Di tangan Nova Christiana, kota bukan sekadar ruang yang dihuni manusia, melainkan lanskap yang menyimpan memori. Setiap sapuan cat air menjadi upaya merekam cahaya, sejarah, dan nostalgia sebelum semuanya larut oleh waktu.
Nova perupa muda yang memiliki profesi sebagai pengajar dan peneliti ini sangat tertarik dengan suasana kota tua yang menjadi objek lukisan cat airnya. Jalan Kembang Jepun, Jembatan Merah, Songoyudan, hingga Pasar Pabean muncul bukan sebagai dokumentasi arsitektur, melainkan sebagai ruang yang dipenuhi aroma hujan, cahaya senja, dan kenangan masa lampau. Itulah dunia visual Nova Christiana, seorang perupa muda Surabaya yang menjadikan kota sebagai subjek sekaligus saksi perjalanan batinnya.
“Saya suka melukis, hobi saya sejak kecil dan saya terus mengasahnya hingga kini,” tutur Nova yang juga pecinta media The Epoch Times dengan The Epoch Times.

Bagi Nova, melukis bukan tentang menciptakan pemandangan yang indah semata. Ia percaya bahwa setiap tempat memiliki atmosfer yang hanya dapat dipahami ketika seseorang benar-benar hadir, mengamati, dan merasakan denyutnya. Karena itulah sebagian besar karyanya lahir dari praktik on location—melukis langsung di tempat sebagai bentuk dialog dengan ruang dan waktu.
Tembok rumah adalah kanvas pertamanya
Jauh sebelum mengenal galeri dan komunitas seni, Nova adalah anak pendiam yang gemar mencoret dinding rumah. Tembok yang dipenuhi garis-garis itu dibiarkan begitu saja oleh ayahnya hingga bertahun-tahun kemudian. Saat dewasa, ayahnya pernah berkata sambil membersihkan dinding, “Ini pekerjaanmu waktu kecil.”
Kenangan sederhana itu menjadi titik awal kesadarannya bahwa menggambar bukan sekadar hobi. Ia tumbuh menjadi bahasa yang paling jujur untuk mengenali diri sendiri. Dalam wawancara, Nova menyebut melukis sebagai identitas—cara mengekspresikan kegelisahan, perasaan, sekaligus cara berbicara ketika kata-kata terasa tidak cukup.
Perjumpaannya dengan media cat air terjadi saat duduk di bangku SMP. Transparansi warna, sifatnya yang spontan, dan tantangan mengendalikan air membuat Nova jatuh cinta pada medium ini. Sejak itu, ia nyaris tak pernah meninggalkannya.

Ketika kota menjadi subjek utama
Tidak semua pelukis memilih kota sebagai tema utama. Nova justru menemukan keindahan pada bangunan tua, lorong-lorong heritage, pasar tradisional, hingga aktivitas sehari-hari masyarakat urban.
Baginya, arsitektur adalah tubuh yang menyimpan cerita. Sebuah jendela kayu, balkon kolonial, atau jalan sempit di kawasan lama Surabaya memiliki lapisan sejarah yang tak selalu terlihat oleh mata yang tergesa-gesa.
Pandangan itu mencapai bentuk paling matang dalam pameran tunggal Surabaya’s Timeless Aesthetic pada Juni 2024. Sebanyak 16 lukisan cat air menampilkan wajah Surabaya lama—Ampel, Kembang Jepun, Songoyudan, Jembatan Merah, dan kawasan bersejarah lainnya—sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif kota. Dapat dikatakan pameran tersebut sebagai perayaan visual terhadap bangunan-bangunan tua Surabaya, sementara sejumlah kritikus seni menilai karya Nova berhasil membangun suasana nostalgia yang kuat.
Dalam artist statement-nya, Nova menjelaskan bahwa perjalanan menjadi bagian penting dari proses kreatif. Ia merespons arsitektur, situs bersejarah, dan lanskap melalui cahaya serta atmosfer, bukan semata bentuk fisiknya. Setiap perjalanan adalah kesempatan untuk memahami pengalaman sebuah tempat sebelum diterjemahkan menjadi lukisan.
Melukis cahaya, bukan sekadar objek
Salah satu kekuatan karya Nova terletak pada caranya memperlakukan cahaya. Dalam ulasan Harian Disway, tekniknya disebut dekat dengan tradisi plein air dan sketsa impresif. Garis ditarik dengan keyakinan, sementara warna cat air diaplikasikan dalam sapuan yang spontan—karena pada medium ini, setiap olesan nyaris tak bisa diulang.
Pendekatan itu menjadikan lukisannya terasa hidup. Bangunan memang menjadi kerangka visual, tetapi cahaya sore, bayangan pepohonan, kabut pagi, atau keramaian manusia justru menjadi tokoh utamanya.
Nova sendiri mengakui bahwa ia tidak ingin sekadar membuat orang berkata, “Bangunannya mirip.” Yang lebih penting adalah menghadirkan rasa: panasnya jalan kota, lembutnya matahari menjelang senja, atau nostalgia ketika melihat Surabaya yang perlahan berubah.
Seniman yang terus belajar
Menariknya, kehidupan Nova tidak hanya berada di studio. Lulusan Magister Manajemen Universitas Airlangga ini juga berkecimpung dalam dunia riset dan statistik. Dua dunia yang tampak bertolak belakang itu justru membentuk karakternya sebagai seniman: disiplin dalam berpikir, namun peka dalam mengamati.
Ia percaya bahwa seorang pelukis tidak pernah benar-benar selesai menemukan jati dirinya. Gaya, teknik, bahkan tema akan terus berubah seiring pengalaman hidup. Karena itu, Nova menolak mendefinisikan dirinya secara kaku. Baginya, menjadi seniman adalah proses mencari yang tak pernah berakhir.
Perjalanan ke Baduy, Toraja, hingga berbagai kota di Indonesia menjadi bagian dari pencarian tersebut. Di Baduy ia menemukan kualitas cahaya pagi yang berbeda, sementara di Toraja ia terpesona oleh atmosfer budaya yang menghadirkan kematian sebagai bagian dari keindahan hidup. Semua pengalaman itu kelak muncul sebagai seri-seri karya baru yang terus berkembang.
Menjaga ingatan melalui warna
Nama Nova Christiana kini menjadi bagian dari generasi baru perupa Surabaya yang aktif menghidupkan skena seni rupa kota. Selain menggelar pameran tunggal, ia juga terlibat dalam berbagai pameran kelompok serta menjadi administrator Urban Sketchers Surabaya, komunitas yang mendorong praktik menggambar langsung di ruang publik.
Dalam sebuah tulisan reflektif, jurnalis seni Amang Mawardi menyebut karya-karya Nova sebagai “sublimasi keindahan”—lukisan yang tidak berhenti pada realisme ataupun impresionisme, tetapi menghadirkan ruang kota sebagai pengalaman emosional. Ia melihat kemampuan Nova membangun déjà vu sebagai kualitas yang jarang dimiliki perupa muda.
Barangkali di situlah letak kekuatan sesungguhnya dari karya Nova Christiana. Ia tidak berusaha menghentikan perubahan kota, sebab itu mustahil dilakukan. Yang ia lakukan adalah menyelamatkan ingatan: tentang bangunan yang mungkin akan hilang, tentang cahaya yang hanya muncul beberapa menit setiap sore, dan tentang perasaan pulang yang sering kali lahir dari sebuah jalan tua.
Nova juga memiliki perhatian khusus terhadap cara media menyampaikan informasi. Ia mengaku menyukai The Epoch Times karena menurutnya media tersebut tidak mengandalkan judul-judul yang bombastis, melainkan menghadirkan tulisan yang berbobot dan memberi ruang bagi pembaca untuk memahami persoalan secara lebih mendalam. Baginya, cara sebuah media menyampaikan informasi semestinya tidak sekadar mengejar perhatian sesaat, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi pembacanya. Salah satu rubrik yang paling ia sukai adalah geopolitik. Menurut Nova, pembahasan dalam rubrik tersebut dapat menjadi pembanding terhadap pemberitaan media arus utama, sehingga pembaca memiliki sudut pandang yang lebih luas dan tidak terpaku pada satu sumber atau perspektif. Ia melihat pendekatan semacam itu sebagai bentuk jurnalisme yang tidak tergesa-gesa, tidak sensasional, tetapi tetap memiliki kedalaman dan nilai pengetahuan.
“Saya suka The Epoch Times itu pada headline-nya tidak menggunakan judul yang bombastis tapi netral, dengan tulisannya yang berbobot. Yang paling saya suka adalah rubrik geopolitiknya, berbeda dengan yang ditulis media kebanyakan.” Pungkasnya.


