Kasus “anak liar” di Yunnan, Tiongkok terus memicu perhatian dan kemarahan luas di seluruh daratan Tiongkok, sementara otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) tetap bungkam. Melalui penyelidikan para warganet, terungkap bahwa dalang utama yang dikenal sebagai “Guoba” memiliki akun media sosial di luar negeri. Konten di akun tersebut menunjukkan dugaan keterlibatannya dalam perdagangan dan penyiksaan anak lintas negara.
EtIndonesia. Pada 27 Oktober, warganet daratan Tiongkok menemukan bahwa si dalang, influencer TikTok bernama “Guoba”, memiliki akun di platform luar negeri seperti Instagram dan Twitter dengan nama pengguna “Real.DR.Phil”.
Nama lengkapnya adalah “Real Doctor pedophile”, yang jika diterjemahkan ke bahasa Mandarin berarti “Doktor Pedofil Sejati”. Warganet menjelaskan bahwa dalam bahasa Inggris, “Phil” merupakan singkatan dari “pedophile”, yang berarti pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak.

Isi akun tersebut menampilkan kalimat “Sell the kids for food” (jual anak untuk makanan). Akun itu juga menunjukkan bahwa lokasi transaksi sebelumnya adalah di Guiyang dan kini berpindah ke Yunnan. Transaksi disebut menggunakan istilah sandi seperti “hamburger”, “pizza”, dan “produk”, yang diduga merupakan kode untuk perdagangan anak.

Salah satu akun bernama “guiyang.bites” menganjurkan banyak orang asing untuk menghubungi “Leon-GR” guna memesan “hamburger”. “Leon” sendiri merupakan nama akun TikTok “Guoba”. Nama “Leon” diambil dari karakter film Barat yang dikaitkan dengan kecenderungan pedofilia.

Warganet menganalisis bahwa “guiyang.bites” kemungkinan adalah salah satu pembeli dari akun “Real.DR.Phil”. Pengikut akun “guiyang.bites” sebagian besar berada di Guiyang, banyak di antaranya bekerja di bidang pendidikan anak, dan beberapa terkait dengan komunitas “LGBT”.

Selain itu, ditemukan bahwa “Guoba” kerap mengunggah foto dirinya dengan wajah dicat putih dan lingkar mata hitam, menyerupai badut panda. Anak-anak “liar” yang ditemukan di area layanan jalan tol Sichuan juga tampak dengan riasan serupa. Warganet menunjukkan bahwa kata “panda” terdengar mirip dengan “pedo”, singkatan informal dari “pedophile”.
Informasi lain menunjukkan bahwa nama awal akun TikTok “Guoba” adalah “Saya makan anak-anak”. Ia juga diketahui memperoleh SIM Korea Selatan. Beberapa orang berspekulasi bahwa ia melakukannya untuk menghindari pengawasan lalu lintas dan mempermudah pengiriman “barang rahasia” (kemungkinan anak-anak yang diselundupkan lintas negara).

Setelah kasus ini menarik perhatian publik, “Guoba” tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap tudingan yang beredar. Sebaliknya, ia dengan cepat menghapus semua videonya dan mengubah akunnya menjadi privat. Akun “Real.DR.Phil” serta sejumlah akun asing yang mengikuti dan berinteraksi dengannya juga segera ditutup.

Menurut informasi di internet, sejak tahun 2019 telah ditemukan sejumlah anak telanjang merangkak di berbagai tempat, namun asal-usul mereka tidak diketahui.

Warganet berpendapat bahwa karena negara-negara Barat menindak tegas kejahatan terhadap anak, sebagian pelaku dari luar negeri pindah ke Tiongkok dan menyamar sebagai guru asing untuk menyakiti anak-anak di sana. Karena lemahnya penegakan hukum dan ketidakpedulian rezim PKT — bahkan diduga ada pejabat yang memperoleh keuntungan dari praktek ini — kejahatan tersebut bisa berlangsung selama bertahun-tahun tanpa hukuman.

“Sebagai manusia, kita tidak bisa diam. Ini adalah kejahatan yang menentang masyarakat dan kemanusiaan. Mereka menyiksa anak-anak demi uang! Bagaimana bisa disebut pendidikan yang normal? Apakah orang tua yang memakan anak-anak mereka sendiri juga disebut wajar? Mereka itu bukan manusia — mereka binatang, sampah masyarakat, dan musuh kemanusiaan,” tulis seorang warganet. (Hui/asr)
Laporan oleh Li Li / Editor: Lin Qing – NTDTV.com


