Iran Nyaris Runtuh, Tapi Perang Tak Berhenti: Siapa yang Sebenarnya Menarik Benang?

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat seiring melonjaknya harga minyak dunia yang kini mencapai 117 dolar AS per barel, mendekati rekor kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah modern. Lonjakan ini mulai berdampak langsung pada berbagai negara, termasuk Korea Selatan yang telah memberlakukan pembatasan penggunaan kendaraan bagi pegawai negeri, dengan kemungkinan perluasan ke seluruh masyarakat jika harga terus naik.

Di tengah krisis ini, situasi semakin memburuk setelah jalur pipa alternatif terakhir yang memungkinkan ekspor minyak Timur Tengah tanpa melalui Selat Hormuz dilaporkan hancur, untuk pertama kalinya sejak Perang Teluk 1991. Pada saat yang sama, sebuah kapal pesiar asal Kuwait terbakar hebat di perairan dekat Dubai, mempertegas eskalasi konflik yang semakin tidak terkendali.

Iran Terdesak, Tapi Perang Tak Kunjung Berakhir

Memasuki hari ke-31 konflik (per akhir Maret 2026), berbagai laporan menunjukkan bahwa sekitar 80% kekuatan militer Iran telah lumpuh. Sistem komando militer mengalami kerusakan serius, bahkan Presiden Iran sendiri mengakui bahwa ekonomi negaranya berpotensi runtuh dalam waktu tiga minggu.

Secara logika militer, kondisi ini seharusnya mendorong Iran untuk menyerah. Namun kenyataannya, pertempuran justru terus berlanjut.

Sejumlah analis mulai mempertanyakan: apa yang membuat Iran tetap bertahan?

Dugaan “Dua Wajah” Beijing: Diplomasi di Depan, Dukungan Militer di Belakang

Akademisi Tiongkok di pengasingan, Yuan Hongbing, mengungkapkan bahwa berdasarkan sumber internal Partai Komunis Tiongkok (PKT), terdapat strategi ganda yang dijalankan oleh Beijing.

Di satu sisi, Presiden Tiongkok, Xi Jinping disebut mendorong perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran melalui Pakistan, guna memperoleh citra sebagai mediator global.

Namun di sisi lain, Beijing diduga secara diam-diam menyalurkan bantuan militer kepada Garda Revolusi Iran melalui dua jalur utama:

  • Jalur laut: melalui Rusia dan Laut Kaspia
  • Jalur darat: melalui Pakistan

Peran Pakistan menjadi krusial dalam dinamika ini. Negara tersebut tidak hanya menjadi tuan rumah perundingan, tetapi juga terlibat dalam pergerakan diplomatik intensif, termasuk kunjungan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir ke Islamabad, serta rencana perjalanan pejabat Pakistan ke Beijing.

Situasi ini menimbulkan dugaan bahwa Pakistan memainkan dua peran sekaligus: sebagai mediator perdamaian dan sebagai jalur logistik strategis.

Infiltrasi Intelijen: Garda Revolusi Diduga Dipengaruhi Agen Asing

Pengungkapan lain yang lebih mengejutkan adalah dugaan bahwa selama bertahun-tahun, PKT telah menyusupkan tenaga teknis ke dalam Garda Revolusi Iran.

Secara resmi mereka berstatus “penasihat teknis”, namun disebut-sebut berperan sebagai agen intelijen.

Dalam kondisi saat ini—ketika struktur komando Iran melemah—para agen tersebut diduga memberikan dorongan langsung kepada perwira tingkat menengah dan bawah untuk terus bertempur, dengan janji dukungan politik dari Tiongkok di masa depan.

Jika informasi ini akurat, maka konflik ini tidak lagi semata-mata perang Iran, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang lebih besar.

Gelombang Pembelotan di Dalam Negeri Iran

Di sisi internal, tanda-tanda keretakan semakin terlihat. Sebuah video yang viral memperlihatkan seorang warga Iran menyerukan kepada Presiden AS, Donald Trump agar tidak berkompromi, dengan alasan:

  • 80% kekuatan militer Iran telah hancur
  • Banyak pejabat dan tentara mulai membelot
  • Dukungan terhadap rezim semakin melemah

Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pemerintah Iran tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam negeri.

Serangan terhadap Infrastruktur Energi Picu Krisis Global

Dalam beberapa hari terakhir (akhir Maret 2026), Iran meningkatkan intensitas serangan terhadap infrastruktur strategis.

Salah satu target utama adalah pipa minyak Habshan–Fujairah, jalur vital yang memungkinkan Uni Emirat Arab mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Data satelit NASA menunjukkan terjadinya kebakaran besar di dua stasiun pompa utama.

Pada hari yang sama, sebuah kapal pesiar Kuwait yang hendak menuju Qingdao juga diserang di dekat Dubai.

Dalam kurun satu minggu, ini merupakan serangan ketiga terhadap target yang berkaitan dengan Tiongkok, memperkuat pesan bahwa Iran berupaya memblokade semua jalur alternatif distribusi energi.

Negara Teluk Berbalik, Minta Intervensi Militer AS

Perubahan besar terjadi di kawasan Teluk. Menurut laporan Associated Press, dalam pertemuan tertutup:

  • Uni Emirat Arab meminta AS mengirim pasukan darat ke Iran
  • Kuwait dan Bahrain menyatakan dukungan

Seorang pejabat UEA bahkan menyatakan bahwa tidak mungkin lagi hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini.

Ini menandai pergeseran signifikan, di mana negara-negara yang sebelumnya cenderung menjaga keseimbangan kini secara terbuka mendukung langkah militer Amerika.

Strategi Ganda Trump: Negosiasi dan Ancaman Total

Respons Amerika Serikat terbagi dalam dua jalur:

1. Pendekatan Diplomatik

Washington dikabarkan tengah berkomunikasi dengan “pemerintahan baru yang lebih rasional” di Iran, mengindikasikan adanya kontak dengan faksi internal yang berseberangan.

2. Ancaman Militer

Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz, maka AS akan:

  • Menghancurkan pembangkit listrik
  • Melumpuhkan fasilitas energi
  • Menargetkan instalasi air (desalinasi)

Pesan yang disampaikan sangat tegas: setiap gangguan terhadap energi global akan dibalas dengan penghancuran total infrastruktur Iran.

Serangan ke Teheran dan Isfahan Menguat, Indikasi Invasi Darat

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat, khususnya di:

  • Teheran
  • Isfahan (lokasi fasilitas strategis)

Kebakaran besar dilaporkan terjadi, dengan langit malam berubah menjadi merah akibat kobaran api.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada 30 Maret 2026 menyatakan bahwa tujuan perang dapat tercapai dalam hitungan minggu, dan tidak menutup kemungkinan adanya perubahan politik di Iran.

Kesimpulan: Konflik Regional Berubah Menjadi Pertarungan Global

Situasi saat ini menunjukkan bahwa konflik Iran telah berkembang menjadi pertarungan geopolitik yang lebih luas:

  • Tiongkok diduga memainkan strategi dua arah
  • Negara-negara Teluk kini mendukung intervensi AS
  • Amerika menetapkan batas waktu kritis hingga 6 April 2026

Di balik perang ini, tersimpan rivalitas besar antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang berpotensi meluas melampaui Timur Tengah.

Ketika kawasan Teluk mendekati titik puncak konflik, banyak pengamat menilai bahwa pusat ketegangan berikutnya bisa bergeser ke Asia, membuka babak baru dalam dinamika geopolitik global.

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine