Pria Iseng di Tiongkok Mematahkan Tulang Dada Pacarnya Secara Tidak Sengaja, Kemudian Merekayasa Kecelakaan Mobil untuk Mendapatkan Uang Asuransi

EtIndonesia. Seorang pria di barat daya Tiongkok yang mematahkan tulang dada pacarnya saat melakukan lelucon, merekayasa kecelakaan mobil dan menggunakan luka pacarnya untuk mengklaim uang asuransi.

Pasangan itu baru-baru ini ditangkap, sehingga kasus ini terungkap.

Menurut media daratan Tiongkok, Hongxing News, seorang pria bernama Wang dari Panzhihua di Provinsi Sichuan telah menjalin hubungan jangka panjang dengan pacarnya, bernama Lan.

Pertengkaran bukanlah hal yang jarang terjadi antara pasangan ini.

Pada Juni 2024, saat bermain di luar rumah kerabat, Wang melompat ke punggung Lan dan memintanya untuk menggendongnya.

Tekanan yang tiba-tiba dari berat badannya menyebabkan patah tulang di dada Lan, tetapi mereka tidak segera memanggil ambulans.

Setelah meneliti biaya pengobatan yang tinggi secara online, pasangan itu memutuskan untuk merekayasa kecelakaan lalu lintas dan mengklaim asuransi.

Sekitar satu jam kemudian, Wang mengantar Lan ke persimpangan terpencil, membaringkannya di belakang mobil, dan merekayasa kejadian agar terlihat seperti dia secara tidak sengaja menabraknya.

Mereka menyembunyikan hubungan mereka dari pihak berwenang.

Setelah Lan dirawat di rumah sakit, Wang meyakinkan perusahaan asuransi untuk memberikan uang muka puluhan ribu yuan untuk perawatan medis, dengan alasan kesulitan keuangan.

Setelah keluar dari rumah sakit, Lan menyembunyikan penyebab sebenarnya dari cederanya dan mengajukan klaim asuransi lebih dari 200.000 yuan (sekitar Rp 472 juta).

Namun, perusahaan asuransi segera menyadari beberapa kejanggalan, termasuk hubungan pasangan tersebut, dan memberi tahu polisi.

Investigasi mengungkapkan bahwa lokasi kecelakaan berada di tempat terpencil dan tidak ada tanda-tanda benturan pada kendaraan.

Polisi juga menemukan adanya perselisihan sebelumnya antara pasangan tersebut.

Selain itu, foto-foto dari lokasi kejadian menunjukkan Lan bersandar pada bantal dalam posisi yang tidak wajar, yang menimbulkan keraguan tentang penyebab cederanya.

Polisi menyimpulkan bahwa pasangan tersebut telah merekayasa kecelakaan tersebut.

Wang dan Lan baru-baru ini ditangkap karena dicurigai melakukan penipuan asuransi dan menghadapi hukuman 10 tahun penjara dan denda 200.000 yuan.

Berita ini mengejutkan banyak orang di media sosial daratan Tiongkok.

Seorang netizen menulis: “Kedua orang ini tidak memiliki kesadaran hukum, mereka adalah penjahat bodoh.”

Sementara yang lain mengatakan: “Orang-orang seperti mereka menghancurkan kepercayaan sosial. Polisi dan perusahaan asuransi membuang banyak sumber daya untuk kasus-kasus seperti ini.”

Kasus ini mengingatkan kita pada kisah-kisah serupa tentang penipuan asuransi.

Pada tahun 2020, seorang pria bernama Zhang merekayasa kecelakaan lalu lintas yang menewaskan putranya yang berusia tujuh tahun untuk mengklaim uang asuransi. Dia dijatuhi hukuman mati dan kemudian mengajukan banding untuk pengurangan hukuman, tetapi putusan akhirnya tetap tidak diungkapkan.

Dalam kasus lain, seorang pria mengubah tanggal aktivasi asuransi menggunakan perangkat lunak pengeditan foto untuk menipu perusahaan asuransi. Dia dijatuhi hukuman tujuh bulan penjara.(yn)

Perampok yang Dibeli

EtIndonesia. Pada masa Kaisar Yongzheng dari Dinasti Qing, di daerah Haizhou ada seorang pencuri bernama Wang Haitao. Usianya baru dua puluhan, berwajah tampan seperti seorang pelajar. Dia memang pernah benar-benar belajar beberapa tahun, tetapi karena sejak kecil hidup sebatang kara dan kurang mendapat didikan, dia kemudian terjerumus menjadi pencuri yang mahir memanjat tembok dan membobol rumah. Karena gerakannya ringan seperti daun tertiup angin, dia dijuluki “Suiye Piao”—Si Daun Melayang.

Belakangan, orang melihat dia berkali-kali memanjat keluar-masuk rumah kediaman sang zhifu (kepala pemerintahan daerah). Orang-orang yang melihatnya langsung khawatir—anak muda ini benar-benar nekat. Jika ketahuan, bukan hanya dipenggal, kulitnya pun bisa dikuliti. Anehnya, dari dalam rumah besar itu tidak terdengar kegaduhan apa pun, sehingga orang menduga dia tidak berhasil mencuri.

Saat itu, Zhifu Fan Delu sedang sibuk luar biasa. Dia sudah mencapai usia pensiun dan akan segera pulang ke kampung halaman. Namun Kaisar baru saja mengeluarkan perintah: setiap pejabat yang akan turun jabatan wajib menjalani pemeriksaan harta oleh pejabat khusus yang dikirim istana, untuk memastikan kekayaan mereka sesuai dengan gaji resmi selama menjabat.

Fan Delu sibuk mempersiapkan penyambutan pejabat utusan ini.

Jika dinilai dari rekam jejaknya, sebenarnya sulit menemukan bukti bahwa dia pernah melakukan korupsi. Hanya saja dia dikenal gemar mengumpulkan barang antik dan lukisan, sehingga masyarakat merasa tindak-tanduknya agak misterius. Apakah dia pejabat baik atau buruk? Tidak ada yang bisa memastikan. Karena itu ketika dia hendak pensiun, orang-orang pun tak ambil pusing.

Ketika Liu Zhen, pejabat utusan khusus itu tiba, Fan Delu menyambutnya dengan penuh hormat. Namun Liu Zhen hanya setengah membuka mata, memutar-mutarkan kumis tipisnya, tampak tidak peduli pada keramahan tuan rumah. Dia memeriksa catatan keuangan dan kekayaan pribadi Fan Delu dengan sangat teliti. Bahkan malam itu dia sendiri masuk ke kediaman Fan Delu untuk melakukan pemeriksaan langsung, membuat sang zhifu berkeringat dingin.

Walau tidak menemukan barang-barang ilegal, Liu Zhen meninggalkan satu kalimat sebelum pergi: “Nanti aku akan datang lagi untuk pemeriksaan lebih mendetail.”

Fan Delu langsung pucat pasi.

Ketika Liu Zhen dan rombongannya hendak meninggalkan rumah Fan Delu, tiba-tiba terdengar keributan dari halaman belakang. 

Terdengar teriakan:“Ada pencuri!”

Liu Zhen langsung pensaran.  Dia berkata kepada pengawal: “Ayo kita lihat. Pencuri macam apa yang berani masuk rumah pejabat?”

Sesampainya di belakang, cahaya obor menerangi sosok seorang pemuda yang sedang berjongkok di atas bubungan atap — tak lain adalah Wang Haitao. Para pelayan dan penjaga berteriak-teriak, tetapi tidak satu pun yang mampu naik ke atap untuk menangkapnya.

Liu Zhen mengerutkan dahi dan memberi perintah singkat:“Tangkap.”

Seorang pengawal ulung langsung melompat ke atap dengan lincah dan berhasil mencengkeram kerah baju Wang Haitao.

Namun pencuri itu memainkan trik “belalang meninggalkan cangkang” — dia melepaskan diri dari bajunya yang tertarik, berguling turun dari atap, melesat ke halaman belakang, lalu memanjat tembok dan berdiri di atasnya. 

Sambil menunjuk ke arah rumah Fan Delu, dia berteriak: “Rumah ini banyak barang berharganya! Lain kali aku akan datang lagi! Tidak mencuri barangnya terasa rugi!”

Lalu dia meloncat dan menghilang dalam gelap.

Liu Zhen yang tadi tegang kini tersenyum tipis. Dia mendekat ke pengawal dan membisikkan beberapa instruksi. Pengawal itu mengangguk dan berlalu.

Pencuri Ditangkap… dan Dijamu

Malam itu, di penginapan tempat Liu Zhen menginap, sang pengawal kembali dengan seorang pria yang diikat ketat dan ditutup kepalanya. Liu Zhen pura-pura memarahi pengawal karena memperlakukannya kasar, lalu dia sendiri membuka tutup kepala dan melepaskan ikatannya.

Pria itu adalah Wang Haitao.

Ternyata dia ditangkap dengan sengaja atas perintah Liu Zhen. Tetapi bukan untuk dihukum—melainkan untuk dijadikan alat.

Liu Zhen menjamunya dengan makanan dan minuman, lalu memberinya sebatang perak besar sebagai uang “penenang.” 

Setelah itu dia mengemukakan maksudnya: Wang Haitao harus kembali menyelinap ke dalam rumah Fan Delu untuk mencari ruang rahasia tempat harta-harta curian disembunyikan. Jika berhasil, dia akan mendapat imbalan besar.

Wang Haitao yang sudah melarat bertahun-tahun hampir menangis terharu. Dia mengaku bahwa sebenarnya dia sudah menemukan pintu ruang rahasia itu tadi malam, tetapi karena membuat suara, dia terpaksa kabur.

Dia pun berjanji:  “Saat fajar, ketika orang-orang paling kelelahan, aku masuk lagi. Pasti berhasil.”

Liu Zhen lalu mengatur waktu dan menyuruhnya bersembunyi di dalam ruang rahasia itu hingga dia datang untuk “mengungkap bukti.”

Karena tidak berhasil menemukan harta yang bisa disita, Liu Zhen akhirnya tak punya pilihan selain memberikan surat izin pensiun dengan cap “bersih selama menjabat” kepada Fan Delu, dan membiarkannya pulang kampung.

Wang Haitao—yang tahu bahwa Liu Zhen juga sedang kesal—tidak berani meminta imbalan apa pun. Dia hanya diam-diam mengikuti Fan Delu yang mengendarai kereta tua ditarik lima ekor kuda ketika meninggalkan kota.

Kereta itu tampak sangat lusuh, hanya membawa dua peti kayu dan beberapa buntalan. Anehnya, meski ditarik lima ekor kuda, kereta itu berjalan sangat lambat. Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata kelima kuda itu semuanya kurus dan pincang.

Saat hari gelap, Fan Delu masuk ke sebuah penginapan di kaki gunung. Dari balik pepohonan di lereng, Wang Haitao memperhatikan dengan saksama.

Serangan Tengah Malam

Ketika waktu menunjukkan tengah malam, seseorang di halaman penginapan meniup peluit keras. Tak lama kemudian, belasan bandit bersenjata melompati tembok dan menerobos kamar tempat Fan Delu menginap. Mereka membongkar seluruh ruangan, tetapi tetap tidak menemukan apa pun.

Mereka menarik Fan Delu keluar ke halaman, mendesaknya menunjukkan harta yang dia sembunyikan di dalam kereta.

Fan Delu bersumpah tidak punya apa-apa. Bandit-bandit itu langsung menendang dan membalikkan kereta tua itu, tetapi tetap tidak menemukan barang berharga. Mereka berteriak hendak memecah-mecah kereta untuk mencari tempat persembunyian.

Melihat situasi memburuk, Wang Haitao segera turun dari bukit. Dia melompat ke atas kereta, menarik sebatang palang kayu di bagian belakang, lalu melompat ke atap dan berteriak lantang “Siapa kalian yang berani berebut pekerjaan dengan ‘Si Daun Melayang’!?”

Begitu mendengar nama julukannya, para bandit langsung berhenti. Mereka membungkuk hormat ke arah atap. 

Pemimpinnya berkata: “Kami hanya bandit dari bukit sebelah. Mana berani merebut hasil buruannya ‘Si Daun Melayang’?  Kami hanya ingin makan. Mohon kiranya memberi kami sedikit bagian.”

Wang Haitao menjawab: “Kalau sesama orang jalanan, harusnya bisa berbagi. Aku sudah mengikuti pejabat busuk ini sejak awal—dan kayu palang kereta ini tampak sangat mencurigakan. Belahlah itu, kita bagi rata isinya.”

Dia melemparkan palang kayu itu kepada pemimpin bandit.

Mereka pun membelah kayu tersebut. Benar saja—di dalamnya terdapat sebuah kotak timah panjang. Mereka bersorak kegirangan. Namun ketika kotak dibuka, isi di dalamnya hanya: sebuah bulu hias (hua ling) dari topi pejabat.

Fan Delu menjelaskan sambil menangis: “Saya menjabat seumur hidup tanpa mendapat apa-apa.
Saya hanya membawa hiasan topi ini sebagai kenang-kenangan.”

Bandit-bandit itu marah besar dan menendang Fan Delu. Salah satu dari mereka ingin membawa pergi lima ekor kuda itu.

Fan Delu memohon sambil bersujud agar kuda kurus itu dibiarkan—karena dia membutuhkannya untuk pulang dan bertani.

Wang Haitao ikut membela: “Biarlah dia membawa kudanya. Kuda-kuda itu pun sudah hampir tidak bisa berjalan. Untuk apa?”

Akhirnya, para bandit pergi dengan teriakan kasar, tanpa membawa apa pun.

Dua Keping Emas dari Mulut

Ketika suasana kembali sunyi, Fan Delu bangkit, lalu mencabut dua gigi gerahamnya sendiri. Rupanya kedua gigi itu digunakan sebagai tempat menyembunyikan dua keping emas kecil.

DIa menyerahkannya pada Wang Haitao: “Ini satu-satunya harta yang kumiliki. Anggaplah sebagai bayaran atas pertolonganmu.”

Wang Haitao tertawa kagum: “Fan Daren benar-benar ahli menyembunyikan barang. Saya salut!”

Dia mengambil emas itu, lalu melompat ke atap dan lenyap dalam gelap.

Ternyata sejak awal Wang Haitao memang sudah dibayar oleh Fan Delu — dia sengaja berperan sebagai “pencuri yang gagal” agar Fan Delu terlihat tidak memiliki harta, sehingga lepas dari pemeriksaan pejabat dan gangguan bandit.

Pagi yang Menyedihkan… 

Menjelang subuh, Fan Delu melanjutkan perjalanan pulang. Dia bersenandung kecil sambil mencambuk perlahan, seolah nasib buruk semalam sudah lewat.

Namun saat kereta hendak melewati sebuah punggung bukit, seseorang muncul menghadang dari sisi lain bukit. Orang itu memakai caping dan tubuhnya diselimuti cahaya matahari pagi, sehingga wajahnya tak terlihat jelas.

Fan Delu memberanikan diri bertanya siapa dia. Orang itu membuka capingnya.

Itu Wang Haitao.

Dia menatap Fan Delu dan berkata datar: “Ada orang lain yang membayarku. Mereka ingin aku menemukan harta yang kamu sembunyikan.”

Fan Delu tersenyum pahit:“Kalau aku benar-benar punya harta, apa mungkin bisa lolos dari matamu?”

Wang Haitao melanjutkan: “Kalau begitu, kenapa kamu menyuapku untuk berpura-pura gagal mencuri? Untuk apa semua sandiwara itu?”

Fan Delu menjawab: “Itu untuk menghindari pejabat istana dan para bandit. Jika mereka melihat pencuri sepertimu saja tidak mendapat apa-apa dari rumahku, mereka akan berhenti mengusikku.”

Wang Haitao mengangguk mengerti. Tapi tiba-tiba rautnya berubah tajam:“Tapi aku sendiri belum puas! Aku akan bongkar semuanya. Aku yakin kamu menyembunyikan harta rakyat. Hari ini aku akan mengeluarkannya!”

Fan Delu pasrah. Dia melemparkan cambuknya, membuka pakaian luar, dan berkata:“Silakan. Tubuhku, keretaku—semuanya boleh kau bongkar.”

Tapi Wang Haitao tersenyum dingin: “Aku tidak perlu membongkar tubuhmu. Bukan keretanya.
Aku akan membongkar… kudamu.”

Dia lalu menjelaskan bahwa sejak dia menjadi “pencuri bayaran” untuk Fan Delu, dia terus memikirkan di mana harta itu disembunyikan. Dia sudah memeriksa seluruh bagian kereta—bahkan poros rodanya—tetapi tidak menemukan apa-apa.

Namun saat para bandit tadi malam hendak mencuri kuda-kuda itu, Fan Delu terlihat sangat panik. Sejak itu dia menduga rahasianya ada pada kuda.

Tapi kuda tampaknya tak punya tempat menyembunyikan apa pun… kecuali—

Pada tapal kuda.

Dengan gerakan secepat kilat, Wang Haitao menangkap leher seekor kuda, membantingnya ke tanah, menahan kakinya, dan menusukkan belatinya ke bagian tapal.

DIa mencungkil tapal besi yang tebal itu.

Di balik tapal besi yang penuh tanah kering itu, sesuatu berkilauan terkena cahaya matahari…

Wang Haitao tersenyum sinis dan berkata: “Pantas saja kuda-kuda ini tak mampu berjalan. Rupanya Fan Daren memakaikan mereka sepatu besi — bukan, sepatu emas! Setiap tapal besi ini berisi emas seratus tail. Dengan lima kuda, kau bisa menyembunyikan dua ribu tail emas. Benar-benar cerdik cara Fan Daren menyembunyikan hasil korupsinya.”

Sesungguhnya, selama bertahun-tahun Fan Delu memang banyak melakukan kejahatan: menerima suap, merampas hak rakyat, bahkan mencabut nyawa seenaknya — hanya saja dia sangat pandai menutupi semua itu.

Kini, ketika kejahatannya terbongkar, wajahnya seketika pucat pasi. 

Bibirnya bergetar: “Siapa… siapa yang menyuruhmu? Berapa mereka membayarmu?”

Wang Haitao menjawab dengan wajah tegas: “Yang membayar aku adalah rakyat Haizhou.
Bayaran itu tak terhitung jumlahnya… dan sejak dulu sudah mengalir dalam tubuhku.”

Fan Delu mengernyit bingung: “Bayaran apa yang lebih berharga daripada emas?”

Wang Haitao menjawab pelan, tetapi setiap kata terdengar seperti petir: “Bayaran itu tak ternilai… tanpa itu manusia tak akan hidup. Bayaran itu adalah — air susu ibu.”

Saat pura-pura mencari ruang rahasia bersama pejabat Liu Zhen, Wang Haitao sempat menemukan sebuah buku tua yang berdebu di ruang kerja Fan Delu — “Catatan Haizhou”.

Dia membawa buku itu ke ruang rahasia sambil menunggu Liu Zhen masuk. Tidak disangka, dia menemukan catatan tentang asal-usul dirinya:

  • Orangtuanya meninggal ketika dia masih bayi.
  • Dia bisa bertahan hidup karena para wanita di Haizhou memberinya air susu gantian, bergiliran menyusuinya hingga besar.
  • Setelah itu, beberapa orang baik hati membiayai pendidikannya selama beberapa tahun.

Sejak mengetahui itu, hatinya terguncang.

Akhir yang Tragis… atau Tampak Tragis

Mendengar rahasianya terbongkar, Fan Delu jatuh terduduk dan meratap: “Seumur hidup aku mengumpulkan ini semua, dan sekarang semuanya jatuh ke tangan pencuri. Pulang kampung dengan tangan kosong… untuk apa aku hidup?  Lebih baik mati di sini — sebagai penebus dosa kepada rakyat Haizhou!”

Dia mengeluarkan sebuah tabung bambu, menggigit ujungnya, dan langsung meneguk isinya. Dalam sekejap, dia menggigil, matanya memutar, dan tubuhnya kejang-kejang.

Wang Haitao menghela napas. Dia merasa, meski pejabat itu jahat, setidaknya dia masih punya secuil hati nurani karena memilih bunuh diri.

Melihat dia belum sepenuhnya mati, Wang Haitao mengambil labu air dari kereta dan mencoba menolongnya.

Namun saat dia menunduk, mulut Fan Delu tiba-tiba terbuka lebar, menghembuskan napas kuat, dan sebuah bola besi sebesar telur merpati meluncur keluar, menghantam dahi Wang Haitao hingga dia terjatuh tak sadarkan diri.

Fan Delu bangkit sambil tertawa kejam. “Dasar anak bodoh! Kamu pikir aku benar-benar minum racun?  Itu adalah ‘peluru besi’ yang kutelan untuk menjatuhkanmu!  Nyawamu ini — tetap saja harus kuambil sendiri!”

Dia mencabut pisau dan mengarahkannya ke leher Wang Haitao yang pingsan.

Namun tepat saat itu, tangannya dijepit dari belakang. Dia menoleh — seorang pria tua bertubuh kekar berdiri di belakangnya, menahan tangannya.  Di belakang pria tua itu berdiri banyak warga Haizhou.

Fan Delu tahu, kali ini dia tak bisa lagi melarikan diri.

Pahlawan yang Terlahir dari Dosa

Ternyata setelah mengetahui asal-usulnya, Wang Haitao mendatangi seorang sesepuh Haizhou — tokoh terhormat yang juga ahli bela diri — dan mengungkapkan keinginannya untuk bertobat.

Dia menitipkan seluruh hasil curiannya agar dikembalikan kepada rakyat, dan memohon bantuan untuk: memaksa pejabat korup mengembalikan uang yang dia rampas dari rakyat.

Sang sesepuh tersentuh oleh tekad Wang Haitao, dan karena dia tahu Fan Delu licik dan berbahaya, dia pun menggerakkan warga untuk diam-diam melindungi pemuda itu.

Saat Wang Haitao siuman, dia melihat rakyat Haizhou mengelilinginya. Dengan air mata yang tak tertahan, dia berlutut di hadapan mereka.

Di balik tangisnya, dia akhirnya menemukan kembali jati dirinya — seorang anak Haizhou yang diselamatkan oleh kebaikan rakyatnya, dan seorang lelaki yang ingin mengembalikan semua kebaikan itu… meski dengan nyawanya.(jhn/yn)

Kisah Si Kaya dan Nelayan

EtIndonesia. Suatu hari, seorang pria kaya berjalan-jalan di tepi laut. Dia melihat seorang nelayan sedang berbaring santai di atas pasir, berjemur sambil menikmati hembusan angin.

Orang kaya itu heran dan bertanya :  “Kenapa kamu tidak pergi melaut dan menangkap lebih banyak ikan?”

Nelayan itu dengan malas-malasan membuka mata dan balik bertanya : “Untuk apa saya harus menangkap lebih banyak ikan?”

Orang kaya menjawab:  “Kalau kamu menangkap lebih banyak ikan setiap hari dan menjualnya ke pasar, kamu bisa mendapat uang lebih banyak.”

Nelayan bertanya lagi :  “Kalau saya punya lebih banyak uang, lalu untuk apa?”

Orang kaya itu berkata dengan semangat : “Kalau kamu punya banyak uang, kamu bisa membangun rumah besar di tepi pantai. Setelah itu kamu bisa berbaring santai di pasir seperti ini, menikmati matahari!”

Nelayan tersenyum dan berkata pelan :  “Bukankah saya sedang melakukan hal itu sekarang?”

Sungai besar mengalir ribuan kilometer :  tapi kita hanya perlu meneguk seteguk air.

Apa yang sebenarnya kita kejar seumur hidup?  Dan apa yang tanpa sadar kita buang di sepanjang perjalanan — padahal mungkin justru itulah yang paling berharga?

Tanya pada diri sendiri,  maka hati akan diam… karena jawabannya sudah ada di sana.(jhn/yn)

Desa Garoga Lenyap Ditimbun Lumpur dan Batang Kayu : Tragedi 140 Rumah di Balik Amukan Gergaji

EtIndonesia. Desa Garoga di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kini tak lagi menyerupai desa. Pemandangan yang tersaji adalah hamparan tanah berpasir mengerikan, menyerupai pantai yang ditinggalkan. Desa ini, menurut informasi, telah “hilang ditelan tanah berpasir mengerikan”.

Terjangan Sungai Aik Garoga datang bak tsunami pada Selasa siang, 25 November 2025. Hanya dalam sekejap, desa yang berada di pinggir sungai ini lenyap diterjang bandang.

Dampak kehancuran sangat masif. Diperkirakan sekitar 140 rumah lenyap seketika di bawah banjir bandang. Rumah-rumah yang selamat pun hanya menyisakan bangunan yang sudah tidak bisa ditempati lagi. Bencana ini meluluhlantakkan tidak hanya tempat tinggal, tetapi juga sekolah hingga tempat ibadah.

Orang-orang berjalan di jalan berlumpur di sebuah desa yang terdampak banjir bandang di Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia, pada 2 Desember 2025. (Foto AP/Binsar Bakkara)”

Geografi Maut di Lintas Sumatera

Secara administratif, Desa Garoga merupakan wilayah yang cukup luas, memanjang 1 kilometer di pinggiran jalan lintas Sumatera. Wilayahnya membentang dari batas Desa Hutagodang hingga batas Kabupaten Tapanuli Tengah di Desa Anggoli.

Namun, kerentanan Garoga terletak pada topografi uniknya: Sungai Aik Garoga membelah dua aliran, membentuk pulau sepanjang 1.170 meter di tengah desa ini. Pulau inilah yang menjadi pusat permukiman. Setengah dari sekitar 270 kepala keluarga (KK) penduduk Garoga bermukim, berkebun, dan bersawah di pulau tersebut. Pulau ini juga menjadi perantara dua jembatan penting, yakni Jembatan Garoga dan Jembatan Anggoli.

Ketika air bah datang, pulau padat penduduk ini, yang menjadi jantung kehidupan Garoga, diterjang tanpa ampun oleh arus deras yang membawa material penghancur.

Ribuan Batang Kayu Hutan Jadi Peluru

Banjir dan longsor menyebabkan bandang mematikan di Tapanuli Selatan. Namun, faktor utama yang mengubah bencana alam menjadi tragedi massal adalah material yang terbawa arus. Tumpukan kayu-kayu besar sisa banjir masih berserakan begitu saja di sepanjang jalan menuju Desa Garoga pada Sabtu, 29 November 2025.

Ribuan batang kayu inilah yang menjadi penyebab hancurnya bangunan warga, sekolah, hingga tempat ibadah. Dalam penelusuran di lokasi sebelumnya, terungkap bahwa kayu-kayu besar tersebut merupakan kayu hutan yang memiliki bekas potongan gergaji mesin [histori percakapan], yang menguatkan dugaan bahwa bencana ini diperparah oleh “tangan-tangan jahil” yang membabat hutan untuk pembukaan lahan sawit [histori percakapan]. Kehadiran kayu-kayu tebangan ini mengubah banjir biasa menjadi palu godam mematikan, menghantam rumah-rumah hingga hilang ditelan pasir [histori percakapan].

Jenazah Tertimbun di Hamparan Pasir

Tragedi ini meninggalkan duka yang mendalam. Hingga saat ini, diperkirakan banyak jenazah tertimbun di desa yang kini menjadi hamparan pasir tersebut.

Di samping itu, kerugian jiwa juga tercatat signifikan, dengan perkiraan sekitar 47 masyarakat masih belum ditemukan akibat hanyut ke sungai [histori percakapan]. Situasi pasca bencana sangat memprihatinkan. 

Seluruh warga Desa Garoga yang selamat dilaporkan tidak tahu di mana harus mengungsi. Bahkan, hingga Senin, 1 Desember 2025, masih ada warga yang kondisinya belum diketahui apakah masih hidup atau bagaimana. Mereka sangat bergantung pada bantuan yang masuk untuk bertahan hidup [histori percakapan].

Kejadian di Garoga menjadi pengingat pahit tentang dampak keserakahan manusia terhadap lingkungan [histori percakapan]. Bencana ini menghapus jejak 140 rumah dan menenggelamkan harapan di bawah timbunan pasir dan sisa-sisa kayu yang ditebang secara liar.

Pulau Garoga, yang menjadi pusat kehidupan 270 KK, dapat diibaratkan sebagai benteng pasir yang dibangun di tepi sungai. Sungai Aik Garoga, yang biasanya adalah urat nadi kehidupan, berubah menjadi cambuk raksasa. 

Ribuan batang kayu yang hanyut adalah anak panah yang diluncurkan oleh kejahatan lingkungan. Serangan yang datang dari dua aliran sungai menghancurkan benteng itu seketika, meninggalkan sisa pasir dan puing di mana dulunya terdapat denyut nadi kehidupan, sekolah, dan tempat ibadah. (yud)

Trump Konfirmasikan Penyitaan Kapal Tanker Venezuela dan Ancam Tindakan Lebih Lanjut

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengkonfirmasi bahwa pasukan Amerika telah menyita sebuah kapal tanker Venezuela. Tindakan lebih lanjut terhadap Venezuela akan segera dilakukan, kata Trump dalam konferensi pers.

“Ini hari yang menarik dari sudut pandang berita,” kata Trump.

Menurutnya, kapal tanker tersebut disita di lepas pantai Venezuela. Dia juga mengisyaratkan “hal-hal lain,” merujuk pada tindakan terhadap rezim Nicolás Maduro.

“Kami baru saja menyita sebuah kapal tanker di lepas pantai Venezuela — kapal tanker besar, sangat besar, yang terbesar yang pernah disita, sebenarnya. Dan hal-hal lain sedang terjadi. Jadi Anda akan melihatnya nanti, dan Anda akan membicarakannya nanti dengan beberapa orang lain,” kata Presiden AS menanggapi pertanyaan wartawan.

Sebelumnya, laporan media menyatakan bahwa pada 10 Desember 2025, pasukan AS mencegat dan mengambil alih sebuah kapal tanker minyak yang dikenai sanksi di dekat perairan Venezuela.

Penyitaan ini terjadi di tengah peningkatan tekanan yang signifikan dari pemerintahan AS terhadap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, yang menuduhnya mengendalikan operasi perdagangan narkoba besar-besaran.

Laporan menunjukkan bahwa Maduro bahkan bersedia mengundurkan diri, tetapi setidaknya dalam 18 bulan ke depan. Namun, Gedung Putih bersikeras agar dia segera mundur dari kepemimpinan Venezuela.(yn)

Ketegangan Meningkat: AS Menyita Kapal Tanker Minyak Venezuela

EtIndonesia. Pada 10 Desember 2025, pasukan AS mencegat dan mengambil alih sebuah kapal tanker minyak yang dikenai sanksi di dekat pantai Venezuela, lapor Bloomberg.

Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, penyitaan kapal tanker tersebut dapat sangat mempersulit ekspor minyak Venezuela, karena perusahaan pengiriman lain mungkin akan menghindari pemuatan kargo kapal tersebut karena risiko sanksi.

Sebagian besar minyak Venezuela diekspor ke Tiongkok, biasanya melalui perantara dan dengan diskon signifikan karena risiko yang terkait dengan pembatasan AS.

Gedung Putih belum berkomentar tentang insiden tersebut, dan perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA serta kementerian terkait juga belum mengeluarkan pernyataan.

Sementara itu, di Venezuela, tindakan AS telah digambarkan sebagai upaya untuk merebut cadangan minyak negara tersebut, yang termasuk yang terbesar di dunia.

Yang perlu diperhatikan, penyitaan kapal tanker tersebut terjadi pada hari yang sama ketika pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado menerima Hadiah Nobel Perdamaian.

PDVSA mengendalikan industri minyak Venezuela dan bekerja sama dengan mitra internasional, termasuk perusahaan AS Chevron Corp., yang memiliki proyek produksi minyak bersama di negara tersebut. AS memberikan lisensi kepada Chevron yang membebaskan perusahaan tersebut dari sanksi.

Konfrontasi AS–Venezuela

Pemerintahan AS di bawah Donald Trump meningkatkan tekanan pada Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, menuduhnya mengendalikan operasi perdagangan narkoba.

Pentagon melakukan lebih dari 20 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam pengangkutan narkoba di perairan dekat Venezuela dan Kolombia, yang mengakibatkan lebih dari 80 kematian.

Menurut CNN, Maduro dilaporkan siap mengundurkan diri, tetapi tidak lebih cepat dari 18 bulan dari sekarang.

Menariknya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah menyarankan untuk mempertimbangkan kemungkinan memindahkan pemimpin Venezuela itu ke Qatar.(yn)

Setengah Buah Pisang

EtIndonesia. Sebuah majalah mode pernah memuat berbagai tips langsing dari aktris-aktris terkenal. Di antaranya ada Demi Moore, aktris asal Amerika. Dalam paparannya, dia menyebutkan bahwa menu sarapannya hanyalah semangkuk bubur oat dan setengah buah pisang.

Aku membaca sampai di situ lalu tertegun.

 Pertanyaannya: di mana setengah pisang yang lain?

Coba bayangkan beberapa kemungkinan:  Mungkin pelayan (jika dia memilikinya) menyajikan setengah pisang di piring sang aktris, dan setengah lainnya dinikmati oleh pelayan itu sendiri. Ada juga kemungkinan cara “mewah” versi selebritas: bagian kepala dan ekor pisang dibuang, hanya tengahnya yang dianggap paling sempurna yang dimakan, sisanya masuk ke tong sampah. Kemungkinan ketiga: sisa setengahnya disimpan di kulkas untuk esok hari — tapi dipikir lagi, kecil kemungkinan seorang bintang internasional akan peduli pada setengah pisang yang tersisa.

Di sebuah jamuan makan, seorang teman pengusaha menceritakan kisah lain tentang setengah buah pisang — tetapi maknanya jauh lebih dalam.

Puluhan tahun lalu, ketika dia masih berusia belasan dan hidup di desa miskin, dia bahkan belum tahu seperti apa bentuk pisang. Suatu hari, ibunya mengajaknya menghadiri pernikahan kerabat jauh di sebuah kota kecil.

Di meja pesta, untuk pertama kalinya dalam hidup, dia melihat pisang: kuning keemasan, bentuknya seperti bulan sabit, dan aromanya sangat menggoda. Ibunya mengupaskan satu dan memberikannya kepadanya. Dia melahapnya seperti Bajie memakan buah ginseng — cepat, lahap, penuh kenikmatan.

Ibunya juga mengambil satu pisang. DIa mengupasnya, menggigit sedikit, lalu — di tengah tatapan para kerabat — berjalan ke ruangan dalam untuk minum air. Selama acara berlangsung, dia tenggelam dalam kenikmatan pisang pertamanya, hingga semua hidangan lain tak lagi penting.

Dalam perjalanan pulang, ibunya tiba-tiba merogoh saku dan mengeluarkan sapu tangan. Dia membuka lipatannya perlahan, dan di dalamnya ada pisang yang hanya digigit sedikit itu. Dengan senyum lembut, dia menyerahkannya kepada sang anak.

Meski masih kecil, dia mengerti betul makna setengah pisang itu. Di hadapan banyak kerabat, ibunya tidak ingin kehilangan wibawa — dia pura-pura hanya makan sedikit. Tetapi demi anaknya, dia menyimpan setengah pisang itu dengan hati-hati agar tidak terlihat, hanya untuk diberikan kepadanya di perjalanan pulang.

Di dalam setengah pisang itu terdapat banyak hal: harga diri seorang ibu dalam kemiskinan, martabat yang dia jaga, dan cinta yang begitu dalam untuk anaknya.

Temanku itu berkata, perlahan-lahan, dengan nada yang penuh makna: “Saat makan setengah pisang itu, rasanya tak seenak pisang yang pertama. Tapi perasaan yang masuk ke hatiku saat itu — aku tidak pernah melupakannya.  Setengah pisang itu, seumur hidup membuatku tidak berani menyia-nyiakan diri sendiri.”

Sama-sama setengah buah pisang. Bagi seorang aktris dunia, itu hanyalah cara menjaga tubuh. Tetapi bagi temanku, setengah pisang itu mengubah hidupnya. (jhn/yn)

Bandara Moskow Ditutup dan Penerbangan Tertunda karena Drone Tak Dikenal

EtIndonesia. Moskow diserang oleh drone tak dikenal. Akibatnya, beberapa bandara di ibu kota Rusia telah menangguhkan operasionalnya, menurut media Rusia.

Sekitar pukul 23.00, media sosial Rusia mulai melaporkan bahwa drone telah mencapai Moskow.

Ancaman drone tingkat merah telah diumumkan di seluruh wilayah Moskow.

Pada saat yang sama, bandara Moskow dan wilayah Moskow – Vnukovo, Domodedovo, Sheremetyevo, dan Zhukovsky – untuk sementara menangguhkan operasionalnya.

Bandara-bandara tersebut membatalkan 27 penerbangan keberangkatan dan jumlah kedatangan yang sama.

Kemudian, walikota ibu kota Rusia, Sergey Sobyanin, mulai melaporkan tentang pencegatan drone tak dikenal. Pada pukul 01.20, dia menghitung 16 drone tersebut.

Serangan di Moskow

Seperti yang dilaporkan RBC-Ukraina, pada 30 November, drone tak dikenal juga menuju ke Moskow, yang menyebabkan pembatasan di bandara Moskow. Pada saat itu, ledakan terdengar di wilayah Moskow. Media Rusia, mengutip saksi mata, melaporkan tiga ledakan di Kolomna, dekat Moskow.

Dilaporkan juga bahwa dua pesawat tidak dapat mendarat di Bandara Vnukovo Moskow: di dekat kota Vladimir, pesawat-pesawat dari Fergana (Uzbekistan) dan Dubai (UEA) berputar-putar di atas.

Selain itu, pada malam 27 Oktober, menurut Kementerian Pertahanan Rusia, 193 drone dicegat dan dihancurkan, termasuk 40 di wilayah Moskow, di mana 34 di antaranya menuju ke Moskow.

Media Rusia juga melaporkan serangan oleh drone tak dikenal di Moskow pada malam 26 Oktober.

Mereka menerbitkan banyak foto dan video dari ibu kota Rusia, yang menunjukkan ledakan keras dan kepulan asap.

Wali Kota Moskow, Sergey Sobyanin menyatakan bahwa semuanya ditembak jatuh oleh pertahanan udara. Pada saat yang sama, media sosial menyebarkan foto tentara Rusia di atas truk pikap dengan senapan mesin, yang diposisikan tepat di seberang Kremlin.(yn)

Menempuh Satu Jalan Sampai Akhir

EtIndonesia. Aku pernah bekerja sebagai penjaga toko tas, pernah menjadi pengasuh anak, pernah berdagang pakaian olahraga grosir, pernah mencuci piring di restoran… semua itu sudah pernah kulakukan.

Aku pernah dipukul, dihukum, kelaparan, kedinginan, terusir jauh dari kampung halaman, pernah lumpuh separuh badan, pernah disalahpahami, dihina, difitnah… semua itu juga sudah kualami.

Lalu aku bangkit lagi—pelan, tetapi pasti—dari titik paling bawah. Tanpa membawa bayang-bayang masa lalu. Bahkan lumpur yang menempel di kakiku pun terasa seperti kekuatan yang mendorongku maju.

Sejak negara mengirimku ke Amerika Serikat pada usia sembilan belas tahun untuk belajar tari modern, aku menetapkan satu prinsip hidup: hidupku tidak boleh berjalan secara pasif.

Apa pun yang kulakukan sejak usia sembilan belas sampai sekarang—benar atau salah, sukses atau gagal—semuanya kutanggung sendiri.

Sepanjang jalan yang panjang ini, aku hanya melakukan satu hal: tetap menjadi diriku sendiri. Aku tidak punya ambisi mengubah dunia, dan aku juga tidak ingin dunia mengubahku. Keyakinan inilah yang membuatku bisa sampai sejauh ini.

Awal yang Goyah: Berniat Ganti Jalur

Saat dikirim ke Amerika, aku berangkat dengan satu koper berisi kemampuan tari. Tapi begitu tiba, pikiran pertamaku justru: ingin ganti profesi.

Di usia 19 tahun, ketika pertama kali keluar dari kehidupan ketat ala militer, melihat dunia luar yang penuh warna, aku langsung limbung. Yang kupikirkan hanya: cepat belajar bahasa Inggris, lalu ganti karier, lalu mengurus kartu hijau, imigrasi, tinggal di Amerika, dan tidak kembali ke Tiongkok selamanya. Terdengar indah, bukan?

 Tapi kenyataannya: Jika kamu tidak bisa berbahasa Inggris dan tidak mengenal siapa pun, apa yang bisa kamu lakukan?

Jawabannya: hanya menari.

Aku masih ingat pertama kali masuk ke ruang latihan sekolah di Amerika. Di sekelilingku berdiri para penari terbaik dari berbagai negara. Aku mengenakan pakaian paling sederhana, dan tanpa sadar berdiri di barisan paling belakang.

Tapi sepuluh menit setelah kelas dimulai, aku tiba-tiba berada di barisan depan. Para penari asing menyingkir ke belakang—mereka tertegun melihatku menari.

Saat itulah aku sadar: Satu-satunya hal yang benar-benar kumiliki adalah tari.

Meskipun aku tidak bisa berbahasa Inggris, meskipun aku datang dengan tangan kosong, aku masih bisa menaklukkan seluruh ruangan hanya dengan tarian.

Dalam perjalanan pulang hari itu, keinginanku untuk berganti jalan lenyap seketika.

Bangkit di Shanghai dan Keberhasilan yang Dinanti

Saat kembali ke Shanghai, usiaku 33 tahun. Waktu berlalu cepat—lebih dari satu dekade—dan akhirnya pekerjaanku mulai diakui publik. Jin Xing Dance Theatre yang dulu hanya bisa bertahan dengan mencari kesempatan tur dunia, kini mulai memiliki penonton setia yang rela membayar untuk datang.

Pada tahun 2006, aku menerima gelar doktor seni pertamaku dari Dartington College of Arts, Universitas Plymouth, Inggris. Saat menerima gelar itu, sang rektor berkata:“Kamu adalah orang keempat dari Tiongkok yang meraih gelar doktor dari sini.”

Tiga nama sebelumnya: Xu Zhimo, Hu Shi, Dai Ailian.
Lalu—aku, Jin Xing.

Sungguh sebuah kehormatan besar.

Tapi yang lebih penting dari gelar itu adalah:  aku memiliki keluarga yang bahagia.

Menjadi Istri dan Ibu: Hadiah yang Tak Pernah Terbayang

Delapan belas tahun lalu, tidak mungkin aku menjadi “istri yang baik dan ibu yang baik.” Kalimat itu tidak pernah cocok denganku. Yang kuinginkan hanyalah menjadi seorang perempuan—perempuan yang mandiri, yang mungkin hidup sendiri, tanpa anak. Itu saja sudah cukup.

Namun delapan belas tahun kemudian, aku bersyukur pada suami dan anak-anakku. Mungkin surga merasa aku layak menerima hadiah ini. Tiba-tiba, Jin Xing menjadi ibu dari tiga anak dan istri dari seorang pria Jerman. Hidupku menjadi nyata, stabil, dan kupeluk dengan penuh rasa syukur.

Ketekunan itu masih ada—hanya bentuknya berbeda. Tetap sulit, tetapi bukan lagi “kesulitan yang menggigit,” melainkan sebuah “kesulitan yang indah.”

Jin Xing tetap Jin Xing — ketika jatuh, aku bisa menyinari diriku sendiri; ketika dipuji, aku tetap tahu cara menjaga diriku sendiri.

Ketika orang berkata: “Jin Xing terkenal!”

 Suara dalam hatiku berkata :  “Aku tetap aku.”

Aku tahu orang-orang menyukaiku bukan karena label atau sensasi, tetapi karena kata-kataku nyata, perbuatanku dapat dipercaya, sikapku tulus. Orang menyukaiku karena aku adalah perempuan yang benar adanya.

Dua Kelahiran dalam Satu Kehidupan

13 Agustus 1967 adalah hari kelahiranku yang diberikan oleh orang tuaku.  5 April 1995 adalah hari aku melahirkan diriku sendiri untuk kedua kali.

Jika dihitung, tahun ini aku baru saja berusia 18 tahun—dewasa kembali. Gadis itu sudah tumbuh, dan kini ia layak tampil di hadapan dunia.

Aku bersikeras membawa perempuan itu keluar, berdiri di depanmu, dan berbagi perjalanan hidupnya — apa yang ia lihat, apa yang ia alami, dan apa yang ia pahami.

Dia tidak ingin memberitahumu “harus bagaimana,”  tetapi dia ingin memberikanmu “cara baru untuk berpikir.”

Jika seseorang belajar berpikir, belajar menilai, dan belajar menghadapi kehidupan dengan kesadaran, maka dia akan semakin dekat dengan jawaban hidupnya. Jika lebih banyak orang bisa hidup seperti itu, masyarakat kita akan semakin matang.

Jika setiap orang datang ke dunia ini dengan sebuah makna, maka tugasku adalah menyampaikan pesan itu: kebaikan, ketulusan, keberanian, dan kebijaksanaan. (jhn/yn)

Seruan Kemanusiaan: Indonesia Diminta Turun Tangan Hentikan Penganiayaan Falun Gong di Tiongkok

ETIndonesia.  Himpunan Falun Dafa Indonesia (HFDI) menyerukan kepada pemerintah Indonesia memberikan dukungan penghentian penindasan yang dialami oleh para praktisi Falun Gong di Tiongkok. Hal demikian diungkapkan dalam surat yang dikirimkan kepada Menteri Luar Negeri RI Sugiono tertanggal 9 Desember 2025. 

Surat itu juga ditembuskan kepada Menko KumHAM Imigrasi & Pemasyarakatan, Menteri Hukum, Menteri HAM, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Badan Intelijen Negara (BIN), Kapolri, LSM, Mass Media dan lain-lain. Pengiriman surat tersebut bertepatan dengan menjelang peringatan Hari HAM sedunia pada 10 Desember 2025. 

“Kami menyerahkan data ini bukan untuk menambah beban diplomasi Indonesia, melainkan agar Indonesia berdiri di sisi kemanusiaan,” ujar Ketua HFDI, Gatot Machali dalam keterangannya. 

“Kejahatan yang terjadi terhadap praktisi Falun Dafa sudah berlangsung 26 tahun, dan dunia tidak boleh membiarkannya. Indonesia punya posisi moral dan politik untuk bersuara,” tambahnya. 

Dalam surat tersebut berisi sebanyak 18 pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang tercantum dalam 15 berkas kasus penganiayaan genosida HAM kejam.  Surat tersebut juga disertakan dokumen dari Falun Dafa Information Center (FDI), The World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG) dan laporan dari Situs web Media Minghui.

Dalam suratnya, Gatot mengajukan permohonan agar turut serta memberikan sanksi kepada mereka yang terlibat penganiayaan terhadap Falun Gong. Tindakan tersebut tentunya berdasarkan ketentuan dan semua hukum yang berlaku di Indonesia yakni sanksi pembatasan visa dan sanksi Global Magnitsky atau jika para penindas tersebut memiliki aset di Indonesia, maka diminta agar segera dibekukan.

Selain itu, Himpunan Falun Dafa Indonesia juga menyampaikan permohonan beraudiensi untuk menjelaskan klarifikasi fakta yang sebenarnya tentang Falun Dafa secara langsung dan menyeluruh. 

Penindasan yang Dialami Falun Gong Selama 26 Tahun

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang didasarkan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Pertama kali diperkenalkan ke publik daratan  Tiongkok pada tahun 1992, latihan ini dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut hingga diperkirakan mencapai 70 juta hingga 100 juta praktisi pada tahun 1999.

Partai Komunis Tiongkok yang khawatir bahwa popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezim, memulai kampanye brutal untuk melenyapkan latihan ini pada 20 Juli 1999. 

Sejak saat itu, jumlah yang tak terhitung dari praktisi Falun Gong telah menjadi korban penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa. Penganiayaan tersebut masih berlangsung hingga sekarang

Penindasan Lintas Negara

Dalam surat yang dikirimkan tersebut mencantumkan tentang laporan penindasan lintas negara yang diluncurkan oleh Tiongkok.  Hal ini  berdasarkan sebuah laporan pada Oktober 2022 menyebutkan pemimpin Tiongkok Xi Jinping menggelar pertemuan rahasia dan memberikan instruksi kepada pejabat-pejabat puncak—yang membawahi operasi politik, intelijen, dan pengaruh luar negeri—tentang strategi baru untuk menarget kelompok spiritual Falun Gong di kancah internasional. 

Fokus dari strategi terbaru rezim Tiongkok ini adalah melancarkan kampanye disinformasi melalui para influencer media sosial dan media. Bahkan, memanfaatkan sistem hukum di negara tersebut untuk menindak perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong.  Serangan ini juga menyasar kepada perusahaan tari klasik Tiongkok Shen Yun dengan misi menghidupkan kembali 5.000 tahun peradaban Tiongkok—yaitu Tiongkok sebelum komunisme—melalui seni pertunjukan. 

Informasi ini berasal dari dua sumber: seorang individu dari keluarga veteran Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang kini menentang Xi, serta seorang orang dalam yang berbicara karena dorongan nurani.

Pertemuan tersebut berlangsung tepat sebelum Kongres Nasional PKT ke-20, yang mengukuhkan Xi untuk masa jabatan ketiga sebagai pemimpin Partai—sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Instruksi Xi—yang sebelumnya belum pernah dilaporkan—tampaknya dengan cepat memicu eskalasi operasi jangka panjang terhadap para praktisi Falun Gong di luar negeri. Kampanye ini telah membayangi kehidupan mereka yang mencari perlindungan di luar negeri. 

Bukan Soal Politik Tapi Kemanusiaan 

Bertepatan dengan momentum Hari HAM Sedunia, HFDI menegaskan masalah penindasan yang dialami oleh praktisi Falun Gong bukan semata persoalan dalam negeri Tiongkok. Gatot mengungkapkan masalah Falun Gong adalah sebuah tragedi kemanusiaan global yang memerlukan perhatian luas dunia. 

Ia juga menegaskan, ikut serta dalam menyerukan penghentian penindasan yang dialami oleh praktisi Falun Gong sejatinya bukan permasalahan politik tapi soal kemanusiaan. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia diminta mengambil langkah berani di tingkat global dengan bersuara menolak penindasan serta mendukung diadakan investigasi independen. 

“Kami percaya Indonesia dapat berada di barisan depan negara-negara yang membela martabat manusia, Ini bukan soal politik, ini soal kemanusiaan,” simpul Gatot. (***)

The Alana Hotel Malang Rayakan Dua Tahun Dedikasi dengan Semangat Kebersamaan dan Sportivitas

EtIndonesia. Malang, 10 Desember 2025 – Menginjak usia kedua tahun kehadirannya di Kota Malang, The Alana Hotel Malang tidak sekadar merayakan sebuah pencapaian temporal, melainkan mengukuhkan fondasi nilai yang dibangun bersama seluruh tim. Perayaan ulang tahun kedua yang dipusatkan pada Rabu (10/12) ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan panjang yang telah digelar sejak September lalu, mengusung semangat kebersamaan, sportivitas, dan apresiasi sebagai inti perayaannya.

Berbeda dengan perayaan yang seringkali berfokus pada eksternal, The Alana Hotel Malang justru menjadikan momen spesial ini sebagai wadah untuk menguatkan internal dan menyampaikan terima kasih kepada para pilar utamanya: seluruh karyawan. Acara syukuran yang diadakan hari ini menjadi simbol penghargaan atas dedikasi, kerja keras, dan komitmen yang telah menjadi nyawa operasional hotel selama 24 bulan terakhir.

Rangkaian Kegiatan: Dari Bakti Sosial hingga Kompetisi Keterampilan

Sebelum puncak acara, hotel telah menggelar serangkaian aktivitas yang mencerminkan karakter dinamis dan peduli. Kegiatan dimulai dengan aksi donor darah, sebuah bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar yang melibatkan partisipasi aktif karyawan. Ini menunjukkan bahwa budaya hotel tidak hanya tumbuh ke dalam, tetapi juga berdampak ke luar.

Selanjutnya, semangat sportivitas diwujudkan melalui sesi body combat, aktivitas yang tidak hanya menyehatkan tetapi juga memperkuat kerja sama tim dan ketangguhan mental. Sementara itu, kompetisi keterampilan teknis seperti making bed competition dan cooking competition digelar untuk memacu profesionalisme dan kreativitas staf di bidangnya masing-masing. Kompetisi ini menjadi ajang unjuk gigi sekaligus pembelajaran berharga untuk terus meningkatkan standar layanan.

Apresiasi sebagai Fondasi Pertumbuhan

Dalam sambutannya pada acara syukuran, Sistho A Sreshtho ST, CHA, Cluster General Manager The Alana Hotel Malang and Aston Mojokerto Hotel & Conference Center, menekankan bahwa perjalanan dua tahun ini adalah buah dari kolektifitas tim. “Dua tahun perjalanan ini merupakan hasil kerja keras, loyalitas, dan komitmen seluruh tim. Melalui rangkaian perayaan ini, kami ingin memberikan penghargaan kepada para staff yang selalu menjadi tulang punggung hotel dalam memberikan pengalaman terbaik bagi setiap tamu yang datang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi filosofi manajemen yang melihat manusia sebagai aset paling berharga. Dalam industri perhotelan yang sangat mengandalkan interaksi manusia, kepuasan tamu sangat bergantung pada kinerja dan keramahan staf. Dengan menjadikan mereka sebagai subjek utama perayaan, The Alana Hotel Malang membangun rasa memiliki dan kebanggaan yang pada akhirnya akan terefleksi dalam kualitas layanan.

Komitmen Berkelanjutan untuk Masa Depan

Pencapaian dua tahun bukanlah titik akhir, melainkan batu pijakan untuk lompatan yang lebih besar. The Alana Hotel Malang menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas di segala aspek. Hal ini mencakup pengembangan profesionalisme sumber daya manusia, penyempurnaan fasilitas, serta penghadiran pengalaman menginap yang lebih personal dan berkesan bagi setiap tamu.

Lokasi strategisnya di pusat kota Malang, ditunjang dengan fasilitas lengkap seperti ballroom, restoran, rooftop lounge, spa, dan kolam renang, telah menjadikan The Alana Hotel sebagai pilihan utama bagi pelancong bisnis maupun wisatawan. Ke depan, hotel bertekad untuk tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman menyeluruh khas Malang.

Merayakan dengan Hati, Membangun untuk Esok

Perayaan ulang tahun kedua The Alana Hotel Malang ini memberikan pesan yang jelas: kesuksesan sebuah bisnis hospitality dibangun dari dalam. Dengan mengedepankan apresiasi kepada karyawan dan mengintegrasikan nilai-nilai positif melalui berbagai kegiatan, hotel ini tidak hanya merayakan masa lalu tetapi juga sedang membentuk budaya korporat yang kuat dan resilien untuk menghadapi tantangan masa depan.

Di tengah persaingan industri perhotelan yang ketat, pendekatan people-centric yang diambil oleh The Alana Hotel Malang merupakan strategi yang cerdas dan berkelanjutan. Ketika para staf merasa dihargai dan menjadi bagian dari keluarga, mereka akan memberikan pelayanan terbaik yang tulus—sebuah keunggulan kompetitif yang tidak dapat disaingi oleh fasilitas fisik semata. Dua tahun pertama mungkin tentang bertahan dan tumbuh, tetapi langkah selanjutnya, dengan fondasi tim yang solid ini, adalah tentang melesat dan menjadi yang terdepan dalam menghadirkan hospitality berkelas di Malang Raya.

Dafam Pacific Caesar Surabaya Ajak Generasi Nostalgia Sambut 2026 dengan ‘Throwback’ Era 90-an

Surabaya, 10 Desember 2025 – Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut tahun baru, Dafam Pacific Caesar Surabaya menawarkan konsep perayaan yang tidak biasa: sebuah pelarian waktu ke era yang penuh warna dan energi. Mengusung tema “Semarak Akhir Tahun – Wanderer Years Ahead”, hotel yang terletak di Jalan Dr. Ir. Soekarno ini akan menggelar pesta malam tahun baru yang mengajak publik bernostalgia dengan semangat dekade 1990-an. Acara puncak ini akan digelar pada Rabu, 31 Desember 2025, mulai pukul 19.00 WIB di Pacific Sky Hall yang terletak di lantai 17, menawarkan paduan antara pemandangan gemerlap kota Surabaya dari ketinggian dengan dentuman musik lawas yang membangkitkan kenangan.

Konsep throwback ini diambil bukan tanpa alasan. Gelombang nostalgia gaya 90-an sedang melanda kuat di kalangan anak muda dan dewasa muda saat ini. Mulai dari fashion oversize, warna-warna neon yang mencolok, aksesori chunky, hingga musik hip-hop, R&B, dan grunge yang ikonik, semua menjadi tren yang kembali digandrungi. Dafam Pacific Caesar Surabaya menangkap momen budaya ini dan mengemasnya menjadi sebuah pengalaman perayaan yang imersif dan personal.

“Kami ingin Malam Tahun Baru kali ini berbeda,” ujar Hogi Budiarto, General Manager Dafam Pacific Caesar Surabaya. “Tema 90-an kami pilih karena memiliki daya tarik nostalgia yang kuat bagi berbagai kalangan. ‘Wanderer Years Ahead’ adalah undangan bagi tamu kami untuk bersenang-senang, mengenang masa muda, sekaligus menyambut tahun baru dengan energi positif yang segar.” Ia menambahkan bahwa lokasi di lantai tertinggi hotel akan menjamin pesta dengan pemandangan panorama kota terbaik di Surabaya.

Suasana pesta akan dihidupkan oleh dua penampil utama yang dijamin membangkitkan semangat era tersebut. DJ DEVIE akan memutar setlist lagu-lagu hits 90-an yang mampu membuat semua orang bergoyang, sementara Barcode Band akan membawakan irama live yang membakar semangat. Pengunjung dipersilakan untuk datang dengan outfit tema 90-an terbaik mereka, menambah keseruan dan atmosfer roleplay kolektif yang unik.

Edy Santoso, Sales & Marketing Manager, menekankan aspek musik sebagai jantung acara. “Kami sangat bersemangat untuk membawa vibe 90-an kembali ke atas panggung. Musik dari era itu abadi, dan kami akan menyajikan setlist yang dijamin akan membuat semua orang berdiri dan bernyanyi bersama. Ini akan menjadi malam yang epic dan penuh energi!” serunya.

Paket Lengkap untuk Pengalaman Tak Terlupakan

Hotel menyediakan dua opsi paket utama untuk merayakan momen spesial ini. Pertama, Gala Dinner Package yang menawarkan santapan mewah dengan harga normal IDR 175.000 net per orang. Bagi yang ingin berhemat, harga early bird sebesar IDR 150.000 net per orang dapat diperoleh dengan pemesanan sebelum batas waktu 15 Desember 2025.

Kedua, Room Package New Year Eve, paket lengkap untuk mereka yang ingin merayakan sekaligus menginap. Paket ini termasuk akomodasi semalam, sarapan pagi, dan tiket Gala Dinner untuk dua orang. Tamu dapat memilih dari tiga tipe kamar: Deluxe, Executive, atau Royal Suite. Harga normal paket ini mulai dari IDR 850.000 net per malam, dengan penawaran early bird sebesar IDR 750.000 net per malam. Paket ini merupakan solusi praktis dan nyaman untuk menghindari keramaian lalu lintas pasca-perayaan.

Tempat dan Aksesibilitas Strategis

Bertempat di Pacific Sky Hall di lantai 17, acara ini menjanjikan tidak hanya hiburan tetapi juga pemandangan spektakuler. Lokasi hotel yang strategis di kawasan MERR (Middle East Ring Road) memudahkan akses dari berbagai penjuru kota. Hotel hanya berjarak sekitar 10 menit dari Stasiun Gubeng, 15 menit dari Jembatan Suramadu, dan dekat dengan berbagai pusat perbelanjaan seperti Galaxy Mall dan Pakuwon City Mall.

Sebagai bagian dari Artotel Group, operator hotel Indonesia terkemuka, Dafam Pacific Caesar Surabaya membawa semangat integrasi konsep Stay, Dine, Play, dan Shop dalam perayaan ini. Event “Wanderer Years Ahead” ini juga selaras dengan program loyalitas grup, Artotel Wanderlust, yang menawarkan berbagai keuntungan dan diskon bagi anggota setianya.

Dengan menggabungkan daya pukau nostalgia, lokasi eksklusif di ketinggian, line-up hiburan yang solid, dan paket yang komprehensif, Dafam Pacific Caesar Surabaya tidak sekadar menyelenggarakan pesta tahun baru. Mereka menciptakan sebuah kapsul waktu sosial di mana berbagai generasi dapat bertemu, berbagi tawa atas memori masa lalu, dan bersama-sama melompat penuh harapan ke tahun 2026. Ini adalah undangan untuk tidak hanya melihat ke depan, tetapi juga sejenak menengok ke belakang, merayakan kekayaan budaya pop yang membentuk identitas masa kini.

Video: Kebakaran Besar Meletus di Pasar Era Soviet di St. Petersburg, 1 Tewas

EtIndonesia. Setidaknya satu orang dilaporkan tewas, dan dua lainnya luka-luka dalam kebakaran besar yang menyebar di pasar dalam ruangan di St. Petersburg, Rusia. Menurut Kementerian Situasi Darurat Rusia, sekitar 100 orang dievakuasi dari Pasar Pravoberezhnny di distrik Nevsky, St. Petersburg, saat petugas pemadam kebakaran berjuang memadamkan api.

Video dari lokasi kejadian menunjukkan kobaran api membubung ke langit malam melalui atap bagian seluas sekitar 1.500 meter persegi dari kompleks bersejarah era Soviet tersebut.

“Mempertimbangkan laju penyebaran api, beban bahan yang mudah terbakar, intensitas penyebaran api, dan pelepasan produk pembakaran, pasukan dan sumber daya tambahan dikerahkan ke lokasi kebakaran, termasuk laboratorium kimia bergerak. Luas total kebakaran adalah 1.500 meter persegi, dengan 26 unit peralatan dan 96 personel yang terlibat,” kata Igor Ulubikov, Kementerian Situasi Darurat Rusia.

Kebakaran dilaporkan dimulai sekitar pukul 17 : 00 waktu setempat pada hari Rabu di gedung pasar dua lantai yang terletak di Ulitsa Dybenko 16. Api menyebar dengan cepat, dipicu oleh bahan-bahan dengan beban api tinggi yang disimpan di dalam gedung selama musim Natal. Petugas tanggap darurat berhasil melokalisasi api sekitar pukul 19.22, meskipun upaya pemadaman berlanjut hingga malam hari.

Pejabat distrik Nevsky telah meluncurkan penyelidikan terhadap asal mula kebakaran. Pihak berwenang belum menentukan apa yang memicu kebakaran atau apakah ada pelanggaran keselamatan yang berkontribusi pada penyebarannya yang cepat di seluruh gedung.

Tentang Pasar Bersejarah

Pasar Pravoberezhnny, yang sebelumnya dikenal sebagai Pasar Pertanian Kolektif Nevsky, terletak di sebuah bangunan modernis era Soviet berukuran sekitar 25 x 100 meter. Bangunan ini dibangun antara tahun 1979 dan 1983 dan mendapatkan pengakuan budaya karena penampilannya dalam film Soviet tahun 1989 “Interdevochka.”

Pasar ini telah menghadapi pengawasan ketat terkait kepatuhan keselamatan kebakaran dalam beberapa tahun terakhir, dengan pihak berwenang melakukan beberapa inspeksi secara teratur.(yn)

Kisah Inspiratif:  Berusaha Semaksimal Mungkin

EtIndonesia. Kita tahu cerita fabel tentang “anjing pemburu yang tak bisa mengejar kelinci yang terluka.” Makna ceritanya sederhana: kelinci berjuang mati-matian demi hidupnya — dia mengeluarkan seluruh kekuatannya. Sementara anjing hanya mengejar demi “makan siang” — dia sekadar berusaha.

Dan dalam hidup, untuk meraih sesuatu yang benar-benar besar, berusaha saja tidak cukup — kita harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang kita punya.

Sejujurnya, bisa “berusaha sebaik mungkin” saja sudah sangat berharga. Itu cukup untuk membuat kita tidak menyesal. Tetapi jika ingin menjadi luar biasa, menciptakan keajaiban, membalikkan keadaan yang hampir runtuh, maka kita harus mengerahkan segalanya, menguras tenaga dan pikiran tanpa sisa.

Ungkapan “langit membalas kerja keras” bukan berarti kerja keras biasa. Dia hanya berlaku bagi mereka yang rela bersusah payah, begadang, berjuang seperti tak ada jalan kembali — seperti mempertaruhkan segalanya.

Di Alam Semesta, Semua Makhluk Berjuang Sekuat Tenaga

Ketika seekor anjing terdesak, dia bisa melompat ke dinding setinggi yang tidak pernah dia bayangkan. Kelinci yang terpojok bisa menggigit balik demi hidupnya. Ikan salmon (mahseer) menempuh perjalanan panjang penuh bahaya hanya untuk bertelur. Angsa kepala-bar (bar-headed goose) terbang melintasi Himalaya untuk menghindari musim dingin. Ribuan gnu di Afrika menempuh migrasi berbahaya demi menemukan rumput agar dapat bertahan hidup.

Semua itu dilakukan untuk satu tujuan: bertahan hidup dan meneruskan generasi. Tanpa mengerahkan seluruh tenaga, mereka akan mati membeku, mati kelaparan, atau mati diterkam predator.

Potensi Manusia: Jauh Lebih Besar dari yang Kita Bayangkan

Manusia disebut makhluk paling berakal, dan memang potensi kita luar biasa besar.

Psikolog menyebutkan bahwa:

  • Orang biasa hanya menggunakan 2%–8% dari potensinya.
  • Bahkan ilmuwan jenius seperti Einstein hanya mengembangkan sekitar 12% dari kapasitas otaknya.
  • Jika seseorang mengembangkan potensi hingga 40%, ia mampu menghafal 400 buku pelajaran, menyelesaikan belasan kurikulum perguruan tinggi, dan menguasai puluhan bahasa.

Berusaha sebaik mungkin berarti menggunakan kemampuan normal kita. Mengeluarkan seluruh kekuatan berarti menggali potensi terdalam yang bahkan kita sendiri tidak sadar memilikinya.

  • Berusaha itu mengikuti aturan,
  • Mengeluarkan seluruh kekuatan itu berani menembus batas.
  • Berusaha itu normal,
  • Mengeluarkan seluruh kekuatan itu luar biasa.

Sejarah penuh dengan contoh seperti itu:

  • Xiang Yu dengan strategi “bakar kapal dan pecahkan periuk” hingga akhirnya memenangkan seratus benteng Qin.
  • Goujian bangkit setelah bertahun-tahun menanggung hina, lalu membangun pasukan yang menumbangkan negara Wu.
  • Tentara Merah memaksa maju menembus Daduhe dan merebut Jembatan Luding.
  • Deng Xiaoping berkata saat membangun Zona Ekonomi Khusus: “Kalian lakukan sendiri — bukalah jalan kalian, meski harus menerobosnya dengan darah.”

Semua itu adalah contoh dari mengeluarkan seluruh kekuatan, dan semuanya berujung pada pencapaian gemilang.

Tidak Ada Keberhasilan Tanpa Pengorbanan

Setiap orang mendambakan keberhasilan. Tapi keberhasilan selalu memiliki syarat yang sama: seberapa banyak waktu, tenaga, dan keringat yang kamu investasikan.

Tokoh-tokoh besar hampir semuanya hidup dengan pola yang sama:

  • Newton begitu tenggelam dalam penelitian hingga tak pernah punya waktu untuk urusan percintaan.
  • Marx meninggal di depan meja kerjanya setelah seumur hidup “berenang” dalam lautan pemikiran.
  • Edison bekerja 16 jam sehari bahkan setelah usianya melewati 80 tahun.
  • Tu Youyou mengalami lebih dari 190 kegagalan sebelum menemukan artemisinin, obat penyelamat jutaan jiwa.
  • Michael Phelps, “si ikan terbang” di Olimpiade Beijing, berlatih dengan volume luar biasa — setiap hari, selama hampir 20 tahun.

Namun, sebagian orang yang kurang beruntung suka menyalahkan keadaan: menyalahkan orang tua karena tidak lahirkan mereka sebagai jenius, menyalahkan nasib karena pintu kesempatan seolah-olah selalu tertutup.

Padahal keberuntungan bukan datang pada mereka yang menunggu. “Tuhan tidak pernah memberi perlakuan khusus kepada siapa pun.”

Apa yang kita sebut ‘bakat’ sering kali hanyalah cinta yang luar biasa terhadap suatu pekerjaan. Dan apa yang kita sebut ‘kesempatan’ biasanya datang setelah kita berkali-kali jatuh bangun mengejarnya.

Bahkan kisah romantis “sekejap tawa, armada musuh musnah” dari Zengzi dan Zhou Yu dalam Kisah Tiga Negara pun tidak akan terjadi tanpa prajurit yang berjuang mati-matian. Tanpa mereka, yang menanti bukan kejayaan, melainkan tragedi “dua Qiao dikurung dalam menara tembaga.”

Pertanyaan Terakhir untuk Kita Semua

Setiap orang yang mendambakan keberhasilan besar dalam hidup seharusnya bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku sudah mengeluarkan seluruh kekuatanku?(jhn/yn)

Filosofi Hidup dari Elang dan Ular

EtIndonesia. Elang dan ular sejak dahulu memiliki permusuhan alami. Elang sangat suka menangkap ular—dia mencengkeram ular, membawanya terbang tinggi, lalu melepaskannya dari udara untuk membinasakannya. Setiap kali berhasil melakukan itu, elang merasa dirinya hebat dan penuh kemenangan.

Namun ular bukan makhluk yang mudah ditaklukkan. Jika yang ditangkap adalah ular berbisa, dia sering kali akan menggigit balik elang saat berada di udara. Elang yang terkena racun akan jatuh dan mati, dan tentu saja ular pun ikut hancur terhempas ke tanah.

Setelah berkali-kali mengalami perlawanan seperti ini, elang menjadi lebih cerdik. Dia belajar untuk menyambar bagian kepala ular terlebih dahulu agar si ular tidak punya kesempatan menggigit. Tetapi ular juga bereaksi: tubuhnya akan melilit kuat pada elang, semakin lama semakin ketat, hingga akhirnya elang mati kesakitan — dan keduanya kembali sama-sama binasa.

Meski pertempuran antara elang dan ular hampir selalu berakhir dengan luka besar di kedua pihak, elang tidak pernah mundur. Setiap tahun, selalu ada saat-saat di mana elang kembali memburu ular, seakan ingin mengalahkan nasib dan membuktikan dirinya.

Bagi elang, menangkap ular adalah pertarungan hidup-mati. Dia tahu risikonya, tahu bahaya yang mengintai setiap kali dia menukik ke tanah — namun dia tetap mencoba, tetap berani mengambil risiko, tetap menantang takdir.

Itulah karakter elang. Itulah kehebatan seekor elang.(jhn/yn)