Dari Danau Dongting yang diterangi cahaya bulan dalam puisi Li Bai hingga angin barat yang liar dalam karya Shelley, para penyair selama berabad-abad di berbagai belahan dunia memandang musim gugur sebagai sumber renungan tentang keindahan, kesulitan hidup, kefanaan, dan pembaruan.
Ekuinoks Musim Gugur memiliki tempat khusus di antara 24 istilah matahari (jieqi) Tiongkok. Pada zaman dahulu, baik ekuinoks musim semi maupun ekuinoks musim gugur ditandai dengan upacara-upacara yang megah. Istana kekaisaran bersama ratusan pejabat melakukan perjalanan ke luar ibu kota untuk melaksanakan persembahan seremonial.
Pada musim semi, mereka berdoa agar cuaca mendukung dan musim tanam menghasilkan panen yang melimpah. Pada musim gugur, ritual tersebut menjadi ungkapan syukur atas hasil panen yang berlimpah. Namun, pada tahun-tahun sulit yang ditandai dengan gagal panen dan bencana alam, ritual itu menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi dan pertobatan.
Ekuinoks Musim Gugur terjadi ketika siang dan malam hampir sama panjang. Setelah titik ini, malam secara bertahap menjadi lebih panjang dan siang semakin pendek seiring datangnya musim gugur. Secara tradisional, ekuinoks ini dianggap sebagai pertengahan musim gugur. Peristiwa tersebut membawa udara yang lebih sejuk, perubahan warna alam, dan pemandangan yang telah menginspirasi para penyair selama berabad-abad.
Menemukan keindahan dalam perubahan
Para penyair Tiongkok kuno sangat tertarik pada musim gugur. Bagi mereka, musim ini menghadirkan segala sesuatu, mulai dari keindahan dan ketenangan hingga kesepian, kesulitan hidup, dan pengalaman spiritual yang melampaui duniawi. Namun, ketertarikan terhadap musim gugur tentu tidak hanya dimiliki Tiongkok.
Berabad-abad kemudian, penyair Inggris Percy Bysshe Shelley menggambarkan dahsyatnya angin musim gugur dalam puisinya yang terkenal, Ode to the West Wind (Ode untuk Angin Barat), sementara penyair Amerika Emily Dickinson menangkap suasana musim tersebut dengan penggambaran yang lebih tenang dan intim.
Dalam berbagai zaman, bahasa, dan kebudayaan, musim gugur telah memberi para penyair cara untuk merenungkan alam dan, melalui alam, pengalaman manusia. Untuk memperingati Ekuinoks Musim Gugur, berikut beberapa puisi dari Timur dan Barat yang memberikan gambaran berbeda tentang musim tersebut. Berikut beberapa di antaranya:
Malam Musim Gugur di Danau Dongting
Karya Li Bai (Dinasti Tang)
Malam ini, air Danau Selatan pada musim gugur jernih tanpa kabut,
Betapa ingin rasanya mengikuti arus dan melesat lurus ke langit.
Untuk sementara, izinkan aku meminjam sedikit cahaya bulan dari Danau Dongting,
Lalu membawa perahuku membeli arak di tepi awan putih.
Ode untuk Angin Barat
Karya Percy Bysshe Shelley
Wahai Angin Barat yang liar, napas kehidupan musim gugur,
Engkau yang kehadiranmu tak terlihat menggiring daun-daun mati,
Laksana hantu yang melarikan diri dari sang penyihir,
Kuning, hitam, pucat, dan merah menyala,
Kerumunan yang terserang wabah. Wahai engkau,
Yang membawa benih-benih bersayap menuju tempat peristirahatan musim dingin yang gelap,
Di mana mereka terbaring dingin dan rendah,
Masing-masing seperti mayat di dalam kuburnya, hingga
Saudari birumu, Musim Semi, meniup sangkakala
Di atas bumi yang terlelap dan memenuhi
Lembah dan bukit dengan warna serta aroma kehidupan,
Menghalau kuncup-kuncup manis seperti kawanan domba yang digiring untuk merumput di udara.
Wahai Roh liar yang bergerak di mana-mana,
Penghancur sekaligus pemelihara—dengarkan, oh, dengarkan!
Gubuk Jerami Terkoyak oleh Angin Musim Gugur
Karya Du Fu (Dinasti Tang)
Pada bulan kedelapan, musim gugur tiba dengan angin yang menderu,
Menerbangkan tiga lapis jerami dari atap rumahku.
Jerami itu beterbangan menyeberangi sungai dan berserakan di sepanjang tepian,
Potongan yang tinggi tersangkut di pucuk-pucuk pohon,
Sementara yang rendah berputar-putar jatuh ke parit-parit berlumpur.
Anak-anak desa di sebelah selatan memanfaatkan usia tuaku dan tubuhku yang lemah,
Tanpa belas kasihan bertindak seperti pencuri tepat di depan mataku,
Terang-terangan membawa jerami itu dan berlari menuju rumpun bambu.
Dengan bibir kering dan lidah kelu, teriakanku sama sekali tak berguna,
Aku pulang dengan bertumpu pada tongkat, sambil mengeluh seorang diri.
Tak lama kemudian, angin mereda dan awan berubah segelap tinta,
Langit musim gugur terbentang luas dan muram menjelang senja.
Selimut katunku yang telah digunakan bertahun-tahun terasa sedingin besi,
Anak-anakku yang gelisah menendang lapisan yang robek dalam tidur mereka.
Atap di atas tempat tidur bocor, tak menyisakan satu pun tempat yang tetap kering,
Hujan turun seperti benang rami yang tebal, tak kunjung berhenti.
Sejak peperangan menghancurkan negeri, aku bahkan kekurangan tidur…
Andai saja aku dapat memiliki ribuan rumah besar,
Untuk menaungi semua cendekiawan miskin di seluruh penjuru dunia dengan wajah berseri,
Terlindung dari angin dan hujan, kokoh dan tak tergoyahkan seperti gunung.
Ah! Seandainya aku dapat melihat rumah sebesar itu berdiri di depan mataku,
Meskipun gubukku sendiri hancur dan aku seorang diri mati kedinginan,
Aku akan mati dengan hati yang puas!
Renungan Musim Gugur
Karya Liu Yuxi (Dinasti Tang)
Sejak zaman dahulu, orang-orang meratapi kesunyian dan kesuraman musim gugur,
Namun aku berkata, hari-hari musim gugur lebih indah daripada pagi-pagi di musim semi.
Seekor bangau membubung menembus langit cerah, menerobos awan,
Membawa inspirasi puisiku terbang tinggi menuju angkasa biru.
Di Luar Musim Gugur yang Dinyanyikan Para Penyair
Karya Emily Dickinson
Selain musim gugur yang dinyanyikan para penyair,
Ada beberapa hari yang biasa saja,
Sedikit di sisi ini dari salju,
Dan di sisi sana dari kabut—
Beberapa pagi yang menusuk—
Beberapa petang yang penuh kesahajaan—
Telah berlalu—“Golden Rod” karya Tuan Bryant—
Dan “sheaves” karya Tuan Thomson.
Namun, kesibukan masih terdengar di anak sungai—
Kelopak-kelopak beraroma telah tertutup—
Jari-jari yang memukau dengan lembut menyentuh
Mata banyak peri—
Mungkin seekor tupai masih tersisa—
Untuk berbagi perasaanku—
Anugerahkanlah kepadaku, ya Tuhan, pikiran yang cerah—
Agar sanggup kutanggung kehendak-Mu yang berembus seperti angin!
Sumber : Visiontimes.com


