Laporan Intelijen Terbaru dari Eropa: Tiongkok Secara Diam-diam Melatih Skuadron Drone Rusia

EtIndonesia. Pada Selasa (19 Mei), bersamaan dengan dimulainya kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing, Rusia menggelar latihan militer nuklir skala besar.

Meski Rusia dan Tiongkok secara terbuka terus menyatakan hubungan “kemitraan strategis komprehensif”, media Inggris Financial Times mengungkap bahwa pemimpin PKT Xi Jinping pekan lalu secara pribadi mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa Putin menyesali invasi Rusia ke Ukraina.

Di saat yang sama, kalangan intelijen Eropa juga membocorkan informasi mengejutkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) tahun lalu diam-diam melatih pasukan drone Rusia. Berbagai bocoran ini kembali memicu penafsiran baru terhadap hubungan nyata antara PKT dan Rusia.

Putin Berkunjung ke Tiongkok Saat Perang Berlanjut, Rusia Gelar Latihan Nuklir

Kementerian Pertahanan Rusia pada Selasa mengumumkan bahwa militer Rusia mulai hari itu menggelar latihan nuklir selama tiga hari, termasuk uji coba rudal balistik dan rudal jelajah.

Pihak Rusia menyatakan latihan tersebut melibatkan lebih dari 65.000 personel militer, lebih dari 200 perangkat peluncur rudal, 140 pesawat, serta kapal perang dan kapal selam nuklir strategis.

Waktu latihan ini dianggap sangat sensitif karena pada malam harinya Putin tiba di Beijing untuk memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari.

 “Hari ini, hubungan Rusia-Tiongkok telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Putin. 

Dalam pidato videonya sebelum berangkat, Putin menekankan kerjasama strategis dan kemitraan komprehensif Rusia-Tiongkok, serta menyatakan kedua negara akan saling mendukung dalam isu kepentingan inti masing-masing.

Namun ironisnya, Financial Times melaporkan bahwa Xi Jinping saat bertemu Trump minggu lalu mengungkap bahwa Putin kemungkinan menyesali peluncuran perang invasi terhadap Ukraina.

Meskipun Xi Jinping dan Trump sama-sama membantah kabar tersebut, informasi itu langsung mengguncang komunitas internasional dan memicu penafsiran baru mengenai hubungan Tiongkok-Rusia, sekaligus menambah spekulasi menjelang pertemuan puncak kedua negara.

Perang Rusia-Ukraina Terus Memanas

Saat Putin melakukan kunjungan luar negeri, perang Rusia-Ukraina masih terus berkecamuk. Pada Selasa dini hari, Rusia menyerang wilayah Chernihiv dan Sumy di utara Ukraina, serta membombardir wilayah Odessa di selatan. Sedikitnya empat orang dilaporkan tewas. Serangan itu merupakan kelanjutan dari gelombang serangan udara besar-besaran Rusia belakangan ini.

Di sisi lain, Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh empat drone Ukraina yang menuju Moskow. Sejumlah wilayah Rusia dan fasilitas kilang minyak di Kota Yaroslavl juga dilaporkan diserang drone.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan:  “Dalam beberapa bulan terakhir, kapasitas pengolahan minyak Rusia turun 10 persen. Sekarang sebagian besar wilayah Rusia sudah bangkrut, dan Putin sedang membawa Rusia menuju kebangkrutan.”

Laporan Intelijen Eropa: PKT Diam-Diam Latih Pasukan Drone Rusia

Reuters pada Selasa melaporkan bahwa menurut dokumen rahasia terbaru yang diungkap tiga badan intelijen Eropa, PKT pada akhir tahun lalu diam-diam melatih sekitar 200 tentara Rusia di beberapa lokasi militer di Tiongkok.

Pelatihan itu berfokus pada “taktik drone”. Tentara Rusia disebut menggunakan simulator penerbangan milik PKT untuk melatih pengoperasian drone FPV (first-person view), mempelajari cara menggunakan drone untuk memandu mortir mengunci target, serta memakai senapan perang elektronik untuk melawan drone musuh.

Informasi intelijen juga menyebut bahwa sebagian tentara Rusia yang telah menyelesaikan pelatihan kini sudah kembali ke garis depan perang di Ukraina.

Terungkapnya dokumen rahasia ini terjadi tepat menjelang kunjungan Putin ke Tiongkok. Para analis menilai hal tersebut membuat negara-negara Eropa semakin waspada, karena menunjukkan tingkat keterlibatan PKT dalam perang Rusia-Ukraina mungkin jauh lebih langsung dan mendalam daripada yang sebelumnya diketahui publik.

Laporan gabungan reporter NTDTV, Yi Jing 

Bukan Rudal, Bukan Jet Tempur! Anggota Terpenting dari Kapal Induk USS Gerald Ford Sebenarnya adalah Seekor Anjing

0

EtIndonesia. Di atas kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) milik militer Amerika Serikat, ada seekor anjing Labrador Shepherd yang lucu. Di tengah suasana garis depan militer yang penuh tekanan, anjing ini menjadi teman paling hangat bagi para pelaut Angkatan Laut AS.

Pemandu anjing terapi, Eric Snitzer, mengatakan:  “Bahkan prajurit paling tangguh pun bisa luluh dan merasa rileks hanya setelah berinteraksi dengannya selama 30 detik, sebelum kembali menjalankan misi berbahaya.”

Untuk membantu mengatasi tekanan akibat lama jauh dari kampung halaman, para awak kapal induk Ford memiliki seorang teman berbulu istimewa bernama “Sage”. Ia adalah anjing terapi Labrador Shepherd berusia 6 tahun yang telah menemani para pelaut melewati banyak masa sulit.

Bagi para awak kapal, membelai, memeluk, atau sekadar melihat Sage berjalan di tengah keramaian sudah cukup untuk meredakan ketegangan sejenak. Saat ada anggota yang merasa sedih atau tertekan, Sage juga dapat memberikan kenyamanan dan membantu mereka menenangkan emosi sebelum kembali menjalankan tugas berikutnya.

Setelah kapal induk Ford menyelesaikan misi militer selama 11 bulan dan kembali ke pangkalan Norfolk di Virginia, Sage pun turut menyelesaikan perjalanan luar biasa itu bersama para perwira dan awak kapal.

Sumber : NTDTV.com

Kunjungan Tergesa-gesa Putin ke Beijing: Apa Perhitungan yang Mendasari Tindakan Tiongkok dan Rusia ?

Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja mengakhiri kunjungannya ke Tiongkok, Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada 19 Mei  malam. Sejumlah analis menilai bahwa Putin datang terburu-buru untuk mencari tahu “kartu rahasia” dari kontak antara Tiongkok dan AS. Pada dasarnya, pertemuan ini disebut sebagai ajang “pembagian kepentingan” antara Tiongkok dan Rusia, di mana masing-masing memiliki agenda sendiri dan sedang membahas strategi menghadapi situasi internasional.

EtIndonesia. Media Partai Komunis Tiongkok melaporkan bahwa pada 19 Mei pukul 23.12, Putin tiba di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing dengan pesawat khusus. Menteri Luar Negeri PKT Wang Yi datang menyambutnya. Dalam kunjungan ini, Putin dijadwalkan bertemu pemimpin PKT Xi Jinping.

Tokoh media terkenal Tiongkok, Li Chengpeng, menulis di platform X pada 20 Mei bahwa kunjungan Putin ke Tiongkok untuk ke-25 kalinya disambut dengan bunga plastik di tangan para pemuda dan diiringi band militer. Namun suasananya tidak semegah penyambutan Trump sebelumnya, dan durasinya juga sangat singkat. Pejabat yang menyambut Putin pun hanya Wang Yi.

Li Chengpeng mengatakan bahwa Putin datang dengan tiga tujuan utama:

  1. Meminta dukungan dana untuk menopang Rusia.
  2. Mengumpulkan informasi tentang Trump.
  3. Membahas langkah strategi bersama.

Ia mengatakan Putin tampak jauh lebih tua dibanding beberapa tahun lalu, terlihat gelisah meskipun berusaha tampak tenang. Hal itu dikaitkan dengan serangan drone Ukraina yang terus menggempur Rusia dalam beberapa hari terakhir. Putin disebut hanya tinggal satu hari di Beijing sebelum buru-buru kembali karena situasi di dalam negeri sedang genting.

Komentator independen Cai Shenkun juga menulis bahwa ini merupakan pertemuan ke-40 antara Xi Jinping dan Putin. Menurutnya, di permukaan tampak seperti “jabat tangan puncak politik dua pemimpin kuat”, tetapi sebenarnya merupakan “pertemuan pembagian kepentingan” di mana masing-masing pihak menyimpan agenda tersembunyi.

Cai menilai waktu kunjungan Putin sangat sensitif karena Trump baru saja meninggalkan Beijing. Pengaturan seperti “baru pergi lalu langsung datang” menunjukkan Beijing sedang memainkan strategi keseimbangan.

Menurut Cai Shenkun, bagi Xi Jinping, setelah beberapa hari lalu berbincang santai dengan Trump lalu langsung merangkul Putin, hal itu bertujuan menunjukkan kepada Washington bahwa Beijing selalu memiliki “kartu Rusia” di tangannya. 

Sedangkan bagi Putin, kunjungan mendadak ini bertujuan mencari tahu isi pembicaraan Tiongkok-AS sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya belum tersisih dari panggung internasional. Situasi ini justru memperlihatkan bahwa Rusia kini telah menjadi salah satu bidak dalam persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, seorang sumber yang dekat dengan sistem diplomasi Tiongkok bernama samaran Xue Zhiqiang mengatakan kepada media Epoch Times bahwa salah satu tujuan penting kunjungan Putin adalah mengetahui rincian pertemuan “Trump-Xi”. Karena itu, tidak terlihat agenda kunjungan lapangan atau wisata khusus selama Putin berada di Beijing.

Xue Zhiqiang mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri PKT menilai Putin ingin mengetahui apa sebenarnya yang dibicarakan Trump dan Xi, terutama terkait perang Rusia-Ukraina. Putin disebut sangat khawatir Amerika Serikat tidak puas dengan dukungan Rusia terhadap Iran.

Menurut sumber tersebut, Trump dan Xi telah mencapai kesepahaman mengenai isu Iran, yaitu menolak Iran memiliki senjata nuklir, dan Beijing juga disebut berjanji tidak akan memasok senjata kepada Iran.

Memasuki April, beberapa garis pertahanan Rusia dilaporkan mengalami kemunduran, sementara Ukraina mengklaim berhasil merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah. Tepat sebelum kunjungan Putin ke Beijing, media Inggris Financial Times mengungkap bahwa Xi Jinping dalam pertemuannya dengan Trump minggu lalu disebut mengatakan bahwa Putin menyesali invasi ke Ukraina.

Informasi tersebut dianggap sebagian pihak sebagai tanda perubahan halus dalam sikap Beijing terhadap Rusia. Namun kabar sensitif itu dibantah oleh Kementerian Luar Negeri PKT. Trump sendiri dalam wawancara juga mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar hal tersebut.

Komentator politik Li Linyi mengatakan kepada NTDTV bahwa jika bocoran itu benar, maka jelas Beijing sedang menjadikan perang Rusia-Ukraina sebagai kartu tawar dalam negosiasi dengan Trump. Menurutnya, Xi berani mengatakan hal seperti itu karena sudah tidak terlalu memandang Putin sebagai pihak yang setara.

Sementara komentator politik Lan Shu berpendapat bahwa pernyataan Xi pada momen penting ini sebenarnya bertujuan mengurangi tekanan pemerintah AS terhadap Rusia, sehingga memberi Putin lebih banyak ruang gerak secara politik, ekonomi, dan diplomatik. 

Laporan gabungan reporter Tang Zheng / Xia He

Remahan Dendeng di Tiongkok Jatuh ke Lantai, Semut yang Memakannya Langsung Mati

Pada 20 Mei, topik “semut mati semua setelah memakan dendeng camilan anak yang jatuh ke lantai” menjadi trending di media sosial Tiongkok. Setelah video terkait tersebar, banyak warga daratan Tiongkok kembali khawatir terhadap masalah keamanan pangan.

EtIndonesia. Pada 17 Mei, seorang netizen dari Hainan mengunggah postingan di media sosial yang mengatakan:  “Camilan dendeng yang dibeli anak jatuh ke lantai, lalu dimakan semut dan semuanya mati. Entah kandungannya apa sampai sekuat itu, benar-benar mengerikan. Saya menolak membiarkan anak makan makanan seperti ini lagi.”

Video yang diunggah menunjukkan sebuah camilan “dendeng ayam suwir” dari salah satu merek di Tiongkok. Setelah remah-remah daging jatuh ke lantai, banyak semut datang memakannya. Namun dalam waktu singkat, seluruh semut tersebut mati. Pemandangan itu membuat bulu kuduk merinding.

Berdasarkan daftar komposisi pada kemasan, produk dendeng tersebut mengandung etil maltol (bahan penambah aroma) dan natrium nitrit (pengawet).

Media daratan melaporkan bahwa etil maltol mengeluarkan aroma manis yang menarik semut, sementara natrium nitrit menghambat kemampuan sel membawa oksigen sehingga menyebabkan semut mati lemas. Kombinasi keduanya disebut mirip prinsip kerja umpan pembasmi serangga komersial.

Semut bisa mati karena ukuran tubuhnya sangat kecil (berat sekitar 5 miligram) dan memiliki metabolisme yang cepat.

Natrium nitrit merupakan bahan pengawet yang umum digunakan dalam produk daging untuk menghambat pertumbuhan bakteri botulisme, memperpanjang masa simpan, sekaligus menjaga warna daging tetap merah segar. Namun dalam kondisi tertentu, zat ini dapat membentuk nitrosamin yang bersifat karsinogenik kuat.

Sistem metabolisme anak-anak yang belum berkembang sempurna membuat konsumsi jangka panjang atau berlebihan terhadap produk daging olahan yang mengandung natrium nitrit berpotensi meningkatkan risiko kesehatan. Hal ini juga menjadi pengingat bagi para orang tua agar tidak hanya melihat rasa dan kemasan saat memilih camilan untuk anak, tetapi juga memperhatikan keamanan dan kewajaran komposisinya.

Video tersebut memicu kekhawatiran netizen mengenai keamanan pangan:

  • “Terlalu mengerikan, jangan berikan lagi kepada anak-anak.”
  • “Kalau semut memakannya bisa mati, manusia kalau makan terlalu banyak juga pasti bermasalah.”
  • “Kalau sering makan bisa jadi keracunan kronis.”

Ada juga yang berkomentar:

  • “Ini seperti pestisida model baru.”
  • “Saya curiga kandungan tambahannya sudah melebihi batas.”
  • “Obat semut yang saya beli online saja tidak bisa membunuh semut, ternyata camilan anak malah bisa membunuh semut.”

Sebagian netizen juga mengatakan bahwa beberapa camilan kemungkinan mengandung bahan tambahan berlebihan atau disalahgunakan, terutama produk tanpa merek terkenal. Konsumsi jangka panjang camilan tinggi garam dan aditif disebut dapat membebani hati dan ginjal anak-anak, serta mempengaruhi perkembangan indera perasa mereka sehingga terbiasa dengan rasa yang terlalu kuat.

Artikel itu juga menyinggung berbagai skandal keamanan pangan di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, seperti “susu beracun”, “daging mengandung clenbuterol”, “minyak limbah”, “roti kukus berwarna”, “beras beracun”, penggunaan ribuan jenis aditif makanan, hingga kasus “truk tangki pengangkut minyak makan campur muatan”. Menurut artikel tersebut, berbagai kasus itu menunjukkan seriusnya krisis kepercayaan dan kemerosotan moral dalam industri pangan di Tiongkok.

Sumber : NTDTV.com

Apakah Gedung Putih Dilengkapi 6 Tingkat Fasilitas Militer yang Tersembunyi ? Trump Mengungkapkan Detail Aula Perjamuan yang Baru

Pada Selasa (19 Mei), Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara langsung meninjau pembangunan aula perjamuan baru di White House. Ia mengatakan bahwa bangunan senilai sekitar 400 juta dolar AS tersebut sepenuhnya didanai oleh dirinya sendiri bersama para donatur swasta, tanpa menggunakan uang pembayar pajak. Menurut Trump, proyek itu merupakan hadiah bagi rakyat AS. Selain itu, Trump juga mengkonfirmasi bahwa di bawah aula baru tersebut akan dibangun fasilitas militer sedalam enam lantai di bawah tanah.

EtIndonesia. Rencana perluasan aula perjamuan Gedung Putih terus menarik perhatian media Amerika. Pada Selasa, 19 Mei, Trump datang langsung ke lokasi untuk memeriksa perkembangan proyek.

Ia menegaskan bahwa bangunan bernilai hampir 400 juta dolar AS itu sepenuhnya dibiayai secara pribadi oleh dirinya, perusahaan swasta, dan para donatur, tanpa membebani pembayar pajak.

“Ketika bangunan ini selesai, masa jabatan saya mungkin sudah hampir berakhir. Ini benar-benar dipersiapkan untuk presiden-presiden berikutnya, bukan untuk saya. Ini adalah hadiah saya untuk Amerika,” ujarnya. 

Ia menjelaskan bahwa bangunan tersebut akan mengatasi masalah yang selama 150 tahun dihadapi Gedung Putih, yaitu harus mendirikan tenda di halaman setiap kali ada acara besar karena kurangnya ruang acara dalam ruangan yang luas. Selain itu, desain bangunan ini juga memiliki kemampuan pertahanan strategis militer tingkat tinggi.

Trump berkata:  “Pertama, soal keamanan. Kedua, dari sisi sosial, ini sangat dibutuhkan bagi para presiden.”

Trump menyebut bangunan tersebut menggunakan baja antipeluru, kaca antipeluru setebal 4 inci, dan sekitar 9.000 pon beton berkekuatan tinggi. Aula perjamuan di bagian atas tanah disebutnya sebagai “perisai super”.

Trump juga mengungkapkan bahwa ruang enam lantai di bawah tanah akan dirancang menjadi berbagai ruangan pertahanan dan fasilitas rahasia berkeamanan tinggi. Keberadaan “perisai” di permukaan tanah dimaksudkan untuk melindungi fasilitas militer bawah tanah tersebut.

 “Di bawah sini ada berbagai macam ruangan. Mereka sedang membangun rumah sakit, rumah sakit militer, berbagai fasilitas penelitian, dan ruang konferensi,” katanya. 

Selain itu, dinding luar dan atap bangunan dirancang menyatu sepenuhnya dengan struktur rapat. Bagian atas menggunakan desain atap datar yang dapat menampung banyak drone.

Trump berkata:  “Bangunan ini memiliki kapasitas drone yang sangat besar. Bukan hanya mampu melawan drone, jika ada drone menabrak, drone itu akan terpental. Tempat ini juga dirancang sebagai pelabuhan drone.”

Ia menambahkan bahwa militer dapat ditempatkan di atap bangunan, dengan kemampuan pengawasan 360 derajat ke seluruh Washington DC, yang mana secara signifikan meningkatkan kemampuan penempatan penembak jitu dan akan menjadi benteng terbaru untuk menjaga keamanan ibu kota Amerika Serikat.

Laporan reporter NTDTV, Zheng Shengxun, dari Amerika Serikat.

Warga Tiongkok Gencar Menabung, Tiga Krisis Besar Mulai Muncul

EtIndonesia. Ekonomi Tiongkok terus lesu dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Data terbaru dari bank sentral Tiongkok menunjukkan bahwa dalam empat bulan pertama tahun ini, simpanan masyarakat meningkat tajam sebesar 5,74 triliun yuan. Pada saat yang sama, pinjaman rumah tangga justru berkurang hampir 500 miliar yuan.

Data ini menunjukkan bahwa semakin banyak warga Tiongkok sedang melakukan “deleveraging” — tidak ingin berhutang, tidak ingin berbelanja, tidak ingin membeli rumah, dan lebih memilih menabung untuk menghindari risiko.

Pengamat menilai hal ini mencerminkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pendapatan masa depan dan prospek ekonomi.

Ekonom Tiongkok yang tinggal di Amerika Serikat sekaligus mantan profesor Universitas Peking, Xu Chenggang, baru-baru ini menyatakan secara terbuka bahwa Tiongkok saat ini tidak sedang menghadapi perlambatan ekonomi biasa, melainkan krisis keuangan dan fiskal yang terus menumpuk.

Ia menyebut tiga masalah paling berbahaya yang dihadapi Tiongkok saat ini adalah sektor properti, hutang pemerintah daerah, dan risiko perbankan daerah.

Ia menjelaskan bahwa pasar properti Tiongkok sudah sangat sulit kembali ke era kenaikan harga menyeluruh seperti sebelumnya. Meskipun beberapa kota belakangan tampak sedikit pulih, hal itu hanyalah “ilusi” akibat stimulus kebijakan pemerintah. Seiring meredanya sektor properti, keuangan pemerintah daerah juga semakin tertekan karena selama bertahun-tahun mereka sangat bergantung pada penjualan lahan sebagai sumber pendapatan. Kini tanah sulit terjual sehingga pemerintah daerah mulai kekurangan dana.

Xu Chenggang mengatakan bahwa masalah bank-bank daerah kini juga semakin jelas. Banyaknya kredit properti dan utang platform pembiayaan pemerintah daerah menyebabkan kualitas aset banyak bank terus memburuk. 

Dalam ekonomi pasar normal, perusahaan atau lembaga keuangan yang insolven seharusnya bangkrut dan dilikuidasi. Namun di Tiongkok, banyak BUMN, pemerintah daerah, dan bank dianggap “tidak boleh runtuh”, sehingga hanya bisa terus dipertahankan melalui suntikan dana pemerintah.

Ia mengatakan bahwa kebijakan besar-besaran seperti pencetakan uang, penerbitan hutang, dan stimulus ekonomi yang dilakukan pemerintah saat ini pada dasarnya hanya “menunda krisis”, bukan benar-benar menyelesaikan masalah.

Menurut Xu Chenggang, inti persoalan ekonomi Tiongkok yang sebenarnya adalah “kurangnya permintaan domestik”, yakni pertumbuhan pendapatan masyarakat terlalu lambat sehingga daya beli lemah. Akibatnya, ekonomi semakin bergantung pada investasi dan ekspor.

Terkait langkah pemerintah yang baru-baru ini mendorong pasar saham dan mendukung industri teknologi, Xu Chenggang memperingatkan bahwa jika tidak didukung ekonomi riil yang kuat, penggelembungan pasar saham secara artifisial justru bisa menciptakan risiko keuangan baru.

Ia juga menyebut modal swasta domestik dan investasi asing kini terus keluar dari Tiongkok. Selain itu, inovasi teknologi kekurangan lingkungan yang stabil sehingga hanya mengandalkan suntikan dana pemerintah akan sulit benar-benar menggerakkan ekonomi.

Di akhir pernyataannya, Xu Chenggang memperingatkan bahwa krisis di Tiongkok sebenarnya belum hilang, melainkan hanya “dibekukan” dan “ditunda”. Jika dalam jangka panjang pemerintah terus bergantung pada pencetakan uang dan penambahan hutang untuk menopang ekonomi, maka di masa depan Tiongkok mungkin akan menghadapi risiko keuangan dan inflasi yang jauh lebih serius.

Sumber : NTDTV.com

Banjir Besar Terjadi di Banyak Wilayah Tiongkok, Pelepasan Air Waduk Tanpa Peringatan Perparah Bencana

Baru-baru ini, hujan deras terus mengguyur banyak wilayah di Tiongkok seperti Hunan, Hubei, dan Guizhou. Kota Hubingshan di Provinsi Hunan dan Kota Duyun di Provinsi Guizhou dilanda banjir besar, sementara genangan di wilayah perkotaan Jingzhou, Hubei, telah berlangsung selama tiga hari. Warga terdampak mengungkapkan bahwa waduk melepaskan air pada tengah malam tanpa peringatan, sehingga menyebabkan kerugian jiwa dan harta benda. Mereka mengatakan ini bukan semata-mata bencana alam, melainkan juga akibat kelalaian manusia.

EtIndonesia. Dari pukul 07.00 pada 17 Mei hingga pukul 07.00 pada 18 Mei, Kabupaten Shimen, Kota Changde, Hunan diguyur hujan lebat. Curah hujan dalam 24 jam mencapai 363,5 mm, menyebabkan sungai meluap. 

Kota Hubingshan, Xiangsuojie, dan wilayah lainnya mengalami banjir besar. Desa Zhongling tiba-tiba diterjang bencana longsor besar, banyak rumah runtuh, dua orang meninggal dunia, dan seluruh desa mengalami kekurangan air bersih serta mengirimkan sinyal permintaan bantuan.

Warga setempat mengungkapkan bahwa di hulu Kota Hubingshan, termasuk wilayah Hubei, terdapat beberapa waduk yang melakukan pelepasan air tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pada malam tanggal 18 dan 19 Mei, air sungai naik sangat cepat sehingga warga dua malam berturut-turut tidak berani tidur.

 “Di bagian atas sedang membuang air, sungai meluap. Beberapa rumah hanyut, banyak mobil terseret arus. Di jalanan bahkan makanan sudah sulit dibeli, mi instan pun habis diborong. Belanja online juga tidak bisa karena jalan ditutup. Tidak ada listrik, air, internet, maupun sinyal. Sepertinya di atas masih terus membuang air, air makin besar. Kami tidak berani tidur, malam ini kembali menjadi malam tanpa tidur,” ujar seorang warga Hubingshan bermarga Qin. 

Sebuah jembatan gantung di Hubingshan hanyut diterjang banjir. Rumah-rumah di tepi sungai terendam hingga dua atau tiga lantai, toko-toko juga “disapu bersih” banjir. Di mana-mana terlihat tumpukan ranting pohon yang terbawa arus. Sebuah sekolah menengah juga terendam dan para siswa naik ke lantai empat sambil menunggu evakuasi.

Warga lain bermarga Li mengatakan:  “Jembatannya rusak, pagar semuanya roboh diterjang arus. Airnya sangat tinggi, rumah hanyut, banyak mobil terseret. Kerugiannya sangat parah. Ada orang yang hanyut, ada anak-anak yang terseret arus, ada lansia yang meninggal tenggelam di rumah. Listrik dan air mati, makan pun kesulitan.”

Dari pukul 06.00 pada 18 Mei hingga pukul 06.00 pada 19 Mei, banyak wilayah di Guizhou mengalami hujan ekstrem. Di kawasan Doupengshan, Jalan Lüyinhu, Kota Duyun, curah hujan mencapai 310,4 mm, memicu longsor yang menimbun banyak rumah.

Sungai Jianjiang, yang merupakan sumber Sungai Qingshui dan Sungai Yuan serta melintasi pusat Kota Duyun, mengalami banjir besar saat gelombang puncak melintas. Banyak toko dan kendaraan terendam air, bahkan sejumlah mobil terseret masuk ke sungai.

“Hujan turun sepanjang malam dan banjir naik. Jalanan penuh air, sangat besar, lalu lintas lumpuh total. Sekolah juga tidak bisa masuk. Kompleks perumahan kami sudah terendam, rumah kami juga kebanjiran, kendaraan ikut terendam. Kerugiannya pasti sangat besar. Sungai Jianjiang adalah sungai induk Duyun. Di hulu ada Waduk Lüyinhu dan Waduk Chayuan,” ujar seorang warga Duyun bermarga Bai. 

Selain itu, banjir genangan di Jingzhou, Hubei, telah memasuki hari ketiga. Air di kawasan perkotaan belum juga surut, menyebabkan warga kesulitan beraktivitas. Banyak sekolah, toko, dan rumah warga terendam, sehingga menimbulkan kerugian besar.

Seorang warga Jingzhou bermarga Zhang mengatakan:  “Hujannya terus turun, hampir tidak berhenti. Air bukan hanya tidak surut, malah naik sedikit lagi. Di tempat yang dalam, air mencapai satu hingga dua meter. Toko-toko semuanya kebanjiran. Kalau truk besar lewat, gelombang airnya menyapu ke arah kami, tidak bisa menghindar. Mobil yang terendam sangat banyak, ada yang di pinggir jalan, ada juga di tengah jalan. Truk derek dan forklift sedang melakukan penyelamatan.”

Laporan oleh reporter NTDTV, Xiong Bin dan Huang Yuning.

Apa yang Membuat Sebagian Orang Bisa Hidup hingga 100 Tahun? Ilmuwan Menemukan Petunjuk dalam Darah Mereka

Rahasia umur panjang mungkin bukan memperlambat penuaan, melainkan menjaga sistem tubuh yang tepat tetap berfungsi.

Oleh Rachel Ann T. Melegrito

Pada kebanyakan orang, protein yang menjaga ketahanan sel—mengatur sistem kekebalan, energi, dan peradangan—secara bertahap kehilangan keseimbangannya seiring bertambahnya usia. Namun, dalam sebuah studi baru di Swiss terhadap para lansia berusia 100 tahun, sebanyak 37 protein tetap berada dalam kondisi “muda.”

Biologi Penuaan—Mengapa Berbeda pada Setiap Orang

Penuaan memengaruhi setiap orang secara berbeda. Meskipun banyak lansia menghadapi penyakit kronis dan kelemahan fisik, sebagian lainnya tetap sangat sehat bahkan hingga usia lebih dari 100 tahun. Para ilmuwan telah lama menduga bahwa faktor genetik memegang peranan besar. Namun penelitian baru menunjukkan bahwa jawabannya lebih spesifik dan lebih dapat diterapkan daripada sekadar faktor gen.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Aging Cell ini menganalisis darah para centenarian—orang yang berusia 100 tahun atau lebih—dan membandingkan profil protein imun serta kardiometabolik mereka dengan orang dewasa sehat berusia 30 hingga 60 tahun, serta lansia yang dirawat di rumah sakit berusia 80 hingga 90 tahun. Menggunakan proteomik, teknik yang mengukur ratusan protein sekaligus, tim peneliti memeriksa bagaimana kadar protein berubah sepanjang hidup untuk mengidentifikasi jalur biologis yang mungkin menjelaskan ketahanan luar biasa pada usia sangat lanjut.

Para centenarian memiliki 583 protein dengan tingkat ekspresi yang berbeda dibandingkan dua kelompok lainnya. Di antara protein tersebut, 37 protein menonjol karena mempertahankan kadar yang lebih mendekati orang dewasa muda daripada lansia pada umumnya—pola yang sejalan dengan temuan studi besar lain tentang centenarian dan biomarker penuaan yang telah dikenal.

“Studi ini memperkuat prinsip utama dalam ilmu umur panjang: penuaan luar biasa bukan berarti lolos dari penurunan biologis, tetapi menjaga mekanisme pengatur penting tertentu tetap bertahan,” kata Sou Ahdjoudj Orlando, ilmuwan umur panjang dan pendiri AION Life, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, kepada The Epoch Times.

Sistem Biologis yang Menolak Menua

Ke-37 protein tersebut dikelompokkan dalam lima proses biologis utama:

  1. Pembersihan Sel

Enam protein berkaitan dengan apoptosis, yaitu proses pembersihan sel-sel yang rusak. Pembuangan sel “zombie” yang tidak berfungsi secara efisien dapat membantu mencegah peradangan kronis dan mengurangi risiko kanker.

  1. Stres Oksidatif

Lima protein yang berkaitan dengan stres oksidatif ditemukan dalam kadar lebih rendah pada centenarian, temuan yang awalnya tampak bertentangan dengan dugaan umum. Menurut Orlando, kadar protein antioksidan yang lebih rendah kemungkinan menunjukkan bahwa sel mengalami lebih sedikit stres sejak awal, bukan karena sistem pertahanannya melemah. Ia menyebutnya sebagai “tanda ketahanan, bukan sekadar perlawanan.”

Dr. Gabriel Alizaidy, pakar umur panjang dan kedokteran presisi, mencatat bahwa empat dari 37 protein tersebut—SOD1, PRDX3, HMOX1, dan GLRX—mengarah pada perlindungan mitokondria. Mitokondria menghasilkan energi, tetapi juga menghasilkan spesies oksigen reaktif yang menumpuk dan merusak sel seiring waktu. Ketika mitokondria bekerja secara efisien, mereka menyediakan energi yang stabil sambil menghasilkan lebih sedikit molekul berbahaya, sehingga membantu membatasi kerusakan sel, terutama pada jaringan yang membutuhkan energi besar seperti sel otak.

“Keempat protein ini membersihkan kerusakan tersebut melalui mekanisme yang berbeda, dan fakta bahwa semuanya tetap berada pada tingkat muda secara bersamaan pada para centenarian menunjukkan bahwa ketahanan mitokondria bukan sekadar faktor tambahan dalam penuaan luar biasa, melainkan tema utama yang konsisten,” kata Alizaidy.

  1. Integritas Jaringan dan Pengendalian Glukosa

Protein yang mendukung sel dan membantu mempertahankan posisinya membentuk kelompok lain, yang kemungkinan berkontribusi pada integritas struktur jaringan dan mungkin juga perlindungan terhadap kanker.

Dalam kelompok ini, DPP-4, enzim yang memecah glucagon-like peptide-1—hormon yang merangsang pelepasan insulin—tetap terjaga pada centenarian. Meski hal ini tampak bertentangan mengingat peran insulin dalam menurunkan gula darah, para penulis studi menyarankan bahwa centenarian mungkin mampu mempertahankan keseimbangan glukosa tanpa sinyal insulin yang berlebihan, mencerminkan metabolisme yang teratur secara halus, bukan terlalu aktif.

  1. Pengaturan Energi

Kelompok lain mencakup pengaturan metabolisme, termasuk protein yang membantu mengelola keseimbangan energi dan pengendalian glukosa. Salah satunya adalah adenylate kinase 1, yang mengatur AMPK, sensor energi seluler yang aktif ketika energi rendah dan membantu sel menghemat sumber daya.

“Jika Anda pernah mendengar tentang metformin, berberin, atau manfaat metabolik dari olahraga dan pembatasan kalori, maka Anda telah mendengar hal-hal yang sebagian bekerja melalui aktivasi AMPK,” kata Alizaidy.

  1. Kesehatan Otak dan Sistem Imun

Kelompok lain berkaitan dengan sinyal neurotropik—jalur yang mendukung kelangsungan hidup sel saraf dan fungsi otak—serta pengaturan sistem imun. Hal ini memperkuat gagasan bahwa umur panjang yang luar biasa mungkin bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan di berbagai sistem biologis secara bersamaan.

Alizaidy mencatat bahwa studi ini berskala kecil dan bersifat observasional, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Panel protein yang dianalisis juga terbatas pada peradangan dan kardiometabolisme.

“Kita belum tahu apakah protein-protein ini benar-benar menyebabkan umur panjang luar biasa atau hanya mencerminkan sistem biologis yang sejak awal memang sudah bekerja dengan baik karena alasan lain,” katanya. Namun, ia menambahkan bahwa arah temuan ini sejalan dengan data independen lain mengenai centenarian.

Gaya Hidup Tetap Penting

Meskipun faktor genetik mungkin menjadi dasar, cara seseorang menjalani hidup selama puluhan tahun tetap menjadi faktor dominan.

“Para centenarian dalam studi ini adalah hasil dari sistem tubuh yang selama puluhan tahun bekerja lebih bersih dibanding rata-rata,” kata Alizaidy. “Dan sebagian besar itu bergantung pada cara mereka hidup.”

Orlando mengidentifikasi tiga prinsip biologis yang secara langsung berkaitan dengan pola biologis yang tetap terjaga pada para centenarian:

Stabilitas Metabolik: Latihan kekuatan, aktivitas fisik harian, asupan protein yang cukup, dan menghindari makan berlebihan secara kronis membantu menjaga kestabilan pengendalian glukosa dan keseimbangan hormon.

Mengurangi Peradangan: Tidur yang memulihkan, komposisi tubuh yang sehat, serta pola makan kaya serat dan padat nutrisi membantu mengurangi beban peradangan sistemik dari waktu ke waktu.

Kesehatan Mitokondria: Aktivitas fisik teratur, pengelolaan stres, serta menghindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan membantu menurunkan stres oksidatif dan meningkatkan ketahanan sel.

Alizaidy menambahkan bahwa beberapa terapi yang telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sudah bekerja pada jalur biologis yang berkaitan dengan ketahanan tubuh. Ia mencontohkan peptida SS-31, obat penelitian yang mendukung fungsi mitokondria, serta agonis glucagon-like peptide-1 dosis rendah, yang telah disetujui FDA untuk diabetes dan pengelolaan berat badan. Terapi tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan metabolik, dengan perbaikan kadar lipid, gula darah, dan peradangan bahkan tanpa penurunan berat badan.

Orlando mengatakan bahwa temuan ini masih memerlukan validasi jangka panjang dalam skala lebih besar, namun hasil tersebut menambah bukti yang berkembang bahwa umur panjang bergantung pada kemampuan menjaga sistem biologis penting tetap berfungsi dari waktu ke waktu.

“Umur panjang pada akhirnya mungkin tidak terlalu bergantung pada menghilangkan penuaan, melainkan lebih pada mengidentifikasi dan mempertahankan sistem biologis yang menua lebih lambat,” katanya.

Rachel Melegrito pernah bekerja sebagai terapis okupasi dengan spesialisasi kasus neurologis. Ia juga mengajar mata kuliah ilmu dasar dan terapi okupasi profesional di universitas. Pada 2019, ia meraih gelar magister dalam perkembangan dan pendidikan anak. Sejak 2020, Melegrito banyak menulis topik kesehatan untuk berbagai publikasi dan merek.

Mengapa Orang Lebih Mudah Melihat Keburukan Orang Lain daripada Kebaikannya

Ingin mengeluh? pikirkan lagi. Para filsuf sejak lama telah menunjukkan mengapa lebih bijaksana melihat sisi baik orang lain, bahkan ketika mereka memperlakukan kita dengan buruk.

Oleh Dina Gordon

“Ketika saya remaja, saya dan saudara-saudara saya kadang saling curhat tentang orang-orang yang sesekali membuat hidup terasa kurang menyenangkan. Biasanya, seseorang akan merasa puas setelah melontarkan beberapa keluhan,” tulis Angelica Reis.

“Namun setiap kali ibu saya mendengar percakapan seperti itu, dengan lembut dan alami, beliau selalu menemukan sesuatu yang baik untuk dikatakan tentang orang yang sedang kami keluhkan,” tulis Reis. Itu adalah strategi luar biasa yang selalu berhasil, katanya, meskipun sewaktu kecil mereka sebenarnya tidak terlalu menyukainya.

“Seiring berjalannya waktu, saya semakin menghargai sifat ibu saya ini, sampai akhirnya berubah menjadi rasa hormat. Bukankah memang itulah cara hidup yang benar—melihat sisi baik dalam keadaan, meskipun tampak suram, dan melihat sisi baik dalam diri orang lain, meskipun mereka tampak tidak menyenangkan?” tulis Reis.

“Saya menyadari seiring waktu bahwa itulah sebagian makna cinta yang luhur dan ilahi. Itu berarti tidak membalas hinaan dengan hinaan, dan tetap memiliki kasih terhadap orang lain, apa pun perlakuan yang kita terima.”

Kisah Reis selaras dengan suatu cara pandang penting yang jarang dipraktikkan dewasa ini: pentingnya melihat kebaikan dalam diri orang lain. Ini bukan konsep baru, melainkan gagasan yang telah dibahas sejak zaman kuno oleh para filsuf, penulis, psikolog, dan pemikir terkemuka.

Kaisar Romawi sekaligus filsuf Marcus Aurelius mengatakan bahwa meskipun seseorang menemukan kesalahan pada orang lain, ia sebaiknya berpikir dua kali sebelum menjatuhkan penilaian dengan keras. Sebagai filsuf utama aliran Stoik, Aurelius melihat nilai dan martabat yang melekat pada setiap manusia. 

Dalam tulisannya, ia mengungkapkan gagasan bahwa ketika kita bertemu seseorang yang berperilaku buruk, kita seharusnya mencoba melihat dari sudut pandangnya dan mengingat bahwa mungkin ia bertindak karena pemahaman yang keliru, bukan karena niat jahat. Dengan begitu, kita dapat bersikap toleran terhadap mereka, sebagaimana kita berharap orang lain bersikap toleran kepada kita.

“Sebab sebagaimana setiap jiwa tanpa sengaja kehilangan kebenaran, demikian pula ia tanpa sengaja kehilangan kemampuan untuk memperlakukan setiap orang sebagaimana mestinya,” tulis Aurelius. Ia kemudian berkata, “Karena setiap orang yang berbuat salah sesungguhnya meleset dari tujuannya dan tersesat.”

Berdasarkan pemahaman ini, Aurelius mendefinisikan peran “orang bijaksana” sebagai seseorang yang harus membimbing orang yang telah berbuat salah, sehingga menyelamatkannya dari dirinya sendiri, karena orang yang tersesat tidak dibebaskan dari kesalahannya. Dan, seseorang harus berbicara kepada orang seperti itu dengan cinta dan belas kasih yang dapat melunakkan hatinya.

“Apa yang dapat dilakukan orang paling keras sekalipun terhadapmu, jika engkau tetap bersikap baik kepadanya, dan jika ketika ada kesempatan, engkau dengan lembut menasihatinya dan dengan tenang memperbaiki kesalahannya tepat pada saat ia sedang mencoba mencelakakanmu, sambil berkata: Jangan begitu, anakku; kita diciptakan oleh alam untuk tujuan lain: aku tentu tidak akan terluka, tetapi engkaulah yang melukai dirimu sendiri, anakku,” tulis Aurelius.

“Tunjukkanlah kepadanya dengan kelembutan dan prinsip-prinsip umum bahwa memang demikian adanya,” tambahnya.

Nasihat Aurelius menggemakan pelajaran tentang cinta dan belas kasih dalam novel terkenal Les Misérables karya Victor Hugo. Tokoh utamanya, Jean Valjean, dijatuhi hukuman penjara satu tahun karena mencuri sepotong roti untuk memberi makan saudara perempuannya yang janda dan anak-anaknya. Namun, satu tahun berubah menjadi 20 tahun, dan ia keluar dari penjara dengan penuh kebencian dan dendam, hingga akhirnya menjadi penjahat kecil.

Setelah Valjean tertangkap mencuri peralatan makan perak dari rumah seorang pastor, sang pastor melihat potensi dirinya untuk menjadi orang baik dan mengaku bahwa ia sendiri yang memberikan peralatan perak itu sebagai hadiah. Belas kasih sang pastor meluluhkan hati Valjean, dan ia memutuskan untuk mengubah hidupnya.

Dengan uang yang diterimanya dari sang pastor, ia mendirikan sebuah pabrik dan menjadi orang kaya yang dermawan kepada kaum miskin. Pada klimaks novel, Valjean menyelamatkan nyawa polisi yang terus memandangnya sebagai penjahat dan mengejarnya sepanjang hidupnya.

Menghormati Kehidupan

Albert Schweitzer, seorang dokter, filsuf, dan musisi asal Jerman yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1952, bertindak dengan belas kasih, cinta, dan penghargaan terhadap setiap orang yang ditemuinya. Ia memiliki rasa hormat dan penghormatan yang mendalam terhadap kehidupan—baik kehidupannya sendiri maupun kehidupan setiap manusia lainnya.

“Penghormatan terhadap kehidupan memberi saya prinsip dasar moralitas,” tulisnya dalam autobiografinya.

Schweitzer memandang sebagai kewajiban etis untuk melindungi kehidupan setiap orang dan memungkinkan setiap individu berkembang serta mewujudkan potensi penuhnya. Sejalan dengan pemikiran tersebut, pada usia 30 tahun, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya menjadi “seorang dokter yang melayani kemanusiaan.”  

Pada tahun 1913, ia mendirikan rumah sakit di kota Lambaréné, Gabon, Afrika Barat, tempat ia merawat ribuan orang, termasuk penderita kusta, malaria, dan disentri. Setiap pasien menerima perawatan dengan kasih dan hormat, tanpa memandang status ekonomi maupun sosial mereka.

Pemikir dan pendidik Austria-Israel Martin Buber secara filosofis menguraikan apa yang secara intuitif telah dipahami Schweitzer. Buber memandang hubungan antarmanusia sebagai sesuatu yang sangat penting dan menjadi dasar perilaku yang benar di dunia. Dalam bukunya I and Thou, ia menjelaskan dua jenis hubungan: hubungan Aku–Itu dan hubungan Aku–Engkau.

Hubungan Aku–Itu bersifat fungsional, di mana seseorang menggunakan orang lain sebagai objek untuk mencapai tujuan fisik, mental, atau emosional tertentu. Hubungan Aku–Engkau adalah hubungan ketika seseorang melihat orang lain secara utuh, dalam seluruh aspek keberadaannya; hubungan seperti ini membentuk ikatan antarmanusia yang sejati berdasarkan cinta yang mendalam. 

“Cinta adalah tanggung jawab dari seorang Aku terhadap seorang Engkau,” tulisnya.

Menurut Buber, kemampuan mencintai sesama manusia tidak muncul dari usaha keras atau perjuangan, melainkan dari pengosongan batin dari emosi atau pikiran serta pemusatan perhatian sepenuhnya kepada orang lain. 

“Engkau datang menemuiku melalui anugerah—bukan ditemukan melalui pencarian,” tulisnya.

Menurut Buber, cinta semacam itu juga membutuhkan keberanian, karena melibatkan pelepasan diri yang mendalam. Ia berpendapat bahwa cinta sejati terhadap sesama manusia merupakan tindakan paling berani dari semuanya.

Psikolog Abraham Maslow, salah satu pemikir utama dalam gerakan psikologi humanistik tahun 1960-an, juga melihat nilai besar dalam mengenali dan menumbuhkan sisi baik orang lain. Ia merumuskan revisi “hierarki kebutuhan,” yang pada dasarnya berisi kebutuhan paling mendasar seperti makanan, dan pada puncaknya terdapat kebutuhan manusia tertinggi: melampaui diri sendiri.

Dengan melampaui diri dan terhubung dengan kesadaran yang lebih luas, kata Maslow, seseorang akan menyadari kesatuan alam semesta dan merasakan ikatan alami dengan seluruh umat manusia. Alih-alih dipenuhi pikiran yang berpusat pada diri sendiri, seseorang akan mengalami ketulusan, kepedulian, dan perhatian terhadap kesejahteraan orang lain.

Maslow sangat percaya pada kebaikan bawaan manusia. Menurutnya, sangat jarang “kebaikan” benar-benar hilang dari hati seseorang, meskipun kebaikan itu “lemah, halus, dan mudah dikalahkan oleh kebiasaan, tekanan budaya, dan sikap yang salah terhadapnya.” Karena itu, penting untuk memupuk dan mendorong sisi baik dalam diri manusia.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Epoch Magazine Israel.

Super El Niño 2026 Dapat Memperburuk Gangguan Pasokan Global dan Krisis Ketahanan Pangan

Kekeringan, banjir, dan kemacetan pengiriman yang disebabkan oleh fenomena cuaca ini berpotensi semakin mengganggu arus perdagangan global, peringat para analis

EtIndonesia. Pola cuaca El Niño yang kuat, yang terkait dengan meningkatnya suhu global dan gangguan iklim parah, diperkirakan akan berkembang tahun ini. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa fenomena tersebut — yang kemungkinan menjadi yang terkuat sejak tahun 1877 — dapat memperburuk gangguan perdagangan maritim yang sudah ada dengan menyebabkan gagal panen.

Menurut Pusat Prediksi Iklim dari Dinas Cuaca Nasional AS, kemungkinan munculnya kondisi El Niño antara sekarang hingga Juli mencapai 82 persen dan diperkirakan akan bertahan sepanjang musim dingin di Belahan Bumi Utara.

“Super El Niño” biasanya merujuk pada kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik sekitar 3,6 derajat Fahrenheit (2 derajat Celsius).

Jika prakiraan saat ini tetap berlaku, kondisi El Niño diperkirakan akan tetap aktif selama bulan-bulan musim dingin di negara-negara utara khatulistiwa, termasuk India, Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Rusia, dan sebagian besar Eropa.

El Niño berkembang di Samudra Pasifik khatulistiwa, membentang dari pantai barat Amerika Utara dan Amerika Selatan menuju Asia Tenggara dan Australia. Fenomena ini terjadi setiap dua hingga tujuh tahun ketika suhu permukaan laut naik setidaknya 0,9 derajat Fahrenheit (0,5 derajat Celsius) di atas rata-rata historis, menurut Live Science.

Prakiraan Memperkirakan Fenomena Rekor

Sejumlah ahli iklim percaya bahwa El Niño tahun ini dapat menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pencatatan.

“Keyakinan jelas semakin mengarah pada kemungkinan terjadinya peristiwa El Niño terbesar sejak tahun 1870-an. Peristiwa angin baratan besar berikutnya kemungkinan akan terjadi selama 10 hari terakhir bulan Mei,” tulis Paul Roundy, profesor ilmu atmosfer dan lingkungan di University at Albany, di platform X pada 5 Mei.

Super El Niño tahun 1877 turut menyebabkan kelaparan global pada 1876 hingga 1878, yang menurut perkiraan para sejarawan menewaskan puluhan juta orang di seluruh dunia.

Para analis mengatakan bahwa meskipun sistem pangan modern dan jaringan pasokan internasional saat ini jauh lebih berkembang, risiko gangguan besar tetap signifikan.

“El Niño yang diproyeksikan kemungkinan akan menghasilkan dampak yang tidak merata; kondisi mirip kekeringan akan mengurangi produksi jagung, padi, dan gandum di Asia serta Australia, sementara kondisi basah dapat meningkatkan produksi kedelai global di kawasan Amerika,” tulis Leigh Mante, peneliti junior bidang iklim dan energi di Observer Research Foundation Middle East, dalam laporan yang diterbitkan pada 11 Mei.

Mante mengatakan kondisi yang dipicu El Niño dapat memperparah gelombang panas, membebani sistem tenaga air, dan mengganggu operasi pertambangan akibat banjir bandang, yang berpotensi memperlambat transisi energi bersih global.

Ia juga memperingatkan bahwa kondisi kekeringan di Asia Tenggara dan Australia, ditambah melemahnya musim monsun di Asia Selatan, dapat mengurangi produksi beras, biji-bijian, gula, dan minyak sawit.

Menurut Mante, risiko tersebut dapat memburuk apabila ketidakstabilan di sekitar Selat Hormuz mengganggu pengiriman pupuk.

“Pemblokiran perdagangan pupuk berbasis nitrogen yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz serta semakin sedikitnya pilihan alternatif pupuk yang layak dapat menyebabkan hasil panen padi, kapas, dan kedelai menjadi lebih lemah,” tulisnya.

Ia menambahkan bahwa gangguan yang memengaruhi negara-negara penghasil pangan utama kemungkinan akan menyebar ke negara-negara pengimpor pangan melalui kenaikan harga dan semakin ketatnya pasokan.

Pelayaran dan Perdagangan Maritim Terancam

Catatan sejarah dan peristiwa iklim terbaru menunjukkan bahwa El Niño juga dapat mengganggu jalur perdagangan utama dan lalu lintas maritim.

Para analis memperingatkan bahwa ketegangan yang sedang berlangsung terkait Iran dan Selat Hormuz dapat semakin memperbesar risiko tersebut.

Pada tahun 2024, kondisi kekeringan di Amerika Tengah yang terkait dengan El Niño menyebabkan turunnya permukaan air di Terusan Panama, sehingga otoritas setempat terpaksa mengurangi batas bobot kapal, menurut Ship Technology, publikasi industri pelayaran bisnis-ke-bisnis.

Mante mengatakan kondisi yang lebih kering akibat El Niño kemungkinan kembali memengaruhi lalu lintas maritim tahun ini.

“Dengan masih berlangsungnya hambatan perdagangan di Selat Hormuz, kerentanan iklim tambahan dapat semakin mempersulit operasi rantai pasokan yang bergantung pada sistem tepat waktu (just-in-time),” tulisnya.

Ia juga memperingatkan bahwa pergeseran curah hujan dari daratan ke lautan yang terkait dengan El Niño dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut dan memberikan tekanan tambahan pada infrastruktur maritim penting.

Mante mengatakan pemerintah dan industri perlu bergerak cepat untuk memperkuat ketahanan terhadap gabungan risiko yang ditimbulkan oleh guncangan iklim dan ketidakstabilan geopolitik.

Ia merekomendasikan percepatan penerapan “asuransi parametrik, langkah-langkah adaptif, dan ketahanan infrastruktur.”

Sumber : Visiontimes.com

Jet Tempur AS Bentak Tiongkok 9 Kali di Langit Taiwan! Bocoran Trump–Xi Disebut Bikin Putin Panik

EtIndonesia. Pada 18 Mei 2026 pagi, situasi di kawasan Selat Taiwan kembali memanas setelah terjadi konfrontasi udara yang sangat tegang antara pesawat tempur Partai Komunis Tiongkok dan pesawat militer Amerika Serikat di wilayah udara internasional sekitar Selat Taiwan.

Menurut rekaman komunikasi radio militer yang beredar luas di media sosial dan dikutip sejumlah pengamat keamanan kawasan, pesawat tempur Tiongkok berulang kali memberikan peringatan keras kepada pesawat militer Taiwan yang sedang melakukan patroli rutin.

Dalam komunikasi tersebut, pilot militer Tiongkok memperingatkan: “Anda telah membahayakan keselamatan penerbangan kami. Harap menjaga jarak aman.”

Aksi intimidasi udara semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, militer Tiongkok memang semakin sering melakukan tekanan terhadap Taiwan melalui patroli pesawat tempur, pengerahan kapal perang, hingga simulasi blokade di sekitar pulau tersebut.

Namun insiden kali ini berbeda dari biasanya.

Di tengah ketegangan itu, sebuah pesawat tempur Amerika Serikat tiba-tiba masuk ke saluran komunikasi radio dan langsung membalas peringatan militer Tiongkok dengan nada jauh lebih keras.

Menurut sumber militer yang memantau komunikasi tersebut, pesawat militer AS bahkan mengulang pernyataan balasan hingga sembilan kali berturut-turut.

Pilot Amerika menegaskan bahwa wilayah tersebut merupakan ruang udara internasional dan menolak klaim intimidasi dari pihak Tiongkok.

Dalam siaran radio itu, militer AS menyatakan: “Saya adalah pesawat militer Angkatan Laut Amerika Serikat yang berdaulat dan independen.”

Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian internasional karena dianggap menunjukkan perubahan sikap Washington yang kini jauh lebih terbuka dan agresif dalam menghadapi tekanan militer Beijing di kawasan Indo-Pasifik.


Amerika Dinilai Mulai Jalankan Strategi Pengepungan terhadap Beijing

Sejumlah analis keamanan internasional menilai respons keras militer AS bukan sekadar reaksi spontan di lapangan.

Mereka percaya Washington kini mulai menjalankan strategi tekanan besar terhadap Beijing, baik secara militer, ekonomi, maupun geopolitik.

Beberapa pengamat bahkan menyebut bahwa operasi “pengepungan strategis” terhadap Tiongkok perlahan mulai dijalankan melalui berbagai langkah, termasuk:

  • penguatan aliansi militer di Asia-Pasifik,
  • peningkatan patroli laut dan udara di sekitar Taiwan,
  • perluasan kerja sama pertahanan dengan Jepang dan Filipina,
  • hingga tekanan ekonomi dan teknologi terhadap Beijing.

Ketegangan ini semakin meningkat setelah pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, yang berlangsung pada 14 Mei 2026 mulai memunculkan berbagai bocoran mengejutkan.


Pertemuan Trump–Xi Mulai Dibocorkan

Menurut sejumlah sumber diplomatik yang mengetahui isi pembicaraan tersebut, suasana pertemuan Trump dan Xi disebut berlangsung cukup canggung.

Beberapa laporan menyebut Xi Jinping sempat berbicara beberapa kalimat sebelum tiba-tiba berhenti dan membuka buku catatan kecil di tangannya.

Sementara di sisi lain meja, Donald Trump dikabarkan terlihat kurang tertarik dan bahkan sempat memejamkan mata seolah merasa bosan.

Namun bagian paling mengejutkan bukanlah bahasa tubuh kedua pemimpin itu, melainkan isi pembicaraan yang perlahan mulai bocor ke publik.

Pada 18 Mei 2026, harian bisnis internasional Financial Times mengutip sumber-sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut.

Menurut laporan itu, Xi Jinping secara langsung mengatakan kepada Trump bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada akhirnya mungkin akan menyesali invasinya ke Ukraina.

Pernyataan ini langsung memicu kehebohan internasional.

Pasalnya, selama perang Rusia–Ukraina berlangsung, Beijing selalu berusaha mempertahankan posisi yang terlihat mendukung Moskow, setidaknya secara diplomatik dan ekonomi.

Karena itu, komentar Xi dianggap sebagai sinyal yang sangat tidak biasa.

Banyak analis menilai ucapan tersebut seperti “menusuk Putin dari belakang” di depan Amerika Serikat.

Komentar itu juga dipandang sebagai sinyal bahwa Beijing mulai melihat Rusia berada dalam posisi yang semakin lemah di medan perang Ukraina.


Bocoran Sengaja Dilempar Menjelang Pertemuan Putin–Xi

Yang membuat situasi semakin sensitif adalah waktu munculnya bocoran tersebut.

Sumber-sumber Amerika disebut sengaja membocorkan isi pembicaraan itu kepada Financial Times tepat menjelang agenda pertemuan berikutnya antara Putin dan Xi Jinping.

Langkah itu diyakini bertujuan memicu rasa curiga di antara Moskow dan Beijing.

Meskipun di depan publik hubungan Rusia dan Tiongkok masih tampak solid, sejumlah analis percaya kepercayaan di antara kedua negara sebenarnya mulai mengalami retakan serius.

Apalagi Rusia kini berada dalam tekanan ekonomi dan militer yang semakin berat akibat perang panjang di Ukraina.


Rusia Dihantam Krisis Energi di Tengah Status Sebagai Raksasa Minyak

Mantan pejabat Mongolia Dalam, Du Wen, mengungkap bahwa kunjungan Putin ke Beijing kali ini pada dasarnya bertujuan meminta bantuan ekonomi dan dukungan strategis dari Tiongkok.

Menurutnya, Rusia saat ini menghadapi dua krisis besar.

Krisis pertama adalah kekurangan bahan bakar.

Situasi ini dianggap sangat ironis karena Rusia selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir energi terbesar di dunia.

Namun akibat serangan drone Ukraina yang terus menghantam fasilitas energi Rusia sejak awal 2025 hingga 2026, banyak kilang minyak utama Rusia mengalami kerusakan serius.

Akibatnya, produksi bensin dan solar untuk kebutuhan militer mulai terganggu.

Beberapa laporan intelijen Barat menyebut tank-tank Rusia di garis depan mulai menghadapi masalah pasokan bahan bakar.

Dalam kondisi seperti itu, Rusia disebut meminta bantuan Tiongkok untuk memurnikan minyak mentah dan mengirimkannya kembali guna mendukung kebutuhan perang.

Permintaan tersebut dianggap masuk akal karena Tiongkok saat ini justru memiliki kapasitas kilang minyak berlebih.


Rusia Juga Mulai Kekurangan Tentara

Selain masalah energi, Rusia juga disebut mulai menghadapi krisis personel militer.

Menurut laporan intelijen terbaru yang dikutip media Amerika, termasuk Axios, Rusia kini mulai merekrut tentara asing dari Kuba.

Mereka dikabarkan menawarkan bayaran sekitar 25 ribu dolar AS per orang untuk dikirim ke medan perang Ukraina.

Target perekrutan itu disebut mencapai 5.000 personel.

Laporan tersebut memicu sorotan tajam karena Rusia selama ini selalu mengklaim memiliki kekuatan militer besar dengan jutaan personel aktif dan cadangan.

Kini, negara tersebut justru disebut harus mencari tentara dari luar negeri untuk mempertahankan operasi militernya.

Sebagian pengamat bahkan menyebut kondisi ini menunjukkan tekanan perang terhadap Rusia sudah memasuki tahap yang serius.


Putin Khawatir Perdamaian Ukraina Justru Menjebak Rusia

Menurut Du Wen, kekhawatiran terbesar Putin saat ini bukan semata-mata soal perang, melainkan kemungkinan munculnya skenario perdamaian yang dikendalikan Amerika Serikat dan Eropa dengan dukungan diam-diam dari Beijing.

Jika skenario itu terjadi, Rusia berisiko berada dalam posisi yang sangat sulit.

Moskow dikhawatirkan harus menerima gencatan senjata tanpa mendapatkan pencabutan sanksi secara penuh.

Di saat yang sama, Ukraina justru bisa berubah menjadi garis depan permanen Barat untuk menekan Rusia.

Karena itu, Putin disebut ingin memastikan Tiongkok tetap berdiri di pihak Moskow, termasuk dalam:

  • rekonstruksi pascaperang,
  • pembentukan sistem keuangan baru,
  • hingga pengakuan atas tuntutan keamanan Rusia.

Dengan kata lain, Kremlin ingin Beijing ikut menanggung konsekuensi geopolitik dari perang Ukraina.


Xi Jinping Dinilai Juga Membutuhkan Putin

Meski demikian, banyak analis percaya Xi Jinping sebenarnya juga tidak bisa sepenuhnya meninggalkan Rusia.

Di tengah meningkatnya tekanan Amerika terhadap Tiongkok, Beijing masih membutuhkan Moskow sebagai mitra strategis utama untuk menghadapi Barat.

Rusia tetap menjadi pemasok energi penting bagi Tiongkok dan memiliki posisi geopolitik besar dalam menghadapi pengaruh Amerika Serikat.

Karena itu, hubungan kedua negara saat ini dinilai berada dalam kondisi yang sangat rumit.

Di satu sisi, Beijing mulai melihat Rusia melemah dan berpotensi menjadi beban.

Namun di sisi lain, Tiongkok juga tidak ingin Rusia benar-benar runtuh karena hal itu justru bisa membuat Amerika Serikat semakin fokus menekan Beijing secara langsung.

Ketegangan inilah yang kini mulai memunculkan spekulasi bahwa aliansi Rusia–Tiongkok sebenarnya tidak sekuat yang selama ini terlihat di depan publik. (***)

Trump Baru Tinggalkan Tiongkok, Putin Langsung Muncul! Tapi Ada Sinyal Aneh yang Bikin Internet Heboh

EtIndonesia. Ketika perhatian dunia internasional masih tertuju pada hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang berlangsung pertengahan Mei 2026, sebuah perkembangan baru langsung memicu spekulasi geopolitik yang luas.

Kurang dari satu minggu setelah Trump meninggalkan Tiongkok, Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada 19 Mei 2026 malam untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Namun kali ini, sorotan dunia bukan hanya tertuju pada isi pembicaraan Rusia–Tiongkok, melainkan juga pada detail-detail penyambutan yang dianggap sangat tidak biasa.

Banyak pengamat menilai, kunjungan Putin kali ini justru memperlihatkan perubahan dinamika hubungan antara Beijing dan Moskow di tengah memanasnya situasi global.

Gedung Putih Soroti Denuklirisasi Korea Utara

Sebelum kedatangan Putin ke Beijing, Gedung Putih pada 17 Mei 2026 merilis daftar fakta resmi hasil pembicaraan Trump–Xi Jinping.

Di antara berbagai poin yang dibahas, terdapat satu kalimat yang langsung menarik perhatian komunitas internasional, yaitu bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok kembali menegaskan bahwa denuklirisasi Korea Utara merupakan “tujuan strategis bersama”.

Sekilas, kalimat tersebut tampak sebagai pernyataan diplomatik biasa. Namun bagi para analis geopolitik, pesan itu memiliki arti yang jauh lebih dalam.

Pernyataan tersebut dianggap menunjukkan bahwa isu Korea Utara kembali dimasukkan ke dalam jalur negosiasi strategis antara Washington dan Beijing. Ini juga memperlihatkan bahwa Amerika Serikat sedang mencoba membuka kembali kerja sama keamanan kawasan dengan Tiongkok di tengah ketegangan global yang terus meningkat, termasuk perang Rusia–Ukraina dan konflik di Timur Tengah.

Banyak analis menilai, munculnya kembali isu Korea Utara dalam pembicaraan tingkat tinggi AS–Tiongkok bisa menjadi sinyal bahwa Washington tengah berusaha membatasi ruang gerak Moskow dan Pyongyang yang dalam beberapa tahun terakhir semakin mendekat.

Putin Tiba di Beijing pada 19 Mei Malam

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap hasil pertemuan Trump–Xi, Putin tiba di Beijing sekitar pukul 23.00 waktu setempat pada 19 Mei 2026.

Kedatangannya terjadi hanya beberapa hari setelah Trump meninggalkan Tiongkok. Namun suasana penyambutan yang diterima Putin langsung menjadi bahan pembicaraan luas di media internasional dan media sosial.

Publik segera membandingkan secara langsung penyambutan Trump dengan penyambutan terhadap Putin.

Saat Trump berkunjung ke Tiongkok sebelumnya, penyambutan dilakukan dengan standar protokol tinggi dan penuh simbol kehormatan negara. Namun dalam kunjungan Putin kali ini, pihak yang menyambut di bandara justru adalah Menteri Luar Negeri Tiongkok sekaligus pejabat setingkat Wakil Ketua Negara, Wang Yi.

Banyak pengamat menilai tingkat penyambutan tersebut setengah tingkat lebih rendah dibandingkan penyambutan terhadap Trump yang saat itu dilakukan langsung oleh Han Zheng.

Perbedaan itu langsung memicu berbagai spekulasi diplomatik.

Suasana Penyambutan Dinilai Jauh Lebih Sederhana

Selain tingkat pejabat penyambut, detail lain juga ikut menjadi perhatian publik.

Di lokasi penyambutan, para siswa dan pemuda yang berdiri menyambut delegasi Rusia terlihat hanya memegang bunga plastik buatan. Memang terdapat penampilan band militer, tetapi keseluruhan suasana dianggap jauh lebih sederhana dibanding upacara penyambutan Trump sebelumnya.

Durasi acara juga berlangsung sangat singkat.

Bahkan sejumlah laporan menyebut anggota delegasi Rusia tidak dijemput menggunakan kendaraan khusus satu per satu seperti lazimnya kunjungan kepala negara besar, melainkan menggunakan bus besar bersama.

Detail-detail tersebut langsung memicu berbagai komentar di internet.

Sebagian netizen menyindir bahwa penyambutan Putin kali ini terlihat “dingin” dan jauh dari kesan hubungan strategis tanpa batas yang selama ini sering digaungkan Beijing dan Moskow.

Tangga Pesawat Putin Jadi Sorotan Dunia

Namun detail yang paling menarik perhatian justru muncul dari pesawat kepresidenan Rusia.

Rekaman video menunjukkan bahwa tangga pesawat Putin dilengkapi lapisan pelindung tertutup berwarna gelap. Struktur tersebut tidak transparan dan disebut-sebut memiliki fungsi perlindungan antipeluru serta anti-penembak jitu.

Penampakan itu langsung menjadi bahan pembahasan luas di media sosial internasional.

Banyak orang kemudian membandingkannya dengan pesawat kepresidenan Amerika Serikat, Air Force One, yang tangganya tetap terbuka sepenuhnya saat Trump melakukan kunjungan ke luar negeri.

Perbandingan tersebut memunculkan berbagai spekulasi liar di internet.

Sebagian netizen bahkan mulai mempertanyakan apakah Putin merasa keamanan dirinya di luar Rusia kini semakin rentan, termasuk saat berada di Tiongkok.

Muncul pula komentar sinis seperti:

“Apakah Putin merasa Beijing tidak bisa menjamin keselamatannya 100 persen?”

Walau tidak ada bukti resmi yang mendukung spekulasi tersebut, pembahasan mengenai sistem perlindungan tangga pesawat Putin terus viral di berbagai platform media sosial.

Media Rusia Juga Jadi Bahan Ejekan

Tidak hanya prosesi penyambutan, kualitas rekaman media Rusia yang meliput kedatangan Putin juga menjadi bahan sindiran publik.

Video yang beredar di internet tampak buram, berguncang, dan kualitas warnanya dinilai buruk. Bahkan pakaian biru para siswa penyambut terlihat berubah seperti warna putih di kamera.

Akibatnya, banyak netizen melontarkan komentar satir.

Ada yang menyebut suasana penyambutan itu lebih mirip adegan pembuka film horor dibanding acara diplomatik tingkat tinggi.

Sebagian lainnya mengatakan bahwa keseluruhan atmosfer acara terlihat “dingin”, “suram”, dan tidak mencerminkan hubungan erat dua negara besar.

Laporan Financial Times Tambah Panas Situasi

Menjelang kedatangan Putin, media Inggris Financial Times sempat menerbitkan laporan yang semakin memperkeruh spekulasi geopolitik.

Dalam laporannya, Financial Times mengungkap bahwa saat bertemu Trump, Xi Jinping disebut sempat membahas perang Rusia–Ukraina.

Bahkan menurut laporan tersebut, Xi dikabarkan mengatakan bahwa Putin suatu hari nanti mungkin akan menyesali invasi Rusia ke Ukraina.

Laporan itu segera memicu perhatian dunia karena dianggap menunjukkan kemungkinan adanya perubahan sikap Beijing terhadap Moskow.

Namun pada 19 Mei 2026, ketika wartawan menanyakan langsung isu tersebut kepada Trump, ia segera membantahnya.

Trump menjawab singkat:

“Tidak. Dia tidak pernah mengatakan hal seperti itu.”

Pernyataan Trump tersebut langsung menjadi sorotan karena dinilai sebagai upaya meredam spekulasi bahwa hubungan Tiongkok–Rusia mulai mengalami keretakan serius di belakang layar.

Dunia Mulai Membaca Arah Baru Hubungan Beijing–Moskow

Meski belum ada tanda terbuka bahwa hubungan Rusia dan Tiongkok benar-benar memburuk, berbagai detail dalam kunjungan Putin kali ini tetap memunculkan banyak tafsir geopolitik.

Di tengah perang Rusia–Ukraina yang belum mereda, tekanan ekonomi Barat terhadap Moskow, serta meningkatnya negosiasi strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, banyak pihak mulai mempertanyakan apakah Beijing kini sedang berusaha menjaga jarak tertentu dari Rusia.

Terlebih lagi, pembicaraan Trump–Xi yang kembali menyinggung Korea Utara memperlihatkan bahwa Washington dan Beijing masih memiliki ruang kerja sama strategis di beberapa isu keamanan global.

Sementara itu, kunjungan Putin ke Beijing justru memperlihatkan suasana yang dinilai lebih berhati-hati, lebih formal, dan tidak sehangat narasi “persahabatan tanpa batas” yang selama ini terus dipromosikan kedua negara.

Akibatnya, dunia kini mulai mengamati dengan lebih serius arah hubungan baru antara Beijing, Moskow, dan Washington di tengah perubahan besar geopolitik internasional sepanjang Mei 2026.  (***)

Kemenlu Taiwan Merilis Video Promosi WHA Bertajuk “Taiwan Cares Beyond Borders” Serta Video Teaser “Taiwan Smart Medical & HealthTech Expo”

Taiwan ingin  menunjukkan kepada dunia kekuatan inovasi Taiwan dalam menjaga kesehatan global

Sidang ke-79 World Health Assembly (WHA) diselenggarakan pada 18 Mei 2026 di Jenewa, Swiss. Dalam rangka memperoleh dukungan masyarakat internasional terhadap partisipasi bermakna Taiwan dalam World Health Organization, sekaligus memperkenalkan kekuatan sektor kesehatan Taiwan melalui penyelenggaraan perdana “Taiwan Smart Medical & HealthTech Expo” di Jenewa selama WHA berlangsung.

Kementerian Luar Negeri Taiwan secara khusus meluncurkan video promosi WHA berdurasi tiga menit berjudul “Taiwan Cares Beyond Borders”

serta video teaser pameran berdurasi 30 detik

Video promosi tersebut ditayangkan perdana dalam konferensi pers bersama yang dipimpin Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung dan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Shih Chung-liang pada 11 Mei 2026.

Kementerian Luar Negeri menyampaikan bahwa kedua video tersebut menampilkan kemampuan inovatif serta pengalaman praktis Taiwan dalam bidang layanan kesehatan cerdas, perawatan kesehatan, dan kerja sama kesehatan internasional.

Selain itu, video tersebut juga menegaskan komitmen Taiwan untuk bekerja sama dengan komunitas internasional dalam menjaga kesejahteraan kesehatan global.

Taiwan telah lama berinvestasi dalam bidang kesehatan publik, teknologi medis, dan kerja sama kesehatan internasional, sehingga memiliki kapasitas yang memadai untuk memberikan kontribusi bagi tata kelola kesehatan global, serta siap berbagi pengalaman dan menjalin kolaborasi demi meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat dunia.

Video promosi WHA “Taiwan Cares Beyond Borders” mengangkat tema “kehidupan hingga usia seratus tahun” dan tren penuaan populasi global, sejalan dengan perhatian besar WHO terhadap isu penuaan sehat dalam beberapa tahun terakhir.

Melalui narasi yang hangat, video ini menggambarkan kebutuhan baru masyarakat berusia panjang terhadap kesehatan, perawatan, dan kehidupan yang bermartabat. Isi video menyoroti keunggulan Taiwan dalam mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi, kecerdasan buatan, semikonduktor, serta layanan kesehatan guna mengembangkan teknologi kesehatan dan layanan medis cerdas, sehingga masyarakat dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat, lebih mandiri, dan lebih bermartabat seiring bertambahnya usia, sekaligus menyediakan solusi kesehatan yang lebih berorientasi pada manusia bagi masyarakat lanjut usia.

Pada bagian penutup video, visual utama kampanye WHA tahun ini ditampilkan melalui ilustrasi Taiwan yang dibentuk dengan rangkaian sirkuit chip. Slogan utama “Chip in with Taiwan” serta slogan pendukung “WHO Cares? TAIWAN Cares!” menegaskan partisipasi aktif Taiwan dalam kerja sama kesehatan internasional melalui inovasi teknologi dan kapabilitas medisnya demi mewujudkan visi kesehatan global.

Sementara itu, video teaser pameran berfokus pada kebutuhan masyarakat lanjut usia dan layanan kesehatan, yang menampilkan bagaimana Taiwan mengintegrasikan teknologi semikonduktor, kecerdasan buatan, dan layanan kesehatan cerdas guna menghadirkan solusi kesehatan yang lebih presisi, lebih responsif, dan lebih berorientasi pada kebutuhan manusia.

Video tersebut juga mengundang masyarakat internasional untuk menghadiri “Taiwan Smart Medical & HealthTech Expo” yang akan berlangsung pada 17–19 Mei di Hotel President Wilson, Jenewa, Swiss, guna menyaksikan secara langsung praktik inovatif serta potensi kerja sama Taiwan dalam bidang layanan kesehatan internasional.

Video promosi WHA dan video teaser pameran ini akan disebarluaskan secara daring kepada audiens utama di berbagai kawasan dunia, serta dipublikasikan melalui kanal YouTube resmi Kementerian Luar Negeri Taiwan, kanal YouTube “Trending Taiwan”, dan platform media sosial resmi seperti Facebook, Instagram, Threads, serta X.

Kantor perwakilan Taiwan di luar negeri juga akan turut membantu promosi tersebut, dengan harapan masyarakat internasional dapat semakin memahami kontribusi nyata Taiwan terhadap kesejahteraan kesehatan global serta semakin mendukung partisipasi bermakna Taiwan dalam WHO dan WHA.

Sumber berita: Departement of International Information Sevices, MOFA

2.000 Siswa di Shandong, Tiongkok, Berdemo, Bentangkan Spanduk Gerakan 4 Mei dan Sebut Aksi Mereka “Pemberontakan”

EtIndonesia. Ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Partai Komunis Tiongkok terus meningkat. Para siswa sekolah menengah di Kabupaten Wenshang, Shandong, melakukan protes terhadap perlakuan keras pihak sekolah. Mereka bahkan menyebarkan “manifesto perjuangan” di internet, menyebut aksi mereka sebagai “pemberontakan”, serta membentangkan spanduk bertema Gerakan 4 Mei saat demonstrasi berlangsung.

Pada pagi hari 16 Mei waktu Beijing, lebih dari 2.000 siswa dari Sekolah Menengah Pertama Wenshang di Kota Jining menggelar aksi protes massal. Para siswa kelas 10 dan 11 berbondong-bondong keluar dari ruang kelas dan berkumpul di lapangan sekolah.

Para siswa meneriakkan slogan “libur!” sambil membentangkan spanduk yang telah mereka siapkan sebelumnya, memicu sorak-sorai para pelajar. Pada spanduk tersebut tertulis:
“Melawan penjajahan dari luar, menghukum pengkhianat di dalam negeri”
— slogan yang dahulu digunakan dalam May Fourth Movement.

Di media sosial, para siswa yang ikut aksi menyebut demonstrasi tersebut sebagai sebuah “pemberontakan” atau “revolusi”.

Para mahasiswa yang berpartisipasi dalam protes tersebut menjelaskan alasan mereka berdemonstrasi dan menyebutnya sebagai “pemberontakan.” (Tangkapan layar)

Beberapa siswa peserta aksi menjelaskan alasan protes tersebut dan menyebut diri mereka sedang melakukan “pemberontakan”.

Media independen Tiongkok yang memperhatikan peristiwa massa, “Yesterday”, mengungkap bahwa penyebab langsung protes adalah keputusan sepihak pihak sekolah yang mengubah jam pulang akhir pekan dari pukul 15.50 menjadi 17.50 demi menambah waktu ujian.

Para mahasiswa yang berpartisipasi dalam protes tersebut menjelaskan alasan mereka berdemonstrasi dan menyebutnya sebagai “pemberontakan.” (Tangkapan layar)

Setelah aksi protes berlangsung sekitar 45 menit, pihak sekolah akhirnya mengalah dan mengumumkan bahwa jam pulang akan dikembalikan ke pukul 15.50. Setelah itu, para siswa perlahan kembali ke kelas, dan aksi mereka dianggap berhasil.

Menurut sumber tersebut, protes ini merupakan ledakan besar dari akumulasi ketidakpuasan siswa terhadap kebijakan sekolah selama bertahun-tahun.

Sekolah Menengah Wenshang sebelumnya pernah menerapkan sistem “libur satu hari setiap empat minggu”. Belakangan kebijakan itu diubah menjadi libur satu hari setiap minggu. Namun setelah seorang wakil kepala sekolah baru menjabat, waktu istirahat siswa kembali dipangkas sedikit demi sedikit, sambil mencoba menghidupkan kembali sistem “empat minggu satu hari libur”, sehingga rasa tidak puas terus meningkat.

Pada malam 15 Mei, setelah mengetahui rencana sekolah memperpanjang jam belajar, kemarahan siswa cepat menyebar. Mereka mulai diam-diam mendiskusikan tuntutan aksi dan menyusun rencana demonstrasi.

Sekitar pukul 09.50 pagi tanggal 16 Mei, siswa dari lantai tiga gedung sekolah menjadi kelompok pertama yang bergerak. Mereka beramai-ramai keluar kelas dan menuju lapangan sekolah. Lebih dari 2.000 siswa kelas 10 dan 11 segera ikut bergabung dalam aksi tersebut.

Pada saat yang sama, sebuah tulisan yang disebut “Manifesto Menentang SMA Wenshang” juga beredar di kalangan siswa. Di dalamnya tertulis:

“Ribuan pelajar bersatu dalam kemarahan. Kami harus tetap teguh pada keyakinan kami, memperjuangkan hak kami dengan alasan yang benar, dan tidak akan tunduk pada penindasan yang tidak masuk akal!”

Sumber : NTDTV.com

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 88 Orang, CDC AS Terapkan Pembatasan Masuk

EtIndonesia. Wabah Ebola terjadi di Democratic Republic of the Congo (Kongo) dan Uganda, serta telah menyebar lintas perbatasan. World Health Organization telah menetapkan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan global. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyatakan bahwa mereka sedang mengkoordinasikan evakuasi warga negara AS yang terdampak, sekaligus memperkuat pemantauan dan langkah pengendalian di pintu masuk negara.

 “Seorang pria asal Kongo memasuki Uganda dan meninggal setelah berobat ke rumah sakit. Setelah diuji, ia dinyatakan terinfeksi virus Ebola,” ujar Juru bicara Kementerian Kesehatan Uganda, Allan Kasujja. 

Republik Demokratik Kongo dan negara tetangganya Uganda kini sedang menghadapi wabah Ebola. Berdasarkan laporan CDC, sejauh ini terdapat 336 kasus bergejala Ebola di Kongo, dengan 88 kematian.

Wabah kali ini juga telah menyebar lintas negara. Uganda melaporkan kasus “impor” Ebola, dengan dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian.

WHO sebelumnya telah menyatakan bahwa wabah ini merupakan keadaan darurat kesehatan global.

Pada 17 Mei, CDC mengkonfirmasi bahwa pemerintah AS sedang bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk mengevakuasi dengan aman warga Amerika yang terdampak langsung oleh wabah ini. Saat ini terdapat enam warga AS di Kongo yang memiliki riwayat kontak dengan virus Ebola, dan satu orang di antaranya telah menunjukkan gejala.

Selain itu, pada Senin (18 Mei), CDC mengumumkan bahwa orang-orang yang dalam 21 hari terakhir pernah berada di Uganda, Kongo, atau South Sudan akan dikenakan pembatasan masuk ke Amerika Serikat, kecuali pemegang paspor AS.

 “Ada empat jenis virus Ebola yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo dari virus Ebola,” ujar Manajer Penanganan Wabah Ebola CDC sekaligus dokter medis, CAPT Satish K. Pillai. 

Virus Ebola strain Bundibugyo memiliki tingkat kematian sekitar 25% hingga 50%. Gejala infeksi meliputi demam, nyeri otot, sakit perut, muntah, atau perdarahan tidak normal.

CAPT Satish K. Pillai menambahkan:  “Saat ini belum ada vaksin atau terapi yang disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) khusus untuk virus Ebola strain Bundibugyo.”

Virus Ebola menyebar melalui cairan tubuh. Kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, benda yang terkontaminasi, atau jenazah korban dapat menyebabkan penularan penyakit.

Dilaporkan oleh reporter NTDTV, Meng Yu, dari New York.