Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata

Arsh Sarao

Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak Anda menghasilkan pola saraf yang sangat khas.

Kebencian meningkatkan aktivitas di wilayah otak yang terlibat dalam agresi dan penilaian strategis, sekaligus menekan empati. Seolah-olah otak mulai bersiap untuk “menghadapi” orang itu. Semakin besar kebencian Anda terhadap seseorang, semakin kuat pula sinyal-sinyal itu.

Meskipun hampir semua orang pernah merasakan kebencian, jati diri terdalam manusia sebenarnya tidak selaras dengan perasaan itu, kata Steven Stosny, terapis dan pendiri Compassion Power, kepada The Epoch Times.

“Jika kebencian menjadi kronis, kita kehilangan kemanusiaan kita,” katanya.

Ilmu Saraf di Balik Kebencian

“Sakelar” kebencian di otak memprioritaskan perilaku agresif dan penilaian negatif.

Kebencian secara selektif menonaktifkan girus frontal superior kanan, area otak yang berperan dalam mengendalikan respons impulsif dan memahami perasaan orang lain.

Penonaktifan yang sangat spesifik ini memutus “rem” saraf yang biasanya menjaga impuls agresif tetap terkendali, sehingga orang yang membenci menjadi tidak rasional dan terobsesi pada target kebenciannya.

Mitchell Landers, peneliti pascadoktoral di Departemen Psikologi University of California, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa cinta dan kebencian sama-sama melibatkan penilaian intens terhadap orang lain, tetapi dengan arah yang berlawanan.

Baik orang yang sedang jatuh cinta maupun yang membenci dapat mengalami penurunan kemampuan menilai secara objektif ketika emosi mereka sangat kuat. Inilah yang menjelaskan perilaku seperti “orang yang jatuh cinta mengabaikan kekurangan, sementara orang yang membenci menciptakan kekurangan yang sebenarnya tidak ada,” kata Landers.

Kebencian mengaktifkan beberapa wilayah pada lapisan luar dan dalam otak, terutama putamen dan insula.

Putamen mempersiapkan seseorang untuk bertindak, sedangkan insula berfungsi sebagai sensor. Ketika dikuasai kebencian, kedua wilayah ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan balas dendam, seperti menghadapi atau bahkan menyakiti target kebenciannya.

Kebencian juga memperkuat dirinya sendiri. Semakin Anda membenci, semakin otak Anda terprogram untuk membenci. Kebencian ibarat racun dosis rendah yang perlahan mengikis empati.

Bagaimana Kebencian Meracuni Orang yang Membencinya

Kebencian dapat mematikan sirkuit empati di otak.

Sebuah penelitian menemukan bahwa peserta yang terpapar ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas menjadi kurang berempati terhadap penderitaan bukan hanya kelompok minoritas tersebut, tetapi juga terhadap orang lain secara umum. Temuan ini menunjukkan bahwa kebencian dapat menyebar.

Seiring waktu, berkurangnya empati menyebabkan runtuhnya belas kasih.

Menurut Landers, bagi orang yang membenci, keberadaan orang yang dibencinya itu sendiri dianggap sebagai masalah utama.

“Ketika Anda menilai seseorang memiliki nilai asosiasi negatif—bahwa kesejahteraannya bertentangan dengan kesejahteraan Anda—maka wajar jika kepedulian terhadap penderitaannya berkurang,” katanya.

Akibatnya, seseorang tidak hanya kehilangan kemampuan untuk berempati terhadap rasa sakit orang lain, tetapi juga bisa menjadi kebal terhadap penderitaan tersebut atau bahkan merasa senang melihatnya.

Hubungan erat antara kebencian, agresi, dan permusuhan membuat orang yang membenci berisiko mengalami masalah kesehatan mental maupun fisik. Orang yang penuh permusuhan cenderung mengalami keretakan hubungan sosial, lebih mudah stres, dan lebih rentan terhadap depresi.

Secara fisik, perilaku yang didorong oleh kebencian seperti kemarahan dan agresi memicu pelepasan hormon stres yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan peradangan.

Hormon stres menekan aktivitas sel pembunuh alami (natural killer cells), sehingga kemampuan tubuh melawan infeksi, termasuk kanker, menjadi berkurang.

Respons stres yang terkait dengan kemarahan dan agresi juga mengganggu kemampuan pembuluh darah untuk berelaksasi dengan baik, padahal hal tersebut sangat penting bagi sirkulasi darah yang sehat. Gangguan ini merupakan salah satu pemicu utama stroke dan penyakit kardiovaskular.

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology menemukan bahwa kemarahan dan permusuhan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sebesar 19 persen pada orang sehat, serta meningkatkan kemungkinan prognosis buruk sebesar 24 persen pada pasien yang sudah memiliki penyakit jantung.

Lalu, mengapa emosi yang meracuni ini begitu sulit dilepaskan?

Dari Mana Kebencian Berasal?

Kebencian sering berakar pada kemarahan yang tidak terselesaikan.

Penelitian Landers pada tahun 2025 memberikan gambaran tentang bagaimana kemarahan berubah menjadi kebencian.

“Kemarahan adalah mekanisme tawar-menawar,” kata Landers.

Anda merasa marah ketika masih menganggap hubungan tersebut layak dipertahankan. Ketika seseorang tampaknya tidak peduli sebagaimana yang menurut Anda seharusnya, kemarahan berfungsi sebagai upaya untuk mendorong orang itu mengubah cara memperlakukan dan menghargai Anda.

“Itulah sebabnya orang yang marah ingin berbicara, ingin penjelasan, dan ingin permintaan maaf,” katanya.

Namun, ketika kemarahan berulang kali gagal memperbaiki hubungan, kemarahan mulai berubah menjadi kebencian.

Kebencian berasumsi bahwa hubungan tersebut tidak lagi layak dipertahankan, sehingga berupaya “menetralkan” orang yang dianggap sebagai sumber masalah.

Dari sudut pandang orang yang membenci, keberadaan orang yang dibencinya membuat hidupnya menjadi lebih buruk.

“Tidak ada jumlah percakapan yang dapat mengubah fakta bahwa pesaing romantis itu ada, atau bahwa seorang kompetitor mendapatkan promosi yang Anda inginkan, atau bahwa kehadiran seseorang dalam komunitas Anda dianggap mengancam kepentingan Anda,” kata Landers.

Menurutnya, kebencian baru mereda ketika target kebencian dianggap cukup jauh atau tidak lagi memiliki kekuatan. Masalahnya, mencapai kondisi tersebut sering kali melibatkan penggunaan kekuatan atau agresi.

Tindakan agresif dan permusuhan yang didorong oleh kebencian pada akhirnya justru memperkuat rasa benci itu sendiri.

Sifat yang saling memperkuat ini menciptakan sebuah jebakan kebencian.

Kebencian Berasal dari Rasa Tidak Berdaya

Jessica Russo, psikolog klinis berlisensi, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa kebencian sering muncul dari rasa tidak berdaya.

Ketika seseorang dipandang sebagai ancaman, muncul perasaan bawah sadar berupa kelemahan dan ketidakberdayaan. Untuk melawan ancaman tersebut, orang sering menggunakan “perisai kebencian” sebagai bentuk perlindungan diri.

“Kebencian adalah perisai yang sangat kuat,” kata Russo.

Namun ironisnya, dengan menggunakan kebencian untuk melindungi diri, seseorang justru membuat dirinya semakin rentan.

“Kita perlu mencari akar masalahnya, yaitu apa sebenarnya yang sedang mereka coba lindungi dari diri mereka sendiri,” katanya.

Russo percaya bahwa belas kasih dapat menghancurkan perisai kebencian dengan memulihkan harapan dan mengusir kegelapan. Penawarnya adalah membangun kembali hal-hal yang dihancurkan oleh kebencian.

Obat untuk Kebencian

Menurut Stosny, manusia memiliki nilai dasar berupa rasa harga diri yang berakar pada keyakinan bahwa setiap orang adalah “anak Tuhan”.

Bertindak berdasarkan keyakinan tersebut memanusiakan diri sendiri dan orang lain, sedangkan kebencian justru menghilangkan sisi kemanusiaan keduanya.

Karena itu, untuk menghilangkan kebencian, seseorang harus menumbuhkan lawannya: belas kasih.

“Belas kasih dan kebencian tidak dapat hidup berdampingan; semakin sering kita melakukan yang satu, semakin sulit bagi kita untuk melakukan yang lain,” kata Stosny.

Belas kasih adalah konsep yang luas, dan setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda tentangnya. Namun secara umum, belas kasih berarti menyadari bahwa manusia memiliki kelemahan dan penderitaan—baik diri sendiri maupun orang lain—sehingga kita mampu memahami dan menunjukkan simpati kepada semua orang.

Banyak orang keliru menganggap belas kasih berarti membenarkan perilaku buruk, kata Stosny.

Padahal, belas kasih bukanlah memaafkan perilaku yang salah, melainkan memahami kesulitan yang mendorong seseorang bertindak buruk.

“Belas kasih mengurangi perilaku buruk, tetapi tidak pernah menoleransi atau membenarkannya—karena perilaku yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan pada akhirnya bersifat merusak diri sendiri,” katanya.

Belas kasih dimulai dari diri sendiri, dan belas kasih terhadap diri sendiri berjalan seiring dengan belas kasih terhadap orang lain.

Ketika seseorang gagal berbelas kasih kepada dirinya sendiri—tidak memahami dan menyembuhkan luka emosionalnya sendiri—ketidaknyamanan itu berubah menjadi kemarahan dan kebencian tersembunyi. Akibatnya, ia mulai menyalahkan orang lain atas rasa sakit yang dialaminya.

Untuk mencegah kemarahan atau kebencian yang belum terselesaikan mengeras menjadi kebencian yang mendalam, Stosny menyarankan agar memperhatikan tanda-tanda peringatan dini berikut:

  • Tidak mampu menoleransi rasa sakit atau ketidaknyamanan emosional.
  • Mengatasi ketidaknyamanan batin dengan menyalahkan orang lain.
  • Tidak mampu melihat sudut pandang yang berbeda.

Russo menekankan pentingnya memutus lingkaran kebencian—menarik otak keluar dari keadaan merasa terancam atau tidak berdaya.

Ia menyarankan untuk memulai dengan membayangkan rasa belas kasih terhadap sesuatu yang mengancam atau membuat Anda tidak nyaman. Kemudian cobalah membongkar cara pandang yang tidak sehat yang memicu kebencian.

Tanyakan pada diri sendiri:

“Baiklah, jika saya merasa benci, berarti saya merasa terancam. Sebenarnya apa yang begitu saya takutkan?”

Pada dasarnya, kebencian berasal dari pola pikir “saya adalah korban”, kata Yashpal Jogdand, seorang psikolog sosial, kepada The Epoch Times.

Mereka yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya korban cenderung mengekspresikan kebencian yang lebih kuat.

Karena itu, penting untuk menyadari bahwa “kedua belah pihak sama-sama pernah menderita.” Kesadaran ini dapat memutus siklus saling menyalahkan dan mengarahkan orang menuju empati.

Ketika kita menerima orang lain sebagai bagian dari diri kita, kata Jogdand, kita mulai melihat “kemanusiaan yang sama” dalam setiap orang di sekitar kita.

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine