Sebelum Usia 60, Jika Kamu Sudah Menyelesaikan 4 Hal Ini—Kamulah Pemenang Sejati dalam Hidup

EtIndonesia. Hidup manusia, layaknya bunga yang hanya mekar satu musim. Tanpa disadari, dari masa muda, kita telah berjalan perlahan menuju usia paruh baya, lalu menua.

Waktu melesat begitu cepat.

Sebagian orang berhasil menciptakan kisah hidup yang penuh warna dan makna, sementara sebagian lainnya hanya meninggalkan penyesalan dan kelelahan.

Di titik tertentu, kita mulai memahami satu hal penting:

Kebahagiaan sejati bukan berasal dari perbandingan dengan orang lain, tetapi dari kedamaian dan rasa cukup dalam hati.

Bila di usia 60 kamu sudah berhasil menyelesaikan 4 hal berikut ini, maka sesungguhnya kamu telah menjadi pemenang sejati dalam hidup.

01. Melepaskan Keterikatan Terhadap Hidup Anak

Sebagai orangtua, wajar jika kita selalu memikirkan anak. Namun, cinta yang berlebihan bisa berubah menjadi beban—seperti rantai yang mengikat kaki mereka.

Saat anak tumbuh dewasa, mereka harus menjelajahi dunia sendiri, menghadapi rintangan dan luka. Setiap kegagalan yang mereka alami, adalah pelajaran berharga untuk mendewasakan mereka. Biarkan mereka jatuh, lalu bangkit dengan kekuatan mereka sendiri.

Meski hati kita sulit melepaskan, kita harus belajar mundur secara elegan dari hidup mereka. Bukan mengendalikan, bukan ikut campur, tetapi berdiri di belakang mereka sebagai tempat sandaran yang tenang.

Karena hanya dengan kita menjauh dengan pantas, mereka bisa tumbuh menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Dan kita, cukup berdiri dari kejauhan sambil berkata: “Tak apa-apa nak, Ibu/Bapak selalu ada di sini.”

02. Meninggalkan Hasrat Berlebihan terhadap Kekayaan

Dulu, kita mengejar jabatan, uang, dan pengakuan. Kita ingin hidup yang “lebih besar dan lebih tinggi”. Tapi setelah pensiun, saat menoleh ke belakang, kita pun sadar—semua itu hanyalah bayangan yang lewat.

Kini, saat berdiri di simpang jalan kehidupan, kita bisa memilih hidup yang berbeda: hidup yang lebih tenang.

Tidak perlu kemewahan, cukup makan sederhana, pakaian nyaman, perjalanan ringan, dan pemandangan indah.

Kita bisa menyapa bunga liar di pinggir jalan, mengabadikan langit senja dengan kamera ponsel, merasakan angin sore yang menyejukkan wajah.

Saat kita berhenti mengejar kenikmatan duniawi, kita akan melihat bahwa kebahagiaan sesungguhnya selalu ada di sekitar kita.

03. Memaafkan dan Melupakan Masa Lalu

Setiap orang pernah mengalami luka, dikhianati, atau dikecewakan. Namun, terus mengikat diri pada masa lalu hanya akan menyiksa jiwa.

Yang telah berlalu, biarlah berlalu.

Tak perlu mengorek luka lama, tak perlu terus menoleh ke belakang.

Kini saatnya berdamai dengan diri sendiri.

Buatlah hidup lebih sederhana—buang beban yang tak perlu, lupakan kenangan buruk, dan simpan hanya hal-hal yang membawa senyum dan damai.

Seseorang pernah berkata: “Ketika kamu belajar melupakan, itu tanda kamu telah benar-benar dewasa.”

Usia 60 bukan akhir. Justru ini adalah awal dari babak hidup yang baru.

Beranilah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, dan sambut hari-hari ke depan dengan hati yang lapang.

04. Menjauh dari Lingkaran Penuh Gosip dan Drama

Di sekitar kita, ada banyak orang yang senang membicarakan hidup orang lain.

Tentang tetangga yang cerai, proyek seseorang yang gagal, atau siapa yang baru saja melahirkan. Setiap peristiwa menjadi bahan obrolan tiada habis.

Jika kita ikut larut, maka selain membuang waktu, kita juga bisa berubah menjadi pribadi yang menyebalkan dan tidak disukai.

Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam obrolan kosong.

Gunakan waktu itu untuk membaca buku, menanam bunga, menulis catatan harian, atau berjalan menikmati senja.

Menjauh dari drama berarti mendekatkan diri pada ketenangan batin.

Penutup: Menjadi Pemilik Hidupmu Sendiri di Usia 60

Kini, saat kita berdiri di usia 60—di persimpangan antara masa lalu dan masa depan—tanyakan pada diri sendiri:

“Bagaimana aku ingin menjalani sisa hidupku?”

Jawabannya sederhana:

  • Hiduplah untuk dirimu sendiri.
  •  Lepaskan segala hal yang tak perlu.
  •  Rangkul kedamaian, kesehatan, dan kebebasan.
  • Menjadi pengendali hidupmu, bukan orang lain.
  • Mengatur ritme harimu, bukan aturan orang lain.

Barulah kita pantas disebut pemenang sejati dalam hidup ini.(jhn/yn)

CEO Epoch Media Group : Partai Komunis Tiongkok  Melancarkan Perang Senyap Lintas Negara

EtIndonesia. Janice Trey, CEO Epoch Media Group dari New Tang Dynasty Television (NTD) dan Epoch Times, menyatakan bahwa represi lintas negara dan infiltrasi global yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) merupakan bentuk perang senyap yang mengancam kebebasan fundamental dan keamanan nasional Amerika Serikat.

Pernyataan ini disampaikan Trey dalam sebuah forum yang digelar baru-baru ini di Gedung Rayburn, Kongres Amerika Serikat.

Infiltrasi Global dan Strategi Jangka Panjang PKT Selama Lebih dari 70 Tahun

Trey mengungkapkan bahwa represi lintas negara dan strategi infiltrasi PKT telah berlangsung selama lebih dari 70 tahun, dan kini menantang tatanan global.

“Di Lapangan Tiananmen, di samping potret Mao Zedong, ada slogan berbunyi: ‘Hidup persatuan rakyat sedunia’; kini, konsep komunitas bersama versi Xi Jinping hanyalah kemasan ulang dari ideologi lama tersebut.”

“Dari Mao hingga Xi, PKT tidak menggunakan perang konvensional, melainkan strategi pengaruh rahasia, subversi, dan pemanfaatan masyarakat terbuka untuk menghancurkan tatanan demokrasi global pasca Perang Dunia II yang dipimpin oleh AS.”

Trey juga menambahkan bahwa strategi infiltrasi ini sudah terbukti sejak Perang Saudara Tiongkok tahun 1948–1949, “Meski kalah dalam jumlah personel dan senjata, PKT mampu menang lewat infiltrasi, spionase, dan perang psikologis,” lanjutnya. 

Penindasan terhadap Falun Gong, Shen Yun, dan Epoch Times

Trey menjelaskan bahwa sejak tahun 1999, PKT melancarkan kampanye nasional untuk menghapus Falun Gong, sebuah latihan spiritual yang mengedepankan prinsip “Sejati, Baik, dan Sabar”, karena pengikutnya diperkirakan mencapai lebih dari 100 juta orang — melebihi jumlah anggota PKT saat itu yang sekitar 60 juta.

“Nilai-nilai Falun Gong mendorong orang untuk menjadi warga negara yang sehat dan tidak ikut campur dalam politik. Ini justru yang ditakuti Partai, karena pemimpin PKT tidak pernah dipilih secara demokratis. Maka Falun Gong dipandang sebagai ancaman, dan seluruh mesin negara — militer, polisi, pengadilan, dan propaganda — digunakan untuk mencemarkan nama baik, menangkap, dan menyiksa praktisinya.”

Penindasan ini masih berlangsung hingga kini, hampir 26 tahun.

Menurut laporan Minghui.org, pada tahun 2024 saja, diketahui 164 praktisi Falun Gong meninggal dunia akibat penganiayaan.

Sementara pada Januari hingga Mei 2025, setidaknya 380 praktisi dipenjara secara ilegal.

Seorang hakim dari Pengadilan Menengah Zhuhai, Provinsi Guangdong, bahkan mengakui bahwa semua keputusan harus melalui persetujuan dari Komite Urusan Politik dan Hukum, bukan keputusan independen pengadilan.

Epoch Times dan Shen Yun: Perlawanan Tanpa Kekerasan

Trey menyebut bahwa praktisi Falun Gong di seluruh dunia telah menentang penindasan ini dengan cara damai, salah satunya dengan mendirikan Epoch Times pada 24 tahun lalu.

“Kini, Epoch Times telah diterbitkan dalam 23 bahasa dan hadir di 35 negara, menjangkau jutaan pembaca global.”

Pada November 2004, Epoch Times menerbitkan seri editorial “Sembilan Komentar tentang Partai Komunis”, yang memicu gelombang besar pengunduran diri dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda Komunis, dan Organisasi Pionir Muda.

Hingga kini, lebih dari 447,96 juta orang telah mundur dari ketiga organisasi itu.

Trey juga menyinggung publikasi lanjutan Epoch Times berjudul “Bagaimana Roh Jahat Komunis Menguasai Dunia Kita”, yang membongkar bagaimana ideologi komunisme menyusup ke hampir semua aspek masyarakat Barat dengan berbagai bentuk penyamaran.

Sementara Shen Yun Performing Arts menampilkan kebudayaan tradisional Tiongkok yang belum terkontaminasi ideologi komunis di panggung internasional.

“Upaya ini telah menggugah kesadaran masyarakat dunia dan menjadi pusat dari perlawanan informasi terhadap rezim PKT.”

PKT Gencar Menekan Epoch Times dan Shen Yun

Trey menutup pernyataannya dengan menyatakan bahwa PKT sangat menargetkan lembaga seperti Epoch Times dan Shen Yun, karena mereka secara terbuka membongkar kejahatan HAM yang dilakukan oleh PKT serta menentang penindasan ideologis, dan karena kedua lembaga ini berkomitmen untuk menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok sebelum era komunis.

PKT Memperalat Sistem Hukum dan Administrasi AS

Trey menyatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak hanya melancarkan perang mata-mata, tetapi juga memperalat sistem hukum dan administrasi Amerika Serikat sebagai senjata untuk membungkam perbedaan pendapat.

Ia mengatakan:“ PKT kini mengendalikan sistem hukum dan administrasi AS melalui gugatan hukum, keluhan regulasi, dan tekanan birokrasi untuk menekan pihak-pihak yang tidak sejalan. Misalnya, PKT mencoba melalui para agennya menguras sumber daya organisasi yang terkait dengan Falun Gong. Bahkan jika kasus-kasus itu akhirnya ditolak oleh pengadilan, agen-agen PKT tetap membesar-besarkan melalui propaganda, sehingga merusak reputasi Falun Gong meski tidak ada vonis bersalah.”

Contoh Kasus Manipulasi Hukum oleh Agen PKT

Trey memberikan dua contoh nyata:

  1. Kasus Chen Jun dan Lin Feng (2023–2024)
    Dua warga negara AS, Chen Jun dan rekannya Lin Feng, mencoba menyuap pejabat IRS (otoritas pajak AS) agar mencabut status organisasi nirlaba milik Shen Yun Performing Arts.
    Keduanya terkait dengan “Kantor 610”, yaitu lembaga ilegal yang didirikan oleh PKT pada 10 Juni 1999, khusus untuk menindas Falun Gong.

    Chen Jun kemudian mengaku sebagai agen tidak terdaftar dari PKT. Dokumen pengadilan di Washington DC mengungkap bahwa ia menerima gaji bulanan lebih dari 52.000 dolar AS dari pemerintah Tiongkok.
  2. Kasus Alex Scilla (2023, New York)
    Alex Scilla mengajukan gugatan lingkungan yang tidak berdasar terhadap Kuil Longquan (Dragon Spring) markas Shen Yun.
    Ia juga mengintai praktisi Falun Gong di lokasi tersebut.

Seorang hakim federal di Negara Bagian New York menolak gugatan itu dan melarang Scilla untuk mengajukan banding karena tuduhannya tidak berdasar.

Ternyata enam tahun sebelumnya, Scilla mendirikan “Komite Promosi Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan Wilayah Tengah New York”, berjarak 40 mil dari markas Shen Yun. Tujuan utamanya adalah mengganggu Longquan lewat jalur hukum, dan ia telah mengajukan gugatan sebanyak empat kali.

Sebelum pindah ke New York, Scilla tinggal di Tianjin, Tiongkok selama 15 tahun.
Sebulan setelah mendirikan komite tersebut di AS, ia juga mendirikan perusahaan baru di Tiongkok.

PKT Memperalat Media Barat

Trey juga menyoroti bahwa PKT setiap tahun mengucurkan lebih dari 7 miliar dolar AS untuk kampanye propaganda global, termasuk untuk menyusup dan mempengaruhi media Barat.

Ia mengatakan: “Salah satu media arus utama AS pernah menerbitkan artikel yang menuduh Shen Yun melakukan pengumpulan dana ilegal.
Namun menurut para ahli hukum seperti Yuan Hongbing, tuduhan tersebut bersumber dari informan yang direkayasa PKT.”

Ia menegaskan bahwa “informan” seperti itu bisa bebas bergerak di Tiongkok, hal yang mustahil dilakukan oleh pembangkang sejati.

Trey menjelaskan: “PKT mencoba memanfaatkan kredibilitas media Barat untuk mencemarkan lembaga-lembaga seperti Epoch Times, dan melemahkan suara-suara yang membongkar pelanggaran HAM oleh rezim Tiongkok.”

Ancaman terhadap Nilai-Nilai Dasar Demokrasi

“Singkatnya, represi lintas negara oleh PKT bukan hanya serangan terhadap Falun Gong, melainkan serangan langsung terhadap fondasi negara demokratis.
Strategi seperti ini mengancam kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan keamanan nasional.”

“Dengan mengendalikan sistem hukum, media, dan lembaga regulasi Barat, PKT berusaha membungkam oposisi dan membentuk opini publik global, sebagaimana dulu mereka menjatuhkan Partai Nasionalis (Kuomintang) di Tiongkok.”

Langkah yang Harus Ditempuh AS

Trey mengusulkan empat langkah strategis bagi Amerika Serikat untuk menghadapi “perang diam-diam” ini:

  1. Memperkuat dan menegakkan UU Pendaftaran Agen Asing (FARA);
  2. Mewajibkan media dan pembuat kebijakan untuk mengungkap hubungan apa pun dengan pihak asing;
  3. Mencegah lembaga-lembaga AS dari pengaruh asing dan penyalahgunaan kekuasaan;
  4. Mendukung media independen dan organisasi yang berakar pada nilai-nilai tradisional.

Ia menutup dengan mengatakan: “Falun Gong telah berjuang mengungkap kebenaran dan melawan penindasan dengan cara damai. Membela hak mereka bukan hanya tuntutan moral, tetapi juga pertahanan terhadap kebebasan itu sendiri.” (Hui/asr)

Laporan Kontributor: Li Chen dari Washington DC | Editor: Li Hong

Fenomena Kematian Mendadak Akibat “Paru-paru Putih” Meningkat – Apakah Partai Komunis Tiongkok Menyembunyikan Varian Baru COVID?

Wabah COVID-19 di Tiongkok terus mengalami peningkatan. Warga dari berbagai daerah melaporkan bahwa orang-orang di sekitar mereka umumnya terinfeksi, tempat tidur rumah sakit sangat sulit didapat, dan kasus “paru-paru putih” serta kematian mendadak semakin banyak. Para ahli menduga bahwa hal ini disebabkan oleh varian baru virus corona yang disembunyikan oleh pemerintah Tiongkok.

EtIndonesia. Pada 11 Juni, media milik pemerintah (CCTV) melaporkan bahwa tren penyebaran COVID-19 kembali merebak di banyak daerah di Tiongkok.

Akademisi dari Akademi Teknik Tiongkok, Zhong Nanshan, mengklaim bahwa saat ini COVID-19 memiliki tingkat penularan tinggi namun tingkat keparahan rendah, mirip dengan flu biasa. Namun, warga dari berbagai daerah mengatakan kepada stasiun TV NTD bahwa jumlah pasien COVID di rumah sakit terlihat meningkat tajam, banyak yang mengalami kondisi berat seperti paru-paru putih, sehingga sulit mencari tempat tidur rumah sakit.

Tuan Wang, staf di sebuah rumah sakit di Hefei, Anhui mengatakan:  “Saya tahu ada beberapa orang di sekitar saya yang mengalami paru-paru putih. Kadang-kadang rumah sakit benar-benar kehabisan tempat tidur. Beberapa orang di sekitar saya meninggal dunia, bahkan ada yang masih muda, usia 20-30-an. Rumah duka harus antri. Memang sudah begini selama beberapa tahun terakhir.”

Tuan Hao dari Anyang, Henan, juga mengungkapkan bahwa banyak orang dewasa muda di sekitarnya meninggal mendadak tanpa sebab yang jelas.

“Hampir semua orang di kota kami pernah terkena COVID. Banyak yang meninggal mendadak, usia 30-40-an, atau 40-50-an. Saya tahu ada dua atau tiga orang yang tidak terlalu tua, juga tidak punya penyakit, tapi meninggal mendadak,” katanya. 

Tuan Ma, warga dari Zhejiang, mengatakan bahwa pandemi tidak pernah benar-benar hilang, bahkan semakin parah belakangan ini.

 “COVID sekarang sangat parah. Rumah sakit selalu penuh. Banyak orang muda di sekitar saya, usia 30-40-an, meninggal mendadak,” ujarnya. 

Pengamat politik yang tinggal di luar negeri dan berlatar belakang medis, Tang Jingyuan, berpendapat bahwa kemungkinan besar varian baru virus corona telah muncul di Tiongkok, dan inilah penyebab meningkatnya kasus paru-paru putih dan kematian mendadak.

 “Biasanya, penyebaran wabah terjadi paling parah di musim dingin dan semi. Ketika memasuki musim panas dan suhu naik, seharusnya penyebaran menurun. Tapi tahun ini justru sebaliknya. Ini bisa jadi karena munculnya varian baru, yang memiliki sifat biokimia dan pola penyebaran berbeda dari varian sebelumnya,” ujarnya. 

Dr. Chiang Kuan-Yu, dokter di Rumah Sakit Umum Kota Taipei, menunjukkan bahwa virus corona memang selalu mengalami mutasi dari waktu ke waktu.

 “Tiongkok memiliki situasi yang unik. Kualitas vaksin mereka tampaknya bermasalah, dan tingkat vaksinasi sebelumnya pun tidak memadai. Karena wilayah Tiongkok luas dan penduduknya sangat banyak, ketika wabah meluas, orang-orang yang rentan akan dengan cepat mengalami kondisi paru-paru putih yang parah. Walaupun jumlahnya kecil dalam persentase, tetap saja akan muncul banyak pasien kritis,” ujarnya. (Hui/asr)

Laporan oleh jurnalis NTD: Li Yun, Xiong Bin, dan Qiu Yue

Saat Usia Menginjak Paruh Baya, Tidur Lebih Awal Adalah Kunci Mengubah Takdir

EtIndonesia. Di balik hiruk-pikuk kehidupan kota besar, tersembunyi wajah-wajah letih para pria dan wanita paruh baya yang tengah berjuang diam-diam. Saya pernah mengalaminya langsung dalam sebuah pertemuan santai bersama teman-teman lama. Alih-alih diwarnai canda dan tawa, suasana justru dipenuhi keluhan dan kelelahan dari mereka yang sudah memasuki usia pertengahan hidup.

Beberapa mengeluhkan tekanan kerja yang semakin besar—harus lembur hingga larut malam, lalu pulang hanya untuk dihadapkan pada tugas anak-anak dan kesehatan orangtua. Yang lain mulai resah karena masalah kesehatan kecil yang muncul silih berganti—kepala pusing, pinggang pegal, daya tahan tubuh menurun.

Salah satu teman, sebut saja Pak Wang, seorang manajer menengah di perusahaan swasta, mengaku bahwa dulu dia bisa begadang semalaman untuk bekerja atau bersenang-senang, dan tetap bugar keesokan harinya. Tapi sekarang, hanya terlambat tidur sedikit saja, tubuhnya langsung lemas seperti terong layu. Dia juga merasa kemampuan mengingatnya menurun drastis, dan penyakit ringan seperti flu mulai lebih sering menghampiri.

Pak Wang bukan satu-satunya. Di era modern ini, hampir seluruh generasi paruh baya menghadapi tekanan besar dari pekerjaan, keluarga, dan kesehatan. Tanpa disadari, salah satu faktor paling krusial yang perlahan-lahan menggerogoti hidup mereka adalah kurang tidur—khususnya kebiasaan tidur larut malam.

1. Fakta Ilmiah: Mengapa Tidur Lebih Awal Penting di Usia Paruh Baya

Dari sisi medis, tidur lebih awal terbukti memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan orang dewasa—terutama yang telah memasuki usia 40-an ke atas.

Penelitian menunjukkan bahwa tubuh manusia secara alami menjalani proses pemulihan dan detoksifikasi paling aktif di antara pukul 11 malam hingga 3 dini hari. Organ vital seperti hati, ginjal, dan sistem imun bekerja keras di jam-jam tersebut untuk memperbaiki sel dan membuang racun.

Namun jika seseorang terus-menerus begadang, maka ritme sirkadian (jam biologis tubuh) terganggu. Akibatnya, fungsi organ melambat, proses metabolisme terganggu, dan daya tahan tubuh menurun drastis. Studi juga menyebut bahwa kurang tidur kronis meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti flu berulang, tekanan darah tinggi, bahkan penyakit jantung.

Bagi mereka yang sudah berada di usia paruh baya—di mana fungsi tubuh memang mulai mengalami penurunan alami—tidur larut malam menjadi beban ganda yang mempercepat kerusakan sistem tubuh. Tanpa istirahat yang cukup, tubuh bagaikan mesin tua yang dipaksa terus berputar tanpa pelumas.

2. Manfaat Tidur Lebih Awal bagi Hidup Orang Paruh Baya

Tidur lebih awal dapat memberikan perubahan besar dalam kualitas hidup, baik dari sisi fisik maupun mental.

Saya mengenal seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun yang dulu merupakan bagian dari “klub begadang”. Setelah sadar akan pentingnya tidur lebih awal, dia mulai berkomitmen untuk tidur sebelum pukul 22:30 setiap malam. Dalam waktu beberapa minggu saja, dia mulai merasakan perubahan: tubuh lebih bugar, tidak mudah lelah, kulit lebih cerah, dan keluhan-keluhan seperti sakit kepala ringan perlahan menghilang.

Dari sisi mental, mereka yang tidur lebih awal juga cenderung memiliki pikiran yang lebih jernih dan fokus yang lebih kuat. Mereka bisa menghadapi beban kerja yang berat dengan tenang dan efisien. Dalam keluarga pun, mereka lebih sabar dalam menghadapi anak dan pasangan karena tidak lagi dihantui rasa lelah dan stres.

3. Cara Efektif untuk Membiasakan Diri Tidur Lebih Awal

Mengubah kebiasaan tidur bukan hal mudah, terutama jika sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Namun, dengan langkah kecil dan konsisten, kebiasaan tidur lebih awal bisa dibentuk perlahan.

Berikut beberapa strategi yang bisa dicoba:

• Kurangi penggunaan perangkat elektronik di malam hari

Gadget seperti ponsel dan laptop memancarkan cahaya biru yang bisa menekan produksi melatonin—hormon alami tubuh yang membantu kita tidur. Sebaiknya hindari layar elektronik mulai pukul 21.00, dan letakkan ponsel jauh dari tempat tidur agar tidak tergoda untuk terus menggulir layar.

• Buat “ritual tidur” yang tenang dan teratur

Misalnya: minum segelas susu hangat, melakukan peregangan ringan, mandi air hangat, atau membaca buku ringan. Rutinitas seperti ini membantu tubuh mengenali “waktunya istirahat”.

• Tetapkan waktu tidur yang konsisten

Tubuh manusia menyukai pola. Cobalah untuk tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan, agar ritme tubuh menjadi stabil.

Kesimpulan: Tidur Lebih Awal Adalah Bentuk Investasi untuk Masa Depan

Tidur lebih awal mungkin terdengar sepele, tapi bagi mereka yang berada di tengah perjalanan hidup, itu adalah bentuk penyelamatan diri. Dengan dasar ilmiah yang kuat, dan manfaat yang terbukti dari berbagai sisi, kebiasaan tidur lebih awal bisa menjadi titik balik hidup para pekerja keras usia paruh baya.

Meskipun tantangan untuk mengubah kebiasaan ini cukup berat, dengan kesadaran dan strategi yang tepat, kebiasaan tidur sehat dapat terbangun. Dan dari sana, tubuh yang lebih sehat, pikiran yang lebih jernih, serta semangat hidup yang lebih kuat akan menyusul.

Karena pada akhirnya, di usia paruh baya, tidur lebih awal bukan sekadar istirahat—tapi sebuah “kunci” untuk mengubah takdir. Untuk menghadapi sisa perjalanan hidup dengan kondisi terbaik, mulailah dengan satu langkah sederhana malam ini: tidur lebih awal.(jhn/yn)

Presiden Trump Perluas Larangan Berpergian, 36 Negara Masuk Daftar Pemantauan

Pemerintahan Trump berencana memperluas secara besar-besaran larangan perjalanan internasional. Menurut sebuah kabel internal dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, warga dari 36 negara kemungkinan akan dilarang memasuki Amerika Serikat. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa Trump dua kali menjadi sasaran percobaan pembunuhan selama pemilu tahun lalu, dan dalang utamanya kemungkinan besar adalah rezim Iran.

EtIndonesia. Menurut laporan Reuters yang memperoleh isi kabel tersebut, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa warga dari 36 negara, termasuk Kamboja, Mesir, dan Suriah, dapat dikenakan larangan masuk total atau sebagian, jika negara-negara tersebut tidak memenuhi standar dan persyaratan tertentu dalam waktu 60 hari.

Beberapa alasan utama keamanan yang diajukan oleh Departemen Luar Negeri AS antara lain:

  • Kurangnya kerja sama pemerintah negara asal dalam menyediakan dokumen identitas warga negara yang andal.
  • Masalah keamanan pada paspor yang dikeluarkan.
  • Penolakan negara asal untuk menerima kembali warganya yang dideportasi dari AS.
  • Tinggal melebihi batas visa oleh warga negara yang bersangkutan.
  • Keterlibatan dalam aksi terorisme, serta aktivitas anti-Amerika atau antisemit (anti-Yahudi).

Langkah ini merupakan perluasan dari larangan perjalanan yang mulai berlaku awal bulan ini, saat Presiden Trump menandatangani pernyataan resmi yang melarang total masuknya warga dari 12 negara, termasuk Afghanistan, Myanmar, dan Iran. 

Selain itu, pembatasan sebagian juga diterapkan terhadap negara seperti Kuba dan Venezuela, sebagai bagian dari upaya mencegah masuknya “teroris asing” dan ancaman terhadap keamanan nasional.

Dalam perkembangan lain, Perdana Menteri Israel Netanyahu, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, mengatakan bahwa berdasarkan intelijen Israel, Trump menjadi target dua kali percobaan pembunuhan selama kampanye pemilu tahun lalu, dan rezim Iran diyakini sebagai dalang utama, karena menganggap Trump sebagai penghalang utama ambisi nuklir Iran.

Meskipun lembaga keamanan AS belum secara resmi mengaitkan kedua upaya pembunuhan tersebut dengan Iran, Trump sendiri pada pidato bulan September tahun lalu sempat mengisyaratkan bahwa Iran adalah dalangnya. (Hui/asr)

Laporan oleh jurnalis Liu Jiajia dari NTD, Amerika Serikat

Netanyahu Jawab Pertanyaan Sensitif: Apakah Israel Akan Singkirkan Pemimpin Tertinggi Iran?

EtIndonesia. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa menyingkirkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, justru akan mengakhiri konflik, bukan memperburuknya. Dia menambahkan bahwa Israel memiliki intelijen yang sangat dapat dipercaya yang menunjukkan Iran melakukan taktik negosiasi palsu terkait program nuklirnya—di satu sisi berbicara damai, namun di sisi lain diam-diam terus mengembangkan senjata nuklir.

Dalam wawancara eksklusif dengan ABC News Amerika Serikat, Netanyahu ditanya secara langsung apakah Israel berencana menargetkan Khamenei. Dia menjawab diplomatis, “Kami sedang melakukan apa yang perlu kami lakukan,” sambil menolak memberi rincian lebih lanjut. 

Namun dia menegaskan: “Kami sudah mengarahkan perhatian kami pada para ilmuwan nuklir top mereka. Pada dasarnya, mereka ini adalah ‘tim nuklir ala Hitler’.”

Menanggapi kekhawatiran bahwa serangan langsung terhadap Khamenei akan memicu eskalasi besar di kawasan, Netanyahu menolak keras anggapan tersebut.

“Itu justru tidak akan memperburuk konflik, malah akan mengakhirinya,” katanya.

Dia menuding bahwa rezim Iran telah menyulut ketegangan selama setengah abad, menyebarkan ketakutan dan teror di seluruh Timur Tengah.

“Mereka menyerang fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi, menyebarkan teror, sabotase, dan kekacauan ke mana-mana,” ujaranya.

Netanyahu menilai bahwa Teheran sebenarnya tidak tertarik menyelesaikan konflik, tapi menginginkan perang abadi.

“Mereka menyeret kami ke ambang perang nuklir. Dan yang Israel lakukan sekarang adalah menghentikan itu semua. Kami tidak punya pilihan lain kecuali melawan kekuatan jahat ini,” ujarnya tegas.

Negosiasi Nuklir Iran Dianggap Palsu

Menanggapi laporan bahwa Iran bersedia kembali ke meja perundingan, Netanyahu menyebut langkah itu hanyalah sandiwara.

“Mereka berpura-pura mau berunding, tapi sebenarnya menipu, berbohong, dan mempermainkan Amerika. Kami punya intelijen yang sangat solid soal ini,” katanya.

Menurutnya, di saat Iran berbicara soal perdamaian, mereka justru terus memperluas arsenal rudal balistik jarak jauhnya, dan mengembangkan teknologi senjata nuklir yang mengancam eksistensi Israel.

“Ada dua ancaman eksistensial bagi Israel: nuklir dan rudal balistik. Dan Iran sedang membangun keduanya,” ujar Netanyahu.

Dalam pesan yang ditujukan kepada publik Amerika melalui ABC, Netanyahu menekankan: “Kami bukan hanya melawan musuh kami, kami juga melawan musuh kalian. Mereka berseru: ‘Matilah Israel! Matilah Amerika!’”

Netanyahu Klaim Serangan Israel Sukses Hambat Program Nuklir Iran

Dalam konferensi pers yang digelar Senin malam, Netanyahu menyatakan bahwa serangan militer Israel berhasil memundurkan program nuklir Iran secara signifikan.

Sebelumnya, pada Minggu (15 Juni), dalam wawancara lain dengan Fox News, Netanyahu menyebut bahwa hasil dari kampanye militer Israel berpotensi menumbangkan rezim Iran.

“Sekitar 80% rakyat Iran, saya yakin, akan menggulingkan pemimpin mereka saat ini. Mereka telah 46 tahun berada di bawah kekuasaan yang menindas dan kejam. Rakyat Iran menginginkan kebebasan,” pungkasnya. (jhn/yn)

Gunung Lewotobi Laki-laki Meletus Lagi, Kolom Abu Capai Lebih 10 Kilometer

Flores Timur  – Gunung Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur kembali erupsi, pada Selasa (17/6) pukul 17.50 WIB. Berdasarkan laporan visual yang dihimpun dari berbagai sumber lapangan, erupsi ini ditandai dengan munculnya awan panas terpantau menyebar ke segala arah di sekitar kawasan gunung dengan ketinggian kolom abu mencapai lebih dari 10 kilometer.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merilis bahwa hasil laporan tim reaksi cepat di lapangan, situasi di sekitar gunung masih sangat terbatas untuk dijangkau karena kondisi gelap, disertai hujan abu dan kerikil yang menyulitkan petugas dalam menelusuri informasi lebih lanjut. BPBD Kabupaten Flores Timur juga belum menerima laporan adanya warga terdampak dari kepala desa di sekitar gunung.

Gunung Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur kembali erupsi, pada Selasa (17/6) pukul 17.50 WIB

Meski berada di luar radius Kawasan Rawan Bencana (KRB), hujan pasir dilaporkan terjadi di sejumlah desa seperti Desa Boru, Desa Hewa, dan Desa Watobuku. Sebagian warga dari Desa Nurabelen, Kecamatan Ile Bura, telah mengungsi ke lokasi pengungsian di Konga untuk menghindari dampak erupsi.

Sementara itu, di Pos Pemantauan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, yang berjarak 7 kilometer dari puncak kawah, dilaporkan terjadi hujan batu kerikil. Petugas pos telah mengungsi ke Gereja di Desa Pululera yang berjarak sekitar 1,2 kilometer dari pos pemantauan. Beberapa warga juga telah mengungsi ke Desa Nileknoheng, yang berada sejauh 5 kilometer dari pos atau 12 kilometer dari kawah gunung.

Gunung Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur kembali erupsi, pada Selasa (17/6) pukul 17.50 WIB

Alat pemantauan seismik juga masih mendeteksi tremor yang menandakan aktivitas vulkanik masih berlangsung. Adapun rincian aktivitas kegempaan yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukan adanya satu kali gempa hembusan dan tremor non-harmonik, dua kali gempa vulkanik dalam dan empat kali gempa tektonik jauh. 

Di luar radius kawasan rawan bencana (KRB), hujan pasir dilaporkan terjadi di beberapa desa, seperti Desa Boru, Desa Hewa, dan Desa Watobuku. Sementara itu, sebagian warga dari Desa Nurabelen, Kecamatan Ile Bura, telah mengungsi ke lokasi pengungsian di Konga sebagai langkah antisipasi terhadap erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Naik Level IV (Awas)

PVMBG kembali meningkatkan status gunungapi Lewotobi Laki-Laki dari level III (siaga) menjadi level IV (awas). Atas kenaikan status tersebut, bagi masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki direkomendasikan untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi terutama daerah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng jaya, Boru, Nawakote.

Gunung Lewotobi Laki-laki, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur kembali erupsi, pada Selasa (17/6) pukul 17.50 WIB

Merujuk pada rekomendasi PVMBG dan hasil analisa lapangan sementara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak beraktivitas dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas setempat dan mengikuti arahan dari petugas lapangan. 

Di samping itu, masyarakat diharapkan dapat segera melakukan evakuasi ke lokasi radius yang aman, melindungi diri dari paparan abu vulkanik dengan mempersiapkan masker maupun kain basah serta menghindari area aliran sungai untuk mengantisipasi potensi banjir lahar. (Bnpb/asr)

Melampaui Batas Ilmu Pengetahuan: Pria Ini Hanya Memiliki 10% Otak, Namun Tetap Hidup Normal

EtIndonesia. Bayangkan seseorang yang hanya memiliki 10% dari volume otaknya, namun tetap bisa menjalani hidup layaknya orang normal: menikah, memiliki anak, bekerja, dan bersosialisasi. Ini bukan cuplikan dari film fiksi ilmiah—ini adalah kasus medis nyata yang sampai hari ini masih membuat para ilmuwan tercengang dan bingung.

Kasus Ajaib dari Prancis: Otak Hampir Habis, Tapi Hidup Tak Terpengaruh

Kisah luar biasa ini datang dari seorang pria asal Prancis, kini berusia lebih dari 50 tahun. Dia pertama kali mengunjungi rumah sakit karena mengalami kelemahan di kaki, sebuah gejala yang tampaknya tidak berkaitan dengan otak.

Namun ketika tim medis melakukan pemindaian MRI terhadap kepalanya, hasilnya sangat mengejutkan—sebagian besar volume otaknya telah “hilang”. Gambar menunjukkan bahwa rongga tengkoraknya hampir seluruhnya diisi oleh cairan, dengan hanya tersisa lapisan tipis jaringan otak yang menempel di sepanjang dinding tengkorak—seperti lembaran kertas.

Kondisi ini bukan disebabkan oleh pengikisan jaringan, melainkan akibat hidrosefalus kronis—penumpukan cairan di otak yang menekan jaringan selama bertahun-tahun hingga menyusut drastis.

Ajaibnya: Dia Tetap Menjadi Suami, Ayah, dan Pekerja

Yang membuat kasus ini luar biasa adalah kenyataan bahwa pria tersebut tetap bisa menjalani kehidupan yang sepenuhnya mandiri dan produktif. Dia memiliki pekerjaan tetap, sudah menikah dan memiliki dua anak, serta menjalani kehidupan sosial yang aktif. Dalam tes IQ, dia memperoleh nilai antara 75 dan 84, yang secara teknis masuk kategori gangguan intelektual ringan—namun tidak menghalangi kemampuan fungsi hidup sehari-hari.

Secara medis, ini bertentangan dengan pemahaman tradisional bahwa kapasitas otak sangat menentukan fungsi mental. Jika seseorang kehilangan 90% otaknya, dia semestinya mengalami gangguan berat, atau bahkan tidak dapat bertahan hidup.

Teori Baru: Otak dan Kesadaran Ternyata Lebih Fleksibel

Kasus ini mendapat perhatian besar di dunia ilmu saraf. Profesor Axel Cleeremans, ahli psikologi kognitif dari Universitas Libre de Bruxelles, mengangkat kasus ini sebagai bukti nyata bahwa otak manusia memiliki kemampuan adaptasi yang radikal.

Cleeremans menyebut konsep ini sebagai “Radical Plasticity” (Plastisitas Radikal)—yakni gagasan bahwa kesadaran manusia bukanlah fungsi tetap dari area tertentu di otak, melainkan kemampuan yang dapat “dipelajari” dan disebarkan ke area otak lain bila perlu.

Artinya, kesadaran dan fungsi kognitif bisa berpindah lokasi, menyesuaikan diri dengan kondisi fisik otak yang tersedia. Inilah yang menjelaskan mengapa pria ini bisa tetap hidup normal, meski struktur otaknya hampir tidak ada.

Diterbitkan di Jurnal Bergengsi, Dibahas di Forum Ilmiah Dunia

Kasus langka ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2007 dalam jurnal medis bergengsi The Lancet, dan sejak itu menjadi topik hangat dalam konferensi Neuroscience dan studi tentang kesadaran manusia.

Banyak ilmuwan menganggap pria ini sebagai “sinyal dari dunia lain”—seolah-olah tubuh manusia menyimpan kekuatan tersembunyi yang belum sepenuhnya dimengerti ilmu pengetahuan modern.

Sebuah Refleksi: Apakah Tubuh Kita Sekadar Mesin Biologis?

Ketika melihat pemindaian otak pria ini—di mana hanya tersisa cangkang tipis jaringan—muncul pertanyaan mendalam:

Siapa atau apa yang membuatnya tetap bisa berfungsi normal?

Adakah bentuk kecerdasan yang tidak tercatat dalam peta sel dan sinapsis?

Beberapa orang menyebut ini sebagai “jejak kebijaksanaan ilahi”—bahwa kemampuan bertahan manusia tidak hanya bergantung pada struktur fisik, tetapi juga pada daya hidup tak terlihat, mungkin yang disebut jiwa, kesadaran, atau bahkan kehendak Tuhan.

Tubuh Manusia: Lebih dari Sekadar Daging dan Sel

Kisah ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia bukan hanya sistem biologis yang kompleks, tetapi juga wadah dari kekuatan yang tak terhingga. Sepanjang sejarah, berbagai kebudayaan mencatat kisah-kisah makhluk dengan kemampuan luar biasa—yang bisa menyembuhkan, berkomunikasi lewat batin, atau hidup dalam kondisi ekstrem.

Mungkin, kasus pria Prancis ini adalah salah satu pengingat modern, bahwa ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan oleh sains, dan masih menunggu untuk ditemukan.

Dan mungkin juga, jiwa manusia jauh lebih besar dari yang bisa ditampung oleh otak—tak peduli berapa persennya yang tersisa. (jhn/yn)

Kebetulan yang Bikin Merinding ? Pria Inggris Selamat dari Kecelakaan Maut karena Ganti Jadwal — Kursi Baru Ternyata Juga 11A

EtIndonesia. Sebuah peristiwa tragis sekaligus mengandung nuansa kebetulan yang mengguncang publik: kecelakaan pesawat Air India AI-171 yang terjadi baru-baru ini menewaskan 241 dari 242 penumpangnya. Namun yang mengejutkan, seorang pria asal Inggris yang awalnya dijadwalkan naik pesawat tersebut, lolos dari maut hanya karena menunda penerbangan. Lebih mencengangkan lagi, di penerbangan barunya, dia duduk di kursi yang sama persis dengan satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan—kursi 11A.

Kecelakaan terjadi pada 12 Juni pukul 13:39 waktu setempat, ketika pesawat Air India dengan nomor penerbangan AI171, lepas landas dari Bandara Internasional Ahmedabad di India barat menuju Bandara Gatwick, London. Kurang dari satu menit setelah mengudara, pesawat jatuh dan meledak hebat, mengakibatkan kebakaran besar dan asap tebal membumbung tinggi ke langit.

Insiden ini disebut sebagai salah satu kecelakaan udara paling mematikan dalam satu dekade terakhir secara global. Pesawat tersebut mengangkut 242 orang, terdiri dari 169 warga India, 53 warga Inggris, 1 warga Kanada, dan 7 warga Portugal. Hanya satu orang yang berhasil selamat.

Korban selamat itu adalah Vishwash Kumar Ramesh, warga negara Inggris berusia 40 tahun. Saat kecelakaan terjadi, dia duduk di kursi 11A, yang terletak dekat pintu darurat. Vishwash berhasil melompat keluar dari pesawat tepat sebelum ledakan besar terjadi, dan hanya mengalami luka-luka ringan. Dia bahkan bisa berjalan sendiri menjauh dari reruntuhan pesawat.

Di sisi lain, seorang pria bernama Owen Jackson (31 tahun) asal Saffron Walden, Essex, Inggris, semula dijadwalkan naik AI171. Namun karena urusan pekerjaan yang belum selesai, seorang rekannya menyarankan agar dia menunda kepulangan dan mengganti tiket untuk terbang dua hari kemudian, 14 Juni.

Menurut laporan Daily Mail (16 Juni), Jackson tidak sempat memberitahu keluarganya bahwa dia mengubah jadwal. Ketika kecelakaan terjadi dan namanya ada dalam manifes awal, istrinya, Phillipa, dilanda kepanikan karena tak dapat menghubunginya.

“Hari-hari itu saya benar-benar hancur. Saya menangis tanpa alasan. Membayangkan keluarga para korban—rasanya hati saya ikut remuk,” kata Phillipa dengan suara bergetar.

Yang paling menggetarkan hati: Owen Jackson ternyata duduk di kursi 11A dalam penerbangan penggantinya pada 14 Juni—kursi yang sama ditempati Vishwash, satu-satunya penyintas tragedi AI171.

“Ini sangat mengejutkan,” ujar Jackson. “Saya benar-benar bersyukur… Ini adalah kebetulan yang sangat aneh dan membuat saya merinding.”

“Kadang kita dengar berita pesawat jatuh, dan tidak terlalu memikirkannya. Tapi ketika kamu tahu itu adalah pesawat yang harusnya kamu tumpangi, dan hanya berselisih dua hari—itu membuatmu benar-benar memikirkan ulang tentang hidup.” (jhn/yn)

CEO Dassault Membantah Keras! Tegaskan Tidak Ada Rafale India yang Ditembak Jatuh dalam Konflik dengan Pakistan – “India Tak Pernah Melaporkan Kerugian”

EtIndonesia. CEO Dassault Aviation, Éric Trappier, secara tegas membantah klaim Pakistan yang menyatakan bahwa tiga jet tempur Rafale milik India ditembak jatuh dalam Operasi Sindhur. Pernyataan ini menandai pertama kalinya raksasa industri dirgantara Prancis itu secara terbuka merespons kabar tersebut.

Dalam wawancara eksklusif dengan majalah Challenges menjelang Paris Air Show yang akan digelar pada 16 hingga 22 Juni, Trappier mengungkapkan bahwa pihak berwenang India tidak pernah memberikan laporan apa pun terkait kerugian jet Rafale selama operasi tempur yang berlangsung awal Mei lalu. Dia menegaskan bahwa klaim Pakistan mengenai penembakan jatuh tiga pesawat Rafale adalah “tidak benar sama sekali.”

Lebih lanjut, Trappier menekankan bahwa keberhasilan sebuah operasi militer modern seharusnya tidak semata-mata diukur dari kerugian yang dialami, tetapi dari pencapaian tujuan strategisnya. 

Dia juga membandingkannya dengan sejarah, dengan mengatakan:“Selama Perang Dunia II, sekalipun pihak Sekutu mengalami korban jiwa, tidak berarti mereka kalah perang.”

Trappier memberi isyarat bahwa informasi yang sebenarnya mungkin belum sepenuhnya terungkap ke publik. 

Dia pun menambahkan: “Begitu semua fakta terungkap suatu hari nanti, mungkin akan ada pihak yang terkejut.”

Jet tempur Rafale, yang diklasifikasikan sebagai pesawat tempur generasi 4.5 multi-peran, telah lama menjadi pilar kekuatan udara strategis India. Sejak pertama kali dioperasikan, Rafale diharapkan dapat mengubah keseimbangan kekuatan udara di kawasan Asia Selatan.

Trappier kembali menegaskan keunggulan pesawat tersebut. Dia menyatakan bahwa Rafale masih menjadi salah satu jet tempur multi-peran paling canggih dan serbaguna di dunia saat ini. Bahkan, menurutnya, Rafale lebih cocok untuk berbagai jenis misi dibandingkan F-35 milik AS atau jet tempur sejenis buatan Tiongkok.

Dia menjelaskan bahwa keunggulan utama Rafale terletak pada fleksibilitasnya—mampu menjalankan berbagai misi mulai dari pertempuran udara jarak dekat, serangan darat, pengintaian, serangan nuklir, hingga operasi dari kapal induk.

Pernyataan Trappier ini muncul di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap performa persenjataan, belanja militer, dan dominasi udara di Asia Selatan. Ucapannya juga merupakan bantahan paling keras sejauh ini dari pihak Prancis terhadap narasi yang dikembangkan oleh Pakistan. (jhn/yn)

Pembawa Acara Wanita TV Iran Ini Kabur dari Studio Setelah Serangan Udara Sembari Mengkritik Israel

Baru-baru ini, Israel melancarkan serangan udara ke gedung media milik pemerintah Iran. Seorang presenter wanita yang sedang menyiarkan siaran langsung dan menyerang Israel dengan kata-kata tajam, tiba-tiba dikejutkan oleh serangan bom dari udara. Ia pun panik dan melarikan diri di tengah asap dan puing-puing.

EtIndonesia. Angkatan udara Israel pada 16 Juni,  mengebom markas besar Televisi Republik Islam Iran (IRIB) yang terletak di Teheran. Dalam tayangan televisi saat itu, terlihat sebuah program siaran langsung sedang berlangsung, memperlihatkan cuplikan serangan udara, dan seorang presenter wanita sedang dengan emosional mengutuk Israel di studio.

Tiba-tiba terdengar ledakan keras, lampu studio langsung padam, puing-puing dari atap berjatuhan, dan asap tebal memenuhi ruangan. Sang presenter bergegas keluar dari jangkauan kamera untuk menyelamatkan diri.

IRIB adalah “televisi nasional” Iran, dan oleh netizen Tiongkok sering disebut sebagai “CCTV-nya Iran”, mengacu pada CCTV (China Central Television) milik pemerintah Partai Komunis Tiongkok.

Sebelum serangan udara tersebut, militer Israel telah memperingatkan warga di area sekitar kantor IRIB untuk segera mengungsi.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan:“Alat propaganda dan hasutan milik Iran akan segera lenyap.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com