Trump Belum Tiba, Beijing Sudah “Dikepung” Amerika? Pengamanan Super Ketat Ini Bikin Dunia Terkejut

EtIndonesia. Reuters dan sejumlah media internasional melaporkan bahwa pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke Beijing pada 13 hingga 15 Mei 2026.

Pengumuman tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional, bukan hanya karena pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, tetapi juga karena skala pengamanan Amerika Serikat yang disebut-sebut belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kunjungan luar negeri seorang presiden AS.

Dalam beberapa hari terakhir, Beijing dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas keamanan secara drastis. Pesawat angkut militer Amerika terus berdatangan, konvoi kendaraan Secret Service mulai terlihat di berbagai ruas jalan utama kota, sementara kawasan diplomatik dan hotel-hotel tertentu dijaga sangat ketat.

Para analis menilai situasi ini mencerminkan tingginya tingkat kewaspadaan Washington terhadap potensi risiko keamanan dan sensitivitas politik yang mengelilingi kunjungan Trump ke Tiongkok di tengah situasi geopolitik global yang masih tegang.


12 Pesawat Militer C-17 Dikerahkan, Disebut Pecahkan Rekor Kunjungan Presiden AS

Menurut laporan yang beredar pada Senin, 11 Mei 2026, militer Amerika Serikat kembali mengirim empat pesawat angkut strategis C-17 Globemaster III dari Pangkalan Udara Misawa di Jepang menuju Beijing.

Kedatangan empat pesawat tambahan tersebut membuat total pesawat C-17 yang digunakan dalam kunjungan ini mencapai 12 unit.

Jumlah tersebut langsung menjadi sorotan besar karena dianggap jauh melampaui standar pengamanan kunjungan presiden Amerika sebelumnya.

Sebagai perbandingan, ketika Trump melakukan kunjungan ke Tiongkok pada tahun 2017, Washington dilaporkan hanya mengerahkan dua pesawat angkut militer.

Lonjakan jumlah armada kali ini membuat banyak pengamat menyebut bahwa pemerintah Amerika memperlakukan kunjungan tersebut layaknya operasi keamanan tingkat tertinggi.

Pesawat C-17 sendiri merupakan salah satu pesawat angkut strategis utama milik militer AS yang mampu membawa kendaraan lapis baja, perlengkapan komunikasi, sistem keamanan, kendaraan antipeluru, hingga logistik lengkap untuk mendukung operasional presiden Amerika di luar negeri.

Beberapa analis bahkan menggambarkan armada tersebut sebagai “Gedung Putih bergerak”, karena hampir seluruh kebutuhan operasional presiden dapat dipindahkan dan dijalankan secara mandiri di negara tujuan.

Langkah pengamanan yang sangat besar ini dinilai menunjukkan bahwa Washington tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun selama Trump berada di Beijing.


Puluhan Kendaraan Secret Service Terlihat di Jalanan Beijing

Selain pesawat militer, warga Beijing dalam beberapa hari terakhir juga mulai melihat iring-iringan kendaraan keamanan Amerika Serikat di berbagai lokasi strategis kota.

Menurut perhitungan sejumlah netizen Tiongkok yang ramai dibahas di media sosial, saat ini terdapat sekitar 70 kendaraan pengamanan Amerika yang sudah berada di Beijing.

Konvoi tersebut diyakini terdiri dari kendaraan Secret Service, mobil komunikasi taktis, kendaraan antipeluru, serta unit pendukung logistik lainnya.

Kehadiran kendaraan-kendaraan tersebut langsung menarik perhatian masyarakat karena jumlahnya jauh lebih besar dibanding kunjungan pejabat asing pada umumnya.

Beberapa video yang beredar memperlihatkan kendaraan hitam beriringan melintas di sejumlah ruas jalan utama ibu kota Tiongkok dengan pengawalan ketat.

Situasi ini memperlihatkan betapa seriusnya pemerintah Amerika dalam menjamin keamanan Trump selama berada di Tiongkok.


Hotel Tempat Trump Menginap Dijaga Ketat

Di tengah meningkatnya aktivitas keamanan tersebut, perhatian publik juga tertuju pada hotel yang diduga akan menjadi tempat menginap Trump selama berada di Beijing.

Kalangan diplomatik di Beijing menyebut bahwa Trump kemungkinan besar akan menginap di Four Seasons Hotel Beijing.

Hotel mewah tersebut dianggap memiliki posisi yang sangat strategis karena hanya berjarak sekitar lima menit dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beijing.

Lokasi itu dinilai ideal untuk kebutuhan pengamanan, evakuasi cepat, serta mobilitas delegasi Amerika.

Karena alasan tersebut, hotel itu selama bertahun-tahun disebut menjadi pilihan utama bagi pejabat tinggi Amerika Serikat yang melakukan kunjungan ke Tiongkok.

Belakangan ini suasana di sekitar hotel dilaporkan jauh lebih tegang dibanding biasanya.

Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa lebih dari 20 kendaraan polisi terlihat berjaga di sekitar area hotel bintang lima tersebut.

Pengamanan diperketat di berbagai titik akses masuk, sementara aktivitas personel keamanan meningkat tajam menjelang kedatangan delegasi Amerika.

Berdasarkan informasi dari situs resmi hotel, seluruh kamar untuk periode 12 hingga 15 Mei 2026 dilaporkan sudah habis dipesan.


Suite Presidensial Rp 220 Juta per Malam Jadi Sorotan

Hotel Four Seasons Beijing sebelumnya juga pernah menjadi pusat perhatian internasional ketika Lionel Messi menginap di sana saat berkunjung ke Beijing pada tahun 2023.

Namun kali ini sorotan tertuju pada suite presidensial hotel tersebut yang disebut memiliki fasilitas kelas kepala negara.

Suite itu dilengkapi ruang kantor pribadi, area rapat eksklusif, hingga aula jamuan besar yang dirancang untuk menerima tamu-tamu penting tingkat internasional.

Tarif kamar tersebut dilaporkan mencapai sekitar 100 ribu yuan per malam atau setara lebih dari Rp220 juta.

Besarnya biaya dan fasilitas keamanan di hotel itu semakin memperlihatkan tingginya level persiapan yang dilakukan menjelang pertemuan Trump dan Xi Jinping.


Elon Musk Dikabarkan Ikut dalam Delegasi Trump

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kunjungan ini, Reuters pada 11 Mei juga melaporkan perkembangan lain yang mengejutkan.

Kunjungan Trump ke Tiongkok disebut tidak hanya melibatkan pejabat pemerintahan, tetapi juga akan diikuti sejumlah tokoh bisnis paling berpengaruh di Amerika Serikat.

Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Elon Musk.

Reuters mengutip pejabat Gedung Putih yang menyebut bahwa pendiri Tesla dan SpaceX tersebut kemungkinan akan ikut bersama delegasi bisnis Amerika dalam perjalanan ke Beijing minggu ini.

Kehadiran Musk dipandang sangat penting mengingat hubungan bisnisnya dengan Tiongkok sangat besar, terutama melalui pabrik Tesla di Shanghai yang menjadi salah satu basis produksi utama perusahaan tersebut di dunia.

Selain Musk, sejumlah CEO perusahaan besar Amerika lainnya juga dikabarkan akan ikut dalam rombongan delegasi ekonomi.


Gedung Putih: Trump Datang untuk Membawa Kesepakatan Besar

Juru bicara utama Gedung Putih yang baru dilantik, Katie Miller, mengatakan kepada Fox News bahwa kunjungan Trump bukan sekadar agenda simbolis.

Ia menegaskan bahwa Presiden Trump selalu datang dengan target konkret yang berhubungan langsung dengan kepentingan ekonomi dan strategis Amerika Serikat.

Menurut Miller, rakyat Amerika dapat berharap bahwa perjalanan ini akan menghasilkan lebih banyak kesepakatan penting yang menguntungkan bagi Washington.

Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi luas bahwa pembicaraan Trump dan Xi Jinping kemungkinan tidak hanya akan membahas hubungan diplomatik, tetapi juga mencakup isu perdagangan, teknologi, investasi, keamanan regional, hingga masa depan hubungan ekonomi kedua negara.

Banyak pengamat menilai pertemuan ini dapat menjadi salah satu momen geopolitik paling penting pada tahun 2026, terutama ketika hubungan AS-Tiongkok masih dibayangi persaingan ekonomi, konflik teknologi, serta ketegangan strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Kini perhatian dunia tertuju ke Beijing, menunggu bagaimana hasil pertemuan dua pemimpin negara dengan pengaruh terbesar di dunia tersebut. (***)

Trump Siapkan Serangan Baru? Ledakan Misterius Guncang Iran, Operation Freedom Akan Dimulai Lagi!

EtIndonesia— Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan bahwa operasi blokade laut terhadap Iran masih terus berlangsung. Dalam perkembangan terpisah, ledakan besar dilaporkan mengguncang wilayah pegunungan di Provinsi Fars, Iran, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan kembali opsi militer terhadap Teheran.

Menurut informasi yang diumumkan pada Senin, 11 Mei 2026, CENTCOM menyatakan bahwa operasi militer laut Amerika masih difokuskan untuk menekan pergerakan kapal yang berkaitan dengan Iran. Situs resmi CENTCOM juga menampilkan aktivitas militer AS di kawasan Teluk Oman dan Laut Arab, termasuk operasi terhadap kapal berbendera Iran serta pengalihan kapal dagang dalam rangka penegakan blokade.

Dalam laporan yang beredar, disebutkan bahwa sedikitnya 62 kapal dagang terpaksa mengubah rute pelayarannya akibat situasi tersebut. Selain itu, empat kapal lain dilaporkan kehilangan kemampuan operasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan maritim terhadap Iran belum mereda, bahkan justru semakin luas.

Pada hari yang sama, wilayah pegunungan di Provinsi Fars, Iran, mendadak diguncang ledakan dahsyat. Sejumlah warga setempat mengaku sempat melihat benda terbang tak dikenal menghantam sebuah lokasi sebelum ledakan terjadi. Rekaman video yang beredar memperlihatkan asap tebal membumbung tinggi ke langit, disertai suara ledakan beruntun yang sangat keras.

Hingga kini, penyebab pasti ledakan tersebut belum dapat dipastikan secara independen. Namun, sejumlah spekulasi menyebutkan bahwa ledakan itu kemungkinan dipicu oleh serangan kecil, bom mikro, atau amunisi yang mengenai fasilitas bawah tanah di kawasan pegunungan. Jika benar, lokasi tersebut diduga memiliki kaitan dengan gudang persenjataan atau infrastruktur militer tersembunyi Iran.

Situasi semakin rumit setelah televisi pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Teheran telah melancarkan serangan rudal dan drone ke arah Kuwait serta Uni Emirat Arab. Dalam laporan itu disebutkan bahwa sebagian besar serangan difokuskan ke wilayah UEA, dengan klaim lebih dari 2.800 rudal dan drone diarahkan ke negara tersebut. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi menunjukkan betapa seriusnya eskalasi militer di kawasan Teluk.

Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, juga dilaporkan menyatakan bahwa UEA sedang memperkuat hubungan strategisnya dengan Amerika Serikat secara besar-besaran. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa negara-negara Teluk mulai mengambil posisi lebih tegas di tengah meningkatnya ancaman Iran.

Di luar Iran, gerakan oposisi pendukung Dinasti Pahlavi juga terlihat semakin aktif. Pada 11 Mei 2026, media “Kaiyuan Alert” melaporkan bahwa kelompok oposisi Iran di luar negeri menggelar demonstrasi besar di pusat kota Kopenhagen, Denmark. Mereka tampil mengenakan seragam militer yang seragam dan menunjukkan formasi yang rapi.

Seorang netizen bernama “Lion” menulis komentar yang menarik perhatian: “Kami sudah siap. Persenjatai kami, latih kami, dan berikan dukungan intelijen serta perlindungan udara. Kami adalah jutaan rakyat Iran patriotik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.”

Ia juga membagikan video lain yang disebut direkam di Jerman pada 10 Mei 2026. Dalam video tersebut, kelompok oposisi Iran terlihat melakukan parade dengan pakaian seragam dan gerakan yang terkoordinasi. Aksi ini memicu perhatian publik internasional karena memperlihatkan adanya kesiapan sebagian kelompok diaspora Iran untuk mendukung perubahan politik di tanah air mereka.

Di Washington, Presiden Donald Trump dalam wawancara bersama Fox News mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali “Operation Freedom”. Kali ini, operasi tersebut disebut tidak hanya terbatas pada pengawalan kapal di Selat Hormuz, tetapi bisa memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Laporan Axios pada 11 Mei 2026 menyebutkan bahwa Trump bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali aksi militer terhadap Iran. Axios juga melaporkan bahwa salah satu opsi yang dibahas adalah menghidupkan kembali operasi angkatan laut AS di Selat Hormuz sebagai tekanan tambahan terhadap Teheran.

Menurut laporan yang sama, Trump masih menginginkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Namun, penolakan Iran terhadap tuntutan utama Amerika, khususnya terkait program nuklir, membuat opsi militer kembali masuk ke meja pembahasan.

Pilihan yang dibahas Washington antara lain mengaktifkan kembali Operation Freedom, melanjutkan pengawalan kapal perang AS di Selat Hormuz, serta membuka kemungkinan serangan lanjutan terhadap target-target strategis di dalam Iran.

Dalam isu nuklir, Trump menyampaikan pernyataan keras bahwa Amerika “cepat atau lambat” akan mendapatkan uranium yang telah diperkaya milik Iran. Pasukan Antariksa Amerika Serikat disebut terus mengawasi lokasi penyimpanan uranium tersebut. Trump bahkan memperingatkan bahwa siapa pun yang mencoba mendekati lokasi itu dapat langsung dihancurkan oleh militer AS.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mendesak agar ancaman uranium Iran dihapus sepenuhnya. Israel dilaporkan mendorong opsi pengerahan pasukan khusus untuk merebut cadangan uranium yang telah diperkaya milik Iran.

Sementara itu, laporan The Guardian pada 11 Mei 2026 menggambarkan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran berada dalam kondisi sangat rapuh. Trump disebut menolak proposal perdamaian Iran, sementara ketegangan di Selat Hormuz terus mengganggu jalur pelayaran dan rantai pasok global.

Dengan blokade laut yang masih berlangsung, ledakan misterius di wilayah Iran, meningkatnya aktivitas oposisi luar negeri, serta kemungkinan dimulainya kembali operasi militer Amerika, kawasan Timur Tengah kini memasuki salah satu fase paling berbahaya dalam konflik terbaru ini.

Jika Washington benar-benar menghidupkan kembali Operation Freedom dalam skala yang lebih besar, maka konflik AS-Iran berpotensi bergerak dari tekanan diplomatik dan blokade laut menuju babak konfrontasi militer yang jauh lebih terbuka. (***)

AS Mulai “Mencekik” Iran! Jalur Uang ke Tiongkok Diburu, 9 Perusahaan Langsung Disanksi

EtIndonesia — Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Pada Senin, 11 Mei 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat secara resmi mengumumkan paket sanksi baru yang menargetkan sejumlah individu dan perusahaan yang diduga terlibat dalam jaringan penjualan minyak Iran ke Tiongkok.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi “tekanan maksimum” Washington terhadap Teheran, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta memanasnya hubungan Amerika Serikat dengan Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam pernyataan resminya, Departemen Keuangan AS menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan terus memperluas tekanan ekonomi untuk memutus sumber pendanaan utama Iran, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Pemerintah AS menuduh jaringan perusahaan tersebut membantu Iran menyembunyikan asal-usul minyak, memfasilitasi pengiriman lintas negara, hingga membantu transaksi keuangan internasional yang memungkinkan Teheran tetap memperoleh pemasukan besar meskipun berada di bawah embargo dan sanksi internasional.

Perusahaan di Hong Kong, UEA, dan Oman Jadi Target

Dalam paket sanksi terbaru ini, Amerika Serikat menjatuhkan pembatasan terhadap:

  • Empat perusahaan yang berbasis di Hong Kong
  • Empat perusahaan di Uni Emirat Arab
  • Satu perusahaan di Oman

Menurut Departemen Keuangan AS, perusahaan-perusahaan tersebut diduga berperan sebagai perantara dalam rantai distribusi minyak Iran menuju pasar Tiongkok.

Washington menilai jaringan ini sengaja dibentuk untuk membantu Iran menghindari pengawasan internasional, termasuk dengan menggunakan perusahaan cangkang, pengalihan dokumen pengiriman, hingga metode transfer kapal-ke-kapal di laut untuk menyamarkan asal minyak.

Pemerintah AS menyebut praktik semacam ini telah menjadi pola utama yang digunakan Iran selama bertahun-tahun untuk mempertahankan ekspor minyaknya di tengah tekanan sanksi Barat.

Amerika Ingin Putus Sumber Dana Iran

Dalam keterangannya, Departemen Keuangan AS menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah melemahkan kemampuan Iran dalam mengumpulkan dana yang disebut digunakan untuk mendukung aktivitas militer regional dan program strategisnya.

Washington secara khusus menyoroti peran Garda Revolusi Iran, yang oleh AS dikategorikan sebagai organisasi teroris asing.

Pemerintah Amerika menyatakan bahwa hasil penjualan minyak Iran diduga digunakan untuk mendanai berbagai operasi regional, termasuk dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata sekutu Iran di Timur Tengah.

Karena itu, AS menilai pemutusan jalur pendanaan menjadi bagian penting dalam strategi menghadapi Teheran.

Scott Bessent: Tiongkok Membeli Hampir Seluruh Minyak Iran

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dalam pernyataannya mengatakan bahwa Tiongkok saat ini membeli sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.

Pernyataan tersebut mempertegas posisi Tiongkok sebagai pasar utama energi Iran di tengah sanksi internasional yang semakin ketat.

Menurut Washington, tanpa pembelian dari Tiongkok, kemampuan Iran mempertahankan pemasukan devisa dari sektor energi akan mengalami tekanan sangat besar.

Pemerintah AS juga menuduh sejumlah perusahaan logistik dan perdagangan internasional membantu proses distribusi minyak Iran ke pasar Asia dengan menggunakan jalur tidak transparan.

Hubungan Iran dan Tiongkok Jadi Sorotan

Hubungan ekonomi antara Iran dan Tiongkok memang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah tekanan Barat, Beijing tetap mempertahankan kerja sama ekonomi dan energi dengan Teheran. Tiongkok bahkan menjadi salah satu penyelamat utama ekonomi Iran melalui pembelian minyak dalam jumlah besar.

Banyak analis internasional menilai bahwa hubungan ini kini bukan sekadar kerja sama energi biasa, melainkan telah berkembang menjadi kemitraan strategis yang memiliki dampak besar terhadap keseimbangan geopolitik global.

Amerika Serikat sendiri berulang kali memperingatkan bahwa pihak mana pun yang membantu Iran menghindari sanksi dapat ikut dikenai tindakan hukuman ekonomi.

Ketegangan Timur Tengah Terus Memanas

Pengumuman sanksi terbaru ini muncul di tengah situasi Timur Tengah yang semakin tidak stabil sepanjang Mei 2026.

Dalam beberapa hari terakhir, kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz terus menjadi pusat perhatian dunia setelah muncul berbagai laporan mengenai:

  • serangan drone,
  • ledakan misterius,
  • gangguan jalur pelayaran,
  • hingga operasi militer laut yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Washington menilai tekanan ekonomi harus berjalan bersamaan dengan tekanan militer dan diplomatik untuk memaksa Iran kembali memenuhi tuntutan internasional terkait program nuklir dan aktivitas regionalnya.

Sementara itu, Iran terus menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk terhadap tekanan Amerika dan tetap akan mempertahankan hak ekonominya, termasuk ekspor minyak.

Situasi ini membuat ketegangan antara kedua negara kembali berada pada titik yang sangat sensitif, dengan risiko eskalasi yang sewaktu-waktu dapat memicu dampak lebih luas terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi dunia. (***)

Seorang Wali Kota di Amerika Serikat Mengaku Bersalah! Akui Dirinya Sebagai Agen Mata-mata Partai Komunis Tiongkok

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Amerika Serikat meningkatkan penyelidikan terhadap aktivitas mata-mata Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dari dunia akademik hingga sektor teknologi, dari komunitas Tionghoa hingga masyarakat arus utama, semakin banyak agen PKT yang mengumpulkan intelijen dan merugikan masyarakat Amerika Serikat dijatuhi hukuman. Kini, dunia politik AS juga disebut telah terpengaruh. Wali Kota dari Arcadia, Califronia, Eileen Wang, mengakui bahwa dirinya bekerja untuk PKT.

EtIndonesia. Wali Kota Arcadia, California, Amerika Serikat Eileen Wang mengaku bersalah karena bertindak sebagai perantara bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), demikian diumumkan Departemen Kehakiman AS pada  Senin (11/5/2026). Setelah didakwa secara diam-diam menjalankan arahan pemerintah asing, Wang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wali kota di kota California Selatan itu.

Wang  menjalani sidang perdana pada Senin sore di Pengadilan Distrik AS di pusat kota Los Angeles dan secara resmi mengajukan pengakuan bersalahnya dalam beberapa minggu mendatang.

Wang terpilih menjadi anggota Dewan Kota Arcadia pada November 2022 dan menjabat sebagai wali kota ketika dakwaan diajukan. Jabatan wali kota dirotasi di antara lima anggota dewan kota.

Kota Arcadia terletak sekitar 13 mil di timur laut pusat kota Los Angeles.

Wang mengundurkan diri pada hari Senin setelah pengumuman dakwaan tersebut, menurut pernyataan Manajer Kota Arcadia, Dominic Lazzaretto. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang memastikan tidak ada dana maupun staf kota yang terlibat.

Menurut dokumen pengadilan, dari akhir tahun 2020 hingga 2022, Wang dan Yaoning ‘Mike’ Sun, 65 tahun, dari Chino Hills—yang saat itu merupakan tunangan sekaligus bendahara kampanyenya—bekerja atas nama instruksi yang disampaikan oleh operator rezim Tiongkok.

Keduanya mengelola sebuah situs bernama U.S. News Center, yang dipasarkan kepada komunitas Tionghoa-Amerika lokal sebagai media berita, tetapi menurut jaksa digunakan untuk menyebarkan propaganda Partai Komunis Tiongkok.

Pada Juni 2021, menurut perjanjian pengakuan bersalah Wang, seorang pejabat partai komunis Tiongkok menghubunginya melalui platform pesan WeChat dan mendistribusikan konten yang sudah disiapkan sebelumnya, termasuk artikel yang diterbitkan di Los Angeles Times, yang menyatakan:

“Sikap Tiongkok mengenai isu Xinjiang—Tidak ada genosida di Xinjiang; tidak ada yang disebut ‘kerja paksa’ dalam aktivitas produksi apa pun, termasuk produksi kapas. Penyebaran rumor semacam itu bertujuan mencemarkan nama Tiongkok, menghancurkan keamanan dan stabilitas Xinjiang, melemahkan ekonomi lokal, dan menekan perkembangan Tiongkok.”

Dalam hitungan menit, Wang mengunggah artikel tersebut ke situs webnya dan mengirimkan tautannya kepada pejabat tersebut, yang kemudian menjawab, “Cepat sekali, terima kasih semuanya,” menurut jaksa.

Pada Agustus 2021, Wang mulai mengedit artikel atas permintaan seorang pejabat dan meneruskan tangkapan layar yang menunjukkan jumlah pembaca artikel tersebut. Setelah sebuah unggahan memperoleh 15.128 tayangan, pejabat itu berkata, “Hebat!” dan Wang membalas, “Terima kasih pemimpin.”

Wang tidak pernah memberitahukan kepada Jaksa Agung AS bahwa ia bekerja sebagai operator PKT, dan ia juga tidak pernah mengungkapkan di situs webnya bahwa sebagian kontennya diterbitkan atas arahan pejabat PKT, sebagaimana diakuinya dalam perjanjian pengakuan bersalah.

Pengacara Wang, Jason Liang dan Brian Sun, menyatakan bahwa Wang bertanggung jawab atas “kesalahan pribadi di masa lalu” dan memahami beratnya dakwaan terhadap dirinya.

“Ia meminta maaf dan menyesali kesalahan yang telah dibuat dalam kehidupan pribadinya,” demikian bunyi pernyataan tersebut. “Cinta dan pengabdiannya terhadap komunitas Arcadia tidak berubah dan tidak pernah goyah.”

Dokumen pengadilan juga menunjukkan bahwa Wang berkorespondensi pada November 2021 dengan John Chen, yang diidentifikasi sebagai tokoh senior dalam struktur intelijen PKT dan pernah menghadiri acara elit PKT serta bertemu langsung dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping. Saat mengirim tautan artikel yang ingin diperkuat penyebarannya oleh Chen, Wang menulis, “Ini yang ingin dikirim oleh Kementerian Luar Negeri.”

Chen dijatuhi hukuman 20 bulan penjara federal pada November 2024 setelah mengaku bersalah bertindak sebagai agen ilegal Tiongkok dan berkonspirasi menyuap pejabat publik.

Chen menggambarkan Wang dalam komunikasinya dengan pejabat Tiongkok sebagai “bintang politik baru” dan menyebut Sun serta Wang sebagai bagian dari “tim dasar yang didedikasikan untuk kami.” Sun, yang pernah bertugas di Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, selama puluhan tahun menjadi “tangan kanan” Chen di Amerika Serikat, menurut jaksa.

Selain itu, pada November 2021 Wang juga menjalin kontak dengan agen PKT bernama Chen Jun. Chen sebelumnya dijatuhi hukuman 20 bulan penjara karena menyuap pegawai Internal Revenue Service (IRS) AS atau dinas pajak AS untuk membantu Partai Komunis Tiongkok menekan kelompok Falun Gong di luar negeri. Reporter NTD Li Jiayin menambahkan bahwa FBI saat ini masih terus menyelidiki kasus tersebut. 

Pejabat kontraintelijen FBI, Roman Rozhavsky, memperingatkan: “Siapapun yang mewakili pemerintah asing untuk mempengaruhi sistem demokrasi Amerika Serikat akan diselidiki secara menyeluruh dan diproses sesuai hukum.”

Sun mengaku bersalah pada Oktober 2025 atas satu dakwaan bertindak sebagai agen asing dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada Februari lalu.

“Hal ini sangat mengkhawatirkan bahwa seseorang yang sebelumnya menerima dan menjalankan arahan dari pejabat pemerintah Republik Rakyat Tiongkok kini berada dalam posisi kepercayaan publik, terlebih lagi karena hubungan dengan pemerintah asing tersebut tidak pernah diungkapkan,” kata Asisten Jaksa Agung untuk Keamanan Nasional, John A. Eisenberg, dalam sebuah pernyataan.

Wang menghadapi ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara.

Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Banyak Wilayah di Shandong, Tiongkok Dihantam Hujan Es Besar, Sebesar Telur Ayam, Jalanan Seketika Jadi “Sungai Es”

Pada 11 Mei, banyak wilayah di Provinsi Shandong, Tiongkok, dilanda hujan es besar. Jalanan seketika tertutup butiran es padat hingga tampak seperti “sungai es”. Di beberapa daerah, ukuran hujan es bahkan sebesar telur ayam.

EtIndonesia. Pada 11 Mei, wilayah seperti Qingdao, Jinan, Linyi, Laiwu, Weifang, dan Rizhao mengalami petir hebat disertai hujan lebat dan angin kencang. Beberapa daerah dilanda hujan es, dengan ukuran sebesar telur ayam, bahkan di sebagian tempat hujan es menumpuk hingga menyerupai sungai es.

Banyak video yang diunggah netizen menunjukkan hujan deras turun disertai hujan es yang sangat padat. Butiran es menghantam tanah dengan suara keras. Banyak tanaman pertanian rusak akibat hujan es, dan kaca mobil berlubang akibat hantaman es.

Sejumlah netizen setempat meninggalkan komentar: “Laiwu tiba-tiba turun hujan es selama sekitar 20 menit. Yang besar sebesar telur ayam, yang kecil seperti buah leci.”

“Atap rumah saya rusak lebih dari 50 genteng. Baru saja selesai diperbaiki, dua pipa panel surya juga pecah.”

“Hujan es di Linyi sangat parah, pohon buah dan tanaman pertanian rusak. Petani benar-benar tidak mudah.”

Seorang warga Yishui bermarga Kong mengatakan kepada media daratan Tiongkok bahwa ini adalah hujan es terbesar yang pernah ia lihat sejak tahun 1990. Diameter terbesar mencapai 6 hingga 7 sentimeter. Tanaman pertanian milik petani hancur total, dan banyak kaca pecah.

Pada 11 Mei  pukul 16.00 , Pusat Meteorologi Provinsi Shandong kembali mengeluarkan peringatan kuning cuaca konvektif kuat. Diperkirakan dari sore hingga malam hari, wilayah tenggara Jinan, selatan Zibo, selatan Weifang, Linyi, Rizhao, Qingdao, Yantai, dan Weihai akan mengalami hujan badai atau hujan deras. Sebagian wilayah diperkirakan mengalami hujan es, dengan angin kencang saat badai mencapai level 7 hingga 9, bahkan lebih dari level 10 di beberapa tempat.

Menurut Biro Meteorologi Jinan, pada 11 Mei pukul 15.20, peringatan kuning hujan es untuk Distrik Laiwu dan Distrik Gangcheng ditingkatkan menjadi peringatan merah hujan es. Diperkirakan hingga pukul 18.00, beberapa kota dan kecamatan di wilayah tersebut akan mengalami badai petir disertai hujan es berdiameter lebih dari 20 milimeter.

Sumber : NTDTV.com

Kota Kecil di Alaska Mataharinya Terbit dan Baru Akan Terbenam 84 Hari Kemudian

EtIndonesia. Sebuah Video direkam di kota kecil paling utara Alaska, Utqiagvik, pada Minggu dini hari (10 Mei). Dalam video tersebut terlihat matahari perlahan muncul di sepanjang cakrawala, lalu menggantung tinggi di langit. Namun yang mungkin sulit dibayangkan, matahari ini akan terus bersinar selama 84 hari tanpa terbenam.

Setelah pukul 19.30 pada Sabtu malam, bangunan-bangunan di Utqiagvik mulai memunculkan bayangan, tetapi matahari masih belum terlihat.

Barulah pada Minggu dini hari, cahaya keemasan matahari muncul di cakrawala.

Berbeda dengan daerah lain di mana matahari biasanya terus naik tinggi di langit, di kota kecil ini matahari bergerak perlahan sejajar dengan cakrawala. Sekitar pukul 06.00 pagi, matahari mulai naik perlahan, dan bahkan pada tengah hari pukul 12 siang, sinarnya masih tampak miring.

Yang lebih menarik lagi, setelah matahari terbit kali ini, ia akan terus menyinari bumi selama 84 hari dan baru akan terbenam pada 2 Agustus. Periode ini disebut fenomena “matahari tengah malam” atau siang kutub, ketika wilayah tersebut mengalami siang terus-menerus.

Utqiagvik terletak sekitar 515 kilometer di utara Lingkar Arktik dan sekitar 2.100 kilometer dari Kutub Utara.

Setiap tahun dari November hingga Januari, wilayah ini juga mengalami 65 hari tanpa matahari, yang dikenal sebagai malam kutub atau polar night.

Laporan reporter NTD, Ren Hao, dari Amerika Serikat.

Bayi 2 Tahun Naik Bus Sendirian, Untung Bertemu Sopir yang Baik Hati

EtIndonesia. Pada 7 Mei, seorang sopir bus di Turkiye sedang mengemudikan bus kosong dan bersiap memulai pekerjaannya. Tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan bayi dari dalam bus. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sebuah bus sedang berhenti di pinggir jalan dengan pintu terbuka lebar. Sopir memanfaatkan waktu sebelum keberangkatan untuk membeli roti di pinggir jalan sebagai pengganjal perut.

Tak disangka, seorang balita kecil yang penasaran naik ke dalam bus tanpa ada yang menyadarinya, lalu berjalan hingga ke bagian belakang bus.

Saat itu waktu sudah hampir pukul 19.00 malam. Setelah menyelesaikan perjalanan tersebut, sang sopir bisa pulang dan makan malam di rumah. Dengan perasaan senang, ia pun menyalakan mesin bus dan mulai berjalan.

Tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan bayi yang aneh dari belakang bus. Ia sempat menoleh, tetapi tidak melihat apa pun. Karena merasa ada yang tidak beres, ia segera menghentikan bus dan memeriksa bagian belakang dengan teliti.

Akhirnya, ia menemukan seorang balita yang baru berusia 2 tahun.

Sopir itu segera menggendong balita tersebut ke bagian depan bus, lalu mengemudikan kembali bus ke tempat semula untuk mencari orang tua anak itu.

Tak lama kemudian, sang anak akhirnya berhasil dipertemukan kembali dengan kedua orang tuanya.

Video kejadian ini menjadi viral di internet, dan banyak orang memuji kebaikan hati sang sopir bus.

Laporan reporter NTD, Ren Hao, dari Amerika Serikat.

Uni Emirat Arab Pernah Diam-Diam Melancarkan Serangan Udara, Lumpuhkan Kilang Minyak Iran

The Wall Street Journal pada 11 Mei mengutip laporan dari sumber internal yang menyebutkan bahwa selama perang di Timur Tengah, Uni Emirat Arab pernah melancarkan serangan militer rahasia terhadap target di Iran, termasuk serangan udara terhadap sebuah kilang minyak di Lavan Island.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa serangan itu terjadi pada awal April, dan hingga kini pemerintah Uni Emirat Arab belum secara terbuka mengakui operasi tersebut.

EtIndonesia. Pada 8 April, hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa fasilitas minyak di Lavan Island terkena serangan udara. Iran kemudian melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Menurut laporan The Wall Street Journal, serangan udara tersebut menyebabkan kilang minyak Iran terbakar hebat dan kapasitas produksinya hampir lumpuh total.

Televisi Republik Islam Iran saat itu mengutip pernyataan Perusahaan Nasional Pengolahan dan Distribusi Minyak Iran yang mengatakan bahwa fasilitas penyulingan di Lavan Island mengalami serangan hebat sekitar pukul 10 pagi waktu setempat. Sebagai balasan, Teheran menembakkan sejumlah besar rudal dan drone ke Uni Emirat Arab dan Kuwait.

Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab hanya menyatakan melalui platform X bahwa sistem pertahanan udara mereka sedang menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Iran memusatkan sebagian besar serangannya kepada Uni Emirat Arab, dengan lebih dari 2.800 rudal dan drone diarahkan ke negara tersebut, jumlah yang disebut jauh melebihi serangan terhadap negara lain mana pun, termasuk Israel.

Seorang sumber mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa Washington tidak merasa terlalu khawatir terhadap serangan udara Uni Emirat Arab, karena perjanjian gencatan senjata saat itu belum resmi berlaku sepenuhnya.

Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, pada April lalu mengatakan kepada para wartawan bahwa ketika seluruh negara Teluk Persia menghadapi risiko keamanan yang semakin meningkat dan mulai mempertanyakan apakah Amerika Serikat masih merupakan pelindung yang dapat diandalkan, Uni Emirat Arab justru semakin memperkuat hubungan dengan AS.

Sumber : NTDTV.com

Kecelakaan Aneh: Sepeda Motor Setelah Menabrak BMW Malah Tersangkut di Lampu Lalu Lintas

EtIndonesia. Sebuah kecelakaan lalu lintas yang aneh terjadi pada 9 Mei sore di Provinsi British Columbia, Kanada. Sebuah sepeda motor terlihat tergantung tinggi di lampu lalu lintas di sebuah persimpangan jalan. Beruntung, pengendara motor tersebut meski mengalami luka parah, tidak berada dalam kondisi yang mengancam jiwa.

Pada 9 Mei sore, di sebuah persimpangan di Delta, sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak sebuah mobil BMW yang sedang bersiap berbelok ke kiri.

Pengendara motor langsung terpental dan jatuh keras ke jalan. Namun yang mengejutkan sekaligus terdengar lucu adalah sepeda motornya tidak jatuh di jalan raya, melainkan tersangkut tinggi di lampu lalu lintas.

Ketika polisi tiba di lokasi, mereka dibuat tercengang oleh pemandangan motor yang tergantung di udara itu. Polisi mengatakan kepada media bahwa selama puluhan tahun menangani berbagai jenis kecelakaan lalu lintas, ini adalah pertama kalinya mereka melihat sepeda motor tersangkut di atas lampu lalu lintas.

Pengendara motor mengalami luka berat akibat terjatuh, tetapi untungnya tidak mengalami cedera yang mengancam nyawa. Sementara itu, pengemudi BMW tidak mengalami luka sama sekali.

Laporan reporter NTD, Ren Hao, dari AS

Menjelang Kunjungan ke Tiongkok, Trump Kembali Singgung “Kantong Jenazah” di Wuhan dan Kecam Partai Komunis Tiongkok Menipu Dunia

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan berangkat mengunjungi Beijing pada Selasa (12 Mei). Menjelang keberangkatannya, Trump menegaskan bahwa ia akan membahas isu hak asasi manusia, penjualan senjata ke Taiwan, serta situasi Iran dengan pihak Tiongkok. Selain itu, terkait wabah Hantavirus baru-baru ini, Trump kembali mengkritik Beijing karena menutupi kebenaran tentang pandemi COVID-19 pada masa lalu, yang menurutnya akhirnya membawa dampak buruk bagi seluruh dunia.

Trump Akan Berangkat ke Tiongkok Selasa, Soal HAM dan Taiwan Akan Dibahas

Reporter NTD di Washington, Zhang Liang, melaporkan bahwa di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan AS-Tiongkok dan isu keamanan kawasan, Trump akan memulai kunjungan ke Tiongkok pada hari berikutnya. Dalam keterangannya di Gedung Putih, ia mengatakan akan membahas isu hak asasi manusia dan Taiwan dengan Xi Jinping.

Trump mengatakan:  “Taiwan mendapat banyak dukungan, dari Jepang dan banyak negara di sekitarnya.”

Ketika seorang wartawan Gedung Putih bertanya apakah AS seharusnya tetap menjual senjata kepada Taiwan, Trump menjawab:  “Ya, saya akan membahas hal itu dengan Xi Jinping. Xi tidak ingin kami menjual senjata ke Taiwan, tetapi saya akan membicarakan isu ini dengannya.”

Trump juga mengatakan bahwa ia akan mengangkat isu hak asasi manusia kepada Xi, termasuk meminta pembebasan taipan media Hong Kong Jimmy Lai dan seorang pendeta.

Selain itu, laporan terbaru hari itu mengkonfirmasi bahwa Elon Musk juga akan ikut dalam rombongan kunjungan ke Beijing. Pengamat menilai kunjungan Musk kemungkinan akan semakin mendorong bisnis Tesla di Tiongkok.

Trump Kembali Singgung COVID-19 dan “Kantong Jenazah” di Wuhan

Reporter NTD menyebut kunjungan besar ini berlangsung di tengah merebaknya wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang memicu kewaspadaan kesehatan global.

Trump kembali menyinggung pandemi COVID-19 yang mulai merebak pada akhir 2019.

Ia mengatakan bahwa PKT menyebarkan virus tersebut ke seluruh dunia, sementara pada saat yang sama mengendalikan World Health Organization untuk menyebarkan kebohongan besar.

 “Sekarang sudah dipastikan (virus itu berasal dari Wuhan). Saya rasa kesimpulannya sudah jelas. Tetapi sejak hari pertama saya sudah mengatakan itu, karena saya melihat gambar satelit yang menunjukkan kantong-kantong jenazah ada di mana-mana di Wuhan,” ujarnya. 

Trump Sebut Gencatan Senjata Iran Sangat Rapuh

Trump juga mengatakan bahwa ia akan membahas masalah Iran dengan Xi Jinping.

 “Gencatan senjata dengan Iran sekarang sangat rapuh. Menurut saya, ini adalah tahap paling rapuh. Saya baru saja membaca tanggapan mereka, dan itu penuh omong kosong,” katanya. 

Trump mengecam pemerintah Teheran karena dianggap tidak dapat dipercaya dan sering berubah sikap. Ia juga mengkritik kelompok Kurdi Iran yang disebut menyimpan senjata bantuan AS untuk diri mereka sendiri dan tidak menyalurkannya kepada warga Iran yang ingin melakukan protes.

Namun demikian, karena militer AS disebut telah menghancurkan angkatan laut, angkatan udara, pertahanan udara, dan kemampuan nuklir Iran, Trump mengatakan ia masih berharap perdamaian dapat dicapai melalui jalur diplomatik.

Trump Umumkan Kebijakan Mendukung Kelahiran Anak di AS

Dalam pertemuan pada Senin (11 Mei), Trump mengundang sejumlah menteri, anggota parlemen, pejabat kesehatan, dan pakar untuk mengumumkan berbagai kebijakan yang mendukung warga Amerika memiliki anak.

Trump mengatakan:  “Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Departemen Tenaga Kerja akan mengeluarkan aturan baru untuk membantu perusahaan menyediakan program tunjangan kesuburan bagi karyawan, di luar program asuransi kesehatan biasa.”

Menjelang Hari Ibu pada 10 Mei, Departemen Kesehatan AS juga telah meluncurkan situs Moms.gov untuk menyediakan informasi dan bantuan pemerintah terkait persiapan kehamilan, kehamilan, dan pengasuhan anak bagi para ibu.

Laporan reporter NTD, Zhang Liang dan Ren Hao dari Washington DC, Amerika Serikat.

“Gedung Putih Bergerak” Dikirim ke Jantung Partai Komunis Tiongkok, Analisis: Trump Sedang Unjuk Kekuatan kepada Xi

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok daratan pada 13 hingga 15 Mei. Ini merupakan kunjungan pertamanya ke Tiongkok dalam masa jabatan keduanya, sehingga menarik perhatian luas.

Veteran media dan penulis Yan Chungou pada 12 Mei menulis artikel komentar di Facebook, memprediksi bahwa pertemuan “Trump-Xi” kali ini tidak akan menghasilkan terobosan besar dalam isu politik dan diplomatik utama. Yang mungkin ada hanyalah pertukaran kepentingan di bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

“Amerika tentu berharap PKT membeli lebih banyak produk AS, mengurangi penggunaan logam tanah jarang sebagai senjata ekonomi, serta mengendalikan masuknya fentanyl ke AS. Semua itu tidak menyentuh persoalan inti,” tulis Yan.

“Sedangkan pihak Tiongkok berharap AS melonggarkan pembatasan teknologi tinggi, tidak menjual terlalu banyak senjata canggih kepada Taiwan, dan tidak mengepung Tiongkok secara diplomatik. Semua itu adalah topik lama yang memang akan terus dibahas, tetapi kecil kemungkinan menghasilkan kemajuan nyata.”

Yan menyimpulkan:  “Apapun hasil konkret dari pertemuan Trump-Xi nanti, semuanya hanya bersifat lokal, sementara, dan tidak terlalu penting.”

Ia menganalisis bahwa PKT tentu ingin memperbaiki hubungan AS-Tiongkok karena kesulitan yang dihadapi Tiongkok saat ini sebagian besar merupakan akibat dari memburuknya hubungan kedua negara di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Namun menurutnya, keadaan sudah sulit dipulihkan karena Amerika kini memandang PKT sebagai musuh utama, dan posisi mendasar itu hampir tidak mungkin diubah kembali.

Yan mengatakan bahwa tujuan utama pertemuan pemimpin AS-Tiongkok kali ini adalah menjaga stabilitas situasi agar hubungan kedua negara tidak memburuk dalam waktu singkat.

Lalu apa yang masih menjadi sorotan utama dari pertemuan ini?

Belakangan ini, banyak video di media sosial menunjukkan bahwa demi menjamin keamanan KTT AS-Tiongkok tersebut, sejumlah besar perlengkapan keamanan dan logistik AS telah lebih dulu masuk ke Beijing. Banyak warga Beijing datang ke sekitar Bandara Ibu Kota untuk menyaksikan pendaratan pesawat angkut strategis besar C-17 milik militer AS. Selain itu, banyak warga juga merekam iring-iringan kendaraan Dinas Rahasia AS dan kendaraan kepresidenan di jalanan Beijing.

Menurut perhitungan netizen, saat ini sekitar 70 kendaraan pengamanan AS telah tiba di Beijing. Hanya pada Senin (11 Mei), empat pesawat C-17 lagi terbang dari Pangkalan Udara Misawa milik militer AS di Jepang menuju Beijing. Ditambah delapan pesawat yang sudah tiba sebelumnya, totalnya mencapai 12 pesawat, memecahkan rekor kunjungan luar negeri presiden AS. Saat Trump berkunjung ke Tiongkok pada 2017, hanya ada dua pesawat angkut.

Yan Chungou mengatakan bahwa kunjungan Trump kali ini dilakukan dengan “formasi besar” dari tim pendahulu presiden.

“Kendaraan kepresidenan AS tak tertandingi di dunia, perlindungan Dinas Rahasia sangat rapat tanpa celah, ditambah lagi pusat komando satelit terenkripsi dan jaringan komunikasi komando militer global. Ini benar-benar seperti membawa sebuah ‘Gedung Putih bergerak’ ke jantung Tiongkok.”

Ia menganalisis bahwa sebagai Presiden AS, di tengah situasi perang Timur Tengah saat ini, Trump harus membawa pusat komando negara bersamanya untuk menghadapi kemungkinan keadaan darurat. Namun di saat yang sama, hal itu juga merupakan bentuk demonstrasi kekuatan tak langsung terhadap PKT.

Yan menambahkan bahwa jika Presiden AS dapat memimpin operasi militer dari ibu kota Tiongkok, itu berarti AS sangat percaya diri terhadap teknologi perlindungan sinyal elektronik dan keamanan rahasia militernya.

Dengan kata lain, katanya, apakah Xi Jinping akan memiliki tingkat keyakinan keamanan yang sama jika harus memimpin operasi militer PKT dari Washington?

Pengamanan AS yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pertemuan Trump-Xi ini juga memicu banyak diskusi publik.

Komentator isu terkini Lan Shu sebelumnya mengatakan kepada NTD:  “Perang Iran saat ini dan perdamaian di Selat Taiwan membuat keselamatan pribadi Trump menjadi sangat penting.”

Ia menilai bahwa kunjungan Trump ke Beijing kali ini adalah pendekatan “menciptakan perdamaian melalui kekuatan”.

“Pemerintah AS tidak lagi mempercayai janji apa pun dari PKT. Namun Trump memiliki kekuatan yang cukup untuk menjaga perdamaian di kawasan Pasifik Barat.”

Sumber : NTDTV.com

Muncul Dugaan Kasus Hantavirus di Pulau Terpencil Milik Inggris, Pasukan Payung Diterjunkan untuk Mengirim Bantuan dari Udara

Sebuah kepulauan terpencil milik Inggris di Samudra Atlantik Selatan dilaporkan diduga mengalami kasus infeksi Hantavirus. Otoritas Inggris pun mengirim pasukan payung untuk menjatuhkan bantuan logistik dari udara.

EtIndonesia. Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) pada 8 Mei mengkonfirmasi bahwa seorang warga negara Inggris turun dari kapal pesiar MV Hondius yang sebelumnya mengalami wabah Hantavirus, lalu menuju tempat tinggalnya di Tristan da Cunha. Orang tersebut diduga terinfeksi Hantavirus yang mematikan.

Brigade Serangan Udara ke-16 Angkatan Darat Inggris mengirim satu tim yang terdiri dari enam pasukan payung dan dua tenaga medis ke pulau tersebut.

 “Pasukan payung, tenaga medis, dan perlengkapan medis telah tiba melalui udara. Kami berharap hal ini dapat membuat warga Tristan da Cunha merasa lebih tenang,” ujar Komandan brigade, Ed Cartwright. 

Gambar yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris menunjukkan sebuah pesawat angkut militer menjatuhkan pasokan ke wilayah seberang laut Inggris, Tristan da Cunha, pada 9 Mei 2026. (Kopral Sarah Barsby RAF/Hak Cipta Kementerian Pertahanan Inggris melalui Getty Images)

Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Inggris menunjukkan bahwa pada 9 Mei 2026, sebuah pesawat angkut militer menjatuhkan bantuan logistik dengan parasut ke wilayah Tristan da Cunha.

Gambar yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris menunjukkan sebuah pesawat angkut militer menjatuhkan pasokan ke wilayah seberang laut Inggris, Tristan da Cunha, pada 9 Mei 2026. (Kopral Sarah Barsby RAF/Hak Cipta Kementerian Pertahanan melalui Getty Images)

Tristan da Cunha terletak di Samudra Atlantik Selatan, kira-kira di tengah antara Afrika dan Amerika Selatan. Pulau ini merupakan salah satu wilayah seberang laut Inggris paling terpencil dan juga dianggap sebagai salah satu pulau berpenghuni paling terpencil di dunia.

Pulau tersebut hanya memiliki 221 penduduk dan dua tenaga medis yang bertanggung jawab merawat seluruh warga. Tidak ada landasan pacu bandara di pulau itu, sehingga bantuan biasanya hanya bisa dikirim melalui kapal laut.

Sumber : NTDTV.com

CCTV Tak Mampu Membayar Biaya Penyiaran Piala Dunia 2026, Warganet Menganalisis Kebenaran di Baliknya 

Baru-baru ini, topik tentang televisi pemerintah Partai Komunis Tiongkok CCTV yang disebut tidak mampu membeli hak siar Piala Dunia 2026 menjadi trending. Penyebab di baliknya memicu berbagai spekulasi. Ada analisis yang menyebut bahwa akar masalahnya adalah penurunan ekonomi saat ini, sulitnya lapangan kerja, serta masyarakat yang sedang berjuang untuk bertahan hidup sehingga semakin sedikit orang yang menonton Piala Dunia. Pendapatan iklan CCTV juga disebut menurun drastis.

EtIndonesia. Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan dimulai pada 11 Juni mendatang. Menurut laporan media resmi PKT, FIFA awalnya menawarkan harga hak siar kepada CCTV sebesar 250 juta hingga 300 juta dolar AS, sedangkan anggaran CCTV diperkirakan hanya sekitar 60 juta hingga 80 juta dolar AS. Meskipun setelah beberapa putaran negosiasi harga telah turun menjadi sekitar 120 juta hingga 150 juta dolar AS, angka tersebut masih dianggap memiliki “selisih yang sangat besar” dibanding ekspektasi CCTV.

Ada pendapat publik yang menilai bahwa ketidakmampuan CCTV membeli hak siar Piala Dunia mencerminkan ketegangan fiskal pemerintah PKT serta buruknya kondisi ekonomi Tiongkok.

Sejumlah netizen bahkan mengatakan: “Sepak bola adalah hiburan anak muda. Dalam kondisi ekonomi Tiongkok yang suram dan sulitnya mencari pekerjaan saat ini, kaum muda saja sudah kesulitan bertahan hidup, mana ada tenaga untuk peduli hal lain?”

Netizen di Weibo mengatakan bahwa ketika CCTV tidak mau membayar, itu karena daya konsumsi penonton kali ini sudah tidak memadai lagi, dan anak muda bahkan hidup saja sudah sangat sulit.

“Masyarakat sekarang tidak lagi mengonsumsi hiburan, yang penting bertahan hidup dulu. Pada tahun 2019, 2023, dan 2024, total pendapatan box office libur Hari Buruh semuanya sekitar 1,5 miliar yuan. Tapi pada 2026, box office libur Hari Buruh hanya sedikit di atas 700 juta yuan, turun separuh seperti harga properti. Dulu anak muda konsumsi dulu baru pikir masa depan, sekarang bertahan hidup dulu baru bicara soal kebahagiaan.”

“Kuncinya, orang di bawah usia 30 tahun sekarang tidak banyak yang suka sepak bola. Sedangkan yang berusia 40-an banyak yang sedang terkena PHK, menganggur, atau khawatir akan kehilangan pekerjaan. Mana sempat memikirkan sepak bola?”

“Masalah utamanya rakyat tidak punya uang, ekonomi menurun dan konsumsi lesu. Pengiklan tidak mau memasang iklan, lalu CCTV pakai apa untuk membeli hak siar?”

“Pada dasarnya budaya kerja 996 dan kecemasan soal hidup hampir menghancurkan semua aktivitas hiburan film dan televisi. Orang sekarang cukup menonton video pendek gratis saja, siapa yang masih kuat begadang menonton pertandingan?”

Ada juga netizen yang mengatakan bahwa beberapa tahun lalu CCTV masih bisa mendapatkan banyak pemasukan iklan melalui saluran olahraga. Namun sekarang, CCTV sudah sangat sulit memperoleh pendapatan iklan, bahkan pada jam tayang utama pun hampir tidak ada iklan.

“Saya awalnya tidak mengerti langkah CCTV kali ini. Tapi hari ini saat menonton Kejuaraan Dunia Tenis Meja, saya langsung paham. Pertandingan jam 19.30 malam, yang merupakan prime time, ternyata CCTV bahkan tidak mendapatkan satu iklan pun. Mereka sampai memutar ulang lomba loncat indah untuk mengisi waktu sebelum pertandingan dimulai. Jadi ternyata 300 juta dolar AS bukan sekadar harga mahal, tapi benar-benar harga yang terlalu tinggi untuk kondisi pendapatan CCTV sekarang. Kalau jam tayang utama saja tidak dapat iklan, bisa dibayangkan bagaimana jam tayang tengah malam. Zaman benar-benar sudah berubah.”

Selain itu, korupsi olahraga di bawah sistem PKT juga merajalela. Mulai dari ketua asosiasi sepak bola hingga pelatih tim nasional banyak yang jatuh karena kasus korupsi. Prestasi tim nasional sepak bola pria Tiongkok juga terus mengecewakan para penggemar.

Ada netizen yang berkata :  “Bukankah justru kerja keras tim nasional Tiongkok selama bertahun-tahun yang membuat rakyat tidak mau mengeluarkan uang untuk Piala Dunia? Piala Dunia tanpa tim Tiongkok, masih berharap orang Tiongkok mau bayar untuk menonton?”

Laporan gabungan wartawan Li Li /  Lin Qing – NTDTV.com

“Gedung Putih Bergerak” Tiba Langsung di Beijing, Pengamanan AS untuk KTT Trump-Xi Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

Menjelang pertemuan Trump-Xi, pihak Amerika Serikat memperkuat pengamanan Presiden Trump selama berada di Beijing. Beredar informasi bahwa sekitar 70 kendaraan pengamanan dan 12 pesawat angkut telah tiba di Beijing. Pengamat menilai hal ini menunjukkan tingkat kewaspadaan Washington yang sangat tinggi terhadap lingkungan politik dan risiko keamanan di Tiongkok. 

Mengenai apakah pertemuan Trump-Xi dapat menghasilkan terobosan besar, dunia luar umumnya tidak terlalu optimistis. Analisis menunjukkan bahwa tujuan utama pertemuan ini mungkin bukan untuk menyelesaikan perbedaan, melainkan untuk mencegah hubungan AS-Tiongkok semakin lepas kendali di tengah situasi global yang sangat tegang.

EtIndonesia. Pada Senin (11 Mei), Kementerian Luar Negeri PKT mengumumkan bahwa Presiden AS Donald Trump akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok pada  13 hingga 15 Mei.

Untuk menjamin keamanan KTT Trump-Xi kali ini, dalam beberapa hari terakhir sejumlah besar peralatan keamanan dan logistik AS telah lebih dulu memasuki Beijing.

Selain pesawat angkut besar militer AS C-17 yang sering mendarat di Bandara Ibu Kota Beijing, banyak warga juga melihat iring-iringan kendaraan Dinas Rahasia AS di jalan-jalan Beijing.

Beredar informasi bahwa netizen menghitung sekitar 70 kendaraan pengamanan AS telah tiba di Beijing. Hanya pada hari Senin saja, empat pesawat angkut C-17 milik AS terbang dari Pangkalan Udara Misawa milik militer AS di Jepang menuju Beijing. Ditambah delapan pesawat yang telah tiba sebelumnya, totalnya mencapai 12 pesawat, mencetak rekor baru dalam kunjungan luar negeri seorang presiden AS. Pada kunjungan Trump ke Tiongkok tahun 2017, hanya ada dua pesawat angkut.

Para ahli menunjukkan bahwa pesawat-pesawat angkut ini ibarat “Gedung Putih bergerak”, yang mencerminkan tingginya kewaspadaan Washington terhadap lingkungan politik dan risiko keamanan di bawah rezim PKT.


“Presiden AS membawa begitu banyak perlengkapan ke sini. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat sebenarnya sangat tidak mempercayai negara yang dipimpin PKT ini. Karena itu pengamanannya pasti sangat ketat, termasuk berbagai peralatan yang dibawa langsung bersama rombongan, jumlahnya juga belum pernah sebanyak ini sebelumnya,” kata lomentator isu terkini Li Linyi. 

Komentator isu terkini Lan Shu mengatakan:  “Perang Iran saat ini dan perdamaian di Selat Taiwan membuat keselamatan pribadi Trump menjadi sangat penting.”

Dalam pertemuan kali ini, Trump dan Xi diperkirakan akan membahas perdagangan, tarif, teknologi, masalah Taiwan, serta situasi Timur Tengah.

Pejabat senior AS sebelumnya mengungkapkan bahwa Trump akan secara langsung menekan Xi agar PKT menghentikan dukungan ekonomi dan militernya kepada Iran, bahkan tidak menutup kemungkinan penambahan sanksi.

Sebelumnya Trump telah memperingatkan bahwa jika PKT tetap mendukung Iran, maka AS akan mengenakan tarif tambahan hingga 50% terhadap produk Tiongkok. Meski kemudian Xi disebut berjanji tidak lagi memasok senjata kepada Iran, dunia luar tetap meragukan janji tersebut dan mengingatkan agar tidak mempercayai komitmen PKT.

Lan Shu mengatakan:  “Kunjungan Trump ke Beijing kali ini adalah upaya menciptakan perdamaian melalui kekuatan. Pemerintah AS tidak lagi akan mempercayai janji apa pun dari PKT. Namun Trump memiliki kekuatan yang cukup untuk menjaga perdamaian di kawasan Pasifik Barat.”

Menjelang pertemuan tersebut, Beijing secara terbuka menekankan bahwa “masalah Taiwan” merupakan isu inti dalam pembicaraan kali ini. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah.

Karena itu, banyak pihak menilai KTT Trump-Xi sulit menghasilkan terobosan besar, terutama terkait masalah Taiwan. Hasil akhirnya kemungkinan hanya berupa pencapaian simbolis di bidang pertanian dan penerbangan.

Komentator Li Linyi mengatakan:  “Pemerintah AS sebenarnya juga memahami hal ini. Mengapa masih ingin menandatangani perjanjian dengan PKT? Pertama, pemerintah AS ingin menjaga stabilitas hubungan AS-Tiongkok. Kedua, demi kepentingan rakyat Amerika sendiri, mereka juga membutuhkan PKT untuk menandatangani sejumlah perjanjian perdagangan yang menguntungkan AS.”

Laporan wawancara oleh reporter NTD, Chen Yue dan Chang Chun.

Trump Murka! Perundingan Iran Gagal Total, AS Siap Hancurkan Iran dalam 24 Jam?

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah perundingan terbaru mengenai program nuklir Teheran mengalami kebuntuan serius. Pada Sabtu, 10 Mei 2026, Kantor Berita Tasnim Iran melaporkan bahwa Teheran secara resmi telah memberikan tanggapan terhadap proposal gencatan senjata dan kesepakatan baru yang diajukan Washington. Namun, isi balasan Iran justru memperlihatkan sikap yang jauh lebih keras dibanding perkiraan sebelumnya.

Iran mengajukan sejumlah syarat utama yang dinilai sulit diterima oleh Amerika Serikat. Di antaranya adalah penghentian segera seluruh konflik di Lebanon dan kawasan lain yang melibatkan sekutu Iran, pencabutan blokade laut oleh militer Amerika di kawasan Teluk Persia, jaminan bahwa Washington tidak akan melancarkan serangan militer baru, hingga pembebasan seluruh aset Iran yang selama ini dibekukan oleh Barat.

Iran Bersedia Kurangi Uranium, Tetapi Ajukan Syarat Berat

Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber internal terkait negosiasi tersebut, Iran sebenarnya menunjukkan sedikit fleksibilitas. Teheran dikabarkan bersedia mengencerkan sebagian uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi dan memindahkan sebagian stok sisanya ke negara ketiga.

Namun, Iran juga menambahkan syarat yang sangat sensitif. Teheran meminta jaminan bahwa apabila negosiasi kembali gagal atau Amerika Serikat suatu hari nanti kembali keluar dari perjanjian, maka seluruh uranium Iran yang disimpan di luar negeri wajib dikembalikan tanpa syarat.

Permintaan itu langsung memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pada Minggu, 11 Mei 2026, Trump menyatakan bahwa tuntutan Iran tersebut “sama sekali tidak dapat diterima.” Ia juga menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Iran menggunakan diplomasi sebagai alat untuk memperpanjang waktu sambil mempertahankan kemampuan nuklirnya.

Di sisi lain, pemerintah Iran juga mengeluarkan ancaman balasan. Teheran memperingatkan bahwa jika Amerika kembali melakukan serangan militer, maka Iran “tidak akan menunjukkan belas kasihan sedikit pun.” Iran bahkan mengancam akan memperluas larangan terhadap kapal perang asing yang ingin memasuki Selat Hormuz.

Situasi ini semakin memperjelas bahwa putaran negosiasi terbaru antara Washington dan Teheran kembali menemui jalan buntu.

Trump Gelar Rapat Darurat Bahas Serangan Baru ke Iran

Menurut laporan Axios pada 11 Mei 2026, Presiden Trump mengadakan rapat khusus bersama tim keamanan nasional di Gedung Putih untuk membahas kemungkinan dilanjutkannya operasi militer terhadap Iran.

Sejumlah pejabat Amerika yang mengetahui isi pembahasan menyebutkan bahwa Trump kini berada dalam posisi yang sangat siap untuk kembali memberi perintah operasi militer kapan saja.

Salah seorang pejabat bahkan mengatakan bahwa: “Trump akan diam-diam memberi mereka pelajaran.”

Pernyataan itu dianggap sebagai sinyal bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan langkah militer yang lebih agresif dibanding fase sebelumnya.

Trump sendiri mulai berbicara secara jauh lebih terbuka di depan publik. Dalam berbagai pernyataannya, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berada dalam posisi tertekan menghadapi Iran.

Menurut Trump, kekuatan militer Amerika mampu memperoleh kemenangan total jika konflik meningkat menjadi perang terbuka.

Ia bahkan mengklaim bahwa militer Amerika Serikat bisa menghancurkan seluruh kekuatan militer utama Iran hanya dalam waktu sekitar satu hari.

Tiga Opsi Militer Sedang Dipertimbangkan Washington

Berdasarkan informasi yang beredar dari lingkaran keamanan nasional AS, terdapat beberapa opsi utama yang kini sedang dipertimbangkan Gedung Putih.

1. Mengaktifkan Kembali “Project Freedom”

Opsi pertama adalah menghidupkan kembali operasi militer bernama “Project Freedom”, yaitu operasi pengawalan kapal-kapal Amerika melewati Selat Hormuz.

Operasi ini sebelumnya sempat berlangsung singkat selama sekitar 36 jam sebelum dihentikan, setelah Arab Saudi menarik izin penggunaan wilayah udaranya.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia. Sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah melewati wilayah sempit tersebut. Karena itu, ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional selalu dianggap sebagai ancaman strategis global.

2. Melanjutkan Pemboman terhadap Iran

Opsi kedua adalah memperluas pemboman terhadap target-target strategis di wilayah Iran.

Trump mengungkapkan bahwa sejak awal konflik, militer Amerika sebenarnya telah mengidentifikasi hampir 100 persen target penting milik Iran.

Menurut pengakuannya, sekitar 75 persen target utama sudah dihantam, sementara 25 persen sisanya masih belum disentuh.

Pernyataan ini memunculkan spekulasi bahwa Washington masih menyimpan kapasitas serangan yang jauh lebih besar.

3. Mengirim Pasukan Khusus Merebut Uranium Iran

Opsi ketiga dianggap paling berbahaya, yaitu mengirim pasukan khusus untuk merebut langsung stok uranium Iran yang telah diperkaya.

Israel disebut sangat mendorong langkah ini karena menganggap penguasaan uranium Iran merupakan kunci untuk mengakhiri ancaman nuklir Teheran.

Namun Trump dikabarkan masih ragu mengambil keputusan tersebut. Ia menilai operasi perebutan uranium di fasilitas bawah tanah Iran akan menjadi misi yang sangat berisiko dan berpotensi memicu perang besar di kawasan.

Trump: “Cepat atau Lambat, Kami Akan Mendapatkan Uranium Itu”

Dalam wawancara televisi pada Sabtu, 10 Mei 2026, Trump kembali menyinggung persoalan uranium Iran.

Ia mengatakan bahwa cepat atau lambat Amerika Serikat akan mendapatkan uranium tersebut.

Trump juga mengungkapkan bahwa Pasukan Antariksa Amerika Serikat kini terus melakukan pengawasan intensif terhadap lokasi-lokasi penyimpanan uranium bawah tanah Iran.

Ia bahkan memperingatkan bahwa siapa pun yang mencoba mendekati lokasi itu dapat langsung menjadi sasaran serangan militer Amerika.

Pernyataan ini dianggap sebagai bentuk tekanan psikologis sekaligus sinyal bahwa Washington mengetahui posisi fasilitas strategis Iran secara detail.

Netanyahu Desak Perang Jangan Dihentikan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga terus mendorong agar operasi terhadap Iran tidak dihentikan terlalu cepat.

Menurut Netanyahu, ancaman Iran belum benar-benar berakhir selama Teheran masih memiliki uranium yang telah diperkaya.

Ia menegaskan bahwa perang baru bisa dianggap selesai apabila seluruh stok uranium Iran berhasil disingkirkan.

Dalam wawancara terpisah, Netanyahu bahkan membuat tuduhan baru yang cukup sensitif.

Ia mengklaim bahwa Tiongkok saat ini sedang memasok komponen inti rudal kepada Iran.

Menurut Netanyahu, bukti terkait tuduhan tersebut sebenarnya sudah tersedia, namun belum dapat dipublikasikan seluruhnya.

Ia juga melontarkan pernyataan penuh makna dengan mengatakan: “Saya tidak hanya punya mata dan telinga, tetapi juga tahu kapan harus diam.”

Pernyataan itu memicu spekulasi bahwa Israel memiliki informasi intelijen tambahan mengenai hubungan militer antara Beijing dan Teheran.

Trump Sindir Iran: “Mereka Membuka Pintu, Lalu Menutupnya Sendiri”

Pada Minggu, 11 Mei 2026, saat berada di Ruang Oval Gedung Putih, Trump membocorkan detail lain yang cukup mengejutkan.

Ia mengatakan bahwa Iran sebenarnya pernah secara sukarela menawarkan kepada Amerika Serikat untuk mengambil seluruh uranium yang telah diperkaya.

Namun belakangan, menurut Trump, Iran tiba-tiba berubah pikiran.

Trump lalu menyindir Teheran dengan mengatakan: “Mereka sendiri yang membuka pintunya, lalu mereka sendiri juga yang menutupnya.”

Ia juga menuduh Iran telah membuang begitu saja posisi tawar yang sebenarnya masih mereka miliki di meja perundingan.

Trump bahkan melontarkan kritik yang sangat keras terhadap proposal gencatan senjata Iran.

Menurutnya, dokumen yang dikirim Teheran “sangat lemah” dan bahkan “tidak layak dibaca.”

Ia menyebut proposal itu seperti “tumpukan sampah” dan mengatakan bahwa gencatan senjata Iran saat ini “hidup dengan bantuan alat pernapasan.”

Pernyataan tersebut kembali menunjukkan gaya khas Trump yang keras, dramatis, dan penuh tekanan politik.

Trump Siap “Menjadi Tameng Peluru”

Dalam salah satu pernyataan paling mengejutkan hari itu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya bersedia “menjadi tameng peluru” demi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Ucapan tersebut langsung menjadi sorotan media internasional karena dianggap mencerminkan pendekatan Trump yang sangat konfrontatif.

Banyak analis menilai pernyataan itu bukan sekadar retorika, melainkan sinyal bahwa Washington siap meningkatkan eskalasi jika Iran tetap menolak tuntutan utama Amerika.

Xi Jinping Disebut Ikut Mengamati Situasi

Di tengah meningkatnya ketegangan ini, banyak pengamat meyakini bahwa pemimpin Tiongkok Xi Jinping juga sedang memantau perkembangan konflik dengan sangat serius.

Kegagalan perundingan AS-Iran dipandang sebagian analis dapat memberikan keuntungan strategis bagi Beijing, terutama jika Amerika semakin terjebak dalam konflik Timur Tengah.

Trump sendiri secara terbuka menyebut nama Xi Jinping.

Ia mengatakan bahwa pekan ini dirinya akan bertemu langsung dengan Xi untuk membahas masalah Iran secara tatap muka.

Trump berharap Beijing dapat menggunakan pengaruhnya untuk menekan Iran agar menerima proposal Amerika Serikat.

Namun para pengamat menilai Trump kemungkinan akan menggunakan pertemuan itu untuk mengirim pesan keras kepada Beijing.

Dalam negosiasi nanti, Trump diperkirakan akan membicarakan secara terbuka berbagai isu sensitif, termasuk dugaan hubungan Tiongkok dengan program persenjataan Iran.

Bahkan sejumlah analis menyebut Trump tidak datang ke Beijing membawa “kontrak dagang besar”, melainkan membawa “pisau bedah” politik dan strategi tekanan baru terhadap Tiongkok. (***)