Riset Terbaru: Kemampuan Ini Diduga Dapat Memperlambat Penuaan Otak

EtIndonesia. Selama bertahun-tahun, berbagai penelitian telah mengisyaratkan bahwa menguasai setidaknya dua bahasa dapat membantu memperlambat penuaan otak. Namun riset-riset sebelumnya umumnya hanya berfokus pada kelompok kecil, terutama pasien klinis. Akibatnya, hasil penelitian sering kali tidak konsisten dan sulit diterapkan pada populasi yang sehat.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Dr. Lucía Amoruso dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián, Spanyol, bersama tim ilmuwan dari Spanyol, Chili, Kolombia, Argentina, Venezuela, Turki, dan Amerika Serikat — total 20 peneliti — melakukan studi besar terhadap 86.149 partisipan dari 27 negara Eropa.

Penelitian ini dipublikasikan awal bulan ini di jurnal Nature Aging dengan judul: “Multilingualism Helps Delay Aging: A Study Across 27 European Countries.”


Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Tim peneliti menggunakan metode khusus yang mereka kembangkan sendiri, yakni biobehavioral age gap — sebuah pendekatan yang mengukur selisih antara usia biologis dan usia perilaku seseorang.

Penelitian ini juga memperhitungkan faktor-faktor:

Faktor positif (memperlambat penuaan)

  • Kemampuan kognitif
  • Pendidikan
  • Kemampuan fungsional

Faktor negatif (mempercepat penuaan)

  • Penyakit jantung dan metabolik
  • Jenis kelamin
  • Gangguan sensorik

Dengan metode ini, peneliti dapat menilai apakah penggunaan banyak bahasa mampu memperlambat proses penuaan, terlepas dari kondisi kesehatan atau sosial lainnya.


Hasil Utama: Multilingual = Otak Lebih Muda

Hasil penelitian menunjukkan:

  • Menguasai lebih dari satu bahasa secara konsisten terkait dengan proses penuaan otak yang lebih lambat, baik dalam analisis horizontal (lintas populasi) maupun longitudinal (pengamatan jangka panjang).
  • Hanya menguasai satu bahasa justru berkaitan dengan risiko penuaan otak yang lebih cepat.
  • Efek perlindungan ini tetap ada, bahkan setelah mengontrol faktor eksternal seperti lingkungan bahasa, kesehatan fisik, kondisi sosial, hingga iklim politik.

Salah satu penulis penelitian, Dr. Agustín Ibáñez, ahli saraf dari Trinity College Dublin, mengatakan:

“Setiap tambahan satu bahasa memberikan perlindungan yang dapat diukur terhadap penuaan otak.
Ini sinyal kuat bahwa aktivitas mental sehari-hari — seperti menggunakan banyak bahasa — dapat memengaruhi kecepatan tubuh menua.
Berbicara banyak bahasa terus-menerus melatih banyak sistem dalam otak: mengelola perhatian, menahan gangguan, berpindah aturan antarbahasa. Aktivitas ini memperkuat area-area yang biasanya melemah seiring bertambahnya usia.”


Kesimpulan: Belajar Bahasa = Investasi Kesehatan Otak

Penelitian ini bukan hanya menekankan manfaat bilingual atau multilingual dalam melindungi fungsi kognitif, tetapi juga memberikan dasar ilmiah untuk mendorong masyarakat di seluruh dunia agar menguasai setidaknya dua bahasa.

Jadi, kalau kamu sudah mulai terpikir untuk membuka kembali buku pelajaran bahasa di sekolah dulu —  ini saatnya memulai! (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine