Apakah Kamu Benar-Benar Sudah Memaafkannya?

EtIndonesia. Seorang anak kecil, apakah benar-benar mengerti apa itu “memaafkan”. Tentu saja belum sepenuhnya mengerti. Tapi saya menyadari bahwa dia sedang belajar keras untuk memahami itu.

Misalnya, Xia Tian di sekolah, ada teman-temannya yang pernah mengatakan hal-hal menyakitkan seperti:

“Kamu nggak cantik,” atau “Hari ini baju kamu jelek.”

Ucapannya sederhana, tapi bisa membuat Xia Tian sangat sedih. 

Kadang juga ada teman yang melaporkannya ke guru atas hal-hal yang sebenarnya tidak dia lakukan. Setelah guru mengetahui kejadian sebenarnya, biasanya guru akan menegur si anak dan memberitahunya bahwa berbuat seperti itu tidak baik.

Setelah kejadian-kejadian seperti itu, saya selalu bertanya pada Xia Tian : “Apakah kamu sudah memaafkannya?”

Dia menjawab: “Sudah.”

Lalu saya tanya lagi:  “Kenapa kamu memaafkan dia?”

Xia Tian menjawab dengan jujur: “Karena aku merasa aku sudah nggak apa-apa.”

Dengan kata lain, di dalam hatinya, kejadian itu sudah berlalu, dan si teman sudah meminta maaf padanya.

Namun, saya sering melanjutkan pertanyaan: “Apakah kamu benar-benar memaafkannya, atau kamu memaafkan karena dia sudah minta maaf dan kamu merasa harus memaafkannya?”

Karena begitulah kita—orang dewasa—sering kali bersikap. Kita mungkin masih marah, tapi karena orang itu sudah meminta maaf, kita merasa tidak enak hati kalau tidak memaafkan. Kadang juga karena norma sopan santun, kita “harus” memaafkan—meski dalam hati luka itu masih terasa.

Namun memaafkan yang “terpaksa” sangat berbeda dengan memaafkan yang sejati.

Perasaan kita saat memaafkan karena tekanan sosial tidaklah sama dengan memaafkan karena hati sudah tenang. Orang yang kita maafkan juga akan merasakan perbedaan itu.

Maka saya akan bertanya pada Xia Tian lebih dalam:

“Setelah dia minta maaf, apakah kamu masih sering kepikiran soal itu?”

“Apakah kejadian itu masih berpengaruh dalam hatimu?”

Kami berdiskusi secara serius—meski ia masih anak kecil.

Teman-teman saya bilang : “Kamu gila ya? Ngapain ngomong seberat itu ke anak kecil?”

Tapi saya pikir: Hanya dengan cara seperti ini, dia akan benar-benar belajar apa arti memaafkan.

Jika saya bilang “saya memaafkanmu” saat kamu di depan saya, tapi ketika kamu pergi, saya masih merasa sedih dan sakit hati, maka sebenarnya saya belum benar-benar memaafkanmu.

“Kata ‘maaf’ darimu hanya menyentuh permukaan, tapi tidak menyembuhkan luka yang ada di dalam hati saya.”

Memaafkan yang sejati adalah ketika luka itu sudah sembuh, benar-benar selesai, dan saat saya menatapmu kembali, rasanya sama seperti sebelum luka itu terjadi.

Dan itu… sangat sulit dilakukan.

Hanya mereka yang memiliki cinta yang sangat besar di hatinya yang bisa memaafkan dengan sungguh-sungguh.

Oleh karena itu, saya ingin memberikan cinta sebanyak mungkin untuk Xia Tian—agar kelak dia memiliki kekuatan untuk memaafkan dengan tulus.

Kadang, kita mengira luka itu sudah sembuh, tapi satu kejadian kecil bisa menyentuh titik rapuh yang lama terpendam, dan muncullah kembali rasa sakit itu. Seperti luka lama yang tertanam dalam, menunggu saat tertentu untuk muncul kembali.

Bagaimana cara menyembuhkan luka seperti itu?

Banyak orang bilang : “Waktu akan menyembuhkan segalanya.”

Tapi, bisakah saya mengatakannya seperti itu kepada anak saya yang masih kecil? Tentu tidak. Ia tidak akan mengerti.

Namun saya tahu bahwa saya harus mulai dari sekarang, lewat hal-hal kecil dalam hidupnya,

Mengajarkannya tentang memaafkan, mengajarkannya cara menghadapi luka.

Karena saya yakin, ini akan sangat berarti bagi kehidupannya kelak. Ini adalah proses penting yang harus dilewati dalam hidup setiap manusia.

Banyak orangtua khawatir : 

“Kalau anakku terlalu baik hatinya, nanti pas besar bisa dimanfaatkan orang…”

Tapi saya tidak berpikir begitu. Saya percaya, orangtua tidak perlu khawatir apakah anak akan “dirugikan” atau tidak saat dewasa.

Yang perlu kita khawatirkan adalah:

 Apakah mereka punya keberanian untuk menghadapi luka.

Karena di perjalanan hidup nanti, anak-anak pasti akan terluka—entah karena cinta, pertemanan, atau hal lainnya.

Kita tidak bisa menjamin mereka tidak akan tersakiti. Yang bisa kita lakukan adalah mengajarkan mereka cara menyembuhkan diri sendiri setelah terluka. Itulah yang paling penting.

Sekarang, saya ingin Xia Tian mengalami luka-luka kecil, supaya saat dewasa, dia tahu bagaimana cara menghadapinya dengan bijaksana.

Akan tiba saatnya dia memiliki hidupnya sendiri. Dia akan merasakan pahitnya dikhianati, disakiti oleh orang lain, mungkin patah hati.

Tapi ketika saat itu tiba, saya bisa merasa tenang, karena saya tahu: dia akan berani menghadapinya.Saya tidak peduli apakah dia “akan dirugikan” atau tidak.

Satu-satunya hal yang saya khawatirkan adalah:

Bagaimana nanti dia menghadapi orang-orang yang menyakitinya.

Saya ingin dia tetap bisa bersikap optimis dan positif, tetap mampu memandang orang-orang yang menyakitinya dengan kasih dan kekuatan hati.

Walaupun sekarang dia belum benar-benar mengalaminya, saya harus mempersiapkannya lebih dulu—dan itu berarti mengajarkan dia tentang arti memaafkan.

Saya mengajarkannya semua ini, agar kelak, saat hatinya terluka, dia tahu: Bagaimana memaafkan dengan tulus.

Waktu terluka, tentu dia akan menangis. Tapi setiap orang punya waktu pemulihannya masing-masing.


– Ada yang butuh satu tahun,
– Ada yang satu bulan,

Xia Tian mungkin hanya butuh seminggu.

Bukan karena dia tidak peduli, Tapi karena dia mengerti arti memaafkan, dan karena itu, dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Saya ingin Xia Tian tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara lahir dan batin, Bukan anak yang tumbuh dalam sangkar emas tanpa pernah menyentuh realita.

Hanya dengan mengajarkan anak-anak kita untuk memaafkan dan berani menghadapi luka, barulah kita benar-benar melindungi mereka. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Membangun Nostalgia Hari Ini: Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Anda di Masa Depan?

Perjalanan berkemah tahunan, buku cerita favorit, atau tradisi hari raya dapat menjadi kenangan emosional yang melekat sepanjang masa kanak-kanak. oleh Walker Larson Kata nostalgia berasal dari...

Cara Mengurangi Ketergantungan Anak pada Layar dan Mengajak Mereka Kembali Bermain di Alam Terbuka

Sekarang waktu di depan layar telah menjadi bagian utama masa kanak-kanak bagi jutaan keluarga. Perangkat digital dirancang untuk menarik dan mempertahankan perhatian jauh lebih...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine