Dua Keluarga

EtIndonesia. Pada awal abad ini, ada sebuah keluarga asal Jepang yang bermigrasi dan menetap di dekat San Francisco. Di sana, mereka merintis sebuah usaha budidaya bunga mawar. Setiap minggu, pada jam tiga pagi, mereka mengantarkan mawar-mawar tersebut ke San Francisco.

Tak jauh dari mereka, tinggal pula sebuah keluarga yang berasal dari Skotlandia. Keluarga ini juga menjual bunga mawar. Kedua keluarga tersebut sama-sama mengandalkan kejujuran dalam berusaha, dan berkat itu, mawar-mawar mereka sangat diminati di pasar San Francisco.

Hampir selama 40 tahun, kedua keluarga ini hidup bertetangga. Ketika waktu berlalu, para anak laki-lakii mereka mengambil alih pengelolaan kebun. Namun pada 7 Desember 1941, Jepang membombardir Kepulauan Hawaii. Meskipun anggota keluarga Jepang lainnya telah menjadi warga negara Amerika, sang ayah tidak pernah mengajukan kewarganegaraan Amerika. Dalam situasi yang kacau dan selama masa penahanan, tetangganya secara tegas memberi tahu mereka bahwa jika diperlukan, dia akan menjaga kebun bunga milik sahabatnya.

Dia berkata dengan ketulusan yang sama seperti yang diajarkan dalam iman Kristiani: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Jika aku berada di posisimu, kalian pun pasti akan melakukan hal yang sama.”

Tak lama kemudian, keluarga Jepang itu dipindahkan secara paksa ke tanah tandus di Grenada, Colorado. Tempat penampungan baru itu terdiri dari bangunan-bangunan besar beratap aspal kayu, dikelilingi kawat berduri rapat dan dijaga tentara bersenjata lengkap.

Setahun berlalu. Tahun kedua, lalu tahun ketiga…Sementara keluarga Jepang masih berada di kamp penahanan, sahabat mereka terus bekerja di rumah kaca. Anak-anaknya tetap bersekolah setiap hari sebelum Sabtu tiba, dan sang ayah sering bekerja selama 16 hingga 17 jam sehari.

Suatu hari, perang di Eropa berakhir. Keluarga Jepang akhirnya dibebaskan dari kehidupan tahanan dan naik kereta api—mereka diizinkan pulang.

Apa yang akan mereka temukan?

Di stasiun kereta, seluruh anggota keluarga itu bertemu kembali dengan sahabat lama mereka. Ketika akhirnya tiba di rumah, mereka semua tertegun. Kebun bunga mereka tetap utuh dan terawat. Di bawah sinar matahari, mawar-mawar tumbuh rapi, subur, dan sehat—lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan.(yn)

Seorang Bayi Baru Lahir di Jiangsu, Tiongkok Kehilangan Jarinya Saat Tali Pusarnya Dipotong, Sehingga Menimbulkan Kecurigaan Adanya Cedera yang Disengaja

EtIndonesia. Kasus cedera medis di daratan Tiongkok kembali terjadi. Di tengah belum meredanya polemik kematian bayi Xiao Luoxi di Ningbo, kini muncul kasus lain di Jiangsu: seorang bayi baru lahir mengalami jari terpotong saat tali pusat dipotong di rumah sakit, memicu perdebatan luas. Sejumlah warganet menyebut peristiwa ini sangat tidak masuk akal, bahkan ada yang menduga tindakan tersebut dilakukan secara sengaja.

Ayah bayi tersebut mengunggah keluhan di media sosial, menyatakan bahwa saat istrinya menjalani operasi caesar, bidan memotong jari bayi mereka ketika memotong tali pusat, sehingga bayi tersebut mengalami cedera serius sejak baru lahir.

Catatan komunikasi medis–pasien menunjukkan:  “Pasien hari ini menjalani operasi caesar dan berhasil melahirkan bayi laki-laki hidup… Saat pemotongan tali pusat di meja bawah, secara tidak sengaja melukai jari tengah tangan kiri bayi. Setelah konsultasi ortopedi, dipertimbangkan adanya patah tulang dan disarankan dirujuk ke rumah sakit tingkat lebih tinggi untuk tindakan operasi.”

Pada 5 Januari, ayah bayi bermarga Sheng mengatakan kepada media daratan bahwa pada 25 Desember 2025 sekitar pukul 09.30, istrinya menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Rakyat Kabupaten Xuyi, Jiangsu. Bayi lahir sekitar pukul 10.30. Sekitar pukul 12.00, dokter memberi tahu bahwa saat memotong tali pusat, bidan secara tidak sengaja memotong jari bayi dengan gunting tali pusat.

Sheng mengatakan, “Saat itu pihak rumah sakit menyampaikannya dengan sangat sepele. Namun ketika saya melihat langsung, barulah saya tahu bahwa jari anak saya sudah terpotong, hanya tersisa kulit yang masih menyambung.”

Setelah kejadian, bayi tersebut dirujuk dua kali dan akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Rakyat Kota Wuxi No. 9 untuk menjalani operasi penyambungan jari. Catatan kepulangan rumah sakit menunjukkan bahwa saat masuk, bayi didiagnosis ‘pemotongan tidak sempurna satu jari (jari tengah kiri)’. Setelah menjalani operasi replantasi jari dan perawatan lainnya, kondisinya dinyatakan sembuh.

Sheng menambahkan bahwa rumah sakit menyampaikan urat jari bayi sudah putus, kemudian dipasang pen baja dan disambung pembuluh darah, namun karena bayi masih terlalu kecil, saraf tidak dapat disambungkan.

Ia juga mengungkapkan bahwa setelah kejadian, keluarga mendatangi rumah sakit untuk meminta penjelasan tentang bagaimana kejadian yang begitu absurd ini bisa terjadi. Bidan yang bersangkutan, di hadapan polisi, berbicara terbata-bata dan tidak dapat menjelaskan dengan jelas. Rekaman CCTV diperiksa, namun lokasi kejadian ternyata berada di titik buta kamera, sehingga tidak terlihat jelas. Belakangan, bidan tersebut mengatakan bahwa kejadian itu terjadi karena tangan bayi tiba-tiba bergerak.

Sheng menyatakan hal ini sulit diterima.  “Ini rumah sakit besar. Bagaimana mungkin saat melahirkan, memotong tali pusat malah bisa memotong jari bayi? Bagaimana bisa melakukan kesalahan serendah itu?,” tegasnya. 

Pihak sistem medis setempat menyatakan bahwa rumah sakit sedang aktif berkomunikasi dengan keluarga pasien, dan “perlu menunggu bayi pulih selama jangka waktu tertentu sebelum membahas kompensasi.”

Setelah kasus ini terungkap, warganet ramai membahasnya. Banyak yang menyatakan simpati mendalam terhadap bayi tersebut:
“Terasa sangat menyakitkan, bayi sekecil itu.”
“Ini benar-benar keterlaluan, kasihan anaknya.”

Sejumlah warganet yang diduga berlatar belakang medis mempertanyakan kejadian tersebut, menyatakan bahwa tenaga medis normal tidak mungkin melakukan kesalahan serendah ini. 

Mereka menjelaskan:  “Menurut standar perawatan dasar bayi baru lahir, pemotongan tali pusat harus mengikuti prosedur ketat: fiksasi anggota tubuh – identifikasi tali pusat – verifikasi alat. Gerakan anggota tubuh bayi adalah risiko yang sudah dapat diprediksi, dan prosedur standar justru dibuat untuk mencegah kecelakaan seperti ini.”

 “Saat memotong tali pusat, biasanya digunakan dua klem penjepit darah yang dipasang sejajar, lalu bagian tengah di antara kedua klem (sekitar 1–2 cm) yang dipotong.”

 “Jika mengikuti prosedur resmi, mustahil bisa memotong jari bayi.”
“Biasanya pemotongan dilakukan dengan gunting jaringan, diapit klem pembuluh darah di atas dan bawah, sangat sulit memotong jari.”
“Bidan ini jelas tidak melakukan prosedur sesuai standar.”
“Tak heran keluarga mencurigai adanya upaya penutupan, karena probabilitas kesalahan seperti ini terlalu kecil.”
“Apakah bidan memotong tanpa melihat dengan jelas? Ini sungguh sulit dipercaya.”

Sebagian warganet bahkan menduga tindakan tersebut disengaja, dengan komentar ekstrim seperti:

 “Mungkin kelainan psikologis, melampiaskan emosi pada bayi.”
“Kalau tidak sengaja, tulang tidak mungkin terpotong, paling hanya luka kulit.”
“Melihat foto operasi, bagian yang terpotong ada di tengah ruas jari, bukan di sendi—apakah tulangnya benar-benar dipotong? Kalau iya, itu butuh tenaga besar.”
“Periksa media sosial bidan itu—Douban, Weibo, Xiaohongshu—lihat apakah ada pernyataan ekstrem, jangan-jangan memang menargetkan bayi laki-laki.”

Ada pula warganet yang berkomentar dengan putus asa:  “Siapa lagi yang berani punya anak? Lahir ke dunia saja tidak ada jaminan keselamatan.”

Laporan kompilasi oleh reporter Li Li / Editor Xu Gengwen – NTDTV.com

Konflik di Yaman Meningkat, Penerbangan ke Pulau Socotra Ditangguhkan Hingga 400 Wisatawan Terlantar

EtIndonesia. Ketegangan antara faksi-faksi bersenjata yang saling bermusuhan dan didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA) serta Arab Saudi baru-baru ini meningkat. Sebuah perusahaan perjalanan pada Senin (5 Januari) mengatakan kepada AFP bahwa akibat pecahnya konflik di wilayah daratan Yaman, penerbangan dihentikan sehingga ratusan wisatawan terjebak di Pulau Socotra, Yaman.

Wakil Gubernur Urusan Budaya dan Pariwisata Socotra, Yahya bin Afrar, mengatakan kepada AFP bahwa saat ini terdapat “lebih dari 400 wisatawan asing” di pulau tersebut dan “penerbangan mereka telah dihentikan”.

Pulau Socotra biasanya memiliki tiga penerbangan per minggu dari ibu kota UEA, Abu Dhabi, yang secara khusus mengangkut wisatawan asing.

Seorang pejabat lokal lain yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa sejak akhir bulan lalu, setelah diumumkannya keadaan darurat, semua penerbangan domestik dan internasional di pulau tersebut telah dihentikan. “Kami telah menyerukan dan meminta agar penerbangan dipulihkan.”

“Saat ini terdapat 416 warga negara asing dari berbagai negara yang terjebak, termasuk lebih dari 60 warga Rusia.” Selain itu, juga terdapat warga negara Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

Pelaku industri pariwisata Socotra menyebutkan bahwa setidaknya dua warga negara Tiongkok juga termasuk di antara mereka yang terjebak.

Diplomat Barat mengatakan kepada AFP bahwa puluhan wisatawan asing yang datang ke pulau tersebut untuk merayakan Tahun Baru terjebak setelah penerbangan dibatalkan. Mereka kini meminta bantuan dari kedutaan masing-masing untuk dievakuasi. Kedutaan negara-negara terkait telah menghubungi Arab Saudi dan pemerintah Yaman untuk mengupayakan pengaturan evakuasi.

Bandara Aden di daratan Yaman telah kembali beroperasi setelah mengalami gangguan selama beberapa hari.

Kepulauan Socotra Yaman terletak di Samudra Hindia, sekitar 350 kilometer dari pesisir Yaman. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau dan dua terumbu karang, dengan jumlah penduduk sekitar 50.000 orang, dan selama ini relatif tidak terdampak oleh perang yang menghancurkan wilayah daratan Yaman.

Kepulauan Socotra terkenal dengan pemandangan hijau, pohon “darah naga” yang unik, satwa langka, serta perairan biru jernih yang menjadi habitat lumba-lumba. Selama bertahun-tahun, tempat ini terus menarik wisatawan petualang dan para influencer.

Banyak wisatawan berangkat dari UEA yang makmur, yang juga merupakan pendukung utama pasukan “Dewan Transisi Selatan” (Southern Transitional Council/STC) yang menguasai kepulauan tersebut.

Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dan UEA masing-masing mendukung faksi-faksi yang saling bertentangan dalam pemerintahan Yaman yang terpecah. Namun baru-baru ini, Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA melancarkan serangan untuk merebut dua provinsi penting, memicu ketidakpuasan Riyadh.

Arab Saudi kemudian melakukan serangan balasan besar-besaran, melancarkan serangan udara terhadap Dewan Transisi Selatan serta sejumlah pengiriman senjata yang disebut-sebut milik UEA, menghancurkan sebagian besar pasukan dan membalikkan keuntungan yang sebelumnya diraih. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Dari Kerajaan Minyak Menjadi Negara Bangkrut! Utang Menggunung dari Partai Komunis Tiongkok Terancam Hangus

Diktator Nicolás Maduro ditangkap dalam operasi mendadak oleh militer Amerika Serikat, sementara rakyat turun ke jalan untuk merayakannya. Negara yang dahulu indah dan makmur, serta memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, kini mengalami kehancuran ekonomi akibat penerapan sosialisme dan jebakan hutang Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dengan ditangkapnya sang diktator, utang luar negeri kepada Tiongkok pun semakin sulit untuk ditagih kembali.

EtIndonesia. Warga membawa bendera Venezuela dan bersorak di jalanan. Ini bukan perayaan hari kemerdekaan, melainkan diaspora Venezuela di luar negeri yang merayakan penangkapan Maduro oleh militer AS.

Sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, rakyat Venezuela justru tidak bisa hidup sejahtera. Utang negara mencapai dua kali lipat dari PDB, sementara rakyat harus menghadapi inflasi ratusan hingga ribuan persen. Akibat tekanan ekonomi dan penganiayaan politik, lebih dari 8 juta orang akhirnya terpaksa bermigrasi ke luar negeri.

Penyebab kemiskinan Venezuela terletak pada kebijakan mantan Presiden Hugo Chávez dan penerusnya Nicolás Maduro, yang menerapkan sosialisme dan nasionalisasi secara masif. Kebijakan ini memicu korupsi, pemborosan anggaran, fasilitas produksi yang usang, serta rendahnya efisiensi.

Selain itu, minyak Venezuela merupakan minyak berat yang sulit diolah. Ditambah dengan sanksi dari negara-negara Barat, ekspor minyak Venezuela menjadi sangat terbatas.

Di saat Venezuela terpuruk, PKT turut masuk campur. Selain menandatangani berbagai perjanjian seperti Belt and Road Initiative, Tiongkok juga memberikan pinjaman besar-besaran, dengan skema pembayaran menggunakan minyak. Tiongkok kemudian menjadi pembeli minyak terbesar Venezuela.

Namun, niat PKT dinilai tidak murni. Dalam pembelian minyak mentah, Tiongkok sering menekan harga sangat rendah, sekaligus menjadikan Venezuela sebagai basis untuk menyusup dan mempengaruhi Amerika Serikat.

Kini, dengan tumbangnya Maduro, PKT tidak hanya kehilangan satu sekutu diktator, tetapi juga menghadapi risiko gagal menagih hampir 100 miliar dolar AS pinjaman yang berpotensi berubah menjadi hutang macet. (Hui)

Laporan dirangkum oleh Lin Jiawei dan Li Yihong, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television

Saat Warga Venezuela Rayakan Runtuhnya Maduro, Kamera Rekam Momen Haru Penuh Air Mata

EtIndonesia. Setelah militer Amerika Serikat secara cepat menangkap diktator Nicolás Maduro, Venezuela berubah drastis hanya dalam semalam. Warganet merekam banyak momen ketika rakyat Venezuela mendengar kabar tersebut—mereka menangis bahagia, mengekspresikan luapan emosi saat kebebasan akhirnya kembali. Video-video ini pun viral di internet.

Mari kita rasakan suasananya.

Warga Venezuela:  “Ini tidak nyata, apa?”

Dalam sebuah video yang beredar luas, pada awalnya orang-orang tidak percaya bahwa rezim Maduro benar-benar runtuh hanya dalam satu malam. Namun kemudian, mereka berbondong-bondong turun ke jalan untuk merayakan. Banyak yang saling berpelukan sambil menangis, bersorak penuh kegembiraan.

Warga Venezuela:  “Hidup Venezuela! Terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa!”

Di jalan-jalan Venezuela, patung Maduro didorong hingga tumbang, dan potret raksasanya dicabut dari gedung-gedung.

Di mana-mana tampak kerumunan yang berpesta. Orang-orang bernyanyi dan menari, menyambut datangnya kebebasan.

Warga Venezuela:  “Venezuela telah merdeka!”

Di Miami, seorang perempuan Venezuela menangis di tengah jalan. Bukan karena kesedihan, melainkan karena penantian selama 27 tahun akhirnya berakhir.

Warga Venezuela, Yajaira:  “Saya benar-benar sangat bahagia. Setelah menunggu begitu lama (akhirnya bebas). Terima kasih Tuhan!”

Delapan tahun lalu, kakak laki-lakinya dibunuh oleh rezim Maduro, saudara-saudaranya yang lain diculik, dan keluarganya terpaksa melarikan diri ke Amerika Serikat.

Menanggapi kritik dari sejumlah pihak kiri terhadap operasi militer Presiden Trump dalam menangkap Maduro, seorang perempuan Venezuela menyampaikan kecaman keras terhadap kediktatoran Maduro dan menyatakan dukungannya terhadap tindakan pemerintah Trump.

Warga Venezuela:  “Kamu sama sekali tidak tahu rasanya kelaparan. Kamu tidak pernah menyaksikan anggota keluargamu meninggal hanya karena tidak mendapatkan obat. Sementara orang-orang dari kelompok (mantan presiden) Chávez justru memakai jam Rolex dan memamerkan kekayaan. Tahukah kamu berapa banyak orang Venezuela yang meninggal di perjalanan saat melarikan diri? Hanya demi menembus hutan untuk sampai ke Amerika Serikat?”

Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, di bawah pemerintahan diktator sosialis Hugo Chávez dan Nicolás Maduro, negara itu justru terlilit utang, rakyat hidup menderita, berubah menjadi neraka di dunia. Rakyat kekurangan makanan, dan jutaan orang terpaksa mengungsi ke luar negeri.

Warga Venezuela:  “Kami memiliki 8 juta warga Venezuela yang terpaksa meninggalkan tanah air. Kamu sama sekali tidak tahu bagaimana hari-hari itu kami jalani.”

“Ketika mereka (rezim tirani Maduro) membantai kami, di mana kalian? Ketika para mahasiswa dibunuh, di mana kalian? Padahal para mahasiswa itu tidak bersenjata.”

Ketika mendengar narasi media Tiongkok yang menyatakan bahwa Amerika Serikat hanya mengincar minyak Venezuela, seorang pemuda menyampaikan pandangan yang dinilai sangat bijak.

Warga Venezuela:  “Saya tidak tahu bagaimana situasi akhirnya nanti, tetapi saya mohon kepada semua orang untuk tetap percaya diri. Jangan biarkan propaganda seperti ‘orang Amerika hanya menginginkan minyak’ atau ‘Amerika hanya mengincar kekayaan kita’ memenuhi pikiran kalian. Saya ingin bertanya kepada mereka yang mengatakan itu: selama ini, menurut kalian, apa yang diinginkan Rusia dan Partai Komunis Tiongkok? Apakah resep tortilla kita?” (Hui)

Laporan komprehensif oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua

Bukan Minyak, Bukan Politik: Apa Sebenarnya di Balik Penangkapan Maduro, Apa Pesan AS Untuk PKT?

EtIndonesia. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat tidak hanya mengguncang Amerika Latin, tetapi juga memicu pertanyaan mendasar di tingkat global: siapa yang kini benar-benar memegang kendali atas Venezuela?

Washington: Pemerintah Baru Venezuela “100 Persen Tunduk”

Pada 5 Januari 2026, Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller tampil dalam wawancara di CNN. Dalam pernyataannya, Miller menegaskan bahwa meskipun Venezuela telah melantik presiden baru dan secara lahiriah tampak menjalankan pemerintahan sendiri, kenyataannya pemerintahan tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Presiden AS, Donald Trump.

Menurut Miller, dominasi Washington bukan sekadar pengawasan administratif, melainkan kontrol strategis penuh. Pemerintah baru Venezuela, kata dia, telah menyatakan kesediaannya untuk mematuhi seluruh syarat politik, keamanan, dan ekonomi yang diajukan Amerika Serikat.

Lebih dari Sekadar Ganti Presiden: “Harta Karun” Militer

Namun, dampak terbesar operasi militer AS kali ini dinilai jauh melampaui pergantian rezim. Analis perang perkotaan di platform X, Thor Shaoxiao, menyebut keberhasilan utama operasi tersebut adalah pembongkaran menyeluruh sistem pertahanan udara buatan Tiongkok dan Rusia yang selama ini digunakan Venezuela.

Dia menekankan bahwa kekuatan sistem pertahanan udara modern bukan terletak pada jumlah misil, melainkan pada:

  • sistem radar,
  • algoritma perangkat lunak,
  • serta pola pengambilan keputusan operator.

Begitu “otak” sistem ini dipahami, maka seluruh sistem sejenis di dunia praktis kehilangan keunggulan strategisnya. Dalam doktrin perang modern, untuk mengalahkan pertahanan udara, tidak perlu menghancurkannya—cukup memahaminya.

Kini, menurut para analis, rahasia inti tersebut telah “diserahkan” kepada militer AS. Pentagon hanya perlu mengamati, mencatat, mensimulasikan, lalu membagikan hasilnya ke jaringan NATO dan komando Indo-Pasifik.

Implikasinya sangat besar: sistem S-300 versi tiruan Rusia maupun HQ-9 kebanggaan Tiongkok kini dianggap sepenuhnya transparan di mata militer AS. Bagi Beijing, ini setara dengan Amerika telah memperoleh “kunci pintu belakang” pertahanan udara Zhongnanhai.

Operasi Militer yang Membuat Beijing Merinding

Kengerian Beijing tidak berhenti di situ. Pengamat politik Taiwan Liu Baojie, dalam analisisnya di ETtoday News, menilai pola operasi militer AS kali ini mematahkan hukum perang konvensional.

Sebanyak 150 pesawat tempur lintas matra—darat, laut, dan udara—dilaporkan lepas landas dari 20 pangkalan berbeda, dekat maupun jauh, namun mampu tiba secara serentak dan presisi di wilayah Venezuela. Operasi ini membuka jalan bagi Pasukan Delta tanpa adanya tanda-tanda pengerahan pasukan yang bisa dideteksi lebih awal.

Bagi intelijen Tiongkok, ini adalah mimpi buruk strategis. Tanpa konsentrasi pasukan yang terlihat, tidak ada waktu peringatan. Bahkan, AS dinilai tidak lagi perlu mengerahkan kapal induk secara perlahan ke Selat Taiwan—serangan bisa diluncurkan serentak dari Korea Selatan, Jepang, hingga Guam.

Reaksi Media Partai dan Gejolak Internal PKT

Sinyal dari Washington tampaknya ditangkap jelas oleh Beijing. Media resmi Partai seperti Xinhua dan Liga Pemuda Komunis secara serempak menerbitkan artikel bertajuk: “Hari ini Venezuela, besok bisa negara mana pun.”

Di permukaan, ini tampak sebagai kritik terhadap AS. Namun di balik layar, muncul spekulasi bahwa pernyataan tersebut bisa dibaca sebagai isyarat dari faksi anti-Xi di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT): lebih baik mengorbankan satu figur demi menyelamatkan sistem.

Kebetulan, pada 5 Januari 2026, otoritas Tiongkok mengumumkan jatuhnya “harimau besar pertama” tahun ini: mantan Wakil Menteri Sumber Daya Air Tian Xuebin, yang pernah menjadi sekretaris kedua mantan Perdana Menteri, Wen Jiabao. Media daratan bahkan sengaja menampilkan foto Wen berdampingan dengan Tian—sebuah sinyal klasik politik internal Tiongkok.

Kartu Truf Kedua Trump: Greenland

Di tengah kepanikan Beijing, tim Trump melontarkan tekanan baru. Isu Greenland kembali mencuat setelah pernyataan keras yang mempertanyakan dasar Denmark menguasai wilayah tersebut.

Miller menegaskan bahwa demi melindungi NATO, Greenland harus berada di bawah kendali AS. Trump sebelumnya memberikan tenggat waktu dua bulan—menunjukkan bahwa ini bukan sekadar tekanan diplomatik, melainkan bagian dari penutupan lingkaran strategis global.

Secara militer, Kutub Utara merupakan jalur terpendek misil nuklir Tiongkok–Rusia menuju AS. Pangkalan Pituffik di Greenland adalah stasiun radar peringatan dini paling utara Amerika. Gangguan pada sistem ini bisa memangkas waktu peringatan nuklir AS dari 30 menit menjadi hanya beberapa menit.

Detik-fetik Penangkapan: Tiga Kejanggalan Besar

Kembali ke Venezuela. Pada dini hari 3 Januari 2026 sekitar pukul 02:00, Caracas diguncang ledakan beruntun, disusul pemadaman listrik berskala besar. Deru pesawat tempur terdengar selama belasan menit. Saat warga masih menyaksikan siaran langsung melalui ponsel, pasangan Maduro telah diterbangkan ke New York untuk diadili.

Operasi berkode “Absolute Resolve” ini dinilai hampir sempurna, namun menyisakan tiga kejanggalan:

  1. Tidak adanya tembakan pertahanan udara, meski Venezuela diklaim memiliki ribuan rudal.
  2. Pemadaman listrik yang sangat presisi, mengindikasikan kemungkinan keterlibatan pihak internal.
  3. Pesawat Wakil Presiden Delcy Rodríguez yang melintas dan mendarat aman, meski wilayah udara ditutup.

Hal ini memunculkan dugaan bahwa penangkapan Maduro mungkin merupakan kudeta internal yang dibungkus operasi militer AS.

Dampak Regional dan Penutup

Runtuhnya rezim pro-PKT Maduro turut membuka kembali luka lama diplomasi Taiwan di Venezuela. Di saat yang sama, pada 5 Januari, Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung bertemu Xi Jinping di Beijing, memicu kekhawatiran baru di Indo-Pasifik.

Sementara itu, di ranah budaya, aktris legendaris Wang Zuxian akhirnya muncul ke publik pada 4 Januari 2026, mengungkap alasan pensiunnya dini demi menjaga kesehatan mental dan spiritual.

Kesimpulan: Peristiwa Venezuela kini bukan lagi isu regional, melainkan simbol perubahan besar dalam peta kekuatan global. Pertanyaan besarnya bukan apakah dunia sedang bergerak menuju konfrontasi besar—melainkan kapan dan dengan pola seperti apa.

Maduro Tertangkap, Radar Tiongkok Lumpuh, Moskow Diserang Drone: Dunia Bergejolak dalam 72 Jam

EtIndonesia. Amerika Serikat secara mengejutkan meluncurkan sebuah operasi militer berskala besar yang langsung mengguncang tatanan geopolitik global. Washington mengumumkan bahwa melalui operasi tersebut, mereka berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.  Kabar ini segera menyita perhatian luas komunitas internasional dan memicu reaksi berantai dari Amerika Latin hingga Eurasia.

Venezuela di Bawah Maduro: Negara yang Kehilangan Fungsi Dasar

Selama bertahun-tahun pemerintahan Maduro, Venezuela secara de facto kehilangan kemampuan tata kelola negara yang efektif. Pemilu dinilai banyak pihak telah berubah menjadi formalitas politik tanpa makna substantif. Aparat militer dan kepolisian terjerat kolusi sistemik dengan kartel kriminal dan jaringan narkotika lintas negara.

Sumber daya nasional dijarah oleh elite korup yang memiliki keterkaitan erat dengan kepentingan strategis Tiongkok dan Rusia. Dampaknya bukan hanya dirasakan rakyat Venezuela melalui kemiskinan massal dan krisis kemanusiaan, tetapi juga diekspor ke luar negeri dalam bentuk gelombang pengungsi, kejahatan lintas batas, serta distorsi pasar energi global.

Kritik atas “Non-Intervensi” dan Pembenaran Operasi Militer

Jurnalis senior Jepang, Akio Yaita, menegaskan bahwa apabila komunitas internasional terus mengagungkan prinsip “tidak mencampuri urusan dalam negeri” tanpa batas, maka dunia pada hakikatnya sedang membiarkan para diktator menindas rakyatnya atas nama kedaulatan, sekaligus mengekspor instabilitas ke luar negeri.

Dalam konteks ini, operasi militer AS yang berlangsung singkat dengan dampak eksternal minimal dinilai sebagai bentuk “obat keras di masa kacau”. Meski terlihat dingin dan tegas, langkah tersebut dinilai berpotensi menelan korban jiwa jauh lebih sedikit dibandingkan sanksi berkepanjangan, perang proksi, atau perang saudara yang berlarut-larut.

Sinyal Psikologis untuk Beijing, Moskow, dan Pyongyang

Lebih dari sekadar menjatuhkan satu rezim, operasi ini mengirimkan pesan keras: rezim otoriter tidaklah kebal ketika kubu demokrasi benar-benar mengambil keputusan. Menurut Yaita, dampak psikologis dari pesan ini terhadap Beijing, Moskow, dan Pyongyang jauh lebih menghancurkan daripada ribuan pernyataan diplomatik tanpa aksi nyata.

Dia juga menyoroti detail penting sebelum operasi dimulai: Presiden AS, Donald Trump lebih dahulu menelepon Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Langkah ini dipandang sebagai sinyal strategis bahwa aliansi Jepang–AS kini telah masuk ke rantai pengambilan keputusan aksi nyata, bukan sekadar konsultasi simbolik.

Bagi Taiwan, pesan ini sangat krusial: keamanan tidak ditentukan oleh ancaman musuh, melainkan oleh apakah sekutu benar-benar bertindak saat momen genting tiba.

Radar Tiongkok Lumpuh: Demonstrasi Teknologi Militer AS

Dari sisi militer, dampak operasi ini juga langsung menyasar Beijing. Pengamat Taiwan Wang Haoyu mencatat bahwa inti sistem pertahanan udara Venezuela mengandalkan radar buatan Tiongkok JY-27, yang selama ini diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman seperti F-22 dan F-35.

Namun dalam operasi ini, setelah militer AS melancarkan perang elektronik intensif, radar-radar tersebut dilaporkan lumpuh total dan gagal memberikan peringatan dini. Angkatan udara Venezuela ditekan habis bahkan sebelum mampu lepas landas.

Ini menjadi demonstrasi terbuka bahwa konsep Anti-Access/Area Denial (A2AD) Tiongkok sangat rapuh di hadapan teknologi siluman dan peperangan elektronik Amerika.

Dampak Energi Global: Rusia dan Tiongkok Paling Terpukul

Peneliti senior CSIS Clayton Swope menyatakan bahwa jika Washington benar-benar mendorong perubahan rezim, maka pihak yang paling tidak aman justru Rusia dan Tiongkok, dua negara dengan kepentingan strategis terbesar di sektor energi Venezuela.

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia yang layak dikembangkan, namun karakter minyaknya yang sangat kental membuat biaya produksi tinggi dan membutuhkan teknologi khusus. Penentu masa depan Venezuela bukan semata kilang minyak, melainkan stabilitas politik—sesuatu yang hampir selalu absen selama era Maduro.

Hingga kini, pemerintahan Trump masih mempertahankan pembatasan ekspor minyak Venezuela dan sanksi sistematis terhadap individu serta entitas terkait, dengan tujuan memaksa perubahan arah politik. Selama kebijakan ini tidak berubah, peran Venezuela di pasar energi global akan tetap terbatas.

Bagi Tiongkok, dampaknya sangat signifikan. Selain sebagian kecil minyak yang dikirim Chevron ke Teluk Meksiko, hampir seluruh ekspor minyak Venezuela mengalir ke Beijing. Preseden bahwa AS dapat menggunakan sanksi hingga kekuatan militer untuk memengaruhi negara pengekspor energi menjadi alarm keras bagi semua importir energi.

Rusia di Bawah Tekanan: Dari Minyak hingga Drone

Bagi Rusia, risiko bahkan lebih besar. Perusahaan minyak Rusia telah lama terlibat di Venezuela. Jika AS memperkuat kontrolnya, Moskow berpotensi kehilangan akses sepenuhnya. Selain itu, terdapat armada tanker bayangan yang digunakan bersama oleh Venezuela, Iran, dan Rusia untuk menghindari sanksi. Jika operasi AS meningkatkan risiko dan biaya armada ini, tekanan langsung akan menghantam ekspor energi Rusia.

Tekanan itu terasa nyata pada malam 5 Januari 2026, ketika Moskow mengalami serangan drone terbesar sejak awal tahun. Ledakan terdengar berulang kali, dan empat bandara utama—Vnukovo, Domodedovo, Zhukovsky, dan Sheremetyevo—ditutup atau dibatasi operasinya, menyebabkan sekitar 200 penerbangan tertunda atau dibatalkan.

Rusia mengklaim menembak jatuh 20–40 drone di sekitar Moskow dan 253 drone di 14 wilayah, meski hingga kini belum ada verifikasi visual independen.

Serangan paling signifikan terjadi di Yelets, sekitar 300 km selatan Moskow, di mana sebuah pabrik militer pemasok sistem tenaga rudal dan drone terbakar hebat—menandakan target prioritas Ukraina kini merambah jauh ke kedalaman strategis Rusia.

Eskalasi Perang Ukraina dan Bayang-bayang Iran

Di medan tempur, Ukraina menunjukkan peningkatan kemampuan. Pada awal Januari, jet MiG-29 Ukraina menjatuhkan bom terpandu ASM Hammer ke jembatan logistik penting di wilayah Pokrovsk, menghancurkannya total. Selain itu, rudal jelajah jarak jauh Ukraina “Flamingo” dilaporkan memiliki jangkauan hingga 3.000 km, cukup untuk menjangkau wilayah industri Rusia.

Sementara itu, laporan The Times mengungkap bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah menyiapkan rencana pelarian B ke Moskow jika situasi domestik runtuh. Mantan agen intelijen Israel, Beni Sabti menyatakan bahwa Khamenei praktis tidak memiliki tempat lain untuk pergi.

Di dalam negeri Iran, protes ekonomi besar sejak akhir 2025 telah menewaskan puluhan orang dan memicu tantangan langsung terhadap kepemimpinan tertinggi.

Pada 4 Januari 2026, Trump memperingatkan Teheran dari Air Force One bahwa pembantaian demonstran akan berujung pada “konsekuensi berat”. Di hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS merilis video berbahasa Persia dengan pesan singkat namun mengancam: “Pergi sekarang.”

Meski Iran membalas dengan pernyataan keras, banyak pengamat menilai kepercayaan diri elite Teheran kini tak lagi sekuat sebelumnya.

Momen Bersejarah! Maduro Pertama Kali Hadir di Sidang Pengadilan, Terancam Hukuman Penjara Seumur Hidup!

Pada Senin 5 Januari waktu AS, kemunculan perdana Nicolás Maduro di pengadilan Manhattan, New York, Amerika Serikat menarik perhatian media global. Sejumlah besar media memadati lokasi persidangan. Saat ini, jaksa mengajukan empat dakwaan serius terhadap Maduro, termasuk terorisme narkotika dan penyelundupan kokain. Jika seluruh dakwaan terbukti, ia dapat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pasangan Maduro menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan.

EtIndonesia. Jaksa penuntut menghadirkan banyak bukti di persidangan, menuduh bahwa selama puluhan tahun Maduro memimpin sebuah jaringan besar perdagangan narkoba. 

Sejumlah warga Tionghoa yang hadir di luar pengadilan menyatakan bahwa apa yang dialami Maduro hari ini adalah gambaran masa depan komunisme. 

Berikut laporan langsung reporter NTD Yu Liang, dari lokasi.

Reporter:  “Sekitar pukul 7.00 pagi hari Senin, pasangan Maduro dibawa keluar dari Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn, New York, dan diterbangkan dengan helikopter ke Manhattan. Ia mengenakan setelan berwarna khaki dan sepatu olahraga oranye. Setelah turun dari helikopter, ia dikawal naik ke kendaraan lapis baja, lalu dibawa memasuki Pengadilan Federal. Sepanjang perjalanan, polisi Kota New York menutup sejumlah persimpangan untuk memastikan persidangan berjalan lancar.”

Perkara Maduro akan disidangkan oleh Hakim Federal Alvin Hellerstein. Hakim Hellerstein yang kini berusia 92 tahun, sebelumnya telah menangani banyak kasus besar yang berkaitan dengan terorisme dan keamanan nasional.

Pengacara Maduro menyatakan bahwa sebagai terdakwa, Maduro memiliki hak yang sama seperti terdakwa lainnya, termasuk diadili oleh juri yang terdiri dari warga biasa Kota New York untuk menentukan apakah tuduhan terhadapnya terbukti atau tidak.

Reporter:  “Jaksa Amerika Serikat mendakwa pasangan Maduro dengan empat kejahatan berat, yaitu:

  1. Konspirasi terorisme narkotika,
  2. Konspirasi penyelundupan kokain,
  3. Kepemilikan senjata api dan alat peledak secara ilegal,
  4. Konspirasi kepemilikan senjata api dan alat peledak

Seluruh dakwaan ini dapat berujung pada hukuman maksimal penjara seumur hidup.”

Namun, di persidangan, pasangan Maduro menyatakan tidak bersalah, dan juga tidak mengajukan permohonan pembebasan dengan jaminan. Istri Maduro menyebut bahwa dirinya mengalami cedera saat proses penangkapan dan meminta dilakukan pemeriksaan kesehatan.

Demo Turunkan PKT

Reporter:  “Sejak pagi hari Senin, hampir seratus media mendatangi Pengadilan Federal, baik di dalam maupun di luar gedung, untuk meliput jalannya sidang. Banyak warga dan kelompok masyarakat juga datang ke luar pengadilan, membawa poster dan bendera Venezuela, menyatakan dukungan terhadap Presiden Trump atas penangkapan langsung Maduro dan upaya melawan komunisme.”

Warga di lokasi, Miles Liao:  “Presiden Trump, Anda adalah pahlawan bagi kami orang Tiongkok. Kami berterima kasih kepada Anda. Nasib Maduro hari ini adalah masa depan Partai Komunis.”

Warga di lokasi:  “Gulingkan Partai Komunis Tiongkok!”

Laporan wawancara di New York oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yu Liang dan Shang Jing

Caracas Mencekam: Rentetan Tembakan di Istana, Drone Misterius, dan Bayang-bayang Kudeta

EtIndonesia. Senin malam, 5 Januari 2026 hingga dini hari Selasa, 6 Januari 2026, warga ibu kota Caracas terkejut oleh rentetan tembakan intens dan suara tembakan udara yang berkepanjangan di sekitar Istana Kepresidenan Miraflores, pusat pemerintahan Venezuela. Insiden ini terjadi di tengah suasana ketidakstabilan politik dan militer menyusul operasi penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat beberapa hari sebelumnya.

Ledakan Suara Tembakan dan Aktivitas Militer di Jalanan

Pada sekitar pukul 20: 00 waktu setempat pada 5 Januari, warga merekam suara tembakan yang sangat banyak, termasuk tembakan ke udara yang tampak seperti tembakan dari sistem pertahanan udara antipesawat, bersamaan dengan lalu-lalang kendaraan lapis baja militer dan pasukan bersenjata di jalanan sekitar istana. Banyak saksi mengunggah video yang menunjukkan polisi bersenjata dan pasukan berpakaian militer dengan pengamanan ketat, berjalan di jalan-jalan di sebelah utara kompleks kepresidenan.

Laporan warga Internet juga mengungkap adanya kendaraan lapis baja amfibi Korps Marinir dalam terowongan di bagian utara Caracas, yang memicu kekhawatiran akan kemungkinan kudeta mendadak di tengah ketegangan nasional.

Penyebab Utama: ‘Drone Tak Dikenal’ dan Kesalahpahaman Internal

Beberapa jam kemudian, pemerintah Venezuela angkat bicara. Instansi terkait menyatakan bahwa rentetan tembakan itu dipicu oleh deteksi sejumlah drone tak dikenal yang terbang di atas kompleks Istana Miraflores. Pasukan keamanan, dalam kondisi tegang, membuka tembakan sebagai respons terhadap penampakan drone ini.

Menurut pernyataan kemudian, drone tersebut ternyata milik militer Venezuela sendiri, yang diterjunkan untuk peninjauan dan pengamanan tambahan — namun miskomunikasi internal dan kurangnya koordinasi menyebabkan unit-unit militer bereaksi berlebihan hingga terjadi salah tembak.

Situasi Mulai Mereda

Memasuki pagi 6 Januari 2026, intensitas tembakan mereda signifikan. Meski demikian, patroli militer dan kepolisian tetap berjaga di titik-titik strategis di seluruh penjuru kota, mencerminkan kondisi yang masih jauh dari stabilitas normal. Para pejabat setempat menyatakan bahwa situasi “dalam kendali”, tetapi ketegangan masih terasa di antara warga.

Konteks Lebih Luas: Transisi Kekuasaan dan Status Politik Venezuela

3 Januari 2026 — Operasi Militer AS dan Penangkapan Maduro

Peristiwa tembakan ini terjadi beberapa hari setelah operasi militer besar-besaran Amerika Serikat di Caracas pada 3 Januari 2026, yang dikenal sebagai bagian dari Operation Absolute Resolve. Dalam operasi tersebut, pasukan AS menyerbu ibu kota dan berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam serangan dini hari. Mereka kemudian dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan hukum federal.

Maduro dan Flores muncul di pengadilan federal di New York pada 5 Januari 2026, di mana keduanya memasukkan pembelaan “not guilty” (tidak bersalah) terhadap berbagai dakwaan, termasuk konspirasi narkoterrorisme dan perdagangan narkoba.

3–5 Januari 2026 — Delcy Rodríguez Dilantik sebagai Presiden Sementara

Pasca penangkapan Maduro, Delcy Rodríguez, yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden Venezuela, berstatus sebagai Presiden Sementara mulai tanggal 3 Januari 2026 setelah penggulingan Maduro. Pelantikan resminya berlangsung pada Senin, 5 Januari 2026 di tengah sorotan publik dan dinamika politik sengit.

Dalam pernyataannya, Delcy menyampaikan ajakan kerja sama kepada Amerika Serikat untuk membangun hubungan berdasarkan hukum internasional dan saling menghormati.

Tokoh-kekuatan politik lain seperti Jorge Rodríguez (Ketua Majelis Nasional) dan Diosdado Cabello (Menteri Dalam Negeri, dikenal sebagai figur garis keras revolusi Chávez) terlihat aktif memimpin patroli bersenjata di kawasan ibu kota selama krisis berlangsung.

Reaksi Publik, Protes, dan Ketegangan Sosial

Aksi protes besar terjadi di Caracas dalam beberapa hari terakhir, dengan ribuan pendukung Maduro turun ke jalan untuk menolak intervensi AS dan menyerukan dibebaskannya pemimpin mereka.

Sementara itu, kelompok milisi pro-Maduro atau colectivos turut mengambil peran di lapangan, beberapa dikabarkan mengincar pendukung pihak yang mendukung operasi AS, yang semakin memperuncing suasana ketidakpastian.

Penutup: Perencanaan Operasi dan Dampak Jangka Panjang

Pihak militer Amerika Serikat sendiri merilis foto-foto resmi sebelum operasi penangkapan, yang menampilkan jet tempur F-35 bersiap di landasan udara wilayah Puerto Rico — gambaran bahwa operasi ini dirancang dengan persiapan matang dan keyakinan tinggi.

Kendati demikian, kritikus internasional, termasuk Kantor HAM PBB, mengecam tindakan militer AS sebagai pelanggaran hukum internasional yang berpotensi merusak stabilitas global, seraya menyerukan penyelesaian politik yang ditentukan oleh rakyat Venezuela sendiri.

Kesimpulan: Insiden tembakan di Caracas pada malam 5–6 Januari 2026 mencerminkan ketegangan tinggi di tengah transisi kekuasaan yang penuh kontroversi, setelah operasi militer dan penangkapan mantan presiden Venezuela. Meskipun segera terkendali, peristiwa ini menyoroti betapa rapuhnya stabilitas negara tersebut di tengah pergolakan politik dan intervensi internasional.

Gelombang Protes Nasional Iran Berujung Penindasan Brutal

EtIndonesia. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu terakhir, Iran diguncang oleh gelombang aksi protes nasional berskala besar. Puluhan ribu warga di berbagai kota turun ke jalan menentang krisis ekonomi yang semakin parah, korupsi sistemik, serta pemerintahan teokratis yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Demonstrasi yang awalnya berlangsung sporadis dengan cepat berkembang menjadi perlawanan terbuka, dengan pusat utama berada di ibu kota Teheran, sebelum menyebar luas ke berbagai provinsi.

Namun, sejak awal Januari 2026, respons negara berubah drastis. Aparat keamanan tidak lagi membatasi diri pada pembubaran massa, melainkan secara terbuka menggunakan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil, menandai eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir.

Serbuan Garda Revolusi di Teheran

Pada malam 4 Januari 2026, sejumlah rekaman dari berbagai sudut Teheran memperlihatkan ratusan personel Garda Revolusi Islam (Garda Revolusi Islam) mengendarai sepeda motor dan menyerbu langsung ke arah massa demonstran.

Pasukan bergerak cepat dan agresif, memaksa warga sipil berlarian menyelamatkan diri ke gang-gang sempit dan permukiman penduduk. Dalam situasi kacau tersebut, terjadi satu momen yang terekam jelas dan menyebar luas di media sosial: seorang warga berlari sendirian ke arah barisan polisi, tanpa perlindungan apa pun.

Aksi nekat itu justru memicu keberanian massa lainnya, yang kemudian ikut maju dan melawan aparat. Adegan tersebut dinilai banyak pihak sebagai titik balik psikologis, ketika rasa takut mulai berubah menjadi perlawanan kolektif.

Slogan Revolusi Menggema di Jalanan

Sejak awal, Teheran menjadi episentrum utama protes nasional. Dalam rekaman malam 4 Januari, terdengar massa besar meneriakkan slogan-slogan keras: “Tahun ini adalah tahun berdarah!  Khamenei pasti akan digulingkan!”

Dalam video lain, sekelompok anak muda berteriak serempak: “Ini adalah pertempuran terakhir!  Pahlavi pasti akan kembali!”

Seruan tersebut secara terbuka menantang fondasi Republik Islam Iran dan menyiratkan kerinduan terhadap sistem pra-revolusi 1979, sebuah tabu politik yang selama puluhan tahun ditekan oleh negara.

Tembakan di Jalan, Simbol Perlawanan Berkibar

Dari dalam rumah-rumah penduduk, sejumlah warga merekam aparat keamanan bersenjata lengkap yang berjaga di jalan dengan senapan siap tembak. Suara tembakan terdengar berulang kali, menandai eskalasi nyata sejak malam 4 Januari 2026.

Pada hari yang sama, sebuah aksi simbolik mengejutkan terjadi di pusat Teheran. Seorang warga menaikkan bendera Singa dan Matahari, simbol Iran pra-revolusi Islam, di atas jembatan penyeberangan.

Aksi ini langsung dibandingkan oleh warganet dengan insiden Jembatan Sitong tahun 2022 di Beijing, ketika Peng Lifa membentangkan spanduk perlawanan terhadap Partai Komunis Tiongkok—dan hingga kini nasibnya tidak pernah diumumkan secara resmi.

Di pinggiran Teheran, rekaman lain memperlihatkan konvoi besar pasukan keamanan melaju melalui jalan tol menuju ibu kota, memperkuat operasi penindasan di pusat kota.

Protes Menyebar ke Seluruh Negeri

Gelombang perlawanan tidak berhenti di Teheran. Dalam 4–5 Januari 2026, demonstrasi meluas ke berbagai kota besar dan menengah:

• Arak (Iran Tengah)

Massa meneriakkan slogan langsung: “Matilah Khamenei!”

• Marvdasht

Pada 5 Januari 2026, berlangsung pemakaman seorang warga yang tewas dalam aksi protes. Ribuan orang mengiringi jenazah dengan musik duka. Di barisan depan, sejumlah anak muda menembakkan peluru ke udara sebagai penghormatan, sebuah pemandangan yang dinilai sangat mengkhawatirkan bagi rezim.

Pada siang hari yang sama, puluhan ribu pendukung monarki kembali berkumpul di Marvdasht, menyerukan penggulingan rezim Islam, menciptakan suasana yang sangat masif dan emosional.

• Sari, Provinsi Mazandaran

Jalanan hampir berubah menjadi medan perang. Aparat bermotor membubarkan massa secara brutal, sementara demonstran membalas dengan lemparan benda keras. Rekaman lain menunjukkan penangkapan dan pemukulan terbuka terhadap demonstran.

• Fuladshahr

Terdengar rentetan tembakan yang jelas dan beruntun. Massa berhamburan, dan terlihat sejumlah warga tergeletak di jalan.

• Birjand

Mahasiswa universitas turun ke jalan pada malam hari, meneriakkan: “Puluhan tahun kejahatan dan korupsi! Kita harus menggulingkan rezim ini!”

• Ilam

Pasukan khusus menyerbu sebuah rumah sakit yang sebelumnya dikuasai demonstran. Rekaman memperlihatkan penembakan dan pengejaran brutal di dalam area medis, memicu kepanikan besar di kalangan pasien dan tenaga kesehatan.

Internet Diputus, Dunia Tetap Menyaksikan

Pada 4–5 Januari 2026, pemerintah Iran memutus sebagian besar akses internet nasional untuk membendung arus informasi. Namun pada pagi 5 Januari, koneksi kabel kembali aktif di sejumlah wilayah, memungkinkan video-video anti-pemerintah kembali menyebar secara global.

Data lapangan menunjukkan bahwa dalam dua hari terakhir, Kementerian Dalam Negeri Iran mengerahkan sekitar 50.000–70.000 personel keamanan ke seluruh negeri. Pola yang terlihat konsisten: aparat berjaga ketat di siang hari, sementara demonstrasi besar meletus setelah malam tiba.

Situasi Kritis dan Arah Tak Pasti

Hingga kini, belum terlihat strategi efektif dari massa untuk menghadapi penindasan bersenjata langsung. Sementara itu, laporan mengenai korban sipil terus bertambah, meski angka resmi belum diumumkan pemerintah.

Iran kini berada di persimpangan sejarah: antara konsolidasi kekuasaan melalui kekerasan, atau terbukanya babak baru perubahan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Islam 1979.

Presiden Interim Venezuela Nyatakan Ingin Bekerja Sama dengan AS

Wakil Nicolás Maduro yang kini menjabat sebagai pemimpin sementara Venezuela menyatakan: “Kami mengundang pemerintah AS untuk bekerja sama dengan kami.”

EtIndonesia. Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez pada Senin (5/1/2026) menyampaikan pesan bernada lunak kepada Amerika Serikat. Pernyataan disampaikan menyusul operasi militer AS akhir pekan lalu yang menangkap Nicolás Maduro dan mengekstradisinya atas tuduhan narco-terorisme dan kejahatan lainnya.

“Kami mengundang pemerintah Amerika Serikat untuk berkolaborasi dengan kami dalam agenda kerja sama yang berorientasi pada pembangunan bersama, dalam kerangka hukum internasional, guna memperkuat kehidupan masyarakat yang damai dan berkelanjutan,” ujar Rodriguez dalam pernyataan berbahasa Inggris di Instagram.

Ia mengatakan Venezuela kini sedang “bergerak menuju hubungan internasional yang seimbang dan saling menghormati antara Amerika Serikat dan Venezuela, serta antara Venezuela dan negara-negara kawasan, yang berlandaskan kesetaraan kedaulatan dan prinsip non-intervensi.”

Rodriguez—politikus sosialis yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Maduro—juga menyebut Presiden Donald Trump dalam pernyataannya, serta tetap menyebut Maduro sebagai presiden Venezuela.

“Presiden Donald Trump, rakyat kami, dan kawasan ini berhak atas perdamaian dan dialog, bukan perang. Itu selalu menjadi pesan Presiden Nicolás Maduro, dan kini menjadi pesan seluruh Venezuela,” katanya.

 “Inilah Venezuela yang saya yakini dan saya dedikasikan hidup saya untuknya. Saya memimpikan Venezuela di mana seluruh warga Venezuela yang baik dapat bersatu.”

Mahkamah Agung Venezuela pada akhir pekan lalu menunjuk Rodriguez sebagai presiden sementara, menyusul operasi dramatis militer AS yang menargetkan kompleks kediaman Maduro. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan dijadwalkan menjalani sidang di pengadilan federal AS pada Senin.

Namun, dalam pernyataan pertamanya, Rodriguez sempat bersikap lebih keras dengan menyebut operasi AS sebagai pelanggaran hukum internasional dan menuntut Washington mengembalikan Maduro ke Venezuela.

Pada Minggu malam, Trump mengatakan kepada The Atlantic bahwa Rodriguez harus bertindak sesuai kepentingan nasional AS dan memperingatkan adanya konsekuensi jika ia tidak melakukannya.

“Jika dia tidak melakukan yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal—mungkin lebih mahal daripada Maduro,” kata Trump.

Trump menyatakan bahwa penyingkiran Maduro diperlukan demi keamanan nasional AS, seraya menambahkan bahwa “perubahan rezim—apa pun sebutannya—lebih baik daripada kondisi yang ada sekarang.”

“Membangun kembali Venezuela bukan hal buruk. Itu negara yang gagal total, negara yang hancur dalam segala hal,” ujarnya.

Akhir pekan lalu, Trump juga mengatakan AS akan menjalankan Venezuela selama masa transisi kekuasaan. Saat ditanya siapa yang akan memimpin negara itu, ia menjawab bahwa “orang-orang yang berdiri di belakang saya” akan menjalankannya “untuk sementara waktu.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak akan mengelola Venezuela sehari-hari, kecuali dalam hal penegakan karantina minyak yang telah diberlakukan terhadap negara tersebut.

Menurut dakwaan di Pengadilan Distrik Federal Distrik Selatan New York, Maduro dan lima orang lainnya didakwa atas konspirasi narco-terorisme, konspirasi impor kokain, serta pelanggaran senjata.

Sebelum ditangkap, Maduro berulang kali membantah terlibat dalam penyelundupan narkoba atau aktivitas ilegal lainnya, dan menyatakan keinginannya untuk berdamai dengan Amerika Serikat.

Associated Press berkontribusi dalam laporan ini.

Mantan Tahanan Politik Venezuela Jelaskan Konfrontasinya dengan Maduro di Pengadilan

Pedro Rojas, yang mengaku pernah menjadi tahanan politik di Venezuela, kemudian meminta maaf atas ledakannya di pengadilan

Jackson Richman, Arjun Singh, Janice Hisle

EtIndomesia. NEW YORK CITY — Seorang pelarian Venezuela menjelaskan mengapa ia menghadapi mantan pemimpin negaranya, Nicolás Maduro, di dalam ruang sidang federal di Manhattan, New York, Amerika Serikat, saat pengajuan dakwaan pada 5 Januari.

Di akhir persidangan, ketika Maduro dan istrinya menyatakan tidak bersalah atas tuduhan narco-terorisme, Pedro Rojas, 33 tahun, menyebut Maduro sebagai pemimpin “ilegal.”

Maduro membalas dalam bahasa Spanyol, “Saya adalah presiden yang diculik,” sambil dikawal oleh deputi U.S. marshals.

Rojas, yang mengaku pernah menjadi tahanan politik di Venezuela pada 2019, kemudian mengatakan, “Yang kami inginkan adalah agar seluruh kekuatan hukum jatuh kepada Maduro.”

“Maduro diberi makanan, meminta perawatan medis, hal-hal yang tidak pernah diterima tahanan politik di Venezuela,” katanya saat wartawan berkumpul di luar gedung pengadilan setelah sidang.

“Ada orang-orang di penjara Venezuela yang menghadapi hukuman sampai 14, 18, 20 tahun hanya karena tiran haus darah ini.”

Disiden Venezuela itu kemudian menyesali ledakannya, meminta maaf kepada Amerika Serikat dan sistem peradilannya karena berteriak selama persidangan.

“Yang saya katakan hanyalah bahwa Maduro sekarang akan menghadapi keadilan atas semua pelanggarannya, dan ia mengatakan dirinya tidak bersalah dan seorang pria Tuhan,” ujar Rojas.

 “Kami juga pria Tuhan dan tidak pernah memukul orang tak bersalah, mengejar kardinal Gereja Katolik, atau mengambil paspor dari disiden politik.”

Saat wartawan mengikuti Rojas, ia mengatakan bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya “tidak terlalu baik” dan akan menjawab pertanyaan dalam bahasa pilihannya, Spanyol.

Rojas menceritakan momen dramatis di pengadilan ketika matanya bertemu dengan mata Maduro. Ia mengatakan tidak merasa takut sama sekali saat menatap Maduro, yang berbicara kepadanya dalam bahasa Spanyol.

Rojas mengatakan ia memberitahu Maduro bahwa mantan pemimpin itu bersalah atas pelanggaran yang disebutkan oleh hakim dan jaksa federal.

Ia menambahkan bahwa ia berbicara atas nama 40 juta rakyat Venezuela yang senang mengetahui bahwa Maduro kini berada di tahanan.

Ketika ditanya pesan apa yang ingin disampaikan kepada Presiden Donald Trump, Rojas mendorong presiden AS untuk tetap waspada sekaligus memastikan transisi kepemimpinan Venezuela berjalan lancar.

Ia juga menyatakan penghormatan besar terhadap pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, yang mengatakan bahwa pemerintah yang dipimpin oposisi siap mengambil alih pemerintahan Venezuela.

“Rakyat Venezuela akan memperoleh kebebasan dan membangun kembali negara ini ‘bergandengan tangan’ dengan Presiden Trump,” kata Rojas, sambil berharap rezim “gelap” Maduro akan dilupakan dan orang-orang hanya mengenalnya melalui museum atau penjara tempat Maduro ditahan.

Maduro, yang ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi 3 Januari di ibu kota Venezuela, Caracas, menyatakan tidak bersalah atas dakwaan konspirasi narco-terorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata mesin dan alat peledak, serta konspirasi kepemilikan senjata mesin dan alat peledak terhadap Amerika Serikat.

Ia menghadapi hukuman seumur hidup.

Sidang berikutnya dijadwalkan pada 17 Maret.

Evelyn Jones turut berkontribusi pada laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Pemimpin Oposisi Venezuela Machado Memuji Trump atas Penangkapan Maduro

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu mengatakan bahwa penangkapan Maduro menandai runtuhnya rezim sosialis dan dimulainya transisi menuju demokrasi.

Kimberly Hayek

Pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, memuji Presiden Donald Trump atas keputusan menangkap Nicolás Maduro, dalam penampilannya di acara “Hannity” di Fox News pada  Senin (5/1/2026). 

“Tanggal 3 Januari akan tercatat dalam sejarah sebagai hari ketika keadilan mengalahkan tirani,” kata Machado kepada pembawa acara Sean Hannity. “Ini adalah tonggak sejarah, dan ini bukan hanya sangat besar artinya bagi rakyat Venezuela dan masa depan kami, saya pikir ini adalah langkah besar bagi kemanusiaan, bagi kebebasan, dan martabat manusia,” ujarnya.

“Venezuela yang bebas berarti, pertama, menjadi sekutu keamanan, membongkar pusat kejahatan di benua Amerika dan mengubahnya menjadi perisai keamanan, sekutu terkuat untuk membongkar semua struktur kriminal yang telah menimbulkan begitu banyak kerusakan dan penderitaan bagi rakyat kami dan juga rakyat Amerika Serikat.”

Perempuan berusia 58 tahun itu berjanji akan menjadikan Venezuela “sekutu utama Amerika Serikat di Amerika Latin.”

“Kami akan menegakkan supremasi hukum. Kami akan membuka pasar. Kami akan memberikan keamanan bagi investasi asing,” katanya.

Machado mengatakan bahwa ia akan membantu memulangkan jutaan warga Venezuela yang terpaksa mengungsi, untuk membangun kembali sebuah bangsa yang kuat, makmur, dan masyarakat yang terbuka.

“Kami akan meninggalkan semua kehancuran yang dibawa rezim sosialis, rezim kriminal ini, kepada rakyat kami, dan mengubah Venezuela menjadi sekutu utama Amerika Serikat di Amerika Latin,” ujarnya.

Sebelum penggerebekan 3 Januari yang mengakhiri rezim Maduro, Machado dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025 pada 10 Oktober dan mendedikasikannya kepada Trump karena “ia pantas menerimanya.”

“Saya mendedikasikan hadiah ini kepada rakyat Venezuela yang menderita dan kepada Presiden Trump atas dukungannya yang tegas terhadap perjuangan kami,” tulisnya dalam unggahan di X pada hari ia menerima penghargaan tersebut.

Machado mengatakan ia berbicara dengan Trump pada hari penghargaan itu diumumkan, tetapi tidak setelahnya. Ia menyampaikan rasa terima kasih “atas nama rakyat Venezuela atas keberanian dan visi Trump” dalam mengambil “tindakan bersejarah” melawan “rezim narco-teroris.”

Ia mengatakan bahwa keputusan Trump untuk menangkap Maduro telah membawa 30 juta rakyat Venezuela semakin dekat kepada kebebasan dan membuat Amerika Serikat lebih aman.

Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjalankan Venezuela menjelang transisi kekuasaan yang damai.

“Kami akan menjalankan negara itu sampai pada saat kami bisa melakukan transisi yang aman, layak, dan bijaksana. Jadi, kami tidak ingin terlibat dengan menyerahkan kepada orang lain untuk mengambil alih,” kata Trump.

Machado menyatakan bahwa ia “sangat ingin” secara pribadi menyerahkan Hadiah Nobel Perdamaian itu kepada Trump, dengan mengatakan bahwa “rakyat Venezuela tentu ingin memberikannya kepadanya dan membaginya dengannya.”

Machado memperoleh lebih dari 92 persen suara dalam pemilihan pendahuluan oposisi tahun 2023 yang diselenggarakan oleh masyarakat sipil. Namun, Maduro melarangnya ikut serta dalam pemungutan suara. Ia kemudian digantikan oleh sekutunya Edmundo Gonzalez, yang mengalahkan Maduro secara telak meskipun pemilu berlangsung dalam kondisi yang tidak adil.

Setelah pemilihan pendahuluan tersebut, Machado bersembunyi di Venezuela selama lebih dari 16 bulan, dan hanya muncul untuk upacara Nobel Perdamaian. Ia tidak langsung kembali karena khawatir terhadap keselamatannya, namun kini berencana untuk kembali “secepat mungkin.”

Ia juga mempertimbangkan pemberian kompensasi bagi keluarga Laken Riley dan orang-orang lain yang kehilangan orang tercinta akibat tindakan para migran Venezuela di bawah rezim Maduro.

Namun, sebuah perintah eksekutif yang ditandatangani Maduro pada hari penangkapannya mewajibkan “penganiayaan dan penahanan terhadap setiap warga Venezuela yang mendukung tindakan Presiden Trump.” Empat belas jurnalis ditahan hanya pada hari itu saja.

Machado menyebut pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodriguez sebagai “salah satu arsitek utama penyiksaan, penganiayaan, korupsi, dan perdagangan narkoba” dengan keterkaitan dengan Rusia, Tiongkok, dan Iran.

Rodriguez, seorang sosialis yang pernah menjabat sebagai wakil pemimpin di bawah Maduro sebelum penangkapannya, “ditolak oleh rakyat Venezuela,” kata Machado kepada Hannity, seraya mendesak diadakannya pemilu bebas yang menurutnya akan dimenangkan oposisi dengan lebih dari 90 persen suara.

Sumber : Theepochtimes.com