Gaza di Ujung Perubahan: 8 Negara Muslim Kompak Dukung Rencana Perdamaian Trump

EtIndonesia. Upaya perdamaian di Gaza memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan rencana perdamaian 20 poin yang ditujukan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.

Rencana yang diumumkan pada Senin, 29 September 2025, ini segera menuai dukungan internasional, terutama dari delapan negara mayoritas Muslim: Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Mesir. Dukungan juga datang dari negara-negara besar di Eropa, termasuk Prancis, Inggris, Jerman, dan Italia, yang menilai proposal tersebut sebagai langkah penting menuju stabilitas kawasan.

Isi Utama Rencana 20 Poin

Rencana yang disusun Trump mencakup sejumlah poin penting, di antaranya:

  • Penghentian penuh pertempuran antara Israel dan kelompok Hamas.
  • Larangan pengusiran paksa terhadap warga sipil Palestina.
  • Program rekonstruksi besar-besaran untuk membangun kembali infrastruktur Gaza yang hancur akibat perang.
  • Penolakan tegas terhadap aneksasi Tepi Barat oleh Israel.
  • Pembentukan badan transisi sementara untuk mengawasi proses perdamaian, yang diusulkan akan dipimpin langsung oleh Trump, dengan melibatkan tokoh internasional termasuk mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.

Reaksi Beragam Pihak

Meskipun dukungan internasional mengalir deras, Hamas hingga saat ini belum mengeluarkan tanggapan resmi terhadap proposal tersebut.

Trump memberikan peringatan keras: jika Hamas menolak rencana perdamaian ini, maka dia akan mendukung Israel untuk melanjutkan operasi militer hingga kelompok tersebut “hancur total”.

Sementara itu, Israel belum memberikan komentar resmi mengenai keterlibatannya dalam badan transisi, tetapi sumber diplomatik menyebutkan bahwa Tel Aviv menyambut baik tekanan internasional yang diarahkan kepada Hamas.

Dukungan dan Tantangan

Para analis menilai, keterlibatan delapan negara Muslim besar menandakan adanya dukungan regional yang kuat bagi tercapainya gencatan senjata permanen. Dukungan dari Eropa juga memperkuat legitimasi internasional dari proposal ini.

Namun, tantangan utama tetap ada pada posisi Hamas dan Israel yang masih penuh kecurigaan satu sama lain. Banyak pihak menilai, tanpa kesediaan kedua belah pihak untuk berkompromi, rencana sebesar apa pun akan sulit diwujudkan.

Harapan Baru untuk Gaza

Masyarakat internasional kini menunggu langkah selanjutnya: apakah Hamas akan menerima atau menolak proposal ini. Jika diterima, Gaza berpotensi memasuki era rekonstruksi dan perdamaian baru dengan dukungan dana internasional. Jika ditolak, eskalasi militer berisiko kembali meningkat.

Seorang diplomat Eropa yang enggan disebut namanya menyebut rencana ini sebagai “cahaya perdamaian pertama setelah bertahun-tahun konflik di Gaza”.

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine