EtIndonesia. Kalimat mana yang paling bikin orang sebal? Menurut sebuah survei di Amerika Serikat, jawabannya adalah—“terserah.”
Dan ternyata, dalam kehidupan sehari-hari, kata “terserah” juga sering membuat suasana jadi tidak nyaman. Tampak sederhana, tapi dampaknya bisa besar.
Empat Arti Tersembunyi di Balik Kata “Terserah”
Secara khusus, kata “terserah” bisa memiliki empat makna berbeda, tergantung konteks dan nada pengucapannya:
1. Tanda penghormatan: Ingin menunjukkan sikap menghargai dan mengikuti pilihan lawan bicara.
2. Ekspresi kejengahan: Sudah lelah atau malas berdebat, maka menyerahkan keputusan agar pembicaraan cepat selesai.
3. Diam-diam tak setuju: Sebenarnya tidak sepakat atau tidak puas, tapi merasa tidak punya daya tawar atau tidak ingin ribut, jadi memilih diam dan menyerah.
4. Menghindari tanggung jawab: Tidak mau berpikir atau tak ingin menanggung akibat dari keputusan, jadi menyuruh orang lain saja yang memutuskan.
Kenapa Banyak Orang Tidak Suka Kata “Terserah”?
Karena masyarakat kita—baik di Timur maupun Barat—menghargai komunikasi yang terbuka, kerja sama tim, dan keberanian menyatakan pendapat.
Seseorang yang sering menjawab “terserah” akan terlihat:
· Tidak punya inisiatif
· Enggan bekerja sama
· Tidak antusias
· Tidak punya pendirian
Baik dalam lingkungan kerja maupun dalam hubungan pribadi, citra seperti ini membuat orang enggan menjalin kedekatan lebih jauh.
Solusi: Ganti “Terserah” dengan Pilihan yang Lebih Elegan
Lalu bagaimana caranya menyerahkan keputusan kepada orang lain, tanpa membuat mereka merasa tidak dihargai?
1. Saat Ditanya Mau Makan Apa:
Jika kamu sedang dijamu dan tuan rumah bertanya: “Kamu mau makan apa?”
Jangan asal jawab: “Terserah.”
Lebih baik jawab dengan sopan:
· “Anda lebih tahu tempat makan di sini, saya ikut saja, pasti enak.”
· Atau kalau dengan keluarga: “Yang penting jangan repot-repot, masakan sederhana pun saya suka.”
· Atau: “Apa pun yang kamu buat, saya pasti suka.”
Ucapan-ucapan seperti itu memberi kesan hangat dan menghargai, tapi tetap memberikan keleluasaan pada pihak lain.
2. Saat Diminta Pendapat atau Ikut Memutuskan:
Misalnya, teman, pasangan, atau rekan kerja bertanya:
· “Menurutmu kita pilih yang mana?”
· “Kamu suka baju yang ini atau itu?”
Kalau kamu memang tidak punya preferensi kuat, kamu tetap bisa jawab dengan cara yang menunjukkan kamu ikut berpikir:
· “Kalau dilihat dari sisi A dan B, kayaknya pilihan pertama lebih masuk akal.”
· “Secara keseluruhan aku suka yang ini, tapi mungkin kamu punya pertimbangan lain juga.”
Kalau bos atau atasan yang bertanya, dan kamu merasa tidak layak memutuskan, kamu bisa jawab:
· “Anda lebih berpengalaman dalam hal ini, saya percaya keputusan Anda pasti yang terbaik.”
3. Saat Punya Pendapat Tapi Tak Ingin Terlalu Menonjol:
Kadang kita punya pendapat sendiri, tapi tak enak hati untuk terlalu menonjolkan. Dalam situasi seperti ini, kamu bisa sampaikan secara halus:
· “Menurut saya, opsi ini cukup baik. Tapi kalau ditambah dengan X, mungkin akan lebih maksimal.”
· “Itu hanya sekadar masukan saya ya. Bisa benar, bisa juga kurang tepat. Silakan dipertimbangkan sesuai kebutuhan.”
Cara seperti ini memberikan opini tanpa terkesan memaksakan, dan tetap menjaga keharmonisan komunikasi.
Penutup
“Terserah” tampak seperti kata yang simpel, tapi bisa menimbulkan jarak, ketidaknyamanan, bahkan salah paham jika digunakan sembarangan.
Jadi, mulai sekarang, mari belajar untuk:
- Lebih terbuka
- Lebih menghargai lawan bicara
- Lebih bertanggung jawab dalam komunikasi
Karena pilihan kata itu penting. Dan setiap kata yang keluar dari mulut kita bisa membangun atau justru meruntuhkan hubungan.(jhn/yn)


