3.200 Kapal Terjebak, Militer Bergerak! Negosiasi AS–Iran Bisa Berujung Konflik Besar

EtIndonesia — Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran resmi memasuki hari kedua pada Sabtu (11/4), di tengah meningkatnya ketegangan militer dan tekanan geopolitik dari berbagai pihak di kawasan Timur Tengah.

Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia menegaskan bahwa tercapai atau tidaknya kesepakatan bukanlah hal yang krusial, karena menurutnya posisi Amerika saat ini sudah berada dalam kondisi “unggul”.


Pertemuan Rahasia di Pakistan dan Perundingan Maraton

Di tengah proses negosiasi, laporan dari CNN mengungkapkan adanya manuver penting di belakang layar. Sejumlah pejabat senior dari Korps Garda Revolusi Iran dan Pasukan Quds dilaporkan tiba di Pangkalan Udara Nur Khan, Pakistan, untuk melakukan pembicaraan dengan pihak militer dan diplomatik Pakistan.

Data penerbangan juga mengonfirmasi bahwa pesawat milik Mahan Air—maskapai yang masuk daftar sanksi Amerika—telah mendarat di lokasi tersebut, memperkuat indikasi adanya koordinasi strategis lintas negara.

Awalnya, perundingan langsung hanya dijadwalkan berlangsung satu hari. Namun, kenyataannya diskusi berlanjut hingga larut malam. Menurut laporan Axios, setidaknya tiga putaran pembicaraan telah berlangsung dengan total durasi mencapai 14 jam, sebelum akhirnya dihentikan sementara.

Pemerintah Iran menyatakan bahwa meskipun terdapat perbedaan besar, dialog tetap dilanjutkan pada Minggu, 12 April 2026.

Media nasional Iran seperti IRIB bahkan menyebut momentum ini sebagai “upaya terakhir” untuk mencapai kerangka kesepakatan, sementara kantor berita Tasnim News Agency memperingatkan bahwa tuntutan Amerika yang dianggap terlalu berat dapat menggagalkan seluruh proses.


Empat Syarat Keras Iran, Jalan Buntu Tak Terhindarkan

Salah satu titik paling krusial dalam negosiasi ini adalah kendali atas Selat Hormuz—jalur vital bagi perdagangan energi dunia.

Iran secara tegas mengajukan empat syarat utama yang disebut tidak bisa ditawar:

  1. Kedaulatan penuh atas Selat Hormuz
  2. Pembayaran kompensasi perang secara menyeluruh
  3. Pencairan aset Iran tanpa syarat
  4. Gencatan senjata permanen di kawasan Asia Barat

Namun, pihak Amerika dinilai hampir mustahil menerima seluruh tuntutan tersebut. Akibatnya, perundingan pun mengalami kebuntuan sejak tahap awal.

Lebih jauh, pejabat Amerika mengungkapkan bahwa Iran sebelumnya telah menanam ranjau laut di Selat Hormuz, namun kini tidak mengetahui seluruh lokasi penempatannya. Keterbatasan kemampuan penyapuan ranjau membuat jalur tersebut belum bisa dibuka sepenuhnya—menjadikannya persoalan teknis sekaligus politik.


Manuver Militer dan Tekanan Regional Meningkat

Di tengah negosiasi yang belum menemukan titik temu, ketegangan militer justru terus meningkat.

Laporan dari Fars News Agency menyebutkan bahwa anggota Dewan Ahli Iran kini turut terlibat dalam perundingan, menandakan bahwa pembicaraan telah memasuki tahap teknis tingkat tinggi.

Namun, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, Brett McGurk, menilai belum ada tanda-tanda signifikan bahwa perbedaan kedua pihak mulai menyempit.

Sementara itu:

  • Israel terus melancarkan serangan udara ke Lebanon selatan
  • Militer Israel dikabarkan telah menyiapkan daftar target strategis di Iran
  • Arab Saudi mengizinkan penempatan jet tempur Pakistan di Pangkalan Udara Raja Abdulaziz
  • CENTCOM mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dalam kondisi siaga penuh

Pada saat yang sama, laporan intelijen yang dikutip CNN menyebut bahwa Tiongkok tengah bersiap mengirim sistem pertahanan udara baru ke Iran. Menanggapi hal ini, Trump memperingatkan bahwa Beijing akan menghadapi konsekuensi serius jika langkah tersebut benar dilakukan.

Negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain juga mendesak Washington untuk tetap mempertahankan tekanan militer terhadap Iran.


Selat Hormuz Lumpuh, Ribuan Kapal Tertahan

Meski sempat diumumkan adanya gencatan senjata terbatas, kondisi di Selat Hormuz masih jauh dari normal.

Hingga 11 April 2026, sekitar 3.200 kapal dilaporkan tertahan di sisi barat selat, termasuk sekitar 800 kapal pesiar dan kapal kargo. Para analis energi menilai jalur tersebut secara praktis masih “lumpuh”.

Trump menyatakan bahwa banyak kapal kosong sedang menuju Amerika untuk mengangkut pasokan minyak dan gas, sebagai bagian dari upaya stabilisasi energi global.

Sementara itu, muncul laporan bahwa Amerika mempertimbangkan pencairan aset Iran senilai 6 miliar dolar AS yang disimpan di Qatar, meskipun kabar ini kemudian dibantah oleh pejabat AS.


Kondisi Pemimpin Baru Iran Jadi Sorotan

Di tengah situasi yang semakin kompleks, kondisi pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, turut menjadi perhatian internasional.

Menurut laporan Reuters, Mojtaba dikabarkan mengalami luka serius akibat serangan udara, termasuk cedera parah di wajah dan kemungkinan kehilangan satu kaki.

Meski demikian, ia disebut masih aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan melalui konferensi video, termasuk dalam proses negosiasi yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.


Kesimpulan: Jalan Panjang Menuju Kesepakatan

Para analis menilai bahwa peluang tercapainya kesepakatan menyeluruh dalam waktu dekat sangat kecil. Perbedaan antara kedua pihak mencakup berbagai isu fundamental, mulai dari program nuklir, kendali Selat Hormuz, konflik di Lebanon, hingga pencabutan sanksi ekonomi.

Dengan kompleksitas yang tinggi serta meningkatnya tekanan militer di lapangan, perundingan ini tidak hanya menjadi ujian diplomasi, tetapi juga penentu arah stabilitas kawasan Timur Tengah ke depan. (***)

21 Jam Negosiasi Berakhir Nol! AS–Iran Gagal Total, ‘Jam Perang’ Resmi Dimulai?

EtIndonesia— Perundingan intensif antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama 21 jam tanpa henti akhirnya berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan apa pun. Kegagalan ini tidak hanya menandai kebuntuan diplomatik, tetapi juga memicu kekhawatiran baru bahwa situasi ke depan justru akan semakin memanas.

Perkembangan setelah kegagalan negosiasi bahkan dinilai sejumlah analis berpotensi lebih mengejutkan dibandingkan proses perundingan itu sendiri.


Konferensi Pers JD Vance: Ada Kemajuan, Tapi Tak Ada Hasil

Pada malam 11 April 2026 waktu Pantai Timur Amerika Serikat, Wakil Presiden AS, JD Vance, menggelar konferensi pers di Islamabad, Pakistan, untuk menyampaikan hasil perundingan.

Dalam keterangannya, Vance mengakui bahwa selama negosiasi memang terdapat beberapa kemajuan. Namun hingga perundingan berakhir, kedua pihak tetap gagal mencapai kesepakatan.

Ia juga menunjukkan sikap yang sangat tegas terhadap Iran. Selama 21 jam penuh, Vance disebut tidak memberikan ruang kompromi yang berarti.

Menurutnya, penghancuran fasilitas nuklir Iran bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya langkah awal. Amerika Serikat menuntut komitmen yang jauh lebih besar.

“Yang kami inginkan adalah komitmen terbuka dan permanen dari Iran untuk meninggalkan ambisi nuklir—bukan hanya untuk sekarang, atau dua tahun ke depan, tetapi selamanya,” tegas Vance.

Sikap ini mencerminkan pendekatan kebijakan “Amerika Utama” yang menekankan bahwa AS bersedia berunding, tetapi tidak akan mentoleransi taktik manipulatif dari pihak lawan.


Koordinasi Intensif: 12 Kali Telepon ke Donald Trump

Selama berlangsungnya negosiasi, Vance diketahui melakukan 12 kali panggilan langsung kepada Presiden Donald Trump.

Selain itu, komunikasi juga dilakukan secara real-time dengan sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk:

  • Menteri Luar Negeri Marco Rubio
  • Menteri Pertahanan Pete Hegseth
  • Menteri Keuangan Scott Bessent

Seluruh jajaran keamanan nasional dan ekonomi Amerika Serikat memantau jalannya negosiasi selama 24 jam penuh.

Di meja perundingan, Vance hanya mengajukan satu proposal utama yang ia sebut sebagai:
“solusi akhir” sekaligus “penawaran terbaik.”


Tuntutan Utama AS: Nuklir Dihentikan, Hormuz Dilepas

Berdasarkan laporan media Iran, Amerika Serikat mengajukan sejumlah tuntutan utama, yaitu:

  • Penghapusan sekitar 400 kilogram material nuklir dari Iran
  • Penghentian total proses pengayaan uranium
  • Pelepasan kendali Iran atas Selat Hormuz
  • Tidak ada komitmen AS untuk gencatan senjata di Lebanon

Vance menegaskan bahwa Washington telah menetapkan garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan oleh militer AS. Namun, menurutnya, inti persoalan bukan lagi pada infrastruktur, melainkan pada kemauan politik Iran.

Hingga kini, Amerika Serikat menyatakan belum melihat adanya komitmen nyata dari Teheran untuk menghentikan program nuklirnya secara permanen.


Kegagalan Negosiasi: “Jam Perang” Terus Berjalan

Para analis menilai kegagalan ini menunjukkan bahwa kedua pihak telah mencapai batas maksimal kompromi.

Alih-alih kembali ke titik awal, situasi kini diperkirakan akan memasuki fase yang jauh lebih serius dan berisiko.

Vance bahkan menyebut kondisi ini sebagai:

“kabar buruk bagi Iran.”

Sementara itu, pada malam yang sama, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan singkat sebelum meninggalkan Gedung Putih:

“Mungkin mereka akan mencapai kesepakatan, mungkin tidak. Itu tidak penting. Dari sudut pandang Amerika, kita sudah menang.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Washington tidak lagi menggantungkan hasil pada jalur diplomasi semata.


AS Kerahkan Kapal Perang, Mulai Operasi di Selat Hormuz

Masih pada 11 April 2026, dua kapal perusak rudal Angkatan Laut AS dilaporkan secara tiba-tiba melintasi Selat Hormuz dan memasuki Teluk Persia tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Tak lama setelah itu, pemerintah AS mengumumkan dimulainya operasi pembersihan ranjau laut di kawasan tersebut.

United States Central Command mengonfirmasi bahwa operasi penyapuan ranjau sedang dipersiapkan secara besar-besaran.

Dalam beberapa hari ke depan, AS akan mengerahkan:

  • Pasukan tambahan
  • Sistem kendaraan bawah laut tanpa awak
  • Peralatan khusus untuk membuka jalur pelayaran aman

Presiden Trump mengklaim bahwa sebanyak 28 kapal penebar ranjau milik Iran kini telah berada di dasar Selat Hormuz.

Ia juga menegaskan bahwa langkah ini dilakukan bukan hanya untuk kepentingan Amerika, tetapi juga demi menjaga stabilitas perdagangan global.


Peringatan Keras ke Tiongkok: Ancaman Tarif 50%

Dalam pernyataan terpisah pada 11 April 2026, Trump juga mengeluarkan peringatan keras kepada Tiongkok.

Ia menegaskan bahwa jika Beijing benar-benar mengirimkan senjata ke Iran, maka konsekuensinya akan sangat serius.

Laporan intelijen yang dikutip oleh CNN menyebutkan bahwa Tiongkok diduga tengah merencanakan pengiriman sistem pertahanan udara baru ke Iran melalui negara ketiga.

Menanggapi hal ini, Trump telah menetapkan kebijakan tegas:

Negara mana pun yang memasok senjata ke Iran akan dikenai tarif impor tambahan sebesar 50% untuk semua produk yang masuk ke Amerika Serikat.

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, juga memperingatkan bahwa hubungan AS–Tiongkok dapat berubah drastis jika langkah tersebut benar-benar dilakukan.


Situasi Memasuki Fase Baru yang Lebih Berbahaya

Dengan gagalnya negosiasi 21 jam ini, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki babak baru yang lebih kompleks.

Diplomasi belum sepenuhnya ditutup, namun langkah-langkah militer dan tekanan ekonomi yang mulai digencarkan menunjukkan bahwa konflik berpotensi bergerak ke arah yang lebih luas.

Dunia kini menanti, apakah situasi ini masih bisa dikendalikan—atau justru akan berkembang menjadi krisis yang lebih besar dalam waktu dekat. (***)

30 Negara Siaga, AS Siapkan Serangan Lanjutan: Selat Hormuz Jadi Kunci Nasib Dunia!

EtIndonesia. — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa negaranya tengah menjalankan restrukturisasi terbesar dalam sejarah modern. Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform media sosial pribadinya, Truth Social, yang langsung memicu perhatian global di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Dalam unggahannya, Trump mengisyaratkan bahwa Gedung Putih akan segera meluncurkan serangkaian langkah strategis lanjutan. Ia juga secara tegas memperingatkan Iran agar tidak mengenakan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, serta mengecam tindakan Teheran yang dinilai menghambat jalur pelayaran internasional.

Pada hari yang sama, Trump menyatakan kepada media bahwa Amerika Serikat berencana membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya sempat diblokade. Ia mengakui langkah tersebut penuh tantangan, namun menegaskan bahwa sejumlah negara telah menyatakan kesiapan untuk ikut membantu.


Iran Klaim Syarat Diterima, AS Belum Beri Respons

Masih pada 10 April 2026, di tengah sorotan global terhadap perundingan antara Washington dan Teheran, muncul pernyataan mengejutkan dari pihak Iran. Akun resmi Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan melalui platform X (Twitter) mengklaim bahwa Amerika Serikat telah menerima syarat awal yang diajukan Iran.

Dua poin utama yang disebutkan dalam klaim tersebut meliputi:

  • Gencatan senjata di Lebanon
  • Pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan oleh Amerika

Namun hingga laporan ini diturunkan, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi atau tanggapan resmi atas klaim tersebut.

Trump sendiri menegaskan bahwa isu utama dalam konflik ini adalah program nuklir Iran. Ia menyebut bahwa hampir seluruh akar konflik—sekitar 99 persen—berkaitan dengan kepemilikan senjata nuklir. Menurutnya, jika persoalan tersebut diselesaikan, maka masalah lainnya akan ikut mereda.

Lebih jauh, Trump menyatakan bahwa hasil negosiasi yang dijadwalkan berlangsung keesokan harinya, 11 April 2026, akan menjadi titik penentu. Ia bahkan mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memenangkan konflik ini dan kekuatan militer Iran telah melemah secara signifikan.


Pergerakan Militer dan Sinyal Pembentukan Koalisi Global

Dalam perkembangan lain, pergerakan militer dan diplomatik menunjukkan eskalasi yang semakin serius.

Sebuah pesawat kepresidenan Air Force Two dilaporkan mendarat di Paris pada pukul 21.23 waktu setempat, 10 April 2026, untuk pengisian bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan menuju Islamabad, Pakistan. Kehadiran pesawat tersebut dikawal ketat oleh agen Secret Service, mencerminkan tingkat kewaspadaan tinggi.

Di sisi diplomatik, Trump juga mengirim sinyal penting dengan menyatakan kesiapan Amerika untuk mendukung perekonomian Hungaria di bawah kepemimpinan Viktor Orbán. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat jaringan aliansi baru di Eropa.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris mengungkapkan bahwa negaranya tengah berkoordinasi dengan Washington untuk membentuk aliansi militer yang melibatkan sekitar 30 negara. Tujuan utama koalisi ini adalah mengamankan kembali jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi titik vital perdagangan dunia.


Situasi Medan Perang: Tekanan Berat terhadap Iran

Di lapangan, situasi militer menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap Iran dan sekutunya.

Militer Israel melaporkan bahwa dalam sebuah operasi berbasis intelijen presisi yang berlangsung hanya dalam hitungan menit, mereka melancarkan serangan udara besar-besaran ke tiga wilayah di Lebanon:

  • Beirut
  • Lembah Bekaa
  • Lebanon Selatan

Sekitar 100 target berhasil dihantam, dengan lebih dari 180 anggota Hizbullah dilaporkan tewas.

Setelah hampir 40 hari operasi militer intensif, kemampuan tempur Iran dinilai mengalami penurunan drastis. Bahkan, kapal basis terapung Iran, “Shahid Mahdavi”, dilaporkan kemungkinan besar telah hancur akibat serangan udara Amerika Serikat.

Di sisi lain, Inggris dikabarkan tengah mempersiapkan pengiriman rudal pencegat canggih “SkyHammer” untuk menghadapi ancaman drone tempur Iran. Sistem ini memiliki jangkauan lebih dari 18 mil dengan kecepatan melebihi 430 mil per jam.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Amerika Serikat juga terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, termasuk pengerahan jet tempur tambahan serta sekitar 1.500 hingga 2.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82.


Ultimatum Terakhir: Negosiasi atau Konfrontasi

Ketegangan mencapai titik kritis ketika Wakil Presiden AS, J. D. Vance, memperingatkan Iran agar tidak memainkan “permainan politik” dalam proses negosiasi.

Trump menegaskan bahwa satu-satunya alasan Iran masih bertahan hingga saat ini adalah karena adanya jalur diplomasi yang masih terbuka.

Ia menyampaikan pernyataan tegas:

  • Jika Amerika menarik pasukan, Selat Hormuz akan dibuka
  • Jika tidak, Iran tidak akan memperoleh keuntungan apa pun

Trump juga mengungkapkan bahwa kapal perang Amerika kini telah berada dalam kondisi siap tempur penuh. Ia memperingatkan bahwa apabila negosiasi gagal, maka operasi militer akan segera dilanjutkan.

Pernyataan tersebut dinilai oleh banyak pengamat sebagai ultimatum terakhir sebelum konflik memasuki fase yang lebih luas dan berpotensi melibatkan lebih banyak negara.


Kesimpulan:

Perkembangan pada 10 April 2026 menunjukkan bahwa dunia berada di ambang titik kritis. Di satu sisi, peluang diplomasi masih terbuka, namun di sisi lain, eskalasi militer dan pembentukan aliansi global mengindikasikan bahwa konflik dapat meluas sewaktu-waktu. Selat Hormuz kini bukan hanya jalur energi, tetapi juga menjadi pusat pertarungan geopolitik yang menentukan arah stabilitas dunia. (***)

Integrasikan Science Techno Park, ITS Tancap Gas Perkuat Ekosistem Inovasi Nasional

Surabaya, 13 April 2026 — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) resmi melakukan soft launching Science Techno Park (STP) ITS 2027 di Gedung Creative Center A ITS, Senin (13/4) sore. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi perguruan tinggi menuju entrepreneurial university sekaligus upaya memperkuat ekosistem inovasi dan ekonomi berbasis pengetahuan di Tanah Air.

Peluncuran yang dihadiri langsung Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, Prof Dr Ir Rachmat Pambudy MS, tersebut menandai integrasi seluruh STP yang telah ada di lingkungan ITS. Dalam sambutannya, Rachmat menegaskan bahwa operasionalisasi STP terintegrasi ini merupakan modal awal bagi kemajuan hilirisasi riset.

“Sudah waktunya ke depan kita membangun ekonomi yang berbasis pengetahuan dan teknologi. Operasionalisasi STP ini bisa dimaknai sebagai penanaman modal bagi pengembangan startup baru di perguruan tinggi negeri,” ujar Rachmat usai melakukan penandatanganan simbolis sebagai tanda dimulainya operasi integrasi STP.

Masuk Jajaran Lima STP Top-Tier Nasional

STP ITS diketahui menjadi satu dari lima STP top-tier nasional yang tergabung dalam Konvensi Sains Teknologi Indonesia (KTSI). Kelima perguruan tinggi tersebut adalah ITS, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pencapaian ini terbilang signifikan mengingat proyek STP yang merupakan gagasan pemerintah hingga saat ini masih jauh dari target 100 STP. Keunggulan ITS terletak pada fasilitas sirkuit untuk mendukung penelitian otomotif yang menjadi satu-satunya di Indonesia.

Empat Klaster Utama Jadi Pondasi Inovasi

Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD menjelaskan, kawasan STP yang dibangun seluas 10 hektare ini dirancang sebagai jembatan antara hasil riset dengan kebutuhan nyata dunia industri.

“Saat ini STP ITS mengelola empat klaster utama, yakni Maritim, Otomotif, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)/Robotika, serta Industri Kreatif. Kami berkomitmen menjadi orkestrator utama dalam ekosistem ekonomi berbasis pengetahuan,” tutur Bambang.

Berbagai produk inovasi telah lahir dari ekosistem ini, antara lain alat kesehatan, robot RAISA, kendaraan listrik, kapal otonom i-Boat, serta berbagai produk kreatif untuk membantu UMKM.

Didukung Dana HETI-ADB Rp650 Miliar

Pengembangan STP secara masif ini mendapat dukungan dari program Higher Education for Technology and Innovation (HETI) yang didanai Asian Development Bank (ADB). “Negara telah memfasilitasi pembangunan STP sejak tahun 2022, di antaranya melalui program HETI-ADB dengan alokasi dana mencapai Rp650 miliar,” ungkap Bambang.

Ke depan, ITS juga merencanakan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) ITS yang dinamai RS dr Angka Nitisastro dan Pusat Semikonduktor ITS. “Kelebihan dari rumah sakit ITS ini adalah adanya dukungan program studi Teknologi Kedokteran ITS, sehingga ada integrasi bidang kesehatan dengan teknologi yang lebih maju,” paparnya.

Peluncuran ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Pemerintah sendiri saat ini terus berupaya merealisasikan Badan Transfer Teknologi Nasional (NTTO) untuk mengawasi hilirisasi dan komersialisasi hasil riset agar tidak berhenti pada tulisan semata.

Anak-anak di Daerah Pegunungan Bertanya Apakah Orang Amerika Memakan Manusia? Propaganda Anti Amerika yang Diluncurkan Partai Komunis Tiongkok  Mengejutkan  Wisatawan

EtIndonesia. Propaganda anti-Amerika yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok selama puluhan tahun terhadap masyarakat umum disebut telah mempengaruhi pola pikir banyak anak-anak yang masih polos. Baru-baru ini, sebuah video yang memperlihatkan seorang anak laki-laki di pedesaan mengajukan pertanyaan kepada seorang wisatawan Amerika kembali membuat publik melihat sejauh mana absurditas tersebut.

Seorang influencer Tionghoa terkenal di platform X, “Gongzi Shen”, membagikan video tersebut. Dalam video terlihat sekelompok anak-anak mengelilingi seorang wisatawan asal Amerika di dekat sebuah sekolah di daerah pegunungan, sambil ramai mengajukan pertanyaan.

Wisatawan Amerika itu dengan heran berkata: “Di sini mereka bertanya apakah orang Amerika makan manusia?”

Seorang anak menjawab: “Mereka bilang kalian ada yang makan manusia.”
Ia kemudian menjelaskan kepada anak-anak itu: “Tidak benar, itu tidak benar.”

Dengan ekspresi tak berdaya, wisatawan itu mengatakan:
“Mereka bertanya apakah saya makan daging manusia?”
“Di Amerika, kami mengatakan orang Tiongkok makan daging anjing dan kucing, tapi di sini anak-anak diajarkan bahwa orang Amerika makan manusia.”

Ia kemudian menjelaskan lagi: “Saya sama seperti kalian, makan makanan yang sama.”

Salah satu anak bahkan menambahkan: “Bukankah ada orang bernama Epstein? Bukankah dia makan manusia?” “Bukankah ada Pulau Lolita?”

Dari video tersebut terlihat bahwa anak-anak itu tidak memiliki niat buruk, melainkan hanya menyampaikan informasi yang mereka dengar, seolah-olah sedang menanyakan sesuatu yang misterius. Sementara itu, wisatawan Amerika tersebut terus menunjukkan senyum canggung.

Lokasi video memperlihatkan latar belakang pegunungan dengan sebuah bangunan yang tampak seperti sekolah tiga lantai di dekatnya.

Disebutkan bahwa PKT telah lama menjalankan propaganda ideologis anti-Amerika dan anti-Jepang, bahkan menyasar anak-anak. 

Dalam beberapa tahun terakhir, di internet juga sering muncul video yang menunjukkan anak-anak di Tiongkok menerima apa yang disebut sebagai “pendidikan merah”.

Sekelompok anak berusia empat atau lima tahun dipaksa mengenakan tanda di punggung mereka yang bertuliskan “paket bom.” (Tangkapan layar dari video)

Di sebuah taman kanak-kanak di Xinmi, Zhengzhou, Provinsi Henan, sekelompok anak berusia 4–5 tahun diminta mengenakan papan bertuliskan “paket bahan peledak” di punggung mereka, mensimulasikan “pahlawan bom bunuh diri” di medan perang.

Selain itu, selama peringatan Hari Nasional Tiongkok, beberapa taman kanak-kanak di berbagai daerah memberikan tugas kerajinan tangan kepada anak-anak, di mana banyak orang tua dan anak membuat “paket bahan peledak” yang dipasangi bendera nasional.

Dalam sebuah kegiatan yang disebut “pendidikan patriotik orang tua dan anak” di sebuah taman kanak-kanak di Jiangxi, pernah terlihat seorang anak laki-laki memegang pistol kayu dan berkata: “Saya akan membawa senjata untuk melawan orang Jepang.”

Sumber : NTDTV.com

Lonjakan Kecelakaan Lalu Lintas Saat Festival Songkran di Thailand, 50 Tewas dalam Sehari

EtIndonesia. Festival Tahun Baru Buddha yang dikenal sebagai Festival Songkran (festival percikan air) berlangsung setiap tahun pada 13–15 April, dan merupakan salah satu perayaan terpenting di Thailand. Ini juga merupakan momen bagi masyarakat untuk pulang kampung dan berwisata. 

Namun, menurut Pusat Operasi Keselamatan Jalan Raya (RSOC), hanya dalam sehari pada tanggal 11 April, sebanyak 50 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas, dengan penyebab utama adalah kecepatan berlebih dan mengemudi dalam keadaan mabuk.

Tahun ini, dua hari menjelang Songkran bertepatan dengan akhir pekan, sehingga libur dimulai sejak 11 April dan berlangsung selama total 5 hari.

Menurut laporan media Thailand, RSOC pada 12 April menyatakan bahwa pada hari pertama libur panjang Songkran (11 April), terjadi 50 korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas, serta 185 orang terluka. Jika ditambah dengan satu hari sebelum libur, maka secara nasional telah terjadi 344 kecelakaan, yang menyebabkan total 71 orang meninggal dan 317 orang terluka.

Pihak pusat menyatakan bahwa kecepatan berlebih dan mengemudi dalam kondisi mabuk masih menjadi penyebab utama kecelakaan. 

Data menunjukkan bahwa kecepatan berlebih menyumbang 45,71% kasus, sementara mengemudi dalam keadaan mabuk mencapai 24,76%.

Libur Tahun Baru Masehi dan Festival Songkran di Thailand sering disebut oleh media setempat sebagai “7 hari berbahaya”.

 Pada libur Tahun Baru awal tahun ini yang berlangsung selama 4 hari, terjadi ratusan kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan 171 orang meninggal dan 956 orang terluka, dengan penyebab utama juga adalah mabuk dan kecepatan berlebih.

Untuk itu, pemerintah biasanya memperkuat kampanye keselamatan lalu lintas selama periode “7 hari berbahaya”.

Sumber : NTDTV.com

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku di Daratan Tiongkok Meluas, Pemerintah Langsung Meluncurkan Vaksin Lokal Picu Keraguan

EtIndonesia. Virus baru penyakit mulut dan kuku (PMK) sedang menyebar luas di Tiongkok dan telah memengaruhi setidaknya 12 provinsi. Berbagai daerah memberlakukan penutupan desa dan jalan, pasar sapi ditutup, harga babi dan sapi anjlok. Kini para peternak mengalami kerugian besar. Sementara itu, hanya beberapa hari setelah wabah muncul, pihak berwenang langsung menyetujui peluncuran vaksin dalam negeri yang memicu keraguan publik.

Menurut berbagai laporan, sedikitnya 12 provinsi di daratan Tiongkok mengalami wabah PMK tipe Afrika Selatan 1 (SAT1).

Meski wabah ini serius dan menyebar dengan cepat, situs resmi biro peternakan dan kedokteran hewan di bawah Kementerian Pertanian  hanya memuat satu laporan singkat tertanggal 28 Maret, yang mana secara ringan menyebut adanya satu kasus di Xinjiang dan satu kasus di Gansu.

 “Cara khas Partai Komunis Tiongkok adalah menutup-nutupi wabah. Ini sebenarnya pendekatan yang bertentangan arah. Ketika wabah besar terjadi, seharusnya ada transparansi tinggi agar semua pihak mengetahui situasi sebenarnya, sehingga seluruh masyarakat dapat dikerahkan untuk meminimalkan dampak wabah,” kata pengamat politik yang berbasis di AS, Lan Shu. 

Virus utama dalam wabah ini adalah tipe SAT1 dari Afrika Selatan, yang merupakan jenis baru. Virus ini sangat menular dan dapat menyebar melalui udara maupun pakan, dengan masa inkubasi yang singkat. Tingkat kematian pada anak sapi dapat mencapai hingga 50%.

Virus ini telah menyebar dari Afrika ke Timur Tengah, lalu ke Asia Barat dan Rusia. Industri peternakan di negara-negara terkait mengalami kerugian besar, bahkan Afrika Selatan pernah menetapkannya sebagai bencana nasional.

Pengamat politik lain yang berbasis di AS, Xing Tianxing, menganalisis bahwa seperti halnya Tiongkok, Rusia juga lama menutupi wabah. Karena hubungan Beijing dan Moskow sangat dekat, pemerintah PKT tidak benar-benar memperkuat langkah pencegahan terhadap Rusia, sehingga virus kemungkinan besar masuk dari sana.

 “Pemerintah PKT tidak mengambil langkah untuk mencegahnya, baik di perbatasan maupun pemeriksaan. Barang-barang dari Rusia tetap masuk ke Tiongkok. Saya rasa kemungkinan besar sumbernya dari Rusia,” ujarnya. 

Saat ini, peternakan dan pasar sapi di daerah terdampak telah ditutup. Harga babi dan sapi jatuh tajam, membuat para peternak putus asa. Di banyak tempat, kembali terjadi penutupan desa dan jalan seperti saat pandemi COVID-19, dengan petugas berpakaian pelindung masuk desa untuk melakukan disinfeksi.

Seorang warga Desa Daquanwan di Kota Hami, Xinjiang, melaporkan bahwa petugas setempat tanpa prosedur hukum yang jelas dan tanpa menjelaskan penyebab penyakit, masuk ke rumah warga pada tengah malam untuk menyuntikkan obat ke kawanan domba. Setelah hewan-hewan itu pingsan, semuanya langsung dibawa pergi.

Lan Shu mengatakan:  “Ketika terjadi wabah besar seperti ini, metode pemerintah sangat kasar dan sederhana. Jika satu peternakan atau satu wilayah terkena, maka semua ternak di wilayah tersebut langsung disembelih. Ini adalah praktik yang dilakukan selama ini.”

Xing Tianxing juga menyatakan bahwa kegagalan pencegahan menyebabkan virus masuk, mengakibatkan kerugian besar bagi para peternak. Setelah wabah terjadi, penutupan informasi dan kebijakan pengendalian ekstrem justru memperparah bencana secara buatan.

 “Tidak hanya ternak yang dikarantina, manusia juga dibatasi pergerakannya. Ini bukan sekadar kewaspadaan berlebihan, tapi sudah mencapai tingkat ekstrem, seolah tidak memperlakukan manusia sebagaimana mestinya. Model seperti ini hanya bisa terjadi di negara komunis yang otoriter seperti Tiongkok,” katanya. 

Seorang relawan bernama samaran Chen Ruixiang yang aktif mengunjungi peternakan babi dan mendokumentasikan kondisi wabah mengungkapkan kepada media bahwa ia saat ini berada di Hunan dan menyaksikan langsung penderitaan para peternak. 

 “Wabah PMK kali ini tidak memiliki obat yang efektif, para peternak mengalami kerugian besar Mereka yang memiliki asuransi mungkin mendapat sebagian kompensasi, sementara yang tidak memiliki asuransi harus menanggung seluruh kerugian sendiri,” katanya. 

Xing Tianxing menambahkan:  “Di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, jika terjadi wabah besar, biasanya akan dipertimbangkan kondisi petani dan diberikan bantuan ekonomi. Kebijakan seperti ini berorientasi pada rakyat, tetapi hal tersebut tidak ada di Tiongkok.”

Perlu dicatat, hanya beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan wabah, otoritas terkait dengan cepat menyetujui dua jenis vaksin dalam negeri untuk virus baru ini. Hingga 8 April, para peternak di Shandong, Gansu, Ningxia dan daerah lainnya sudah menerima dan mulai menyuntikkan vaksin tersebut.

Netizen mempertanyakan: “Kalau seperti vaksin COVID-19, bisa jadi masalah besar.” (Hui)

Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán Mengakui Kekalahan, Mengakhiri 16 Tahun Kekuasaannya

Hungaria menggelar pemilihan parlemen pada 12 April. Menurut data dari kantor pemilu, tingkat partisipasi dalam pemilu kali ini sangat tinggi dan diperkirakan mencapai sekitar 80%. Perdana Menteri petahana yang telah berkuasa selama 16 tahun, Viktor Orbán, pada malam hari mengakui kekalahannya. Partai Tisza diperkirakan akan meraih mayoritas kursi parlemen, yang dapat mempengaruhi hubungan Hungaria dengan Uni Eropa dan Rusia di masa depan.

EtIndonesia. Pada Minggu 12 April pagi pukul 06.00 waktu setempat, tempat pemungutan suara di seluruh negeri Hungarian dibuka dan ditutup pada pukul 19.00. Hasil pemilu mulai terlihat jelas pada Minggu malam.

Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán, mengatakan:  “Teman-teman sekalian, hasil pemilu belum sepenuhnya final, tetapi arahnya sudah jelas dan dapat dipahami. Hasil ini menyakitkan bagi kami, namun juga sangat jelas. Tanggung jawab dan kesempatan untuk memerintah tidak jatuh ke tangan kami. Saya telah menyampaikan ucapan selamat kepada pihak pemenang.”

Hingga pukul 18.30, hampir 78% pemilih telah berpartisipasi dalam pemilu ini. Sebagai perbandingan, tingkat partisipasi pada pemilu parlemen sebelumnya tahun 2022 kurang dari 70%.

Parlemen Hongaria, yang juga dikenal sebagai Majelis Nasional, memiliki total 199 kursi yang seluruhnya diperebutkan dalam pemilu pada tanggal 12. Perdana menteri baru akan dipilih oleh parlemen melalui suara mayoritas sederhana.

Hongaria memiliki populasi kurang dari 10 juta orang, dengan luas wilayah yang sedikit lebih besar dari negara bagian Maine di Amerika Serikat. Produk domestik bruto (PDB)-nya hanya menyumbang sedikit lebih dari 1% dari total ekonomi Uni Eropa.

Namun, pemilu kali ini mendapat perhatian besar dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Rusia.

Dalam kampanyenya, Orbán menekankan pentingnya menghindari keterlibatan Hungaria dalam perang Rusia-Ukraina, serta memutuskan untuk sementara tidak menyetujui pinjaman Uni Eropa sebesar 90 miliar euro (sekitar 106 miliar dolar AS) untuk bantuan kepada Ukraina.

Jajak pendapat sebelum pemilu menunjukkan bahwa partai yang dipimpin Orbán, Fidesz, tertinggal dari partai oposisi kanan-tengah yang sedang naik daun, Partai Tisza, yang dipimpin oleh Péter Magyar, sebesar 7 hingga 9 persen. Tingkat dukungan Partai Tisza diperkirakan berada di kisaran 38% hingga 41%.

Magyar yang berusia 45 tahun memfokuskan kampanyenya pada berbagai isu yang mempengaruhi masyarakat, termasuk layanan kesehatan publik dan transportasi di Hongaria. Ia juga menuduh pemerintah saat ini sarat korupsi, mengkritik kecenderungan pro-Rusia, serta berjanji memperbaiki hubungan dengan mitra-mitra Eropa.

 “Yang terpenting adalah bahwa sebagian besar rakyat Hongaria merasakan pentingnya pemilu ini, menyadari betapa krusialnya pemilu ini bagi negara saat ini,” ujar pemimpin Partai Tisza, Péter Magyar.

Pada pukul 20.30 waktu setempat, pejabat pemilu telah memproses sekitar 15% suara.

Laporan disusun secara komprehensif oleh reporter NTD, Yu Liang.

Perang Iran Picu Kekurangan Pasokan BBM, Hantam Pusat Industri Plastik Tiongkok

Dampak situasi di Timur Tengah menyebabkan harga minyak melonjak tajam dan mengguncang rantai pasok global. Kota perdagangan plastik terbesar di Tiongkok selatan, yaitu Zhangmutou, baru-baru ini mengalami lonjakan harga, kelumpuhan logistik, serta aksi penimbunan panik. Pelaku usaha setempat menggambarkan dampaknya datang sangat cepat dan keras.

EtIndonesia. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, sehingga harga bahan baku plastik di Tiongkok dan Eropa melonjak hingga sekitar 60% sejak Maret, membuat pabrik-pabrik hilir kewalahan.

 “Kenaikan harga mencapai sekitar 50% hingga 60%. Dan saat ini sama sekali belum ada tanda-tanda akan berhenti, harga terus naik setiap hari,” kata Manajer umum Guangdong Rongsu New Materials Co., Ltd., Peng Xin. 

Peng Xin menyatakan bahwa stok cadangan aman di pabrik telah habis, dan pembelian bahan baku baru hanya bisa dilakukan dengan harga pasar yang sangat tinggi. Tekanan ini akan segera diteruskan ke pelanggan di hilir.

Karena kekhawatiran bahwa situasi di Timur Tengah tidak akan mereda dalam satu hingga dua bulan ke depan, banyak perusahaan mulai menimbun barang lebih awal. Gelombang pembelian ini juga menyebabkan kemacetan serius di gudang dan jalan.


“Sejak setelah 5 Maret, dalam waktu sekitar satu minggu, seluruh Zhangmutou mengalami kemacetan. Panjang antrian bisa mencapai sekitar 10 hingga 15 kilometer. Semua gudang penuh sesak, dan aktivitas keluar-masuk barang sangat terganggu,” ujar pemilik gudang, Han Bing. 

Di sisi hulu, pabrik petrokimia menaikkan harga akibat kekurangan minyak mentah dan bahan baku. Bahkan, beberapa pabrik kimia hulu menolak memenuhi kontrak lama dengan harga rendah.

“Uang muka sudah dibayar dan sudah sampai waktu pengiriman, tetapi mereka menolak mengirim barang dengan alasan force majeure. Namun, jika kami sebelumnya menandatangani kontrak dengan harga tinggi, mereka tetap bisa mengirim. Jadi bagi saya, alasan force majeure itu tidak dapat diterima,” kata seorang pedagang di pasar plastik Zhangmutou, Xiao Zejia. 

Menurut laporan tahun 2025 dari Organisation for Economic Co-operation and Development, Tiongkok adalah produsen, konsumen, dan eksportir produk plastik terbesar di dunia.

Laporan disusun secara komprehensif oleh reporter NTD, Xu Zhe dan Wang Yanjiao.

28 Kapal Iran Tenggelam? Trump Ungkap Fakta Mengejutkan, AS Bergerak Cepat!

EtIndonesia — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia setelah secara terbuka memaparkan kondisi terkini Iran melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada malam 11 April 2026 waktu setempat.

Dalam pernyataannya, Trump secara tidak biasa langsung menyerang media yang ia sebut sebagai “berita palsu”. Ia menilai sejumlah pemberitaan telah menyesatkan publik dengan menggambarkan Iran berada di posisi unggul, padahal menurutnya, situasi sebenarnya justru sebaliknya.


Trump Klaim Iran Mengalami Kekalahan Besar

Trump menegaskan bahwa Iran saat ini tengah mengalami kemunduran signifikan di berbagai sektor militer. Ia menyebut:

  • Angkatan laut Iran disebut telah lumpuh
  • Angkatan udara tidak lagi berfungsi secara efektif
  • Sistem pertahanan udara hancur total
  • Radar tidak aktif
  • Pabrik rudal dan drone hampir sepenuhnya dihancurkan

Lebih jauh, Trump juga menyinggung bahwa struktur kepemimpinan strategis Iran telah mengalami perubahan besar dan tidak lagi sekuat sebelumnya.

Salah satu pernyataan paling mencolok adalah klaim bahwa seluruh 28 kapal penebar ranjau milik Iran telah tenggelam ke dasar laut.


Ancaman Ranjau Laut Jadi “Kartu Terakhir” Iran

Menurut Trump, satu-satunya kekuatan yang masih dimiliki Iran saat ini adalah ancaman ranjau laut di kawasan Selat Hormuz.

Namun, ancaman ini dinilai tidak sepenuhnya terkendali oleh Iran sendiri. Ia mengungkapkan bahwa:

  • Ranjau dipasang secara terburu-buru oleh Garda Revolusi Iran
  • Banyak lokasi ranjau tidak tercatat secara akurat
  • Sebagian ranjau berpotensi berpindah karena arus laut

Dalam proses negosiasi, Iran bahkan disebut mengakui bahwa mereka sendiri tidak mengetahui secara pasti posisi seluruh ranjau tersebut.


AS Mulai Operasi Pembersihan Selat Hormuz

Masih pada 11 April 2026, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah resmi memulai operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi distribusi energi global.

Pada hari yang sama, United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa dua kapal perusak Angkatan Laut AS telah melintasi selat tersebut sebagai langkah awal membuka jalur aman.

Komandan CENTCOM, Jenderal Cooper, menyatakan bahwa pihaknya tengah membangun jalur pelayaran baru yang aman untuk mendukung arus perdagangan internasional.


Teknologi Canggih Dikerahkan: Robot Bawah Air dan Sonar Presisi Tinggi

Operasi ini tidak hanya mengandalkan kapal perang, tetapi juga teknologi mutakhir:

  • Kapal perusak dilengkapi sonar canggih untuk deteksi ranjau secara real-time
  • Kapal tempur pesisir kelas Independence akan mengoperasikan robot bawah air
  • Robot menggunakan sonar presisi tinggi untuk menyisir area secara sistematis

Teknologi ini disebut telah dikembangkan lebih dari satu dekade dan sebelumnya hanya digunakan dalam latihan militer. Operasi ini menjadi penggunaan pertama dalam situasi nyata.

Sejumlah pengamat menyebut langkah ini menunjukkan kesenjangan teknologi yang signifikan antara Amerika dan Iran.


Strategi Lanjutan: Lemahkan Peran Strategis Selat Hormuz

Selain operasi militer, langkah strategis lain juga mulai disiapkan.

Pada 10 April 2026, lembaga pemikir Atlantic Council mengusulkan agar:

  • Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memperluas jaringan pipa minyak lintas semenanjung
  • Distribusi minyak dapat dialihkan langsung ke Laut Merah jika Selat Hormuz terganggu

Jika strategi ini terealisasi, maka ketergantungan dunia terhadap Selat Hormuz akan berkurang drastis, sekaligus melemahkan posisi strategis Iran.


AS Galang Dukungan Global, Tekanan terhadap Iran Meningkat

Langkah berikutnya yang diambil Washington adalah memperluas tekanan secara internasional.

Trump disebut tengah menggalang dukungan dari negara-negara NATO serta negara-negara besar pengimpor minyak di Asia untuk:

  • Mengategorikan tindakan Iran sebagai ancaman terhadap kepentingan global
  • Menekan Iran agar segera membersihkan ranjau
  • Meningkatkan isolasi diplomatik terhadap Teheran

Dengan strategi ini, Iran tidak lagi hanya berhadapan dengan Amerika Serikat, tetapi juga dengan tekanan ekonomi global.


Respons Iran: Bantahan dan Tanda Kepanikan

Di tengah tekanan tersebut, militer Iran mulai memberikan respons defensif.

Pada 11 April 2026, juru bicara militer Iran, Zolfaghari, membantah bahwa kapal perang Iran pernah memasuki Selat Hormuz, dan menegaskan bahwa jalur tersebut masih berada di bawah kendali Teheran.

Namun, sejumlah analis militer menilai pernyataan ini justru menunjukkan tanda-tanda kepanikan.


Selat Hormuz: Kartu Terakhir Iran di Meja Negosiasi

Banyak pengamat menilai bahwa Selat Hormuz merupakan aset strategis paling penting bagi Iran.

Jika Iran kehilangan kendali atau tidak lagi mampu menggunakan selat tersebut sebagai alat tekanan:

  • Posisi tawar Iran dalam negosiasi akan melemah drastis
  • Pengaruhnya dalam konflik regional bisa menurun signifikan
  • Bahkan berpotensi kehilangan leverage utama dalam konflik global

Dampak Lebih Luas: Efek Domino ke Kawasan Lain

Situasi ini juga dinilai memiliki kemiripan dengan dinamika geopolitik di kawasan lain, termasuk hubungan lintas Selat Taiwan.

Beberapa analis menilai bahwa dalam kondisi tekanan global, setiap kekuatan besar akan berusaha mempertahankan “kartu strategis” terakhirnya—baik dalam bentuk wilayah, jalur ekonomi, maupun pengaruh politik.


Kesimpulan: Momentum Penentu dalam Konflik Global

Perkembangan hingga 11 April 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki fase yang sangat krusial.

Dengan dimulainya operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, dukungan internasional yang semakin luas, serta strategi ekonomi jangka panjang, posisi Iran kini berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dunia kini menanti: apakah Iran akan bertahan dengan strategi lamanya, atau justru dipaksa mengubah arah dalam menghadapi tekanan global yang semakin intens. (***)

AS Kunci Iran dari Segala Arah! Selat Hormuz Ditutup, Tiongkok Terancam Hingga Dunia Panik

EtIndonesia. — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan kebijakan drastis berupa blokade laut terhadap Iran yang mulai diberlakukan pada 13 April 2026 pukul 10.00 pagi waktu Pantai Timur AS (EDT).

Langkah ini secara langsung berdampak pada salah satu jalur energi paling vital di dunia, yaitu Selat Hormuz, yang kini dinyatakan ditutup tanpa batas waktu untuk seluruh aktivitas yang berkaitan dengan Iran.


Blokade Total: Semua Jalur Laut Iran Ditutup

Dalam pernyataan resminya, United States Central Command (CENTCOM) menyebutkan bahwa operasi ini akan dilaksanakan oleh Angkatan Laut AS bersama berbagai unsur kekuatan militer lainnya.

Blokade tersebut mencakup:

  • Seluruh kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran
  • Aktivitas pelayaran di sepanjang Teluk Persia dan Teluk Oman
  • Pengawasan ketat terhadap kapal yang berinteraksi dengan Iran

Namun, terdapat satu pengecualian penting:

  • Kapal internasional yang hanya melintas di Selat Hormuz tanpa menuju Iran tetap diizinkan berlayar

Meski demikian, keputusan ini tetap dipandang sebagai eskalasi besar yang meningkatkan tekanan militer dan ekonomi terhadap Teheran.


Negosiasi Gagal, Ketegangan Memuncak

Kebijakan blokade ini muncul setelah kegagalan perundingan antara AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad.

Menurut laporan lembaga pemikir Institute for the Study of War, negosiasi berakhir tanpa kesepakatan setelah Iran:

  • Menolak melepaskan kendali atas Selat Hormuz
  • Tidak memberikan jaminan tegas terkait penghentian pengembangan senjata nuklir

Meskipun Iran mengklaim program nuklirnya bertujuan damai dan bersedia menurunkan tingkat pengayaan uranium, pihak AS menilai langkah tersebut tidak cukup menjamin keamanan global.

Sebagai respons, Trump mengumumkan strategi yang disebut sebagai “pemblokiran ala Venezuela”, yaitu menekan akses ekonomi dan logistik Iran melalui jalur laut.


Operasi Militer Dimulai, Ancaman Langsung Dikeluarkan

Selain melakukan penyisiran terhadap ranjau laut yang diduga dipasang Iran, militer AS juga akan:

  • Mencegat kapal yang membayar biaya transit kepada Iran
  • Mengawasi seluruh aktivitas pelayaran di kawasan strategis tersebut

Trump bahkan mengeluarkan peringatan keras:

Setiap pihak Iran yang menyerang kapal Amerika atau kapal sipil akan “dihancurkan sepenuhnya”.

Pada saat yang sama, muncul indikasi eskalasi militer lebih lanjut setelah pesawat pembom siluman Northrop Grumman B-2 Spirit dilaporkan lepas landas dari pangkalan Diego Garcia, menandakan kemungkinan dimulainya fase baru operasi militer AS.


Israel Siaga Tinggi, Risiko Perang Terbuka Meningkat

Di tengah meningkatnya ketegangan, Israel juga mengambil langkah cepat.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, memerintahkan seluruh pasukan untuk:

  • Masuk dalam status siaga tinggi
  • Bersiap menghadapi kemungkinan serangan mendadak dari Iran

Media lokal Israel melaporkan bahwa sebagian pejabat militer bahkan melihat peluang konflik lanjutan sebagai langkah untuk:

  • Menekan program nuklir Iran
  • Menghentikan pengembangan rudal balistik

Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada di ambang potensi konflik besar yang bisa kembali meledak kapan saja.


Tiongkok Ikut Terdampak, Krisis Energi Global Mengintai

Blokade ini tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi global—terutama Tiongkok.

Analisis menunjukkan bahwa:

  • Sekitar 60%–80% ekspor minyak Iran mengalir ke Tiongkok
  • Gangguan pasokan dapat memicu krisis energi dan lonjakan harga minyak dunia

Selain itu, laporan terbaru mengungkap bahwa beberapa kapal kargo China sebelumnya telah mengirim:

  • Bahan bakar khusus
  • Unit kontrol sistem senjata

yang disebut-sebut dapat mendukung produksi lebih dari 5.000 rudal balistik Iran.

Situasi ini semakin memperumit hubungan antara Washington dan Beijing.


Trump Perketat Tekanan Ekonomi terhadap Tiongkok

Dalam perkembangan terkait, Trump juga kembali menegaskan kebijakan keras terhadap Tiongkok, termasuk:

  • Tarif 100% untuk mobil impor dari Tiongkok

Ia menilai bahwa kendaraan Tiongkok telah:

  • Merusak pasar otomotif Eropa
  • Mengancam industri global, termasuk perusahaan seperti Mercedes-Benz dan BMW

Trump memperingatkan bahwa jika mobil Tiongkok masuk secara bebas ke pasar AS, maka:

  • Industri dalam negeri seperti General Motors dan Ford dapat mengalami kerusakan serius

Kesimpulan: Dunia di Ambang Ketidakpastian Besar

Penutupan Selat Hormuz oleh Amerika Serikat pada 13 April 2026 menandai salah satu langkah paling agresif dalam konflik AS–Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan:

  • Jalur energi global terancam
  • Militer AS dan Israel dalam posisi siaga tinggi
  • Tiongkok ikut terdampak secara ekonomi

dunia kini menghadapi situasi yang sangat sensitif, di mana satu kesalahan kecil saja dapat memicu konflik berskala besar dengan dampak global yang luas. (***)

Masih Nomor 2 Dunia setelah 4 Tahun, inDrive Catat Lonjakan Pengguna Dua Digit di Indonesia

0

Jakarta, 9 April 2026 – Persaingan industri ride-hailing global kian ketat, namun inDrive tetap kokoh di posisi kedua. Berdasarkan laporan terbaru dari Sensor Tower, aplikasi ini berhasil mempertahankan statusnya sebagai aplikasi ride-hailing dengan unduhan terbanyak nomor dua di dunia selama empat tahun berturut-turut.

Tak hanya itu, di Indonesia, inDrive mencatat pertumbuhan pengguna dua digit sepanjang 2026 dibandingkan tahun sebelumnya—sebuah sinyal jelas bahwa model layanan yang transparan dan berbasis negosiasi langsung semakin diminati oleh masyarakat Tanah Air.

Naik ke Peringkat 4 Global Kategori Travel

Pencapaian lain yang tak kalah membanggakan: inDrive kini naik ke peringkat keempat sebagai aplikasi paling banyak diunduh secara global dalam kategori travel, naik satu tingkat dari posisi kelima pada tahun sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan dan adopsi aplikasi di berbagai negara, termasuk di pasar berkembang seperti Indonesia.

Secara keseluruhan, sejak pertama kali diluncurkan, aplikasi inDrive telah diunduh lebih dari 400 juta kali dan kini hadir di lebih dari 1.000 kota di 48 negara.

Model Negosiasi Langsung: Kunci Transparansi dan Keadilan

Apa yang membedakan inDrive dari kompetitor? Model harga berbasis negosiasi langsung antara pengemudi dan penumpang. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas, transparansi, dan rasa adil bagi kedua belah pihak—sesuatu yang dirasakan langsung oleh pengguna di Indonesia.

Rio Aristo, Country Manager inDrive Indonesia, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian ini.

“Pencapaian ini menjadi bukti kepercayaan pengguna terhadap inDrive, termasuk di Indonesia. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang adil dan transparan, sekaligus memberikan pilihan yang lebih fleksibel bagi pengguna dan mitra pengemudi, sesuai dengan kebutuhan pasar lokal.”

Bertransformasi Menuju Super App

Sepanjang tahun 2025, inDrive terus memperluas layanannya. Tidak hanya transportasi antar kota, kini tersedia pula:

  1. Layanan kurir
  2. Pengantaran bahan pokok
  3. Layanan keuangan

Langkah ini merupakan bagian dari transformasi inDrive menuju super app yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari pengguna dalam satu platform.

Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan analitik lanjutan juga terus dikembangkan untuk meningkatkan pengalaman pengguna—mulai dari estimasi waktu perjalanan yang lebih akurat hingga rekomendasi layanan yang lebih personal.

Super App Jadi Tren Utama, inDrive Siap Beradaptasi

Laporan Sensor Tower juga menegaskan bahwa tren super app semakin menjadi pendorong utama pertumbuhan industri ride-hailing, terutama di pasar berkembang. Hal ini sejalan dengan strategi inDrive yang terus beradaptasi dengan kebutuhan pengguna lokal sekaligus memberikan nilai tambah dalam penggunaan sehari-hari.

Di Indonesia, inDrive berkomitmen untuk terus memperkuat posisinya dengan menghadirkan solusi mobilitas yang fleksibel serta mendukung keseimbangan antara kebutuhan pengguna dan kesejahteraan mitra pengemudi.

Tiga Kapal Tanker Super Melintasi Selat Hormuz, Qatar Pulihkan Pelayaran di Perairan Teritorialnya

Pada 11 April 2026, beberapa jam setelah sebuah kapal Yunani melintasi Selat Hormuz, dua kapal tanker super asal Tiongkok yang mengangkut minyak mentah juga melewati selat tersebut. Selain itu, otoritas Qatar mengumumkan bahwa aktivitas pelayaran di perairan teritorialnya, yang sebelumnya dihentikan akibat konflik Iran, akan kembali beroperasi mulai  12 April.

EtIndonesia. Laporan Bloomberg News menyebutkan bahwa sejak pecahnya perang Iran pada akhir Februari yang menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz terhenti, tanggal 11 April menjadi hari dengan volume ekspor minyak mentah tertinggi melalui selat tersebut. Ini juga merupakan kapal-kapal pertama yang meninggalkan Teluk Persia sejak Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu.

Ketiga kapal tanker tersebut secara total mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah. Namun, minyak tersebut bukan berasal dari Iran dan tidak memiliki keterkaitan langsung yang jelas dengan negara tersebut.

Dua kapal tanker Tiongkok yang dimaksud bernama Cospearl Lake dan He Rong Hai, yang merupakan kapal pertama dari Tiongkok yang terlihat mengangkut minyak mentah keluar dari Teluk Persia sejak konflik dimulai. Kapal pertama memuat minyak di Irak, sementara kapal kedua di Arab Saudi. Kapal Yunani Serifos juga memuat minyak di Arab Saudi.

Sementara itu, Kementerian Transportasi Qatar menyatakan bahwa aktivitas pelayaran di perairan negaranya yang sempat dihentikan akibat konflik Iran akan kembali dibuka mulai 12 April.

Dalam pernyataannya disebutkan bahwa semua jenis kapal dan alat transportasi laut diizinkan beroperasi antara pukul 06.00 hingga 18.00 waktu setempat. Kapal nelayan yang memiliki izin tetap dapat beroperasi sepanjang waktu seperti biasa.

Kementerian juga memperingatkan agar para pelaku usaha tidak memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara tidak wajar, serta menekankan pentingnya mematuhi hukum maritim dan perlindungan konsumen.

Laporan dari CNN menyebutkan bahwa meskipun Qatar telah memulihkan pelayaran di perairannya, hal ini tidak berarti kebebasan navigasi di Selat Hormuz telah sepenuhnya pulih.

Saat ini, Iran yang secara de facto mengendalikan Selat Hormuz, belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait adanya koordinasi dengan Qatar.

Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat telah mengumumkan bahwa dua kapal perang Angkatan Laut AS telah melewati jalur strategis tersebut untuk menjalankan misi pembersihan ranjau laut.

Sementara itu, televisi pemerintah Iran pada 12 April melaporkan bahwa Garda Revolusi Islam memperingatkan akan mengambil tindakan “tegas” terhadap kapal militer mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

Menurut pernyataan tersebut, Selat Hormuz hanya mengizinkan kapal sipil untuk melintas dalam “kondisi tertentu”.

Sumber : NTDTV.com

Anjing Karantina Temukan Barang Mencurigakan Lalu Langsung Memakannya, Membuat Petugas Bandara “Patah Semangat”

EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah kejadian lucu terjadi di Bandara Internasional Pulau Jeju, Korea Selatan. Seekor anjing karantina yang sedang memeriksa barang bawaan penumpang, setelah lama mengendus, ketika semua orang mengira ia menemukan barang mencurigakan, ternyata justru mengeluarkan sepotong kue dan langsung memakannya di tempat, membuat para petugas tertawa sekaligus tak berdaya.

Menghadapi godaan makanan, bahkan anjing karantina yang terlatih pun tak luput dari “kesalahan”. Pada 3 April, seorang warganet mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan seekor anjing karantina berwarna hitam sedang bekerja serius bersama petugas di dekat ban berjalan bagasi di Bandara Internasional Jeju.

Anjing tersebut tampaknya mencium adanya sesuatu yang mencurigakan di dalam sebuah tas, lalu memasukkan kepalanya ke dalam tas itu cukup lama tanpa mengangkatnya. Saat petugas mengira ia menemukan sesuatu yang mencurigakan, anjing itu justru mengeluarkan sebuah “kue gulung susu” yang masih terbungkus dari dalam tas.

Melihat hal tersebut, petugas terkejut dan segera menarik anjing itu serta menepuk mulutnya dengan ringan untuk menghentikannya. Namun kue tersebut sudah terlanjur ditelan, membuat petugas langsung “putus asa”.

Setelah video tersebut beredar luas di internet, banyak warganet yang terhibur oleh tingkah anjing yang “lupa tugas” dan tak mampu menahan godaan manis. Mereka bercanda:

“Ini kue dari toko mana sampai anjing pelacak pun tak tahan?”

“Ia bukan sedang makan, tapi sedang menguji apakah beracun atau tidak.”

“Lapor komandan, benda ini ‘sangat beracun’, jadi saya sudah menanganinya terlebih dahulu.”

Sebagian pecinta anjing juga merasa kasihan melihat anjing yang rakus itu ditepuk mulutnya oleh petugas, dan berkomentar bahwa “cukup dipeluk saja sebagai hukuman”. Insiden tak terduga ini pun menambah suasana santai dan lucu di tengah ketatnya pemeriksaan keamanan bandara. (hui)

Perayaan di Benteng Tua Haiti Picu Insiden Desak-desakan Menewaskan 30 Orang

EtIndonesia. Pada 11 April 2026, sebuah benteng dari awal abad ke-19 di Haiti bagian utara mengalami insiden desak-desakan yang menyebabkan sedikitnya 30 orang tewas. Pihak berwenang memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan masih akan bertambah.

Menurut laporan Reuters, kepala badan pertahanan sipil wilayah utara Haiti, Jean Henri Petit, mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi di Citadelle Laferrière, yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO. Benteng ini adalah salah satu objek wisata paling populer di Haiti.

Petit menjelaskan bahwa pada 11 April, lokasi kejadian dipadati pelajar dan wisatawan yang datang untuk menghadiri perayaan tahunan. Insiden terjadi di pintu masuk objek wisata, dan hujan yang turun saat itu memperparah situasi.

Perdana Menteri Haiti, Alix Didier Fils-Aime, dalam sebuah pernyataan menyampaikan “duka cita yang mendalam kepada keluarga korban” serta menyatakan solidaritas dan dukungan di tengah masa duka dan penderitaan ini.

Ia juga mengatakan bahwa banyak anak muda yang ikut dalam perayaan tersebut, namun identitas para korban belum dapat dipastikan, dan jumlah korban dalam pernyataannya tidak dirinci.

Haiti sendiri tengah menghadapi situasi sulit akibat kekerasan geng, di mana warga sipil kerap menjadi korban pembantaian, sementara operasi penindakan oleh aparat keamanan juga semakin mematikan. 

Negara ini juga pernah mengalami sejumlah tragedi besar, termasuk ledakan tangki bahan bakar pada 2024 yang menewaskan 24 orang, ledakan serupa pada 2021 yang menewaskan 90 orang, serta gempa bumi pada tahun yang sama yang menyebabkan sekitar 2.000 korban jiwa. (Hui)