EtIndonesia. Hidup ini lumayan panjang, dan jika ada seseorang yang benar-benar memahami dan mendampingi kita menapaki setiap langkah kehidupan, mungkin itulah makna sejati dari pernikahan.
Kenapa kita harus menikah?
Itu adalah pertanyaan yang pernah—atau bahkan masih—kita tanyakan kepada diri sendiri, baik kita sudah menikah atau belum.
Yang sudah menikah, memandang pernikahan yang penuh lika-liku dan bertanya-tanya: apakah ini layak diperjuangkan?
Yang belum menikah, takut dan ragu, mendengar kisah-kisah pernikahan yang gagal, menonton drama, film, video viral, bahkan kisah nyata seperti ibu muda yang mengurus tiga anak di kamar kontrakan kecil—semuanya membuat pernikahan tampak seperti film horor level tinggi.
Tak heran, ketakutan terhadap pernikahan (fear of marriage) sempat menjadi isu yang viral di media sosial.
Tapi… di tengah semua itu, kenapa orangtua kita tetap bersikeras menyuruh kita menikah?
Apa sebenarnya makna dari pernikahan?
Seseorang pernah memberikan jawaban sempurna:
“Pernikahan bukan tentang saling membebani, tapi tentang saling menguatkan. Saat masalah datang, ada tempat untuk berunding. Saat lelah, ada bahu untuk bersandar. Saat pulang kerja, ada yang menyambut di meja makan. Saat tersakiti di luar, ada pelukan hangat di rumah. Aku mengemudi, kamu duduk di kursi penumpang. Kita dengarkan lagu kesukaan, belanja bersama, pulang bawa kantong belanja dan senyuman. Hidup ini panjang, dan kalau ada seseorang yang bisa menemani sampai akhir, mungkin inilah alasan kenapa kita menikah.”
Pernikahan yang Baik: Tentang Kebersamaan yang Tulus
Saya tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi saya selalu merasa haru saat melihat pasangan lanjut usia—yang masih menggandeng tangan ke pasar, berjalan bersama di taman, tertawa satu sama lain meski rambut telah memutih.
Mungkin ada yang berkata: “Dulu pernikahan mereka itu karena dijodohkan, mana ada cinta?”
Tapi kenyataannya, banyak dari mereka justru saling menjaga hingga akhir hayat. Bukan karena tradisi—tapi karena keterikatan batin yang dalam.
Pernah suatu kali saya menonton video TikTok:
Seorang cucu membawa nenek dan kakeknya—yang berusia 100 dan 98 tahun—untuk cek kesehatan.
Saat akan diambil darah, sang kakek melihat jarum suntik dan berkata pelan : “Aku takut.”
Sang nenek langsung menoleh dan berkata ke perawat: “Tunggu sebentar ya. Suamiku takut jarum, dia belum pernah disuntik.”
Lalu dia menutup mata sang kakek dengan lembut agar tak melihat jarum.
Kalimat yang terlintas di benak saya adalah: “Jika sudah menjanjikan cinta, maka habiskan sisa hidup dengan kemurahan hati.”
Pernikahan yang baik bukan hanya untuk tertawa bersama, tapi juga untuk tetap saling menjaga di tengah kesunyian dan rutinitas. Dalam dunia yang besar dan tak pasti ini, semoga cinta dalam pernikahan tetap setia, tetap sederhana, tetap penuh makna.
Pernikahan yang Baik: Saling Meninggikan, Bukan Menjatuhkan
Aktris Tiongkok, Qi Wei, pernah berkata: “Menikah lebih menyenangkan daripada pacaran.”
Sebuah kalimat yang tidak semua orang bisa ucapkan. Banyak orang justru menganggap pernikahan sebagai akhir dari kebahagiaan, awal dari drama.
Namun bagi Qi Wei, pernikahan justru membuat hidup lebih kuat dan lebih damai.
Semua orang tahu bahwa sang suami, Li Chengxuan, pernah menjadi ayah rumah tangga selama beberapa tahun.
Dia rela mundur dari karier demi membantu merawat anak dan mendukung istrinya yang sibuk sebagai artis.
Dia mengerti betapa sulitnya karier sang istri, dan dia bersedia menjadi tiang penyangga keluarga.
Sebaliknya, Qi Wei juga sangat mengerti suaminya. Saat Li Chengxuan sibuk mengikuti program kompetisi dan tidak bisa menemani saat istrinya melahirkan anak kedua, Qi Wei justru berkata: “Fokus saja pada penampilanmu. Kalau tak sempat hadir saat aku melahirkan pun tak masalah.”
Inilah cinta yang saling memahami. Inilah pernikahan yang saling menumbuhkan, bukan menekan. Inilah hubungan yang membuatmu lebih kuat, bukan lebih rapuh.
Jika pernikahan adalah tentang saling mendukung, saling merelakan, dan saling memahami—apa yang masih perlu ditakuti dari sebuah pernikahan?
Pernikahan yang Baik: Adalah Proses Penyembuhan Dua Jiwa
Dalam program reality show “Ayah di Rumah”, pasangan Kuang Sheng dan San San menunjukkan makna pernikahan yang mendalam.
Mereka memulai segalanya dari nol. San San menikah segera setelah lulus kuliah dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
Hidup rumah tangga jelas tidak selalu mudah, tapi yang membedakan mereka adalah: Kuang Sheng benar-benar menghargai setiap pengorbanan istrinya.
Dia ikut acara ini bukan hanya untuk menemani anak, tapi juga untuk lebih mengenal istrinya—dan memahami bagaimana San San mengurus keluarga dengan cinta dan tawa.
Kuang Sheng pernah berkata: “Aku memang tak sempat mengenal masa kecil San San. Tapi anak kami, San Xi, sangat mirip dengannya. Melihat anak kami bermain, marah, atau dimarahi… seolah aku ikut hadir dalam masa kecil istriku.”
Dia sendiri memiliki masa kecil yang kelam, yang dulu sempat membentuk luka batin. Tapi pernikahan—istri dan anak-anak—membantunya perlahan pulih dari luka itu.
San San adalah pribadi ceria. Dia menghidupkan rumah dengan optimisme dan hangatnya semangat.
Dia pernah gagal dalam hubungan sebelumnya, namun kini dia menemukan cinta yang membuatnya merasa aman dan sepenuhnya dihargai.
Mereka tumbuh bersama, saling mengenal lebih dalam, saling memberi dukungan emosional, dan menghadapi setiap ujian hidup bersama.
Jika semua pernikahan seperti ini, mungkin tak akan ada yang takut menikah.
Kesimpulan: Bukan Takut Pernikahan, Tapi Takut Disakiti
Banyak dari kita bukan takut menikah, tapi takut orang yang kita pilih untuk menemani hidup justru tak bisa bertahan menghadapi kesulitan bersama kita.
Padahal seharusnya…
Pernikahan adalah janji suci dari dua orang yang saling mencintai, bukan hasil paksaan atau kejaran omongan orang.
Saya sangat menyukai satu kutipan dari film “The Last Woman Standing”:
“Dia tak boleh menikah hanya karena desakan orangtua, atau karena terlalu banyak bisikan yang menakut-nakuti. Dia harus menikah karena ingin bersama seseorang yang dia cintai seumur hidup. Dia harus tampil dengan bangga, dengan keyakinan penuh, seolah telah memenangkan sesuatu yang paling berharga.”
Bayangkan suatu hari, dia datang membawa seseorang, menunjuk sambil berkata: ‘Ayah, aku sudah menemukannya. Dialah orangnya. Aku tak akan menikah selain dengannya.’
Dia menunjukkan tanda kemenangan dengan tangan, tersenyum bangga. Dan sebagai ayah, aku akan berdiri di sisinya. Karena dalam hidupnya, aku hanya ingin satu hal: ia harus bahagia—yang lain tak bisa diterima.”
Semoga Kita Semua Bertemu dengan Orang Itu
- Orang yang akan menggandeng tangan kita di pasar saat rambut mulai memutih.
- Orang yang akan bilang, “Aku takut”, dan kita menutup matanya dengan lembut.
- Orang yang tak hanya bersedia menikahi kita, tapi juga tumbuh, belajar, dan sembuh bersama kita.
Semoga kita semua hanya mengenal satu bentuk pernikahan:
– Yang penuh cinta, ketulusan, dan saling menemani sampai akhir.
– Karena kita hanya menerima satu nasib dalam hubungan ini:
– Harus bahagia. Yang lain, tidak bisa.(jhn/yn)


