Ibu yang Sedang Menyusui Bayinya Menanggapi dengan Humor Saat Diminta untuk Menutupi

EtIndonesia. Menyusui di tempat umum di Meksiko sering dianggap tabu oleh banyak orang. Pada tahun 2014, Meksiko merupakan salah satu negara dengan tingkat pemberian ASI terendah di Amerika Latin, dengan hanya sekitar 14% ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif selama enam bulan pertama. Data terbaru dari UNICEF menunjukkan bahwa angka ini telah meningkat menjadi sekitar 30%, masih di bawah rata-rata global sebesar 41%.

Pada tahun 2015, Meksiko menerapkan larangan pemberian susu formula gratis di rumah sakit, dengan harapan bahwa tingkat pemberian ASI akan meningkat secara bertahap. Dengan semakin banyaknya ibu yang mulai menyusui, tidak dapat dipungkiri bahwa semakin banyak pula ibu yang melakukan hal tersebut di tempat umum.

Meskipun terdapat kemajuan, stigma mengenai pemberian ASI di tempat umum terus memicu konflik antara para ibu dan mereka yang bersikeras menyuruh mereka untuk ‘menutupi’ atau ‘melakukannya di tempat tersembunyi’. Tentu saja mempermalukan wanita karena menyusui adalah hal yang tidak dapat diterima, meskipun kejadian ini ternyata cukup lucu.

Melanie Dudley adalah wanita pintar yang tidak ingin Anda permalukan. Saat berlibur di Cabo San Lucas, Meksiko, dia mengalami gangguan kasar di hari yang panas. Suhu di luar 90 derajat ketika dia sedang menyusui bayinya di sebuah restoran dan seorang pria mendekatinya, menuntut agar dia “menutupi”. Dudley tidak merinci apakah pria itu adalah manajernya. Meski begitu, dia menurutinya dengan caranya sendiri yang unik.

Tanggapan Dudley layak mendapatkan apresiasi. Dia hanya mengambil selimut bayinya, menutupi kepalanya, dan dengan tenang melanjutkan menyusui bayinya. Tanggapan yang luar biasa!

Dalam wawancara dengan News Channel 9, Dudley menjelaskan: “Saya sedang berlibur di Cabo San Lucas bersama seluruh keluarga saya dan seorang pria meminta saya untuk menutupi diri. Saya biasanya berhati-hati, tapi kami duduk di belakang restoran. “

Dudley menjadi sensasi internet ketika foto dirinya di Facebook, yang diambil pada Juli 2018, memperlihatkan kepalanya ditutupi selimut saat dia sedang menyusui bayinya. Sejak diposting, gambar tersebut telah menarik 138.000 reaksi, 40.000 komentar, dan 226.000 kali dibagikan.

Seorang wanita memujinya dan berkomentar: “Bagus sekali ibu. Bayi Anda aman dari mati lemas. Susui bayi Anda secara alami kapan pun dan di mana pun, kapan pun bayi Anda membutuhkannya sebagai makanan.”

Seorang pria menambahkan: “Jika Anda tidak suka melihat ibu menyusui bayinya, berpalinglah, pejamkan mata, atau urus urusan Anda sendiri!”

Meskipun menyusui di tempat umum sudah legal di seluruh 50 negara bagian sejak Juli 2018, stigma tersebut masih tetap ada, dan kaum ibu terus menghadapi rasa malu karena menyusui di tempat umum. Pepatah lama memang benar adanya: legalisasi BUKAN normalisasi. Penerimaan yang sebenarnya membutuhkan waktu lebih lama dan memerlukan lebih banyak usaha. Namun, kebutuhan untuk melawan stigma ini sangatlah penting karena menyusui adalah aktivitas alami dan penting. Jika undang-undang saat ini melindungi pemberian ASI di tempat umum, maka mempermalukan ibu menyusui seharusnya dapat ditindaklanjuti. Ini mungkin terdengar ekstrem, tetapi mungkin penting untuk menyampaikan maksudnya.

Apa yang salah secara moral dan sosial jika seorang ibu memberi makan anaknya di depan umum, terutama ketika dia berusaha untuk berhati-hati?

Beberapa orang mungkin menganggap hal itu tidak senonoh atau tidak pantas, namun sebenarnya, yang dia coba lakukan hanyalah memberi makan anaknya. Mengapa tidak mulai melarang bikini di pantai atau celana pendek yang tidak menutupi seluruh bokong di musim panas? Di banyak restoran, ibu menyusui dengan malu-malu diarahkan ke kamar mandi untuk memberi makan bayinya. Itu salah. Tak seorang pun, terutama anak-anak, harus makan di kamar mandi.

Sudah saatnya kita menormalkan kembali pemberian ASI. Tidak ada lagi pantangan. Hanya penerimaan. (yn)

Sumber: thoughtnova