Sebuah Kisah Klasik

EtIndonesia. Lebih dari seratus tahun yang lalu, di Belgia, hiduplah seorang tukang kayu muda bernama Adolphe Sax (nama lengkapnya Antoine-Joseph Adolphe Sax). Fakta bahwa dia bisa bertahan hidup hingga dewasa saja sudah merupakan sebuah keajaiban.

Sejak kecil, hidupnya berkali-kali berada di ambang maut: dia pernah menelan jarum jahit, tanpa sengaja meminum asam sulfat, kepalanya pernah dihantam batu bata, jatuh dari lantai atas bangunan, bahkan pernah terjatuh ke atas tungku api yang baru saja padam. Namun semua musibah itu tidak menghentikannya. Pada usia 21 tahun, dia berhasil menciptakan sebuah alat musik yang sangat unik.

Alat musik itu memiliki corong tiup seperti klarinet, tabung berbentuk kerucut parabola, dan badan logam dengan tombol-tombol layaknya organ. Sebuah rancangan yang belum pernah ada sebelumnya.

Pada awalnya, Adolphe ingin memperkenalkan alat musik ciptaannya ke pusat otoritas musik dunia saat itu—lingkaran musik Paris. Namun sekeras apa pun usahanya, tidak satu pun pembuat alat musik Prancis memandang serius pemuda Belgia yang tak dikenal ini. Para tokoh musik Prancis lebih memilih alat musik yang sudah akrab bagi mereka.

Sembilan tahun berlalu begitu saja. Impiannya tak kunjung terwujud, dan Adolphe tetap hanyalah seorang tukang kayu tanpa nama.

Hingga akhirnya, kesempatan datang.

Seorang komponis memperjuangkan agar Adolphe mendapat kesempatan tampil di sebuah konser musik di Paris, bahkan secara khusus menuliskan sebuah karya untuknya. Namun, di tengah perjalanan menuju tempat pertunjukan, musibah kembali menimpa—alat musik Adolphe terjatuh dari kereta kuda dan terbelah menjadi dua.

Kita bisa membayangkan betapa hancur perasaan Adolphe saat itu. Namun dia tidak pulang. Dia justru naik ke atas panggung sambil membawa alat musik yang rusak. Saat bermain, kedua tangannya tak boleh lepas sedikit pun—jika tidak, bagian pipa logamnya akan terjatuh. Karena itu, dia tak bisa membalik lembaran partitur dan hanya mengandalkan ingatan.

Beberapa kali, karena gugup, dia lupa bagian lagu. Maka dia memilih meniup satu nada panjang, terus berlanjut, sampai ingat kembali bagian berikutnya, lalu melanjutkan permainan.

Para penonton Prancis belum pernah mendengar suara musik yang begitu lembut, indah, dan menggugah jiwa. Seketika, mereka jatuh cinta pada alat musik tersebut. Setelah pertunjukan berakhir, Adolphe naik turun panggung hingga lima kali untuk memberi hormat, sementara tepuk tangan penonton tak kunjung reda.

Sejak saat itu, alat musik dengan suara khas ini langsung menjadi primadona di dunia musik Paris. Sebuah orkestra yang menggunakannya bahkan dengan mudah memenangkan kompetisi musik. Pemerintah Prancis kemudian menetapkannya sebagai alat musik wajib dalam band militer.

Apakah alat musik itu?

Itulah saksofon, alat musik yang kini dikenal di seluruh dunia—dinamai langsung dari nama penciptanya, Sax. Saksofon memiliki pesona luar biasa dan kekuatan ekspresi yang mampu menyaingi alat musik apa pun.

Bahkan Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat, pernah menjadi pemain saksofon utama dalam band tiup negara bagian Arkansas. Beberapa tahun lalu, media masih menjulukinya sebagai “saksofonis yang tak pernah menua”.

Jika keberhasilan Adolphe Sax diibaratkan sebagai sebuah buah yang matang, maka semua penderitaan, rintangan, dan kejadian tak terduga sebelumnya hanyalah bunga kecil, daun hijau, dan ranting yang menopangnya. Justru karena adanya semua cobaan itulah, keberhasilan itu tampak begitu cemerlang dan memikat.

 

Kisah Thomas Edison Menemukan Lampu Listrik

EtIndonesia. Thomas Alva Edison mulai melakukan percobaan reformasi lampu busur pada tahun 1877. Dia mengajukan gagasan untuk membagi arus listrik dan mengubah lampu busur menjadi lampu cahaya putih. Agar percobaan ini berhasil secara ideal, dia harus menemukan suatu bahan yang dapat dipanaskan hingga berpijar sebagai filamen lampu.

Filamen tersebut harus mampu bertahan pada suhu sekitar 2.000 derajat Celsius dan menyala terus-menerus selama lebih dari 1.000 jam. Selain itu, lampu harus mudah digunakan, cukup kuat untuk pemakaian sehari-hari, berharga terjangkau, dan yang terpenting—nyala atau padamnya satu lampu tidak boleh memengaruhi lampu lain, sehingga setiap lampu tetap berdiri secara mandiri.

Gagasan ini pada masa itu tergolong sangat berani dan membutuhkan kerja keras luar biasa untuk meneliti dan mengujinya.

Dalam memilih bahan filamen, Edison mula-mula mencoba berbagai bahan karbon, tetapi gagal. Dia lalu beralih ke logam—menggunakan paduan platina dan iridium yang bertitik leleh tinggi. Dia juga menguji lebih dari 1.600 jenis mineral dan bijih, namun semuanya berakhir dengan kegagalan.

Meski begitu, Edison dan para asistennya telah memperoleh kemajuan penting: mereka menyadari bahwa filamen pijar harus disegel di dalam bola kaca dengan tingkat vakum tinggi, agar tidak mudah terbakar. Dari pemahaman ini, Edison kembali meneliti filamen berbahan karbon.

Dia bekerja siang dan malam hingga paruh pertama tahun 1880, namun percobaan lampu pijarnya masih belum menunjukkan hasil. Suatu hari, dia merobek kipas daun pisang di laboratoriumnya, mengambil serat bambu yang terikat di pinggirnya, memotongnya menjadi benang halus, lalu memfokuskan seluruh perhatiannya pada proses karbonisasi.

Hanya dari bahan tumbuhan saja, dia melakukan lebih dari 6.000 percobaan karbonisasi. Catatan eksperimennya mencapai lebih dari 200 buku, dengan total lebih dari 40.000 halaman, yang ditulis selama tiga tahun berturut-turut.

Edison bekerja 18–19 jam setiap hari. Pada dini hari sekitar pukul tiga atau empat pagi, dia baru bisa tidur—kepalanya bertumpu pada dua atau tiga buku, berbaring di bawah meja laboratorium. Kadang-kadang, dalam satu hari dia tertidur di bangku tiga atau empat kali, setiap kali hanya sekitar 30 menit.

Hingga paruh pertama tahun 1880, percobaan lampu pijarnya tetap belum berhasil, bahkan para asistennya mulai kehilangan semangat. Namun suatu hari, Edison kembali mencoba serat bambu yang telah dikarbonisasi sebagai filamen. Kali ini, hasilnya jauh lebih baik dibanding semua percobaan sebelumnya.

Inilah lampu pijar pertama ciptaan Edison—lampu filamen bambu. Jenis lampu ini digunakan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya pada tahun 1908, filamen bambu digantikan oleh filamen tungsten.

Setelah itu, Edison melanjutkan penelitian baterai alkaline yang digunakan sebagai sumber tenaga. Penelitian ini pun sangat sulit. Bersama beberapa asisten terpilih, dia meneliti selama hampir sepuluh tahun, melewati tak terhitung kegagalan dan kesulitan. Berkali-kali dia merasa hampir mencapai tujuan, lalu menyadari bahwa dia masih keliru. Namun Edison tidak pernah menyerah—dia selalu memulai kembali dari awal.

Setelah sekitar 50.000 kali percobaan dan menulis lebih dari 150 buku catatan eksperimen, barulah dia mencapai keberhasilan.

Sebagaimana diketahui, Thomas Edison adalah seorang penemu besar. Sepanjang hidupnya, dia memperoleh 1.093 paten penemuan, menjadikannya individu dengan jumlah paten terbanyak sejak sistem paten diberlakukan. 

Ucapannya yang terkenal : “Genius adalah 99 persen kerja keras dan 1 persen inspirasi,”
telah menjadi semboyan yang mendorong banyak orang untuk tekun dan gigih.

Tak dapat disangkal, kontribusi Edison mengubah wajah kehidupan manusia. Dari sekian banyak penemuannya, dia menganggap lampu listrik sebagai yang paling penting, meskipun penemuan yang paling dia cintai sebenarnya adalah fonograf.

Lampu listrik merupakan salah satu penemuan terbesar manusia dalam menaklukkan kegelapan. Sebelum abad ke-19, manusia menggunakan lampu minyak dan lilin sebagai sumber penerangan. Menjelang lahirnya lampu listrik, lampu minyak tanah dan lampu gas menjadi alat penerangan utama. Meski mampu menerangi malam, alat-alat ini belum sepenuhnya membebaskan manusia dari keterbatasan waktu.

Barulah dengan lahirnya generator listrik, manusia dapat menggunakan berbagai jenis lampu listrik untuk menerangi dunia, mengubah malam menjadi siang, memperluas ruang gerak aktivitas manusia, dan memperoleh lebih banyak waktu untuk menciptakan nilai bagi masyarakat.

Edison dikenal sebagai pribadi yang luar biasa rajin dan gemar bereksperimen. Dia sangat tertarik pada bidang kelistrikan. Sejak Michael Faraday menemukan motor listrik, Edison bertekad menciptakan lampu listrik yang dapat membawa cahaya bagi umat manusia.

Lampu filamen karbon ciptaan Edison jauh lebih praktis dibanding lampu busur listrik sebelumnya. Kehadirannya menandai awal resmi era penggunaan lampu listrik oleh manusia. Namun, lampu filamen karbon masih memiliki kelemahan—cahayanya kurang terang, proses pembuatan filamennya rumit, dan usia pakainya relatif singkat. Karena itu, para ilmuwan di berbagai negara terus berupaya menyempurnakan lampu pijar.

Tiga puluh tahun setelah lampu filamen karbon lahir, pada tahun 1909, insinyur William Coolidge dari General Electric menemukan lampu dengan filamen tungsten. Lampu ini merupakan kemajuan besar dibanding lampu karbon. Namun, karena tungsten mudah menjadi rapuh saat dialiri listrik, umur pakainya pun masih menghadapi keterbatasan.`(jhn/yn)

Persaingan AS-Tiongkok di Belahan Bumi Barat: Argentina Menghentikan Proyek Kerja Sama dengan Argentina

Argentina baru-baru ini menghentikan rencana kerja sama dengan Tiongkok untuk membangun teleskop radio satu-piring terbesar di Amerika Latin (CART). Langkah ini dipandang sebagai contoh terbaru dari persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Belahan Bumi Barat.

EtIndonesia. Presiden Argentina Javier Milei baru-baru ini menghentikan proyek kerja sama dengan Tiongkok untuk membangun teleskop radio satu-piring terbesar di Amerika Latin (CART). 

Proyek ini merupakan kerja sama besar antara Argentina dan Tiongkok, di mana Argentina menyediakan lokasi, sementara Tiongkok menyediakan pendanaan dan teknologi, dengan total investasi sekitar 24 juta dolar AS. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mempertanyakan potensi penggunaan militer dari proyek tersebut, serta menyatakan kekhawatiran bahwa teknologi terkait dapat dialihkan untuk kegiatan pengawasan.

Langkah ini dianggap sebagai perkembangan terbaru dalam persaingan AS–Tiongkok di Belahan Bumi Barat. Amerika Serikat berencana memberikan fasilitas pertukaran mata uang (currency swap) senilai 20 miliar dolar AS kepada Argentina, sementara pemerintah Argentina secara diplomatik menyesuaikan diri dengan AS untuk menyingkirkan pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Hal ini juga mencerminkan strategi keamanan nasional baru Amerika Serikat yang dirilis pada 4 Desember 2025, yang melalui apa yang disebut sebagai “Korelasi Trump” yang mana  berupaya menghidupkan kembali Doktrin Monroe, memperkuat keunggulan AS di Belahan Bumi Barat. Tujuan utamanya adalah menangani masalah imigrasi dan narkoba, serta membendung pengaruh PKT dan kekuatan lain di Amerika Latin.

 “Strategi Amerika Serikat menekankan prinsip bahwa Belahan Bumi Barat tidak boleh diintervensi oleh kekuatan asing. Dalam prinsip ini, yang dimaksud jelas adalah Tiongkok dan Rusia,” kata Wakil Profesor Huang Fu-juan dari Departemen Ekonomi Politik Global Universitas Tamkang .

“Cara Tiongkok masuk ke Amerika Latin adalah dengan membentuk sebuah forum komunitas Tiongkok–Amerika Latin yang melibatkan 33 negara Amerika Latin secara langsung, untuk menyingkirkan Amerika Serikat. Mereka tidak ingin melakukannya secara terang-terangan, sehingga menyebutnya sekadar forum, tetapi pada kenyataannya forum itu mengurusi hampir semua hal,” tambahnya. 

Para akademisi menunjukkan bahwa setidaknya dalam 15 tahun terakhir, PKT sangat mementingkan pengelolaan strategis di Amerika Latin. Tujuannya adalah mempererat hubungan dengan negara-negara Amerika Latin untuk menekan hubungan diplomatik Taiwan di kawasan tersebut, sekaligus mencari pasar bagi produk industri Tiongkok dan mengimpor produk pertanian dari Amerika Latin. Namun, tujuan-tujuan ini mulai berubah sejak masa jabatan pertama Trump.

 “Amerika Serikat menyadari bahwa Amerika Latin, yang sebelumnya merupakan mitra yang dapat diandalkan, ternyata tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan. Karena kemudahan transportasi darat, kawasan ini menjadi jalur masuk berbagai narkoba baru, terutama fentanil,” kata Wakil Dekan Fakultas Bisnis Universitas Loyola Maryland, Ding Hongbin.

“Ditambah lagi, selama 20 tahun terakhir, masalah imigrasi dari Amerika Latin semakin menjadi beban bagi AS, sehingga diperlukan langkah-langkah yang lebih tegas. Dalam masa jabatan kedua Trump, pemerintah AS dengan jelas kembali menempatkan Amerika Latin sebagai inti kebijakan luar negerinya,” tambahnya. 

Ding Hongbin menambahkan bahwa langkah-langkah ini pada dasarnya merupakan tindakan balasan Amerika Serikat terhadap upaya PKT selama lebih dari dua dekade terakhir.

Mengikuti langkah Amerika Serikat, PKT pada 10 Desember 2025 merilis dokumen kebijakan ketiganya berjudul “Kebijakan terhadap Amerika Latin dan Karibia”, yang menekankan pembangunan pola baru hubungan Tiongkok–Amerika Latin yang bersifat “lima-dalam-satu”, serta secara eksplisit menyatakan akan membagikan apa yang disebut sebagai model modernisasi PKT. Tujuan untuk menghadapi Amerika Serikat terlihat sangat jelas.

 “Kita melihat dokumen putih ketiga ini seperti respons Tiongkok karena Amerika Serikat mulai bereaksi keras. Tiongkok juga ingin menyampaikan kepada para mitranya di Amerika Latin bahwa kerja sama harus terus berlanjut, bahkan diperkuat lebih jauh,” kata Hongbin. 

Huang Fu-juan menilai:  “Kecemasan PKT mungkin terletak pada ketidakmampuannya mengendalikan negara-negara Amerika Latin. Mereka tahu bahwa kawasan ini sejak lama merupakan ‘halaman belakang’ Amerika Serikat. Ketika AS mengabaikan kawasan tersebut, negara-negara Amerika Latin merasa memiliki ruang gerak yang besar, dan kekuatan kiri pun bangkit. Namun, karena pemerintahan kiri sering gagal dalam tata kelola dan distribusi, setelah gelombang kiri meredup, kubu kanan kembali berkuasa. Kebangkitan kanan ini kebetulan sejalan dengan ideologi Amerika Serikat.”

Tahun lalu, karena kekurangan dana, Argentina juga menghentikan dua proyek pembangkit listrik tenaga air yang telah dikerjakan perusahaan Tiongkok selama sepuluh tahun di Provinsi Santa Cruz. 

Panama tahun ini keluar dari prakarsa “Belt and Road”. Meskipun transaksi pelabuhan Terusan Panama belum memiliki kesimpulan akhir, campur tangan dan ambisi PKT telah terungkap. Sementara itu, sekutu lama PKT, pemerintah Nicolás Maduro di Venezuela, kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintahan Trump.

 “Sejauh ini, saya belum melihat pemerintah Tiongkok benar-benar mampu membuat Amerika Latin berpihak kepadanya ketika negara-negara di kawasan ini harus memilih. Sampai saat ini, saya tidak melihat banyak negara Amerika Latin yang bersedia berdiri di pihak Tiongkok, kecuali segelintir kasus yang sangat terbatas, seperti Venezuela. Namun ini tidak berarti Tiongkok tidak akan terus berupaya di masa depan untuk melemahkan pengaruh Amerika Serikat di kawasan ini,” ujar Ding Hongbin. 

Ding Hongbin menambahkan bahwa ke depan, Amerika Serikat akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah PKT memperluas pengaruhnya di Amerika Latin, serta mewaspadai aktivitas spionase dan infiltrasi yang tersembunyi di balik berbagai kegiatan tersebut. (Hui)

Shang Yan/Yi Ru, Fei Zhen/Gao Yu

Maduro Ditangkap Hidup-hidup, Dukungan Militer Partai Komunis Tiongkok Terbukti Gagal Total

Pada 3 Januari 2026, militer Amerika Serikat melancarkan operasi militer kilat terhadap Venezuela dan berhasil menangkap Nicolás Maduro. Operasi tersebut mencakup serangan udara, perang elektronik, hingga penyusupan pasukan khusus, yang mana seluruhnya berlangsung cepat dan sangat presisi. 

Sementara itu, sistem pertahanan udara yang selama ini dipromosikan secara besar-besaran oleh Venezuela hampir tidak berfungsi sama sekali. Yang lebih ironis, hanya beberapa jam sebelum penangkapan, Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru saja mengirim delegasi untuk secara terbuka menyatakan dukungan kepada Maduro—dan kini dukungan itu langsung terbukti sia-sia.

EtIndonesia. Saat ini Nicolás Maduro ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn, dan dijadwalkan akan menjalani sidang perdana di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York pada 5 Januari 2026. 

Sebelumnya, akun resmi Gedung Putih merilis sebuah video yang memperlihatkan Maduro mengenakan jaket hitam, berjalan perlahan menyusuri lorong berkarpet biru di bawah pengawalan petugas Badan Penegakan Narkoba AS (DEA). Keterangan video tersebut menyebut adegan itu sebagai “perp walk” (arak-arakan tersangka).

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap sebagian detail penangkapan Maduro. Ia mengatakan bahwa saat itu Maduro sempat berlari menuju pintu ruang rahasia, namun “belum sempat menutup pintu, ia sudah berhasil dilumpuhkan.” Peralatan pembobolan dan pemotongan yang dibawa militer AS “bahkan tidak sempat digunakan”.

Opini publik pun ramai membahas fakta bahwa hanya beberapa jam sebelum ditangkap hidup-hidup, Maduro dengan penuh publisitas menerima kunjungan utusan khusus PKT, Qiu Xiaoqi, yang datang untuk memberikan dukungan. 

Ketika Maduro ditangkap, delegasi Tiongkok bahkan masih berada di Venezuela. Selain itu, Venezuela sebelumnya juga gencar mempromosikan sistem pertahanan udara buatan Tiongkok, seperti radar gelombang meter JY-27 dan radar tiga koordinat JYL-1, yang diklaim mampu mengunci pesawat siluman AS F-22 dan F-35. 

Namun dalam pertempuran nyata, sistem-sistem tersebut praktis tidak berguna. Peralatan berat buatan Tiongkok di darat pun berubah menjadi sasaran empuk bagi militer AS.

Banyak warganet juga menggali kembali sebuah video lama Maduro, di mana ia secara terbuka memuji pemimpin PKT Xi Jinping karena memberinya sebuah ponsel Huawei, yang menurutnya dapat mencegah penyadapan dan pelacakan, sehingga Amerika Serikat tidak akan bisa menemukan dirinya.

Warganet pun menyindir: apakah keberhasilan militer AS melacak dan menangkap Maduro justru disebabkan oleh ponsel Huawei tersebut? (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Rong Yu, dan reporter magang Ning Xiu.

Seiring Meningkatnya Aksi Protes di Iran, Beredar Khamenei Berencana Melarikan Diri ke Moskow

Menurut informasi intelijen yang diperoleh surat kabar Inggris The Times, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah menyiapkan rencana darurat: jika gejolak di Iran semakin parah, ia akan melarikan diri ke Moskow.

EtIndonesia. Laporan The Times tertanggal 4 Januari mengutip sebuah laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Khamenei yang kini berusia 86 tahun telah menyusun rencana pelarian cadangan. Jika pasukan keamanannya tidak mampu menghentikan gelombang demonstrasi yang kian membesar, atau jika mereka berbalik meninggalkannya di tengah kekacauan, Khamenei akan meninggalkan Teheran bersama lebih dari 20 orang kepercayaannya serta anggota keluarganya.

Seorang sumber intelijen mengatakan: “Rencana ‘B’ ini disiapkan untuk Khamenei beserta para mitra yang sangat dekat dengannya dan keluarganya, termasuk putranya sekaligus penerus yang telah ditunjuk, Mojtaba.”

Beni Sabti, seorang analis yang bertahun-tahun lalu melarikan diri dari Iran dan kini bekerja untuk badan intelijen Israel, mengatakan bahwa Khamenei kemungkinan akan melarikan diri ke Moskow karena “ia tidak punya tempat lain untuk dituju.” Ia juga menyebut bahwa Khamenei sangat “mengagumi Putin, dan budaya Iran relatif mirip dengan budaya Rusia.”

Rencana pelarian ini disebut-sebut mencontoh pengalaman mantan pemimpin Suriah Bashar al-Assad. Pada Desember 2024, sebelum pasukan oposisi memasuki Damaskus, Assad melarikan diri ke Moskow dengan pesawat.

Sumber tersebut mengatakan bahwa “mereka telah merencanakan rute evakuasi dari Teheran, dan begitu merasa perlu untuk melarikan diri, rencana itu akan segera dijalankan.” Ini termasuk “mengumpulkan aset, properti, dan uang tunai di luar negeri untuk memastikan jalur pelarian yang aman.”

Khamenei diketahui memiliki jaringan aset yang sangat besar. Menurut estimasi hasil investigasi Reuters pada tahun 2013, total aset yang dimiliki dan dikendalikan Khamenei mencapai sekitar 95 miliar dolar AS, termasuk properti dan perusahaan. Banyak pembantu seniornya juga telah mengatur agar keluarga mereka tinggal di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat, Kanada, dan Dubai.

Sejak pecahnya aksi protes di Iran pada 28 Desember tahun lalu, situasi terus memanas. Warga yang tidak puas turun ke jalan, dan tuntutan yang semula berfokus pada persoalan ekonomi telah berkembang menjadi tuntutan politik, dengan sasaran langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 Januari menyatakan bahwa jika Iran menembaki para demonstran damai atau melakukan penindasan dengan kekerasan, Amerika Serikat akan melakukan intervensi. (Hui)

Laporan diterjemahkan oleh reporter NTDTV.com Jin Jing / Editor Lin Qing

Panama Membongkar Monumen Tionghoa — Analisis: Mengapa Partai Komunis Tiongkok Menggoreng Isu Ini? Bagaimana Sejarahnya?

Monumen yang berdiri sejak 2004 itu dibangun untuk memperingati 150 tahun kedatangan warga Tionghoa di Panama. Kini ia lenyap—dan membuka kembali perseteruan geopolitik di sekitar Terusan Panama. Dibangun saat Panama masih menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Tiongkok (Taiwan)

EtIndonesia. Sebuah monumen yang memperingati kontribusi komunitas Tionghoa lokal terhadap pembangunan Panama pada abad ke-19 dibongkar pada 27 Desember 2025. Otoritas lokal Panama memerintahkan pembongkaran monumen tersebut dengan alasan mengalami kerusakan struktural dan dianggap membahayakan keselamatan publik.

Namun, pembongkaran ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam perebutan pengaruh atas Terusan Panama—jalur maritim strategis yang menguasai sekitar 5 persen perdagangan dunia.

Rezim Tiongkok, yang baru menjalin hubungan diplomatik dengan Panama pada 2017, bereaksi keras. Kedutaan Besar Tiongkok di Panama mengklaim bahwa pembongkaran itu “secara serius melukai perasaan persahabatan rakyat Tiongkok terhadap rakyat Panama.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, pada 29 Desember mendesak pemerintah Panama membuka penyelidikan. Sehari sebelumnya, Presiden Panama José Raúl Mulino mengumumkan bahwa “investigasi harus segera dimulai.” Ia menyebut pembongkaran monumen itu sebagai “tindakan irasional” dan memerintahkan Kementerian Kebudayaan untuk menjajaki kemungkinan membangun kembali monumen tersebut di lokasi semula.

“Foto menunjukkan lokasi pembongkaran sebuah monumen di Kota Arraiján, Panama, pada 28 Desember 2025. (Daniel de Carteret / AFP)”

Monumen Lokal, Klaim Global

Komentator urusan Tiongkok berbasis di Amerika Serikat, Heng He, menilai Presiden Mulino berada di bawah tekanan PKT. Dalam kolomnya di The Epoch Times edisi bahasa mandarin, Heng menegaskan bahwa monumen tersebut adalah urusan lokal Panama dan “tidak ada kaitannya dengan rezim Tiongkok, bahkan bukan pula urusan pemerintah pusat Panama.”

Saat monumen dibangun pada 2004, Panama masih menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Tiongkok (Taiwan). Menurut Heng, monumen itu dibangun oleh komunitas Tionghoa lokal yang terdaftar secara hukum di Panama melalui perjanjian penggunaan lahan 20 tahun dengan Pemerintah Kota Arraiján—yang masa berlakunya berakhir pada 2024—dan dibiayai sepenuhnya oleh dana komunitas.

“Ini kontrak antara organisasi masyarakat Panama dan pemerintah kota Arraiján. Bukan urusan Beijing,” tulis Heng.

Jejak Tionghoa di Panama

Pada 30 Maret 1854, sebanyak 694 pekerja Tionghoa tiba di Panama setelah berlayar dari Shantou, Guangdong, menggunakan kapal Sea Witch. Catatan sejarah menunjukkan sekitar 20.000 pekerja Tionghoa terlibat dalam pembangunan rel Kereta Terusan Panama.

Pada 1881, puluhan ribu pekerja Tionghoa lainnya turut membangun Terusan Panama. Mereka bukan tenaga kerja resmi yang dikirim pemerintah Dinasti Qing, melainkan migran yang secara mandiri memilih menetap di wilayah yang saat itu bahkan belum menjadi negara Panama.

“Monumen itu memperingati kontribusi sejarah warga Tionghoa terhadap Panama—bukan persahabatan negara Tiongkok dan Panama, dan sama sekali tidak terkait dengan rezim komunis,” tegas Heng.

Komunitas Tionghoa di Panama telah hadir jauh sebelum berdirinya Partai Komunis Tiongkok. Asosiasi Tionghoa Panama berdiri pada 1943 dan menggalang dana untuk membangun monumen tersebut. Menurut Heng, yurisdiksi duta besar Tiongkok tidak mencakup warga keturunan Tionghoa yang merupakan warga negara Panama.

“Sejak kapan PKT berhak mengklaim mewakili hampir 300 ribu warga Panama keturunan Tionghoa? Siapa yang memberi mandat itu?” ujar Heng.

Komentator urusan internasional Wang He menilai reaksi keras Beijing sebagai bagian dari strategi “nasionalisme internal dan diplomasi serigala” (wolf warrior diplomacy) di luar negeri. “Ini juga upaya untuk memperdalam dan mempertahankan pengaruhnya di Panama,” katanya.

Perebutan Terusan Panama

Pembongkaran monumen itu terjadi saat Washington meningkatkan tekanan untuk menahan laju pengaruh PKT di Panama. Terusan Panama, yang rampung pada 1914, pernah dikuasai Amerika Serikat hingga 1977, sebelum hak operasionalnya diserahkan kepada Panama melalui perjanjian era Presiden Jimmy Carter.

Dalam beberapa tahun terakhir, dua dari lima pelabuhan di sisi Pasifik dan Atlantik terusan dikelola oleh anak perusahaan CK Hutchison Holdings yang berbasis di Hong Kong. Pada akhir 2024, Donald Trump berulang kali menuding Beijing “sebenarnya mengendalikan” terusan tersebut.

CK Hutchison sepakat menjual pelabuhan Balboa dan Cristóbal kepada BlackRock pada Maret tahun lalu, namun transaksi itu mandek akibat tekanan PKT. Beijing bahkan menuntut agar raksasa pelayaran milik negara, Cosco, mendapat saham pengendali—serta mengancam memblokir penjualan jika tuntutan itu tak dipenuhi.

Pada 17 Desember 2025, Duta Besar AS Kevin Cabrera menaiki kapal penjaga pantai AS ALERT saat sandar di Panama City, menegaskan kemitraan keamanan maritim AS–Panama di tengah sengketa terusan.

Di bawah tekanan Washington, Presiden Mulino juga berjanji tidak memperpanjang partisipasi Panama dalam proyek Belt and Road Initiative—program global Beijing yang kerap dituding menjebak negara berkembang dalam utang.

Peneliti pertahanan Taiwan, Shen Ming-shih, menilai Amerika Serikat “akan bersaing habis-habisan” dengan Tiongkok atas terusan tersebut. “Bagi negara kecil seperti Panama, memilih pihak akan sangat sulit,” ujarnya.

Komentator Wang He menambahkan, ketergantungan ekonomi Panama terhadap Tiongkok membuat Panama “tidak mungkin sepenuhnya memihak AS.” Namun, ia menilai Panama kini perlahan menjauh dari Beijing.

Menurut Shen, perubahan arah kebijakan AS di bawah Trump juga mulai memecah lanskap politik Panama. “Dalam pemilu mendatang, perbedaan sikap pro-Tiongkok dan pro-Amerika kemungkinan akan makin tajam,” katanya.

Luo Ya, Zhang Ting, Associated Press, dan Reuters berkontribusi dalam laporan ini.

Serangan Mendadak Militer AS Patut Dicontoh, Proses Penangkapan Maduro Hidup-hidup Terungkap

Pada 2 Januari larut malam, militer Amerika Serikat bersama aparat penegak hukum melancarkan serangan mendadak ke ibu kota Venezuela, Caracas. Operasi ini berhasil menangkap pemimpin Venezuela yang masuk daftar buronan, Nicolás Maduro. Operasi ini juga mengejutkan dunia. Pada  4 Januari, lebih banyak rincian mengenai keseluruhan misi tersebut diungkap ke publik.

Etindonesia. Pada 3 Januari 2026 pagi, pihak AS berhasil menangkap diktator Nicolás Maduro beserta istrinya dalam sebuah operasi gabungan yang sangat rahasia dan berskala belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada 3 Januari dini hari, puluhan pesawat tempur dan drone militer AS mulai menekan sistem pertahanan udara Venezuela, membuka jalan bagi tim penyerbu helikopter untuk memasuki wilayah target dengan aman. Kemudian mendarat di kompleks yang dijaga sangat ketat milik Maduro, yang terletak di pusat kota Caracas. 

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Caine, menyatakan bahwa pesawat F-22, F-35, F-18, pembom B-1, serta drone memberikan perlindungan penuh sepanjang operasi. Pesawat perang elektronik EA-18G “Growler” juga ikut serta dalam misi penindasan sistem pertahanan udara Venezuela.

Caine pada  3 Januari menjelaskan bahwa operasi yang diberi sandi “Absolute Resolve” ini melibatkan 150 pesawat dari satuan militer dan intelijen AS yang berasal dari 20 pangkalan di Belahan Bumi Barat. Namun, operasi tersebut sempat mengalami penundaan akibat kondisi cuaca.

Helikopter dalam operasi ini terbang rendah, sekitar 100 kaki di atas permukaan laut. Akhirnya, pada pukul 01.01 dini hari, helikopter berhasil mendarat. Pasukan khusus segera bergerak cepat, menembus perlawanan pasukan pengawal, dan menangkap pasangan Maduro sebelum mereka sempat bersembunyi di ruang aman. 

Setelah itu, pasukan segera melakukan penarikan. Pada pukul 03.29 dini hari, seluruh armada keluar dari wilayah udara Venezuela.

Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima. Kemudian pada  3 Januari malam dipindahkan ke Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di negara bagian New York.

Menurut laporan, Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah penangkapan pada pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS pada  2 Januari, disertai pesan: “Semoga beruntung, perjalanan lancar.”

Presiden Trump menyatakan bahwa selama operasi berlangsung, militer AS beberapa kali terlibat baku tembak defensif. Satu pesawat terkena tembakan, namun seluruh armada berhasil mundur dengan selamat. Tidak ada korban tewas di pihak AS, tetapi beberapa prajurit AS mengalami luka-luka. Jumlah korban di pihak Venezuela hingga kini belum diketahui.

Trump juga mengatakan bahwa selain melakukan serangan presisi terhadap sistem pertahanan udara, pihak AS secara bersamaan melancarkan perang siber untuk membantu tim udara dan darat menyingkirkan berbagai hambatan. Militer AS juga memutus pasokan listrik, membuat area sekitar tempat persembunyian Maduro tenggelam dalam kegelapan.

Diketahui bahwa badan intelijen dan militer AS telah secara rahasia mempersiapkan operasi ini selama berbulan-bulan. Pasukan Delta bahkan membangun replika rumah Maduro dalam skala 1:1 untuk latihan. CIA telah mengirim agen ke wilayah Venezuela sejak Agustus tahun lalu untuk menanam sumber intelijen kunci dan memantau pergerakan Maduro secara real time. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yu Liang dan Chi Xiao

Sidang Perdana Maduro di New York, Aset Dibekukan Swiss, dan Kuba Berduka — Dunia Masuk Fase Baru

EtIndonesia. Pada 5 Januari 2026, mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro secara resmi menghadiri sidang perdananya di pengadilan federal New York. Dalam persidangan tersebut, Maduro menolak seluruh dakwaan dan tetap bersikukuh mengklaim dirinya sebagai presiden sah Venezuela, meskipun telah ditangkap dan diekstradisi oleh Amerika Serikat dalam operasi militer lintas negara pada 3 Januari lalu.

Dakwaan Berat: Narkotika, Terorisme, dan Kejahatan Kemanusiaan

Jaksa federal Amerika Serikat menuduh Maduro selama bertahun-tahun menyalahgunakan kekuasaan negara, berkolusi dengan kartel narkoba lintas negara serta organisasi teroris. Dia diduga menggunakan paspor diplomatik dan perlindungan resmi negara untuk menyelundupkan ribuan ton kokain ke pasar internasional.

Lebih jauh, Maduro juga dituduh memerintahkan penculikan, penganiayaan, hingga pembunuhan terhadap individu atau kelompok yang dianggap menghalangi jaringan peredaran narkoba yang dikendalikannya. Dakwaan ini menempatkan kasus Maduro sebagai salah satu perkara kejahatan terorganisir tingkat negara paling serius dalam sejarah peradilan Amerika Serikat.

Istri Maduro Terancam Penjara Seumur Hidup

Tak hanya Maduro, istri Maduro juga didakwa dalam perkara terpisah. Dia dituduh menerima suap, membantu penyelundupan narkoba, serta terlibat dalam kejahatan senjata lintas negara. Jika terbukti bersalah, ancaman hukuman maksimal yang dihadapi adalah penjara seumur hidup.

Kalangan hukum menilai Maduro kemungkinan akan mengajukan klaim kekebalan pidana sebagai kepala negara asing. Namun, preseden kasus Manuel Noriega—mantan pemimpin Panama yang ditangkap dan diadili Amerika Serikat pada 1989—dinilai sangat merugikan posisi Maduro.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa Maduro akan divonis bersalah, seraya menegaskan bahwa bukti yang dimiliki jaksa sangat kuat dan berlapis.

Swiss Bekukan Seluruh Aset Maduro

Masih pada 5 Januari 2026, Dewan Federal Swiss mengumumkan kebijakan pembekuan total seluruh aset milik Maduro dan para kroninya di wilayah Swiss. Kebijakan ini berlaku segera dan memiliki masa berlaku empat tahun.

Pemerintah Swiss menyatakan langkah tersebut bertujuan mencegah aliran dana ilegal ke luar negeri, serta menjadi pelengkap sanksi terhadap Venezuela yang telah diberlakukan sejak 2018. Swiss menegaskan bahwa pembekuan ini tidak menyasar anggota pemerintah Venezuela yang sedang menjabat, namun secara khusus menargetkan Maduro dan lingkaran dekatnya sebagai tokoh politik asing berisiko tinggi.

Setiap dana yang terbukti diperoleh secara ilegal akan disita dan dikembalikan demi kepentingan rakyat Venezuela, guna memastikan hasil kejahatan tidak dapat diselamatkan di tengah krisis politik saat ini.

Reaksi Panik di Tiongkok: Propagandis PKT Emosional

Di dunia maya Tiongkok, beredar luas video Li Yi, seorang intelektual propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang tampak mengalami luapan emosi ekstrem saat membahas operasi militer Amerika Serikat.

Dalam kanal YouTube-nya, Li Yi berteriak marah, menyebut bahwa jarak daratan Tiongkok ke Taiwan hanya sekitar 180 kilometer, sementara Amerika Serikat yang berjarak 1.800 kilometer justru mampu menangkap Maduro hidup-hidup. Dia terlihat menampar mulutnya sendiri, memukul meja, menangis tersedu, bahkan mencaci dirinya dengan sebutan “bukan manusia”.

Sementara itu, “penasihat negara” PKT Jin Canrong pada 4 Januari 2026 merilis video peringatan bahwa Tiongkok tidak memiliki kehadiran militer di belahan bumi barat. Dia memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat menguasai kawasan tersebut, maka investasi dan kepentingan ekonomi Tiongkok di Amerika Latin akan menghadapi risiko politik besar.

Topik “Jin Canrong menyebut penangkapan Maduro berdampak besar bagi Tiongkok” sempat menjadi trending di Weibo sebelum disensor.

Sindiran Warganet dan Lagu yang Dilarang

Sebagai bentuk sindiran, warganet Tiongkok membanjiri kolom komentar dengan lagu “Sayang Bukan Kamu” milik Liang Jingru, disertai komentar bernada satire seperti “Sayang bukan kamu” dan “Amerika salah tangkap orang”. Lagu tersebut mendadak viral sebelum akhirnya ikut dilarang tayang.

Warganet Taiwan kemudian menyarankan lagu lain berjudul “Semoga Selalu Kamu”, sebagai kelanjutan sindiran politik lintas Selat.

Kuba Akui Korban dan Tetapkan Hari Berkabung

Pemerintah Cuba pada 5 Januari 2026 mengakui bahwa 32 warga negaranya tewas selama serangan mendadak Amerika Serikat ke Caracas. Seluruh korban merupakan anggota militer dan badan intelijen Kuba.

Havana menetapkan dua hari berkabung nasional, mengungkap kedalaman keterlibatan Kuba dalam struktur militer dan politik Venezuela.

Para analis menilai jaringan intelijen Kuba merupakan pilar utama penopang kekuasaan Maduro, mulai dari manipulasi pemilu hingga pengawasan aparat keamanan.

Trump sebelumnya, pada 3 Januari 2026, menyatakan bahwa Kuba akan menjadi fokus berikutnya. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyebut kondisi Kuba sebagai “bencana yang sedang runtuh”, seraya menegaskan bahwa jaringan intelijen Kuba dan PKT di Amerika Selatan telah dilumpuhkan.

Dampak Regional dan Global

Di Iran, meskipun juru bicara Kementerian Luar Negeri Nasser Kanaani (Baqaei) pada 5 Januari menyatakan hubungan Iran–Venezuela tetap stabil, organisasi HAM melaporkan kerusuhan telah menyebar ke 60 kota dengan sedikitnya 15 demonstran tewas.

Analis geopolitik Parkzad menilai tahun 2026 akan menjadi periode paling gelap bagi kepemimpinan Iran, sementara media Rusia Metas melaporkan bahwa Kedutaan Besar Rusia di Caracas menyarankan warganya menunda perjalanan ke Venezuela.

Aksi Massa di New York dan Dugaan Operasi Asing

Pada hari yang sama, ribuan orang menggelar aksi protes terkoordinasi di Times Square, New York. Spanduk dan papan slogan dicetak rapi dan seragam, memicu pertanyaan publik mengenai sumber dana, logistik, dan pengorganisasian kilat.

Jurnalis Nate Friedman mengonfirmasi bahwa aksi tersebut terkait dengan organisasi People’s Forum, yang disebut memiliki afiliasi dengan PKT dan dukungan dana hingga 20 juta dolar AS, sehingga memunculkan dugaan campur tangan kekuatan asing.

Venezuela Tetap Stabil Pasca Penangkapan

Laporan lapangan menunjukkan bahwa pasca penangkapan Maduro, kehidupan di Venezuela tetap berjalan normal. Harga stabil, pasar tertib, dan banyak warga secara terbuka menyampaikan rasa lega dan terima kasih kepada Amerika Serikat.

Di media sosial, warganet kembali menyindir perbandingan kemampuan militer: 76 tahun Selat Taiwan hanya menjadi retorika, sementara Amerika Serikat menempuh 1.800 kilometer dan mengeksekusi operasi presisi dalam hitungan jam.

Peringatan Terakhir Trump ke Kolombia

Pada 4 Januari 2026, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menuduhnya terkait narkoba dan produksi kokain.

Sehari kemudian, Petro menantang balik: “Tangkap saya saja. Saya di sini menunggu.” Pernyataan tersebut langsung memicu gelombang komentar warganet yang berharap tantangan itu benar-benar menjadi kenyataan.

Koalisi Pimpinan Arab Saudi Lancarkan Serangan Udara ke Kelompok Separatis Yaman, 80 Orang Tewas dan 152 Terluka, 130 Ditangkap

EtIndonesia. Sejak koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap kelompok separatis Yaman “Dewan Transisi Selatan” (Southern Transitional Council/STC) pada 2 Januari, menurut statistik awal sedikitnya 80 pejuang kelompok tersebut tewas, 152 orang terluka, dan 130 orang ditangkap.

Pasukan koalisi yang didukung Riyadh memulai operasi pada  2 Januari dengan tujuan merebut kembali wilayah luas yang sebelumnya dikuasai oleh Dewan Transisi Selatan.

Pejabat Dewan Transisi Selatan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa sebagian besar korban jatuh akibat serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi.

Sasaran serangan udara tersebut adalah kamp-kamp militer yang dikuasai kelompok separatis, termasuk kamp Al-Khasha dan Barshid di wilayah Hadramaut.

Sebelumnya, Arab Saudi membombardir kota pelabuhan Mukalla di selatan Yaman pada 30 Desember 2025. Saudi mengatakan serangan tersebut menargetkan kiriman senjata yang disebutnya datang dari Uni Emirat Arab untuk mendukung pasukan separatis.

Pada 3 Januari 2026, pasukan pro-Arab Saudi ditempatkan di Bandara Internasional Saiyun di provinsi Hadramawt, Yaman, menyusul serangan baru-baru ini oleh militan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA. (AFP via Getty Images)

Riyadh menindaklanjuti serangan dengan tuntutan agar pasukan UEA meninggalkan Yaman dalam waktu 24 jam serta memperingatkan bahwa keamanan nasional Arab Saudi merupakan “garis merah” yang tidak dapat dilanggar. UEA kemudian menyatakan akan menarik seluruh sisa pasukannya dari negara tersebut.

Arab Saudi dan UEA sama-sama merupakan anggota berpengaruh OPEC. Kedua negara semula dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada 4 Januari 2026. Setiap perselisihan berkepanjangan antara kedua negara berpotensi mempersulit upaya mempertahankan konsensus kebijakan produksi minyak, dengan implikasi terhadap harga minyak mentah dunia.

Yaman telah dilanda perang sejak 2014, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa, memaksa pemerintah yang diakui secara internasional melarikan diri ke wilayah selatan. Arab Saudi dan UEA melakukan intervensi pada tahun berikutnya, mendukung pemerintah dalam kampanye untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Meski Riyadh dan Abu Dhabi memasuki perang sebagai mitra, keduanya kemudian mendukung sekutu yang saling bersaing.

UEA mendukung Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), sebuah faksi kuat di selatan yang berupaya memulihkan kembali kemerdekaan Yaman Selatan. Sebaliknya, Arab Saudi mendukung pemerintah pusat serta pasukan-pasukan suku yang bersekutu dengannya. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Venezuela Meledak: Trump Masuk, Dana Rahasia Elite PKT Terancam, Khamenei Siapkan Rencana Kabur

EtIndonesia. Pada 4 Januari 2026, Presiden Amerika, Serikat Donald Trump mengumumkan kabar besar yang langsung mengguncang geopolitik global. Dia menyatakan bahwa sejumlah perusahaan raksasa energi Amerika Serikat tengah bersiap masuk ke Venezuela untuk mengelola dan menambang minyak bumi negara tersebut.

Pernyataan ini segera memicu spekulasi luas. Jika investasi energi skala besar benar-benar direalisasikan, maka pengerahan militer Amerika Serikat dinilai hampir tak terelakkan untuk melindungi aset strategis tersebut. Namun, para analis menilai bahwa target Washington kemungkinan jauh melampaui sekadar minyak.

Venezuela Disebut “Halaman Belakang” Elite PKT

Ekonom Tiongkok Wu Jialong mengungkap informasi mengejutkan dalam program Critical Moment. Menurutnya, Venezuela selama beberapa tahun terakhir telah menjadi “halaman belakang” baru bagi elite tinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk menyembunyikan kekayaan dan kepentingan keluarga.

Wu menjelaskan bahwa penyimpanan aset di Swiss, Australia, maupun Amerika Serikat kini semakin mudah dilacak oleh sistem keuangan global. Karena itu, elite PKT diduga memindahkan aset luar negeri dalam jumlah besar ke Venezuela, termasuk menempatkan anggota keluarga—bahkan anak-anak hasil hubungan gelap—di negara tersebut.Dia juga menyebut beredarnya rumor sensitif mengenai keberadaan anak di luar nikah Xi Jinping di Venezuela, meski hingga kini belum ada konfirmasi independen.

Jika analisis ini benar, maka langkah Trump bukan sekadar penangkapan terhadap Nicolás Maduro, melainkan serangan langsung ke pusat kepentingan elite PKT, mencakup harta, jaringan keuangan, hingga keselamatan keluarga mereka. Artinya, jalur pelarian terakhir elite PKT berpotensi terputus total.

Iran Bergejolak, Khamenei Siapkan “Rencana B”

Dampak penangkapan Maduro tidak hanya mengguncang Beijing, tetapi juga menimbulkan kepanikan serius di Teheran. Sosok yang disebut paling terancam berikutnya adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Memasuki awal Januari 2026, gelombang perlawanan domestik di Iran kian tak terbendung. Berbagai video yang beredar menunjukkan eskalasi tajam: para demonstran tidak lagi sekadar melempar batu, tetapi membawa senapan, bahkan di beberapa kota melucuti senjata aparat keamanan.

Harian The Times pada 5 Januari 2026 melaporkan, mengutip sumber intelijen Barat, bahwa Khamenei telah menyiapkan “Rencana B”. Jika situasi benar-benar di luar kendali, dia disebut akan melarikan diri ke Moskow, membawa lebih dari 20 orang kepercayaan dan anggota keluarga, serta dana rampasan senilai sekitar 95 miliar dolar AS.

Israel Siaga, Operasi “Mesin Besi” Disetujui

Pada saat bersamaan, akun militer dan geopolitik internasional AXE, yang memiliki puluhan ribu pengikut, mengungkap perkembangan penting di Timur Tengah. AXE melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menghabiskan malam sebelumnya dalam rapat keamanan intensif.

Tak lama kemudian, menurut sumber yang sama, Kabinet Keamanan Israel telah menyetujui sebuah rencana operasi militer dengan sandi “Mesin Besi”. Meski belum ada konfirmasi resmi, sejumlah sumber intelijen menyebut bahwa sekitar 10 pesawat angkut strategis AS tengah membawa perlengkapan khusus dan terus berdatangan ke kawasan Timur Tengah.

Para analis menilai, “api Iran” kini berada di ambang ledakan penuh.

6 Januari 2026: Sidang Perdana Maduro di New York

Namun, puncak drama global diperkirakan terjadi pada 6 Januari 2026 di New York. Pada hari tersebut, Nicolás Maduro dijadwalkan menjalani sidang perdana di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York.

Begitu proses hukum dimulai, konstelasi politik internasional diyakini akan berubah drastis. Banyak pihak memahami satu hal mendasar: bagi politikus yang ditangkap, ancaman terbesar bukanlah penjara, melainkan momen ketika dia mulai membuka rahasia demi menyelamatkan dirinya.

Rahasia Gelap PKT yang Diduga Dipegang Maduro

Menurut analisis AXE, Maduro menyimpan berbagai rahasia sensitif terkait elite PKT, di antaranya:

  1. Selisih transaksi minyak yang dialirkan melalui jalur bawah tanah, dengan pembayaran dalam RMB, lalu berujung menjadi simpanan elite PKT di Hong Kong dan luar negeri.
  2. Operasi kapal-kapal “hantu” dengan GPS dimatikan: mekanisme bongkar muat minyak di tengah laut serta besaran “uang perlindungan” yang dibayarkan perantara Tiongkok kepada para jenderal Venezuela.
  3. Proyek infrastruktur mangkrak yang diduga digunakan sebagai skema pemindahan dana negara dari “tangan kiri ke tangan kanan”.

Jika Maduro membuka seluruh informasi ini di pengadilan, Trump akan memperoleh amunisi hukum untuk memperluas sanksi, bahkan mendorong penuntutan pidana lintas negara. AXE menilai, bank-bank Tiongkok yang terlibat pencucian uang berisiko dikeluarkan dari sistem dolar global, sebuah langkah yang dapat mengguncang fondasi keuangan internasional.

Kesimpulan sementara:  Rangkaian peristiwa sejak 4 hingga 6 Januari 2026 menunjukkan bahwa dunia tengah memasuki fase konfrontasi geopolitik baru, di mana minyak, uang gelap, rahasia politik, dan pengadilan internasional bertemu dalam satu titik krisis yang berpotensi mengubah tatanan global.

Trump Isyaratkan Kemungkinan Operasi Militer di Kolombia dan Meksiko, Prediksi Rezim Komunis Kuba Akan Runtuh dengan Sendirinya

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 4 Januari memperingatkan bahwa para pengedar narkoba di Kolombia dan Meksiko bisa menghadapi tindakan serius dari militer AS, sekaligus memprediksi bahwa rezim komunis Kuba kemungkinan akan runtuh, menyusul serangan udara presisi AS di Venezuela yang berujung penangkapan maduro hidup-hidup. 

Berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, Trump ditanya apakah Amerika Serikat akan melakukan aksi militer terhadap Kolombia. Ia menjawab, “Kedengarannya bagus bagi saya.”

“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat. Dan dia tidak akan melakukan itu untuk waktu yang lama, percayalah,” kata Trump, yang tampaknya merujuk pada Presiden Kolombia Gustavo Petro.

Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat mungkin harus “melakukan sesuatu terhadap Meksiko” terkait penyelundupan narkoba, dengan mengatakan bahwa pemerintah negara itu tidak berbuat cukup banyak untuk memberantas kartel narkoba.

“Meksiko harus membereskan diri karena mereka mengalir melalui Meksiko, dan kita akan harus melakukan sesuatu,” ujarnya. 

“Kami sebenarnya ingin Meksiko yang melakukannya, mereka mampu melakukannya, tetapi sayangnya kartel-kartel itu sangat kuat di Meksiko.”

Trump mengatakan bahwa setiap kali ia berbicara dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, ia selalu menawarkan pasukan AS untuk membantu memerangi perdagangan narkoba di Meksiko. Namun, meskipun Sheinbaum menunjukkan keprihatinan, ia “tidak mau” dan “sedikit takut,” kata Trump.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan aksi militer di Kuba, Trump mengatakan hal itu tidak diperlukan karena ia memperkirakan negara tersebut akan runtuh dengan sendirinya karena kini tidak memiliki pemasukan.

“Mereka mendapatkan seluruh pemasukan mereka dari Venezuela, dari minyak Venezuela. Sekarang mereka tidak mendapatkan apa-apa,” kata Trump. “Saya pikir itu akan runtuh dengan sendirinya. Saya tidak berpikir kita perlu melakukan apa pun.”

Kolombia, Meksiko, dan Kuba telah mengecam keras serangan udara AS yang mengakibatkan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari rumah mereka di ibu kota Venezuela, Caracas, pada 3 Januari, untuk menghadapi dakwaan terkait narkoba dan senjata di Amerika Serikat.

Petro menyatakan di X bahwa Kolombia menentang “setiap tindakan militer sepihak” yang dapat meningkatkan ketegangan di kawasan dan membahayakan warga sipil.

Kementerian Luar Negeri Meksiko mengunggah pernyataan yang mengkritik aksi militer AS di Venezuela, menyerukan dialog antara kedua negara, serta mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membantu meredakan ketegangan.

“Amerika Latin dan Karibia adalah zona perdamaian, yang dibangun atas dasar saling menghormati, penyelesaian sengketa secara damai, serta larangan penggunaan dan ancaman kekerasan. Karena itu, setiap aksi militer sangat membahayakan stabilitas kawasan,” bunyi pernyataan kementerian tersebut.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam operasi AS tersebut sebagai “serangan kriminal” terhadap Venezuela dan menyerukan pembebasan segera Maduro dan istrinya. Ia menuduh pemerintah AS telah menculik presiden Venezuela yang sedang menjabat melalui sebuah operasi militer.

Menyusul penangkapan Maduro pada akhir pekan lalu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez ditunjuk sebagai presiden sementara oleh Mahkamah Agung Venezuela dan diakui sebagai pemimpin sementara oleh para pejabat militer.

Rodríguez mengecam penangkapan Maduro dan istrinya oleh AS serta menyerukan pembebasan mereka. Ia juga menegaskan bahwa Maduro tetap merupakan presiden Venezuela.

Jack Phillips berkontribusi dalam laporan ini.

Satu Presiden Ditangkap: Efek Domino Maduro Menghantam Iran hingga Tiongkok

EtIndonesia. Sepanjang 3 hingga 4 Januari 2026, sejumlah akun pemantau militer berbasis intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) melaporkan pergerakan intens dan terkoordinasi kekuatan angkut udara militer Amerika Serikat. Pola penerbangan yang terdeteksi dinilai tidak biasa dan memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan operasi lanjutan berskala besar.

Salah satu unit yang kembali menjadi sorotan adalah Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 Angkatan Darat AS, yang dikenal dengan julukan “Night Stalkers”—unit elite yang kerap mengangkut pasukan Delta Force dalam misi berisiko tinggi. Unit ini sebelumnya diketahui terlibat langsung dalam operasi penangkapan Nicolás Maduro di Venezuela pada 3 Januari 2026.

Data penerbangan menunjukkan bahwa sebagian armada tersebut berangkat dari wilayah daratan Amerika Serikat, kemudian transit di Pangkalan Udara RAF Fairford, Inggris, sebelum bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Sejumlah analis militer menilai, sebagian penerbangan ini berpotensi dilanjutkan ke wilayah yang lebih dekat dengan Iran.

Pergerakan tersebut melibatkan kombinasi aset khas operasi khusus, antara lain:

  • Helikopter UH-60 Black Hawk untuk penyebaran cepat pasukan elite,
  • Helikopter CH-47 Chinook untuk angkutan berat dan logistik,
  • Pesawat tiltrotor V-22 Osprey yang mampu lepas landas vertikal sekaligus terbang jarak jauh dengan kecepatan tinggi.

Selain itu, pesawat pengisian bahan bakar di udara juga terpantau aktif, mengindikasikan dukungan bagi penerbangan jarak jauh non-stop. Hingga 5 Januari 2026, Pentagon belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai tujuan spesifik pergerakan tersebut.

“Pizza Index” Pentagon Kembali Naik Tajam

Pada malam 4 Januari 2026, akun X (Twitter) NYPRIPOR, yang dikenal memantau indikator tidak resmi kesiapsiagaan militer AS melalui “Pizza Index Pentagon”, mengunggah temuan mencolok.

Menurut data yang dia kumpulkan, penjualan di gerai Papa John’s Pizza di sekitar Pentagon melonjak hingga 1.250% hanya dalam satu malam. Sebagai perbandingan, pada malam operasi penyerbuan AS ke Venezuela (3 Januari), lonjakan penjualan tercatat sekitar 700%.

Berdasarkan pola historis, akun tersebut menyimpulkan bahwa lonjakan ekstrem ini sering berkorelasi dengan persiapan operasi militer besar. Dia menilai, “sesuatu yang signifikan kemungkinan besar sedang atau akan segera terjadi.”

Kuba Akui Korban Jiwa, Trump: “Mereka Sudah Rapuh”

Pada 4 Januari 2026, di atas pesawat Air Force One, Presiden AS, Donald Trump mengungkapkan kepada wartawan bahwa sejumlah personel Kuba yang bertugas mengamankan Nicolás Maduro tewas dalam operasi penangkapan di Caracas.

Sehari kemudian, 5 Januari 2026, Pemerintah Kuba secara resmi mengonfirmasi kematian 32 warganya dalam insiden tersebut.

Menanggapi hal ini, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak perlu mengambil tindakan tambahan terhadap Kuba, karena menurutnya rezim Havana “sudah berada di ambang keruntuhan dengan sendirinya.”

Pengamat geopolitik akun X Tombstone Tech menilai bahwa perekonomian Kuba hampir sepenuhnya bergantung pada Venezuela, khususnya pasokan minyak bersubsidi. Dengan terputusnya jalur kehidupan ekonomi tersebut pasca penangkapan Maduro, kerapuhan struktural rezim komunis Kuba kini terbuka lebar.

Efek Tak Terduga di Selat Taiwan

Dampak penangkapan Maduro ternyata meluas hingga Asia Timur. Kementerian Pertahanan Taiwan mencatat bahwa dalam 24 jam setelah operasi AS pada 3 Januari 2026, tidak satu pun pesawat militer Tiongkok terdeteksi di sekitar Selat Taiwan.

Fenomena “nol pesawat” ini dinilai sangat langka, mengingat aktivitas militer udara Tiongkok biasanya berlangsung hampir setiap hari. Aktivitas baru kembali terdeteksi pada 5 Januari 2026, setelah jeda singkat yang memicu perhatian luas para analis keamanan regional.

Ironi Global: Maduro dan Efek “Promosi” Nike

Di luar geopolitik, penangkapan Maduro juga memunculkan ironi yang menyedot perhatian media global. Dalam foto dan video penangkapannya, Maduro terlihat mengenakan jaket olahraga abu-abu bermerek Nike.

Berdasarkan penelusuran daring, jaket tersebut dijual dengan harga sekitar 218 euro, tergolong pakaian olahraga kelas menengah-atas. Sejumlah media asing melaporkan bahwa produk serupa mendadak laris di beberapa negara, bahkan banyak ukuran yang habis di situs resmi Nike.

Media internasional pun berseloroh mengenai “daya promosi tak disengaja” dari seorang diktator yang sepanjang hidupnya bersikap anti-Amerika, namun ditangkap justru sambil mengenakan merek Amerika—sebuah ironi tajam yang disebut sebagai sindiran paling pahit bagi dirinya sendiri.

Pemerintahan Sementara Venezuela Berbalik Lunak

Situasi politik Venezuela berubah drastis pasca penangkapan Maduro. Pada 5 Januari 2026, Presiden Sementara Venezuela, Rodríguez, mengeluarkan pernyataan resmi yang mengundang Amerika Serikat untuk bersama-sama menyusun agenda kerja sama bilateral.

Menurut laporan Reuters, Rodríguez menyatakan harapan agar Venezuela dapat membangun hubungan berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan bebas dari ancaman eksternal—sebuah pernyataan yang sangat kontras dengan sikap kerasnya beberapa hari sebelumnya.

Beberapa jam setelah operasi militer AS di Caracas pada 3 Januari, Rodríguez sempat mengecam keras tindakan AS dan menuntut pemulangan Maduro. Namun sehari sebelum penangkapan, Trump telah memperingatkan Rodríguez secara terbuka agar “melakukan hal yang benar,” dengan konsekuensi lebih berat bila menolak bekerja sama.

Trump juga mengumumkan bahwa AS akan mengambil alih sementara pengelolaan transisi Venezuela, dengan mengirim tim pejabat Amerika. Sekitar 15.000 pasukan AS masih dikerahkan di kawasan Karibia, dan opsi militer tetap terbuka jika pemerintah sementara tidak kooperatif.

Trump mengungkapkan bahwa Rodríguez menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio: “Kami akan melakukan apa pun yang Anda butuhkan.”

Komentar Trump singkat namun tajam: “Sikapnya sopan, tetapi sebenarnya dia tidak punya pilihan.”

Rubio kemudian menegaskan dalam wawancara NBC bahwa: “Ini bukan perang. Kami sedang memerangi kartel narkoba, bukan berperang melawan Venezuela.”

Dia menambahkan bahwa pasukan AS hanya berada di Caracas sekitar dua jam, menjalankan misi penegakan hukum, bukan invasi atau operasi militer jangka panjang.

Guncangan Psikologis di Kalangan Nasionalis Tiongkok

Penangkapan Maduro juga memicu reaksi emosional di Tiongkok. Akademisi pro-penyatuan paksa Taiwan, Li Yi, yang dikenal luas sebagai figur nasionalis keras, mengalami ledakan emosi dalam siaran langsung YouTube.

Dalam kondisi emosional, dia menampar dirinya sendiri, tubuhnya gemetar, dan berteriak: “Aku bahkan merasa bukan manusia lagi!”

Video tersebut segera viral. Pengacara Taiwan, Lin Zhiquan menilai bahwa kehancuran mental Li Yi disebabkan runtuhnya keyakinan lama bahwa kekuatan militer Tiongkok hanya tertinggal sedikit dari AS, padahal kenyataannya terpaut beberapa generasi.

Pengamat X Sanfeng menilai, figur seperti Li Yi bertahan hidup secara politik berdasarkan asumsi bahwa Amerika telah melemah. Ketika AS mampu “menangkap seorang presiden layaknya elang mencengkeram anak ayam”, seluruh fondasi narasi itu runtuh seketika.

Tokoh anti-Amerika lainnya, Jin Canrong, juga mengakui bahwa penangkapan Maduro berdampak besar bagi kepentingan Tiongkok, terutama investasi ekonomi di Amerika Latin, yang kini menghadapi risiko politik meningkat.

Gerakan Politik Tiongkok di Pengasingan Menguat

Perubahan drastis situasi global sejak awal 2026 turut memicu geliat politik di kalangan diaspora Tiongkok. Pada 4 Januari 2026, Panitia Persiapan Sementara Parlemen Tiongkok resmi dibentuk di Museum Peringatan 4 Juni, Los Angeles.

Menurut laporan Epoch Times, sejumlah tokoh veteran gerakan demokrasi Tiongkok hadir secara langsung maupun daring. Dalam deklarasinya, panitia menegaskan tujuan mengakhiri sistem satu partai dan mendorong demokrasi konstitusional, dengan menekankan keselamatan dan profesionalisme.

Tokoh demokrasi Wang Dan menegaskan bahwa membangun parlemen bukan lari cepat, melainkan maraton panjang, sementara Wakil Sekretaris Jenderal Yuan Jue berharap platform ini menjadi ruang terbuka dialog lintas pandangan politik serta sarana peningkatan literasi demokrasi.

Kesimpulan:

Memasuki awal 2026, dunia tampak bergerak dalam fase transisi geopolitik yang cepat dan saling terhubung. Dari gerak senyap militer AS, kejatuhan rezim Venezuela, efek psikologis di Tiongkok, hingga manuver politik di pengasingan, satu benang merah terlihat jelas: struktur kekuatan global sedang bergeser, dan dampaknya menjalar jauh melampaui satu negara atau satu kawasan.

Hari Kedelapan Kerusuhan di Iran, AS Kirim Sinyal Perang dan Khamenei Disebut Siap Kabur

EtIndonesia. Kerusuhan sosial besar-besaran yang dipicu oleh keruntuhan ekonomi Iran kini telah memasuki hari kedelapan, menandai salah satu gelombang protes terluas dan paling intens dalam beberapa tahun terakhir. Situasi di dalam negeri Iran terus memburuk, sementara dari luar negeri, Amerika Serikat mulai menunjukkan sinyal tekanan militer dan politik yang semakin jelas.

AS Kerahkan Pesawat Angkut Strategis ke Timur Tengah

Sejumlah data intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) yang dirilis pada awal Januari 2026 menunjukkan bahwa militer Amerika Serikat tengah mengonsentrasikan pesawat angkut strategis dalam jumlah besar menuju kawasan Timur Tengah. Pergerakan ini mencakup pesawat logistik jarak jauh yang umumnya digunakan untuk pengangkutan pasukan, peralatan berat, serta dukungan operasi militer skala besar.

Pada saat yang hampir bersamaan, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengambil langkah yang sangat jarang dilakukan: dia menyampaikan peringatan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menggunakan bahasa Persia, melalui platform resmi Pemerintah AS.

Langkah ini dinilai para analis sebagai sinyal psikologis dan strategis yang kuat, menandakan bahwa Washington tengah menyiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan operasi militer dengan intensitas lebih tinggi jika situasi Iran terus memburuk.

Protes Menyebar ke 25 Provinsi, Ratusan Ditangkap

Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang dirilis pada 4 Januari 2026, gelombang protes di Iran telah:

  • Menyebar ke 174 wilayah
  • Mencakup 60 kota
  • Terjadi di 25 dari total 31 provinsi

Aksi yang terjadi tidak hanya berupa demonstrasi jalanan, tetapi juga mogok kerja, penutupan pasar, serta perlawanan terbuka terhadap aparat keamanan.

Dalam kurun waktu satu pekan terakhir:

  • Sedikitnya 582 orang dilaporkan ditangkap
  • 16 orang dipastikan tewas

Namun, HRANA menegaskan bahwa angka ini kemungkinan besar jauh di bawah jumlah sebenarnya, mengingat pembatasan ketat terhadap media, pemadaman internet di sejumlah wilayah, serta tekanan keamanan yang masif.

Basis Garda Revolusi Dibakar, Momen Disebut “Bersejarah”

Pada 4 Januari 2026, sejumlah video yang beredar luas di platform X (dulu Twitter) memperlihatkan massa warga Iran menyerbu dan membakar beberapa fasilitas milik Garda Revolusi Iran (IRGC). Dalam rekaman tersebut, tampak para demonstran melempar batu, merusak bangunan, dan menyalakan api di sekitar basis militer.

Banyak warganet Iran maupun internasional menyebut peristiwa ini sebagai “momen bersejarah”, karena untuk pertama kalinya dalam skala besar, simbol kekuasaan utama rezim Iran diserang secara langsung oleh rakyatnya sendiri.

Laporan Intelijen: Khamenei Siapkan Rencana Kabur ke Moskow

Masih pada 4 Januari 2026, harian Inggris The Times mengutip laporan intelijen Barat yang menyebutkan bahwa Ali Khamenei telah menyiapkan rencana darurat.

Menurut laporan tersebut:

  • Jika kerusuhan nasional semakin meluas
  • Jika pasukan keamanan mulai membangkang atau kehilangan loyalitas
  • Maka Khamenei disebut-sebut akan melarikan diri ke Moskow

Langkah ini disebut meniru preseden mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang sebelumnya mengamankan diri ke Rusia di tengah krisis besar di negaranya. Laporan yang sama juga menyebutkan bahwa sejumlah aset milik Khamenei telah lebih dahulu dipindahkan ke luar negeri.

Retorika Keras Khamenei dan Respons Tajam Elon Musk

Meski menghadapi tekanan besar, Khamenei tetap menampilkan sikap keras di hadapan publik. Pada 3 Januari 2026, bertepatan dengan hari penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, Khamenei menulis di platform X: “Kami tidak akan menyerah kepada musuh.”

Namun, pernyataan tersebut segera mendapat respons tajam dari Elon Musk. Pada 4 Januari 2026, Musk membalas unggahan tersebut dalam bahasa Persia dengan kalimat singkat namun menyengat: “Bermimpi di siang bolong!”

Unggahan itu viral dan dalam waktu singkat meraih lebih dari 16 juta tayangan, memperkuat tekanan psikologis terhadap kepemimpinan Iran di tengah krisis.

Peringatan Terbuka AS: “Kesempatan Itu Telah Hilang”

Pada 3 Januari 2026, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth kembali mengambil langkah tidak biasa dengan menyampaikan pernyataan resmi dalam bahasa Persia, secara langsung menyasar kepemimpinan Iran.

Dalam pernyataannya, Hegseth menyebut bahwa Maduro sebenarnya pernah memiliki kesempatan untuk memilih jalan lain, sama seperti yang pernah dimiliki Iran. Namun, menurutnya, kesempatan tersebut kini telah hilang.

Dia menegaskan: “Mereka telah membuat pilihan, dan sekarang mereka melihat konsekuensinya.”

Banyak pengamat dan warganet menilai bahwa pesan tersirat dari pernyataan ini merupakan peringatan keras kepada Ali Khamenei:  jika dia tidak segera mundur atau pergi, maka pada akhirnya dia mungkin tidak lagi memiliki kesempatan untuk pergi sama sekali.

Menyesal Tiga Kali Sepanjang Hidup

EtIndonesia. Paman Jue adalah orang yang sangat keras kepala. Dia selalu merasa dirinya benar dan gemar bersikap berlawanan dengan orang lain. Dahulu, dia bertani di sebelah utara Gunung Gui. Padi dia tanam di lereng gunung yang kering, sementara sorgum dia tanam di kaki gunung yang rendah dan lembap.

Seorang sahabatnya menasihati :  “Padi menyukai tempat lembap, seharusnya ditanam di kaki gunung. Sorgum tahan kering, seharusnya ditanam di lereng. Yang kamu lakukan justru terbalik. Ini bertentangan dengan sifat alami tanaman, hasilnya pasti tidak baik.”

Namun Paman Jue tidak mau mendengar. Akibatnya, selama sepuluh tahun bertani, keluarganya bahkan sering kekurangan makanan. Barulah kemudian dia memperhatikan cara bertani sahabatnya—padi ditanam di tempat basah, sorgum di tempat kering, dan hasil panennya selalu melimpah. 

Saat itulah dia meminta maaf :  “Dulu aku salah. Seandainya sejak awal aku mendengarkan nasihatmu.”

Beberapa waktu kemudian, Paman Jue pergi ke sebuah tempat bernama Wenshang untuk berdagang. 

Dia berpikir : “Dulu aku rugi karena tidak mau sama dengan orang lain. Sekarang, apa pun yang dilakukan orang lain, aku akan mengikutinya.”

Melihat orang lain berebut membeli barang tertentu, dia ikut memborong. Melihat orang lain menjual barang tertentu, dia ikut menjual. 

Sahabatnya kembali menasihati :  “Terus mengikuti langkah orang lain tidak akan berhasil. Karena kamu selalu satu langkah lebih lambat. Saat kamu menjual barang yang sama, pasar sudah kebanjiran. Pedagang yang cerdas justru membeli barang yang belum diperebutkan orang lain. Ketika kesempatan datang, barulah keuntungan besar bisa diraih.”

Sekali lagi, Paman Jue mengabaikan nasihat itu. Sepuluh tahun berlalu, dia jatuh miskin hingga tak lagi memiliki modal untuk berdagang. 

Dia teringat kembali ucapan sahabatnya sepuluh tahun lalu dan datang meminta maaf :  “Kamu benar. Aku benar-benar menyesal tidak mendengarkanmu.”

Setelah itu, Paman Jue dan sahabatnya pergi melaut dengan kapal nelayan ke Laut Cina Timur. Ketika kapal mendekati sebuah pusaran air besar, sahabatnya berteriak :  “Jangan maju lagi! Di depan ada pusaran besar, kalau masuk, tidak akan bisa keluar!”

Paman Jue berpikir bahwa di depan pasti banyak ikan, sehingga dia tetap melaju. Akibatnya, kapalnya terseret ke dalam pusaran raksasa dan berputar-putar tanpa henti. Begitulah, kapalnya terjebak di pusaran selama sepuluh tahun.

Beruntung, di dalam pusaran itu ikan sangat melimpah. Dia bertahan hidup dengan memakan ikan mentah dan meminum air hujan. Hingga suatu hari, seekor ikan sebesar gunung berubah menjadi burung raksasa, mengepakkan sayapnya dan memicu gelombang besar yang akhirnya melemparkan kapal Paman Jue keluar dari pusaran.

Ketika dia pulang ke rumah, rambutnya sudah memutih seluruhnya, tubuhnya kurus kering seperti lilin. Tak satu pun kerabat atau sahabat yang mengenalinya. 

Dia kembali menemui sahabatnya, membungkuk dalam-dalam dua kali, lalu menunjuk ke langit dan berkata:  “Dulu aku terlalu keras kepala. Kini, biarlah matahari menjadi saksi—kali ini aku benar-benar akan berubah.”

Sahabatnya tersenyum pahit dan berkata :  “Kamu sudah tua. Masa muda telah berlalu. Sekalipun kamu berubah sekarang, seberapa besar lagi gunanya?” (jhn/yn)