EtIndonesia. Apakah memuji orang lain bisa memberikan kekuatan? Tentu saja! Saat kamu memuji seseorang, kamu akan menyadari bahwa kamu memiliki potensi tak terbatas untuk menyentuh hati orang di sekitarmu. Cobalah mengubah hidupmu dan hidup orang lain melalui pujian. Angkat jempolmu, dan ucapkan kata-kata yang tepat sasaran menyentuh hati.
Pujian adalah bahasa yang paling mampu menggerakkan hati dalam interaksi sosial. Memberi pujian atau sanjungan adalah “pelumas” yang paling efektif untuk membina hubungan baik. Ini adalah hal yang menguntungkan orang lain tanpa merugikan diri sendiri, bahkan membawa manfaat balik untuk kita. Mengapa tidak melakukannya? Pujian adalah kekuatan pendorong yang luar biasa dan sering kali di luar dugaan.
· Jika kamu seorang politisi — pujian dapat mengurangi permusuhan dan meraih dukungan.
· Jika kamu seorang pebisnis — pujian dapat menambah pelanggan dan meraih keuntungan.
· Jika kamu seorang pemimpin — pujian dapat memotivasi bawahan dan meraih rasa hormat.
· Jika kamu seorang karyawan — pujian dapat memperbaiki lingkungan kerja dan meraih kepercayaan.
· Jika kamu sudah berkeluarga — pujian dapat meningkatkan daya tarik dan meraih kebahagiaan.
· Jika kamu memiliki anak — pujian dapat memberi dorongan dan membangun masa depan mereka.
Sayangnya, banyak orang di Tiongkok tidak terbiasa memuji. Mereka menyimpan pujian di dalam hati dan lebih sering memilih mengkritik dengan alasan “membantu orang lain berkembang”. Padahal, cara pikir ini keliru. Pujian sering kali membawa kemajuan lebih besar dibanding kritik. Dalam dunia bisnis, “pujian” bahkan bisa menjadi bentuk motivasi tanpa biaya.
Sebagai pemimpin, pertama-tama kita harus memahami psikologi bawahan, lalu belajar bagaimana memberi pujian dengan tepat. Ini memang tidak mudah, tapi hasilnya sangat besar. Hukuman hanya menjaga keadaan tetap sama, sedangkan penghargaan mampu memicu inovasi.
Contohnya, seorang mahasiswi di sebuah perusahaan pernah menulis cerita “Malas di Rumah, Rajin di Luar”. Dia mengaku di rumahnya sendiri sering dimarahi ibunya karena setiap pekerjaannya dianggap salah atau kotor. Namun, ketika dia berada di rumah bibi atau tantenya, dia selalu dipuji—meski pekerjaannya sebenarnya belum rapi. Pujian itu membuatnya bersemangat untuk berbuat lebih baik. Hal ini membuktikan bahwa karyawan yang baik sering kali “lahir” dari pujian dan penghargaan, bukan dari kritik.
Budaya Konfusianisme memiliki kelemahan: terlalu gemar mengkritik dan merendah. Kita sering mengulang pepatah “kegagalan adalah ibu dari kesuksesan”. Padahal, dalam dunia modern, “kesuksesan adalah ibu dari kesuksesan” lebih tepat, karena keberhasilanlah yang membangun rasa percaya diri untuk melangkah ke keberhasilan berikutnya.
Menurut pakar manajemen terkenal, Hu Yifu, ada tiga prinsip utama dalam memuji bawahan:
1. Tulus dari hati — pujian yang dibuat-buat atau tidak realistis justru akan berdampak buruk.
2. Fokus pada kelebihan, hindari kelemahan — puji hal-hal positif yang memang dimiliki, jangan sampai pujian justru bernada sindiran.
3. Beri pujian tepat waktu — berikan apresiasi segera setelah seseorang berprestasi, jangan menunda sampai momen itu kehilangan maknanya.
Seperti pepatah lama: “Satu kata baik bisa menghangatkan hati sepanjang musim dingin.” Pujian adalah seni besar yang memiliki kekuatan luar biasa.
Di banyak negara Barat, atasan sering memotivasi bawahannya dengan cara sederhana—menepuk bahu dan mengucapkan : “Good job”, “Well done”, atau “Excellent”. Gaya komunikasi seperti ini mempererat hubungan dan membangun rasa saling percaya.
Pengusaha terkenal Mary Kay pernah berkata: “Ada dua hal yang lebih dibutuhkan manusia dibanding uang dan seks — pengakuan dan pujian.”
Bahkan di Korps Marinir Amerika Serikat, setiap prajurit mengenakan dua pelat kecil: bagian depan bertuliskan “Pujilah aku!”, bagian belakang bertuliskan “Akuilah aku!”. Mereka terus diingatkan: “Kalian adalah yang terbaik! Kalian adalah elite!”—pesan yang membangun kebanggaan dan loyalitas.
Sayangnya, banyak pengusaha di dalam negeri mengabaikan hal ini. Padahal, satu kalimat pujian atau pengakuan dari pimpinan bisa membuat bawahan bersemangat dalam waktu lama, bahkan rela berkorban demi perusahaan. Apalagi di masa ekonomi sulit, kekuatan pujian menjadi jauh lebih berharga.
Contoh lain datang dari Dale Carnegie. Waktu kecil, Carnegie dikenal sebagai “anak nakal” di desanya. Saat ayahnya menikah lagi, dia memperkenalkan Carnegie kepada ibu tiri dengan nada negatif, mengatakan bahwa anak ini adalah “yang terburuk di seluruh daerah”.
Namun, sang ibu tiri memandangnya dengan lembut dan berkata: “Kamu salah. Dia bukan anak terburuk, dia anak paling cerdas dan penuh kreativitas—hanya saja belum menemukan tempat untuk menyalurkannya.”
Kalimat itu mengubah hidup Carnegie, membuatnya termotivasi seumur hidup, hingga menciptakan 28 prinsip emas yang membantu jutaan orang meraih sukses.
Kisah lain datang dari Korea Selatan, di mana seorang petugas kebersihan di sebuah perusahaan besar mempertaruhkan nyawanya melawan pencuri yang hendak membobol brankas kantor. Alasannya sederhana: sang direktur sering memujinya: “Kamu selalu membersihkan lantai dengan sangat baik.” Pujian sederhana ini membuatnya merasa dihargai dan berkomitmen membalas kebaikan perusahaan.
Menurut Hu Yifu, manfaat pujian dalam manajemen mencakup:
1. Membangun rasa percaya diri dan semangat kerja karyawan.
2. Menjamin kualitas kerja dan kelancaran tugas.
3. Menunjukkan kualitas pribadi seorang pemimpin.
4. Meningkatkan wibawa pimpinan.
5. Menciptakan budaya perusahaan yang positif.
Pujian adalah cara paling elegan dalam berinteraksi. Ia membuat pemberinya terlihat lebih bersinar dan penerimanya merasa bahagia. Membiasakan diri untuk memuji akan membuat hidup lebih berwarna, dan menerima pujian akan membuat dunia terasa lebih indah. Saat memuji orang lain, kita juga sedang membangun fondasi kesuksesan hubungan di masa depan.(jhn/yn)


