EtIndonesia. Sejak memasuki musim panas, beberapa provinsi di daratan Tiongkok, termasuk Guangdong, Hubei, Guizhou, dan Henan, dilanda banjir besar secara beruntun. Banyak warga tewas dan jutaan korban terdampak masih menunggu bantuan. Namun, pihak berwenang terus menyembunyikan skala bencana.
Pada Selasa (1 Juli), Kabupaten Xianfeng di Provinsi Hubei kembali diterjang hujan deras yang menyebabkan seluruh kota tergenang dalam semalam. Pemandangan di lokasi bencana sangat memprihatinkan.
“Airnya semakin tinggi, cepat lari! Cepat lari! Cepat lari!,” ujar warga di daerah bencana .
Dari pukul 20.00 pada 30 Juni hingga 1 Juli pukul 08.00 pagi, Kabupaten Xianfeng diguyur hujan deras dengan curah hujan tertinggi mencapai 353,4 mm, memecahkan rekor curah hujan per jam di wilayah tersebut.
Dalam semalam, kota kabupaten berubah menjadi lautan. Menurut laporan, di daerah dataran rendah air mencapai kedalaman 3 hingga 4 meter. Toko-toko di sepanjang jalan terendam, banyak mobil terendam air, bahkan beberapa kendaraan terseret arus banjir.
“Mobil-mobil (semua terseret air), ada satu mobil yang lampunya masih berkedip. Entah masih ada orang di dalam atau tidak,” ujar warga.
Pada hari itu, sekolah diliburkan mendadak, dan seluruh layanan bus umum dihentikan. Warga mengaku belum pernah melihat hujan sebesar ini.
Warga lainnya: “Kami sudah berusia 40 tahun, belum pernah lihat air sebesar ini. Jembatannya saja sampai terputus.”
Hingga pukul 12.00 siang 1 Juli, lebih dari 18.000 orang telah dievakuasi secara darurat. Pemerintah menyatakan tidak ada laporan korban jiwa, namun data resmi ini diragukan kebenarannya. Warga di sekitar Gerbang Selatan Xianyang mengatakan kepada Epoch Times bahwa sepasang suami istri di sebuah perkebunan tewas, dan ada juga korban luka.
Setelah banjir surut, kondisi kota sangat parah—jalanan dipenuhi lumpur tebal, sampah berserakan di mana-mana, dan suasana sangat kacau. Banyak warga meratap karena harta benda hasil kerja keras puluhan tahun lenyap dalam semalam.
Warga: “Lihatlah, rumah kami terendam. Barang-barang saya hilang, terbawa air.”
Sementara itu, Kabupaten Xixia di Kota Nanyang, Provinsi Henan, juga mengalami hujan ekstrem. Dua orang dikabarkan tewas, dan enam lainnya hilang. Jumlah korban sebenarnya masih belum diketahui.
Di tempat lain, Kabupaten Rongjiang dan Leishan di Guizhou juga mengalami serangkaian banjir dan tanah longsor. Banjir bandang menerobos masuk ke dalam bangunan, banyak rumah terseret air, dan jenazah mengapung di jalanan—pemandangan sangat memilukan. Hingga saat ini, pemerintah menyatakan 6 orang tewas, namun warga menuduh pemerintah menyembunyikan fakta.
“Di bawah area parkir supermarket, ditemukan dua jenazah. Situs resmi pemerintah tidak mungkin menyampaikan yang sebenarnya. Ada seseorang bilang, totalnya 13 orang meninggal dan dua orang hilang—orang itu sekarang malah ditahan,” ujar seorang korban banjir bernama Tuan Li.
Warga mengatakan kepada NTD bahwa Kabupaten Rongjiang adalah daerah terdampak terparah, apalagi setelah air bendungan dari hulu dilepaskan tanpa pemberitahuan, menyebabkan seluruh kabupaten terendam. Banyak rumah, mobil, dan tanaman pertanian di desa-desa sekitar tersapu banjir.
Ny. Yang, warga Desa Sankeshu (Tiga Pohon), mengatakan: “Dalam hitungan menit, permukaan Sungai Bala naik hingga lantai dua. Banyak yang terdampak, seluruh wilayah ini sudah terendam. Sapi, kambing, dan babi semuanya hanyut. Tidak ada bantuan, tidak ada pasokan logistik, semuanya kacau. Tidak ada peringatan dini. Kalau kami tahu lebih awal, sempat menyelamatkan barang-barang, pasti tidak separah ini.”
Rekaman video menunjukkan tumpukan lumpur dan sampah menggunung, bau busuk menyengat di mana-mana. Seorang korban di pusat kota Rongjiang mengatakan kepada NTD bahwa banyak warga desa sekitar belum mendapat bantuan hingga kini. Pasokan makanan sangat langka, bahkan makan pun menjadi masalah.
Tuan Wu, warga Desa Baru, berkata:“Semuanya terendam, air naik hampir ke lantai dua. Tembok jebol, perabotan rumah, alat elektronik semuanya tersapu banjir. Ada rumah yang terbawa arus. Sekarang, makan pun jadi masalah.” (Hui/asr)
Laporan wartawan NTD, Tang Rui dan Xiong Bin, dari lokasi bencana di Tiongkok.


