EtIndonesia. Pemerintah Papua Nugini (PNG) pada Jumat (12/12/2025) menyatakan bahwa, dengan dukungan perjanjian bersama Australia, kabel serat optik bawah laut utama yang baru milik Papua Nugini akan dibangun oleh perusahaan Google, guna melakukan peningkatan penting pada jaringan tulang punggung digital negara kepulauan di kawasan Pasifik tersebut.
Menteri Informasi sementara Papua Nugini, Peter Tsiamalili, pada hari Jumat mengatakan bahwa proyek senilai 120 juta dolar AS ini akan menggunakan kabel serat optik berkapasitas tinggi untuk menghubungkan wilayah utara dan selatan Papua Nugini serta wilayah otonom Pulau Bougainville.
Pendanaan proyek ini disediakan oleh Pemerintah Australia, berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama yang ditandatangani kedua negara pada Oktober tahun ini, yang mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong keamanan digital, stabilitas kawasan, dan pembangunan nasional. Kabel bawah laut tersebut akan dibangun oleh Google.
Pemerintah Papua Nugini (PNG) pada Jumat (12/12/2025) menyatakan bahwa, dengan dukungan perjanjian bersama Australia, kabel serat optik bawah laut utama yang baru milik Papua Nugini akan dibangun oleh perusahaan Google
Kementerian Luar Negeri Australia pada hari Sabtu menyatakan bahwa kabel-kabel ini akan menurunkan biaya internet bagi konsumen, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesempatan pendidikan.
Perjanjian pertahanan bersama yang dinamakan “Pukpuk (Buaya)” ini merupakan perjanjian aliansi pertama yang ditandatangani Australia dalam 70 tahun terakhir. Perjanjian tersebut meningkatkan hubungan dengan Papua Nugini dan berkomitmen bahwa kedua negara akan saling membantu jika salah satu pihak diserang secara bersenjata.
Sebelumnya pada 2018, perusahaan Tiongkok Huawei pernah membangun sebuah kabel serat optik bawah laut di Papua Nugini, dengan pendanaan dari pinjaman Bank Ekspor-Impor Tiongkok.
Untuk menghadapi ekspansi PKT (Partai Komunis Tiongkok) yang terus meningkat di kawasan ini, khususnya ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh kabel bawah laut yang didanai PKT, Australia dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir telah mendanai sejumlah proyek kabel bawah laut yang melintasi negara-negara kepulauan Pasifik.
Reuters mengutip seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Australia yang mengatakan bahwa, termasuk koneksi yang menghubungkan Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan wilayah lainnya,
“Australia telah berkomitmen menginvestasikan lebih dari 450 juta dolar Australia (sekitar 300 juta dolar AS) untuk mendukung konektivitas kabel bawah laut yang melintasi kawasan Pasifik dan Timor Leste.”
Google juga menyatakan bahwa dua kabel bawah laut tambahan yang direncanakan akan memanjang ke arah barat hingga Afrika dan Asia, guna memperkuat ketahanan infrastruktur jaringan di Samudra Hindia. (Hui)
Laporan gabungan wartawan New Tang Dynasty TV: Zeng Wenxian dan Tian Yuan
EtIndonesia. Kecelakaan yang melibatkan mobil listrik Xiaomi kembali sering terjadi. Pada 13 Desember, seorang pemilik mobil listrik Xiaomi di Shandong, Tiongkok, mengunggah video yang menyebutkan bahwa ketika ia sedang melaju di jalan tol, kendaraannya mendadak melakukan pengereman otomatis tanpa tindakan pengemudi, menyebabkan kendaraan kehilangan kendali, menabrak, dan kantung udara tidak mengembang, sehingga ia nyaris tewas.
Pemilik mobil tersebut menjelaskan bahwa kendaraan yang dikemudikannya adalah Xiaomi SU7 Max versi penggerak empat roda (AWD). Saat kejadian, salju turun lebat, kendaraan melaju dengan kecepatan sekitar 70 km/jam, dan tidak ada kendaraan lain dalam radius 200 meter di depan maupun belakang.
Namun secara tiba-tiba, mobil melakukan pengereman otomatis, mengakibatkan kendaraan tergelincir parah, berputar tiga kali, lalu mengalami tabrakan. Dalam tabrakan tersebut, kantung udara tidak mengembang.
“Dalam kondisi bersalju mobil tiba-tiba mengerem otomatis, menyebabkan selip, berputar tiga kali, dan airbag tidak terbuka. Hampir saja merenggut nyawa saya,” ujar pemilik mobil.
Ia mengungkapkan ketidakpuasan yang sangat besar, dengan mengatakan: “Dalam jarak 200 meter di depan dan belakang tidak ada kendaraan. Tidak mungkin saya mengerem tanpa alasan. Kalau ada mobil di belakang, bukankah saya sudah mati? Saya tidak mau mobil ini lagi.”
Video dashcam yang diunggah pemilik mobil tersebut memperlihatkan seluruh proses terjadinya kecelakaan.
Sebelumnya, kasus kegagalan fungsi rem pada mobil listrik Xiaomi juga beberapa kali terungkap.
Pada 10 Maret, seorang pemilik Xiaomi SU7 membagikan pengalamannya di media sosial. Ia mengatakan bahwa sehari sebelumnya, saat mengemudi, ia mengalami dugaan rem tidak berfungsi.
Pada saat yang sama, layar di dalam mobil menampilkan serangkaian peringatan gangguan, antara lain: “Kinerja pengereman terbatas, harap berkendara dengan hati-hati”
“Bantuan pencegahan tabrakan depan terbatas, harap berkendara dengan hati-hati”
“Fungsi parkir otomatis terbatas”
“Fungsi bantuan tanjakan tidak normal”
Setelah kejadian tersebut, kendaraan ditarik untuk diperiksa. Pemilik mobil mengungkapkan bahwa pada malam yang sama, pihak Xiaomi menjelaskan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh kesalahan sambungan pada salah satu konektor saat keluar dari pabrik, dan cara perbaikannya hanya dengan menyesuaikan kembali konektor tersebut.
Namun, ketika pemilik mobil mengajukan permintaan pengembalian kendaraan, staf Xiaomi dengan tegas menolak, dengan alasan bahwa kondisi kendaraan belum memenuhi syarat pengembalian sebagaimana diatur dalam peraturan terkait, sehingga tidak dapat dilakukan pengembalian.
Komentar warganet antara lain berbunyi: “Saat seharusnya mengerem malah tidak, tapi ketika tidak perlu mengerem justru mengerem dengan tegas.”
“Ini namanya pengereman pintar, khusus untuk ‘sepeda listrik tua kelas atas’!” (Hui)
EtIndonesia. Pemuda asal Henan, Tiongkok, Guan Heng, pada tahun 2020 nekat masuk ke Xinjiang seorang diri dan mempertaruhkan nyawanya untuk merekam fasilitas kamp konsentrasi milik Partai Komunis Tiongkok (PKT). Rekaman video yang ia ambil menjadi bukti penting atas pelanggaran HAM yang dilakukan PKT di Xinjiang, dan telah dilaporkan serta dikutip oleh sejumlah media Barat.
Baru-baru ini, Human Rights in China (HRiC) menerbitkan sebuah artikel yang merinci pengalaman Guan Heng dalam upayanya agar rekaman tersebut dapat dipublikasikan, termasuk perjalanannya menyelundup masuk ke Amerika Serikat serta risiko deportasi yang kini dia hadapi—hal ini pun menarik perhatian luas.
“Wartawan Asing Tidak Bisa Masuk, Tapi Saya Bisa”
Dalam artikelnya, HRiC menjelaskan bahwa Guan Heng berasal dari Nanyang, Provinsi Henan, lahir pada 1987. Sejak dini, ia mulai belajar “menembus tembok internet” (menghindari sensor).
Dari dunia luar yang bebas informasi, ia perlahan menyadari bahwa PKT telah menyembunyikan begitu banyak kebenaran—mulai dari kelaparan besar tahun 1960-an hingga Peristiwa Tiananmen 1989. Ia pun menjadi seorang pembangkang yang hidup di dalam sistem, tetapi secara pemikiran telah “melarikan diri dari penjara”.
Dalam video buatannya berjudul Mencari Kamp Konsentrasi Xinjiang, Guan Heng menceritakan bahwa pada tahun 2020 ia membaca laporan media daring Amerika BuzzFeed News (BFN), yang berdasarkan citra satelit mengidentifikasi lokasi banyak kamp konsentrasi di Xinjiang. Namun, pemerintah PKT membatasi ketat akses wartawan asing ke wilayah tersebut. Saat itu, ia berpikir: “Wartawan asing tidak bisa masuk, tapi saya bisa.”
Peta satelit yang menunjukkan lokasi kamp konsentrasi di Xinjiang. (Tangkapan layar dari video)
Dengan pertanyaan tentang lokasi kamp-kamp tersebut dan kondisi lingkungan sekitarnya, pada Oktober 2020, Guan Heng membawa kamera DV lensa panjang yang disewa dan mengemudi menuju Xinjiang untuk melakukan pengamatan langsung.
Selama tiga hari, ia mengunjungi Hami, Mulei, Jimsar, Fukang, Urumqi, Dabancheng, dan Korla, untuk mencari lokasi-lokasi yang ditandai BFN sebagai “kamp penahanan” dengan tingkat kecurigaan abu-abu (rendah), kuning (sedang), dan merah (tinggi).
Di sebuah kawasan bernama Jalan Gaoke di Urumqi, ia menemukan kompleks kamp konsentrasi yang sangat besar, lengkap dengan tembok tinggi, kawat berduri, dan menara pengawas. Di atap bangunan tertulis besar-besar: “Reformasi melalui kerja, reformasi budaya”. Namun di peta Baidu, kawasan tersebut sama sekali tidak ditandai.
Di Dabancheng, sebuah lokasi yang ditandai BFN sebagai “merah” tersembunyi jauh di alam liar, jauh dari jalan raya. Untuk menghindari terlihat orang, Guan Heng merayap menaiki gundukan tanah tinggi dan berhasil merekam fasilitas bangunan baru yang sangat besar, yang tampaknya belum digunakan.
Di pinggiran timur Korla, peta BFN menunjukkan adanya beberapa fasilitas kamp konsentrasi, tetapi peta Baidu kembali kosong. Guan Heng merekam bahwa di balik sebuah kamp militer besar dengan pengamanan ketat, terdapat menara pengawas tinggi, tembok, dan kawat berduri.
Perjalanan ini penuh risiko. Di beberapa area, tidak ada alasan wajar bagi wisatawan untuk mendekati lokasi-lokasi tersebut. Jika tertangkap, konsekuensinya tak terbayangkan.
HRiC menggambarkan sebuah adegan menegangkan: ketika Guan Heng mencoba mendekat dengan mobil untuk merekam, seseorang dari sebuah toko di dekat kamp militer keluar dan terus menatapnya tajam.
Dalam situasi tegang tersebut, Guan Heng berimprovisasi—ia menginjak gas kuat-kuat, mengemudikan SUV berkolong tinggi itu berputar-putar di tanah kosong, berpura-pura “menguji performa kendaraan”. Orang tersebut tampak bingung melihat tingkahnya, lalu kembali masuk ke toko. Saat itulah Guan Heng berhenti dan dengan cepat merekam menggunakan kamera lensa panjangnya.
Pelarian yang menegangkan
Agar rekaman tersebut bisa dipublikasikan, Guan Heng melarikan diri dari Tiongkok pada musim panas 2021.
Ia meninggalkan Tiongkok melalui Shekou, kemudian dari Hong Kong terbang ke Ekuador, negara yang bebas visa bagi pemegang paspor Tiongkok. Dari sana, ia terbang lagi ke Bahama, yang juga bebas visa. Dari Google Maps, ia mengetahui bahwa jarak laut lurus dari Bahama ke Florida, AS, sekitar 85 mil.
Dengan perahu karet kecil seharga US$3.000 dan sebuah mesin tempel, ia berlayar ke laut. Ancaman terbesar bukan ombak, melainkan mesin sederhana tersebut.
Ia mengenang bahwa di atas perahu yang terombang-ambing hebat, ia menuangkan bensin langsung ke mesin berulang kali.
“Bensin tumpah ke mana-mana, perahu kecil itu dipenuhi bau bensin yang menyengat—setiap percikan api bisa langsung meledakkannya.”
Setelah 23 jam terombang-ambing di laut, ia tiba di pesisir Florida keesokan paginya.
Pada 5 Oktober 2021, Guan Heng mempublikasikan video tentang kamp konsentrasi Xinjiang di kanal YouTube miliknya.
Sebagai rekaman lapangan langsung dari seorang warga Tiongkok, video tersebut dilaporkan dan dikutip oleh banyak media Barat, serta menjadi bukti lapangan penting bagi laporan BuzzFeed News.
Harga yang Sangat Mahal
Namun, Guan Heng dan keluarganya harus membayar harga yang sangat besar. Ia mengalami serangan siber dari pihak berwenang PKT, serta perundungan daring masif yang membuatnya menderita depresi berat. Keluarganya di Tiongkok diintimidasi dan diancam oleh aparat keamanan negara. Demi melindungi diri, Guan Heng memutuskan kontak informasi dengan dunia luar.
Terancam Deportasi
Pada suatu pagi di Agustus lalu, Guan Heng ditangkap oleh agen ICE AS di rumah sewaannya di sebuah kota kecil di bagian utara Negara Bagian New York. Ia kini menghadapi risiko dideportasi karena masuk ke AS secara ilegal melalui laut.
Tim jurnalis BuzzFeed News yang laporannya dulu menginspirasi Guan Heng untuk pergi ke Xinjiang, setelah mengetahui kondisinya, menulis surat dukungan bersama.
“Di bawah risiko yang sangat besar, Tuan Guan memberikan bukti kunci bagi penyelidikan kami. Keberaniannya luar biasa… Ia tidak memiliki alasan masuk akal apa pun untuk berada di dekat banyak lokasi penahanan tersebut, karena biasanya berada di daerah terpencil… Jika tertangkap, risiko yang dihadapi akan meningkat drastis,” tulis tim BFN.
Mereka menegaskan bahwa bukti yang diberikan Guan Heng mengkonfirmasi keberadaan penjara baru di Dabancheng, sekaligus membongkar kebohongan pemerintah PKT yang mengklaim bahwa “kamp re-edukasi telah ditutup.”
Sidang permohonan suaka Guan Heng dijadwalkan berlangsung pada 15 Desember di New York. Berbagai pihak kini berupaya keras untuk mencegah deportasinya dan memperjuangkan kebebasannya. (Hui)
EtIndonesia. Di tengah luasnya Samudra Atlantik, terdapat sebuah pulau terpencil bernama Marion. Pulau ini nyaris tak tersentuh manusia dan menjadi surga alami bagi burung-burung laut.
Namun sejak sebuah tim ekspedisi Inggris menginjakkan kaki di pulau itu pada tahun 1945, keadaan berubah drastis dalam waktu singkat.
Tanpa mereka sadari, di kapal ekspedisi itu bersembunyi beberapa ekor tikus. Begitu menemukan kesempatan, tikus-tikus itu ikut turun ke pulau. Bagi tikus-tikus tersebut, pulau itu ibarat surga tanpa batas: makanan melimpah, tidak ada predator, dan lingkungan sangat aman.
Akibatnya, populasi tikus berkembang biak seperti api yang membakar padang rumput. Delapan tahun kemudian, seluruh pulau telah dipenuhi tikus.
Ketika para peneliti kembali ke pulau itu dan melihat situasinya, mereka panik. Mereka segera mengirim telegram ke markas besar, meminta dikirimkan beberapa kucing besar dan kuat untuk mengendalikan populasi tikus.
Namun yang terjadi berikutnya jauh lebih mengejutkan.
Lima ekor kucing yang dibawa ke pulau tidak berhasil mengurangi populasi tikus. Sebaliknya, mereka justru menemukan mangsa yang jauh lebih mudah ditangkap: burung-burung laut yang sejak dulu tidak mengenal rasa takut.
Kucing-kucing itu segera “beralih profesi”. Mereka enggan melawan tikus yang besar, kuat, dan agresif. Sebaliknya, mereka dengan rakus memburu burung-burung laut yang jinak dan tidak waspada.
Beberapa tahun kemudian, lima “kucing leluhur” itu berkembang menjadi 2.500 ekor. Dan setiap hari, jumlah burung laut yang dibunuh mencapai 600.000 ekor.
“Surga burung laut” pun berubah menjadi “kuburan burung laut”.
Pesan moral:
Para peneliti gagal karena mereka tidak memahami kekhususan suatu kontradiksi. Mereka menggunakan cara lama untuk memecahkan masalah baru tanpa menyadari bahwa kondisi di pulau itu berbeda dari ekosistem biasa.
Dalam situasi normal, kucing dan tikus adalah musuh alami, bukan kucing dan burung. Namun ketika lingkungan berubah, sifat dan perilaku makhluk hidup juga berubah. Demikianlah mengapa kucing-kucing itu “beralih profesi”.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap masalah memiliki karakteristik khusus, dan kita tidak bisa selalu mengandalkan “rumus lama” untuk menghadapi situasi yang sudah berubah.(jhn/yn)
EtIndonesia. Komando Pusat Militer Amerika Serikat (US Central Command) pada Sabtu (13 Desember) menyatakan bahwa sebuah konvoi pasukan gabungan Amerika Serikat dan Suriah diserang di Suriah bagian tengah. Dalam serangan tersebut, dua prajurit Angkatan Darat AS dan satu penerjemah sipil tewas. Serangan ini diduga melibatkan kelompok Negara Islam (ISIS).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan: “Ya, kami akan melakukannya. Kami akan membalas.”
Presiden Trump menyampaikan kepada para wartawan di Gedung Putih bahwa serangan tersebut dilakukan oleh ISIS. Ia menyampaikan belasungkawa kepada tiga korban tewas, serta mengatakan bahwa tiga orang lainnya yang terluka ‘tampaknya dalam kondisi baik’.
Hingga saat ini, ISIS belum mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Namun, seorang pejabat tinggi Amerika Serikat menilai bahwa kelompok tersebut memiliki motif, dan lokasi serangan berada di luar wilayah yang dikuasai pemerintah Suriah. (Hui)
Militer Israel menyatakan bahwa sebagai tanggapan atas serangan yang dilakukan Hamas pada Sabtu (13 Desember) lebih awal, mereka melancarkan serangan terhadap sebuah kendaraan di Kota Gaza dan menewaskan seorang komandan senior Hamas. Tokoh tersebut bernama Raed Saed, yang disebut sebagai salah satu perencana serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
EtIndonesia. Laporan Reuters menyebutkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan dalam pernyataan bersama bahwa operasi terhadap Raed Saed dilakukan sebagai respons atas serangan yang dilancarkan Hamas pada hari yang sama. Dalam serangan tersebut, sebuah alat peledak menyebabkan dua tentara Israel terluka.
Menurut otoritas kesehatan di Jalur Gaza , serangan ini menyebabkan 5 orang tewas dan setidaknya 25 orang luka-luka. Hingga saat ini, Hamas belum mengkonfirmasi apakah Raed Saed termasuk di antara korban tewas.
Ini merupakan pembunuhan tokoh senior Hamas paling signifikan sejak perjanjian gencatan senjata Gaza mulai berlaku pada Oktober tahun ini. Raed Saed adalah salah satu perencana serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 dan disebut sebagai orang nomor dua dalam sayap bersenjata Hamas, hanya berada di bawah Izz el-Deen al-Haddad.
Seorang pejabat militer Israel menyatakan bahwa Saed membantu membangun dan mendorong jaringan produksi senjata Hamas.
“Dalam beberapa bulan terakhir, ia berupaya membangun kembali kekuatan militer Hamas dan kemampuan produksi senjata, yang jelas melanggar perjanjian gencatan senjata,” ujar pejabat tersebut.
Hamas mengeluarkan pernyataan yang mengecam serangan ini sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata, namun tidak menyebutkan apakah Saed terluka atau tewas, dan juga tidak mengancam akan melakukan aksi balasan.
Perjanjian gencatan senjata pada 10 Oktober memungkinkan ratusan ribu warga Palestina kembali ke puing-puing Kota Gaza. Israel telah menarik pasukannya dari kota tersebut, dan pengiriman bantuan kemanusiaan juga meningkat. Namun, kekerasan belum sepenuhnya berhenti. (Hui)
EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang berkali-kali gagal dalam hidup. Dalam keputusasaan, dia pergi menemui seorang biksu tua bernama Shi Yuan.
Biksu tua itu menuangkan air hangat ke dalam cangkir, lalu memasukkan sedikit daun teh dan berkata : “Silahkan minum.”
Pemuda itu menyeruput beberapa kali, lalu berkata : “Tidak ada aroma sedikit pun.”
Biksu itu tersenyum. Dia kemudian mengambil air mendidih dan menyeduh teh baru. Saat air panas mengenai daun teh, pemuda itu melihat daun-daun teh itu naik turun, tenggelam dan terapung di dalam cangkir.
Seiring gerakan itu, perlahan-lahan muncullah aroma halus yang mulai memenuhi udara.
Biksu itu kemudian menyeduh teh itu berulang-ulang, lima hingga enam kali. Setiap kali, aroma makin kuat, memenuhi seluruh ruangan.
Pemuda itu meminum teh yang harum dan hangat itu. Dia mengangguk pelan—dia telah memahami maknanya tanpa perlu penjelasan panjang.
Pesan moral:
Mengapa dari daun teh yang sama bisa muncul dua rasa dan aroma berbeda? Kuncinya terletak pada air hangat atau air mendidih yang digunakan untuk menyeduhnya.
Perbedaan suhu air membuat daun teh mengalami perjalanan yang berbeda. Saat diseduh dengan air hangat, teh berdiam, tak ada pergerakan. Tapi ketika diseduh dengan air mendidih, daun-daun teh dipaksa naik turun, berputar, menahan panas, dan dari pergolakan itulah aroma sejatinya muncul.
Daun teh sebelumnya sudah melewati banyak ujian:
tumbuh hijau di ranting,
mekar di bawah terik matahari,
ditempa badai,
dipetik dan dikeringkan dalam panas api.
Namun untuk menjadi secangkir teh harum yang sempurna, dia masih membutuhkan ujian terakhir: menerima panas yang mendidih dan terus “tenggelam dan terapung” berulang kali.
Kisah ini mencerminkan pandangan bahwa jalan menuju nilai hidup tak mungkin selalu mulus. Kesulitan, cobaan, dan badai kehidupan adalah bagian yang tak terpisahkan. Namun di balik itu semua, masa depan tetap terbuka dan penuh harapan bagi mereka yang mau bertahan.
Dan sekarang, pertanyaannya untukmu: Dalam perjalanan hidupmu yang telah berlalu, cobaan apa yang paling membekas? Atau momen indah apa yang paling kamu syukuri?(jhn/yn)
EtIndonesia. Pada hari kedua ujian akhir semester (13 Desember), terjadi penembakan di Universitas Brown di Kota Providence, Negara Bagian Rhode Island, Amerika Serikat. Insiden ini menyebabkan setidaknya 2 orang tewas dan 8 orang luka-luka. Para korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis namun stabil. Universitas Brown mengimbau mahasiswa dan staf untuk berlindung di tempat masing-masing.
Awalnya, Universitas Brown memberitahu mahasiswa dan staf bahwa tersangka telah ditangkap. Namun kemudian, melalui sistem peringatan darurat, kampus mengeluarkan klarifikasi bahwa informasi tersebut tidak benar. Polisi masih memburu satu atau lebih pelaku, dan masyarakat diimbau untuk “mengunci pintu, mematikan suara ponsel, tetap bersembunyi, serta menunggu pemberitahuan lebih lanjut.”
— Peringatan Universitas Brown
Universitas Brown terletak di Providence, ibu kota Rhode Island, tidak jauh dari Boston, dan memiliki sekitar 11.000 mahasiswa. Dalam pemberitahuan disebutkan bahwa penembakan terjadi pada pukul 16.05 waktu setempat, di dekat Gedung Barus & Holley yang memiliki tujuh lantai. Gedung tersebut menampung Fakultas Teknik dan Departemen Fisika Universitas Brown. Menurut situs resmi kampus, di dalam gedung terdapat lebih dari 100 laboratorium, serta puluhan ruang kelas dan kantor.
Saat kejadian, di dalam gedung tersebut sedang berlangsung ujian terkait desain teknik. Ketika polisi tiba di lokasi untuk menangani insiden, pihak kampus segera mengimbau mahasiswa untuk berlindung di tempat dan meminta masyarakat menjauhi area tersebut.
Seorang petugas polisi bahkan memperingatkan media untuk mencari perlindungan di dalam kendaraan, karena lokasi kejadian masih dianggap berbahaya.
Aparat penegak hukum dan petugas medis darurat dengan cepat mendatangi lokasi. Stasiun televisi lokal WPRI melaporkan bahwa pakaian dan bercak darah terlihat berserakan di trotoar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada sore hari yang sama menyatakan bahwa ia telah menerima laporan terkait penembakan tersebut. Melalui platform media sosial miliknya, ia menuliskan: “Semoga Tuhan memberkati para korban dan keluarga mereka.” Wakil Kepala Kepolisian Providence, Timothy O’Hara, menggambarkan tersangka sebagai seorang pria berpakaian serba hitam.
Pejabat berwenang menyatakan bahwa hingga kini belum jelas bagaimana pelaku memasuki gedung tersebut, namun ia diketahui meninggalkan kompleks bangunan melalui sisi Hope Street. Karena pelaku masih buron, penyelidik terus berupaya mengungkap kronologi kejadian. Polisi mengingatkan bahwa informasi yang beredar saat ini masih bersifat sementara.
Universitas Brown, yang terletak di Providence, ibu kota Rhode Island, merupakan salah satu dari delapan universitas Ivy League, yaitu aliansi perguruan tinggi elit di Amerika Serikat.
Universitas ini didirikan pada tahun 1764, menjadikannya salah satu universitas tertua di Amerika Serikat. Kampus ini berjarak sekitar 50 mil (80 km) dari Boston dan sekitar 180 mil dari New York City. (Hui)
Tanggal 10 Desember diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, juga dikenal sebagai Hari HAM Internasional. Komunitas internasional secara luas menaruh perhatian pada kondisi hak asasi manusia yang terus memburuk di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
EtIndonesia. Sejumlah organisasi dokter menyelenggarakan forum daring internasional, mengecam pelanggaran HAM oleh PKT serta kejahatan mengerikan pengambilan organ secara paksa, dan menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Berbagai kelompok masyarakat sipil di luar negeri menggelar aksi unjuk rasa, menyerukan agar PKT menghentikan penganiayaan terhadap rakyat, khususnya penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong—yang merupakan penganiayaan terlama, dengan jumlah korban terbanyak, dan tingkat kekejaman paling parah di dunia saat ini—karena keyakinan pada prinsip Sejati, Baik, Sabar.
Tanggal 10 Desember ditetapkan untuk menyerukan kepada pemerintah, organisasi, dan individu di seluruh dunia agar bersama-sama memajukan serta melindungi hak asasi manusia, menegaskan penghormatan dan perlindungan terhadap hak dasar seperti hak hidup, kebebasan, keyakinan, dan kebebasan berpendapat.
Di Tiongkok, berbagai kasus peradilan baru terus bermunculan di sejumlah daerah, melibatkan warga pembangkang, kelompok keagamaan, dan para aktivis pembela hak.
Sejumlah media internasional dan lembaga riset menunjukkan bahwa pada 2024–2025, PKT menuntut atau mengadili secara tertutup para pemuda yang terlibat dalam Gerakan Kertas Putih 2022.
Pada Juli tahun ini, Amnesty International dan Human Rights Watch dalam pernyataan bersama menyebutkan bahwa sejak “penangkapan besar-besaran 709” tahun 2015, para pengacara HAM terus menghadapi tekanan sistematis berupa penahanan, penghilangan paksa, intimidasi, dan pemeriksaan izin praktik.
Menjelang dan sesudah Hari HAM Sedunia, dari San Francisco, Los Angeles, New York di Amerika Serikat; Toronto di Kanada; hingga Belanda, Jerman, serta Selandia Baru di Eropa dan kawasan lain, kelompok masyarakat sipil, aktivis demokrasi, dan pembela HAM menggelar aksi untuk memprotes pelanggaran HAM oleh PKT dan menyerukan agar dunia internasional menghadapi ancaman PKT secara serius.
“Hari HAM Sedunia—akhiri tirani PKT, tuntut pembebasan tahanan politik, bebaskan Gao Zhisheng,” ujar Kelompok masyarakat sipil Los Angeles.
Perwakilan Komite Partai Demokrat Tiongkok Kanada, Luo Yu: “Demi diri kami sendiri, dan demi mereka yang masih ditekan dan tak dapat bersuara. Kami bersedia mendukung demokratisasi sejati di Tiongkok dengan cara damai dan teguh.”
Di depan Kedutaan Besar Tiongkok di Berlin, berbagai kelompok menggelar aksi protes, menyerukan perhatian internasional terhadap kondisi HAM di Tiongkok dan menuntut penggulingan tirani PKT.
“Tiongkok hari ini bukan negara yang normal. Ia membungkam rakyat, menghapus kebenaran, memenjarakan para penentang, dan membiarkan orang tak bersalah menjadi korban pengambilan organ secara paksa. Namun rakyat Tiongkok yang berani tidak menyerah dan tidak mundur,” kata Wakil Ketua Aliansi Demokrasi Jerman, Wang Shoufeng.
Praktisi Falun Gong Ding Lebin juga menuntut agar PKT segera membebaskan ayahnya Ding Yuande serta semua praktisi Falun Gong yang ditahan, dan menghentikan pengambilan organ secara paksa terhadap praktisi Falun Gong.
Pada 9–10 Desember, organisasi Doctors Against Forced Organ Harvesting menyelenggarakan forum daring internasional. Para dokter, profesor hukum, organisasi pembela HAM global, dan pengacara HAM internasional mengungkap serta mengecam pelanggaran HAM dan kejahatan pengambilan organ paksa oleh PKT, serta menyerukan penuntutan atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Ketua Kelompok Parlemen Lintas Partai Inggris untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Jim Shannon: “Para praktisi Falun Gong menghadapi penangkapan sewenang-wenang dan penyiksaan oleh PKT. Banyak laporan juga menunjukkan bahwa mereka menjadi korban pengambilan organ secara paksa.”
Ketua Organisasi Internasional untuk Menyelidiki Penganiayaan terhadap Falun Gong, Wang Zhiyuan, menyatakan bahwa PKT tengah menjalankan perang terhadap hati nurani dan moral umat manusia, dan pengadilan sejarah pada akhirnya akan tiba.
Menghadapi kekejaman kamp konsentrasi Nazi, penyesalan terbesar bukan hanya kejahatannya, melainkan keheningan dunia. Kita tidak boleh membiarkan keheningan itu terulang. Organisasi kami menyerukan agar PBB dan pemerintah negara-negara Eropa segera memulai penyelidikan internasional independen,” katanya.
Di antara kelompok kepercayaan yang dianiaya PKT, Falun Gong adalah yang mengalami penganiayaan terlama, terluas, dan paling brutal. Menurut statistik tidak lengkap, hingga Desember tahun ini, sedikitnya 5.290 praktisi Falun Gong telah disiksa hingga tewas—rata-rata 17 orang per bulan.
Pada 9 Desember, Prefektur Aichi, Jepang, menggelar rapat kesaksian praktisi Falun Gong. Delapan praktisi memaparkan penganiayaan yang dialami keluarga mereka dan mengungkap kejahatan PKT.
Praktisi Falun Gong Li Xinxin: “Pada tahun 2000, bibi saya dijatuhi kerja paksa ilegal selama satu tahun, lalu dijatuhi hukuman penjara ilegal selama lima tahun. Ia dipukuli dan dianiaya di penjara, dan meninggal dunia dengan penuh ketidakadilan pada 6 Agustus 2021.”
Sejumlah anggota dewan kota Jepang dan mantan anggota parlemen menyampaikan dukungan melalui video terhadap upaya praktisi Falun Gong menentang penganiayaan.
“Pengambilan organ secara paksa sama sekali tidak dapat ditoleransi. Musim semi tahun ini, DPR AS meloloskan Undang-Undang Perlindungan Falun Gong, yang menjatuhkan sanksi seperti pembatasan visa dan pembekuan aset bagi pelaku. Jepang juga perlu mengikuti langkah ini,” kata mantan anggota parlemen Jepang, Hirokuni Nakatsugawa.
PKT juga memperluas penindasan ke luar negeri melalui ‘perang hukum’ dan ‘perang media’, menyusup ke masyarakat bebas, mengendalikan wacana internasional, serta menekan praktisi Falun Gong dalam menyebarkan keyakinan dan kebenaran.
“Komunitas internasional harus memutus tangan PKT yang menjulur ke negara masing-masing dan sepenuhnya menghentikan aksi represi lintas negara semacam ini,” ujar Direktur Eksekutif Think Tank Shen Ce, Negara Bagian New York, Dr. Lin Xiaoxu. (Hui)
Majalah Berita New Tang Dynasty – Laporan gabungan oleh Liang Dong dan Chen Li
EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa pihak-pihak terkait kini lebih dekat dengan perdamaian di Ukraina daripada sebelumnya. Dia percaya bahwa segala sesuatunya berjalan dengan baik dan perang pada akhirnya akan diakhiri, menurut siaran Gedung Putih.
Secara khusus, Trump ikut serta dalam upacara pemberian medali di Ruang Oval, tetapi memulai pidatonya dengan berbicara tentang upaya saat ini untuk mengakhiri perang.
“Saya pikir kita sekarang lebih dekat, dan mereka akan memberi tahu Anda bahwa kita sekarang lebih dekat daripada sebelumnya. Kami mengadakan percakapan yang sangat baik satu jam yang lalu dengan para pemimpin Eropa. Banyak dari mereka membahas perang dengan Rusia dan Ukraina. Dalam diskusi panjang, tampaknya segala sesuatunya berjalan dengan baik. Kita semakin dekat, kita mendapat dukungan luar biasa dari para pemimpin Eropa yang juga ingin mengakhiri perang,” kata Trump.
Dia menambahkan bahwa segala sesuatunya berjalan cukup baik dan mencatat bahwa baik Rusia maupun Ukraina menginginkan perdamaian. Pada saat yang sama, kepala Gedung Putih menjelaskan di mana kesulitan-kesulitan itu muncul.
“Saat ini, Rusia ingin mendapatkannya, tetapi mereka ingin mengakhirinya, dan tiba-tiba mereka menginginkannya, dan Ukraina ingin mengakhirinya, dan tiba-tiba mereka tidak menginginkannya. Kita harus membuat mereka sepaham,” pungkas Trump.
Negosiasi Ukraina-AS tentang rencana perdamaian
Pada tanggal 14 dan 15 Desember, negosiasi berlangsung di Berlin antara Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, serta menantu Presiden AS, Jared Kushner. Selain itu, ada pertemuan dengan para pemimpin Eropa.
Menurut Wall Street Journal, selama negosiasi antara delegasi Ukraina dan AS pada tanggal 14 Desember, perwakilan Amerika tidak menunjukkan kesediaan untuk berkompromi dan bersikeras untuk menyelesaikan perjanjian perdamaian sesegera mungkin. Gedung Putih ingin mencapai hal ini pada akhir tahun.
Seperti yang ditulis AFP, poin utama perselisihan adalah masalah teritorial. Secara khusus, AS bersikeras agar Ukraina menyerahkan Donbas, yaitu dengan menarik pasukan dari wilayah Donetsk. Zelenskyy menolak pendekatan ini, dengan menyatakan bahwa gencatan senjata dapat dilakukan tanpa konsesi teritorial.
Pada saat yang sama, seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa sekitar 90% dari isu-isu tersebut telah disepakati selama negosiasi ini. Dia menambahkan bahwa Trump puas dengan hasilnya.
Selain itu, Wall Street Journal melaporkan bahwa AS menawarkan Ukraina jaminan keamanan yang mengikat secara hukum serupa dengan Pasal 5 NATO. Washington menjanjikan Kyiv perlindungan dari agresi apa pun untuk memecah kebuntuan dalam negosiasi. (yn)
EtIndonesia. Pihak berwenang federal mengatakan pada hari Senin (15/12) bahwa mereka menggagalkan rencana untuk mengebom beberapa lokasi dari dua perusahaan AS pada Malam Tahun Baru di California Selatan setelah menangkap anggota kelompok ekstremis anti-kapitalis dan anti-pemerintah.
Keempat tersangka ditangkap pada hari Jumat (12/12) di Gurun Mojave di sebelah timur Los Angeles saat mereka sedang berlatih rencana mereka, kata Asisten Jaksa AS Pertama, Bill Essayli dalam konferensi pers. Para pejabat menunjukkan kepada wartawan rekaman udara pengawasan yang memperlihatkan para tersangka memindahkan sebuah benda hitam besar di gurun ke sebuah meja. Para pejabat mengatakan mereka dapat melakukan penangkapan sebelum para tersangka merakit alat peledak yang berfungsi.
Dalam pengaduan pidana, keempat tersangka yang disebutkan adalah Audrey Illeene Carroll, 30; Zachary Aaron Page, 32; Dante Gaffield, 24; dan Tina Lai, 41. Mereka semua berasal dari daerah Los Angeles, kata Essayli.
Para pejabat tidak menjelaskan motifnya tetapi mengatakan mereka adalah anggota dari kelompok pecahan yang disebut Front Pembebasan Pulau Penyu (Turtle Island Liberation Front). Kelompok ini menyerukan dekolonisasi, kedaulatan suku, dan “kelas pekerja untuk bangkit dan melawan kapitalisme,” menurut pengaduan pidana tersebut.
Istilah “Pulau Penyu” digunakan oleh beberapa masyarakat adat untuk menggambarkan Amerika Utara dengan cara yang mencerminkan keberadaannya di luar batas kolonial yang ditetapkan oleh AS dan Kanada. Istilah ini berasal dari kisah penciptaan masyarakat adat di mana benua itu terbentuk di punggung seekor penyu raksasa.
Para pejabat juga menemukan selebaran “Bebaskan Palestina” di lokasi perkemahan gurun tempat para tersangka bekerja dengan bahan-bahan pembuatan bom.
Tuduhan terhadap masing-masing tersangka termasuk konspirasi dan kepemilikan alat peledak. Essayli mengatakan tuduhan tambahan diperkirakan akan diajukan dalam beberapa minggu mendatang.
Pengacara keempat tersangka tidak segera menanggapi permintaan komentar, dan Associated Press tidak dapat menghubungi anggota keluarga. AP juga mengirimkan pesan ke akun media sosial Front Pembebasan Pulau Penyu untuk meminta komentar tetapi tidak mendapatkan tanggapan.
Essayli mengatakan Carroll bulan lalu membuat rencana terperinci untuk mengebom lima atau lebih lokasi bisnis di seluruh California Selatan pada Malam Tahun Baru. Dia menolak menyebutkan nama perusahaan-perusahaan tersebut tetapi menggambarkannya sebagai pusat logistik “tipe Amazon”.
“Rencana pengeboman Carroll sangat jelas,” kata Essayli. “Rencana itu mencakup instruksi langkah demi langkah untuk membuat IED… dan mencantumkan beberapa target di seluruh Orange County dan Los Angeles.”
Rencana tersebut termasuk menanam ransel berisi bom pipa kompleks yang akan diledakkan secara bersamaan pada tengah malam Malam Tahun Baru di lima lokasi, menurut para pejabat dan pengaduan kriminal. Malam Tahun Baru diidentifikasi sebagai waktu yang tepat dalam rencana tersebut yang menyatakan “kembang api akan dinyalakan pada saat ini sehingga ledakan akan lebih kecil kemungkinannya untuk diperhatikan,” menurut penyelidikan.
Rencana tulisan tangan delapan halaman berjudul “OPERASI MATAHARI TENGAH MALAM” menyatakan lebih banyak lokasi dapat ditambahkan. Lokasi-lokasi tersebut diidentifikasi sebagai properti dan fasilitas yang dioperasikan oleh dua perusahaan terpisah yang terkait dengan aktivitas yang memengaruhi perdagangan antar negara bagian dan luar negeri, menurut pengaduan tersebut.
Menurut pengaduan pidana, dua anggota kelompok tersebut juga telah membahas rencana serangan di masa depan yang menargetkan agen dan kendaraan Imigrasi dan Bea Cukai dengan bom pipa pada tahun 2026.
Carroll mencatat, “itu akan melumpuhkan sebagian dari mereka dan menakut-nakuti sisanya,” menurut pengaduan tersebut.
Rencana tersebut dibahas baik dalam pertemuan tatap muka dengan anggota di Los Angeles maupun melalui aplikasi pesan terenkripsi, kata Essayli.
Foto-foto yang disertakan dalam dokumen pengadilan menunjukkan lokasi perkemahan di gurun dengan apa yang menurut para penyelidik adalah bahan-bahan pembuatan bom yang berserakan di atas meja lipat plastik.
Para tersangka “semua membawa komponen pembuatan bom ke lokasi perkemahan, termasuk berbagai ukuran pipa PVC, diduga kalium nitrat, arang, bubuk arang, bubuk belerang, dan bahan yang akan digunakan sebagai sumbu, di antara lainnya,” demikian pernyataan dalam pengaduan tersebut.
Rencana tersebut mencakup instruksi tentang cara membuat bom dan juga cara menghindari meninggalkan bukti yang dapat dilacak kembali ke kelompok tersebut, kata para pejabat. Menurut pengaduan tersebut, para tersangka baru-baru ini memperoleh bahan kimia prekursor dan barang-barang lainnya, termasuk pembelian dari Amazon.
FBI bergerak minggu lalu saat mereka berlatih serangan di gurun dekat Twentynine Palms, California, kata para pejabat.
“Mereka memiliki semua yang mereka butuhkan untuk membuat bom yang berfungsi di lokasi itu,” kata Essayli.
Pihak berwenang mengeluarkan surat perintah penggeledahan dan menemukan poster-poster Turtle Island Liberation Front di rumah Carroll yang menyerukan “Kematian bagi Amerika,” dan “Kematian bagi ICE,” kata Essayli. Di kediaman Page, polisi menemukan salinan rencana bom yang terperinci, tambahnya.
Kepala Kepolisian Los Angeles, Jim McDonnell, mengatakan bahwa meskipun pejabat federal dan lokal berbeda pendapat mengenai razia imigrasi pemerintahan Trump, mereka tetap bersatu untuk melindungi warga. LAPD tidak menghentikan orang atau mengambil tindakan apa pun terkait status imigrasi, dan tidak menegakkan hukum imigrasi, praktik yang telah berlaku selama 45 tahun.
“Keberhasilan penggagalan rencana ini merupakan bukti kuat dari kekuatan respons terpadu kami,” kata McDonnell. (yn)
Para tersangka ditangkap tanpa insiden. Mereka dijadwalkan hadir di pengadilan di Los Angeles pada Senin sore. (yn)
EtIndonesia. Ada setangkai mawar merah yang sangat indah. Dia merasa bangga karena menjadi bunga tercantik di seluruh taman. Namun lama-kelamaan, dia merasa heran: mengapa orang-orang hanya melihatnya dari jauh dan tidak pernah mendekat?
Ternyata, di sebelahnya selalu ada seekor kodok besar yang jelek. Mawar merah itu sangat kesal dan menganggap keberadaan kodok membuat orang enggan mendekat. Dengan nada angkuh, dia memerintahkan kodok untuk segera pergi.
Kodok itu patuh dan meninggalkan tempat itu.
Beberapa waktu kemudian, ketika kodok lewat di dekat mawar merah, dia terkejut melihat keadaan bunga itu. Mawar merah tampak layu; daunnya gugur, kelopaknya hilang, dan kecantikannya sudah tidak tersisa.
Kodok bertanya : “Wahai mawar merah yang anggun, apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu terlihat begitu buruk?”
Mawar merah menjawab dengan lemah : “Sejak kamu pergi, setiap hari ada serangga yang memakan tubuhku. Aku tidak bisa lagi menjadi seperti dulu.”
Kodok mengangguk dan berkata : “Tentu saja. Saat aku masih berada di sini, aku memakan semua serangga yang mengganggumu. Karena itulah kamu bisa menjadi bunga tercantik di taman.”
Pesan moral:
Mawar merah terlalu sombong. Dia mengira kodok jelek itu tidak berguna dan hanya menghalangi orang untuk menikmati kecantikannya. Dia mengusir kodok tanpa memikirkan perasaan atau perannya.
Namun tindakannya bukan hanya menyakiti kodok, tetapi juga menghadirkan bencana untuk dirinya sendiri.
Kisah ini mengajarkan bahwa:
Kita harus saling menghormati,
Saling peduli,
Dan saling membantu.
Hanya dengan hubungan yang harmonis, kehidupan bisa menjadi indah, dan masa depan menjadi lebih cerah.(jhn/yn)
EtIndonesia. Ada sebuah keluarga yang memelihara seekor induk ayam. Ayam itu bertelur satu butir setiap hari. Bagi keluarga ini, ada tiga pilihan konsumsi:
Pilihan pertama: Setiap hari makan satu butir telur — hasil seimbang, tidak untung, tidak rugi.
Pilihan kedua: Menyembelih ayam dan memakannya — ini berarti menghabiskan modal, atau dalam istilah ekonomi, melakukan konsumsi yang “menguras masa depan”.
Pilihan ketiga: Dalam jangka waktu tertentu, keluarga itu mengurangi konsumsi telur, menyisihkan 10 butir untuk dierami hingga menetas.
Jika 8 anak ayam berhasil hidup, terdiri dari 4 betina dan 4 jantan, maka setelah beberapa waktu keluarga ini bisa mendapatkan:
5 butir telur per hari, karena 4 induk ayam akan ikut bertelur,
Sesekali dapat menyembelih ayam jantan untuk kebutuhan istimewa.
Jika keluarga itu terus mempertahankan cara ini, tingkat konsumsi mereka akan terus meningkat, dan akumulasi aset mereka juga akan bertambah besar.
Pesan moral:
Terhadap satu perkara yang sama, sudut pandang menentukan hasil. Ketiga pilihan konsumsi tersebut menunjukkan tiga pola pikir konsumsi yang berbeda.
Dunia selalu berubah dan berkembang; karena itu kita harus melihat masalah dengan cara pandang yang berkembang. Pilihan ketiga adalah contoh yang menggambarkan pola pikir jangka panjang dan berorientasi pertumbuhan.
Dalam dialektika, dua sisi kontradiksi saling berlawanan namun juga saling bergantung, dan dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi kebalikannya.
Oleh karena itu:
Kita harus memandang persoalan secara menyeluruh,
Menghindari pandangan sepihak,
Dan menciptakan kondisi yang mendorong perubahan ke arah yang lebih baik. (jhn/yn)
EtIndonesia. Pemilik toko buah yang menjadi pahlawan—yang melucuti salah satu pelaku penembakan di Bondi dengan menerjang pria bersenjata berat itu tanpa ragu—kini menghadapi masa pemulihan berbulan-bulan setelah tertembak beberapa kali dalam pembantaian di pantai paling terkenal di Australia.
Ahmed Al Ahmed (43), seorang ayah dua anak, disebut para saksi kemungkinan besar menyelamatkan banyak nyawa ketika ia merampas senjata dari tangan salah satu penyerang. Ia menjalani operasi pada Senin dan kini dirawat di rumah sakit.
Menurut Lubaba Alhmidi Alkahil, yang menjenguknya sambil membawa bunga dan makanan, Ahmed masih kesakitan, namun ditemani keluarga yang diliputi kecemasan sekaligus kebanggaan atas aksi heroiknya.
“Saya pikir setidaknya dia membutuhkan enam bulan untuk pulih… lukanya parah,” kata direktur media Australians for Syria Association kepada AAP. “Dia punya dua anak perempuan yang masih kecil,” tambahnya. “Saat dia menerjang pelaku itu… yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana menyelamatkan orang-orang ini.”
Sepupu Al Ahmed, Mustafa Al-Asaad, mengatakan sang pahlawan dadakan tertembak di bahu kiri dan tangan.
Al-Asaad menuturkan pengakuan sepupunya—warga negara Australia asal Suriah—yang berkata,
“Tuhan memberi saya keberanian untuk menerjang penembak itu.”
“Dia tidak memikirkan kematian ketika melihat peluru beterbangan di udara,” ujar Al-Asaad kepada BBC Arabic.
Perdana Menteri Negara Bagian New South Wales, Chris Minns, menjenguk Al Ahmed pada Senin malam dan memuji “keberanian luar biasa” yang ditunjukkannya.
“Tidak diragukan lagi, lebih banyak nyawa akan melayang jika bukan karena keberanian tanpa pamrih Ahmed,” tulis Minns di Facebook.
Penggalangan dana daring untuk menghormati keberanian pemilik usaha kecil itu telah melampaui 1 juta dolar Australia hingga Senin malam.
Pahlawan Lain di Tengah Tembakan
Di saat yang sama, sekelompok penjaga pantai (surf lifesavers) yang tengah merayakan pesta Natal mengungkapkan bahwa mereka membuka pintu klub dan kotak P3K untuk membantu korban yang terjebak di tengah hujan peluru.
Penjaga pantai di Bondi dan North Bondi sedang berada di clubhouse ketika tembakan pecah di luar. Sejumlah relawan berlari menerjang tembakan untuk melakukan CPR dan pertolongan pertama, kata CEO Surf Life Saving NSW, Steven Pearce.
“Surf Life Saving adalah layanan darurat garis depan, dan itu tak pernah sepenting tadi malam,” katanya. “Tidak ada satu pun perban tersisa—semua papan selancar dipakai sebagai tandu.”
Clubhouse North Bondi menampung sekitar 200 orang yang berlindung dan menerima perawatan medis sementara operasi polisi terus berlangsung, kata presidennya Steven Lanarch.
Tragedi di Tengah Perayaan
Sedikitnya 16 orang tewas—termasuk satu penembak—dan banyak lainnya luka-luka setelah para pelaku membidik kerumunan yang berkumpul untuk perayaan Hanukkah di pantai, sesaat sebelum pukul 19.00 pada Minggu.
Salah satu penembak, Naveed Akram (24), kini berada dalam tahanan polisi, sementara ayahnya Sajid (50) tewas.
Sejumlah video di media sosial memperlihatkan dua penembak berdiri di jembatan penyeberangan yang menghubungkan Campbell Parade dan melepaskan tembakan ke arah kerumunan.
Rekaman menunjukkan Al Ahmed berjongkok di balik kendaraan di area parkir terdekat, lalu menyelinap dari belakang dan bergumul merebut senjata dari tangan pelaku. Pergulatan itu membuat penembak terhuyung dan jatuh, sebelum bangkit dan berjalan menuju jembatan pejalan kaki, tempat penembak lain terus menembak.
Para pemimpin memuji para pahlawan yang berlari menuju bahaya untuk menghentikan serangan atau menolong korban.
“Kepada para penanggap pertama yang berani—termasuk warga biasa yang bertindak kemarin—terima kasih,” kata Perdana Menteri Anthony Albanese.
“Mereka berlari ke arah bahaya dan menunjukkan karakter terbaik Australia.”
Oleh Zac de Silva, Tom Wark, Farid Farid, dan Melissa Meehan di Canberra.