83 Orang Tewas Akibat Hujan Lebat di Brasil Selatan, 6 Bendungan Terancam Runtuh Hingga Berdampak pada 850.000 Jiwa

NTD

Negara bagian Rio Grande do Sul di Brasil selatan dilanda hujan lebat dalam beberapa minggu terakhir,  pihak berwenang telah mengeluarkan peringatan bahwa permukaan sungai terus meningkat dan enam bendungan terancam runtuh. Aparat setempat mendesak penduduk untuk mengungsi sesegera mungkin. Sedikitnya 83 orang tewas, 111 orang hilang dan 120.000 orang mengungsi akibat banjir. 

Banjir terbesar dalam sejarah terjadi di Porto Alegre, ibu kota Rio Grande do Sul. Ketinggian air di seberang Sungai Guaíba mencapai 5,19 meter pada Jumat (3/5/2024) melebihi rekor sejarah tahun 1941. Pada 6 Mei, ketinggian air naik menjadi 5,29 meter dan permukaan air terus meningkat.

Pemerintah Negara Bagian Grand River mengeluarkan peringatan pada 5 Mei bahwa enam bendungan berada dalam kondisi darurat dan dapat jebol kapan saja. Salah satu bendungan, yang terletak di antara kota penghasil anggur Bento Gonçalves dan Cotiporã, jebol sebagian tiga hari lalu.

Menurut data dari Departemen Pertahanan Sipil negara bagian Rio Grande do Sul, 345 dari 497 kota di negara bagian Rio Grande do Sul terkena dampak hujan deras. Beberapa sungai mengalami banjir terbesar dalam sejarah yang berdampak terhadap 850.000 jiwa.

Bandara Salgado Filho juga terendam banjir akibat hujan lebat. Pihak bandara mengeluarkan pernyataan pada 6 Mei bahwa keberangkatan dan pendaratan penerbangan akan ditangguhkan hingga 30 Mei.

Pemerintah Brazil menyatakan bahwa gelombang dingin diperkirakan akan melewati Rio Grande do Sul pada 8 Mei dan suhu di beberapa daerah akan turun hingga 10 derajat Celcius yang akan memperburuk kondisi evakuasi dan meningkatkan risiko hipotermia bagi para korban yang menunggu untuk penyelamatan di udara terbuka atau di tengah hujan. Oleh karena itu, sangat penting mempercepat bantuan.

Departemen Perlindungan Sipil Rio Grande do Sul juga memperingatkan bahwa akan terus ada risiko hujan lebat, banjir, hujan es, angin kencang, dan petir di wilayah metropolitan Porto Alegre, Rio Grande do Sul bagian utara dan timur laut.

Hujan mungkin sudah reda untuk sementara waktu, namun banjir terus melanda wilayah selatan. Dampaknya menyebabkan ratusan kota hancur dan menimbulkan kekhawatiran bahwa makanan dan air minum akan segera habis.

Eduardo Leite, gubernur Rio Grande do Sul, mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa situasi serius yang disebabkan oleh banjir di negara bagian tersebut memerlukan penerapan rencana bantuan rekonstruksi yang serupa dengan “Rencana Marshall” pasca-Perang Dunia II .

Leiter mengatakan bahwa korban bencana tidak bisa menjadi korban dari kurangnya bantuan dan birokrasi. “Rencana Marshall” versi Brazil juga perlu melibatkan strategi adaptasi iklim agar negara tersebut mampu bertahan terhadap iklim ekstrim global.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva juga percaya bahwa tindakan dini harus diambil untuk mencegah tragedi tersebut setelah melakukan inspeksi ke lokasi bencana pada 5 Mei. Ia mengatakan pemerintah federal akan membantu memulihkan infrastruktur di negara bagian Rio Grande do Sul dan birokrasi negara bagian tidak akan mempengaruhi upaya rekonstruksi. (Hui)