Kisah-kisah yang Jarang Diketahui dari Kapal Naas Titanic

EtIndonesia. Malam tragis 14 April 1912 akan selamanya tercatat dalam sejarah. Dari 2.207 penumpang dan awak Titanic, hanya 705 orang yang selamat, sementara 1.502 orang meninggal dunia.

Di antara para penyintas, yang berpangkat tertinggi adalah Charles Lightoller, perwira kedua berusia 38 tahun. Dia adalah orang terakhir yang ditarik dari air dingin Atlantik Utara ke perahu penyelamat. 

Dalam memoarnya yang terdiri dari 17 halaman, dia menulis dengan getir: “Sepanjang hidupku, aku tidak akan pernah melupakan malam itu. Kapten memerintahkan: ‘Perempuan dan anak-anak lebih dahulu!’ Tetapi banyak wanita menolak meninggalkan suami atau keluarga. Aku berteriak: ‘Perempuan dan anak-anak, cepat kemari!’ Namun nyaris tak ada yang mau naik ke sekoci sendirian.”

Cinta Abadi Sang Miliarder Astor

John Jacob Astor IV, saat itu orang terkaya di dunia, mengantarkan istrinya yang sedang hamil lima bulan naik ke sekoci nomor 4. Dia sendiri tetap berdiri di geladak, menyalakan cerutu, menggenggam anjing kesayangannya, dan melambaikan tangan sambil berteriak ke arah istrinya yang menjauh: “Aku mencintaimu!”

Ketika seorang perwira menawarkan kursi untuknya, dia menolak keras: “Aku lebih suka tetap dengan prinsip awal: lindungi wanita dan anak-anak!”

Dia bahkan memberikan satu-satunya kursi kosong kepada seorang wanita miskin dari kelas tiga. Beberapa hari kemudian, jasad Astor ditemukan, kepalanya hancur akibat tertimpa cerobong kapal. Kekayaannya mampu membangun belasan Titanic, namun dia menolak semua alasan untuk menyelamatkan diri. Dia memilih mati dengan kehormatan.

Guggenheim: “Aku Akan Mati sebagai Seorang Gentleman”

Benjamin Guggenheim, bankir besar asal Amerika, mengenakan pakaian malam paling mewahnya dan berkata: “Aku ingin mati dengan terhormat, sebagai seorang gentleman.”

Dalam pesan terakhir untuk istrinya, dia menulis: “Tak seorang wanita pun akan tertinggal di geladak ini karena aku mengambil tempatnya. Aku tidak akan mati seperti binatang. Aku akan mati sebagai pria sejati.”

Kisah Pasangan Strauss

Isidor Strauss, pendiri Macy’s dan orang terkaya kedua di dunia kala itu, didesak awak kapal untuk naik ke sekoci karena usianya yang lanjut. Tetapi dia menolak: “Aku tidak akan naik sebelum pria lain diselamatkan lebih dulu.”

Istrinya, Rosalie, juga menolak naik meski dibujuk berkali-kali. Dia hanya berkata dengan tenang: “Bertahun-tahun aku selalu bersamamu, ke mana pun kamu pergi, aku ikut. Kini aku pun akan menemanimu.”

Keduanya lalu bergandengan tangan, berjalan ke kursi rotan di geladak, dan duduk menunggu ajal bersama.

 Di New York, sebuah monumen didirikan untuk mengenang cinta mereka, dengan ukiran:  “Tak ada lautan yang mampu menenggelamkan cinta.”

Seorang Ayah Prancis yang Rela Berkorban

Seorang pedagang asal Prancis bernama Navratil memasukkan dua putranya ke sekoci, menitipkan mereka pada beberapa wanita agar dijaga. Dia sendiri menolak naik. Kedua anak itu selamat, fotonya tersebar luas hingga akhirnya sang ibu mengenali mereka. Namun ayah mereka selamanya hilang di lautan.

Cinta Pengantin Baru & Pengorbanan Seorang Ibu

Seorang pengantin baru bernama Mrs. Ryerson menolak meninggalkan suaminya. Sang suami terpaksa memukulnya hingga pingsan, lalu menaruhnya di sekoci. Dia selamat, namun sepanjang hidupnya tidak pernah menikah lagi, mengenang suaminya yang gugur.

Ada juga seorang ibu yang tanpa nama, sudah duduk di sekoci, tetapi melihat seorang wanita lain tak bisa ikut karena anak-anaknya masih di atas kapal. Dia bangkit, mendorong wanita itu masuk sambil berkata: “Naiklah! Anak-anakmu butuh ibunya!”

Dia sendiri tetap tinggal di kapal. Hingga kini, di Lausanne, Swiss, berdiri monumen untuk “Ibu Tak Bernama” itu.

Para Pahlawan yang Tak Terselamatkan

Selain para miliarder, banyak tokoh terkenal lain turut tenggelam:

·        John Jacob Astor – taipan dunia

·        Benjamin Guggenheim – bankir

·        Isidor Strauss – pendiri Macy’s

·        William Stead – jurnalis senior

·        Mayor Archibald Butt – perwira artileri

·        Thomas Andrews – insinyur kapal

Mereka semua memilih menyerahkan kursi penyelamatan untuk wanita miskin dari kelas bawah.

Lebih dari 50 pejabat senior Titanic tetap di pos mereka hingga akhir. Hanya Lightoller, perwira kedua, yang selamat. Radio operator John Phillips tetap mengetuk kode SOS hingga kapal tenggelam.

Kata Terakhir di Tengah Kematian

Saat kapal raksasa itu pecah dan tenggelam perlahan, pekikan terakhir yang terdengar bukanlah jeritan panik, melainkan suara orang-orang yang saling berteriak: “Aku mencintaimu!”

Pada detik-detik terakhir, bahkan di hadapan maut, manusia memilih untuk mengekspresikan hal paling murni: cinta. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Cara Memaksimalkan Liburan Anda

Liburan terbaik adalah liburan yang memberi Anda kenangan bahagia yang bertahan lama, meskipun diwarnai berbagai tantangan. Oleh Mike Donghia Liburan biasanya tidak datang sesering yang kita...

Ketahui Jalan Kehidupan yang Dapat Menyelamatkan Anda dari Kesalahan yang Memakan Waktu Puluhan Tahun

Sebagian besar jalan memutar dalam hidup bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan oleh kesalahan penilaian kecil yang dilakukan berulang kali.  Apa yang akan dibahas berikut...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine