NATO Membunyikan Alarm! Sekjen NATO Menyebut Tiongkok, Rusia, dan Iran; Bahaya Besar Mengintai

EtIndonesia. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, pada Rabu (22/4/2026) saat berkunjung ke Turkiye mengeluarkan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa NATO sedang menghadapi ancaman besar dari berbagai dimensi, mulai dari luar angkasa hingga laut dalam.

Ia secara khusus menyebut PKT, Rusia, dan Iran sebagai sumber utama ketidakstabilan, serta untuk pertama kalinya mengkonfirmasi bahwa NATO telah empat kali berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan dari Iran menuju Turki.

 “Kita menghadapi bahaya yang sangat besar,” katanya. 

Ia menambahkan bahwa ancaman yang dihadapi NATO mencakup berbagai bidang:
“Dari Arktik hingga Mediterania, dari luar angkasa hingga dasar laut, dari rudal dan drone hingga serangan siber yang kompleks.”

Saat membahas sumber ancaman, ia secara khusus menyinggung PKT, Rusia, dan Iran:
“Perang Rusia di Ukraina masih berlangsung; modernisasi militer dan ekspansi nuklir PKT juga terus berjalan. Iran menyebarkan teror dan kekacauan. Di Turki, dampaknya terasa sangat nyata.”

Rutte juga mengkonfirmasi untuk pertama kalinya bahwa NATO telah empat kali berhasil mencegat rudal balistik dari Iran yang ditujukan ke Turki. Ia menegaskan bahwa NATO akan terus memperkuat penempatan militer dan mekanisme kerja sama guna menghadapi tantangan keamanan global yang semakin kompleks.

Pada hari yang sama, Rutte didampingi pejabat pertahanan Turkiye mengunjungi perusahaan industri pertahanan ASELSAN. Ia menekankan bahwa peningkatan produksi pertahanan dan inovasi teknologi merupakan arah strategis penting bagi NATO ke depan, serta menjadi agenda utama dalam KTT NATO pada Juli mendatang.

Laporan oleh jurnalis Yi Jing, New Tang Dynasty Television.

Krisis Memuncak! 3 Opsi ‘Mengerikan’ dari Trump Bikin Dunia Tahan Napas

EtIndonesia. Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase paling genting. Pada 22 April 2026 pagi, ketegangan di Selat Hormuz meningkat tajam setelah serangkaian serangan terhadap kapal kargo dilaporkan terjadi.

Menurut berbagai sumber, setidaknya tiga kapal kargo diserang menggunakan artileri, dan dua di antaranya berhasil dikuasai oleh Garda Revolusi Iran. Insiden ini langsung memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.


Ultimatum 3–5 Hari dari Trump

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan memberikan tenggat waktu yang sangat terbatas kepada Iran.

Berdasarkan laporan dari Axios, Trump memberi waktu 3 hingga 5 hari bagi Teheran untuk:

  • Menyatukan sikap internal pemerintahan
  • Mengajukan proposal gencatan senjata yang dinilai “layak” oleh Washington

Sementara itu, militer AS telah berada dalam kondisi siaga penuh, menandakan bahwa opsi militer tetap terbuka jika negosiasi gagal.


Tiga Pilihan Keras untuk Iran

Dalam pernyataan terbarunya melalui Truth Social, Trump secara tegas menyebut bahwa Iran kini hanya memiliki tiga pilihan:

  1. “Mati secara terhormat”
    Iran dapat meluncurkan seluruh sisa rudal balistik dan drone mereka. Namun, langkah ini akan berujung pada kehancuran besar—diprediksi membuat negara tersebut terpuruk hingga 10 tahun tanpa sektor minyak dan tanpa prospek pemulihan.
  2. Kembali ke meja perundingan
    Iran diminta bernegosiasi tanpa tuntutan berlebihan. AS juga menegaskan memiliki kemampuan untuk memaksa kepatuhan jika kesepakatan dilanggar.
  3. Menyerah tanpa syarat
    Pilihan ini membuka kemungkinan perubahan besar dalam struktur kekuasaan di Iran, dengan masa depan diserahkan kepada rakyatnya.

Sejumlah analis internasional menilai bahwa opsi ketiga menjadi satu-satunya jalan yang berpotensi mengarah pada perubahan rezim di Iran.


Tekanan Ekonomi: Targetkan Minyak Iran

Dari sisi ekonomi, tekanan terhadap Iran juga semakin diperketat.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan:

  • Fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Khark diperkirakan akan lumpuh
  • Produksi minyak Iran berpotensi terhenti total akibat gangguan distribusi

Selain itu, Departemen Keuangan AS tengah merancang langkah untuk:

  • Memblokir kemampuan Iran dalam mengakses dan memindahkan dana
  • Membekukan aset yang disebut sebagai “dana rakyat” yang disalahgunakan oleh elit pemerintahan

Elit Iran Mulai Mengungsi ke Bunker

Di tengah tekanan militer dan ekonomi, muncul laporan yang menunjukkan adanya tanda-tanda kepanikan di kalangan elit Iran.

Rekaman yang beredar memperlihatkan:

  • Konvoi truk membawa peralatan rumah tangga seperti mesin cuci dan microwave
  • Pengiriman persediaan makanan dalam jumlah besar
  • Pergerakan menuju bunker bawah tanah dengan pengamanan tinggi di wilayah pegunungan

Langkah ini diduga sebagai upaya perlindungan terhadap kemungkinan serangan besar dalam waktu dekat.


AS dan Israel Perkuat Kekuatan Militer

Sementara itu, persiapan militer terus ditingkatkan secara signifikan.

Menurut laporan Fox News:

  • Amerika Serikat terus mengirim amunisi dan peralatan berat dari pangkalan di Eropa selama masa gencatan senjata
  • Tiga kelompok tempur kapal induk—
    • USS Gerald R. Ford
    • USS Abraham Lincoln
    • USS George H. W. Bush
      —akan berkumpul di kawasan konflik menjelang akhir pekan

Selain itu:

  • Kapal pendarat generasi baru dengan kapasitas hingga 800 ton pasukan berat telah disiagakan
  • Israel dikabarkan bersiap menambah hingga 150 jet tempur untuk menghadapi kemungkinan eskalasi

Konflik Melebar: Trump Kaitkan dengan Tiongkok

Dalam perkembangan yang mengejutkan, Trump mulai secara terbuka mengaitkan konflik ini dengan peran Tiongkok.

Baru-baru ini, kapal kargo “Touska” yang berangkat dari Tiongkok berhasil dicegat oleh militer AS. Kapal tersebut diduga membawa bahan bakar yang cukup untuk mendukung hingga 154 rudal balistik milik Iran.

Dalam wawancara dengan CNBC, Trump menyatakan bahwa:

  • Presiden Xi Jinping “tersenyum di depan, tetapi menusuk dari belakang”
  • Tiongkok dituduh memberikan dukungan finansial dan teknologi kepada Iran

Trump juga memperingatkan bahwa jika dukungan tersebut tidak dihentikan, AS akan:

  • Melakukan serangan balasan
  • Bahkan mempertimbangkan untuk membatalkan kerja sama bilateral tertentu

Ia juga menuding bahwa sistem senjata Iran telah:

  • Menargetkan pasukan AS
  • Menjatuhkan pesawat tempur seperti F-15E dan A-10

Kekhawatiran Keamanan Dalam Negeri AS

Di dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi ancaman keamanan juga meningkat.

Senator AS, Josh Hawley, mengungkapkan bahwa:

  • Sekitar 500.000 mahasiswa asal Tiongkok di Amerika Serikat perlu diawasi lebih ketat
  • Hal ini terkait dugaan adanya jaringan spionase jangka panjang

Kesimpulan: Dunia di Ambang Titik Balik

Perkembangan pada 22 April 2026 menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak lagi sekadar ketegangan regional, melainkan telah berkembang menjadi krisis geopolitik global.

Dengan:

  • Ultimatum keras dari Washington
  • Tekanan militer dan ekonomi yang meningkat
  • Keterlibatan kekuatan besar seperti Tiongkok

Dunia kini berada di ambang sebuah titik balik yang berpotensi menentukan arah stabilitas global dalam waktu dekat. (***)

Kapal Ditangkap, Minyak Diblokade! Konflik AS–Iran Masuk Fase Berbahaya

EtIndonesia. Dunia internasional saat ini tengah berada dalam situasi yang sulit dipahami dengan logika biasa. Perkembangan yang terjadi bukan hanya kompleks, tetapi juga terasa seperti rangkaian peristiwa yang melampaui nalar—perpaduan antara intrik politik, tekanan militer, manuver diplomasi, hingga konflik terbuka yang terus membayangi.

Pada 21 April 2026, perhatian global tertuju ke Islamabad, Pakistan, yang semula dijadwalkan menjadi lokasi penting bagi putaran lanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, alih-alih menjadi ajang diplomasi, situasi justru berubah menjadi penuh ketidakpastian dan kebingungan.


Negosiasi “Bayangan”: Delegasi Tak Jelas, Diplomasi Dipertanyakan

Menjelang tenggat waktu perundingan, muncul kejanggalan besar. Tidak ada kepastian apakah delegasi dari kedua negara benar-benar hadir.

Menurut sumber diplomatik Pakistan, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dijadwalkan memimpin delegasi AS ke Islamabad. Secara diplomatik, kehadiran Vance seharusnya menandakan bahwa Iran juga telah menyiapkan delegasi resmi.

Namun kenyataannya bertolak belakang.

Media resmi Iran justru menegaskan bahwa tidak ada delegasi yang diberangkatkan ke Pakistan. Pernyataan ini diperkuat pada malam hari, ketika Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyampaikan bahwa Iran belum memberikan konfirmasi resmi untuk ikut dalam perundingan.

Situasi ini menciptakan kebingungan besar di kalangan media internasional dan pengamat politik.


Indikasi Perpecahan Internal Iran Makin Menguat

Sejumlah analis menilai bahwa kegagalan koordinasi ini mencerminkan retaknya struktur kekuasaan di dalam Iran.

Laporan dari lembaga kajian militer Amerika Serikat menyebutkan bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (Garda Revolusi Iran) kemungkinan telah mengambil alih kendali penuh dalam pengambilan keputusan strategis. Sementara itu, kelompok moderat yang sebelumnya memimpin jalur diplomasi diduga telah tersingkir.

Perpecahan ini memunculkan dua arah kebijakan yang bertolak belakang:

  • Kelompok moderat: cenderung membuka ruang negosiasi demi mempertahankan stabilitas dan kekuasaan.
  • Kelompok garis keras (Garda Revolusi): memilih konfrontasi dengan pendekatan ideologis yang lebih ekstrem.

Akibatnya, posisi Iran di meja perundingan menjadi tidak jelas dan tidak terkoordinasi.


Strategi AS: Diplomasi di Meja, Tekanan di Langit

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjalankan strategi yang jauh lebih agresif pada putaran kedua negosiasi ini.

Pendekatan yang digunakan sangat tegas:

  • Di meja perundingan: tawaran kesepakatan masih terbuka.
  • Di medan militer: kekuatan udara disiagakan penuh.

Pesawat pembom strategis seperti B-2 Spirit dan B-52 Stratofortress menjadi simbol tekanan nyata. Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun keras:
terima kesepakatan, atau hadapi konsekuensi militer.


Sinyal “Kemanusiaan” yang Mengejutkan

Di tengah tekanan tersebut, Trump sempat mengajukan permintaan yang tidak biasa:
Ia meminta Iran membebaskan delapan perempuan yang terancam hukuman mati.

Langkah ini dipandang sebagai upaya membuka jalur diplomasi melalui pendekatan kemanusiaan. Namun ironisnya, isu ini justru tidak mendapat perhatian luas dari komunitas internasional maupun organisasi HAM.


Ancaman Nuklir: Iran Selangkah Lagi

Situasi semakin mengkhawatirkan setelah laporan internasional menyebutkan bahwa Iran telah memiliki hampir 1.000 pon uranium dengan tingkat kemurnian 60%.

Artinya:

  • Iran hanya selangkah lagi mencapai level senjata nuklir (90%).
  • Cadangan tersebut diperkirakan cukup untuk memproduksi sekitar 10 hulu ledak nuklir.

Temuan ini menjadi faktor utama yang mendorong Amerika Serikat meningkatkan tekanan secara drastis.


Insiden Kapal “Tosca”: Awal Terbukanya Konflik Lebih Besar

Ketegangan meningkat tajam ketika militer AS mencegat kapal kargo bernama Tosca di kawasan Selat Hormuz.

Kapal tersebut diduga membawa material berbahaya yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer Iran.

Dalam pernyataannya, Trump bahkan secara terbuka menyebut nama Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan mempertanyakan komitmen Beijing yang sebelumnya diklaim tidak akan memasok senjata ke Iran.

Namun respons dari pihak Tiongkok justru minim. Mereka tidak membantah secara langsung, hanya menyampaikan “keprihatinan”—sebuah sikap yang memicu spekulasi lebih luas.


Operasi Kedua: Kapal “Tiffany” dan Perang Ekonomi Terbuka

Tak lama setelah itu, AS kembali melakukan operasi besar dengan mencegat kapal tanker super “Tiffany” di Teluk Benggala.

Kapal berkapasitas 300.000 ton ini membawa sekitar:

  • 1,9 juta barel minyak mentah dari Iran
  • menggunakan metode “shadow shipping” untuk menyamarkan asal minyak

Berbeda dari sebelumnya, kali ini AS:

  • tidak hanya menjatuhkan sanksi
  • tetapi langsung melakukan penindakan militer

Tujuannya jelas:

  • memutus jalur pendanaan Iran
  • sekaligus membongkar jaringan perdagangan gelap global

Selat Malaka dalam Pengawasan Ketat

Perkembangan penting lainnya terjadi di kawasan Asia Tenggara.

Setelah kerja sama militer antara AS dan Indonesia, jalur strategis di Selat Malaka bagian timur kini berada dalam pengawasan ketat. Kapal-kapal yang menuju Tiongkok dilaporkan akan diperiksa secara sistematis.

Langkah ini menandai perubahan besar:
tidak ada lagi jalur aman bagi distribusi logistik yang dianggap mendukung Iran.


Kekuatan Militer AS Memuncak

Di kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat meningkatkan kekuatan militernya secara signifikan.

Saat ini, tiga kelompok tempur kapal induk telah dikerahkan:

  • USS Abraham Lincoln
  • USS Gerald R. Ford
  • USS George H.W. Bush

Kapal terakhir bahkan dilengkapi dengan sistem senjata laser “Locust”, yang dirancang untuk:

  • menghancurkan drone dengan biaya sangat rendah
  • merespons ancaman secara cepat dan presisi

Dengan kondisi Iran yang sebagian besar kekuatan udaranya telah melemah, teknologi ini menjadi kunci dominasi AS.


Sinyal Perang: Aktivitas Militer dan Bunker Iran

Dalam 24 jam terakhir:

  • hampir 100 pesan darurat militer dikirim oleh AS
  • pesawat komando nuklir E-6B terus berpatroli

Di sisi lain, laporan menyebutkan bahwa elite Iran:

  • mulai berpindah ke bunker bawah tanah
  • membawa perlengkapan untuk bertahan jangka panjang

Namun secara kontras, pemerintah Iran justru mendorong rakyat untuk turun ke jalan melakukan demonstrasi anti-AS.


Negosiasi Gagal, Gencatan Senjata Dipertanyakan

Perkembangan terakhir semakin memperjelas kebuntuan:

  • JD Vance mengumumkan tidak akan menghadiri perundingan
  • Iran juga menyatakan tidak ikut serta
  • Donald Trump memutuskan menunda serangan
  • sekaligus memperpanjang gencatan senjata

Namun Iran langsung menolak langkah tersebut dan menyebutnya sebagai keputusan sepihak.


Kesimpulan: Dunia di Titik Kritis

Hingga 21 April 2026, situasi global berada dalam kondisi yang sangat rapuh.

Negosiasi gagal, kepercayaan runtuh, dan kekuatan militer terus ditingkatkan di berbagai lini. Perpecahan internal Iran, tekanan maksimal dari Amerika Serikat, serta keterlibatan tidak langsung kekuatan besar lain membuat konflik ini berpotensi meluas kapan saja.

Satu hal yang pasti:  dunia kini tidak lagi berada dalam situasi normal—melainkan di ambang perubahan besar yang bisa mengubah peta geopolitik global secara permanen. (***)

Makin Tegang! Pergantian Elite Militer Angkatan Laut AS Terjadi di Detik-Detik Kritis Konflik Iran

EtIndonesia— Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Pentagon secara mengejutkan mengumumkan pergantian pimpinan di jajaran Angkatan Laut. Menteri Angkatan Laut AS John Phelan, secara resmi mengundurkan diri pada 22 April 2026, dan posisinya langsung digantikan oleh Wakil Menteri, Hung Cao.

Pengumuman tersebut disampaikan melalui media sosial resmi Pentagon, namun hingga saat ini tidak ada penjelasan resmi terkait alasan pengunduran diri yang terjadi secara tiba-tiba tersebut. Waktu pengumuman yang bertepatan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah membuat keputusan ini langsung memicu berbagai spekulasi.


Latar Belakang: Menteri Sipil yang Kontroversial

John Phelan diketahui merupakan seorang pengusaha sekaligus tokoh politik yang mulai menjabat sebagai Menteri Angkatan Laut ke-79 sejak Maret 2025. Penunjukannya sejak awal sudah menuai kontroversi, karena ia tidak memiliki latar belakang militer.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat itu lebih menekankan kemampuan Phelan dalam manajemen dan reformasi organisasi, dibandingkan pengalaman militernya. Namun di tengah situasi krisis yang semakin kompleks, pendekatan tersebut kini kembali dipertanyakan.

Gambar menunjukkan foto arsip Kapten Angkatan Laut (purnawirawan) Cao Hong (Hung Cao). Diambil pada Maret 2022, saat Cao Hong mencalonkan diri dalam pemilihan di distrik ke-10 negara bagian Virginia. (Terri Wu/The Epoch Times)

Pengganti: Figur Militer Berpengalaman

Sebagai pengganti, Hung Cao dinilai memiliki profil yang sangat berbeda. Ia merupakan warga Amerika keturunan Vietnam dan mantan perwira Angkatan Laut dengan pengalaman dinas selama lebih dari 25 tahun.

Hung Cao pernah terlibat dalam berbagai operasi militer di Irak, Afghanistan, dan Somalia. Selain itu, ia juga dikenal memahami secara mendalam sistem anggaran militer serta mekanisme kerja Pentagon. Sejak 1 Oktober 2025, ia telah menjabat sebagai Wakil Menteri Angkatan Laut.

Pergantian ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menghadirkan kepemimpinan yang lebih siap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik militer.


Analisis: Sinyal Perubahan Strategi AS

Sejumlah analis menilai bahwa pergantian mendadak ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Langkah tersebut dianggap sebagai indikasi kuat bahwa Washington kemungkinan mulai meninggalkan jalur negosiasi dan bersiap memasuki tahap konflik berikutnya dengan Iran.

Spekulasi ini semakin menguat setelah pada hari yang sama, Presiden Trump menyatakan bahwa tidak ada tekanan waktu bagi Iran untuk melakukan gencatan senjata maupun melanjutkan negosiasi.

Ia juga membantah laporan yang menyebutkan adanya rencana perpanjangan gencatan senjata selama 3 hingga 5 hari. Gedung Putih menegaskan bahwa tidak ada tenggat waktu final, dan seluruh keputusan sepenuhnya berada di tangan presiden.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menambahkan bahwa pemerintah AS memahami dengan jelas siapa pihak yang memiliki otoritas tertinggi dalam pengambilan keputusan di Iran. Ia juga mengingatkan publik agar tidak mudah terpengaruh oleh pernyataan Iran di ruang terbuka, karena seringkali berbeda dengan komunikasi tertutup dalam proses diplomasi.


Perpecahan Internal Iran Memperumit Negosiasi

Menurut sejumlah pejabat AS, saat ini terjadi perpecahan serius di dalam struktur kekuasaan Iran, khususnya antara tim negosiasi dan pihak militer.

Bahkan disebutkan bahwa tidak ada jalur komunikasi langsung yang stabil dengan Pemimpin Tertinggi Iran. Kondisi ini membuat proses pengambilan keputusan menjadi lambat dan penuh ketidakpastian, sehingga semakin menyulitkan upaya diplomasi.


Situasi Laut Memanas: Kapal Iran Dicegat

Pada hari yang sama, United States Central Command (CENTCOM) membantah laporan bahwa sejumlah kapal Iran berhasil menembus blokade laut.

Dua kapal berbendera Iran, Hero-2 dan Hedi, dilaporkan telah dicegat dan kini berlabuh di Pelabuhan Chabahar. Sementara kapal Dorena saat ini berada di Samudra Hindia dan dikawal oleh kapal perusak Angkatan Laut AS.

CENTCOM menegaskan bahwa hingga saat ini, militer AS telah berhasil memaksa sedikitnya 29 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan, sebagai bagian dari operasi penegakan blokade.

Namun demikian, laporan dari The Washington Post menyebutkan bahwa operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz diperkirakan dapat berlangsung hingga enam bulan, menunjukkan bahwa krisis ini tidak akan selesai dalam waktu dekat.


NATO: Ancaman Datang dari Berbagai Arah

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengungkapkan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai ancaman secara bersamaan.

Ia menyebutkan tiga titik utama ketegangan global:

  • Konflik Rusia di Ukraina
  • Ekspansi nuklir Tiongkok
  • Instabilitas Iran di Timur Tengah

Rutte juga mengungkapkan bahwa NATO telah mencegat empat rudal balistik Iran yang mengarah ke Turki dalam beberapa pekan terakhir, menandakan eskalasi yang semakin meluas.


Tekanan Ekonomi: Iran Terancam Hentikan Produksi Minyak

Di sisi ekonomi, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memperingatkan bahwa fasilitas penyimpanan minyak Iran di Pulau Kharg akan mencapai kapasitas maksimum dalam beberapa hari ke depan.

Pulau Kharg sendiri merupakan pusat vital ekspor minyak Iran, yang menangani sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut, sementara sektor energi menyumbang sekitar 80% total ekspor nasional.

Jika blokade terus berlanjut, lembaga keuangan global seperti JPMorgan Chase memperkirakan Iran akan dipaksa untuk mengurangi bahkan menghentikan produksi minyaknya, yang berpotensi memicu krisis ekonomi dalam negeri.


Sanksi Baru Diberlakukan

Sebagai bagian dari tekanan tambahan, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi terhadap 14 individu dan perusahaan dari Iran, Turkiye, dan Uni Emirat Arab yang diduga terlibat dalam pengadaan serta distribusi senjata.


Kesimpulan: Krisis Menuju Titik Kritis

Rangkaian perkembangan pada 22 April 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki fase yang semakin kompleks dan berbahaya.

Pergantian mendadak di Pentagon, peningkatan operasi militer di laut, tekanan ekonomi yang intens, serta ketidakpastian di internal Iran, semuanya mengarah pada satu kesimpulan:

situasi kini tidak lagi sekadar krisis diplomatik, tetapi berpotensi berkembang menjadi konflik terbuka dalam waktu dekat. (***)

Mobil Tabrak Kerumunan di Depan Sekolah di Chengdu, Tiongkok, Dikabarkan Lebih dari 10 Orang Tertabrak

EtIndonesia. Pada 20 April sore waktu Beijing, terjadi insiden mobil menabrak kerumunan di depan sebuah sekolah di Chengdu, Provinsi Sichuan. Kondisi di lokasi dilaporkan cukup parah. Warga setempat mengungkapkan bahwa pengemudi diduga nekat setelah mengalami penipuan dan tidak mendapat keadilan.

Video yang beredar di internet menunjukkan kejadian terjadi di sebuah bundaran jalan di Distrik Wenjiang, Chengdu. Sebuah mobil sedan putih diduga menabrak pejalan kaki dan pengendara sepeda listrik, lalu akhirnya berhenti di area taman bundaran. Beberapa orang terlihat tergeletak di pinggir jalan, sementara lainnya bersama sepeda listrik terpental ke area rumput dan semak-semak.

Seorang bayi kecil terlihat terbaring di pinggir jalan dengan darah mengalir dari kepala, dalam kondisi kritis. Ada juga siswa berseragam sekolah yang tergeletak di area hijau sambil mengerang kesakitan. Warga sekitar berusaha memberikan pertolongan.

Warganet setempat menyebut lokasi kejadian berada di dekat bundaran Klinik Liucheng, sementara yang lain mengatakan hanya di depan Klinik Yongquan terdapat bundaran seperti itu.

Menurut kesaksian warga, terdapat “tujuh hingga delapan orang dewasa” yang tergeletak, serta anak-anak, pelajar, bahkan bayi. Ada yang menyebut korban termuda “sekitar satu tahun”.

Laporan Lianhe Zaobao menyebut lokasi kejadian berada di persimpangan Jalan Huatu dan Jalan Huafeng, yang dalam radius 100 meter terdapat beberapa sekolah. Setelah kejadian, ambulans terlihat di lokasi dan di depan sekolah, sementara para siswa dari berbagai sekolah sedang pulang melewati area tersebut.

Dilaporkan pula bahwa mobil pelaku berhenti di taman bundaran, dan beberapa pria mendekati serta memarahi pengemudi. Namun pengemudi terlihat tenang dan tetap duduk di kursi tanpa memberikan respons.

Pada malam hari, pihak kepolisian Distrik Wenjiang, Chengdu, mengumumkan bahwa sekitar pukul 18:26 terjadi apa yang disebut sebagai “kecelakaan lalu lintas” di Jalan Huatu yang menyebabkan “5 orang terluka”. Pengemudi adalah pria bermarga Guo, berusia 38 tahun, yang telah diamankan di lokasi. Dugaan mengemudi dalam keadaan mabuk atau di bawah pengaruh narkoba telah disingkirkan.

Seorang korban bermarga Li mengatakan bahwa kendaraan tersebut melaju dari depan sekolah sambil menabrak orang-orang. Ia sendiri jatuh saat mengendarai sepeda listrik bersama anaknya.

 “Saya terluka, tangan saya patah, tapi anak saya tidak apa-apa. Seharusnya ada lima korban luka berat yang dibawa ke rumah sakit, tapi yang tertabrak lebih dari lima orang, mungkin lebih dari sepuluh. Katanya pria itu melakukan ‘balas dendam terhadap masyarakat’.”

Seorang warga lain juga mengatakan bahwa angka lima orang kemungkinan hanya korban luka berat, sementara korban luka ringan tidak dilaporkan. Ia menambahkan bahwa pelaku diduga menjadi korban penipuan sekitar 195.000 yuan. Karena uang tidak dikembalikan dan tuntutannya tidak ditindaklanjuti oleh pengadilan, ia sempat melakukan protes, namun dihalangi. Dalam kondisi marah, ia kemudian melakukan aksi tersebut.

Setelah kejadian, informasi terkait insiden ini dilaporkan ditekan. Video-video di media sosial dihapus, dan warga yang mengunggah informasi disebut mendapat peringatan dari polisi.

Seorang pembuat video yang sempat menanyakan kejadian di Jalan Huatu mengatakan:
“Barusan polisi menelepon dan menyuruh saya menghapus video. Banyak orang juga diminta menghapus. Sekarang tidak nyaman lagi membicarakan hal ini.”

Warga lain menyebut pelaku kemungkinan mengalami tekanan mental akibat masalah keuangan:  “Katanya dia ditipu sekitar 190 ribu yuan dan tidak bisa mendapatkan kembali uangnya. Mungkin saat itu dia mengalami tekanan mental dan akhirnya bertindak nekat. Sekarang mencari uang memang sulit.”

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dengan kondisi ekonomi Tiongkok yang memburuk, tekanan hidup masyarakat dan berbagai ketidakadilan sosial telah memicu meningkatnya kasus kekerasan acak.

Dilaporkan oleh Chen Zhenjin/Disunting oleh Lin Qing – NTDTV.com

Trump dengan Humor Menyindir Xi Jinping Selama Wawancara, Militer AS Menerima Hadiah dari PKT untuk Iran 

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (21 April) dalam wawancara dengan CNBC menyinggung kapal kargo yang dicegat militer AS pada akhir pekan lalu dan diduga memiliki hubungan erat dengan PKT. Ia secara bercanda mengisyaratkan bahwa militer AS telah mendapatkan “hadiah” dari PKT untuk Iran, sekaligus menyindir pemimpin PKT, Xi Jinping.

Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan bahwa pada Senin (20 April), militer AS mencegat sebuah kapal yang membawa “hadiah” dari PKT untuk Iran. Meski tidak merinci isi “hadiah” itu, banyak pihak menduga berupa perlengkapan militer, termasuk bahan yang digunakan untuk produksi rudal balistik.

Trump berkata:  “Saya agak terkejut, karena saya punya hubungan yang baik dengan Xi, saya kira kami punya pemahaman bersama. Tapi tidak apa-apa, begitulah perang, bukan?”

Trump juga menjelaskan bahwa saat ini persediaan amunisi militer AS bahkan lebih banyak dibandingkan 4–5 minggu sebelumnya, sementara persenjataan rudal Iran sudah sangat menipis. Iran disebut berusaha memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memindahkan rudal ke berbagai wilayah, namun distribusi tersebut bergantung pada jembatan-jembatan penting yang sebagian telah dihancurkan.

Namun demikian, Trump menegaskan bahwa pemerintah Teheran menempatkan warga sipil untuk menjaga jembatan dan pembangkit listrik, sehingga menghancurkan fasilitas tersebut bukanlah pilihan yang diambilnya.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat berharap Iran dapat kembali menjadi negara yang kuat dan besar. Untuk mewujudkannya, Iran harus mencapai kesepakatan dengan AS, meninggalkan kekerasan dan teror, serta kembali ke jalur yang benar sebagai negara yang sah.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya tidak ingin kehilangan satu pun tentara Amerika. Hingga saat ini, dalam konflik dengan Iran, AS dilaporkan hanya kehilangan 13 personel militer, yang menurutnya menunjukkan keberhasilan operasi tersebut.

Reporter NTD Television, Ren Hao, melaporkan dari Washington, D.C.

Tanpa Serangan, Iran Bisa Runtuh? Strategi ‘Mencekik dari Luar’ Trump Bikin Dunia Tegang!”

EtIndonesia — Situasi geopolitik global kembali memanas setelah muncul tiga sinyal strategis yang dinilai tidak biasa dari Washington dan kawasan Timur Tengah. Ketiga perkembangan ini tidak hanya mencerminkan eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga mengindikasikan adanya permainan strategi yang jauh lebih kompleks di balik layar.

Ancaman Terbuka terhadap Trump dan Ivanka

Sinyal pertama datang dari kelompok yang berafiliasi dengan Iran. Dalam sebuah pernyataan yang disebarkan melalui saluran yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah Iran, kelompok tersebut secara terbuka mengeluarkan ancaman ekstrem terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta putrinya, Ivanka Trump.

Pernyataan tersebut bahkan melampaui batas diplomatik dengan secara langsung menghasut aksi kekerasan di dalam wilayah Amerika Serikat. Langkah ini dipandang oleh para analis sebagai eskalasi serius yang berpotensi memicu respons keras dari Washington.

Bocoran Sensitif dari Pejabat Nuklir AS

Sinyal kedua muncul dari dalam tubuh pertahanan Amerika sendiri. Seorang pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas keamanan senjata nuklir di Departemen Pertahanan AS, Andrew Hagg, tertangkap kamera tersembunyi sedang membahas kemungkinan serangan militer terhadap Iran.

Namun yang menarik perhatian adalah kecepatan respons pemerintah. Dalam waktu kurang dari satu jam setelah rekaman tersebut dipublikasikan oleh tim jurnalis investigasi yang dipimpin James O’Keefe, pihak militer langsung mengumumkan penonaktifan Hagg.

Biasanya, proses seperti ini memerlukan waktu berhari-hari. Kecepatan yang tidak biasa ini memicu spekulasi bahwa insiden tersebut kemungkinan merupakan bagian dari operasi psikologis terencana untuk mengirim pesan tegas kepada Iran.

Perpanjangan Gencatan Senjata Tanpa Tenggat

Sinyal ketiga datang dari keputusan mengejutkan Donald Trump yang secara tiba-tiba mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran—tanpa menetapkan batas waktu yang jelas.

Langkah ini memicu berbagai interpretasi. Di satu sisi, publik melihatnya sebagai tanda pelunakan sikap. Namun, sejumlah analis menilai sebaliknya: ini adalah bentuk “jebakan hitung mundur” yang dirancang dengan sangat hati-hati.

Menurut analisis tersebut, tidak adanya tenggat waktu bisa berarti dua hal:

  • Trump telah memperkirakan titik runtuhnya kondisi internal Iran
  • Atau, Washington sedang menyiapkan operasi besar tanpa ingin memberi petunjuk waktu kepada Teheran

Kronologi 17 April: Awal Retaknya Kendali Internal Iran

Petunjuk penting muncul dari pernyataan terbaru Trump yang mengungkap bahwa empat hari sebelumnya—yakni pada 17 April 2026—Iran sempat berniat membuka kembali Selat Hormuz demi pemasukan hingga 500 juta dolar per hari.

Pada tanggal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang mengumumkan pembukaan Selat Hormuz untuk pelayaran komersial sebagai bagian dari upaya mendukung gencatan senjata di Lebanon.

Namun, kurang dari 24 jam kemudian, situasi berbalik drastis. Komandan Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi, mengambil alih keputusan dan mengumumkan penutupan total selat tersebut.

Peristiwa ini secara terang mengungkap perpecahan internal di Iran:

  • Pemerintahan sipil mulai menunjukkan tanda kompromi
  • Militer, khususnya Garda Revolusi, mengambil alih kendali strategis

Ekonomi Iran di Ambang Keruntuhan

Trump juga menyatakan bahwa ekonomi Iran saat ini berada dalam kondisi kritis. Laporan menyebutkan bahwa:

  • Aparat keamanan dan militer mulai mengalami keterlambatan gaji
  • Ketidakpuasan internal semakin terbuka
  • Pemerintahan sipil dan militer terpecah tajam

Media seperti Fox News bahkan mulai mengangkat kemungkinan adanya kudeta internal oleh Garda Revolusi terhadap pejabat sipil.

Tekanan Tanpa Serangan: Strategi “Mencekik dari Luar”

Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek dari blokade ekonomi. Jika situasi ini terus berlanjut tanpa serangan militer langsung, maka sekitar 26 April 2026, fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Khark diperkirakan akan mencapai kapasitas maksimum.

Dampaknya sangat besar:

  • Produksi minyak harus dihentikan
  • Risiko kerusakan permanen pada struktur geologis
  • Kehilangan produksi 300.000–500.000 barel per hari
  • Kerugian tahunan hingga 15 miliar dolar

Dengan kata lain, tanpa menembakkan satu peluru pun, tekanan ekonomi saja sudah cukup untuk mendorong Iran menuju krisis internal serius.

Kehadiran Militer AS dan Dampak Global

Di tengah situasi ini, kapal induk USS George H. W. Bush diperkirakan akan tiba di perairan sekitar Iran dalam waktu tiga hari, memperkuat tekanan militer.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah. Di Eropa:

  • Maskapai Lufthansa mengumumkan pemangkasan hingga 20.000 penerbangan antara Mei–Oktober
  • Biaya bahan bakar melonjak, menambah lebih dari 100 euro per penumpang

Para pemimpin Eropa seperti Emmanuel Macron dan Olaf Scholz kini berada dalam posisi sulit: menekan Iran atau meminta AS meredakan situasi.

Isyarat Lebih Besar: Menuju Indo-Pasifik

Pengamat geopolitik Wu Jialong menilai bahwa strategi “memutus pasokan dan mengepung” ini bukan hanya ditujukan kepada Iran, tetapi juga sebagai simulasi untuk kawasan Indo-Pasifik, khususnya terhadap Tiongkok.

Bocoran CIA: Bayang-Bayang Intervensi Pemilu 2020

Di Washington, perkembangan mengejutkan lainnya muncul pada 22 April 2026, ketika jurnalis investigasi Catherine Herridge mengungkap dokumen pelapor internal CIA.

Dokumen tersebut menyebut bahwa:

  • Pada Pemilu AS 2020, terdapat indikasi intervensi dari Tiongkok
  • Informasi tersebut diduga disembunyikan oleh mantan Direktur CIA Gina Haspel
  • Data intelijen menunjukkan operasi tersebut bahkan melampaui skala intervensi Rusia

Mantan Penasihat Keamanan Nasional Michael Flynn mendesak Departemen Kehakiman untuk segera melakukan penyelidikan.

Langkah Baru AS di Kawasan Karibia

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dilaporkan mulai mengambil langkah terhadap Kuba, yang dianggap sebagai salah satu basis pengaruh Tiongkok di kawasan Karibia.


Kesimpulan: Strategi Sunyi di Balik Ketegangan

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi bukan sekadar konflik biasa. Amerika Serikat tampaknya tengah menjalankan strategi multi-lapis:

  • Tekanan ekonomi tanpa serangan langsung
  • Operasi psikologis untuk menggoyang lawan
  • Pengujian model strategi untuk konflik global yang lebih besar

Dengan waktu yang terus berjalan menuju akhir April 2026, dunia kini menunggu: apakah ini akan berakhir pada meja perundingan, atau justru menjadi awal dari konflik yang lebih luas. (***)

Iran Bergejolak dari Dalam? Elite Dikabarkan Ditahan, AS Siap Hancurkan Segalanya!

EtIndonesia — Situasi geopolitik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya setelah munculnya serangkaian perkembangan dramatis yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya. Mulai dari dugaan konflik internal di tubuh pemerintahan Iran, tekanan ekonomi yang semakin mencekik, hingga insiden militer di laut lepas, seluruh indikator menunjukkan bahwa kawasan ini berada di ambang eskalasi besar.

Dugaan Kudeta Internal Iran Mengemuka

Pada 21 April 2026, seorang mantan pejabat energi Arab Saudi, Dr. Al-Malik—yang dikenal sebagai doktor teknik perminyakan dan pernah menjabat sebagai penasihat di Kementerian Energi Arab Saudi—mengungkapkan informasi mengejutkan. Ia menyatakan bahwa Presiden Iran, Ketua Parlemen, dan Menteri Luar Negeri Iran secara bersamaan telah ditempatkan dalam tahanan rumah oleh Garda Revolusi Iran.

Meski kebenaran informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen, kabar tersebut langsung memicu perhatian internasional. Hanya dalam waktu sekitar dua jam setelah informasi beredar, Donald Trump memberikan respons melalui platform Truth Social. Ia menyebut adanya “perpecahan serius” dalam pemerintahan Iran, dan mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah meminta Pakistan untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran sambil menunggu proposal resmi yang bersatu dari Teheran.

Namun, situasi semakin membingungkan ketika Dr. Al-Malik kemudian merilis pernyataan lanjutan yang justru bertolak belakang. Ia menyatakan bahwa tidak terjadi perpecahan internal, melainkan kendali penuh kini berada di tangan komandan Garda Revolusi bernama Vahidi—figur garis keras yang disebut menolak jalur diplomasi dan justru mendorong kelanjutan konflik militer.

Demonstrasi Kekuatan Militer Iran

Masih pada malam 21 April 2026, Garda Revolusi Iran secara terbuka memamerkan rudal balistik jarak menengah Khorramshahr-2 di Jalan Vali Asr, Teheran—jalan terpanjang di Timur Tengah. Rudal tersebut diketahui memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer, bahkan dapat mencapai sekitar 3.000 kilometer dengan hulu ledak ringan.

Demonstrasi ini secara jelas mengirimkan pesan strategis: seluruh kawasan Timur Tengah, termasuk Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, berada dalam jangkauan serangan Iran.

Reaksi publik pun bermunculan. Seorang pengguna media sosial bernama Brown menyatakan bahwa langkah Iran tersebut ibarat “memancing bahaya,” yang justru dapat memperkuat tekad Amerika Serikat dan Israel untuk mengambil tindakan militer yang lebih keras.

Peringatan Keras dari Washington dan Tel Aviv

Pada malam yang sama, setelah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa jika Iran gagal mengajukan proposal negosiasi yang terpadu, maka Amerika Serikat tidak akan ragu untuk menghancurkan infrastruktur strategis Iran, termasuk kepemimpinan negara tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidatonya pada peringatan Hari Kemerdekaan di Yerusalem, menegaskan bahwa Israel berada dalam posisi militer terkuat sepanjang sejarahnya. Ia menyatakan bahwa Israel bersama Amerika Serikat memimpin upaya menghadapi apa yang disebut sebagai “poros kejahatan,” dengan Iran sebagai salah satu fokus utama.

Netanyahu juga menekankan bahwa gencatan senjata saat ini hanyalah jeda sementara, bukan solusi permanen. Israel, menurutnya, siap melanjutkan operasi militer kapan saja jika jalur diplomasi gagal.

Strategi “Mencekik Ekonomi” Iran

Meski serangan militer langsung belum dilancarkan, Amerika Serikat memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Pada 22 April 2026, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa tidak ada ruang kompromi dalam kebijakan tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa fasilitas penyimpanan minyak Iran di Pulau Kharg hampir mencapai kapasitas penuh. Jika hal ini terjadi, maka ekspor minyak Iran—yang merupakan tulang punggung ekonomi negara—akan praktis terhenti total.

Langkah-langkah yang diambil Washington mencakup:

  • Pemblokiran jalur pelayaran internasional
  • Penghentian sistem pembayaran global terkait Iran
  • Pembatasan asuransi kapal tanker
  • Penindakan terhadap perdagangan minyak ilegal

Setiap pihak yang mencoba membantu Iran menjual minyak berisiko terkena sanksi berat.

Analisis dari JPMorgan menunjukkan bahwa jika kapasitas penyimpanan penuh, Iran terpaksa mengurangi produksi atau bahkan menutup sumur minyak. Dampaknya tidak hanya ekonomi jangka pendek, tetapi juga risiko teknis besar dalam menghidupkan kembali produksi di masa depan.

Sementara itu, laporan dari CNN menyebut bahwa Iran sempat meningkatkan ekspor minyak selama konflik berlangsung, mengindikasikan adanya celah dalam sistem sanksi. Namun kini, Amerika Serikat berupaya menutup seluruh celah tersebut secara menyeluruh.

Menanggapi ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, Trump menyebut hal itu sebagai retorika semata. Ia menilai Iran tidak akan berani mengambil langkah tersebut karena akan merugikan diri sendiri, mengingat nilai perdagangan harian di jalur tersebut mencapai sekitar 500 juta dolar.

Serangan Laut Tanpa Peringatan Picu Kekhawatiran Baru

Situasi semakin memanas pada 22 April 2026, ketika Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan insiden serius di perairan dekat Oman. Sebuah kapal kontainer diserang oleh kapal patroli Garda Revolusi Iran tanpa adanya peringatan radio sebelumnya.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan berat pada bagian anjungan kapal, meskipun seluruh awak dilaporkan selamat. Insiden ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik, karena melibatkan serangan langsung terhadap kapal sipil di jalur perdagangan internasional.

Kesimpulan: Timur Tengah di Ambang Titik Kritis

Rangkaian peristiwa dalam dua hari terakhir—mulai dari dugaan konflik internal di Iran, demonstrasi kekuatan militer, tekanan ekonomi yang semakin ketat, hingga serangan laut tanpa peringatan—menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah berada di titik yang sangat rapuh.

Dengan gencatan senjata yang hanya bersifat sementara dan tekanan dari berbagai arah terus meningkat, dunia kini menghadapi kemungkinan nyata terjadinya eskalasi konflik yang lebih luas dalam waktu dekat. (***)

Punya Green Card pun Tak Menjamin Aman: AS Luncurkan Penyelidikan Besar-besaran atas Penipuan Imigrasi

EtIndonesia. Direktur U.S. Citizenship and Immigration Services, Joseph Edlow, baru-baru ini menyatakan bahwa USCIS telah “menyatakan perang total” terhadap penipuan imigrasi, dan akan meninjau ulang kasus-kasus green card, suaka, serta manfaat imigrasi lainnya yang disetujui pada masa pemerintahan Joe Biden.

Pada 19 April, dalam wawancara dengan One America News Network, Edlow mengatakan bahwa pemerintahan Donald Trump telah mempercepat penyelidikan terhadap penipuan imigrasi, dengan fokus pada individu yang masuk ke AS dalam beberapa tahun terakhir dan diduga melakukan kecurangan.

Dalam cuplikan wawancara yang dibagikan di platform X, ia memperingatkan:  “Bagi mereka yang sedang melakukan penipuan: hentikan sekarang juga, karena kami pada akhirnya akan menemukan kalian. Bahkan jika kalian merasa sudah lolos, kami tetap akan menelusuri kembali.”

Ia juga menulis bahwa USCIS akan membuka kembali dan meninjau ulang kasus-kasus lama yang disetujui pada masa pemerintahan sebelumnya, ketika pemeriksaan dinilai lebih longgar, dan kini akan dilakukan dengan standar yang lebih ketat.

“Para penipu dan pelaku kejahatan lainnya harus siap menanggung konsekuensinya,” ujar Edlow. “Prioritas utama kami adalah melindungi keselamatan rakyat Amerika. Menjaga keamanan Amerika adalah tugas kami—dan kami akan menjalankannya tanpa kompromi.”

Pada 21 April, Edlow kembali memperingatkan melalui platform X:  “Penipuan telah merasuki seluruh sistem imigrasi kami. Agen baru USCIS akan memastikan pelaku penipuan dihukum berat. Siapa pun yang melakukan penipuan tidak layak mendapatkan manfaat imigrasi maupun kewarganegaraan. Imigrasi ke Amerika adalah sebuah kehormatan, dan kami akan memastikan prosesnya berjalan secara legal dan sesuai aturan.”

Setelah kembali ke Gedung Putih, Presiden Trump memperketat kebijakan imigrasi dan memerintahkan peninjauan ulang terhadap kasus-kasus yang telah mendapatkan green card atau suaka.

Pada 27 November 2025, Edlow menyatakan di X bahwa, atas instruksi presiden, ia telah memerintahkan peninjauan menyeluruh dan ketat terhadap setiap green card yang diberikan kepada warga negara asing dari negara-negara terkait.

Dua hari kemudian, ia mengumumkan bahwa USCIS telah menangguhkan seluruh keputusan terkait permohonan suaka hingga dapat dipastikan bahwa setiap pemohon telah melalui proses penyaringan paling ketat. Ia menegaskan bahwa keselamatan rakyat Amerika tetap menjadi prioritas utama.

Pada Februari tahun ini, Edlow melaporkan kepada anggota Kongres bahwa sejak 20 Januari 2025, staf imigrasi telah menyerahkan hampir 33.000 laporan dugaan penipuan kepada unit Deteksi Penipuan dan Keamanan Nasional USCIS—meningkat 138% dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Dari lebih dari 21.000 kasus yang telah diselesaikan, sekitar 65% terbukti mengandung unsur penipuan.

Selain itu, petugas imigrasi juga melakukan inspeksi lapangan dan pemeriksaan latar belakang melalui media sosial untuk mengidentifikasi potensi risiko terkait keamanan nasional, keselamatan publik, penipuan, serta kecenderungan “anti-Amerika”.

Seiring meningkatnya intensitas pemeriksaan, kewenangan penegakan hukum USCIS juga diperluas. Pada September tahun lalu, pemerintah Trump mengesahkan aturan baru yang memungkinkan USCIS merekrut agen khusus untuk menjalankan tugas penangkapan.

Dalam pengumuman rekrutmen terbaru, para petugas ini disebut sebagai “Pembela Tanah Air” (Homeland Defenders).

USCIS, yang secara tradisional menangani persetujuan visa, green card, dan naturalisasi, kini juga telah membentuk divisi baru bernama “Direktorat Operasi Taktis” untuk mendukung program deportasi besar-besaran pemerintah.

Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui – NTDTV.com

Salju Tiba-Tiba Turun di Banyak Wilayah Shaanxi, Tiongkok,  Petani Menangis: “Tak Ada Jalan Hidup Lagi”

Sekitar dua minggu menjelang musim Lixia (awal musim panas, 5 Mei), beberapa wilayah di Provinsi Shaanxi seperti Baoji, Tongchuan, dan Xianyang tiba-tiba diguyur salju lebat. Para petani buah setempat mengeluhkan kerugian besar: “Tidak ada jalan hidup lagi.”

EtIndonesia. Pada 21 April pagi waktu Beijing, banyak daerah di Shaanxi mengalami hujan salju tebal. Kabupaten Xunyi, Changwu, serta Kota Binzhou di wilayah utara Xianyang mengalami penumpukan salju yang cukup signifikan.

Video yang diambil warga setempat menunjukkan beberapa wilayah tertutup lapisan salju tebal, membuat pemandangan berubah menjadi putih seperti musim dingin dalam semalam. Ada warga yang mengatakan, “Kemarin masih pakai kaus lengan pendek, hari ini sudah pakai jaket tebal.”

Sejumlah petani buah juga mengunggah video, mengatakan bahwa pohon apel baru saja berbunga, namun setelah hujan salju, bunga-bunga tersebut tidak bisa bertahan. Mereka khawatir panen apel tahun ini “gagal total”. Seorang petani perempuan bahkan terlihat berlutut dan bersujud ke langit, memohon agar salju tidak turun lagi, jika tidak para petani “tidak punya jalan hidup”.

April merupakan periode penting bagi pembungaan pohon buah dan pertumbuhan tanaman, di mana daya tahan terhadap dingin masih lemah. Salju atau embun beku pada masa ini dapat dengan mudah merusak kuncup bunga dan bibit muda. Jika terjadi pembekuan saat masa berbunga, tingkat keberhasilan berbuah pada tanaman seperti apel dan pir akan menurun drastis. Salju  April berpotensi menyebabkan penurunan signifikan pada hasil panen pangan dan tanaman ekonomi.

Badan Meteorologi Kota Xianyang pada 21 April pukul 10:13 mengeluarkan peringatan kuning untuk jalan licin akibat es. Diperkirakan dalam 24 jam ke depan, kondisi pembekuan jalan dapat memengaruhi lalu lintas, khususnya di wilayah Binzhou, Xunyi, Changwu, bagian utara Yongshou, bagian utara Chunhua, dan bagian utara Liquan.

Sementara itu, stasiun meteorologi Kota Binzhou juga mengeluarkan peringatan serupa pada pukul 08:47, menyatakan bahwa dalam 12 jam ke depan beberapa wilayah seperti Taiyu, Shuikou, Hanjia, dan Chengguan berpotensi mengalami pembekuan jalan. Selain itu, peringatan embun beku tingkat biru juga diberlakukan, dengan suhu minimum diperkirakan turun di bawah 0°C pada malam hari hingga dini hari berikutnya.

Di saat yang sama, kota Xi’an yang pekan lalu sempat mengalami suhu hingga 30°C kini diguyur hujan, dengan suhu turun drastis ke sekitar 10°C. (Hui)

Dilaporkan oleh Chen Zhenjin/Disunting oleh Lin Qing – NTD

[Berita Terlarang] Indoktrinasi Pelajar : Partai Komunis Tiongkok Tanamkan Kebencian terhadap Falun Gong di Sekolah Seluruh Tiongkok 

EtIndonesia. Penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok Falun Gong terus meningkat di daratan Tiongkok. Di berbagai sekolah di seluruh negeri, kampanye untuk mendiskreditkan dan mencemarkan Falun Gong terus dilakukan, dengan tujuan memperkuat indoktrinasi terhadap generasi muda. Para analis menilai langkah ini justru membuat masyarakat Tiongkok semakin melihat secara jelas hakikat rezim PKT.

Situs Minghui.org melaporkan pada 20 April bahwa sejak akhir tahun lalu, Komite Urusan Politik dan Hukum serta Dinas Pendidikan di Kota Baoding, Provinsi Hebei, telah meluncurkan kegiatan yang disebut “edukasi peringatan anti-aliran sesat” ke sekolah-sekolah. Program ini mencakup hampir 2.000 sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dengan materi yang bersifat wajib dan berskala besar.

Penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok Falun Gong disebut terus meningkat di daratan Tiongkok (tangkapan layar)
Penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok Falun Gong disebut terus meningkat di daratan Tiongkok (tangkapan layar)

Bentuk kegiatan antara lain memaksa siswa menonton video propaganda serta mengikuti diskusi. Sejumlah siswa mengungkapkan bahwa saat menonton film tersebut, mereka tidak diizinkan keluar, tidak boleh ke toilet, dan tidak boleh berbicara.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa sejak tahun lalu, sebuah “taman edukasi anti-aliran sesat” di Kabupaten Yuanshi, Hebei, menampilkan lebih dari 60 papan informasi. Isinya mencakup penjelekkan terhadap pendiri Falun Gong, kegiatan klarifikasi fakta oleh praktisi, serta contoh-contoh yang disebut sebagai rekayasa untuk menyalahkan Falun Gong. Termasuk di dalamnya narasi insiden “bakar diri di Tiananmen” yang telah lama dibuktikan sebagai rekayasa untuk mencemarkan Falun Gong.

Orang-orang berkumpul di sebuah taman di Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, untuk berlatih Falun Gong pada tahun 1998, sebelum penganiayaan. Courtesy of Minghui.org

Fasilitas serupa juga dilaporkan ada di Desa Huang’erying Barat, Kabupaten Ningjin, Kota Xingtai.

Selain itu, menjelang “Hari Pendidikan Keamanan Nasional” pada 15 April, berbagai daerah seperti Shanxi, Shaanxi, Shandong, dan Guangdong juga mengadakan kegiatan serupa di instansi pemerintah dan sekolah.

Praktisi Falun Gong berpartisipasi dalam latihan kelompok di Guangzhou, provinsi Guangdong, Tiongkok, pada tahun 1998. minghui.org

Menurut sumber dalam negeri, kegiatan ini berada di bawah koordinasi kantor khusus pemerintah yang dikenal sebagai “Kantor 610”, bersama unit terkait di kepolisian dan kementerian pendidikan, dalam program tiga tahun “kampanye anti-aliran sesat ke sekolah” yang dimulai sejak 2021 dan mencakup universitas di seluruh negeri.

“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan seorang individu yang mengalami luka bakar parah dalam dugaan insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Seorang dosen perguruan tinggi di Tiongkok, Ny. Wang, menyatakan bahwa PKT terus menyebarkan kebohongan dan menggunakan fitnah untuk semakin menindas Falun Gong. Ia merinci kegiatan tersebut dilakukan baik secara daring maupun luring, termasuk melalui media sosial, kuis online, serta program langsung ke sekolah dan komunitas.

“Sejak 2021 kegiatan ini dilakukan di perguruan tinggi dan sekolah dasar hingga menengah di seluruh negeri, melalui WeChat, kuis online, serta kegiatan offline seperti masuk ke kampus, instansi, hingga pedesaan. Bahkan di beberapa tempat dibangun taman tematik khusus untuk memfitnah Falun Gong dan Shen Yun—semuanya penuh kebohongan. Pada dasarnya ini adalah bagian dari kejahatan genosida,” ujarnya.

Kantor 610, yang memprakarsai program ini, didirikan pada Juni 1999 khusus untuk menindas Falun Gong. Lembaga ini tersebar di seluruh Tiongkok dan memiliki kekuasaan yang melampaui lembaga hukum, serta selama bertahun-tahun memimpin penindasan terhadap praktisi Falun Gong, termasuk tindakan yang dikategorikan sebagai genosida.

Pada tahun 2001, Partai Komunis Tiongkok (PKT) merekayasa insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen dalam upaya untuk membalikkan opini publik terhadap praktik Falun Gong yang damai. ©Tangkapan Layar Video | False Fire
“Rekaman televisi Tiongkok memperlihatkan salah satu orang yang diduga melakukan aksi bakar diri di Lapangan Tiananmen pada 23 Januari 2001. Insiden tersebut direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk memfitnah praktik damai Falun Gong.”
©Getty Images | Newsmakers

Ia juga menyatakan bahwa penggunaan sumber daya negara untuk kampanye semacam itu dapat memicu kesadaran publik jika para orang tua mengetahui apa yang diajarkan kepada anak-anak mereka di sekolah.

“Sekarang ekonomi terus menurun dan kondisi fiskal semakin sulit, tetapi mereka tetap menggunakan dana negara untuk mendukung orang-orang ini dari atas ke bawah, khusus untuk menyebarkan kebencian dan membuat kebohongan. Jika orang tua siswa mengetahui bahwa anak-anak mereka di sekolah diindoktrinasi dengan kebencian melalui kebohongan oleh lembaga negara, bahkan dengan dana publik, masyarakat akan benar-benar melihat kejahatan PKT,” katanya.

Sejumlah pengamat berpendapat bahwa meningkatnya kampanye di sekolah menunjukkan kesulitan PKT dalam mempertahankan narasi penindasan terhadap Falun Gong.

Seorang komentator politik yang berbasis di Amerika Serikat, Lan Shu, mengatakan menyatakan bahwa meningkatnya upaya PKT untuk memfitnah Falun Gong di sekolah menunjukkan bahwa penindasan tersebut sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

“PKT akhirnya hanya bisa menggunakan cara ini, menjadikan hasutan terhadap siswa sebagai alatnya. Saya yakin semua yang dilakukan PKT ini sia-sia. Karena Falun Gong adalah kekuatan yang benar, kekuatan yang baik, dan tidak mungkin dimusnahkan. Upaya PKT menggunakan cara hasutan untuk melanjutkan penindasan pasti tidak akan berhasil,” katanya.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah praktik spiritual yang berpusat pada prinsip Sejati-Baik-Sabar. Diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada awal 1990-an, praktik ini memperoleh popularitas luas, dengan jumlah praktisi mencapai antara 70 juta hingga 100 juta orang pada akhir dekade tersebut, menurut perkiraan resmi.

Pada Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok, yang khawatir bahwa popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezim, memulai kampanye keras untuk memberantas praktik tersebut. Sejak saat itu, banyak orang mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, dan bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.

Namun demikian, para praktisi Falun Gong bukan hanya tidak runtuh dari penindasan brutal—mereka justru menguat dan terus berkembang lewat upaya damai dalam mengungkap fakta kebenaran. Kini, Falun Gong telah menjangkau 156 negara dan wilayah di seluruh dunia, serta menerima sekitar 13.000 penghargaan, surat dukungan, dan resolusi. Lebih jauh lagi, lebih dari 460 juta warga Tiongkok telah memilih mundur dari Partai Komunis beserta organisasi afiliasinya setelah memahami fakta yang sesungguhnya.

Penyuntingan/Wawancara/Li Yun – NTD

Rayakan Hari Bumi, Mercure Surabaya Grand Mirama Gelar Workshop Daur Ulang Tekstil Bersama 100 Pelajar

SURABAYA – Memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April 2026, Mercure Surabaya Grand Mirama menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan lingkungan dengan menggelar workshop daur ulang tekstil. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Tunas Hijau dan melibatkan 100 pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Surabaya.

Bertempat di Hongkong Room, Mercure Surabaya Grand Mirama, para peserta diajak mengolah kaos bekas menjadi tas belanja ramah lingkungan yang dapat digunakan kembali dalam aktivitas sehari-hari. Tak hanya itu, sisa potongan kain yang biasanya terbuang juga dimanfaatkan menjadi gantungan kunci unik. Proses pembuatan yang sederhana membuat kegiatan ini mudah diikuti anak-anak serta dapat dipraktikkan kembali di rumah atau sekolah.

Edukasi 3R secara Praktis dan Menyenangkan

Workshop ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap isu limbah tekstil yang semakin meningkat, sekaligus upaya edukasi kepada generasi muda agar lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah secara kreatif dan berkelanjutan. Dengan konsep edukatif dan interaktif, para peserta memahami bahwa barang bekas masih memiliki nilai guna jika diolah dengan tepat.

Sugito Adhi selaku Cluster General Manager Mercure Surabaya Grand Mirama dan Grand Mercure Malang Mirama menyatakan:”Melalui peringatan Hari Bumi Sedunia ini, kami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya seremonial, tetapi juga memberikan edukasi aplikatif. Mendaur ulang atau menggunakan kembali barang-barang yang dimiliki adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja untuk mengurangi limbah. Kami berharap pengalaman ini dapat menginspirasi anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.”

Antusiasme Tinggi dan Kreativitas Tanpa Batas

Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana workshop dipenuhi semangat para peserta. Mereka aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari memotong kain hingga merangkai dan menyelesaikan produk daur ulang sendiri. Tak sedikit peserta yang menunjukkan kreativitas tinggi dengan menghasilkan tas dan gantungan kunci berdesain unik.

Zamroni, Presiden Tunas Hijau, menambahkan: “Kami percaya bahwa edukasi lingkungan harus dimulai dari anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami. Workshop ini membuktikan bahwa proses belajar bisa dilakukan secara kreatif sekaligus memberikan solusi nyata terhadap permasalahan limbah. Harapannya, ini menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk lebih mencintai bumi dan menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.”

Komitmen Berkelanjutan Mercure Surabaya Grand Mirama

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan konsep reduce, reuse, dan recycle (3R) secara praktis. Sebagai bagian dari jaringan hotel global yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Mercure Surabaya Grand Mirama secara konsisten menghadirkan berbagai program pelestarian lingkungan, mulai dari pengelolaan energi dan air, pengurangan limbah plastik, hingga kegiatan sosial berbasis lingkungan.

Bahan Baku Rudal Tiongkok Dikirim ke Iran? Militer AS Melepaskan Tembakan untuk Mencegat Kapal Kargo 

Kapal kontainer “Touska” yang berbendera Iran dan berlayar dari Tiongkok menuju pelabuhan Iran, pada 19 April dicegat dan ditembaki oleh kapal perusak Angkatan Laut AS setelah menolak mematuhi perintah blokade. Sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa kapal tersebut kemungkinan membawa barang “dual-use” (sipil-militer) yang oleh Washington dianggap dapat digunakan untuk keperluan militer.

EtIndonesia. United States Central Command (CENTCOM) pada 19 April menyatakan bahwa kapal perusak rudal USS Spruance (DDG-111) mencegat kapal “Touska” di Laut Arab bagian utara.

Hingga kini, militer AS belum mengungkap apakah ditemukan muatan tertentu di kapal tersebut. Namun, menurut laporan Reuters pada Senin (20 April) yang mengutip sumber keamanan maritim, “Touska” kemungkinan membawa barang yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan militer.

 “Sejak awal, kapal Touska mematikan sistem identifikasi dan berusaha menghindari kapal perang AS, ini menunjukkan besar kemungkinan muatannya bermasalah. Dalam kondisi Iran diblokade, ekspor minyaknya terhambat, sementara mereka membutuhkan banyak komponen dan bahan baku untuk memperkuat produksi rudal atau drone,” ujar peneliti dari Institute for National Defense and Security Research, Shen Mingshi. 

Penasihat senior organisasi United Against Nuclear Iran dan mantan perwira Angkatan Laut AS, Charlie Brown, mengatakan bahwa upaya kapal tersebut menerobos blokade menunjukkan bahwa muatannya “bernilai tinggi bagi Iran” dan “layak dipertaruhkan”.

Peneliti lain, Hsieh Pei-hsueh, menambahkan bahwa muatan kapal kemungkinan bersifat sangat sensitif dan tidak mudah digantikan, sehingga Iran bersedia mengambil risiko besar. Ia juga menilai tindakan militer AS akan menimbulkan efek jera dan meningkatkan biaya bagi Iran untuk memperoleh material penting.

Militer Iran menyatakan bahwa kapal tersebut berangkat dari Tiongkok. Berdasarkan data pelayaran, “Touska” pernah singgah di Pelabuhan Gaolan, Zhuhai, untuk memuat barang. Pelabuhan ini dikenal sebagai pusat bongkar muat bahan kimia, termasuk natrium perklorat—prekursor penting untuk bahan bakar roket padat yang dibutuhkan dalam program rudal Iran.

Menurut laporan The Wall Street Journal, kapal “Touska” dimiliki oleh anak perusahaan dari perusahaan pelayaran milik negara Iran Islamic Republic of Iran Shipping Lines, yaitu ROD (Rahbaran Omid Darya), yang rutin berlayar antara Tiongkok dan Iran. Dua kapal lain dari perusahaan yang sama pada 2025 juga pernah mengangkut sekitar 1.000 ton bahan untuk propelan rudal jarak menengah Iran dari Tiongkok.

Seluruh armada perusahaan tersebut diketahui berupaya menghindari sanksi AS dan Uni Eropa untuk mempertahankan perdagangan antara Iran dan negara lain.

Laporan The Washington Post juga menyebut bahwa pada Maret lalu, dua kapal IRISL lainnya, “Shabdis” dan “Barzin”, berangkat dari Pelabuhan Gaolan menuju Iran dengan muatan penuh. Sejak awal tahun ini, lebih dari sepuluh kapal IRISL telah mengunjungi pelabuhan tersebut.

Hsieh Pei-hsueh menilai bahwa frekuensi kunjungan tersebut sudah melampaui skala kasus individual, dan mencerminkan peran Tiongkok dalam konflik AS–Iran. Ia menyebut bahwa karena pelabuhan tersebut berada di bawah yurisdiksi Tiongkok, pihak berwenang sebenarnya memiliki kemampuan untuk menghentikan pengiriman, namun tidak melakukannya.

Setelah kapal “Touska” disita oleh militer AS, pemimpin Tiongkok Xi Jinping melakukan percakapan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, menyatakan bahwa Tiongkok mendukung gencatan senjata segera dan jalur pelayaran di Selat Hormuz harus tetap terbuka.

Shen Mingshi menilai bahwa komunikasi tersebut juga terkait kepentingan energi, karena jika Iran terus diblokade, Tiongkok perlu mencari pasokan minyak dari negara lain. Selain itu, Arab Saudi merupakan salah satu negara penting dalam upaya diplomasi kawasan.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT, Guo Jiakun, pada 20 April menyatakan keprihatinan atas tindakan AS yang mencegat kapal tersebut. Namun ketika ditanya mengenai muatan kapal, ia tidak memberikan jawaban. (hui)

Disunting oleh Shang Yan – NTDTV.com; Wawancara oleh Chang Chun; Pasca-produksi oleh Gao Yu

Latihan Militer Gabungan AS–Filipina dan 7 Negara dengan 17.000 Tentara, Tekanan Militer Terpadu terhadap PKT Meningkat

Amerika Serikat dan Filipina menggelar latihan militer gabungan tahunan berskala besar dengan nama “Balikatan” (Bahu Membahu), yang mencatat rekor terbesar sepanjang sejarah. Jepang untuk pertama kalinya mengirimkan pasukan dalam jumlah besar. 

Para analis menilai, sebelumnya latihan ini lebih berfokus pada kerja sama bilateral, namun kini “partisipasi resmi” Pasukan Bela Diri Jepang menandai terbentuknya kerangka keamanan trilateral. Sementara itu, pihak Tiongkok menyatakan bahwa pengikatan keamanan semacam itu hanya akan membawa dampak balik, namun akademisi menilai pernyataan tersebut merupakan distorsi—negara lain justru sedang melakukan langkah pencegahan.

EtIndonesia. Latihan multilateral “Balikatan” yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat dan Filipina berlangsung dari 20 April hingga 8 Mei, dengan fokus di perairan sekitar Laut Tiongkok Selatan. Selain AS, Filipina, dan Jepang, terdapat total 7 negara peserta serta 17 negara pengamat, dengan lebih dari 17.000 personel—menjadi yang terbesar dalam sejarah.

Peningkatan skala dan kompleksitas latihan, ditambah keterlibatan mendalam Jepang, mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika geopolitik kawasan Asia-Pasifik. Latihan ini tidak lagi sekadar rutinitas bilateral, melainkan berkembang menjadi kerja sama multilateral yang lebih realistis dan terintegrasi secara strategis.

“Latihan yang melibatkan AS, Filipina, dan Jepang jelas ditujukan kepada Tiongkok. Jika terjadi konflik di Laut Tiongkok Selatan atau Selat Taiwan, tujuan utama mereka adalah menunjukkan kemampuan dan tekad untuk menahan ekspansi militer partai komunis Tiongkok,” kata Mantan dekan Akademi Politik Perang Universitas Pertahanan Nasional Taiwan, Yu Zongji.

Militer Filipina menyebutkan bahwa selama latihan, Pasukan Bela Diri Jepang akan menggunakan kapal bekas sebagai target untuk uji coba rudal anti-kapal tipe 88 berbasis darat. Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, juga hadir untuk meninjau dan berkoordinasi di lokasi.

 “Ini pertama kalinya Jepang ikut serta dengan kekuatan militer penuh. Sebelumnya hanya sebagai pengamat. Kali ini mereka mengerahkan kapal perusak helikopter JS Ise (DDH-182), yang menyerupai kapal induk ringan. Kehadiran menteri pertahanan juga menunjukkan meningkatnya perhatian Jepang terhadap jalur laut penting di rantai pulau pertama,” kata Direktur Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Tzu-yun. 

Ia menambahkan bahwa keterlibatan resmi Jepang menandai terbentuknya kerangka keamanan trilateral AS–Jepang–Filipina.

Su Tzu-yun menjelaskan tiga makna utama:
Pertama, secara strategis membentuk “pengepungan” terhadap PKT, yang menjadi tren di kalangan negara demokratis.
Kedua, membantah anggapan bahwa militer AS kekurangan kekuatan, karena di tengah konflik lain, AS masih mampu memimpin latihan besar ini.
Ketiga, meskipun negara-negara memiliki perbedaan dalam isu ekonomi seperti tarif, mereka tetap bersatu dalam isu keamanan.

Yu Zongji menambahkan bahwa partisipasi aktif Jepang menunjukkan komitmen nyata dalam kerja sama pertahanan bersama dengan AS dan Filipina, serta mencerminkan kebangkitan kekuatan militernya.

Jepang juga mengirim kapal perang dalam latihan ini. Kapal perusak “Ikazuchi” melintasi Selat Taiwan pada 17 April, sementara kapal helikopter JS Ise (DDH-182) dengan bobot hampir 20.000 ton berlayar melalui perairan timur Taiwan. 

Langkah ini memicu ketidakpuasan dari Tiongkok, yang kemudian pada 19 April mengirim kapal perusak rudal dan fregat menuju Samudra Pasifik melalui perairan sekitar Jepang.

Yu Zongji menyatakan bahwa meskipun Jepang dibatasi oleh konstitusi damai, langkah ini mencerminkan kesiapan menghadapi potensi konflik regional, serta menunjukkan bahwa Pasukan Bela Diri Jepang kini semakin berperan layaknya angkatan bersenjata nasional penuh.

Menanggapi hal ini, pihak Tiongkok menyatakan bahwa penguatan aliansi keamanan hanya akan membawa konsekuensi buruk bagi pihak yang terlibat.

Namun, Su Tzu-yun menilai bahwa pernyataan tersebut adalah pengaburan fakta:  “Negara-negara lain sebenarnya sedang melakukan langkah pencegahan. Sebaliknya, Tiongkok yang memperluas kekuatan lautnya, berusaha keluar dari rantai pulau pertama, dan justru ‘bermain api’.”

Ia juga menyebut beberapa langkah terbaru Tiongkok, termasuk pembatasan wilayah udara di Laut Kuning dan Laut Tiongkok Timur, pengiriman kapal perang setelah kapal Jepang melintasi Selat Taiwan, serta pengerahan kapal induk Liaoning aircraft carrier ke Laut Tiongkok Selatan bersamaan dengan latihan Balikatan.

Para pengamat menilai latihan ini menunjukkan pergeseran strategi militer dari “pertahanan titik” menuju “integrasi jaringan”. 

Bagi Filipina, ini menandai peralihan dari fokus kontra-terorisme ke pertahanan teritorial; bagi AS, ini merupakan bagian dari integrasi kekuatan sekutu dalam strategi Indo-Pasifik; sementara bagi Jepang, ini langkah penting menuju normalisasi strategi keamanan nasional dan perluasan pengaruh ke selatan.

Seiring semakin eratnya kerjasama keamanan Jepang dan Filipina, PKT kini menghadapi tekanan militer terpadu dari Laut Tiongkok Timur, Selat Taiwan, hingga Laut Tiongkok Selatan.

Disunting oleh Huang Yimei; Wawancara oleh Luo Ya; Pasca-produksi oleh Tony – NTDTV

Praktisi Falun Gong di Wuhan Diculik Sesaat Setelah Bebas, Keluarga Serukan Pembebasan

EtIndonesia. Mari kita simak perkembangan isu HAM di Tiongkok. Seorang praktisi Falun Gong dari Distrik Jiang’an, Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Hou Milla, telah menyelesaikan masa hukuman penjaranya pada 19 April. Suami dan pengacaranya datang ke penjara untuk menjemput, namun pejabat dari kantor “pemeliharaan stabilitas” setempat diduga menipu keluarga, menculik Hou Milla, lalu langsung membawanya ke fasilitas “cuci otak”. Keluarga menyerukan perhatian publik dan menuntut otoritas Wuhan segera membebaskannya.

Menurut sumber lokal bernama samaran Li Hua, pada 19 April pagi, suami Hou Milla dan pengacaranya pergi ke Penjara Wanita Provinsi Hubei untuk menjemputnya. Sekitar pukul 09.00 pagi, mereka melihat Hou Milla berada di pintu kecil area pembebasan, sedang menjalani prosedur administrasi.

Saat itu, dua pria berpakaian sipil yang mengaku sebagai petugas penjara menghalangi keluarga dan pengacara untuk mendekat, serta meminta mereka menunggu di gerbang utama. Keluarga mempercayai mereka, namun setelah tiba di gerbang utama, mereka melihat Hou Milla dinaikkan ke sebuah mobil putih di dekat pintu kecil tersebut.

Li Hua (nama samaran) mengatakan:  “Bagian dalam mobil itu tertutup pelat besi sepenuhnya, tanpa jendela. Hou Milla dimasukkan ke dalamnya. Saat sampai di gerbang, mobil itu tidak berhenti sama sekali dan tidak berniat menurunkan orang, langsung hendak pergi.”

Setelah menyadari telah ditipu, keluarga berusaha menghalangi mobil tersebut. Pengacara bahkan berdiri di depan kendaraan untuk mencegahnya pergi.

Li Hua menambahkan:  “Kami menghalangi mobil itu selama lebih dari sepuluh menit. Petugas penjara di dalamnya mencoba menarik kami agar tidak menghalangi kendaraan.”

Menurut Li Hua, pada badan mobil putih tersebut tertulis “patroli terpadu”. Ia menyebut bahwa sebenarnya ini adalah operasi gabungan dari kantor keamanan distrik Jiang’an, termasuk komite urusan politik dan hukum, yang bersama-sama menculik Hou Milla.

Ia menegaskan:  “(Hou Milla) seharusnya dibebaskan hari itu dan pulang bersama keluarga. Tidak ada identitas resmi atau dasar hukum apa pun untuk membawa pergi seseorang seperti itu. Ini sepenuhnya ilegal.”

Menurut laporan, Hou Milla ditangkap pada 19 April 2018 oleh aparat keamanan Wuhan karena berlatih Falun Gong. Penangkapan dilakukan oleh unit keamanan domestik biro keamanan publik Wuhan serta aparat dari Distrik Hongshan. 

Bersamaan dengan itu, suaminya Hong Weisheng, saudara perempuannya Hou Aila, dan praktisi lain Rao Xiaoping juga ditangkap.

Pada Mei 2019, Pengadilan Distrik Hongshan menjatuhkan hukuman: Hong Weisheng 10 tahun, Hou Milla 8 tahun, Hou Aila 8 tahun, dan Rao Xiaoping 7 tahun penjara.

Pada 11 November tahun yang sama, World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong memasukkan kasus ini ke dalam daftar penyelidikan.

Seorang pengacara daratan Tiongkok dengan nama samaran Chen Ming menyatakan bahwa tindakan otoritas Wuhan sangat melanggar hukum.


“Mereka bukan polisi, tidak memiliki kewenangan penegakan hukum, apalagi prosedur pemanggilan yang sah. Tindakan seperti ini sepenuhnya merupakan penculikan. Tidak hanya ilegal, tetapi juga merupakan tindak kriminal, bahkan seperti tindakan preman,”katanya. 

Menurut Li Hua, saudari Hou Milla, Hou Aila, dijadwalkan akan dibebaskan pada 13 Mei. Keluarga sangat khawatir apakah ia dapat pulang dengan aman, dan menyerukan perhatian publik terhadap situasi ini.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah praktik spiritual yang diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada awal 1990-an. Praktik ini mengajarkan prinsip Sejati-Baik-Sabar.

Pada tahun 1999, PKT melancarkan penganiayaan yang keras terhadap para praktisi Falun Gong, menggunakan kampanye propaganda untuk menggambarkan para pengikut yang damai sebagai musuh negara dalam waktu singkat. Pada  20 Juli dini hari tahun itu, penangkapan massal dilakukan, dan ribuan orang dikirim ke kamp kerja paksa berdasarkan hukum Tiongkok saat itu yang memungkinkan “pendidikan ulang” melalui kerja paksa selama tiga hingga lima tahun tanpa pengadilan atau vonis.

Penganiayaan tersebut terus berlangsung tanpa henti, dan mencakup penahanan sewenang-wenang terhadap tahanan hati nurani, kerja paksa, penyiksaan, pencucian otak, serta bahkan pengambilan organ secara paksa dari orang yang masih hidup.

Kasus-kasus terhadap tahanan hati nurani oleh PKT sering kali dilakukan secara rahasia, sehingga informasi yang tersedia biasanya terpisah-pisah dan tidak lengkap.

Reporter Televisi NTD, Hong Ning dan Huang Yuning melaporkan.