EtIndonesia. Pada awal Januari 2026, dunia dikejutkan oleh sebuah operasi militer lintas negara yang dinilai sebagai salah satu aksi paling presisi dan paling berani dalam sejarah operasi khusus modern Amerika Serikat. Operasi ini berujung pada penangkapan hidup-hidup Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, hanya dalam hitungan jam, tanpa satu pun korban jiwa di pihak Amerika Serikat.
Pidato Provokatif dan “Hadiah Tahun Baru”
Dalam beberapa pekan menjelang pergantian tahun, Nicolás Maduro secara terbuka terus menyampaikan pidato nasional bernada konfrontatif. Dia berulang kali melontarkan tantangan langsung kepada Amerika Serikat, seolah ingin menunjukkan bahwa rezimnya tidak tersentuh dan tetap kokoh.
Namun, alih-alih mundur, Amerika Serikat justru menanggapi provokasi tersebut dengan tindakan nyata. Pada dini hari tanggal 3 Januari 2026, militer AS melancarkan sebuah operasi khusus bersandi “Absolute Resolve”—sebuah operasi kilat yang langsung mengubah peta politik Venezuela dan mengguncang tatanan geopolitik kawasan Amerika Latin.
Penangkapan Kilat di Tengah Malam
Dalam waktu hanya beberapa jam sejak operasi dimulai, militer Amerika Serikat berhasil menangkap Nicolás Maduro hidup-hidup di wilayah Caracas. Penangkapan ini secara de facto mengakhiri kekuasaan seorang pemimpin yang selama bertahun-tahun memegang kendali penuh atas militer, aparat keamanan, dan struktur negara Venezuela.
Pada malam hari tanggal 3 Januari 2026, pesawat yang membawa Maduro mendarat di Bandara Stewart, kawasan pinggiran Kota New York. Bandara ini merupakan fasilitas sipil-militer, yang berlokasi sangat dekat dengan United States Military Academy at West Point, akademi militer paling bergengsi di dunia.
Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan Maduro dikawal ketat oleh puluhan personel militer AS, sebelum dibawa masuk ke dalam gedung bandara dengan pengamanan berlapis.
Pertemuan Terakhir dengan Utusan Tiongkok
Salah satu detail paling mencolok adalah waktu penangkapan yang sangat berdekatan dengan agenda diplomatik Maduro. Hanya beberapa jam sebelum ditangkap, Maduro diketahui baru saja bertemu dengan Qiu Xiaoqi, utusan khusus Tiongkok untuk urusan Amerika Latin.
Qiu Xiaoqi dikenal sebagai pakar kebijakan kawasan Amerika Latin di lingkaran Partai Komunis Tiongkok, serta pernah menjabat sebagai duta besar di Brasil dan Meksiko. Pertemuan tersebut sontak memicu spekulasi luas, terutama karena tak lama setelahnya, Amerika Serikat langsung mengeksekusi operasi penangkapan.
Operasi yang Dirancang Bertahun-tahun
Dalam konferensi pers pada 3 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine membeberkan sebagian detail operasi tersebut.
Fakta yang terungkap menunjukkan bahwa operasi ini bukan keputusan mendadak. Sejak Agustus 2025, CIA telah aktif beroperasi di Venezuela. Melalui jaringan informan berlapis, Amerika Serikat menguasai detail kehidupan Maduro secara menyeluruh—mulai dari rutinitas harian, kebiasaan pribadi, hingga lokasi real-time keberadaannya.
Menurut laporan Reuters, Amerika bahkan memiliki informan inti yang sangat dekat dengan lingkaran Maduro, sehingga posisi sang presiden dapat diketahui secara akurat setiap saat. Informasi ini menjadi krusial karena keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan waktu eksekusi yang tepat.
Simulasi Rumah Maduro dan Latihan Delta Force
Secara paralel, militer AS membangun fasilitas latihan khusus di dalam negeri yang dibuat menyerupai kediaman Maduro secara detail. Di lokasi inilah pasukan elite Delta Force berlatih berulang kali, mensimulasikan berbagai skenario penangkapan.
Sejak awal Desember 2025, operasi ini sejatinya sudah siap dieksekusi kapan saja. Namun Presiden Trump masih membuka jalur negosiasi. Maduro ditawari opsi mundur secara sukarela dan diizinkan meninggalkan Venezuela dengan aman. Tawaran itu ditolak. Dalam negosiasi, Maduro justru terus menaikkan tuntutan—sebuah keputusan yang kemudian terbukti fatal.
Jam-jam Penentuan: 2–3 Januari 2026
Selama 10 hari antara Natal hingga Tahun Baru, militer AS terus memantau kondisi cuaca. Akhirnya, pada malam 2 Januari 2026, cuaca dinilai ideal.
Pada pukul 22.46 waktu setempat, Presiden Trump mengeluarkan perintah resmi penangkapan. Dalam waktu satu jam, sekitar 150 pesawat tempur AS lepas landas dari 20 titik pangkalan di kawasan Karibia, bergerak menuju Venezuela.
Armada tersebut mencakup:
- F-22 Raptor (dominasi udara)
- F-35 dan F/A-18 Super Hornet (serangan darat presisi)
- EA-18 Growler (peperangan elektronik)
- Drone siluman RQ-170 untuk pengintaian
Serangan Udara dan Lumpuhnya Pertahanan Venezuela
Sekitar pukul 02.00 dini hari waktu Caracas, Angkatan Udara AS mulai melancarkan serangan. Fokus awal adalah SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses) untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela.
Target utama meliputi:
- Pelabuhan La Guaira
- Pangkalan Udara La Carlota
- Kompleks militer Fuerte Tiuna
- Instalasi radar pegunungan
Sistem pertahanan udara Rusia Buk dan S-300V milik Venezuela dihancurkan total. Ledakan beruntun menerangi langit malam Caracas, sementara sistem radar dan komando musuh lumpuh sepenuhnya.
Pendaratan Helikopter dan Penangkapan Maduro
Dengan pertahanan udara runtuh, helikopter militer AS terbang rendah—sekitar 100 kaki dari permukaan tanah—tanpa terdeteksi. Operasi udara ini dijalankan oleh Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 “Night Stalkers”.
Pasukan Delta Force mendarat di dekat kediaman Maduro. Meski sempat terjadi tembakan sporadis, tidak ada korban di pihak AS. Tim penyerbu langsung membagi tugas: satu tim mengamankan perimeter, satu tim masuk ke dalam bangunan.
Maduro diketahui memiliki bunker baja berat, namun senjata pemotong termal yang disiapkan AS tidak perlu digunakan. Operasi berlangsung terlalu cepat. Maduro dilaporkan ditangkap di kamar tidurnya, hampir tanpa perlawanan.
Evakuasi dan Akhir Operasi
Pada pukul 03 : 26 dini hari waktu AS Timur, pasukan AS beserta Maduro berhasil dievakuasi dan mendarat dengan selamat di kapal serbu amfibi USS Iwo Jima di Laut Karibia.
Total durasi operasi: 4 jam 40 menit.
Reaksi dan Dampak
Militer Venezuela nyaris lumpuh total. Kendaraan lapis baja baru terlihat bergerak setelah matahari terbit. Beberapa pesawat tempur bahkan baru lepas landas saat presidennya sudah berada dalam tahanan Amerika.
Sebaliknya, rakyat Venezuela turun ke jalan. Mereka mengibarkan bendera nasional, bernyanyi, dan merayakan runtuhnya rezim Maduro—sebuah pemandangan yang mencerminkan kelelahan panjang akibat krisis ekonomi, hiperinflasi, dan represi politik.
Kesimpulan
Operasi “Tekad Teguh” dinilai sebagai puncak kemampuan operasi khusus modern Amerika Serikat—bahkan disebut lebih kompleks daripada operasi penangkapan Osama bin Laden, dan lebih bersih dari Operasi Panama.
Tanpa korban jiwa, dengan presisi nyaris sempurna, operasi ini kemungkinan besar akan dicatat dalam sejarah sebagai contoh klasik peperangan khusus abad ke-21—sebuah demonstrasi kekuatan yang tidak hanya menjatuhkan seorang pemimpin, tetapi juga mengubah arah sejarah sebuah negara.


