada yang mendukungnya. Tapi kalau dicap pengkhianat dan mata-mata, tak ada yang berani membelanya. Zhang tidak kekurangan uang atau jabatan. Tidak ada motif. Ini pola lama PKT untuk membunuh karakter lawan.
Fu Yao: Apakah situasi “semua orang terancam” ini akan menggoyahkan perwira bawah?
Du Wen: Pasti. Sekarang di PLA yang paling populer bukan latihan militer, tapi “mandi” — membersihkan diri. Posting WeChat 10 tahun lalu pun diperiksa. Tekanan ini membuat perwira sangat muak. Tunjangan dipotong, kesejahteraan menurun. Xi Jinping memerintah dengan ketakutan, bukan wibawa. Begitu tekanan puncak melemah sedikit saja, seluruh sistem bisa runtuh seketika.
Du Wen: Tiongkok berada dalam kekacauan, apakah Zhang Youxia sebenarnya sudah menyiapkan rencana?
Fu Yao: Berbicara soal kondisi kesehatan, ini juga menjadi perhatian besar publik. Menurut Anda, apakah penangkapan ini ada kaitannya dengan kondisi fisik Xi Jinping, atau dengan pengaturan soal “penerus” kekuasaan?
Du Wen: Pasti ada kaitannya. Xi Jinping sekarang sudah berusia enam puluhan menuju tujuh puluhan. Dua tahun terakhir ini, semua orang bisa melihat kondisinya—sering tampak sangat lelah, bahkan gerakannya terlihat kaku. Yang paling dia takuti sekarang adalah: sebelum dia sempat mengatur suksesi, orang-orang di bawahnya yang memegang kendali militer justru lebih dulu mengosongkan kekuasaannya. Zhang Youxia seusia dengannya, tapi memiliki fondasi yang sangat kuat di militer. Xi Jinping pasti berpikir: kalau suatu hari nanti saya tiba-tiba tidak berdaya, lalu Zhang Youxia memberi satu perintah saja, siapa yang bisa menghentikannya? Apakah Cai Qi atau Li Qiang bisa menahan itu?
Du Wen: Karena itu, selama dia masih bernapas dan masih bisa bergerak, dia harus membersihkan semua orang yang berpotensi mengancam “warisan politik”-nya. Yang dia inginkan adalah sebuah lingkungan yang sepenuhnya terdiri dari “orang dalam”-nya sendiri. Tidak masalah mereka tidak cakap atau tidak punya kemampuan tempur, yang penting patuh. Ini adalah pola pikir khas seorang kaisar di ujung kekuasaan.
Fu Yao: Lalu bagaimana dengan Zhao Leji? Belakangan ini beredar rumor bahwa Zhao Leji juga terseret, bahkan disebut sedang diselidiki. Apakah ini terkait dengan badai di tubuh militer?
Du Wen: Situasi Zhao Leji cukup rumit. Zhao lama berakar di Shaanxi, dan Zhang Youxia juga orang Shaanxi—ini yang disebut “kelompok Shaanxi”. Di tingkat tertinggi PKT, politik kedaerahan dan politik faksi sangat kuat. Xi Jinping memang memakai orang Shaanxi, tapi dia sangat curiga. Dia merasa: kalian sesama orang Shaanxi ini terlalu dekat, apakah sedang membentuk lingkaran kecil?
Du Wen: Konon beberapa orang kepercayaan Zhao Leji, bahkan adiknya sendiri, sudah ditangkap. Ini menunjukkan Xi Jinping sedang “memotong pinggiran rok”—membersihkan jaringan di sekelilingnya. Menangkap Zhang Youxia berarti menggerakkan senjata (militer). Menyentuh Zhao Leji berarti menggerakkan pisau (sistem Komisi Disiplin). Ini menandakan Xi Jinping sekarang membuka perang di semua lini dan tidak lagi mempercayai siapa pun. Strategi menyerang ke segala arah ini sangat berbahaya, karena membuat semua kelompok birokrat berubah menjadi musuhnya.
Du Wen: Perlu dipahami, hubungan Xi Jinping dan Zhang Youxia bukan hubungan atasan–bawahan biasa. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, disebut “keturunan merah” dan “sekutu besi”. Jika hubungan seperti ini saja bisa hancur sampai titik ini, berarti kontrak politik internal PKT sudah sepenuhnya batal. Sekarang ini adalah pertarungan hidup dan mati secara telanjang.
Du Wen: Tiongkok dalam kekacauan, militer dalam keheningan mematikan
Fu Yao: Menurut Anda, dalam situasi seperti ini, bagaimana keadaan para pejabat tinggi di Zhongnanhai sekarang?
Du Wen: Keadaannya adalah “berpura-pura mati”. Semua orang sedang berakting. Dalam rapat, mereka berteriak slogan paling keras, menunjukkan sikap paling cepat. Tapi begitu kembali ke kantor, pintu langsung ditutup, tak berani bicara satu kata pun. Karena Anda tidak tahu apakah sekretaris Anda orang Cai Qi, tidak tahu apakah kantor Anda dipasangi alat penyadap. Sekarang ada pepatah populer di Beijing: “Banyak bertindak, banyak salah. Sedikit bertindak, sedikit salah. Tidak bertindak, tidak salah.” Semua ingin bertahan sampai akhir.
Du Wen: Tapi Xi Jinping tidak membiarkan orang “bertahan”. Dia menjalankan “pemeriksaan politik” dan “penelusuran mundur 20 tahun”. Bahkan yang sudah pensiun pun diseret kembali untuk disaring. Inilah mengapa situasinya lebih serius daripada 4 Juni. Setelah 4 Juni masih ada konsensus “pembangunan ekonomi”. Sekarang bahkan konsensus itu pun tidak ada—yang tersisa hanya ketakutan.
Apakah situasi Selat Taiwan akan berubah?
Fu Yao: Bagaimana dengan reaksi internasional, khususnya Amerika Serikat? Jika Zhang Youxia benar-benar ditangkap, apa dampaknya terhadap hubungan Tiongkok–AS dan situasi Selat Taiwan?
Du Wen: Inilah bagian paling berbahaya. Zhang Youxia memang keras, tapi dia adalah tentara profesional. Dia tahu perang berarti kematian, dan tahu kesenjangan antara PLA dan militer AS. Selama dia masih ada, setidaknya dia berfungsi sebagai “rem”. Jika diganti dengan sekelompok “jenderal politik” yang hanya pandai menjilat dan tidak paham militer, demi menyenangkan Xi Jinping, mereka bisa membuat keputusan yang sangat gegabah.
Du Wen: Xi Jinping sekarang tidak membutuhkan daya tempur, yang dia butuhkan adalah “rasa aman”. Tapi semakin dia membersihkan, semakin tidak aman dia merasa. Lingkaran setan ini bisa berujung pada perang eksternal untuk mengalihkan konflik internal. Jadi situasi Selat Taiwan bukan menjadi lebih tenang karena Zhang Youxia ditangkap, justru menjadi lebih tidak terduga karena militer kehilangan kendali rasional profesional.
Fu Yao: Anda menyebut istilah “Kim Jong-unisasi”. Apakah Xi Jinping sedang meniru model Korea Utara?
Du Wen: Betul. Dia mengejar kediktatoran absolut tanpa “kotoran” apa pun. Kim Jong-un dulu mengeksekusi pamannya sendiri, Jang Song-thaek, di depan umum. Mengapa? Untuk membangun teror: “yang patuh hidup, yang melawan mati”. Xi Jinping menangkap Zhang Youxia dengan logika yang sama. Zhang Youxia adalah “Jang Song-thaek”-nya Xi.
Du Wen: Begitu tokoh setingkat Zhang Youxia dibereskan, siapa lagi yang berani berbeda pendapat? Ini adalah perbudakan total. Xi ingin mengubah Tiongkok menjadi Korea Utara versi besar. Tapi dia lupa satu hal: Tiongkok bukan Korea Utara. Masyarakatnya pernah terhubung dengan dunia luar, ekonominya besar dan kompleks. Teror saja tidak cukup untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.
Du Wen: Karena itu, laporan Wall Street Journal soal kebocoran rahasia nuklir sangat mungkin merupakan “ekspor lalu impor balik”. Orang-orang di sekitar Xi atau tim propaganda luar negeri sengaja membocorkan informasi ini ke media AS. Media AS mengejar sensasi—“petinggi militer Tiongkok bocorkan rahasia nuklir” jelas berita besar. Lalu berita ini dipantulkan kembali ke dalam negeri dan ke tubuh militer—menjadi “bom atom politik”.
Du Wen: Akibatnya, siapa pun yang semula ingin membela Zhang Youxia langsung bungkam. Dalam budaya PKT, korupsi masih bisa dimaafkan, salah garis politik masih bisa dikritik, tapi “bersekongkol dengan musuh dan menjual negara” adalah dosa terbesar—hukuman mati di atas hukuman mati.
Fu Yao: Bagaimana sikap Amerika Serikat terhadap isu ini? Apakah mereka akan percaya?
Du Wen: Sistem intelijen AS bukan orang bodoh. Mereka pasti memverifikasi. Namun yang paling mereka perhatikan adalah sinyal “kekacauan”. Benar atau palsu, itu menunjukkan satu hal: pucuk pimpinan militer PKT runtuh. Ini berarti Tiongkok berada dalam fase yang sangat tidak stabil.
Du Wen: Itulah sebabnya AS belakangan sangat berhati-hati dalam penempatan militernya di Asia-Pasifik. Diktator yang merasa paling tidak aman justru paling berbahaya. Xi Jinping sekarang seperti landak yang ketakutan—semua durinya berdiri. Dia bukan hanya waspada terhadap Amerika, tapi lebih waspada terhadap orang rumahnya sendiri.
Fu Yao: Anda tadi menyebut Zhang Youxia pernah mengatakan “menyelamatkan partai dan negara”. Apa latar belakangnya?
Du Wen: Ini kabar yang saya dengar dari pertemuan kecil dan percakapan pribadi. Zhang Youxia dan kelompok “putra merah” ini sebenarnya punya ikatan emosional dengan PKT. Mereka merasa negeri ini dibangun oleh ayah-ayah mereka. Melihat Xi Jinping merusak ekonomi dan hubungan internasional, mereka sangat cemas.
Du Wen: Mereka percaya jika terus begini, partai akan runtuh dan negara akan hancur. Namun inti “menyelamatkan partai dan negara” sebenarnya adalah “menyelamatkan kekuasaan”—kembali ke kepemimpinan kolektif, bukan kultus individu. Masalahnya, bagi Xi Jinping, itu berarti merebut kekuasaannya. Inilah konflik yang tak bisa didamaikan.
Du Wen: Secara lahiriah ini soal korupsi atau kebocoran rahasia, tapi hakikatnya adalah konflik “melindungi Xi” atau “melindungi partai”. Xi memang mencapai puncak kekuasaan setelah menangkap Zhang Youxia, tapi ini adalah kekuatan yang “menggelembung palsu”. Sekarang dia menoleh ke sekeliling—siapa lagi yang bisa dia percayai?
Du Wen: Kecurigaan ini menular. Suasana Zhongnanhai sekarang seperti “Perang Dingin”. Xi bukan hanya menangkap Zhang Youxia, dia memutus rantai komando militer dan mencoba membangun sistem keamanan internal yang hanya loyal padanya. Semakin dia melakukan ini, profesionalisme dan daya tempur militer justru semakin runtuh.
Fu Yao: Jika militer hanya tersisa “kebenaran politik”, ia berubah menjadi pasukan penjaga partai—bahkan pasukan keluarga Xi. Bagaimana peran “ponsel Huawei militer” dalam badai ini?
Du Wen: Ponsel Huawei itu sebenarnya “borgol elektronik”. Xi mempromosikannya untuk pengawasan 24 jam terhadap jenderal: lokasi, komunikasi, bahkan dengan siapa Anda makan, semua tercatat. Itulah sebabnya setelah kejadian, ponsel langsung disita—untuk memeriksa siapa berhubungan dengan siapa, siapa berada di lokasi yang mencurigakan. Huawei di sini bukan sekadar perusahaan telekomunikasi, tapi cabang intelijen PKT. Banyak jenderal kini trauma terhadap perangkat dalam negeri—ini bukan alat, tapi alat pengintai.
Fu Yao: Tentang “belajar politik”—menyerahkan ponsel, mendengar siaran—ini tampak absurd bagi militer modern. Apakah benar-benar efektif?
Du Wen: Bukan untuk mencuci otak. Itu disebut “pendisiplinan”. Ini adalah penghinaan kekuasaan—membuat jenderal dan perwira duduk seperti murid SD, menyerahkan ponsel, membaca slogan. Tujuannya menghancurkan harga diri agar patuh total. Tapi efek sampingnya adalah akumulasi kebencian ekstrem. Prajurit sejati merasa: kami membela negara, bukan menjadi budak keluarga.
Fu Yao: Apa yang akan menjadi “percikan api” itu? Krisis ekonomi atau kesalahan militer?
Du Wen: Bisa jadi kondisi kesehatan Xi Jinping. Atau kesalahan fatal dalam keputusan besar—Taiwan atau hubungan dengan AS. Sekarang di sekelilingnya hanya penjilat. Jika dia salah langkah, kekuatan penentang di militer bisa bangkit.
Du Wen: Ini adalah keruntuhan sistemik. Xi menangkap Zhang Youxia karena takut mati besok; setelah menangkapnya, dia justru makin tidak bisa tidur. Dia menyingkirkan orang terakhir yang mampu menahan militer. Kekuasaan seperti ini sangat rapuh.
“Keseimbangan teror” telah runtuh
Fu Yao: Apakah Anda mengatakan “keseimbangan teror” telah runtuh?
Du Wen: Ya. Dulu ada kesepakatan diam-diam: Anda jadi ketua, kami cari uang. Sekarang Xi menghancurkan semua mangkuk dan menyimpan nasi sendiri. Ini membuat semua orang tak bisa hidup. Pertarungan di Zhongnanhai kini bukan soal garis politik, tapi soal hidup dan mati.
Du Wen: Perhatikan satu detail: media militer terus-menerus menekankan “kesetiaan”. Semakin sering diteriakkan, semakin langka itu. Sekarang banyak “berwajah dua”: mulut teriak “menjaga inti”, hati menghitung—kalau Xi jatuh, ke mana harus berpihak?
Fu Yao: Bagaimana dampaknya bagi rakyat biasa? Kita melihat kekerasan sosial meningkat.
Du Wen: Guncangan di atas, penderitaan di bawah. Untuk mengamankan kekuasaan, Xi akan memperketat kontrol ekstrem: bukan hanya militer, tapi juga PNS dan guru—paspor disita. Negara dijadikan barak tertutup. Akibatnya ekonomi mati total. Saat rakyat kelaparan, saat keluarga prajurit tak bisa makan, krisis sesungguhnya akan tiba.
Du Wen: Xi sedang berlomba dengan waktu. Tapi sejarah membuktikan, rekayasa yang melawan sifat manusia dan hukum perkembangan selalu berakhir dengan kegagalan. Menangkap Zhang Youxia justru mempercepat keruntuhan itu.
Fu Yao: Terakhir, menurut Anda bagaimana akhir Zhang Youxia? Seperti Lin Biao atau Bo Xilai?
Du Wen: Lin Biao mati di pesawat, Bo Xilai dipenjara di Qincheng. Zhang Youxia kemungkinan ditahan lama dan diadili secara tertutup. Xi belum berani “menghilangkannya” karena jaringan Zhang terlalu luas. Namun karier politiknya sudah berakhir.
Du Wen: Yang penting bukan akhir Zhang Youxia, tapi akhir Xi Jinping. Xi telah mendorong dirinya ke sudut tanpa jalan mundur. Akhir para diktator biasanya disertai kekacauan dan pertumpahan darah—ini yang paling tidak kita inginkan sebagai orang Tiongkok, tapi harus kita hadapi.
Fu Yao: Terima kasih banyak kepada Tuan Du Wen atas analisis mendalam hari ini.
Du Wen: Terima kasih, Fu Yao. Terima kasih semuanya.
EtIndonesia. Dalam dua hari terakhir, suasana politik dan militer di Beijing hanya dapat dirangkum dengan dua kata: aneh dan ganjil. Di permukaan, segalanya tampak tenang dan terkendali. Namun jika ditelisik lebih dalam, gelombang bawah yang bergejolak justru semakin jelas terlihat.
Di satu sisi, Harian Pembebasan Tentara (PLA Daily)—corong resmi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA)—selama tiga hari berturut-turut menampilkan pemberitaan yang terasa “tenang tanpa gelombang”, seolah-olah tidak ada peristiwa besar yang sedang berlangsung di jantung kekuasaan militer Tiongkok.
Namun di sisi lain, rangkaian peristiwa sejak 24 Januari 2026 justru mengindikasikan bahwa situasi internal rezim tengah berada dalam fase yang sangat sensitif.
Xi Jinping Muncul Kembali Setelah Enam Hari Menghilang
Pada 27 Januari 2026, Presiden Tiongkok sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Xi Jinping, akhirnya kembali muncul di hadapan publik setelah enam hari tidak terlihat sejak pengumuman penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, Zhang Youxia.
Xi tampil di Balai Agung Rakyat, Beijing, untuk menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Finlandia, Petteri Orpo. Penampilan Xi langsung menjadi sorotan.
Dari rekaman video resmi, ekspresi wajah, intonasi bicara, dan logat Xi Jinping terlihat normal, tanpa tanda-tanda tekanan fisik maupun emosional. Dalam pertemuan tersebut, Xi bahkan tidak membaca catatan kecil—sebuah detail yang jarang terjadi dan mengindikasikan bahwa pertemuan ini kemungkinan telah dipersiapkan secara matang.
Isi pembicaraan pun terdengar familiar: Xi kembali mengajak perusahaan Finlandia untuk masuk dan berinvestasi di pasar Tiongkok, yang digambarkannya sebagai “samudra luas penuh peluang”.
Namun publik internasional sudah sangat memahami metafora ini. Banyak perusahaan asing—terutama dari Jepang—yang awalnya “berenang penuh harapan”, namun akhirnya kehabisan tenaga dan memilih mundur perlahan dari pasar Tiongkok.
Sindiran Warganet dan Kontras Diplomasi
Menariknya, perhatian warganet Tiongkok justru tertuju pada hal lain: iring-iringan kendaraan kenegaraan Perdana Menteri Finlandia yang dinilai sangat besar dan mewah.
Kolom komentar di media sosial langsung dipenuhi sindiran. Banyak netizen menyebut bahwa di Finlandia, sang perdana menteri dapat bepergian sendirian, namun di Tiongkok dia langsung merasakan “nikmatnya status elite berkuasa”.
Di permukaan, pertemuan Xi dengan tamu asing tampak berjalan normal dan stabil. Namun di balik layar, situasi di tubuh militer justru menunjukkan gejolak yang sama sekali berbeda.
PLA Daily: Dari Guntur ke Sunyi dalam Tiga Hari
Perubahan sikap PLA Daily dalam tiga hari terakhir menjadi indikator penting dinamika internal militer.
24 Januari 2026 Militer Tiongkok secara resmi mengumumkan bahwa Zhang Youxia Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC) dan Liu Zhenli (Kepala Staf Gabungan CMC) diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum berat, dan telah resmi diselidiki.
25 Januari 2026 PLA Daily menerbitkan editorial bernada keras, membahas apa yang disebut sebagai “lima masalah besar” Zhang Youxia, dengan bahasa yang sarat ancaman politik.
26 Januari 2026 Halaman depan memuat artikel berjudul “Terus Meniupkan Terompet Serangan”, yang mengangkat kembali kisah-kisah eksekusi tokoh Partai akibat korupsi sejak puluhan tahun lalu—mulai dari Liu Qingshan dan Zhang Zishan, hingga perwira berjasa besar yang akhirnya dieksekusi mati.
Namun, artikel tersebut justru terasa “bertulang besar namun berdaging tipis”. Dia membahas koruptor masa lalu, memuji kampanye antikorupsi era kini, namun sama sekali tidak menyebut satu pun nama besar masa kini, termasuk Zhang Youxia atau Liu Zhenli.
Lebih janggal lagi, pada 27 Januari, PLA Daily tiba-tiba kembali ke pemberitaan normal, seolah-olah tidak pernah ada pengumuman besar pada 24 Januari. Kasus “lima masalah besar” pun menghilang begitu saja.
Dalam politik Tiongkok, perubahan sikap secepat ini sering kali mencerminkan tarik-ulur kekuasaan yang belum mencapai konsensus.
Tank Bergerak, Pasukan Muncul di Jalan Raya
Jika media militer tampak “bermain tai chi”, maka lapangan menunjukkan cerita berbeda.
Dalam dua hari terakhir, berbagai video dari dalam Tiongkok memperlihatkan aktivitas militer tidak biasa di banyak wilayah.
Yang paling mencolok adalah Grup Angkatan Darat ke-82 PLA, unit elite yang bertugas melindungi Beijing dan bermarkas di Baoding, Provinsi Hebei—penerus legendaris Grup ke-38 yang dikenal sebagai “Tentara Sepuluh Ribu Tahun”.
Unit ini terpantau melakukan konsentrasi besar-besaran kendaraan lapis baja dan tank, bahkan melintas di jalan raya umum, membentuk iring-iringan panjang—sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim dalam periode sensitif seperti ini.
Komentar Publik: Harapan dan Kegelisahan
Komentar warganet di bawah video-video tersebut bahkan lebih mengguncang dibanding pawai militernya sendiri.
Pada 26 Januari, China Youth Daily merilis video resmi latihan satu brigade penerbangan dari Grup ke-82.
Kolom komentarnya dipenuhi pesan-pesan seperti:
“Semoga PLA berdiri di pihak rakyat.”
“Tuntaskan misi.”
“Pikirkan masa depan generasi berikutnya.”
Bahasa seperti ini jarang muncul secara terbuka di ruang publik Tiongkok, dan menunjukkan kegelisahan sosial yang sedang meningkat.
Pergerakan Meluas ke Tianjin dan Selatan
Aktivitas militer tidak hanya terjadi di sekitar Beijing.
26 Januari 2026, sejumlah besar kendaraan militer terlihat di Distrik Wuqing, Tianjin, hanya sekitar 40–50 km dari pusat Beijing.
Di Xuzhou, Jiangsu, warga merekam sekelompok besar tentara bersenjata senapan mesin ringan berjalan di pusat kota.
Pergerakan serupa juga terpantau di Zhanjiang (Guangdong) dan beberapa lokasi di Fujian.
Hal ini terjadi meski beredar informasi bahwa unit-unit militer telah diperintahkan masuk status siaga tempur tingkat satu, menghentikan semua operasi, menyerahkan ponsel, dan menjalani pendidikan politik terpusat.
Keheningan Media Militer: Pesan yang Paling Keras
Yang paling mencolok justru adalah keheningan total media militer resmi.
Baik China Military Network maupun akun resmi Tentara Polisi Bersenjata sama sekali tidak menyinggung kejatuhan Zhang Youxia—tidak diposting, tidak dipin, seolah-olah peristiwa itu tidak pernah ada.
Dalam politik Tiongkok, diam sering kali merupakan jawaban paling keras.
Xi Muncul, Pesan Stabilitas, dan Hari-Hari Penentu
Dalam konteks ini, kemunculan Xi Jinping pada 27 Januari terasa lebih seperti pernyataan politik bahwa “situasi terkendali”, ditujukan untuk menenangkan publik domestik sekaligus meredam kegelisahan mitra internasional.
Namun, hari-hari ke depan akan sangat menentukan.
Jika pasukan kembali ke barak dan komando wilayah militer menyatakan loyalitas penuh kepada pusat, maka Xi kemungkinan masih memegang kendali.
Namun jika tank dan pasukan terus bergerak mendekati Beijing, maka konflik internal di Zhongnanhai berpotensi berubah dari pertarungan politik tertutup menjadi konfrontasi terbuka tanpa aturan.
Bagi dunia luar, ini bukan sekadar urusan domestik Tiongkok. Sejarah telah membuktikan, setiap guncangan besar di Beijing selalu berdampak global.
Dan seperti kepanikan dunia pada awal 2020, ada kalanya satu pusat kekuasaan yang goyah dapat membuat seluruh dunia ikut gemetar.
JAKARTA – Platform transportasi berbasis aplikasi, inDrive, secara resmi memperkenalkan layanan baru di luar sektor mobilitas: inDrive Ads, sebuah platform periklanan digital yang diintegrasikan langsung ke dalam aplikasi. Peluncuran ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan dan membangun ekosistem yang lebih berkelanjutan.
Platform iklan ini telah beroperasi di 20 negara dengan jangkauan ke mayoritas pengguna aktif bulanan inDrive. Sepanjang tahun 2026, inDrive menargetkan ekspansi layanan ini ke seluruh negara tempat mereka beroperasi.
Dukungan untuk Ekosistem dan Program Sosial Communication Manager inDrive, Wahyu Ramadhan, menyatakan bahwa inDrive Ads dirancang untuk menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dalam jangka panjang. “Selain untuk kebutuhan komersial, sebagian ruang iklan juga akan dialokasikan untuk program sosial dan inisiatif komunitas internal inDrive, sehingga pesan-pesan positif dapat tersampaikan dengan biaya yang lebih efisien,” jelasnya.
Respons Pasar dan Ruang Kolaborasi Baru Respons awal pasar dinilai positif, dengan permintaan dari pengiklan dilaporkan tumbuh dua kali lipat setiap bulannya. Beberapa sektor yang menunjukkan minat tinggi antara lain e-commerce, fashion, ritel, perbankan, dan layanan keuangan.
Platform ini juga berperan sebagai jembatan antara penyedia layanan keuangan (fintech) dan pengguna. Di Kolombia, kerja sama dengan fintech Monet telah menyalurkan lebih dari 1.200 pinjaman tunai melalui aplikasi inDrive. Pola serupa juga diterapkan di Filipina dan Meksiko dengan hasil yang signifikan.
Format dan Penempatan Iklan Iklan akan muncul dalam format banner multi-dimensi dengan grafis dan animasi, yang ditampilkan di berbagai halaman strategis dalam aplikasi, seperti halaman beranda, proses pemesanan, dan setelah perjalanan selesai. Sistem pengukuran performa yang transparan memungkinkan pengiklan memantau efektivitas kampanye secara real-time.
Strategi Jangka Panjang dan Prinsip Keadilan Founder & CEO inDrive, Arsen Tomsky, menekankan bahwa diversifikasi ke lini ber-margin tinggi seperti periklanan merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan layanan. “Langkah ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi kami untuk terus menyediakan layanan yang terjangkau dalam skala luas,” ungkap Tomsky.
Chief Growth Business Officer inDrive, Andries Smit, menambahkan bahwa prinsip keadilan dan kesetaraan akses tetap menjadi fondasi dalam pengembangan produk ini. “Kami ingin menciptakan lebih banyak peluang bagi masyarakat dan merek untuk berpartisipasi secara setara, sesuai dengan prinsip yang selama ini membedakan platform kami,” tutur Smit.
Dengan lebih dari 8 miliar transaksi yang telah difasilitasi dan operasi di 48 negara, inDrive terus bertransformasi menuju SuperApp yang mengedepankan nilai keadilan, peluang, dan pemenuhan kebutuhan riil masyarakat.
Data resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) menunjukkan bahwa pada tahun 2025, daratan Tiongkok mencatat 244 kasus rabies dengan 233 kematian, tingkat kematian melebihi 95%. Baik jumlah kasus maupun kematian mencapai angka tertinggi sejak tahun 2020, sehingga menarik perhatian luas.
Etindonesia. Menurut laporan media daratan Tiongkok, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (China CDC) merilis data yang menyebutkan bahwa sejak penerapan langkah pencegahan dan pengendalian rabies secara komprehensif pada tahun 2006, jumlah kasus rabies di Tiongkok sempat mencapai puncak 3.300 kasus pada tahun 2007, kemudian memasuki periode penurunan selama 16 tahun.
Namun, pada tahun 2024 terjadi kebangkitan kembali, meningkat lebih dari 30% dibanding tahun sebelumnya. Hingga tahun 2025, baik jumlah kasus maupun kematian melonjak tajam, meningkat sekitar 50% dibandingkan tahun 2024.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh tiga faktor utama.
Pertama, rendahnya tingkat imunisasi hewan.
Tingkat vaksinasi rabies pada anjing peliharaan di wilayah perkotaan hanya 69,1%, sementara pada kucing hanya 30,9%. Di daerah pedesaan dan terpencil, tingkat vaksinasi bahkan kurang dari 40%, jauh di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan bahwa tingkat vaksinasi 70% dapat memutus rantai penularan.
Kedua, penanganan pasca-pajanan yang tidak standar.
Data CDC Tiongkok menunjukkan bahwa setiap tahun sekitar 40 juta orang di Tiongkok termasuk kelompok yang terpapar risiko rabies. Namun, saat ini tingkat vaksinasi rabies pasca-pajanan hanya sekitar 35%. Di antara pasien dengan pajanan tingkat III (gigitan berat), tingkat penggunaan imunoglobulin rabies hanya 36%.
Ketiga, celah manajemen dan faktor sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah hewan liar meningkat tajam. Pada tahun 2025, jumlah total anjing dan kucing di wilayah perkotaan mencapai 126 juta ekor, bertambah 2,21 juta ekor per tahun, dan fenomena penelantaran hewan semakin memperparah terbentuknya rantai penularan. Terutama di wilayah perbatasan antarprovinsi yang menjadi “wilayah tanpa pengelolaan”, tumpang tindih kewenangan antarinstansi menyebabkan lemahnya pengendalian.
Seorang blogger medis menulis dalam unggahannya: “Angka vaksinasi pasca-pajanan sebesar 35% sebenarnya sudah tergolong tinggi. Menurut data, dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok setiap tahun menggunakan lebih dari 50 juta dosis vaksin rabies, rata-rata sekitar 140 ribu dosis per hari. Jumlah penggunaan vaksin rabies ini menempati peringkat pertama di dunia dan menyumbang sekitar 80% dari total penggunaan vaksin rabies global.”
“Angka ini dicapai dalam kondisi ‘tingkat vaksinasi pasca-pajanan 35%’. Jika semua orang yang tergigit benar-benar divaksin, jumlahnya akan meningkat lebih dari dua kali lipat. Bisa dibayangkan berapa banyak orang yang setiap hari terluka akibat gigitan anjing.”
Ia juga menambahkan: “Bagi manusia, suntikan vaksin rabies setelah digigit anjing adalah pilihan yang terpaksa. Namun, ini adalah pendekatan yang terbalik. Seharusnya setiap pemilik anjing dengan baik memberikan vaksin rabies hewan kepada anjing peliharaannya dan mengelola serta mengendalikan anjing tersebut dengan benar, bukan justru mengalihkan risiko kepada orang-orang yang tidak bersalah.”
Menurut informasi publik, rabies adalah penyakit menular zoonosis yang disebabkan oleh virus rabies (RABV). Virus ini terutama menyerang sistem saraf pusat. Setelah penyakit ini muncul, pasien akan mengalami gejala seperti takut air, sensitif terhadap cahaya, dan takut angin. Hingga saat ini, belum ada terapi khusus yang efektif untuk penyakit ini, dan tingkat kematiannya mendekati 100%.
EtIndonesia. Kasus tumbangnya Jenderal Zhang Youxia dan Liu Zhenli memicu perhatian luas. Sejumlah analis di luar negeri menilai bahwa perebutan kekuasaan di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memasuki tahap sangat panas.
Dalam jangka pendek, hal ini diperkirakan akan menurunkan kemungkinan PKT melancarkan serangan militer terhadap Taiwan. Namun demikian, tidak dikesampingkan bahwa Xi Jinping—demi kepentingan kekuasaan—dapat salah menilai situasi, terjebak dalam “self-hypnosis”, lalu mengambil keputusan bodoh dan gegabah yang justru mendorong Selat Taiwan menuju konflik.
Zhang Youxia yang berusia 75 tahun berasal dari kalangan “generasi merah kedua”. Ayahnya, Zhang Zongxun, adalah jenderal berpangkat tinggi pada masa perebutan kekuasaan PKT.
Zhang Youxia pernah dua kali terlibat dalam perang perbatasan Tiongkok–Vietnam. Sementara Liu Zhenli yang berusia 61 tahun juga pernah mengikuti perang Vietnam. Keduanya memiliki pengalaman tempur nyata.
Sumber internal mengungkapkan bahwa salah satu alasan kunci tumbangnya Zhang Youxia adalah karena ia secara tegas menentang penggunaan kekuatan militer terhadap Taiwan dalam waktu dekat pada pertemuan internal.
Ia menilai bahwa sistem pertahanan Taiwan berada tepat di bawah Israel dan bahkan lebih kuat dibanding Ukraina. Selain itu, kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat, Jepang, Australia, serta aliansi Lima Mata (Five Eyes) sangat tinggi.
Jika perang berkepanjangan dan tidak segera dimenangkan, hal itu berpotensi memicu gejolak besar di dalam PKT sendiri. Sikap ini dipandang Xi Jinping sebagai “menggoyahkan moral militer”, dan menjadi pemicu utama pembersihan terhadap Zhang Youxia.
“Xi Jinping sekarang ingin melakukan apa yang disebut sebagai operasi militer terhadap Taiwan, tetapi dalam pelaksanaannya kemungkinan akan kekurangan orang-orang yang memiliki pengalaman tempur nyata. Hal ini tentu akan mempengaruhi tindakan militernya terhadap Taiwan, bahkan mempengaruhi keseluruhan persiapan militer,” kata peneliti Madya Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Zhong Zhidong.
Pejabat keamanan nasional yang memahami sistem militer dan politik Tiongkok menyebutkan bahwa penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli secara bersamaan sama dengan mencabut “otak politik” dan “otak operasional” Tentara Pembebasan Rakyat.
Apalagi, posisi kepala staf sulit segera digantikan, sehingga dalam jangka pendek berpotensi menimbulkan terputusnya rantai komando dan kekacauan dalam operasi gabungan. Di wilayah berisiko tinggi seperti Selat Taiwan, risiko salah perhitungan pun meningkat.
“Dalam masalah ini, semua kemungkinan tetap terbuka. Perkembangan situasi terbaru menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan di dalam militer sangatlah sengit. Posisi Xi di dalam partai dan militer pasti akan sangat melemah. Ada kemungkinan ia bertindak nekat demi menunjukkan wibawa, tetapi kemungkinan yang lebih besar adalah Xi akan sibuk memperkuat posisinya di dalam militer dan menunda petualangan militer terhadap Taiwan,” kata ekonom Tionghoa-Amerika Wen Guanzhong.
Sementara itu, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya Pertahanan di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Ziyun, menyatakan : “Pada dasarnya, perang di Selat Taiwan memang tidak mudah dan berisiko tinggi gagal. Bagi Xi Jinping yang sedang mengejar masa jabatan keempat, hal itu jelas tidak menguntungkan.”
“Kini setelah ia membersihkan para jenderal senior, kemampuan komando secara keseluruhan melemah, dan ke depan tidak ada figur matang yang siap digunakan. Karena itu, kemungkinan perang kembali menurun.”
Para pakar menilai bahwa meskipun tampak seolah Xi Jinping telah menguasai militer, posisinya sebenarnya sangat berbahaya.
“Sekilas Xi Jinping tampak memegang kendali atas militer, tetapi kenyataannya situasinya sangat berisiko. Pasukan yang tersisa seolah-olah telah didorong Xi ke sudut tembok. Apakah mereka akan nekat mengambil risiko besar, itu justru menjadi kekhawatiran utama Xi Jinping sendiri,” kata Su Ziyun.
Su Ziyun juga secara gamblang menyebutkan bahwa “laras senjata, kantong uang, alat kekerasan, dan alat propaganda” PKT kini sama-sama bermasalah—dan semua itu merupakan akibat dari Xi Jinping. Julukan yang diberikan rakyat kepadanya sebagai “akselerator utama” (yang mempercepat kehancuran) dinilai sangat tepat.
Laporan wawancara oleh wartawan NTDTV Tian Xin dan reporter khusus Luo Ya.
Pada Senin (26 Januari), banyak wilayah di Amerika Serikat kembali melewati malam musim dingin yang sangat dingin, dengan pemadaman listrik yang masih meluas. Badai musim dingin yang kuat ini tidak hanya membawa hujan salju dalam skala langka ke wilayah Timur Laut, tetapi juga melapisi sebagian wilayah Selatan dengan es tebal. Jumlah korban jiwa akibat gelombang dingin ini telah meningkat menjadi 29 orang.
EtIndonesia. Salju tebal menyebabkan lumpuhnya lalu lintas di sejumlah daerah, ribuan penerbangan dibatalkan, dan sekolah-sekolah ditutup secara massal.
Dari New York dan Massachusetts di wilayah Timur Laut hingga Texas dan North Carolina di Selatan, jalanan menjadi licin akibat es, dengan ketebalan salju mencapai lebih dari satu kaki.
Badan Meteorologi Nasional AS menyatakan, wilayah di utara Pittsburgh mencatat curah salju hingga 20 inci, serta menghadapi suhu dingin ekstrem dengan wind chill mencapai minus 25 derajat Fahrenheit dari Senin malam hingga Selasa (27/1).
Hujan es yang terjadi pada akhir pekan menyebabkan dahan pohon dan kabel listrik roboh, memicu pemadaman listrik besar-besaran di Mississippi bagian utara dan sebagian Tennessee. Hingga Senin malam, lebih dari 670.000 pelanggan di seluruh AS masih mengalami pemadaman listrik.
“Malam ini akan semakin dingin. Kayu bakar saya hampir habis, dan kami masih tidak bisa keluar. Sepertinya butuh satu hingga dua minggu untuk memulihkan listrik,” ujar penduduk Nashville, Lisa Patterson.
“Sebuah jalan selama badai musim dingin di Kota New York pada 25 Januari 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times”
Penduduk Nashville lainnya, Nathan Hoffner, berkata: “Siang hari masih bisa ditahan, tapi malam hari benar-benar berat. Pagi ini saat bangun, saya melihat napas saya berubah menjadi kabut putih. Saat tidur saya memakai banyak lapisan pakaian—dua celana, kaus kaki, hoodie, jaket, bahkan memakai syal di tempat tidur. Saya juga menutupi diri dengan sekitar delapan selimut baru bisa bertahan.”
Pejabat Mississippi memperingatkan bahwa karena ini merupakan badai es terparah dalam lebih dari 30 tahun terakhir, proses pembersihan kerusakan dan pemulihan listrik bisa memakan waktu satu minggu atau lebih.
Gubernur Mississippi Tate Reeves mengatakan: “Badai es sangat berbeda dibandingkan hampir semua jenis badai lainnya. Terutama setelah lapisan es terbentuk, meskipun hujan berhenti selama 48 jam, suhu belum tentu naik di atas titik beku, sehingga menimbulkan tantangan besar dalam pengerahan sumber daya.”
Menurut data FlightAware, hingga Senin sore sekitar 5.220 penerbangan di AS dibatalkan dan lebih dari 6.500 penerbangan mengalami penundaan. Sekitar 285 penerbangan yang dijadwalkan untuk Selasa telah dibatalkan lebih awal.
Badan Penerbangan Federal AS (FAA) menyatakan bahwa hujan salju, hujan es, dan jarak pandang rendah telah mengganggu bandara-bandara utama, termasuk Boston dan New York.
Di tengah sapuan badai musim dingin besar “Fern”, sebuah jet bisnis pribadi yang membawa 8 orang jatuh saat lepas landas pada Minggu malam (25 Januari) di Bandara Internasional Bangor, negara bagian Maine. Insiden ini menewaskan 7 orang, sementara satu awak pesawat selamat namun mengalami luka serius.
Gelombang dingin ini telah menyebabkan 29 kematian, termasuk dua orang akibat kecelakaan kendaraan penyapu salju di Massachusetts dan Ohio; kecelakaan kereta luncur di Arkansas dan Texas; seorang perempuan di Kansas yang ditemukan meninggal di salju; serta 8 kematian di luar ruangan yang ditemukan di New York City selama akhir pekan ekstrim dingin.
Laporan kematian lainnya mencakup 4 orang di Tennessee, masing-masing 3 orang di Louisiana dan Pennsylvania, 2 orang di Mississippi, serta masing-masing 1 orang di New Jersey dan South Carolina.
Menurut perkiraan AccuWeather, badai ini berpotensi menjadi bencana alam termahal sejak kebakaran hutan Los Angeles tahun 2025, dengan estimasi kerugian awal mencapai 105 hingga 115 miliar dolar AS.
Badan meteorologi memperingatkan bahwa gelombang dingin yang melanda dua pertiga wilayah Amerika Serikat tidak akan segera mereda.
Akhir pekan ini, sebagian wilayah Pantai Timur AS kemungkinan akan kembali menghadapi badai musim dingin lainnya, membuat daerah yang sudah tertutup salju dan es terus bertahan di bawah titik beku.
Laporan oleh jurnalis NTD, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat
EtIndonesia. Seorang pendeta di Florida menuai kecaman karena diduga menekan para pengikutnya untuk menyumbangkan 10.000 dolar dalam 90 detik demi kesempatan menjadi milioner.
Konon, Anda harus mengeluarkan uang untuk menghasilkan uang, dan tampaknya hal itu juga berlaku untuk mukjizat ilahi. Setidaknya menurut Dr. Todd Hall, seorang pendeta Kristen populer yang, selama kotbah kenabian ADR, meminta jemaatnya untuk memberikan sumbangan kilat sebesar 10.000 dolar hanya dalam 90 detik agar Tuhan dapat mengubah mereka menjadi milioner.
“Tuhan berkata, Aku ingin menjadikan seseorang milinoer, tetapi mereka harus menabur sepuluh ribu dolar. Dan mereka harus melakukannya dalam 90 detik,” kata Hall dalam kotbah tersebut. “Tulis ceknya! Jika Anda melakukan ini, Tuhan berkata Aku akan menjadikan Anda milioner. Saya berharap itu saya!”
Dr. Todd Hall, alias ‘The Praiseologist’, adalah pendiri Shabach Ministries of Praise, Inc., Gereja Shabach di Apopka, Florida, dan The Shabach Fellowship. Ia juga seorang pengusaha dan CEO Risky Productions dan TMH Enterprises sm.
Sebagai seorang pengusaha, kemampuan untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin adalah kualitas yang patut dicontoh, tetapi Hall menganggap dirinya sebagai seorang hamba Tuhan, sehingga banyak yang melihat aksi terbarunya sebagai tindakan yang menyinggung dan bersifat eksploitatif. Desakan permintaannya dan janji untuk menjadikan para donatur milioner melalui kehendak ilahi semata dimaksudkan untuk menekan jemaat agar merogoh kocek mereka.
Video klip tersebut, yang menjadi viral minggu lalu, menunjukkan The Praiseologist di depan layar digital besar yang menampilkan kode QR berlabel Tabur Benihmu, dengan seorang penampil yang digantung dengan kawat yang dirancang untuk memperkuat pesan ilahinya. Adegan tersebut telah memicu tuduhan manipulasi dan eksploitasi, yang telah menghantui Injil kemakmuran selama beberapa waktu. (yn)
EtIndonesia. Setelah gagal ujian masuk sekolah kedokteran dua kali, seorang pemuda di India memutuskan untuk memotong kakinya sendiri agar bisa diterima melalui jalur kuota disabilitas.
Seperti ratusan ribu pemuda India lainnya, Suraj Bhaskar, seorang pemuda ambisius berusia 20 tahun dari Uttar Pradesh, bermimpi menjadi dokter dan membanggakan keluarganya. Sayangnya, persaingan yang ketat membuat mimpi itu sulit dicapai, karena dia gagal ujian masuk sekolah kedokteran NEET dua kali. Namun dia tidak membiarkan hal itu menghentikannya.
Suraj dituduh melakukan tindakan mengejutkan untuk memastikan penerimaannya di sekolah kedokteran. Polisi menduga bahwa dia memotong kakinya sendiri dan membuatnya tampak seperti korban kekerasan hanya agar bisa masuk sekolah kedokteran melalui jalur kuota disabilitas. Hukum India mewajibkan kuota 5% untuk penyandang disabilitas (PwD) di lembaga pendidikan tinggi negeri dan yang dibantu pemerintah, termasuk perguruan tinggi kedokteran.
Tindakan pemuda itu terungkap setelah kakak laki-lakinya, Akash Bhaskar, memberi tahu polisi bahwa penyerang tak dikenal telah menyerang adiknya di Desa Khalilpur, membuatnya pingsan dengan kaki yang terputus. Kasus pun didaftarkan, dan polisi meluncurkan penyelidikan yang akhirnya menemukan banyak ketidakkonsistenan dalam cerita Suraj Bhaskar.
“Tersangka mencoba menyesatkan penyelidikan dengan cerita palsu, tetapi klaimnya tidak terbukti benar selama pemeriksaan dan pengujian bukti yang berkelanjutan,” kata juru bicara polisi kepada wartawan, menambahkan bahwa mereka memiliki alasan untuk percaya bahwa Suraj telah memotong kakinya sendiri.
Polisi menemukan buku harian milik Suraj di mana dia menulis: “Saya akan menjadi dokter MBBS pada tahun 2026,” dan memperoleh pernyataan dari pacarnya tentang obsesinya untuk masuk sekolah kedokteran. Mereka juga mengetahui bahwa dia telah mencoba mendapatkan dokumen terkait disabilitas beberapa bulan sebelumnya, tetapi gagal.
Menurut laporan medis, kaki Suraj telah dipotong dengan rapi, kemungkinan besar dengan mesin. Luka tersebut terlalu bersih untuk disebabkan oleh serangan pisau yang brutal. Jarum suntik yang ditemukan di ladang dekat tempat Suraj ditemukan juga menunjukkan bahwa dia telah menggunakan anestesi untuk membius kakinya sebelum melakukan amputasi.
“Korban berulang kali mengubah pernyataannya dan mencoba menyesatkan polisi,” kata seorang petugas polisi, menambahkan bahwa Suraj Bhaskar telah dikirim ke pusat trauma untuk perawatan yang lebih baik. Kakinya belum ditemukan.
Meskipun polisi yakin bahwa pria berusia 20 tahun itu memotong kakinya sendiri untuk masuk sekolah kedokteran tanpa harus lulus ujian NEET, tindakannya sangat mengejutkan sehingga tidak ada yang benar-benar tahu tindakan hukum apa yang dapat diambil terhadapnya. Jika rencananya untuk masuk sekolah kedokteran gagal, harus menjalani sisa hidupnya dengan satu kaki mungkin sudah cukup sebagai hukuman.(yn)
Fokus Hari Ini: Mengapa Zhang Youxia Melewatkan Kesempatan Emas? Zhongnanhai Kembali Memasuki Momen Paling Bergolak yang Situasinya Tidak Kalah dengan Insiden Lin Biao pada 13 September 1971. Xi Jinping Menguras Habis Darah Terakhir dari Partai Komunis Tiongkok!
Karena pada hari Sabtu (24 Januari), Zhang Youxia dan Liu Zhenli ditangkap pada hari yang sama. Yang satu adalah Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat, dan yang lainnya adalah Kepala Departemen Staf Gabungan, Komisi Militer Pusat. Keduanya adalah tokoh penting di militer Partai Komunis Tiongkok (PKT). Penangkapan mereka berarti hanya sisa 2 dari 7 orang pejabat tinggi kunci di militer PKT, yakni Xi Jinping sendiri yang menjabat sebagai Ketua Komisi Militer Pusat berpangkat tertinggi, dan Zhang Shengmin, yang dipromosikan menjadi Wakil Ketua Komisi Militer Pusat pada bulan Oktober tahun lalu.
Oleh karena itu, banyak orang percaya bahwa telah terjadi beberapa perubahan besar dalam tubuh PKT. Untuk membahas hal ini, bersama kita saat ini adalah Shi Shan, seorang profesional media dan pembawa acara yang fokus pada perubahan kekuasaan di Tiongkok daratan.
Selain itu, juga bersama saya (Fu Yao) seorang komentator dan analis politik dan ekonomi senior bernama Qin Peng.
Jadi, mari kita mendengarkan penjelasan dari Shi Shan atas apa yang ia lihat dalam peristiwa ini, serta dampak dan perubahan terbesarnya.
Shi Shan: Cukup jelas. Pertama, Kesimpulan yang kita peroleh yaitu, ini bukan kampanye anti-korupsi, bukan korupsi internal atau soal mutasi dan rotasi biasa. Ini terkait dengan perebutan kekuasaan. Jadi, seperti sebelumnya, termasuk Jenderal He Weidong dan Miao Hua, kejatuhan mereka juga bukan karena upaya pembasmian korupsi. Mereka semua itu berkecimpung dalam sistem PKT dan memahami betul bagaimana sifat dan metode anti-korupsi dan perebutan kekuasaan internal.
Kedua, ini secara langsung membuktikan bahwa hubungan Xi Jinping dengan militer sangat buruk. Setidaknya hubungannya dengan kelompok tokoh militer teknis dan profesional yang diwakili oleh Zhang Youxia dan Liu Zhenli sangat buruk. Orang-orang dulu mengatakan mereka memiliki hubungan yang baik, bahwa mereka seperti keluarga, teman masa kecil—saya katakan, hubungan itu tidak dapat dipertahankan secara politik.
Fu Yao: Semua orang tahu bahwa Zhang Youxia-lah orang yang membantu Xi Jinping naik tahta pada Kongres Nasional PKT ke-20.
Shi Shan: Tetapi ini tidak berlaku secara politik karena situasi dapat berubah.
Ketika menyangkut perebutan kekuasaan tertinggi, tidak ada hubungan yang dapat diandalkan. Coba tengok di Tiongkok kuno, saudara dan ayah saling membunuh, tidak peduli apakah teman sejak masa kecil atau bukan. Bagi penguasa, ia takut orang lain merebut kedudukannya, membagi kekuasaannya yang menyebabkan dia kehilangan kendali. Sedangkan bagi mereka yang berada di bawahnya, mereka memiliki dua motivasi:
yang pertama adalah keinginan—untuk menduduki posisi itu. Kedua, bahkan jika mereka tidak menginginkan posisi itu, timbul rasa takut—takut dicurigai, yang dapat menyebabkan ia berada dalam posisi bahaya, sehingga timbul upaya untuk mencegah. Dan begitu bertindak, kekuasaan tertinggi akan berpikir: “Apa yang sedang kalian coba lakukan?”, pemikiran ini justru menjadi pendorong kekuasaan tertinggi bertindak lebih cepat. Dalam sejarah, sudah ada banyak contoh serupa.
Fu Yao: Apa yang baru saja Anda katakan mengingatkan saya pada pengungkapan Mr. Du Wen, mantan pejabat Mongolia Dalam yang pernah mengatakan bahwa kali ini Zhang Youxia dan Liu Zhenli ingin “mendatangkan gebrakan” untuk melengserkan Xi Jinping, di mana rencana kudeta lebih awal “tercium” oleh Xi Jinping, sehingga ia mengambil tindakan mendahului dengan menangkap keduanya. Apakah kita bisa percaya dengan pernyataan tersebut?
Shi Shan: Kami tidak dapat mengomentari detail spesifiknya, tetapi dari situasi saat ini, tampaknya tidak besar kemungkinan sebuah kudeta hanya dilakukan oleh 1 atau 2 orang jenderal militer. Ini karena militer PKT berbeda dari militer negara lain atau militer kuno. Selain mengenai sistem komando militernya, juga perlu melibatkan sistem pengawasan politik. PKT selalu mengatakan “Partai yang mengendalikan senjata,” dan ini bukan hanya slogan. Struktur organisasinya dirancang sedemikian rupa, misalnya, instruktur politik diangkat hingga ke tingkat kompi.
Oleh karena itu, saya percaya bahwa sengketa kekuasaan antara Zhang Youxia, Liu Zhenli, dan Xi Jinping bukan sekadar masalah militer, melainkan perebutan kekuasaan politik internal. Jika kita ingin menelusurinya, skenario yang paling mungkin terjadi adalah selama Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok ke-18. Pada saat itu, Xi Jinping sengaja “menjauhkan diri dari sorotan publik” untuk sementara waktu karena alasan kesehatan, dan dibutuhkan mekanisme untuk mengoordinasikan pekerjaan. Zhang Youxia, yang mewakili militer, mengambil kesempatan untuk menyingkirkan semua orang yang tidak disukainya di dalam militer.
Fu Yao: Jadi, menurut Anda apakah rumor sebelumnya tentang aliansi Zhang Youxia dengan para tetua PKT justru mengkonfirmasi keaslian peristiwa ini?
Shi Shan: Ya, saya rasa begitu. Ketika Xi Jinping mencoba untuk mengembalikan kewibawaannya yang telah melorot, ia merasa sangat sulit. Kekuasaan adalah sesuatu yang mudah dilepaskan tetapi sulit direbut kembali. Hal ini akan menyebabkan meningkatnya kecurigaan dan rasa tidak aman di antara mereka, yang pada akhirnya menyebabkan pengambilan tindakan.
Fu Yao: Pertanyaan lainnya adalah, siapa sebenarnya yang menangkap Zhang Youxia? Ada yang mengatakan Wang Xiaohong, bersama dengan Biro Layanan Khusus, Biro Keamanan Pusat, dan Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin. Apakah Zhang Shengmin, yang sekarang berkuasa penuh, benar-benar terlibat? Bagaimana pendapat Qin Peng?
Qin Peng: Saya percaya informasi terkini yang menunjukkan bahwa posibilitas dari keterlibatan Biro Layanan Khusus Wang Xiaohong, Biro Keamanan Pusat, dan Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin cukup tinggi. Karena kendali Zhang Youxia atas militer berbeda dari orang biasa. Dia telah memupuk pengaruhnya selama lebih dari 50 tahun, dimulai dari dirinya masih menjabat sebagai komandan kompi dalam Perang Vietnam pada tahun 1970-an, juga ayahnya adalah seorang jenderal di militer PKT. Infiltrasi militernya sangat dalam. Selama sepuluh tahun terakhir, ia terlibat langsung dalam promosi, evaluasi, dan komando personel militer.
Dalam keadaan seperti ini, mengirim personel militer untuk menangkapnya akan menyebabkan informasi mudah tercium. Untuk menjaga kerahasiaan, tentunya pasukan khusus yang lebih diandalkan. Ini agak mirip dengan situasi di era antara Mao Zedong dan Liu Shaoqi. Mr. Shi Shan percaya bahwa selama Sidang Pleno Ketiga, Zhang Youxia dan para tetua PKT cenderung menjadikan Xi Jinping sebagai figuritas, seperti halnya Mao Zedong saat mengundurkan diri usai menggerakkan Lompatan Jauh ke Depan. Namun, Liu Shaoqi dan para “pragmatisnya” pada saat itu melakukan kesalahan fatal: di satu sisi berusaha mempertahankan Partai, di sisi lain mereka secara bersamaan mendewakan Mao Zedong.
Hal yang sama terjadi kembali, di mana sistem masih mengidolakan Xi Jinping. Ini seperti Kaisar Kangxi menangkap Ao Bai, jenderal yang memegang kendali militer dan politik yang sangat besar, namun Kangxi hanya menyuruh beberapa pegulat muda untuk menangkapnya. Kesalahan yang dilakukan Zhang Youxia adalah ia percaya bahwa dengan militer di tangannya, tidak ada pihak lain yang bisa menyentuhnya, tetapi sebenarnya ini adalah ujian masalah keberanian.
Xi Jinping yang memegang kekuasaan nominal atas Partai, pemerintah, dan militer, dapat menginstruksikan penangkapan. Begitu perintah diturunkan, mereka yang berada di tingkat akar rumput hanya dapat belajar, menyerahkan telepon mereka, dan berjanji setia—tidak seorang pun yang dapat bergerak melawannya. Ini adalah taktik Revolusi Kebudayaan ala Maois.
Fu Yao: Cukup menyedihkan, seorang Zhang Youxia yang sejak masa kecil telah bersahabat dengan Xi Jinping dengan ikatan keluarga yang dekat, menemani Xi Jinping meniti sampai ke puncak karier, saat ini harus disingkirkan. Apakah ini berarti “kartu bebas hukuman” bagi generasi kedua pejabat tinggi sudah tidak berlaku?
Shi Shan: Politik memang seperti ini. Bagaimana Zhang Youxia dan Liu Zhenli digulingkan? Seperti yang dikatakan Qin Peng, itu tidak memerlukan perbandingan kekuatan militer. Kudeta sepanjang sejarah Tiongkok tidak pernah memerlukan perbandingan kekuatan militer, sejarah sudah banyak memberikan contoh.
Tetapi sampai seluruh personel militer diperintahkan untuk mengikuti kajian, hal ini menunjukkan bahwa konflik telah meningkat sampai ke titik ekstremnya. Saya duga, skenario yang paling mungkin adalah: kedua jenderal itu dijebak dalam ruang pertemuan, setelah itu tiba-tiba muncul orang-orang dari koridor dan langsung menangkap mereka. Sebuah kejadian mirip penangkapan lewat Jamuan Makan di Hongmen pada 206 SM di Gerbang Angsa.
Fu Yao: Apa dampaknya terhadap prestise Xi Jinping? Banyak orang membandingkannya dengan Insiden Lin Biao.
Shi Shan: Setelah Insiden Lin Biao, prestise Mao Zedong anjlok, tetapi selama Mao masih hidup, tidak ada yang berani menyentuhnya. Hanya saja prestise Mao jauh melampaui Xi Jinping. Mao pernah memimpin pasukan keluar dari tumpukan mayat. Sekarang, militer diam-diam menertawakan Xi Jinping karena ia tidak pernah masuk militer, tidak pernah memegang senjata sehingga selalu “meleset dari sasaran.”
Sekarang, hampir setiap lapisan masyarakat mengkritik Xi Jinping, tetapi mereka tidak berani melakukannya secara terbuka. Sebelumnya, tidak ada orang yang berani menulis “Turunkan Mao Zedong” di dinding toilet, tetapi sekarang di internet, julukan seperti “Winnie the Pooh” dan “Baozi” muncul di mana-mana.
Qin Peng: Keputusan Xi Jinping menginstruksikan personel militer untuk mengikuti kajian, mempelajari pemikiran Xi justru membuktikan ketakutannya akan kudeta militer, dan menyadari bahwa sebenarnya ia tidak memiliki kendali penuh atas militer.
Fu Yao: Akankah terjadi kudeta militer atau “penyimpangan” di masa depan?
Shi Shan: Kecuali ada kondisi eksternal, seperti perang. Jika saat ini menyerang Taiwan, dan peluru diberikan kepada tentara, dan pesawat membawa rudal bisa saja terbang menuju Beijing alih-alih Taiwan, maka sulit untuk dilukiskan. Jadi Xi malahan lebih ragu untuk menyerang Taiwan. Maka Taiwan saat ini lebih aman.
Qin Peng: Tetapi dia akan terus memprovokasi untuk mengalihkan perhatian. Editorial surat kabar militer mengatakan bahwa kejahatan Zhang Youxia adalah “menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab Ketua Komisi Militer Pusat,” yang lebih serius daripada kasus Miao Hua dan He Weidong. “Menginjak-injak” berarti penghinaan dan serangan.
Fu Yao: Melihat kembali seluruh proses, bagaimana menurut Anda, apakah Zhang Youxia ingin merebut kekuasaan? Atau lebih untuk menyelamatkan diri?
Shi Shan: Saya pikir ia lebih cenderung untuk menyelamatkan dirinya. Pembersihan yang dilakukan Xi Jinping dimulai dari faksi Jiang Zemin dan langsung menuju para sekutunya yang telah ia promosikan, akhirnya mencapai sekutu dekat Zhang Youxia seperti Li Shangfu, dan bahkan melibatkan korupsi di Kementerian Peralatan. Xi Jinping dikenal karena berhati dingin, jarang memberikan bantuan kepada orang lain, bahkan berkecenderungan untuk mendepak mereka yang telah memenuhi tujuannya.
Zhang Youxia telah mengembangkan kekuasaannya di militer selama bertahun-tahun, menjadi tokoh yang sangat berpengaruh. Xi ingin He Weidong mengendalikan Zhang, tetapi gagal. Xi ingin menggunakan kampanye anti-korupsi untuk melemahkan wibawa Zhang, bahkan mempertimbangkan untuk menyingkirkannya. Pernah untuk suatu waktu Zhang Youxia tampak sangat turun semangatnya, sampai tidak menggunakan seragam atau dasinya saat menghadiri pertemuan. Itu tanda-tanda menjelang ia digeser. Kemudian, ia menggunakan kesehatan Xi yang menurun untuk melancarkan serangan balik, tetapi ia tidak berambisi untuk menggantikan Xi. Ini mungkin mencerminkan kepribadiannya, atau mungkin terkait dengan usianya. (sin/asr)