Trump Balik Ultimatum Iran! Tuntut Ganti Rugi, Ekonomi Teheran Kini Jadi Sasaran 

EtIndonesia.com  — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru. Setelah Teheran dilaporkan menuntut kompensasi atas kerugian yang dikaitkan dengan tindakan Amerika Serikat, Presiden AS Donald Trump justru membalas dengan mengatakan Washington dapat mengajukan tuntutan kompensasi yang jauh lebih besar kepada Iran.

Dalam pernyataannya pada Senin, 10 Agustus 2026, Trump mengatakan bahwa persoalan pembayaran kompensasi sebelumnya tidak pernah menjadi bagian dari pembicaraan maupun perundingan antara Washington dan Teheran. Namun, menurut Trump, tuntutan yang diajukan Iran justru membuka kemungkinan bagi Amerika Serikat untuk mengajukan tuntutan serupa.

Trump mengatakan dirinya menganggap gagasan mengenai kompensasi tersebut “menarik”. Namun, jika persoalan itu benar-benar dibawa ke meja perundingan, ia menegaskan Amerika Serikat juga akan meminta Iran bertanggung jawab atas berbagai kerugian dan korban jiwa yang selama bertahun-tahun dikaitkan Washington dengan aktivitas Teheran maupun kelompok-kelompok yang didukungnya.

Trump antara lain menyinggung korban akibat bom pinggir jalan dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Ia juga menyebut keluarga korban serangan terhadap kapal perusak USS Cole serta keluarga ribuan orang yang tewas dalam berbagai konflik sebagai pihak-pihak yang menurutnya layak memperoleh kompensasi.

Pernyataan tersebut merupakan klaim politik Trump dan tidak serta-merta menunjukkan bahwa Iran secara hukum bertanggung jawab atas seluruh peristiwa yang disebutkannya. Serangan terhadap USS Cole pada Oktober 2000, misalnya, secara luas dikaitkan dengan Al-Qaeda, sehingga penyebutan Iran dalam konteks tersebut memerlukan kehati-hatian dan pembuktian tersendiri.

Trump juga menuntut pertanggungjawaban Iran atas kematian demonstran di dalam negeri. Ia mengatakan Teheran seharusnya memberikan kompensasi kepada keluarga ratusan ribu demonstran yang menurut klaimnya telah tewas selama sekitar lima dekade terakhir. Trump juga menyebut angka 52.000 orang yang diklaim tewas dalam lima bulan terakhir.

Angka tersebut merupakan pernyataan Trump dan perlu diperlakukan sebagai klaim karena belum dapat dianggap sebagai jumlah korban terverifikasi secara independen hanya berdasarkan pernyataan politik.

Trump mengatakan telah memerintahkan para perwakilan Amerika Serikat untuk membawa persoalan kompensasi tersebut ke dalam setiap pembicaraan berikutnya dengan Iran.

Tidak berhenti sampai di sana, Trump mengatakan Iran juga harus bertanggung jawab atas kerugian dan korban jiwa yang terjadi di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza. Pernyataan itu merujuk pada tudingan lama Washington bahwa Teheran selama bertahun-tahun membangun jaringan pengaruh regional melalui dukungan terhadap berbagai kelompok bersenjata dan mitra politiknya di Timur Tengah.

Washington Mulai Mengubah Pendekatan

Di tengah meningkatnya perang pernyataan tersebut, strategi pemerintahan Trump terhadap Iran tampaknya mulai mengalami perubahan.

Dalam wawancara singkat dengan media Amerika Serikat Axios pada Minggu, 9 Agustus 2026, Trump menggambarkan pendekatan Washington terhadap Teheran sebagai strategi yang lebih tenang. Alih-alih segera melancarkan operasi militer baru, Amerika Serikat untuk sementara memilih membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran terus meningkat.

Trump bahkan mengibaratkan situasi tersebut seperti sebuah permainan catur.

Menurutnya, Iran kini menghadapi tekanan ekonomi berat, termasuk inflasi tinggi serta keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah. Dalam kondisi seperti itu, Washington dinilai tidak perlu terburu-buru memainkan seluruh kartu militernya.

Amerika Serikat, menurut gambaran strategi yang disampaikan Trump, dapat menunggu sambil melihat seberapa jauh tekanan ekonomi mampu mempersempit ruang gerak pemerintah Iran.

Trump juga menggambarkan hubungan kedua negara saat ini berada dalam kondisi “setengah bernegosiasi”. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa meskipun ketegangan masih tinggi dan tekanan terhadap Teheran terus dilakukan, jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup.

Trump Soroti Kejatuhan Rial Iran

Tak lama setelah itu, Trump kembali meningkatkan tekanan psikologis terhadap Teheran melalui media sosial.

Ia mengunggah grafik yang menggambarkan penurunan tajam nilai tukar rial Iran sejak 2025. Unggahan tersebut disertai pesan yang pada intinya menyatakan bahwa Iran sedang mengalami kesulitan keuangan serius dan mata uangnya telah kehilangan sebagian besar nilainya.

Pesan politik yang ingin disampaikan Washington cukup jelas: pemerintahan Trump menilai tekanan ekonomi mulai memberikan dampak dan karena itu tidak melihat kebutuhan mendesak untuk segera beralih ke operasi militer baru.

Salah satu instrumen tekanan terpenting adalah pembatasan terhadap kemampuan Iran menjual minyak ke pasar internasional.

Citra satelit terbaru dilaporkan menunjukkan aktivitas di sejumlah terminal minyak Iran menurun tajam sepanjang Agustus 2026. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan Teheran mengirimkan minyak mentah melalui jalur ekspor mengalami tekanan.

Perusahaan analisis komoditas Kpler memperkirakan ekspor minyak mentah dan kondensat Iran turun sekitar 40 persen dibandingkan rata-rata Juli 2026, menjadi sekitar 500.000 barel per hari.

Penurunan ekspor menimbulkan persoalan tambahan. Minyak mentah yang tidak dapat dikirim ke pembeli luar negeri harus ditampung, baik di fasilitas penyimpanan di darat maupun menggunakan kapal sebagai tempat penyimpanan terapung.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama dan kapasitas penyimpanan semakin terbatas, Iran berpotensi menghadapi tekanan untuk mengurangi produksi. Dampaknya dapat merambat langsung terhadap pemasukan negara karena sektor energi merupakan salah satu sumber devisa penting bagi Teheran.

Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Kunci

Tekanan ekonomi ini tidak dapat dipisahkan dari perselisihan mengenai Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu koridor energi terpenting dunia.

Amerika Serikat mempertahankan tekanan maritim terhadap Iran dengan tujuan mendorong Teheran memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan melalui selat tersebut.

Karena itu, strategi Washington saat ini tampaknya bergerak pada dua jalur sekaligus. Di satu sisi, Amerika Serikat tetap membuka ruang perundingan. Di sisi lain, tekanan ekonomi dan maritim dipertahankan untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung Iran apabila kebuntuan terus berlangsung.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintahan Trump tampaknya berusaha memaksa Teheran mengambil keputusan tanpa harus segera membuka babak baru konflik militer.

Namun, strategi ini tetap memiliki risiko. Apabila tekanan ekonomi semakin berat sementara negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, kemungkinan salah perhitungan antara kedua negara tetap terbuka.

Untuk saat ini, pernyataan Trump mengenai kompensasi menunjukkan bahwa pertarungan Washington dan Teheran bukan lagi sekadar mengenai Selat Hormuz atau ekspor minyak. Perselisihan tersebut mulai merambah persoalan tanggung jawab atas konflik dan korban selama puluhan tahun—sebuah isu yang berpotensi membuat perundingan berikutnya menjadi jauh lebih rumit. (***)

Mengerikan! Pria di Yunnan, Tiongkok Mengeluarkan 180 Paku dari Lambung, Berat Total Lebih dari 1 Kilogram 

Seorang pria di Tiongkok daratan menjalani operasi untuk mengeluarkan 180 paku dan berbagai benda logam lainnya dari lambungnya. Berat keseluruhan benda tersebut mencapai lebih dari 1 kilogram. Kabar ini baru-baru ini terungkap dan menarik perhatian publik.

EtIndonesia.com Baru-baru ini, seorang blogger asal Yunnan bernama “Dokter Li Wei dari Bedah Hepatobilier, Pankreas” membagikan sebuah video di media sosial yang membuat banyak warganet terkejut. 

Dalam kasus tersebut, sejumlah besar benda asing ditemukan dan dikeluarkan dari lambung seorang pasien. Benda-benda tersebut antara lain paku besi, koin, sekrup, dan berbagai benda logam lainnya.

Menurut laporan media daratan Tiongkok, pria paruh baya asal Yunnan tersebut berulang kali mengalami mual, muntah, dan sakit perut selama sembilan hari. Ia kemudian dibawa keluarganya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan sinar-X menunjukkan adanya sejumlah besar benda logam berbentuk batang dan titik di dalam rongga perut pria tersebut. Benda-benda itu saling menempel menjadi satu gumpalan, sehingga menyebabkan lambungnya membesar dan turun dari posisi normalnya.

Setelah menjalani operasi selama hampir tiga jam, seluruh benda asing berhasil dikeluarkan. Benda-benda tersebut terdiri dari 181 paku besi, dengan paku terpanjang sekitar 9 sentimeter, ditambah sekrup, mur, ring, koin, dan benda asing lainnya. Berat keseluruhannya mencapai sekitar 1 kilogram.

Menurut laporan, pria tersebut telah menderita gangguan kejiwaan selama bertahun-tahun dan memiliki perilaku memakan benda-benda yang bukan makanan. Keluarganya juga tidak mengetahui mengapa ia menelan begitu banyak paku, maupun dalam jangka waktu berapa lama dan berapa kali benda-benda tersebut ditelan.

Dokter Li Wei mengatakan bahwa dinding lambung pria tersebut dipenuhi luka dan titik-titik erosi. Beruntung, paku-paku tersebut tidak sampai menembus dinding lambung dan tidak masuk ke usus. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan keberadaan magnet, sehingga benda-benda tersebut saling menempel menjadi satu gumpalan. Beberapa paku bahkan telah menjadi magnetis.

Dokter mengingatkan bahwa setelah menelan benda asing, terutama benda logam atau benda tajam, masyarakat tidak boleh berasumsi bahwa benda tersebut akan keluar dengan sendirinya hanya karena ukurannya kecil.

Jika benda asing tersebut tajam atau tertahan terlalu lama di dalam tubuh, benda tersebut dapat melukai atau bahkan menyebabkan perforasi pada kerongkongan maupun dinding usus, yang selanjutnya dapat memicu peritonitis dan bahkan mengancam nyawa.

Sejumlah warganet Tiongkok berkomentar:

“Mengerikan sekali.”

“Tidak bisa dipercaya.”

“Bagaimana dia bisa menelannya? Bukankah tenggorokannya terasa sakit? Benda itu panjang, keras, dan tajam. Benar-benar tidak bisa dipahami.”

“Ya ampun, sebanyak itu benda yang ditelan. Setelah keluar dari rumah sakit pun harus benar-benar diperhatikan agar tidak menelannya lagi.”

Sumber : NTDTV.com

Gempa Dahsyat Mengguncang Wilayah Barat Kolombia, 111 Orang Tewas dam 87 Terluka

111 orang dilaporkan tewas akibat gempa yang berkekuatan 7,4 magnitudo, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS)

EtIndonesia.com Gempa bumi kuat mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin, 10 Agustus, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Pejabat setempat menyatakan 111 orang meninggal dunia.

USGS melaporkan gempa tersebut berkekuatan 7,4 magnitudo. Pusat gempa berada sekitar 3 mil (4,8 kilometer) di sebelah timur San José del Palmar, wilayah barat negara itu, atau sekitar 250 mil (400 kilometer) sebelah barat Bogotá, ibu kota Kolombia.

Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengatakan sedikitnya 111 orang tewas dan 87 lainnya terluka. Ia juga menetapkan status darurat untuk mempercepat pencairan dana pemulihan pascagempa, serta mengatakan akan mengunjungi wilayah yang terdampak bencana.

“Kami tidak akan membiarkan masyarakat menghadapi ini sendirian. Mereka ada di hati kami, dan kami akan memberikan bantuan dengan segenap tekad kami,” katanya.

USGS melaporkan gempa terjadi pada kedalaman sekitar 66 mil (106 kilometer).

Dalam pernyataan di media sosial, Gubernur Chocó, Nubia Córdoba, mengatakan pihaknya “khawatir terhadap gempa susulan” yang mungkin dipicu oleh gempa tersebut, menurut terjemahan pernyataannya.

“Meskipun episentrum berada di San José del Palmar, di ibu kota Quibdó terdapat korban luka dan kerusakan parah pada bangunan. Kami sudah melakukan pendataan kerusakan untuk menerbitkan laporan resmi pertama,” tulisnya di X, seraya menyebut gempa tersebut sebagai “peristiwa seismik dahsyat.”

Di Bogotá, getaran gempa juga terasa kuat.

“Setelah gempa dirasakan sekitar pukul 07.34, hingga saat ini tidak ada laporan mengenai dampak atau kerusakan struktural, hanya beberapa retakan pada bangunan,” kata Wali Kota Bogotá Carlos Galán dalam unggahan di X.

Rekaman dramatis yang beredar di media sosial memperlihatkan bangunan-bangunan berguncang akibat gempa. Video lain yang diunggah secara daring menunjukkan sebuah gereja yang tampak mengalami kerusakan serta sejumlah bangunan lainnya setelah gempa terjadi. The Epoch Times belum dapat segera memverifikasi keaslian video-video tersebut.

Badan Geologi Kolombia menyatakan pada 10 Agustus bahwa gempa itu merupakan gempa berkekuatan paling besar yang tercatat di Kolombia dalam satu dekade terakhir. Gempa utama kemudian diikuti oleh dua gempa susulan berkekuatan 2,8 dan 4,8 magnitudo.

Pihak berwenang juga melaporkan bahwa penerbangan dihentikan sementara di sejumlah bandara, yakni di Manizales, Quibdó, Armenia, Cartago, Buenaventura, dan Pereira.

Otoritas Maritim Kolombia menyatakan tidak ada ancaman tsunami di sepanjang pesisir Pasifik Kolombia akibat gempa tersebut.

Gubernur Antioquia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sejauh ini “tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun korban luka,” menurut media lokal El Espectador. Wilayah tersebut mencakup Medellín, kota terbesar kedua di Kolombia.

Getaran gempa juga dirasakan oleh warga di negara tetangga Ekuador, menurut surat kabar El Comercio.

Gempa pada 10 Agustus  terjadi hanya beberapa pekan setelah dua gempa besar berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo mengguncang Venezuela secara berturut-turut pada Juni. Ratusan bangunan hancur dan lebih dari 5.000 orang meninggal dunia, menurut keterangan pejabat setempat.

The Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.

Anak Anjing “Berjalan dengan Dua Kaki” Sambil Menoleh Kiri-Kanan Saat Menyeberang Jalan, Videonya Viral

Sebuah video seekor anak anjing di daratan Tiongkok yang berdiri tegak sambil mengangkat kedua kaki depannya dan menyeberangi jalan viral di internet. Topik tersebut menjadi trending pada 10 Agustus dan memicu perbincangan warganet. Banyak yang menjulukinya sebagai “anak anjing paling pandai menyeberang jalan.”

EtIndonesia.com Baru-baru ini, seorang warganet dari Ulanqab, Mongolia Dalam, mengunggah video yang memperlihatkan seekor anjing kecil berwarna kuning mengangkat kedua kaki depannya dan menyeberangi jalan hanya dengan menggunakan kedua kaki belakangnya.

Saat berjalan, anjing tersebut juga beberapa kali menoleh ke kiri dan kanan untuk mengamati kendaraan yang melintas. Setelah memastikan situasi aman, ia baru melanjutkan perjalanan. Gerakannya terlihat seperti sedang meniru manusia ketika menyeberang jalan. Karena itu, warganet menjulukinya sebagai “anak anjing paling pandai menyeberang jalan.”

Video tersebut mendapat lebih dari seratus tanda suka dan banyak dibagikan, serta memicu ratusan ribu komentar. Banyak orang merasa terkejut sekaligus terhibur, memuji anjing tersebut karena lucu dan pintar. Namun, mereka juga khawatir kendaraan yang melintas mungkin tidak menyadarinya sehingga dapat terjadi kecelakaan.

Seorang warganet bertanya:“Mau bertanya dengan polos, sebenarnya apa manfaatnya dia berjalan seperti itu?”

Ada yang menjawab dengan bercanda: “Takut pengemudi tidak bisa melihatnya.”

“Pintar sekali, mungkin takut kedua kakinya kepanasan.”

“Dia meniru manusia menyeberang jalan, takut kamu tidak melihatnya dan tidak sengaja menabraknya.”

Komentar lainnya antara lain: “Anjing kecil: Kalau berdiri setinggi ini, seharusnya mereka bisa melihatku, kan?”

“Dia mengerti aturan lalu lintas.”

“Fungsinya seperti lampu lalu lintas yang berkedip.”

“Anjing yang pintar sekali. Aku ingin sekali berteman dengannya.”

“Bisa berjalan dengan dua kaki saja sudah luar biasa, ternyata masih bisa melihat ke kiri dan kanan.”

“Menyeberang jalan sambil melihat kiri-kanan, tidak berlari atau bermain di jalan.”

Namun, ada juga warganet yang memperhatikan kondisi kaki anjing tersebut.

Seseorang mengatakan: “Sepertinya bukan karena jalan terlalu panas. Perhatikan baik-baik, salah satu kaki depannya tidak bisa digunakan untuk menapak.”

Ada pula yang menduga: “Ini adalah anjing lokal Tiongkok (Chinese rural dog). Kaki depan kanannya tampaknya terluka.”

Sejumlah warganet mengingatkan para pengemudi agar lebih berhati-hati. Ketika melewati persimpangan atau jalan yang sering dilalui hewan, pengemudi disarankan mengurangi kecepatan dan memperhatikan kondisi jalan, untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Ada pula yang menganalisis kemungkinan alasan seekor anjing berjalan dengan posisi berdiri, yang secara umum dapat berkaitan dengan latihan, kebiasaan, penyakit, dan kondisi emosional.

Pertama, latihan dan kebiasaan: perilaku tersebut dapat terbentuk melalui latihan atau kebiasaan. Misalnya, pemilik mengajarkan anjing melakukan trik tertentu, atau anjing terbiasa berdiri karena kebutuhan khusus dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, penyakit: beberapa penyakit pada sistem saraf, gangguan otot dan tulang, atau rasa sakit dapat mempengaruhi cara berjalan seekor anjing. Jika perilaku tersebut disertai gejala tidak normal lainnya, anjing sebaiknya segera diperiksa oleh dokter hewan.

Ketiga, kondisi emosional: anjing mungkin berdiri dan berjalan dengan dua kaki ketika merasa bersemangat, penasaran, atau ingin menarik perhatian manusia. Kondisi emosional yang stabil dapat membantu mencegah perilaku tersebut menjadi berlebihan.

Sumber : NTDTV.com 

Iran Ajukan Syarat Baru Terkait Selat Hormuz Hingga Trump Tunda Aksi Militer, Pilih Tekanan Ekonomi Berat

Situasi antara Amerika Serikat dan Iran terus menegang. Iran menyatakan menolak melakukan perundingan langsung dengan Amerika Serikat. Teheran juga mengajukan sejumlah syarat jika Selat Hormuz ingin dibuka kembali, termasuk penarikan pasukan AS dari Timur Tengah dan pembayaran kompensasi dalam jumlah besar. 

Menghadapi sikap Iran yang terus menentang Washington, Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengatakan bahwa untuk sementara Amerika Serikat tidak mempertimbangkan serangan militer, melainkan akan meningkatkan tekanan melalui blokade laut dan sanksi ekonomi. Trump menggambarkan situasi ini seperti “permainan catur” dan memilih mengamati bagaimana Iran menghadapi krisis ekonomi berupa inflasi tinggi serta kekurangan dana.

EtIndonesia.com Pada Minggu (9/8/2026), kelompok militan Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Pelabuhan Mokha yang berada di bawah kendali pemerintah Yaman. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 15 warga sipil lainnya.

Pelabuhan Mokha merupakan salah satu pelabuhan utama yang dikuasai pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, pelabuhan tersebut telah diperbaiki dan terutama digunakan untuk menangani pelayaran yang menghindari Pelabuhan Hodeidah, yang berada di bawah kendali kelompok Houthi.

Tidak hanya itu, serangan Houthi juga meluas hingga Arab Saudi.

Pada hari yang sama, kelompok tersebut mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco di Jizan, Arab Saudi. Houthi mengatakan serangan tersebut merupakan aksi balasan atas dugaan pelanggaran wilayah udara Provinsi Hajjah dan Saada di Yaman oleh drone Arab Saudi.

Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kebakaran terjadi di sebuah fasilitas Saudi Aramco setempat. Namun, api telah berhasil dipadamkan dan tidak ada korban jiwa.

Di tengah serangkaian serangan yang dilakukan Houthi, Iran sebagai pendukung utama kelompok tersebut juga sedang menggunakan jalur pelayaran penting lainnya untuk memberikan tekanan kepada Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu mengatakan bahwa selama Amerika Serikat terus melanggar kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni, Iran tidak akan melakukan perundingan langsung dengan AS.

Namun demikian, kedua pihak saat ini masih bertukar informasi melalui perantara.

Pada Sabtu, Iran mengajukan tuntutan paling tinggi sejauh ini. Di antaranya adalah meminta Amerika Serikat secara permanen menghentikan ancaman militer terhadap Iran, menarik pasukannya dari Timur Tengah, serta menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Iran juga menuntut agar AS mencabut sanksi, mencairkan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta membayar kompensasi perang dalam jumlah besar.

Para analis mengatakan bahwa Iran telah lama menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi. Melalui ancaman serangan menggunakan rudal, drone, dan senjata lainnya terhadap kapal, Iran dapat mengganggu lalu lintas pelayaran komersial.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa kedua pihak sedang berada dalam “masa transisi yang sangat penting” untuk menyelesaikan konflik. Jika Iran tidak bersedia melakukan perubahan, Amerika Serikat akan terus meningkatkan tekanan.

Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu bahwa meskipun Teheran terus menentang Washington, dirinya siap meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, bukan memerintahkan serangan militer baru.

Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini bertindak secara hati-hati dan tidak terlalu terbuka, dengan tujuan mengamati bagaimana Iran menghadapi inflasi yang parah dan kekurangan dana.

Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Iran sangat buruk. Iran bahkan kekurangan dana untuk membayar gaji tentaranya, sementara blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat semakin memperburuk krisis ekonomi Teheran.

Ketika berbicara mengenai upaya menghadapi Iran, Trump mengatakan bahwa situasinya seperti bermain catur dan semuanya pada akhirnya akan menjadi lebih baik.

Laporan gabungan: Yixin, New Tang Dynasty Television

Moskow dalam Bidikan? Rudal Baru Ukraina Disebut Bisa Beroperasi dalam Dua Bulan

Perang Rusia-Ukraina terus memanas. Militer Ukraina mengatakan bahwa dalam satu malam mereka menembak jatuh 174 drone Shahed milik Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan rudal balistik yang dikembangkan sendiri oleh Ukraina kemungkinan sudah dapat digunakan dalam pertempuran dalam waktu 2–3 bulan, dan berpotensi mengancam Moskow. Pada saat yang sama, ia memperingatkan bahwa sebanyak 50.000 tentara Korea Utara mungkin akan dikirim ke Rusia untuk ikut berperang. Situasi perang dikhawatirkan kembali meningkat.

EtIndonesia.com Angkatan Udara Ukraina pada Minggu (9/8/2026) mengonfirmasi bahwa dalam semalam pasukan Ukraina menembak jatuh 174 drone jenis Shahed milik Rusia dan lima rudal “Banderol”.

Wilayah Odesa menjadi salah satu sasaran utama serangan. Sedikitnya 12 orang terluka, sementara sejumlah wilayah di Kota Odesa mengalami pemadaman listrik dan gangguan pasokan air. Pada saat yang sama, pasukan Rusia juga menyerang wilayah Kharkiv, menewaskan tiga orang dan melukai 37 lainnya.

Di sisi lain, pemerintah wilayah Belgorod, Rusia, menuduh Ukraina melancarkan serangan drone yang menewaskan lima orang dan melukai 25 lainnya.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan telah menghancurkan lebih dari 150 drone Ukraina di wilayah udara Krimea, Laut Hitam, dan Laut Azov.

Pada Sabtu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan dirinya puas dengan hasil operasi serangan selama 40 hari yang bertujuan memaksa Rusia mengakhiri perang. Ia mengatakan, dalam 40 hari terakhir, serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia telah menimbulkan kerugian sedikitnya hingga 1 triliun rubel, atau sekitar 12,2 miliar dolar AS.

Zelenskyy juga mengonfirmasi bahwa rudal balistik yang dikembangkan Ukraina, FP9, kemungkinan dapat memiliki kemampuan tempur dalam waktu 2–3 bulan. Rudal tersebut disebut-sebut mampu mencapai Moskow dan meningkatkan kemampuan militer Ukraina untuk menembus tiga lapis sistem pertahanan udara di sekitar Moskow. Sementara itu, rudal balistik FP7 sedang menjalani proses sertifikasi oleh Kementerian Pertahanan Ukraina dan diperkirakan selesai bulan ini.

“Situasi di Moskow lebih kompleks. Moskow bukan sekadar ibu kota simbolis. Namun, kami sedang memberikan respons terhadap serangan mereka,” katanya. 

Selain itu, Zelenskyy mengungkapkan bahwa sebanyak 50.000 tentara Korea Utara kemungkinan akan dikerahkan ke Rusia. Ia juga menyerukan kepada Korea Selatan agar memberikan dukungan pertahanan udara kepada Ukraina.

Sementara itu, berdasarkan dokumen Departemen Luar Negeri Amerika Serikat kepada Kongres pada 6 Agustus, Ukraina telah membeli sejumlah besar peralatan pertahanan buatan AS dari Turkiye. Di antaranya terdapat 70 unit Army Tactical Missile System (ATACMS) dengan jangkauan sekitar 165 kilometer. Pengiriman senjata tersebut diperkirakan akan dimulai pada akhir Agustus.

Paket tersebut juga mencakup 12 unit sistem peluncur roket multipel M270 (MLRS), lebih dari 2.000 munisi cluster, serta 47.000 peluru artileri.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa transaksi tersebut “sejalan dengan tujuan bantuan keamanan Amerika Serikat”.

Laporan gabungan: Yu Liang, New Tang Dynasty Television

Topan Dolphin Mendarat di Zhejiang, Shanghai, Tiongkok Terendam Banjir, Lebih dari 210.000 Orang Dievakuasi

Topan super ke-13 tahun ini, “Dolphin”, mendarat di Provinsi Zhejiang pada 9 Agustus sore. Dalam waktu hanya 70 menit, topan tersebut berturut-turut mendarat di Yuhuan dan Yueqing. Saat mendarat, kecepatan angin maksimum mencapai level 14, membawa angin kencang dan hujan lebat ke wilayah pesisir Tiongkok timur.

EtIndonesia.com Topan super “Dolphin” datang dengan sangat kuat. Wilayah pesisir Zhejiang dilanda angin dan hujan deras. Hampir 400.000 orang di Taizhou telah dievakuasi sebelumnya. 

Di wilayah pesisir, kegiatan kerja, sekolah, usaha, dan transportasi juga dihentikan secara menyeluruh. Dalam beberapa hari ke depan, sejumlah wilayah diperkirakan akan mengalami curah hujan ekstrem antara 200 hingga 400 milimeter. Otoritas setempat meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan tanah longsor.

Selain Zhejiang, hampir 100.000 orang di Fujian juga telah dievakuasi sebelumnya. Sebanyak 115 proyek pekerjaan di perairan dihentikan, sementara lebih dari 50 jalur transportasi penyeberangan penumpang dihentikan sementara.

Shanghai juga terkena dampak angin kencang dan hujan deras. Hingga pukul 14.00 pada 9 Agustus, curah hujan kumulatif di Tangqiao, Pudong, mencapai 264 milimeter. Di sejumlah wilayah Xuhui, curah hujan dalam satu jam bahkan mencapai 94 milimeter. Banjir dan genangan parah terjadi di berbagai lokasi, sehingga lebih dari 210.000 orang di seluruh kota dipindahkan dan ditempatkan di lokasi pengungsian.

Di sekitar Wukang Building, Distrik Xuhui, Yanqing Road, dan Gedung CenturyLink di Pudong, terjadi genangan parah. Ketinggian air bahkan mencapai atau melewati betis orang dewasa, menyebabkan banyak kendaraan mogok.

Topan tersebut juga memberikan dampak besar terhadap transportasi Shanghai. Bandara Pudong dan Hongqiao membatalkan 1.384 penerbangan, atau hampir 60% dari seluruh penerbangan yang sebelumnya dijadwalkan. Seluruh layanan bus antar kota dihentikan, sementara sejumlah jalur kereta cepat dan kereta api juga menghentikan layanan sementara. Beberapa jalur metro bahkan dihentikan atau dioperasikan dengan kecepatan terbatas.

Badan meteorologi mengatakan bahwa angin dan hujan di Shanghai masih akan berlanjut. Pada Senin (10 Agustus) pagi, hujan dan angin masih cukup kuat sehingga aktivitas perjalanan pada jam sibuk pagi hari diperkirakan akan terganggu.

Setelah melewati Zhejiang, “Dolphin” akan bergerak ke arah barat laut dan diperkirakan mempengaruhi wilayah Henan, Hubei, dan Anhui. Topan tersebut bahkan berpotensi membawa hujan lebat ke Beijing, Tianjin, dan Hebei.

Selain itu, topan ini juga memperkuat pengaruh monsun di Filipina, menyebabkan banjir dan tanah longsor. Lebih dari 12.000 orang telah dievakuasi, sementara sejumlah orang lainnya dilaporkan masih belum ditemukan.

Zheng Shengxun, New Tang Dynasty Television

Israel Menolak Rencana 15 Poin untuk Gaza, Tidak Akan Menarik Pasukan Sebelum Hamas Melucuti Senjata

EtIndonesia.com Rencana perdamaian Gaza yang didorong oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menghadapi hambatan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 9 Agustus secara terbuka menyatakan bahwa Israel menolak rencana 15 poin yang diajukan Trump. Ia menegaskan bahwa sebelum Hamas benar-benar melucuti senjatanya, pasukan Israel tidak akan ditarik dari Gaza.

Dalam rapat kabinet pada 9 Agustus, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan sikapnya dengan menolak rencana perdamaian Gaza 15 poin yang diajukan Trump.

Ia mengatakan bahwa Hamas harus terlebih dahulu benar-benar dan sepenuhnya melucuti senjata sebelum pasukan Israel menarik diri. Menurutnya, pelucutan senjata tersebut tidak boleh sekadar formalitas.

“Ketika saya mengatakan Hamas harus melucuti senjata, yang saya maksud adalah senjata berat, senjata yang lebih ringan, senjata ringan—semua senjata. Yang kami maksud adalah pelucutan senjata yang nyata, bukan pelucutan senjata palsu,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Berdasarkan rencana perdamaian Gaza 15 poin tersebut, Hamas harus melucuti senjata, sementara pasukan Israel secara bertahap menarik diri dari Gaza. Setelah itu, pasukan stabilisasi internasional dan pasukan kepolisian Palestina yang baru akan bertanggung jawab atas keamanan di wilayah tersebut.

Namun, masalah utama dalam penerapan rencana ini terletak pada pertanyaan “siapa yang harus bertindak terlebih dahulu?”

Israel menuntut Hamas melucuti senjata terlebih dahulu sebelum pasukan Israel menarik diri. Sebaliknya, Hamas menuntut Israel terlebih dahulu menghentikan serangan dan menarik pasukannya sebelum mereka membahas masalah pelucutan senjata. Kedua pihak sama-sama menuntut pihak lain mengambil langkah pertama, sehingga rencana perdamaian tersebut mengalami kebuntuan.

Saat ini, pasukan Israel masih menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza. Setelah Trump mengumumkan bahwa perundingan telah mencapai terobosan, operasi militer Israel di Gaza sempat meningkat, tetapi dalam beberapa hari terakhir intensitasnya menurun.

Di tengah tekanan ganda—Amerika Serikat yang mendorong pelaksanaan rencana perdamaian dan kelompok garis keras di dalam negeri Israel yang menentang penarikan pasukan—Netanyahu masih bersikeras bahwa Hamas harus terlebih dahulu melucuti senjata.

Hal ini membuat rencana perdamaian 15 poin yang diajukan Presiden Trump menghadapi tantangan besar dalam pelaksanaannya.

Laporan gabungan: Yixin, New Tang Dynasty Television

Properti Tiongkok Dijual Separuh Harga, Raksasa Modal Asing Rugi dan Angkat Kaki

Krisis properti Tiongkok terus memburuk, sementara modal internasional mempercepat penarikan diri. Raksasa private equity asal Amerika Serikat KKR dan lembaga manajemen investasi properti global AEW dikabarkan baru-baru ini menjual sejumlah properti komersial mereka di Tiongkok dengan diskon besar, bersiap meninggalkan pasar meskipun harus menanggung kerugian. Para pakar memperingatkan bahwa keluarnya investor asing dapat memperburuk penilaian ulang terhadap nilai properti dan bahkan memicu babak baru krisis likuiditas

EtIndonesia.com Bloomberg baru-baru ini mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut dan melaporkan bahwa KKR dan AEW sedang mencari pembeli untuk aset properti komersial mereka di Tiongkok. Keduanya bersiap menjual aset tersebut dengan potongan harga yang besar.

KKR berencana menjual sembilan proyek, termasuk sebuah kompleks apartemen kelas atas di pinggiran Beijing serta Hotel Orange Crystal di kawasan Yuyuan, Bund, Shanghai. Sementara itu, AEW sedang mencari pembeli untuk Hongsheng International Center dan Jingyin International Center di Beijing, serta Gedung Bank Shanghai Pudong Development (SPDB) di Lujiazui, Shanghai.

Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, harga jual aset-aset tersebut diperkirakan hanya sekitar 50%–60% dari harga pembelian awal. Bahkan jika berhasil dijual dengan lancar, hasilnya kemungkinan hanya cukup untuk melunasi pinjaman bank.

Ekonom AS David Huang mengatakan bahwa kesediaan KKR untuk menjual aset dengan harga hampir separuh dari harga sebelumnya menunjukkan bahwa tujuan utama investor asing saat ini bukan lagi memperoleh keuntungan, melainkan menghindari gagal bayar kepada bank dan secepat mungkin keluar dari pasar.

“Harga transaksi KKR, sebagai institusi kelas dunia, akan menjadi patokan baru bagi seluruh sektor properti komersial Tiongkok. Hal ini akan memaksa dana kekayaan negara dan perusahaan asuransi asing yang memiliki aset properti di Tiongkok—seperti GIC Singapura dan CPP Kanada—untuk melakukan pencadangan penurunan nilai yang besar terhadap aset properti mereka di Tiongkok dalam laporan keuangan,” katanya. 

“Pada saat yang sama, hal ini dapat memicu gelombang kedua aksi jual yang menyebabkan krisis likuiditas. Institusi asing yang sebelumnya masih mengamati situasi dan bersiap keluar akan menyadari bahwa semakin lama mereka menjual, semakin kecil kemungkinan mereka mendapatkan likuiditas,” ujarnya. 

Menurut data, selama 15 tahun terakhir, modal asing secara kumulatif telah menginvestasikan hampir 140 miliar dolar AS ke sektor properti komersial Tiongkok, termasuk gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, logistik, dan pusat data.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa seiring tingkat kekosongan gedung komersial terus meningkat, harga sewa dan harga aset sama-sama turun. Kini, hampir seluruh investor tersebut telah berubah menjadi penjual dan berlomba-lomba mencari cara untuk melepas aset mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah lembaga investasi internasional, termasuk Blackstone, juga telah menjual aset logistik dan properti lainnya di Tiongkok. Kini KKR dan AEW ikut bergabung dalam gelombang penjualan, semakin menunjukkan upaya investor asing untuk mengurangi eksposur mereka terhadap pasar properti Tiongkok.

David Huang menunjukkan bahwa hal yang lebih patut diperhatikan adalah setelah investor asing keluar, aset-aset tersebut pada akhirnya tetap harus ditanggung oleh sistem keuangan domestik Tiongkok.

“Pihak yang biasanya mengambil alih aset yang ditinggalkan investor asing adalah perusahaan milik negara domestik, perusahaan pembiayaan pemerintah daerah, atau perusahaan manajemen aset yang menangani hutang luar negeri,” ujarnya. 

“Ini berarti kerugian atas aset asing sudah direalisasikan, sementara bank-bank Tiongkok dan perusahaan dalam sistem negara harus mengambil alih aset-aset yang tidak produktif tersebut, dengan tingkat kekosongan tinggi dan imbal hasil rendah. Dampak kerugian finansial akan semakin besar dan selanjutnya menekan pertumbuhan PDB,” tambahnya. 

Keluarnya raksasa modal asing dari sektor properti komersial dengan menanggung kerugian hanyalah salah satu bagian dari kesulitan yang dihadapi sektor properti Tiongkok. Pasar perumahan juga tidak menunjukkan kondisi yang menggembirakan.

Data Biro Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan bahwa pada paruh pertama tahun ini, investasi pengembangan properti secara nasional turun 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi di sektor perumahan turun 17,8%.

Survei harga rumah di 70 kota besar dan menengah yang dirilis pada periode yang sama juga menunjukkan bahwa baik harga rumah baru maupun rumah bekas masih terus mengalami penurunan di berbagai tingkatan kota.

Menurut data China Index Academy, dalam tujuh bulan pertama tahun ini, perusahaan properti dengan nilai penjualan antara 30 miliar hingga 100 miliar yuan hanya tersisa enam perusahaan, turun 21 perusahaan dibandingkan periode yang sama pada 2023. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan properti kelas menengah sedang menyusut dengan cepat. Bahkan, banyak perusahaan properti mengalami penurunan penjualan hingga di bawah 30 miliar yuan.

Orang dalam industri mengatakan bahwa banyak perusahaan properti sudah lama tidak membeli lahan baru. Seiring persediaan proyek yang masih dapat dijual terus berkurang, skala penjualan diperkirakan akan terus menyusut.

Profesor Sun Guoxiang dari Departemen Urusan Internasional dan Bisnis, Universitas Nanhua di Taiwan, mengatakan bahwa penataan ulang pasar properti komersial dan perumahan merupakan “penyakit yang sama dengan penyebab yang berbeda”, tetapi keduanya mencerminkan persoalan struktural yang lebih dalam pada sektor properti Tiongkok.

“Keduanya sama-sama dipengaruhi oleh leverage yang tinggi, ketergantungan pemerintah daerah pada pendapatan dari tanah, ekspektasi demografis, serta berbaliknya logika bahwa harga aset hanya bisa naik dan tidak akan turun. Namun penyebabnya juga berbeda,” katanya. 

“Pasar perumahan terjebak dalam penurunan ekspektasi pendapatan masyarakat, risiko proyek mangkrak, tekanan demografi dan kelebihan persediaan. Sementara properti komersial dipengaruhi oleh perampingan perusahaan, lemahnya konsumsi, perdagangan elektronik yang menggantikan sebagian kebutuhan ruang kantor, serta keluarnya modal asing,” ujarnya. 

Sun Guoxiang menilai bahwa narasi bahwa “aset Tiongkok pasti naik” telah runtuh. Ke depan, investor asing akan semakin memperhatikan risiko terkait transparansi kebijakan, geopolitik, likuiditas, serta neraca keuangan sebelum berinvestasi di Tiongkok.

Li Mingfei | Luo Ya | Zhong Yuan

Jepang Berhasil Uji Coba Rudal Tomahawk, Apakah Provokasi PKT Justru Berbalik Merugikan?

Pasukan Bela Diri Maritim Jepang baru-baru ini untuk pertama kalinya berhasil meluncurkan rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat. Ini merupakan tonggak penting dalam kerja sama angkatan laut Jepang dan AS. 

PKT (Partai Komunis Tiongkok) bereaksi keras dan menyatakan bahwa langkah Jepang untuk mempercepat pengembangan senjata ofensif sangat berbahaya. Namun demikian, para akademisi menunjukkan bahwa tindakan PKT yang terus-menerus menimbulkan masalah di kawasan sekitarnya justru memaksa negara-negara lain untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka sendiri.

EtIndonesia.com Kementerian Pertahanan Jepang pada 30 Juli mengumumkan bahwa kapal perusak Aegis Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, JS Chokai, telah melakukan uji coba peluncuran rudal jelajah Tomahawk di perairan Samudra Pasifik dekat Amerika Serikat. Dengan demikian, Jepang menjadi sekutu AS ketiga setelah Australia dan Belanda yang mampu meluncurkan rudal Tomahawk dari kapal permukaan.

Rudal jelajah Tomahawk memiliki jangkauan hingga sekitar 1.600 kilometer. Jika diluncurkan dari perairan sekitar Jepang, jangkauannya dapat mencakup wilayah Tiongkok.

Menurut Kementerian Pertahanan Jepang, seluruh delapan kapal perusak Aegis milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang akan dilengkapi rudal Tomahawk. Sementara itu, lembaga pemikir Amerika Serikat, Institute for the Study of War (ISW), mengungkapkan bahwa Jepang telah membeli 400 rudal Tomahawk.

“Ini menunjukkan bahwa pembangunan kemampuan pertahanan di luar zona ancaman negara kita telah mengalami kemajuan yang stabil dan memiliki arti yang sangat penting. Dalam lingkungan keamanan yang paling berat dan kompleks sejak berakhirnya perang, memperkuat kemampuan pertahanan di luar zona ancaman merupakan hal yang sangat penting untuk melindungi kehidupan rakyat serta kehidupan yang damai,” kata Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi. 

Blogger militer terkenal Zhou Ziding mengatakan bahwa Jepang selama bertahun-tahun dibatasi oleh Konstitusi Perdamaian, sehingga tidak berani mengembangkan senjata ofensif. Akibatnya, Jepang tidak memiliki senjata serang darat jarak jauh, sementara senjata serang antikapalnya memiliki jangkauan yang relatif pendek dan pada dasarnya hanya digunakan untuk pertahanan di sekitar wilayah pesisir.

“Rudal jelajah Tomahawk hanyalah tahap pertama. Ini akan memberikan Jepang kemampuan untuk menyerang sasaran musuh dari jarak jauh lebih dari 1.000 kilometer, termasuk menyerang kapal perang lawan,” tambahnya. 

“Jepang juga sedang mengembangkan rudal dengan peningkatan jangkauan, yang telah ditetapkan sebagai Tipe 25. Rudal tersebut memiliki jangkauan lebih dari 900 kilometer dan akan menjadi senjata serang jarak jauh produksi dalam negeri pertama Jepang,” katanya. 

PKT bereaksi keras terhadap perkembangan tersebut. Pada 7 Agustus, juru bicara Kementerian Pertahanan Tiongkok, Chen Xi, saat menjawab pertanyaan wartawan, menyatakan bahwa langkah Jepang untuk mempercepat pengembangan senjata ofensif sangat berbahaya. Ia menyerukan masyarakat internasional untuk bersama-sama mencegah apa yang disebutnya sebagai “militerisme gaya baru” Jepang.

“PKT selama ini tidak menginginkan Jepang mengembangkan lebih banyak senjata serang jarak jauh dan memperkuat militernya. Namun justru karena dalam lebih dari satu dekade terakhir PKT terus menunjukkan sikap diplomatik dan militer yang agresif, baik di Laut Tiongkok Timur maupun Laut Tiongkok Selatan, Jepang terpaksa meningkatkan persenjataan dan memperbesar investasinya. Ini merupakan hasil yang tidak terhindarkan,” kata Zhou Ziding. 

Institute for the Study of War (ISW) menyatakan bahwa narasi Beijing tersebut melanjutkan pola yang sudah digunakan sebelumnya. Di satu sisi, Beijing berusaha mengecilkan tekanan yang diberikan PKT terhadap negara-negara di sekitarnya. Di sisi lain, Beijing mengaitkan penguatan pertahanan Jepang dengan sejarah militerisme Jepang pada masa Perang Dunia II.

“Juru bicara Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri PKT menyebutnya sebagai bentuk militerisme baru Jepang. Sebenarnya, itu merupakan istilah yang terlalu berlebihan. Karena pihak yang benar-benar melakukan ekspansi militer adalah PKT dan Korea Utara,” ujar Su Ziyun, Direktur Taiwan Institute for National Defense and Security Research. 

“Negara-negara lain hanya meningkatkan kemampuan serangan balasan dan kemampuan untuk menghadapi ancaman secara proporsional. Jadi, baik rudal Tomahawk maupun rudal hipersonik Tipe 25 yang diproduksi Jepang sendiri, pada dasarnya hanya memberikan Jepang kemampuan untuk melakukan serangan balasan terhadap pihak yang melakukan agresi,” tambahnya. 

Menurut analisis ISW, PKT selama ini terus menekan Jepang karena Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara terbuka menyatakan bahwa “jika terjadi keadaan darurat di Taiwan, itu berarti keadaan darurat bagi Jepang.” 

Namun demikian, Jepang tidak memperlambat langkahnya. Sebaliknya, Tokyo terus mendorong reformasi pertahanan dan meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh. Kini, Jepang bahkan telah melakukan uji coba nyata rudal Tomahawk. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan PKT tidak berhasil menghentikan Jepang dalam memperkuat pertahanannya.

Zhou Ziding berpendapat bahwa upaya Jepang untuk menutupi kekurangan dalam kemampuan serangan jarak jauhnya dan meningkatkan daya tangkal strategis terhadap kawasan Laut Tiongkok Timur serta Selat Taiwan akan membuat hubungan Jepang dan PKT semakin tegang. Namun, Amerika Serikat juga membutuhkan Jepang sebagai salah satu pijakan strategis di kawasan Asia-Pasifik untuk menjaga keseimbangan strategis di sekitar Taiwan.

Su Ziyun juga menunjukkan bahwa apakah itu Korea Selatan, Jepang, Taiwan, maupun Filipina, pengembangan sendiri atau penempatan rudal yang disediakan oleh negara-negara sahabat pada dasarnya bertujuan untuk menyeimbangkan kembali kekuatan di kawasan Indo-Pasifik.

Menurutnya, penyebab ketegangan di kawasan tersebut adalah provokasi PKT yang terus berlangsung, termasuk mengerahkan pesawat militer dan kapal perang untuk melakukan patroli serta mengubah status quo. Karena itu, tanggung jawab atas situasi tersebut seharusnya berada pada PKT, sementara negara-negara lain memiliki hak yang sah dan legal untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka.

Song Feng | Chang Chun

Mengejutkan! Houthi Lancarkan Serangan Baru, Trump Ungkap Iran Sedang Kehabisan Uang

EtIndonesia.com  Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat sensitif. Ketika upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung, kelompok Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan besar terhadap kota pelabuhan strategis Mocha di pesisir Laut Merah.

Serangan tersebut terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026, dan perkembangan terbarunya terus menjadi perhatian pada Senin, 10 Agustus 2026. Insiden ini semakin meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik yang melibatkan Iran dan kelompok-kelompok sekutunya masih berpotensi meluas di kawasan.

Menurut laporan Reuters, serangan Houthi terhadap Mocha menewaskan sedikitnya tujuh orang, terdiri atas empat personel militer dan tiga warga sipil. Sedikitnya 30 orang lainnya dilaporkan terluka. Militer Yaman juga menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat dan menjatuhkan 11 pesawat nirawak Houthi yang terlibat dalam operasi tersebut.

Rekaman yang disiarkan stasiun televisi Al-Masirah, media yang berafiliasi dengan Houthi, memperlihatkan peluncuran sejumlah rudal balistik dan pengerahan pesawat nirawak dalam operasi tersebut.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan sasaran operasi mencakup lokasi konsentrasi pasukan Arab Saudi serta gudang-gudang persenjataan. Namun, pihak militer Yaman menyatakan serangan juga menghantam kawasan permukiman di Mocha dan mengakibatkan korban di kalangan warga sipil.

Mocha memiliki nilai strategis yang sangat penting karena berada di pesisir Laut Merah dan tidak jauh dari Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran internasional terpenting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Karena itu, peningkatan aktivitas militer di kawasan tersebut tidak hanya berdampak terhadap perang di Yaman, tetapi juga berpotensi memengaruhi keamanan jalur perdagangan dan pengiriman energi internasional.

Serangan terhadap Mocha juga berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran Arab Saudi terhadap aktivitas kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran. Beberapa hari sebelumnya, pada 6 Agustus 2026, seorang pejabat senior Saudi mengatakan bahwa Riyadh menerima informasi intelijen mengenai kemungkinan serangan terkoordinasi dari Houthi di selatan serta kelompok bersenjata pro-Iran di Irak dari arah utara.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, perhatian internasional juga tertuju pada langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran.

Dalam wawancara melalui telepon dengan Axios yang dipublikasikan pada 9 Agustus 2026, Trump memberikan sinyal bahwa Washington untuk sementara tidak terburu-buru melancarkan operasi militer baru terhadap Teheran.

Trump menggambarkan strategi yang sedang dijalankannya terhadap Iran seperti sebuah permainan catur.

Menurut Trump, Amerika Serikat saat ini mengambil pendekatan yang relatif tenang sambil menunggu tekanan ekonomi terhadap Iran menghasilkan dampak yang lebih besar.

“Segala sesuatunya akan terselesaikan. Ini seperti permainan catur,” ujar Trump.

Berbeda dengan sejumlah pernyataan kerasnya sebelumnya, Trump dalam wawancara tersebut tidak secara langsung mengancam Iran dengan serangan militer baru. Ia justru menyoroti memburuknya kondisi perekonomian Iran.

Trump mengatakan Iran sedang menghadapi inflasi sangat tinggi dan kekurangan sumber daya keuangan. Menurutnya, tekanan yang dihadapi Teheran bahkan telah memengaruhi kemampuan pemerintah dalam membiayai aparat dan pasukannya.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa Washington tampaknya sedang mencoba menggunakan tekanan ekonomi sebagai instrumen utama, setidaknya untuk sementara waktu, daripada langsung membuka kembali operasi militer berskala besar.

Kebijakan itu menjadi penting karena hanya beberapa waktu sebelumnya Trump disebut hampir kembali mempertimbangkan aksi militer besar terhadap Iran. Namun, jalur diplomasi yang melibatkan Amerika Serikat, Iran dan Oman masih belum sepenuhnya tertutup.

Salah satu persoalan utama adalah masa depan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang memiliki peranan sangat besar terhadap perdagangan energi dunia.

Di dalam Iran sendiri, tekanan ekonomi dan militer dari luar juga disebut semakin memperumit dinamika politik internal.

Sejumlah laporan media menggambarkan adanya persaingan antara kelompok yang menginginkan kompromi untuk mencegah kondisi ekonomi Iran semakin memburuk dan kelompok garis keras yang menolak memberikan konsesi besar kepada Washington.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama ini dipandang berada pada kubu yang lebih terbuka terhadap penyelesaian diplomatik. Sebaliknya, sejumlah tokoh konservatif dan unsur kuat di lingkungan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC dinilai menginginkan sikap yang jauh lebih keras.

Namun, laporan mengenai pembagian kubu dan siapa tepatnya yang memimpin masing-masing kelompok perlu diperlakukan dengan hati-hati karena kondisi politik Iran saat ini sangat tertutup dan sebagian informasi mengenai perebutan pengaruh di tingkat elite sulit diverifikasi secara independen.

Persoalan menjadi semakin rumit karena berbagai faksi politik Iran sama-sama berusaha mengaitkan posisi mereka dengan dukungan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang pada akhirnya memiliki pengaruh terbesar dalam menentukan arah kebijakan Iran terhadap Amerika Serikat.

Di sisi lain, pasar prediksi juga memperlihatkan adanya ekspektasi bahwa ketegangan mungkin dapat berangsur mereda. Namun, angka probabilitas di platform seperti Polymarket pada dasarnya hanya mencerminkan posisi dan ekspektasi para pedagang pada suatu waktu, bukan ramalan resmi ataupun jaminan bahwa sebuah peristiwa akan benar-benar terjadi.

Trump sendiri disebut semakin memprioritaskan satu tujuan praktis: memulihkan kebebasan pelayaran komersial di kawasan.

Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Washington tidak lagi semata-mata berkaitan dengan program nuklir Iran. Keamanan Selat Hormuz, kebebasan navigasi, stabilitas pasokan energi, aktivitas kelompok proksi Iran, dan perlindungan negara-negara Teluk kini menjadi bagian dari perhitungan yang jauh lebih besar.

Perkembangan pada 9 hingga 10 Agustus 2026 memperlihatkan kontradiksi yang sangat jelas. Di satu sisi, Trump memberikan sinyal bahwa Amerika Serikat bersedia menahan diri dan membiarkan tekanan ekonomi bekerja. Namun di sisi lain, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran justru kembali meningkatkan operasi militernya di Yaman dan kawasan Laut Merah.

Situasi tersebut membuat Timur Tengah masih berada dalam kondisi yang sangat rapuh.

Apabila diplomasi mengenai Selat Hormuz berhasil menghasilkan kompromi, peluang untuk mengurangi ketegangan antara Washington dan Teheran dapat terbuka lebih lebar. Namun, apabila serangan Houthi dan kelompok bersenjata pro-Iran terus meningkat, tekanan terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Teluk untuk memberikan respons juga akan semakin besar.

Untuk saat ini, strategi Trump tampaknya adalah menunggu sambil mempertahankan tekanan maksimal terhadap Iran—sebuah pendekatan yang ia sendiri gambarkan seperti permainan catur, ketika setiap langkah diperhitungkan dan satu keputusan yang keliru dapat mengubah keseluruhan permainan. (***)

Putin Dapat Kabar Buruk! Jenderal Rusia Jadi Target, Tokoh Penting Industri Drone Ikut Diserang

EtIndonesia.com — Perang Rusia-Ukraina terus berkembang jauh melampaui pertempuran konvensional di garis depan. Selain menyerang pangkalan militer, fasilitas energi, pusat logistik, dan infrastruktur strategis Rusia, Ukraina dilaporkan semakin mengandalkan operasi jarak jauh dan aktivitas di belakang garis lawan untuk memberikan tekanan terhadap individu yang dianggap memiliki peran penting dalam mesin perang Moskow.

Dalam sejumlah laporan yang beredar pada awal Agustus 2026, Ukraina diklaim telah menargetkan tokoh dari lingkungan militer Rusia serta industri pertahanan negara tersebut. Namun, beberapa rincian mengenai identitas target, lokasi kejadian, serta kondisi korban masih membutuhkan konfirmasi independen dan belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Salah satu sosok yang disebut menjadi sasaran adalah seorang mayor jenderal Angkatan Darat Rusia bernama Valery. Menurut narasi yang beredar, perwira tersebut pernah menduduki posisi wakil komandan Angkatan Darat Gabungan ke-49 Rusia pada tahap awal invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.

Ia disebut terlibat dalam operasi militer Rusia di Ukraina dan memperoleh penghargaan berkaitan dengan apa yang oleh pemerintah Rusia disebut sebagai “operasi militer khusus”.

Laporan tersebut menjadi semakin menarik perhatian karena serangan itu diklaim terjadi hanya beberapa hari setelah operasi lain yang juga menyasar figur penting Rusia. Apabila rangkaian peristiwa tersebut terkonfirmasi, perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan Ukraina tidak lagi hanya diarahkan terhadap perangkat keras militer, tetapi juga terhadap orang-orang yang dianggap berperan dalam perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan operasi perang Rusia.

Operasi lainnya dilaporkan berlangsung di sekitar Yekaterinburg, kota besar di kawasan Ural yang terletak jauh dari medan pertempuran utama Ukraina.

Target serangan disebut seorang tokoh bernama Tkatchuk, yang dikaitkan dengan sebuah perusahaan pengembang pesawat nirawak Rusia. Ia disebut memiliki peranan dalam pengembangan drone yang digunakan pasukan Rusia dan pernah memperoleh penghargaan serta bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin.

Selain berkecimpung dalam industri teknologi pertahanan, Tkatchuk disebut memiliki pengaruh di lingkungan komunitas militer Rusia di media sosial.

Dalam insiden tersebut, kendaraan yang ditumpanginya dilaporkan hancur akibat ledakan. Tkatchuk disebut mengalami luka berat dan kemudian menjalani perawatan intensif. Akan tetapi, rincian mengenai penyebab ledakan, pihak yang bertanggung jawab, maupun perkembangan kondisi kesehatannya masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

Terlepas dari status verifikasi sejumlah detail tersebut, pola operasi semacam ini memperlihatkan perubahan penting dalam karakter perang. Konflik tidak lagi terbatas pada parit, garis pertahanan, dan posisi artileri. Infrastruktur industri pertahanan, jaringan logistik, hingga personel yang mendukung kemampuan tempur dari wilayah belakang semakin dipandang sebagai bagian dari arena konflik.

Zelensky Pacu Rudal Balistik dan Pertahanan Antirudal Ukraina

Pada saat yang sama, Kyiv menghadapi persoalan yang tidak kalah mendesak. Rusia terus mengandalkan kombinasi drone serang, rudal jelajah, dan rudal balistik untuk menekan kota serta infrastruktur Ukraina.

Kondisi tersebut mendorong Presiden Volodymyr Zelensky mempercepat upaya membangun kemandirian industri pertahanan negaranya.

Pada awal Agustus 2026, Zelensky memimpin pembahasan tingkat tinggi mengenai pengembangan kemampuan rudal Ukraina dan peningkatan perlindungan terhadap ancaman rudal balistik.

Pertemuan tersebut melibatkan unsur penting dari sektor keamanan dan pertahanan Ukraina, termasuk Kementerian Pertahanan, lembaga intelijen, Angkatan Udara, serta pengembang teknologi pertahanan.

Salah satu ambisi terbesar Kyiv adalah membangun kemampuan produksi rudal balistik dalam negeri sekaligus mengembangkan teknologi pencegat yang dapat mengurangi ketergantungan Ukraina terhadap sistem buatan Barat.

Zelensky menekankan bahwa hanya sedikit negara di dunia yang mempunyai kemampuan ilmiah dan industri untuk mengembangkan rudal balistik sekaligus sistem pertahanan yang dirancang menghadapi ancaman tersebut. Menurut pemerintah Ukraina, negara itu memiliki ilmuwan, insinyur, tenaga teknologi, dan pengalaman perang yang dapat menjadi fondasi pengembangannya.

Program tersebut diperkirakan membutuhkan proses panjang hingga mencapai kemampuan operasional matang. Karena itu, periode 2026 hingga 2027 menjadi sangat penting bagi pengembangan sejumlah proyek strategis pertahanan Ukraina.

Kyiv juga berharap negara-negara Eropa dapat terlibat lebih jauh dalam pengembangan dan pembiayaan teknologi pertahanan udara serta antirudal.

Masalahnya, ancaman rudal Rusia sudah berlangsung sekarang.

Karena itulah Ukraina tetap sangat membutuhkan sistem pertahanan udara Barat, terutama Patriot, yang memiliki kemampuan menghadapi sejumlah jenis rudal balistik.

Zelensky mengatakan Ukraina telah membahas mekanisme pasokan rudal pencegat Patriot secara berkelanjutan dengan Amerika Serikat. Namun, ketersediaan rudal pencegat tetap menjadi persoalan karena kebutuhan Ukraina sangat besar sementara kapasitas produksi dan stok sekutunya terbatas.

Kyiv pun terus meminta negara-negara pemilik Patriot dan sistem pertahanan udara lain untuk membantu memperkuat perlindungan wilayah Ukraina.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga menegaskan pentingnya mempercepat penyediaan kemampuan pertahanan udara yang dibutuhkan Kyiv.

Keuntungan Aset Rusia Digunakan Membantu Ukraina

Di tengah kebutuhan persenjataan yang terus meningkat, persoalan pembiayaan menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Ukraina.

Pada 5 Agustus 2026, Uni Eropa mengumumkan pencairan sekitar 1,4 miliar euro yang bersumber dari pendapatan luar biasa atas aset Bank Sentral Rusia yang dibekukan akibat sanksi Barat.

Sebagian besar aset tersebut berada di lembaga penyimpanan dan penyelesaian transaksi keuangan Euroclear di Belgia. Hingga 30 Juni 2026, Euroclear melaporkan sekitar 202 miliar euro aset terkait Rusia yang terkena sanksi, sementara pendapatan bunga dari aset Rusia yang dibekukan mencapai sekitar 2,3 miliar euro selama semester pertama 2026.

Dalam mekanisme Uni Eropa, sekitar 95 persen dana tersebut diarahkan untuk mendukung mekanisme pinjaman bagi Ukraina, termasuk pembayaran kewajiban yang terkait dengan dukungan Uni Eropa dan negara-negara G7.

Sementara sekitar 5 persen sisanya dialokasikan melalui European Peace Facility, yang digunakan untuk membantu kebutuhan pertahanan Ukraina.

Skema tersebut memungkinkan negara-negara Eropa menggunakan keuntungan finansial yang muncul dari aset Rusia yang dibekukan tanpa secara langsung menyita seluruh pokok asetnya.

Moskow berulang kali mengecam mekanisme tersebut dan menilai penggunaan pendapatan dari aset Rusia sebagai tindakan yang melanggar hak kepemilikannya.

Perkembangan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perang Rusia-Ukraina telah berkembang menjadi pertarungan multidimensi. Pertempuran kini berlangsung bukan hanya melalui pasukan dan persenjataan di garis depan, tetapi juga melalui operasi jarak jauh, industri pertahanan, teknologi rudal, sistem pertahanan udara, serta sumber pembiayaan perang.

Memasuki Agustus 2026, satu hal semakin terlihat jelas: kemampuan kedua negara untuk mempertahankan industri pertahanan, melindungi tokoh dan fasilitas strategis, serta memperoleh sumber daya finansial akan semakin menentukan bagaimana perang ini berkembang pada tahap berikutnya. (***)

Rusia Dihantam dari Berbagai Arah! Kilang Minyak Terbakar, Ukraina Gempur Laut Hitam

EtIndonesia.com Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase yang semakin intens, terutama dalam penggunaan pesawat nirawak untuk menyerang sasaran strategis jauh dari garis depan. 

Dalam rangkaian operasi terbaru pada Sabtu, 8 Agustus 2026, Ukraina dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas penting Rusia, mulai dari kilang minyak, instalasi militer di Laut Hitam, hingga infrastruktur yang berkaitan dengan jaringan transportasi dan logistik.

Serangkaian serangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan Ukraina kini tidak hanya diarahkan kepada pasukan Rusia yang bertempur di garis depan. Kyiv juga semakin berupaya mengganggu infrastruktur di belakang medan perang yang dinilai memiliki peranan penting dalam mendukung operasi militer Moskow.

Kilang Minyak Syzran Diguncang Serangan Drone

Pada dini hari 8 Agustus 2026, Kilang Minyak Syzran di Oblast Samara, Rusia, menjadi salah satu sasaran utama serangan pesawat nirawak Ukraina.

Ledakan dilaporkan terdengar di kawasan Syzran ketika serangan berlangsung. Rekaman yang beredar memperlihatkan kobaran api disertai kepulan asap hitam tebal membubung dari kawasan industri tersebut.

Pihak Ukraina kemudian mengonfirmasi bahwa Kilang Syzran termasuk di antara fasilitas Rusia yang menjadi sasaran operasi pada malam itu.

Kilang ini bukanlah fasilitas yang tidak dikenal dalam perang tersebut. Syzran telah beberapa kali menjadi sasaran serangan drone Ukraina karena dinilai memiliki posisi penting dalam sektor pengolahan minyak Rusia.

Fasilitas milik Rosneft tersebut mempunyai kapasitas pengolahan sekitar 171.000 barel minyak per hari, menurut data S&P Global Energy. Dengan kapasitas sebesar itu, Syzran menjadi salah satu bagian penting dari jaringan industri pengolahan minyak Rusia.

Dalam konteks perang, fasilitas pengolahan minyak memiliki nilai strategis karena produk seperti diesel, bensin, dan berbagai bahan bakar lainnya menjadi bagian penting dari sistem ekonomi sekaligus logistik sebuah negara.

Karena itu, apabila unit utama dalam sebuah kilang mengalami kerusakan serius, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kebakaran sesaat. Perbaikan fasilitas pengolahan minyak yang kompleks dapat membutuhkan waktu cukup lama, tergantung pada tingkat kerusakan dan ketersediaan komponen pengganti.

Strategi Ukraina menyerang fasilitas energi Rusia tampaknya diarahkan untuk menciptakan tekanan berlapis: mengganggu kapasitas pengolahan minyak, meningkatkan biaya perlindungan infrastruktur, sekaligus memaksa Rusia menyebarkan sistem pertahanan udara ke wilayah yang semakin luas.

Anjungan Sivash di Laut Hitam Ikut Diserang

Pada hari yang sama, operasi Ukraina juga berlangsung di kawasan Laut Hitam.

Pasukan Ukraina menyerang anjungan pengeboran Sivash, yang berada di kawasan ladang gas Holitsynske. Namun, menurut keterangan militer Ukraina, fasilitas tersebut tidak lagi digunakan semata-mata sebagai infrastruktur energi.

Rusia disebut telah memanfaatkan anjungan itu sebagai pos pengamatan dan fasilitas militer, termasuk untuk menempatkan perangkat pengawasan serta peralatan yang mendukung pengoperasian pesawat nirawak serang.

Angkatan Laut Ukraina menyatakan bahwa peralatan di Sivash digunakan untuk membantu mengendalikan drone serang serta mengarahkan dan mengoreksi serangan terhadap wilayah Ukraina selatan.

Keberadaan perangkat pengintaian di anjungan tersebut juga memungkinkan pasukan Rusia mendeteksi aktivitas drone udara maupun kapal nirawak Ukraina di Laut Hitam.

Karena alasan itulah Sivash mempunyai nilai strategis yang jauh lebih besar dibandingkan fungsi awalnya sebagai anjungan pengeboran.

Untuk menghadapi posisi Rusia tersebut, Ukraina dilaporkan menggunakan kombinasi kapal permukaan nirawak dan drone udara. Rekaman operasi memperlihatkan serangan datang dari lebih dari satu arah.

Taktik semacam ini mempunyai tujuan yang cukup jelas. Ketika ancaman datang secara bersamaan dari udara dan permukaan laut, sistem pertahanan harus mendeteksi, melacak, dan menghadapi beberapa sasaran dengan karakteristik berbeda pada waktu yang hampir bersamaan.

Ukraina kemudian mengklaim berhasil menghancurkan sejumlah perangkat militer Rusia yang ditempatkan di anjungan tersebut.

Bagi instalasi lepas pantai yang bersifat statis, serangan drone gabungan menjadi ancaman serius karena fasilitas seperti itu tidak memiliki kemampuan untuk berpindah lokasi. Pertahanannya sepenuhnya bergantung pada sistem deteksi, peperangan elektronik, persenjataan, dan kemampuan menghancurkan ancaman sebelum mencapai sasaran.

Tekanan Beralih ke Jaringan Transportasi Rusia

Di luar fasilitas energi dan posisi Rusia di Laut Hitam, jaringan transportasi juga semakin mendapat perhatian dalam kampanye serangan Ukraina.

Di Oblast Bryansk, wilayah Rusia yang berbatasan dengan Ukraina, dilaporkan terjadi ledakan di kawasan yang berdekatan dengan fasilitas bea cukai dan jaringan kereta api. Kebakaran kemudian dilaporkan merambat ke area perusahaan di sekitarnya yang berkaitan dengan penyimpanan bahan bakar dan pelumas.

Serangan terhadap jaringan transportasi mempunyai arti strategis karena Rusia sangat bergantung pada kereta api untuk mengangkut kebutuhan dalam jumlah besar.

Tank, kendaraan lapis baja, artileri, amunisi, bahan bakar, suku cadang hingga berbagai kebutuhan logistik dapat dipindahkan dalam jumlah jauh lebih besar menggunakan kereta dibandingkan transportasi jalan raya.

Karena itu, gangguan terhadap simpul kereta api, depo bahan bakar, jembatan, atau fasilitas bongkar muat dapat memberikan efek yang melampaui kerusakan fisik pada satu lokasi.

Rusia mungkin harus mengalihkan perjalanan melalui rute lain, memperpanjang waktu pengiriman atau meningkatkan perlindungan terhadap jaringan transportasi yang sebelumnya dianggap relatif aman.

Strategi Ukraina Semakin Terlihat

Rangkaian serangan 8 Agustus 2026 memperlihatkan perubahan penting dalam karakter perang.

Pertempuran kini semakin tidak terbatas pada parit, kota-kota di garis depan, ataupun wilayah yang berdekatan langsung dengan medan tempur. Dengan semakin berkembangnya kemampuan drone jarak jauh dan sistem nirawak laut, fasilitas yang berada ratusan kilometer dari garis depan juga dapat menjadi sasaran.

Kilang minyak mewakili sektor energi. Anjungan Sivash berkaitan dengan kemampuan pengawasan dan operasi Rusia di Laut Hitam. Sementara jaringan kereta api merupakan urat nadi transportasi militer.

Ketika ketiga jenis sasaran tersebut mendapat tekanan secara bersamaan, tujuan strategisnya tampak mengarah pada satu hal: mengganggu kemampuan Rusia mempertahankan operasi perang dalam jangka panjang.

Dampak sebenarnya tentu akan bergantung pada tingkat kerusakan yang berhasil ditimbulkan. Namun, satu hal semakin jelas: perang drone Rusia-Ukraina kini berkembang menjadi perang terhadap jaringan pendukung di belakang garis depan.

Bagi Moskow, tantangannya bukan lagi sekadar mempertahankan pasukan di medan pertempuran, tetapi juga melindungi kilang minyak, jalur kereta api, pusat logistik, instalasi militer, dan fasilitas strategis lain yang tersebar di wilayah Rusia maupun kawasan Laut Hitam.

Dan semakin luas wilayah yang harus dilindungi, semakin besar pula sumber daya pertahanan yang harus dikerahkan Rusia untuk menjaga infrastruktur tersebut. (***)

Perombakan Pola Medan Perang : Drone Ukraina Menghancurkan Serangan Skala Besar Rusia

oleh Xia Luoshan

Serangan berskala besar dengan menggunakan kendaraan lapis baja mekanis terhadap posisi musuh telah lama dianggap sebagai cara utama dalam berperang. Namun, Ukraina telah membuktikan bahwa model peperangan klasik ini sudah ketinggalan zaman. Upaya apa pun  untuk memenangkan perang di Ukraina dengan mengulangi metode Perang Dunia II atau perang terakhir pada Perang Dingin hanya akan berujung pada proses trial and error. Sistem pertahanan drone Ukraina telah membuat sebagian besar teori peperangan lapis baja era 1980-an tidak layak pakai.

Serangan Lapis Baja Baru Angkatan Darat Rusia Mengalami Kekalahan Telak

Pada 22 Juli 2026, angkatan darat Rusia melancarkan serangan terbesarnya dalam beberapa bulan terakhir dengan mengumpulkan kendaraan perang unit-unit elit dari Korps Gabungan Senjata Garda ke-8 dan ke-41 serta Divisi Tank Garda ke-90, mengerahkan puluhan kendaraan lapis baja berat, kendaraan bergerak, dan peralatan teknik khusus, dalam upayanya untuk menerobos pertahanan Ukraina dari berbagai arah di dekat desa Shakhové, Donetsk. Untuk mendukung serangan ini, angkatan darat Rusia juga mengerahkan sistem peluncur roket ganda “Sarma” terbarunya dan sejumlah besar drone serang “Lancet” dan “Gerbera” untuk mendapatkan superioritas udara lokal.

Namun, serangan ini terdeteksi oleh jaringan pengintai Ukraina selama fase persiapannya. Angkatan Darat Azov ke-1 dari Garda Nasional Ukraina dan resimen sistem drone Phoenix yang terlibat dalam pertempuran sengit selama 4 jam, menggunakan ladang ranjau, artileri berpemandu presisi, dan drone FPV (First-person view, juga disebut video piloting) untuk menggagalkan serangan tersebut. Selain itu, Angkatan Udara Ukraina juga melakukan beberapa serangan udara untuk melumpuhkan upaya Rusia membangun jembatan ponton.

Pada akhirnya, tentara Rusia kehilangan 7 unit tank tempur utama, 6 unit kendaraan tempur infanteri, 47 unit kendaraan ringan, dan sistem peluncur roket multi-laras “Grad” dan “Sarma”. Operasi tersebut mengakibatkan sekitar 123 orang tentara Rusia kehilangan nyawa dan 29 orang mengalami luka-luka.

IMG_257

Gambar menunjukkan tank Rusia yang hancur di wilayah Kherson di Ukraina selatan pada 16 Februari 2023. (Oleksandr Gimanov/AFP/Getty Images)

Drone Ukraina Sedang Merombak Pola Medan Perang

Ini adalah contoh pertempuran klasik lain dari pasukan lapis baja yang menderita kekalahan telak di medan perang modern yang didominasi oleh drone. “Military Review” dari U.S. Army War College menunjukkan bahwa tercatat hingga pertengahan tahun 2025, drone telah menyumbang 70% hingga 80% kerusakan kendaraan lapis baja di medan perang.

Dalam lingkungan ini, area dalam radius sekitar 10 kilometer di kedua sisi garis kontak telah menjadi wilayah tak bertuan yang sesungguhnya, langit dipenuhi drone pengintai dan penyerang dari kedua belah pihak yang berkonfrontasi. Setiap target bergerak langsung dapat terdeteksi dan diserang oleh drone, sehingga tinggal sedikit kesempatan untuk bertahan hidup.

Dalam operasi ini, tentara Rusia mencoba menerobos pertahanan Ukraina dengan menggunakan taktik tradisional yaitu mengerahkan puluhan tank dan kendaraan tempur infanteri. Namun, pasukan lapis baja Rusia dapat dengan mudah terdeteksi oleh sistem intelijen, pengawasan, dan pengintaian Ukraina dari jarak puluhan kilometer dari garis kontak, masuk dalam jangkauan tembakan artileri dan kawanan drone bunuh diri, mengingat konteks jaringan sensor digital modern dan komunikasi satelit yang sudah semakin canggih. 

Tentara Ukraina tidak perlu lagi mengambil risiko mengerahkan regu rudal anti-tank di front depan yang berbahaya, cukup dengan menempatkan beberapa orang operator drone di parit yang berjarak beberapa kilometer saja sudah mampu menimbulkan kerusakan fatal terhadap tank musuh yang bernilai jutaan dolar.

Medan perang yang dibuat sedemikian transparansi oleh drone Ukraina sehingga meningkatkan kemampuan serangan udara ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menyebabkan pasukan lapis baja Rusia kehilangan keunggulan taktis tradisional, unsur kejutan dan fleksibilitas taktis yang mereka miliki.

IMG_258

Gambar menunjukkan seorang tentara Ukraina sedang mengoperasikan drone di parit dekat garis depan. (Genya Savilov/AFP/Getty Images)

Jumlah Tank Menurun, Pilihan Militer Rusia Berkurang, Tentara Terpaksa Jadi Sasaran Tembak Hidup 

Tentara Rusia tentu menyadari risiko melancarkan serangan lapis baja di medan perang modern yang didominasi drone. Tetapi mengapa mengambil risiko dengan mengetahui konsekuensinya? Hal ini terjadi selain tekanan internal dan kesulitan komando yang berasal dari kurangnya terobosan taktis yang signifikan oleh pasukan garis depan Rusia, berkurangnya pilihan taktis yang tersedia bagi militer Rusia juga merupakan faktor yang berkontribusi.

Pertama, meskipun senjata berpemandu jarak jauh seperti rudal balistik, rudal jelajah, bom luncur, dan drone ini mampu menghasilkan beberapa efek taktis, namun biayanya sangat mahal. Selain itu sebagian besar dari mereka dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara, bahkan jika mereka menyebabkan kerusakan pada fasilitas darat, mereka hanya berfungsi untuk mendukung serangan darat dan melemahkan perlawanan musuh. Mereka tidak sama dengan kemajuan darat di medan perang yang sesungguhnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, militer Rusia sering menggunakan taktik infiltrasi skala kecil, terkadang hanya melibatkan segelintir personel. Strategi mereka adalah merebut wilayah-wilayah kunci dengan memintasi benteng-benteng utama Ukraina, secara bertahap mengendalikan area yang luas, dan mencoba untuk mempertahankannya. Namun, serangan-serangan ini jauh lebih sering gagal daripada berhasil, mengakibatkan korban jiwa yang tinggi di pihak Rusia. Bahkan ketika unit-unit kecil berhasil menerobos garis depan, mereka seringkali mendapati diri mereka terjebak masuk daerah terisolasi yang tanpa dukungan.

Infiltrasi dengan pasukan yang tersebar sulit untuk mencapai terobosan taktis, sementara operasi dengan mengerahkan kendaraan lapis baja dalam jumlah besar rentan terhadap korban jiwa yang besar. Untuk mengatasi lingkungan medan perang yang ekstrem ini, militer Rusia terpaksa melakukan penyesuaian taktis. Mereka mulai secara drastis mengurangi frekuensi operasi lapis baja, dan sebagai gantinya mengandalkan kelompok penyerang infanteri kecil dan kendaraan ringan yang sangat mobile seperti sepeda motor dan kendaraan segala medan.

Namun, kompromi ini juga penuh dengan kelemahan fatal. Meskipun kendaraan off-road ringan, memiliki kecepatan tinggi, dan kurang terpantau oleh musuh, tetapi mereka nyaris tidak dilindungan oleh kendaraan lapis baja. Sehingga ketika para prajurit ini mencoba menyeberangi “zona kematian” sepanjang 5-15 kilometer, mereka tetap menjadi sasaran empuk bagi drone Ukraina.

Andriy Kovalenko, kepala Pusat Anti-Disinformasi Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, mengkonfirmasi hal ini. Ia mengatakan bahwa serangan dengan mengabaikan perlindungan lapis baja pada dasarnya sama dengan melemparkan para prajurit Rusia langsung ke dalam mesin penggiling daging.

Pergeseran taktis ini menunjukkan bahwa komando garis depan Rusia sangat menyadari biaya serangan dengan kendaraan lapis baja berbiaya tinggi, tetapi karena tekanan dari komando yang lebih tinggi, mereka tidak dapat menemukan alternatif yang lebih baik untuk mempertahankan momentum serangan, sehingga tidak punya pilihan selain menggunakan darah dan daging infanteri untuk menguras amunisi drone Ukraina.

Kegagalan operasi Rusia pada 22 Juli tahun ini adalah harga yang tak terhindarkan yang harus dibayar karena ingin segera memecah kebuntuan.

Biaya Persenjataan Asimetris antara Ukraina dan Rusia Membalikkan Logika Tradisional Perang Gesekan

Rekaman video menunjukkan bahwa pasukan drone Ukraina telah mulai secara luas melengkapi diri mereka dengan sistem intersepsi yang dilengkapi dengan kemampuan pelacakan otomatis, memungkinkan mereka untuk secara otomatis mengunci target lapis baja Rusia di lingkungan interferensi elektromagnetik yang kompleks. Bahkan sistem radar yang mahal pun kesulitan untuk secara efektif mendeteksi dan mencegat target kecil yang terbang rendah ini.

Operator drone Ukraina bahkan telah menguasai taktik terkoordinasi yang canggih: pertama, mengerahkan sebuah drone untuk menghancurkan rantai roda tank untuk mengurangi kemampuan bergeraknya, kemudian mengerahkan beberapa drone untuk menyerang area rentan di bagian atas kendaraan hingga target hancur sepenuhnya.

Analisis menunjukkan bahwa biaya pembuatan tank tempur utama modern biasanya bisa mencapai jutaan dolar, sementara drone serang yang mampu menghancurkan atau melumpuhkan tank lawan hanya berharga beberapa ribu dolar. Asimetri biaya yang mencolok ini membalikkan logika tradisional tentang perang gesekan. Target produksi Ukraina untuk tahun 2025 adalah 4,5 juta unit drone FPV, yang berarti bahwa setiap tank Rusia di garis depan bakal menghadapi ancaman ratusan atau ribuan unit drone yang memburunya. Hal ini membuat serangan berskala besar dengan kendaraan lapis baja menjadi bencana.

Namun, ini bukan berarti akhir dari pasukan lapis baja. Peperangan lapis baja di masa depan tidak dapat lagi kembali ke model era Perang Dingin yang mengandalkan terobosan tank dalam skala besar. Yang benar-benar menjadi usang bukanlah tank itu sendiri, melainkan kendaraan serbu lapis baja tradisional yang tidak memiliki drone, kemampuan peperangan elektronik, daya tembak pertahanan udara, dan dukungan intelijen.

Pasukan lapis baja di masa depan mungkin akan berevolusi menjadi sistem tempur yang sangat terintegrasi antara platform berawak dan tanpa awak, tetapi setidaknya pada tahap saat ini, pasukan lapis baja Rusia masih kurang mampu bertahan di medan perang yang transparan dan kemampuan untuk menembus pertahanan Ukraina.

Kegagalan ini Tidak Tepat Waktu, Putin Sedang Bersiap Memperluas Kekuatan Pasukan

Pada 27 Juli 2026, Putin menandatangani Dekrit Presiden No. 526 yang efektif mulai 1 Agustus, untuk meningkatkan kekuatan resmi Angkatan Bersenjata Rusia menjadi 2.426.130, termasuk 1.535.000 personel militer. Ekspansi ini melanjutkan model perekrutan beberapa tahun terakhir, yang terutama mengandalkan tentara kontrak, sukarelawan, dan insentif ekonomi, di antaranya personel militer akan bertambah sebanyak 25.000 orang.

Hal yang perlu dicatat bahwa pada saat yang sama perintah dikeluarkan, Presiden Ukraina Zelensky memperingatkan dalam sebuah wawancara media bahwa intelijen Ukraina meyakini bahwa Putin mungkin akan meluncurkan putaran baru mobilisasi personel besar-besaran setelah pemilihan Duma Negara pada bulan September tahun ini, yang berpotensi melibatkan 300.000 hingga 500.000 orang. Jika penilaian ini akurat, maka ekspansi organisasi militer Rusia yang tercermin dalam Perintah No. 526 dapat diinterpretasikan sebagai dukungan Moskow terhadap mobilisasi skala besar.

Namun, peningkatan jumlah pasukan tidak secara langsung berarti momentum maju bagi pasukan garis depan. Jika para rekrutan baru ini tidak dapat menerima perlindungan lapis baja yang efektif, dukungan artileri, dan pertahanan udara yang andal, mengirim mereka ke garis depan hanya akan meningkatkan jumlah korban jiwa. Serangan lapis baja tentara Rusia, yang melibatkan beberapa kelompok tentara, telah dihancurkan sepenuhnya oleh pasukan Ukraina dalam waktu 4 jam. Jadi hanya dengan meningkatkan jumlah infanteri hanya akan meningkatkan potensi jumlah korban jiwa.

Kegagalan menjelang perluasan pasukan merupakan kejadian yang tidak tepat waktu, dan menyoroti kesulitan yang dihadapi tentara Rusia saat ini. Setiap operasi darat yang berupaya merebut wilayah Ukraina telah berubah menjadi pembantaian berdarah, dan angka korban jiwa yang terus meningkat sangat merusak moral pasukan garis depan Rusia. Rencana wajib militer apa pun saat ini dapat memicu ketidakpuasan publik dan berpotensi menimbulkan kebencian terhadap rezim Putin.

Ketika Putin memanggil 300.000 pasukan cadangan pada musim gugur tahun 2022, protes meletus di seluruh Rusia, menyebabkan puluhan ribu orang warga Rusia kabur dari negara itu. Karena situasi perang saat ini lebih tidak populer daripada pada tahun 2022, dapat dipastikan bahwa reaksi publik Rusia lebih keras. (***)

Dari Bangku Sekolah ke Jalan Raya: inDrive Ajak Ratusan Pelajar Jawa Barat Jadi Generasi Sadar Keselamatan Berkendara

BANDUNG, 10 Agustus 2026 — Bagi sebagian besar pelajar SMA dan SMK di Jawa Barat, memiliki SIM dan bisa mengendarai kendaraan sendiri adalah simbol kemandirian yang dinanti-nantikan. Namun, kemerdekaan di jalan raya juga menuntut tanggung jawab besar—sebuah pelajaran yang tak selalu didapat dari buku teks.

Menjawab kebutuhan itu, inDrive meluncurkan kampanye “Drive Your Future” , sebuah inisiatif edukasi keselamatan berkendara yang menyasar generasi muda. Fase pertama program ini sukses menjangkau ratusan siswa kelas XII di enam sekolah menengah atas dan kejuruan di tiga kota/kabupaten Jawa Barat.

Belajar Keselamatan, Bukan Sekadar Teori

Kampanye ini digelar pada pekan pertama Agustus 2026 dengan rangkaian kunjungan ke sekolah-sekolah:

  • SMKN 1 Purwakarta dan SMAN BCC Purwakarta (4 Agustus)
  • SMKN 4 Bandung dan SMKN 7 Bandung (6 Agustus)
  • SMAN 2 Garut dan SMKN 2 Garut (7 Agustus)

Para siswa yang telah memenuhi usia legal untuk berkendara mendapatkan materi yang jauh lebih dari sekadar rambu lalu lintas. Mereka diajak memahami perilaku berkendara yang bertanggung jawab, pentingnya kesadaran akan keselamatan diri dan orang lain, serta kebiasaan aman yang harus dibawa setiap kali mereka menyalakan mesin kendaraan.

Tak hanya teori, inDrive juga memperkenalkan berbagai layanan transportasi yang mereka miliki sebagai alternatif mobilitas yang aman, nyaman, dan terjangkau—sebuah pilihan cerdas bagi pelajar yang mungkin belum siap atau belum memiliki kendaraan pribadi.

Membangun Budaya Sadar Risiko Sejak Dini

Rio Aristo, Country Manager inDrive Indonesia, menegaskan bahwa membangun budaya keselamatan berkendara tidak bisa dimulai saat kecelakaan sudah terjadi. Ia menekankan pentingnya menanamkan kesadaran sejak usia muda, saat kebiasaan mulai terbentuk.

“Kami percaya bahwa edukasi merupakan langkah awal dalam menciptakan budaya berkendara yang lebih aman. Melalui fase pertama kampanye Drive Your Future, kami ingin membekali para pelajar dengan pengetahuan mengenai keselamatan berlalu lintas sekaligus mengajak mereka menjadi generasi yang lebih bertanggung jawab di jalan. Mobilitas yang aman tidak hanya bergantung pada kendaraan, tetapi juga pada perilaku setiap pengguna jalan,” ujar Rio.

Pesan ini penting mengingat data kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih didominasi oleh pengendara muda. Dengan membekali mereka sejak dini, diharapkan angka fatalitas di jalan raya bisa ditekan.

Antusiasme Tinggi, Respons Positif dari Siswa

Wahyu Ramadhan, Communication Manager inDrive Indonesia, mencatat bahwa respons para siswa selama sesi safety briefing sangat positif. Mereka tidak hanya duduk diam mendengarkan, tetapi aktif bertanya, berdiskusi, dan menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap materi keselamatan serta layanan inDrive.

“Kami melihat antusiasme yang cukup tinggi dari para siswa. Mereka aktif menyimak, bertanya, dan berdiskusi mengenai keselamatan berkendara. Respons ini menunjukkan bahwa edukasi keselamatan dan pengenalan pilihan mobilitas yang aman, nyaman, dan terjangkau relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini,” ujar Wahyu.

Fase Berikutnya: Mahasiswa dan Kampus Ambassador

Keberhasilan fase pertama ini menjadi motivasi bagi inDrive untuk melanjutkan kampanye ke fase berikutnya. Kali ini, sasaran bergeser ke mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat.

Tidak hanya edukasi keselamatan berkendara, fase kedua akan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk bergabung sebagai Kampus Ambassador inDrive. Para ambassador ini akan menjadi perwakilan di lingkungan kampus, bertugas:

  • Mengedukasi rekan-rekan mahasiswa tentang keselamatan berkendara
  • Mengkampanyekan budaya mobilitas yang bertanggung jawab
  • Memperkenalkan layanan inDrive sebagai pilihan transportasi sehari-hari yang aman dan terjangkau

Dengan pendekatan ini, inDrive tidak hanya berbicara tentang keselamatan, tetapi juga melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan di komunitas mereka sendiri.

Lebih dari Transportasi, Mitra Edukasi

Kampanye “Drive Your Future” menjadi bukti bahwa inDrive tidak hanya hadir sebagai platform transportasi, tetapi juga sebagai mitra yang aktif mendorong terciptanya ekosistem mobilitas yang lebih aman melalui edukasi dan pemberdayaan komunitas.

Bagi para pelajar dan mahasiswa, program ini adalah pengingat bahwa menjadi pengendara yang baik bukan hanya soal bisa mengemudi, tetapi juga tentang memiliki kesadaran, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap sesama pengguna jalan. Karena di jalan raya, keselamatan adalah tanggung jawab bersama—dan itu adalah pelajaran yang tak kalah penting dari pelajaran apa pun di sekolah.